Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH SATUAN PROSES II

HIDROGENASI
( Tugas ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Satuan Proses II dari
Ir. Rintis Manfaati,ST )

Disusun Oleh:
Kelompok 7
Kelas 2A-TK
Sifa Fuzi Allawiyah

131411027

Siti Nurjanah

131411028

Suci Susilawati

131411029

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang,
karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah Satuan Proses 2 tentang
Hidrogenasi.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah satuan proses dari Ir.
Rintis Manfaati, ST. Selama penyusunan makalah mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang terlibat kedalam pembuatan makalah ini hingga makalah ini dapat terselesaikan
dengan baik.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak. Namun demikian penulis
berharap makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiridan pembaca pada
umumnya.

Bandung, November 2014


Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hidrogenasi

2.2 Pembuatan Hidrogen

2.3 Katalisator dalam Proses Hidrogenasi

2.4 Macam-macam Hidrogenasi

2.5 Aplikasi Proses Hidrogenasi

BAB III PENUTUP

11

DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN
Hidrogenasi paling awal adalah dari platina katalis penambahan hidrogen ke oksigen di
lampu Dbereiner, perangkat dikomersialisasikan pada tahun 1823. Kimiawan Perancis Paul
Sabatier dianggap sebagai ayah dari proses hidrogenasi. Pada tahun 1897, ia menemukan bahwa
pengenalan jejak nikel sebagai katalis memfasilitasi penambahan hidrogen ke molekul
hidrokarbon gas dalam apa yang sekarang dikenal sebagai proses Sabatier. Untuk pekerjaan ini
Sabatier memperoleh Nobel Kimia pada tahun 1912 .Wilhelm Normann dianugerahi paten di
Jerman pada tahun 1902 dan di Inggris pada tahun 1903 untuk hidrogenasi minyak cair, yang
merupakan awal dari apa yang sekarang menjadi industri dunia luas. Yang penting secara
komersial proses Haber-Bosch, pertama kali dijelaskan pada tahun 1905, melibatkan hidrogenasi
nitrogen. Dalam proses Fischer-Tropsch , dilaporkan pada tahun 1922 karbon monoksida, yang
berasal dari batubara mudah, adalah terhidrogenasi untuk bahan bakar cair.
Hidrogenasi merupakan reaksi hidrogen dengan senyawa organik, Reaksi ini terjadi
dengan penambahan hidrogen secara langsung pada ikatan rangkap dari molekul yang tidak
jenuh sehingga dihasilkan suatu produk yang jenuh. Proses hidrogenasi merupakan salah satu
proses yang penting dan banyak digunakan dalam pembuatan bermacam-macam senyawa
organik. Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hidrogen ke sebuah molekul.
Reaksi dilakukan pada suhu dan tekanan yang berbeda tergantung pada substrat dan aktivitas
katalis.
Proses hidrogenasi merupakan salah satu proses yang penting dan banyak digunakan
dalam pembuatan bermacam-macan senyawa organik. Industri yang menggunakan proses
hidrogenasi antara lain adalah industri sorbitol methanol, margarine, ammonia dan lain-lainnya
Kebanyakan hidrogenasi menggunakan gas hidrogen (H2), namun ada pula beberapa yang
menggunakan sumber hidrogen alternatif, proses ini disebut hidrogenasi transfer.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah istilah yang merujuk pada reaksi kimia yang menghasilkan adisi
hidrogen (H2). Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hidrogen ke sebuah
molekul. Hidrogenasi merupakan reaksi hidrogen dengan senyawa organik. Reaksi ini
terjadi dengan penambahan hidrogen secara langsung pada ikatan rangkap dari molekul
yang tidak jenuh sehingga dihasilkan suatu produk yang jenuh. Penggunaan katalis
diperlukan agar reaksi yang berjalan efisien dan dapat digunakan, hidrogenasi non-katalitik
hanya berjalan dengan kondisi temperatur yang sangat tinggi. Hidrogen beradisi ke ikatan
rankap dua dan tiga hidrokarbon. Oleh karena pentingnya hidrogen, banyak reaksi-reaksi
terkait

yang

telah

dikembangkan

untuk

kegunaannya.

Kebanyakan

hidrogenasi

menggunakan gas hidrogen (H2), namun ada pula beberapa yang menggunakan sumber
hidrogen alternatif, proses ini disebut hidrogenasi transfer. Reaksi balik atau pelepasan
hidrogen dari sebuah molekul disebut dehidrogenasi. Reaksi di mana ikatan diputuskan
ketika hidrogen diadisi dikenal sebagai hidrogenolisis. Hidrogenasi berbeda dengan
protonasi atau adisi hidrida, pada hidrogenasi, produk yang dihasilkan mempunyai muatan
yang sama dengan reaktan. Substrat dari hidrogenasi tercantum dalam tabel berikut :

Tabel 1. Substrat Hidrogenasi


Alkena, R2C = CR2

Alkana, 2R2 CHCHR

Alkuna, RCCR

Alkena, cis-RHC = CHR

Aldehida, RCHO

Alcohol utama, RCH2OH

Keton, R2CO

Sekunder alcohol, R2CHOH

Ester, RCO2R

Dua alcohol, RCH2OH, ROH

Imina, RRCNR

Amina, RRCHNHR

Amida. RC (O) NR2

Amina, RCH2NR2

Nitril, RCN

Imina, RHCNH

Nitro, RNO2

Amina, RNH2

2.2 Pembuatan Hidrogen


Hidrogen yang dipergunakan pada proses hidrogenasi dibuat dengan proses
elektrolisa dan proses steam iron. Proses elektrolisa yang dilakukan sangat sederhana, yaitu
dengan larutan natrium hidroksida encer. Cara ini dapat menghasilkan hidrogen yang murni.
Cara steam iron adalah proses pembuatan hidrogen yang mengikutsertakan proses reduksi
dan oksidasi dari besi panas dalam dapur api yang dipanaskan pada suhu 1500F-1700F
(815,5C-926,5C). Uap yang dipergunakan dialirkan secara berlebihan melalui besi panas.
Oksigen pada uap akan bercampur dengan besi dan akan membebaskan hidrogen. Pada
tahap akhir dari siklus uap, gas biru yang terbentuk dari uap akan menghembus melalui alat
pemanas dan terus menembus melalui besi panas untuk mereduksi logam besi yang telah
teroksidasi. Kelebihan dari reduksi gas dialirkan melalui besi yang telah teroksidasi.
Kelebihan dari reduksi gas dialirkan melalui besi yang panas dan dibakar dalam
checkerwork. Pengurangan gas dilakukan dengan jalan mengalirkan gas tersebut melalui
bagian atas dapur api, sedangkan uap untuk membuat hidrogen dimasukkan melalui bagian
bawah dapur api.
Hidrogen yang dihasilkan pada proses steam iron kurang murni untuk dipakai pada
proses hidrogenasi minyak atau lemak makan, karena mengandung komponen-kompenen
sulfur, karbon monoksida. Pemisahan karbon monoksida dapat dilakukan dengan
mereaksikan hidrogen dengan uap pada suhu tinggi. Sedangkan hidrogen sulfida dapat
dipisahkan dengan jalan melewatkan gas melalui ketel pemurnian yang diisi dengan besi
sulfida (FeS).

2.3 Katalisator dalam Proses Hidrogenasi

Umumnya, tidak ada reaksi antara H2 dengan senyawa organik yang terjadi di
bawah 480C terjadi antara H2 tanpa adanya katalis logam. Katalisator untuk proses
hidrogenasi adalah platina, palladium dan nikel, dimana platina dan palladium membentuk
katalis yang sangat aktif, yang dapat mengkatalis pada suhu dan tekanan rendah. Tetapi
berdasarkan pertimbangan ekonomis, hanya nikel yang umum digunakan sebagai katalisator
hidrogenasi walaupun nikel dapat mengkatalis pada suhu yang lebih tinggi dari platina dan
palladium.
Katalis hidrogenasi digolongkan menjadi dua, yaitu katalis homogen dan katalis
heterogen. Katalis homogen larut dalam pelarut yang berisi substrat tak jenuh. Katalis
heterogen adalah berbentuk padat yang tersuspensi di pelarut dengan substrat atau dengan
gas substrat. Nikel mungkin juga mengandung sejumlah kecil Al dan Cu yang berfungsi
sebagai promoter dalam proses hidrogenasi minyak.
2.4 Macam-macam Hidrogenasi
a.

Hidrogenasi transfer
Proses hidrogenasi umumnya memanfaatkan gas hidrogen, namun ada juga
yang menggunakan sumber lain yang memiliki atom hidrogen di dalamnya. Namun
tujuannya sama, yaitu : menambahkan atom hidrogen dalam suatu senyawa.

b.

Hidrogenasi Minyak
Proses hidrogenasi minyak membuat mengerasnya tanaman dan ikan yang
diturunkan minyak, yang memungkinkan mereka untuk menjadi pengganti efektif
untuk lemak hewani.

c.

Hidrogenasi Etena
Etena bereaksi dengan hidrogen pada suhu sekitar 150 C dengan adanya
sebuah katalis nikel (Ni) yang halus. Reaksi ini menghasilkan etana. Reaksi ini tidak
begitu berarti, sebab etena merupakan senyawa yang jauh lebih bermanfaat
disbanding etena yang dihasilkan.

2.5 Aplikasi Proses Hidrogenasi

2.5.1 Proses Pengolahan Batubara Cair


Likuifaksi Batubara adalah suatu teknologi proses yang mengubah batubara
dan menghasilkan bahan bakar cair sintetis. Batubara yang berupa padatan diubah
menjadi bentuk cair dengan cara mereaksikannya dengan hidrogen pada temperatur
dan tekanan tinggi. Proses likuifaksi batubara secara umum diklasifikasikan menjadi
Indirect Liquefaction Processdan dan Direct Liquefaction Process.
a.

Indirect Liquefaction Process/ Indirect Coal Liquefaction (ICL)


Prinsipnya secara sederhana yaitu mengubah batubara ke dalam bentuk gas
terlebih dahulu untuk kemudian membentuk Syngas (campuran gas CO dan H2).
Syngas kemudian dikondensasikan oleh katalis (proses Fischer-Tropsch) untuk
menghasilkan produk ultra bersih yang memiliki kualitas tinggi.

Gambar 1. Dua konfigurasi proses dasar untuk produksi bahan bakar cair dengan
Indirect Liquefaction Process

b.

Direct Liquefaction Process/ direct coal liquefaction (DCL)

Proses ini dilakukan dengan cara menghaluskan ukuran butir batubara,


kemudian Slurry dibuat dengan cara mencampur batubara ini dengan pelarut.
Slurry dimasukkan ke dalam reaktor bertekanan tinggi bersama-sama dengan
hidrogen dengan menggunakan pompa. Slurry kemudian diberi tekanan 100-300
atm di dalam sebuah reaktor kemudian dipanaskan hingga suhu mencapai 400480C.
Secara kimiawi proses akan mengubah bentuk hidrokarbon batubara dari
kompleks menjadi rantai panjang seperti pada minyak. Atau dengan kata lain,
batubara terkonversi menjadi liquid melalui pemutusan ikatan C-C dan Cheteroatom secara termolitik atau hidrolitik, sehingga melepaskan molekulmolekul CO2, H2S, NH3, dan H2O. Untuk itu rantai atau cincin aromatik
hidrokarbonnya harus dipotong dengan cara dekomposisi panas pada temperatur
tinggi (thermal decomposition). Setelah dipotong, masing-masing potongan pada
rantai hidrokarbon tadi akan menjadi bebas dan sangat aktif (free-radical). Supaya
radikal bebas itu tidak bergabung dengan radikal bebas lainnya (terjadi reaksi
repolimerisasi) membentuk material dengan berat molekul tinggi dan insoluble,
perlu adanya pengikat atau stabilisator, biasanya berupa gas hidrogen. Hidrogen
bisa didapat melalui tiga cara yaitu: transfer hidrogen dari pelarut, reaksi dengan
fresh hidrogen, rearrangement terhadap hidrogen yang ada di dalam batubara, dan
menggunakan katalis yang dapat menjembatani reaksi antara gas hidrogen dan
slurry (batubara dan pelarut).
Negara yang telah mengembangkan teknologi Direct Liquefaction Process
adalah Jepang, Amerka Serikat dan Jerman. Bagi Indonesia, teknik konversi
likuifaksi batubara secara langsung (Direct Liquefaction Process) dinilai lebih
menguntungkan untuk saat ini. Selain prosesnya yang lebih sederhana, likuifaksi
relatif lebih murah dan lebih bersih dibanding teknik gasifikasi. Teknik ini juga
cocok untuk batubara peringkat rendah (lignit), yang banyak terdapat di
Indonesia.
Banyak negara mengembangkan teknologi Likuifaksi Batubara. Di Amerika
Serikat berkembang berbagai proyek pengembangan seperti pada gambar 2. Dan

Jepang, sebagai salah satu negara pengembang teknologi Likuifaksi Batubara


terkenal dengan salah satu proyeknya yaitu NEDOL (lembaga kajian
teknologi Jepang) memiliki 2 metode likuifaksi batubara yaitu Bituminous Coal
Liquefaction dan Brown Coal Liquefaction.
-

Bituminous Coal Liquefaction


Dalam proses Bituminous Coal Liquefaction, Proyek NEDOL berhasil
menggabungkan 3 proses, yaitu: Solvent Extraction Process, Direct
Hydrogenation Process, dan Solvolysis Process.
Spesifikasi proses NEDOL adalah sebagai berikut:
- Tidak memerlukan batubara dengan spesifikasi tertentu. Batubara yang
digunakan bisa dari low grade sub-bituminous sampai low grade
bituminous.
- Yield Ratio bisa mencapai 54% berat, lebih besar dari medium atau light
oil.
- Temperatur standar reaksi adalah 450C dan Tekanan standar 170
kg/cm2G.
- Membutuhkan katalis yang sangat aktif namun tidak mahal.
- Sebagai pemisah antara fasa cair-gas, digunakan sistem distilasi pengurang
tekanan.
- Digunakan pelarut terhidrogenasi yang dapat digunakan kembali untuk
mengawasi kualitas pelarut agar dapat meningkatkan Yield Ratio dari
batubara cair dan mencegah fenomena cooking pada tungku pemanas.

Proses NEDOL
Slurry dibuat dengan mencampurkan 1 bagian batubara dengan 1.5
bagian pelarut,lalu ditambahkan 3% katalis yang mengandung besi
(ferrous catalyst). Slurry dipanaskan sampai suhunya mencapai 400C
dalam preheating furnace. Reaksi likuifaksi terjadi dalam kolom reaktor
berjenis suspension bed foaming pada kondisi standar (Temperatur 450C,

Tekanan 170 kg/cm2G). Batubara dikonversi menjadi bentuk cair oleh


reaksi antara hidrogen dan pelarut.
Setelah melewati pemisah fase gas-cair, kolom distilasi bertekanan
normal, dan kolom distilasi isap, batubara cair dipisahkan menjadi naphta,
medium oil, heavy oil, dan residu.
Distilat medium oil dan heavy oil dipindahkan ke kolom reaksi
berjenis fixed bed yang berisi katalis Ni-Mo. Pada kolom reaksi ini, distilat
dikonversikan menjadi distilat ringan pada Temperatur 320C dan
Tekanan 100 kg/cm2G, dan digunakan kembali dalam reaksi sebagai
pelarut (solvent)

Gambar 2: Diagram alir proses Bituminous Coal Liquefaction

- Brown Coal Liquefaction

Proses pada Brown Coal Liquefaction, secara umum terdiri atas 3


proses, yaitu: Coal Pretreatment Process, Slurry Preheating Process, Primary
hydrogenation process dan Secondary hydrogenation process.
Pretreatment Process merupakan proses peremukan raw brown coal,
pengeringan, dan pembuatan Slurry. Slurry dibuat dengan mencampurkan 1
bagian batubara brown coal dengan 2.5 bagian pelarut, lalu ditambahkan
katalis yang mengandung besi (iron catalyst). Lalu Slurry diproses ke
preheating process.
Primary hydrogenation process dilakukan dengan mengalirkan gas
hidrogen pada Temperatur 430-450C dan tekanan 150-200 kg/cm2G agar
dapat terjadi proses likuifaksi. Produk yang dihasilkan dikirim ke kolom
distilasi dan didistilasi menjadi naphta, light oil dan medium oil.
Kolom distilasi bawah yang mengandung padatan dialirkan menuju
kolom pemisah padatan-cairan pada proses pengeringan pelarut. Distilat cair
kemudian dibawa ke proses Secondary hydrogenation dan padatan dibuang.
Reaktor jenis fixed bed yang diisi katalis Ni-Mo agar proses
hidrogenasi dapat terjadi pada temperatur 300-400C dan tekanan 150-200
kg/cm2G. Kemudian dilakukan distilasi kembali agar dapat dipisahkan menjadi
nephta, light distillate dan medium distillate. Setelah proses selesai, dihasilkan
3 barrel batubara cair dari 1 ton batubara brown coal kering

Gambar 3. Diagram alir proses Brown Coal Liquefaction

BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan :
a. Hidrogenasi merupakan reaksi hidrogen dengan senyawa organic. Reaksi ini terjadi
dengan penambahan hidrogen secara langsung pada ikatan rangkap dari molekul yang
tidak jenuh sehingga dihasilkan suatu produk yang jenuh. Hidrogen beradisi ke ikatan
rankap dua dan tiga hidrokarbon.
b. Macam-macam Hidrogenasi ada tiga yaitu hidrogenasi transfer, hidrogenasi minyak,
hidrogenasi Etena.
c. Salah satu aplikasi dari proses hidrogenasi adalah Proses Pengolahan Batubara Cair.

DAFTAR PUSTAKA

Wahyudin.

2014.

Pembuatan

Batu

Bara

Cair

Melalui

Proses

Hidrogenasi.

https://www.academia.edu/8979834/PEMBUATAN_BATUBARA_CAIR_MELALUI_PROSES
_HIDROGENASIDiunduh 29 November 2014

Suryani,

Irma.

2013.

Apa

Itu

Hidrogenasi?.

http://irma-

teknikkimia.blogspot.com/2013/02/apa-itu-hidrogenasi.html. Diunduh 27 November 2014