Anda di halaman 1dari 9

KARAKTERISASI MAKROSKOPIS DAN

MIKROSKOPIS SPESIES PENICILLIUM


KARAKTERISASI MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SPESIES PENICILLIUM

TUJUAN
Untuk mengetahui karakterisasi/deskripsi makroskopis dan mikroskopis 4 spesies Penicillium

ALAT DAN BAHAN


o Cawan petri
o Object glass
o 2 logam penyangga
o Pipet volume
o Beker glass 200ml
o Aquades steril
o Media PDA
o Jarum ose
o Timbangan
o Alkohol
o 4 spesies biakan murni kapang Penicillium

LANDASAN TEORI
Mikroorganisme memiliki peranan sangat penting, karena mikroorganisme merupakan agen
biologi penghasil antibiotik yang sangat penting dalam proses pencatatan berbagai macam
penyakit. Penicillium adalah genus kapang dari kelas ascomycetes. Peran pentingnya dalam
lingkungan alam serta produksi makanan dan obat. Salah satu dari genus ini menghasilkan
penisilin, yaitu sebuah molekul yang digunakan sebagai antibiotik , yang membunuh atau
menghentikan pertumbuhan beberapa jenis bakteri di dalam tubuh. Menurut Fungi Dictionary
(edisi 10, 2008), genus luas berisi lebih dari 300 spesies (Wikipedia, 2011). Beberapa contoh
produk antibiotik, yaitu penisilin yang dapat dihasilkan oleh Penicillium notatum (Indrawati, 2006)
dan Penicillium chrysogenum, salah satu dari genus Penicillium, telah lama dikenal sebagai
antibiotik. Antibiotik berasal dari kata Yunani tua, yang merupakan gabungan dari kata anti
(lawan) dan bios (hidup). Kalau diterjemahkan bebas menjadi "melawan sesuatu yang hidup".
Penicillium sp. adalah genus fungi dari ordo Hypomycetes, filum Askomycota. Penicillium
sp.memiliki ciri hifa bersepta dan membentuk badan spora yang disebut konidium. Konidium
berbeda dengan sporangim, karena tidak memiliki selubung pelindung seperti sporangium.
Tangkai konidium disebut konidiofor, dan spora yang dihasilkannya disebut konidia. Konidium ini

memiliki cabang-cabang yang disebut phialides sehingga tampak membentuk gerumbul. Lapisan
dari phialides yang merupakan tempat pembentukan dan pematangan spora disebut sterigma.
Beberapa jenis Penicillium sp. yang terkenal antara lain P. notatum yang digunakan sebagai
produsen antibiotik dan P. camembertii yang digunakan untuk membuat keju biru (Purves dan
Sadava, 2003).
Menurut Hoeller (1999) telah mengisolasi 45 isolat Penicillium dari 11 jenis spons, untuk meneliti
diversitas, aktivitas biologik, dan metabolit sekunder dari fungi yang diisolasi dari spons (dalam
Indrawati Gandjar, 2006). Jamur ini berwarna hjjau kebiruan dan tumbuh baik pada buah-buahan
yang telah masak, roti, nasi, serta makanan bergula. Hidup secara saprofit di berbagai tempat,
terutama pada substrat yang mengandung gula (seperti nasi, roti, dan buah yang telah ranum).
Berkembang biak secara vegetatif dengan membentuk konidia. Konidia dibentuk pada ujung
hifa. Hifa pembawa konidia disebut konidiofor. Sehingga setiap konidia dapat dapat tumbuh
membentuk jamur baru. Konidiofor nya berbentuk seperti sikat/kuas reproduksi generatif dengan
membentuk askus, namun reproduksi secara generatif sulit ditemukan.
Antibiotika di dunia kedokteran digunakan sebagai obat untuk memerangi infeksi yang
disebabkan oleh bakteri atau protozoa. Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu
mikroba, terutama fungi/jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis
lain.

CARA KERJA
- Disediakan 4 preparat kapang untuk diamati karakteristik makroskopis dan mikroskopisnya
untuk kemudian digambar. Setelah itu ditentukan preparat manakah yang merupakan kapang
Penicillium.
- Mengamati makroskopis kapang dengan melihat bagian atas dengan mengamati warna koloni,
struktur koloni dll. Mengamati bagian bawah pula (reverse side) dengan mengamati warna,
ada/tidak garis radial, lingkaran konsentris dll. Kemudian digambar.
- Mengamati mikroskopis kapang dengan melihat hifa, ada tidaknya metula, dll.
- Untuk pengamatan mikroskopis, letakkan slide kultur hasil penanaman minggu sebelumnya
(Hasil praktikum II) pada mikroskop, amati masing-masing spesies Penicillium, gambarlah
bentuk mikroskopisnya, hifa, spora, dll.
- Untuk pengamatan makroskopis, amati kultur Penicillium pada kultur cawan petri, lihat bagian
atas amati warna koloni, struktur koloni dll, amati pula bagian bawah (reverse side) amati warna,
ada/tidak garis radial, lingkaran konsentris dll, gambarlah.
- Untuk biakan yang sudah di amati, sebelum dibuang harus disterilkan dulu dengan autoclave,
kemudian buanglah kapang pada tempat sampah, cucilah semua cawan petri dan alat lainnya
untuk mempersiapkan praktikum IV

- Untuk persiapan pengamatan praktkum IV, siapkanlah slide kultur dan kultur cawan petri untuk
3 spesies Rhizopus, lakukan hal yang sama dengan cara kerja praktikum I.

HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Gambar Makroskopis Kapang
No. Jenis Kapang Warna Tekstur Koloni Zonasi Radial Furrow Tetes Eksudat
Top Reverse
1 A Hijau tua di tengah dengan lingkaran tepi warna putih Coklat Bludru -
2 B Putih Kuning Bludru - - 3 C Hijau di tengah dengan lingkaran tepi warna putih Putih Bludru - -
4 D Hijau di tengah dengan lingkaran tepi warna putih Putih Bludru - - -

Tabel 2. Karakteristik Mikroskopis Kapang


No Jenis Kapang Bentuk Spora/Konidia Konidiofor/ Sporangiofor Bentuk Conidial head
1 A Bulat monotematous Bentuk botol
2 B Bulat synnematous Bentuk botol
3 C Bulat monotematous Bentuk botol
4 D Bulat - Bentuk botol

PEMBAHASAN

Untuk mengidentifikasi spesies apakah yang dipakai pada waktu praktikum kali ini adalah
dengan cara melihat karakteristik secara makroskopis dan mikroskopis. Berdasarkan hasil
pengamatan dari karakteristik makroskopis didapatkan: jenis kapang A memiliki warna bagian
atas (top side) hijau tua dengan lingkaran tepian luarnya berwarna putih sedangkan warna
bagian bawahnya (reverse side) berwarna agak kecoklatan, memiliki kenampakan radial furrow
yang masih belum terlihat jelas karena usia kapang yang masih muda, dan memiliki sedikit tetestetes eksudat. Jenis kapang B warna atasnya hijau tua dengan bagian lingkaran tepinya
berwarna putih sedangkan warna bawahnya putih dan hanya memiliki tetes eksudat. Jenis
kapang C warna atasnya hijau di tengah sedangkan warna bawahnya putih dan tidak memiliki
kenampakan radial furrow ataupun tetes eksudat. Jenis kapang D warna bagian atasnya putih

sedangkan bagian bawahnya berwarna kuning dan tidak memiliki kenampakan radial furrow
ataupun tetes eksudat juga. Untuk kenampakan zonasi pada semua jenis kapang tidak terlihat,
dikarenakan usia koloni yang masih muda. Pada umumnya kenampakan yang lain juga terlihat
sedikit sekali. Untuk tekstur koloni semua jenis kapang (A, B, C, D) bertekstur seperti bludru.
Hasil pengamatan bagian mikroskopis, kapang jenis A, B, C, D memiliki ciri-ciri bentuk
spora/konidia bulat dan bentuk conidial headnya seperti botol. Tipe konidiofor/sporangiofor dari
kapang jenis A : monotematous, kapang jenis B : synnematous dan kapang jenis C :
monotematous sedangkan kapang jenis D bukan genus dari kapang.
Menurut identifikasi hasil pengamatan makroskopis dan mikroskopis kapang maka diketahui
bahwa jenis kapang A adalah spesies dari Penicillium crysogenum, karena berdasarkan ciri-ciri
dari literatur bahwa koloni berwarna hijau kekuningan atau hijau agak biru pucat sedangkan bila
berumur tua warna akan semakin gelap, koloni menghasilkan tetes eksudat yang berwarna
kuning hingga hialin. Jenis kapang B adalah spesies dari Penicillium expansum ciri-ciri dari
literatur bahwa koloni berwarna kuning hingga hijau kebiruan, bagian reverse side berwarna
kekuningan atau coklat kekuningan. Jenis kapang C adalah spesies dari Penicillium citrinum ciriciri dari literatur bahwa koloni berwarna biru kehijauan, bagian reverse side berwarna kuning
hingga jingga. Jenis kapang D adalah bukan spesies dari Penicillium karena tidak memiliki ciriciri seperti Penicillium.

KESIMPULAN

Menurut identifikasi hasil pengamatan makroskopis dan mikroskopis kapang maka diketahui
bahwa jenis kapang A adalah spesies dari Penicillium crysogenum. Jenis kapang B adalah
spesies dari Penicillium expansum. Jenis kapang C adalah spesies dari Penicillium citrinum.
Jenis kapang D adalah bukan spesies dari Penicillium.

DAFTAR PUSTAKA

Gandjar, Indrawati. 2006. Mikologi: Dasar dan Terapan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Gandjar, Indrawati, dkk, 2000. Pengenalan Kapang Tropik Umum. Jakarta: IKAPI DKI Jakarta.
Anonim. 2011. Penicillium. http://en.wikipedia.org/wiki/Penicillium diakses pada tanggal 12
Oktober 2011.
Ian C Uthenian. 2011. Kingdom Fungi. http://www.scribd.com/doc/31470592/Kingdom-Fungi
diakses pada tanggal 12 Oktober 2011.
Monruw. 2011. Morfologi Jamur Benang. http://monruw.wordpress.com/2011/06/18/morfologijamur-benang-kapang/ diakses pada tanggal 12 Oktober 2011.

Tyan, Rumz. 2011. Makalah mikrobiologi: Manfaat Jamur Penicillium sp. Di Bidang Industri.
http://www.scribd.com/doc/40485533/MAKALAH-penisilin diakses pada tanggal 12 Oktober
2011.

Penicillium
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom:
Fungi
Division:
Ascomycota
Class:
Eurotiomycetes
Order:
Eurotiales
Family:
Trichocomaceae
Genus:

Penicillium

Morfologi
Penicillium sp. adalah genus fungi dari ordo Hypomycetes, filum
Askomycota. Penicilliumsp. memiliki ciri hifa bersepta dan membentuk badan spora
yang disebut konidium. Konidium berbeda dengan sporangim, karena tidak memiliki
selubung pelindung seperti sporangium. Tangkai konidium disebut konidiofor, dan
spora yang dihasilkannya disebut konidia. Konidium ini memiliki cabang-cabang
yang disebut phialides sehingga tampak membentuk gerumbul. Lapisan dari
phialides yang merupakan tempat pembentukan dan pematangan spora disebut
sterigma. Beberapa jenis Penicilliumsp. yang terkenal antara lain P. notatum yang
digunakan sebagai produsen antibiotik dan P. camembertii yang digunakan untuk
membuat keju biru (Purves dan Sadava, 2003).
Pengecatan
Pengecatan jamur Penicillium sp. adalah dengan menggunakan teknik pengecatan
LPCB (Lactopenol Conten Blue). Dengan teknik ini, maka jamur yang diamati akan
tampak berwarna hijau kebiru-biruan. Hal ini dikarenakan spora secara sederhana
bisa dilihat sebagai badan intraseluler pada suspensi. Sel yang tidak diwarnai
sebagai area tidak berwarna dalam sel yang diwarnai dengan metode konvensional.
Dinding spora relative impermeable tetapi zat pewarna dapat dibuat menembusnya
dengan pemanasan preparat. Sifat impermeable ini juga bisa menghambat
dekolorisasi spora pada tahap pemberian alkohol yang biasanya cukup untuk

dekolorisasi sel vegetative. Bentuk dan warna spora ini dapat digunakan sebagai
salah satu cara untuk mengidentifikasi jamur (Fardiaz, 1987).
Penggunaan Lactophenol Biru Stain dalam memberi warna pada jamur dan
memungkinkan spesimen untuk dapat dengan mudah divisualisasikan dengan
mikroskop. Lactophenol Cotton Blue (LPCB) adalah metode yang paling banyak
digunakan dalam pewarnaan dan mengamati jamur. Komposisi dari Lactophenol
Cotton Blue yaitu kristal, cotton blue 0,075 gr berfungsi untuk memberi warna pada
sel kapang, asam laktat 20 ml yang berfungsi untuk menjernihkan latar belakang dan
mempertajam struktur kapang, gliserol 40 ml berfungsi menjaga fisiologi sel dan
menjaga sel terhadap kekeringan, kristal fenol dan air panas 70oC untuk membunuh
jamur, serta air suling 40 ml (Astrid dan Leck, 1999)
Pengecatan LPCB dilakukan dengan menempatkan alkohol 70% pada objek glass.
Merendam spesimen / bahan dalam alkohol. Menambahkan satu atau paling banyak
dua tetes mountant lactophenol sebelum alkohol menguap. Memegang coverslip
antara jari telunjuk dan ibu jari, menyentuh pada satu sisi dari setetes mountant
dengan tepi coverslip dan bawah dengan lembut, menghindari gelembung udara.
Sediaan sekarang siap untuk diperiksa. (Astrid dan Leck, 1999).
Agen Penyakit
Keberadaan kapang dalam rumah dapat berbeda dengan kapang yang
tumbuh di luar rumah. Kapang yang paling sering ditemukan dalam rumah umumnya
tergolong kapang penerjun (air-borne fungi) dimana spora yang merupakan bibit dari
kapang masuk ke dalam lingkungan rumah melalui perantara udara. Beberapa
kapang penerjun yang mudah tumbuh dan ditemukan di lingkungan rumah adalah
marga Aspergillus dan Penicillium. Pada jumlah yang tinggi paparan spora
kelompok kapang tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti alergi,
batuk-batuk, dan infeksi saluran pernafasan atas lainnya. Dampak kesehatan yang
lebih serius akan lebih dirasakan oleh penderita asma, penderita autoimun,
penderita HIV (ODHA), balita, ibu hamil, dan manula. Mengingat banyaknya dampak
negatif dari hadirnya kapang di lingkungan rumah, maka diperlukan serangkaian
tindakan dan kiat-kiat untuk mencegah datangnya kapang di dalam lingkungan
rumah(Martiny, 2006).

English Reference
Koloni biasanya cepat tumbuh, dalam nuansa hijau, kadang-kadang putih, sebagian besar
terdiri dari merasa padat konidiofor. Mikroskopis, rantai bersel tunggal konidia
(ameroconidia) diproduksi dalam suksesi basipetal dari sel conidiogenous khusus yang
disebut phialide a. The basocatenate Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan rantai
seperti konidia mana Konidium termuda di ujung basal atau proksimal dari rantai. Di
Penicillium, phialides dapat diproduksi secara tunggal, dalam kelompok atau dari bercabang
metulae, memberikan penampilan yang mirip kuas dikenal sebagai penicillus a. Penicillus
dapat berisi kedua cabang dan metulae (cabang kedua dari belakang yang menanggung whorl
dari phialides). Semua sel antara metulae dan stipes dari konidiofor disebut sebagai cabang.
Pola bercabang mungkin baik sederhana (non-bercabang atau monoverticillate), satu tahap
bercabang (biverticillate-simetris), dua-tahap bercabang (biverticillate-asimetris) atau tiga
lebih-dipentaskan bercabang. Konidiofor yang hialin dan mungkin polos atau kasar
berdinding. Phialides biasanya labu berbentuk, yang terdiri dari bagian silinder basal dan
leher yang berbeda, atau lanset (dengan bagian basal sempit meruncing ke agak menunjuk
puncak). Konidia yang bulat, elips, silinder atau fusiform, hialin atau kehijauan, polos atau
kasar-berdinding. Sclerotia dapat dihasilkan oleh beberapa spesies.

Culture of Penicillium sp.

Konidiofor P. verrucosum var. cyclopium menunjukkan


dua tahap bercabang. Conidiophore sederhana P. cheresanum
menunjukkan rantai panjang phialoconidia bersel tunggal.
Untuk identifikasi, isolat biasanya diinokulasi pada tiga titik di Czapek dox agar dan potato
dextrose agar dan diinkubasi pada 25C. Sebagian besar spesies bersporulasi dalam waktu 7
hari. Gunung mikroskopis yang terbaik dibuat menggunakan bendera sellotape atau budaya
geser persiapan dipasang di lactophenol katun biru. Setetes alkohol biasanya diperlukan
untuk melepaskan bendera sellotape dari tongkat, dan bertindak sebagai agen pembasahan.

Struktur morfologi dan jenis conidiophore percabangan Penicillium. a. sederhana; b. satutahap bercabang; c. dua tahap bercabang; d. tiga tahap bercabang (Samson et al., 1984).

Anda mungkin juga menyukai