Anda di halaman 1dari 64

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ruang wilayah negara Indonesia dengan sumber daya alam yang tiada tara
membentang bagaikan zamrud
Maha

Esa,

wajib

khatulistiwa, merupakan karunia Tuhan Yang

dilindungi,

dikelola,

dikembangkan

dan

dilestarikan

pemanfaatannya secara berkelanjutan demi kelangsungan hidup masyarakat, bangsa


dan negara.
Optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam didasari keyakinan bahwa
kebahagiaan hidup dapat tercapai apabila didasarkan atas keserasian, keselarasan
dan keseimbangan baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, manusia dengan
manusia, hubungan manusia dengan alam maupun hubungan manusia dengan Tuhan
Yang Maha Esa. Keyakinan tersebut merupakan landasan ideal dan moral dalam
implementasi penataan

ruang di Republik ini.

Selain landasan ideal, dan moral, penataan ruang sebagai salah satu
manifestasi pelaksanaan pembangunan didasari pula pada landasan konstitusional
(Pasal 33 ayat (3) UUD 1945) yang menghendaki agar sumber daya alam
dipergunakan

sebesar-besar

kemakmuran

rakyat

dengan

memperhatikan

keseimbangan antara kemakmuran lahiriah dan kepuasan batiniah. Di samping itu


patut dikembangkan kebijakan pertanahan untuk meningkatkan pemanfaatan dan
penggunaan tanah secara adil, transparan, produktif dengan mengutamakan hak-hak
rakyat setempat, termasuk hak ulayat masyarakat adat, serta berdasarkan tata ruang
wilayah yang serasi dan seimbang. Oleh karena itu pelaksanaan pembangunan wajib
memperhatikan asas serasi, selaras dan seimbang dalam pemanfaatan ruang.
Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber
wilayah, nasional, wilayah provinsi,

daya alam terdiri atas

wilayah kabupaten/kota sebagai subsistem.

Masing-masing subsistem meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan


keamanan, dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu
dari yang lain.
Sebagai pengejawantahan

otonomi daerah, provinsi. kabupaten dan kota

memiliki kewenangan dalam penataan ruang wilayahnya yakni perencanaan tata


1

ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Untuk menjamin


tercapainya tujuan penataan ruang, diperlukan dasar hukum guna menjamin kepastian
hukum bagi upaya pemanfaatan ruang, atau dengan kata lain pembangunan yang
dilaksanakan harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
Suatu dokumen penataan ruang meliputi Prosedur perencanaan, laporan
pendahuluan, laporan kompilasi (data), laporan analisis (temuan), laporan rencana
(rumusan dan program) executive summary, album peta, dan peraturan daerah. Dalam
penyusunan dokumen penataan ruang tersebut seyogyanya memberikan ruang kepada
masyarakat adat, apabila penataan ruang tersebut berkenaan dengan hak ulayatnya.
Hal ini penting bukan saja sebagai suatu bentuk pengakuan, melainkan pula penataan
ruang tersebut berimplikasi terhadap peningkatan kesejahteraan dan perlindungan
hak-hak masyarakat adat.
Dalam rangka penataan ruang di Kabupaten Manokwari baik di lingkup wilayah
maupun kota, maka pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah telah
meregulasi berbagai kebijakan mengenai tata ruang dalam Peraturan Daerah
Kabupaten Daerah Tingkat II Manokwari Nomor 11 Tahun 1994 tentang Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Dati II Manokwari dan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah
Tingkat

II Manokwari Nomor

9 Tahun 1987 tentang Rencana Induk Kota

Manokwari Tahun 19842004.


Kondisi realitas menunjukkan bahwa pelaksanaan penataan ruang Kabupaten
Manokwari belum optimal. Hal ini ternya dari berbagai prosedur penataan ruang
antara lain penyususnan tata ruang, sosialisasi yang belum optimal, serta peraturan
daerah, suplemen penataan ruang yang belum memadai, di samping stakehoulder
yang belum sepenuhnya memiliki kesadaran berpartisipasi dalam penataan ruang.

B. Rumusan Masalah
Masalah dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan penyusunan Tata ruang di Kabupaten Manokwari?
2. Sejauhmana pelaksanaan sosialisasi kebijakan penataan ruang di Kabupaten
Manokwari?
3. Bagaimana

perkembangan

Peraturan

Daerah

tentang

Tata

Ruang

dan

Suplemennya di Kabupaten Manokwari?


4. Sejauhmana partisipasi stakehoulders dalam penataan ruang di Kabupaten
Manokwari?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Penyusunan Tata Ruang di Kabupaten Manokwari
1. Kebijaksanaan Penataan Wilayah Bagian Kota Manokwari
Kebijaksanaan penataan wilayah bagian kota terdiri atas rencana
Umum, rencana detail dan rencana Teknik tata ruang Kota, dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK)
RUTRK adalah rencana pemanfaatan ruang kota yang disusun untuk
menjaga keserasian pembangunan antar sektor dalam rangka penyusunan
programprogram pembangunan kota.
RUTRK mempunyai wilayah perencanaan yang terikat pada batas
wilayah administrasi kota, merupakan rumusan kebijaksanaan pemanfaatan
ruang kota. Rencana ini merupakan rencana struktur dan strategi
pengembangan kota, ditetapkan guna menjamin konsistensi perkembangan
kota secara internal, serta sebagai dasar bagi penyusunan program-program
pembangunan kota lintas sektoral dan daerah dalam jangka panjang. RUTRK
memuat rumusan tentang kebijaksanaan pengembangan kota, rencana
pemanfaatan ruang kota, rencana struktur utama tingkat pelayanan kota,
rencana sistem utama transportasi, jaringan utilitas kota, rencana pemanfaatan
air baku, indikasi unit pelayanan kota dan rencana pengelolaan pembangunan
kota.
RUTRK dilengkapi peta skala 1:10.000 untuk kota yang berpenduduk
kurang dari 1.000.000 jiwa, dan skala 1:20.000 untuk kota yang berpenduduk
lebih dari 1.000.000 jiwa.

b. Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK)


RDTRK adalah rencana pemanfaatan ruang kota secara terinci yang
disusun untuk penyiapan perwujudan ruang kota dalam rangka pelaksanaan
proyek pembangunan kota.
RDTRK mempunyai wilayah perencanaan mencakup sebagian atau
seluruh wilayah administrasi kota yang dapat merupakan satu atau beberapa
kawasan tertentu, memuat rumusan kebijaksanaan pemanfaatan ruang kota,
yang disusun dan ditetapkan untuk menyiapkan perwujudan ruang bagian
wilayah kota dalam rangka pelaksanaan program dan pengendalian
pembangunan kota baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat
dalam jangka panjang maupun menengah. RDTRK berisikan rumusan tentang
kebijaksanaan pengembangan penduduk, rencana pemanfaatan ruang bagian
wilayah kota, rencana struktur tingkat pelayanan bagian wilayah kota, rencana
sistem jaringan fungsi jalan bagian wilayah kota, rencana kepadatan bangunan
lingkungan, rencana ketinggian bangunan, rencana garis sempadan, rencana
indikasi unit pelayanan bagian wilayah kota dan rencana tahapan pelaksanaan
pembangunan bagian wilayah kota. RDTRK dilengkapi peta-peta rencana
dengan skala 1:5.000 dengan penggambaran geometrik yang dibantu dengan
titik-titik kendali.
Menurut Sinulingga (1999:141) RDTRK dapat dimanfaatkan untuk
pengendalian

pemanfaatan

ruang kota

yang

berkaitan

dengan

izin

membangun. Sebelum seseorang atau badan usaha memakai Izin Mendirikan


Bangunan (IMB), seseorang harus memperoleh advis planning ataupun KSB
(Keterangan Situasi Bangunan)

dari Dinas Tata Kota, yang memuat

keteraangan tentang peruntukan lahan dari lokasi yang dimohon, lebar jalan
yang terdapat pada lokasi, dan garis sempadan bangunan depan, kiri dan
kanan.

c. Rencana Teknik Ruang Kota ( RTRK )


RTRK adalah rencana geometris pemanfaatan ruang kota yang disusun
untuk penyiapan perwujudan ruang kota dalam rangka pelaksanaan proyek
pembangunan kota.
RTRK mempunyai wilayah perencanaan yang mencakup sebagian
atau seluruh kawasan tertentu yang dapat merupakan satu atau beberapa unit
lingkungan perencanaan, berisikan rumusan rencana tapak pemanfaatan ruang
kota, rencana prakonstruksi bangunan gedung, rencana prakonstruksi bukan
bangunan gedung dan ruang terbuka beserta rencana indikasi proyek-proyek.
RTRK dilengkapi dengan gambar rencana pada peta-peta rencana
dengan skala sama atau lebih besar dari 1:1.000.
Tugas dan tanggung jawab perencanaan dan pelaksanaan RUTRK,
RDTRK, dan RTRK merupakan wewenang Pemerintah Daerah . Tugas dan
tanggung

jawab

perencanaan kota

meliputi kegiatan

penelitian,

penyusunan, penetapan rencana dan peninjauan kembali rencana kota .


Tugas dan tanggung jawab pelaksanaan rencana tata ruang kota meliputi
pelaksanaan pembangunan kota, pengendalian tata ruang .
Pelaksanaan kegiatan perencanaan dan pelaksanaan rencana tata
ruang kota

tersebut di

atas

diselenggaran oleh

Badan

Perencanaan

Pembangunan Daerah (BAPPEDA). Dalam pelaksanaannya dituntut untuk


mengadakan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi dengan berbagai instansi
yang terkait serta diwajibkan memperhatikan aspirasi masyarakat.
Berkenaan dengan

penataan

ruang kota, Menteri Dalam Negeri

menerbitkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 1987 tentang


Pedoman Penyusunan Rencana Kota. Rencana Kota

adalah rencana

pembangunan kota yang disiapkan secara teknis dan non teknis, baik yang
ditetapkan

oleh Pemerintah Pusat

maupun Pemerintah

Daerah yang

merupakan rumusan kebijaksanaan pemanfaatan muka bumi wilayah kota

termasuk ruang di atas dan di bawahnya serta pedoman pengarahan dan


pengendalian bagi pelaksanaan pembangunan kota.
Tujuan perencanaan kota adalah agar kehidupan dan penghidupan
warga kota aman, tertib, lancar dan sehat melalui perwujudan pemanfaatan
ruang kota yang serasi dan seimbang

sesuai dengan kebutuhan dan

kemampuan daya dukung pertumbuhan dan perkembangan kota.


Rencana Umum Tata Ruang Kota pada dasarnya merupakan penataan
tanah/ruang suatu kota yang dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dengan
sumber daya manusia dan sumber daya alam. Dalam penataan, dikehendaki adanya
keselarasan pengembangan dan pembangunan antara ruang buatan/fisik bangunan
dan lingkungan sehingga menjadi satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis dan
terencana.
Penataan tanah perkotaan bertujuan untuk mengatur ruang suatu kota sehingga
terjadi interaksi ruang yang terencana. Hal-hal yang diatur adalah Konsolidasi Tanah
dan Penyediaan Sarana dan Prasarana Perkotaan. Konsolidasi tanah bertujuan
mengoptimalisasi penggunaan tanah, pemanfaatan, peningkatan produktivitas dan
konservasi kelestarian lingkungan, di samping pengembangan kota lebih terencana
dan terkendali. Sedangkan Penyediaan sarana dan prasarana kota merupakan salah
satu elemen yang direncanakan penggunaannya bagi kepentingan pembangunan kota.
Semua prosedur dan kegiatan pembangunan kota yang berkenaan dengan penggunaan
tanah berdasarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 dan Keppres No. 97 Tahun 1993 yang
kini telah diganti dengan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 implementasinya
mengacu pada rencana tata ruang yang berlaku yang telah disahkan menjadi peraturan
daerah oleh DPRD.
Kebijaksanaan penatagunaan tanah bagian wilayah kota Manokwari,
tercermin dalam RUTRK (Revisi Rencana Induk Kota Manokwari 19852003)
bertujuan:
1. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan yang merupakan
usaha dalam menciptakan keserasian dan keseimbangan fungsi dan
intensitas penggunaaan lahan bagianbagian wilayah kota.
7

2. Menciptakan pengaturan dan perencanaan kota menurut karakteristik


wilayah dan fungsinya sehingga tercipta keserasian dan keteraturan
masingmasing bagian wilayah kota.
3. Pencapaian tertib bangunan sebagai upaya pengendalian dan pengawasan
pelaksanaan pembangunan fisik kota.
4. Memberikan kemudahan bagi masyarakat kota maupun aparat pengelola
kota dalam ijin membangun.

Penataan tanah bagian wilayah kota terbagi dalam 4 BWK

dengan

karakteristik sebagai berikut:


1. BWK Pusat Kota (BWK A), merupakan

pusat kegiatan kota yang

berorientasi pada kegiatan perdagangan, pemerintahan, jasa komersial dan


pelabuhan. Pada masa mendatang BWK ini dikembangkan sebagai pusat
kegiatan

perdagangan (central bussines distric) dan kegiatan sosial

budaya

(civic center) dengan luas 1.093 hektar. BWK A ini berfungsi

sebagai:
a. Pusat pelayanan perdagangan dan jasa, dengan pengembangan pada
kawasan yang sudah ada yaitu sekitar jalan Merdeka, Yos Soedarso
dan Jl. Soedirman.
b. Pusata pelayanan pemerintahan (kabupaten) dengan pengembangan
kawasan yang sudah ada yaitu sekitar jalan percetakan.
c. Pusat pelayanan jasa komersial (perdagangan, perkantoran, dan
pariwisata), dengan pengembangan kawasan berorientasi pada
kawasan teluk Sawaibu.
d. Pusat kegiatan pelabuhan dengan pengembangan pada kawasan yang
sudah ada dengan melakukan penataan tata ruang yang sesuai antara
kegiatan penunjang yaitu industriindustri pengolahan, galangan kapal
dan perumahan.
2. BWK Barat (BWK B)
Bagian ini direncanakan mengemban fungsi sebagai pusat pendidikan
tinggi, pusat penelitian kehutanan dan rekreasi yang bersifat alam. Elemen
utama terdiri atas kawasan pendidikan dengan luas 2.400 hektar. BWK B
ini berfungsi:
8

a. Pusat pelayanan pendidikan tingkat universitas dan kegiatan


penelitiaan, meliputi daerah Amban dan daerah mengarah ke Bakaro.
b. Kawasan untuk kegiatan perkantoran dan perumahan karyawan/
mahasiswa, penduduk (fungsi penunjang).
c. Sebagai daerah hijau, resapan air, maupun sebagai penahan gempuran
ombak laut.
3. BWK Timur (BWK C)
Bagian ini direncakan untuk pengembangan kegiatan yang memiliki
intensitas rendah yakni kegiatan perumahan, pertanian, perkebunan,
peternakan. Elemen utama berupa kawasan perumahan dan hutan lindung
serta pelestarian perumahan penduduk asli, dengan luas 4.680 hektar.
Pusat jasa pelayanan berlokasi di Nuni. Fungsi kawasan ini sebagai pusat
kegiatan perumahan, dan bersifat melayani kegiatan perdagangan dan jasa
pada BWK A.

4. BWK Selatan (BWK D)


Fungsi yang diemban kawasan dengan luas 1.400 hektar,di daerah Arfai
ini adalah :
a. Pusat kegiatan Pemerintah Propinsi
b. Pusat industri kecil
c. Pusat kegiatan transportasi udara
d. Pelabuhan ekspor kelapa sawit
e. Jasa pelayanan (perdagangan, TVRI, RRI).
Sedangkan elemen penunjang meliputi Kawasan militer, rekreasi dan
perumahan.

3. Sumberdaya, dan Data Penyusunannya


Realitas menunjukan bahwa Revisi penyusunan Tata Ruang di Kabupaten
Manokwari, dimulai sejak tahun 1998, namun hingga sekarang belum rampung. Hal
ini disebabkan oleh terjadi perubahan wilayah pemerintahan yakni Manokwari
dimekarkan menjadi tiga kabupaten yakni Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk
9

Bintuni dan Kabupaten teluk Wondama. Di samping itu pula sejak tahun 2005 terjadi
reaktifisasi provinsi Papua Barat dengan ibukota berkedudukan di Manokwari.
Kondisi ini berpengaruh pada pengunaan ruang, baik wilayah maupun kota.
Seyogyanya perubahan administarsi pemerintahan yang juga berpengaruh
pada wilayah secara fisik, bukanlah suatu alasan belum diselesaikannya suatu
Dokumen penataan ruang yang sesuai dengan teori dan aturan hukum yang berlaku.
Menurut penulis hal tersebut disebabkan oleh dua hal yakni:
1. Rendahnya sumberdaya manusia penyusun tata ruang
2. Data dan informasi tidak sesuai dengan kerangka ilmiah penyusunan suatu tata
ruang yang baik.
Rendahnya sumberdaya manusia penyusun Rencana Tata Ruang dapat
teramati lewat Tim Penyusun lintas instansi seperti Badan Perencanaan Pengendalian
pembangunan, Dinas Pekerjaan Umum. Badan Pengawasan Daerah, Dians
Kehutanan, Bagian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kepala Distrik dan Organisasi
Non Pemerintah. Tim penyusun tersebut menurut penulis terdiri atas pegawai negeri
sipil yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas keilmuan/kompetensi untuk menyusun
tata ruang. Namun karena jabatanlah maka mereka tergabung dalam Tim Penyusun
rencana tata ruang. Menurut Penulis perlu dibentuk tim lintas instansi, namun
kedudukan Tim tersebut, sebagai pengumpul data sekunder, dan membantu data
primer dan menyerahkan penyusunannya kepada pihak yang memiliki kompetensi
seperti perusahaan konsultan di bidang perencanaan dan tata ruang, atau ke Perguruan
Tinggi yang memiliki kompetensi yang dapat dipendalkan dan dipercaya. Hal ini
belum dilakukan dalam penataan ruang di Kabupaten manokwari.
Penyusunan tata ruang yang baik tentu didasari pada data yang aktual,
dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketidakoptimalan penyusunan

tata

ruang kabupaten manokwari, disebabkan data tidak lengkap dan akurat, karena
metode pengumpulan data kemungkinan tidak tepat sehingga hasilnyapun tidak
optimal.
Dengan demikian produk tata ruang yang dihasilkan oleh tim penyusun
yang secara ilmiah tidak kompoten dan data yang tidak lengkap dan tidak akurat,
akan menghasilkan suatu produk Rencana Tata Ruang yang juga sekadar ada, dan
10

terurai bagus dan indah sebagi sebuah buku, tetapi tidak bermanfaat bagi pelaksanaan
pembangunan di Kabupaten Manokwari.

B. Pelaksanaan Sosialisasi Kebijakan Penataan Ruang


Dalam rangka perlindungan hak-hak rakyat atas tanah, maka penataan ruang
yang telah ditetapkan perlu disosialisasikan kepada masyarakat, karena masyarakat
berhak mengetahui dan berperan serta dalam penyusunan, pemanfaatan dan
pengendalian tata ruang, serta berhak mendapatkan penggantian yang layak dari
pelaksanaan tata ruang yang merugikan kepentingannya. Termasuk sosialisasi setiap
perkembangan keadaan yang menyebabkan ditinjau kembali aturan dan rencana tata
ruang, yang tentunya tidak mengorbankan kepentingan rakyat, sebagaimana
penjelasan Pasal 13 ayat (3) UU No. 24 Tahun 1992, yang menyatakan bahwa hak
orang harus tetap dilindungi.
Dalam pelaksanaan penataan ruang, sering ditemui kesulitan karena
masyarakat tidak mengetahui aturan tersebut, maka Pasal 25 UU No. 24 Tahun 1992
menegaskan agar disebarluaskan informasi tentang penataan ruang tersebut; karena
setiap orang berhak mengetahui rencana tata ruang sebagaimana diatur dalam Pasal 4
ayat (2) UU. No. 24 Tahun 1992.
Hartono (1991:114) mengemukakan bahwa penyebarluasan rencana penataan
ruang melalui mass media, jauh sebelum pelaksanaan pembangunan, agar dapat
diketahui umum, khususnya oleh penduduk yang terkena proyek pembangunan.
Dengan demikian warga masyarakat tidak dikejutkan oleh kebijaksanaan pemerintah
yang mendadak, sehingga nasibnya menjadi telantar. Apalagi ganti rugi yang diterima
sama sekali tidak sepadan dengan nilai tanah yang harus dikorbankan. Untuk itu
hukum tidak hanya memperhatikan pembangunan saja tetapi sekaligus memberikan
jaminan keadilan sosial dan kepastian hukum di dalam masyarakat. Adapun kepastian
itu hanya terjamin apabila ada transparansi karena rencana tata ruang kota sudah
diketahui oleh umum.

11

Sejalan dengan hal tersebut di atas, H. Ridwan Musa Gani mensinyalir bahwa
kesemrawutan pembangunan kota

Makassar

sebagai akibat masyarakat tidak

mengetahui rencana tata ruang kota. Untuk mensosialisasikan rencana tata ruang
kota, paling efektif bila diumumkan secara luas melalui media cetak agar masyarakat
segera mengetahuinya.

Fenomena kesemrawutan pembangunan kota selama ini

karena rakyat tidak mengetahui peruntukan suatu lokasi (Harian Fajar, Rabu, 27-101999). Berkenaan dengan sosialisasi RUTRK, menurut Abrar (1994:31) bahwa
kurangnya pengetahuan dan pemahaman warga kota Makassar tentang RUTRK itu
sebagai pertanda kurang efektifnya publikasi selama ini. Untuk itu perlu dilakukan
cara lain, misalnya disetiap sudut-sudut kota atau ditempat-tempat ramai dibuat peta,
di samping melalui surat kabar, radio dan televisi.
Untuk itu, menurut Kartasasmita

(1996:432) upaya-upaya sosialisasi

penataan ruang bagi seluruh pelaku pembangunan perlu ditingkatkan agar tidak
terjadi kesalahan interpretasi atau terdapat ekspektasi yang kurang sesuai terhadap
kedalaman maupun isi dari tiap-tiap tingkatan penataan ruang.
Sosialisasi penataan ruang sangat penting, karena rakyat mengetahui hal-hal
apa saja yang akan dilakukan di atas tanahnya. Sehingga pemegang hak atas tanah
sedini mungkin dapat mengatur dan merencanakan apa yang akan dilakukannya
berkaitan penggusuran tanahnya guna kepentingan pembangunan.
Berkenaan dengan sosialisasi aturan penataan ruang, maka dalam rangka
memfungsikan hukum sebagai a tool of social engineering atau alat rekayasa
sosial, sangatlah penting sosialisasi aturan hukum secara baik sebelum dilaksanakan
agar benar-benar efektif berlakunya. Efektivitas hukum berkaitan dengan kesadaran
atau ketaatan hukum. Menurut Kelman (Ali, 1998:193) bahwa ketaatan hukum
dapat dibedakan kualitasnya dalam tiga jenis yaitu:
(1) Ketaatan yang bersifat complience, yaitu jika seseorang taat terhadap
suatuatu aturan hanya karena ia takut terkena sanksi.
(2) Ketaatan yang bersifat identification, yaitu jika seseorang taat terhadap
suatu aturan hanya karena takut hubungan baiknya dengan seseorang
menjadi rusak.

12

(3) Ketaatan yang bersifat internalization yaitu jika seseorang taat


terhadap suatu aturan benar-benar karena ia merasa aturan itu sesuai
dengan nilai-nilai intrinsik yang dianutnya.
Berkenaan dengan efektivitas hukum, Ali (1998:193) mengemukakan bahwa:
Kapan
suatu aturan atau undang-undang
dianggap tidak efektif
berlakunya? Jawabannya tentu saja jika sebagian besar masyarakat tidak
menaatinya. Namun demikian jika sebagian besar masyarakat terlihat
menaati aturan atau undang-undang tersebut, maka ukuran atau kualitas
efektivitas aturan atau undang-undang itupun masih dapat dipertanyakan,
Semakin banyak warga masyarakat menaati suatu undang-undang hanya
dengan ketaataan yang bersifat compliance atau identification saja, berarti
kualitas keefektifan masih rendah, sebaliknya semakin banyak warga yang
menaati aturan dan undang-undang dengan ketaatan yang bersifat
internalization, maka semakin tinggi kualitas efektivitas aturan atau undangundang itu.
Penggunaan hukum sebagai alat rekayasa sosial seyogianya memperhatikan
empat asas utama

sebagaimana dikemukakan oleh Adam Podgorecky (Ali.

1998:285) sebagai berikut:


1. Menguasai dengan baik situasi yang dihadapi.
2. Membuat suatu analisis tentang penilaian-penilaian yang ada serta
menempatkan dalam suatu urutan hierarkis.
3. Melakukan verifikasi hipotesis-hipotesis seperti; apakah suatu metode
yang dipikirkan untuk digunakan pada akhirnya nanti memang akan
membawa kepada tujuan sebagaimana dikehendaki.
4. Pengukuran terhadap efek peraturan-peraturan yang ada.
Jadi proses

sosialisasi rancangan perundang-undangan dan peraturan

perundang-undangan bertujuan agar masyarakat mengetahui kehadiran dan substansi


materi suatu peraturan

serta dapat menyesuaikan diri dengan tujuan yang

dikehendaki oleh peraturan tersebut. Hal ini tentunya berhubungan dengan empat
unsur kesadaran hukum, sebagaimana dikemukakan oleh Soekanto (1982:239) yaitu
pengetahuan tentang hukum, pengetahuan tentang isi hukum, sikap hukum dan pola
perilaku hukum.

13

Sosialisasi rencana tata ruang kota merupakan kewajiban pemerintah


sebagaimana

diamanatkan

dalam

Undang-undang

Penataan

Ruang.

Untuk

mengetahui sosialisasi Rencana Tata Ruang Kota Manokwari, dapat terindikasi lewat
pengetahuan responden, sumber pengetahuan, dan intensitas sosialisasi, sebagaimana
hasil penelitian (Hammar, 2001) berikut ini:
Tabel 1. Pengetahuan Responden tentang RUTRK Manokwari
n = 80
No.
1.
2.
3.

Jawaban Responden
Mengetahui
Ragu-ragu
Tidak mengetahui

Frekuensi
34
5
41

J UMLAH
Sumber : Hammar, 2001

80

Persentase
42,5
6,25
51,25
100

Tabel 1 menunjukkan bahwa responden yang mengetahui Rencana Tata


Ruang Kota Manokwari adalah 34 responden atau 42,5 persen. Pengetahuan yang
dimiliki bersifat parsial, hanya wilayah bagian kota di mana terletak tanahnya.
Sedangkan responden yang ragu-ragu sebanyak 5 orang atau 6,25 persen, dan yang
tidak mengetahui sebanyak 41 responden atau 51,25 persen (Hammar, 2001)
Sumber pengetahuan responden mengenai Rencana Tata Ruang Kota
Manokwari sebagaimana pada tabel berikut ini:
Tabel 2. Sumber Pengetahuan Responden tentang
Rencana Tata Ruang Kota Manokwari
n = 34
No.
1.
2.
3.

Jawaban Responden
Pendidikan dan latihan
Penyuluhan
Pengumuman, Radio, Pameran
Pembangunan, dan lain-lain

JUMLAH
Sumber : Hammar, 2001

Frekuensi

Persentase

34

100

34

100

14

Pengetahuan responden yang bersumber dari pengumuman, radio, pameran


pembangunan, dan lain-lain sebanyak 34 responden atau 100 persen atau 42,5 persen dari 80
responden (Hammar, 2001).
Intensitas sosialisasi Rencana Tata Ruang Kota Manokwari, sebagaimana tabel
berikut ini.
Tabel 3. Intensitas Sosialisasi Rencana Tata Ruang Kota Manokwari
n = 80
No.
1.
2.
3.

Jawaban Responden
Selalu
Kadang kadang
Tidak pernah

JUMLAH
Sumber : Hammar, 2001

Frekuensi

Persentase

2
12
66

2,5
15
82,5

80

100

Dari tabel 3 terdeskripsi bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari


tidak selalu melakukan sosialisasi Rencana Tata Ruang Kota Manokwari. Hal ini
ternyata dengan hanya ada 2 responden atau 2,5 persen yang menjawab selalu.
Setelah dicermati, ternyata kedua responden tersebut adalah aparat kelurahan, yang
selama ini selalu mendapat penyuluhan tentang setiap perkembangan rencana tata
ruang. Sedangkan

Responden yang menjawab kadang-kadang sebanyak 12

responden atau 15 persen. Dan yang menjawab tidak pernah sebanyak 66 responden
atau 82,5 persen (Hammar, 2001).
Kondisi realitas tersebut selaras dengan penjelasan

Kepala Seksi

Penatagunaan Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Manokwari (Hammar,i 2001)


bahwa kontribusi Kantor Pertanahan adalah melakukan penyuluhan hukum berkaitan
dengan revisi rencana tata ruang kepada aparat pemerintahan kecamatan dan
kelurahan. Hal tersebut dibenarkan pula oleh Sekretaris Lurah Padarni bahwa
penyuluhan tentang penataan ruang kota sering kami dilibatkan, hanya masyarakat
belum pernah diikutsertakan dalam penyuluhan tersebut. Menurut Kepala Bagian
Penyusunan Program Sekretariat Daerah Kabupaten Manokwari bahwa selama ini
sosialisasi rencana tata ruang, dilakukan melalui program penyuluhan hukum terpadu.
Khusus sosialisasi program pelebaran jalan protokol (dua jalur) dilakukan dengan

15

cara mengumpulkan masyarakat dan memberikan pengertian tentang pentingnya


pembangunan untuk kepentingan umum, dan sosialisasi harga tanah sesuai SK harga
dasar tanah, serta pemberian ganti rugi yang bersifat imbalan jasa (Hammar, 2001).
Namun kenyataannya sebagian besar masyarakat yang tanahnya terkena proyek jalan
dua jalur (Jalan Yos. Sudarso dan Jalan Trikora, Jalan Pahlawan) tidak tersentuh
kegiatan sosialisasi tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh Frans Bonsapia yang
tanahnya terkena proyek bahwa tidak ada penyuluhan hukum kepada masyarakat.
Setelah proyek pelebaran jalan menjadi masalah baru ada pertemuan, sekaligus
penyuluhan hukum tanah, itupun hanya sekali (Hammar, i2001).
Menurut Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bappeda Kabupaten
manokwari, bahwa sosialisasi belum bersifat operasional, perlu dana dari pemerintah,
namun materi Rencana Tata Ruang Kota Manokwari disampaikan kepada Camat
untuk dipedomani. Sedangkan Kepala Seksi Sumber Alam dan Lingkungan Hidup
Bappeda Kabupaten Manokwari menyatakan bahwa sosialisasi ke masyarakat belum
dilaksanakan karena masih mencari bentuk sosialisasi yang tepat. Selama ini
sosialisasi tata ruang baru sampai ke tingkat lurah ( Hammar, 2001).
Kondisi tersebut menunjukkan Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari
dalam melaksanakan pembangunan belum transparan, dan sosialisasi rencana tata
ruang kota belum dijadikan prioritas dalam berbagai program kerja. Hal ini
menyimpang dari ketentuan hukum sebagaimana diatur dalam pasal 25 UU No. 24
Tahun 1992 yang menyatakan bahwa, agar disebarluaskan informasi tentang penataan
ruang; menumbuhkan

serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab

masyarakat melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan dan pelatihan. Dalam pasal 4


ayat (2) UU. No. 24 Tahun 1992 dinyatakan bahwa setiap orang berhak mengetahui
rencana tata ruang. Selain bertentangan dengan Undang-undang Penataan Ruang,
bertentangan pula dengan Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Manokwari No. 9
Tahun 1987 tentang Rencana Induk Kota Manokwari Tahun 1984 2004, pasal 5
ayat (4) yang menyatakan bahwa Rencana Induk Kota Manokwari terbuka untuk
umum dan diletakan di kantor pemerintah daerah pada tempat-tempat yang mudah
untuk dilihat pada setiap saat.

16

Mokoginta (1999:132) mengemukakan sisi menarik yang patut mendapat


perhatian bahwa disinformasi tentang rencana peruntukan lahan (ruang), tidak
semata-mata karena warga masyarakat tak mampu menyimak penjelasan pejabat,
tetapi juga terkesan aparat cenderung menutup peluang untuk masyarakat, dalam
mendapatkan informasi tentang rencana pembangunan secara rinci. Hal ini antara lain
tercermin pada kasus-kasus penggusuran yang terjadi secara mendadak, atau
terjadinya perubahan peruntukan lahan (ruang) di suatu kawasan secara tiba-tiba.
Dalam pelaksanaan rencana tata ruang kota, diperlukan transparansi dan
kejujuran dalam implementasinya. Manakala hal ini kurang diperhatikan, dikuatirkan
menimbulkan persepsi yang kurang

baik dari masyarakat. Menurut Masengi

(1999:33) hal tersebut dapat terjadi karena:


a. Masyarakat belum mengerti tentang aturan perundangan di bidang penataan ruang
sehingga timbul salah persepsi.
b. Kurangnya sosialisasi peraturan.
c. Keterbatasan pola pikir masyarakat.
d. Adanya pengaruh negatif dari pihak lain demi keuntungan politik atau ekonomi.
e. Aparatur tidak jujur dan tidak terbuka.
Selanjutnya Masengi menyatakan bahwa peranan aparatur sangat dominan
karena sifat masyarakat Indonesia yang majemuk dan tersebar diseluruh pelosok
tanah air dengan kemampuan serta sifat kebudayaan yang beraneka ragam. Oleh
karena itu sangat diperlukan adanya kegiatan sosialisasai perencanaan yang akan
melibatkan kepentingan rakyat banyak.
Dampak dari kurangnya sosialisasi memunculkan tindakan masyarakat yang
menghambat pembangunan, menurut Masengi (1999:33) dalam bentuk-bentuk
sebagai berikut:
1. Masyarakat menjadi pasif, apatis dalam pembangunan bahkan dapat muncul
sikap tidak percaya kepada aparat pemerintah.

17

2. Kebijaksanaan pemerintah tidak dapat dilaksanakan dengan baik dan akan


muncul gejolak antisipatif masyarakat.
Seharusnya peraturan perundang-undangan di bidang penataan ruang efektif
berlaku. Namun kenyataan selama ini di Kota Manokwari peraturan-peraturan
tersebut tidak efektif. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi baik sebelum maupun
sesudah ditetapkan menjadi suatu produk hukum.

C. Perkembangan Peraturan Daerah Tentang Tata Ruang dan Suplemennya


1.

Perkembangan Peraturan Penataan Ruang Kota di Indonesia dan


Kabupaten Manokwari

a. Perkembangan Peraturan Penataan Ruang Kota di Indonesia


Peraturan penataan ruang kota di Indonesia mulai diperhatikan sejak kota
Jayakarta (Batavia) dikuasai oleh Belanda pada awal abad ke-17, namun peraturan
secara intensif baru dikembangkan pada awal abad ke-20. Peraturan pertama yang
mengatur kota Batavia adalah De Statuten van 1642 yang dikeluarkan oleh VOC.
Substansi peraturan ini mengatur antara lain pembangunan jalan, jembatan, dan
bangunan lainnya, wewenang dan tanggung jawab pemerintah kota (Zulkaidi,
1995:9). Menurut Syahbana sebagaimana dikutip oleh Zulkaidi (1995:9) bahwa
peraturan ini dapat dianggap cukup lengkap karena telah mencakup peraturanperaturan untuk berbagai unsur kota, bangunan dan prasarana.
Pada tahun 1903 pemerintah Hindia Belanda menetapkan Wethoudende
Decentralisatie van Bestuur in Nederlandsch-Indie, Stb. 1903 Nomor 329. Undangundang Desentralisasi ini mengatur pembentukan pemerintahan kota dan daerah.
Pengaturan tugas pemerintah kota dalam undang-undang ini antara lain pembangunan
dan pemeliharaan jalan dan saluran air, pemeriksaan bangunan dan perumahan,
perbaikan perumahan, dan perluasan kota. Berdasarkan

undang-undang ini,

dibentuklah beberapa pemerintahan kota otonom yang disebut Gemente.

18

Pada tahun 1905 ditetapkan Localen-Raden Ordonantie, Stb. 1905 Nomor


191, substansinya mengatur wewenang kepada pemerintah kota untuk menentukan
persyaratan pembangunan.
Zulkaidi (1995:10) menyatakan bahwa persiapan peraturan pembangunan
kota di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari usaha Ir. Thomas Karsten. Dalam
aktivitasnya (19201940) telah menghasilkan dasar-dasar yang kokoh bagi
pengembangan peraturan pembangunan kota, antara lain penyusunan rencana umum,
rencana detail, dan peraturan bangunan.
Karsten, dalam laporannya kepada Kongres Desentralisasi tentang
pembangunan kota Hindia Belanda (Indiese Stedebouw) pada tahun 1920, selain
berisi konsep dasar pembangunan kota dan peranan pemerintah kota, mengatur pula
petunjuk praktis yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk penyusunan berbagai
jenis rencana. Peraturan yang penting bagi perencanaan kota yang disahkan tahun
1926 adalah Bijblad 11272. Peraturan ini menjadi dasar bagi kegiatan perencanaan
kota sebelum perang kemerdekaan. Peraturan ini memberi kewenangan kepada
pemerintah kota untuk menghibahkan lahan pemerintah kepada pihak ketiga jika
lahan tersebut telah ditetapkan untuk perumahan dalam rencana struktur kota
(Zulkaidi, 1995:10).
Bagoers dan de Ruijter

sebagaimana dikutip oleh Zulkaidi (1995:10)

menyatakan bahwa pada tahun 1929, Karsten menghasilkan Petunjuk Singkat


Penyusunan Kebijaksanaan Garis Sempadan Bangunan untuk Kota dan Kabupaten
(Korte

Handleiding

voor

de

praktise

rooilijnpolitiek

in

gemeenten

en

regenschappen) yang mengatur kebijaksanaan garis sempadan bangunan.


Lebih lanjut dinyatakan bahwa pada tahun 1933 Kongres Desentralisasi di
Indonesia meminta Pemerintah Hindia Belanda untuk memusatkan persiapan
peraturan perencanaan kota di tingkat pusat. Kemudian dibentuklah

Panitia

Perencanaan Kota pada tahun 1934 untuk menyiapkan peraturan perencanaan kota
sebagai pengganti Bijblad 11272. Bersamaan dengan itu pemerintah Hindia Belanda
menetapkan

Undang-Undang

Perbaikan

Kampung

(Kampong

Verbetering

19

Ordonantie) 1934. Undang-undang ini dibuat untuk mengatur perbaikan jalan, gang,
drainase, dan prasarana kesehatan lainnya di kampung-kampung kota.
Syahbana sebagaimana dikutip oleh Zulkaidi (1995:10) menyatakan bahwa
pada tahun 1938 pemerintah Hindia Belanda menyusun Rancangan Undang-Undang
Perencanaan

Wilayah

Perkotaan

di

Jawa

(Stadsverordenings

Ordonantie

Stadgemeenten Java) yang mengatur panduan dan persyaratan pembangunan kota


untuk mengatur kawasan-kawasan perumahan, transportasi, tempat kerja dan rekreasi.
Sementara itu Karsten menghasilkan lagi dua publikasi penting yaitu (1) Arahan
Perencanaan Kota Hindia Belanda (Indische stedebouwkundige richtlijnen) Tahun
1940, dan (2) Normalisasi Profil Jalan (Normalisatie van wegprofielen) Tahun 1941,
juga sebuah peraturan Kawasan dan Peruntukan (Kringen en Typen Verordening)
untuk mengatur lebih lanjut pembangunan wilayah kota yang telah ditentukan
zoningnya.
Masuknya Jepang ke Indonesia dan adanya perang kemerdekaan Indonesia
menyebabkan Rancangan Undang-undang Perencanaan Wilayah Perkotaan di Jawa
baru disahkan pada tahun 1948 dengan nama Undang-undang Pembentukan Kota
(Stadsvormingsordonnantie, SVO) stb 1948 Nomor 168 untuk sejumlah kota tertentu
yakni Batavia, Tegal, Pekalongan, Semarang, Salatiga, Surabaya, Malang, Padang,
Palembang, Banjarmasin, Cilacap, Tangerang, Bekasi Kebayoran dan Pasar
Minggu.Substansi SVO mengatur zoning, konservasi bangunan bersejarah, kondisi
perumahan, jenis dan kepadatan bangunan, ruang terbuka, transportasi, lalulintas air
bersih, dan sebagainya. Undang-undang ini memberi kewenangan kepada kota untuk
menyusun Rencana Umum atau Rencanan Detail yang disahkan oleh Letnan
Gubernur Jenderal (kemudian diganti dengan Presiden setelah diadopsi ke dalam
hukum Indonesia). Menurut Syahbana sebagaimana dikutip oleh Zulkaidi (1995:11)
bahwa SVO mencakup ketentuan-ketentuan berkenaan dengan proses konsultasi,
kompensasi (ganti rugi), pungutan dan perpajakan bagi lahan yang mendapat manfaat
dari perencanaan dan pembangunan kota.

Peraturan pelaksanan SVO, adalah

Peraturan Pembentukan Kota (Stadsvormingsverordening, SVV) stb 1949 Nomor 40.

20

Pada tanggal 21 Desember 1948 dibentuk Panitia yang diketuai oleh Prof.
Jac P. Thijsse, mempersiapkan Undang-undang Perencanaan Fisik (Wet op de
Ruimtelijke Ordening). SVO dan SVV diberlakukan di Indonesia berdasarkan Surat
Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 18/2/6, diperkuat dengan Keppres Nomor
1/1976 hingga diterbitkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992.
Perkembangan kota yang sedemikian pesat mengakibatkan SVO tidak
sesuai lagi untuk mengatur penataan ruang kota di Indonesia. Karena itu pemerintah
Indonesia mengajukan RUU Bina Kota pada tahun 1970 namun tidak disetujui akibat
munculnya sejumlah konsep baru dalam pembangunan kota dan adanya perubahan
struktur administrasi dan pemerintahan dengan disahkannya Undang-undang Nomor
5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Nasib yang sama
menimpa dua RUU Tata Guna Tanah yang diajukan oleh Depdagri tahun 1980 dan
1982, tidak disetujui.
Zulkaidi (1995:11) menyatakan bahwa di awal 1970-an, Indonesia mulai
memberikan perhatian pada penataan ruang kota. Pada 1973 Departemen Dalam
Negeri mengeluarkan SE Mendagri Nomor Pemda 18/3/6 tentang Perencanaan
Pembangunan Kota untuk Ibukota Kabupaten yang masih mengacu kepada SVO,
sedangkan Departemen Pekerjaan Umum lebih menekankan aspek teknis penataan
ruang kota.
Departemen Dalam Negeri menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 4 Tahun 1980 tentang Penyusunan Rencana Kota, disertai peraturan
pelaksanannya yakni Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 650-1232 tentang
Pelaksanaan Permendagri Nomor 2 Tahun 1980 dan Inmendagri Nomor 650-1233
tentang Prosedur Penyusunan Perencanaan Kota. Peraturan-peraturan ini menurut
Zulkaidi (1995:11) merupakan pedoman penting bagi perencanaan kota pada saat itu
walaupun isinya berlainan dengan SVO.
Atas dasar

pertimbangan bahwa Depdagri hanya mengatur masalah

administratif, sedangkan masalah teknis dilaksanakan oleh DPU, menteri kedua


departemen mengeluarkan SKB Mendagri dan Menteri PU Nomor 650-1595 dan

21

Nomor 503/KPTS/1985 tentang Tugas-tugas dan Tanggung Jawab Perencanaan Kota,


yang menyerahkan urusan administrasi ke Depdagri dan urusan teknis ke DPU serta
menyeragamkan jenis dan spesialisasi rencana kota. SKB ini diikuti Kepmen PU
Nomor 640/KPTS/1986 tentang Perencanaan Tata Ruang Kota, yang mengatur aspek
teknis perencanaan kota, dan Permendagri Nomor 2 Tahun 1987 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Kota, yang mengatur aspek administratif perencanaan kota.
Dilengkapi dengan Kepmendagri Nomor 59 Tahun 1988 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Permendagri Nomor 2 Tahun 1987 yang ternyata berisi aspek teknis
yang hampir sama dengan isi Kepmen PU Nomor 640/KPTS/1987.
Depdagri menerbitkan beberapa peraturan berkenaan dengan penataan ruang
kota yakni:
-

Kepmendagri Nomor 650-658/1985 tentang Keterbukaan Rencana Kota untuk


Umum.

Permendagri Nomor 7/1986 tentang Penetapan Batas Wilayah Kota di Seluruh


Indonesia.

Inmendagri Nomor 14/1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah


Perkotaan.

SE Mendagri Nomor 650/2109/Bangda/1988 tentang Petunjuk Pemantapan


Penyiapan Perencanaan, Pelaksanaan dan Pemeliharaan ( P3KT).

SE

Mendagri

Nomor

650/1164/Bangda/1988

tentang

Petunjuk

Teknis

Penyusunan Rencana Kota Ibukota Kabupaten.


Akhirnya 1992 Indonesia berhasil menyusun Undang-Undang Nomor 24
Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, disingkat UUPR. UUPR (yang diprakarsai oleh
Kantor Menteri Negara KLH dengan melibatkan berbagai instansi antara lain
PPN/Bapenas, DPU dan Depdagri) dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan
definisi dan tumpang tindih pengawasan pemanfaatan sumber daya alam dan ruang
beserta isinya.

22

Zulkaidi (1995:12) mengemukakan bahwa UUPR mencabut SVO tetapi


tidak mengatur prosedur perencanaan kota lebih rinci, melainkan hanya menyatakan
bahwa penataan ruang kota akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah
(pasal 31). Sehubungan dengan belum ditetapkannya PP tersebut, prosedur
perencanaan kota masih tetap mengacu pada Permendagri Nomor 2/1987,
Kepmendagri Nomor 59/1988, dan Kepmen PU Nomor 640/KPTS/1986.
Peraturan pelaksanaan

UUPR yang telah ditetapkan adalah Peraturan

Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta
Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang; dan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1988 tentang Tata Cara Peran Serta
Masyarakat dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah.
Berkenaan dengan semangat reformasi dan otonomi daerah, telah ditetapkan
berbagai perundang-undangan tentang otonomi daerah, antara lain UU Nomor 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, sehingga UUPR perlu direvisi agar selaras
dengan semangat otonomi daerah.
b. Perkembangan Peraturan Penataan Ruang Kota di Kabupaten Manokwari
Kota manokwari yang merupakan kota tua, (sesuai namanya Mnukwar
artinya kota tua), pernah disinggahi bangsa Portugis, Belanda dan Inggris. Diantara
sekian banyak bangsa yang pernah datang ke tanah Papua, Belandalah yang
kemudian berhasil menguasai tanah papua, ditandai dengan Proklamasi Fort du Bus,
pada tanggal 24 Agustus 1898 oleh A. J. van Delden, Komisaris Pemerintah Kerajaan
Belanda. Guna memperkuat pemerintahan Hindia Belanda, dibentuklah wilayah
Irian Jaya, dengan

pos pemerintahan

yang pertama

di Manokwari (Pemda

Manokwari, 1994:2).
Pada hari selasa

tanggal 8 November 1898 Residen Ternate Dr. D.W.

Horst melantik L. A. van Oosterzee menjadi kontrolir wilayah Onderafdeling Irian


Bagian Utara, wilayahnya meliputi Tanjung Yermousba sampai ke Jayapura.
Berdasarkan stb 1898 Nomor 142, Kota Manokwari yang terletak di Teluk Doreri
ditetapkan sebagai tempat kedudukan kontrolir atau ibukota Onderafdeling Irian

23

Bagian Utara, yang pada waktu itu termasuk wilayah Keresidenan Ternate.
Berdasarkan Peristiwa tersebut, tanggal 8 November 1898 ditetapkan sebagai hari
jadi Kota Manokwari, sebagaimana telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah
Kabupaten Dati II Manokwari Nomor 16 Tahun 1995.
Sejak Papua kembali ke pangkuan Republik Indonesia, melalui Penentuan
Pendapat Rakyat, maka Kabupaten

Manokwari terbentuk berdasarkan Undang-

Undang Nomor 12 Tahun 1969 tantang Pembentukan Propinsi Otonom Irian Barat
dan Kabupaten-kabupaten Otonom di Propinsi Irian Barat (Lembaran Negara tahun
1969 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2907), kemudian nama Irian
Jaya Barat diubah menjadi nama Irian Jaya

berdasarkan Peraturan Pemerintah

Nomor 5 Tahun 1973 tentang Perubahan Nama Propinsi Irian Barat menjadi Irian
Jaya (Lembaran Negara Tahun 1973

Nomor 9);

Sejak terbentuknya pemerintah kabupaten Manokwari, baru menetapkan dua


peraturan daerah tentang penataan ruang yakni:
(1). Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Manokwari Nomor 11 Tahun
1994 tentang Tata Ruang Wilayah Kabupaten Dati II Manokwari.
(2). Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Manokwari Nomor 9 Tahun
1987 tentang Rencana Induk Kota Manokwari Tahun 19842004.
Berdasarkan perkembangan kabupaten maupun kota Manokwari, maka kedua
peraturan daerah tersebut tidak lagi memenuhi tuntutan pembangunan, karena kota
Manokwari telah berkembang menjadi pusat pemerintahan Provinsi Papua Barat. Di
samping

telah

terjadi

perubahan

berbagai

fungsi

kawasan

(lihat

uraian

inskonsistensi).
Secara administrasi pemerintahan telah dilakukan revisi sebanyak 2 (dua) kali
yakni perubahan bagian Wilayah Kota (BWK), dan pusat pertumbuhan menjadi lima
BWK. Selain itu secara kewilayahan kabupaten Manokwari telah terbagi menjadi tiga
kabupaten dan sementara (Tahun 2007) dalam proses pemekaran tiga kabupaten.
Sehingga perubahan penataan wilayah kabupaten Manokwari menjadi enam

24

kabupaten. Tentunya Peraturan Daerah 11 tahun 1994 dan Peraturan daerah Nomor 9
Tahun 1987 tidak memadai lagi.
Pembahasan dan penyususnan perubahan tata ruang wilayah dan kota telah
dimulai sejak tahun 2001, namun hingga sekarang mengalami kebuntuan di tingkat
Pemerintah Daerah. Namun pada tahun 2007 ini telah dimulai pengkajian ulang
terhadap penataan ruang termasuk regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah.
2. Suplemen Penataan Ruang di Kabupaten Manokwari
a. Konsistensi Pelaksanaan Penataan Ruang
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 1987 Rencana
Kota meliputi: Rencana Umum Tata Ruang Kota; Rencana Detail Tata Ruang
Kota; Rencana Teknik Ruang Kota. Namun penyusunan rencana kota tidak harus
disusun sebagai suatu urutan sebagaimana di atas, tetapi dapat disiapkan atas
dasar

suatu kebutuhan dan kepentingan. Rencana kota merupakan

kebijaksanaan

pemanfaatan

ruang kota, rencana

rumusan

struktur dan strategi

pembangunan kota, disusun guna menjamin konsistensi perkembangan kota secara


internal dan merupakan dasar bagi penyusunan program-program pembangunan
kota lintas sektoral dan daerah dalam jangka panjang di dalam batas wilayah
administrasi kota.
1. Pemanfaatan Ruang
Dalam pelaksanaan penataan ruang berasaskan kepada:
a. Pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan
berhasil guna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan.
b. Keterbukaan, persamaan, keadilan dan perlindungan hukum.
Parlindungan

(1993:15)

menyatakan

bahwa

makna

semua

kepentingan adalah penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan


pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi
lemah. Berdaya guna dan berhasil guna harus dapat mewujudkan kualitas ruang
yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. Sedangkan serasi, selaras dan

25

seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian,


keselarasaan dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi
penyebaran penduduk antar wilayah, pertumbuhana dan perkembangan antar
sektor, antar daerah serta antar sektor dan daerah dalam satu wawasan nusantara.
Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah

penataan ruang menjamin

kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan


kepentingan lahir batin antar generasi.
Dalam penjelasan Pasal 15 UU No. 24 Tahun 1992 menegaskan bahwa
pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan
yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana
tata ruang. Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan
program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan
ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, baik sendiri-sendiri
maupun bersama-sama sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
Yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan program pemanfaatan ruang
adalah sumber mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan sesuai dengan rencana
tata ruang.
Hal-hal yang perlu dikembangkan dalam pemanfaatan ruang adalah:
a. Pola pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara dan tata guna
sumber daya alam lainnya.
b. Perangkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak
penduduk sebagai warga negara.
c. Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna
udara dan tata guna sumber daya alam lainnya.
Perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan
ransangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang.
Perangkat insentif tersebut dapat dituangkan dalam peraturan yang dapat
diwujudkan dalam bentuk:

26

a. Di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi, imbalan dan


tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun sahan.
b. Di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana
seperti jalan, listrik, air minum, telepon, dan sebagainya untuk melayanai
pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang.
Sedangkan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan
membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan
rencana tata ruang.
Misalnya dalam bentuk:
a. Pengenaan pajak yang tinggi.
b. Ketidaksediaan sarana dan prasarana.
Hal yang patut diperhatikan dalam pengenaan insentif dan disinsentif
adalah tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warga negara yang
meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama, dan hak memperoleh
dan mempertahankan ruang hidupnya.
Terwujudnya keserasian, keselarasan dan keseimbangan pemanfaatan
ruang akan sangat menentukan kualitas ruang, yang keberhasilannya akan
sangat tergantung pada bagaimana mengindahkan faktor-faktor daya dukung
lingkungan seperti wilayah resapan air; konservasi flora dan fauna; estetika
lingkungan seperti bentang alam, pertanian, arsitektur bangunan, lokasi
seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja, jarak antara perumahan
dengan fasilitas umum dan struktur, seperti pusat lingkungan dalam
perumahan, pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan ruang adalah strategi
dan arahan kebijaksanaan yang mempertimbangkan kemampuan teknologi
dan ilmu pengetahuan, data dan informasi serta biaya yang diperlukan.
Kapasitas

ilmu

pengetahuan

dan

teknologi

untuk

mengolah

dan

merencanakan penataan ruang tersebut antara lain pengetahuan tentang

27

lingkungan hidup, sosiologi, watak orang/penduduk Indonesia di desa


maupun di kota, adatistiadat dan agama yang banyak memegang peranan.
Hal tersebut menurut Parlindungan (1993:23) bermanfaat untuk membedakan
daerah perkotaan yang menginginkan suatu privacy dan security serta daerah
pedesaan (rural) yang menginginkan kebersamaan tanpa tembok pemisah
antara hak seorang dengan yang lainnya.
2. Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Parlindungan

(1993:23)

mengemukakan

bahwa

pengendalian

pemanfaatan ruang dilakukan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban


pemanfaatan ruang. Pengawasan dalam konteks ini adalah usaha untuk
menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang. Sedangkan
penertiban adalah tindakan yang dilakukan agar rencana tersebut terwujud
dan menindak pelaku pelanggaran atau pun kejahatan dengan pengenaan
sanksi, baik sanksi administrasi, sanksi perdata maupun sanksi pidana.
Menurut Budihardjo (1997a:55), kelemahan mekanisme pengendalian
pembangunan disebabkan antara lain Pemda tidak mempunyai akses terhadap
rencana-rencana pembangunan sektoral, yang dibuat dan ditentukan oleh
pusat. Selain itu juga karena rencana-rencana yang telah disusun bisa berubah
total akibat adanya investasi berskala besar yang tidak diduga sebelumnya.
Penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Penataan Ruang menegaskan
bahwa pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam
bentuk pelaporan, pemantauan dan evaluasi. Pelaporan adalah kegiatan
pemberian informasi secara objektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang
sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Pemantauan
adalah usaha atau perbuatan mengamati, mengawasi dan memeriksa dengan
cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai
dengan rencana tata ruang. Sedangkan evaluasi adalah usaha untuk menilai
kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata
ruang.

28

Proses perkembangan kota menurut Jayadinata (1992:140) sangat


cepat berimplikasi terhadap keterbatasan ketersediaan daya tampung lahan
untuk pembangunan, akibat pertumbuhan dan distribusi penduduk yang kian
pesat dan tidak merata serta tingkat kualitas yang belum memenuhi harapan.
Di samping meningkatnya kegiatan kehidupan sosial ekonomi masyarakat
yang tercermin pada perluasaan ruang kota guna memenuhi kebutuhan sarana
dan prasarana.
Kondisi terbatasnya ketersediaan lahan berhadapan dengan kebutuhan
yang

membengkak,

menyebabkan

dihalalkannya

segala

cara

untuk

mendapatkan lahan. Kondisi ini akan berlanjut dan mengarah pada


pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
Dengan kondisi semacam itu dipandang perlu diadakan evaluasi
terhadap rencana tata ruang kota, yang telah disusun untuk mengetahui
sampai sejauh mana penyimpangan terhadap rencana tata ruang kota.
Evaluasi

dilakukan

dengan

membandingkan

antara

rencana

dan

pelaksanaannya sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun setelah


dioperasional.
Berkenaan dengan kegiatan kegiatan evaluasi rencana kota, dalam
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 1987 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Kota, pada Pasal 33 disebutkan bahwa :
1) Untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan rencana antara satu tahap
dengan tahap berikutnya serta keterpaduan antar sektor dan sub sektor
dan untuk penyesuaian rencana dengan perubahan di bidang sosial
ekonomi maupun fisik. Pemerintah Daerah melaksanakan kegiatan
evaluasi atau peninjauan kembali rencana kota.
2) Kegiatan peninjauan kembali rencana kota dilaksanakan secara berkala
setiap masa akhir repelita.
3) Revisi rencana kota dilaksanakan apabila hasil peninjauan kembali
menunjukkan perubahan dan penyimpangan yang mendasar.
Metode evaluasi didasarkan pada hierarki rencana kota yaitu RUTRK,
RDTRK, dan RTRK melalui kegiatan yang meliputi pengumpulan data
29

tentang pemanfaatan lahan pada kondisi terakhir dengan klasifikasi sesuai


kedalam rencana. Selanjutnya dilakukan analisa teknik tindih (super impose)
peta kondisi existing dengan peta rencana untuk melihat kesesuaian wujud
fisiknya.
Inti kegiatan evaluasi adalah menilai sampai sejauh mana suatu
rencana kota telah atau dapat dilaksanakan, atau sebagai upaya menilai
efektivitas rencana kota melalui pengendalian pemanfaatan lahan kota.
Dengan demikian bahan kajian utama adalah rencana kota sebagai tolok ukur,
dan sebagai pembanding adalah hasil monitoring implementasi rencana.
Wujud monitoring berupa monitoring terhadap pelaksanaan penyusunan
kegiatan proyek sektoral tahunan, perubahan pemanfaatan lahan, dan
pelaksanaan rencana kegiatan atau proyek sektoral dan daerah pertahun.
Didasari atas evaluasi yang telah dilakukan, diterbitkan rekomendasi
mengenai perlu tidaknya kegiatan revisi rencana kota. Rekomendasi tersebut
ada tiga kemungkinan yaitu:
1. Tidak perlu diadakan perubahan terhadap rencana kota karena masih valid
untuk digunakan sebagai alat pengendalian pemanfaatan ruang kota
(Penyimpangan : 0-2 %).
2. Rencana kota perlu direvisi karena beberapa kawasan telah

mengalami

perubahan fungsi (Penyimpangan : 21-50 %).


3. Rencana kota perlu direvisi total dalam arti bahwa rencana kota perlu
disusun

ulang,

karena

perkembangan

di

lapangan

menunjukkan

banyaknya penyimpangan terhadap rencana kota (Penyimpangan: 50 %).


Manakala hasil evaluasi merekomendasikan adanya revisi separuh atau
revisi total, maka kegiatan evaluasi dan revisi rencana kota merupakan
kesatuan pekerjaan yang tak terpisahkan.
Peninjauan kembali rencana tata ruang diperlukan agar sesuai dengan
tuntutan pembangunan dan perkembangan, namun bukanlah perubahan secara
total, melainkan modifikasi yang menurut Budihardjo (1997b:68)

tidak
30

bersifat strukural yakni tidak mengubah kerangka umum dalam arti kebijakan
menyeluruh yang strategis dengan perspektif jangka panjang.
Rencana Tata Ruang Kota Manokwari adalah rencana yang menjadi pedoman
peruntukan lahan (ruang) di suatu kawasan tertentu. Pedoman tersebut diperlukan
agar penggunaan lahan (ruang) dapat mendatangkan manfaat maksimal bagi
masyarakat, sekaligus untuk menghindari dampak yang merugikan berbagai pihak.
Untuk menjamin Rencana Tata Ruang Kota Manokwari ditaati oleh semua
pihak, maka Rencana Tata Ruang Kota tersebut ditetapkan oleh legislatif bersamasama dengan eksekutif menjadi peraturan daerah, sebagaimana Peraturan Daerah
Kabupaten Dati II Manokwari Nomor 9 Tahun 1987 tentang Rencana Induk Kota
Manokwari Tahun 1984-2004.
Pada kenyataannya Rencana Tata Ruang Kota tersebut belum sepenuhnya
ditaati, masih terdapat pelanggaran. Bentuk pelanggaran yang terjadi adalah
penggunaan lahan tidak sesuai dengan peruntukan suatu kawasan, atau penggunaan
bangunan tidak sesuai dengan peruntukan, seperti penggunaan rumah tinggal sebagai
tempat kegiatan usaha, serta mendirikan bangunan tidak sesuai dengan ijin
pemberiannya.
Menurut Mokoginta (1999:131) guna memberikan perlindungan terhadap
masyarakat luas, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksaanaan
Rencana Umum Tata Ruang Kota, termasuk rencana-rencana detailnya, wajib
dijelaskan oleh pemerintah. Pemaparan rencana tersebut bertujuan agar masyarakat
memahami, dan mematuhi ketentuan tersebut, sehingga kekeliruan yang bakal
merugikan banyak pihak, terhindar.
Deskripsi mengenai seberapa jauh inkonsistensi pelaksanaan Rencana Umum
Tata Ruang Kota, maka acuannya adalah Rencana Induk Kota Manokwari tahun
19842004. Pada tahun 1998, Pemerintah Daerah melakukan revisi terhadap RUTRK
akibat terjadi deviasi atau penyimpangan

(inkonsistensi) sebagaimana dalam tabel

berikut ini.

31

Tabel 4: Deviasi Rencana Induk Kota Manokwari Tahun 19842004


No.
1.

R I K 1985 2004
2

1.

Wilayah perencanaan
kelurahan

2.

Deviasi
4

Wilayah perencanaan dimekarkan


menjadi 9 kelurahan dan 3 desa

Terjadi deviasi

Pengembangan Tata Ruang


Diarahkan pada kawasan-kawasan kota
yang belum terbangun, realokasi bagi
penggunaan ruang yang tidak sesuai
menurut fungsinya dijaga kelestariannya.
Arah pengembangan fisik kota
Pengembangan fisik kota mengarah ke
sebelah utara, selatan dan timur

Kecenderungan perkembangan kota


Manokwari berkembang mengikuti
jaringan jalan

Terjadi deviasi

Pengembangan kota hanya terjadi


di sekitar kawasan fisik kota ,dan
utara pusat kota
( Amban)
mengikuti jaringan jalan.

Kurang berkembangnya pembangunan fisik di


sebelah timur dan
selatan pusat kota.

4.

Struktur pengembangan kota


Pada BWK A
diarahkan fungsinya
sebagai pusat pelayanan perdagangan,
jasa, industri, pemerintahan, pelabuhan
laut, pelayanan sosial ekonomi.
BWK B diarahkan fungsinya untuk
kegiatan pendidikan, pemukiman dan
konservasi.
BWK C diarahkan fungsinya untuk
pelayanan kegiatan permukiman dan
kawasan hijau.
BWK D diarahkan fungsinya untuk
kegiatan bandara, kawasan cadangan
pemerintah propinsi dan pemukiman

Adanya pergeseran peruntukan


lahan pengembangan di semua
BWK

Terjadi deviasi

5.

Rencana pemanfaatan lahan


i. BWK pusat kota ( BWK A )
direncanakan bagi pengembangan
lahan kegiatan utama kota yaitu
kegiatan jasa dan perdagangan,
pemerintahan, industri, pelabuhan
laut, rekreasi pantai, terminal regional
dan kota, pasar pusat.
ii. BWK barat pusat kota ( BWK B ) direncanakan bagi pengembangan lahan
kegiatan pusat pendidikan perguruan
tinggi ( Uncen ), hutan lindung dan
konservasi, kawasan hijau dan perumahan.
iii. BWK timur pusat kota ( BWK C ) direncanakan bagi pengembangan lahan
kegiatan perumahan penduduk dan
daerah hijau.

* Pada BWK A terjadi perubahan


dan pergeseran fungsi lahan
berbagai kegiatan kota.

Terjadi pergeseran
penggunaan lahan.

* Pola penggunaan dan pemanfaatan


lahan di BWK B ini sudah mulai
tumbuh dan berkembang kawasan
pemukiman penduduk terutama di
sepanjang jaringan jalan.

Terjadi pergeseran
penggunaan lahan

* Pada BWK C peruntukan lahan


kegiatannya masih banyak
didominasi oleh peruntukan lahan
hutan dan kebun campuran.

Terjadi pergeseran
penggunaan lahan

*Pada BWK D peruntukan lahan kegiatan sudah mulai tumbuh dan berkembang fisik bangunan terutama di
sekitar jaringan jalan yang ada.

Terjadi pergeseran
penggunaan lahan

3.

iv.

terdiri atas 5

Fakta

BWK selatan pusat kota ( BWK D )


direncanakan bagi pengembangan lahan kegiatan Bandara Rendani,
kawasan cadangan pemerintahan
propinsi, terminal regional dan pergudangan perumahan dan kebun campuran.

32

Kependudukan
a. Laju pertumbuhan penduduk ratarata pertahun adalah sebesar 4 %
sehingga projeksi s.d akhir tahun
peren- canaan 2004 adalah 75.117
jiwa.
b. Rencana kepadatan dan distribusi
penduduk di masing-masing BWK
berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2004 sesuai dengan fungsi maSing-masing BWK.

7.

8.

Laju pertumbuhan penduduk kota


sebesar 1,23 % per tahun, jika diproyeksikan sampai akhir tahun
perencanaan 2004 sebesar 61.729
jiwa.

Terjadinya laju
pertumbuhan
penduduk yang
berbeda menyebabkan pola sebaran penduduk akan
berbeda.

Transportasi
a. Pelabuhan laut
Direncanakan pengembangan dan perluasan fasilitas pelabuhan di BWK A
yaitu di sekitar pesisir pantai teluk
Sawaibu.

Tidak terjadi perluasan kawasan

Perluasan dan
pengembangan
kawasan
pelabuhan tidak
terealisasi.

b. Perhubungan darat
Jaringan jalan baru direncanakan di
setiap BWK yang menghubungkan
antar BWK dan ke pusat pelayanan
yang meliputi :
- Rencana jalan arteri sekunder yang
menghubungkan BWK C BWK D
- Rencana jalan arteri sekunder di
pantai utara BWK B.
- Rencana jalan lokal sekunder di
BWK A, BWK B dan BWK D.
Rencana Terminal dan pergudangan
dialokasikan di Maripi (BWK D )

Kawasan yang direncanakan masih


berupa lahan hutan dan kebun
campuran

Terjadi deviasi

Lokasi terminal regional yang baru


berada di kelurahan Wosi.

Terjadi deviasi

Permukiman penduduk

Terjadi deviasi

Kawasan Hutan Lindung (hutan jati)

Sumber : Hammar 2001.

Menurut Hammar (2001: 99) penyebab belum konsistennya pembangunan di


Kota Manokwari disebabkan hal-hal sebagai berikut:
1. Kebijakan Pemerintah Daerah.
Penyimpangan tata ruang kota diakibatkan oleh kebijakan pemerintah
daerah dijawab. Pada umumnya penyimpangan semacam ini terjadi dalam hal ada
sesuatu projek atau ada investor yang mengingini suatu lahan guna penanaman
modal. Karena orientasi pemda hanya pada peningkatan pendapatan asli daerah
(PAD) sehingga lokasi yang dikehendaki oleh investor disetujui, kendatipun
diketahui bahwa hal itu bertentangan dengan RUTRK. Hal ini dilakukan karena
ketakutan investor akan mengalihkan modalnya ke daerah lain.

33

2. Kurangnya koordinasi antar instansi pelaksana pembangunan kota.


Pelaksanaan pembangunan kota belum terkoordinasi dengan baik antara
berbagai instansi terkait akibat masih kuatnya ego sektoral. Bentuk koordinasi
harus lebih konkret, bukan saja pada saat rapat koordinasi pembangunan daerah,
melainkan yang penting adalah rapat koordinasi antara instansi pengelola projek
dengan instansi terkait (antara Bappeda, BPN, PU, Panitia Pengadaan Tanah)
sebelum projek dilaksanakan.
3. Kurang efektif fungsi pengawasan pembangunan oleh instansi yang berwenang
Dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang kota, patut dilakukan
pengawasan agar pelaksanaan pembangunan konsisten dengan rencana tata ruang
kota. Hal ini menunjukkan berbagai instrumen pengawasan pembangunan belum
digunakan

secara

optimal

oleh

pemerintah

daerah.

Akibatnya

terjadi

kesemrawutan dan degradasi estetika kota. Instrumen pengawasan berkaitan


dengan perizinan antara lain Izin Lokasi, Izin Mendirikan Bangunan, Izin
Penggunaan Bangunan, Izin Penghapusan Bangunan, Surat Izin Tempat Usaha.
4. Lemahnya pengendalian sosial warga kota terhadap pelaksanaan RUTRK.
Realitas menunjukkan bahwa masyarakat di kota Manokwari tidak dapat
mengontrol bahkan melakukan pelanggaran terhadap rencana tata ruang karena
disinformasi rencana pembangunan yang sesuai dengan RUTRK. Hal ini
disebabkan masyarakat selama ini tidak mengetahui RUTRK, bahkan tidak
diikutsertakan dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan
ruang. Di samping masyarakat selama ini belum diberdayakan.
5. Manajemen perkotaan belum didukung oleh ketersediaan SDM Birokrat

yang

memadai.
Masalah klasik yang selama ini menghantui pelaksanaan pembangunan
kota adalah belum memadainya ketersediaan sumber daya manusia, khususnya
sumber daya manusia yang terlibat langsung dalam pelaksanaan pembangunan
kota. Akibatnya terjadi perbedaan penafsiran terhadap rencana tata ruang, seperti
penerbitan SITU (surat izin tempat usaha), SIU (surat izin usaha) diberikan
kepada pengusaha dengan alasan sudah sesuai dengan prosedur, yakni pernyataan
tidak berkeberatan dari warga sekitar tempat usaha, rekomendasi Lurah, Camat,
34

ada IMB (izin mendirikan bangunan)tanpa melihat kawasan tempat usaha tersebut
apakah untuk pemukiman ataukah untuk perdagangan (tanpa mempersoalkan
faktor peruntukan).
Menurut Kepala Seksi Penatagunaan Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten
Manokwari, bahwa pelaksanaan pembangunan kota Manokwari menyimpang dari
tata guna tanah yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan pertumbuhan penduduk di
kawasan perkotaan mendorong terjadinya pemanfaatan tanah perkotaan tidak terarah
sesuai tata guna tanah, terutama pada pusat-pusat kegiatan perkotaan, seperti di
kompleks pasar, sepanjang pantai/pelabuhan. Dinyatakan pula bahwa tata guna tanah
yang dibuat oleh BPN merupakan implementasi kebijakan Pemerintah Daerah
sebagaimana dalam Pola Dasar Pembangunan daerah dan Rencana Tata Ruang kota
(Hammar, 2001).
Tidak konsistennya pelaksanaan Rencana Tata Ruang Kota merupakan suatu
pelanggaran dengan pertimbangan bahwa secara normatif Rencana Tata Ruang Kota
Manokwari merupakan produk hukum yang mengikat karena memiliki nilai legalitas
sebagai peraturan daerah. Konsekuensinya semua pembangunan fisik harus sesuai
dengan ketentuan Rencana Tata Ruang Kota, sekaligus sebagai pedoman pelaksanaan
pembangunan di suatu wilayah tertentu. Oleh karena itu setiap bentuk pelanggaran
dan penyimpangan, seharusnya dikenakan sanksi.
Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bappeda Kabupaten
Manokwari mengemukakan bahwa Rencana Tata Ruang itu bersifat fleksibel,
menyesuaikan dengan keadaan yang ada, hanya pada hal-hal yang prinsip seperti
hutan lindung, itu yang dibakukan. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa inkonsistensi
penataan ruang kota Manokwari disebabkan perkembangan penduduk (Hammar,
2001: 212).
Meskipun Rencana tata Ruang Kota bersifat dinamis, artinya pemerintah
daerah sewaktu-waktu dapat menyesuaikan dengan perkembangan di suatu kawasan,
penyesuaian tersebut seharusnya tidak berdasarkan kebijaksanaan pemerintah semata,
melainkan mengikutsertakan DPRD karena derajat hukum Rencana Tata Ruang Kota
Manokwari sebagai peraturan daerah.

35

Penyebab tidak konsistennya pelaksanaan pembangunan dengan rencana tata ruang


kota tersebut di atas terbentur pada berbagai hambatan atau kendala sebagai berikut:
1. Sistem administrasi pertanahan belum baik dan lengkap
2. Informasi pertanahan belum akurat
3. Kurangnya publikasi RUTRK dan peraturan pertanahan
4. Ketidakpastian pemilikan tanah adat
Kondisi administrasi di kantor pertanahan, sulit mendapatkan informasi yang
tepat mengenai status tanah dan kepemilikannya apabila hendak dibutuhkan tanah
untuk sesuatu kegiatan pembangunan. Di samping itu kadangkala terjadi perbedaan
tata letak pada peta atau surat ukur dengan kondisi senyatanya, bahkan terjadi
duplikasi pengukuran atau sertifikat.
Ketidakpastian pemilikan tanah, merupakan salah satu fenomena aktual.
Kondisi ini diwarnai adanya berbagai tuntutan masyarakat adat terhadap tanah, baik
yang telah dibebaskan oleh pemerintah maupun yang dibeli oleh masyarakat. Ada
dua ciri yang menimbulkan ketidakpastian yaitu: pertama, adanya tuntutan tambahan
pembayaran oleh bekas pemilik dan atau keturunannya terhadap tanah yang telah
dijual, dengan alasan harga jual saat itu tidak layak (terlalu kecil). Kedua, tuntutan
pembayaran oleh pihak ketiga terhadap tanah yang telah dibebaskan oleh pemerintah
(termasuk tanah konversi hak barat) dan tanah yang telah dijual lainnya, dengan
alasan pihak yang menjual pertama tidak memiliki alas hak yang kuat. Kondisi ini
menimbulkan keresahan bahkan konflik antar masyarakat. Ironisnya berbagai
tuntutan tersebut direspons secara tidak proporsional oleh Pemerintah Daerah
Manokwari. Pada awalnya ada satu kasus disampaikan ke Pengadilan Negeri
Manokwari, namun kemudian terjadi perdamaian dengan alasan situasi politik yang
rawan. Konsekwensinya Pemerintah Daerah memenuhi tuntutan masyarakat (pihak
ketiga), tanpa suatu penyelesaian hukum yang tepat untuk mengetahui alas hak yang
sebenarnya. Dampaknya kini bermunculan berbagai tuntutan dari pihak ketiga,
bahkan disertai kekerasan yang tentunya mempengaruhi kinerja pemerintah daerah.
Berbagai penyimpangan Rencana Tata Ruang kota dan berbagai kendala
tersebut di atas selaras dengan hambatan penatan ruang sebagaimana dikemukakan
oleh Kartasasmita (1996:431) bahwa upaya penataan ruang selama ini menghadapi
36

berbagai hambatan, antara lain karena data dan informasi yang kurang lengkap,
termasuk ketidakseragaman peta dasar yang digunakan dalam penataan ruang;
kemampuan sumber daya manusia yang masih terbatas terutama di daerah; kurangnya
koordinasi antarpihak yang terlibat dalam penyusunan rencana tata ruang; masih
banyaknya pihak yang berkepentingan dalam penataan ruang yang belum memahami
secara benar mengenai penataan ruang; dan kurang transparannya penataan ruang dan
kebijaksanaan penggunaan lahan (ruang).
Menurut Mokoginta (1999:134) penetapan rencana tata ruang kota sebagai
peraturan daerah belum sepenuhnya mampu mengatur pelaksanaan peruntukan sesuai
rencana. Dan yang mempunyai andil besar terhadap terjadinya penyimpangan, bukan
masyarakat tetapi juga aparat pemerintah daerah.
Sebagai suatu konsep, Rencana Tata Ruang Kota tidak mampu
mengantisipasi akselerasi pembangunan. Padahal, dalam penerapannya mengandung
sifat kedinamisan. Namun karena

mengandung risiko hukum, maka proses

perencanaan dan atau revisi seyogianya mengikutsertakan masyarakat dalam hal ini
DPRD, dan harus disebarluaskan kepada seluruh masyarakat.
Untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan atau penyimpangan
penggunaan bangunan, maka pendirian suatu bangunan, selain harus memiliki izin
mendirikan bangunan (IMB), juga lengkap dengan izin penggunaan bangunan (IPB).
Guna mencegah penyalahgunaan dan penyimpangan, maka faktor

pengawasan

mutlak diperlukan. Menurut Mokoginta (1999:135) aparat yang terlibat dalam fungsi
pengawasan hendaknya tidak terbatas pada pengertian struktural birokratis, tetapi
juga dari masyarakat, terutama dari kalangan pers. Selain pengawasan diperlukan
pula penerapan asas-asas pemerintahan yang baik antara lain asas kepastian hukum.
Hal ini kurang diperhatikan, di mana hingga kini revisi RUTRK belum ditetapkan
menjadi peraturan daerah, sebagaimana dikemukakan Kabag Hukum Setda
Kabupaten Manokwari bahwa Rencana Induk Kota Manokwari berdasarkan Perda
No. 9 Tahun 1987 mengalami revisi, namun perubahan tersebut belum ditetapkan
menjadi peraturan daerah. Hal ini disebabkan terjadinya kebuntuan dalam
pembahasan di DPRD (sebelum pemilu 1999) karena pihak eksekutif tak dapat

37

meyakinkan DPRD mengenai salah satu kebijaksanaan bagian wilayah kota (BWK)
di Kota Manokwari (Hammar, 2001).

b. Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kota


Dalam rangka pengendalian

pemanfaatan ruang kota Manokwari, patut

dilakukan pengawasan agar pelaksanaan pembangunan konsisten dengan rencana tata


ruang kota.
Instrumen pengawasan sebagaimana tertuang dalam RUTRK (1985 2003)
Kompilasi Data, dan RUTRK (rencana) 19982007, sebagai berikut:
1.Izin Lokasi/Advis Planning.
Ijin lokasi adalah ijin yang diberikan kepada orang dan atau badan usaha
yang menyatakan diperbolehkan dimanfaatkannya lahan untuk mendirikan
bangunan sesuai peruntukan sebagaimana diatur dalam rencana tata ruang kota.
Menurut Nico Wanenda Kepala Seksi Penatagunaan Tanah Kantor
Pertanahan Kabupaten Manokwari bahwa izin lokasi di kota Manokwari selama
ini sesuai dengan tata guna tanah, karena dalam izin lokasi telah terkoordinasi
secara terintegrasi antara instansi teknis terkait melalui rapat koordinasi izin
lokasi. Selain izin lokasi digunakan sebagai instrumen pengendalian tata guna
tanah, menurut Nico Wanenda penerbitan sertifikat tanah dipertimbangkan pula
peruntukan tanah dan kesesuaiannya dengan rencana tata ruang, yang
operasionalnya dalam bentuk aspek tata guna tanah (Hammar, 2001: 106-107).
Izin lokasi, khusus di kota Manokwari sebagaimana tabel 1 berikut ini.
Tabel 5. Izin Lokasi di kota Manokwari s.d. tahun 2000
No.

Nama Penerima Izin

Nomor izin dan Tgl

Luas

Lokasi

1.

PT.Wamesa Alam Wisata

6 Ha

2.

Irman Jaya Martabe

3.

Irman Jaya Martabe

5 Ha

Kelurahan Sowi
(Arfai)
Kelurahan
Manokwari Barat
Kelurahan Amban

4.

PT. Artha Makmur Permai

10 Ha

Kelurahan Sowi

5.

PT. Artha Makmur Permai

06/IL/1996
27 November 1996
04/IL/1996
28 Agustus 1996
05/IL/1996
11 November 1996
02/IL/1997
23 Juni 1997
01/IL/1998
13 Januari 1998

12 Ha

Kelurahan Sowi

5 Ha

38

6.
7.

Puskopad A Dam VIII


Trikora
Puskopad A Dam VIII
Trikora

02/IL/1998
16 Maret 1998
250 Tahun1999
28 Juni 1999

1,5 Ha

Kelurahan Sowi

1 Ha

Kelurahan Pasir
Putih

Sumber: Hammar, 2001


Nurmandi (1999:136) menyatakan bahwa izin lokasi adalah perizinan
pembangunan perumahan atau kegiatan fungsional lainnya yang dimaksudkan
untuk mengarahkan dan mengendalikan perkembangan pemanfaatan dan
penggunaan lahan dan mengarahkan pembangunan ke lokasi-lokasi yang tepat
guna dari segi penyediaan sarana dan prasarana. Selanjutnya dinyatakan bahwa
permasalahan yang sering dihadapi adalah produk izin lokasi yang ada tidak
terintegrasi dengan prosedur dan produk pembebasan lahan; sering kali izin lokasi
tidak didasarkan kepada rencana tata ruang, karena setelah memperoleh izin dari
BPN, mereka tidak melakukan koordinasi dengan Bappeda.

2. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)


Izin ini diberikan kepada perorangan

maupun badan usaha untuk

memperoleh izin bangunan. Pemberian IMB ini harus diperhatikan ketentuan


ketentuan sebagai berikut:
b. Izin mendirikan bangunan ditetapkan berdasarkan RUTRK
IMB diberikan kepada setiap pemohon dengan persyaratan yaitu :
1). Izin lokasi dari Bappeda
2). Formulir permohonan
3). Surat bukti hak atas tanah
4). Gambar rencana bangunan dan rencana konstruksi.
Di samping itu harus mendapatkan keterangan tentang arahan
perencanaan dari Dinas Pekerjaan Umum

tentang rencana mendirikan

bangunan yang meliputi: jenis peruntukan tanah dan bangunan, garis


sempadan bangunan (GSB) yang berlaku, koefisien dasar bangunan (KDB)
yang diizinkan, koefisien Lantai bangunan (KLB) yang diizinkan.
c. IMB dapat diberikan pula, manakala kawasan tersebut belum ada
rencana tata ruang kotanya, namun dapat berpedoman pada ketentuan

39

ketentuan teknis sebagaimana ditetapkan di dalam peraturan daerah tentang


bangunan.

3. Izin Penggunaan Bangunan (IPB)


IPB

diperlukan guna mengontrol penggunaan bangunan yang telah

dibangun, terutama keandalan kontruksi bangunannya.


Pengajuan IPB dilakukan secara tertulis kepada Bupati melalui Kepala
Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten bersamaan dengan pengajuan IMB.
Izin Penggunaan Bangunan mencakup beberapa materi pokok antara lain:
bangunan yang akan didirikan penggunaannya harus sesuai dengan rencana
penggunaan lahan, ratio antara luas lantai bangunan dengan luas lahan, garis
sempadan jalan, jumlah tingkat bangunan, bentuk dan tipe yang secara
keseluruhan telah ditetapkan dalam rencana tata ruang kota.
4. Izin Penghapusan Bangunan ( IHB )
IHB yaitu izin yang diberikan untuk menghapuskan/merobohkan bangunan
secara total baik secara fisik maupun secara fungsi, sebagaimana

tercantum

dalam IMB.
IHB merupakan wewenang Bupati, dan dapat memerintahkan pemilik
bangunan untuk merobohkan bangunan yang dinyatakan tidak layak secara fisik
bangunan/rapuh; dan tidak sesuai dengan tata ruang kota dan ketentuan lain yang
berlaku.
Dasar hukum mengenai

izin mendirikan bangunan, ijin penggunaan

bangunan, dan ijin penghapusan bangunan di atur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No. 41/PRT/1989 tentang Tata Cara Mendirikan Bangunan, dan Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Pemberian Izin
Mendirikan Bangunan.
Di Kabupaten Manokwari peraturan pendukung (suplemen) penataan ruang terdiri
atas
1. Peraturan Daerah Kabupaten Manokwari Nomor

10 Tahun 2003

tentang

Bangunan Gedung, Lembaran Daerah Tahun 2003 Seri E Nomor 14.

40

2. Peraturan Daerah Kabupaten Manokwari Nomor 12 Tahun 2003 tentang Surat


Ijin Usaha Jasah Konstruksi, Lembaran Daerah Tahun 2003 Seri E Nomor 16.
3. Peraturan Daerah Kabupaten Manokwari Nomor 19 Tahun 2003 tentang Retribusi
Ijin Mendirikan Bangunan, Lembaran Daeran Tahun 2003 Seri C Nomor 23.
4. Peraturan Daerah Kabupaten Manokwari Nomor 22 Tahun 2003 tentang Retribusi
Surat Ijin Usaha Konstruksi, Lembaran daerah Tahun 2003 Seri C Nomor 26.

D. Partisipasi Stakehoulder dalam Penataan Ruang


Partisipasi diartikan sebagai kesediaan untuk membantu keberhasilan setiap
program sesuai kemampuan setiap orang, atau mengambil bagian dalam kegiatan
bersama, atau mengambil bagian dalam pelaksanaan layanan-layanan pemerintah.
Partisipasi menurut PBB, sebagaimana dikemukakan oleh Slamet (Alting,
1999:51) yaitu :
Keterlibatan aktif dan bermakna pada massa penduduk pada tingkatantingkatan yang berbeda, (a) dalam proses pembentukan keputusan untuk
menentukan tujuan-tujuan kemasyarakatan dan pengalokasian sumbersumber; (b) pelaksanaan program-program dan proyek-proyek secara
sukarela; (c) memanfaatkan hasil-hasil dari suatu program atau suatu
proyek.
Duseldorp

(Masengi,

1999:18-19)

mengemukakan

bahwa

Partisipasi

masyarakat dapat digolongkan dalam berbagai bentuk sebagai berikut:


a.

Partisipasi Bebas yaitu partisipasi yang dapat terjadi bila individu atau
sekelompok masyarakat melibatkan diri dalam kegiatan tersebut secara
sukarela dengan penuh kesadaran. Partisipasi bebas terdiri atas:
1). Partisipasi Spontan, yaitu suatu partisipasi yang didasarkan pada
keyakinan dan kebenaran tanpa adanya pengaruh dari orang lain.
2).

Partisipasi Terbujuk yaitu bila seseorang tergerak untuk


berpartisipasi karena adanya pihak lain yang menggerakkannya baik
melalui sosialisasi ataupun pengaruh sehingga secara sukarela ikut
beraktivitas dalam suatu kelompok tertentu. Pihak yang
mempengaruhi atau yang menggerakan dapat berasal dari aparat
pemerintah, pimpinan suatu agama, atau ketua adat dan lembaga
lainnya.

41

b.

Partisipasi Terpaksa yaitu partisipasi yang muncul karena adanya hal-hal


yang membatasi ataupun karena situasi dan kondisi. Partisipasi terpaksa
ini dibagi atas:
1). Partisipasi terpaksa karena adanya peraturan yang mengikat. Dalam
rangka menjaga ketertiban umum, maka setiap,orang dibatasi
ruang geraknya karena apabila terjadi suatu pelanggaran norma
hukum dapat dikenakan sanksi.
2).

Partisipasi terpaksa karena situasi dan kondisi adalah keterlibatan


seseorang untuk berpartisipasi karena sudah tidak ada upaya lain.
Partisipasi ini dapat bersifat positif atau negatif tergantung dari
situasi dan kondisi.

Partisipasi masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan


ruang karena pada akhirnya hasil-hasil penataan ruang bermuara pada kepentingan
masyarakat. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang
dengan mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai wujud partisipasi
masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang . Partisipasi masyarakat tersebut
dapat diselenggarakan oleh orang-seorang , kelompok atau badan hukum.
Masengi

(1999:19)

mengemukakan

bahwa

dalam

rangka

menumbuhkembangkan kegiatan agar masyarakat dapat berperan serta dalam


pembangunan secara aktif, maka para petugas lapangan harus dapat menggali dan
menangkap aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat serta dapat memanfaatkannya
sebagai

bahan

pertimbangan

dalam

perencanaan

ataupun

pelaksanaannya.

Selanjutnya dikatakan bahwa peran serta masyarakat dapat berupa:


a. Partisipasi para ilmuan; dapat berupa hasil seminar, lokakarya, dan diskusi
yang membahas tata ruang.
b. Partisipasi para pengusaha; dapat berwujud saran tentang pemanfaatan
lokasi dan bantuan fasilitas.
c. Partisipasi praktisi hukum; dapat berwujud saran pencegahan dan atau
penyelesaian masalah.
d. Masyarakat umum; baik secara perorangan, kelompok dan atau melalui
tokoh masyarakat dan pemimpin informal yang mewakili masyarakat
secara aktif memberikan saran, pertimbangan, dan pendapat serta
mengikuti perkembangan selanjutnya.

42

Muhaimin (1987:138) mengemukakan bahwa


dalam partisipasi masyarakat dapat berupa

kebijaksanaan pemerintah

kebijaksanaan lepas tangan,

kebijaksanaan pembatasan, kebijaksanaan pendukung.


Kebijaksanaan lepas tangan mengandung makna bahwa pemerintah secara
resmi mengakomodasikan dalam rangkaian program pembangunan, namun tidak
disertai dengan penyediaan dana. Terlaksananya program tersebut tergantung pada
seberapa besar inisiatif, kemampuan dan kemauan masyarakat sendiri. Sedangkan
kebijaksanaan pembatasan bermakna bahwa perencanaan program, penyediaan dana,
pengelolaan dan pengendalian

merupakan tanggung jawab pemerintah. Jadi

masyarakat dalam keadaan pasif. Selanjutnya kebijaksanaan mendukung bermakna


bahwa pelaksanaan suatu kegiatan pembangunan merupakan tanggung jawab
bersama pemerintah dan masyarakat, dan pemerintah berperan menciptakan iklim
yang kondusif guna menumbuhkan partisipasi masyarakat.
Partisipasi masyarakat di atur dalam UU No. 24 tahun 1992, Pasal 4 ayat (2)
sub b

yang menyatakan bahwa

setiap orang berhak

berperan

serta

dalam

penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfatan


ruang. Sedangkan Pasal 12 ayat (1) dinyatakan bahwa Penataan ruang dilakukan
oleh pemerintah dengan peran serta masyarakat.
Dalam penjelasan UU Penataan Ruang dikatakan bahwa setiap orang dapat
mengajukan usul, memberi saran, atau mengajukan keberatan kepada pemerintah
dalam rangka penataan ruang.
Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1987 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Kota pada Pasal 14 ayat (2) dinyatakan bahwa
kegiatan diskusi dan seminar sebagai forum terbuka yang melibatkan
berbagai instansi yang terkait dan wakil-wakil anggota masyarakat kota untuk
mendapatkan keterpaduan serta penampungan aspirasi masyarakat dalam
proses penilaian keadaan dan pengembangan kota untuk memperoleh
alternatif konsepsi yang paling tepat dan baik.
Gary Hack (Catanaese dan Snyder, 1996:247-248) mengemukakan bahwa
salah satu kunci efektifnya perencanaan adalah keterlibatan masyarakat. Hal ini perlu
43

untuk mencapai kesepakatan masyarakat dalam pelaksanaan kerja . Untuk


mendapatkan masukan berupa tanggapan dan gagasan-gagasan, maka yang paliang
umum ialah mengadakan lokakarya atau dengar pendapat secara umum mengenai
pokok-pokok permasalahan dalam perencanaan tata ruang kota. Untuk menjangkau
masyarakat yang tidak berminat menghadiri rapat umum dapat dilakukan wawancara
sudut jalan, model yang dipampangkan pada tempat yang terlihat dengan jelas,
dengan kesempatan untuk berkomentar, dan dapat dimuat dalam berita media massa.
Perihal partisipasi masyarakat dinyatakan oleh

Nurmandi (1999:134),

bahwa tanah tidak dapat dilepaskan dengan penguasaan tanah oleh masyarakat, oleh
karena itu sistem penatagunaan tanah dengan partisipasi aktif masyarakat, sudah
waktunya untuk dimasyarakatkan.
Budihardjo, (1995:54-55) mengemukakan bahwa :
Dalam proses pembangunan daerah yang berlangsung hingga saat ini,
nampaknya partisipasi masyarakat masih berada pada tingkat yang belum
menentukan. Mestinya, mulai dari awal penentuan tujuan dan sasaran
pembangunan daerah yang dijadikan titik tolak perencanaan, masyarakat
sudah ikut aktif menyampaikan aspirasinya. Selama ini, yang disebut
partisipasi masyarakat lebih berupa penyampaian informasi tentang rencana
dan program pembangunan yang telah disusun oleh para pembuat keputusan
dan penentu kebijaksanaan. Akibatnya, cukup banyak program yang tidak
sesuai betul dengan harapan dan dambaan masyarakat. Partisipasi masyarakat
ini penting, agar pembangunan daerah yang dilaksanakan betul-betul akan
mewadahi tuntutan kebutuhan masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam penataan ruang kota sangat penting, karena
penataan ruang bermakna penataan tanah atau lahan. Di atas tanah tersebut melekat
hak-hak rakyat atas tanah. Dengan demikian masyarakat patut terlibat dan
memberikan masukan-masukan berharga menyangkut kepentingannya sendiri dalam
konteks kepentingan bersama tanpa mengabaikan kepentingan masing-masing
pemegang hak atas tanah. Hal ini merupakan salah satu perwujudan perlindungan
terhadap masyarakat pemegang hak atas tanah.
Partisipasi masyarakat yang merupakan fokus adalah partisipasi masyarakat
umum. Wujud partisipasi ini adalah keaktifan masyarakat baik secara individu

44

maupun melalui pemuka masyarakat yang mewakili masyarakat dalam mengajukan


keberatan, saran, pertimbangan dan memantau pelaksanaan selanjutnya. Konkretnya
masyarakat yang tanahnya terkena penataan ruang, misalnya untuk pembuatan jalan,
pelebaran jalan, fasilitas umum, kawasan konservasi, dan kepentingan umum lainnya,
diajak untuk menyampaikan pemikiran dan pendapatnya.
Menurut Hammar (2001) bahwa Hasil partisipasi masyarakat dalam
penataan ruang di Kota Manokwari sebagaimana terdeskripsi pada tabel 8 di bawah
ini.
Tabel 6. Partisipasi masyarakat dalam penataan ruang kota Manokwari
n = 80
No.

Jawaban Responden

Frekuensi

Persentasi

1.
2.

Ikut dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi


Ikut dalam perencanaan saja, ikut dalam pelaksanaan saja,
ikut dalam evaluasi saja, atau kombinasi.
Tidak pernah ikut

3,75

77

96,25

JUMLAH

80

100

3.

Sumber : Hammar, 2001


Dari tabel tersebut ternyata bahwa dari 80 responden, yang ikut dalam perencanaan
saja, pelaksanaan saja, atau evaluasi saja sebanyak 3 responden atau 3,75 persen yang
berpartisipasi dalam rencana tata ruang. Dari 80 responden yang menjawab tidak pernah
ikut, baik dalam perencanaan, pemanfaatan, maupun evaluasi rencana tata ruang adalah 77
responden atau 96,25 persen. Hal ini menunjukkan bahwa penataan ruang kota Manokwari
selama ini belum mengikutsertakan masyarakat, terutama masyarakat umum dalam
keseluruhan proses penataan ruang kota (Hammar, 2001).

Kondisi tersebut selaras dengan pernyataan

Kepala Seksi Tata Ruang dan

Tata Guna Tanah Bappeda Kabupaten Manokwari bahwa: selama ini hanya kepala
desa yang diikutsertakan dalam seminar rencana tata ruang. Sedangkan menurut
Kepala Seksi Sumber Alam dan Lingkungan Hidup Bappeda Kabupaten Manokwari
bahwa ketidakikutsertaan masyarakat dalam penyusunan maupun revisi rencana tata
ruang disebabkan target waktu yang tersedia dalam proyek terbatas (Hammar, 2001).
Hal tersebut merupakan pemungkiran terhadap perintah UU No. 24 Tahun
1992, Pasal 4 ayat (2) sub b yang menyatakan bahwa setiap orang berhak berperan
45

serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfatan ruang. Dan Pasal 12 ayat (1) yang dinyatakan bahwa Penataan ruang
dilakukan oleh pemerintah dengan peran serta masyarakat. Dan juga PP No. 69
Tahun 1996 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penatan Ruang (pasal
15 s.d. pasal 20), dan Permendagri No. 9 tahun 1998 tentang Tata Cara Peran Serta
Masyarakat dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah. Hal ini belum sejalan
dengan semangat reformasi dan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 92
UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dinyatakan bahwa dalam
penyelenggaraan pembangunan kawasan perkotaan, pemerintah daerah perlu
mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta, sebagai perwujudan upaya
pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan.
Disadari bahwa kendatipun peraturan mengenai tata cara peran serta
masyarakat baru ditetapkan pada tahun 1998, namun sejak ditetapkannya UU No. 24
Tahun 1992, tidak terindikasi kehendak pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah
Kabupaten Manokwari mengikutsertakan masyarakat dalam penataan ruang kota. Hal
ini bertentangan dengan Pasal 5 ayat (5), ayat (6) Perda No. 9 Tahun 1987 tentang
Rencana Induk Kota Manokwari Tahun 1984 2004, yang menyatakan bahwa
masyarakat Manokwari berperan aktif untuk mengajukan saran dalam penyusunan
Rencana Induk Kota Manokwari kepada Pemerintah daerah, sebagai bahan
pertimbangan dalam penyempurnaan Rencana Induk Kota Manokwari.
Kondisi di Kota Manokwari tersebut sejalan dengan kondisi umum di
Indonesia, sebagaimana dikemukakan oleh Budiharjo (1997:135) bahwa keterlibatan
masyarakat dalam perumusan arah dan tujuan perencanaan kota boleh dikata kecil
sekali. Itulah sebabnya Davidoff menekankan peran perencana (planner) sebagai
jembatan untuk menyerap aspirasi masyarakat agar dapat dimasukan sebagai salah
satu pertimbangan utama dalam rencana kota. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa
mengingat penduduk perkotaan bukanlah masyarakat paguyuban yang serba
homogen (Gemeinschaft) melainkan masyarakat patembayan yang heterogen
(Gessellschaft), tentunya persepsi dan aspirasi serta tuntutan kebutuhan mereka
berbeda.

46

Guna mengatasi masalah tersebut Budiharjo (1997:135) menyatakan bahwa


diperlukan komunikasi yang berkesinambungan antara penentu kebijakan, perencana
kota, masyarakat dan media massa, agar dapat diperoleh profil perkotaan yang jernih
dan jelas pula manfaatnya.
Bentuk partisipasi masyarakat dalam penataan ruang diatur dalam PP No. 69
Tahun 1996 sebagai berikut ini:
Tabel 7. Bentuk Partisipasi Masyarakat dalam Penataan Ruang
Proses Perencanaan Tata

Pemanfaatan Ruang

Ruang
- Memperjelas status hak dan
kepemilikan.
- Pemberian informasi,
Pertimbangan/ pendapat.
- Pengajuan keberatan.
- Kerjasama penelitian dan
pengembangan.
- Bantuan tenaga ahli.
- Bantuan dana.

- Bantuan pemikiran/
- pertimbangan.
- Penyelenggaraan
kegiatanpembangunan
- Pelepasan/pengalihan
hak
kepemilikan.
- Konsolidasi
pemanfaatan
sumber daya alam (tanah, air,
laut, udara).
- Bantuan teknis.

Pengendalian Pemanfaatan
Ruang
- Pengawasan.
- Pemberian
informasi/pelaksanaan
kegiatan.
- Bantuan
pemikiran/pertimbangan.
- Menjelaskan hak atas tanah.
- Menjaga konsistensi.

Sumber: PP No. 69 Tahun 1996


Tujuan peran serta masyarakat, sebagaimana dikemukakan oleh Ibrahim
(1999:13) adalah:
-

Meningkatkan mutu proses dan produk penataan ruang.

Meningkatkan kesadaran masyarakat agar dapat memahami pentingnya


pemanfaatan tanah, air laut dan udara serta sumber daya alam lainnya demi
terciptanya tertib ruang (pendidikan dan information exchange).

Menciptakan mekanisme keterbukaan tentang kebijaksanaan penataan ruang


(transparansi kebijakan).

Menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat


dalam penataan ruang terutama membantu memberikan informasi tentang
pelanggaran pemanfaatan ruang (kontribusi tanggung jawab dan power sharing)

Menjamin pelibatan secara aktif peran serta masyarakat dalam kegiatan penataan
ruang dengan hak dan kewajibannya (demokrasi partisipatori).
Pada masa lalu peran pemerintah sangat dominan dalam perencanaan,

pemanfaatan, dan pengendalian ruang. Sedangkan partisipasi masyarakat baru pada


47

tahap awal, artinya partisipasi masyarakat masih sangat terbatas. Oleh karena terjadi
perubahan paradigma dengan adanya semangat reformasi dan otonomi daerah, maka
sudah saatnya masyarakat diberdayakan menuju kehidupan yang lebih demokratis.
Berkenaan dengan itu, Ibrahim (1999:14) menawarkan paradigma baru
penataan ruang sebagaimana tabel berikut ini.
Tabel 8. Paradigma Baru Penataan Ruang pada
Era Reformasi dan Otonomi
DAHULU

KE DEPAN

- Pemerintah menyiapkan,
melaksanakan,
mengendalikan.

- Pemerintah dan masyarakat


menyiapkan,
melaksanakan, dan
mengendalikan.

- Kebijakan tata ruang


tertutup,
- diketahui sekelompok
orang,
- Pemda pasif.

- Masayarakat mempunyai
hak yang sama untuk
mengetahui rencana tata
ruang, dipublikasikan.

- Partisipasi Masyarakat

- Konsep rencana tata


ruang disiapkan
pemda,kemudian
masyarakat menanggapi.

- Konsep rencana tata ruang


disiapkan pemda dengan
partisipasi masyarakat.

- Proses Pendidikan

- Pemda
menyiapkan
rencana tata ruang dan
masyarakat menerima.

- Pemda aktif melakukan


sosialisasi dan
pemberdayaan masyarakat.

ASPEK
- Kewenangan dan
tanggung jawab

- Publikasi
Transparasi

dan

Sumber: Buletin Tata Ruang Edisi 1 Agustus-Oktober 1999

Paradigma baru, khususnya mengenai partisipasi oleh Suryono Herlambang


dalam tulisannya berjudul Amburadulnya Rencana Jakarta 2010 (Kompas, 13
Desember 2000) dikemukakan bahwa ada kecenderungan pemerintah menjauhi
semangat reformasi. Indikatornya adalah unsur transparansi dan partisipasi masih
dianggap sebagai prosedur retorik. Pokoknya kalau sudah mengundang beberapa
kelompok warga dan telah disetujui DPRD, dianggap cukup. Kalau mayoritas warga
yang lain tidak tahu, itu kesalahan warga sendiri. Padahal saat ini transparansi dan
partisipasi harus dipandang sebagai kewajiban aktif pemda. Untuk menjaring

48

tanggapan warga, pemda seharusnya membuat sistem informasi yang terbuka dan
aktif menyebarkan informasi.
Hal senada ditegaskan pula oleh Menteri Permukiman dan Prasarana
Wilayah

Erna

Witoelar pada kunjungan kerja ke Bima Nusa Tenggara Barat

(Kompas, 19 Desember 2000) bahwa: pemerintah maupun aparat birokrasi perlu


memberi jalan bagi tumbuhnya partisipasi aktif rakyat sejak perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan. Dengan demikian, masyarakat merasa dilibatkan dalam
proses pembangunan, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki lebih besar terhadap
infrastruktur pembangunan.
Di samping partisipasi masyarakat, maka stakehoulders lainnya yakni
pemerintah,

swasta,

bahkan

asing

dalam

perencanaan,

pemanfaatan,

dan

pengendalian pemanfaatan ruang di Kabupaten Manokwari.


Partisipasi Pemerintah Daerah, khususnya instansi teknis yakni Dinas
Pekerjaan Umum, Badan Perencana dan Pengendalian Pembangunan, Badan
Pertanahan Kabupaten, yang memiliki peran dalam perencanaan, pemanfaatan
sekaligus pengendalian pembangunan dalam bentuk pemberian ijin lokasi,
rekomendasi peruntukan, ijin prinsip membangunan, ijin mendirikan bangunan, advis
planning. Sedangkan instansi pemerintah lainnya yang berdasarkan peraturan daerah
hanya menerbitkan ijin tempat usaha. Peran pemerintah dalam keseluruhan
pemberian ijin belum menunjukan suatu pelayanan yang ideal (prima), karena banyak
terjadi tumpang tindih , haigh cost administration.
Selain partisipasi masyarakat pemangku hak atas tanah, pemerintah, maka
swasta yang menanamkan modalnya di Kabupaten Manokwari, dikendalikan lewat
ijin prinsip dan ijin lokasi. Belum ditemui praktek swasta yang menghimpun tanah
guna kepentingan bisnis semata, karena untuk aktivitas perusahaan Pemerintah
Kabupaten membatasi waktu hanya satu tahun untuk dimulainya aktivitas di tanah
(ruang) yang telah diberikan ijin lokasi. Sedangkan Asing belum banyak ditemui
problematik dalam pemanfaatan ruang, karena perusahaan asing yang menanamkan
modalnya benar-benar mengikuti semua prosedur hukum yang berlaku.

49

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan

50

1. Pelaksanaan penyusunan tata ruang di Kabupaten Manokwari belum optimal,


disebabkan sumberdaya manusia birokrat dan konsultan penyusunnya tidak
memiliki kualifikasi dan kompetensi ideal.
2. Pelaksanaan sosialisasi kebijakan penataan ruang di Kabupaten Manokwari
bersifat formalitas semata, karena hanya para birokrat, dan tokoh adat, tokoh
masyarakat yang diikutsertakan, sedangkan masyarakat pemangku hak atas tanah
tidak diikutsertakan dalam sosialisasi penataan ruang.
3. Peraturan Daerah tentang Tata Ruang Wilayah Tahun 1994 dan Rencana Umum
Tata Ruang Kota tahun 1987 tidak mengalami perkembangan yang berarti
(stagnasi)

mengakibatkan

pemanfaatan

ruang tidak dapat dikendalikan.

Sedangkan suplemennya antara lain Perda Bangunan dan Ijin Mendirikan


Bangunan yang ditetapkan Tahun 2003 efektif berlaku tahun 2005, tidak selaras
dengan Perda Tata Ruang yang telah ditetapkan.
4. Partisipasi stakehoulders antara lain Pemerintah dalam pengendalian pemanfaatan
ruang sebatas pada pemberian ijin lokasi dan ijin mendirikan bangunan.
Sedangkan masyarakat belum diikutsertakan dalam keseluruhan proses penataan
ruang. Bagi swasta hanya sebatas kepentingannya yakni dalam memperoleh ijin
lokasi dan ijin mendirikan bangunan.
B. Saran
1. Dalam penyusunan Tata Ruang, di samping pembentukan Tim Birokrasi guna
penyiapan data sekunder, maka wajib mendatangkan konsultan yang memiliki
kompetensi di bidang penyusunan tata ruang.
2. Sosialisasi Tata Ruang hendaknya dilakukan sebelum, dan sesudah peraturan
daerah ditetapkan, guna menjaring aspirasi masyarakat, terutama pemangku hak
atas tanah yang terkena pembangunan akibat penataan ruang.
3. Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Manokwari segera dilakukan revisi
terhadap peraturan daerah tata ruang wilayah dan rencana umum tata ruang kota,
sehingga sinkron dengan peraturan daerah Bangunan Gedung dan Ijin Mendirikan
Bangunan.

51

4. Hendaknya

masyarakat

pemangku

hak

atas

tanah

berpartisipasi

sejak

perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang, termasuk


pelayanan prima oleh instansi teknis, serta dihindari biaya tinggi dalam proses
perijinan.

DAFTAR PUSTAKA

52

Hammar, R. 2001. Penataan Ruang Kota dan Implikasinya Terhadap


Perlindungan Hak-hak Rakyat atas Tanah di Kota Manokwari. Tesis
Pascasarjana Unhas, Makassar.
Kartasasmita, G. 1996. Pembangunan Untuk Rakyat. Cides, Jakarta.
Karubaba, Y.K. 1999. Perencanaan Tata Guna Lahan Perkotaan, Studi Kota
Manokwari

di

Propinsi

Irian

Jaya

dalam

Mengantisipasi

Perkembangan Penduduk. Tesis Pascasarjana Unhas, Ujung Pandang.


Mokoginta, L. 1999. Jakarta untuk Rakyat. Pustaka Sinar Harapan, Yayasan
Sattwika, Jakarta.
Nurmandi, A. 1999. Manajemen Perkotaan. Lingkaran Bangsa, Yogyakarta.
Pemda Manokwari. 1985. Rencana Induk Kota Manokwari, Tahun 1985/1986
2003/ 2004.
1997. Rencana Umum Tata Ruang Kota Manokwari,(Revisi
Rencana Induk Manokwari 1985/2003), Kompilasi Data.
1998. Rencana Umum Tata Ruang Kota Manokwari Tahun
19982007.

53

PELAKSANAAN PENATAAN RUANG


DI KOTA MANOKWARI
Oleh:
Roberth K.R.Hammar, S.H.,M.H.

Mata Kuliah: Tata Ruang

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2007

54

ABSTRAK
Roberth Kurniawan Ruslak Hammar. Pelaksanaan Penataan Ruang di Kota
Manokwari (Mata kuliah: Tata Ruang, Dosen: Prof. Dr. Suratman, M.Sc)
Penulisan ini mendeskripsikan pelaksanaan penyusunan tata ruang, sosialisasi
perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang, dan perkembangan
peraturan daerah serta partisipasi stakehoulders dalam penataan ruang di Kabupaten
Manokwari papua Barat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertama: Pelaksanaan penyusunan tata ruang di
Kabupaten Manokwari belum optimal, disebabkan sumberdaya manusia birokrat dan
konsultan penyusunnya tidak memiliki kualifikasi dan kompetensi ideal.
Kedua: Pelaksanaan sosialisasi kebijakan penataan ruang di Kabupaten Manokwari
bersifat formalitas semata, karena hanya para birokrat, dan tokoh adat, tokoh
masyarakat yang diikutsertakan, sedangkan masyarakat pemangku hak atas tanah
tidak diikutsertakan dalam sosialisasi penataan ruang. Ketiga: Peraturan Daerah
tentang Tata Ruang Wilayah Tahun 1994 dan Rencana Umum Tata Ruang Kota
tahun 1987 tidak mengalami perkembangan yang berarti (stagnasi) mengakibatkan
pemanfaatan ruang tidak dapat dikendalikan. Sedangkan suplemennya antara lain
Perda Bangunan dan Ijin Mendirikan Bangunan yang ditetapkan Tahun 2003 efektif
berlaku tahun 2005, tidak selaras dengan Perda Tata Ruang yang telah ditetapkan.
Keempat: Partisipasi stakehoulders antara lain Pemerintah dalam pengendalian
pemanfaatan ruang sebatas pada pemberian ijin lokasi dan ijin mendirikan bangunan.
Sedangkan masyarakat belum diikutsertakan dalam keseluruhan proses penataan
ruang. Bagi swasta hanya sebatas kepentingannya yakni dalam memperoleh ijin
lokasi dan ijin mendirikan bangunan.

55

DAFTAR ISI
PRAKATA.......................................................................................

ABSTRAK.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI ..................................................................................

iii

DAFTAR TABEL..............................................................................

iv

BAB I. PENDAHULUAN..............

A. Latar Belakang ..

B. Rumusan Masalah.

BAB II. PEMBAHASAN .

A. Penyusunan Tata Ruang.....................................................

B. Pelaksanaan Sosialisasi ......................................................

11

C. Perkembangan Perda Tata Ruang ......................................

18

D. Partisipasi Stakehoulders ....................................................

41

BAB V. PENUTUP ............................................................................

51

A. Simpulan ......................................................................

51

B. Saran ...........................................................................

51

DAFTAR PUSTAKA

56

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Pengetahuan tentang RUTRK Manokwari.......

14

2. Sumber Pengetahuan RUTRK ..

14

3. Intensitas sosialisasi ..................................................

15

4. Deviasi Rencana induk Kota Manokwari tahun 1984-2004.........................

32

5. Izin Lokasi

38

6. Partisipasi masyarakat .......................

45

7. Bentuk Partisipasi masyarakat .............

47

8. Paradigma baru ...........................

48

57

PRAKATA

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
penyertaan,

bimbingan

dan

perlindungan-Nyalah

hingga

penulis

dapat

merampungkan makalah ini.


Gagasan yang melatari permasalahan ini timbul dari adanya fakta bahwa
penyusunan tata ruang di Kabupaten Manokwari belum optimal, termasuk sosialisasi,
partisipasi dan penetapan peraturan daerah yang mengalami stagnasi. Untuk itu
penulis mendeskripsikan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya
kualitas penataan ruang di Kabupaten Manokwari.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis hadapi banyak kendala, namun
adanya bantuan berbagai pihak, makalah ini selesai pada waktunya. Untuk itu penulis
haturkan penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada: Bapak
Prof. Dr. Suratman., M.Sc dalam kapasitas sebagai Dosen pengasuh mata kuliah
Tata Ruang, pada Sekolah Pascasarjana, Program Doktor Ilmu Hukum Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta.
Semua pihak, yang begitu banyak terlibat dan tidak dapat disebut satu persatu
dalam tulisan ini, semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita dalam hidup dan
kehidupan ini.
Yogyakarta, 24 September 2007
Penulis
Roberth K.R. Hammar, SH.,MH

58

ABSTRAK

Roberth Kurniawan Ruslak Hammar. Perkembangan Penataan Ruang di Kota


Manokwari
Penulisan ini mendeskripsikan penataan ruang di Kota Manokwari papua Barat
dengan tujuan untuk mengetahui, perkembangan kebijakan penataan ruang, intrumen
pengawasan pembangunan serta perkembangan konsistensi penataan ruang.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Pertama, Kebijakan penataan bagian kota
Manokwari terbagi dalam empat Bagian Wilayah Kota (BWK) perkembangannya
menunjukkan ketidakkonsistenan, akibat kurangnya pengawasan dalam pelaksanaan
pembangunan. Kedua, Perkembangan Penggunaan instrumen pengawasan penataan
ruang belum optimal, terutama dalam pemberian izin mendirikan bangunan,
penggunaan dan pembongkaran bangunan, serta pemberian izin lokasi.
Ketiga,Penataan ruang kota di Kota Manokwari tidak konsisten dengan Rencana
Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Manokwari sebagaimana diatur dalam Peraturan
Daerah Kabupaten Dati II Manokwari No. 9 Tahun 1987, mengakibatkan
pemanfaatan tanah (ruang) tidak dapat dikendalikan.

59

DAFTAR ISI
PRAKATA.......................................................................................

ABSTRAK.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI ..................................................................................

iii

DAFTAR TABEL..............................................................................

iv

BAB I. PENDAHULUAN..............

A. Latar Belakang ..

C. Rumusan Masalah.

BAB II. PEMBAHASAN .

C. Kebijaksanaan dan Perkembangan Penataan Wilayah


Bagian Kota.................................................................

D. Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Kota.............................................................................

16

C. Inkonsistensi Penataan Ruang Kota ................................

19

BAB V. PENUTUP ............................................................................

35

C. Simpulan ......................................................................

35

D. Saran ...........................................................................

35

DAFTAR PUSTAKA

60

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

9. Izin Lokasi di Kota Manokwari s.d. tahun 2000

16

10. Izin mendirikan bangunan..

18

11. Konsistensi pelaksanaan pembangunan dengan RUTRK.

26

12. Deviasi Rencana induk Kota Manokwari tahun 1984-2004.........................

27

13. Penyebab inkonsistensi pembangunan dengan RUTRK

28

14. Kendala pengaturan penggunaan tanah di Kota Manokwari......................

31

61

PRAKATA
Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
penyertaan,

bimbingan

dan

perlindungan-Nyalah

hingga

penulis

dapat

merampungkan makalah ini.


Gagasan yang melatari permasalahan ini timbul dari adanya fakta bahwa
penataan ruang di Kota Manokwari menunjukkan perkembangan yang kurang
mengembirakan. Untuk itu penulis mendeskripsikan berbagai kebijakan dan
instrumen pengendalian pembangunan serta perkembangan regulasi Penataan Ruang
di Kabupaten Manokwari.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis hadapi banyak kendala, namun
adanya bantuan berbagai pihak, makalah ini selesai pada waktunya. Untuk itu penulis
haturkan penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada: Bapak Dr.
Nurhasan Ismail, SH.,MSi dalam kapasitas sebagai Dosen pengasuh mata kuliah
Perkembangan Hukum Agraria, pada Sekolah Pascasarjana, Program Doktor Ilmu
Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Semua pihak, yang begitu banyak terlibat dan tidak dapat disebut satu persatu
dalam tulisan ini, semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita dalam hidup dan
kehidupan ini.
Yogyakarta, 24 September 2007
Penulis
Roberth K.R. Hammar, SH.,MH

62

PRAKATA

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
penyertaan,

bimbingan

dan

perlindungan-Nyalah

hingga

penulis

dapat

merampungkan makalah ini.


Gagasan yang melatari permasalahan ini timbul dari adanya fakta bahwa
hakim dalam menerapkan hukum dan tujuan hukum pada kasus konkret tak
selamanya memenuhi harapan masyarakat. Kreatifitas hakim tersebut merupakan seni
tersendiri. Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui Putusan hakim adalah
seni.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis hadapi banyak kendala, namun
adanya bantuan berbagai pihak, makalah ini selesai pada waktunya. Untuk itu penulis
haturkan penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada: Bapak Prof.
Dr. R.M. Sudikno Mertokusumo, SH dalam kapasitas sebagai Dosen pengasuh mata
kuliah Teori Hukum, pada Sekolah Pascasarjana, Program Doktor Ilmu Hukum
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Semua pihak, yang begitu banyak terlibat dan tidak dapat disebut satu persatu
dalam tulisan ini, semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita dalam hidup dan
kehidupan ini.
Yogyakarta, 4 Desember 2007
Penulis
Roberth K.R. Hammar, SH.,MH

63

64