Anda di halaman 1dari 11

KENDALI TEGANGAN AC

Praktikan: Eful Syaeful Bahri (11-2011-037)


Asisten: Ahmad Robby N M (11-2011-031)
Waktu Percobaan: 9 Desember 2014
EL-319 Elektronika Daya

Laboratorium Dasar Energi Elektrik - JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


Abstrak
Pengendalian saluran tegangan AC digunakan
untuk mengubah ubah harga rms tegangan yang
dicatukan ke beban dengan menggunakan Thyristor
sebagai saklar. Penggunaan alat ini antara lain untuk
kontrol kecepatan motor induksi, kontrol penerangan,
dan kontrol alat-alat pemanas.Pada percobaan ini,
praktikum kendali tegangan AC digunakan untuk
mengatur besar trigger untuk mendapatkan besar daya
yang masuk ke beban.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk (1)
Memahami cara kerja thyristor dan triac. (2) Mengetahui
tipe-tipe kendali tegangan AC. (3) Mengetahui
gelombang input dan output untuk tiap percobaan.
Dengan tujuan yang sudah dilakukan maka
analisis dari percobaan ini dengan mengatur besar trigger
apabila semakin besar trigger yang diatur maka semakin
kecil daya keluaran yang diberikan.itu diakibatkan dari
cara kerja thyristor.
Dengan demkian pada percobaan kendali
tegangan AC dapat disimpulkan bahwa dari tujuan
praktikum dapat terpenuhi dengan melakukan
percobaan.
1.

Pendahuluan

Kebutuhan pengendalian daya telah ada


sejak lama. Sebelum ditemukan thyristor,
pengendalian daya listrik menggunakan
generator induksi, tetapi alat ini mempunyai
beberapa kelemahan antara lain efisiensi yang
rendah, harga yang mahal, ukurannya besar
dan perawatan yang tidak mudah. Saat ini
pengendalian daya menggunakan penyearah
thyristor fasa terkendali yang merupakan
penyearah sederhana dan lebih murah.
Efisiensi dari penyearah ini umumnya berada
diatas 95%. Penyearah ini dikenal sebagai
converter AC DC yang mengkonversi dari
tegangan AC ke DC dan digunakan secara
intensif pada aplikasi-aplikasi industri.
Thyristor sebagai salah satu komponen
aktif sangat popular digunakan dalam
rangkaian elektronika, karena bentuknya
sederhana dan penggunaannya sangat luas.
Kendali tegangan AC banyak digunakan di
industry pemanas, trafo beban tap yang
berubah-ubah, pengontrol cahaya, control

kecepatan pada motor induksi fasa banyak dan


control magnet AC. Kendali tegangan ini ada
dua jenis type, yaitu : control on-off, dan
control sudut fasa. Control tegangan aca juga
ada dua type, yaitu : control fasa banyak,
control fasa tunggal.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka
perlunya
dilakukan
peercobaan
guna
mengetahui dan memahami semua rangkaian
penyearah kendali tegangan AC. Praktikan
perlu mengerti prinsip kerja dari kendali
tegangan AC. Untuk itu, kami mengangkat
modul praktikum ini dengan judul Kendali
Tegangan AC.
Pada percobaan ini dilakukan untuk
mengetahui intensitas cahaya serta bentuk
sinyal pada beban dengan sudut-sudut yang
diubah dari sudut penyalaan 30, 60, 90, dan
120. Selain itu, percobaan ini juga bertujuan
untuk:
a. Mengetahui cara kerja Thyristor
b. Mengetahui tipe-tipe kendali
tegangan AC
c. Mengetahui gelombang input dan
output untuk tiap percobaan

2.

Dasar Teori

Kendali tegangan AC akan diketahui


ketika tegangan AC rms yang disalurkan ke
beban pada
rangkaian daya type. Untuk
memindahkan daya biasanya digunakan dua
jenis type pengontrolan, diantaranya :
1. Pengontrolan On-Off
2. Pengontrolan Sudut Fasa
Dalam
saklar
on-off,
saklar
thyristor
menghubungkan beban ke sumber AC untuk
beberapa cycle lagi. Dalam control phase,
saklar menghubungkan beban ke sumber AC
untuk tiap bagian cycle tegangan input.
Kontrol tegangan AC dapat diklasifikasikan
dalam dua tipe :
1. Kontrol fase tunggal
2. Kontrol fase banyak
Setiap tipe terbagi lagi dalam beberapa bagian,
diantaranya :
a. Kontrol
gelombang
searah
(unidirectional)

b. Kontrol

tegangan

penuh

(bidirectional)

2.1

Definisi Thyristor

Thyristor
adalah
komponen
semikonduktor untuk pensaklaran
yang
berdasarkan pada struktur PNPN. Komponen
ini memiliki kestabilan dalam dua keadaan
yaitu on dan off serta memiliki umpan-balik
regenerasi
internal.
Thyristor
memiliki
kemampuan untuk mensaklar arus searah (DC)
yaitu jenis SCR, maupun arus bolak-balik (AC),
jenis TRIAC.

2.2

Jenis-Jenis Thyristor

Thyristor terbagi kedalam 3 jenis,


diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Thyristor SCR
SCR merupakan jenis thyristor
yang terkenal dan paling tua, komponen
ini tersedia dalam rating arus antara 0,25
hingga ratusan amper, serta rating
tegangan hingga 5000 volt. Struktur dan
simbol dari SCR dapat digambarkan
seperti pada gambar dibawah :

3.

Thyristor Diac
Kalau dilihat strukturnya seperti
gambar-8a, DIAC bukanlah termasuk
keluarga
thyristor,
namun
prisip
kerjanya membuat ia digolongkan
sebagai thyristor. DIAC dibuat dengan
struktur PNP mirip seperti transistor.
Lapisan N pada transistor dibuat sangat
tipis sehingga elektron dengan mudah
dapat menyeberang menembus lapisan
ini. Sedangkan pada DIAC, lapisan N di
buat cukup tebal sehingga elektron
cukup sukar untuk menembusnya.
Struktur DIAC yang demikian dapat juga
dipandang sebagai dua buah dioda PN
dan NP, sehingga dalam beberapa
literatur DIAC digolongkan sebagai
dioda.

Gambar 2.3 Struktur Dan Simbol DIAC

Gambar 2.1. Struktur Dan Simbol Dari SCR


2.

Thyristor Triac
Triac dapat dianggap sebagai dua
buah SCR dalam struktur kristal tunggal,
dengan demikian maka Triac dapat
digunakan
untuk
melakukan
pensaklaran dalam dua arah (arus bolak
balik, AC). Simbol dan struktur Triac
adalah seperti ditunjukan dalam gamabr
dibawah :

Sukar dilewati oleh arus dua arah,


DIAC memang dimaksudkan untuk
tujuan ini. Hanya dengan tegangan
breakdown tertentu barulah DIAC dapat
menghantarkan
arus.
Arus
yang
dihantarkan tentu saja bisa bolak-balik
dari anoda menuju katoda dan
sebaliknya. Kurva karakteristik DIAC
sama seperti TRIAC, tetapi yang hanya
perlu diketahui adalah berapa tegangan
breakdown-nya.
Simbol dari DIAC adalah seperti
yang ditunjukkan pada gambar-8b. DIAC
umumnya dipakai sebagai pemicu
TRIAC agar ON pada tegangan input
tertentu yang relatif tinggi. Contohnya
adalah aplikasi dimmer lampu yang
berikut pada gambar-4.

Gambar 2.2. Simbol Dan Struktur Triac.


Karena secara prinsip adalah
ekivalen dengan dua buah SCR yang
disusun secara paralel dengan salah
SCR dibalik maka Triac memiliki sifatsifat yang mirip dengan SCR.

Gambar 2.4 Rangkaian Dimmer

2.3

Prinsip Kerja On-Off

Prinsip dari kontrol on-off dapat


dijelaskan
dengan
sebuah
Pengontrol
gelombang penuh satu fasa seperti yang
ditunjukkanpada gamabr 8. Saklar thyristor
menghubungkan sumber ac dengan beban
untuk waktu tn : saklar ditutup dengan sebuah
gerbang penghambat pulsa untuk waktu t0.
Waktu on tn, biasanya terdiri dari sejumlah
integral siklus. Thyristor akan on pada
tegangan nol melalui tegangan masukan ac.
Pulsa-pulsa gerbang untuk thyristor t1 dan t2
dan bentuk gelombang untuk masukan dan
keluaran ditunjukkan pada gambar 5.

Dengan k = n/ (m + n) dan k disebut duty


cicle. Vs adalah tegangan fasa rms. Konfigurasi
rangkaian utnuk kontrol on-off mirip dengan
yang ada pada kontrol fasa dan demikian
puladengan analisis kerjanya.

3.

Metodologi

3.1

Alat-alat
yang
digunakan
percobaan antara lain:
a. Jumper secukupnya.
b. Kit Praktikum.
c. Oscilloscope.
d. Multimeter.
e. Beban berupa 1 buah lampu.
f. Trafo isolasi.

3.2

Prosedur Percobaan:
a. Rangkaian kendali tegangan AC
b. Menyiapkan
alat
yang
akan
dilakukan percobaan.
c. Memubat rangkaian seperti gambar
dibawah dengan saklar dalam
keadaan terbuka.

Gambar 2.5. Rangkaian Kontrol On-Off


dan Gelombang Output

KENDALI TEGANGAN AC

Jenis kontrol ini diterapkan pada aplikasi


yang memiliki inersia mekanis yang tinggi dan
konstanta waktu termal yang tinggi (contohnya
industri pemanas dan kontrol kecepatan
motor).Karena tegangan nol dan arus nol,
harmonik yang ditimbulkan oleh saklar
dikurangi.
Untuk sebuah tegangan masukan
sinusiodal, Vs = Vm sin t = Vs sin Vs t.
Jika tegangan masukan dihubungkan pada
beban untuk siklus n dan diputus untuk siklus
m, tegangankeluaran rms (atau beban) dapat
ditemukan melalui :

4.
4.1

Hasil Percobaan
Hasil dan Pengolahan data Percobaan
a.
Tabel 4.1. hasil percobaan
Besar Triger
Vin (volt)

dalam

AC

BEBAN

Trafo Isolasi

Percobaan beban : (1) 1 fasa, (2), 3fasa


bintang dengan netral dan (3) 3 fasa
delta
d. Mengkalibrasi osilloscope pada peak to
peak yang sama dan sesuai
e. Mengatur besar masukan gelombang
trigger 300, 600 , 900 ,1200,1500,dan1800
f. Mengambil data tegangan keluaran
Vo , Io dan mengambil gambar bentuk
gelombang
yang
di
hasilkan
osilloscope dengan kamera handphon.

Vo (volt)

Io (ampere)

Keterangan

180o

206

0.012

0.05 m

Mati

150o

210

13.04

2.4 m

Sangat redup

120o

208.5

46.6

7.4 m

Redup

90o

207.8

88.6

13.8 m

Agak terang

60o

209

187.5

28.8 m

Terang

30o

206

197.5

30.6 m

Sangat Terang

b.

Tabel 4.2. gelombang keluaran


Besar Triger ()
Vo (volt)

180o

0.012

150o

13.04

120o

46.6

90o

88.6

Gelombang keluaran

60o

187.5

30o

197.5

c. Pengolahan data percobaan


Pada sudut penyalaan 30o
Secara teori
a. Tengangan keluaran
((
((

)
)

Secara Praktikum
a. Tengangan keluaran
)
)

b. Arus Keluaran
)
)

c. Daya keluaran

b. Arus Keluaran

c. Daya keluaran

Pada sudut penyalaan 60o


Secara teori
a. Tengangan keluaran
((

((

Secara Praktikum
a. Tengangan keluaran
)
)

b. Arus Keluaran

)
)

c. Daya keluaran

b. Arus Keluaran

c. Daya keluaran

Pada sudut penyalaan 90o


Secara teori
a. Tengangan keluaran
((

((

Secara Praktikum
a. Tengangan keluaran
)
)

b. Arus Keluaran

)
)

c. Daya keluaran

b. Arus Keluaran

c. Daya keluaran

Pada sudut penyalaan 120o


Secara teori
a. Tengangan keluaran
(

((

((

Secara Praktikum
a. Tengangan keluaran

)
)

b. Arus Keluaran

)
)

c. Daya keluaran

b. Arus Keluaran

c. Daya keluaran

Pada sudut penyalaan 150o


Secara teori
a. Tengangan keluaran
((

((

Secara Praktikum
a. Tengangan keluaran

)
)
(

b. Arus Keluaran

)
)

c. Daya keluaran

b. Arus Keluaran

c. Daya keluaran

Pada sudut penyalaan 180o


Secara teori
a. Tengangan keluaran
((
((

)
)

Secara Praktikum
a. Tengangan keluaran

)
)
(

b. Arus Keluaran
)
)

c. Daya keluaran

b. Arus Keluaran
c. Daya keluaran

5.

Analisa

Dari percobaan yang kami lakukan


pada kendali tegangan AC kami dapat
menganalisa :
1. Pada saat sudut penyalaan 30 daya yang
diterima memenuhi
kapasitas beban
tersebut. Semakin besar sudut penyalaan
maka semakin kecil beban yang diterima
pada beban. Karena diakibatkan prisip
keja dari thyristor tersebut.
2. Kondisi lampu dapat diatur nyala terang
nya dengan sudut penyalaan, semakin
kecil sudut penyalaan maka lampu
semakin terang. Hal ini disebabkan
karena Igate yang besar, semakin besar Igate
maka arus dan daya lampu akan semakin
kecil, sehingga nyala lampu akan
semakin terang. Dan apabila sudut
penyalaanya mendekati 180o maka
tegangannnya mendekati nol.
3. Apabila
gambar
gelombang
pada
oskiloskop sudut penyalaan bila trigger
yang diubah 30o maka akan bergeser 30o
dan seterusnya sampai 180o gelombang
keluarannya akan sama dengan garis nol.
4. Untuk hasil perhitungan secara teori
dengan secara praktikum daya keluaran
untuk trigger 30 berbeda agak jauh hal
ini disebabkan perumusan pada teori
tegangann masukan diasumsikan Vs =
220 apa bila mengikuti pada Vs pada
sumber real maka akan agak mirip nilai
hasil dengan percobaan.

6.

Tugas Akhir
Pertanyaan dan Penyelesaiannya :
1. Hitung Besar tegangan keluaran
(Vo), arus keluaran (Io), dan daya
keluaran (Po) dan tentukan factor
kerja yang terjadi untuk setiap besar
trigger yang diberikan ?
Penyelesaiannya :
Ada pada pengolahan data.
2.

Bandingkan besar tegangan output


hasil percobaan dengan hasil
perhitungan secara teori ?
Penyelesaiannya :
Ada pada pengolahan data.
Hasil akan berbeda karena pada saat
percobaan untuk menentukan nilai
yang
di
multimeter
kurang
ketelitian dalam pembacaannya.
Sedangkan
pada
perhitungan
dengan cara teori itu sangat akurat
karena tidak ada factor lainnya.

3.

Jelaskan cara kerja trigger dalam


percobaan yang telah dilakukan ?
Penyelesaiannya :
cara kerja trigger pada transistor
unijunction yaitu ketika tegangan
sumber dc Vs diberikan, kapasitor C
akan diisi melalui resistor R karena
rangkaian emiter dari UJT berada
pada kondisi terbuka. Ketika
tegangan emmiter VE yang sama
dengan tegangan kapasitor Vc
mencapai tegangan puncak Vp, UJT
akan ON dan kapasitor akan

dikosongkan dengan kecepatan


yang lebih kecil dari pada saat
pengisian. Ketika tegangan emmiter
berkurang maka emitter akan
kembali tidak tersambung. UJT
menjadi OFF dan siklus pengisian
akan berulang kembali.
4.

7.

Gambarkan
gelombang
input,
gelombang output, beserta sudut
penyalaannya ?
Penyelesaiannya :
Ada pada pengolahan data.

Kesimpulan

Dari
Percobaan
yang
kami
praktikumkan, kami dapat menyimpulkan :
1. Kami dapat mengetahui cara kerja
thrystor dan triac.
2. Kami dapat mengetahui tipe-tipe kendali
tegangan AC.
3. Kami dapat mengetahui gelombang input
dan output untuk tiap percobaan.
4. Thyristor
adalah
komponen
semikonduktor untuk pensaklaran yang
berdasarkan pada struktur PNPN.
Komponen ini memiliki kestabilan dalam
dua keadaan yaitu on dan off serta
memiliki
umpan-balik
regenerasi
internal. Thyristor memiliki kemampuan
untuk mensaklar arus searah (DC) yaitu
jenis SCR, maupun arus bolak-balik (AC),
jenis TRIAC.
5. Untuk percobaan rangkaian 1 fasa, kita
dapat mengetahui tegangan output, arus
output, daya output, dan gelombang
output pada oscilloscope.
6. Untuk percobaan rangkaian kendali
tegangan AC 1 fasa, dengan diberikannya

tegangan sumber sebesar 220 Volt. Sudut


penyalaan dapat diatur dan diputar dari
00 s/d 1800, maka akan terjadinya
kenaikan tegangan, arus dan daya
output. Gelombang output akan semakin
membentuk sinyal sinusoida (dapat
dilihat di tabel gelombang keluaran).
7. Kondisi lampu dapat diatur nyala terang
nya dengan sudut penyalaan, semakin
besar sudut penyalaan maka lampu
semakin terang. Hal ini disebabkan
karena Igate yang besar, semakin besar Igate
maka arus dan daya lampu akan semakin
besar, sehingga nyala lampu akan
semakin terang.
8. Cara kerja thyristor : ketika cycle positip
maka thyristor akan on sedangkan
pada cycle negatif thyristor off, namun
cara kerja thrystor tergantung dari sudut
penyalaan yang ditentukan.
9. Hambatan (R) tidak diketahui seharusnya
asisten memberikan ketentuan R nya
karena R ditentukan oleh rangkaian yang
sudah ada didalam panel itu sendiri.
Supaya kita bias mengetahui lebih lanjut
untuk masalah Daya output nya.
10. Untuk percobaan rangkaian terkendali
AC 3 Fasa tidak dapat dilakukan karena
factor kit praktikum yang tidak memadai
untuk
berlangsungnya
percobaan
tersebut.

8.

Daftar Pustaka
Rashid, Muhammad H. 1999, Elektronika
Daya. Jilid 1. Jakarta : PT. Prenhallindo
Tim asisten. Modul Praktikum Mesinmesin dan Elektronika Daya .2014

LAMPIRAN

10

Wiring Diagaram Percobaan Kendali Tegangan AC 1 Fasa

SUMBER
N

Pengontrolan

Trafo

IN

OUT

BEBAN

Wiring Diagaram Percobaan Kendali Tegangan AC 3 Fasa Hubung Bintang dengan Netral

SUMBER

BEBAN

Pengontrolan

R S T N
N
-

S
T
OUT

IN

Wiring Diagaram Percobaan Kendali Tegangan AC 3 Fasa Hubung Delta

SUMBER

BEBAN

Pengontrolan

R S T N
N
+

S
T
IN

OUT

11