Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Ketika kita membahas Fluida, konsep Tekanan menjadi sangat penting.
Ketika fluida berada dalam keadaan tenang, fluida memberikan gaya yang tegak
lurus ke seluruh permukaan kontaknya. Misalnya kita tinjau air yang berada di dalam
gelas; setiap bagian air tersebut memberikan gaya dengan arah tegak lurus
terhadap dinding gelas. jadi setiap bagian air memberikan gaya tegak lurus terhadap
setiap satuan luas dari wadah yang ditempatinya, dalam hal ini gelas. Demikian juga
air dalam bak mandi atau Air kolam renang. Ini merupakan salah satu sifat penting
dari fluida statis alias fluida yang sedang diam. Gaya per satuan luas ini dikenal
dengan istilah tekanan.
Mengapa pada fluida diam arah gaya selalu tegak lurus permukaan ? Hukum
III Newton yang pernah kita pelajari mengatakan bahwa jika ada gaya aksi maka
akan ada gaya reaksi yang besarnya sama tetapi berlawanan arah. Ketika fluida
memberikan gaya aksi terhadap permukaan, di mana arah gaya tidak tegak lurus,
maka permukaan akan memberikan gaya reaksi yang arahnya juga tidak tegak
lurus. Hal ini akan menyebabkan fluida mengalir. Tapi kenyataannya kan fluida tetap
diam. Jadi kesimpulannya, pada fluida diam, arah gaya selalu tegak lurus
permukaan wadah yang ditempatinya.
Sifat penting lain dari fluida diam adalah fluida selalu memberikan tekanan ke
semua arah. Untuk lebih memahami penjelasan ini, silahkan masukan sebuah
benda yang bisa melayang ke dalam gelas atau penampung (ember dkk) yang
bersisi air. Jika air sangat tenang, maka benda yang anda masukan tadi tidak
bergerak karena pada seluruh permukaan benda tersebut bekerja tekanan yang
sama besar. Jika tekanan air tidak sama besar maka akan ada gaya total, yang akan
menyebabkan benda bergerak.

I.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah gaya resultan pada fluida?
2. Dinamakah Lokasi tekanan pada fluida?
3. Bagaimanakah tegangan zat cair dalam pipa?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan


Dari penulisan ini maka mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan
mengenai :
1. Gaya resultan pada fluida
2. Lokasi tekanan pada fluida
3. Tegangan zat cair dalam pipa

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Tekanan
Besar tekanan di definisikan sebagai gaya tiap satuan luas. Apabila gaya
sebesar F bekerja secara tegak lurus dan merata pada permukaan bidang seluas
A, tekanan ada permukaan itu dapat di rumuskan sebagai berikut:

Keterangan :
P = tekanan (N/m2)
F = gaya (N)
A = luas (m2)
Satuan tekanan dalam SI adalah N/m2 atau disebut juga Pascal (Pa).
untuk tekanan udara kadang-kadang digunakan satuan atmosfer (atm), cm raksa
(cmHg), mmHg (atau torr dari Torricelli) atau milibar (mb).
Aturan konversinya adalah sebagai berikut :
1 mb = 10-3 bar
1 bar = 105 Pa
1 atm = 76 cmHg = 1,01 x 105 Pa
1 mmHg = 1 torr = 1,316 x 10-3 atm = 133,3 Pa
Sebuah gaya yang bekerja pada sebuah permukaan fluida akan selalu
tegak lurus pada permukaan tersebut. Karena fluida yang diam tidak dapat
menahan komponen gaya yang sejajar dengan permukaannya. Komponen gaya
yang sejajar dengan permukaan fluida akan menyebabkan fluida tadi bergerak
mengalir. Karena itu kita dapat mendefinisikan suatu besaran yang terkait
dengan gaya normal permukaan dan elemen luasan permukaan suatu fluida.
Kita tinjau suatu fluida, dan kita ambil suatu bagian volume dari fluida itu
dengan bentuk sembarang, dan kita berinama S. Secara umum akan terdapat

gaya dari luar S pada permukaannya oleh materi di luar S. Sesuai prinsip hukum
Newton ketiga, mestinya akan ada gaya dari S yang, sesuai pembahasan di atas,
mengarah tegak lurus pada permukaan S. Gaya tadi dia sumsikan sebanding
dengan elemen luas permukaan d~S ,dan konstanta kesebandingannya
didefinisikan sebagai tekanan.

Jadi arah F adalah tegak lurus permukaan, searah dengan arah dS ,dan
tekanan p adalah besaran skalar. Satuan SI dari tekanan adalah pascal (Pa),
dan 1 Pa = 1 N/m2.

Sifat dasar dari fluida adalah tekanan.Tekanan biasa dikenali sebagai


gaya permukaan yang dikenai oleh fluida pada dinding bejana. Tekanan juga
berada di setiap titik di dalam volume fluida. Untuk fluida statik, sebagaimana
ditunjukkan oleh analisis berikut, tekanan tidaklah tergantung pada arah.

Perhatikan sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat kecil)


berbentuk prisma segitiga ABCDEF dalam keadaan setimbang yang melingkupi
sebuah titik di dalamnya. Mengacu pada elemen ini bisa ditentukan hubungan
antara tekanan P dalam arah x, Py, dalam arah ya dan Ps dalam arah tegak
lurus bidang miring dengan sudut sembarang terhadap bidang horizontal.

Px bekerja tegak lurus pada bidang ABEF seluas y. z

Py bekerja tegak lurus pada bidang CDEF seluas x. z, dan

Ps bekerja tegak lurus pada bidang ABCD seluas s, z.

Karena tidak ada gaya geser pada fluida diam, dan tidak akan ada gaya
pemercepat, jumlahan gaya-gaya dalam suatu arah pasti sama dengan nol.
Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya-gaya tekan dan gaya gravitasi.
Resultan gaya arah-x adalah nol sehingga:

( )

Resultan gaya arah-x adalah nol sehingga:

PGravitasi

( )+ g (

Dan pada batas

0 maka :

Py = Ps
Maka :
Px = Py = Ps

Artinya, tekanan di satu titik sama besar ke segala arah. Inilah yang
disebut hukum Pascal. Pernyataan ini berlaku untuk fluida diam. Padatan
yang sangat halus menyerupai fluida datam berbagai hal tetapi berbeda
sangat dalam hal-hal lainnya. Satu hal,massa static padatan partikulat
mampu menahan gaya geser yang sangat besar dan tekanan ke segala arah
tidaklah sama besar
.
P = P (elevasi)
Pertimbangkanlah sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat
kecil) vertikal dengan luas irisan sebesar A dan tinggi (Z2 Z1).

Gambar 7. Elemen diferensial tabung-vertikal fluida

Karena tidak ada gaya geser pada fluida diam, dan tidak akan ada
gaya pemercepat, jumlahan gaya-gaya dalam suatu arah pasti sama dengan
nol. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya-gaya tekan dan gaya gravitasi.
Resultan gaya arah-z adalah nol:
P1.A - P2.A - Ag.(Z2 - Z1) = 0
Maka :
P2 - P1 = -Ag.(Z2 - Z1)
Jadi di dalam fluida yang mengalami percepatan gravitasi, tekanan
berkurang sejalan dengan pertambahan ketinggian ke arah atas.
Kesamaan tekanan pada level sama
Selanjutnya pertimbangkan pua sebuah elemen fluida diferensial
(berukuran sangat kecil) horizontal. Resultan gaya arah x akan sama
dengan nol.

Gambar 8. Elemen diferensial tabung horizontal fluida


Jadi, P1A-P2A 0 atau P1-P2 (artinya, tekanan fluida pada level sama
akan sama besar). Kenyataan yang sama juga berlaku pada fluida dalam
bejana U berikut.

Gambar 9. Tabung berbentuk U


Tekanan pada level yang sama akan sama besar dalam wadah fluida
kontinu, walaupun tidak terdapat jejak horizontal langsung antara P dan Q
asalkan keduanya berada dalam wadah fluida kontinu yang sama.
Dari bahasan sebelumnya diketahui bahwa PP PS. Karena
PR Pp + gh
PS PQ + gh
Persamaan umum
Sekarang akan ditinjau vaariasi tekanan pada sebuah elemen fluida
diferensial yang lebih umum dengan posisi miring (tidak vertikal
ataupun horizontal).

Gambar 10. Elemen diferensial tabung miring fluida


Penguraian gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida diferensial
sepanjang sumbu PQ memberikan kesetimbangan gaya-gaya sbb:
pA ( p + p A ) A g A . S.cos() = 0
atau (pada batas s

0) :

= - g cos ()
dalam arah vertikal, = 0 , sehingga
=-g
persamaan ini memperkirakan penurunan tekanan kea rah vertikal naik
pada laju yang sebanding dengan densitas setempat.

Tekanan Atmosfer

Udara di atmosfer mempunyai berat. Karenanya maka udara tersebut


bisa menimbulkan tekanan pada permukaan bumi. Rapat massa udara tidak
konstan, yang tergantung pada ketinggian, suhu dan kelembaban. Oleh
karena itu tekanan atmosfer, yang disebabkan oleh berat atmosfer atau udara
di atas permukaan bumi, sulit (tidak dapat dihitung). Tekanan atmosfer dapat
diukur berdasarkan tinggi kolom zat cair yang bisa ditahan. Di permukaan
laut, tekanan yang ditimbulkan oleh kolom udara seluas 1 cm2 dan setinggi
atmosfer adalah sebesar 1,03 kg. Dengan kata lain, tekanan atmosfer pada
permukaan laut adalah 1,03 kg/cm2, atau dapat juga ditunjukkan oleh 10,3 m
air atau 76 cm air raksa (Hg). Tekanan atmosfer akan berkurang dengan
elevasi / ketinggian tempat.
Tekanan Relatif
Tekanan relative atau tekanan terukur adalah tekanan yang diukur
berdasarkan tekanan atmosfer. Tekanan ini bisa lebih besar atau lebih kecil
dari tekanan atmosfer lokal. Fluida yang berhubungan dengan udara luar
(atmosfer) bertekanan nol, sehingga tekanan relatif adalah positif bila besar
dari tekanan atmosfer dan negatif apabila lebih kecil.
Tekanan mutlak
Tekanan mutlak merupakan jumlah tekanan atmosfer dengan tekanan
relatif. Apabila tekanan relative negatif, maka tekanan mutlak adalah tekanan
atmosfer dikurangi tekanan relative.
Di daerah semisal ruang angkasa, yang jelas bebas dari gas, tekanan
praktis nol. Kondisi seperti ini bisa dihampiri di laboratorium apabila sebuah
pompa vakum digunakan untuk menghampakan sebuah botol. Tekanan di
dalam kehampaan disebut nol mutlak, dan semua tekanan yang mengacu
pasa nilai ini disebut tekanan mutlak.
2.2 Lokasi Tekanan
Di dalam fluida diam, tidak terjadi tegangan geser dan gaya bekerja pada
suatu bidang adalah gaya tekanan yang bekerja tegak lurus pada bidang tersebut.
Tekanan paa setiap titik di dalam fluida diam sama dalam segala arah. Untuk

membuktikan hal ini, dipandang suatu elemen fluida berbentuk prisma segitiga
sangat kecil dengan lebar satu satuan panjang (tegak lurus bidang gambar), panjang
dan tinggi adalah dx dan dz yang berada dalam keadaan diam seperti yang
ditunjukkan dalam Gb. 3.1
Dalam Gb.1, p adalah tekanan, px dan pz adalah tekanan dalam arah
horizontal dan vertikal. Sisi-sisi segitiga tersebut mempunyai hubungan berikut:
dx = dl cos
dz = dl sin
berat prisma segitiga fluida adalah

Gaya tekanan yang bekerja pada bidang permukaan dalam arah x,y, dan z
berturut-turut adalah
Px

= px . dz

Pz

= pz . dx

= p . dl
Persamaan kesetimbangan untuk arah x adalah :

Px

= P sin

Px dz

= p dl sin

Px dl sin

= p dl sin

Sehingga,
Px = P
Sedang untuk arah z

atau

Oleh karena prisma pada Gb. 1 sangat kecil ukurannya sehingga mendekati nol,
maka suku kedua persamaan diatas dapat diabaikan sehingga

Dari persamaan didapat

Yang berarti bahwa tekanan dalam berbagai arah yang bekerja pada suatu titik
da;am fluida diam adalah sama.
Besarnya gaya tekanan yang bekerja pada suatu bidang datar diberikan oleh rumus
berikut

atau

2.3 Tegangan Zat cair dalam Pipa


Pipa adalah saluran tertutup yang biasanya berpenampang lingkaran yang
digunakan untuk mengalirkan fluida dengan tampang aliran penuh. Fluida yang di
alirkan melalui pipa bisa berupa zat cair atau gas dan tekanan bisa lebih besar atau
lebih kecil dari tekanan atmosfer. Apabila zat cair di dalam pipa tidak penuh maka
aliran termasuk dalam aliran saluran terbuka atau karena tekanan di dalam pipa
sama dengan tekanan atmosfer (zat cair di dalam pipa tidak penuh), aliran temasuk
dalam pengaliran terbuka. Karena mempunyai permukan bebas, maka fluida yang
dialirkan dalah zat cair. Tekanan dipermukan zat cair disepanjang saluran terbuka
adalah tekanan atmosfer.
Perbedan mendasar antara aliran pada saluran terbuka dan aliran pada pipa
adalah adanya permukan yang bebas yang (hampir selalu) berupa udara pada
saluran terbuka. Jadi seandainya pada pipa aliranya tidak penuh sehinga masih ada
ronga yang berisi udara maka sifat dan karakteristik aliranya sama dengan aliran
pada saluran terbuka Misalnya aliran air pada gorong-gorong. Pada kondisi saluran
penuh air, desainya harus mengikuti kaidah aliran pada pipa, namun bila mana
aliran air pada gorong gorong didesain tidak penuh maka sifat aliranya adalah sama
dengan aliran pada saluran terbuka. Perbedan yang lainya adalah saluran terbuka
mempunyai kedalaman air (y), sedangkan pada pipa kedalam air tersebut
ditransformasikan berupa (P/y). Oleh karena itu konsep analisis aliran pada pipa
harus dalam kondisi pipa terisi penuh dengan air.

Zat cair ril didefinisikan sebagi zat yang mempunyai kekentalan, berbeda
dengan zat air ideal yang tidak mempunyai kekentalan. Kekentalan disebabkan
karena adanya sifat kohesi antara partikel zat cair. Karena adanya kekentalan zat
cair maka terjadi perbedan kecepatan partikel dalam medan aliran. Partikel zat cair
yang berdampingan dengan dinding batas akan diam (kecepatan nol) sedang yang
terletak pada suatu jarak tertentu dari dinding akan bergerak. Perubahan kecepatan
tersebut merupakan fungsi jarak dari dinding batas. Aliran zat cair il disebut juga
aliran viskos.

Aliran viskos adalah aliran zat cair yang mempunyai kekentalan (viskositas).
Viskositas terjadi pada temperature tertentu. Tabel 2.1. memberikan sifat air
(viskositas

kinematik)

pada

tekanan

atmosfer

dan

beberapa

temperature.

Kekentalan adalah sifat zat cair yang dapat menyebabkan terjadinya tegangan geser
pada waktu bergerak. Tegangan geser ini akan mengubah sebagian energi aliran
dalam bentuk energi lain seperti panas, suara, dan sebagainya. Perubahan bentuk
energi tersebut menyebabkan terjadinya kehilangan energi.

Aliran viskos dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam. Apabila pengaruh


kekentalan (viskositas) adalah cukup dominan sehinga partikel-partikel zat cair
bergerak secara teratur menurut lintasan lurus maka aliran disebut laminar. Aliran
laminar terjadi apabila kekentalan besar dan kecepatan aliran kecil. Dengan
berkurangnya pengaruh kekentalan atau bertambahnya kecepatan maka aliran akan
berubah dari laminar menjadi turbulen. Pada aliran turbulen partikel-partikel zat cair
bergerak secara tidak teratur.

2.3.1 Hukum Newton tentang kekentalan zat cair

Kekentalan zat cair menyebabkan terbentuknya gaya-gaya geser antara


2 (dua ) elemen. Keberadan kekentalan ini menyebabkan terjadinya kehilangan
energi selama pengaliran atau diperlukan energi untuk menjamin adanya
pengaliran.
Hukum Newton tentang kekentalan menyatakan bahwa tegangan geser
antara 2 (dua) partikel zat cair yang berdampingan adalah sebanding dengan
perbedan kecepatan dari kedua partikel (gradien kecepatan) seperti terlihat
dalam gambar 2.1 yang berbentuk :

Seperti yang ditunjukan oleh persaman (2.1) dan gambar (2.1), apabila 2
(dua) elemen zat cair yang berdampingan dan bergerak dengan kecepatan
berbeda, elemen yang lebih cepat akan diperlambat dan yang lebih lambat
akan dipercepat. Tegangan geser pada lapis 1 (satu) bagian bawah
mempunyai arah kekiri karena bagian tersebut ertahan oleh lapis di bawahnya
yang mempunyai kecepatan lebih rendah. Sedangkan lapis 2 (dua) bagian atas
bekerja tegangan geser dalam arah kekanan karena bagian tersebut tertarik
oleh lapis di atasnya yang mempunyai kecepatan lebih besar.
Pada permukan antara dinding batas dan aliran zat cair juga terjadi
tegangan geser dengan arah berlawanan dengan arah aliran. Tegangan geser
pada dinding batas ini cukup besar karena gradien kecepatan didaerah
tersebut sangat besar.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.unhas.ac.id/lkpp/teknik/BAB%20III.%20DISTRIBUSI%20TEKANAN%20D
ALAM%20ALIRAN%20FLUIDA-Syer.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/195708071982112WIENDARTUN/7.Fluida.pdf

http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/11015-14-882560348670.pdf

http://taufiqurrokhman.com/2014/06/03/persamaan-kontinuitas/

https://muhfari.files.wordpress.com/2011/11/aliran-fluida-pada-aluran-tertutup-pipa.pdf