Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia dibutuhkan keadaan yang seimbang (homeostasis)
yang dilakukan oleh organ tubuh kita, salah satunya adalah ginjal. Ginjal merupakan
organ vital yang berperan dalam mempertahankan volume dan komposisi cairan
ekstrasel dalam batas-batas normal. Bila fungsi ginjal terganggu, maka akan timbul
ketidak- seimbangan yang salah satu akibatnya akan timbul batu.
Batu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan
(ginjal, ureter dan kandung kemih). Bila terjadi pada kandung kemih dapat
menyebabkan penyumbatan dan pengosongan kandung kemih tidak sempurna,
sehingga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada ginjal.
Insiden terbentuknya batu menurut A. Suwito mendapatkan angka prevalensi
batu saluran kencing 51,9/10.000 penduduk. Pada pria lebih banyak ditemukan batu
ureter dan buli-buli sedangkan pada wanita lebih sering ditemukan batu ginjal.
Terbentuknya batu dapat dipengaruhi oleh faktor intristik seperti : usia, jenis kelamin,
ras, dan oleh faktor ekstristik seperti: lokasi geografis, pekerjaan, iklim, ekonomi.
Puncak insiden terjadi pada usia 30 50 tahun.
Gejala awal terbentuknya batu jarang dirasakan oleh penderita, mungkin
hanya perubahan dalam pola perkemihan, namun bila tidak ditindaklanjuti maka dapat
menimbulkan keadaan yang parah, seperti nyeri yang hebat, terjadi penyumbatan
saluran kemih bahkan terjadi kerusakan ginjal.
Peran perawat dalam hal ini adalah memberikan penyuluhan tentang:
pencegahan terjadinya batu, seperti mengkonsumsi cairan dalam jumlah banyak (3 4
liter/hari), diit yang seimbang/sesuai dengan jenis batu yang ditemukan, aktivitas yang
cukup serta segera memeriksakan diri bila timbul keluhan pada saluran kemih agar
dapat segera ditangani. Bagi penderita yang mengalami batu pada kandung kemih
agar selalu menjaga kesehatannya agar tidak terjadi pembentukan batu yang baru pada
kandung kemih.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi batu saluran kemih atau urolithiasis?
2. Apa saja etiologi batu saluran kemih atau urolithiasis?
3. Apa saja manifestasi klinis batu saluran kemih atau urolithiasis?
4. Bagaimana patofisiologi batu saluran kemih atau urolithiasis?
5. Apa saja komplikasi dari batu saluran kemih?
6. Apa saja pemeriksaan diagnostic batu saluran kemih atau urolithiasis?
7. Bagaimana penatalaksaan medis urolithiasis?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien batu saluran kemih atau urolithiasis?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum

a. Dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien Urolithiasis


b. Untuk memenuhi tugas sebagai salah satu syarat dari mata kuliah Sistem
Perkemihan
2. Tujuan Khusus

a. Untuk memperdalam anatomi fisiologi penyakit batu saluran kemih yang


merupakan dasar pengkajian dan intervensi keperawatan
b. Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien urolithiasis
c. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien urolithiasis
d. Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada pasien urolithiasis
e. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien urolithiasis

D. Metode Penulisan
Dalam memperoleh data atau informasi yang akan digunakan untuk penulisan
makalah ini, penulis menggunakan metode studi kepustakaan yakni dilakukan dengan
mengambil referensi dari buku-buku dan internet dengan topik penulisan makalah ini
sebagai dasar untuk mengetahui dan memperkuat teori yang digunakan.

BAB II
KONSEP DASAR UROLITHIASIS
A. Definisi
Batu saluran kemih adalah adanya batu di traktus urinarius. (ginjal, ureter, atau
kandung kemih, uretra) yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium
urat, asam urat dan magnesium. (Brunner & Suddath,2002). Batu saluran kemih atau
Urolithiasis adalah adanya batu di dalam saluran kemih. (Luckman dan Sorensen).
Dari dua definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa batu saluran kemih adalah
adanya batu di dalam saluran perkemihan yang meliputi ginjal, ureter, kandung
kemih dan uretra.

B. Etiologi
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih sampai saat ini belum diketahui
pasti, tetapi ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu pada saluran kemih yaitu:
a. Infeksi
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan
menjadi inti pembentukan batu saluran kemih. Infeksi bakteri akan memecah
ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.
b. Stasis dan Obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah pembentukan batu saluran
kemih.
c. Ras
Pada daerah tertentu angka kejadian batu saluran kemih lebih tinggi daripada
daerah lain. Daerah seperti di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu
saluran kemih.
d. Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi
kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar
semua substansi dalam urine meningkat
e. Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu
daripada pekerja yang lebih banyak duduk.
3

f. Suhu
Tempat yang bersuhu

panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat

sedangkan asupan air kurang dan tingginya kadar mineral dalam air minum
meningkatkan insiden batu saluran kemih
g. Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas batu
saluran kemih berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih
telur lebih sering menderita batu saluran kemih ( buli-buli dan Urethra ).

C. Anatomi Ginjal
Ginjal adalah bagian utama dari sistem perkemihan yang juga masuk
didalamnya ureter, kandung kemih dan uretra. Ginjal terletak pada rongga abdomen
posterior, dibelakang peritonium diarea kanan dan kiri dari kolumna vertebralis.
Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Pada
orang dewasa normal panjangnya 12 13 cm, lebar 6 cm dan beratnya antara 120 150 gram. Setiap ginjal memiliki korteks dibagian luar dan di bagian dalam yang
terbagi menjadi piramide-piramide. Pada setiap piramide membentuk duktus papilaris
yang selanjutnya menjadi kaliks minor, kaliks mayor dan bersatu membentuk ginjal
tempat terkumpulnya urine. Ureter menghubungkan ginjal dengan kandung kemih.
Garis-garis yang terlihat pada piramide disebut nefron yang merupakan satuan
fungsional ginjal. Setiap ginjal terdiri dari satu juta nefron. Setiap nefron terdiri atas
glomerulus yang merupakan lubang-lubang yang terdapat pada piramide-piramide
renal, membentuk simpul dan kapiler badan satu mulpigli, kapsul bowman, tubulus
proximal, ansa henle dan tubulus distal.
Ureter menghubungkan pelvis ginjal dengan kandung kemih. Kedua ureter
merupakan saluran yang panjangnya 10 12 inc. Ureter berfungsi menyalurkan urin
ke kandung kemih. Kandung kemih mempunyai tiga muara. Dua maura ureter dan
satu muara uretra. Kandung kemih sebagai tempat menyimpannya urin dan
mendorong urin untuk keluar. Uretra adalah saluran kecil yang berjalan dari kandung
kemih sampai ke luar tubuh yang disebuat meatus uretra.
Fungsi ginjal:
a. Fungsi ekskresi
Mempertahankan osmolaritas plasma sekitar 285 cm osmol dengan mengubag
ekskresi air
4

Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang


normal
Mempertahankan pH plasma dengan mengeluarkan kelebihan dan membentuk
kembali Hco3
Mengekskresikan produk ahkir nitrogen dan metabolisme protein terutama
urea, asam urat dan kretinin
b. Fungsi non ekskresi
Menghasilkan renin, penting untuk mengatur tekanan darah
Menghasilkan eritropoitin, faktor penting dalam stimulasi produksi sel darah
merah dan sumsum tulang
Metabolisme vitamin D menjdai bentuk aktifnya
Degradasi insulin
Menghasilkan prostaglandin

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius tergantung pada adanya
obstruksi, infeksi dan edema.
a. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi piala ginjal serta ureter
proksimal
Infeksi pielonefritis dan sintesis disertai menggigil, demam dan disuria, dapat
terjadi iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu menyebabkan sedikit
gejala, namun secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal
Nyeri hebat dan ketidaknyamanan
b. Batu di ginjal
Nyeri dalam dan terus menerus di area kontovertebral
Hematuri
Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri
kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis
Mual dan muntah
Diare
c. Batu di ureter
Nyeri menyebar kepaha dan genitalia
Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urin yang keluar
Hematuri akibat abrasi batu
5

Biasanya batu keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5 1 cm


d. Batu di kandung kemih
Biasanya menimbulkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus
urinarius dan hematuri
Jika batu menimbulkan obstruksi pada leher kandung kemih akan terjadi
retensi urin

E. Patofisiologi
Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan
urolithiasis belum diketahui secara pasti. Namun demikian ada beberapa faktor
predisposisi terjadinya batu antara lain: peningkatan konsentrasi larutan urin akibat
dari intake cairan yang kurang serta peningkatan bahan-bahan organik akibat infeksi
saluran kemih atau statis urin menjadikan sarang untuk pembentukan batu.
Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat dan faktor lain yang
mendukung terjadinya batu meliputi: pH urin yang berubah menjadi asam, jumlah
casiran

urin. Masalah-masalah dengan metabolisme purin mempengaruhi

pembentukan batu asam urat. pH urin juga mendukung pembentukan batu. Batu asam
urat dan cyscine dapat mengendap dalam urin yang alkalin, sedangkan batu oxalat
tidak dipengaruhi oleh pH urin.
Imobilisasi yang lama akan menyebabkan gerakan kalsium menuju tulang
akan terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan yang akan
diekskresikan. Jika cairan masuk tidak adekuat maka penumpukan atau pengendapan
semakin bertambah dan pengendapan ini makin kompleks sehingga terjadi batu. Batu
yang terbentuk dalam saluran kemih sangat bervariasi. Ada batu yang kecil, ada yang
besar. Batu yang kecil dapat keluar lewat urin dan akan menimbulkan rasa nyeri,
trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah dalam urin, sedangkan batu yang
besar dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih yang menimbulkan dilatasi
struktur, akibat dari dilatasi akan terjadi refluks urin dan akan menimbulkan
terjadinya hidronefrosis karena dilatasi ginjal. Kerusakan pada srtuktur ginjal yang
lama akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada organ dalam ginjal sehingga
terjadi gagal ginjal kronis karena ginjal tidak mampu melakukan fungsinya secara
normal, yang mengakibatkan terjadinya penyakit gagal ginjal kronik yang dapat
menyebabkan kematian.

F. Teori Terbentuknya Batu


a. Teori Intimatriks
Terbentuknya BSK. memerlukan adanya substansi organik sebagai inti. Substansi
ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoproptein A yang mempermudah
kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.
b. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti; sistin, santin,
asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori Presipitasi-Kristaliasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substasi dalam urine .Urine
yang bersifat asam akan mengendap sistin,santin,asam dan garam urat,urine alkali
akan mengendap garam-garam fosfat.
d. Teori Berkurangnya faktor penghambat
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfatpolifosfat, sitrat
magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya batu
saluran kemih.

G. Komplikasi
a. Obstruksi
b. Hidronephrosis
c. Gagal ginjal
d. Perdarahan
e. Pada laki-laki dapat terjadi impoten.

H. Pemeriksaan Diagnostik
a. Urinalisa
warna mungkin kuning, coklat gelap, berdarah, secara umum menunjukan SDM,
SDP, kristal (sistin, asam urat, kalsium oksalat), pH asam (meningkatkan sistin
dan batu asam urat) alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu
kalsium fosfat), urine 24 jam : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau
sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan ISK, BUN/kreatinin serum
dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap
tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.

b. Darah lengkap
Hb, Ht, abnormal bila psien dehidrasi berat atau polisitemia.
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH. Merangsang
reabsobsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
d. Foto Rntgen
Menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal dan
sepanjang ureter.
e. IVP
Memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri, abdominal atau
panggul. Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
f. Sistoureterokopi
Visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau efek obstruksi.
g. USG ginjal
Untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu

I. Therapy dan Penatalaksanaan medik


a. Tujuan:
1. Menghilangkan obstruksi
2. Mengobati infeksi
3. Mencegah terjadinya gagal ginjal
4. Mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi (terulang kembali)
b. Operasi dilakukan jika:
1. Sudah terjadi stasis/bendungan
2. Tergantung letak dan besarnya batu, batu dalam pelvis dengan bendungan
positif harus dilakukan operasi
c. Therapi
1. Analgesik untuk mengatasi nyeri
2. Allopurinol untuk batu asam urat
3. Antibiotik untuk mengatasi infeksi
d. Diet
Diet atau pengaturan makanan sesuai jenis batu yang ditemukan
1. Batu kalsium oksalat
Makanan yang harus dikurangi adalah jenis makanan yang mengandung
kalsium oksalat seperti: bayam, daun sledri, kacang-kacangngan, kopi, coklat;
8

sedangkan untuk kalsium fosfat mengurangi makanan yang mengandung


tinggi kalsium seperti ikan laut, kerang, daging, sarden, keju dan sari buah.
2. Batu struvite
Makanan yang perlu dikurangi adalah keju, telur, susu dan daging.
3. Batu cystin
Makanan yang perlu dikurangi antara lain sari buah, susu, kentang
4. Anjurkan konsumsi air putih kurang lebih 3 -4 liter/hari serta olah raga secara
teratur.
e. Penatalaksanaan Medis
1. Pembedahan
a. Bedah laparoskopi pembedahan ini dilakukan untuk mengambil batu
saluran kemih. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.
b. Bedah terbuka bedah terbuka meliputi beberapa klarifikasi, antara lain:
- Pielolitotomi atau nefrolitotomi: mengambil batu berukuran besar (batu
staghorn)
- Ureterolitotomi: mengambil batu di ureter
- Vesikolitotomi: mengambil batu di vesika urinaria
2. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)
Tindakan memecah batu yang ditembakkan dari luar tubuh dengan
menggunakan gelombang kejut yang dapat memecahkan batu menjadi
pecahan yang halus, sehingga pecahan tersebut dapat keluar bersama dengan
air seni. Keutungan dari tindakan ESWL ini yaitu tindakan ini dilakukan tanpa
membuat luka, tanpa pembiusan dan dapat tanpa rawat inap.
3. URS (Ureterorenoscopy)
Prosedur tindakan pemeriksaan saluran kandung kemih yang menggunakan
suatu alat yang dimasukkan melalui saluran kemih kedalam ureter kemudian
batu dipecahkan dengan gelombang pneumatik. Pecahan batu akan keluar
bersama air seni.
4. PCNL (Percutaneous Nephrolithotomy)
Tindakan menghancurkan batu ginjal dengan memasukkan alat endoskopi
yang dimasukkan kedalam ginjal sehingga batu dapat dihancurkan dengan alat
tersebut. Tindakan ini memerlukan pembiusan dan rawat inap.

5. Lithocklast
Lithoclast dilakukan untuk memecah batu di ureter (saluran kencing) sampai
pelvis ginjal.
6. Litotripsi
Prosedur yang dilakukan untuk menghancurkan batu di saluran kemih dengan
menggunakan gelombang kejut ultrasonik, sehingga pecahannya dapat dengan
mudah lolos dari tubuh.

10

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
1. Riwayat penyakit ginjal akut dan kronik
2. Riwayat infeksi saluran kemih
3. Pajanan lingkungan: zat-zat kimia
4. Keturunan
5. Alkoholik, merokok
6. Untuk pasien wanita : jumlah dan tipe persalinan (SC, forseps, penggunaan
kontrasepsi)
b. Pola nutrisi metabolik
1. Mual, muntah
2. Demam
3. Diet tinggi purin oksalat atau fosfat
4. Kebiasaan mengkonsumsi air minum
5. Distensi abdominal, penurunan bising usus
6. Alkoholik
c. Pola eliminasi
1. Perubahan pola eliminasi: urin pekat, penurunan output
2. Hematuri
3. Rasa terbakar, dorongan berkemih
4. Riwayat obstruksi
5. Penurunan hantaran urin, kandung kemih
d. Pola aktivitas dan latihan
1. Pekerjaan (banyak duduk)
2. Keterbatasan aktivitas
3. Gaya hidup (olah raga)
e. Pola tidur dan istirahat
1. Demam, menggigil
2. Gangguan tidur akibat rasa nyeri

11

f. Pola persepsi kognitif


1. Nyeri: nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan posisi atau
tindakan lain, nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi
2. Pengetahuan tentang terjadinya pembentukan batu
3. Penanganan tanda dan gejala yang muncul
g. Pola reproduksi dan seksual
Keluhan dalam aktivitas seksual sehubungan dengan adanya nyeri pada saluran
kemih
h. Pola persepsi dan konsep diri
1. Perubahan gaya hidup karena penyakit
2. Cemas terhadap penyakit yang diderita
i. Pola mekanisme copying dan toleransi terhadap stres
1. Adakah pasien tampak cemas
2. Bagaimana mengatasi masalah yang timbul

B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah :
a. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada saluran kemih
b. Perubahan pola eliminasi: urine berhubungan dengan obstruksi karena batu
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan iritasi kandung kemih

C. Rencana Tindakan Keperawatan


a. Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi pada saluran kemih
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan
skala nyeri berkurang
Kriteria Hasil:
- Pasien bebas dari rasa nyeri
- Pasien tampak rileks, bisa tidur dan istiraha
Intervensi :
1. Kaji karakteristik nyeri ( lokasi, lama, intensitas dan radiasi)
2. Observasi tanda-tanda vital, tensi, nadi, cemas
3. Jelaskan penyebab rasa nyeri
4. Ciptakan lingkungan yang nyaman
5. Bantu untuk mengalihkan rasa nyeri : teknik napas dalam
12

6. Beri kompres hangat pada punggung


7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik
b. Perubahan pola elminasi: urine berhubungan dengan inflamasi, obstruksi karena
batu
Tujuan

: Setelah dilakukam tindakan keperawatan selama 1x24 jam pasien


dapat berkemih dengan normal

Kriteria Hasil :
- Pola eliminasi urine dan output dalam batas normal
- Tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi (tidak ada rasa sakit saat berkemih,
pengeluaran urin lancar)
Intervensi :
1. Monitor intake dan output
2. Anjurkan untuk meningkatkan cairan per oral 3 4 liter per hari
3. Kaji karakteristik urine, volume urin saat berkemi, bau dan warna
4. Kaji pola BAK normal pasien, catat kelainnya
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan iritasi kandung kemih
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam tidak tidak ada
tanda-tanda infeksi
Kriteria Hasil:

- Suhu tubuh normal (37oC)


- Meningkatnya penyembuh kandung kemih
-

Tidak ada penumpukan urin dikandung kemih

Intervensi :
1. Kaji tanda vital dengan sering
2. Pantau keluarnya urine
3. Kaji suhu tiap 4 jam, serta adanya nyeri yang timbul
4. Kaji dan laporkan tanda dan gejala infeksi mengintervensi tindakan
selanjutnya
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan kateter

13

D. Discharge planning
a. Mengubah pola berkemih : hindari menahan BAK
b. Mengubah pola minum :
-

Minum banyak > 2000 cc/hari

Hindari minuman yang mengandung tinggi kalsium( susu, air yang


mengandung kapur)

c. Mengubah pola makan : mengurangi makanan yang menyebabkan batu seperti :


-

Tinggi kalsium (keju, coklat)

Tinggi purin (ikan, unggas, daging)

Tinggi oksalat (bayam, sledri, kopi)

d. Mengurangi konsumsi obat-obatan bebas yang dapat menimbulkan batu saluran


kemih
e. Memberitahu tentang tanda dan gejala komplikasi yaitu demam. Pengeluaran urin
yang sedikit, nyeri pada saat BAK
f. Jelaskan teknik higiene personal yang benar
g. Libatkan keluarga dalam pengelolaan diet dan pola makan.

14

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Batu saluran kemih dapat disebabkan oleh berbagai sebab diantaranya intake
cairan yang kurang, aktivitas yang kurang, iklim yang dingin atau panas serta
makanan yang dapat mencetuskan terbentuknya batu ginjal. tanda dan gejala yang
khas pada penyakit ini tergantung dari letak batu, besarnya batu. Gejala yang tersering
adalah nyeri dan gangguan pola berkemih.

B. Saran
Sebagai perawat profesional sangat penting memberikan penyuluhan kepada
pasien dan keluarga tentang proses terjadinya batu dan pencegahannya, sehingga
pasien dan keluarga dapat mengerti dan bekerja sama untuk mendapatkan
kesembuhan yang maksimal.

15

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 2. EGC :
Jakarta
Carpenito, Linda Juall. 1995. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan
(terjemahan). EGC : Jakarta
https://www.scribd.com/doc/141897861/LP-Batu-Saluran-Kemih diakses pada tanggal
18 November 2014 pukul 11.30 WIB
Soeparman. 1990. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. FKUI : Jakarta
Sylvia dan Lorraine. 1999. Konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 4, volume 2.
EGC: Jakarta

16