Anda di halaman 1dari 13

Modul 6

Bedah Anak

EKSISI KISTA BAKER


(No. ICOPIM: 5-832)

1. TUJUAN :
1.1. Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi region
poplitea, diagnosis dan pengelolaan kista baker, melakukan work-up penderita kista Baker dan
menentukan tindakan operatif yang sesuai beserta dengan perawatan pasca operasinya
1.2. Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk:
1. Mampu menjelaskan anatomi regio poplitea (tingkat kompetensi K3,A3)/AK 2,3,6,7
2. Mampu menjelaskan etiologi kista Baker (tingkat kompetensi K3,A3)/AK 2,3,6,7
3. Mampu menjelaskan patologi, gambaran klinis, terapi kista baker dengan deferensiasi baik
atau deferensias jelek (tingkat kompetensi K3,A3)/AK 2,3,6,7
4. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti USG (tingkat kompetensi
K3,A3)/AK 2,3,6,7
5. Mampu menjelaskan teknik operasi kista Baker dan komplikasinya (tingkat kompetensi
K3,A3)/AK 2,3,6,7,8,10,12
6. Mampu menjelaskan penanganan komplikasi operasi (tingkat kompetensi K3,A3)/AK
2,3,6,7,8,10,12
7. Mampu melakukan work up penderita kista Baker yang meliputi anamnesa, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang (tingkat kompetensi K3,A3)/AK 1-12
8. Mampu melakukan tindakan pembedahan kista (tingkat kompetensi K3,P5,A3)/AK 1-12
9. Mampu merawat pra operatif dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang
terjadi (tingkat kompetensi K3,P5,A3)/AK 1-12
2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN
1. Anatomi regio poplitea
2. Etiologi, macam, diagnosis dan rencana pengelolaan kista Baker
3. Tehnik operasi kista dan komplikasinya
4. Work-up penderita kista Baker
5. Perawatan penderita kista Baker pra operatif dan pasca operasi
3. WAKTU
METODE

4. MEDIA

A. Proses pembelajaran dilaksanakan melalui metode:


1) small group discussion
2) peer assisted learning (PAL)
3) bedside teaching
4) task-based medical education
B. Peserta didik paling tidak sudah harus mempelajari:
1) bahan acuan (references)
2) ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
3) ilmu klinis dasar
C. Penuntun belajar (learning guide) terlampir
D. Tempat belajar (training setting): bangsal bedah, kamar
operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
1.
2.
3.
4.
5.

Workshop / Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Visite, bed site teaching

6. Bimbingan Operasi dan asistensi


7. Kasus morbiditas dan mortalitas
8. Continuing Profesional Development
5. ALAT BANTU PEMBELAJARAN
Internet, telekonferens, dll.
6. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk MCQ, essay dan oral sesuai dengan
tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik
dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas:
Anatomi regio poplitea
Diagnosis
Terapi
Komplikasi dan Penanggulangannya
Follow Up
2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas
kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun
belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan
langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan temantemannya (peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut,
yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah dianggap
memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik
mengaplikasikan penuntun belajar kepada nodel anatomik dan setelah kompetensi tercapai
peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada
saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi
formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau
kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari
berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan
untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
6. Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form / daftar tilik
(terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai.
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat
memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran:
Pre test
Isi pre test
Anatomi regio poplitea
Diagnosis
Terapi

Komplikasi dan Penanggulangannya


Follow Up
Bentuk pre test
MCQ, Essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan
Buku acuan untuk pre test
1. Buku teks Swensons Pediatric Surgery
2. Buku teks Pediatric Surgery
3. Buku teks Ilmu Bedah Hamilon Beiley
4. Buku teks Ilmu Bedah Schwarzt
5. Atlas Tehnik operasi Zollinger
6. Buku ajar Ilmu Bedah Indonesia
Bentuk Ujian / test latihan

Ujian OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan bedah dasar oleh Kolegium I.
Bedah.

Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing senter pendidikan.

Ujian akhir kognitif nasional, dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut (jaga II)
oleh Kolegium I. Bedah.

Ujian akhir profesi nasional (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh
Kolegium I. Bedah
7. REFERENSI
1. Koop. C.E. Abdominal mass in the newton infant 289-569. 1973.
2. Leanidas, J.C. et. Al. Diagnosis of abdominal mass 53 (2) : 120, 1978.
3. Swischuk. L. E. Abdominal Masses and Fluid and K.W. Ashcraft Pediatric Surgery 1980, 909
8. URAIAN : EKSISI KISTA BAKER
8.1. Introduksi :
a. Definisi
Suatu tindakan pembedahan yang berupa pengangkatan kista yang baisanya terletak pada
daerah poplitea
b. Ruang lingkup
Benjolan pada poplitea oleh karena distensi cairan pada bursa gastroknemius semimembranosus
c. Indikasi operasi
Kista baker
d. Kontra indikasi operasi:
Umum
Khusus (inoperable)
e. Diagnosis Banding (tidak ada)
f. Pemeriksaan Penunjang
USG popltea
CT scan
MRI
Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang ahli bedah
mempunyai kompetensi eksisi kista Baker serta penerapannya dapat dikerjakan di RS Pendidikan dan
RS jaringan pendidikan.
8.2. Kompetensi terkait dengan modul / list of skill
Tahapan Bedah Dasar ( semester I III )
Persiapan pra operasi :
o Anamnesis
o Pemeriksaan Fisik
o Pemeriksaan penunjang
o Informed consent

Assisten 2, assisten 1 pada saat operasi


Follow up dan rehabilitasi
Tahapan bedah lanjut (Smstr. IV-VII) dan Chief residen (Smstr VIII-IX )
Persiapan pra operasi :
o Anamnesis
o Pemeriksaan Fisik
o Pemeriksaan penunjang
o Informed consent
Melakukan Operasi ( Bimbingan, Mandiri )
o Penanganan komplikasi
o Follow up dan rehabilitasi
8.3. Algoritma Dan Prosedur
Algoritma (tidak ada)
8.4. Tehnik Operasi
Setelah penderita diberi narkose dengan endotrakeal, penderita di letakkan dalam miring dengan
lutut yang terdapat kista baker diletakkan di bawah.. Desinfeksi lapangan pembedahan dengan
antiseptik kemudian dipersempit dengan linen steril. Dibuat incisi lazy S diperdalam lapis demi
lapis melewati subkutis sampai dengan masa kista. Kemudian dibebaskan dari jaringan sekitarnya
sampai dengan pangkal kista. Kumudian dipotong dan dilakukan kauterisasi sisa kantong kista.
Luka operasi kemudian ditututp lapis demi lapis
8.5. Komplikasi operasi
Perdarahan, hal ini untuk saat ini jarang terjadi. Komplikasi lanjut berupa residif kista
8.6. Mortalitas (tidak ada)
8.7. Perawatan Pascabedah
Pasca bedah penderita dapat langsung pulang
8.8. Follow-up
Tidak terdapat follow up khusus pada penderita pasca eksisi kista baker
8.9. Kata Kunci: Eksisi kista Baker

9. DAFTAR CEK PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OPERASI


No
1
2
3
4
5
6
1
1
2

Daftar cek penuntun belajar prosedur operasi

Sudah
dikerjakan

Belum
dikerjakan

PERSIAPAN PRE OPERASI


Informed Consent
Laboratorium
Pemeriksaan Tambahan
Antibiotik Profilaksi
Cairan dan darah

Persiapan Lokal daerah operasi


ANESTESI
Anestesi general
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI
Desinfeksi lapangan operasi
Tutup dengan kain steril
TINDAKAN OPERASI

1
2
3

Posisi penderita
Peralatan dan instrument operasi khusus
Prosedur operasi sesuai kaidah bedah anak

1
2
3

PERAWATAN PASCA BEDAH


Komplikasi dan penanganannya
Pengawasan terhadap ABC
Perawatan luka operasi

Catatan: Sudah / Belum dikerjakan beri tanda

10. DAFTAR TILIK


Berikan tanda dalam kotak yang tersedia bila keterampilan/tugas telah dikerjakan dengan
memuaskan, dan berikan tanda bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak
dilakukan pengamatan

Memuaskan
Langkah/ tugas dikerjakan sesuai dengan prosedur standar atau penuntun

T/D

Tidak
memuaskan

Tidak mampu untuk mengerjakan langkah/ tugas sesuai dengan prosedur


standar atau penuntun

Tidak diamati

Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama
penilaian oleh pelatih

Nama peserta didik

Tanggal

Nama pasien

No Rekam Medis
DAFTAR TILIK

No

Peserta dinyatakan :
Layak

Kegiatan / langkah klinik

Kesempatan ke
1 2 3 4 5

Tanda tangan pelatih

Tidak layak
melakukan prosedur
Tanda tangan dan nama terang

KISTA BAKER
Definisi
Kista baker adalah kantung kecil berisi cairan sendi (synovial) yang terbentuk dari
perpanjangan kapsul sendi di belakang lutut. Bagian belakang lutut disebut juga sebagai
daerah poplitea lutut. Kista baker kadang-kadang disebut kista poplitea. Kista baker
merupakan distensi cairan dari bursa antara tendon gastrocnemius dan semimembranosus
melalui komunikan dengan sendi lutut. Disebut juga bursa gastrocnemiosemimembranosus.(1)
Epidemiologi
Prevelensi Kista baker pada populasi secara umum tidak diketahui. Namun insidennya
meningkat dengan bertambahnya usia. Insiden tertinggi terjadi pada usia >50 tahun dan sering
ditemukan pada pasien dengan riwayat osteoarthritis.(2) Frekuensi osteoarhtritis sebagai
penyebab kista baker pada dewasa tua mulai dari 6-45%. Kista Baker umumnya jarang terjadi
pada anak-anak, menunjukkan prevalensi yang relatif tinggi pada sub-populasi pediatrik
tertentu, yaitu, pada pasien dengan arthritis dan sindrom hipermobilitas.(3)
Etiologi
Kista baker diakibatkan oleh penumpukan cairan sendi yang terjebak, yang menonjol
dari kapsul sendi di belakang lutut sebagai kantung yang menonjol. Penyebab dari
penumpukan cairan sendi termasuk radang sendi rheumatoid, osteoarthritis, dan terlalu
banyak menggunakan lutut pada saat beraktifitas. Kista baker menyebabkan ketidaknyamanan
di bagian belakang lutut. Kista mungkin membesar dan memanjang menurun ke dalam otot
betis.(4)

Patofisiologi
Lutut dibungkus dalam suatu membrane kedap air yang bagian paling dalamnya
disebut membrane synovial. Membran tersebut mensekresi sejumlah kecil cairan yang disebut
cairan synovial yang berfungsi sebagai pelumas dan menutrisi sendi. Ketika sendi mengalami
iritasi atau trauma, membrane synovial akan merespon dengan mensekresi cairan synovial
dalam jumlah yang abnormal. Cairan tersebut nantinya akan mencari jalan keluar melalui
bagian paling lemah dari kapsul yang berada dibagian belakang dari lutut yang menyebabkan
terbentuknya suatu massa yang disebut kista. Karena bagian belakang lutut disebut area
poplitea, maka disebut juga kista poplitea atau kista beker.(5)
Gejala Klinis
Kista baker dapat tidak menimbulkan gejala. Namun pasien dapat mengeluh nyeri
lutut atau rasa ketat atau tegang dibelakang lutut,terutama saat lutut dalam posisi ekstensi atau
difleksikan maksimal. Kista baker terlihat sebagai benjolan dibelakang lutut saat sedag berdiri
atau saat dibandingkan dengan lutut yang tidak terdapat kista baker. Saat diraba akan terasa
lunak dan lembut. Perkembangan yang cepat dalam hal banyaknya dan tekanan dari cairan
dalam kista bisa membuatnya pecah. Cairan yang dilepaskan dari kista bisa membuat jaringan

sekitarnya menjadi meradang, menghasilkan gejala yang mungkin seperti thrombophlebitis di


vena poplitea (yang terletak dibelakang lutut) dengan menekan vena.(6)

DIAGNOSA
Biasanya dalam membuat diagnosa memerlukan pertanyaan khusus terhadap gejala
dan meraba pembengkakan di belakang lutut atau betis. Ultrasound, magnetic resonance
imaging (MRI), atau arthrography, kadang-kadang bisa membantu dalam diagnosa dan
mendokumentasi sejauh mana kista berkembang.
Diagnosis berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta kadang melalui
pemeriksaan diagnostik. Diagnosis kista baker secara efektif dengan MRI karena distensi
cairan dari bursa gastrocnemiosemimembranosus baik digambarkan pada T2-tertimbang
gambar MR aksial. Cairan distensi bursa gastrocnemiosemimembranosus adalah karakteristik
pada sonografi, mirip dengan yang di MRI.
Diagnosa Kista Baker dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik. Namun karena
gejala dari kista baker terkadang menyerupai penyakit lain seperti Deep Vein Thrombosis,
Aneurysma atau tumor, dilakukan pemeriksaan penunjang seperti: (6)
1. USG
Sangat membantu dalam mengevaluasi massa di poplitea. Pada USG dapat dibedakan
apakah massa tersebut berupa kista massa padat.
Chatzopoulos et al menemukan bahwa Kista Baker sering ditemukan pada pasien
dengan Osteoarthritis lutut dan berkaitan dengan inflamasi synovial.

Color Doppler Ultrasonography dapat mendeteksi aliran pembuluh darah diantara


massa tersebut untuk membedakannya dengan popliteal artery aneurysma. Pada kista
yang diakibatkan degenerasi pembuluh darah dari arteri poplitea, ditemukan gambaran
kista multiple yang mengelilingi ukuran normal dari a. poplitea. USG merupakan cara
yang tercepat dan murah untuk mendeteksi Kista Baker.
2. MRI
Pada
MRI,
Kista
Baker

terlihat sebagai homogen, high-signal intensity, terdapat massa kistik di kondilus media
femoralis; tipis dan berisi cairan diantara tendon kepala m.Gastrocnemius bagian medial dan
m. Semimembranosus.
3. Rontgen konvensional
Terlihat adanya gambaran kalsifikasi, soft-tissue mass dan bone involvement. Terlihat
adanya massa soft tissue di bagian posterio-medial sendi lutut.(6)

Terapi
Ada dua jenis terapi yang dapat dilakukan untuk kista baker yang tidak hilang spontan atau
tidak hilang setelah diberi pengobatan : non surgical dan surgical
Nonsurgical Treatment

10

Mengambil cairan dengan jarum suntik ( aspirasi ) dapat mengurangi ukuran kista. Kemudian
kortison dapat disuntikkan ke daerah yang terkena untuk mengurangi peradangan. Injeksi
intraartikular glukokortikoid merupakan terapi yang sering dilakukan untuk mengatasi gejala
dari osteoarthritis pada lutut dan Kista Baker. Injeksi tersebut terbukti efektif untuk terapi
jangka pendek untuk arthritis yang sangat menyakitkan dan mengecilkan ukuran dari Kista
Baker. (7-9)
Surgical
Tujuan pembedahan adalah untuk membuang kista dan memperbaiki lubang di lapisan sendi
tempat kista menerobos. Sayangnya, sekitar setengah dari waktu kista kembali, atau berulang,
setelah dibuang. Ahli bedah berhati-hati ketika menyarankan operasi untuk menghilangkan
kista baker karena mereka cenderung akan berulang. Penyembuhan sering permanen, tetapi
mencegah kembalinya kista tergantung pada keberhasilan mengobati penyebab. Pembedahan
memerlukan waktu satu jam untuk menyelesaikannya, dilakukan baik di bawah anestesi
umum atau spinal anestesi.
Menghilangkan kista dengan pembedahan adalah pilihan jika tindakan lain tidak efektif yaitu
dengan eksisi.(7-9)
Indikasi pembedahan:
-

Ukuran kista terlalu besar

Mengganggu pergerakan

Komplikasi yang dapat terjadi setelah pembedahan adalah infeksi karena insisi, cedera
pembuluh darah, cedera saraf yang dapat menyebabkan rasa baal atau mati rasa pada
ekstremitas bawah.
Rehabilitasi setelah pembedahan:
- Gunakan Kruk selama beberapa waktu
- Hindari olahraga yang berat selama 6 bulan
- Fisioterapi untuk memulihkan kekuatan otot kaki

11

Teknik Operasi

Penderita posisi miring dengan lutut yang terdapat kista baker diletakkan di bawah

Desinfeksi lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril

Incise lazy S diperdalam lapis demi lapis melewati subkutis sampai dengan massa
kista

Kista dibebaskan dari jaringan sekitarnya sampai dengan pangkal kista dipotong
dan dilakukan kauterisasi sisa kantong kista

Luka operasi kemudian ditutup lapis demi lapis

Prognosis
Ad Vitam : Bonam
Ad Functionam : Bonam
Ad Sanationam : dubia ad Bonam
Kista Baker dapat hilang secara spontan tanpa dilakukan tindakan medis apapun. Namun pada
beberapa kasus dapat muncul kembali walaupun telah dilakukan aspirasi maupun
pembedahan.(10)

Daftar Pustaka
1. Gonzales, David. Cystic Lesions About the Knee. Updated January 24, 2011. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/1250593-overview.

Accessed

on:

September

14,2013.
2. W. M. Baker, On the formation of synovial cysts in the leg in connection with disease of
the knee-joint, Clinical Orthopaedics and Related Research, vol. 13, pp. 245261, 1877
3. J.M Dinham, Carshalton. Popliteal Cysts In Children The Case Against Surgery. The
Journal of Bone and Join Surgery. 1975 February; 57-B (1): p 69
4. T. H. Magee, L. S. Segal, B. Ostrov, B. Groh, and K. L. Vanderhave, Lyme disease
presenting as popliteal cyst in children, Journal of Pediatric Orthopaedics, vol. 26, no. 6,
pp. 725727, 2006
5. Bourdila,
Philippe.

Popliteal

Cysts.

Updated

2011.

Available

at:

http://www.genou.com/anglais/poplitealcyst/poplitealcyst.htm. Accesed on: September 14,


2013.

12

6. Lee,

Dennis.

Bakers

Cysts.

Updated

April

14,

2011.

Available

at:

http://www.medicinenet.com/baker_cyst/page2.htm. Accessed on: September 14, 2013.


7. Acebes JC, Sanchez-Pernaute O, Diaz-Oca A, Herrero-Beaumont G. Ultrasonographic
assessment of baker's cysts after intra-articular corticosteroid injection in knee
osteoarthritis. Journal of Clinical Ultrasound 2006; 34(3): 113-117
8. Schumacher HR, Chen LX. Injectable corticosterids in treatment of arthritis of the knee.
The American Journal of Medicine 2005; 118:1208-1214
9. Bellamy N, Campbell J, Robinson V, Gee T, Bourne R, Wells G. Intraarticular
corticosteroid for treatment of osteoarthritis of the knee. Cochrane Database of Systematic
reviews 2006, Issue 2. Art. No.: CD005328. DOI: 10.1002/14651858.CD005328.pub2
10. Gary B. Clark, MD, MPA. Poplitea (Bakers) Cysts of the Knee. Journal of
Prolotherapy. 2010 May; Vol 2 (2)

13