Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Genetika

Persilangan Drosophila Mata merah dan Mata putih

Dosen Pembimbing
Drs. Waris.M.Kes

Disusun Oleh :
1. Maratus solihah

2012184205B0033

2. Faridatul Khasanah

2012184205B0058

3. Desi Novia Mukti

2012184205B0021

4. Anis Ulfiati

2012184205B0026

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


FAKULTAS MIPA
PENDIDIKAN BIOLOGI
2012

PENDAHULUAN
1.1 Dasar Teori
Lalat buah Drosophila melanogaster adalah salah satu yang paling ekstensif dicirikan
organisme multiseluler. Selama lebih dari 100 tahun penelitian, Drosophila melanogaster sebagai
organisme eksperimental telah memainkan peran penting dalam bidang penelitian yang berbeda,
seperti perilaku kromosom, biologi sel, biologi gen, biologi perkembangan, genetika populasi,
ekologi, evolusi, dan genomik.(Michan,2010). Ukurannya yang kecil, siklus reproduksi yang
cepat, dan sejumlah besar keturunan mereka membuat mereka subyek yang sangat baik untuk
penelitian genetik. Mudah berbudaya, satu betina memiliki potensi memproduksi lima ratus telur
dalam sepuluh hari, dan variasi fenotipik yang mudah diamati menggunakan mikroskop.
Fenotipe mutan Drosophila berasal oleh mutasi spontan dan paparan yang bertujuan untuk
radiasi atau bahan kimia.(Wilson,2004)
Adanya rangkai kelamin diketemukan oleh T.H Morgan dalam percobaannya dengan
Drosophila melanogaster dimana didaptkan lalat mata putih yang merupakan mutasn,karena
lalat normal bermata merah.Ketika lalat jantan bermata putih dikawinkan dengan lalat betina
mata merah maka semua lalat F1 baik jantan maupun betina bermata merah.Jika lalat F1 ini
dikawinkan maka lalat F2 meperlihatkan perbandingan 3 bermata merah : 1 bermata
putih.Perbandingan ini memberi petunjuk bahawa mata merah adalah dominan terhadap
putih.Kecuali, semua lalat F2 betina bermata merah ,sedangkan separuh dari jumlah lalat jatan
bermata merah dan separuh lainnya mata putih. Dapat disimpulkan bahahwa gen resesif
memperlihatkan pengaruhnya pada lalat jantan saja.(Suryo,2010).
Drosophila melanogaster memiliki ciri morfologi yang berbeda antara jantan dan betinanya.
Pada Drosophila jantan Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang
betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir kelamin. Sedangkan pada yang
betina ukuran relatif lebih besar,memiliki 6 ruas pada bagian abdomen dan tidak memiliki sisir
kelamin. Drosophila normal memiliki mata yang berwarna merah berbentuk elips. Terdapat pula
mata oceli yang ukurannya jauh lebih kecil dari mata majemuk, berada pada bagian atas kepala,
di atas di antara mata dua mata majemuk, berbentuk bulat (Ghostrecon, 2008)
Siklus hidup lalat dewasa Drosophila melanogaster sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa,
lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya pun belum merentang. Sementara itu lalat betina
akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat

banyak dari lalat buah jantan. Walupun banyak sperma yang masuk kedalam mikrophyle yang
terdapat pada ujung anterior tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronoleus betina
dan yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio (Borror,1992).
Telur Drosophila berbentuk kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan
makanan. Betina drosophila dewasa meletakkan telur 50-70 telur perhari atau maksimumnya
400-500 buah dalam 10 hari ( Silvia, 2003 ) . telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yang
pertama selaput vitelin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan yang kedua selaput tipis tetapi
kuat ( korion ) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangakai tipis. Khorion mempunyai
kulit bagian luar yang sangat keras dari telur tersebut ( Borror, 1992 ).
Saat larva Drososphila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikulum
menjadi keras berpigmen, tanpa kepala dan sayap yang disebut larva instar. Formasi pupa
ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap dan kai. Pada stadium pupa ini, larva dalam
keadaan tidak aktif dan dalam keadaan ini larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner, 1985)
1.2 Tujuan

Praktikum

ini

melanogaster,melakukan

bertujuan
pengamatan

untuk

membuat

morfologi

dan

medium

kultur

Drosophila

siklus

hidup

Drosophila

melanogaster,membedakan seks lalat jantan dan lalat betina Drosophila melanogaster dan
melihat variasi fenotip dan genotip mata lalat yang terangkai kromosom kelamin X serta
melakukan perkawinan hibrid pada Drosophila melanogaster dan mengamati rasio fenotip pada
keturunan F1 dan F2
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui bagaiman cara
pembuatan medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melanogaster).

I.

TUJUAN

Tujuan dari praktikum kali ini adalah mengamati, mempelajari, dan membedakan sifat dari
keturunan hasil persilangan monohibrid dan dihibrid serta membuktikan Hukum Mendel I dan
Hukum Mendel II pada persilangan monohibrid dan dihibrid pada lalat Drosophila.

II.

BAHAN DAN ALAT

A. BAHAN

Lalat Drosophila bermata merah jantan

Lalat Drosophila bermata putih betina

Ekstrak pisang (medium pemeliharaan lalat)

B. ALAT

Botol jam

Kertas saring

Kloroform

Kapas

Selang

Kantong plastik putih

Karet gelang

Busa/gabus

III.

PROSEDUR KERJA

A. Persilangan Monohibrida
1. Dipilih dua pasang lalat Drosophila yang mempunyai satu sifat atau tanda beda tertentu
untuk dikawinkan.
2. Setelah tampak berbentuk pupa (6-7 hari setelah dikawinkan), semua induk persilangan
harus dibuang sebelum pupa-pupa itu menjadi imago.
3. Lakukan pengamatan pada keturunan pertamanya (F1). Apabila terdapat lebih dari satu
macan fenotip, maka persilangan dianggap gagal sehingga tidak dapat diteruskan sampai
F2 karena hasilnya akan menunjukkan bahwa betina yang dipakai tidak virgin.
4. Silangkan kembali dengan 2 pasang F1 yang baru pada kultur yang baru pula dan
selanjutnya dilakukan kembali langkah no. 2 dan 3 untuk keturunan keduanya (F2).
5. Data dari pengamatan diuji dengan uji chi-square (X2).

B. Persilangan Dihibrid
1. Dipilih dua pasang lalat Drosophila yang mempunyai dua sifat atau tanda beda tertentu untuk
dikawinkan.
2.

Setelah tampak berbentuk pupa (6-7 hari setelah dikawinkan), semua induk persilangan
harus dibuang sebelum pupa-pupa itu menjadi imago.

3.

Lakukan pengamatan pada keturunan pertamanya (F1). Apabila terdapat lebih dari dua
macam fenotip, maka persilangan dianggap gagal sehingga tidak dapat diteruskan sampai F2
karena hasilnya akan menunjukkan bahwa betina yang dipakai tidak virgin.

4. Silangkan kembali dengan 2 pasang F1 yang baru pada kultur yang baru pula dan selanjutnya
dilakukan kembali langkah no. 2 dan 3 untuk keturunan keduanya (F2).
5. Data dari pengamatan diuji dengan uji chi-square (X2)

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pembahasan
Perlakuan pertama lalat yang telah dikembangbiakkan dibius dengan botol pembiusan
agar lalat buah mudah diamati dan tidak bergerak. Lalat dibius dengan kloroform. Lalat
dikeluarkan dan diletakkan di bawah mikroskop diamati morfologi serta ditentukan jenis
kelaminnya. Untuk perkawinan digunakan 1 betina bermata putih (mutasi) dan 1 jantan bermata
merah. Masukkan lalat jantan dan betina pada botol berisi medium pembiakan dan botol ditutup
busa steril. Dibiakkan selama 10-14 hari dan dilakukan pengamatan daur hidup perkembangan
lalat mulai dari telur hingga menjadi lalat dewasa (imago). Diamati morfologi keturunan F1 dan
dihitung rasio keturunan F1.
Dilakukan hal yang sama untuk mengawinkan lalat-lalat keturunan F1 untuk memperoleh
keturunan F2. Dihitung rasio keturunan F2. Dilakukan uji Chi Square untuk menentukan apakah
hasil perkawinan pada percobaan ini sesuai dengan hukum Mendel.

3.1 Tabel Pengamatan Lalat Botol 1 (F1)


Larva Larva
No.
Tanggal
Telur
1
2
1.
5 Mei 2014
5
-

Larva
3
-

Pupa Imago
-

Total

Karena pengamatan dilakukan oleh 2 kelompok dan hanya diamati oleh 1 orang,maka
pengamatan kuran maksimal,sehingga data yang didapat kasar dan kurang valid.
Lalat bermata putih betina
Lalat bermata merah jantan
Anak Lalat bermata merah ada 15.
Yang lain masih berupa pupa 57 dan larva adea banyak.
3.2 Tabel Pengamatan Lalat Botol 2 (F2)
No. Tanggal Botol Telur Larva
1
1
2
3
-

Larva
2
-

Larva
3
-

Pupa

Imago

Total

Kami belum melakukan penyilangan F2 , jadi kami masih belum tahu hasilnya.
Jika dilakukan persilangan pada sesama keturunan F1 maka akan menghasilkan keturunan
F2 yang semua keturunan betina bermata merah, tidak satupun berwarna putih, sedangkan
keturunan yang jantan 50% berwarna dan 50% berwarna putih.
W

= Gen untuk mata merah

= Gen untuk mata putih

XWXW

><

(Mata Merah)

XwY
(Mata Putih)

: XWXw = Lalat betina mata merah

F1

XWY
F1 >< F1

= Lalat jantan mata merah

: betina XWXw

>< jantan XWY

XW

XW

XWXW
(Betina mata merah)

XWY
(Jantan mata
merah)

Xw

XWXw
(Betina mata merah)

XwY
(Jantan mata putih)

Fenotip : Lalat betina mata merah 100%


Lalat jantan mata merah 50%
Lalat jantan mata putih 50%

KESIMPULAN
Medium kultur untuk lalat buah Drosophila melanogaster dibuat dari pisang raja masak,
tapai, fermipan, gula aren. Media ini harus sesuai komposisinya agar lalat dapat bertahan hidup.
Drosophila melanogaster memiliki sungut yang berbentuk tidak runcing dan bercabangcabang. Kepala berbentuk elips. Thorax terlihat berwarna krem, ditumbuhi banyak bulu, dengan
warna dasar putih. Abdomen bersegmen lima, segmen terlihat dari garis-garis hitam yang
terletak pada abdomen. Sayap Drosophila normal memiliki ukuran yang panjang. Siklus
hidupnya dimulai dari telur, pupa, larva I, larva II, larva III dan lalat dewasa (imago).
Drosophila melanogaster memiliki ciri morfologi yang berbeda antara jantan dan betinanya.
Pada Drosophila jantan Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang
betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir kelamin. Sedangkan pada yang
betina ukuran relatif lebih besar, memiliki 6 ruas pada bagian abdomen.
Pada persilangan monohybrid dominan antara lalat bermata merah dan bermata putih
dihasilkan keturunan F1 100% bermata merah semua.
Jika dilakukan persilangan pada sesama keturunan F1 maka akan menghasilkan keturunan F2
yang semua keturunan betina bermata merah, tidak satupun berwarna putih, sedangkan
keturunan yang jantan 50% berwarna dan 50% berwarna putih.