Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

STABILITAS
Tanggal Praktikum

: 24 September 2014

Tanggal Pengumpulan

: 1 Oktober 2014

Disusun oleh :
Grup B Kelompok 2
1.
2.
3.
4.
5.

Riska Putri Warti


Mega Fitrianingrum
Rina Kristanti Asih
Putri Yunianingsih
Achmad Hubairi

(1343050012)
(1343050049)
(1343050079)
(1343050115)
(1343050143)

/ Pengolahan, Pembahasan , Editor


/ Tujuan dan Pembahasan
/ Teori dan Pembahasan
/ Teori, Pembahasan, Editor
/ Prinsip, Metode, Pembahasan
dan Kesimpulan

LABORATORIUM FARMASI FISIKA


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA
2014

STABILITAS
I.

Tujuan Percobaan
:
a. Mengetahui stabilitas asetosal.
b. Menentukan orde reaksi penguraian asetosal dengan menggunakan
grafik.
c. Menghitung energi aktivasi asetosal
d. Menentukan harga k asetosal pada suhu kamar.
e. Menghitung usia simpan asetosal pada suhu kamar.

II.

Pendahuluan
Teori dan prinsip
Teori percobaan :
Stabilitas obat adalah derajat degradasi suatu obat dipandang dari segi
kimia. Stabilitas obat dapat diketahui dari ada tidaknya penurunan kadar
selama penyimpanan. Stabilitas produk farmasi dapat didefinisikan
sebagai kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang
ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat dan
karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat.
Banyak faktor yang mempengaruhi stabilitas produk farmasi, seperti
stabilitas dari bahan aktif, interaksi antara bahan aktif dan bahan
tambahan, proses pembuatan, proses pengemasan, dan kondisi lingkungan
selama pengangkutan, penyimpanan, dan penanganan,
dan jangka waktu produk antara pembuatan hingga pemakaian.
Stabilitas produk obat dibagi menjadi stabilitas secara kimia dan
stabilitas secara fisika. Faktor-faktor fisika seperti panas, cahaya, dan
kelembapan, mungkin akan menyebabkan atau mempercepat reaksi
kimia, maka setiap menentukan stabilitas kimia, stabilitas fisika juga
harus ditentukan.
Stabilitas fisika adalah mengevaluasi perubahan sifat fisika dari suatu
produk yang tergantung waktu (periode penyimpanan). Contoh dari
perubahan fisika antara lain migrasi (perubahan) warna, perubahan rasa,
perubahan bau, perubahan tekstur atau penampilan.
Evaluasi dari uji stabilitas fisika meliputi: pemeriksaan organoleptis,
homogenitas, pH, bobot jenis.
Stabilitas kimia suatu obat adalah lamanya waktu suatu obat untuk
mempertahanakan integritas kimia dan potensinya seperti yang tercantum
pada etiket dalam batas waktu yang ditentukan. Pengumpulan dan
pengolahan data merupakan langkah menentukan baik buruknya sediaan
yang dihasilkan, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya parameter
lain yang harus diperhatikan. Data yang harus dikumpulkan untuk jenis
sediaan yang berbeda
Data yang paling dibutuhkan adalah data sifat, kimia, kimia fisik, dan
kerja farmakologi zat aktif (data primer), didukung sifat zat pembantu
(data sekunder). Secara reaksi kimia zat aktif dapat terurai karena

beberapa faktor diantaranya ialah oksigen (oksidasi), air (hidrolisa), suhu


(oksidasi), cahaya (fotolisis), karbondioksida (turunnya pH larutan),
sesepora ion logam sebagai katalisator reaksi oksidasi. Jadi jelasnya
faktor luar juga mempengaruhi ketidakstabilan kimia seperti, suhu,
kelembaban udara dan cahaya.
Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan tetap dimana
sediaan bebas dari mikroorganisme atau memenuhi syarat batas
mikroorganisme hingga batas waktu tertentu. Terdapat berbagai macam
zat aktif obat , zat tambahan serta berbagai bentuk sediaan dan cara
pemberian obat. Tiap zat, cara pemberian dan bentuk sediaan memiliki
karakteristik fisika-kimia tersendiri dan umumnya rentan terhadap
kontaminasi mikroorganisme dan/atau memang sudah mengandung
mikroorganisme yang dapat mempengaruhi mutu sediaan karena
berpotensi menyebabkan penyakit, efek yang tidak diharapkan pada terapi
atau penggunaan obat dan kosmetik, stabilitas mikrobiologi diperlukan
oleh suatu sediaan farmasi untuk menjaga atau mempertahankan jumlah
dan menekan pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan
tersebut hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan.
Energi aktivasi adalah energi minimum yang dibutuhkan oleh suatu
reaksi kimia agar dapat berlangsung. Energi aktivasi memiliki simbol Ea
dengan E menotasikan energi dan a yang ditulis subscribe menotasikan
aktivasi. Kata aktivasi memiliki makna bahwa suatu reaksi kimia
membutuhkan tambahan energi untuk dapat berlangsung. Dalam reaksi
endoterm, energi yang diperlukan untuk memutuskan ikatan dan
sebagainya disuplai dari luar sistem. Pada reaksi eksoterm, yang
membebaskan energi, ternyata juga membutuhkan suplai energi dari luar
untuk mengaktifkan reaksi tersebut. Energi aktivasi biasanya dinotasikan
dalam Ea, dan diberikan dalam satuan kj/mol.
Kelarutan asetosal ialah sukar larut dalam air dan dalam benzena,
mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam air mendidih, agak
sukar larut dalam kloroform.
Prinsip Percobaan:
Penentuan kadar asetosal dengan menggunakan metode titrasi.
Penentuan stabilitas asetosal dengan menggunakan metode
stabilitas dipercepat.
III.

Metode Percobaan
Asetosal dan Natrium sitrat ditimbang.
Natrium sitrat dilarutkan dengan air hangat, dinginkan dan tambah
asetosal, aduk dan tambah aquadest.
20ml larutan tersebut dimasukkan dalam tabung reaksi dan dibagi
pada beberapa suhu yang.
Hitung kadar asetosal awal dari semua suhu.
Sisa tabung diinkubasi pada suhu masing-masing.

IV.

Kadar asetosal dihitung pada waktu yang berbeda.


Penentuan kadar:
1 tabung reaksi berisi larutan asetosal dimasukkan kedalam wadah
berisi es. Diambil 5ml untuk dititrasi menggunakan NaOH dan
indikator fenolftalein, titrasi triplo.
Hitung tingkat reaksi penguraian dengan grafik, konstanta
kecepatan reaksi, energi aktivasi, dan usia simpan asetosal.

Hasil Percobaan dan Pengolahan Data


Hasil Percobaan
1. Suhu 40C
No.
Waktu
Volume 1
1.
t0
9,4 ml
2.
t10
9,3 ml
3.
t20
9,3 ml
4.
t40
9,5 ml
5.
t60
9,3 ml

Volume 2
9,3 ml
9,2 ml
9,4 ml
9,5 ml
9,4 ml

Volume 3
9,3 ml
9,2 ml
9,5 ml
9,5 ml
9,5 ml

2. Suhu 50C
No.
Waktu
1.
t0
2.
t10
3.
t20
4.
t40
5.
t60

Volume 1
9,65 ml
9,6 ml
9,6 ml
9,65 ml
9,8 ml

Volume 2
9,7 ml
9,6 ml
9,6 ml
9,7 ml
9,8 ml

Volume 3
9,7 ml
9,7 ml
9,6 ml
9,7 ml
9,85 ml

3. Suhu 60C
No.
Waktu
1.
t0
2.
t10
3.
t20
4.
t40
5.
t60

Volume 1
9,7 ml
9,5 ml
9,7 ml
9,8 ml
10,2 ml

Volume 2
9,6 ml
9,6 ml
9,8 ml
9,9 ml
10,2 ml

Volume 3
9,6 ml
9,6 ml
9,8 ml
9,9 ml
10,1 ml

4. Suhu 70C
No.
Waktu
1.
t0
2.
t10
3.
t20
4.
t40
5.
t60

Volume 1
9,9 ml
9,8 ml
9,8 ml
9,9 ml
10,2 ml

Volume 2
9,8 ml
9,8 ml
9,9 ml
9,9 ml
10,1 ml

Volume 3
9,6 ml
9,8 ml
9,8 ml
9,9 ml
10,3 ml

5. Suhu 80C
No.
Waktu
1.
t0
2.
t10

Volume 1
9,9 ml
10,0 ml

Volume 2
9,6 ml
10,2 ml

Volume 3
9,7 ml
10,1 ml

3.
4.
5.

t20
t40
t60

10,4 ml
10,4 ml
10,4 ml

10,3 ml
10,1 ml
10,2 ml

10,0 ml
10,2 ml
10,2 ml

Pengolahan Data Hasil Praktikum


-Penentuan Konsentrasi asetosalDiketahui :
Volume NaOH
= hasil titrasi
Konsetrasi NaOH
= 0,1 N
Volume asetosal
= 5 ml
Ditanya :
Konsentrasi asetosal ?
Rumus :

-Penentuan harga kKarena pada hasil percobaan lebih banyak yang mengikuti orde maka
digunakan persamaan orde 1, yaitu :

Dimana : Ct = y

t=x

=m

log Co = c

Maka,
y = mx + c m =
k = -(m . 2,303)

Suhu 313 K Orde 0


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
0.1866
0.1846
0.188
0.19
0.188

Konsentrasi

SUHU 313 K ORDE 0


0.192
0.19
0.188
0.186
0.184
0

10

20

30

y = 5E-05x + 0.1861
R = 0.3814
40
50
60

Waktu (menit)
KONSENTRASI

Linear (KONSENTRASI)

70

Suhu 313 K Orde 1


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
-0.729
-0.7337
-0.758
-0.7212
-0.7258

SUHU 313 K ORDE 1


-0.715
-0.72 0

10

20

30

40

50

Konsentrasi

-0.725
-0.73
-0.735
y = 0.0002x - 0.7388
R = 0.1132

-0.74
-0.745
-0.75
-0.755
-0.76

Waktu (menit)
KONSENTRASI

Linear (KONSENTRASI)

Suhu 313 K Orde 2


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
5.39
5.4171
5.3191
5.2631
5.3191

60

70

Konsentrasi

SUHU 313 K ORDE 2


5.44
5.42
5.4
5.38
5.36
5.34
5.32
5.3
5.28
5.26
5.24

y = -0.0018x + 5.3887
R = 0.4986

10

20

30

40

50

60

70

Waktu (menit)
KONSENTRASI

Linear (KONSENTRASI)

Suhu 323 K Orde 0


Waktu (menit)
No.
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
0.1936
0.1926
0.192
0.1936
0.1963

Konsentrasi

SUHU 323 K ORDE 0


0.197
0.1965
0.196
0.1955
0.195
0.1945
0.194
0.1935
0.193
0.1925
0.192
0.1915

KONSENTRASI

y = 5E-05x + 0.1923
R = 0.5476

20

40

60

Linear (KONSENTRASI)

80

Waktu (menit)

Suhu 323 K Orde 1


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10

Konsentrasi
-0.7136
-0.7153

3.
4.
5.

-0.7166
-0.7136
-0.707

20
40
60

SUHU 323 K ORDE 1


-0.706
0

20

40

60

80

Konsentrasi

-0.708
-0.71
KONSENTRASI

-0.712

y = 0.0001x - 0.7162
R = 0.5725

-0.714

Linear (KONSENTRASI)

-0.716
-0.718

Waktu (menit)

Suhu 323 K Orde 2


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
5.1652
5.1921
5.2083
5.1652
5.0942

SUHU 323 K ORDE 2


5.22

Konsentrasi

5.2

y = -0.0013x + 5.1998
R = 0.5445

5.18
5.16
5.14

KONSENTRASI

5.12

Linear (KONSENTRASI)

5.1
5.08
0

20

40

60

80

Waktu (menit)

Suhu 333 K Orde 0


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20

Konsentrasi
0.1926
0.1913
0.1953

4.
5.

0.1973
0.2033

40
60

SUHU 333 K ORDE 0


0.204
y = 0.0002x + 0.1911
R = 0.9119

Konsentrasi

0.202
0.2
0.198
0.196

KONSENTRASI

0.194

Linear (KONSENTRASI)

0.192
0.19
0

20

40

60

80

Waktu (menit)

Suhu 333 K Orde 1


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
-0.7153
-0.7182
-0.7092
-0.7048
-0.6918

SUHU 333 K ORDE 1


-0.69
0

Konsentrasi

-0.695
-0.7

20

40

60

80

y = 0.0004x - 0.7186
R = 0.9129
KONSENTRASI

-0.705

Linear (KONSENTRASI)

-0.71
-0.715
-0.72

Waktu (menit)

Suhu 333 K Orde 2


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40

Konsentrasi
5.1921
5.2273
5.1203
5.0684

5.

4.9188

60

SUHU 333 K ORDE 2


5.25

Konsentrasi

5.2
y = -0.0048x + 5.2304
R = 0.9126

5.15
5.1

KONSENTRASI

5.05

Linear (KONSENTRASI)

5
4.95
4.9
0

20

40

60

80

Waktu (menit)

Suhu 343 K Orde 0


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
0.1953
0.196
0.1966
0.198
0.204

SUHU 343 K ORDE 0


0.206
y = 0.0001x + 0.1945
R = 0.8662

Konsentrasi

0.204
0.202
0.2
0.198

KONSENTRASI

0.196

Linear (KONSENTRASI)

0.194
0.192
0

20

40

60

80

Waktu (menit)

Suhu 343 K Orde 1


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20

Konsentrasi
-0.792
-0.7077
-0.7064

10

4.
5.

-0.7033
-0.6903

40
60

SUHU 343 K ORDE 1


-0.66
-0.68

20

40

60

80

Konsentrasi

-0.7
y = 0.0012x - 0.7517
R = 0.5193

-0.72

KONSENTRASI

-0.74

Linear (KONSENTRASI)

-0.76
-0.78
-0.8

Waktu (menit)

Suhu 343 K Orde 2


No.
1.
2.
3.
4.
5.

Waktu (menit)
0
10
20
40
60

Konsentrasi
5.1203
5.102
5.0864
5.0505
4.9019

SUHU 343 K ORDE 2


5.2

Konsentrasi

5.15

y = -0.0034x + 5.1408
R = 0.8726

5.1
5.05

KONSENTRASI

Linear (KONSENTRASI)

4.95
4.9
4.85
0

20

40

60

80

Waktu (menit)

11

Suhu 353 k orde 0


No.
Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
0.1946
0.202
0.2046
0.2046
0.2053

SUHU 353 K ORDE 0


0.208
0.206

Konsentrasi

0.204
0.202
0.2

y = 0.0001x + 0.1986
R = 0.5783

0.198

KONSENTRASI
Linear (KONSENTRASI)

0.196
0.194
0.192
0

20

40

60

80

Waktu (menit)

Suhu 353 K Orde 1


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

12

Konsentrasi
-0.7108
-0.6946
-0.689
-0.689
-0.687

SUHU 353 K ORDE 1


-0.68
0

20

40

60

80

-0.685

Konsentrasi

-0.69
-0.695

y = 0.0003x - 0.7022
R = 0.5928

-0.7

KONSENTRASI
Linear (KONSENTRASI)

-0.705
-0.71
-0.715

Waktu (menit)

Suhu 353 K Orde 2


No. Waktu (menit)
1.
0
2.
10
3.
20
4.
40
5.
60

Konsentrasi
5.1387
4.9504
5
4.8875
4.8079

13

SUHU 353 K ORDE 2


5.2
5.15
y = -0.0035x + 5.0378
R = 0.5701

5.05
5

KONSENTRASI

4.95

Linear (KONSENTRASI)

4.9
4.85
4.8
0

20

40

60

80

Waktu (menit)

Grafik Hubungan antara 1/T dengan log k


No.
1.
2.
3.
4.
5.

1/T

log k

0.003195
0.003096
0.003003
0.002915
0.002833

-3.3366
-4
-3.0356
-3
-3.1605

1/T terhadap log K


0
0.0028
-0.5

0.0029

0.003

0.0031

0.0032

0.0033

-1
-1.5

log k

Konsentrasi

5.1

-2
-2.5

y = -1604.2x + 1.6804
R = 0.332

-3

Linear (log K)

-3.5
-4

log K

1/T

Diketahui : Persamaan grafik : y = -5246,6x + 18,195


R2 = 0,2741
Ditanya : Energi aktivasi = ?

14

Rumus :

y = mx + c m =
Ea = -(1604,2 . 2,303 . R)
= - (1604,2 . 2,303 . 8,314)
= - 30715,8452 J

Perhitungan usia simpan


Diketahui : y = -1604,2 x + 1,6804
y = log k ; x = 1/T
Ct = 0,9 Co
Ditanya : Waktu simpan (t90) = ?
Penyelesaian :
Log k25 = 1604,2. 1/T + 1,6804
= {1604,2 . 1/(25+273)} + 1,6804
= (1604,2 . 1/298) + 1,6804
Log k25= 7,0636
K25 = log 7,0636
= 0,849

. 2,303
. 2,303

V. Pembahasan
Pada praktikum ini, dilakukan uji stabilitas untuk
menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu
zat dan menjelaskan pengaruh suhu terhadap kestabilan zat.
Pada praktikum stabilitas obat ini bahan yang digunakan adalah
Asetosal. Dimana dilakukan penentuan stabilitas obat Asetosal
menggunakan metode titrasi dan stabilitas dipercepat dengan
menggunakan grafik berdasarkan nilai konstanta kecepatan reaksi,
energy aktivasi, harga k pada suhu kamar dan waktu simpan/T90
(waktu kadaluarsa). Proses yang dikerjakan dalam praktikum ini
yaitu, mula-mula asetosal ditimbang, lalu di larutkan dalam
aquadest berisi natrium sitrat. Agar mudah larut asetosal
dilarutkan pada larutan garamnya yaitu natrium sitrat. Karena jika
dilarutkan dengan aquadest sesuai dengan yang tertera di FI IV,
asetosal sukar larut dengan aquades. Jadi proses pembuatan

15

larutannya adalah dengan mengambil jumlah asetosal dengan


natrium sitrat dengan perbandingan 1 2, kemudian ditambahkan
dengan aquadest sampai 500ml.
Natrium sitrat dilarutkan terlebih dahulu dengan 1/3 bagian
dari 500 ml (volume yang diinginkan) menggunakan aquades
panas. Asetosal baru dapat ditambahkan hingga larutan dingin
karena apabila masih panas kemudian segera dicampurkan dengan
asetosal, maka dapat menyebabkan adanya peruraian pada asetosal
tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa asetosal dapat terurai
menjadi asam salisilat dan asam asetat. Kemudian larutan pada
tabung reaksi diinkubasi pada suhu yang berbeda 40 sampai 80C
dan dengan waktu yang berbeda-beda. Tujuan dari perbedaan
waktu pemanasan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar
energi aktivasi yang diperlukan untuk masing-masing larutan dan
pemanasan yang dilakukan bukan dengan api langsung melainkan
dengan penangas air karena jika dilakukan dengan api langsung
akan menyebabkan kenaikan suhu yang sangat cepat, sementara
dalam praktikum ini dibutuhkan suhu yang konstan. Adapun
tujuan lain dilakukan pada berbagai suhu dimaksudkan untuk
membedakan atau mengetahui pada suhu berapa obat dapat stabil
dengan baik dan pada suhu berapa obat akan terurai dengan cepat.
Jika menggunakan suhu yang tinggi maka dapat diketahui
penguraian obat dengan cepat. Sedangkan jika menggunakan suhu
kamar dalam pengujian maka butuh waktu yang lama untuk dapat
terurai atau terdegradasi walaupun sebenarnya dalam suhu
kamarpun Asetosal sudah dapat terdegradasi.
Ketika sudah sampai di waktu yang ditentukan larutan
pada suhu yang dimaksud dipipet 5 ml kemudian dititrasi dengan
NaOH dengan sebelumnya dikeluarkan lalu diletakkan di atas
wadah es, agar dapat menghentikan reaksi ketika berada di
penangas air dan menghentikan penguraian asetosal. Proses
pentitrasian bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi asetosalnya.
Selain itu, dari praktikum tersebut jelas diketahui bahwa
kestabilan suatu larutan bergantung pada temperaturnya, semakin
tinggi temperaturnya semakin cepat kecepatan reaksinya, atau
dengan kata lain semakin cepat kadaluarsanya.
Setelah menentukan kadar acetosal kemudian ditentukan
juga Orde reaksi penguraian acetosal. Dalam hal ini penguraian
mengikuti orde satu karena dari perhitungan pengolahan data yang
didapat harga K yang mendekati angka 1 terletak pada Orde satu,
jadi kecepatan reaksi yang berlangsung dipengaruhi oleh
konsentrasi salah satu pereaksi. Pada pembuatan grafik orde
reaksi, grafik yang didapat menunjukkan perbedaan dengan teori
yang dimana pada orde nol yang seharusnya menunjukkan grafik
dengan garis mengarah kebawah namun pada grafik yang didapat

16

pada perhitungan ini garis pada grafik mengarah keatas, hal ini
mugkin disebabkan kesalahan pada perhitungan data atau dapat
pula kesalahan terjadi pada saat praktikum yang dimana pada saat
titrasi volume yang didapat tidak dilihat dengan tepat dan juga
kesalahan juga dapat terjadi karena penguraian asetosal yang tidak
terurai sepenuhnya namun tidak dapat dilihat dengan mata
langsung, sehingga karena kesalahan-kesalahan ini dihasilkan data
yang tidak tepat juga dan pada saat perhitungan dan pembuatan
grafik menghasilkan data yang tidak tepat.
Usia simpan adalah waktu yang menentukan bahwa suatu
produk masih layak digunakan atau tidak. Berdasarkan
perhitungan yang dilakukan didapatkan waktu simpan acetosal
selama 45 hari, yang berarti selama kurang dari 45 hari produk
yang dibuat (acetosal) masih aman untuk digunakan karena
acetosal belum mengalami penguraian(sebanyak 10%).
VI.

Kesimpulan
Asetosal bersifat stabil karena pada saat dititrasi didapatkan volume
titran yang hampir sama pada tiap suhunya.
Orde Reaksi asetosal yang didapatkan termasuk Orde Reaksi 1.
Harga k asetosal pada suhu kamar ialah 0,849.
Energi Aktifasi (Ea) yang diperoleh adalah - 30715,8452 J /mol.
Usia simpan yang didapatkan adalah 45 hari

DAFTAR PUSTAKA

(1995) Farmakope Indonesia: edisi IV. Jakarta. Departemen Ksesehatan


Republik Indonesia, 47, 51.
Ansel, Howard C. 1985. PENGANTAR BENTUK SEDIAAN FARMASI
EDISI IV. UI press. Jakarta

17