Anda di halaman 1dari 29

Anti monopoli dan pasar persaingan tidak sehat

utama dari UU persaingan usaha adalah promoting competition dan memperkuat


kedaulatan konsumen.

Pengertian Antimonopoli dan Persaingan Usaha


Antitrust untuk pengertian yang sepadan dengan istilah anti monopoli atau
istilah dominasi yang dipakai masyarakat Eropa yang artinya juga sepadan dengan arti
istlah monopoli. Disamping itu terdapat istilah yang artinya hampir sama yaitu
kekuatan pasar. Dalam praktek keempat kata tersebut, yaitu istilah monopoli,
antitrust, kekuatan pasar dan istilah dominasi saling dipertukarkan pemakaiannya.
Keempat istilah tersebut dipergunakan untuk menunjukkan suatu keadaan dimana
seseorang menguasai pasar ,dimana dipasar tersebut tidak tersedia lagi produk subtitusi
yang potensial, dan terdapatnya kemampuan pelaku pasar tersebut untuk menerapkan
harga produk tersebut yang lebih tinggi, tanpa mengikuti hukum persaingan pasar atau
hukum tentang permintaan dan penawaran pasar.
Pengertian Praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat menurut UU no.5
Tahun 1999 tentang Praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu
atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran
atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat
dan dapat merugikankepentingan umum.
Undang-Undang Anti Monopoli No 5 Tahun 1999 memberi arti kepada monopolis
sebagai suatu penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas
penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha (pasal 1
ayat (1) Undang-undagn Anti Monopoli ). Sementara yang dimaksud dengan praktek
monopoli adalah suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh salah satu atau lebih pelaku
yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa
tertentu sehingga menimbulkan suatu persaingan usaha secara tidak sehat dan dapat
merugikan kepentingan umum. Sesuai dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Anti
Monopoli.
Asas dan Tujuan Antimonopoli dan Persaingan Usaha
Asas

Kegiatan yang dilarang dalan antimonopoli


Kegiatan yang dilarang berposisi dominan menurut pasal 33 ayat 2. Posisi
dominan adalah keadaan di mana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di
pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau pelaku usaha
mempunyai posisi tertinggi di antara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan
dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan atau penjualan, serta
kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu.
Menurut pasal 33 ayat 2 Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Jadi, sektor-sektor ekonomi
seperti air, listrik, telekomunikasi, kekayaan alam dikuasai negara tidak boleh dikuasai
swasta sepenuhnya.
Perjanjian yang dilarang dalam Antimonopoli dan Persaingan Usaha
Jika dibandingkan dengan pasal 1313 KUH Perdata, UU No.5/199 lebih
menyebutkan secara tegas pelaku usaha sebagai subyek hukumnya, dalam undangundang tersebut, perjanjian didefinisikan sebagai suatu perbuatan satu atau lebih pelaku
usaha untuk mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama
apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis . Hal ini namun masih menimbulkan
kerancuan. Perjanjian dengan understanding apakah dapat disebut sebagai perjanjian.
Perjanjian yang lebih sering disebut sebagai tacit agreement ini sudah dapat diterima oleh
UU Anti Monopoli di beberapa negara, namun dalam pelaksanaannya di UU No.5/1999
masih belum dapat menerima adanya perjanjian dalam anggapan tersebut.
Sebagai perbandingan dalam pasal 1 Sherman Act yang dilarang adalah bukan
hanya perjanjian (contract), termasuk tacit agreement tetapi juga combination dan
conspiracy. Jadi cakupannya memang lebih luas dari hanya sekedar perjanjian kecuali
jika tindakan tersebutcollusive behaviourtermasuk ke dalam kategori kegiatan yang
dilarang dalam bab IV dari Undang-Undang Anti Monopoli . Perjanjian yang dilarang
dalam UU No.5/1999 tersebut adalah perjanjian dalam bentuk sebgai berikut :

Pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan


demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku
usaha dan kepentingan umum.

1. Oligopoli

Tujuan

3. Pembagian wilayah

Undang-Undang (UU) persaingan usaha adalah Undang-undang No. 5 Tahun 1999


tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No.5/1999)
yang bertujuan untuk memelihara pasar kompetitif dari pengaruh kesepakatan dan
konspirasi yang cenderung mengurangi dan atau menghilangkan persaingan. Kepedulian

4. Pemboikotan

2. Penetapan harga

5. Kartel

6. Trust
7. Oligopsonih

Mengenai pembagian wilayah, pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan


pelaku usaha pesaingnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi
pasar terhadap barang dan atau jasa.

8. Integrasi vertikal

Pemboikotan

9. Perjanjian tertutup
10. Perjanjian dengan pihak luar neger

Pelaku usaha dilarang untuk membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya
yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik
untuk tujuan dalam negeri maupun pasar luar negeri.

Hal-hal yang Dikecualikan dalam Monopoli

Kartel

Hal-hal yang dilarang oleh Undang-Undang Anti Monopoli adalah sebagai berikut
:
1. Perjanjian-perjanjian tertentu yang berdampak tidak baik untuk persaingan pasar,
yang terdiri dari :

Pelaku usaha dilaarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha persaingnya yang
bermaksud mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu
barang dan atau jasa.
Trust

Oligopoli adalah keadaan pasar dengan produsen dan pembeli barang hanya
berjumlah sedikit, sehingga mereka atau seorang dari mereka dapat mempengaruhi harga
pasar.

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk
melakukan kerjasama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang
lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup tiap-tiap
perusahaan atau perseroan anggotanya yang bertujuan untuk mengontrol produksi dan
atau pemasaran atas barang dan atau jasa.

Penetapan Harga.

Oligopsoni

Oligopoli

Dalam rangka penetralisir pasar, pelaku usaha dilarang membuat perjanjian,antara


lain :
perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas barang
dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar yang sama.
Perjanjian yang mengakibatkan pembeli harus membayar dengan harga berbeda
dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama.

pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain dengan tujuan
untuk secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat
mengendalikan harga atas barang dan atau jasa dalam pasar bersangkutan.
Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara bersama-sama menguasai
pembelian atau penerimaan pasokan, apabila dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok
pelaku usaha menguasai lebih dari 75 % pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.
Integrasi Vertikal

Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga di bawah


harga pasar.
Perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa penerima
barang dan atau jasa tidak menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang
diterimanya dengan harga lebih rendah dari pada harga yang telah diperjanjikan

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang
bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian
produksi barang dan atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian produksi merupakan
hasil pengelolahan atau proses lanjutan baik dalam satu rangkaian langsung maupun
tidak langsung.

Pembagian Wilayah

Perjanjian Tertutup

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat
persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok atau
tidak memasok kembali barang dan atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan atau
pada tempat tertentu.
Perjanjian dengan Pihak Luar Negeri

Menghambat pesaing untuk bisa masuk pasar


Jabatan rangkap
Pemilikan saham
Merger, akuisisi, konsolidasi

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak luar negeri yang memuat
ketentuan dan dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat.

Komisi Pengawasan Persaingan Usaha

2. Kegiatan-kegiatan tertentu yang berdampak tidak baik untuk persaingan pasar, yang
meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

KPPU menjalankan tugas untuk mengawasi tiga hal pada UU tersebut :

Monopoli
Monopoli adalah situasi pengadaan barang dagangan tertentu (di pasar lokal atau
nasional) sekurang-kurangnya sepertiga dikuasai oleh satu orang atau satu kelompok
sehingga harganya dapat dikendalikan.
Monopsoni
Monopsoni adalah keadaan pasar yang tidak seimbang, yang dikuasai oleh seorang
pembeli; oligopsoni yang terbatas pada seorang pembeli.
Penguasaan Pasar
Penguasaan pasar adalah proses, cara, atau perbuatan menguasai pasar. Dengan
demikian pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan pasar baik secara sendiri-sendiri
maupun bersama-sama pelaku usaha lainnya yang mengakibatkan praktik monopoli atau
persaingan usaha tidak sehat.
Persengkongkolan
Persekongkolan adalah berkomplot atau bersepakat melakukan kejahatan
(kecurangan).

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah sebuah lembaga independen


di Indonesia yang dibentuk untuk memenuhi amanat Undang-Undang no. 5 tahun 1999
tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Perjanjian yang dilarang , yaitu melakukan perjanjian dengan pihak lain untuk secara
bersama-sama mengontrol produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dapat
menyebabkan praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat seperti perjanjian
penetapan harga, diskriminasi harga, boikot, perjanjian tertutup, oligopoli, predatory
pricing, pembagian wilayah, kartel, trust (persekutuan), dan perjanjian dengan pihak luar
negeri yang dapat menyebabkan persaingan usaha tidak sehat.
Kegiatan yang dilarang , yaitu melakukan kontrol produksi dan/atau pemasaran melalui
pengaturan pasokan, pengaturan pasar yang dapat menyebabkan praktek monopoli
dan/atau persaingan usaha tidak sehat.
Posisi dominan , pelaku usaha yang menyalahgunakan posisi dominan yang dimilikinya
untuk membatasi pasar, menghalangi hak-hak konsumen, atau menghambat bisnis pelaku
usaha lain.
Dalam pembuktian , KPPU menggunakan unsur pembuktian per se illegal, yaitu sekedar
membuktikan ada tidaknya perbuatan, dan pembuktian rule of reason, yang selain
mempertanyakan eksistensi perbuatan juga melihat dampak yang ditimbulkan.
Keberadaan KPPU diharapkan menjamin hal-hal berikut di masyarakat :
Konsumen tidak lagi menjadi korban posisi produsen sebagai price taker
Keragaman produk dan harga dapat memudahkan konsumen menentukan pilihan

3. Posisi dominan, yang meliputi :


Efisiensi alokasi sumber daya alam
Pencegahan konsumen untuk memperoleh barang atau jasa yang bersaing
Pembatasan pasar dan pengembangan teknologi

Konsumen tidak lagi diperdaya dengan harga tinggi tetapi kualitas seadanya,
yang lazim ditemui pada pasar monopoli

Kebutuhan konsumen dapat dipenuhi karena produsen telah meningkatkan


kualitas dan layanannya
Menjadikan harga barang dan jasa ideal, secara kualitas maupun biaya produksi
Membuka pasar sehingga kesempatan bagi pelaku usaha menjadi lebih banyak
Menciptakan inovasi dalam perusahaan
Praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat (UU no.5 Tahun 1999 tentang anti
monopoli)
Praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku
usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan
atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat
merugikankepentingan umum.
Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam
menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan
dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.
Kegiatan yang dilarang berposisi dominan menurut pasal 33 ayat 2
Posisi dominan adalah keadaan di mana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing
yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau
pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi di antara pesaingnya di pasar bersangkutan
dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan atau
penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau
jasa tertentu.
Menurut pasal 33 ayat 2 Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan
menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
Jadi, sektor-sektor ekonomi seperti air, listrik, telekomunikasi, kekayaan alam
dikuasai oleh negara tidak boleh dikuasai swasta sepenuhnya.
Perjanjian yang dilarang penggabungan, peleburan, dan pengambil-alihan
Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan/Badan
Usaha atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan/Badan Usaha lain yang
telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasivadari Perseroan/Badan Usaha yang
menggabungkan beralih karena hukum kepadaPerseroan/Badan Usaha yang menerima
Penggabungan dan selanjutnya Perseroan/Badan Usaha yang menggabungkan diri
berakhir karena hukum.

Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan/Badan Usaha
atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Perseroan/Badan Usaha
baru yang karena hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari Perseroan/Badan Usaha
yang meleburkan diri dan Perseroan/Badan Usaha yang meleburkan diri berakhir karena
hukum.
Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk
memperoleh atau mendapatkan baik seluruh atau sebagian saham dan atau aset
Perseroan/Badan Usaha. yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap
Perseroan/Badan Usaha tersebut.
Sanksi
Sanksi Administrasi
Sanksi administrasi adalah dapat berupa penetapan pembatasan perjanjian,
pemberhentian integrasi vertikal, perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan
posisi dominan, penetapan pembatalan atas penggabungan , peleburan dan
pengambilalihan badan usaha, penetapan pembayaran ganti rugi, penetapan denda
serendah-rendahnya satu miliar rupiah atau setinggi-tingginya dua puluh lima miliar
rupiah.
Sanksi Pidana Pokok dan Tambahan
Sanksi pidana pokok dan tambahan adalah dimungkinkan apabila pelaku usaha
melanggar integrasi vertikal, perjanjian dengan pihak luar negeri, melakukan monopoli,
melakukan monopsoni, penguasaan pasar, posisi dominan, pemilikan saham,
penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan dikenakan denda minimal dua piluh lima
miliar rupiah dan setinggi-tingginya seratus miliar rupiah, sedangkan untuk pelanggaran
penetapan harga, perjanjian tertutup, penguasaan pasar dan persekongkolan, jabatan
rangkap dikenakan denda minimal lima miliar rupiah dan maksimal dua puluh lima
miliar rupiah.
Sementara itu, bagi pelaku usaha yang dianggap melakukan pelanggaran berat dapat
dikenakan pidana tambahan sesuai dengan pasal 10 KUH Pidana berupa :
pencabutan izin usaha
larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap
undang-undang ini untuk menduduki jabatan direksi atau komisaris sekurang-kurangnya
dua tahun dan selama-lamanya lima tahun,
penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada
pihak lain.

BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN DI INDONESIA


A. Perusahaan Perseorangan (Sole Proprietorship)
Perusahaan perseorangan adalah suatu jenis usaha yang dijalankan oleh satu orang
pemilik dan merupakan suatu jenis usaha yang paling sederhana dan tidak kompleks.
Perusahaan perseorangan adalah organisasi perusahaan yang terbanyak jumlahnya dalam
setiap peekonomian. Tetapi sumbangannya kepada seluruh produksi nasional tidaklah
terlalu besar (jauh lebih kecil dari persoalan perusahaan perseroan terbatas) karena
kebanyakan dari usaha tersebut dilakukan secara kecil-kecilan, yaitu modalnya tidak
begitu besar dan begitu pula dengan hasil produksi dan penjualannya.
Perseorangan berarti suatu usaha yang dijalankan oleh satu orang pemilik yang berarti
setiap tindakan yang berhubungan dengan perusahaan tersebut menjadi tindakan yang
harus ditanggung jawabkan kepada pemiliknya (dalam arti antara perseorangan dengan
pemilik tanggung jawabnya tidak dipisahkan). Setiap tindakan legal maupun ilegal
menjadi tanggung jawab pemiliknya juga. Contoh : Apabila perseorangan mengalami
sengketa atas hutang atau mungkin perseorangan tidak bisa membayar hutang maka
masalah tersebut menjadi tanggung jawab pemilik juga.
a. Kelebihan :
a. Perseorangan tidak dikenakan pajak perusahaan seperti halnya PT atau Partnership
(Firma).
b. Dalam melakukan pengelolaan perusahaan, pemilik juga menjadi bagian dari
manajemen sehingga pengendalian internal tidak terlalu kompleks dan mudah diawasi
oleh pemilik langsung.
c. Biaya yang rendah dalam pengelolaan, karena karyawan yang bekerja di dalam
perseorangan adalah si pemilik usaha.
d. Tidak memalui proses administrasi hukum yang terlalu kompleks, biasanya hanya
sampai akte notaris, dan surat keterangan domisili dari kelurahan saja. Tidak perlu
melalui proses pembuatan SIUP, atau TDP ataupun hingga membutuhkan surat
keputusan dari Menkeh dan HAM.
e. Proses pembentukan yang sangat cepat.
f. Apabila dalam bisnis perseorangan terjadi kerugian maka kompensasi kerugian dapat
dimasukan dalam perhitungan pajak penghasilan pemilik.
b. Kekurangan :
a. Seperti yang saya telah sebutkan di atas, bahwa perseorangan dengan pemilik memiliki
tanggung jawab yang sama atas setiap tindakan yang dilakukan oleh perseorangan
tersebut. Jadi kalau ada tuntuan hukum maka yang menanggung tuntuan tersebut adalah
si pemilik.
b. Karena si pemilik menjadi satu kesatuan dengan perseorangan maka, pemilik
diwajibkan memiliki NPWP. dimana apabila ada penghasilan dari perseorangan
(perusahaan) maka pajak penghasilan dari penghasilan tersebut di tanggung oleh
sipemilik.
B. Perusahaan Perkongsian atau Firma

Firma (dari bahasa Belanda venootschap onder firma; secara harfiah: perserikatan
dagang antara beberapa perusahaan) atau sering juga disebut Fa, adalah sebuah bentuk
persekutuan untuk menjalankan usaha antara dua orang atau lebih dengan memakai nama
bersama. Pemiliki firma terdiri dari beberapa orang yang bersekutu dan masing-masing
anggota persekutuan menyerahkan kekayaan pribadi sesuai yang tercantum dalam akta
pendirian perusahaan.
Organisasi perusahaan seperti ini adalah organisasi perusahaan yang dimiliki oleh
beberapa orang. Di samping kemungkinan memperoleh modal yang lebih banyak,
kebaikan lain dari perusahaan perkongsian adalah tanggung jawab bersama didalam
menjalankan perusahaan. Setiap anggota perkongsian mempunyai tugas untuk
menjalankan dan mengembangkan perusahaan yang mereka dirikan.
1. Proses Pendirian
Persekutuan Firma merupakan bagian dari persekutuan perdata, maka dasar hukum
persekutuan firma terdapat pada Pasal 16 sampai dengan Pasal 35 Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang (KUHD) dan pasal-pasal lainnya dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (KUHPerdata) yang terkait. Dalam Pasal 22 KUHD disebutkan bahwa
persekutuan firma harus didirikan dengan akta otentik tanpa adanya kemungkinan untuk
disangkalkan kepada pihak ketiga bila akta itu tidak ada. Pasal 23 KUHD dan Pasal 28
KUHD menyebutkan setelah akta pendirian dibuat, maka harus didaftarkan di
Kepaniteraan Pengadilan Negeri dimana firma tersebut berkedudukan dan kemudian akta
pendirian tersebut harus diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Selama akta pendirian belum didaftarkan dan diumumkan, maka pihak ketiga
menganggap firma sebagai persekutuan umum yang menjalankan segala macam usaha,
didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas serta semua sekutu berwenang
menandatangani berbagai surat untuk firma ini sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 29
KUHD. Isi ikhtisar resmi akta pendirian firma dapat dilihat di Pasal 26 KUHD yang
harus memuat sebagai berikut:
a. Nama, nama kecil, pekerjaan dan tempat tinggal para sekutu firma.
b. Pernyataan firmanya dengan menunjukan apakah persekutuan itu umum ataukah
terbatas pada suatu cabang khusus perusahaan tertentu dan dalam hal terakhir dengan
menunjukan cabang khusus itu.
c. Penunjukan para sekutu yang tidak diperkenankan bertanda tangan atas nama firma.
d. Saat mulai berlakunya persekutuan dan saat berakhirnya.
e. Dan selanjutnya, pada umumnya bagian-bagian dari perjanjiannya yang harus dipakai
untuk menentukan hak-hak pihak ketiga terhadap para sekutu.
Pada umumnya Persekutuan Firma disebut juga sebagai perusahaan yang tidak berbadan
hukum karena firma telah memenuhi syarat/unsur materiil namun syarat/unsur formalnya
berupa pengesahan atau pengakuan dari Negara berupa peraturan perundang-undangan
belum ada. Hal inilah yang menyebabkan Persekutuan Firma bukan merupakan
persekutuan yang berbadan hukum.
2. Proses Pembubaran
Pembubaran Persekutuan Firma diatur dalam ketentuan Pasal 1646 sampai dengan Pasal
1652 KUHPerdata dan Pasal 31 sampai dengan Pasal 35 KUHD. Pasal 1646

KUHPerdata menyebutkan bahwa ada 5 hal yang menyebabkan Persekutuan Firma


berakhir, yaitu :
a. Jangka waktu firma telah berakhir sesuai yang telah ditentukan dalam akta pendirian.
b. Adanya pengunduran diri dari sekutunya atau pemberhentian sekutunya.
c. Musnahnya barang atau telah selesainya usaha yang dijalankan persekutuan firma.
d. Adanya kehendak dari seorang atau beberapa orang sekutu.
e. Salah seorang sekutu meninggal dunia atau berada di bawah pengampuan atau
dinyatakan pailit.
3. Kebaikan dan Kebukuran
a. Kebaikan
1) Kemampuan manajemen lebih besar, karena ada pembagian kerja diantara para
anggota.
2) Pendiriannya relatif mudah, baik dengan Akta atau tidak memerlukan Akta Pendirian.
3) Kebutuhan modal lebih mudah terpenuhi.
b. Keburukan :
1) Tanggungjawab pemilik tidak terbatas.
2) Kerugian yang disebabkan oleh seorang anggota, harus ditangung bersama anggota
lainnya.
3) Kelangsungan hidup perusahaan tidak menentu.
C. Perseroan Terbatas
Perseroan Terbatas (PT), dulu disebut juga Naamloze Vennootschaap (NV), adalah suatu
persekutuan untuk menjalankan usaha yang memiliki modal terdiri dari saham-saham,
yang pemiliknya memiliki bagian sebanyak saham yang dimilikinya. Karena modalnya
terdiri dari saham-saham yang dapat diperjualbelikan, perubahan kepemilikan
perusahaan dapat dilakukan tanpa perlu membubarkan perusahaan.
Organisasi perusahaan seperti ini adalah organisasi perusahaan yang dimiliki oleh
beberapa orang. Di samping kemungkinan memperoleh modal yang lebih banyak,
kebaikan lain dari perusahaan perkongsian adalah tanggung jawab bersama didalam
menjalankan perusahaan. Setiap anggota perkongsian mempunyai tugas untuk
menjalankan dan mengembangkan perusahaan yang mereka dirikan.
Perseroan terbatas merupakan badan usaha dan besarnya modal perseroan tercantum
dalam anggaran dasar. Kekayaan perusahaan terpisah dari kekayaan pribadi pemilik
perusahaan sehingga memiliki harta kekayaan sendiri. Setiap orang dapat memiliki lebih
dari satu saham yang menjadi bukti pemilikan perusahaan. Pemilik saham mempunyai
tanggung jawab yang terbatas, yaitu sebanyak saham yang dimiliki.
1. Proses Pendirian PT
Untuk mendirikan PT, harus dengan menggunakan akta resmi ( akta yang dibuat oleh
notaris ) yang di dalamnya dicantumkan nama lain dari perseroan terbatas, modal, bidang
usaha, alamat perusahaan, dan lain-lain. Akta ini harus disahkan oleh menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (dahulu Menteri Kehakiman). Untuk
mendapat izin dari menteri kehakiman, harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Perseroan terbatas tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan.

b. Akta pendirian memenuhi syarat yang ditetapkan Undang-Undang.


c. Paling sedikit modal yang ditempatkan dan disetor adalah 25% dari modal dasar.
(sesuai dengan UU No. 1 Tahun 1995 & UU No. 40 Tahun 2007, keduanya tentang
perseroan terbatas).
Setelah mendapat pengesahan, dahulu sebelum adanya UU mengenai Perseroan Terbatas
(UU No. 1 tahun 1995) Perseroan Terbatas harus didaftarkan ke Pengadilan Negeri
setempat, tetapi setelah berlakunya UU NO. 1 tahun 1995 tersebut, maka akta pendirian
tersebut harus didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Perusahaan (sesuai UU Wajib Daftar
Perusahaan tahun 1982) (dengan kata lain tidak perlu lagi didaftarkan ke Pengadilan
negeri, dan perkembangan tetapi selanjutnya sesuai UU No. 40 tahun 2007, kewajiban
pendaftaran di Kantor Pendaftaran Perusahaan tersebut ditiadakan juga. Sedangkan
tahapan pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia ( BNRI ) tetap berlaku,
hanya yang pada saat UU No. 1 tahun 1995 berlaku pengumuman tersebut merupakan
kewajiban Direksi PT yang bersangkutan tetapi sesuai dengan UU NO. 40 tahun 2007
diubah menjadi merupakan kewenangan/kewajiban Menteri Hukum dan HAM.
2. Pembagian PT
a. PT Terbuka
Perseroan terbuka adalah perseroan terbatas yang menjual sahamnya kepada masyarakat
melalui pasar modal (go public). Jadi sahamnya ditawarkan kepada umum,
diperjualbelikan melalui bursa saham dan setiap orang berhak untuk membeli saham
perusahaan tersebut.
b. PT Tertutup
Perseroan terbatas tertutup adalah perseroan terbatas yang modalnya berasal dari
kalangan tertentu misalnya pemegang sahamnya hanya dari kerabat dan keluarga saja
atau kalangan terbatas dan tidak dijual kepada umum.
c. PT kosong
Perseroan terbatas kosong adalah perseroan yang sudah ada izin usaha dan izin lainnya
tapi tidak ada kegiatannya
3. Keuntungan dan Kelemahan PT
a. Keuntungan
1) Kelangsungan usaha lebih terjamin karena pengelolaan perusahaan dipilih sesuai
kemampuan.
2) Dapat dicapai efisiensi dalam pimpinan perusahaan karena menempatkan orang yang
tepat.
3) Modal mudah diperoleh karena saham mudah diperjualbelikan.
4) Pemilik perusahaan memiliki tanggung jawab terbatas.
5) Terjadi pemisahan antara pemilik dan pengelola usaha sehingga terlihat tugas pokok
dan fungsi masing-masing.
6) Pemilik perusahaan mudah berganti tanpa membubarkan perusahaan.
b. Kelemahan
Kerumitan perizinan dan organisasi. Untuk mendirikan sebuah PT tidaklah mudah.
Selain biayanya yang tidak sedikit, PT juga membutuhkan akta notaris dan izin khusus

untuk usaha tertentu. Lalu dengan besarnya perusahaan tersebut, biaya pengorganisasian
akan keluar sangat besar. Belum lagi kerumitan dan kendala yang terjadi dalam tingkat
personel. Hubungan antar perorangan juga lebih formal dan berkesan kaku.
D. Persekutuan Komanditer
Persekutuan Komanditer (commanditaire vennootschap atau CV) adalah suatu
persekutuan yang didirikan oleh seorang atau beberapa orang yang mempercayakan uang
atau barang kepada seorang atau beberapa orang yang menjalankan perusahaan dan
bertindak sebagai pemimpin.
Persekutuan komanditer biasanya didirikan dengan akta dan harus didaftarkan. Namun
persekutuan ini bukan merupakan badan hukum (sama dengan firma), sehingga tidak
memiliki kekayaan sendiri.
1. Prosedur Pendirian
Dalam KUH Dagang tidak ada aturan tentang pendirian, pendaftaran, maupun
pengumumannya, sehingga persekutuan komanditer dapat diadakan berdasarkan
perjanjian dengan lisan atau sepakat para pihak saja (Pasal 22 KUH Dagang). Dalam
praktik di Indonesia untuk mendirikan persekutuan komanditer dengan dibuatkan akta
pendirian/berdasarkan akta notaris, didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang
berwenang dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara RI. Dengan kata lain
prosedur pendiriannya sama dengan prosedur mendirikan persekutuan firma.
2. Berakhirnya Persekutuan
Karena persekutuan komanditer pada hakikatnya adalah persekutuan perdata (Pasal 16
KUH Dagang), maka mengenai berakhirnya persekutuan komanditer sama dengan
berakhirnya persekutuan perdata dan persekutua firma (Pasal 1646 s/d 1652 KUH
Perdata).
3. Keuntungan dan Kelemahan
a. Keuntungan
1) Pendiriannya mudah
2) Bisa memenuhi kebutuhan modal lebih besar dan relatif mudah, yaitu dengan cara
menyerahkan sekutu komanditer.
3) Kemampuan untuk memperoleh pinjaman (kredit) lebih mudah.
4) Menginvestasikan dana relatif lebih mudah.
5) Kemampuan manajemen lebih baik.
b. Kelemahan
1) Kelangsungan hidup persekutuan komanditer tidak pasti karena hanya mengandalkan
pada sekutu komplementer.
2) Untuk persekutuan campuran, yang persero aktifnya lebih dari seorang terjadi
kemungkinan perselisihan.
3) Tanggung jawab sekutu tidak sama.
4) Kemungkinan terjadi kecurangan dari sekutu aktif.
5) Kesulitan kembali untuk menarik modal yang telah disetor terutama sekutu
komplementer.

E. Badan Usaha Milik Negara


Badan Usaha Milik Negara adalah badan usaha yang sebagian atau seluruh
kepemilikannya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia. BUMN dapat pula berupa
perusahaan nirlaba yang bertujuan untuk menyediakan barang atau jasa bagi masyarakat.
Sejak tahun 2001 seluruh BUMN dikoordinasikan pengelolaannya oleh Kementerian
BUMN, yang dipimpin oleh seorang Menteri Negara BUMN.
1. Jenis-Jenis BUMN
a. Perusahaan Perseroan (Persero)
Perusahaan persero adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas (PT) yang
modal/sahamnya paling sedikit 51% dimiliki oleh pemerintah, yang tujuannya mengejar
keuntungan. Maksud dan tujuan mendirikan persero ialah untuk menyediakan barang dan
atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat dan mengejar keuntungan untuk
meningkatkan nilai perusahaan.
Ciri-ciri persero sebagai berikut :
1) Pendirian persero diusulkan oleh menteri kepada presiden.
2) Pelaksanaan pendirian dilakukan oleh mentri dengan memperhatikan perundangundangan.
3) Statusnya berupa perseroan terbatas yang diatur berdasarkan undang-undang.
4) Modalnya berbentuk saham.
5) Sebagian atau seluruh modalnya adalah milik negara dari kekayaan negara yang
dipisahkan.
6) Organ persero adalah RUPS, direksi dan komisaris.
7) Menteri yang ditunjuk memiliki kuasa sebagai pemegang saham milik pemerintah.
8) Apabila seluruh saham dimiliki pemerintah, maka menteri berlaku sebagai RUPS, jika
hanya sebagian, maka sebagai pemegang saham perseroan terbatas.
9) RUPS bertindak sebagai kekuasaan tertinggi perusahaan.
10) Dipimpin oleh direksi.
11) Laporan tahunan diserahkan ke RUPS untuk disahkan.
12) Tidak mendapat fasilitas negara.
13) Tujuan utama memperoleh keuntungan.
14) Hubungan-hubungan usaha diatur dalam hukum perdata.
15) Pegawainya berstatus pegawai Negeri.
b. Perusahaan Jawatan (Perjan)
Perusahaan Jawatan (perjan) sebagai salah satu bentuk BUMN memiliki modal yang
berasal dari negara. Besarnya modal Perusahaan Jawatan ditetapkan melalui APBN. Ciriciri Perusahaan Jawatan antara lain sebagai berikut:
1) Memberikan pelayanan kepada masyarakat.
2) Merupakan bagian dari suatu departemen pemerintah.
3) Dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada menteri atau
dirjen departemen yang bersangkutan.
4) Status karyawannya adalan pegawai negeri
c. Perusahaan Umum (Perum)
Perusahaan Umum(PERUM) adalah suatu perusahaan negara yang bertujuan untuk

melayani kepentingan umum,tetapi sekaligus mencari keuntungan.


Ciri-ciri Perusahaan Umum (Perum):
1) Melayani kepentingan masyarakat umum.
2) Dipimpin oleh seorang direksi/direktur.
3) Mempunyai kekayaan sendiri dan bergerak di perusahaan swasta.
F. Badan Usaha Milik Daerah
Badan usaha milik daerah adalah suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan peraturan
daerah atau perusahaan yang dimiliki Daerah Tingkat II (Kabupaten), dan Daerah
Tingkat I (Provinsi). Modalnya berasala dari APBD tingkat II dan I.Sesuai dengan
perkembangan otonomi daerah. keuntungan yang diperoleh masuk dalam pendapatan asli
daerah, bukan kepala daerah. Tujuan Pendirian BUMD yaitu memberikan sumbangsih
pada perekonomian nasional dan penerimaan kas negara, mengejar dan mencari
keuntungan, pemenuhan hajat hidup orang banyak, dan perintis kegiatan-kegiatan usaha
serta memberikan bantuan dan perlindungan pada usaha kecil dan lemah Ciri-ciri BUMD
adalah sebagai berikut:
a. Pemerintah memegang hak atas segala kekayaan dan usaha.
b. Pemerintah berkedudukan sebagai pemegang saham dalam pemodalan perusahaan.
c. Pemerintah memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menetapkan kebijakan
perusahaan.
d. Pengawasan dilakukan alat pelengkap negara yang berwenang.
e. Melayani kepentingan umum, selain mencari keuntungan.
f. Sebagai stabillisator perekonomian dalam rangka menyejahterakan rakyat.
g. Sebagai sumber pemasukan negara.
h. Seluruh atau sebagian besar modalnya milik negara.
i. Modalnya dapat berupa saham atau obligasi bagi perusahaan yang go public.
j. Dapat menghimpun dana dari pihak lain, baik berupa bank maupun nonbank.
k. Direksi bertanggung jawab penuh atas BUMN, dan mewakili BUMN di pengadilan.
G. Koperasi
Koperasi adalah jenis badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum.
Koperasi melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi menurut UUD 1945 pasal 33 ayat 1 merupakan
usaha kekeluargaan dengan tujuan mensejahterakan anggotanya.
1. Fungsi dan Peran Koperasi
Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran
koperasi sebagai berikut:
a. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi
dan sosialnya.
b. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia
dan masyarakat.
c. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan

perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya.


d. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang
merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
e. Mengembangkan kreativitas dan membangun jiwa berorganisasi bagi para pelajar
bangsa.
2. Mekanisme Pendirian Koperasi
Mekanisme pendirian koperasi terdiri dari beberapa tahap. Pertama-tama adalah
pengumpulan anggota, karena untuk menjalankan koperasi membutuhkan minimal 20
anggota. Kedua, Para anggota tersebut akan mengadakan rapat anggota, untuk
melakukan pemilihan pengurus koperasi ( ketua, sekertaris, dan bendahara ). Setelah itu,
koperasi tersebut harus merencanakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
koperasi itu. Lalu meminta perizinan dari negara. Barulah bisa menjalankan koperasi
dengan baik dan benar.
3. Sumber Dana Koperasi
Seperti halnya bentuk badan usaha yang lain, untuk menjalankan kegiatan usahanya
koperasi memerlukan modal. Adapun modal koperasi terdiri atas modal sendiri dan
modal pinjaman.
Modal sendiri meliputi sumber modal sebagai berikut:
a. Simpanan Pokok
b. Simpanan Wajib
c. Simpanan khusus/lain-lain misalnya:Simpanan sukarela (simpanan yang dapat diambil
kapan saja), Simpanan Qurba, dan Deposito Berjangka.
d. Dana Cadangan
e. Hibah
Adapun modal pinjaman koperasi berasal dari pihak-pihak sebagai berikut:
a. Anggota dan calon anggota.
b. Koperasi lainnya dan/atau anggotanya yang didasari dengan perjanjian kerjasama
antarkoperasi.
c. Bank dan Lembaga keuangan bukan banklembaga keuangan lainnya yang dilakukan
berdasarkan ketentuan peraturan perudang-undangan yang berlak.
d. Penerbitan obligasi dan surat utang lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
e. Sumber lain yang sah.
H. Yayasan
Yayasan (Inggris: foundation) adalah suatu badan hukum yang mempunyai maksud dan
tujuan bersifat sosial, keagamaan dan kemanusiaan, didirikan dengan memperhatikan
persyaratan formal yang ditentukan dalam undang-undang. Di Indonesia, yayasan diatur
dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Rapat paripurna DPR pada tanggal 7 September
2004 menyetujui undang-undang ini, dan Presiden RI Megawati Soekarnoputri
mengesahkannya pada tanggal 6 Oktober 2004.
1. Prosedur Pendirian Yayasan

Pendirian yayasan dilakukan dengan akta notaris dan mempunyai status badan hukum
setelah akta pendirian memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi
Manusia atau pejabat yang ditunjuk. Permohonan pendirian yayasan dapat diajukan
kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia yang
wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan yayasan. Yayasan yang telah memperoleh
pengesahan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Tanggung jawab perusahaan perseorangan : Tanggung jawab Pemilik perusahaan


perseorangan bertanggung jawab terhadap utang perusahaan secara penuh.
TANGGUNG JAWAB SEKUTU FIRMA

Tanggung jawab tidak terbatas, artinya apabila firma bangkrut dan harta
bendanya tidak memadai untuk membayar utang-utang firma, maka harta benda pribadi
para sekutu bisa disita untuk dilelang dan membayar utang-utang firma.

kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan kepastian atas barang


dan/atau jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian konsumen;
3.
bahwa semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses globalisasi
ekonomi harus tetap menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kepastian
atas mutu, jumlah, dan keamanan barang dan/atau jasa yang diperolehnya di pasar;
4.
bahwa untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu meningkatkan
kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung
jawab;
5.
bahwa ketentuan hukum yang melindungi kepentingan konsumen di Indonesia
belum memadai;
6.
bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas diperlukan perangkat peraturan
perundang-undangan untuk mewujudkan keseimbangan perlindungan kepentingan
konsumen dan pelaku usaha sehingga tercipta perekonomian yang sehat;
7.

Tanggung jawab solider, tanggung jawab ini khususnya terletak dalam hubungan
keuangan dengan pihak luar. Sekutu firma bertanggung jawab penuh atasperjanjianperjanjian yang ditutup oleh rekannya untuk dan atas nama firma.

bahwa untuk itu perlu dibentuk Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen;

Mengingat

Pasal 5 Ayat (1), Pasal 21 Ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945;
Dengan persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN :
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 8 TAHUN 1999
TENTANG

Menetapkan

UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN.


PERLINDUNGAN KONSUMEN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Menimbang

:
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1.
bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil
dan makmur yang merata materiil dan spiritual dalam era demokrasi ekonomi
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

1.
Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.

2.
bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era globalisasi harus dapat
mendukung tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka barang
dan/atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat meningkatkan

2. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk
hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

3.
Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang
berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan
atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri
maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi.

Perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan


keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.
Pasal 3
Perlindungan konsumen bertujuan :

4.
Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak
maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat
untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen.

1.
meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi diri;

5. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan
bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.

2.
mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;

6.
Promosi adalah kegiatan pengenalan atau penyebarluasan informasi suatu barang
dan/atau jasa untuk menarik minat beli konsumen terhadap barang dan/atau jasa yang
akan dan sedang diperdagangkan.

3.
meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen;

Impor barang adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean.

4.
menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;

8.
Impor jasa adalah kegiatan penyediaan jasa asing untuk digunakan di dalam
wilayah Republik Indonesia.

5.
menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam berusaha;

9.
Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat adalah lembaga nonPemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah yang mempunyai kegiatan
menangani perlindungan konsumen.

6.
meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan
konsumen.

10. Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah
dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang
dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi
oleh konsumen.

BAB III
HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Pertama
Hak dan Kewajiban Konsumen

11. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen adalah badan yang bertugas menangani
dan menyelesaikan sengketa antara pelaku usaha dan konsumen.

Pasal 4

12. Badan Perlindungan Konsumen Nasional adalah badan yang dibentuk untuk
membantu upaya pengembangan perlindungan konsumen.

1.
hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa;

13. Menteri adalah menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi
bidang perdagangan.

2.
hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

BAB II
ASAS DAN TUJUAN

3.
hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa;

Pasal 2

4.
hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;

7.

Hak konsumen adalah :

5.
hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut;

e.

hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Pasal 7
6.

hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;


Kewajiban pelaku usaha adalah :

7.
hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
8.
hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana
mestinya;
9.

hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Pasal 5

a.

beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

b.
memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;
c.
memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
d.
menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

Kewajiban konsumen adalah :


a.
membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
b.

beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;

c.

membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;

d.
mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara
patut.

e.
memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang
dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat
dan/atau yang diperdagangkan;
f.
memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
g.
memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa
yang dterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha

BAB IV
PERBUATAN YANG DILARANG
BAGI PELAKU USAHA

Pasal 6

Pasal 8

Hak pelaku usaha adalah :

(1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa
yang :

a.
hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai
kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
b.
hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad
tidak baik;
c.
hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen;
d.
hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

a.
tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
b.
tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam hitungan
sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut;
c.
tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang sebenarnya;

d.
tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran sebagaimana
dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;
e.
tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya, mode,
atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang
dan/atau jasa tersebut;
f.
tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan
atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut;
g. tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu
penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu;
h.
tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan
"halal" yang dicantumkan dalam label;

c.
barang dan/atau jasa tersebut telah mendapatkan dan/atau memiliki sponsor,
persetujuan, perlengkapan tertentu, keuntungan tertentu, ciri-ciri kerja atau aksesori
tertentu;
d.
barang dan/atau jasa tersebut dibuat oleh perusahaan yang mempunyai sponsor,
persetujuan atau afiliasi;
e.

barang dan/atau jasa tersebut tersedia;

f.

barang tersebut tidak mengandung cacat tersembunyi;

g.

barang tersebut merupakan kelengkapan dari barang tertentu;

h.

barang tersebut berasal dari daerah tertentu;

i.

secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa lain;

i.
tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan,
akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk
penggunaan yang menurut ketentuan harus di pasang/dibuat;

j.
menggunakan kata-kata yang berlebihan, seperti aman, tidak berbahaya, tidak
mengandung risiko atau efek sampingan tanpa keterangan yang lengkap;

j.
tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk
diperdagangkan.

(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan
tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud.

(3) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap ayat (1) dilarang melanjutkan
penawaran, promosi, dan pengiklanan barang dan/atau jasa tersebut.

(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak,
cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap
dan benar.

Pasal 10

(4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran.

k.

menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.

Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan atau membuat
pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan mengenai :
a.

harga atau tarif suatu barang dan/atau jasa;

b.

kegunaan suatu barang dan/atau jasa;

c.

kondisi, tanggungan, jaminan, hak atau ganti rugi atas suatu barang dan/atau jasa;

a.
barang tersebut telah memenuhi dan/atau memiliki potongan harga, harga khusus,
standar mutu tertentu, gaya atau mode tertentu, karakteristik tertentu, sejarah atau guna
tertentu;

d.

tawaran potongan harga atau hadiah menarik yang ditawarkan;

e.

bahaya penggunaan barang dan/atau jasa.

b.

Pasal 11

Pasal 9
(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklan-kan suatu barang
dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah-olah :

barang tersebut dalam keadaan baik dan/atau baru;

Pelaku usaha dalam hal penjualan yang dilakukan melalui cara obral atau lelang, dilarang
mengelabui/menyesatkan konsumen dengan :

c.

memberikan hadiah tidak sesuai dengan yang dijanjikan;

d.

mengganti hadiah yang tidak setara dengan nilai hadiah yang dijanjikan.

a.
menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah-olah telah memenuhi standar
mutu tertentu;

Pasal 15

b.
menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah-olah tidak mengandung cacat
tersembunyi;

Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa dilarang melakukan dengan cara
pemaksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis
terhadap konsumen.

c.
tidak berniat untuk menjual barang yang ditawarkan melainkan dengan maksud
untuk menjual barang lain;

Pasal 16

d.
tidak menyediakan barang dalam jumlah tertentu dan/atau jumlah yang cukup
dengan maksud menjual barang yang lain;
e.
tidak menyediakan jasa dalam kapasitas tertentu atau dalam jumlah cukup dengan
maksud menjual jasa yang lain;
f.

menaikkan harga atau tarif barang dan/atau jasa sebelum melakukan obral.

Pasal 12
Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan suatu barang
dan/atau jasa dengan harga atau tarif khusus dalam waktu dan jumlah tertentu, jika
pelaku usaha tersebut tidak bermaksud untuk melaksanakannya sesuai dengan waktu dan
jumlah yang ditawarkan, dipromosikan, atau diiklankan.
Pasal 13
(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, atau mengiklankan suatu
barang dan/atau jasa dengan cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang dan/atau
jasa lain secara cuma-cuma dengan maksud tidak memberikannya atau memberikan tidak
sebagaimana yang dijanjikannya.
(2) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan obat, obat
tradisional, suplemen makanan, alat kesehatan, dan jasa pelayanan kesehatan dengan cara
menjanjikan pemberian hadiah berupa barang dan/atau jasa lain.
Pasal 14
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dengan memberikan hadiah melalui cara undian, dilarang untuk :
a.

tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yang dijanjikan;

b.

mengumumkan hasilnya tidak melalui media masa;

Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa melalui pesanan dilarang untuk :
a.
tidak menepati pesanan dan/atau kesepakatan waktu penyelesaian sesuai dengan
yang dijanjikan;
b.

tidak menepati janji atas suatu pelayanan dan/atau prestasi.

Pasal 17
(1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang :
a.
mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas, bahan, kegunaan dan harga
barang dan/atau tarif jasa serta ketepatan waktu penerimaan barang dan/atau jasa;
b.

mengelabui jaminan/garansi terhadap barang dan/atau jasa;

c.
memuat informasi yang keliru, salah, atau tidak tepat mengenai barang dan/atau
jasa;
d.

tidak memuat informasi mengenai risiko pemakaian barang dan/atau jasa;

e.
mengeksploitasi kejadian dan/atau seseorang tanpa seizin yang berwenang atau
persetujuan yang bersangkutan;
f.
melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
periklanan.
(2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar
ketentuan pada ayat (1).

BAB V
KETENTUAN PENCANTUMAN KLAUSULA BAKU

Pasal 18

Pasal 19

(1) Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap
dokumen dan/atau perjanjian apabila:

(1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran,
dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan
atau diperdagangkan.

a.

b.
menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang
dibeli konsumen;

(2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang
atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan
kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

c.
menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang
dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen;

(3) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah
tanggal transaksi.

d.
menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara
langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang
berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran;

(4) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih
lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.

e.
mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan
jasa yang dibeli oleh konsumen;

(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila
pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan
konsumen.

menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;

f.
memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa;
g.
menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru,
tambahan, lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha
dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;

Pasal 20
Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat
yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.
Pasal 21

h.
menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk
pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli
oleh konsumen secara angsuran.
(2) Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit
terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti.

(1) Importir barang bertanggung jawab sebagai pembuat barang yang diimpor apabila
importasi barang tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar
negeri.
(2) Importir jasa bertanggung jawab sebagai penyedia jasa asing apabila penyediaan jasa
asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan penyedia jasa asing.

(3) Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau
perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dinyatakan batal demi hukum.

Pasal 22

(4) Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan Undangundang ini.

Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam kasus pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (4), Pasal 20, dan Pasal 21 merupakan beban dan
tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan
pembuktian.
Pasal 23

BAB VI
TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA

Pelaku usaha yang menolak dan/atau tidak memberi tanggapan dan/atau tidak memenuhi
ganti rugi atas tuntutan konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1), ayat
(2), ayat (3), dan ayat (4), dapat digugat melalui badan penyelesaian sengketa konsumen
atau mengajukan ke badan peradilan di tempat kedudukan konsumen.

a.
barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan untuk
diedarkan;
b.

cacat barang timbul pada kemudian hari;

Pasal 24

c.

cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kualifikasi barang;

(1) Pelaku usaha yang menjual barang dan/atau jasa kepada pelaku usaha lain
bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila:

d.

kelalaian yang diakibatkan oleh konsumen;

a.
pelaku usaha lain menjual kepada konsumen tanpa melakukan perubahan apa pun
atas barang dan/atau jasa tersebut;
b.
pelaku usaha lain, di dalam transaksi jual beli tidak mengetahui adanya perubahan
barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh pelaku usaha atau tidak sesuai degan contoh,
mutu, dan komposisi.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebaskan dari tanggung jawab
atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha lain yang
membeli barang dan/atau jasa menjual kembali kepada konsumen dengan melakukan
perubahan atas barang dan/atau jasa tersebut.
Pasal 25

e.
lewatnya jangka waktu penuntutan 4 (empat) tahun sejak barang dibeli atau
lewatnya jangka waktu yang diperjanjikan.
Pasal 28
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam gugatan ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 22, dan Pasal 23 merupakan beban dan
tanggung jawab pelaku usaha.
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Bagian Pertama
Pembinaan
Pasal 29

(1) Pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam
batas waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun wajib menyediakan suku cadang dan/atau
fasilitas purna jual dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang
diperjanjikan.

(1) Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan


konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta
dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha.

(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas tuntutan
ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha tersebut :

(2) Pembinaan oleh pemerintah atas penyelenggaraan perlindungan konsumen


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Menteri dan/atau menteri teknis
terkait.

a.
tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas
perbaikan;
b.

tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan.

(3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melakukan koordinasi atas
penyelenggaraan perlindungan konsumen.

Pasal 26

(4) Pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) meliputi upaya untuk :

Pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan dan/atau garansi
yang disepakati dan/atau yang diperjanjikan.

a.
terciptanya iklim usaha dan tumbuhnya hubungan yang sehat antara pelaku usaha
dan konsumen;

Pasal 27

b.

Pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian
yang diderita konsumen, apabila :

c.
meningkatnya kualitas sumber daya manusia serta meningkatnya kegiatan
penelitian dan pengembangan di bidang perlindungan konsumen.

berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat;

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan penyelenggaraan perlindungan


konsumen diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Kedua
Pengawasan
Pasal 30

Badan Perlindungan Konsumen Nasional mempunyai fungsi memberikan saran dan


pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen
di Indonesia.
Pasal 34
(1) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, Badan
Perlindungan Konsumen Nasional mempunyai tugas:

(1) Pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen serta penerapan


ketentuan peraturan perundang-undangannya diselenggarakan oleh pemerintah,
masyarakat, dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.

a.
memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan
kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen;

(2) Pengawasan oleh pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh
Menteri dan/atau menteri teknis terkait.

b.
melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan yang
berlaku di bidang perlindungan konsumen;

(3) Pengawasan oleh masyarakat dan lembaga perlindungan konsumen swadaya


masyarakat dilakukan terhadap barang dan/atau jasa yang beredar di pasar.

c.
melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut keselamatan
konsumen;

(4) Apabila hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ternyata menyimpang
dari peraturan perundang-undangan yang berlaku dan membahayakan konsumen,
Menteri dan/atau menteri teknis mengambil tindakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

d.

(5) Hasil pengawasan yang diselenggarakan masyarakat dan lembaga perlindungan


konsumen swadaya masyarakat dapat disebarluaskan kepada masyarakat dan dapat
disampaikan kepada Menteri dan menteri teknis.

f.
menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat, lembaga
perlindungan konsumen swadaya masyarakat, atau pelaku usaha;

(6) Ketentuan pelaksanaan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat
(2), dan ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
BAB VIII
BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL
Bagian Pertama
Nama, Kedudukan, Fungsi, dan Tugas

mendorong berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat;

e.
menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan
memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen;

g.

melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen.

(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan
Perlindungan Konsumen Nasional dapat bekerja sama dengan organisasi konsumen
internasional.
Bagian Kedua
Susunan Organisasi dan Keanggotaan

Pasal 31

Pasal 35

Dalam rangka mengembangkan upaya perlindungan konsumen dibentuk Badan


Perlindungan Konsumen Nasional.

(1) Badan Perlindungan Konsumen Nasional terdiri atas seorang ketua merangkap
anggota, seorang wakil ketua merangkap anggota, serta sekurang-kurangnya 15 (lima
belas) orang dan sebanyak-banyaknya 25 (dua puluh lima) orang anggota yang mewakili
semua unsur.

Pasal 32
Badan Perlindungan Konsumen Nasional berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik
Indonesia dan bertanggung jawab kepada Presiden.
Pasal 33

(2) Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden atas usul Menteri, setelah dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia.

(3) Masa jabatan ketua, wakil ketua, dan anggota Badan Perlindungan Konsumen
Nasional selama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa
jabatan berikutnya.

e.

berakhir masa jabatan sebagai anggota; atau

f.

diberhentikan.

(4) Ketua dan wakil ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional dipilih oleh anggota.

Pasal 39

Pasal 36

(1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugas, Badan Perlindungan Konsumen Nasional


dibantu oleh sekretariat.

Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional terdiri atas unsur :


1.

pemerintah;

2.

pelaku usaha;

3.

lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat;

4.

akademisi; dan

5.

tenaga ahli.

(2) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang sekretaris
yang diangkat oleh Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
(3) Fungsi, tugas, dan tata kerja sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dalam keputusan Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 40

Pasal 37
Persyaratan keanggotaan Badan Perlindungan Konsumen Nasional adalah:

(1) Apabila diperlukan Badan Perlindungan Konsumen Nasional dapat membentuk


perwakilan di Ibu Kota Daerah Tingkat I untuk membantu pelaksanaan tugasnya.
(2) Pembentukan perwakilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut
dengan keputusan Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 41

a.

warga negara Republik Indonesia;

b.

berbadan sehat;

Dalam pelaksanaan tugas, Badan Perlindungan Konsumen Nasional berkerja berdasarkan


tata kerja yang diatur dengan keputusan Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.

c.

berkelakuan baik;

Pasal 42

d.

tidak pernah dihukum karena kejahatan;

e.

memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perlindungan konsumen; dan

Biaya untuk pelaksanaan tugas Badan Perlindungan Konsumen Nasional dibebankan


kepada anggaran pendapatan dan belanja negara dan sumber lain yang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

f.

berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.

Pasal 38
Keanggotaan Badan Perlindungan Konsumen Nasional berhenti karena :

Pasal 43
Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Badan Perlindungan Konsumen Nasional
diatur dalam Peraturan Pemerintah.

a.

meninggal dunia;

b.

mengundurkan diri atas permintaan sendiri;

BAB IX
LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN
SWADAYA MASYARAKAT

c.

bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia;

Pasal 44

d.

sakit secara terus menerus;

(1) Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang


memenuhi syarat.

Pasal 46
(1) Gugatan atas pelanggaran pelaku usaha dapat dilakukan oleh:

(2) Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk


berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen.

a.

seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan;

(3) Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan:

b.

sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama;

a.
menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan
kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

c.
lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat,
yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan
dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan
perlindungan konsumen dan telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran
dasarnya;

b.

memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya;

c.
bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan
konsumen;
d.
membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima keluhan
atau pengaduan konsumen;
e.
melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap pelaksanaan
perlindungan konsumen.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BAB X
PENYELESAIAN SENGKETA
Bagian Pertama
Umum

d.
pemerintah dan/atau instansi terkait apabila barang dan/atau jasa yang dikonsumsi
atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang
tidak sedikit.
(2) Gugatan yang diajukan oleh sekelompok konsumen, lembaga perlindungan
konsumen swadaya masyarakat atau pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b, huruf c, atau huruf d diajukan kepada peradilan umum.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerugian materi yang besar dan/atau korban yang
tidak sedikit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa di luar Pengadilan
Pasal 47

Pasal 45
(1) Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga
yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui
peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum.

Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai


kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan
tertentu untuk menjamin tidak akan terjadi kembali atau tidak akan terulang kembali
kerugian yang diderita oleh konsumen.

(2) Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar
pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.

Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan

(3) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak
menghilangkan tanggungjawab pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang.

Pasal 48

(4) Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan,
gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan
tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak yang bersengketa.

Penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang


peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 45.
BAB XI
BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN

Pasal 49
(1) Pemerintah membentuk badan penyelesaian sengketa konsumen di Daerah Tingkat II
untuk penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan.
(2) Untuk dapat diangkat menjadi anggota badan penyelesaian sengketa konsumen,
seseorang harus memenuhi syarat sebagai berikut :

(3) Pengangkatan dan pemberhentian kepala sekretariat dan anggota sekretariat badan
penyelesaian sengketa konsumen ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 52
Tugas dan wewenang badan penyelesaian sengketa konsumen meliputi:

a.

warga negara Republik Indonesia;

a.
melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara
melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;

b.

berbadan sehat;

b.

memberikan konsultasi perlindungan konsumen;

c.

berkelakuan baik;

c.

melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;

d.

tidak pernah dihukum karena kejahatan;

d.
melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam
Undang-undang ini;

e.

memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perlindungan konsumen;

f.

berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.

(3) Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur pemerintah, unsur
konsumen, dan unsur pelaku usaha.
(4) Anggota setiap unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah sedikit-dikitnya
3 (tiga) orang, dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang.
(5) Pengangkatan dan pemberhentian anggota badan penyelesaian sengketa konsumen
ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 50
Badan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1)
terdiri atas :
a.

ketua merangkap anggota;

b.

wakil ketua merangkap anggota;

c.

anggota.

Pasal 51
(1) Badan penyelesaian sengketa konsumen dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh
sekretariat.
(2) Sekretariat badan penyelesaian sengketa konsumen terdiri atas kepala sekretariat dan
anggota sekretariat.

e.
menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang
terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f.

melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;

g.
memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen;
h.
memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap
mengetahui pelanggaran terhadap Undang-undang ini;
i.
meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli,
atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia
memenuhi panggilan badan penyelesaian sengketa konsumen;
j.
mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna
penyelidikan dan/atau pemeriksaan;
k.

memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen;

l.
memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran
terhadap perlindungan konsumen;
m. menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan
Undang-undang ini.
Pasal 53

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang badan penyelesaian
sengketa konsumen Daerah Tingkat II diatur dalam surat keputusan menteri.

Putusan majelis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (3) dimintakan penetapan
eksekusinya kepada Pengadilan Negeri di tempat konsumen yang dirugikan.

Pasal 54

Pasal 58

(1) Untuk menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen, badan penyelesaian


sengketa konsumen membentuk majelis.

(1) Pengadilan Negeri wajib mengeluarkan putusan atas keberatan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2) dalam waktu paling lambat 21 (dua puluh satu) hari
sejak diterimanya keberatan.

(2) Jumlah anggota majelis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ganjil dan sedikitdikitnya 3 (tiga) orang yang mewakili semua unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal
49 ayat (3), serta dibantu oleh seorang panitera.

(2) Terhadap putusan Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1), para
pihak dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari dapat mengajukan kasasi ke
Mahkamah Agung Republik Indonesia.

(3) Putusan majelis bersifat final dan mengikat.


(4) Ketentuan teknis lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas majelis diatur dalam surat
keputusan menteri.

(3) Mahkamah Agung Republik Indonesia wajib mengeluarkan putusan dalam waktu
paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak menerima permohonan kasasi.

Pasal 55

BAB XII
PENYIDIKAN

Badan penyelesaian sengketa konsumen wajib mengeluarkan putusan paling lambat


dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja setelah gugatan diterima.

Pasal 59

Pasal 56

(1) Selain Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil
tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di
bidang perlindungan konsumen juga diberi wewenang khusus sebagai penyidik

(1) Dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak menerima putusan badan
penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 pelaku usaha
wajib melaksanakan putusan tersebut.
(2) Para pihak dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri paling lambat 14
(empat belas) hari kerja setelah menerima pemberitahuan putusan tersebut.
(3) Pelaku usaha yang tidak mengajukan keberatan dalam jangka waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dianggap menerima putusan badan penyelesaian sengketa
konsumen.
(4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tidak dijalankan
oleh pelaku usaha, badan penyelesaian sengketa konsumen menyerahkan putusan
tersebut kepada penyidik untuk melakukan penyidikan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
(5) Putusan badan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) merupakan bukti permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan.
Pasal 57

sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.


(2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berwenang:
a.
melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan
tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;
b.
melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan
tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;
c.
meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan
dengan peristiwa tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;
d.
melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain berkenaan
dengan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;
e.
melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti serta
melakukan penyitaan terhadap barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti
dalam perkara tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;

f.
meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di
bidang perlindungan konsumen.

dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling
banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik
Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.

(3) Terhadap pelanggaran yang mengakibatkan luka berat, sakit berat, cacat tetap atau
kematian diberlakukan ketentuan pidana yang berlaku.
Pasal 63

(4) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi
Negara Republik Indonesia.

Terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62, dapat dijatuhkan
hukuman tambahan, berupa:

BAB XIII
SANKSI
Bagian Pertama
Sanksi Administratif

a.

perampasan barang tertentu;

b.

pengumuman keputusan hakim;

c.

pembayaran ganti rugi;

Pasal 60

d.
perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian
konsumen;

(1) Badan penyelesaian sengketa konsumen berwenang menjatuhkan sanksi administratif


terhadap pelaku usaha yang melanggar Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20, Pasal 25,
dan Pasal 26.
(2) Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp 200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah).
(3) Tata cara penetapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Sanksi Pidana
Pasal 61
Penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya.
Pasal 62
(1) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal
9, Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf
e, ayat (2), dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau
pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
(2) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11,
Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 16, dan Pasal 17 ayat (1) huruf d dan huruf f

e.

kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau

f.

pencabutan izin usaha.

BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 64
Segala ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertujuan melindungi konsumen
yang telah ada pada saat Undang-undang ini diundangkan, dinyatakan tetap berlaku
sepanjang tidak diatur secara khusus dan/atau tidak bertentangan dengan ketentuan
dalam Undang-undang ini.
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 65
Undang-undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003


TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang: a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan salah satu pelaku kegiatan
ekonomi dalam perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi; b. bahwa
Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan
perekonomian nasional guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat; c. bahwa
pelaksanaan peran Badan Usaha Milik Negara dalam perekonomian nasional untuk
mewujudkan kesejahteraan masyarakat belum optimal; d. bahwa untuk mengoptimalkan
peran Badan Usaha Milik Negara, pengurusan dan pengawasannya harus dilakukan
secara profesional; e. bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur Badan
Usaha Milik Negara sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan perekonomian dan
dunia usaha yang semakin pesat, baik secara nasional maupun internasional; f. bahwa
berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf
d, dan huruf e, perlu dibentuk Undang-undang tentang Badan Usaha Milik Negara;
Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 23 ayat (4), dan Pasal 33 Undang-Undang
Dasar Tahun 1945; 2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999 - 2004; 3.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3587);
4. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);
Dengan Persetujuan Bersama antara DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK
INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA.
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1 Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan : 1. Badan Usaha Milik
Negara, yang selanjutnya disebut BUMN, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian
besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal
dari kekayaan negara yang dipisahkan.
2. Perusahaan Perseroan, yang selanjutnya disebut Persero, adalah BUMN yang
berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau
paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik

Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. 3. Perusahaan Perseroan


Terbuka, yang selanjutnya disebut Persero Terbuka, adalah Persero yang modal dan
jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang melakukan
penawaran umum sesuai dengan peraturan perundang- undangan di bidang pasar modal.
4. Perusahaan Umum, yang selanjutnya disebut Perum, adalah BUMN yang seluruh
modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham, yang bertujuan untuk
kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan
sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. 5. Menteri
adalah menteri yang ditunjuk dan/atau diberi kuasa untuk mewakili pemerintah selaku
pemegang saham negara pada Persero dan pemilik modal pada Perum dengan
memperhatikan peraturan perundang-undangan. 6. Menteri Teknis adalah menteri yang
mempunyai kewenangan mengatur kebijakan sektor tempat BUMN melakukan kegiatan
usaha. 7. Komisaris adalah organ Persero yang bertugas melakukan pengawasan dan
memberikan nasihat kepada Direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan Persero. 8.
Dewan Pengawas adalah organ Perum yang bertugas melakukan pengawasan dan
memberikan nasihat kepada Direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan Perum. 9.
Direksi adalah organ BUMN yang bertanggung jawab atas pengurusan BUMN untuk
kepentingan dan tujuan BUMN, serta mewakili BUMN baik di dalam maupun di luar
pengadilan. 10. Kekayaan Negara yang dipisahkan adalah kekayaan negara yang berasal
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dijadikan penyertaan
modal negara pada Persero dan/atau Perum serta perseroan terbatas lainnya. 11.
Restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang
merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan
guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. 12. Privatisasi adalah
penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam
rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara
dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat. 13. Rapat Umum
Pemegang Saham, yang selanjutnya disebut RUPS, adalah organ Persero yang
memegang kekuasaan tertinggi dalam Persero dan memegang segala wewenang yang
tidak diserahkan kepada Direksi atau Komisaris.
Pasal 2 (1) Maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah : a. memberikan sumbangan bagi
perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada
khususnya; b. mengejar keuntungan; c. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa
penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan
hajat hidup orang banyak; d. menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat
dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi; e. turut aktif memberikan bimbingan dan
bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat. (2)
Kegiatan BUMN harus sesuai dengan maksud dan tujuannya serta tidak bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan/atau kesusilaan. Pasal 3
Terhadap BUMN berlaku Undang-undang ini, anggaran dasar, dan ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya.

Pasal 4 (1) Modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
(2) Penyertaan modal negara dalam rangka pendirian atau penyertaan pada BUMN
bersumber dari: a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; b. kapitalisasi cadangan;
c. sumber lainnya. (3) Setiap penyertaan modal negara dalam rangka pendirian BUMN
atau perseroan terbatas yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (4) Setiap perubahan penyertaan modal
negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), baik berupa penambahan maupun
pengurangan, termasuk perubahan struktur kepemilikan negara atas saham Persero atau
perseroan terbatas, ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (5) Dikecualikan dari
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) bagi penambahan penyertaan modal
negara yang berasal dari kapitalisasi cadangan dan sumber lainnya. (6) Ketentuan lebih
lanjut mengenai tata cara penyertaan dan penatausahaan modal negara dalam rangka
pendirian atau penyertaan ke dalam BUMN dan/atau perseroan terbatas yang sebagian
sahamnya dimiliki oleh negara, diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 9
BUMN terdiri dari Persero dan Perum.
BAB II PERSERO Bagian Pertama Pendirian
Pasal 10 (1) Pendirian Persero diusulkan oleh Menteri kepada Presiden disertai dengan
dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan Menteri Teknis dan Menteri
Keuangan. (2) Pelaksanaan pendirian Persero dilakukan oleh Menteri dengan
memperhatikan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
Pasal 11 Terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku
bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995
tentang Perseroan Terbatas.
.Bagian Kedua Maksud dan Tujuan

Pasal 5 (1) Pengurusan BUMN dilakukan oleh Direksi. (2) Direksi bertanggung jawab
penuh atas pengurusan BUMN untuk kepentingan dan tujuan BUMN serta mewakili
BUMN, baik di dalam maupun di luar pengadilan. (3) Dalam melaksanakan tugasnya,
anggota Direksi harus mematuhi anggaran dasar BUMN dan peraturan perundangundangan serta wajib melaksanakan prinsip-prinsip profesionalisme, efisiensi,
transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, serta kewajaran.
Pasal 6 (1) Pengawasan BUMN dilakukan oleh Komisaris dan Dewan Pengawas. (2)
Komisaris dan Dewan Pengawas bertanggung jawab penuh atas pengawasan BUMN
untuk kepentingan dan tujuan BUMN. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, Komisaris dan
Dewan Pengawas harus mematuhi Anggaran Dasar BUMN dan ketentuan peraturan
perundang-undangan serta wajib melaksanakan prinsip-prinsip profesionalisme,
efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, serta kewajaran.
Pasal 7 Para anggota Direksi, Komisaris dan Dewan Pengawas dilarang mengambil
keuntungan pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung dari kegiatan BUMN
selain penghasilan yang sah.
Pasal 8 (1) Anggota Direksi, Komisaris, dan Dewan Pengawas tidak berwenang
mewakili BUMN, apabila: a. terjadi perkara di depan pengadilan antara BUMN dan
anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas yang bersangkutan; atau b.
anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas yang bersangkutan mempunyai
kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan BUMN. (2) Dalam anggaran dasar
ditetapkan yang berhak mewakili BUMN apabila terdapat keadaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1). (3) Dalam hal anggaran dasar tidak menetapkan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), RUPS mengangkat 1 (satu) orang atau lebih
pemegang saham untuk mewakili Persero, dan Menteri mengangkat 1 (satu) orang atau
lebih untuk mewakili Perum.

Pasal 12 Maksud dan tujuan pendirian Persero adalah : a. menyediakan barang dan/atau
jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat; b. mengejar keuntungan guna
meningkatkan nilai perusahaan.
Bagian Ketiga Organ
Pasal 13 Organ Persero adalah RUPS, Direksi, dan Komisaris. Bagian Keempat
Kewenangan RUPS
Pasal 14 (1) Menteri bertindak selaku RUPS dalam hal seluruh saham Persero dimiliki
oleh negara dan bertindak selaku pemegang saham pada Persero dan perseroan terbatas
dalam hal tidak seluruh sahamnya dimiliki oleh negara. (2) Menteri dapat memberikan
kuasa dengan hak substitusi kepada perorangan atau badan hukum untuk mewakilinya
dalam RUPS. (3) Pihak yang menerima kuasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2),
wajib terlebih dahulu mendapat persetujuan Menteri untuk mengambil keputusan dalam
RUPS mengenai : a. perubahan jumlah modal; b. perubahan anggaran dasar; c. rencana
penggunaan laba; d. penggabungan, peleburan, pengambilalihan, pemisahan, serta
pembubaran Persero; e. investasi dan pembiayaan jangka panjang; f. kerja sama Persero;
g. pembentukan anak perusahaan atau penyertaan; h. pengalihan aktiva.
Bagian Kelima Direksi Persero
Pasal 15 (1) Pengangkatan dan pemberhentian Direksi dilakukan oleh RUPS. (2) Dalam
hal Menteri bertindak selaku RUPS, pengangkatan dan pemberhentian Direksi ditetapkan
oleh Menteri.
Pasal 16 (1) Anggota Direksi diangkat berdasarkan pertimbangan keahlian, integritas,
kepemimpinan, pengalaman, jujur, perilaku yang baik, serta dedikasi yang tinggi untuk

memajukan dan mengembangkan Persero. (2) Pengangkatan anggota Direksi dilakukan


melalui mekanisme uji kelayakan dan kepatutan. (3) Calon anggota Direksi yang telah
dinyatakan lulus uji kelayakan dan kepatutan wajib menandatangani kontrak
manajemen sebelum ditetapkan pengangkatannya sebagai anggota Direksi. (4) Masa
jabatan anggota Direksi ditetapkan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1
(satu) kali masa jabatan. (5) Dalam hal Direksi terdiri atas lebih dari seorang anggota,
salah seorang anggota Direksi diangkat sebagai direktur utama.

lainnya pada instansi/lembaga pemerintah pusat dan daerah; dan/atau c. jabatan lainnya
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 17 Anggota Direksi sewaktu-waktu dapat diberhentikan berdasarkan keputusan


RUPS dengan menyebutkan alasannya.

Pasal 27 (1) Pengangkatan dan pemberhentian Komisaris dilakukan oleh RUPS. (2)
Dalam hal Menteri bertindak selaku RUPS, pengangkatan dan pemberhentian Komisaris
ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 18 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pengangkatan dan
pemberhentian anggota Direksi diatur dengan Keputusan Menteri.

Pasal 26 Direksi wajib memelihara risalah rapat dan menyelenggarakan pembukuan


Persero.
Bagian Keenam Komisaris

Pasal 21 (1) Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana jangka panjang yang
merupakan rencana strategis yang memuat sasaran dan tujuan Persero yang hendak
dicapai dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. (2) Rancangan rencana jangka panjang yang
telah ditandatangani bersama dengan Komisaris disampaikan kepada RUPS untuk
mendapatkan pengesahan.

Pasal 28 (1) Anggota Komisaris diangkat berdasarkan pertimbangan integritas, dedikasi,


memahami masalah-masalah manajemen perusahaan yang berkaitan dengan salah satu
fungsi manajemen, memiliki pengetahuan yang memadai di bidang usaha Persero
tersebut, serta dapat menyediakan waktu yang cukup untuk melaksanakan tugasnya. (3)
Komposisi Komisaris harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan
pengambilan keputusan dapat dilakukan secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat
bertindak secara independen. (4) Masa jabatan anggota Komisaris ditetapkan 5 (lima)
tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. (5) Dalam hal
Komisaris terdiri atas lebih dari seorang anggota, salah seorang anggota Komisaris
diangkat sebagai komisaris utama. (6) Pengangkatan anggota Komisaris tidak bersamaan
waktunya dengan pengangkatan anggota Direksi, kecuali pengangkatan untuk pertama
kalinya pada waktu pendirian.

Pasal 22 (1) Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana kerja dan anggaran
perusahaan yang merupakan penjabaran tahunan dari rencana jangka panjang. (2)
Direksi wajib menyampaikan rancangan rencana kerja dan anggaran perusahaan kepada
RUPS untuk memperoleh pengesahan.

Pasal 29 Anggota Komisaris sewaktu-waktu dapat diberhentikan berdasarkan keputusan


RUPS dengan menyebutkan alasannya. Pasal 30 Ketentuan lebih lanjut mengenai
persyaratan dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian Komisaris diatur dengan
Keputusan Menteri.

Pasal 23 (1) Dalam waktu 5 (lima) bulan setelah tahun buku Persero ditutup, Direksi
wajib menyampaikan laporan tahunan kepada RUPS untuk memperoleh pengesahan.
(2) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditandatangani oleh semua
anggota Direksi dan Komisaris.

Pasal 31 Komisaris bertugas mengawasi Direksi dalam menjalankan kepengurusan


Persero serta memberikan nasihat kepada Direksi.

Pasal 19 Dalam melaksanakan tugasnya, anggota Direksi wajib mencurahkan tenaga,


pikiran dan perhatian secara penuh pada tugas, kewajiban, dan pencapaian tujuan
Persero. Pasal 20 Dengan memperhatikan sifat khusus masing-masing Persero, Direksi
dapat mengangkat seorang sekretaris perusahaan.

(3) Dalam hal ada anggota Direksi atau Komisaris tidak menandatangani laporan tahunan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), harus disebutkan alasannya secara tertulis.
Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai rencana jangka panjang, rencana kerja dan
anggaran perusahaan, laporan tahunan dan perhitungan tahunan Persero diatur dengan
Keputusan Menteri.
Pasal 25 Anggota Direksi dilarang memangku jabatan rangkap sebagai: a. anggota
Direksi pada BUMN, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta, dan jabatan
lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan; b. jabatan struktural dan fungsional

Pasal 32 (1) Dalam anggaran dasar dapat ditetapkan pemberian wewenang kepada
Komisaris untuk memberikan persetujuan kepada Direksi dalam melakukan perbuatan
hukum tertentu. (2) Berdasarkan anggaran dasar atau keputusan RUPS, Komisaris dapat
melakukan tindakan pengurusan Persero dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu
tertentu.
Pasal 33 Anggota Komisaris dilarang memangku jabatan rangkap sebagai: a. anggota
Direksi pada BUMN, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta, dan jabatan
lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan; dan/atau b. jabatan lainnya sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketujuh Persero Terbuka

Pasal 34 Bagi Persero Terbuka berlaku ketentuan Undang-undang ini dan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1995 sepanjang tidak diatur lain dalam peraturan perundangundangan di bidang pasar modal.

Peraturan Pemerintah tentang pendiriannya. (2) Perubahan anggaran dasar Perum


ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (3) Perubahan anggaran dasar sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) mulai berlaku sejak tanggal diundangkannya Peraturan
Pemerintah tentang perubahan anggaran dasar Perum.

BAB III PERUM Bagian Pertama Pendirian


Bagian Keenam Penggunaan Laba
Pasal 35 (1) Pendirian Perum diusulkan oleh Menteri kepada Presiden disertai dengan
dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan Menteri Teknis dan Menteri
Keuangan. (2) Perum yang didirikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memperoleh
status badan hukum sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah tentang pendiriannya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendirian, pembinaan, pengurusan, dan pengawasan
Perum diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan
Pasal 36 (1) Maksud dan tujuan Perum adalah menyelenggarakan usaha yang bertujuan
untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang berkualitas
dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengelolaan
perusahaan yang sehat. (2) Untuk mendukung kegiatan dalam rangka mencapai maksud
dan tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dengan persetujuan Menteri, Perum
dapat melakukan penyertaan modal dalam badan usaha lain.
Bagian Ketiga Organ
Pasal 37 Organ Perum adalah Menteri, Direksi, dan Dewan Pengawas.
Bagian Keempat Kewenangan Menteri
Pasal 38 (1) Menteri memberikan persetujuan atas kebijakan pengembangan usaha
Perum yang diusulkan oleh Direksi. (2) Kebijakan pengembangan usaha sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diusulkan oleh Direksi kepada Menteri setelah mendapat
persetujuan dari Dewan Pengawas. (3) Kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
ditetapkan sesuai dengan maksud dan tujuan Perum yang bersangkutan.
Pasal 39 Menteri tidak bertanggung jawab atas segala akibat perbuatan hukum yang
dibuat Perum dan tidak bertanggung jawab atas kerugian Perum melebihi nilai kekayaan
negara yang telah dipisahkan ke dalam Perum, kecuali apabila Menteri: a. baik langsung
maupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan Perum semata-mata untuk
kepentingan pribadi; b. terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh
Perum; atau c. langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan
kekayaan Perum.
Pasal 40 Ketentuan mengenai tata cara pemindahtanganan, pembebanan atas aktiva tetap
Perum, serta penerimaan pinjaman jangka menengah/panjang dan pemberian pinjaman
dalam bentuk dan cara apa pun, serta tidak menagih lagi dan menghapuskan dari
pembukuan piutang dan persediaan barang oleh Perum diatur dengan Keputusan Menteri.
Bagian Kelima Anggaran Dasar Pasal 41 (1) Anggaran dasar Perum ditetapkan dalam

Pasal 42 (1) Setiap tahun buku Perum wajib menyisihkan jumlah tertentu dari laba bersih
untuk cadangan. (2) Penyisihan laba bersih sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari
modal Perum. (3) Cadangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), yang belum
mencapai jumlah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), hanya dapat dipergunakan
untuk menutup kerugian yang tidak dapat dipenuhi oleh cadangan lain.
Pasal 43 Penggunaan laba bersih Perum termasuk penentuan jumlah penyisihan untuk
cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh Menteri.
Bagian Ketujuh Direksi Perum
Pasal 44 Pengangkatan dan pemberhentian Direksi ditetapkan oleh Menteri sesuai
dengan mekanisme dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 45 (1) Yang dapat diangkat sebagai anggota Direksi adalah orang perseorangan
yang mampu melaksanakan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau
menjadi anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas yang dinyatakan bersalah
menyebabkan suatu perseroan atau Perum dinyatakan pailit atau orang yang tidak pernah
dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara. (2) Selain
kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) anggota Direksi diangkat berdasarkan
pertimbangan keahlian, integritas, kepemimpinan, pengalaman, jujur, perilaku yang baik,
serta dedikasi yang tinggi untuk memajukan dan mengembangkan Perum. (3)
Pengangkatan anggota Direksi dilakukan melalui mekanisme uji kelayakan dan
kepatutan. (4) Calon anggota Direksi yang telah dinyatakan lulus uji kelayakan dan
kepatutan wajib menandatangani kontrak manajemen sebelum ditetapkan
pengangkatannya sebagai anggota Direksi. (5) Masa jabatan anggota Direksi ditetapkan
5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. (6) Dalam
hal Direksi terdiri atas lebih dari seorang anggota, salah seorang anggota Direksi
diangkat sebagai direktur utama.
Pasal 46 Anggota Direksi sewaktu-waktu dapat diberhentikan berdasarkan Keputusan
Menteri dengan menyebutkan alasannya. Pasal 47 Ketentuan lebih lanjut mengenai
persyaratan dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota Direksi diatur
dengan Keputusan Menteri. Pasal 48 Dalam melaksanakan tugasnya, Direksi wajib
mencurahkan tenaga, pikiran, dan perhatian secara penuh pada tugas, kewajiban, dan
pencapaian tujuan Perum. Pasal 49 (1) Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana

jangka panjang yang merupakan rencana strategis yang memuat sasaran dan tujuan
Perum yang hendak dicapai dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. (2) Rancangan rencana
jangka panjang yang telah ditandatangani bersama dengan Dewan Pengawas
disampaikan kepada Menteri untuk mendapatkan pengesahan.
Pasal 50 (1) Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana kerja dan anggaran
perusahaan yang merupakan penjabaran tahunan dari rencana jangka panjang. (2) Direksi
wajib menyampaikan rancangan rencana kerja dan anggaran perusahaan kepada Menteri
untuk memperoleh pengesahan.
Pasal 51 (1) Dalam waktu 5 (lima) bulan setelah tahun buku Perum ditutup, Direksi
wajib menyampaikan laporan tahunan kepada Menteri untuk memperoleh pengesahan.
(2) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditandatangani oleh semua
anggota Direksi dan Dewan Pengawas.
(3) Dalam hal ada anggota Direksi atau Dewan Pengawas tidak menandatangani laporan
tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus disebutkan alasannya secara
tertulis.
Pasal 52 Ketentuan lebih lanjut mengenai rencana jangka panjang, rencana kerja dan
anggaran perusahaan, laporan tahunan dan perhitungan tahunan Perum diatur dengan
Keputusan Menteri.
Pasal 53 Anggota Direksi dilarang memangku jabatan rangkap sebagai: a. anggota
Direksi pada BUMN, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta, dan jabatan
lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan; b. jabatan struktural dan fungsional
lainnya pada instansi/lembaga pemerintah pusat dan daerah; dan/atau c. jabatan lainnya
sesuai dengan ketentuan dalam peraturan pendirian Perum dan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Pasal 54 Direksi wajib memelihara risalah rapat dan
menyelenggarakan pembukuan Perum.
Pasal 55 (1) Direksi hanya dapat mengajukan permohonan ke pengadilan negeri agar
Perum dinyatakan pailit berdasarkan persetujuan Menteri. (2) Dalam hal kepailitan
terjadi karena kesalahan atau kelalaian Direksi dan kekayaan Perum tidak cukup untuk
menutup kerugian akibat kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara tanggung
renteng bertanggung jawab atas kerugian tersebut. (3) Anggota Direksi yang dapat
membuktikan bahwa kepailitan bukan karena kesalahan atau kelalaiannya tidak
bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian tersebut. (4) Dalam hal
tindakan Direksi menimbulkan kerugian bagi Perum sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2), Menteri mewakili Perum untuk melakukan tuntutan atau gugatan terhadap Direksi
melalui pengadilan.

Bagian Kedelapan Dewan Pengawas Pasal 56 Pengangkatan dan pemberhentian


anggota Dewan Pengawas ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan mekanisme dan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 57 (1) Yang dapat diangkat menjadi anggota Dewan Pengawas adalah orang
perseorangan yang mampu melaksanakan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan
pailit atau menjadi anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas yang
dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan atau Perum dinyatakan pailit atau
orang yang tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan
keuangan negara. (2) Selain kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), anggota
Dewan Pengawas diangkat berdasarkan pertimbangan integritas, dedikasi, memahami
masalah-masalah manajemen perusahaan yang berkaitan dengan salah satu fungsi
manajemen, memiliki pengetahuan yang memadai di bidang usaha Perum tersebut, serta
dapat menyediakan waktu yang cukup untuk melaksanakan tugasnya. (3) Komposisi
Dewan Pengawas harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan
pengambilan keputusan dapat dilakukan secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat
bertindak secara independen.
(4) Masa jabatan anggota Dewan Pengawas ditetapkan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat
kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. (5) Dalam hal Dewan Pengawas terdiri atas
lebih dari seorang anggota, salah seorang anggota Dewan Pengawas diangkat sebagai
ketua Dewan Pengawas. (6) Pengangkatan anggota Dewan Pengawas tidak bersamaan
waktunya dengan pengangkatan anggota Direksi, kecuali pengangkatan untuk pertama
kalinya pada waktu pendirian.
Pasal 58 Anggota Dewan Pengawas sewaktu-waktu dapat diberhentikan berdasarkan
Keputusan Menteri dengan menyebutkan alasannya.
Pasal 59 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pengangkatan dan
pemberhentian Dewan Pengawas diatur dengan Keputusan Menteri.
Pasal 60 Dewan Pengawas bertugas mengawasi Direksi dalam menjalankan
kepengurusan Perum serta memberikan nasihat kepada Direksi.
Pasal 61 (1) Dalam anggaran dasar dapat ditetapkan pemberian wewenang kepada
Dewan Pengawas untuk memberikan persetujuan kepada Direksi dalam melakukan
perbuatan hukum tertentu. (2) Berdasarkan anggaran dasar atau Keputusan Menteri,
Dewan Pengawas dapat melakukan tindakan pengurusan Perum dalam keadaan tertentu
untuk jangka waktu tertentu.
Pasal 62 Anggota Dewan Pengawas dilarang memangku jabatan rangkap sebagai: a.
anggota Direksi pada BUMN, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta, dan
jabatan lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan; dan/atau b. jabatan lainnya
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB IV PENGGABUNGAN, PELEBURAN, PENGAMBILALIHAN, DAN


PEMBUBARAN BUMN
Pasal 63 (1) Penggabungan atau peleburan suatu BUMN dapat dilakukan dengan BUMN
lain yang telah ada. (2) Suatu BUMN dapat mengambil alih BUMN dan/atau perseroan
terbatas lainnya.

dipimpin oleh seorang ketua yang bertanggung jawab kepada Komisaris atau Dewan
Pengawas. (3) Selain komite audit sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Komisaris atau
Dewan Pengawas dapat membentuk komite lain yang ditetapkan oleh Menteri. (4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai komite audit dan komite lain diatur dengan Keputusan
Menteri.
BAB VII PEMERIKSAAN EKSTERNAL

Pasal 64 (2) Pembubaran BUMN ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (3) Apabila
tidak ditetapkan lain dalam Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
sisa hasil likuidasi atau pembubaran BUMN disetorkan langsung ke Kas Negara.
Pasal 65 (1) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggabungan, peleburan,
pengambilalihan, dan pembubaran BUMN, diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2)
Dalam melakukan tindakan-tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), kepentingan
BUMN, pemegang saham/pemilik modal, pihak ketiga, dan karyawan BUMN harus tetap
mendapat perhatian.
BAB V KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM
Pasal 66 (1) Pemerintah dapat memberikan penugasan khusus kepada BUMN untuk
menyelenggarakan fungsi kemanfaatan umum dengan tetap memperhatikan maksud dan
tujuan kegiatan BUMN. (2) Setiap penugasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan RUPS/Menteri.
BAB VI SATUAN PENGAWASAN INTERN, KOMITE AUDIT, DAN KOMITE
LAIN

Bagian Pertama Satuan Pengawasan Intern Pasal 67 (1) Pada setiap BUMN dibentuk
satuan pengawasan intern yang merupakan aparat pengawas intern perusahaan. (2)
Satuan pengawasan intern sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipimpin oleh seorang
kepala yang bertanggung jawab kepada direktur utama.
Pasal 68 Atas permintaan tertulis Komisaris/Dewan Pengawas, Direksi memberikan
keterangan hasil pemeriksaan atau hasil pelaksanaan tugas satuan pengawasan intern.
Pasal 69 Direksi wajib memperhatikan dan segera mengambil langkah-langkah yang
diperlukan atas segala sesuatu yang dikemukakan dalam setiap laporan hasil pemeriksaan
yang dibuat oleh satuan pengawasan intern. Bagian Kedua Komite Audit dan Komite
Lain
Pasal 70 (1) Komisaris dan Dewan Pengawas BUMN wajib membentuk komite audit
yang bekerja secara kolektif dan berfungsi membantu Komisaris dan Dewan Pengawas
dalam melaksanakan tugasnya. (2) Komite audit sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

Pasal 71 (1) Pemeriksaan laporan keuangan perusahaan dilakukan oleh auditor eksternal
yang ditetapkan oleh RUPS untuk Persero dan oleh Menteri untuk Perum. (2) Badan
Pemeriksa Keuangan berwenang melakukan pemeriksaan terhadap BUMN sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB VIII RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI Bagian Pertama Maksud dan
Tujuan Restrukturisasi
Pasal 72 (1) Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar
dapat beroperasi secara efisien, transparan, dan profesional. (2) Tujuan restrukturisasi
adalah untuk: a. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan; b. memberikan manfaat
berupa dividen dan pajak kepada negara; c. menghasilkan produk dan layanan dengan
harga yang kompetitif kepada konsumen; dan d. memudahkan pelaksanaan privatisasi.
(3) Pelaksanaan restrukturisasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tetap
memperhatikan asas biaya dan manfaat yang diperoleh. Bagian Kedua Ruang Lingkup
Restrukturisasi
Pasal 73
Restrukturisasi meliputi : a. restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan
dengan kebijakan sektor dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan; b.
restrukturisasi perusahaan/korporasi yang meliputi : 1) peningkatan intensitas persaingan
usaha, terutama di sektor-sektor yang terdapat monopoli, baik yang diregulasi maupun
monopoli alamiah; 2) penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator
dan BUMN selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsip-prinsip tata
kelola perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam rangka pelaksanaan kewajiban
pelayanan publik. 3) restrukturisasi internal yang mencakup keuangan, organisasi/
manajemen, operasional, sistem, dan prosedur.
Bagian Ketiga Maksud dan Tujuan Privatisasi
Pasal 74 (1) Privatisasi dilakukan dengan maksud untuk : a. memperluas kepemilikan
masyarakat atas Persero; b. meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan; c.
menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat; d.
menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif; e. menciptakan Persero yang
berdaya saing dan berorientasi global; f. menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro,

dan kapasitas pasar. (2) Privatisasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja
dan nilai tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan
saham Persero.
Bagian Keempat Prinsip Privatisasi dan Kriteria Perusahaan yang Dapat Diprivatisasi
Pasal 75 Privatisasi dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip transparansi,
kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, dan kewajaran.
Pasal 76 (1) Persero yang dapat diprivatisasi harus sekurang-kurangnya memenuhi
kriteria: a. industri/sektor usahanya kompetitif; atau b. industri/sektor usaha yang unsur
teknologinya cepat berubah. (2) Sebagian aset atau kegiatan dari Persero yang
melaksanakan kewajiban pelayanan umum dan/atau yang berdasarkan Undang-undang
kegiatan usahanya harus dilakukan oleh BUMN, dapat dipisahkan untuk dijadikan
penyertaan dalam pendirian perusahaan untuk selanjutnya apabila diperlukan dapat
diprivatisasi.
Pasal 77 Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah: a. Persero yang bidang usahanya
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya boleh dikelola oleh BUMN;
b. Persero yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan dan
keamanan negara; c. Persero yang bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah
diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat; d. Persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam
yang secara tegas berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dilarang untuk
diprivatisasi.

diperlukan untuk memperlancar proses Privatisasi; c. membahas dan memberikan jalan


keluar atas permasalahan strategis yang timbul dalam proses Privatisasi, termasuk yang
berhubungan dengan kebijakan sektoral pemerintah. (2) Komite privatisasi dalam
melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat mengundang,
meminta masukan, dan/atau bantuan instansi pemerintah atau pihak lain yang dipandang
perlu. (3) Ketua komite privatisasi secara berkala melaporkan perkembangan
pelaksanaan tugasnya kepada Presiden.
Pasal 81 Dalam melaksanakan Privatisasi, Menteri bertugas untuk: a. menyusun program
tahunan Privatisasi;
b. mengajukan program tahunan Privatisasi kepada komite privatisasi untuk memperoleh
arahan; c. melaksanakan Privatisasi.
Bagian Keenam Tata Cara Privatisasi
Pasal 82 (1) Privatisasi harus didahului dengan tindakan seleksi atas perusahaanperusahaan dan mendasarkan pada kriteria yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah.
(2) Terhadap perusahaan yang telah diseleksi dan memenuhi kriteria yang telah
ditentukan, setelah mendapat rekomendasi dari Menteri Keuangan, selanjutnya
disosialisasikan kepada masyarakat serta dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat. Pasal 83 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Privatisasi diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
Pasal 84 Setiap orang dan/atau badan hukum yang mempunyai potensi benturan
kepentingan dilarang terlibat dalam proses Privatisasi.

Pasal 78
Bagian Ketujuh Kerahasiaan Informasi
Privatisasi dilaksanakan dengan cara: a. penjualan saham berdasarkan ketentuan pasar
modal; b. penjualan saham langsung kepada investor; c. penjualan saham kepada
manajemen dan/atau karyawan yang bersangkutan.
Bagian Kelima Komite Privatisasi
Pasal 79 (1) Untuk membahas dan memutuskan kebijakan tentang privatisasi sehubungan
dengan kebijakan lintas sektoral, pemerintah membentuk sebuah komite privatisasi
sebagai wadah koordinasi. (2) Komite privatisasi dipimpin oleh Menteri Koordinator
yang membidangi perekonomian dengan anggota, yaitu Menteri, Menteri Keuangan, dan
Menteri Teknis tempat Persero melakukan kegiatan usaha. (3) Keanggotaan komite
privatisasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
Pasal 80
(1) Komite privatisasi bertugas untuk: a. merumuskan dan menetapkan kebijakan umum
dan persyaratan pelaksanaan Privatisasi; b. menetapkan langkah-langkah yang

Pasal 85 (1) Pihak-pihak yang terkait dalam program dan proses Privatisasi diwajibkan
menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperoleh sepanjang informasi tersebut belum
terbuka. (2) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedelapan Hasil Privatisasi
Pasal 86 (1) Hasil Privatisasi dengan cara penjualan saham milik negara disetor langsung
ke Kas Negara. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyetoran hasil
Privatisasi diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB IX KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 87 (1) Karyawan BUMN merupakan pekerja BUMN yang pengangkatan,
pemberhentian, kedudukan, hak dan kewajibannya ditetapkan berdasarkan perjanjian
kerja bersama sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang

ketenagakerjaan. (2) Karyawan BUMN dapat membentuk serikat pekerja sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Serikat pekerja wajib memelihara
keamanan dan ketertiban dalam perusahaan, serta meningkatkan disiplin kerja.

Tahun 1969 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2904); dinyatakan tidak
berlaku.
Pasal 95 Undang-undang ini berlaku sejak tanggal diundangkan.

Pasal 88 (1) BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan
pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN. (2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyisihan dan penggunaan laba sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri.

Pasal 89 Anggota Komisaris, Dewan Pengawas, Direksi, karyawan BUMN dilarang


untuk memberikan atau menawarkan atau menerima, baik langsung maupun tidak
langsung, sesuatu yang berharga kepada atau dari pelanggan atau seorang pejabat
pemerintah untuk mempengaruhi atau sebagai imbalan atas apa yang telah dilakukannya
dan tindakan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 90 BUMN dalam batas kepatutan hanya dapat memberikan donasi untuk amal atau
tujuan sosial sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 91 Selain organ BUMN, pihak lain mana pun dilarang campur tangan dalam
pengurusan BUMN.
Pasal 92 Perubahan bentuk badan hukum BUMN diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB X KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 93 (1) Dalam waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-undang ini mulai
berlaku, semua BUMN yang berbentuk perusahaan jawatan (Perjan), harus telah diubah
bentuknya menjadi Perum atau Persero. (2) Segala ketentuan yang mengatur BUMN
dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang
baru berdasarkan Undang-undang ini.
BAB XI KETENTUAN PENUTUP
Pasal 94 Dengan berlakunya Undang-undang ini, maka: 1. Indonesische Bedrijvenwet
(Staatsblad Tahun 1927 Nomor 419) sebagaimana telah beberapa kali diubah dan
ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1955 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1955 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 850); 2.
Undang-undang Nomor 19 Prp Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor
1989); 3. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1969 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890) tentang BentukBentuk Usaha Negara menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini


dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.