Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PBL

LUKA / TRAUMA

DISUSUN
OLEH :
KELOMPOK 2

PROGRAM STUDY PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2011

MODUL 1
SKENARIO 2

Seorang wanita berumur 28 tahun dibawa ke PUSKESMAS diantar oleh polisi. Ia menyatakan
bahwa semalam ia dianiaya oleh suaminya. Ia sudah berusaha lari dari rumah, namun sang suami
terlalu kuat dibandingkan dirinya. Mereka baru saja memasuki tahun ke 3 pernikahan dengan
seorang putri berumur 2 tahun. Mata kanannya terasa nyeri, tetapi ia tidak mengalami gangguan
penglihatan. Ia mengalami sakit kepala sejak semalam dan disertai mual. Ia dapat mengingat
secara detail insiden semalam. Ia melaporkan kebrutalan suaminya pada pos polisi terdekat.
Akan tetapi, ia tidak tahu apakah telah melakukan keputusan yang benar. Ia tidak berniat
membuat suaminya ditahan oleh polisi, karena secara finansial seluruh keluarga bergantung pada
sang suami.

KATA / KALIMAT KUNCI

Wanita 28 tahun
Dianiaya oleh suaminya
Usia pernikahan 3 tahun dengan seorang anak
Mata kanannya terasa nyeri tetapi tidak mengalami gangguan penglihatan
Mengalami sakit kepala sejak semalam disertai mual
Ia dapat mengingat secara detail insiden semalam
Melaporkan kebrutalan suaminya pada polisi

PERTANYAAN PENTING
1. Menjelaskan patomekanisme luka / trauma yang berkaitan dengan anatomi, histology
danfisiologi tubuh manusia ?
2. Mendeskripsikan karakteristik luka ?
3. Menjelaskan karakteristik kemungkinan agen penyebab luka ?
4. Menjelaskan keparahan / derajat luka sesuai dengan hukum yang berlaku ?

JAWABAN :

1.

Dari luar, mata itu tampak berbentuk bulat dan dilindungi oleh kelopak mata. Conjunctiva,
yang mengandung banyak pembuluh darah, adalah selaput lendir yang melapisi bagian dalam
kelopak mata dan bagian depan bola mata hingga ke cornea. Selaput ini mencegah bendabenda asing di dalam mata seperti bulu mata atau lensa kontak (contact lens), agar tidak
tergelincir ke belakang mata. Bersama-sama dengan kelenjar lacrimal yang memproduksi air
mata, selaput ini turut menjaga agar cornea tidak kering. Air mata mempunyai fungsi yang
penting sebagai minyak pelumas dan turut mencegah kekeringan pada mata. Kelebihan air
mata dibuang melalui lubang-lubang kecil pada kelopak mata dan mengalir ke dalam hidung.
Bulu mata (pada bagian luar kelopak mata) serupa fungsinya dengan kumis pada kucing,
yang bereaksi cepat terhadap rangsangan eksternal, yang menyebabkan mata berkedip dengan
cepat untuk menghindari cedera.

Bola Mata
Bola mata terdiri atas :
- dinding bola mata
- isi bola mata.
Dinding bola mata terdiri atas :
- sklera
- kornea.
Isi bola mata terdiri atas uvea, retina, badan kaca dan lensa.2

Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian depan
(kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2
kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu :1
1. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan
bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebut kornea yang
bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan
kornea lebih besar dibanding sklera.
2. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang
yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut
perdarahan suprakoroid.
Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang
oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot dilatator
dipersarafi oleh parasimpatis, sedang sfingter iris dan otot siliar di persarafi oleh parasimpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan
akomodasi.
Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor),
yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan
sklera.
3. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan
lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah
sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang
potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dari koroid yang disebut
ablasi retina.
Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya
menempel pupil saraf optik, makula dan pars plans. Bila terdapat jaringan ikat di dalam
badan kaca disertai dengan tarikan pada retina, maka akan robek dan terjadi ablasi retina.

Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada badan siliar
melalui Zonula Zinn. Lensa mata mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat
sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula lutea.
Terdapat 6 otot penggerak bola mata, dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak di
daerah temporal atas di dalam rongga orbita.

Rongga Orbita

Rongga orbita adalah rongga yang berisi bola mata dan terdapat 7 tulang yang
membentuk dinding orbita yaitu : lakrimal, etmoid, sfenoid, frontal, dan dasar orbita yang
terutama terdiri atas tulang maksila, bersama-sama tulang palatinum dan zigomatikus.
Rongga orbita yang berbentuk piramid ini terletak pada kedua sisi rongga hidung.
Dinding lateral orbita membentuk sudut 45 derajat dengan dinding medialnya.
Dinding orbita terdiri atas tulang :
1.

Atap atau superior : os.frontal

2.

Lateral : os.frontal. os. zigomatik, ala magna os. fenoid

3.

Inferior : os. zigomatik, os. maksila, os. palatina

4.

Nasal : os. maksila, os. lakrimal, os. etmoid


Foramen

optik

terletak

pada

apeks

rongga

orbita,

optik, arteri, vena, dan saraf simpatik yang berasal dari pleksus karotid.

dilalui

oleh

saraf

Fisura orbita superior di sudut orbita atas temporal dilalui oleh saraf lakrimal (V), saraf
frontal (V), saraf troklear (IV), saraf okulomotor (III), saraf nasosiliar (V), abdusen (VI), dan
arteri vena oftalmik.
Fisura orbita inferior terletak di dasar tengah temporal orbita dilalui oleh saraf infraorbita dan zigomatik dan arteri infra orbita.
Fosa lakrimal terletak di sebelah temporal atas tempat duduknya kelenjar lakrimal.
Rongga orbita tidak mengandung pembuluh atau kelenjar limfa.

HISTOLOGI MATA
SKLERA
Membran kuat, kenyal, melindungi 5/6 bgn posterior bola mata
1. Episklera
Jar ikat jarang serat kolagen & elastin
2. Stroma Sklera (Subst Propria Sklera)
Jar ikat padat kolagen serat kolagen tebal, sedikit sel fibroblast dengan
inti kecil & cabang sitoplasma yg panjang

3.

Lamina Fuska
Serat kolagen; khas : melanosit & makrofag yg berisi melanin

Fungsi sklera :
Proteksi bola mata

Bersama kornea pertahankan ukuran & btk b. mata


Palpebra

Lipatan kulit

2 buah tiap mata

Pelindung bola mata

Terdiri dari :

Kulit

Subkutan

M. orbikularis okuli pars palpebralis

Tarsus

Septum orbita

Konjungtiva palpebralis

ANATOMI & HISTOLOGI KULIT

Kulit mepunyai tiga lapisan utama: epidermis, dermis dan jaringan subkutis. Epidermis
tersusun dari beberapa lapisan tipis yang mengalami tahap diferensiasi pematangan.
Kulit ini melapisi dan melindungi organ di bawahnya terhadap kehilangan air, cedera
mekanik atau kimia dan mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit. Lapisan
paling dalam epidermis membentuk selsel baru yang bermigrasi kearah permukaan luar
kulit. Epidermis terdalam juga menutup luka dan mengembalikan integritas kulit selsel
khusus yang disebut melanosit dapat ditemukan dalam epidermis. Mereka memproduksi
melanin, pigmen gelap kulit. Orang berkulit lebih gelap mempunyai lebih banyak melanosit
aktif.
Epidermis terdiri dari 5 lapisan yaitu :

a. Stratum Korneum
Selnya sudah mati, tidak mempunyai intisel, intiselnya sudah mati dan mengandung
zat keratin.
b. Stratum lusidum
Selnya pipih, bedanya dengan stratum granulosum ialah selsel sudah banyak yang
kehilangan inti dan butirbutir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar.
Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki.
c. Stratum Granulosum
Stratum ini terdiri dari selsel pipih. Dalam sitoplasma terdapat butirbutir yang
disebut keratohialin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin.
d. Stratum Spinosum
Stratum ini terdiri dari sel-sel bentuk polygonal dan mengalami mitosis. Lapisan
inilah yang paling tebal.
e. Stratum Basal/Germinativum
Stratum germinativum menggantikan selsel yang diatasnya dan merupakan selsel
induk.
Dermis terdiri dari 2 lapisan :
a. Bagian atas, papilaris ( stratum papilaris )
b. Bagian bawah, retikularis ( stratum retikularis )
Kedua jaringan tersebut terdiri dari jaringan ikat lonngar yang tersusun dari serabutserabut
kolagen, serabut elastis dan serabut retikulus. Serabut kolagen untuk memberikan kekuatan
pada kulit. Serabut elastis memberikan kelenturan pada kulit. Retikulus terdapat terutama
di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut.
Subkutis
Terdiri dari kumpulankumpulan selsel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan
serabutserabut jaringan ikat dermis.

Luka Akibat kekerasan Benda tumpul


1. Memar (Kontusio, hematom)
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kutis/kulit akibat pecahnya kapiler dan vena
yang disebabkan oleh kekerasan tumpul. Letak , bentuk dan luas memar dipengaruhi oleh besarnya
kekerasan, jenis benda penyebab, kondisi dan jenis jaringan, usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit,
kerapuhan pembuluh darah, serta penyakit yang diderita. Bila kekerasan benda tumpul mengenai
jaringan longgar, seperti didaerah mata, leher, atau pada bayi dan orang usia lanjut, maka memar
cenderung lebih luas. Adanya jaringan longgar juga memungkinkan berpindahnya memar ke daerah
yang lebih rendah akibat gravitasi, seperti kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom
palpebra. Informasi mengenai bentuk benda tumpul dapat diketahui jika ditemukan adanya perdarahan

tepi , seperti bila tubuh korban terlindas ban. Pada perdarahan tepi perdarahan tidak dijumpai pada
lokasi yang bertekanan, tetapi perdarahan akan menepi sehingga bentuk perdarahan sesuai dengan
bentuk celah antara kedau kembang yang berdekatan (cetakan negatif). Umur memar dapat dilihat dari
warnanya. Pada saat perlukaan, memar berwarna merah, lalu berubah menjadi ungu atau hitam, dan
setelah 4 sampai 5 hari akan berwarna hijau yang kemudian berubah menjadi kuning dalam 7 sampai 10
hari, dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari. Perubahan warna terjadi mulai dari tepi kea rah
tengah. Hematom antemortem dapat dibedakan dari lebam mayat dengan melakukan penyayatan kulit.
Pada hematoma antemortem akan dijumpai adanya pembengkakan dan infiltrasi darah merah
kehitaman dalam jaringan, sedankan pada lebam mayat warna merah tampak merata.
2. Luka Lecet (ekskoriasi, abrasi)
Merupakan luka kulit yang superfisial, akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda
yang memiliki permukaan kasar atau runcing. Walaupun kerusakannya minimal tetapi luka lecet dapat
memberikan petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat dalam tubuh. Sesuai
mekanisme terjadinya luka lecet dibedakan dalam 3 jenis :
a. Luka lecet gores (scratch)
Diakibatkan oleh benda runcing yang menggeser lapisan permukaan kulit. Dari gambaran
kedalaman luka pada kedua ujungnya dapat ditentukan arah kekerasan yang terjadi.
b. Luka lecet serut (graze)/ geser (friction abrasion)
Adalah luka lecet yang terjadi akibat persentuhan kulit dengan permukaan badan yang kasar
dengan arah kekerasan sejajr/ miring terhadap kulit. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat
letak tumpukan epitel.
c. Luka lecet tekan (impression, impact abrasion)
Luka lecet yang disebabkan oleh penekanan benda tumpul secara tegak lurus terhadap
permukaan kulit. Bentuk luka lecet tekan umumnya sama dengan bentuk permukaan benda
tumpul tersebut. Kulit pada luka lecet tekan tampak berupa daerah kulit yang kaku dengan lebih
gelap dari sekitarnya.
3. Luka robek (vulnus lasetaum)
Merupakan luka terbuka yang terjadi akibat kekerasan tumpul yang kuat sehingga melampaui
elastisitas kulit atau otot. Ciri luka robek bentuk tidak beraturan, tepi tidak rata, akar rambut
tampak hancur atau tercabut bila kekerasannya di daerah yang berambut, sering tampak luka
lecet, atau memar disekitar luka.
4. Patah tulang
Dapat terjadi pada kekerasan tumpul yang cukup kuat. Patah tulang jenis impressi terjadi akibat
kekerasan benda tumpul pada tulang dengan daerah persinggungan yang kecil. Bentuk impresi
tulang dan dapat memberikan gambaran bentuk benda penyebabnya.
a. Cedera kepala
Selain kelainan kulit kepala dan patah tulang tengkorak, cedera kepala juga dapat
mengakibatkan perdarahan epidural, subdural, dan subaraknoid, kerusakan selaput otak,
dan jaringan otak, dengan penjelasan sebagai berikut :
Perdarahan epidural sering pada kekerasan tumpul pada daerah pelipis dan
belakang kepala akibat garis patah melewati sulkus a.meningea. pada keadaan
tertentu perdarahan dapat juga terjadi tanpa disertai patah tulang.
Perdarahan subdural akibat robeknya sinus, vena jembatan, arteri basilaris atau
berasal dari perdarahan subaraknoid.

Perdarahan subaraknoid biasanya berasal dari fokus kontusio/laserasi jaringan otak.


Dapat terjadi spontan pada sengatan matahari, leukemia, tumor, keracunan CO, dan
penyakit infeksi tertentu.

Pada kekerasan akibat kepala bergerak mengenai benda diam, lesi otak selain ditemukan di
daerah benturan (coup) juga ditemukan pada sisi lain dari titik benturan (contre coup) dan
diantara keduanya (intermediate lesion). Lesi contre coup terjadi akibat gaya positif akselerasi,
dorongan likuor, dan tekanan oleh tulang yang mengalami deformitas. Tekanan negative akibat
deformitas tulang dapat menyebabkan contre coup bila tekanan lebih dari 1 atm.
b. Cedera leher
Dapat terjadi bila korban tertabrak dari belakang di mana kepala mengalami percepatan
mendadak sehingga terjadi hiperekstensi kepalanyang disusul dengan hiperfleksi.

Berdasarkan Skenario : Luka akibat kekerasan benda tumpul yang sesuai dengan skenario yakni memar.

Kontusio atau memar


Meskipun sering bersamaan dengan abrasi dan laserasi, memar murni terjadi karena kebocoran
pada pembuluh darah dengan epidermis yang utuh oleh karena proses mekanis. Ekstravasasi
darah dengan diameter lenih dari beberapa millimeter disebut memar atau kontusio, ukuran yang
lenih kecil disebut ekimosis dan yang terkecil seukuran ujung peniti disebut petekie. Baik
ekimosis dan petekie biasanya terjadi bukan karena sebab trauma mekanis.
Kontusio disebabkan oleh kerusakan vena, venule, arteri kecil. Perdarahan kapiler hanya dapat
dilihat melalui mikroskop, bahkan petekie berasal dari pembuluh darah yang lebih besar dari
kapiler. Kata memar mengacu pada lesi yang dapat dilihat pada kulit atau yang terjadi pada
subkutanea, sementara kontusio dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja seperti limpa,
mesenterium atau otot. Penggunaan kata memar lebih banyak digunakan dokter saat memberikan
laporan atau keterangan pada kalangan non-medik.
Memar Intradermal
Memar yang biasa terjadi akibat penekanan berada pada subkutanea, sering pada jaringan
adiposa. Jika dilihat, memar terjadi pada perbatasan dermis dan epidermis. Namun kadang
samara. Ketika memar terjadi akibat penekanan dengan obyek berpola, perdarahan yang terjadi
lebih dapat dilihat, jika berada di lapisan subepidermal. Jumlah darahnya sedkiti namun karena
posisinya yang superfisial dan lapisan tipis di atasnya yang jernih sehingga polanya dapat
dibedakan. Memar ini terjadi ketika obyek yang menekan memiliki pinggiran dan alur, sehingga
kulit dipaksa mengikuti alur dan bentuknya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Munculnya Memar
1. Kebocoran pembuluh darah. Harus ada ruangan yang cukup untuk darah yang keluar
berakumulasi. Ini menjelaskna kenapa memar lebih mudah terjadi pada skrotum daripada
tumit dimana jaringan jaringan fibrosanya padat. Karena banyaknya jaringan subkutanea
pada orang yang gemuk, mereka lenih mudah terjadi memar daripada orang yang kurus
jika faktor lain seperti fragilitas pembuluh dan umur sama.
2. Jumlah darah yang keluar

3. Ruangan yang cukup


4. Kedalaman memar yang terjadi
5. Fragilitas pembuluh darah
6. Pada orang yang berbaring lama
Pergerakan dari Memar
Pada daerah superfisial memar muncul dengan cepat, sementara pada area yang dalam
membutuhkan waktu untuk muncul ke permukaan. Memar dapat bergerak mengikuti gaya
gravitasi. Contohnya, perdarahn subkutanea dapat turun melewati alis mata dan muncul di orbita
mata yang memberikan gambaran mata hitam yang dapat disalahartikan sebagai trauma
langsung. Begitu juga memar pada lengan atas atau betis, dapat turun sampai pada siku atau
tumit.
Perubahan Memar oleh Waktu
Dengan berlalunya waktu, hematom yang terbentuk pecah oleh pengaruh enzim jaringan dan
infiltrasi seluler.sel darah merah menutupi ruptur dan mengandung Hb membuat degradasi secara
kimiawi yang memyebabkan perubahan warna. Hemoglobin pecah menjadi hemosiderin,
biliversin dan bilirubon yang menyebabkan perubahan wanra memar dari ungu atau coklat
kebiruan menjadi coklat kehijauan, kemudian hijau kekuningan sebelum akhirnya samar.
Memar kecil pada deasa muda yang sehat akan menghilang dalam waktu 1 minggu.
Namun pada memar akibat gigitan asmara (cupang) akan menghilang dala waktu beberapa
hari, ini dikemukakan oleh nRoberts yang mengadakan penelitian.
Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain:
Besarnya ekstravasasi
Umur korban
Idosinkrasi seseorang
Beberapa observasi yang ditemukan:
Jika ditemukan memar yang nampak baru tanpa disertai perubahan warna, diperkirakan
terjadi 2 hari sebelum kematian
Jika memar terdapat perubahan warna kehijauan, diperkirakan terjadi tidak lebih dari 18
jam sebelum kematian
Jika ada beberapa memar dengan beberapa warna yang berbeda, berarti tidak terjadi pada
saat yang sama. Penting pada kasus penyiksaan anak.

Pada luka memar hal yang perlu diperhatikan adalah :


1. Patofisiologi / mekanisme terbentuknya : suatu kekerasan tumpul yang relative lunak dapat
tidak mengakibatkan cedera pada kulit / epidermis. Namun kekerasan tersebut telah dapat
mencederai pembuluh darah kapiler dibawahnya sehingga terjadinya perdarahan dibawah
epidermis (kulit ari), dibawah dermis (kulit) ataupun di jaringan dan otot.
2. Marginal Hemorrhage : memar terjadi di tepi daerah yang terkena trauma, terjadi karena
tekanan yang besar. Memar jenis ini bisa menggambarkan bentuk benda penyebabnya, misalnya
jejas ban, jejas pukulan cambuk / tongkat dsb.

3. Lokasi memar tak selalu sama dengan lokasi trauma. Contoh : trauma pada dahi yang jaringan
ikat dibawahnya jarang memar dapat terjadi di daerah kelopak mata. Dengan demikian adanya
brill-haematome belum menunjukkan letak traumanya. Trauma pada betis, memar dapat
terlihat di pergelangan kaki.
4. Warna, sesuai dengan waktu penyembuhan luka (Memar menghilang dengan perubahan warna;
biru-hijau-coklat-kuning-hilang ). Adanya warna kuning di sekitar warna memar menunjukkan
bahwa memar telah berusia lebih dari 18 jam.
5. Memar merupakan salah satu tanda intravitalitas trauma, yang berarti bahwa trauma terjadi
semasa korban hidup.
6. Bila letaknya di daerah atau di dekat lebam mayat, memar kadang-kadang harus dibedakan
dengan lebam mayat.
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)
Pengertian kekerasan berbeda dari satu individu ke individu lain, dari suatu Negara ke negara
lain dan dari budaya yang satu ke budaya lain. Kekerasan dalam bentuk verbal dan emosional
tidak dianggap sebagai kekerasan pada beberapa budaya atau Negara. Demikian pula kekerasan
fisik pada tingkat tertentu, terutama terhadap hubungan pelaku korban tertentu, juga dianggap
bukan kekerasan pada budaya dan Negara tertentu. Kekerasan terhadap perempuan seringkali
terjadi di dalam lingkungan rumah tangga, baik dalam keluarga inti maupun keluarga yang
diperluas. Korbannya dapat merupakan isteri, anak atau pembantu rumah tangga. Jenis
kekerasannya pun bervariasi dari kekerasan fisik, kekerasan seksual dan pencederaan psikologis.

Undang-Undang PKDRT ini menyebutkan bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga


adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan,
atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga
(Pasal 1 ayat 1).
Lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang ini meliputi (Pasal 2 ayat 1) :
a. Suami, isteri, dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri);
b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana
dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan,
dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga (mertua, menantu, ipar dan besan);
dan/atau
c. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga
tersebut (Pekerja Rumah Tangga).
Bentuk-bentuk KDRT adalah (Pasal 5):
a. Kekerasan fisik; adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka
berat (Pasal 6).
b. Kekerasan psikis; Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,
hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya,
dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7)

c. Kekerasan seksual ; Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa


pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar
dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan
komersial dan/atau tujuan tertentu.
Kekerasan seksual meliputi (pasal 8):

Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap


dalam lingkup rumah tangga tersebut;
Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah
tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.

d. Penelantaran rumah tangga.


Penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup
rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan
atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada
orang tersebut. Selain itu, penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang
mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang
untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah
kendali orang tersebut (pasal 9).

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer A,Suprohaita,wardhani,Wahyu ika dkk. Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga Jilid 2.
Media Aeusculapius FKUI. Jakarta ; 2000.
Idries Abdul M. Pedoman Ilmu kedokteran Forensik edisi pertama. Binarupa Aksara. Jakarta
barat ; 1997.
Budiyanto A, Widiatmaka W, Siswandi S, dkk. ILMU KEDOKTERAN FORENSIK. Bagian Kedokteran
Forensik FKUI.Jakarta : 1997.

Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI, Jakarta: 2009. h:1-12.