Anda di halaman 1dari 10

Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah Administrasi Pendidikan


Dosen Mata Kuliah : Dr. H. Salman Tumanggor, M.Pd.

Nama

: Rizky Anthoni

NIM

: 1111014000037

Kelas

: 7A

1. Administrasi Pendidikan dalam Praktek


Administrasi pendidikan memegang peranan penting dalam mewujudkan visi, misi dan
cita-cita yang ingin dicapai oleh sekolah. Pemerintah Indonesia telah menetapkan 8 standar
pendidikan nasional yang harus dipenuhi oleh sekolah sebagai pedoman administrasi
pendidikan di sekolah sehingga dapat berjalan sesuai dengan visi, misi dan cita-cita yang
diinginkan oleh sekolah masing-masing.
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh
wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan menurut
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 20 Tahun 2007 tentang
Standar Penilaian Pendidikan terdiri dari :
1. Standar Kompetensi Lulusan
Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan
sebagai

pedoman

penilaian

dalam

menentukan

kelulusan

peserta

didik.

Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal


satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal
kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 23 Tahun 2006
menetapkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah.
2. Standar Isi
Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk
mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar isi tersebut memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar,
kurikulum

tingkat

satuan

pendidikan,

dan

kalender

pendidikan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 Tahun 2006


tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
3. Standar Proses
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Selain itu, dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan.
Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan
proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses
pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
4. Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen
pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik yang dimaksudkan di
atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik
yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi sebagai agen pembelajaran
pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini
meliputi:
a. Kompetensi pedagogik;
b. Kompetensi kepribadian;
c. Kompetensi profesional; dan
d. Kompetensi sosial.
Pendidik

meliputi

pendidik

pada

TK/RA,

SD/MI,

SMP/MTs,

SMA/MA,

SDLB/SMPLB/SMALB, SMK/MAK, satuan pendidikan Paket A, Paket B dan Paket


C, dan pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan. Tenaga kependidikan meliputi
kepala sekolah/madrasah, pengawas satuan pendidikan, tenaga administrasi, tenaga
perpustakaan, tenaga laboratorium, teknisi, pengelola kelompok belajar, pamong
belajar, dan tenaga kebersihan.
5. Standar Sarana dan Prasarana
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan
pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai,
serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang

teratur dan berkelanjutan. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang
meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang
tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit
produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah,
tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
6. Standar Pengelolaan
Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yakni standar pengelolaan oleh satuan
pendidikan, standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan standar pengelolaan
oleh

Pemerintah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan


Standar Pengelolaan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No
19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah.
7. Standar Pembiayaan Pendidikan
Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya
personal. Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi
biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan
modal kerja tetap. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada di atas meliputi biaya
pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses
pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya operasi satuan pendidikan
sebagaimana dimaksud di atas meliputi:
a. Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat
pada gaji,
b. Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan
c. Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi,
pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi,
pajak, asuransi, dan lain sebagainya
8. Standar Penilaian Pendidikan
a. Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri
atas:
b. Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
c. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan
d. Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

e. Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi terdiri atas:


f. Penilaian hasil belajar oleh pendidik; dan
g. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi.
Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan,
dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat.
Namun dalam prakteknya di lapangan, 8 Standar Nasional Pendidikan ini masih belum
berjalan sebagaimana mestinya. Seperti madrasah ibtidaiyah yang saya amati, pihak sekolah
masih belum menjalankan 8 Standar Nasional Pendidikan. Hal itu disebabkan oleh banyak
faktor salah satunya kurangnya perhatian dari pemerintah terkait dana pendidikan yang
diberikan. Akibatnya adalah bangunan, sarana dan prasarana madrasah tersebut jauh dari kata
layak. Seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap sekolah yang
membutuhkan bantuan seperti madrasah yang saya amati. Sehingga hal ini akan mengurangi
kesenjangan sosial antara sekolah elite dan sekolah buram.

2. Layanan Bimbingan Konseling dan Pengembangan Diri


Program BK adalah rangkaian kegiatan pelaksanaan yang terencana, diorganisir secara
baik dan dlam pelaksanaannya dikoordinir dengan penuh tanggung jawab. Program tersebut
disusun dengan memasukkan unsur-unsur yang harus termuat di dalamnya secara jelas dan
konkrit yang dibuat dalam bentuk satuan-satuan kegiatan layanan, yang dalam
pelaksanaannya mengarah pada pencapaian tujuan pelayanan BK di sekolah.
Uman Suherman (2008) menyatakan bahwa dasar pemikiran penyelenggaraan BK di
sekolah/madrasah

adalah dalam upaya

memfasilitasi

peserta didik

agar mampu

mengembangkan potensi dirinya untuk mencapai tugas-tugas perkembangannya (aspek fisik,


emosi, sosial, intelektual, dan moral-spiritual. Atas dasar itu, lebih dikhususnya lagi dalam
implementasi

BK

di

sekolah/madrasah

diorientasikan

pada

upaya

memfasilitasi

perkembangan potensi konseli, yang meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir.
Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan mengembangkan kemampuan dan
meningkatkan mutu kehidupan serta harkat dan martabat manusia Indonesia harus berakar
pada budaya bangsa Indonesia sendiri. Bimbingan dan konseling sebagai profesi bantuan
(helping profession) diabdikan bagi peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan dengan
cara menfasilitasi perkembangan individu atau kelompok individu sesuai dengan kekuatan,

kemampuan potensional dan aktual serta peluang-peluang yang dimilikinya, dan membantu
mengatasi kelemahan dan hambatan serta kendala yang dihadapi dalam perkembangan
dirinya. Bimbingan dan konseling sebagai komponen pendidikan mempunyai peranan yang
besar dalam rangka memenuhi hak peserta didik untuk mendapatkan pelayanan pendidikan
sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Pasal 12 ayat (b) UU Sisdiknas).
Bimbingan konseling sangat erat kaitannya dengan pengembangan diri siswa. Kegiatan
pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/ dilaksanakan oleh konselor, dan
kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain
sesuai dengan kemampuan dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam
bentuk kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat mengembangkan
kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat,
kondisi, dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah atau
madrasah. Selain itu, pengembangan diri bertujuan menunjang pendidikan peserta didik
dalam mengembangkan, bakat, minat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam
kehidupan, kemampuan kehidupan keagamaan, kemampuan sosial, kemampuan belajar,
wawasan dan perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian.
Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram. Kegiatan
terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegiatan tidak terprogram dilaksanakan secara langsung
oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta
didik. Kegiatan terprogram terdiri atas dua komponen:
a. Pelayanan konseling, meliputi pengembangan:
1) Kehidupan pribadi
2) Kemampuan sosial
3) Kemampuan belajar
4) Wawasan dan perencanaan karir
b. Ekstra Kurikuler, meliputi kegiatan:
1) Kepramukaan
2) Latihan kepemimpinan, ilmiah remaja, palang merah remaja
3) Seni, olahraga, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan
Pengembangan diri dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok pengembangan potensi.
Pertama, intelegensi, merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir

secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan
harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses
berpikir rasional itu. Intelegensi dipengaruhi oleh faktor bawaan, faktor lingkungan atau yang
lebih umum dipengaruhi oleh kualitas orang tua serta kondisi anak pada saat pembentukan
dalam kandungan, gizi selama masa-masa pertumbuhan, rangsangan-rangsangan intelektual
yang memberinya berbagai sumber daya pengalaman seperti pendidikan, latihan berbagai
ketrampilan berbagai ketrampilan dan lain-lain.
Kedua, bakat, yaitu kemampuan dasar seseorang untuk belajar dalam waktu yang relatif
pendek dibandingkan orang lain, namun hasilnya justru lebih baik. Contoh: seseorang yang
berbakat melukis akan lebih cepat mengerjakan pekerjaan lukisannya dibanding seseorang
yang kurang berbakat. Bakat juga merupakan potensi yang bakal diwujudkan di waktu yang
akan datang. Ini berarti bahwa bakat bukan hanya menunjukan peluang saja, yakni peluang
keberhasilan. Dengan kata lain bakat harus disemaikan, diwujudkan, dan dikembangkan.
Berdasarkan referensi, ada beberapa jenis bakat:
1) Bakat verbal, yaitu bakat tentang konsep-konsep yang diungkapkan dalam bentuk
kata-kata.
2) Bakat numerikal, yaitu bakat tentang konsep-konsep yang diungkapkan dalam bentuk
angka.
3) Bakat skolastik, yaitu bakat kombinasi kata-kata dan angka-angka.
4) Bakat abstrak yaitu, bakat yang bukan kata maupun angka, tetapi berbentuk pola,
rancangan, ukuran-ukuran, bentuk-bentuk dan posisi-posisinya.
5) Bakat mekanik, yaitu bakat tentang prinsip-prinsip umum IPA, tata kerja mesin,
perkakas dan alat-alat lain.
6) Bakat relasi ruang, yaitu bakat untuk mengamati, mencritakan pola dua dimensi atau
berpikir dalam 3 dimensi.
7) Bakat kecepatan ketelitian klerikal, yaitu bakat tentang tugas tulis menulis, ramumeramu untuk laboratorium, kantor dan lain-lain.
8) Bakat bahasa, yaitu bakat penalaran analisis bahasa, misalnya untuk jurnalistik,
stenografi, penyiaran, editing, hukum, pramuniaga dan lain-lain.
Ketiga, minat yang merupakan kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan
yang besar terhadap sesuatu. Minat ikut menentukan tinggi rendahnya kualitas pencapaian
hasil belajar siswa. Minat bukanlah suatu yang statis atau terhenti. Tetapi dinamis dan
mengalami pasang surut. Minat bersifat dapat dipelajari, maksudnya sesuatu yang semula
tidak disukai dapat berubah menjadi diminati karena masukan-masukan tertentu. Ini berarti

materi (mata pelajaran tertentu) yang semula tidak disukai bisa berubah menjadi mata
pelajaran yang disukai kalau ada perubahan masukan. Ada dua jenis minat:
1) Minat vokasional merujuk pada bidang-bidang pekerjaan. Minat vokasional terdiri
dari 3 kelompok, yaitu:
a. Minat profesional: minat keilmuan, seni dan kesejahteraan sosial.
b. Minat komersial: minat pada pekerjaan dunia usaha, jual beli, periklanan,
akuntasi, kesekretariatan dan lain-lain.
c. Minat kegiatan fisik: mekanik, kegiatan luar, aviasi atau penerbangan dan lainlain.
2) Minat avokasional, yaitu minat untuk memperoleh kepuasan atau hobi misalnya
petualangan, hiburan, apresiasi, artistik, ketelitian dan lain-lain.
Minat dapat membangkitkan kekuatan yang luar biasa. Sesuatu yang berat akan terasa ringan
kalau sudah timbul minat. Untuk menumbuhkan minat dalam kegiatan belajar akan sangat
menguntungkan.
Berdasarkan pemaparan diatas, kita dapat mengetahui bahwa BK dan pengembangan diri
siswa memiliki peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Namun
pada kenyataannya, masih banyak orang yang tidak paham tentang pentingnya BK dan
pengembangan diri siswa. Beberapa orang berpendapat bahwa siswa yang berhubungan
dengan BK adalah siswa yang bermasalah. Padahal, BK selalu terbuka bukan hanya siswa
yang bermasalah, tetapi BK juga terbuka dan siap melayani siswa yang memiliki kemauan
yang kuat, potensi yang besar dan prestasi yang bagus.
Setiap sekolah idealnya wajib memiliki BK dan pengembangan diri siswa. Hal ini
berbeda dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Banyak sekolah yang tidak mengerti
konsep BK dan pengembangan diri siswa sehingga sekolah tersebut tidak memiliki fasilitas
BK. Masih banyak guru yang menganggap bahwa BK itu tidak penting. Seperti madrasah
yang saya amati. Di madrasah tersebut tidak ada layanan BK. Hasil wawancara dengan guru
di madrasah tersebut menyebutkan bahwa layanan BK akan ada jika ada siswa yang
bermasalah. Masalah siswa itu pun diselesaikan bukan dengan guru yang ahli di bidag BK
atau guru BK, tetapi diselesaikan oleh guru kelas yang tidak mengerti sepenuhnya tentang
BK dan pengembangan diri siswa.

3. Manajemen Berbasis Sekolah


Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan program nasional sebagaimana
tercantum dalam Undang -undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional

pasal 50 (1) Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan
prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah MBS merupakan paradigma baru
pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dengan maksud agar
sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya
sesuai dengan prioritas kebutuhan sekolah. Dengan demikian tanggungjawab pengelolaan
pendidikan bukan hanya oleh pemerintah tapi juga oleh sekolah dan masyarakat dalam
rangka mendekatkan pengambilam keputusan ketingkat grassroots (yang paling dekat
dengan peserta didik) . Bagaimana Penerapannya di Indonesia? Ada tiga pilar MBS yang
dapat dijadikan patokan untuk menilai implementasi MBS yang dilaksanakan oleh sekolah
di Indonesia yaitu: Manajemen Sekolah, Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan, dan Peran Serta Masyarakat
Manajemen Sekolah
Penerapan manajemen sekolah pada umumnya sudah dapat diterapkan dengan baik
oleh sebagian sekolah terutama sekolah sekolah perkotaan yang sudah memiliki SDM
yang memadai baik secara kualifikasi maupun kompetensi. Namun pada sisi lain masih
banyak sekolah terutama kepala sekolah belum dapat mengelola sekolahnya dengan baik
misalnya dalam hal berkomunikasi dan berkoodinasi dengan semua warga sekolah dan
masyarakat. Indikasinya terlihat masih banyak warga sekolah dan masyarakat yang tidak
tahu program sekolah dan penggunaan dana sekolah baik yang bersumber dari BOS untuk
SD dan SMP maupun dari komite (masyarakat) untuk SMA/SMK. Program sekolah dan
penggunaan dana tidak disosialisakan dengan transparan dan akuntabel. Sehingga sering
menimbulkan kecurigaan diantara warga sekolah. Sebagai dampaknya guru dan staff serta
masyarakat kurang antusias untuk mendukung program sekolah.
Dalam hal peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan misalnya masih banyak
kepala sekolah yang hanya menunggu bila ada program pelatihan dari pemerintah.
Semestinya peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan ini dapat dilakukan
oleh sekolah secara mandiri misalnya dengan memberdayakan rekan sejawat (guru, kepala
sekolah,dan pengawas sekolah) untuk saling berbagi. Dengan sering diadakannya sharing
antar teman sejawat diharapkan akan timbul semangat untuk berinovasi dan
berimprovisasi yang akan melahirkan kreatifitas.
Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif & Menyenangkan
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan kominikasi dewasa ini, warga
sekolah terutama guru dan siswa akan sangat terbantu dalam mengembangkan dan

mengatasi permasalahan pembelajaran. Setiap siswa memiliki minat, bakat dan


kemampuan yang berbeda. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena berbagai metode
pembelajaran sangat mudah diperoleh melalui pemanfaatan ICT oleh guru dan siswa.
Dalam proses pembelajaran ini tentu saja siswa menjadi pusat perhatian atau pemeran
utamanya dan guru menjadi sutradaranya. Untuk mencapai pembelajaran yang aktif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan perlu usaha serius , karena dibutuhkan guru yang aktif
dan kreatif pula.
Peran Serta Masyarakat
Masyarakat adalah mitra sekolah yang dapat diandalkan. Masyarakat terkait langsung
dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah, karena keberadaan sekolah ada di tengah
-tengah masyarakat dan menjadi tujuan masyarakat sekitar untuk menuntut ilmu. Sekolah
dan masyarakat harus selalu bersinergi untuk mewujudkan outcome sekolah yang
berkualitas. Dukungan masyarakat kepada sekolah hendaknya bukan hanya bersifat
material tapi juga dukungan moril seperti memberikan rasa aman kepada semua warga
sekolah. Memang kepala sekolah harus memiliki kompetensi social yang handal.
Disamping itu sekolah bisa dijadikan pusat informasi bagi masyarakat sekitar sekolah.
Informasi yang dimaksud adalah informasi yang bersifat umum bukan hanya mengenai
siswa tapi juga yang berkenaan dengan pemberdayaan sumber daya yang ada di
lingkungan masyarakat. Sekolah dapat menjadi trigger (pemicu) untuk memajukan
masyarakat sekitar sekolah. Dengan contoh langsung yang diberikan sekolah biasanya
masyarakat akan cepat meniru dan mempraktikkannya apalagi sesuatu yang baru yang
dapat memberikan nilai tambah bagi mereka. Masyarakat dapat juga dilibatkan dalam
program sekolah khususnya yang menyangkut life skill.
Namun yang masih menjadi persoalan adalah dukungan masyarakat belum optimal
baik dalam hal prakarsa dan kontribusi untuk mamajukan sekolah maupun memberikan
rasa aman baik pada siswa maupun guru yang mengajar di sekolah. Sebuah harian daerah
pernah memberitakan ada guru yang dirampok oleh pelaku yang juga masyarakat sekitar
sekolah. Selain itu ada usaha ternak ayam potong yang berdampingan dengan sekolah
yang sangat mengganggu proses pembelajaran di sekolah karena bau yang tidak sedap
yang berasal dari kotoran ayam tersebut, dan mungkin masih banyak lagi persoalanpersolan lain yang dapat mengganggu kelancaran proses pembelajaran.
Memang persoalan ini sangat kompleks, tetapi dengan tekad dan komitmen yang kuat
antara pihak sekolah, pemerintah, dan masyarakat sebagai sebuah system yang

mempunyai maksud yang sama untuk mencapai pendidikan yang berkualitas, maka MBS
ini dapat diterapkan dengan baik dan dihantarkan sampai ke tujuan. Semoga.