Anda di halaman 1dari 48

1

TUGAS MAKALAH FARMASI KLINIK

REAKSI OBAT YANG TIDAK DIKEHENDAKI

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I
KELAS A
SUGIYATI TALIB
N21114001
NUR AFNI
N21114002
SUBAEDAH BAHRI
N21114003
RINI RUMAKEY
N21114004
HIJRAH AL KAUTSAR B
N21114005
OEI, SHERLY WIJOYO N21114006
ANDI YULIA INDRYANIN21114007
SRI HARTINI SAM
N21114008
SITI RAHMA
N21114009
FAUSIAH SUPRATMAN
N21114010
MARHAMAH IDIL
N21114011

SEMESTER AWAL 2014/2015


PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu tanggung jawab profesi seorang farmasis adalah
memberikan layanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien, yang
disebut dengan pharmaceutical care (asuhan kefarmasian). Dalam terapi
obat pasien, seorang farmasis diharapkan dapat mengidentifikasi
masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat (Drug Related
Problems) baik yang telah terjadi atau yang berpotensi untuk terjadi,
kemudian mengupayakan penanganannya dan pencegahan terhadap
masalah yang teridentifikasi.
Salah satu masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat
adalah reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD/adverse drug reaction).
ROTD adalah respons terhadap obat yang membahayakan atau tidak
diharapkan yang terjadi pada dosis lazim dan dipakai oleh manusia untuk
tujuan profilaksis, diagnosis maupun terapi. Morbiditas dan mortalitas
karena penggunaan obat merupakan masalah nyata yang sedang
dihadapi farmasis klinis saat ini. Telah diperkiraan bahwa 41% pasien
yang menggunakan obat-obat yang diterapkan pertama kali akan
mengalami reaksi efek samping obat.
Masalah ROTD perlu

mendapatkan perhatian karena dapat

menyebabkan penurunan kualitas hidup, peningkatan kunjungan ke


dokter, perawatan di rumah sakit, bahkan kematian. Peran fundamental
farmasis adalah mengidentifikasi ROTD yang potensial maupun aktual,
1

memecahkan masalah ROTD aktual, dan mencegah ROTD yang


potensial terjadi. Farmasis bertanggung jawab dalam pengembangan
program deteksi, pemantauan dan pelaporan ROTD.
ROTD yang terjadi dapat memperburuk penyakit dasar yang akan
kita obati, menambah permasalahan baru dan bahkan kematian. Keracunan dan syok anafilaktik merupakan contoh ROTD yang berat yang dapat
menyebabkan kematian, sedangkan sebagai contoh yang ringan adalah
rasa gatal dan mengantuk. Jenis ROTD sangatlah banyak, dari yang
dapat diperkirakan akan timbul sampai yang tidak kita perkirakan yang
potensial membahayakan keselamatan jiwa pasien. Karena hal ini cukup
sering didapatkan di klinik, amatlah penting artinya bagi kita untuk
mengetahui bagaimana cara mendiagnosis, penatalaksanaan serta
pencegahan apabila terdapat reaksi akibat ROTD.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Definisi
Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah mendefinisikan ROTD
sebagai respon terhadap suatu obat yang berbahaya dan tidak
diharapkan

serta terjadi pada dosis lazim yang dipakai oleh manusia

untuk tujuan profilaksis, diagnosis maupun terapi.


Menurut FDA (1995), ROTD didefinisikan sebagai efek yang tidak
diinginkan yang berhubungan dengan penggunaan obat yang timbul
sebagai bagan dari aksi farmakologis dari obat yang kejadiannya mungkin
tidak dapat diperkirakan.
Menurut Laurence (1998), ROTD adalah efek yang membahayakan
atau tidak mengenakkan yang disebabkan oleh dosis obat yang
digunakan

sebagai

terapi

(atau

profilaksis

atau

diagnosis)

yang

mengharuskan untuk mengurangi dosis atau menghentikan pemberian


dan meramalkan adanya bahaya pada pemberian selanjutnya.
Menurut Edward dan Aronson (2000), ROTD adalah reaksi yang
berbahaya atau tidak mengenakkan akibat penggunaan produk medis
yang memperkirakan adanya bahaya pada pemberian berikutnya
sehingga mengharuskan pencegahan, terapi spesifik, pengaturan dosis
atau penghentian obat.
Menurut Karch dan Lasagna, ROTD didefenisikan sebagai respon
terhadap suatu obat yang berbahaya dan tidak dimaksudkan atau terjadi

pada dosis yang digunakan pada manusia untuk profilaksis, diagnosis,


atau terapi, tidak termasuk gagal mencapai kegunaan yang dimaksudkan.
II.2 Epidemiologi
Telah

banyak

penelitian

yang

dilakukan

untuk

menagani

pengobatan. Secara rata-rata, telah ditemukan bahwa 5 % pasien yang


masuk rumah sakit adalah karena ROTD. Di samping itu pasien yang
dirawat di rumah sakit 10 20 % di antaranya mengalami ROTD selama
mejalani perawatan. Akibat dari mengalami ROTD tersebut maka sekitar
50 %

dari pasien ini akan tinggal lebih lama di rumah sakit. Namun

sangat sulit untuk memperkirakan secara tepat kejadian yang benar-benar


merupakan ROTD. Hal ini disebabkan adanya perbedaan dalam
pendeteksian dan pemantauannya serta adanya efek-efek subyektif
seperti mual dan sakit kepala.
Di negara-negara barat, ROTD menyebabkan 3% sampai 12%
dirawatnya pasien di rumah sakit dan mengalami peningkatan hingga 20%
pada seluruh pasien selama dirawat di rumah sakit. ROTD juga
bertanggung jawab terhadap sekitar 5% sampai 10% biaya perawatan di
rumah sakit. Frekuensi ROTD yang menyebabkan perawatan pasien di
rumah sakit ini bervariasi dari satu penelitian ke penelitian lain.
II.3 Penggolongan ROTD
Klasifikasi yang paling umum dari ROTD adalah salah satu yang
membedakan yaitu berhubungan dengan dosis (tipe A efek tambahan

dari aksi obat) dan tidak berhubungan dengan dosis (tipe B reaksi
aneh) reaksi obat yang merugikan. Ada kelompok lain dalam sistem
klasifikasi ini tetapi juga dapat dianggap sebagai subclass atau turunan
dari ROTD tipe A dan B, yakni ROTD tipe C (reaksi kronis, berhubungan
dengan dosis dan waktu), tipe D (reaksi tertunda, terkait dengan waktu),
tipe E (reaksi akhir penggunaan) dan tipe F (kegagalan terapi).
Karakteristik, beberapa contoh dan manajemen/pengelolaan dari ROTD
ini tercantum dalam Tabel I. Sebuah sistem klasifikasi alternatif
mengusulkan hanya 3 kelompok utama ROTD, disebut sebagai ROTD
tipe A (aksi obat), tipe B (reaksi pasien) dan tipe C (efek statistik).
Berikut ini adalah klasifikasi dari reaksi obat yang tidak dikehendaki
yang terdiri atas 6 tipe reaksi yaitu :
Tabel 1. Klasifikasi Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki
Tipe Reaksi
Karakteristik
Contoh
Manajemen
Tipe A
Tergantung dosis
Toksisitas Obat
Kurangi dosis atau
(Augmentasi/
Umum/lazim (80%)
Nefrotoksisitas oleh
menghentikan
Diperbesar)
Berhubungan waktu
Aminoglikosida
pemberian
sugestif
Dysrhytmia oleh
Mempertimbangka
Berkaitan dengan
Digoksin
n efek dari terapi
aksi farmakologis
Efek Samping
bersamaan
obat
Konstipasi oleh
Dapat diprediksi
penggunaan kronis
Gejalanya berat tapi
opioid
biasanya ringan
Morbiditas tinggi,
Diperoleh dari :
Mortalitas rendah
Farmakologi primer
Dapat direproduksi
(augmentasi dari aksi
diketahui) ; B-Blocker
menginduksi
bradikardia
Farmakologi Sekunder
(melibatkan organ atau
sistem yang berbeda
tapi dapat dijelaskan
dari farmakologi
diketahui); B-Blocker
menginduksi
bronkospasme

Tipe B
(bizarre/aneh)

Tidak tergantung
dosis
Tidak umum/ lazim
Tidak berkaitan
dengan aksi
farmakologis obat
Tidak dapat
diprediksi
Gejalanya sebagian
lebih berat dari tipe
A
Morbiditas &
Mortalitas tinggi
Tidak dapat
direproduksi

Tipe C (kronis)

Tidak umum
Berkaitan dengan
dosis kumulatif
Long term exposure
required
Tidak umum
Biasanya berkaitan
dosis
Muncul beberapa
saat setelah
penggunaan obat
Tidak umum
Terjadi segera
setelah penarikan
obat

Tipe D
(tertunda)

Tipe E (akhir
penggunaan)

Tipe F
(Kegagalan
Terapi)

Umum
Mungkin berkaitan
dengan dosis
Sering disebabkan
oleh interaksi obat

Intoleransi
Tinnitus disebabkan
oleh dosis kecil
aspirin
Allergi (hipersensitivitas
atau imunologik)
Dihasilkan oleh
respon imun terhadap
obat
Penisilin menginduksi
urtikaria
Pseudoalergi (non
imunologik)
Sindrom pernafasan
oleh AINS
Idiosinkratik (respon
tidak terduga dari obat,
tidak berkaitan dengan
mekanisme alergi)
Reaksi sindrom
hipersensitivitas
antikonvulsan
Penekanan aksis
hipotalamik-pituitariadrenal oleh
kortikosteroid
Teratogenesis
Karsinogenesis
Diskinesia tardive oleh
antipsikosis
Sindrom penghentian
opiate
Hipotensi pada
penarikan klonidin
Iskemia miokardial
(penghentian -blocker)
Ketidakefektifan
Resistensi mikroba
terhadap reaksi obat
Toleransi
Takifilaksis

Tidak memberikan
dan Hindari
pemberian
kedepannya

Mengurangi dosis
atau menghentikan
pemberian:
penarikan mungkin
harus diperpanjang
Sering
terselesaikan

Diberikan kembali
dan dihentikan
perlahan-lahan

Meningkatkan dosis
atau mengganti
agen terapi
Mempertimbangkan
efek dari terapi
bersamaan

ROTD dalam segi praktis klinis dapat diklasifikasikan untuk


memudahkan dalam mengetahui terjadi ROTD pada penggunaan obat

dalam praktek sehari-hari, salah satu klasifikasi yang dapat digunakan


adalah:
1. Reaksi yang dapat timbul pada setiap orang:
a. Overdosis obat: efek farmakologis toksik yang timbul pada
pemberian obat yang timbul akibat kelebihan dosis ataupun karena
gangguan ekskresi obat
b. Efek samping obat: efek farmakologis yang tidak diinginkan yang
timbul pada dosis terrekomendasi.
c. Interaksi obat: aksi farmakologis obat pada efektivitas maupun
toksisitas obat yang lain.
2. Reaksi yang hanya timbul pada orang yang suseptibel:
a. Intoleransi

obat:

ambang

batas

yang

rendah

pada

aksi

farmakologis normal dari obat.


b. Idiosinkrasi obat: respon abnormal dari obat yang berbeda dari efek
farmakologisnya. Hal ini timbul pada pasien yang suseptibel dan
kejadian bisa/tidak bisa diperkirakan. Terjadi karena metabolisme
obat ataupun defisiensi enzim.
c. Alergi obat
d. Reaksi pseudoalergik/anafilaktoid: reaksi yang secara klinis mirip
dengan reaksi alergi tanpa peranan imunologis (tidak diperantarai
IgE).
II.4 Identifikasi ROTD

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi ROTD ini


adalah bahwa sering kali sulit untuk membuktikan suatu obat mempunyai
hubungan penyebab dengan gejala yang dialami pasien. Sering kali
ROTD tampak seperti penyakit yang lain dan banyak gejala yang terkait
dengan ROTD muncul pada pasien yang sehat. Namun adanya dugaan
bahwa suatu ROTD telah cukup untuk melakukan suatu tindakan.
Beberapa pasien mungkin dapat membedakan sendiri suatu ROTD
dari

gejala-gejala

lain

yang

mereka

alami.

Namun

di

dalam

mengidentifikasi apakah suatu gejala itu termasuk ROTD atau bukan


keterampilan yang perlu dimiliki oleh farmasis. Kumpulan beberapa
informasi yang relevan berkaitan dengan gejala tersebut penting untuk
mengambil

kesimpulan

yang

tepat.

Bagian

berikut

ini

akan

mempertimbangkan informasi apa yang akan diperlukan dan bagaimana


menggunakannnya dalam mengembangkan sebuah kesimpulan tentang
gejala yang tampak.
Perkembangan yang pesat dalam penemuan, penelitian dan
produksi obat untuk diagnosis, pengobatan, maupun pencegahan telah
menimbulkan berbagai reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) yang
disebut reaksi adversi. Reaksi tersebut tidak saja menimbulkan persoalan
baru di samping penyakit dasarnya, tetapi kadang-kadang dapat
membawa maut. Hiperkalemia, intoksikasi digitalis, keracunan aminofilin,
dan reaksi anafilaktik merupakan contoh ROTD yang potensial sangat
berbahaya. Gatal karena alergi obat, dan efek mengantuk antihistamin

merupakan contoh lain reaksi ROTD obat yang ringan. Karena pada
umumnya adversi obat dan pada khususnya alergi obat sering terjadi
dalam klinik, pengetahuan mengenai diagnosis, penatalaksanaan dan
pencegahan masalah tersebut amat penting untuk diketahui.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi ROTD
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya
reaksi obat yang tidak diinginkan yaitu : polifarmasi, jenis kelamin, kondisi
penyakit yang diderita, usia, ras, dan polimorfisa genetik serta
ketidakpatuhan pasien.
a. Polifarmasi
Kejadian-kejadian ROTD tampaknya muncul secara eksponensial
jika jumlah obat yang digunakan juga bertambah banyak. Peresepan
(prescribing) semacam ini sering terjadi pada penderita lanjut usia atau
pada penderita yang mengalami beberapa penyakit sekaligus. Kedua
kelompok ini sangat beresiko untuk mengalami ROTD tertentu.
b. Jenis kelamin
Reaksi obat yang tidak dikehendaki lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan pria. Namun belum ada penjelasan tentang mengapa hal
ini bisa terjadi. Contoh dalam praktik dapat dilihat bahwa wanita lebih
cenderung mengalami ROTD akibat digoksin, kaptopril, dan heparin.
Di samping ituwanita lebih mudah mengalami kelainan sel darah
(blood dyscrasias) bila menggunakan fnilbutazon dan kloramfenikol.
c. Kondisi penyakit yang diderita

10

Adanya penyakit lain yang menyertai dapat mempengaruhi respons


obat dan munculnya ROTD secara bermakna melalui perubahan
proses farmakokinetika atau kepekaan jaringan.
Penderita yang mengalami gangguan fungsi ginjal dan hati akan
mengalami resiko ROTD yang lebih tinggi dari obat-obat yang
dieliminasi melalui rute ini. Keadaan hamil dan melahirkan sering kali
juga mempengaruhi respon obat. Penyakit lain juga mempengaruhi
penderita terhadap terjadinya ROTD, misalnya penderita yang positif
mengidap HIV atau AIDS yang menggunakan kotrimoksazol. Penderita
yang berada dalam keadaan sakit kritis juga akan berbeda dalam
menangani obat yang ada dalam tubuhnya.
d. Usia
Pasien

lanjut

usia

akan

lebih

sering

mengalami

ROTD

dibandingkan pasien yang lebih muda. Hal ini dimungkinkan antara lain
karena pasien lanjut usia lebih sering mendapatkan terapi obat.
Namun, hal ini bukanlah satu-satunya penyebab. Faktor lain yang
mempengaruhi terjadinya ROTD pada lanjut usia adalah perubahan
farmakokinetika: absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat,
yang faktor-faktor tersebut sangat tergantung pada kondisi organorgan tubuh penderita.
Neonatus, khususnya yang prematur, juga beresiko lebih tinggi
untuk mengalami ROTD. Pada tahap neonatus ini enzim-enzim yang
terlibat

dalam

metabolisme

dan

distribusi

obat

masih

belum

11

berkembang sempurna. Oleh karena itu obat-obat dengan indeks


terapi sempit perlu digunakan lebih berhati-hati. Obat-obat lain yang
berbahaya bagi neonatus termasuk morfin, kloramfenikol, golongan
barbiturat, dan sulfonamida.
e. Ras dan polimorfisa genetika
Banyak ROTD yang semula diduga sebagai ROTD tipe B ternyata
disebabkan faktor genetik. Perbedaan ras dan genetik mungkin dapat
mempenaruhi proses pengobatan di dalam tubuh. Sebagai contoh,
perbedaan secara genetik tampak dalam laju metabolisme pada
banyak obat sehingga meskipun obat diberikan dengan dosis yang
sama dalam mg/kg akan menghasilkan variasi kadar yang sangat
besar di dalam plasma yang sangat berbeda.
Beberapa jenis ras juga akan mempunyai resiko untuk mengalami
ROTD yang lebih besar dibanding dengan ras yang lain. Misalnya
orang amerika (yang berasal dari afrika) dan orang mediteranean
mempunyai

resiko

terjadinya

hemolisis yang

lebih

tinggi bila

menggunakan obat-obatan golongan sulfon (misalnya dapson), 4kuinolon (spirofloksasin, ofloksasin, asam nalidiksat), antimalaria
(primakuin,kuinin) dan aspirin. Hal ini disebabkan lebih banyak orang
dari golongan ras tersebut mengalami defisiensi enzim glukosa-6fosfat dehidrogenase (G6PD).
f. Ketidakpatuhan pasien

12

Ketidakpatuhan pasien dapat menimbulkan Drug Related Problem


(DRP). Ketidakpatuhan ini dapat disebabkan banyak hal, antara lain
obat yang diresepkan tidak tersedia (di apotek terdekat) sehingga
pasien kesulitan karena harus mencari obat tersebut di tempat lain.
Daya beli pasien yang rendah dan harga obat yang mahal menjadi
pemicu utama ketidakpatuhan pasien karena ia tidak mampu membeli
semua

obat

yang

diresepkan.

Beberapa

faktor

penyebab

ketidakpatuhan yang lain ialah pemberian sediaan yang tidak tepat


sehingga pasien tidak mau atau tidak bisa mengkonsumsi obat
tersebut, misalnya pasien anak diresepkan sediaan tablet yang tidak
bisa ditelannya, atau diresepkan sediaan suspensi yang bau dan
rasanya tidak enak, sehingga anak itu tidak mau minum obat. Pasien
kadang-kadang tidak mengerti instruksi pemberian obat, atau memiliki
asumsi sendiri terhadap regimen pengobatan, misalnya antibiotik yang
diresepkan seharusnya diminum sampai habis tetapi ternyata pasien
menghentikan minum obat setelah kondisi tubuhnya dirasa membaik
padahal obat belum dihabiskan. Pada kasus khusus pasien yang
beraktivitas seharian sehingga lupa meminum obatnya, atau lupa
membawa inhalernya, sehingga regimen pengobatan menjadi tidak
tepat.
Secara umum perhatian farmasis terhadap adanya DRP sebaiknya
diprioritaskan pada pasien geriatri, pasien pediatri, ibu hamil dan
menyusui, serta pasien yang mendapatkan obat yang indeks terapinya

13

sempit. Pasien usia lanjut memiliki kelemahan dalam hal fisik dan ingatan,
sehingga sebaiknya tidak diberikan pengobatan dengan regimen yang
kompleks, dan sedapat mungkin farmasis melibatkan orang lain (keluarga
atau perawat) untuk mendampingi pasien tersebut menjalankan terapinya.
Pasien pediatri harus diprioritaskan dalam penanganan DRP karena
kondisi

fisiologisnya

masih

belum

sempurna

sehingga

faktor2

metabolisme dan absorbsi obat tidak bisa disamakan begitu saja dengan
pasien dewasa, dan farmasis mutlak harus melibatkan orangtua dalam
pelayanan dan penanganan terhadap DRP yang diderita anaknya. Banyak
obat yang dikontraindikasikan terhadap kehamilan dan keadaan menyusui
karena perubahan-perubahan fisiologis yang dialami selama kehamilan,
dan ada obat yang dapat terdistribusi melalui plasenta dan air susu ibu
sehingga dikhawatirkan mempengaruhi pertumbuhan janin maupun bayi
yang mengkonsumsi air susu ibu. Pasien yang mendapatkan obat dengan
indeks terapi sempit, misalnya digitalis, harus dimonitor secara seksama
penggunaan obatnya untuk mencegah efek toksik, sebab kesalahan
penggunaan obat misalnya dosisnya lebih tinggi dari yang seharusnya
diterima walaupun sedikit akan mengakibatkan efek toksik terutama pada
jantung dan dapat menyebabkan kematian.
II.5 Kriteria Untuk Mengidentifikasi ROTD
Begitu ada gejala yang diduga sebagai ROTD, rincian tentang
pengobatan pasien perlu juga dimiliki termasuk obat bebas dan obat
bebas terbatas (over the counter) serta obat tradisional, jadi tidak hanya

14

obat-obatan yang diresepkan oleh dokter saja. Ketika menanggapi gejala


yang disampaikan pasien terhadap beberapa hal yang dapat ditanyakan
dengan tujuan untuk mengidentifikasi apakah terdapat reaksi yang
berkaitan dengan kemungkinan adanya ROTD. Hal-hal tersebut adalah
waktu, dosis, sifat permasalahan, pengalaman, penghentian/keterulangan.
a. Waktu
Kapan kejadian ROTD tersebut muncul? Apakah terjadi sesaat
setelah minum obat ataukah bersamaan dalam waktu yang lama?
Apakah reaksi tersebut terkait dengan pemakain obat?
Relatif mudah untuk mengenali suatu ROTD yang terjadi segera
setelah pemakaian obat. Namun, bila telah berlangsung beberapa
minggu, hubungan antara suatu obat dan ROTD menjadi lebih sulit
ditentukan. Banyak reaksi terjadi di awal masa pengobatan misalnya
anafilaksis, reaksi yang terjadi karena kecacatan enzim genetik,
bahkan terjadi pada pemberian dosis pertama. Kemungkinan lain,
suatu reaksi penting dapat berkembang dengan tanpa diduga dan
berbahaya dalam periode pengobatan yang panjang (misal katarak
yang disebabkan kortikosteroid, fibrosis retroperitoneal dari metisergit).
Reaksi lainnya (misal peritonitis sklerosing karna pemakaian praktolol)
hanya akan muncul dalam waktu yang lama setelah pemakaian obat
dihentikan. Beberapa reaksi (misal kanker, retinopati klorokuin, dan
fibrosis

retroperitoneal) dapat muncul beberapa bulan atau tahun

setelah terpapar obat.

15

Pada beberapa kasus dimungkinkan bahwa timbulnya ROTD


terjadi setelah pemakaian obat tersebut dihentikan, seperti pada gejala
putus obat benzodiasepin. Gejala putus obat ini dapat terjadi setiap
saat sampai dengan 3 minggu setelah penghentian benzodiasepin
bermasa kerja lama (long acting), namun bisa juga terjadi beberapa
jam bila menggunakan benzodiasepin bermasa kerja singkat (short
acting). Gejala putus obat ditandai dengan inmsomnia, ansietas,
kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan, tremor,
berkeringat, telinga mendengung, dan gangguan perpepsi. Beberapa
gejala dapat berlangsung sampai beberapa minggu atau bualan
setelah penghentian benzodiasepin.
b. Dosis
Apakah dosis yang diberikan pada pasien dengan kondisi tertentu
terlalu besar? dalam hal ini sebagai contoh pasien lanjut usia yang
mengalami ganguan eliminasi obat.
Dapat juga terjadi bahwa pemakaian obat yang kedua akan
meningkatkkan kadar obat pertama di dalam darah, misalnya pada
teofilin yang dipakai bersama simetilin, yang merupakan penghambat
enzim. Metabolisme teofilin akan dihambat oleh simetilin sehingga
kadar teofilin dalam darah akan meningkat dan akhirnya muncul ROTD
yang disebabkan oleh teofilin.
c. Sifat permasalahan

16

Apakah ciri-ciri reaksi yang diduga sebagai ROTD tersebut sama


dengan sifat farmakologi obatnya? hal ini akan membantu kita dalam
mengidentifikasi ROTd tipe A.

d. Pengalaman
Apakah reaksi yang muncul mirip dengan reaksi yang pernah
dilaporkan di pustaka? Pustaka yang dapat dijadikan acuan antara lain
Meylers Side Effect of Drugs, British National Formulary, Martindale :
The Drug Complete Reference, AHFS Drug Information.
Tentu saja tidak semua ROTD akan tercatat dalam pustaka dan
sangat dimungkinkan akan muncul reaksi baru atau belum di laporkan
oleh karena itu sebagai seorang farmasi anda harus siap menghadapi
dan mengatasinya bila terjadi dalam praktik. Di samping itu bila
dijumpai suatu ROTD yang baru muncul atau ROTD yang berkaitan
obat yang baru dipasarkan diharapkan untuk dilaporkan pada lembaga
yang berkaitan, seperti BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).
Selain itu penting juga untuk memperhatikan tempat-tempat yang
sering terjadi ROTD.
e. Penghentian/ keterulangan (Dechallange/ Rechallenge)
Apa yang terjadi apabila pemakaian obat dihentikan? Bagaimana
jika suatu hari kelak obat yang menimbulkan ROTD
digunakan kembali, apakah reaksinya muncul kembali?

tersebut

17

Apakah gejala ROTD berhenti setelah pemakaian obat dihentikan


dan terjadi kembali pada pemakaian obat berikutnya, maka dapat
dikatakan bahwa terdapat hubungan penyebab timbulnya ROTD
tersebut. Namun tidak semua ROTD akan berhenti seketika setelah
pemakaian obat dihentikan dan beberapa reaksi mungkin tidak dapat
berubah (irreversible).
Setelah informasi-informasi tersebut di atas terkumpul, maka
diperlukan suatu metode yang rasional untuk dapat menetapkan suatu
kesimpulan tentang kemungkinan adanya suatu reaksi obat yang tidak
dikehendaki. Salah satu pendekatan yang sistemik adalah dengan
menggunakan algoritma. Terdapat banyak algoritma yang dapat dipakai
antara lain adalah algoritma yang dipakai oleh Food and Drug
Administration di Amerika serikat seperti terlihat dalam gambar 1.
Berdasarkan gambar 1 tersebut, jika terdapat lebih dari satu obat
yang diminum, maka perlu diperiksa setiap obat tersebut melalui algoritma
ini. Jika hasil pemeriksaan algoritma tersebut didapatkan lebih dari satu
obat yang menunjukkan kemungkinan penyebab maka setiap obat perlu
dipertimbangkan untuk menjadi penyebabnya.
Sebagai contoh dalam menggunakan algoritma di atas, misalkan
seorang paisen mengeluh tentang dispepsia. Pasien tersebut telah
meminum ibuprofen selama setahun dan gejala dispepsia hanya muncul
setelah ibuprofen diminum. Dimulai dari pertanyaan yang pertama pada
algoritma, tampak bahwa gejala yang muncul terkait dengan waktu

18

pemakaian obat. Kedua, pada saat pengobatan dihentikan gejalanya juga


hilang. Ketiga, gejalanya berkurang pada masa penghentian pemakaian
obat.
Dari tahap keempat dan kelima dapat dipastikan bahwa gejala
muncul kembali pada penggunaan obat selanjutnya. Dapat disimpulkan
bahwa terdapat hubungan penyebab yang sangat tinggi antara pemakain
obat dengan gejala yang muncul.

Gambar 1. Algoritma yang digunakan oleh Farmasis Food and Drug Administration
AS untuk mengidentifikasi ROTD.

II.6 Pencegahan dan Penatalaksanaan ROTD

19

Farmasis mempunyai kesempatan yang baik untuk meningkatkan


layanan kefarmasian terhadap pasiennya melalui pencegahan dan
penanganan ROTD. Berkurangnya kejadian dan tingkat keparahan ROTD
juga mengurangi biaya pengobatan dan perawatan. ROTD menyebabkan
masuknya pasien ke rumah sakit dalam jumlah yang berarti. Suatu
laporan penelitian memberikan data bahwa 50% pasien yang mengalami
ROTD di rumah sakit akan dirawat lebih lama. Biaya yang ditimbulkan
juga cukup bermakna.
II.6.1 Pencegahan ROTD
Sebagai tenaga profesional terakhir sebelum obat diserahkan
kepada paien, sangatlah jelas bahwa farmasis mempunyai peranan yang
penting dalam mencegah terjadinya ROTD. Untuk itu diperlukan suatu
pendekatan yang dapat dipakai untuk memeriksa secara teliti resep obat
yang

akan

digunakan

pasien

serta

bagaimana

farmasis

dapat

menanggapi gejala-gejala yang dikeluhkan pasien. Di dalam tabel 2


ditampilkan suatu proses pemeriksaan resep secara sederhana dan setiap
farmasis diharapkan dapat mengikuti prosedur tersebut. Format dan isinya
dapat berbeda namun prinsip prosedur yang sistematik dan teliti harus
diikuti untuk memaksimalkan stnadar professional.
Disamping itu diperlukan juga diskusi dengan tenaga kesehatan
yang lain serta partisipasi pasien, karena keterlibatan mereka akan sangat
membantu

dalam

mencapai

kefarmasian yang bermutu.

tujuan

dalam

memberikan

layanan

20

Sebagai salah satu contoh dalam mencegah terjadinya ROTD


adalah menghentikan pemberian penghambatan adrenoreseptor-beta
(beta bloke) bagi penderita asma karena dapat memperburuk asmanya
atau memberikan konseling agar pasien yang menggunakan obat-obat
AINS agar diminum setelah makan untuk mencegah iritasi pada saluran
cerna.

Tabel 2. Proses Pemeriksaan Resep


Model Pemeriksaan Resep
Memeriksa keabsahan resep
Peninjauan resep-status penyakit
Adakah obat-obat yang memerlukan perhatian khusus
Apakah obat sesuai dengan kelompok pasien ini
Masalah klinis-kemungkinan terjadinya ROTD, interaksi
Diskusi dengan dokter atau tenaga medis lainnya
Diskusi dengan pasien

British

National

Formulary

mendeskripsikan

beberapa

cara

mencegah reaksi yang tidak diinginkan :


1) Jangan menggunakan obat bila tidak diindikasikan dengan jelas. Jika
pasien sedang hamil, jangan gunakan obat kecuali benar-benar
diperlukan.
2) Alergi dan idiosinkrasi merupakan penyebab penting ROTD. Tanyakan
apakah pasien pernah mengalami reaksi sebelumnya.
3) Tanyakan jika pasien sedang menggunkan obat-obatan lainnya
termasuk obat yang dipakai sebagai swamedikasi; hal ini dapat
menimbulkan interaksi obat.
4) Usia dan penyakit hati atau ginjal dapat mengubah metabolisme dan
eksresi obat sehingga dosis yang lebih kecil diperlukan. Faktor genetik

21

mungkin

juga

berpengaruh

pada

variasi

dalam

metabolisme,

khususnya isoniazid dan antidepresan trisiklik.


5) Resepkan obat sesedikit mungkin dan berikan petunjuk yang jelas
kepada pasien lanjut usia dan pasien yang kurang memahami petunjuk
yang rumit.
6) Jika memungkinkan gunkaan obat yang sudah dikenal. Dengan
menggunakan suatu obat yang baru perlu waspada akan timbulnya
ROTD atau kejadiaan yang tidak diharapkan.
7) Jika

kemungkinan

terjadi

ROTD

yang

serius,

pasien

perlu

diperingatkan.
Berikut reaksi obat yang tidak diinginkan yang tampak sebagai
gejala yang memengaruhi SSP, telinga, hidung, tenggorokan, mata,
pernafasan, kardiovaskuler, sistem otot skelet serta kulit.
Tabel 3. Contoh-contoh Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki
No

Reaksi Obat

Agitasi,Eksitasi,irita
bilitas

Kebingungan

Mengantuk

Pusing

Obat
Antihistamin
Penghambat pengambilan Serotonin
Kafein
Teofilin
Levodova
Simetidin
Antidepresan trisiklik
Tramadol
Antihistamin (terutama generasi pertama)
Antikonvulsan
Analgesik narkotika
Antidepresantrisiklik
MAOI (Penghambat Oksidasi Monoamino)
Hipnotik (Efek sakit pada saat bangun tidur)
Alopurinol
Antihipertensi
Baklofen
Minosiklin (Dapat juga suatu tanda dari hipotensi, Levodopa
antihipertensi)
Penghambat kompa proton
Tramadol

22

Sakit Kepala

Sulit tidur

Gangguan tidur

Gangguan
Penglihatan

Gangguan
Penciuman

10

Mulut Kering

11

Hiperplasia gusi

12

Guam mulut

13

Sakit tenggorokan

14

Gangguan
pengecap rasa

15

Batuk

16

Tuli/ telinga
mendengung

17

Rambut Rontok

19

Pertumbuhan
rambut di wajah
Sesak nafas

20

Gagal jantung

18

22

Memburuknya
asma
Bronkospasme

23

Penyakit Sendi

24

Rasa dingin pada


anggota gerak

25

Nyeri/ Kram Otot

21

Sering disebabkan fase dilatasi Gliseril trinitrat


Nifedipin
Kafein
Teofilin
Flupentiksol
Efedrin
Nikotin tempel
Levodopa
Pemnghambat Beta Nikotin Tempel Levodopa
Antidepresan trisiklik
Antikonvulsan
Digoksin
Nifedipin
Diltiazem
Antidepresan trisiklik
Hiosin
Neuroleptik
Analgesik narkotik
Fenitoin
Antagonis kalsium
Antibiotik
Steroid Inhalasi
AINS( Dapat juga merupakan gejala dari supresi sumsum
tulang misalnya Karbimazol )
Metronidazol
Kaptopril
Penisilamin
Terminafin
Penghambat ACE
Aminoglikosida
Furosemid
Aspirin
Antikoagulan
Litium
Penghambat Pompa Proton
Sitotoksik
Danazol
Fenitoin
Mungkin suatu tanda dari penghambat beta, Tramadol
Penghambat beta
AINS
Antagonis kalsium
Obat-obat dengan kadar Na+ tinggi
AINS
Inhalasi Serbuk Kering
Penghambat beta
Antibakteri 4-kuinolon, missal Siprofloksasin
Penghambat Beta
Agonis Beta-2
Penghambat ACE
Senyawa penurun kolesterol
Perubahan Kecepatan Detak Jantung

23

26

Memperlambat
Jantung

27

Mempercepat
Jantung

28

Detak jantung tidak


teratur

29

Kemerah-merahan

30

Bengkak

31

Pigmentasi

32

Memburuknya
Psoriasis

33

Erupsi seperti
jerawat

34

Fotosensitivitas

Amiodaron
Penghambat Beta
Digoksin
Agonis beta-2, missal Salbutamol
Digoksin
Antidepresan trisiklik
Teofilin
Terfenadin
Astemizol
Amiodaron
Digoksin
Kuinin
Reaksi-reaksi pada Kulit
NItrat
Nifedipin
Kortikosteroid
AINS
Kontrasepsi Oral
Antimalaria
Penghambat beta
AINS
Antimalaria
Litium
Steroid
Danazol
Isoniazid
Klorpromazin
Tetrasiklin
Amiodaron

II.6.2 Penatalaksanaan ROTD


Keterbatasan uji klinik dalam kaitannya dengan ROTD telah
didiskusikan secara singkat pada bagian pendahuluan dalam bab ini. Oleh
karena itu, dilakukan suatu pengawasan obat setelah dipasarkan (post
marketing surveillance). Terdapat beberapa metode yang bisa digunakan
untuk melakukan post marketing surveillance, antara lain laporan kasus,
penelitian kohort, dan penelitian kasus-kontrol.
Laporan

kasus

pada

reaksi

tunggal

dapat

dipakai

untuk

memperingatkan tenaga kesehatan terhadap ROTD yang serius, misalnya


sindrom okulomukokutaneus yang ditimbulkan oleh praktolol. Selain itu

24

juga menimbulkan sindroma praktolol yang ditandai timbulnya gatal-gatal


seperti psoriasis, mata kering, fibrinous peritonitis, dan sindroma yang
menyerupai lupus. Akhirnya obat golongan beta bloker ini ditarik dari
pasaran.
Penelitian kohort merupakan investigasi longitudinal dengan
membandingkan kelompok pasien yang menggunakan obat dan kelompok
yang tidak menggunakan obat tertentu.

Perbandingan angka kejadian

pada kelompok yang menggunakan dengan kelompok yang tidak


menggunakan obat akan memberikan perkiraan resiko terjadinya ROTD.
Metode penelitian kasus kontrol dilakukan dengan membandingkan
penggunaan obat pada pasien, baik yang diserta atau tanpa adanya
status penyakit yang spesifik. Namun, diantara metode-metode tersebut,
pelaporan spontan (spontaneous reporting) merupakan metode yang
paling terkait dengan fungsi farmasis.
Sekarang ini hanya sedikit alat yang dapat membantu evaluasi dan
penatalaksanaan pasien dengan reaksi akibat obat. Alat tersebut belum
ada karena keterbatasan pengetahuan mengenai patofisiologi dan faktor
predisposisi timbulnya kebanyakan reaksi tersebut. Meski dengan segala
keterbatasan pasien tetap harus dapat ditangani. Pendekatan terhadap
pasien alergi obat harus secara metodologis. Pertama hubungannya
dengan obat harus dapat dibuktikan. Setelah hal tersebut dapat
dibuktikan, tipe reaksi harus dapat ditentukan sebisa mungkin. Untuk
reaksi tipe A, modifikasi dosis sebelum diberikan merupakan satu-satunya

25

hal yang perlu dikerjakan. Toksisitas, serta efek samping dan efek
sekunder dapat membaik dengan menurunkan dosis obat. Untuk reaksi
tipe B, obat masih dapat diberikan kembali bila reaksi sebelumnya ringan
(tinnitus pada pemberian aspirin). Untuk reaksi idiosinkrasi, kewaspadaan
yang lebih perlu dipertimbangkan. Pada reaksi yang berat atau
mengancam nyawa penderita, obat tersebut tidak boleh diberikan kembali.
Pada reaksi yang tidak terlalu berat, tes provokasi dapat dipertimbangkan.
Untuk reaksi tipe B, penatalaksanaannya tergantung dari mekanisme yang mendasari timbulnya reaksi. Bila tes konfirmasi tersedia dan
telah divalidasi, tes tersebut harus digunakan untuk menentukan status
alergi pasien (tes untuk IgE spesifik penisilin dengan Pre-Pen dan
determinan campuran minor). Bila tes tersebut tidak tersedia dan pada
kebanyakan kasus memang tidak ada, beberapa pendekatan dapat
dilakukan. Pendekatan yang paling mudah adalah dengan menghindari
obat bila obat alternative tersedia. Bila obat alternative tidak ada,
challenge test bertahap dapat dikerjakan bila reaksi yang timbul
sebelumnya bukan merupakan reaksi yang diperantarai IgE dan tidak
merupakan reaksi yang berat dan membahayakan nyawa penderita. Bila
reaksi yang sebelumnya timbul merupakan reaksi yang diperantarai IgE,
desensitisasi harus dikerjakan.

26

Gambar 2. Skema Alur Penatalaksanaan ROTD

Tindakan atau penanganan yang cepat kadang sangat penting


karena keadaan serius dari reaksi obat tak diinginkan yang dicurigai
terjadi, sebagai contoh shok anafilaktik. Penanganan darurat dan
pemberhentian
pengulangan

dari

semua

pengobatan

pengobatan
dari

awal

kadang

sebaiknya

penting,

dimana

dipertimbangkan.

27

Sebaliknya,

menggunakan

pertimbangan

resiko-keuntungan

klinis,

bersamaan dengan bantuan investigasi, dapat diputuskan obat mana


yang harus dihentikan sebagai percobaan. Sebuah masalah dapat muncul
dengan cepat jika satu atau lebih dari obat-obatan bersifat esensial bagi
pasien. Jika obat yang bermasalah jelas, maka keputusan dari
keuntungan-resiko harus segera diputuskan tentang kebutuhan dari obat
tersebut (apakah ada pengganti yang setara keefektifannya yang tidak
akan menghasilkan efek samping yang sama?), tingkat keparahan dari
reaksi, dan potensial dari pengobatannya. Jika beberapa obat-obatan
harus dihentikan awalnya, lebih diprioritaskan satu persatu, tergantung
dari tingkat keparahan dari reaksinya. Jika reaksinya tergantung pada
dosis, maka penurunan dosis harus dipertimbangkan. Banyak pemberi
resep menghentikan pemberian sebuah obat saat dicurigai terjadi
interaksi, tanpa memikirkan untuk menyesuaikan dosisnya.
Pasien
penggunaan

harus
obat.

terus
Periode

dimonitor

saat

penarikan/penghentian

menunggu

bervariasi,

tergantung

dari

kecepatan eliminasi obat di dalam tubuh dan jenis dari patologinya.


Sebagai contoh, urtikaria biasanya menghilang dengan cepat saat obat
dieliminasi, sedangkan reaksi psoriasis pada kulit yang tetap dapat
membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menghilang. Jika pasien
mulai membaik, sesuai dengan yang dipredksi, pengobatan alternatif
untuk pengobatan dasar dapat dimulai jika diperlukan. Jika pasien tidak
membaik setelah penghentian dari obat pertama, obat yang digunakan

28

setelahnya harus dicurigai sebagai penyebabnya, dan prosesnya harus


diulang. Di lain hal, pasien dapat menderita jika dijauhkan dari obat yang
dihentikan.

Pada

kasus

tersebut,

obat

lain

yang

cocok

harus

menggantikan (mengingat kemungkinan dari sensitivitas-silang), atau obat


yang sama haru dicoba pada dosis yang lebih rendah (untuk reaksi yang
tergantung pada dosis). Pendekatan terakhir yang disebutkan harus
dicoba jika lebih dari satu obat dihentikan, dengan singkat jika sebuah
interaksi dicurigai atau keseriusan dari sebuah reaksi membuat hal
tesebut menjadi diperlukan untuk menghentikan beberapa obat-obatan.
Penggunaan kembali dari obat-obatan yang esensial dilakukan satu per
satu,

dimulai

dengan

yang

paling

kecil

kemungkinannya

untuk

menyebabkan efek samping yang serius.


Jika pasien tidak dapat bertahan tanpa sebuah obat yang dapat
mengakibatkan reaksi yang tak diinginkan, dapat memberikan pereda
gejala saat berlangsungnya pengobatan yang penting. Sebagai contoh,
mual dan muntah yang parah secara rutin diobati gejalanya pada pasien
yang menerima obat-obatan antikanker. Bagaimanapun, saat mengobati
reaksi obat yang tak diinginkan, penting untuk tidak memulai pengobatan
lebih dari yang dibutuhkan. Selalu memiliki terapi secara objektif dalam
pikiran, jangan mengobati lebih dari yang diperlukan, dan perhatikan
pasien secara regular dan selalu mencari cara untuk mempermudah/
menyederhanakan penanganan.

29

II.7 Pelaporan Spontan Reaksi Obat Yang Tidak Diinginkan


Sistem pelaporan spontan adalah sistem pelaporan formal yang
dirancang untuk mencatat, mengelolah, dan menganalisis terjadinya
reaksi obat yang tidak diinginkan. Terdapat beberapa alasan mengapa
reaksi obat yang tidak diharapkan perlu dilaporkan, antara lain pada saat
obat berada pada fase uji klinis, jumlah subjek yang dilibatkan dalam
penelitian tersebut terlalu kecil dibandingkan dengan calon pemakaian
obat tersebut dikemudian hari setelah dipasarkan sehingga masi
memungkinkan untuk timbulnya reaksi yang tidak terdeteksi selama uji
klinis dilakukan.
Pelaporan spontan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
dilaporkan sebagai artikel dalam suatu jurnal, dilaporkan keprodusennya,
dilaporkan secara nasional dengan dikoordinasi oleh suatu badan
pemerintah atau dapat juga dilaporkan secara lokal disetiap rumah sakit.
Di Indonesia telah dibuat metode pelaporan melalui Formulir Monitoring
Efek Samping obat yang yang dikelolah oleh badan pengawasan obat dan
makanan (Badan POM).
II.8 Ciri-ciri Program ROTD
Sebuah

program

pelaporan

dan

monitoring

ROTD

yang

komprehensif harus menjadi bagian integral dari organisasi sistem


penggunaan obat keseluruhan. Program pelaporan dan monitoring ROTD
harus mencakup beberapa ciri berikut :

30

1. Program ini harus membentuk :

a. Sistem pengawasan berkelanjutan dan bersamaan (selama terapi


obat) berdasarkan pada pelaporan dugaan ROTD oleh apoteker,
dokter, perawat ataupun pasien.
b. Sistem pengawasan prospektif (sebelum terapi obat) untuk obat
beresiko tinggi atau pasien dengan resiko tinggi untuk ROTD.
c. Sistem pengawasan bersamaan untuk memantau penggunaan
berbagai obat penelusur (tracer) yang digunakan mengobati
ROTD yang biasa (misalnya, order untuk dosis segera dari
antihistamin, epinefrin dan kortikosteroid), penghentian tiba-tiba
atau penurunan dosis obat, atau perencanaan pesanan untuk
penilaian laboratorium dari kadar obat terapetik.
2. Dokter penulis resep, pengasuh dan pasien harus diberi tahu tentang
ROTD yang dicurigai
3. Informasi mengenai ROTD yang dicurigai harus dilaporkan kepada

Instalasi Farmasi Rumah Sakit untuk pengumpulan dan analisis data


yang lengkap, mencakup nama pasien, riwayat medis dan pengobatan
pasien, deskripsi dari ROTD yang dicurigai, rentetan kejadian
sementara, setiap pengobatan penyembuhan yang diperlukan dan
akibatnya
4. Pasien beresiko tinggi harus diidentifikasi dan dipantau. Pasien

beresiko tinggi termasuk tapi tidak terbatas pada pasien pediatric,


geriatric, pasien dengan kegagalan organ (gagal ginjal atau hati) dan
pasien yang menerima beberapa obat.
5. Obat-obatan yang mungkin menyebabkan ROTD (obat beresiko tinggi)

harus diidentifikasi, dan penggunaannya harus dipantau. Contoh obat


yang dapat dianggap sebagai berisiko tinggi termasuk aminoglikosida,

31

amfoterisin, antineoplastics, kortikosteroid, digoxin, heparin, lidocaine,


fenitoin, teofilin, agen trombolitik, dan warfarin.
dari setiap ROTD yang dicurigai

6. Penyebab

harus dievaluasi

berdasarkan riwayat medis dan pengobatan pasien, keadaan yang


merugikan, akibat penarikan tantangan (dechallenge) dan tantang
kembali (rechallenge) (jika ada), etiologi alternatif dan suatu kajian
pustaka.
7. Sebuah metode untuk menetapkan probabilitas ROTD yang dicurigai

atau dilaporkan (misalnya dikonfirmasi atau dipastikan, sangat


mungkin, mungkin, dan tidak mungkin) harus dikembangkan untuk
mengkategorikan setiap ROTD. Algoritma mungkin berguna dalam
membangun penyebab ROTD dicurigai. Pertanyaan subyektif dan
penilaian profesional apoteker dapat digunakan sebagai alat tambahan
untuk menentukan probabilitas/kemungkinan dari ROTD. Pertanyaan
mungkin mencakup berikut:
a. Apakah ada hubungan temporal antara onset terapi obat dengan
ROTD?
b. Apakah ada perubahan misalnya tanda dan gejala ROTD mereda
ketika obat itu ditarik?
c. Dapatkah tanda dan gejala ROTD dijelaskan oleh keadaan
penyakit pasien?
d. Apakah ada tes laboratorium yang menyediakan bukti reaksi
menjadi ROTD?
e. Apa pengalaman umum pasien sebelumnya dengan obat?
f. Apakah gejala kembali ketika agen itu diberikan lagi?
8. Sebuah metode untuk peringkat ROTD berdasarkan tingkat keparahan
harus ditetapkan.

32

9. Penjelasan setiap ROTD yang dicurigai dan akibatnya tersebut harus

didokumentasikan dalam rekam medis pasien.


10. ROTD serius atau tak terduga harus dilaporkan kepada Food and

Drug Administration (FDA) atau produsen obat (atau keduanya).


11. Semua laporan ROTD harus ditinjau dan dievaluasi oleh komite

multidisiplin yang ditunjuk (misalnya komite farmasi dan terapetik).


12. Informasi laporan ROTD harus disebarkan kepada anggota staf
profesional pelayanan kesehatan untuk maksud edukasi. Kerahasiaan
pasien harus dilindungi
13. Jika memungkinkan komite atau tim ROTD terkoordinasi farmasi, yang

terdiri

dari

dokter,

perawat,

pemimpin

peningkatan

kualitas,

administrator, dan apoteker direkomendasikan. Tim harus dibebankan


dengan

mengadopsi

definisi

bagi

organisasi,

mempromosikan

kesadaran akan konsekuensi ROTD, membangun mekanisme untuk


mengidentifikasi dan melaporkan ROTD, meninjau pola atau tren
ROTD, dan mengembangkan intervensi preventif dan korektif.
14. Pemantauan terus menerus dari hasil pasien dan pola ROTD sangat
penting. Temuan dari program pelaporan dan peninjauan ROTD harus
disatukan dalam kegiatan peningkatan kualitas organisasi yang
sedang berlangsung. Proses harus mencakup sebagai berikut:
a. Umpan balik kepada semua staf pelayanan kesehatan yang sesuai
b. Pemantauan terus menerus untuk kecenderungan, kelompok atau
individual signifikan ROTD
c. Upaya pendidikan untuk pencegahan ADR, dan
d. Evaluasi pola peresepan, pemantauan pasien praktek, hasil pasien,
dan efek program ROTD pada hasil keseluruhan dan individu
pasien

33

II.9 Manfaat Program Pelaporan dan Pemantauan ROTD


Suatu program pemantauan dan pelaporan ROTD yang terus
menerus dapat memberikan manfaat yang membantu untuk:
1. Memberikan suatu ukuran mutu pelayanan farmasi melalui identifikasi
ROTD yang dapat dicegah dan pengawasan antisipasi

untuk obat

atau apsien beresiko tinggi


2. Melengkapi kegiatan manajemen resiko organisasi dan usaha untuk
meminimalkan pertanggungjawaban.
3. Mengkaji keamanan terapi obat, terutama obat baru
4. Mengukur laju kejadian ROTD sepanjang waktu
5. Memberi edukasi bagi profesional kesehatan tentang efek obat dan
meningkatkan kewaspadaan mereka terkait dengan ROTD
6. Menyediakan berbagai temuan penapisan jaminan mutu untuk
digunakan dalam program evaluasi penggunaan obat
7. Mengukur dampak ekonomi dari pencegahan ROTD sebagaimana
yang terwujud melalui pengurangan rawat inap, penggunaan obat
optimal dan ekonomis, dan meminimalkan tanggung jawab organisasi.
II.10 Peranan Apoteker
II.10.1 Tanggung Jawab Memberi Pelayanan Profesional
Apoteker berada pada persimpangan jalan dari terapi obat dan
mereka mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan
profesional kepada pasien penerima obat yang ditulis dokter dan juga
kepada pasien pengobatan sendiri dengan obat tanpa resep. Tidak ada
orang lain yang dilatih serupa, untuk mengetahui kerja, interaksi, efek
samping, dan bahan-bahan untuk rentang pengobatan yang begitu luas.
Peranan apoteker berlanjut untuk mengubah dan dalam banyak rumah

34

sakit, apoteker mempunyai pengaruh yang besar pada seleksi obat dan
pemberian

obat.

Melalui

perkembangan

dan

penerapan

sistem

penghantaran obat yang disempurnakan pada pelayanan farmakokinetik,


apoteker telah membuat kemajuan pesat dalam mengurangi kesalahan
obat dan pencegahan ROTD.

II.10.2 Evaluasi Obat Baru


Di berbagai rumah sakit banyak apoteker berpartisipasi langsung
dalam mengevaluasi obat baru untuk memastikan bahwa zat yang paling
efektif dan paling murah tercantum dalam formularium rumah sakit.
Apoteker yang telah praktik di rumah sakit, bertanggung jawab untuk
mengadakan prosedur terdokumentasi untuk perekaman dan pelaporan
ROTD.
II.10.3 Edukasi Masyarakat
Apoteker diminta secara meningkat untuk mengambil peranan yang
lebih aktif dalam edukasi masyarakat, mengenai penggunaan obat yang
aman dan efektif. Tanggung jawab yang baru ini akan dilakukan melalui
komunikasi verbal yang meningkat dan juga melalui materi tertulis, dibantu
dengan komputer. Selain itu, diharapkan juga bahwa perangkat lunak
komputer baru akan tersedia, guna menapis regimen pasien untuk
interaksi obat-obat, obat-makanan, dan obat-penyakit yang mungkin juga
dapat diharapkan bahwa apoteker berpengetahuan dalam bidang ROTD
akan memiliki peluang yang luas, untuk berpartisipasi dalam program

35

surveilan pascapemasaran dan pemantauan untuk pencegahan penyakit


yang diimbas obat.
II.10.4 Kepemimpinan
Apoteker harus menggunakan kepemimpinan dalam pengadaan,
pemeliharaan, dan evaluasi terus-menerus program ROTD serta harus
memperoleh pengesahan formal atau persetujuan terhadap program
demikian, melalui PFT, komite medik, dan pimpinan rumah sakit.
II.10.5 Kemudahan
Apoteker harus memberi kemudahan dalam :
1. Menganalisa setiap ROTD
2. Mengidentifikasi obat dan pasien beresiko tinggi
3. Mengembangkan kebijakan dan prosedur untuk program pemantauan
serta pelaporan ROTD.
4. Menguraikan tanggung jawab dan interaksi apoteker, dokter, perawat,
profesional kesehatan lain, serta manajer risiko dalam program ROTD
5. Menggunakan program ROTD untuk maksud edukasi.
6. Mengembangkan, memelihara, dan mengevaluasi rekaman ROTD
dalam rumah sakit.
7. Penyebaran organisasi dan penggunaan informasi yang diperoleh
melalui program ROTD.
8. Melaporkan ROTD yang serius kepada Badan POM atau pabrik (atau
keduanya)
9. Publikasi dan presentasi ROTD yang penting kepada komunitas
medis.
II.11 Studi Kasus
Kasus I

36

Bapak PG baru-baru ini didiagnosis menderita penyakit Parkinson.


Ia telah meminum kapsul levodopa/benserazide (Madopar) 125 mg
sehari tiga kali selama 14 hari. Ia merasa sangat mual dan telah muntah
sebanyak 3 kali selama beberapa hari terakhir. Gejala-gejala yang
dirasakan bapak PG sangat mengganggunya sehingga ia bertanya
kepada anda apakah boleh menghentikan pengobatan tersebut.
Pertanyaan
Anda menduga Bapak PG mengalami reaksi obat yang tidak
diinginkan. Apa yang sebenarnya terjadi pada ROTD yang dialami bapak
PG dan tindakan apa yang disarankan pada dokter yang meresepkan obat
tersebut?
Jawaban
Mual dan muntah sering terjadi sebagai ROTD pada terapi
levodopa. Hal ini terjadi sebagai hasil pembentukan dopamine diperifer.
Dapat disarankan agar obat digunakan setelah makan dan disarankan
juga untuk meresepkan obat antimuntah. Domperidon merupakan obat
pilihan untuk mual dan muntah yang dipicu oleh levodopa.
Kasus II
Telah dilakukan penelitian

dengan judul Adverse drug reaction

profile of oseltamivir in Indian population: A prospective observational


study (Anovadiya et al., 2011). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis
pola reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) dari oseltamivir dan
membandingkannya dengan data yang tersedia.

37

H1N1 influenza A (flu babi) telah menyebabkan alarm pandemi


utama. Pada tanggal 11 Juni 2009, WHO meningkatkan kewaspadaan
pandemi ke level tertinggi, fase 6, yang menunjukkan transmisi pada
masyarakat luas pada setidaknya dua benua. Kasus pertama influenza A
H1N1 dilaporkan di California, Amerika Serikat, diikuti oleh ratusan kasus
di Meksiko. Di India, kasus pertama H1N1 influenza A didiagnosis 16 Mei
2009 di New Delhi dan dalam satu tahun kejadian tersebut, kasus positif
jumlah H1N1 influenza A mencapai 31.826, menyebabkan 1.509 kematian. Urutan genetik dari virus influenza H1N1 yang baru menunjukkan
segmen dari empat virus influenza, yaitu North American Swine, North
American Avian, Human Influenza and Eurasian Swine.
Penyebaran virus di antara populasi manusia umumnya terjadi
melalui bersin dan batuk melalui partikel aerosol besar serta melalui
kontak dengan permukaan yang telah terkontaminasi dengan tetesan
pernapasan. Masa inkubasi infeksi H1N1 berkisar dari 1 sampai 4 hari.
Pada manusia, gejala sering diamati meliputi demam mendadak (94%),
batuk (92%), sakit tenggorokan (66%), running nose, dan sakit pada
badan. Sejumlah besar diare (25%) dan muntah (25%).

Aborsi dan

kelahiran prematur juga telah dilaporkan pada wanita hamil, terutama


yang mengalami pneumonia.
Oseltamivir dan zanamivir adalah obat antiviral yang tersedia untuk
profilaksis maupun terapi dari H1N1 influenza. Namun diantara kedua
obat tersebut, oseltamivir

dipandang sebagai obat yang paling cocok

38

sebab dapat diberikan secara oral, sedangkan zanamivir harus diberikan


dalam bentuk sediaan inhalasi. Oseltamivir adalah enzim inhibitor
neuraminidase selektif yang ampuh, yang bertanggung jawab untuk
membelah residu asam sialat pada virion baru yang terbentuk dan sangat
penting untuk pelepasan partikel virus baru yang terbentuk dari sel yang
terinfeksi. Dengan demikian, dengan memblokir enzim ini oseltamivir
menghambat pelepasan virion progeni dari sel yang terinfeksi, sehingga
dapat mencegah dan mengobati infeksi. Regimen terapi yang disarankan
adalah 75 mg dua kali sehari selama 5 hari, sedangkan untuk profilaksis
75 mg sekali sehari selama setidaknya satu minggu. Reaksi obat yang
tidak dikehendaki (ROTD) yang umumnya ditemukan dalam percobaan
tahap III oseltamivir adalah mual, muntah, diare, sakit perut, bronkitis,
pusing, vertigo, kelelahan, dan sakit kepala.
Penelitian prospektif dilakukan di Rumah Sakit Umum Sir
Takhtsinhji terikat pada Goverment Medical College, Bhavnagar, Gujarat,
India antara Oktober 2009 dan April 2010 selama wabah H1N1 influenza
A. Kasus yang dicurigai ataupun telah dikonfirmasi H1N1 influenza A pada
regimen terapi dan kontak langsung terhadap kasus H1N1 influenza A
pada regimen profilaksis oseltamivir dimasukkan ke sebagai data dalam
penelitian ini. Oseltamivir diberikan 75 mg sekali sehari selama 10 hari
dalam kelompok profilaksis dan 75 mg dua kali sehari selama 5 hari dalam
kelompok terapi.

Berdasarkan hasil

penelitian

tersebut,

diperoleh

kesimpulan keparahan ROTD secara signifikan lebih tinggi pada kelompok

39

terapi. Sebagian besar ROTD berada dalam kategori nonpreventable


(tidak dapat dicegah), kecuali gastritis, mual dan muntah berada dalam
kategori pasti dapat dicegah.
Oseltamivir ditoleransi dengan baik pada populasi India. Efek
samping gastrointestinal merupakan yang paling umum dan ROTD ini
dapat dicegah. Pencegahan dapat dilakukan dengan mudah yaitu dengan
mengonsumsi obat setelah makan atau dengan mengunakan antagonis
reseptor H2 dan antasida.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
ROTD adalah setiap efek yang tidak diinginkan dari obat yang
timbul pada pemberian obat dengan dosis yang digunakan untuk
profilaksis, diagnosis dan terapi. Beberapa reaksi obat dapat timbul pada
semua orang, sedangkan lainnya hanya dapat timbul pada orang yang
suspectible. Mekanisme pasti reaksi obat yang menimbulkan ROTD belum
jelas diketahui.
Dengan bekal pengetahuan yang dimiliki, farmasi merupakan
tenaga kesehatan yang paling tepat untuk mencegah, mendeteksi,
menangani ROTD pada pasien mereka. Pemeriksaan resep, merespon
gejalah-gejalah serta pelaporan spontan reaksi yang diduga sebagai
ROTD merupakan aktivitas-aktivitas yang farmasis sebaiknya terlibat.
Keterlibatan farmasis dalam aktivitas tersebut akan dapat meningkatkan
kualitas layanan kefarmasian serta menurunkan biaya layanan kesehatan.
III.2 Saran
Apoteker dalam sistem pelayanan kesehatan yang terorganisir
sebaiknya mengembangkan program terus menerus yang komprehensif
untuk pemantauan dan pelaporan ROTD. Ini adalah tanggung jawab
apoteker dan kewajiban profesional untuk melaporkan setiap dugaan
ROTD.

40

41

DAFTAR PUSTAKA
1. Aslam M, Tan CK, Prayitno A. Farmasi Klinis: Menuju Pengobatan
Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien. PT. Elex Media
Komputindo. Jakarta. 2003.
2. Edwards IR, Aronson JK. Adverse Drug Reactions: Definitions,
Diagnosis, and Management. The Lancet Vol.356. October 7th. 2000.
3. Mariyono HH, Suryana K. Adverse Drug Reaction. Bagian/SMF Ilmu
Penyakit Dalam FK Unud/ RSUP Sanglah. Denpasar. Jurnal Penyakit
Dalam, Volume 9 Nomor 2 Mei 2008.
4. Christianie M, Setiati S, Trisna Y, dan Andrajati R. Kejadian Reaksi
Obat yang Tidak Dikehendaki yang Menyebabkan Pasien Usia Lanjut
Dirawat di Ruang Perawatan Penyakit dalam Instalasi Rawat Inap B
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Majalah Ilmu Kefarmasian.
Jakarta. Vol. V, No.3 Desember 2008.
5. Farcas A, Bojita M. Adverse Drug Reactions in Clinical Practice: a
Causality Assessment of a Case of Drug-Induced Pancreatitis. Drug
Information Research Centre, University of Medicine and Pharmacy
Cluj-Napoca, Romania.
6. American Society of Health-System Pharmacists. ASHP guidelines on
adverse drug reaction monitoring and reporting. Am J Health-Syst
Pharm. 1995; 52:4179.
7. Ashish P. A., Manish J. B., Rajesh A. S., Vishal M. G., Jayesh J. S.,
Tejas K. P., dan Tripathi C. B.. 2011. Adverse Drug Reaction Profile Of
Oseltamivir In Indian Population: A Prospective Observational Study.
Indian J Pharmacol. 2011 May-Jun; 43(3): 258261

42

HASIL DISKUSI
1. Alasan mengapa harus dilakukan pemantauan dan pengawasan
ROTD ? (Tabran)
Jawab :
Masalah ROTD perlu
memperburuk

penyakit

permasalahan

baru,

mendapatkan perhatian karena dapat


dasar

yang

menyebabkan

akan

diobati,

penurunan

menambah

kualitas

hidup,

peningkatan kunjungan ke dokter, perawatan di rumah sakit dan


bahkan kematian. Peran fundamental farmasis adalah mengidentifikasi
ROTD yang potensial maupun aktual, memecahkan masalah ROTD
aktual, dan mencegah ROTD yang potensial terjadi sehingga farmasis
bertanggung

jawab

dalam

pengembangan

program

deteksi,

pemantauan dan pelaporan ROTD.


Suatu program pemantauan dan pelaporan ROTD yang terus
menerus dapat memberikan manfaat yang membantu untuk:
a) Memberikan suatu ukuran mutu pelayanan farmasi melalui
identifikasi ROTD yang dapat dicegah dan pengawasan antisipasi
untuk obat atau apsien beresiko tinggi
b) Melengkapi kegiatan manajemen resiko organisasi dan usaha
untuk meminimalkan pertanggungjawaban.
c) Mengkaji keamanan terapi obat, terutama obat baru
d) Mengukur laju kejadian ROTD sepanjang waktu
e) Memberi edukasi bagi profesional kesehatan tentang efek obat dan
meningkatkan kewaspadaan mereka terkait dengan ROTD
f) Menyediakan berbagai temuan penapisan jaminan mutu untuk
digunakan dalam program evaluasi penggunaan obat
g) Mengukur dampak ekonomi dari pencegahan ROTD sebagaimana
yang terwujud melalui pengurangan rawat inap, penggunaan obat
optimal dan ekonomis, dan meminimalkan tanggung jawab
organisasi.

43

2. Apa yang dimaksud dengan pengawasan prospektif ? Mengapa


perempuan lebih beresiko mengalami ROTD ? (Yani Pratiwi)
Jawab :
Sebuah program pelaporan dan monitoring ROTD

yang

komprehensif harus menjadi bagian integral dari organisasi sistem


penggunaan obat keseluruhan. Salah satu ciri dari program pelaporan
dan monitoring ROTD yakni harus membentuk :
a) Sistem pengawasan berkelanjutan dan bersamaan yakni sistem
yang dilakukan selama terapi obat berdasarkan pada pelaporan
dugaan ROTD oleh apoteker, dokter, perawat ataupun pasien.
b) Sistem pengawasan prospektif yakni sistem pengawasan yang
dilakukan sebelum pemberian terapi obat yang ditujukan untuk obat
beresiko tinggi atau pasien dengan resiko tinggi untuk ROTD.
c) Sistem pengawasan bersamaan untuk memantau penggunaan
berbagai obat penelusur (tracer) yang digunakan mengobati
ROTD yang biasa (misalnya, order untuk dosis segera dari
antihistamin, epinefrin dan kortikosteroid), penghentian tiba-tiba
atau penurunan dosis obat, atau perencanaan pesanan untuk
penilaian laboratorium dari kadar obat terapetik.
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya
reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) yaitu : polifarmasi, jenis
kelamin, kondisi penyakit yang diderita, usia, ras, dan polimorfisa
genetik serta ketidakpatuhan pasien. Faktor jenis kelamin menyatakan
bahwa ROTD lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.
Namun belum ada penjelasan tentang mengapa hal ini bisa terjadi.
Contoh dalam praktik dapat dilihat bahwa wanita lebih cenderung
mengalami ROTD akibat digoksin, kaptopril, dan heparin. Di samping

44

ituwanita

lebih

mudah

mengalami

kelainan

sel

darah

(blood

dyscrasias) bila menggunakan fnilbutazon dan kloramfenikol


3. Bagaimana membedakan ROTD dengan efek samping obat ?
(Srimaladewi Sari B.)
Jawab :
ROTD adalah respons terhadap obat yang membahayakan atau
tidak diharapkan yang terjadi pada dosis lazim dan dipakai oleh
manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis maupun terapi. ROTD
dalam segi praktis klinis dapat diklasifikasikan untuk memudahkan
dalam mengetahui terjadi ROTD pada penggunaan obat dalam praktek
sehari-hari, salah satu klasifikasi yang dapat digunakan adalah:
Reaksi yang dapat timbul pada setiap orang:
d. Overdosis obat: efek farmakologis toksik yang timbul pada
pemberian obat yang timbul akibat kelebihan dosis ataupun karena
gangguan ekskresi obat
e. Efek samping obat: efek farmakologis yang tidak diinginkan yang
timbul pada dosis terrekomendasi.
f. Interaksi obat: aksi farmakologis obat pada efektivitas maupun
toksisitas obat yang lain.
Jadi efek samping obat merupakan salah satu klasifikasi dari reaksi
obat yang tidak dikehendaki (ROTD).
4. Dalam penerapan pencegahan ROTD, apakah ada penggolongan
untuk pasiennya? Apakah ada pencegahan untuk pasien yang baru
pertama kali menggunakan suatu obat? (Ade Suciadi Emal)
Jawab :

45

Pencegahan

ROTD

tidak

dapat

digolongkan

berdasarkan

pasiennya tapi dapat digolongkan berdasarkan pemantauan terhadap


pasien dan penggunaan obat yaiitu:
1) Antisipasi dengan pemantauan pasien
Sebenarnya, lebih diinginkan

untuk

mencegah

atau

meminimalkan akibat suatu ROTD. Hal ini dilakukan dengan


mengkaji pasien dan mengantisipasi ROTD yang mungkin dapat
terjadi

dalam

pasien.

Misalnya,

beberapa

obat

tertentu

menyebabkan anemia hemolitik pada pasien yang kekurangan


glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD). Pasien dengan risiko
tinggi untuk kondisi ini perlu ditapis untuk kerja G6PD sebelum
pemberian suatu obat yang kemungkinan besar menyebabkan
ROTD.
2) Antisipasi pengurangan dosis
Pengurangan dosis sebelum memulai terapi perlu diantisipasi
untuk pasien tertentu. Misalnya, pasien dengan fungsi ginjal yang
rusak, baik disebabkan penyakit ataupun karena usia lanjut, harus
menerima dosis yang dikurangi dari tiap obat yang diekskresi tidak
berubah dalam urin. Pengurangan dosis obat yang dikeluarkan
melalui ginjal dan didasarkan perkiraan bersihan kreatinin,
dimaksudkan untuk mencegah atau meminimalkan ROTD yang
berkaitan dengan obat tersebut.
3) Pemantauan kadar serum obat
Banyak ROTD dikaitkan dengan kadar serum obat. Contoh,
obat-obat ini adalah teofilin, antikonvulsan, antiaritmia, asetosal,
dan

aminoglikosida.

Pemantauan

yang

tepat

kadar

serum

46

menggunakan asas farmakokinetik dasar akan mencegah banyak


ROTD yang disebabkan oleh kadar di luar rentang terapi.
4) Pemantauan kerja farmakologi
ROTD berkaitan dengan banyak obat. ROTD

dapat

memperpanjang sifat farmakologi obat-obat tersebut. Misalnya,


diuretika diberikan untuk meningkatkan pengeluaran garam dan air,
tetapi dapat menyebabkan kehabisan elektrolit dan dehidrasi.
Warfarin diberikan sebagai suatu antikoagulan, tetapi dapat
menyebabkan pendarahan. Pencegahan efek toksis demikian
mencakup penetapan titik akhir terapi dan seleksi teknik, serta
frekuensi pemantauan yang tepat guna memastikan bahwa titik
akhir tidak dilewati.
British

National

Formulary

mendeskripsikan

beberapa

cara

mencegah reaksi yang tidak diinginkan :


1) Jangan menggunakan obat bila tidak diindikasikan dengan jelas.
Jika pasien sedang hamil, jangan gunakan obat kecuali benarbenar diperlukan.
2) Alergi dan idiosinkrasi merupakan penyebab penting ROTD.
Tanyakan apakah pasien pernah mengalami reaksi sebelumnya.
3) Tanyakan jika pasien sedang menggunkan obat-obatan lainnya
termasuk obat yang dipakai sebagai swamedikasi; hal ini dapat
menimbulkan interaksi obat.
4) Usia dan penyakit hati atau ginjal dapat mengubah metabolisme
dan eksresi obat sehingga dosis yang lebih kecil diperlukan. Faktor
genetik

mungkin

juga

berpengaruh

pada

variasi

metabolisme, khususnya isoniazid dan antidepresan trisiklik.

dalam

47

5) Resepkan obat sesedikit mungkin dan berikan petunjuk yang jelas


kepada pasien lanjut usia dan pasien yang kurang memahami
petunjuk yang rumit.
6) Jika memungkinkan gunakaan obat yang sudah dikenal. Dengan
menggunakan suatu obat yang baru perlu waspada akan timbulnya
ROTD atau kejadiaan yang tidak diharapkan.
7) Jika kemungkinan terjadi ROTD yang serius, pasien perlu
diperingatkan.

Anda mungkin juga menyukai