Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Latar Belakang
Anatomi Traktus Urinarius
1. Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak dirongga
retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi
cekungnya menghadap ke medial. Pada sisi ini terdapat hilus ginjal
yaitu tempat struktur-struktur pembuluh darah, sistem limfatik, sistem
saraf, dan ureter menuju dan meninggalkan ginjal.
Besar dan berat ginjal sangat bervariasi ; hal ini tergantung pada
jenis kelamin, umur, serta ada tidaknya ginjal pada sisi yang lain. Pada
autopsi klinis didapatkan bahwa ukuran ginjal orang dewasa rata-rata
adalah 11.5 cm x 6 cm x 3.5 cm. Beratnya bervariasi antara 120-170
gram atau kurang lebih 0.4% dari berat badan. 1,2,3
Struktur di Sekitar Ginjal, ginjal dibungkus oleh jaringan fibrus
tipis dan mengkilat yang disebut kapsula fibrosa (true kapsul) ginjal
dan diuar kapsul ini terdapat jaringan lemak perirenal. Di sebelah
kranial ginjal terdapat kelenjar anak ginjal atau glandula adrenal /
suprarenal yang berwarna kuning. Kelenjar adrenal bersama-sama
ginjal dan jaringan lemak perirenal dibungkus oleh fasia Gerota. Fasia
ini berfungsi sebagai barier yang menghambat meluasnya perdarahan
dari parenkim ginjal serta mencegah ekstravasasi urine pada saat
terjadi trauma ginjal. Selain itu fasia Gerota dapat pula berfungsi
sebagai

barier

dalam

menghambat

penyebaran

infeksi

atau

menghambat metastasis tumor ginjal ke organ sekitarnya. Di luar fasia


Gerota terdapat jarinagan lemak retroperitoneal atau disebut jaringan
lemak para renal.Di sebelah posterior, Ginjal dilindungi oleh otot-otot
punggung yang tebal serta tulang rusuk ke XI dan XII sedangkan
disebelah anterior dilindungi oleh organ-organ intraperitoneal. Ginjal
kanan dikelilingi oleh hepar, kolon, dan duodenum; sedangkan ginjal
kiri dikelilingi oleh lien, lambung, pankreas, jejenum, dan kolon. 4,5
3

Struktur Ginjal
Secara anatomis ginjal terbagi menjadi dua bagian yaitu korteks dan
medulla ginjal. Di dalam korteks terdapat berjuta-juta nefron
sedangkan di dalam medula banyak terdapat duktuli ginjal. Nefron
adalah unit fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri atas, tubulus
kontortus proksimal, tubulus kontortus distalis, dan duktus kolegentes.
Darah yang membawa sisa-sisa hasil metabolisme tubuh difiltrasi di
dalam glomeruli kemudian di tubuli ginjal, beberapa zat yang masih
diperlukan tubuh mengalami reabsorbsi dan zat-zat hasil sisa
metabolisme mengalami sekresi bersama air membentuk urine. Setiap
hari tidak kurang 180 liter cairan tubuh difiltrasi di glomerulus dan
menghasilkan urine 1-2 liter. Urine yang terbentuk di dalam nefron
disalurkan melalui piramida ke sistem pelvikalikes ginjal untuk
kemudian disalurkan ke dalam ureter. Sistem pelvikalikes ginjal terdiri
atas kaliks minor, infundibulum, kaliks mayor, dan pielum/pelvis
renalis. Mukosa sistem pelvikalikes terdiri atas epitel transisional dan
dindingnya terdiri atas otot polos yang mampu berkontraksi untuk
mengalirkan urine sampai ke ureter. 1
Vaskularisasi Ginjal
Ginjal mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan
cabang langsung dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena
dialirkan melalui vena sentralis yang bermuara ke dalam vena kava
inferior. Sistem arteri ginjal adalah end arteri yaitu arteri yang tidak
mempunyai anstomosis dengan cabang-cabang dari arteri lain,
sehingga jika terdapat kerusakan pada salah satu cabang arteri ini,
berakibat timbulnya iskemia/nekrosis pada daerah yang dilayaninya. 1

2. Ureter
Ureter adalah organ yang berbentuk tabung kecil yang berfungsi
mengalirkan urine dari pielum ginjal ke dalam buli-buli. Pada orang
dewasa panjangnya kurang lebih 20 cm. Dindingnya terdiri atas
4

mukosa yang dilapisi oleh sel-sel transisional, otot-otot polos sirkuler


dan longitudinal yang dapat melakukan gerakan peristaltik guna
mengeluarkan urine ke buli-buli. Sepanjang perjalanan ureter dari
pielum menuju buli-buli, secara anatomis terdapat beberapa tempat
yang ukuran diameternya relatif lebih sempit daripada ditempat lain,
sehingga batu atau benda-benda lain yang berasal dari ginjal seringkali
tersangkut di tempat itu. Tempat-tempat penyempitan itu antara lain
adalah : pada perbatasan antara pelvis renalis dan ureter, tempat arteri
menyilang arteri iliaka di rongga pelvis, dan pada saat ureter masuk ke
buli-buli (intramural). Keadaan ini dapat mencegah terjadinya aliran
balik urine dari buli-buli ke ureter pada saat buli-buli berkontraksi.
Untuk kepentingan radiologi dan kepentingan pembedahan, ureter
dibagi dua bagian yaitu : ureter pars abdominalis, yaitu yang berada
dari pelvis renalis sampai menyilang vasa iliaka, dan ureter pars
pelvika, yaitu mulai dari persilangan dengan vasa iliaka sampai masuk
ke buli-buli. Di amping itu secara radiologis ureter dibagi dalam tiga
bagian, yaitu ureter 1/3 proksimal mulai dari pelvis renalis sampai
batas atas sakrum, ureter 1/3 medial mulai dari batas atas sakrum
smpai pada batas bawah sakrum, dan ureter 1/3 distal mulai batas
bawah sakrum sampai masuk ke buli-buli. 5,6
3. Buli-buli
Buli-buli adalah organ berongga yang terdiri atas tiga lapis otot
detrusor yang saling beranyaman. Di sebelah dalam adalah otot
longitudinal, di tengah merupakan otot sirkuler, dan paling luar
merupakan otot longitudinal. Mukosa buli-buli terdiri atas sel-sel
transisional yang sama seperti pada mukosa-mukosa pada pelvis
renalis, ureter, dan uretra posterior. Pada dasar buli-buli kedua muara
ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang
trigonum buli-buli. 5
Secara anatomi bentuk buli-buli terdiri atas 3 permukaan, yaitu
permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum, dua
permukaan inferolateral, dan permukaan posterior. Permukaan
superior merupakan likus minoris dinding buli-buli. Pada saat
5

kososng, buli-buli terletak di belakang simfisis pubis dan pada saat


penuh berada di atas simfisis sehingga dapat dipalpasi dan diperkusi.
Buli-buli yang terisi penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen
dan menyebabkan aktivasi pusat miksi di medula spinalis segmen
sakral S2-4.Hal ini akan menyebabkan kontraksi otot dtrusor,
terbukanya leher buli-buli, dan relaksasi sfingter uretra sehingga
terjadilah proses miksi.8
4. Urethra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica
urinaria menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra
pada pria dan wanita. Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm
dan juga berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan
kelenjar prostat), sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3.5
cm. selain itu, Pria memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter
interna (otot polos terusan dari m.detrusor dan bersifat involunter) dan
m.sphincter externa (di uretra pars membranosa, bersifat volunter),
sedangkan pada wanita hanya memiliki m.sphincter externa (distal
inferior dari kandung kemih dan bersifat volunter).Pada pria, uretra
dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars membranosa
dan pars spongiosa. 1,3,4
a.

Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum


vesicae dan aspek superior kelenjar prostat. Pars preprostatika dikelilingi otot m. sphincter urethrae internal yang
berlanjut dengan kapsul kelenjar prostat. Bagian ini disuplai
oleh persarafan simpatis.

b.

Pars

prostatika

(3-4

cm),

merupakan

bagian

yang

melewati/menembus kelenjar prostat. Bagian ini dapat lebih


dapat berdilatasi/melebar dibanding bagian lainnya.
c.

Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang


terpendek dan tersempit. Bagian ini menghubungkan dari
prostat menuju bulbus penis melintasi diafragma urogenital.

Diliputi otot polos dan di luarnya oleh m.sphincter urethrae


eksternal yang berada di bawah kendali volunter (somatis).
d.

Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling


panjang,

membentang

dari

pars

membranosa

sampai

orifisium di ujung kelenjar penis. Bagian ini dilapisi oleh


korpus spongiosum di bagian luarnya.

Sumber :http://mekar-wijaya.blogspot.com/2009/12/traktus urinarius.

2.2

Definisi
Obstruksi traktus urinarus terjadi pada traktus urinarius, termasuk pelvis
renalis, ureter, buli-buli dan urethra. Kondisi ini terjadi bila bagian dari
traktus urinarus mengalami obstruksi, sehingga aliran urin dari ginjal
terhambat. 1,3

2.3

Etiologi
Obstruksi dari aliran urin dapat terjadi di mana saja dari ginjal sampai
meatus urethra. Secara anatomis terdapat beberapa tempat yang ukuran
diameternya relatif lebih sempit daripada ditempat lain, sehingga batu atau
benda-benda lain yang berasal dari ginjal seringkali tersangkut di tempat
itu. Tempat-tempat penyempitan itu antara lain adalah : pada perbatasan
antara pelvis renalis dan ureter (UPJ), tempat arteri menyilang arteri iliaka
di rongga pelvis, dan pada saat ureter masuk ke buli-buli (UVJ). 5,6
Pada perempuan, tempat penyempitannya ada pada ureter distal yang
menyilang secara posterior dari pembuluh darah pelvis dan broad ligament
pada pelvis posterior. Obstruksi traktus urinarius pada perempuan dapat
terjadi bila ureter ditekan dari luar oleh tumor pelvis atau keganasan
gynekologi. Obstruksi traktus urinarius pada perempuan yang lebih tua
paling sering terjadi akibat prolapnya struktur pelvis, seperti uterus dan
buli-buli. Kehamilan dapat menyebabkan obstruksi traktus urinarius pada
perempuan yang lebih muda akibat obstruksi ureter oleh uterus yang
gravid. Pada laki-laki, pembesaran prostat (BPH) dapat menyebabkan
obstruksi traktus urinarius dengan cara mengobstruksi uretra. Striktur
urethra dapat juga menyebabkan obstruksi traktus urinarius.6,7
Laki-laki dan perempuan dapat menderita obstruksi traktus urinarius
yang disebabkan oleh kalkuli, striktur, atau tumor (intrinsik atau
ekstrinsik). Riwayat pasien sangat membantu dalam mencari penyebab dari
obstruksi, yaitu riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu
(diabetes, kalkuli, tumor, radiasi, fibrosis retroperitoneal, penyakit
neurologi), riwayat konsumsi obat-obatan (antara lain, antikolinergik,
narkotik), dan riwayat operasi sebelumnya (operasi pelvis, radiasi).
Seseorang dengan buli-buli neurogenik atau spinkter detrusor dyssinergi
dapat menderita obstruksi buli-buli. 4,6
Obstruksi yang terjadi pada anak kecil biasanya disebabkan oleh
obstruksi pada UPJ atau UVJ, ureter ektopic, ureterocele, megaureter, atau
posterior urethra valves. Pemantauan periode perinatal dengan USG
8

penting dilakukan untuk mengidentifikasi terjadinya obstruksi. Anak-anak


dengan infeksi traktus urinarius perlu segera di tangani karena hal ini dapat
juga menyebabkan obstruksi traktus urinarius. 8
Penyakit yang dapat menyebabkan obstruksi nephropati:
Kidney

Polycystic kidney

Congenital

Renal cyst

Neoplastic

Fibrous obstruction at ureteropelvic junction

Inflammatory

Peripelvic cyst

Metabolic

Aberrant vessel at ureteropelvic junction

Miscellaneous

Wilms tumor
Renal cell carcinoma
Transitional cell carcinoma of the renal pelvis
Multiple myeloma
Tuberculosis
Echinococus infection
Calculi
Sloughed papillae
Trauma

Ureter

Renal artery aneurysm


Stricture

Congenital

Ureterocele

Neoplastic

Ureterovesical reflux

Inflammatory

Ureteral valve

Miscellaneous

Ectopic kidney
Retrocaval ureter
Prune-belly syndrome
Primary carcinoma of ureter
Metastatic carcinoma
Tuberculosis
Schistosomiasis
Abscess
Ureteritis cystica
9

Endometriosis
Retroperitoneal fibrosis
Pelvic lipomatosis
Aortic aneurysm
Radiation therapy
Lymphocele
Trauma
Urinoma
Bladder and urethra

Pregnancy
Posterior uretral valve

Congenital

Phimosis

Neoplastic

Urethral stricture

Inflammatory

Hypospadias and epispadias

Miscellaneous

Hydrocolpos
Bladder carcinoma
Prostate carcinoma
Carcinoma of urethra
Carcinoma of penis
Prostatitis
Paraurethral abscess
Benign prostatic hypertrophy
Neurogenic bladder

10

2.4

Gejala Klinis
Obstruksi traktus urinarius dapat menyebabkan bermacam-macam gejala,
baik itu asimpomatis sampai kolik renal. Hal ini dipengaruhi oleh :
1. Berapa lama obstruksi terjadi (akut atau kronis)
2. Letak obstruksi unilateral atau bilateral
3. Penyebab obstruksi (intrinsik atau ekstrinsik)
4. Obstruksi total atau parsial
Obstruksi akut merupakan salah satu kegawat daruratan urologi yang
paling sering dijumpai diklinik dan praktek dokter. sumbatan ini dapat
terjadi pada system kemih sebelah atas maupun pada saluran kemih bagian
bawah. Pada saluran kemih bagian atas memberikan manifestasi klinis
berupa kolik atau anuria sedangkan pada saluran kemih bagian bawah
berupa retensi urine. 8,9
Kolik ureter atau kolik ginjal
Kolik ureter atau kolik ginjal adalah nyeri pinggang hebat yang datangnya
mendadak, hilang-timbul (intermitten) yang terjadi akibat spasme otot
polos untuk melawan suatu hambatan. Perasaan nyeri bermula di daerah
pinggang dan dapat menjalar ke seluruh perut, ke daerah inguinal, testis,
atau labium. Penyebab sumbatan pada umumnya adalah batu, bekuan darah
atau debris yang berasal dari ginjal dan turun ke ureter. Batu kecil yang
turun ke pertengahan ureter pada umumnya menyebabkan penjalaran nyeri
ke pinggang sebelah lateral dan seluruh perut. Jika batu turun mendekati
buli-buli biasanya disertai dengan keluhan lain berupa sering kencing dan
urgensi. 1
Gambaran klinis
Pasien tampak gelisah, nyeri pinggang, selalu ingin berganti posisi dari
duduk, tidur kemudian berdiri guna memperoleh posisi yang dianggap
tidak nyeri. Denyut nadi meningkat karena kegelisahan dan tekanan darah
meningkat pada pasien yang sebelumnya normotensi. Tidak jarang
dijumpai adanya pernafasan cepat dan grunting terutama pada saat puncak
11

nyeri. Jika disertai demam harus waspada terhadap adanya infeksi yang
serius atau urosepsis. Dalam keadaan ini pasien secepatnya harus dirujuk
karena mungkin memerlukan tindakan drainase urine. Palpasi pada
abdomen dan perkusi pada daerah pinggang akan terasa nyeri.8
Anuria obstruktif
Manifestasi dari sumbatan total aliran urine pada sistem saluran kemih
sebelah atas adalah anuria yaitu berkurangnya produksi urine hingga
kurang dari 200 ml dalam 24 jam. Anuria obstruktif ini terjadi jika terdapat
sumbatan saluran kemih bilateral atau sumbatan saluran kemih unilateral
pada ginjal tunggal. Selain disebabkan oleh adanya sumbatan di saluran
kemih, anuria juga bisa disebabkan oleh : perfusi darah ke jaringan ginjal
yang berkurang (disebut sebagai anuria pre renal) atau kerusakan pada
jaringan ginjal (anuria intrarenal). 4,7,8
Gambaran klinis
Pada anamnesis pasien mengeluh tidak kencing atau kencinga hanya
sedikit, yang kadang kala didahului oleh keluhan obstruksi yang lain, yaitu
nyeri di daerah pinggang atau kolik; dan tidak jarang diikuti dengan
demam. Jika didapatkan riwayat adanya kehilangan cairan, asupan cairan
yang berkurang, atau riwayat menderita penyakit jamtung, harus waspada
adanya faktor penyebab pre renal. Perlu ditanyakan kemungkinan
penggunaan obat-obat nefrotoksik, pemakaian bahan kontras atau foto
radiologi, setelah menjalani radiasi di daerah perut sebelah atas, riwayat
reaksi tramsfusi hemolitik, atau riwayat penyakit ginjal sebelumnya.
Kesemuanya itu untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab intra renal.
Diperiksa keadaan hidrasi pasien dengan mengukur tekanan darah, nadi,
dan perfusinya. Lebih baik jika dapat dipasang manometer tekanan vena
sentral atau CVP sehingga dapat diketahui keadaan hidrasi pasien dengan
tepat dan mudah. Tidak jarang dijumpai pasien datang dengan tanda-tanda
uremia yaitu pernafasan asidosis, demam karena urosepsis atau dehidrasi,
serta tanda-tanda ileus. Palpasi bimanual dan perkusi di daerah pinggang
bertujuan untuk mengetahui adanya nyeri aatau massa pada pinggang
akibat hidro atau pionefrosis. Pada colok dubur atau colok vagina mungkin
12

teraba adanya karsinoma buli-buli, karsinoma prostat, atau karsinoma


serviks stadium lanjut yang membuntu kedua muara ureter.7
Retensi urine
Retensi urine adalah ketidak mampuan seseorang untuk mengeluarkan
urine yang terkumpul di dalam buli-buli hingga kapasitas maksimal bulibuli terlampaui. Proses miksi terjadi karena adanya koordinasi harmonik
antara otot detrusor buli-buli sebagai penampung dan pemompa urine
dengan uretra yang bertindak sebagai pipa untuk menyalurkan urine.
Adanya penyumbatan pada uretra, kontraksi buli-buli yang tidak adekuat,
atau tidak adanya koordinasi antara buli-buli dan uretra dapat menimbulkan
terjadinya retensi urine. 2,4,8
Gambaran klinis
Pasien mengeluh tertahan kencing atau kencing keluar sedikit-sedikit.
keadaan ini harus dibedakan dengan inkontinensia paradoks yaitu
keluarnya urine secara menetes, tanpa disadari, dan tidak mampu ditahan
oleh pasien. Selain itu tampak benjolan kistus pada perut sebelah bawah
dengan disertai rasa nyeri yang hebat.
2.5

Faktor Resiko
1. Usia meningkat pertambahan usia
2. Merokok Fc resiko utama
3. Lingkungan pekerjaan bahan-bahan carsinogenik
4. Infeksi tu : parasit ( Skistosomiosis )
5. Ras Kulit putih >>
6. Obat-obatan ( arsenik0 )
7. Pria lebih banyak dari wanita (dekade 5 -7)
8. Riwayat Keluarga

13

2.6

Diagnosis
1. Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik
Laki-laki dan perempuan dapat menderita obstruksi traktus urinarius
yang disebabkan oleh kalkuli, striktur, atau tumor (intrinsik atau
ekstrinsik). Riwayat pasien sangat membantu dalam mencari penyebab
dari obstruksi, yaitu riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit
dahulu (diabetes, kalkuli, tumor, radiasi, fibrosis retroperitoneal,
penyakit neurologi), riwayat konsumsi obat-obatan (antara lain,
antikolinergik, narkotik), dan riwayat operasi sebelumnya (operasi
pelvis, radiasi). Seseorang dengan buli-buli neurogenik atau spinkter
detrusor dyssinergi dapat menderita obstruksi buli-buli. Pasien tampak
gelisah, nyeri pinggang, selalu ingin berganti posisi dari duduk, tidur
kemudian berdiri guna memperoleh posisi yang dianggap tidak nyeri.
Denyut nadi meningkat karena kegelisahan dan tekanan darah
meningkat pada pasien yang sebelumnya normotensi. Tidak jarang
dijumpai adanya pernafasan cepat dan grunting terutama pada saat
puncak nyeri. Jika disertai demam harus waspada terhadap adanya
infeksi yang serius atau urosepsis. Dalam keadaan ini pasien
secepatnya harus dirujuk karena mungkin memerlukan tindakan
drainase urine. Palpasi pada abdomen dan perkusi pada daerah
pinggang akan terasa nyeri.2,4,8
2. Pemeriksaan laboratorium
Urinalisis:
a.

Urinalisis dapat memberikan informasi mengenai adanya


infeksi atau hematuri

b.

Leukosit pada urin dapat menunjukkan adanya infeksi atau


peradangan

c.

Infeksi ditunjukkan dengan adanya peningkatan dari Nitrit


atau leukosit esterase

14

d.

Semua urinalisis yg leukositnya tinggi atau dengan leukosit


esterase atau nitrit positif maka sebaiknya dilakukan kultur
urine dan di rencanakan diberikan antibiotika

e.

RBC pada urin dapat menunjukkan adanya infeksi, batu atau


tumor. Dokter sebaiknya mengevaluasi pasien dengan
hematuri mikroskopis atau gros hematuri untuk menilai
apakah ada keganasan. Perlu dilakukan pemeriksaan sitologi
urin dan pemeriksaan hematuri yang lebih lanjut (sistokopi,
upper urinary tract imaging)

f.

pH urin sangat berguna untuk menilai adanya batu.3,4

3. Pemeriksaan penunjang
1. Foto polos abdomen
Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat
kemungkinan adanya batu radio-opak di saluran kemih. Batu-batu
jenis kalsium oksalat dan kasium fosfat bersifat radio-opak dan
paling sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu
asam urat bersifat non-opak (radio-lusent). 3,4
2. Urography excretory
IVP adalah pemerikasaan gold standart untuk mendeteksi adanya
obstruksi pada pasien dengan fungsi ginjal yang normal, tidak
alergi dengan kontras dan tidak sedang hamil. IVP dapat menilai
antomi dan fungsi dari organ traktus urinarius yang mengalami
obstruksi.
Pada obtruksi urinarius yang akut maka pada IVP akan terlihat :
a.

Obstruksi nefrogram

b.

Terlambatnya pengisian kontras pada system urinarius

c.

Dilatasi dari system urinarius, mungkin juga terjadi


ginjal membesar

d.

Dapat juga terjadi ruptur fornix akibat extravasasi traktus


urinarius

15

Pada kasus obstruksi ureter yang kronis maka biasanya terlihat


dilatasi ureter, berliku-liku, dan contras mengumpul pada daerah
ureter yang mengalami obstruksi. Pada ginjal dapat terlihat
parenkimnya menipis (baik segmental maupun komplet), kaliks
nampak

seperti

bulan

sabit,

dan

nafrogramnya

nampak

menggembung. 2,3,4,6,7,9
3. USG
USG merupakan alat yang baik untuk mengevaluasi ginjal pada
pasien azotermia, alergi terhadap kontras, wanita yang sedang
hamil, atau pada anak-anak. Informasi yang signifikan mengenai
parenkim ginjal dan system urinarius dapat diperolh tanpa adanya
expose dengan radiasi dan material kontras yang dapat
menimbulkan nefrotoxic dan reaksi anaplastik. 6,7
4. Diuretik renography
Diuretik renography relative lebih aman digunakan dibandingakan
dengan IVP dalam menilai dilatasi dari system urinarius.
Pemeriksaan ini tidak invasive sehingga tidak dipengaruhi oleh
fungsi ginjal dan mempunyai kemampuan untuk membersihkan
agen radiofarmakologi dari traktus urinarius yang mengalami
dilatasi. Dosis radiasinya lebih rendah dibandingkan dengan IVP
dan tidak ada kemungkinan kontras yang dapat menyebabkan
nefrotoksik.
Banyak factor yang dapat mempengaruhi waktu setelah
pemberian diuretic yaitu :
a.

fungsi ginjal, termasuk tingkat maturitas dari ginjal

b.

compliance dan volume dari traktus urinarius

c.

hidrasi dari pasien

d.

ada atau tidaknya kateter

e.

agen radifarmakologi

f.

dosis dari diuretic.

16

5. Whitaker test
Whitaker test merupakan salah satu gold standart untuk menilai
adanya obstruksi pada traktus urinarius atas. Pemeriksaan ini
dapat menunjukkan adanya urodinamaik pada obstruksi traktus
urinarius atas yang ditandai dengan penurunan aliran. Dengan
adanya diuretik renography, whitaker test sudah jarang digunakan
lagi di klinik. 2,3,4,6
Hasil penilaian dari whitaker test :
a.

Tekanan < 15 cmH2O = tidak ada obstruksi

b.

Tekanan 15 22 cmH2O = obstruksi masih meragukan

c.

Tekanan > 22 cmH2O = obstruksi

6. CTscan dan MRI


CT scan merupakan indikasi pada pasien dengan peningkatan
kadar BUN atau kreatinin atau keduanya. Ct scan lebih sensitif
untuk menilai batu ureter dibandingkan dengan IVU pada pasien
dengan nyeri akut flank.
MRI merupakan salah satu indikasi pada pasien dengan alergi
kontras dan fungsi ginjal yang buruk. 3,4
2.7

Penatalaksanaan
Pengobatan dan indikasi untuk menghilangkan obstruksi traktus urinarius
tergantung dari penyebab dan tingkat obstruksinya. 2
Indikasi untuk menghilangkan obstruksi:
Obstruksi unilateral
Obstruksi bilateral
Nyeri tidak hilang berkurang Sama seperti obstruksi unilateral atau
dengan analgetik

ada peningkatan BUN dan kreatinin

Suhu 101F

Gejala dan tanda uremia

Mual dan muntah yang persisten

Hyperkalemia

Grade obstruksi tinggi

17

Penanganan dari obstruksi tergantung dari penyebab obstruksi. Beberapa


penanganan tersebut adalah :
1. Penaganan obstruksi karena batu
a.

ESWL (Extracorporeal shockwave lithotripsi)


Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan
pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat
memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau buli-buli
tanpa melalui tindakan invasif dan tanpa pembiusan. Batu
dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah
dikeluarkan melalui saluran kemih. Tidak jarang pecahanpecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan
nyeri kolik dan menyebabkan hematuria. 6

b.

Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk
mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah
batu, dan kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih
melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran
kemih. Alat itu dimasukkan melalui urethra atau melalui
insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu
dapat dilakukanm secara mekanik, dengan memakai energi
hidraulik, energi gelombang suara atau dengan energi laser.
Beberapa tindakan endourologi itu adalah :

c.

PNL

(Percutaneous

Nephro

Litholapaxy)

yaitu

mengeluarkan batu yang berda di dalam saluran ginjal


dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kalises
melalui insisi pada kulit.Batu kemudian dikeluarkan atau
dip[ecah

terlebih

dahulu

menjadi

fragmen-fragmen

kecil.Litotripsi : yaitu memecah batu buli-buli atau batu


urethra dengan memasukkan alat pemecah batu (litotriptor)
ke dalam buli-buli. Pemecah batu dikeluarkan dengan
evakuator Ellik.8
18

d.

Ureteroskopi atau uretero-renoskopi


Yaitu memasukkan alat ureteroskopi peruretram guna melihat
keadaan ureter atau sistem pielo-kaliks ginjal. Dengan
memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter
maupun sistem pelvikalikes dapat dipecah melalui tuntuan
ureteroskopi/ureterorenoskopi ini.

e.

Ekstraksi dormia
Yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya
melalui alat keranjang dormia

f.

Bedah laparaskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran
kemih saat ini sedang berkambang. Cara ini banyak dipakai
untuk mengambil batu ureter. 10

g.

Bedah terbuka
Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang
memadai untuk tindakan-tindakan endourologi, laparaskopi,
maupun ESWL, pengambilan batu masih dilakukan melalui
pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara lain
adalah : pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil
batu pada saluran ginjal, dan ureterolitotomi untuk batu di
ureter. Tidak jarang pasien harus menjalani tindakan
nefrektomi atau pengambilan ginjal karena ginjalnya sudah
tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya
sudah sangat tipis, atau mengalami pengkerutan akibat batu
saluran kemih yang menimbulkan obstruksi dan infeksi yang
menahun. 12,14

2. Penanganan obstruksi karena striktura


Tindakan khusus yang dilakukan terhadap striktura urethra adalah :
a.

Businasi (dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara


hati-hati. Tindakan yang kasar tambah akan merusak urethra
sehingga menimbulkan luka baru yang pada akhirnya

19

menimbulkan striktura lagi yang lebih berat. Tindakan ini


dapat menimbulkan salah jalan (false route).
b.

Uretrolitotomi interna : yaitu memotong jaringan sikatrik


uretra dengan pisau Otis atau dengan pisau Sache. Otis
dikerjakan jika belum terjadi striktura total, sedangkan pada
striktura

yang

lebih

berat,

pemotongan

striktura

dikerjakansecara visual dengan memakai pisau sachse.


c.

Uretrotomi eksterna adalah tindakan operasi terbuka berupa


pemotongan

jaringan

fibrosis,

kemudian

dilakukan

anstomosis di antara jaringan uretra yang masih sehat.


2.8

Prognosis
Prognosis sangat tergantung pada penemuan dan pengobatan dini . Bila
tidak mendapat pengobatan yang tepat dan cepat, maka kebutaan akan
terjadi dalam waktu yang pendek sekali. Pengawasan dan pengamatan
pada obstruksi traktus urinarius harus selalu di evaluasi karna apabila tidak
terkontrol maka resiko mortalitas akan semakin tinggi. Obstruksi traktus
urinarius

merupakan kegawat daruratan

yang harus segera ditangani

sedini mungkin.11,13

20