Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr.Wb


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahNyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini kami beri judul Askep Anemia Pada Anak.
Makalah ini berisi tentang Askep Anemia Pada Anak yaitu, Konsep medis
( Pengertian, Anatomi fisiologi, Etiologi, Klasifikasi, Insiden, PatofisiologI,
Manifestasi klinik, Tes diagnostic, Prognosis / penatalaksanaan, Komplikasi,
Pengobatan ). Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ( Pengkkajian, Diagnosa
keperawatan, Pelaksanaan, Rencana keperawatan, Evaluasi, PENUTUP )

Dalam penyusunan makalah ini kami mengalami banyak kesulitan dan


hambatan.Tetapi,berkat dukungan dan motivasi dari berbagai pihak makalah ini
dapat terselesaikan.
Akhir kata,kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu,kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna penyempurnaan malakah yang akan datang.

Makassar, juni 2009


Penulis

KELOMPOK IV

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 1

JUNI 09

A. Konsep medis
1 Pengertian
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah
dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. Anemia bukan
merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu
penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi
apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke
jaringan.
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah
hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah
normal. Sumber yang lain mengatakan bahwa anemia adalah pengurangan
jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah
merah (hemtokrit) per 100 ml darah. Sel darah merah mengandung hemoglobin,
yang

memungkinkan

mereka

mengangkut

oksigen

dari

paru-paru

dan

mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Anemia menyebabkan berkurangnya


jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah,
sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang
diperlukan tubuh.
Catatan : Kadar Hb normal menurut WHO : Umur 6 bulan - 6 tahun 11 gr %
Umur diatas 6 tahun 12 gr %

a) Anatomi fisiologi
Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cairan bikonkaf yang tidak
berinti yang kira-kira berdiameter 8 m, tebal bagian tepi 2 m pada bagian tengah
tebalnya 1 m atau kurang. Karena sel itu lunak dan lentur maka dalam
perjalanannya melalui mikrosirkulasi konfigurasinya berubah. Stroma bagian luar
yang mengandung protein terdiri dari antigen kelompok A dan B serta faktor Rh
yang menentukan golongan darah seseorang. Komponen utama sel darah

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 2

JUNI 09

merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang mengangkut O2 dan CO2 dan
mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intrasellular. Molekulmolekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4 gugus heme,
masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini memungkinkan
pertukaran gas yang sangat sempurna.
b) Etiologi
Etiologi umum dari anemia adalah :
a) Perdarahan hebat
Akut (mendadak)
Kecelakaan
Pembedahan
Persalinan
Pecah pembuluh darah
Kronik (menahun)
Perdarahan hidung
Wasir (hemoroid)
Ulkus peptikum
Kanker atau polip di saluran pencernaan
Tumor ginjal atau kandung kemih
Perdarahan menstruasi yang sangat banyak
b) Berkurangnya pembentukan sel darah merah
Kekurangan zat besi
Kekurangan vitamin B12
Kekurangan asam folat
Kekurangan vitamin C
Penyakit kronik
c) Meningkatnya penghancuran sel darah merah
Pembesaran limpa
Kerusakan mekanik pada sel darah merah
J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 3

JUNI 09

Reaksi autoimun terhadap sel darah merah


Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
d) Kegagalan dan kerusakan sumsum tulang
Anemia aplastik
Keganasan
Osteoporosis
Myelo fibrosis (penyakit ginjal kronis dan defisiensi vitamin D)
c) Klasifikasi anemia menurut etiologinya adalah :
a) Anemia

Pasca

Perdarahan

(Post

Hemorrhagic)

Terjadi akibat perdarahan yang masif (seperti kecelakaan, luka operasi,


persalinan dan sebagainya)
b) Anemia Hemolitik
Terjadi akibat penghancuran (hemolisis) eritrosit yang berlebihan. Hal ini
dibedakan menjadi dua faktor yaitu :
Faktor intrasel
Misal talassemia, hemoglobinopatia (talassemia HbE, sickle cell
anemia), sferositos congenital, defisiensi enzim eritrosit (G-6PD,
piruvat kinase, glutation reduktase).
Faktor ekstrase
Misal

intoksikasi,

infeksi

(malaria),

imunologis

(inkompabilitas

golongan darah, reaksi hemolitik pada transfusi darah).


c) Anemia Defisiensi
Karena kekurangan faktor pematangan eritrosit (besi, asam folat, vitamin
B12, protein, piridoksin, eritropoetin, dan sebagainya).
d) Anemia Aplastik
Disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang.
Menegakkan

diagnosis

anemia

harus

digabungkan

pertimbangan

morfologis dan etiologi.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 4

JUNI 09

Jenis anemia yang paling sering kita temui adalah Anemia Kekurangan
Besi (AKB) yang disebabkan kurangnya zat besi untuk sintesis hemoglobin. Di
Indonesia AKB masih merupakan masalah gizi utama selain kekurangan kalori
protein, vitamin A, dan yodium. Penelitian di Indonesia mendapatkan prevalensi
AKB pada anak balita sekitar 30-40% dan pada anak sekolah 20-35%. Menurut
hasil SKRT 1992, prevalensi anemia pada anak usia sekolah 55,5% dan
sebagian besar adalah AKB. AKB mempunyai dampak yang merugikan bagi
kesehatan anak berupa gangguan tumbuh kembang, penurunan daya tahan
tubuh dan daya konsentrasi, serta penurunan kemampuan belajar, sehingga
menurunkan prestasi belajar sekolah.
d) Insiden
Prevalensi gen sel sabit yang tinggi terdapat di bagian tropik yang dapat
mencapai hingga 40 % di daerah tertentu. Dikenal 3 jenis mutasi gen yaitu bantu,
benin dan senegal yang diberi nama sesuai daerah asalnya. Prevalensi Hb S
lebih rendah di dapat juga di daerah Mediteranian, Saudi Arabia dan beberapa
bagian di India. Hemoglobin S adalah hemoglobin abnormal yang paling banyak
didapat. Pembawa sifat diturunkan secara dominan. Insiden diantara orang
Amerika berkulit hitam adalah sekitar 8 % sedangkan status homozigot yang
diturunkan secara resesif berkisar antara 0,3 1,5 %. (Noer Sjaifullah H.M,
1999, hal 535)
e) Patofisiologi
Defeknya adalah satu substitusi asam amino pada rantia beta hemoglobin
karena hemoglobin A normal mengandung dua rantai alfa dan dua rantai beta,
maka

terdapat

dua

gen

untuk

sintesa

tiap

rantai.

Trail sel sabit hanya mendapat satu gen normal, sehingga sel darah merah
masih mampu mensintesa kedua rantai beta, jadi mereka mempunyai
hemoglobin A dan S sehingga mereka tidak menderita anemia dan tampak
sehat.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 5

JUNI 09

Apabila dua orang dengan trait sel sabit sama menikah, beberapa anaknya s
bila adaakan membawa dua gen abnormal dan mempunyai rantai hemoglobin
S, maka anak akan menderita anemia sel sabit. (Smeltzer C Suzanne, 2002,
hal : 943 944).
f) Manifestasi klinik
Sistem jantung : nafas pendek, dispnea sewaktu kerja berat, gelisah
Sistem pernafasan : nyeri dada, batuk, sesak nafas, demam, gelisah
Sistem saraf pusat : pusing, kejang, sakit kepala, gangguan BAK dan BAB
Sistem genitourinaria : nyeri pinggang, hematuria
Sistem gastrointestinal : nyeri perut, hepatomegali, demam
Sistem okular : nyeri, perubahan penglihatan, buta
Sistem skeletal : nyeri, mobilitas berkurang, nyeri dan bengkak pada
lengan dan kaki.
g) Tes diagnostic
a. Pemeriksaan darah lengkap : retikulosit (jumlah darah bervariasi dari
30% 50%), leukositos (khususnya pada krisis vaso-oklusit) penurunan
Hb/Ht dan total SDM.
b. Pemeriksaan pewarnaan SDM : menunjukkan sabit sebagian atau
lengkap, sel bentuk bulan sabit.
c. Tes tabung turbiditas sabit : pemeriksaan rutin yang menentukan adanya
hemoglobin S, tetapi tidak membedakan antara anemia sel sabit dan
sifat yang diwariskan (trait)

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 6

JUNI 09

d. Elektroforesis hemoglobin : mengidentifikasi adanya tipe hemoglobin


abnormal dan membedakan antara anemia sel sabit dan anemia sel
trait.
e. LED : meningkat
f. GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2
g. Bilirubin serum : meningkat
h. LDH : meningkat
i. IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal
j. Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang
k. Rontgen : mungkin menunjukkan penipisan tulang
(Doenges E.M, 2002, hal : 585).
h) Prognosis / penatalaksanaan
Sekitar 60 % pasien anemia sel sabit mendapat serangan nyeri yang berat
hampir terus-menerus dan terjadinya anemia sel sabit selain dapat disebabkan
karena infeksi dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor misalnya perubahan
suhu yang ekstrim, stress fisis atau emosional lebih sering serangan ini terjadi
secara mendadak.
Orang dewasa dengan anemia sel sabit sebaiknya diimunisasi terhadap
pneumonia yang disebabkan pneumokokus. Tiap infeksi harus diobati dengan
antibiotik yang sesuai. Transfusi sel darah merah hanya diberikan bila terjadi
anemia berat atau krisis aplastik
Pada kehamilan usahakan agar Hb berkisar sekitar 10 12 g/dl pada
trimester ketiga. Kadar Hb perlu dinaikkan hingga 12 14 g/dl sebelum operasi.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 7

JUNI 09

Penyuluhan sebelum memilih teman hidup adalah penting untuk mencegah


keturunan yang homozigot dan mengurangi kemungkinan heterozigot. (Noer
Sjaifullah H.M, 1999, hal : 534)
i) Komplikasi
Infeksi sering terjadi dan dapat berlangsung fatal pada masa anak-anak
kematian mendadak dapat terjadi karena krisis sekuestrasi dimana terjadi
pooling sel darah merah ke RES dan kompartemen vaskular sehingga
hematokrit mendadak menurun.
Pada orang dewasa menurunnya faal paru dan ginjal dapat berlangsung
progresif. Komplikasi lain berupa infark tulang, nekrosis aseptik kaput femoralis,
serangan-serangan priapismus dan dapat berakhir dengan impotensi karena
kemampuan ereksi. Kelainan ginjal berupa nekrosis papilla karena sickling dan
infaris menyebabkan hematuria yang sering berulang-ulang sehingga akhirnya
ginjal tidak dapat mengkonsentrasi urine. Kasus-kasus Hb S trait juga dapat
mengalami hematuria. (Noer Sjaifullah H.M, 1999, hal : 536).
j) Pengobatan
Sampai saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat memperbaiki
pembentukan sabit, karena itu pengobatan secara primer ditujukan untuk
pencegahan dan penunjang. Karena infeksi tampaknya mencetuskan krisis sel
sabit, pengobatan ditekankan pada pencegahan infeksi, deteksi dini dan
pengobatan segera setiap ada infeksi pengobatan akan mencakup pemberian
antibiotik dan hidrasi dengan cepat dan dengan dosis yang besar. Pemberian
oksigen hanya dilakukan bila penderita mengalami hipoksia. Nyeri hebat yang
terjadi secara sendiri maupun sekunder terhadap adanya infeksi dapat mengenai
setiap bagian tubuh. Tranfusi hanya diperlukan selama terjadi krisis aplastik atau
hemolitis. Transfusi juga diperlukan selama kehamilan.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 8

JUNI 09

Penderita seringkali cacat karena adanya nyeri berulang yang kronik karena
adanya kejadian-kejadian oklusi pada pembuluh darah. Pada kelompok
penderita terdapat insiden yang tinggi terhadap ketergantungan obat, terdapat
juga insiden yang tinggi atas sulitnya mengikuti sekolah dan melakukan
pekerjaan. (Price A Sylvia, 1995, hal : 239)
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses
keperawatan untuk meningkatkan, mencegah dan memulihkan kesehatan
melalui 4 tahap yang terdiri dari pengkajian, perencanam pelaksanaan, dan
evaluasi.
Proses keperawatan adalah cara pendekatan sistematis yang diterapkan
dalam

melaksanakan

fungsi

keperawatan,

pendekatan

yang

dimiliki,

karakteristik, sistematis, bertujuan, interaksi, dinamis dan ilmiah.


1. Pengkkajian
a) Pengkajian data
Pengkajian merupakan dasar proses keperawatan, diperlukan pengkajian
yang cermat untuk masalah klien agar dapat memberi arah kepada tindakan
keperawatan. Informasi akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan
keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan. Sebagai
sumber informasi dapat digunkan yaitu pasien, keluarga, anak, saudara, teman,
petugas kesehatan atau sumber data sekunder. Metode pengumpulan data
meliputi : pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, rumusan diagnosa
keperawatan.
Data yang perlu dikumpulkan pada klien dengan anemia adalah sebagai berikut
b) Pengumpulan data
Identifikasi klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku / bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna. 9

JUNI 09

Identitas penanggung
Keluhan

utama

dan

riwayat

kesehatan

masa

lalu

Keluhan utama : pada keluhan utama akan nampak semua apa yang
dirasakan klien pada saat itu seperti kelemahan, nafsu makan menurun dan
pucat.
Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat kesehatan masa lalu akan
memberikan informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah
diderita,
Pemerisaan fisik

Aktivitas / istirahat
Gejala

Keletihan

kelemahan

terus-menerus

sepanjang

hari.

Kebutuhan tidur lebih besar dan istirahat.


Tanda : Gangguan gaya berjalan

Sirkulasi
Gejala : Palpitasi atau nyeri.
Tanda : Tekanan darah menurun, nadi lemah, pernafasan lambat, warna
kulit pucat atai sianosis, konjungtiva pucat.

Eliminasi
Gejala : Sering berkemih, nokturia (berkemih malam hari.

Integritas ego
Gejala : Kuatir, takut.
Tanda : Ansietas, gelisah.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.10

JUNI 09

Makanan / cairan
Gejala : Nafsu makan menurun.
Tanda : Penurunan berat badan, turgor kulit buruk dengan bekas gigitan,
tampak kulit dan membran mukosa kering.

Hygiene
Gejala : Keletihan / kelemahan
Tanda : Penampilan tidak rapi.

Neurosensori
Gejala : Sakit kepala / pusing, gangguan penglihatan
Tanda : Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot.

Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri pada punggung, sakit kepala.
Tanda : Penurunan rentang gerak, gelisah.

Pernafasan
Gejala : Dispnea saat bekerja.
Tanda : Mengi

Keamanan
Gejala : Riwayat transfusi.
Tanda : Demam ringan, gangguan penglihatan.

Seksualitas

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.11

JUNI 09

Gejala : Kehilangan libido.


(Doenges, E, Marilynn, 2000, hal : 582 585).
c) Pemeriksaan Penunjang
Jumlah darah lengkap (JDL) : leukosit dan trombosit menurun.
Retikulosit : jumlah dapat bervariasi dari 30 % 50 %.
Pewarnaan SDM : menunjukkan sebagian sabit atau lengkap.
LED : meningkat
Eritrosit : menurun
GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2
Billirubin serum : meningkat
LDH : meningkat
TIBC : normal sampai menurun
IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal
Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang
Rontgen : mungkin menunjukkan penipisan tulang.
d) Klasifikasi data
Data subjektif
Keletihan / kelemahan.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.12

JUNI 09

Nokturi.
Nafsu makan menurun.
Nyeri pada punggung.
Sakit kepala.
Berat badan menurun.
Gangguan penglihatan.
Data objektif
Konjungtiva pucat.
Gelisah.
Warna kulit pucat.
Gangguan gaya berjalan.
Tekanan darah menurun.
Demam ringan.
Eritrosit menurun.
Bilirubin serumen : meningkat.
JDL : leukosit dan trombosit menurun.
LDH meningkat.
(Doenges E. Mariylnn, 2000, hal : 582 585).

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.13

JUNI 09

2. Diagnosa keperawatan
Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan pada klien anemia sel sabit baik
aktual maupun potensial adalah sebagai berikut :

1. Nyeri berhubungan dengan diogsigenasi jaringan (Hb menurun).


2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi /
gangguan pada sum-sum tulang.
3. Aktifitas intolerance berhubungan dengan kelemahan otot.
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan porsi makan tidak
dihabiskan.
5. Integritas kulit berhubungan dengan menurunnya aliran darah ke jaringan.
6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit.
7. Kecemasan / kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi tentang penyakitnya.
3. Rencana keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan diogsigenasi jaringan (HB rendah)
Tujuan : Tidak merasakan nyeri,
Tindakan keperawatan
a. Kaji tingkat nyeri
Rasional : Dengan mengkaji tingkat nyeri dapat mempermudah
dalam menentukan intervensi selanjutnya.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.14

JUNI 09

b. Rasional : Membantu klien dalam menaikkan tekanan darah dan


proses penyembuhan.
c. Anjurkan klien teknik nafas dalam
Rasional : Dengan menarik nafas dalam memungkinkan sirkulasi O2
ke jaringan terpenuhi.
d. Bantu klien dalam posisi yang nyaman
Rasional : Mengurangi ketegangan sehingga nyeri berkurang.
e. Kolaborasi pemberian penambah darah
Rasional : Membantu klien dalam menaikkan tekanan darah dan
proses penyembuhan.
2) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi /
gangguan sumsum tulang.
Tujuan : Perfusi jaringan adekuat
Tindakan keperawatan :
a. Ukur tanda-tanda vital :
Rasional : Untuk mengetahui derajat / adekuatnya perfusi jaringan
dan menentukan intevensi selanjutnya.
b. Tinggikan kepala tempat tidur klien
Rasional : Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan
oksigenasi untuk kebutuhan seluler
c. Pertahankan suatu lingkungan yang nyaman.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.15

JUNI 09

Rasional

Vasekonstriksi

menurunkan

sirkulasi

perifer

dan

menghindari panas berlebihan penyebab vasodilatasi.


d. Anjurkan klien untuk menghentikan aktivitas bila terjadi kelemahan.
Rasional : Stres kardiopulmonal dapat menyebabkan kompensasi.
3) Aktivitas intolerance berhubungan dengan kelemahan otot
Tujuan : aktifitas toleransi, dengan kriteria : klien bisa melakukan
aktivitas sendiri.
Tindakan keperawatan
a. Kaji tingkat aktifitas klien
Rasional : Untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan klien dan untuk
menetukan intervensi selanjutnya.
b. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien
Rasional : Untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
c. Bantu pasien dalam melakukan latihan aktif dan pasif
Rasional : Untuk meningkatkan sirkulasi jaringan
d. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan ADLnya
Rasional : Dengan bantuan perawat dan keluarga klien dapat
memenuhi kebutuhannya.
e. Berikan lingkungan tenang
Rasional : Meningkatkan istirahat untuk menurunkan regangan
jantung dan paru..

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.16

JUNI 09

4) Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan porsi makan tidak


dihabiskan.
Tujuan : Nutrisi terpenuhi dengan kriteria : nafsu makan meningkat, porsi
makan dihabiskan.
Tindakan keperawatan :
a. Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai
Rasional

Mengidentifikasi

efisiensi,

menduga

kemungkinan

intervensi.
b. Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering dan bervariasI
Rasional : Pemasukan makanan atau menambah kekuatan dan
diberikan sedikit-sedikit agar pasien tidak merasa bosan.
c. Beri HE tentang pentingnya makanan atau gizi
Rasional : Makanan yang bergizi dapat mempercepat penyembuhan
penyakitnya..
d. Timbang berat badan setiap hari.
Rasional : Mengawasi penurunan BB atau efektivitas intervensi
nutrisi.
e. Penatalaksanaan pemberian vitamin B1.
Rasional : Vitamin bisa menambah nafsu makan.
f. Konsul pada ahli gizi
Rasional : Membantu dalam membuat rencana diit untuk memenuhi
kebutuhan individu.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.17

JUNI 09

5) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan menurunnya aliran darah ke


jaringan
Tujuan : Mempertahankan integritas kulit dengan kriteria : kulit segar,
sirkulasi darah lancar
Tindakan keperawatan .
a. Kaji integritas kulit, catat pada perubahan turgor, gangguan warna
Rasional : Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan
imobilitas
b. Anjurkan permukaan kulit kering dan bersih
Rasional : Area lembab, terkontamiansi memberikan media yang
sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik
c. Ubah posisi secara periodik
Rasional : Meningkatkan sirkulasi ke semua area kulit membatasi
iskemia jaringan / mempengaruhi hipoksia selular.
d. Tinggikan ekstremitas bawah bila duduk
Rasional : Meningkatkan aliran balik vena menurunkan statis vena /
pembentukan edema.
6) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit
Tujuan : Mencegah / menurunkan resiko infeksi
Tindakan keperawatan
a. Berikan perawatan kulit
Rasional : Menurunkan resiko kerusakan kulit / jaringan dan infeksi

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.18

JUNI 09

b. Dorong perubahan posisi / ambulasi yang sering


Rasional : Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu
mobilisasi sekresi
c. Tingkatkan masukan cairan adekuat
Rasional : Membantu dalam mengencerkan sekret pernafasan untuk
mempermudah pengeluaran dan mencegah statis cairan tubuh
d. Pantau suhu, catat adanya menggigil dan takikardia.
Rasional : Adanya proses inflamasi / infeksi membutuhkan evaluasi /
pengobatan.
7) Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakitnya
Tujuan : Memahami tentang penyakitnya, mau menerima keadaan
penyakitnya, klien tidak bertanya tentang penyakitnya
Tindakan keperawatan
a. Berikan informasi tentang penyakitnya
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat
membuat pilihan yang tepat, menurunkan ansietas dan dapat
meningkatkan kerjasama dalam program terapi
b. Kaji pengetahuan pasien tentang penyakitnya
Rasional : Memberi pengetahuan berdasarkan pola kemampuan klien
untuk memilih informasi
c. Dorong mengkonsumsi sedikitnya 4 6 liter cairan perhari

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.19

JUNI 09

Rasional : Mencegah dehidrasi dan konsekuensi hiperviskositas yang


dapat membuat sabit / krisis.
d. Dorong latihan rentang gerak dan aktivitas fisik teratur dengan
keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
Rasional : Mencegah demineralisasi tulang dan dapat menurunkan
resiko fraktur.
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah pengobatan dan perwujudan dari rencana keperawatan
yang meliputi tindakan yang direncanakan oleh perawat, melaksanakan anjuran
dokter dan menjalankan ketentuan dari rumah sakit. Sebelum pelaksanaan
terlebih dahulu harus mengecek kembali data yang ada, karena kemungkinan
ada perubahan data bila terjadi demikian kemungkinan rencana harus direvisi
sesuai kebutuhan pasien.

5. Evaluasi
Evaluasi adalah pengukuran dari keberhasilan rencana perawatan dalam
memenuhi kebutuhan pasien. Tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan
dalam menggunakan proses perawatan.
Hasil evaluasi yang diharapkan / kriteria : evaluasi pada klien dengan anemia
sel sabit adalah sebagai berikut :
Mengatakan pemahaman situasi / faktor resiko dan program pengobatan
individu dengan kriteria :
a) Menunjukkan teknik / perilaku yang memampukan kembali melakukan
aktivitas.

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.20

JUNI 09

b) Melaporkan

kemampuan

melakukan

peningkatan

toleransi

aktivitas.

Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan dengan kriteria


c) Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala peyebab.
d) Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.
Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi
dengan kriteria :
e) Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan.
f) Menyukai

diri

sebagai

orang

yang

berguna.

Mempertahankan hidrasi adekuat dengan kriteria :


g) Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran
seimbang.
Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan /
mempertahankan berat badan yang sesuai dengan kriteria :
h) Menunjukkan peningkatan berat badan, mencapai tujuan dengan nilai
laboratorium normal.

PENUTUP
Kesimpulan
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb
sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat (Nelson,1999).
Anemia berarti kekurangan sel darah merah, yang dapat di sebabkan oleh
hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel
darah merah. (Guyton,1997).
J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.21

JUNI 09

Macam-macam atau klasifikasi dari anemi berdasarkan etiolognya yaitu:


anemia pasca pendarahan (kehilangan darah mendadak, kehilangan darah
menahun), anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik (defisiensi asam folat
dan

B12),

anemia

hemolitik

dan

anemia

aplastik

Kebanyakan anemia pada anak adalah anemia kekurangan zat besi atau iron
defisiensi anemia. Penyebab umumnya adalah pola makan yang salah atau
kurang tepat. Anemia lainnya adalah anemia karena pendarahan anemia karena
pabriknya mengalami gangguan (sumsum tulang tidak memproduksi sel-sel
darah dengan baik dan penyebabnya macam-macam).

DAFTAR PUSTAKA
Doenges,

E.

M,

Mary

F.M,

Alice

C.G,

(2002),

Rencana

Asuhan

Keperawatan,EGC, Jakarta.
Nursalam, Rekawati, Sri Utami, Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak, Jakarta,
Medika, 2005
Robins, Dasar-dasar Patologi Penyakit, EBC, 2005

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.22

JUNI 09

Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, Jakarta, Medika, 2006.

http://medlinux.blogspot.com/2007/09/anemia-pada-anak.html

http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/03/askep-anak-anemia.html

J*ANTHY,mute,aco fahar,Q_Q,ina,asna.23

JUNI 09