Anda di halaman 1dari 31

PENETAPAN KADAR ASIKLOVIR DENGAN METODE

KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI DAN


SPEKTROFOTOMETER ULTRA VIOLET

MUHAMMAD ILHAM

PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN LAPORAN INI ADALAH KARYA
SENDIRI DAN BELUM DIAJUKAN DALAM BENTUK APAPUN KEPADA
PERGURUAN

TINGGI

MANAPUN.

SUMBER

INFORMASI

YANG

BEARASAL DARI PENULIS LAIN TELAH DITERBITKAN DARI PENULIS


LAIN TELAH DISEBUTKAN DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN
DALAM DAFTAR PUSTAKA DI BAGIAN AKHIR LAPORAN INI.

Bogor, Maret 2011

Muhammad Ilham
J3L108027

PRAKATA
Syukur alhamdulillah penulis hantarkan kepada Allah Swt, atas karunia Nya
sehingga penulisan dan penyusunan tugas akhir mengenai Penetapan Kadar
Asiklovir dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dan Spetrofotometer
Ultra Violet dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kegiatan Praktik Kerja
Lapang (PKL) dilaksanakan dari tanggal 1 Maret sampai 30 April 2011 di PT.
Kimia Farma Indonesia Jalan Rawagelam V no.1 Kawasan Industri Pulogadung
Jakarta Timur.
Selama penyusunan laporan PKL penulis mempunyai hambatan, namun
dapat diselesaikan karena adanya bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai
pihak. Terima kasih penulis sampaikan kepada, Ibu Armi Wulanawati, S.Si, M.Si
sebagai Koordinator Program Keahlian Analisis Kimia, Bapak Atep Dian
Supardan ,S.Si selaku pembimbing Instansi dan Drs. Hadi Kardoko selaku
pembimbing lapang, yang telah membantu mengarahkan dan membimbing
penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini, juga kepada kedua orang tua yang
selalu menyemangati dan mendoakan. Terima kasih penulis sampaikan kepada
rekan-rekan analisis kimia angkatan 45 selalu mendukung dan membantu baik
fisik maupun moril dalam penyusunan Tugas Akhir ini. Para staff Laboratorium
Pengawasan Mutu PT.Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Jakarta yang
mendampingi dan membimbing penulis selama PKL dan dalam penyusunan
laporan ini. Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi
penulis dan bagi semua pembacanya.

Bogor, Mei 2011

Muhammad Ilham

ii

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv
DAFTAR TABEL ................................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... vi
I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Tujuan ....................................................................................................... 3
1.3 Waktu dan Tempat ....................................................................................... 3
II KEADAAN UMUM PT.Kimia Farma (Persero) Tbk ..... Error! Bookmark not
defined.
2.1 Sejarah dan Perkembangan ......................... Error! Bookmark not defined.
2.2 Visi, Misi dan Logo ..................................... Error! Bookmark not defined.
2.3 Fungsi dan Tujuan ....................................... Error! Bookmark not defined.
2.4 Struktur Organisasi ...................................... Error! Bookmark not defined.
III TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................... 4
3.1 Asiklovir ....................................................................................................... 4
3.2 Disolusi ....................................................................................................... 5
3.3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) ................................................. 6
3.4 Spektrofotometer .......................................................................................... 7
IV BAHAN DAN METODE .................................................................................. 9
4.1 Alat dan Bahan nama alat tak perlu diawali huruf besar .............................. 9
4.2 Metode akuades bukan akuades .................................................................. 9
4.2.1 Penetapan Kadar zat terlarut dengan Spektrofotometer UV .............. 9
4.2.2 Penetapan Kadar Asiklovir dengan KCKT ...................................... 10
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 12
5.1 Analisis kondisi fisik tablet asiklovir ......................................................... 12
5.2 Penetapan kadar asiklovir terlarut dengan metode spektrofotometer UV .. 13
5.3 Penetapan Kadar Asiklovir dengan metode KCKT ................................... 14
VI SIMPULAN DAN SARAN ............................................................................. 16
6.1 Simpulan ..................................................................................................... 16
6.2 Saran
..................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 17
LAMPIRAN .......................................................................................................... 18

iii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Herpes Zoster ....................................................................................................... 1
2 Logo PT Kimia Farma (Persero) Tbk ................ Error! Bookmark not defined.
3 Struktur Asiklovir ................................................................................................ 4
4 Struktur kristal asiklovir ....................................................................................... 5
5 Alat pengaduk disolusi bentuk dayung ................................................................ 6
6 Skema alat KCKT ................................................................................................ 7
7 Skema Spektrofotometer ...................................................................................... 8

iv

DAFTAR TABEL
1 Hasil uji pemerian tablet asiklovir ..................................................................... 12
2 Penetapan kadar asiklovir dengan metode spektrofotometer UV dan KCKT ... 13

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Struktur Organisasi PT.Kimia Farma (Persero) Tbk.......................................... 19
2 Contoh perhitungan uji disolusi ......................................................................... 20
3 Tabel penetapan kadar asiklovir 200 dan 400 mg .............................................. 21
4 Contoh perhitungan penetapan kadar asiklovir .................................................. 22
5 Kromatogram standar ......................................................................................... 23
6 Contoh kromatogram sampel ............................................................................. 24

vi

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Herpes zoster adalah penyakit neurodermal ditandai dengan nyeri serta
empsi vesikular berkelompok unilateral pada daerah kulit yang dipersarafi oleh
syaraf kranialis atau spinalis. Varisela merupakan infeksi primer yang terjadi
pertama kali pada individu yang berkontak dengan virus Varisela-zoster. Varisela
umumnya terjadi pada anak-anak (usia 4-14 tahun), tetapi dapat juga terjadi pada
orang dewasa. Setelah infeksi primer sembuh, virus Varisela-zoster menjadi laten
tinggal di dalam tubuh penderita selama bertahun-tahun. Virus Varisela-zoster
mengalami reaktivasi, menyebabkan infeksi rekuren yang dikenal dengan nama
Herpes zoster atau reaktivasi virus dihubungkan keadaan cell-mediated immune
yang menurun, yang dapat disebabkan oleh beaambahnya usia, proses keganasan
perawatan keganasan (kemoterapi atau radioterapi), pemakaian obat-obat
imunosupresan dan infeksi HIV (Hasibuan 2006).

Gambar 1 Herpes Zoster


Pengaktifan virus yang berdormansi tersebut dapat disebabkan penurunan
daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada makanan, demam, trauma pada
mukosa genital, menstruasi, kurang tidur, dan sinar ultraviolet. Gejala herpes
jenis ini adalah pada 3-4 hari sebelum timbulnya herpes zoster, penderita merasa
tidak enak badan, menggigil, demam, mual, diare. Terkadang penderita merasakan
nyeri, kesemutan atau gatal di kulit yang terkena.

Gejala lain, muncul

sekumpulan lepuhan kecil berisi cairan dikelilingi oleh daerah kemerahan.


Lepuhan ini hanya terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh saraf yang
terkena. Lepuhan paling sering muncul di batang tubuh dan biasanya hanya
mengenai satu sisi (kanan atau kiri). Daerah yang terkena biasanya peka terhadap
berbagai rangsangan (termasuk sentuhan yang sangat ringan) dan bisa terasa

sangat nyeri. Lepuhan mulai mengering dan membentuk keropeng pada hari
kelima setelah mereka muncul. Lepuhan mengandung virus herpes zoster, yang
jika ditularkan bisa menyebabkan cacar air. Lepuhan yang menetap lebih dari 2
minggu biasanya menunjukkan bahwa sistem kekebalan penderita tidak berfungsi
sebagaimana mestinya.
Pencegahan penyakit ini dengan mengikuti gaya hidup sehat dan dilakukan
vaksinasi terhadap virus penyebab herpes zoster terhadap anak-anak. Sehingga
akan terbentuk kekebalan terhadap virus tersebut. Pengobatan yang dilakukan
adalah terapi terhadap pasien Herpes Zoster pada umumnya menggunakan
antiviral salah satunya asiklovir. Asiklovir berkhasiat spesifik terhadap virus
herpes tanpa mengganggu fisiologi sel-sel tuan rumah. Asiklovir meningkatkan
penyembuhan lesi herpes zoster dan mengurangi rasa nyeri akut. Efek samping
dari asiklovir adalah gangguan lambung-usus, pusing, sukar tidur, dan nyeri sendi.
Asiklovir terdapat dalam beberapa sediaan diantaranya tablet, krim, dan
injeksi. Bentuk sediaan padat yang dibuat secara kempa atau dengan mencetak
dan sediaan tablet mempunyai beberapa persyaratan antara lain proses pelarutan
obat, seperti uji disolusi untuk mengetahui seberapa banyak persen zat aktif dalam
obat yang larut, kemudian teraborpsi dan masuk ke dalam peredaran darah untuk
memberikan efek terapi yang diinginkan.
Oleh karena itu, diperlukan data laboratorium, antara lain: uji disolusi dan
penetapan kadar sediaan obat. Uji disolusi dilakukan untuk mengetahui kelarutan
zat aktif dalam tubuh berdasarkan bayaknya partikel yang terlarut dalam cairan
lambung atau usus buatan dalam waktu dan kondisi tertentu. Beberapa kegunaan
uji disolusi, yaitu : menjamin keseragaman 1 batch, menjamin bahwa obat akan
memberikan efek terapi yang diinginkan, dan diperlukan dalam rangka
pengembangan suatu obat baru (Ditjen POM 1995). Kadar zat terlarut asiklovir
dapat di ukur menggunakan metode spektrofotometer ultra violet.
Kadar asiklovir murni dalam obat dapat ditetapkan dengan metode
kromatografi cair kinerja tinggi (Departemen Kesehatan RI 1995). Penetapan
kadar dilakukan untuk mengetahui kadar zat aktif yang terdapat dalam obat
secara pasti. Kadar obat berpengaruh terhadap efek terapi pada pasien. Jika
pasien diberikan obat dengan kadar dan dosis yang berlebihan dapat memberikan

efek toksik, sedangkan jika pasien diberikan obat dengan kadar dan dosis yang
lebih rendah dari seharusnya, maka khasiat yang diinginkan dari obat tersebut
tidak terjadi. Salah satu efek yang akan terjadi apabila pemberian asiklovir yang
berlebihan adalah rusaknya fungsi ginjal.

1.2 Tujuan
Tujuan PKL bertujuan untuk menetapkan kadar asiklovir terlarut dengan
spektrofotometer uv dan menetapkan kadar asiklovir sediaan tablet menggunakan
metode KCKT.

1.3 Waktu dan Tempat


Kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) dilaksanakan tanggal 1 Maret 2011
sampai 30 April 2011 di laboratorium pengawasan mutu PT. Kimia Farma
(Persero) Tbk. Plant Jakarta, yang berlokasi di Jalan Rawagelam V no.1 Kawasan
Industri Pulogadung Jakarta Timur.

III TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Asiklovir
Asiklovir atau 9-[(2-Hidroksietoksi) metilguanin yang memiliki rumus
molekul C8H11N3O3 adalah analog sintetik dari guanin yang digunakan dalam
pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi akibat virus herpes simpleks atau
varicella zoster (Martindale 1996) seperti yang ditunjukan Gambar 3. Asiklovir
memiliki berat molekul 225,2 g/mol dan memiliki kelarutan yang baik dalam
asam klorida 0,1 N, agak sukar larut dalam air (Departemen Kesehatan RI 1995).
Asiklovir merupakan derivat-guanosin (asikloguanosin) berkhasiat spesifik
terhadap virus herpes tanpa mengganggu fisiologi sel-sel tuan-rumah. Mekanisme
kerjanya khas, yakni obat baru menjadi aktif setelah difosforilasi oleh enzim
tymidinkinase yang khusus terdapat dalam sel-sel yang diinfeksi oleh virus.
Sehingga pembentukan DNA virus dikacaukan dan terhenti sama sekali (Hoan
Tjay 2007).

Gambar 2 Struktur Asiklovir


Sekitar 15 sampai 30% dari dosis asiklovir diberikan melalui mulut
dianggap diserap pada saluran pencernaan. Pemberian dosis asiklovir 200 mg
setiap 4 jam dengan mulut dilaporkan menghasilkan kondisi stabil pada
konsentrasi plasma maksimum dan minimum 0,7 dan 0,4 g per ml masingmasing; nilai berikut setara dosis 400 mg adalah 1,2 dan 0,6 g per ml
(Martindale 1996).

Jika beberapa milligram zat di reaksikan dengan 2 tetes

larutan NaOH 1 N dan 2 tetes larutan iod, kemudian dipanaskan akan terbentuk
kristal seperti yang ditunjukan Gambar 4.

Gambar 3 Struktur kristal asiklovir (Samah 2007)

3.2 Disolusi
Uji disolusi adalah salah satu teknik analisis yang paling umum dilakukan di
laboratorium analisis farmasi. Hal ini dilakukan terutama pada bentuk sediaan
oral untuk menentukan pelepasan obat dari sediaan jadinya (Chan 2004). Disolusi
adalah jumlah persen zat aktif dari sediaan obat yang larut dalam kondisi baku
misalnya suhu, kecepatan pengadukan, dan komposisi media tertentu dalam
pencernaan buatan, berupa media yang mempunyai konsentrasi pH yang sesuai
dengan sasaran obat yang dituju. Uji disolusi digunakan untuk sediaan oral dan
tablet (Departemen Kesehatan RI 1995). Uji Disolusi merupakan metoda in vitro
yaitu uji yang dilakukan diluar tubuh manusia yang kondisinya dibuat sama
dengan kondisi dalam tubuh manusia. Uji disolusi dilakukan untuk mengetahui
kelarutan zat aktif dalam tubuh berdasarkan banyaknya partikel yang terlarut
dalam cairan lambung atau usus buatan dalam waktu dan kondisi tertentu. Salah
satu fungsi dari uji disolusi adalah sebagai kontrol dari suatu batch (Dressman
2005).
Alat uji disolusi yang paling banyak digunakan saat ini adalah alat uji
diolusi yang tertera dalam Farmakope Indonesia Edisi IV. Ada dua alat yang
tertera dalam Farmakope Indonesia Edisi IV antara lain : Alat 1 dengan
menggunakan metode keranjang, dan alat 2 menggunakan metode dayung. Alat
yang digunakan pada proses uji disolusi tablet asiklovir adalah alat dua. Alat
terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau bahan transparan
lain yang inert, suatu motor, suatu batang logam yang digerakkan oleh motor dan
dayung yang terdiri dari daun dan batang sebagai pengaduk. Dayung memenuhi
spesifikasi pada Gambar 5. Daun dan batang logam yang merupakan satu
kesatuan dapat disalut dengan suatu penyalut inert yang sesuai. Sediaan dibiarkan
tenggelam di dasar sebelum dayung mulai berputar. Sepotong kecil bahan yang

tidak bereaksi seperti gulungan kawat berbentuk spiral dapat digunakan untuk
mencegah mengapungnya sediaan (Departemen Kesehatan RI 1995)
Wadah tercelup sebagian di dalam suatu tangas air yang sesuai berukuran
sedemikian sehingga dapat mempertahankan suhu dalam wadah pada 37 0,5
selama pengujian berlangsung dan menjaga agar gerakan air dalam tangas air
halus dan tetap. Penggunaan alat yang memungkinkan pengamatan contoh dan
pengadukan selama pengujian berlangsung.

Suatu alat pengatur kecepatan

digunakan sehingga memungkinkan untuk memilih kecepatan putaran yang


dikehendaki dan mempertahankan kecepatan seperti yang tertera dalam masingmasing monografi dalam batas lebih kurang 4%. Komponen batang logam dan
keranjang yang merupakan bagian dari pengaduk terbuat dari baja tahan karat
sesuai dengan spesifikasi pada Gambar 5.

Gambar 4 Alat pengaduk disolusi bentuk dayung


3.3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, dimana komponenkomponen yang dipisahkan, didistribusikan di antara dua fasa, salah satu fasa
tersebut adalah suatu lapisan stasioner (fase diam) dengan permukaan yang luas,
yang lainnya sebagai fluida mengalir lembut di sepanjang landasan stasioner (fase
gerak) (Underwood 2002). Fase diam dapat bersifat polar atau nonpolar. Jika
fase diam bersifat polar dan fase gerak bersifat nonpolar, maka hal tersebut adalah
kromatografi pemisahan fase normal.

Jika sebaliknya disebut kromatografi

pemisahan fase terbalik (Munson 1984).

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

melakukan pemisahan komponen sampel dengan bantuan pelarut fase gerak pada

kecepatan yang seragam yang dihasilkan tekanan pompa dari 50 sampai 5000 psi.
Teknik pemisahan KCKT dilakukan dengan menginjeksikan sedikit sampel yang
berbentuk cairan ke dalam fase gerak yang berjalan melalui kolom, pemisahan
campuran tersebut berdasarkan tingkat retensi masing-masing komponen didalam
kolom, yaitu kencenderungan suatu komponen ditahan oleh kolom (Khopkar
1990). Pada dasarnya komponen alat kromatografi cair terdiri dari sistem pompa,
tempat penyuntikan analit, kolom kromatografi, detektor, penguat sinyal, dan
perekam. Sistem pompa bertekanan tinggi mengalirkan pelarut fase gerak dari
bejana pelarut ke kolom melalui pipa tegangan tinggi (Departemen Kesehatan RI
1995). Seperti yang ditunjukan Gambar 6.

Gambar 5 Skema alat KCKT


3.4 Spektrofotometer UV
Spektrofotometri adalah suatu metode penyerapan energi cahaya oleh suatu
sistem kimia sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi (Underwood 2002).
Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet dan terlihat
tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra ultraviolet dan dari
senyawa-senyawa organik berkaitan erat transisi-transisi diantara tingkatan tenaga
elektronik.

Dalam praktek, spektrometri ultraviolet digunakan terbatas pada

sistem terkonjugasi.

Meskipun demikian terdapat keuntungan selektif dari

serapan ultraviolet, yaitu gugusgugus karakteristik dapat dikenal dalam molekulmolekul yang sangat kompleks (Sastrohamidjojo 2001). Alat atau instrument
untuk mengukur serapan pada spektrofotometri disebut spektrofotometer, yaitu
alat yang mempergunakan cahaya dengan frekuensi tertentu melalui suatu larutan
sampel untuk mengukur intensitas cahaya yang keluar.

Dasar teori dari

spektrofotometer adalah bila cahaya jatuh pada media homogen, sebagian dari
sinar masuk akan dipantulkan, sebagian diserap dalam media itu, dan sisanya
diteruskan (Basset 1994). Komponen-komponen dasar dari alat spektrofotometer
adalah sumber radiasi, monokromator, wadah sampel, dan detektor (Gambar 7).

Gambar 6 Skema alat Spektrofotometer

IV BAHAN DAN METODE


4.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan ialah dissolution tester Hanson Research,
disposable syringe, ultarsonic bath, grinder, lumpang dan alu, pipet volumetrik 1
ml, labu takar 25 ml dan 50 ml, corong, penyaring Milipore, Spektrofotometer
Ultra Violet, dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).
Bahan-bahan yang dipakai ialah akuades, asam asetat 0,02 M, asiklovir
tablet 200 mg, asiklovir tablet 400 mg, asiklovir Working Standard (WS), asam
klorida 0,1 N, dan natrium hidroksida 0,1 N.

4.2 Metode
4.2.1 Penetapan Kadar zat terlarut dengan Spektrofotometer UV
Penyiapan Larutan Pembanding.

Ditimbang seksama 22,0 mg

Acyclovir micronized (WS), dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml. Dilarutkan


dengan 25 ml media disolusi (asam klorida 0,1 N) kemudian di kocok, dan
ditambahkan media disolusi hingga volume 50,0 ml lalu dikocok.

Diambil

dengan pipet 1,0 ml larutan tersebut, dimasukkan ke dalam labu takar 50 ml,
ditambahkan media disolusi hingga volume 50,0 ml lalu dikocok (dihomogenkan).
Penyiapan Larutan Uji. Disiapkan alat Dissolution Tester, diisi masingmasing labu disolusi dengan media disolusi yaitu 900 ml asam klorida 0,1 N,
setelah itu diatur suhu media 37 OC 0,5 OC, dimasukkan 6 buah tablet Asiklovir
200 mg yang telah diketahui bobotnya dengan 1 tablet pada tiap labu disolusi.
Turunkan keenam dayung secara serentak ke dalam media disolusi.

Alat

dihidupkan dengan kecepatan 50 rpm. Setelah 45 menit dimatikan alat, diambil


cairan dalam masing-masing labu menggunakan disposable syringe ke dalam
tabung reaksi. Diambil dengan pipet masing-masing 1,0 ml larutan dari tabung
reaksi, kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 25 ml, ditambahkan media
disolusi hingga volumenya 25,0 ml lalu dikocok.
Penetapan Kadar Asiklovir terlarut. Pengukuran serapan menggunakan
metode spektrofotometer ada panjang gelombang () maksimum 254 nm,

10

menggunakan blanko asam klorida 0,1 N, dan persyaratan kadar zat terlarut tidak
kurang dari 85 %.
4.2.2 Penetapan Kadar Asiklovir dengan KCKT
Penyiapan Larutan Pembanding. Ditimbang dengan seksama 44,8 mg
Asiklovir WS. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml. Ditambahkan 10 ml
larutan NaOH 0,1 N. Diltambahkankan dengan aquades sampai volumenya 100,0
ml lalu dikocok. Diambil dengan pipet 1,0 ml larutan tersebut, dimasukkan ke
dalam labu ukur 50 ml, ditambahkan akuades hingga volumenya 50,0 ml lalu
dikocok.
Penyiapan Larutan Uji asiklovir 200 mg.

Ditimbang 20 tablet dan

dihitung bobot rerata tablet, sampel dihaluskan dan disimpan dalam botol sampel.
Ditimbang dengan seksama 128,5 mg serbuk tablet. Dimasukkan ke dalam labu
ukur 250 ml, ditambahkan 10 ml larutan NaOH 0,1 N dan akuades 125 ml,
larutan tersebut

dilarutkan dengan

bantuan

ultrasonic bath,

kemudian

ditambahkan aquades sampai volumenya 250,0 ml lalu dikocok. Saring larutan


sampel dengan kertas saring, 20 ml filtrat pertama dibuang. Diambil dengan pipet
1,0 ml larutan hasil penyaringan, dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml,
ditambahkan akuades hingga volumenya 50,0 ml lalu dikocok. Saring larutan
dengan penyaring milipore 0,45 mikron.
Penyiapan Larutan Uji asiklovir 400 mg.

Ditimbang 20 tablet dan

dihitung bobot rerata tablet, sampel dihaluskan dan disimpan dalam botol sampel.
Sampel obat yang telah menjadi serbuk ditimbang dengan seksama 277,8 mg
serbuk tablet. Dimasukkan ke dalam labu ukur 500 ml, ditambahkan 10 ml
larutan NaOH 0,1 N dan akuades 250 ml, larutan tersebut dilarutkan dengan
bantuan ultrasonic bath, kemudian ditera dengan akuades sampai volumenya 50,0
ml lalu dikocok. Saring larutan sampel dengan kertas saring biasa, 20 ml filtrat
pertama dibuang.

Diambil dengan pipet sebanyak 1,0 ml larutan hasil

penyaringan, dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml, ditera aquades sampai
volumenya 50,0 ml lalu dikocok. Saring larutan dengan penyaring milipore 0,45
mikron.
Penetapan Kadar asiklovir.

Penetapan kadar dilakukan dengan

menggunakan KCKT, dengan persyaratan kadar 90,0 110,0 %, kondisi alat yang

11

digunakan sebagai berikut : detektor Uv dengan panjang gelombang 254 nm, fase
gerak yang digunakan asam asetat 0,02 N, kolom L1, -Bondapak (4,6 x 250 mm),
Laju alir 1,50 L/min, suhu 40C, dan volume injeksi 20 L

12

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Analisis kondisi fisik tablet asiklovir
Analisis fisik dari suatu sediaan merupakan hal yang wajib dilakukan dalam
setiap uji terhadap obat, apabila fisik dari obat tidak sesuai dengan standar dapat
diartikan terdapat kesalahan dalam produksi obat tersebut dan obat tersebut tidak
boleh dipasarkan. Kondisi fisik yang diamati pada sediaan tablet asiklovir 200 mg
dan 400 mg hasil produksi PT Kimia Farma (Persero) Tbk, pada laboratorium
pengwasan mutu diantaranya bentuk, warna, logo .
Bentuk, warna, dan logo dari obat merupakan identitas dari obat yang
diproduksi oleh suatu perusahaan.

Berdasarkan pengamatan tablet asiklovir

berbentuk cembung rangkap bevelled edge, berwarna biru muda untuk sediaan
200 mg dan cokelat muda untuk sediaan 400 mg, dengan berlogo kf sisi dan sisi
lainnya bertanda

untuk tablet 200 mg dan

. untuk tablet 400 mg.

Perbedaan warna untuk kedua berfungsi untuk membedakan antara obat asiklovir
200 mg dan 400 mg. Logo kf pada sisi depan merupakan identitas bahwa obat
tersebut di produksi oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk sisi lainya, yaitu

dan

.merupakan kode untuk obat asiklovir, dengan dosis yang benar.

Hasil

pengamatan tablet asiklovir seperti yang ditunjukan pada Tabel 1.

Tabel 1Hasil uji pemerian tablet asiklovir


Tampak depan
200 mg

400 mg

Tablet
Tampak belakang

Serbuk

13

5.2 Penetapan kadar asiklovir terlarut dengan metode spektrofotometer UV


Penentuan kadar asiklovir terlarut dari sediaan tablet menggunakan metode
spektrofotometer uv.

Sampel tablet asiklovir dilarutkan terlebih dahulu

menggunakan alat Dissolution Tester yang disimulasikan sama dengan tempat


obat tersebut akan larut, yaitu di lambung. Parameter tersebut diantaranya suhu,
waktu, kecepatan putaran, dan media disolusi. Uji disolusi merupakan uji in vitro
atau uji yang dilakukan diluar tubuh manusia, tetapi disimulasikan seperti dalam
tubuh manusia. Larutan yang digunakan untuk mendisolusi atau lebih dikenal
dengan media disolusi yang digunakan adalah asam klorida 0,1 N, hal tersebut
dikarenakan kondisi dari asam klorida menyerupai kondisi cairan asam pada
lambung manusia.

Suhu yang digunakan selama proses disolusi disesuaikan

dengan suhu tubuh manusia yaitu 37C 0,5C.


Tabel 2 Penetapan kadar asiklovir dengan metode spektrofotometer UV dan
KCKT
No
1

Metode

Kadar Sampel %
200 mg
400 mg

Persyaratan

Spektrofotometer

99,51

98,68

Min. Q>85%

KCKT

102,35

99,77

90 % 110 %

Kadar zat aktif terlarut diukur menggunakan spektrofotometer UV (UV)


pada panjang gelombang 254 nm.

Panjang gelombang 254 nm merupakan

panjang gelombang maksimum asiklovir. Panjang gelombang maksimum adalah


panjang gelombang yang memberikan perbedaan serapan maksimal pada sampel
dengan perbedaan konsentrasi yang kecil, sehingga akan memberikan kepekaan
maksimum pada perbedaan konsentrasi (Basset 1994).
Menurut (Ansel 1985) agar suatu obat dapat mengeluarkan efek biologisnya,
obat tersebut harus larut dan ditransportasikan oleh cairan tubuh ,menembus batas
lapisan (membran) biologis, membebaskan distribusinya secara luas ke daerah
yang tidak dinginkan, mengalami serangan metabolik, mempenetrasi ke tempattempat kerjanya dalam konsentrasi yang memadai, dan berinteraksi spesifik.
Berdasarkan hasil percobaan uji disolusi tablet asiklovir 200 mg yang
dilakukan diperoleh kadar minimal yaitu 97,83% dan kadar rerata 99,51 %. Hasil

14

uji disolusi tablet asiklovir 400 mg dari percobaan yang dilakukan diperoleh kadar
yaitu 94,33% dan kadar rerata 98,68 %. Kadar zat aktif yang terlarut dari kedua
sampel diatas sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam United States
Pharmacopeia (USP), dimana ke 6 sampel memenuhi persyaratan yaitu tidak satu
pun kadar zat terlarut yang diperoleh kurang dari 85%. Hasil yang diperoleh
menunjukkan tablet asiklovir 200 mg dan 400 mg memenuhi syarat karena dapat
larut dengan baik pada lambung manusia sehingga dapat terjadi proses
penyerapan obat dan memberikan efek terapi yang diinginkan.

5.3 Penetapan Kadar Asiklovir dengan metode KCKT


Penetapan kadar dilakukan untuk mengetahui kadar zat aktif yang terdapat
dalam obat tersebut secara pasti. Penentuan kadar asiklovir dilakukan dengan
metode KCKT, yang didasarkan pada pendistribusian sampel di antara dua fasa,
yaitu fasa diam (kolom) dan fasa gerak (eluen).

Penyiapan larutan uji pada

metode KCKT sampel serbuk tablet diubah menjadi suatu larutan.

Proses

penyiapan sampel yang dilakukan adalah dengan menghaluskan sampel. Sampel


obat dihaluskan, penghalusan sampel dilakukan agar ukuran partikel dari sampel
menjadi kecil sehingga sampel lebih mudah untuk dilarutkan. Penambahan NaOH
0,1 N dimaksudkan untuk memberikan suasana basa pada sampel karena sampel
lebih stabil dalam larutan basa, serta NaOH dan asiklovir memiliki kesamaan sifat
yaitu keduanya bersifat basa karena, dalam struktur kimianya asiklovir memiliki
atom N yang kaya akan elektron. Ultrasonifikasi dilakukan untuk membantu
proses pelarutan karena proses ultrasonifikasi dapat menghancurkan senyawa
yang masih dalam bentuk padatan sehingga semua zat aktif larut secara sempurna.
Proses selanjutnya sampel disaring menggunakan penyaring milipore 0,45
mikron. Penyaringan tersebut dilakukan untuk menghilangkan debu, organisme
kecil, dan zat penganggu lainnya dengan ukuran sangat kecil yang dapat
menganggu proses pengukuran. Penyaringan dilakukan karena kepekaan metode
KCKT yang sangat tinggi sehingga memungkinkan mendeteksi zat selain zat aktif
yang akan mengganggu pengukuran.
Analisis kualitatif dan kuantitatif asiklovir berdasarkan waktu retensi dan
luas puncak pada kromatogram.

Waktu retensi asiklovir pada sampel

15

dibandingkan dengan. Tidak terdapat pergeseran waktu retensi asiklovir pada


puncak standar dan sampel yang terlampir pada lampiran 4 dan 5. Kadar asiklovir
ditentukan berdasarkan perbandingan luas puncak sampel dan standar.
Berdasarkan hasil percobaan penetapan kadar asiklovir 200 mg kadar asiklovir
pada pengukuran sampel kadar asiklovir pengukuran diperoleh 102,35 % dengan
nilai simpangan baku relativ 1,00 % dengan demikian pengukuran menggunakan
KCKT dinyatakan teliti. Berdasarkan (AOAC 2002) %RSD <1% dinyatakan
sangat teliti, <2% teliti, <3% cukup teliti, <4% tidak teliti, dan <5% sangat tidak
teliti.

Penetapan kadar asiklovir 400 mg kadar asiklovir diperoleh 99,77 %

dengan nilai simpangan baku relatif 0,84 %, yang berarti dalam obat terdapat
399,080 mg zat aktif dalam 1 tablet. Nilai simpangan baku relativ dari 2 buah
ulangan pengukuran dengan nilai kurang dari 2 % menandakan hasil tersebut
tepat. Hasil yang diperoleh dalam obat sediaan tablet tersebut memenuhi syarat
sesuai dengan United States of Pharmacopeia (USP) yaitu tidak kurang dari
90,0% dan tidak lebih dari 110,0%.
Kadar asiklovir yang diperoleh dengan metode KCKT berbeda dengan
metode spektrofotometer pada Tabel 1.

Asiklovir yang terukur pada KCKT

adalah kadar asiklovir murni pada obat.

Metode KCKT dapat memisahkan

asiklovir dengan bahan lainnya yang mungkin menjadi pengganggu.

Hal ini

disebabkan pada pemisahan asiklovir hanya didapatkan 1 puncak pada


kromatogram sampel seperti yang ditunjukan pada Lampiran 6. Hal tersebut
menandakan metode KCKT sangat selektif terhadap zat yang akan diukur. Kadar
asiklovir yang diperoleh dengan metode spektrofotometer adalah kadar asiklovir
terlarut hasil uji disolusi. Semua komponen obat akan larut pada proses disolusi
termasuk bahan pengemas dan bahan tambahan pada obat. Sehingga semua zat
terlarut akan terukur serapannya termasuk zat aktif dan bahan tambahan serta
bahan pengemas obat. Zat lain yang memiliki panjang gelombang berdekatan
dengan panjang gelombang maksimum asiklovir dapat diserap, sehingga hasil
yang diperoleh tidak selektif untuk asiklovir terlarut saja. Berdasarkan hal tersebut
dapat diartikan pengukuran dengan menggunakan metode KCKT lebih baik dan
spesifik dari pada merode spektrofotometer.

16

VI SIMPULAN DAN SARAN


6.1 Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan uji disolusi dapat disimpulkan bahwa hasil uji
disolusi yang telah dilakukan terhadap tablet asiklovir 200 mg dan 400 mg telah
memenuhi persyaratan uji disolusi.

Berdasaarkan percobaan yang sudah

dilakukan diperoleh kadar zat aktif asiklovir dalam sediaan tablet 200 mg adalah
102,35% dan dalam sediaan tablet 400 mg adalah 99,77%.

6.2 Saran
Penetapan kadar zat aktif asiklovir dalam obat sediaan tablet tidak hanya
dilakukan dengan metode KCKT tetapi juga dilakukan dengan metode lain seperti
Spektrofotometer agar dapat dibandingkan hasil analisa yang diperoleh dari kedua
metode tersebut.

17

DAFTAR PUSTAKA
[AOAC] Assosiation of Official Analytical Chemist. 2002. AOAC International
Methods Commitee Giudelines for Validation of Quantitative and Quantitative
Food Microbioogical Official Methods of Analsis [terhubungberkala].
http://www.aoav.org/official_methods. [25 Mei 2011]
Ansel, Howard. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi Keempat.
Farida Ibrahim. Penerjemah. Jakarta : UI-Press Terjemahan dari: Introduction
to Pharmaceutical Dosage Forms.
Basset J dkk.1994.Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.Hadyan
P dan Ir. L. Setiono. Penerjemah. Jakarta : Buku kedokteran EGC. Terjemahan
dari : Vogels Textbook of Quantitative Inorganic Analysis Including
Instrumental Analysis.
Chan CC, Y.C.Lee, Herman L, Xue-Ming Z. 2004. Analytical Method Validation
And Instrument Performance Verification. New Jersey. John Wiley & Sons,
Inc.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia, edisi
Keempat. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dressman Jenifer. 2005. Pharmaceutical Dissolution Testing. USA: Taylor and
Francis Group, Ltd.
Hasibuan S. 2006. Penatalaksaan Klinis Herpes Zoster yang Melibatkan Mukosa
Mulut. Dentika Dental Jurnal. Vol 11. No 2: 166 170.
Khopkar SM. 1990.Konsep Dasar Kimia Analitik.Saptoharjo A Penerjemah.
Jakarta : UI-Press. Terjemahan dari : Basic Concepts Of Analytycal Chemistry.
Martindale. 1996. The Extra Pharmacopoeia. London: Royal Pharmaceutcal
Society.
Munson J.W. 1984. Pharmaceutical Analysis Modern Methods Parts II: North
Carolina.
Nur M. Anwar. 1989. Spektroskopi. Bogor: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas
Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.
Samah A. 2007. Identifikasi Beberapa Obat Antivirus dan Antikanker dalam
berbagai Sediaan. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi. Vol. 12, No. 2: 73
81.
Tcay T H dan Rahardja K. 2007.Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan
Efek-efek Sampingnya. Jakarta: Gramedia
Underwood AL dan Day JR RA. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Sofyan Iis,
penerjemah.Jakarta: Erlangga. Terjemhan dari: Quantitative analysis

18

United States Pharmacopeial Convention. 2008. The United States Pharmacopeial


Rockville: United States Pharmacopeial Convention

LAMPIRAN

19

Lampiran 1 Struktur Organisasi PT.Kimia Farma (Persero) Tbk

22

20

Lampiran 2 Contoh perhitungan uji disolusi


Kadar asiklovir terlarut per tablet, dihitung dengan rumus berikut :

Au

: Serapan larutan uji

As

: Searapan larutan pembanding

BWS : Bobot Asiklovir WS yang ditimbang (mg)


KWS : Kadar Asiklovir WS yang ditimbang (%)
Fp std : Faktor pengenceran larutan pembanding (50/1 x 50)
V

: volume media disolusi (900 ml)

Fp spl : Faktor pengenceran larutan sampel (25/1 = 200 mg ; 50/1 = 400 mg)
KA : Kandungan Asiklovir yang seharusnya terdapat per tablet (200 mg / 400 mg)

Contoh perhitungan hasil uji disolusi 200 mg

Contoh perhitungan hasil uji disolusi 400 mg :

21

Lampiran 3 Tabel penetapan kadar asiklovir 200 mg dan 400 mg


Sampel

Luas puncak sampel

Luas puncak standar

Kadar (%)

Sampel ulangan 1

366220

387969

101.63

Sampel ulangan 2

371747

387969

103.08

Kadar rerata

102,35

RSD %

1.00

Sampel

Luas puncak sampel

Luas puncak standar

Kadar (%)

Sampel ulangan 1

387295

387969

100,36

Sampel ulangan 2

382718

387969

99.18

Kadar rerata

99.77

RSD %

0,84

22

Lampiran 4 Contoh perhitungan penetapan kadar asiklovir

Kadar asiklovir dalam persen dari jumlah yang tertera pada etiket dihitung
dengan rumus sebagai berikut :

Au

: Luas area larutan uji

As

: Luas area larutan pembanding

BWS : Bobot Asiklovir WS yang ditimbang (mg)


KWS : Kadar Asiklovir WS yang ditimbang (%)
Fp std : Faktor pengenceran larutan pembanding (50/1 x 100)
Bn

: volume media disolusi (900 ml)

Fp spl : Faktor pengenceran larutan sampel (50/1 x 250 = 200 mg ; 50/1 x 500 =
400 mg)
KA

: Kandungan Asiklovir yang seharusnya terdapat per tablet (200 mg / 400


mg)

Contoh perhitungan penetapan kadar 200 mg

Contoh perhitungan penetapan kadar 400 mg

23

Lampiran 5 Kromatogram standar

24

Lampiran 6 Contoh kromatogram sampel