Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN

Glikolisis merupakan reaksi tahap pertama secara aerob (cukup oksigen) yang
berlangsung dalam mitokondria. Glikolisis berasal dari kata glyco = gula, lysis = memecah.
Semua kehidupan di bumi melakukan glikolisis. Tahap glikolisis tidak memerlukan oksigen
dan tidak menghasilkan banyak energi. Tahap glikolisis merupakan awal terjadinya respirasi
sel. Glikolisis terjadi dalam sitoplasma dan hasil akhir glikolisis berupa senyawa asam
piruvat. Glikolisis memiliki sifat-sifat, antara lain: glikolisis dapat berlangsung secara aerob
maupun anaerob, glikolisis melibatkan enzim ATP dan ADP, serta peranan ATP dan ADP
pada glikolisis adalah memindahkan (mentransfer) fosfat dari molekul yang satu ke molekul
yang lain. Pada sel eukariotik, glikolisis terjadi di sitoplasma (sitosol). Glikolisis terjadi
melalui 10 tahapan yang terdiri dari 5 tahapan penggunaan energi dan 5 tahapan pelepasan
energi .
Glukoneogenesis adalah sintesis glukosa dari senyawa bukan karbohidrat, misalnya
asam laktat dan beberapa asam amino. Proses glukoneogenesis berlangsung terutama dalam
hati. Asam laktat yang terjadi pada proses glikolisis dapat dibawa oleh darah ke hati. Di sini
asam laktat diubah menjadi glukosa kembali melalui serangkaian reaksi dalam suatu proses
yaitu glukoneogenesis ( pembentukan gula baru).
Glukoneogenesis yang dilakukan oleh hati atau ginjal, menyediakan suplai glukosa
yang tetap. Kebanyakan karbon yang digunakan untuk sintesis glukosa akhirnya berasal dari
katabolisme asam amino. Laktat yang dihasilkan dalam sel darah merah dan otot dalam
keadaan anaerobik juga dapat berperan sebagai substrat untuk glukoneogenesis.

Glukoneogenesis juga merupakan lintasan metabolisme yang digunakan oleh tubuh


selain glikogenolisis juga untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa di dalam plasma darah
untuk menghindari simtoma hipoglisemia. Pada lintasan glukoneogenesis, sintesis glukosa
terjadi dengan substrat yang merupakan produk dari lintasan glikolisis, seperti asam piruvat,
asam suksinat, asam laktat, asam oksaloasetat. Glukoneogenesis memenuhi kebutuhan
glukosa tubuh jika karbohidrat dari makanan atau cadangan glikogen kurang memadai.
Pasukan glukosa merupkan hal yang esensial terutama bagi sistem saraf dan eritrosit.

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 1

BAB II
PEMBAHASAN

GLIKOLISIS
Kebanyakan jaringan setidaknya memerlukan glukosa. Di otak kebutuhan ini bersifat
subtansial. Glukolisis yaitu jalur utama metabolisme glukosa terjadi di sitosol semua sel.
Jalur ini unik karena dapat berfungsi baik dalam keadaan aerob maupun anaerob, bergantung
pada ketersediaan oksigen dan rantai transpor elektron. Eritrosit yang tidak memiliki
mitokondria , bergantung sepenuhnya pada glukosa sebagai bahan bakar metaboliknya, dan
memetabolisme glukosa melalui glikolisis anaerob. Namun untuk mengoksidasi glukosa
melewati piruvat (produk akhir glikolisis) oksigen dan sistem enzim mitonkondria di
perlukan, misalnya kompleks piruvat dihidrogenase, siklus asma sitrat, dan rantai
respiratorik.
Glikolisis adalah katabolisme glukosa yang berlangsung di dalam sitosol semua sel,
menjadi:

asam piruvat, pada suasana aerob (tersedia oksigen)

asam laktat, pada suasana anaerob (tidak tersedia oksigen)

Glikolisis merupakan rute utama metabolisme glukosa dan juga jalur utama untuk
metabolisme fruktosa ,galaktosa, dan karbohidrat

lain yang berasal dari makanan.

Kemampuan glikolisis untuk menghasilkan ATP tanpa oksigen merupakan hal yang sangat
penting karena hal ini memungkinkan otot rangka bekerja keras ketika pasokan oksigen
terbatas, dan memungkinkan jaringan bertahan hidup ketika mengalami anoksia. Namun otot
jantung yang beradaptasi untuk bekerja dalam keadaan aerob, memiliki aktivitas glikolitik
yang relatif rendah dan kurang dapat bertahan hidup dalam keadaan iskemia. Penyakit akibat
defisiensi enzim glikolitik (misalnya piruvat kinase) akan bermanifestasi terutama sebagai
anemia hemolitik atau, jika defeknya mengenai otot rangka (misalnya fosfofruktokinase),
sebagai kelelahan. Di sel-sel kanker yang tumbuh pesat, glikolisis berlangsung cepat dan
menghasilkan banyak piruvat yang kemudian tereduksi menjadi laktat dan di keluarkan. Hal
ini menyebabkan terbentuknya lingkungan tumor yang setempat yang bersifat asam yang
mungkin berdampak pada terapi kanker. Laktat di gunakan untuk glukoneogenesis di hati,
yakni untuk suatu proses yang banyak memakan banyak energi, dan menjadi penyebab utama

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 2

hipermetabolisme yang dijumpai pada kaheksia kanker. Asidosis laktat dapat disebabkan oleh
beragam hal, mencakup gangguan aktivitas piruvat dehidrogenase.

Glikolisis dapat berfungsi pada keadaan anaerob


Pada tahap-tahap awal penelitian tentang glikolisis disadari bahwa fermentasi
menggunakan ragi serupa dengan penguraian glikogen di otot. Di ketahui bahwa jika suatu
otot berkontraksi dalam medium anaero, yaitu medium dengan oksigen yang telah di
keluarkan, glikogen akan lenyap dan muncul laktat. Jika oksigen di masukan, terjadi
pemulihan aerob dan laktat kemudian lenyap. Namun jika kontraksi berlangsung dalam
kondisi aerob, penimbunan laktat tidak terjadi dan piruvat adalah produk akhir utama
glikolisis. Piruvat di oksidasi lebih lanjut menjadi CO2 dan air. Jika pasokan oksigen
berkurang, reoksidasi NADH di mitokondria yang terbentuk selama glikolisis terhambat dan
NADH teroksidasi dengan mereduksi piruvat menjadi laktat sehingga glikolisis dapat
berlanjut. Meskipun glikolisis dapat berlangsung dalam kondisi anaerob , pengorbanan
diperlukan karena hal ini membatasi jumlah ATP yang dibentuk per mol glukosa yang
teroksidasi sehingga jauh lebih banyak glukosa yang harus di metabolisme dalam kondisi
anaerob ketimbang dalam kondisi aerob. Di sel ragi dan beberapa mikroorganisme lain,
piruvat yang di bentuk dalam glikolisis anaerob tidak di reduksi menjadi laktat, tetapi
mengalami dekarboksilasi dan di reduksi menjadi etanol.

Reaksi-reaksi glikolisis merupakan jalur utama pemakaian glukosa


Persamaan keseluruhan untuk glikolisis dari glukosa menjadi menjadi lakat yaitu :
Glukosa + 2 ADP + 2 P 2 Laktat + 2 ATP + 2 H2O.
Semua enzim glikolisis di temukan di sitosol. Glukosa memasuki glikolisis melalui fosforilasi
menjadi glukosa 6-fosfat yang di katalisis oleh heksokinase dengan menggunakan ATP
sebagai donor fosfat. Dalam kondisi fisiologis, fosfolirasi menjadi glukosa 6-fosfat dapat di
anggap bersifat ireversible. Heksokinase di hambat secara alosterik oleh produknya , yaitu
glukosa 6-fosfat.
Di jaringan selain hati ( dan sel pulau- pankreas), ketersediaan glukosa untuk
glikolisis (atau sintesi glikogen di otot dan lipogenesis di jaringan adiposa) di kontrol oleh
transpor dalam sel yang selanjutnya di atur oleh insulin. Heksokinase memiliki afinitas tinggi
(Km Rendah) untuk glukosa dan di hati untuk kondisi normal enzim ini mengalami saturasi
sehingga bekerja dengan kecepatan tetap untuk menghasilkan glukosa 6-fosfat untuk
memenuhi kebutuhan sel . sel hati juga mengandung suatu isoenzim heksokinase,glukokinase
Glikolisis dan Glukoneogenesis | 3

yang memiliki Km yang jauh lebih tinggi dari pada konsentrasi glukosa intrasel normal.
Fungsi glukokinase di hati adalah untuk mengeluarkan glukosa 6-fosfat yang melebihi
kebutuhan untuk glikolisis, yang di gunakan untuk sintesis glikogen dan lipogenesis.
Glukosa 6-fosfat adalah suatu senyawa penting yang berada di pertemuan beberapa
jalur metabolik yaitu glikolisis, glukoneogenesis, jalur pentosa, glikogenesis. Dan
glikogenolisis. Pada glikolisis, senyawa ini di ubah menjadi fruktosa 6-fosfat oleh
fosfoheksosa isomeraseyang melibatkan suatu isomerisasi aldosa-ketos. Reaksi ini di ikuti
oleh fosforilasi lain yang di katalisis oleh enzim fosfofruktokinase (fosfofruktokinase-1)
untuk membentuk fruktosa 1,6-bifosfat. Reaksi fosfofruktokinase secara fungsional dapat di
anggap ireversible dalam kondisi fisiologis reaksi ini dapat di induksi dan diatur secara
alosterik dan memiliki peran besar dalam mengatur laju glikolisis. Fruktosa 1,6-bifosfat di
pecah oleh aldolase (fruktosa 1,6-bisfosfat aldolase) menjadi dua triosa fosfat, gliseraldehida
3-fosfat dan dihidrosiaseton fosfat. Gliseraldehida 3-fosfat dan dehidrosiaseton fosfat dapat
saling terkonversi oleh enzim fosfotriosa isomerase.
Glikolisis

berlanjut

dengan

oksidasi

gliseraldehida

3-fosfat

menjadi

1,3-

bisfosfatgliserat. Enzim yang mengkatalisis reaksi oksidasi ini, gliseraldehida 3-fosfat


dehidrogenase, bersifat denpenden NAD. Secara struktual, enzim ini terdiri dari empat
polipepetida identik (monomer) yang membentuk suatu tetramer. Empat gugus SH terdapat di
masing-masing polipeptida dan berasal dari residu sistein didalam rantai polipeptida. Salah
satu gugus SH terdapat di tempat atau bagian aktif enzim. Subtrat yang pada awalnya
berikatan dengan gugus SH ini membentuk suatu tiohemiasetal yang di oksidasi menjadi
suatu ester tiolhidrogen yang di keluarkan dalam oksidasi ini di pindahkan ke NAD. Ester tiol
kemudian mengalami fosforolisis fosfat anorganik (P) ditambahkan yang membentuk 1,3bisfosfoglisera, dan gugus SH dikonstitusi. Dalam reaksi berikutnya yang di katalisis oleh
fosfogliserat, fosfat dipindahkan dari 1,3-bisfosfogliserat ke ADP membentuk ATP
(fosforilasi tingkat subtrat) dan 3-fosfogliserat.
Karena untuk setiap molekul glukoas yang mengalami glikolisi di hasilkan dua
molekul triosa fosfat, pada tahap ini di hasilkan dua molekul glukosa yang mengalami
glikolisis. Toksisitas arsen terjadi karena kompetisi arsenat dengan fosfat anorganik (P)
dalam reaksi di atas untuk menghasilkan 1-arseno-3-fosfogliserat, yang mengalami hidrolisis
spontan menjadi 3-fosfogliserat tanpa membentuk ATP. 3-fosfogliserat mengalami
isomerisasi menjadi 2-fosfogliserat oleh fosfogliserat mutase. Besar kemungkinan bahwa 2,3bisfosfogliserat (difosfogliserat, DPG) merupakan zat antara dalam reaksi ini.

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 4

Langkah berikutnya di katalisis oleh enolase dan melibatkan suatu dehidrasi yang
membentuk fosfoenolpiruvat. Enolase dihambat oleh fluorida dan jika pengambilan sampel
darah untuk mengukur glukosa di lakukan, tabung penampung darah tersebut diisi oleh
fluorida untuk menghambat glikolisis. Enzim ini juga bergantung pada keberadaan Mg
atau Mn

2+

2+

. fosfat pada fosfoenol piruvat di pindahkan ke ADP oleh piruvat kinase untuk

membentuk dua molekul glukosa yang di oksidasi.


Keadaan redoks jaringan kini menentukan jalur mana dari dua jalur yang di ikuti.
Pada kondisi anaerob, NADH tidak dapat di reoksidasi melalui rantai respiratorik menjadi
oksigen. Pirufat direduksi oleh NADH menjadi laktat yang di katalisis oleh laktat
dehidrogenase. Terdapat berbagai isoenzim laktat dehidrogenase. Terdapat berbagai isoenzim
laktat deehidrogenase spesifik- jaringan yang yang penting secara klinis. Reoksidasi NADH
melalui pembentukan laktat memungkinkan glikolisis berlangsung tanpa oksigen dengan
menghasilkan cukup NAD+

untuk siklus berikutnya dari reaksi yang di katalisis oleh

gliseraldehida 3-fosfat dehidrogenase. Pada keadaan aerob, piruvat diserap kedalam


mitokondria dan setelah menjalani dekarboksilasi oksidatif menjadi asetil KoA, di oksidasi
menjadi CO2 oleh skilus asma sitrat. Eukivalen pereduksi dari NADH yang di bentuk dalam
glikolisis diserap ke dalam mitokondria untuk di oksidasi melalui salah satu dari dua
pembawa.

Glikolisis di atur di tiga tahap dan melibatkan reaksi tidak setimbang


Meskipun kebanyakan reaksi glikolisis bersifat reversible. Namun tiga reaksi jelas
bersifat eksergonik dan karena itu harus di anggap irreversible secara fisiologis. Ketiga reaksi
tersebut di katalisis oleh heksokinase (dan glukokinase), fosfofruktokinase, dan piruvat
kinase, adalah tempat-tempat utama pengendalian glikolisis. Fosfofruktokinase secra
signifikan di hambat oleeh ATP dalam konsentrasi intasel normal. Hambatan ini dapat cepat
dihilangkan oleh 5 AMP yang terbentuk sewaktu ADP mulai menumpuk, yang memberi
sinyal akan perlunya peningkatan laju glikolisis. Sel-sel yang mampu melakukan
glukoneogenesis (membalikan jalur glikolisis) memiliki enzim-enzim berbeda yang
mengkatalisis reaksi untuk membalikkan tahap-tahap ireversible ini, glukosa 6- fosfatase,
fruktosa1,6-bifofatase dan untuk membalikkan reaksi piruvat kinase, piruvat karboksilase
dan fosfoenolpiruvat karboksinase. Fruktosa masuk ke jalur glikolisis melalui fosforilasi
menjadi fruktosa 1-fosfat, dan tidak melalui tahap-tahap regulatorik utama sehingga di
hasilkan lebih banyak piruvat ( dan asetil KoA) dari pada piruvat yang di butuhakan untuk

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 5

membnetuk ATP. Di hati dan jaringan adiposa , hal ini menyebabkan peningkatan lipogenesis
dan tingginya asupan fruktosa berperan menyebabkan obesitas.
Di eritrosit tahap pertama glikolisis untuk membentuk ATP dapat di pintas di eritrosit
yaitu reaksi yang di katalisis oleh fosfogliseratkinase dapat di pintas dalam batas tertentu oleh
reaksi bisfosfo gliserat mutase yang mengkatalisis perubahan 1,3- bisfosfogliserat menjadi
2,3-bisfosfogliserat dan di ikuti oleh hidrolisis menjadi 3-fosfogliserat fosfatase. Jalur
alternatif ini tidak menghasilkan ATP dari glikolisis. Namun jalur ini berfungsi menyediakan
2,3-bisfosfogliserat yang berikatan dengan hemoglobin dan menurunkan afinitasnya terhadap
oksigen sehingga oksigen lebih mudah di salurkan ke jaringan.
10 Tahap Proses Glikolisis
Dilihat dari keseluruhan, glikolisis terbagi menjadi dua bagian atau fase :
1. Fase 1 : meliputi tahap reaksi enzim yang memerlukan ATP, yaitu tahap reaksi dari
glukosa sampai dengan pembentukan fruktosa 6-fosfat (dari tahap 1 tahap 5)
2. Fase 2 : meliputi tahap reaksi yang menghasilkan energi (ATP dan NADH) yaitu dari
gliseraldehide 3-fosfat sampai dengan piruvat (dari tahap 6 tahap 10)
Tahap-Tahap Glikolisis :
1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa-6 fosfat dengan dikatalisir oleh
enzim heksokinase atau glukokinase pada sel parenkim hati dan sel Pulau
Langerhans pancreas. ATP diperlukan sebagai donor fosfat dan bereaksi sebagai
kompleks Mg-ATP. Satu fosfat berenergi tinggi digunakan, sehingga hasilnya
adalah ADP. (-1P)
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 6-fosfat dengan bantuan enzim
fosfoheksosa isomerase. Enzim ini hanya bekerja pada anomer -glukosa 6-fosfat.
3. Fruktosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 1,6-bifosfat dengan bantuan enzim
fosfofruktokinase. ATP menjadi donor fosfat, sehingga hasilnya adalah ADP.(-1P)
4. Fruktosa 1,6-bifosfat dipecah menjadi gliserahdehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton
fosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim aldolase (fruktosa 1,6-bifosfat aldolase).
5. Gliseraldehid 3-fosfat dapat berubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan
sebaliknya (reaksi interkonversi). Reaksi bolak-balik ini mendapatkan katalisator
enzim fosfotriosa isomerase.
6. Gliseraldehid 3-fosfat dioksidasi menjadi 1,3-bifosfogliserat dengan bantuan enzim
gliseraldehid 3-fosfat dehidrogenase. Dihidroksi aseton fosfat bisa diubah menjadi
gliseraldehid 3-fosfat maka juga dioksidasi menjadi 1,3-bifosfogliserat.

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 6

7. Pada 1,3 bifosfogliserat, fosfat posisi 1 bereaksi dengan ADP menjadi ATP dibantu
enzim fosfogliserat kinase. Senyawa sisa yang dihasilkan adalah 3-fosfogliserat.
8. 3-fosfogliserat diubah menjadi 2-fosfogliserat dengan bantuan enzim fosfogliserat
mutase.
9. 2-fosfogliserat diubah menjadi posfoenol piruvat (PEP) dengan bantuan enzim
enolase. Enolase dihambat oleh fluoride. Enzim ini bergantung pada Mg2+ atau
Mn2+.
10. Fosfat pada PEP bereaksi dengan ADP menjadi ATP dengan bantuan enzim
piruvat kinase. Enol piruvat yang terbentuk dikonversi spontan menjadi keto
piruvat.
Jika tak tersedia oksigen (anaerob), tak terjadi reoksidasi NADH melalui pemindahan unsur
ekuivalen pereduksi. Piruvat akan direduksi oleh NADH menjadi laktat dengan bantuan
enzim laktat dehidrogenase.

GLUKONEOGENESIS
Glukoneogenesis adalah proses pengubah prekursosr nonkarbohidrat menjadi glukosa
atau glukogen. Substrat utamanya adalah asam-asam amino glukogenik, laktat, gliserol, dan
propionat. Hati dan ginjal adalah jaringan glukoneogenik utama.
Glukoneogenenik memenuhi kebutuhan utama glukosa tubuh jika karbohidrat dari makanan
atau cadangan glikogen kurang memadai. Pasokan glukosa merupakan hal yang esensial
terutama bagi sistem saraf dan eritrosit. Kegagalan glukoneogenesis biasanya bersifat fatal.
Hipoglikemia menyebabkan disfungsi otak yang dapat menyebabkan koma dan kematian.
Glukosa juga penting dalam mempertahankan kadar zat-zat antara siklus asam sitrat
meskipun asam lemak sumber utama asetil-KoA di jaringan. Selain itu glukoneogenesis
membersihkan laktat yang di hasilkan oleh otot dan eritrosit serta gliserol yang dihasilkan
oleh jaringan adiposa. Pada hewan pemamah biak, propionat adalah produk metabolisme
karbohidrat dirumina (perut pertama pemamah biak), dan merupakan subtrat utama
glukoneogenesis.

Glikoneogenesis melibatkan glikolisis, siklus asma sitrat, serta beberapa reaksi khusus
Sawar termodinamik mencegah pembalikan sederhana glikolisis. Tiga reaksi tidak
setimbang dalam glikolisis yang di katalisis oleh heksokinase, fosfofruktokinase, dan piruvat

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 7

kinase, penghambat pembalikan sederhana glikolisis untuk membentuk glukosa. Reaksireaksi ini terjadi sebagai berikut:

Piruvat dan fosfoenolpiruvat


Pembalikan reaksi yang di katalisis oleh piruvat kinase dalam glikoilisis melibatkan
dua reaksi endotermik. Piruvat karboksilase mitikondria mengkatalisis karboksilase
piruvat menjadi oksaloasetat, suatu reaksi yang membutuhkan ATP dengan vitamin
biotin

sebagai

koenzim.

Biotin

mengikat

CO2

dari

bikarbonat

sebagai

karboksibiotinsebelum penambahan CO2 ke piruvat. Enzim kedua, fosfoenolpiruvat


karboksikinase, mengkatalisis dekarboksilase dan fosforilasi oksaloasetat menjadi
fosfoenolpiruvat dengan menggunakan GTP sebagai donor fosfat. Di hati dan ginjal,
reaksi suksinat tiokinase dalam silus asm sitrat menghasilkan GTP (bukan ATP
seperti di jaringan lain), dan GTP ini di gunakan untuk reaksi fosfoenolpiruvat
karboksikinase sehingga terbentuk hubungan antara aktivitas siklus asam sitrat dan
glukoneogenesis, untuk mecegah pengeluaran berlebihan oksaloasetat untuk
glukoneogeneesis yang dapat menggangu aktivitas siklus asma sitrat.

Fruktosa 1,6- bisfosfat dan fruktosa 6-fosfat


Perubahan fruktosa 1,6-bisfosfat menjadi fruktosa 6-fosfat, untuk pembalikan
glikolisis, dikatalisis oleh fruktosa 1,6-bisfosfatase. Keberadaan enzim ini
menentukan apakah suatu jaringan mampu memebnetuk glukosa (atau glikogen) tidak
saja dari piruvat, tetapi juga dari triosa fosfat. Enzimini terdapat di hati, ginjal dan
otot rangka, tetapi mungkin tidak ditemukan di otot jantung dan otot polos.

Glukosa 6-fosfat dan glukosa


Perubahan glukosa 6-fosfat menjadi glukosa di katalisis oelh glukosa 6-fosfatase.
Enzim ini terdapat di hati dan ginjal, tetapi tidak di otot dan jaringan adiposa,
akibatnya tidak dapat mengekspor glukosa kedalam aliran darah.

Glukosa 1-fosfat dan glukogen


Pemecehan glikogen menjadi glukosa 1-fosfat di katalisis oleh fosforilase. Sintesist
glikogen melibatkan jalur yang berbeda melalui uridin difosfat glukosa dan glikogen
sintase.

Setelah transminasi atau deaminasi asam-asam amino glukogenik menghasilkan


piruvat atau zat-zat antara siklus asam sitrat. Oleh karena itu reaksi yang di jelaskan

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 8

sebelumnya dapat menyebabkan perubahan laktat maupun asam amino glukogenik menjadi
glukosa atau glikogen.
Propionat adalah prekursor utama glukosa pada hewan pemamah biak. Senyawa ini
memasuki proses glukoneogensis melalui siklus asma sitrat , setelah esterifikasi dengan KoA,
propionil-KoA mengalami karboksilasi D-metimalonil-KoA yang di katalisis oleh propionilKoA karboksilase, suatu enzim yang dipenden biotin. Metilmalonil-KoA rasemase
mengkatalisis perubahan D-metilmalonil-KoA menjadi L-metilmalonil-KoA yang kemudian
mengalami isomerisasi menjadi suksinil- KoA yang di katalisis oleh metilmalonil- KoA
mutase. Pada hewan bukan pemamah biak, termasuk manusia, propionat berasal dari
oksidasi- asam lemak rantai-ganjil yang terdapat pada lipid hewan pemamah biak, serta
oksidasi isoleusin dan rantai samping kolesterol, serta merupakan subtrat (relatif minor) bagi
glukoneogensis,. Metilmalonil- KoA mutase adalah enzim denpenden vitamin B

12

dan pada

difisiensi asam metilmalonat, enzim ini di sekresikan di urine( metilmalonatasiduria).


Gliserol di bebaskan dari jaringan adiposa melaui liposliss lipoprotein trissigliserol
dalam keadaan kenyang. Gliserol dapat juga digunakan untuk re-esterifikasi asam lemak
bebas menjadi triasilgliserol di jaringan adiposa hati. Atau menjadi subtrat untuk
glukoneogenesis . dalam keadaan puas gliserol yang di bebaskan dari lipolisis trialsilgliserol
jaringan adiposa di gunakan semata-mata sebagai subtrat untuk glukoneogenesis di hati dan
ginjal.

Fruktosa 2,6-bisfosfat berperan unik dalam mengatur glikolisis dan glukoneogenesis di


hati.
Aktivator alosterik yang paling poten oleh fosfofruktokinase-1 dan inhibitor fruktosa
1,6-bisfosfatase di hati adalah fruktosa 2,6-bisfosfat. Zat ini menghilangkan inhibisi terhadap
fosfofruktokinase-1 oleh ATP dan meningkatkan afinitas enzim tersebut terhadap fruktosa 6fosfat. Fruktosa 2,6-bisfosfat menghambat fruktosa 1,6-bisfosfatase dengan meningkatkan Km
untuk fruktosa 1,6-bisfosfat. Konsentrasi berada di bawah kontrol subtrat (alosterik) dan
hormon (modifikasi kovalen).
Fruktosa2,6-bisfosfat

di

bentuk

melalui

fosforilasi

fruktosa

6-fosfat

oleh

fosfofruktokinase-2. Protein enzim yang sama juga berperan dalam penguraian karena enzim
ini memiliki aktifitas fruktosa 2,6-bisfosfatase. Enzim bifungsional ini berada di bawah
kontrol alosterik fruktosa 6-fosfat yang merangsang kinase dan menghambat fosfatase. Oleh
karena itu jika pasokan glukosa, berlebihan konsentrasi fruktosa 2,6-bisfosfat meningkat,
merangsang

glikolisis

dengan

mengaktifkan

fosfofruktokinase-1

dan

menghambat

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 9

fruktosa1,6-bisfosfatase. Dalam keadaan puasa, glukagon merangsang pembentukan cAMP


mengaktifkan protein kinase dependen- cAMP yang pada gilirannya menginaktifkan fruktosa
2,6-bisfosfatase melalui fosforilasi. Oleh karena itu terjadi stimulasi glukoneogenesis oleh
penurunan konsentrasi fruktosa 2,6-bisfosfat yang menginaktifkan fosfofruktokinase-1 dan
menghilangkan inhibisi terhadap fruktosa 1,6-bisfostase.

Siklus subtrat memungkinkan pengaturan secara halus dan respon yang cepat.
Titik-titik kontrol dalam glikolisis dan metabolisme glikogen melibatkan suatu siklus
fosforilasi dan defosforilasi yang di katalisis oleh glukokinase dan glukosa 6-fosfatase
fosfofruktokinase-1 dab fruktosa 1,6-bisfosfatase, piruvat kinase, piruvat karboksilase, dan
fosfoenolpiruvat karboksikinase serta gligoken sintase dan fosforilase. Seharusnya menjadi
jelas bahwa enzimenzim yang saling bertentangan ini dikendalikan sedemikian rupa
sehingga jika enzim-enzim yang berperan dalam glikolisis sedang aktif, enzim-enzim yang
terlibat dalam glukoneogenesis akan menjadi inaktif. Jika hal demikian tidak terjadi akn
terjadi pendauran antara zat-zat yang terfosforilasi dan yang tidak terfosforilasi dengan
hidrolisis netto ATP. Namun demikian di otot baik fosfofruktokinase maupun fruktosa 1,6bisfosfatase sedikit banyak memperlihatkan aktivitas setiap saat sehingga memang sedikit
banyak terjadi pendauran substrat (sia-sia). Hal ini memungkinkan peningkatan cepat laju
glikolisis yang di perlukan oleh kontraksi otot. Saat istirahat kecepatan aktivitas
fosfofruktokinase sekitar sepuluh kali lipat lebih tinggi di bandingkan fruktosa 1,6bisfosfatase dalam antisipasi terhadap kontraksi otot, aktivitas kedua enzim meningkat, yaitu
aktivitas fruktosa 1,6-bisfosfatase sepuluh kali lipat dari pada fosfofruktokinase sehingga laju
glikolisis netto sama. Pada awalnya kontraksi otot, aktivitas fosfofruktokinase meningkat dan
aktivitas fruktosa 1,6-bisfosfatase menurun sehingga laju netto glikolisis (dan dengan
demikian, pembentukan ATP) meningkat sekitar seribu kali lipat.

Glukosa darah berasal dari makanan, glukoneogenesis dan glikogenolisis.


Karbohidrat dalam makanan yang dapat di cerna akan menghasilkan glukosa,
galaktosa, fruktosa, yang kemudian di angkut ke hati melalui vena porta hepatica. Galaktosa
dan fruktosa ceat di ubah menjadi glukosa di hati.
Glukosa di bentuk dari dua kelompok senyawa yang menjalani glukoneogenesis

yaitu

kelompok yang terlibat dalam perubahan netro langsung menjadi glukosa, termasuk sebagian
besar asam amino dan propionat dan kelompok yang merupakan produk metabolisme glukosa
di jaringan. Oleh karena itu, laktat yang di bentuk melalui glikolisis di otot rangka dan
Glikolisis dan Glukoneogenesis | 10

eritrosit, di angkat ke hari dan ginjal tempat zat ini di ubah kembali menjadi glukosa, yang
siklus cori atau siklus asma laktat.
Pada keadaan puasa pengeluaran alanin yang cukup banyak dari otot rangka, jauh
melebihi konsentrasinya di protein otot yang sedang di katabolisme. Alanin di bentuk melalui
transaminasi piruvat yang di hasilkan oleh glikolisis glikogen otot, dan di ekspor ke hati
tempat zat ini menjadi substrat tempat glukoneogenesis setelah transaminasi kembali menjadi
piruvat. Siklus glukosa-alanin ini merupakan car tidak langsung pemanfaatan glikogen otot
untuk mempertahankan glukosa darah dalam keadaan puasa. ATP yang di butuhkan untuk
sintesis glukosa dari piruvat di hati berasal dari oksidasi asam lemak. Glukosa juga di bentuk
dari glikogen hati melalui glikogenolisis.

Kebutuhan energi pada glukoneogensis menjelaskan bahwa diet rendah karbohidrat


menyebabkan penurunan berat badan.
Diet karbohidrat yang sangat rendah dan hanya mengandung 20 g karbohidrat per hari
atau kurang (di bandingkan dengan asupan yang di anjurkan sebesar 100-120 g/hari) tetapi
dengan konsumsi lemak dan protein tanpa batas telah dianjurkan sebagai regimen efektif
untuk menurunkan berat badan meskipun diet semacam ini bertentangan dengan semua
nasihat diet yang bijaksana untuk kesehatan. Karena kebutuhan akan glukosa terus ada,
glukoneogenesis yang cukup bermakna dari asam-asam amino akan terjadi akibat kebutuhan
ATP yang tinggi harus di penuhi melalui oksidasi asam lemak.

Glikolisis dan glukoneogensis harus di atur secara timbal balik karena keduanya memiliki
jalur yang sama tetapi berlawanan arah.
Sebagian besar perubahan metabolisme di sebabkan oleh perubahan ketersediaan substrat
baik secara langsung maupun melalui perubahan sekresi hormon. Tiga mekanisme berperan
mengatur aktivitas enzim-enzim yang berkaitan dengan metabolisme karbohidrat yaitu
perubahan laju sintesis enzim, modifikasi kovalen oleh fosforilasi reversibledan efek aloterik.

Proses Glukoneogenesis
Asam laktat yang terjadi pada proses glikolisis dapat dibawa oleh darah ke hati. Disini asam
laktat diubah menjadi glukosa kembali melalui serangkaian reaksi dalam suatu proses yang
disebut glukoneogenesis (pembentukan gula baru). Pada dasarnya glukoneogenesis ini adalah
sintesis glukosa dari senyawa-senyawa bukan karbohidrat, misalnya asam laktat dan beberapa
asam amino. Proses glukoneogenesis berlangsung terutama dalam hati. Walaupun proses
Glikolisis dan Glukoneogenesis | 11

glukoneogenesis ini adalah sintesis glukosa, namun bukan kebalikan dari proses glikolisis
karena ada tiga tahap reaksi dalam glikolisis yang tidak reversible, artinya diperlukan enzim
lain untuk kebalikannya.
1. Glukosa + ATP

heksokinase

Glukosa-6-Posfat + ADP.

2. Fruktosa-6-posfat + ATP

fosfofruktokinase

Fruktosa 1,6 diposfat + ADP.

3. Fosfoenol piruvat + ADP

piruvatkinase

Asam Piruvat + ATP

Dengan adanya tiga tahap reaksi yang tidak reversible tersebut, maka proses glukoneogenesis
berlangsung melalui tahap reaksi lain, yaitu :
1. Fosfoenolpiruvat dibentuk dari asam piruvat melalui pembentukan asam oksaloasetat.
(a). asam piruvat + CO2+ ATP + H2O asam oksaloasetat +ADP + Fosfat + 2H+
(b). oksalo asetat + guanosin trifosfat fosfoenol piruvat + guanosin difosfat + CO2
Reaksi (a) menggunakan katalis piruvatkarboksilase dan reaksi (b) menggunakan
fosfoenolpiruvat karboksilase. Jumlah reaksi (a) dan (b) ialah :
asam piruvat + ATP + GTP + H2O fosfoenolpiruvat + ADP + GDP + fosfat + 2H+
2. Fruktosa-6-fosfat dibentuk dari fruktosa-1,6-difosfat dengan cara hidrolisis oleh
enzim fruktosa-1,6-difosfatase.
fruktosa-1,6-difosfat + H2O fruktosa-6-fosfat + fosfat.
3. Glukosa dibentuk dengan cara hidrolisis glikosa-6-fosfat dengan katalis glukosa-6fosfatase.
glukosa-6-fosfat + H2O glukosa + fosfat
Dari penjelasan tersebut tampak adanya hubungan antara glukoneogenesis dengan
siklus asam sitrat, yaitu suatu siklus reaksi kimia yang mengubah asam piruvat menjadi
CO2+ H2O dan menghasilkan sejumlah energi dalam bentuk ATP, dengan proses oksidasi
aerob. Apabila otot berkontraksi untuk bekerja, maka asam piruvat dan asam laktat dihasilkan
oleh proses glikolisis. Asam piruvat digunakan dalam siklus asam sitrat. Pada waktu otot
digunakan, jumlah asam piruvat yang dihasilkan melebihi jumlah asam piruvat yang
digunakan dalam siklus asam sitrat. Dalam keadaan demikian sejumlah asam piruvat diubah
menjadi asam laktat dengan proses reduksi. Reaksi ini akan menghasilkan NAD+dari NADH.
Dalam proses glikolisis, asam laktat adalah hasil yang terakhir. Untuk metabolisme
yang lebih lanjut, asam laktat harus diubah kembali menjadi asam piruvat terlebih dahulu.
Demikian juga untuk proses glukoneogenesis.

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 12

Pengaturan Glukoneogenesis
Hati dapat membuat glukosa melalui glukoneogenesis dan menggunakan glukosa
melalui glikolisis sehingga harus ada suatu sistem pengaturan yang mencegah agar kedua
lintasan ini bekerja serentak. Sistem pengaturan juga harus menjamin bahwa aktivitas
metabolik hati sesuai dengan status gizi tubuh yaitu pembentukan glukosa selama puasa dan
menggunakan glukosa saat glukosa banyak.
Aktivitas glukoneogenesis dan glikolisis diatur secara terkoordinasi dengan cara
perubahan jumlah relatif glukagon dan insulin dalam sirkulasi. Bila kadar glukosa dan insulin
darah turun, asam lemak dimobilisasi dari cadangan jaringan adipose dan aktivitas oksidasi
dalam hati meningkat. Hal ini mengakibatkan peningkatan konsentrasi asam lemak dan asetilKoA dalam hati.
Karena asam amino secara serentak dimobilisasi dari otot, maka juga terjadi
peningkatan kadar asam amino terutama alanin. Asam amino hati diubah menjadi piruvat dan
substrat lain glukoneogenesis. Peningkatan kadar asam lemak, alanin, dan asetil-KoA
semuanya memegang peranan mengarahkan substrat masuk ke glukoneogenesis dan
mencegah penggunaannya oleh siklus asam sitrat.
Asetil-KoA secara alosterik mengaktifkan piruvat karboksilase dan menghambat
piruvat dehidrogenase. Oleh karena itu, menjamin bahwa piruvat akan diubah menjadi
oksaloasetat. Piruvat kinase dihambat oleh asam lemak dan alanin, jadi menghambat
pemecahan

PEP

yang

baru

terbentuk

menjadi

piruvat.

Pengaturan

hormonal

fosfofruktokinase danfruktosa-1,6-bisfosfatase diperantarai oleh senyawa yang baru


ditemukan yaitu fruktosa 2,6-bisfosfat.
Pembentukan dan pemecahan senyawa pengatur ini dikatalisis oleh enzim-enzim yang
diatur oleh fosforilasi dan defosforilasi. Perubahan konsentrasi fruktosa-2,6-bisfosfat sejajar
dengan perubahan untuk glukosa dan insulin yaitu konsentrasinya meningkat bila glukosa
banyak dan berkurang bila glukosa langka.
Fruktosa-2,6- bisfosfat secara alosterik mengaktifkan fosfofruktokinase dan menghambat
fruktosa 1,6-bisfosfatase. Jadi, bila glukosa banyak maka glikolisis aktif dan glukoneogenesis
dihambat. Bila kadar glukosa turun, peningkaan glukagon mengakibatkan penurunan
konsentrasi fruktosa-2,6-bisfosfat dan penghambatan yang sederajat pada glikolisis dan
pengaktifan glukoneogenesis.

Glikolisis dan Glukoneogenesis | 13