Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah

tepat

pada

waktunya

yang

berjudul

TOKSIKOLOGI

Makalah ini berisikan tentang pengertian TOKSIKOLOGI atau yang lebih khususnya
membahas pengklasifikasian toksikologi, bagaimana karakteristik, jalur masuk dan
pemaparan dari toksikologi serta bagaimana jalur waktu dan frekuensi pemaparan
toksikologi.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak
yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Bengkulu,

Penulis

Oktober 2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Toksikologi adalah ilmu yang menetapkan batas aman dari bahan kimia (Casarett and
Doulls, 1995). Selain itu toksikologi juga mempelajari jelas/kerusakan/ cedera pada
organisme (hewan, tumbuhan, manusia) yang diakibatkan oleh suatu materi substansi/energi,
mempelajari racun, tidak saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada
organisme dan mempelajari kerja kimia yang merugikan terhadap organisme. Banyak sekali
peran toksikologi dalam kehidupan sehari-hari tetapi bila dikaitkan dengan lingkungan
dikenal istilah toksikologi lingkungan dan ekotoksikologi.
Dua kata toksikologi lingkungan dengan ekotoksikologi yang hampir sama maknanya
ini sering sekali menjadi perdebatan. Toksikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari
racun kimia dan fisik yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan menimbulkan pencemaran
lingkungan (Cassaret, 2000) dan Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari racun kimia
dan fisik pada mahluk hidup, khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem,
termasuk jalan masuknya agen dan interaksi dengan lingkungan (Butler, 1978). Dengan
demikian ekotoksikologi merupakan bagian dari toksikologi lingkungan.
Kebutuhan akan toksikologi lingkungan meningkat ditinjau dari :
Proses Modernisasi yang akan menaikan konsumsi sehingga produksi juga harus
meningkat, dengan demikian industrialisasi dan penggunaan energi akan meningkat yang
tentunya akan meningkatkan resiko toksikologis.
Proses industrialisasi akan memanfaatkan bahan baku kimia, fisika, biologi yang akan
menghasilkan buangan dalam bentuk gas, cair, dan padat yang meningkat.Buangan ini
tentunya akan menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang mengakibatkan resiko
pencemaran, sehingga resiko toksikologi juga akan meningkat.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan

masalahnya adalah :
1.

Apakah pengertian dan bagaimana pengklasifikasian toksikologi ?

2.

Bagaimana karakteristik, jalur masuk dan pemaparan dari toksikologi?

3.

Bagaimana jalur waktu dan frekuensi pemaparan toksikologi?

C.

Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan ini adalah :

1.

Untuk mengetahui pengertian dan cara pengklasifikasian toksikologi

2.

Bagaimana karakteristik, jalur masuk dan pemaparan dari toksikologi

3.

Bagaimana jalur waktu dan frekuensi pemaparan toksikologi

D.

Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari makalah ini adalah :


1.

Dapat memberikan informasi kepada si pembaca tentang ilmu toksikologi

2.

Dapat memberikan informasi tentang bahayanya toksik terhadap manusia dan

lingkungan
3.

Sebagai referensi tambahan bagi mahasiswa yang melakukan penelitian

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Toksik
Toksikologi adalah studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat kimia

terhadap organisme hidup. Toksikologi juga membahas tentang penilaian secara kuantitatif
tentang organ-organ tubuh yang sering terpajang serta efek yang di timbulkannya.
Efek toksik atau efek yang tidak diinginkan dalam sistem biologis tidak akan
dihasilkan oleh bahan kimia kecuali bahan kimia tersebut atau produk biotransformasinya
mencapai tempat yang sesuai di dalam tubuh pada konsentrasi dan lama waktu yang cukup
untuk menghasilkan manifestasi toksik. Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang
berhubungan dengan situasi pemaparan (pemajanan) terhadap bahan kimia tertentu adalah
jalur masuk ke dalam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan.
Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang percobaan biasanya dibagi dalam
empat kategori: akut, subakut, subkronik, dan kronik. Untuk manusia pemaparan akut
biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau disengaja, dan pemaparan kronik dialami oleh
para pekerja terutama di lingkungan industri-industri kimia.
Interaksi bahan kimia dapat terjadi melalui sejumlah mekanisme dan efek dari dua
atau lebih bahan kimia yang diberikan secara bersamaan akan menghasilkan suatu respons
yang mungkin bersifat aditif, sinergis, potensiasi, dan antagonistik. Karakteristik pemaparan
membentuk spektrum efek secara bersamaan membentuk hubungan korelasi yang dikenal
dengan hubungan dosis-respons.

B.

Klasifikasi Bahan Toksik


Bahan-bahan toksik dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, tergantung dari minat

dan tujuan pengelompokkannya. Dimana pengelompokkannya didasarkan atas :


1.

Organ targetnya : hati ginjal, sistem hermatopotik, dan lain-lain

2.

Penggunaanya: pestisida, pelarut,aditif makanan, dan lain-lain

3.

Sumbernya: toksik tumbuhan dan binatang dan buatan

4.

efeknya: kanker, mutasi, kerusakan hati, dan sebagainya

5.

fisiknya: gas, debu, cair;

6.

sifatnya : mudah meledak

7.

kandungan kimianya: amina aromatik, hidrokarbon halogen, dan lain-lain


Tidak ada satupun klasifikasi yang sesuai untuk seluruh spektrum dari bahan toksik.

Kombinasi dari berbagai sistem klasifikasi atau berdasarkan faktor-faktor lainyanya munkin
diperlukan untuk memberikan sistem peringkat terbaik untuk maksud tertentu. Meskupun
klasifikasi yang mempertimbangkan komposisi kimiawi dan biologis dari bahan serta
karekteristik pemaparan akan lebih bermanfaat untuk tujuan pengendalian dan pengaturan
dari pemakaian zat-zat toksik (Rukaesih Achmad, 2004: 156-157)
Di dalam lingkungan dikenal zat xenobiotik yaitu zat yang asing bagi tubuh, dapat
diperoleh dari luar tubuh (eksogen) maupun dari dalam tubuh (endogen). Xenobiotik yang
dari luar tubuh dapat dihasilkan dari suatu kegiatan atau aktivitas manusia dan masuk ke
dalam lingkungan. Bila organisme terpajan oleh zat xenobiotik maka zat ini akan masuk ke
dalam organisme dan dapat menimbulkan efek biologis.

C. Karakteristik Toksikologi
Efek merugikan/toksik pada sistem biologis dapat disebabkan oleh bahan kimia yang
mengalami biotransformasi dan dosis serta suasananya cocok untuk menimbulkan keadaan
toksik.Respon terhadap bahan toksik tersebut antara lain tergantung kepada sifat fisik dan
kimia, situasi paparan, kerentanan sistem biologis, sehingga bila ingin mengklasifikasi
toksisitas suatu bahan harus mengetahui macam efek yang timbul dan dosis yang dibutuhkan
serta keterangan mengenai paparan dan sasarannya. Faktor utama yang berkaitan dengan
toksisitas dan situasi paparan adalah cara atau jalan masuknya serta durasi dan frekuensi
paparan.

Jalan masuk ke dalam tubuh suatu bahan polutan yang toksik, umumnya melalui
saluran penceraan makanan, saluran pernapasan, kulit dan jalur lain. Jalur lain tersebut
diantaranya adalah intra muskuler, intra dermal, dan sub kutan. Jalan masuk yang berbeda ini
akan mempengaruhi toksisitas bahan polutan. Bahan paparan yang berasal dari industri
biasanya masuk ke dalam tubuh melalui kulit dan terhirup, sedangkan
kejadian keracunan biasanya melalui proses tertelan.
Perbandingan dosis letal suatu bahan polutan dan perbedaan jalan masuk dari paparan
sangat bermanfaat berkaitan dengan absorbsinya. Suatu bahan polutan dapat diberikan dalam
dosis yang sama tetapi cara masuknya berbeda. Misalnya bahan polutan pertama melalui
intravena, sedangkan bahan lainnya melalui oral, maka dapat diperkirakan bahwa bahan
polutan yang masuk melalui intravena, memberi reaksi cepat dan segera. Sebaliknya bila
dosis yang diberikan berbeda maka dapat diperkirakan absorbsinya berbeda pula, misalnya
suatu bahan masuk melalui kulit dengan dosis lebih tinggi sedangkan lainnya melalui mulut
dengan dosis yang lebih rendah, maka dapat diperkirakan kulit lebih tahan terhadap racun
sehingga suatu bahan polutan untuk dapat diserap melalui kulit diperlukan dosis yang tinggi.

D. Jalur Masuk dan Tempat Pemaparan


Jalur utama bahan toksik untuk dapat masuk ke dalam tubuh manusia adalah melalui
saluran pencernaan atau gastro intestinal (menelan/ingesti, paru-paru (inhalasi), kulit
(topikal), dan jalur perenteral lainnya (selain saluran usus/intestinal). Bahan toksik umumnya
menyebabkan respon yang paling cepat bila diberikan melalui jalur intravena. Perkiran
efektivitas melalui jalur lainnya secara menurun adalah:
Inhalasi
Intradermal

Intraperitoneal
Oral

Subkutan

Intramuskular

Topikal

Disampping itu, jalur masuk dapat mempengaruhi toksisitas dari bahan kimia.
Sebagai contoh, suatu bahan kimia yang didetoksifikasi di hati diharapkan akan menjadi
kurang toksik bila diberikan melalui sirkulasi portal (oral) dibandingkan bila diberikan
melalui sirkulasi sistematik (inhalasi). Pemaparan bahan bahan toksik dilingkungan

industry seringkali sebagai hasil dari pemaparan melalui inhalasi dan topical, sedangkan
keracunan akibat kecelakaan atau bunuh diri seringkali terjadi melalui ingesti oral.

E. Jalur Waktu dan Frekuensi Pemaparan


Durasi dan frekuensi paparan bahan polutan dapat diterangkan dengan percobaan
binatang. Pada percobaan binatang ahli toksikologi membagi paparan akibat bahan polutan
menjadi 4 kategori, yaitu akut, sub akut, sub kronis, dan kronis. Paparan akut apabila suatu
paparan terjadi kurang dari 24 jam dan jalan masuknya dapat melalui intravena dan injeksi
subkutan. Paparan sub akut terjadi apabila paparan terulang untuk waktu satu bulan atau
kurang, paparan sub kronis bila paparan terulang antara 1 sampai 3 bulan, dan paparan kronis
apabila terulang lebih dari 3 bulan.
Pada beberapa bahan polutan, efek toksik yang timbul dari paparan pertama sangat
berbeda bila dibandingkan dengan efek toksik yang dihasilkan oleh paparan ulangannya.
Bahan polutan benzena pada pertama akan merusak sistem saraf pusat sedangkan paparan
ulangannya akan dapat menyebabkan leukemia.
Penurunan dosis akan mengurangi efek yang timbul. Suatu bahan polutan apabila
diberikan beberapa jam atau beberapa hari dengan dosis penuh akan menghasilkan beberapa
efek. Apabila dosis yang diberikan hanya separuhnya maka efek yang terjadi juga akan
menurun setengahnya, terlebih lagi apabila dosis yang diberikan hanya sepersepuluhnya
maka tidak akan menimbulkan efek.
Penggunaan bahan kimia oleh manusia terutama sebagai bahan baku didalam industri
semakin hari semakin meningkat.walaupun zat kimia yang sangat toksik sudah dilarang dan
dibatasi pemakaiannya, seperti pemakaian tetra-etil timbal (TEL) pada bensin, tetapi
pemaparan terhadap zat kimia yang dapat membahayakan tidak dapat dielakkan.
Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap manusia bisa bersifat kronik atau akut.
Pemaparan akut biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau disengaja (pada kasus bunuh
diri atau dibunuh), dan pemaparan kronik biasanya dialami para pekerja terutama di
lingkungan industri-industri kimia.

Efek toksik dari bahan-bahan kimia sangat bervariasi dalam sifat, organ sasaran,
maupun mekanisme kerjanya. Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan cidera pada tempat
yang kena bahan tersebut (efek lokal), bisa juga efek sistematik setelah bahan kimia diserap
dan tersebar ke bagian organ lainnya. Efek toksik ini dapat bersifat reversibel artinya dapat
hilang dengan sendirinya atau irreversibel yaitu akan menetap atau bertambah parah setelah
pajanan toksikan dihentikan. Efek irreversibel (efek Nirpulih) di antaranya karsinjoma,
mutasi, kerusakan syaraf, dan sirosis hati.
Efek toksikan reversibel (berpulih) bila tubuh terpajan dengan kadar yang rendah atau
untuk waktu yang singkat, sedangkan efek terpulih terjadi bila pajanan dengan kadar yang
lebih tinggi dan waktu yang lama (Rukaesih Achmad, 2004:170)
Di dalam ekotoksikologi komponen yang penting adalah integrasi antara laboratorium
dengan peneltian lapangan (Kenndall and Akerman, 1992). Pendekatan eksperimental
digunakan dalam analisis bahan berbahaya yang berpotensi menimbulkan efek dapat
dikembangkan pada beberapa tingkat yang berbeda kompleksitasnya, tergantung pada target
dari studi suatu organisasi misalnya satu spesies, populasi, komuniats atau ekosistem. Hal ini
tergantung pada tipenya seperti panjang dan pendeknya waktu kematian, khronis atau respon
pada sub-khronis, kerusakan reproduktif. Sehingga diperlukan kesepakatan diantara
kenyataan ekologi dan kesederhanaan dalam prosedur serta interpretasi hasil.
Efek toksik yang timbul tidak hanya tergantung pada frekuensi pemberian dengan
dosis berbeda saja tetapi mungkin juga tergantung pada durasi paparannya. Efek kronis dapat
terjadi apabila bahan kimia terakumulasi dalam sistem biologi. Efek toksik pada kondisi
kronis bersifat ireversibel. Hal tersebut terjadi karena sistem biologi tidak mempunyai cukup
waktu untuk mencapai kondisi menjadi pulih akibat paparan terus menerus dari bahan toksik.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Toksikologi adalah studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat kimia

terhadap organisme hidup. Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang berhubungan
dengan situasi pemaparan (pemajanan) terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur masuk ke
dalam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan.
Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang percobaan biasanya dibagi dalam
empat kategori: akut, subakut, subkronik, dan kronik. Untuk manusia pemaparan akut
biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau disengaja, dan pemaparan kronik dialami oleh
para pekerja terutama di lingkungan industri-industri kimia.

B.

Saran
Bagi Dinas kesehatan c/q Pengawasan makanan dan minuman hendaknya sebelum

mengeluarkan nomor registrasi mengetahui kandungan zat yang ada didalamnya terutama
yang membahayakan kesehatan.
Bagi instansi terkait hendaknya memberikan informasi kepada khalayak luas tentang
bahan kimia atau zat tambahan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam makanan dan
minuman yang mengganggu kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad,rukaesih.2004.Kimia Lingkungan.Jakarta:Andi Yogyakarta.

Tresna Sastrawijaya, MSc. 1992.Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta, Jakarta,


1991 Majalah Kesehatan, edisi III.

Mansyur, dakk.2002.Keamanan,Unsur Dan Bidang-Bidang Toksikologi.Fakultas


Kedokteran:Universitas Sumatera Utara.