Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar
(milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa
darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi
lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh
terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup,
berkembang dan menjalankan tugasnya.
Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh
lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan
keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada
kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang
ada di milieu interior.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting,
yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol
volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan
mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan
cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran
garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan
abnormal dari air dan garam tersebut.
Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa
dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai
kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa
adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem
dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh.
Elektrolit yang terdapat pada cairan tubuh akan berada dalam
bentuk ion bebas (free ions). Secara umum elektrolit dapat diklasifikasikan

menjadi 2 jenis yaitu kation dan anion. Jika elektrolit mempunyai muatan positif
(+) maka elektrolit tersebut disebut sebagai kation sedangkan jika elektrolit
tersebut mempunyai muatan negatif (-) maka elektrolit tersebut disebut sebagai
anion. Contoh dari kation adalah natrium (Na ) dan nalium (K ) & contoh dari
anion adalah klorida (Cl ) dan bikarbonat (HCO ).
Elektrolit- elektrolit yang terdapat dalam jumlah besar di dalam tubuh
antara lain adalah natrium (Na ), kalium (K ) kalsium (Ca ), magnesium (Mg ),
klorida (Cl ), bikarbonat (HCO ), fosfat (HPO ) dan sulfat (SO) Di dalam tubuh
manusia, kesetimbangan antara air (HO) elektrolit diatur secara ketat agar sel-sel
dan organ tubuh dapat berfungsi dengan baik.
Pada tubuh manusia, elektrolit-elektrolit ini akan memiliki fungsi antara
lain dalam menjaga tekanan osmotik tubuh, mengatur pendistribusian cairan ke
dalam kompartemen badan air (bodys fluid compartement), menjaga pH tubuh
dan juga akan terlibat dalam setiap reaksi oksidasi dan reduksi serta ikut berperan
dalam setiap proses metabolisme.

1.2 Rumusan Masalah


1.

Apa pengertian autoimun?

2.

Apa penyebab penyakit (Etiologi) autoimun ?

3.

Apa saja klasifikasi autoimun ?

4.

Bagaimana mekanisme autoimun bisa terjadi?

5.

Apa saja jenis penyakit autoimun?

6.

Bagaimana patogenitas penyakit autoimun ?

7.

Bagaimana spektrum penyakit autoimun ?

8.

Bagaimana toleransi diri autoimun ?

9.

Bagaimana cara mendiagnosa penyakit autoimun ?

10. Bagaimana cara mengobati penyakit autoimun?

1.3 Tujuan Penulisan

1.

Mengetahui pengertian dari autoimun

2.

Menjelaskan penyebab penyakit (Etiologi) autoimun

3.

Mengetahui klasifikasi autoimun

4.

Menjelaskan mekanisme autoimun bisa terjadi

5.

Mengetahui jenis penyakit autoimun

6.

Menjelaskan patogenitas penyakit autoimun

7.

Mengetahui spektrum penyakit autoimun

8.

Mengetahui toleransi diri autoimun.

9.

Mengetahui cara pengobatan penyakit autoimun

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Autoimun

Autoimun adalah respon imun terhadap antigen tubuh sendiri yang


disebabkan oleh mekanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan
self-tolerance sel B, sel T atau keduanya. Respon imun terlalu aktif menyebabkan
disfungsi imun, menyerang bagian dari tubuh tersebut dan merupakan kegagalan
fungsi sistem kekebalan tubuh yang membuat badan menyerang jaringannya
sendiri. Sistem imunitas menjaga tubuh melawan pada apa yang terlihatnya
sebagai bahan asing atau berbahaya. Bahan seperti itu termasuk mikro-jasad,
parasit (seperti cacing), sel kanker, dan malah pencangkokkan organ dan jaringan.
Setiap penyakit yang dihasilkan dari seperti respon imun yang
menyimpang, kerusakan jaringan atau gangguan fungsi fisiologis yang
ditimbulkan oleh respon autoimun disebut penyakit autoimun.
Penyakit AutoImune adalah penyakit dimana sistem kekebalan yang
terbentuk salah mengidentifikasi benda asing, dimana sel, jaringan atau organ
tubuh manusia justru dianggap sebagai benda asing sehingga dirusak oleh
antibodi. Jadi adanya penyakit autoimmune tidak memberikan dampak
peningkatan ketahanan tubuh dalam melawan suatu penyakit, tetapi justru terjadi
kerusakan tubuh akibat kekebalan yang terbentuk.
Bahan yang bisa merangsang respon imunitas disebut antigen. Antigen
adalah molekul yang mungkin terdapat dalam sel atau di atas permukaan sel
(seperti bakteri, virus, atau sel kanker). Beberapa antigen, seperti molekul serbuk
sari atau makanan, ada di mereka sendiri.
Sel sekalipun pada orang yang memiliki jaringan sendiri bisa mempunyai
antigen. Tetapi, biasanya, sistem imunitas bereaksi hanya terhadap antigen dari
bahan asing atau berbahaya, tidak terhadap antigen dari orang yang memiliki
jaringan sendirii. Tetapi, sistem imunitas kadang-kadang rusak, menterjemahkan

jaringan tubuh sendiri sebagai antibodi asing dan menghasilkan (disebut


autoantibodi) atau sel imunitas menargetkan dan menyerang jaringan tubuh
sendiri.
Respon ini disebut reaksi autoimun. Hal tersebut menghasilkan radang dan
kerusakan jaringan. Efek seperti itu mungkin merupakan gangguan autoimun,
tetapi beberapa orang menghasilkan jumlah yang begitu kecil autoantibodi
sehingga gangguan autoimun tidak terjadi.
Kesalahpahaman bahwa sistem kekebalan tubuh seseorang sama sekali
tidak mampu mengenali antigen diri bukanlah hal baru. Paul Ehrlich , pada awal
abad kedua puluh, mengajukan konsep autotoxicus horor, dimana normal tubuh
tidak mount respon kekebalan terhadap yang sendiri jaringan. Dengan demikian,
setiap respon autoimun dianggap menjadi abnormal dan dipostulasikan untuk
dihubungkan dengan penyakit manusia. Sekarang, sudah diakui bahwa respon
autoimun merupakan bagian integral dari sistem kekebalan tubuh vertebrata
(kadang disebut autoimunitas alami), biasanya dicegah dari penyebab penyakit
oleh fenomena toleransi imunologi diri antigen. Autoimunitas tidak harus bingung
dengan alloimmunity .
Sistem imun tubuh telah berkembang sedemikian rupa sehingga mampu
mengenal setiap antigen asing dan membedakannya dengan struktur antigen diri
(self antigen), tetapi dapat saja timbul gangguan terhadap kemampuan pengenalan
tersebut sehingga terjadi respons imun terhadap antigen diri yang dianggap asing.
Respons imun yang disebut autoimunitas tersebut dapat berupa respons imun
humoral dengan pembentukan autoantibodi, atau respons imun selular.
a. Autoimunitas sebetulnya bersifat protektif, yaitu sebagai sarana pembuangan
berbagai produk akibat kerusakan sel atau jaringan. Autoantibodi mengikat
produk itu diikuti dengan proses eliminasi. Autoantibodi dan respons imun
selular terhadap antigen diri tidak selalu menimbulkan penyakit.
b. Penyakit autoimun merupakan kerusakan jaringan atau gangguan fungsi
fisologik akibat respons autoimun. Perbedaan ini menjadi penting karena

respons autoimun dapat terjadi tanpa penyakit atau pada penyakit yang
disebabkan oleh mekanisme lain (seperti infeksi).
c. Istilah penyakit autoimun yang berkonotasi patologik ditujukan untuk
keadaan yang berhubungan erat dengan pembentukan autoantibodi atau
respons imun selular yang terbentuk setelah timbulnya penyakit.
2.2 Etiologi (Penyebab Utama Penyakit Autoimun)
a.

Faktor Genetik
Telah ditunjukkan pada manusia bahwa gen Major Histocompatibility

Complex (MHC) dikaitkan dengan kejadian spesifik dari penyakit autoimmune.


Gen MHC ada pada semua vertebrata, gen ini menandai 2 katagori pokok molekul
yang membentuk bagian dari sel membran dan seluruh bagian membran. Secara
khusus gen tersebut memiliki peranan dalam menseleksi antigen yang dapat
dikenali oleh sel-T. Sebuah analisa keturunan dari anjing beardies menunjukan
bahwa hypoadrenocorticism mempengaruhi sifat keturunan yang dihasilkan.
Kejadian ini disebabkan adanya autosomal recessive gene yang melakukan
penetrasi secara tidak lengkap.
Para peneliti berharap dapat mengidentifikasi gen atau gen-gen pada satu
atau lebih loci yang memiliki hubungan dengan hypoadrenocorticism. Analisa
pedigree pada populasi besar Old English Sheepdogs dan breeds lainnya yang
pada populasi lebih kecil, menunjukkan bahwa hampir semua kasus autoimmune
terjadi pada hewan yang memiliki darah segaris. Namun demikian data tersebut
juga menjelaskan bahwa anjing-anjing yang dalam segaris keturunan tidak selalu
menderita penyakit autoimmune dimana mayoritas dalam kondisi normal, sehat
walaupun beberapa menderita gangguan subklinis penyakit autoimmune.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari kasus diatas bahwa ; Tampaknya anjing
memiliki kecendurungan secara genetik untuk menderita penyakit autoimmune.
Fakta lain menunjukkan bahwa gen spesifik atau kelompok gen sebagai
predisposisi suatu keluarga terhadap Psoriasis. Sebagai tambahan, individu
6

anggota suatu keluarga dengan penyakit autoimmune dapat berperan dalam


membentuk abnormalitas gen yang mendorong kejadian penyakit autoimmune
walaupun mungkin menurunkan penyakit autoimmune dalam jenis penyakit
autoimmune lainnya. Sebagai contoh; salah satu orangtuanya menderita lupus,
maka keturunannya dimungkinkan menderita dermatomyositis dan mungkin
keturunan lainnya penderita Rheumatoid arthritis. Orang-orang tertentu secara
genetik rentan untuk mengembangkan penyakit autoimun. Kerentanan ini
dikaitkan dengan beberapa gen ditambah faktor risiko lainnya. Genetik individu
tertentu cenderung tidak selalu mengembangkan penyakit autoimun.
Tiga gen utama yang diduga dalam penyakit autoimun.
a. Imunoglobulin
b. T-sel reseptor
c. Kompleks histokompatibilitas utama (MHC)
Dua yang pertama, yang terlibat dalam pengakuan antigen, secara inheren
rentan terhadap variabel dan rekombinasi. Variasi ini memungkinkan sistem
kekebalan tubuh untuk menanggapi berbagai sangat luas penjajah, tetapi juga
dapat menimbulkan limfosit dalam swa-reaktivitas.
Para ilmuwan seperti H. McDevitt, G. Nepom, J. Bell dan J. Todd juga telah
menyediakan bukti kuat yang menunjukkan bahwa MHC kelas II tertentu
allotypes berkorelasi sangat kuat
a. HLA DR2 sangat berkorelasi positif dengan Systemic Lupus Erythematosus ,
narkolepsi dan multiple sclerosis , dan berkorelasi negatif dengan tipe DM 1.
b. HLA DR3 berkorelasi kuat dengan sindrom Sjgren , myasthenia gravis ,
SLE , dan Jenis DM 1.
c. HLA DR4 berkorelasi dengan asal-usul rheumatoid arthritis , tipe 1 diabetes
mellitus , dan pemfigus vulgaris .

Yang paling menonjol dan konsisten adalah hubungan antara HLA B27 dan
ankylosing spondylitis . Korelasi ini mungkin ada di antara polimorfisme dalam
MHC kelas II promotor dan penyakit autoimun.
Kontribusi dari gen luar kompleks MHC tetap menjadi subjek penelitian,
pada hewan model penyakit (studi ekstensif Linda Wicker genetik diabetes pada
tikus NOD), dan pada pasien (analisis keterkaitan Brian Kotzin dari kerentanan
terhadap SLE ).
Baru-baru ini PTPN22 telah dikaitkan dengan penyakit autoimun multiple
termasuk Tipe I diabetes, rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosis,
tiroiditis Hashimoto, penyakit Graves, penyakit Addison, Miastenia Gravis,
vitiligo, sklerosis sistemik juvenil idiopatik arthritis, dan arthritis psoriatis.

Gambar 1. Faktor genetik penyebab autoimun


b.

Jenis Kelamin

Rasio perempuan / laki-laki insiden penyakit autoimun


Hashimoto thyroiditis

10/1

Graves disease

7/1

Multiple sclerosis (MS)

2/1

Miastenia gravis

2/1

Systemic lupus erythematosus (SLE)

9/1

Rheumatoid arthritis

5/2

Tabel 1. Rasio perempuan atau laki-laki insiden penyakit autoimun


Jenis kelamin tampaknya memiliki beberapa peran penting dalam
pengembangan autoimunitas, mengklasifikasikan penyakit yang paling autoimun
sebagai seks penyakit terkait . Hampir 75% lebih dari 23,5 juta orang Amerika
yang menderita penyakit autoimun adalah perempuan, meskipun jutaan pria juga
menderita penyakit ini. Menurut the American Autoimmune Related Diseases
Association (AARDA), penyakit autoimun yang berkembang pada pria cenderung
lebih parah. Penyakit autoimun beberapa bahwa laki-laki sama atau lebih
mungkin berkembang pada perempuan, meliputi: ankylosing spondylitis , tipe 1
diabetes mellitus , Wegener granulomatosis , penyakit Crohn dan psoriasis .
Perempuan tampaknya umumnya me-mount respon inflamasi yang lebih
besar daripada pria ketika sistem kekebalan tubuh mereka dipicu, meningkatkan
risiko autoimunitas. Keterlibatan steroid seks ini ditunjukkan dengan bahwa
penyakit autoimun cenderung berfluktuasi sesuai dengan perubahan hormon,
misalnya, selama kehamilan, dalam siklus menstruasi, atau saat menggunakan
kontrasepsi oral. Riwayat kehamilan juga tampaknya meninggalkan peningkatan
risiko gigih untuk penyakit autoimun. Pertukaran sedikit sel antara ibu dan anakanak mereka selama kehamilan dapat menyebabkan otoimun. Hal ini akan ujung
keseimbangan gender dalam arah betina.
Teori lain menunjukkan kecenderungan tinggi perempuan untuk
mendapatkan autoimunitas ini disebabkan oleh ketidakseimbangan kromosom X
dinonaktifkan . Teori X-inaktivasi miring, diusulkan oleh Princeton University
Jeff Stewart, baru-baru ini telah dikonfirmasi eksperimental pada tiroiditis
skleroderma dan autoimun. kompleks lainnya terkait-X mekanisme kerentanan
genetik diusulkan dan sedang diselidiki.
Reaksi autoimun dapat dicetuskan oleh beberapa hal :

Senyawa yang ada di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu


(disembunyikan dari sistem kekebalan tubuh) dilepaskan ke dalam aliran
darah. Misalnya, pukulan ke mata bisa membuat cairan di bola mata
dilepaskan ke dalam aliran darah. Cairan merangsang sistem kekebalan
tubuh untuk mengenali mata sebagai benda asing dan menyerangnya.

Senyawa normal di tubuh berubah, misalnya, oleh virus, obat, sinar


matahari,

atau radiasi. Bahan senyawa

yang berubah

mungkin

kelihatannya asing bagi sistem kekebalan tubuh. Misalnya, virus bisa


menulari dan demikian mengubah sel di badan. Sel yang ditulari oleh virus
merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerangnya.

Senyawa asing yang menyerupai senyawa badan alami mungkin


memasuki badan. Sistem kekebalan tubuh dengan kurang hati-hati dapat
menjadikan senyawa badan mirip seperti bahan asing sebagai sasaran.
Misalnya, bakteri penyebab sakit kerongkongan mempunyai beberapa
antigen yang mirip dengan sel jantung manusia. Jarang terjadi, sistem
kekebalan tubuh dapat menyerang jantung orang sesudah sakit
kerongkongan (reaksi ini bagian dari demam rheumatik).

Sel yang mengontrol produksi antibodi misalnya, limfosit B (salah satu sel
darah putih) mungkin rusak dan menghasilkan antibodi abnormal yang
menyerang beberapa sel badan.

Keturunan mungkin terlibat pada beberapa kekacauan autoimun.


Kerentanan kekacauan, daripada kekacauan itu sendiri, mungkin diwarisi.
Pada orang yang rentan, satu pemicu, seperti infeks virus atau kerusakan
jaringan, dapat membuat kekacauan berkembang. Faktor hormonal juga
mungkin dilibatkan, karena banyak kekacauan autoimun lebih sering
terjadi pada wanita.

Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang diidentifikasi sebagai kemungkinan penyebab

antara lain hormon, infeksi, obat dan agen lain seperti radiasi ultraviolet.

10

Hormon
Observasi epidemilogi menunjukkan penyakit autoimun lebih sering
terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Sebagian besar penyakit
autoimun mempunyai puncak usia onset dalam masa reproduktif, dengan
beberapa bukti klinis dan eksperimental menyebutkan estrogen sebagai
faktor pencetus. Mekanisme yang mendasarinya belum jelas, namun bukti
menunjukkan estrogen dapat menstimulasi beberapa respons imun.
Contohnya insidens penyakit LES pada wanita pasca pubertas 9 kali lebih
tinggi daripada pria. Belum ada penjelasan tentang hal ini tetapi studi
klinis

dan

eksperimental

pada

manusia

dan

hewan

percobaan

memperlihatkan bahwa kecenderungan tersebut lebih ditentukan oleh


hormon sel wanita daripada gen kromosom X. Hewan betina, atau jantan
yang dikastrasi, memperlihatkan kadar imunoglobulin dan respons imun
spesifik yang lebih tinggi daripada jantan normal. Stimulasi estrogen
kronik mempunyai peran penting terhadap prevalensi LES pada wanita.
Walaupun jumlah estrogen pada penderita tersebut normal, aktivitas
estradiol dapat meningkat akibat kelainan pola metabolisme hormon
wanita. Pada wanita penderita LES terdapat peninggian komponen 16hidroksil dari 16-hidroksiestron dan estriol serum dibandingkan dengan
orang normal. Hormon hipofisis prolaktin juga mempunyai aksi
imunostimulan terutama terhadap sel T.

Infeksi
Hubungan infeksi dengan autoimun tidak hanya berdasar pada mekanisme
molecular mimicry, namun juga terdapat kemungkinan lain. Infeksi pada
target organ mempunyai peran penting dalam up-regulation molekul kostimulan yang bersifat lokal dan juga induksi perubahan pola pemecahan
antigen dan presentasi, sehingga terjadi autoimunitas tanpa adanya
molecular mimicry. Namun, sebaliknya, autoimun lebih jarang terjadi pada

11

area dengan angka kejadian infeksi yang tinggi. Mekanisme proteksi


autoimun oleh infeksi ini masih belum jelas.
Virus sering dihubungkan dengan penyakit autoimun. Infeksi yang terjadi
secara horizontal atau vertikal akan meningkatkan reaksi autoimun dengan
berbagai jalan, antara lain karena aktivasi poliklonal limfosit, pelepasan
organel subselular setelah destruksi sel, fenomena asosiasi pengenalan
akibat insersi antigen virus pada membran sel yang meningkatkan reaksi
terhadap komponen antigen diri, serta gangguan fungsi sel Ts akibat
infeksi virus. Virus yang paling sering dikaitkan sebagai pencetus
autoimunitas adalah EBV, selain miksovirus, virus hepatitis, CMV , virus
coxsackie, retrovirus, dan lain-lain.

Obat
Banyak obat dikaitkan dengan timbulnya efek samping idiosinkrasi yang
dapat mempunyai komponen autoimun di dalam patogenesisnya. Sangat
penting untuk membedakan respons imunologi dari obat (hipersensitivitas
obat), baik berasal dari bentuk asli maupun kompleks dengan molekul
pejamu, dengan proses autoimun asli yang diinduksi oleh obat. Reaksi
hipersensitivitas biasanya reversibel setelah penghentian obat sedangkan
proses autoimun dapat berkembang progresif dan memerlukan pengobatan
imunosupresif.
Mekanisme autoimun yang diinduksi obat kemungkinan mengikuti

mekanisme molecular mimicry, yaitu molekul obat mempunyai struktur yang


serupa dengan molekul diri, sehingga dapat melewati toleransi perifer. Beberapa
obat (seperti penisiliamin) dapat terikat langsung dengan peptida yang
mengandung molekul MHC dan mempunyai kapasitas langsung untuk
menginduksi respons abnormal sel T. Kerentanan yang berbeda tersebut terutama
ditentukan oleh genetik. Variasi genetik pada metabolisme obat juga berperan,
adanya defek pada metabolisme mengakibatkan formasi konjugat imunologi

12

antara obat dengan molekul diri. (Pada SLE yang diinduksi obat, asetilator kerja
lambat lebih rawan menyebabkan SLE). Obat juga mempunyai ajuvan intrinsik
atau efek imunomodulator yang mengganggu mekanisme toleransi normal.
g.

Agen fisik lain


Pajanan terhadap radiasi ultraviolet (biasanya dalam bentuk sinar

matahari) merupakan pemicu yang jelas terhadap inflamasi kulit dan kadang
keterlibatan sistemik pada SLE, namun radiasi ini lebih bersifat menyebabkan
flare dalam respons autoimun yang sudah ada dibandingkan sebagai penyebab.
Radiasi ultraviolet memperberat SLE melalui beberapa mekanisme. Radiasi dapat
menyebabkan modifikasi struktur pada antigen diri sehingga mengubah
imunogenitasnya. Radiasi tersebut juga dapat menyebabkan apoptosis sel dalam
kulit melalui ekspresi autoantigen lupus pada permukaan sel, yang berkaitan
dengan fotosensitivitas (dikenal dengan Ro dan La). Permukaan Ro dan La
kemudian dapat berikatan dengan autoantibodi dan memicu kerusakan jaringan.
Variasi genetik yang mengkode gen glutation-S-transferase juga dikaitkan dengan
peningkatan antibodi anti-Ro pada SLE. Pemicu lain yang diduga berkaitan
dengan penyakit autoimun antara lain stres psikologis dan faktor diet.
2.3 Klasifikasi
Autoimun dapat dibagi menjadi gangguan autoimun sistemik dan organspesifik atau lokal, tergantung pada Clinico-patologis fitur utama dari masingmasing penyakit.
a. Penyakit autoimun sistemik termasuk SLE , sindrom Sjgren , skleroderma ,
rheumatoid arthritis , dan dermatomiositis . Kondisi ini cenderung
berhubungan dengan autoantibodi terhadap antigen yang tidak jaringan
tertentu. Jadi meskipun polymyositis kurang lebih jaringan tertentu dalam
presentasi, mungkin termasuk dalam kelompok ini karena autoantigens sering
mana-mana t-RNA sintetase.

13

Gambar 1. Rasio penyakit autoimun

Gambar 2. Bagian tubuh terinfeksi


penyakit autoimun

b. Sindrom Lokal yang mempengaruhi organ tertentu atau jaringan:

Endokrinologik: Diabetes mellitus tipe 1 , tiroiditis Hashimoto ,


penyakit Addison

Gastrointestinal: penyakit seliaka , Penyakit Crohn , pernicious


anemia

Dermatologi: Pemphigus vulgaris , Vitiligo

Hematologi: anemia hemolitik autoimun , idiopatik purpura


thrombocytopenic

Neurologis: Miastenia gravis

Secara tradisonal skema klasifikasi menggunakan organ tertentu dan


non-organ tertentu, banyak penyakit telah disatukan di bawah payung penyakit
autoimun. Namun, banyak gangguan manusia inflamasi kronis tidak memiliki
asosiasi-tanda sel B dan T didorong immunopathology. Dalam dekade terakhir
telah mapan bahwa jaringan peradangan terhadap diri tidak selalu bergantung
pada T abnormal dan respon sel B.
Hal ini telah menyebabkan usulan terakhir bahwa spektrum autoimunitas
harus dilihat sepanjang kontinum penyakit imunologi, dengan penyakit
autoimun klasik pada satu ekstrim dan penyakit didorong oleh sistem kekebalan

14

tubuh bawaan pada ekstrem lainnya. Dalam skema ini, spektrum penuh
autoimunitas dapat disertakan. Banyak umum penyakit autoimun manusia dapat
dilihat untuk memiliki immunopathology dimediasi imun bawaan yang cukup
besar menggunakan skema baru. Skema klasifikasi baru ini memiliki implikasi
untuk memahami mekanisme penyakit dan untuk pengembangan terapi
a. Auto antibody/sel T autoreaktif dengan spesifitas untuk orang yang terkena
ditemukan pada penyakit
b. Autoantibodi dan sel T ditemukan di jaringan dengan cedera
c. Ambang autoantibody atau respon sel T menggambarkan aktifitas penyakit
d. Penurunan respon autoimun memberikan perbaikan penyakit
e. Transfer antibody atau sel T ke pejamu sekunder menimbulkan penyakit
autoimun pada resipienImunitas dengan autoantigen dan kemudian induksi
respon autoimun menimbulkan penyakit
2.4 Mekanisme Kejadian Penyakit Autoimun
Jika tubuh dihadapkan sesuatu yang asing maka tubuh memerlukan
ketahanan berupa respon immun untuk melawan substansi tersebut dalam upaya
melindungi dirinya sendiri dari kondisi yang potensial menyebabkan penyakit.
Untuk melakukana hal tersebut secara efektif maka diperlukan kemampuan untuk
mengenali dirinya sendiri sehingga dapat memberikan respon pada kondisi asing
atau bukan dirinya sendiri. Pada penyakit autoimmune terjadi kegagalan untuk
mengenali beberapa bagian dari dirinya (NIH, 1998).
Ada 80 grup Penyakit autoimmune serius pada manusia yang memberikan
tanda kesakitan kronis yang menyerang pada hampir seluruh bagian tubuh
manusia. Gejala-gejala

yang ditimbulkan mencakup gangguan

nervous,

gastrointestinal, endokrin sistem, kulit dan jaringan ikat lainnya, mata, darah, dan
pembuluh darah. Pada gangguan penyakit tersebut diatas, problema pokoknya
adalah terjadinya gangguan sistem immune yang menyebabkan terjadinya salah
arah sehingga merusak berbagai organ yang seharusnya dilindunginya.

15

Gambar 3. Mekanisme Autoimun

2.5 Penyakit Autoimun

Beberapa Gangguan Autoimun


Gangguan

Jaringan

yang

terkena

Konsekwensi
Anemia (berkurangnya jumlah sel darah

Anemia
hemolitik

merah) terjadi, menyebabkan kepenatan,


Sel darah merah

autoimun

kelemahan, dan sakit kepala ringan. Limpa


mungkin membesar. Anemia bisa hebat dan
bahkan fatal.
Lepuh besar, yang kelilingi oleh area

Bullous
pemphigoid

Kulit

bengkak yang merah, terbentuk di kulit.


Gatal biasa. Dengan pengobatan, prognosis
baik.
Gejala, seperti pendeknya nafas, batuk

Sindrom
Goodpasture

darah, kepenatan, bengkak, dan gatal,


Paru-paru dan ginjal mungkin berkembang. Prognosis baik jika
pengobatan dilaukan sebelum kerusakan
paru-paru atau ginjal hebat terjadi.

16

Penyakit
Graves

Kelenjar

gondok

dirangsang

membesar,

menghasilkan

kadar

dan
tinggi

hormon thyroid (hyperthyroidism). Gejala


Kelenjar tiroid

mungkin termasuk detak jantung cepat,


tidak tahan panas, tremor, berat kehilangan,
dan

kecemasa.

Dengan

pengobatan,

prognosis baik.
Kelenjar gondok meradang dan rusak,
menghasilkan kadar hormon thyroid rendah
(hypothyroidism).
Tiroiditis
Hashimoto

Gejala

seperti

berat

badan bertambah, kulit kasar, tidak tahan

Kelenjar tiroid

ke dingin, dan mengantuk. Pengobatan


seumur hidup dengan hormon thyroid perlu
dan biasanya mengurangi gejala secara
sempurna.
Seluruh sel syaraf yang terkena rusak.
Akibatnya, sel tidak bisa meneruskan
sinyal syaraf seperti biasanya. Gejala

Multiple

Otak

sclerosis

cord

dan

spinal

mungkin termasuk kelemahan, sensasi


abnormal, kegamangan, masalah dengan
pandangan, kekejangan otot, dan sukar
menahan

hajat.

Gejala

berubah-ubah

tentang waktu dan mungkin datang dan


pergi. Prognosis berubah-ubah.
Koneksi

antara

Myasthenia

saraf

dan

gravis

(neuromuscular
junction)

otot

Otot, teristimewa yang dipunyai mata,


melemah dan lelah dengan mudah, tetapi
kelemahan berbeda dalam hal intensitas.
Pola progresivitas bervariasi secara luas.
Obat biasanya bisa mengontrol gejala.

17

Pemphigus

Lepuh besar terbentuk di kulit. Gangguan

Kulit

bisa mengancam hidup.


Kerusakan

pada

sel

sepanjang

perut

membuat kesulitan menyerap vitamin B12.


(Vitamin B12 perlu untuk produksi sel
darah tua dan pemeliharaan sel syaraf).
Anemia

adalah,

sering

akibatnya

menyebabkan kepenatan, kelemahan, dan


Pernicious

Sel

tertentu

di sakit kepala ringan. Syaraf bisa rusak,

anemia

sepanjang perut

menghasilkan kelemahan dan kehilangan


sensasi. Tanpa pengobatan, tali tulang
belakang

mungkin

menyebabkan

rusak,

akhirnya

kehilangan

sensasi,

kelemahan, dan sukar menahan hajat.


Risiko kanker perut bertambah. Juga,
dengan pengobatan, prognosis baik.
Banyak gejala mungkin terjadi. termasuk
Sendi atau jaringan
Rheumatoid

lain seperti jaringan

arthritis

paru-paru,

saraf,

kulit dan jantung

demam,

kepenatan,

rasa

sakit

sendi,

kekakuan sendi, merusak bentuk sendi,


pendeknya

nafas,

kehilangan

sensasi,

kelemahan, bercak, rasa sakit dada, dan


bengkak

di

bawah

kulit.

Progonosis

bervariasi
Sendi, walaupun dikobarkan, tidak menjadi
cacat. Gejala anemia, seperti kepenatan,
Systemic lupus sendi, ginjal, kulit, kelemahan, dan ringan-headedness, dan
erythematosus

paru-paru, jantung, yang dipunyai ginjal, paru-paru, atau

(lupus)

otak dan sel darah

jantung mengacaukan, seperti kepenatan,


pendeknya nafas, gatal, dan rasa sakit dada,
mungkin terjadi. Bercak mungkin timbul.

18

Ramalan berubah-ubah secara luas, tetapi


kebanyakan orang bisa menempuh hidup
aktif meskipun ada gejolak kadang-kadang
kekacauan.
Gejala

mungkin

termasuk

kehausan

berlebihan, buang air kecil, dan selera


makan,

seperti

dengan
Sel

beta

komplikasi
jangka

bervariasi
panjang.

dari Pengobatan seumur hidup dengan insulin

Diabetes

pankreas

(yang diperlukan,

sekalipun

perusakan

sel

mellitus tipe

memproduksi

pankreas berhenti, karena tidak cukup sel

insulin)

pankreas yang ada untuk memproduks


iinsulin yang cukup. Prognosis bervariasi
sekali dan cenderung menjadi lebih jelek
kalau penyakitnya parah dan bertahan
hingga waktu yang lama.
Vasculitis bisa mempengaruhi pembuluh
darah di satu bagian badan (seperti syaraf,
kepala, kulit, ginjal, paru-paru, atau usus)
atau

beberapa

bagian.

Ada

beberapa

macam. Gejala (seperti bercak, rasa sakit


abdominal,
Vasculitis

Pembuluh darah

kehilangan

berat

badan,

kesukaran pernafasan, batuk, rasa sakit


dada, sakit kepala, kehilangan pandangan,
dan gejala kerusakan syaraf atau kegagalan
ginjal) bergantung pada bagian badan mana
yang dipengaruhi. Prognosis bergantung
pada sebab dan berapa banyak jaringan
rusak. Biasanya, prognosis lebih baik
dengan pengobatan.

19

Tabel 1. Gangguan penyakit autoimun

a.

Systemic lupus erythematosus (SLE)


Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah suatu penyakit inflamasi

kronik yang idiopathic, mengenai kulit, sendi, ginjal, paru-paru, membrana serosa,
sistem saraf, hati dan berbagai organ tubuh yang lain. Seperti penyakit autoimun
yang lain kejadiannya ditandai oleh periode remisi dan relaps. Gejala yang paling
sering ditemukan adalah kelelahan. Demam, penurunan berat badan, myalgia dan
arthralgia juga merupakan gejala yang sering ditemukan.
Prevalensi penyakit ini berkisar 5-100 per 100.000 individu, wanita
dewasa mempunyai kemungkinan 5-10 kali lebih besar untuk menderita penyakit
ini dibandingkan dengan pria. Populasi tertentu mempunyai prevalensi yang lebih
tinggi, misalnya pada wanita Amerika turunan Afrika prevalensinya tiga kali lebih
tinggi dibanding dengan wanita turunan Kaukasian.
Predisposisi genetik untuk SLE mencakup beberapa faktor. Kejadian SLE
berkisar 5-12% pada keluarga penderita SLE, pada penderita yang kembar
monozigot kejadiannya lebih dari 50%. Sejumlah petanda genetik ditemukan lebih
sering pada penderita SLE dibanding kelompok kontrol, meliputi HLA-B8, HLADR3 dan HLA-DR2. Penderita SLE juga mempunyai frekuensi defisiensi protein
komplemen C2 dan C4 yang lebih tinggi.
Diagnosis
Diagnosis SLE ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan dikonfirmasi
dengan pemeriksaan antibodi yang beredar dalam sirkulasi. Sejumlah antibodi
dikenali berhubungan dengan kejadian SLE, yang terutama adalah antinuclear
antibodi (ANA). Dahulu dikenali faktor serum yang menyebabkan fenomena
lupus erythematosus (LE), suatu autoantibodi yang diketahui melawan
nukleoprotein (DNA-histone), namun saat ini fenomena sel LE tidak penting

20

untuk diagnosis dan sudah digantikan oleh pemeriksaan immunofluorescent


terhadap ANA yang berperan sebagai uji saring dalam diagnostik awal terhadap
penderita yang dicurigai menginap SLE.
Antibodi terhadap DNA untai ganda merupakan pemeriksaan yang paling
spesifik untuk SLE dan ditemukan pada 80-90% penderita yang tidak diobati.
Peningkatan kadar antibodi ini berhubungan dengan eksaserbasi penyakit dan
persalinan prematur. Antibodi terhadap DNA untai tunggal juga meningkat pada
penderita SLE yang tidak diobati namun kurang spesifik dibanding antibodi DNA
untai ganda.
Tabel 2. Frekuensi gejala klinis SLE
Gejala

Penderita (%)

Kelelahan

80-100

Demam

80-100

Arthralgia, arthritis

95

Myalgia

70

Penurunan berat badan

>60

Kulit :
-

ruam berbentuk kupu-kupu


fotosensitif
lesi membran mukosa

50
60
35
50

Komplikasi ginjal
Paru-paru:

50

- pleurisy
- efusi
- pneumonitis
Jantung (perikarditis)

25
5-10
10-50

Lymphadenopathy
SSP

50

21

- kejang

15-20

- psikosis

< 25

Pada tahun 1971 American Rheumatism Association (ARA) membuat


kriteria diagnosis SLE

yang kemudian di revisi pada tahun 1982. Untuk

menegakkan diagnosis SLE diperlukan minimal 4 dari 11 kriteria pada satu kali
pemeriksaan atau pada pemeriksaan serial. Kriteria kriteria ini sangat sensitif
dan spesifik untuk SLE namun perlu diketahui bahwa kriteria ini jangan pernah
diharapkan untuk membentuk sine quo non untuk diagnosis SLE.
Klasifikasi ARA untuk diagnosis SLE :
a. Malar rash
b. Discoid rash
c. Photosensitivity
d. Oral ulcers
e. Arthritis (non-deforming arthritis)
f. Serositis (pleuritis and/ or pericarditis)
g. Renal disorder (proteiuria >0,5 g/day or celluler casts)
h. Neurological disorder (psychosis and/or seizures)
i. Hematological disorder (leukopeniaor lymphopenia)
j. Immunological disorder (anti-DNA / anti SM/LE cell/ false positive STS)
k. Antinuclear antibody
Risiko Maternal

Risiko yang paling ditakuti pada masa kehamilan adalah eksaserbasi SLE.
Deteksi eksaserbasi SLE pada masa kehamilan sulit dilakukan karena manifestasi
khas dari eksaserbasi ungkin merupakan hal yang normal pada kehamilan.
Penelitian yang dilakukan Garenstein dkk menemukan bahwa risiko eksaserbasi 3
kali lebih besar pada 20 minggu pertama kehamilan dan 6 kali lebih besar pada 8

22

minggu pertama postpartum dibanding dengan masa 32 minggu sebelum


konsepsi.
Beberapa penelitian menemukan angka kematian janin pada penderita
SLE relatif tinggi, sehingga disarankan agar penderita SLE tidak boleh hamil.
Secara keseluruhan sekitar 15-60% penderita SLE akan mengalami eksaserbasi
dalam masa kehamilan dan postpartum, namun untungnya tigaperempatnya
bersifat ringan sampai sedang dan dapat diobati dengan glukokortikoid dosis
ringan sampai sedang.
Devoe dkk menemukan bahwa eksaserbasi ditandai dengan penurunan
kadar C3 dan C4, sedang Lockshin dkk menemukan bahwa kadar Cls-C1 inhibitor
complex yang seharusnya meningkat akan menetap pada kebanyakan wanita
hamil dengan hypocomplementemia, namun ada pula penelitian lain yang
menemukan hypocomplementemia pada kehamilan tanpa SLE dan tidak
memprediksi luaran janin yang buruk. Tomer dkk menemukan peningkatan kadar
anti-dsDNA berhubungan dengan risiko eksaserbasi dan persalinan prematur,
mereka juga menemukan bahwa peningkatan kadar anti-dsDNA dan antibodi
antikardiolipin meningkatkan risiko abortus.
Penyakit ginjal merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan pada
SLE (50%). Pada umumnya dianggap bahwa lupus nephritis (LN) berhubungan
dengan deposisi kompleks imun yang mengakibatkan aktivasi komplemen dan
kerusakan inflamasi jaringan pada ginjal yang ditandai dengan gejala proteinuria
pada 75% penderita, dan sekitar 40% dengan hematuria dan pyuria, serta
sepertiganya dengan urinary cast. Hasil biopsi ginjal sangat penting untuk
menentukan

pengobatan

dan

prognosis.

Laporan

penelitian

terdahulu

menyebutkan bahwa LN merupakan kontributor utama untuk morbiditas dan


mortalitas ibu. Gambaran patologi biopsi ginjal berupa : diffuse proliferative
glomerulonephritis (DPGN), focal proliferative glomerulonephritis, membranous
glomerulonephritis dan mesangial nephritis.

23

Secara keseluruhan pada 20-30% kehamilan dengan SLE terjadi


komplikasi pregnancy induced hypertension (PIH), penyebabnya belum diketahui
namun mungkin didasari oleh penyakit ginjal yang merupakan suatu faktor yang
berhubungan dengan PIH. Pemakaian kortikosteroid dosis tinggi (> 30 mg
prednison) selama kehamilan mungkin pula merupakan faktor predisposisi
terjadinya PIH.
Risiko pada janin
Kematian janin merupakan salah satu risiko SLE pada kehamilan, hal ini
mungkin berhubungan dengan disfungsi plasenta yang dibuktikan dengan
peningkatan alfa fetoprotein dalam serum ibu hamil yang menderita SLE
dibandingkan dengan ibu hamil normal. Penelitian prospektif yang dilakukan oleh
Lockshin dkk menemukan lebih dari 20% kematian janin terjadi pada trimester
kedua dan ketiga, namun Wong dkk menemukan tidak ada kematian janin pada 19
kehamilan dengan SLE yang berlanjut.
Pada satu penelitian ditemukan bahwa antibodi antiphospolipid merupakan
indikator yang sensitif untuk kegawatan janin dan kematian janin. Antibodi
antiphospholipid ditemukan pada 10 dari 11 penderita dengan kematian janin
dalam rahim dan mempunyai nilai prediksi postif lebih dari 50%.
Persalinan prematur lebih sering ditemukan pada penderita SLE
dibandingkan dengan ibu hamil normal terutama pada ibu hamil dengan
komplikasi eksaserbasi. Mintz dkk menemukan 23% kehamilan yang berakhir
dengan gangguan pertumbuhan janin termasuk 4 kasus lahir mati. SLE dengan
komplikasi lupus nephritis meningkatkan kejadian restriksi pertumbuhan janin
dalam rahim.
Neonatal lupus erythematosus (NLE) merupakan kejadian yang jarang
(1:20.000 kelahiran hidup) merupakan kondisi yang ditandai dengan abnormalitas
kulit, jantung dan hematologik. Lesi kulit adalah kelainan yang paling sering
ditemukan ditandai dengan bercak bulat atau elips. Kelainan jantung yang
berhubungan dengan NLE adalah congenital complete heart block (CCHB) dan
24

endocardial fibroelastosis, dengan gejala bradikardia 60-80 denyut permenit yang


ditemukan pada kehamilan 16-25 minggu. Dapat terjadi hidrops fetalis yang
tergantung pada derajat fibrosis endomyocardial dan disfungsi miokard. Oleh
karena lesi yang permanen pada CCHB maka diperlukan pemasangan pacu
jantung untuk meningkatkan harapan hidup neonatus.
Penanganan
Pada masa pra kehamilan diperlukan konseling untuk menjelaskan risiko
SLE pada kehamilan baik terhadap ibu maupun janin yang dikandung. Idealnya
untuk hamil pasien harus dalam keadaan remisi dan tidak mendapat terapi obatobat sitotoksik dan NSAID, dan dilakukan pemeriksaan darah dan urin untuk
menyingkirkan adanya anemia, trombositopenia dan penyakit ginjal yang
mendasari. Pada masa kehamilan ibu hamil penderita SLE harus diperiksa tiap 2
minggu sekali pada trimester I dan II serta tiap minggu pada trimester III. Pada
setiap kunjungan harus ditanyakan tentang aktivitas tanda dan gejala SLE.
Berhubungan dengan risiko insufisiensi uteroplasenter maka dianjurkan
untuk melakukan pemeriksaan USG tiap 4-6 minggu sejak kehamilan 18-20
minggu. Penilaian kesejahteraan janin harus dilakukan pada kehamilan 30-32
minggu. Pada pasien dengan eksaserbasi, hipertensi, proteinuria, pertumbuhan
janin terhambat dan APS dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan USG yang
lebih sering dan pada usia kehamilan yang lebih dini (24-25 minggu).
Bila eksaserbasi terjadi pada masa persalinan maka dianjurkan pemberian
hidrokortison 100 mg /iv tiap 8 jam. Kehadiran neonatologist dalam persalinan
diperlukan sehubungan dengan kemungkinan komplikasi CCHB dan manifestasi
lupus neonatal yang lain. Pengobatan yang diberikan pada masa persalinan
diteruskan sampai postpartum, penyesuaian dosis obat dapat dilakukan dalam
rawat jalan.
b.

Antiphospholipid Syndrome ( APS )

25

Adalah suatu keadaan autoimun yang ditandai dengan produksi antibodi


antiphospholipid dalam kadar sedang sampai tinggi dan dengan gambaran klinis
tertentu seperti trombosis (vena maupun arteri termasuk stroke), trombositopenia
autoimun dan abortus. Kemungkinan terjadinya APS lebih sering pada penderita
dengan penyakit autoimun seperti SLE disebut APS sekunder, namun dapat pula
terjadi pada wanita yang tidak mempunyai penyakit autoimun (APS primer).
Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium APS masih sulit dan membingungkan,
kendalanya karena hanya sedikit laboratorium yang dapat melakukan pemeriksaan
dengan kualitas yang baik. Pemeriksaan antibodi antiphospholipid dan lupus
anticoagulant (LA) harus dilakukan bersama

berhubung karena hanya 20%

penderita APS yang dengan lupus anticoagulant positif. Pada tahun 1987 telah
dibuat kesepakatan pada International Anti-Cardiolipin Workshop mengenai
interpretasi

hasil

pemeriksaan

laboratorium

yang

dilaporkan

secara

semikuantitatif dan dibagi menjadi, negatif, positif rendah, positif sedang dan
positif tinggi. Pemeriksaan yang dilakukan adalah IgG aCL, IgM aCL dan IgA
aCL. Mayoritas penderita APS mempunyai LA dan IgG aCL.
Beberapa peneliti memperkirakan bahwa LA dan aCL merupakan
immunoglobulin yang sama yang dideteksi dengan metode pemeriksaan yang
berbeda sebab mereka menemukan bahwa pada penderita APS ditemukan salah
satu dari LA atau aCL namun tidak pernah menemukan keduanya bersamaan.
Pemeriksaan lain yang ditawarkan saat ini adalah 2-glycoprotein I (2GPI) yang relevan dengan antigen aPL. Banyak peneliti saat ini meyakini bahwa
aPL bekerja melawan glycoprotein ini atau lebih mungkin terhadap glycoprotein
ini dan phospholipid, namun belum ada bukti bahwa pemeriksaan ini mempunyai
informasi diagnostik yang lebih baik dari pemeriksaan LA dan aCL.
Tabel 3. Kriteria klinis untuk sindroma antiphospholipid

26

Kriteria diagnostik
a.
b.
c.
d.

Ditemukan satu atau lebih :


Thrombosis vena / arteri
Abortus berulang
Persalinan prematur sebelum 34 minggu yang berhubungan dengan
preeklamsia atau PJT

Gambaran klinis lain


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Trombositopenia dan anemia hemolititk


Livedo reticularis
Gangguan di otak khusunya epilepsi, infark otak, chorea dan migrain
Penyakit katup jantung khususnya katup mitral
Hipertensi
Hipertensi pulmonal
Ulkus di tungkai bawah

Risiko Maternal
Berbagai penelitian retrospektif memastikan adanya hubungan antara aPL
dan trombosis vena

serta arteri. Kejadian trombosis vena berkisar 65-70%

terutama pada ekstremitas bawah.


Ada hubungan yang kuat antara LA dan aCL dengan vaskulopathy
desidua, infark plasenta, restriksi pertumbuhan janin, preeklamsia dini dan abortus
berulang. Seperti pada lupus, penderita penyakit ini juga mempunyai insiden yang
tinggi untuk terjadinya trombosis vena dan arteri, trombosis cerebral, anemia
hemolitik, trombositopenia dan hipertensi pulmonal.
Menurut Chamley (1997) kerusakan platelet mungkin disebabkan
langsung oleh antibodi antiphospholipid, atau secara tidak langsug oleh ikatan
antara antibodi ini dengan 2-glycoprotein yang menyebabkan platelet mudah
mengalami agregasi. Agregasi in akan menyebabkan pembentukan trombus.
Data penelitian prospektif

yang dilakukan

di

Universitas Utah

menunjukkan insiden trombosis dan stroke pada ibu hamil dengan sindroma ini
masing-masing 5% dan 12%. Pada penderita APS dengan kehamilan juga tampak

27

peningkatan

kejadian

preeklamsia.

Beberapa

penelitan

dilakukan

untuk

menentukan adanya antibodi antiphospholipid pada penderita preklamsia, pada


satu penelitian tidak ditemukan hubungan antara antibodi antiphospholipid dengan
kejadian preeklamsia sedang pada 4 penelitian yang lain ditemukan 11,7 17%
penderita preeklampsia mempunyai kadar antibodi antiphospolipid yang
bermakna.
Risiko Janin
Beberapa penelitan terdahulu memberi perhatian terhadap hubungan antara
kematian janin antara 10 12 minggu dengan aPL, hasilnya lebih dari 90% wanita
dengan APS dan kematian janin mempunyai paling sedikit 1 kali riwayat
kematian janin.
Akibat lain yang ditimbulkan oleh APS terhadap janin adalah gangguan
pertumbuhan janin, bahkan pada penderita yang mendapat pengobatan. Kejadian
gangguan perrtumbuhan janin pada bayi yang lahir hidup hampir mencapai 30%.
Fetas distress juga relatif sering ditemukan pada APS, dan walaupun telah
mendapat pengobatan, 50% janin yang dilahirkan oleh ibu penderita APS akan
mengalami fetal distress. Demikian pula dengan persalinan prematur yang banyak
ditemukan pada penderita APS, pada penelitian dengan jumlah sampel yang besar
terhadap ibu hamil penderita APS yang telah diobati, sepertiganya melahirkan
pada atau sebelum usia kehamilan 32 minggu.
Penanganan

Ibu hamil penderita APS harus kontrol tiap 2 minggu pada paruh pertama
kehamilan dan tiap minggu sesudahnya. Pemeriksaan USG dilakukan tiap 3-4
minggu sejak kehamilan 17-18 minggu untuk memantau gangguan pertumbuhan
janin, oligohidramnion dan

abnormalitas pada doppler arteri umbilikalis.

Pemantauan kesejahteraan janin dilakukan sejak kehamilan 26-28 minggu.

28

Dahulu pengobatan dilakukan dengan pemberian prednison dan aspirin


dosis rendah namun pengobatan terkini adalah pemberian heparin dengan berat
molekul rendah dengan atau tanpa aspirin.
Risiko trombosis pada penderita APS mencapai 70%. Wanita dengan
riwayat APS dan tromboembolisme sebelumnya mempunyai risiko yang sangat
tinggi dalam kehamilan dan masa nifas dan perlu mendapat tromboprofilaksis
antenatal berupa heparin dengan berat molekul rendah 40 mg per hari.
c.

Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid arthritis adalah suatu penyakit arthritis yang kronik pada

sendi synovial yang mengenai 1/10.000 orang di Amerika Serikat dengan rasio
wanita : pria 3:1 dan prevalensi terbanyak pada umur 35-45 tahun. Penyakit ini
mengenai sendi pergelangan tangan, lutut, bahu, metakarpal-phalangeal dengan
perlangsungan progresif lambat yang ditandai dengan eksaserbasi dan remisi.
Sampai sekarang etiologinya belum diketahui, pada pemeriksaan histologi
tampak synovial diinflitrasi oleh sel-sel inflamasi khususnya limfosit. Ditemukan
anti bodi yang khas disebut rheumatoid factor yang bereaksi dengan antigen
membentuk kompleks imun yang ditemukan pada synovial dan cairan pleura.
Kerusakan inflamasi yang terjadi pada synovial menimbulkan perubahan erosif
yang khas pada sendi.
Risiko Maternal
Hubungan antara rheumatoid arthritis (RA) dan kehamilan sangat menarik
kerena dalam masa kehamilan penyakit ini menunjukkan perbaikan yang
dramatis. Berbagai penelitian menunjukkan sedikitnya 50% pasien dengan RA
yang menunjukkan perbaikan pada sedikitnya 50% kehamilan mereka. Perbaikan
ini dimulai pada trimester pertama dan mencapai puncaknya pada trimester dua
dan tiga, namun walaupun gejala penyakit ini menunjukkan perbaikan tetapi
fluktuasi jangka pendek tetap terjadi seperti pada penderita yang tidak hamil.
Tidak ada pemeriksaan laboratorium atau tanda klinis yang dapat memperkirakan

29

adanya perbaikan RA dalam kehamilan. Ada sekitar seperempat penderita yang


tidak menunjukkan perbaikan selama kehamilan, dan sejumlah kecil penderita
malah menunjukkan gejala yang makin berat. Sayangnya hampir tiga perempat
penderita yang telah menunjukkan perbaikan dalam masa kehamilan akan
mengalami relaps dan beberapa bulan postpartum.
Kortisol plasma yang meningkat selama kehamilan dan mencapai
puncaknya pada saat aterm mungkin merupakan faktor penting dari terjadinya
perbaikan RA. Beberapa pendapat mengatakan bahwa protein yang beredar dalam
sirkulasi dalam jumlah yang tinggi

atau khas terhadap kehamilan dapat

memperbaiki gejala RA, misalnya prenancy associated 2- glycoprotein dan globulin yang dihasilkan oleh plasenta. Sedang pendapat lain mengatakan bahwa
plasenta mungkin menyebabkan perubahan pada RA dengan membersihkan
kompleks imun atau mungkin modifikasi globulin imun selama kehamilan
merubah aktifitas inflamasinya.
Risiko Janin
Rheumatoid arthritis mungkin tidak berdampak pada fertilitas, sekitar 1520% ibu hamil dengan RA akan mengalami abortus, angka ini mungkin sedikit
tinggi atau tidak berbeda dengan wanita normal, beberapa penelitian mendapatkan
hasil yang berbeda, namun penderita RA tidak menunjukkan risiko yang
bermakna untuk terjadinya persalinan prematur, preeklamsia dan gangguan
pertumbuhan janin.
Penanganan
Penanganan pada wanita yang tidak hamil sama dengan penanganan
penyakit autoimun yang lain. Seperti dengan penderita SLE maka penderita RA
yang hamil harus memeriksakan diri ke dokter tiap 2-4 minggu sepanjang
kehamilannya. Istirahat merupakan faktor penting dalam penanganan RA, terapi
fisik diperlukan pada penderita yang tidak menunjukkan perbaikan dengan
kehamilan.1

30

Untuk analgesia sebaiknya digunakan acetaminophen. NSAID dan aspirin


sedapat mungkin dihindari karena dapat mengakibatkan gangguan hemostasis,
kehamilan yang memanjang dan penutupan duktus arteriosus yang dini.
Pemberian prednison dosis rendah menunjukkan hasil yang efektif namun tidak
boleh digunakan untuk jangka panjang. Obat-obat lain yang sering diberikan pada
penderita RA yang progresif seperti hydroxychloroquine, sulfasalazine, Dpenicillamine dan methotrexate merupakan kontraindikasi untuk kehamilan.
Perlu kewaspadaan bila pars servikalis dari kolumna vertebralis yang
terkena karena dapat terjadi subluksasi karena kelemahan sendi. Bila mengenai
sendi panggul maka dapat menghambat persalinan pervaginam.
d.

Systemyc Sclerosis

Merupakan penyakit yang

jarang, dikenal pula dengan nama lain

scleroderma, yang ditandai dengan fibrosis kulit, pembuluh darah dan organ
viscera yang progresif. Prevalensi penyakit ini 1 : 10.000 dengan rasio wanita :
pria 3 :1 pada kelompok umur 15 - 44 tahun. Penyebabnya belum diketahui,
namun target utama dari penyakit ini adalah sel endotel, suatu faktor serum yang
toksik terhadap endotel telah ditemukan pada beberapa penderita.
Gambaran klinisnya bervariasi dan morbiditas penyakit ini tergantung
pada luasnya permukaan kulit dan organ dalam yang terkena. Sering ditemukan
fenomena Raynauld khususnya pada pasien dengan sindroma CREST (calcinosis
pada kulit, fenomena Raynauld, dismotilitas esofagus, sclerodactyly dan
telangiectasis). Penderita dengan penyakit yang difus akan menampakkan gejala
arthritis pembengkakan tangan dan jari serta penebalan kulit yang dimulai pada
jari dan tangan

dan bisa meluas ke muka dan leher. Pada kelainan yang berat

maka permukaan kulit yang terkena lebih luas dan terjadi deformitas pada tangan
dan jari. Fenomena Raynauld dan kerusakan organ dalam yang terkena
menandakan adanya fibrosis arteriole dan arteri-arteri kecil, sehingga bila terjadi

31

respons vasokonstriksi karena berbagai rangsangan seperti udara yang dingin akan
menyebabkan obliterasi pembuluh darah yang komplit.
Pada sebagian besar penderita ditemukan ANA (anti-nuclear antibody)
namun anti-ANA tidak ditemukan, hampir setengah penderita mempunyai serum
cryoglobulin. Antibodi terhadap centromere ditemukan pada penderita dengan
sindroma CREST namun tidak ditemukan pada kelainan yang difus.
Risiko Maternal
Insiden penyakit ini dalam kehamilan tidak diketahui, dalam literatur
dilaporkan tidak lebih dari 150 kehamilan dengan systemic sclerosis (SSc).
Beberapa kepustakaan terdahulu melaporkan dampak negatif SSc pada kehamilan
berupa krisis renal, namun sulit untuk menentukan perubahan pada kehamilan
oleh SSc karena banyak gejala pada kehamilan yang sama dengan gejala SSc
misalnya edem dan refluks gastrointestinal.
Walaupun penelitian yang dilakukan Steen dkk menemukan sedikit
peningkatan persalinan prematur, restriksi pertumbuhan janin dan kematian
perinatal namun nampaknya kehamilan pada penderita SSc tidak menimbulkan
masalah bila tidak disertai kelainan ginjal, jantung dan paru. Pada penyakit yang
berat dapat menimbukan masalah pada penyembuhan luka.
Kematian maternal dapat disebabkan oleh scleroderma yang progresif
dengan komplikasi pada paru-paru, infeksi, hipertensi dan kegagalan jantung.
Risiko janin
Diduga dampak yang ditimbulkan pada mikrovaskuler dan gangguan pada
ginjal dapat mengakibatkan preeklamsia dan gangguan pertumbuhan janin. Ada
satu penelitan melaporkan kejadian preeklamsia 48% pada penderita SSc namun
penelitian lain melaporkan insiden preeklamsia sebesar 6%, dan gangguan
pertumbuhan janin 10%.
Penanganan

32

Penderita SSc dengan gangguan kardiopulmoner serta gangguan ginjal


dianjurkan untuk tidak hamil, dan pada penderita yang hamil dianjurkan untuk
melakukan terminasi kehamilan. Hingga saat ini belum ada pengobatan yang
memuaskan, pada penderita dengan fenomena Raynauld diberikan vasodilator,
dan pada SSc difusa diberikan terapi glukokortikoid seperti pada penderita SLE
namun kortikosteroid hanya bermanfaat pada myositis inflamatory dan anemia
hemolititk.
e.

Myasthenia Gravis
Myasthenia gravis adalah suatu penyakit autoimun yang ditandai oleh

kelemahan dari otot wajah, orofaringeal, ekstraokuler dan otot anggota gerak.
Kelemahan dari otot-otot wajah dapat menyebabkan kesukaran untuk tersenyum,
mengunyah dan berbicara. Tanda utama dari penyakit ini adalah peningkatan
kelemahan otot pada aktivitas otot yang berulang. Merupakan penyakit yang
jarang dengan insiden 1 per 100.000, wanita dua kali lebih banyak dibanding pria.
Penyebabnya diduga karena serangan autoimun terhadap reseptor
asetilkolin pada neuro-muscular junction. Antibodi terhadap reseptor asetilkolin
atau receptor-decamethonium complex (anti-AchR) ditemukan dalam serum dari
tigaperempat penderita Myasthenia gravis (MG).
Abnormalitas thymus juga ditemukan pada sebagian besar penderita MG,
sekitar 75% dengan hiperplasia folikel kelenjar dan 10-15% dengan tumor thymic
jenis lymphoblastic atau epithelial. Tindakan thymectomy menyebabkan remisi
dan perbaikan pada masing-masing 35% dan 50% penderita sehingga diduga MG
berhubungan dengan serangan autoimun terhadap antigen pada thymus dan motor
endplate atau abnormal clone dari sel-sel imun di thymus.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis dan
prosedur konfirmasi diagnostik, dengan pemberian antikolinesterase kerja pendek
(endrophonium) 210 mg intravena maka kekuatan otot secara dramatis dapat
dipulihkan. Tes lain yang lebih canggih dengan elektromyografi serabut tunggal
dan pemeriksaan rangsangan saraf berulang.
33

Risiko maternal
Stres emosional yang biasa dialami dalam kehamilan dapat memperburuk
efek MG, demikian pula pembesaran uterus dan elevasi diafragma dapat
menyebabkan hipoventilasi relatif pada bagian bawah paru, hal ini dapat
menambah masalah pada penderita dengan gangguan respirasi. Stres yang
disebabkan oleh infeksi berat seperti pyelonefritis dapat

menyebabkan

eksaserbasi MG.
Perjalanan penyakit MG dalam kehamilan tidak dapat diprediksi. Plauche
menemukan bahwa 40% wanita dengan MG mengalami eksaserbasi pada saat
kehamilan, 30% tidak menunjukkan perubahan, dan 30% mengalami eksaserbasi
postpartum yang biasanya terjadi tiba-tiba dan berakibat serius. Angka kematian
maternal pada penderita MG berkisar 4%.
Risiko Janin
Plauche menemukan bahwa angka abortus dan kematian janin pada
penderita MG tidak berbeda dengan populasi normal, namun angka persalinan
prematur meningkat. Alasan teoritis terjadinya persalinan prematur ini karena obat
antikolinesterase mempunyai kerja seperti oksitosin.
Pasase transplasenter dari antibodi anti-AChR dapat menyebabkan MG
pada janin dan neonatus. Ditemukan tiga kasus arthrogryposis, dan juga
ditemukan hydramnion yang disebabkan gangguan menelan pada janin.
Donaldson dkk menduga kejadian MG pada janin relatif jarang karena adanya alfa
fetoprotein yang menghambat kerja anti-AChR terhadap AChR.
Penanganan
Antikolinesterase merupakan pilihan pertama dalam pengobatan MG.
Dahulu digunakan neostigmin (Prostigmin) namun karena waktu paruhnya singkat
maka saat ini yang digunakan adalah pyridostigmin (Mestinon) yang mempunyai
waktu paruh yang panjang. Glukokortikoid pada umumnya juga efektif, dan
banyak ahli yang menganjurkan pemberian dosis tinggi (prednison 60-80 mg/hari)

34

yang kemudian di kurangi secara bertahap. Thymectomy menghasilkan perbaikan


namun mekanisme kerjanya belum jelas.
Dalam masa kehamilan pasien dianjurkan memeriksakan diri secara teratur
tiap 2 minggu pada trimester pertama dan kedua serta tiap minggu pada trimester
ketiga. Hindari stres fisik dan emosional serta pemakaian beberapa jenis obat yang
dapat menyebabkan eksaserbasi akut dari MG (tabel 4).
Myasthenia gravis tidak

mengenai otot polos sehingga tidak

mempengaruhi kala I persalinan, namun pada kala II MG dapat menyebabkan


pengaruh pada upaya mengejan, namun rata-rata lama persalinan pada penderita
MG dalam batas normal. Semua pasien MG harus dikonsultasikan pada ahli
anestesi sejak awal kehamilan. Anestesi epidural mungkin merupakan cara yang
terbaik sebab mengurangi kebutuhan analgesia, mencegah terjadinya kecemasan
dan kelelahan dan sangat baik untuk persalinan tindakan dengan forcep.
Tabel 4. Daftar obat-obat yang dapat menyebabkan terjadinya eksaserbasi atau
kelemahan otot pada pasien dengan myasthenia gravis.
Garam magnesium

Cholistin

Aminoglycosid

Polymyxin B

Halothane

Quinine

Propranolol

Lincomycin

Tetracycline

Procainamide

Barbiturat

Ether

Garam lithium

Penicillamine

Trichloethylene

2.6

Patogenesis Autoimun

35

Berbagai teori telah diajukan oleh para peneliti tentang patogenesis


autoimun tetapi tampaknya masing-masing mempunyai kebenaran dan kelemahan
sendiri.
Berbagai teori patogenesis autoimun
Pelepasan antigen sekuesterPenurunan fungsi sel T supresorPeningkatan aktivitas sel Th,
pintas sel TDefek timusKlon abnormal, defek induksi toleransiSel B refrakter terhadap sinyal
supresorDefek makrofagDefek sel stemDefek jaringan idotip-antiidiotipGen abnormal: gen
respons imun, gen imunoglobulinFaktor virusFaktor hormon
Berdasarkan karakteristik penyakit autoimun organ spesifik maka timbul
dugaan adanya antigen sekuester dalam suatu organ, yang karena tidak pernah
berkontak dengan sistem limforetikular maka apabila suatu saat terbebas akan
dianggap asing dan menimbulkan pembentukan autoantibodi. Contohnya adalah
autoantibodi terhadap sperma setelah vasektomi, lensa mata setelah trauma mata,
otot jantung setelah infark miokard, atau jaringan lain yang bila terbebas akan
menimbulkan pembentukan autoantibodi.
Seperti telah kita ketahui maka aktivasi sistem imun akan diikuti oleh
mekanisme pengatur yang meningkatkan atau menekan dan menghentikan
respons imun. Gangguan pada mekanisme supresi, baik jumlah maupun fungsi sel
Ts, akan meningkatkan pembentukan autoantibodi bila respons imun tersebut sel
ditujukan terhadap autoantigen.
Respons imun hampir selalu membutuhkan kerjasama sel T dan sel B, dan
telah diketahui bahwa mekanisme toleransi ditentukan oleh sel T. Bila sel T
toleran tersebut teraktivasi oleh faktor nonspesifik atau antigen silang yang mirip
dengan antigen diri, maka sel B yang bersifat tidak toleran akan membentuk
autoantibodi. Timus dan sel mikronya sangat penting untuk diferensiasi sel T. Bila
terjadi gangguan maka akan terjadi defek sistem imun yang akan mempercepat
proses autoimun. Produksi autoantibodi dilakukan oleh sel B, dan gangguan

36

imunitas selular, baik peningkatan sel Th atau penekanan sel Ts, akan
meningkatkan aktivitas sel B.
Selain itu dapat juga terjadi kelainan pada sel B yang bersifat intrinsik,
misalnya terdapat klon sel B autoreaktif yang hiperresponsif terhadap berbagai
stimuli, atau kelainan ekstrinsik berupa aktivasi sel B oleh mitogen endogen atau
eksogen yang disebut aktivator poliklonal. Sel B dapat bereaksi dengan
autoantigen melalui berbagai reseptornya yang mempunyai aviditas rendah
sampai tinggi, sementara sel T tetap toleran. Aktivator poliklonal yang terdiri
dari produk bakteri, virus, atau komponen virus, parasit, atau substansi lainnya
dapat langsung merangsang sel B tersebut untuk memproduksi autoantibodi (lihat
Gambar 15-3). Hal ini dapat terlihat dengan terdeteksinya faktor rheumatoid dan
antinuklear, antilimfosit, antieritrosit, serta anti-otot polos setelah infeksi parasit,
bakteri, atau virus. Selain itu terbukti pula bahwa lipopolisakarida bakteri dapat
menginduksi limfosit tikus untuk memproduksi berbagai autoantibodi seperti anti
DNA, antiglobulin ,antitimosit, dan antieritrosit.
Makrofag

mempunyai

fungsi

penting

untuk

memproses

dan

mempresentasikan antigen pada limfosit, serta memproduksi berbagai sitokin


untuk aktivasi limfosit. Fungsi penting lainnya adalah sebagai fagosit untuk
mengeliminasi berbagai substansi imunologik yang tidak diinginkan, misalnya
kompleks imun. Pada penderita penyakit autoimun diduga bahwa eliminasi
kompleks imun tidak berfungsi dengan baik karena jumlah reseptor Fc dan CR1
(C3b, imun adherens) pada makrofag berkurang, tetapi hasil penelitian tentang
fungsi makrofag pada penyakit autoimun masih belum konsisten.
Autoimunitas dapat juga terjadi karena defek pembentukan toleransi yang
telah dibuktikan pada hewan percobaan, akibat gangguan sel T atau sel B, atau
keduanya. Gangguan toleransi ini hanya terjadi untuk antigen tertentu saja.
Sampai sejauh ini masih belum dapat diambil kesimpulan komprehensif dari
penelitian tentang peran defek toleransi tersebut.

37

Cara terbaik untuk membuktikan peran humoral, selular, lingkungan mikro


atau virus terhadap autoimunitas adalah uji transfer autoimunitas dengan jaringan
atau ekstrak jaringan hewan percobaan yang mempunyai predisposisi genetik
autoimun ke resipien tanpa defek tersebut. Dengan cara ini maka terlihat bahwa
defek sel stem, terutama prekursor sel B, lebih berperan untuk timbulnya
autoimunitas daripada sel B matang.
Aktivasi sel B ditentukan oleh sejumlah sinyal dan faktor yang datang dari
sel T. Pada penyakit autoimun sistemik terdapat peningkatan jumlah sel B aktif
dan yang memproduksi antibodi poliklonal. Hiperreaktivitas sel B ini disebabkan
oleh defek sel B terhadap kebutuhan sinyal, produksi faktor proliferasi,
diferensiasi, dan maturasi oleh sel T yang berlebih, atau respons sel B yang tidak
normal

terhadap

faktor-faktor

tersebut.

Akibatnya

akan

terjadi

hipergamaglobulinemia, produksi autoantibodi, alih imunoglobulin menjadi


autoantibodi subkelas patologik, dan akhirnya penyakit autoimun sistemik.
Para penulis sepakat bahwa peran faktor genetik terhadap angka kejadian,
awitan, dan perjalanan penyakit autoimun sangat besar. Gen yang bertanggung
jawab terhadap predisposisi autoimun ini bukanlah lokus tunggal, dan
dihubungkan dengan gen yang menentukan respons imun terhadap antigen, yaitu
gen MHC dan gen imunoglobulin. Hal ini terlihat dari adanya hubungan antara
suatu antigen HLA dengan penyakit tertentu yang dinyatakan dengan risiko
relatif.
Sel B dan sel T serta produknya dapat mengekspresikan determinan idiotip
atau anti-idiotip yang ikut berfungsi sebagai regulator sistem imun. Antibodi antiidiotipik dapat menekan atau merangsang respons imun. Pada umumnya
autoantibodi anti-idiotipik akan menekan respons imun terhadap idiotip. Seperti
halnya antibodi biasa, autoantibodi merupakan produk respons imun terhadap
antigen/autoantigen, atau terhadap Ab2 (anti-idiotip) yang menyerupai antigen.
Oleh karena itu dapat diduga bahwa autoimunitas dapat terjadi akibat defek
regulasi sistem imun yang menyebabkan penekanan atau rangsangan produksi

38

antibodi anti-idiopatik (lihat Gambar 15-4). Defek tersebut dapat menyebabkan


produksi autoantibodi atau stimulasi Ab1 (idiotip) yang tidak terkontrol walaupun
tidak ada antigen lagi. Diduga bahwa defek ini berhubungan erat dengan sirkuit
sel B-Th-Ts dan idiotip serta anti-idiotipnya.
Tidak satu pun dari teori tersebut dapat memberikan penjelasan tunggal
yang memuaskan, sehingga disimpulkan bahwa semua faktor tersebut berperan
pada patogenesis autoimunitas.
Beberapa mekanisme dianggap operatif dalam patogenesis penyakit
autoimun, dengan latar belakang kecenderungan genetik dan modulasi
lingkungan. Hal ini di luar cakupan artikel ini membahas masing-masing dari
mekanisme ini secara mendalam, tapi ringkasan dari beberapa mekanisme penting
telah dijelaskan:
a.

T-Cell Bypass : Sistem kekebalan tubuh yang normal memerlukan aktivasi


sel-B dengan T-sel sebelum mantan dapat menghasilkan antibodi dalam
jumlah besar. Kebutuhan sel-T ini bisa di bypass dengan kasus yang jarang
terjadi, seperti infeksi oleh organisme memproduksi super antigen , yang
mampu memulai aktivasi poliklonal sel-B, atau bahkan T-sel, dengan
langsung mengikat - subunit T-sel reseptor dalam mode non-spesifik.

b.

T-Cell-B-Cell discordance : Sebuah respon imun normal diasumsikan


melibatkan B dan respon sel T terhadap antigen yang sama, bahkan jika kita
tahu bahwa sel B dan sel T mengenali hal yang sangat berbeda: konformasi
pada permukaan molekul untuk sel B dan pra-olahan fragmen peptida protein
untuk sel T. Namun, tidak ada sejauh kita tahu bahwa membutuhkan ini.
Semua yang diperlukan adalah bahwa sel B mengenali antigen X endocytoses
dan proses protein Y (biasanya = X) dan menyajikan itu ke sel T. Roosnek
dan Lanzavecchia menunjukkan bahwa sel B mengenali IgGFc bisa
mendapatkan bantuan dari setiap sel T menanggapi antigen co-endocytosed
dengan IgG oleh sel B sebagai bagian dari kompleks imun. Pada penyakit

39

celiac nampaknya sel B mengenali transglutamine jaringan dibantu oleh sel T


mengenali gliadin.
c.

Aberrant B cell receptor-mediated feedback : Sebuah fitur penyakit autoimun


manusia adalah bahwa hal itu sebagian besar terbatas pada sekelompok kecil
antigen, beberapa di antaranya telah dikenal peran sinyal dalam respon imun
(DNA, C1q, IgGFc, Ro, Con A. reseptor, Kacang Tanah agglutinin reseptor
(PNAR)). Fakta ini memunculkan gagasan bahwa autoimun spontan dapat
terjadi bila pengikatan antibodi terhadap antigen tertentu dapat sinyal
menyimpang yang makan kembali ke induk sel B melalui ligan terikat
membran. Ligan termasuk reseptor sel B (untuk antigen), Fc IgG reseptor,
CD21, yang mengikat komplemen C3d, Pulsa seperti reseptor 9 dan 7 (yang
dapat mengikat DNA dan nucleoproteins) dan PNAR. Aktivasi menyimpang
tidak langsung sel B juga bisa dipertimbangkan dengan autoantibodies untuk
reseptor asetil kolin (pada sel myoid thymus) dan hormon dan protein hormon
mengikat. Bersama dengan konsep T-sel-sel B kejanggalan ide ini
membentuk dasar hipotesis mengabadikan diri sel B autoreaktif. Autoreaktif
B sel-sel di autoimunitas spontan dilihat sebagai surviving karena subversi
kedua sel T membantu dan jalur dari sinyal umpan balik melalui reseptor sel
B, dengan demikian mengatasi sinyal negatif yang bertanggung jawab untuk
sel B toleransi diri tanpa harus memerlukan hilangnya sel T diri-toleransi.

d.

Molecular Mimicry : Sebuah eksogen antigen dapat berbagi kesamaan


struktural dengan antigen host tertentu, dengan demikian, antibodi apapun
dihasilkan terhadap antigen ini (yang meniru antigen diri) juga bisa, secara
teori, mengikat antigen host, dan memperkuat respon imun. Ide mimikri
molekuler muncul dalam konteks Demam rematik , yang mengikuti infeksi
dengan Grup A beta-hemolitik streptokokus . Meskipun demam rematik telah
dikaitkan dengan mimikri molekuler selama setengah abad antigen belum ada
secara resmi diidentifikasi (jika ada terlalu banyak telah diusulkan). Selain
itu, jaringan distribusi yang kompleks penyakit (jantung, sendi, kulit, basal
ganglia) berpendapat melawan antigen tertentu jantung. Masih mungkin

40

bahwa penyakit ini disebabkan misalnya interaksi yang tidak biasa antara
kompleks imun, komponen komplemen dan endotelium.
e.

Idiotype Cross-Reaction : Idiotypes adalah antigenik epitop ditemukan di


bagian antigen-mengikat (Fab) dari molekul imunoglobulin. Plotz dan
Oldstone disajikan bukti bahwa autoimunitas dapat timbul sebagai akibat dari
reaksi silang antara idiotype pada antivirus antibodi dan sel reseptor inang
untuk virus tersebut. Dalam hal ini, reseptor sel inang dibayangkan sebagai
sebuah gambar internal dari virus, dan anti-idiotype antibodi dapat bereaksi
dengan sel inang.

f.

Cytokine Dysregulation : sitokin telah baru-baru dibagi menjadi dua


kelompok sesuai dengan populasi sel yang fungsi mereka mempromosikan:
Helper T-sel tipe 1 atau tipe 2. Kategori kedua sitokin, termasuk IL-4, IL-10
dan TGF- (untuk beberapa nama), tampaknya memiliki peran dalam
pencegahan berlebihan pro-inflamasi respon imun.

g.

Dendritic cell apoptosis : sel sistem kekebalan yang disebut sel dendritik
menyajikan antigen untuk aktif limfosit . Sel dendritik yang cacat dalam
apoptosis dapat menyebabkan tidak tepat sistemik limfosit aktivasi dan
penurunan konsekuen dalam diri toleransi.

h.

Epitope spreading or epitope drift : ketika reaksi kekebalan perubahan dari


menargetkan utama epitop untuk juga menargetkan epitop lainnya. Berbeda
dengan mimikri molekuler, epitop lainnya tidak perlu secara struktural mirip
dengan yang utama.

i.

Epitope modification or Cryptic epitope exposure : mekanisme penyakit


autoimun adalah unik karena bukan hasil dari cacat dalam sistem
hematopoietik. Sebaliknya, penyakit hasil dari pemaparan samar N-glycan
(polisakarida) hubungan umum untuk eukariota dan prokariota lebih rendah
pada glikoprotein dari mamalia non-sel dan organ hematopoietik. Paparan
glycans phylogenically primitif mengaktifkan satu atau lebih sel kekebalan
tubuh mamalia bawaan reseptor untuk menginduksi kondisi inflamasi kronis
steril. Dengan adanya kerusakan sel dan inflamasi kronis, sistem kekebalan
tubuh adaptif yang direkrut dan self-toleransi hilang dengan produksi

41

autoantibody meningkat. Dalam bentuk penyakit, tidak adanya limfosit dapat


mempercepat kerusakan organ, dan intravena IgG administrasi dapat terapi.
Meskipun rute ini untuk penyakit autoimun mungkin mendasari berbagai
negara penyakit degeneratif, tidak ada diagnostik untuk mekanisme penyakit
ada saat ini, sehingga perannya dalam autoimunitas manusia saat ini tidak
diketahui. Peran khusus immunoregulatory jenis sel, seperti sel T peraturan ,
sel NKT , T-sel dalam patogenesis penyakit autoimun yang sedang
diselidiki.
2.7

Spektrum Penyakit Autoimun


Penyakit autoimun mempunyai spektrum yang sangat luas, dari yang

bersifat organ spesifik sampai bentuk sistemik atau non-organ spesifik. Pada
penyakit autoimun organ spesifik, umumnya mempengaruhi organ tunggal dan
respons autoimun ditujukan langsung pada antigen di dalam organ tersebut.
Sebagian besar kelainan spesifik organ melibatkan satu atau beberapa kelenjar
endokrin. Target antigen dapat berupa molekul yang diekspresikan pada
permukaan sel hidup (terutama reseptor hormon) atau molekul intraseluler
(terutama enzim intraseluler). Sedangkan penyakit autoimun non-organ spesifik
mempengaruhi organ multipel dan biasanya berkaitan dengan respons autoimun
terhadap molekul yang tersebar di seluruh tubuh, terutama molekul intraseluler
yang berperan dalam transkripsi dan translasi kode genetik (DNA dan unsur inti
sel lainnya) . Beberapa contoh antigen diri dan penyakit terkait.
Antigen diri

Penyakit

Reseptor hormon :Reseptor

Hiper atau hipotiroidisme Hiper atau

TSHReseptor insulin

hipoglikemia

Reseptor neurotransmiter : Reseptor

Miastenia gravis

asetilkolin
Molekul sel adesi : Molekul sel adesi

Penyakit kulit yang melepuh

epidermal

42

Protein plasma : Faktor VIII2

Hemofili didapat Sindrom antifosfolipid

glikoprotein I dan protein antikoagulan


lain
Antigen permukaan sel :Sel darah merah

Anemia hemolitik Purpura

(antigen multipel) Platelet

trombositopenia

Enzim intraseluler: Peroksidase

Tiroiditis, kemungkinan

tiroidSteroid 21-hidroksilase (korteks

hipotiroidismeKegagalan adrenokortikal

adrenal)

(penyakit Addison)

Glutamat dekarboksilase (sel di pulau Diabetes autoimun Vaskulitis sistemik


pankreas): Enzim lisosom (sel

Sirosis biliar primer

fagositik)Enzim mitokondria (terutama


piruvat dehidrogenase)
Molekul intraseluler yang melibatkan

Skleroderma difus Polimiositis

transkripsi dan translasi ,Rantai dua

Skleroderma lokal

DNAHistonTopoisomerase IAmino-acyl
t-RNA sintaseProtein sentromer
Tabel 5. Antigen diri dan penyakit autoimun
2.8

Toleransi Diri Autoimun


Untuk menghindari penyakit autoimun, pembentukan molekul sel T dan B

yang bersifat autoreaktif harus dicegah melalui eliminasi atau down-regulation.


Sel T (terutama CD4+) mempunyai peran sentral dalam mengatur hampir semua
respons imun, sehingga proses toleransi sel T lebih penting dalam penghindaran
autoimunitas dibandingkan toleransi sel B. Selain itu, sebagian sel B yang
autoreaktif juga tidak dapat memproduksi autoantibodi apabila tidak menerima
rangsangan yang tepat dari sel Th.
a.

Toleransi timus

43

Perkembangan sel T di timus mempunyai peranan penting dalam eliminasi


sel T yang dapat mengenali peptida pada protein diri. Dengan proses positive
selection, sel akan bertahan melalui ikatan dengan molekul MHC. Ikatan ini akan
menginduksi sinyal yang mencegah sel mati. Reseptor sel T yang gagal berikatan
dengan molekul MHC di timus akan mati melalui apoptosis. Sel T yang bertahan
dari proses ini akan berikatan dengan molekul MHC dan kompleks peptida diri
yang ada di timus dengan afinitas yang berbeda-beda. Sel T yang mempunyai
afinitas yang rendah akan bertahan dan berpotensial untuk mengikat MHC dan
peptida asing dengan afinitas tinggi serta dapat menginisiasi respons imun
protektif nantinya. Namun sel T yang berikatan dengan MHC dan peptida diri di
timus dengan afinitas tinggi mempunyai potensial untuk pengenalan dengan
antigen diri di tubuh, dengan konsekuensi induksi autoimunitas. Sel-sel dengan
afinitas tinggi tersebut dieliminasi melalui proses negative selection
Proses-proses diatas disebut edukasi timus. Alasan gagalnya toleransi
timus adalah banyaknya peptida diri yang tidak diekspresikan dengan kadar yang
cukup di timus untuk menginduksi negative selection. Sebagian besar peptida
yang berikatan dengan MHC di timus berasal baik dari protein intraseluler atau
terikat membran yang ada dimana-mana, ataupun protein yang ada di cairan
ekstraseluler, sehingga toleransi timus tidak diinduksi terhadap protein spesifik
jaringan.
b. Toleransi perifer
Terdapat beberapa mekanisme terjadinya toleransi perifer yang merupakan
kontrol lini kedua dalam mengatur sel autoreaktif.
Ignorance
Proses immunological ignorance terjadi karena keberadaan antigen
terasing di organ avaskular, seperti humor viterus pada mata. Antigen tersebut
secara efektif tidak terlihat oleh sistem imun. Apabila antigen tersebut lolos dari
organ tersebut, maka toleransi perifer aktif akan berkembang. Proses ini terjadi
44

karena sel T CD4+ hanya mengenali angtigen yang dipresentasikan melalui


molekul MHC II. Dengan distribusi yang terbatas dari molekul tersebut, maka
sebagian besar molekul spesifik organ tidak akan dipresentasikan dengan kadar
yang cukup untuk menginduksi aktivasi sel T.
Pemisahan sel T autoreaktif dengan autoantigen
Antigen diri dan limfosit juga terpisah oleh sirkulasi limfosit yang
terbatas. Sirkulasi ini membatasi limfosit naive ke jaringan limfoid sekunder dan
darah. Untuk mencegah antigen diri mempunyai akses ke antigen-presenting
cells, debris dari jaringan diri yang rusak perlu dibersihkan secara cepat dan
dihancurkan, melalui apoptosis dan mekanisme pembersihan debris lainnya,
termasuk sistem komplemen dan fagositosis. Defek komplemen dan fagosit
berkaitan dengan perkembangan autoimunitas terhadap molekul intraseluler.
Anergi dan kostimulasi
Mekanisme toleransi perifer yang aktif meliputi delesi sel autoreakitf
melalui apoptosis atau induksi keadaan anergi (tidak respons). Sel T CD4+ naive
memerlukan dua sinyal untuk menjadi aktif dan memulai respons imun. Sinyal
pertama berupa sinyal spesifik antigen melalui reseptor antigen di sel T. Sinyal
kedua berupa sinyal non-spesifik ko-stimulasi, biasanya sinyal oleh CD28 (pada
sel T) yang terikat ke salah satu lingkup B7 (CD80 atau CD86) pada stimulator.
Oleh karena itu, meskipun terdapat pengenalan sel T terhadap molekul peptida
spesifik jaringan atau kompleks MHC, namun bila tidak terdapat ikatan dengan
molekul ko-stimulator, maka stimulasi melalui reseptor sel T akan berujung pada
anergi atau kematian sel T melalui apoptosis . Ekspresi molekul ko-stimulator ini
sangat terbatas. Sinyal stimulator juga terbatas pada antigen-presenting cells
seperti sel dendritik. Dengan adanya distribusi yang terbatas dan pola resirkulasi,
interaksi sel CD4+ dengan sel dendritik hanya terjadi di jaringan limfoid sekunder
seperti nodus limfe. Ekspresi molekul ko-stimulator dapat diinduksi melalui
beberapa cara, biasanya melalui inflamasi atau kerusakan sel. Namun, dengan

45

adanya restriksi pola resirkulasi limfosit, maka hanya sel yang telah teraktivasi
sebelumnya yang mempunyai akses ke lokasi perifer.
Sel T teraktivasi juga dapat mengekspresikan molekul permukaan yang
mempunyai struktur serupa dengan molekul ko-stimulator, namun mempunyai
efek negatif terhadap aktivasi sel T, yaitu CTLA-4 yang mempunyai struktur
serupa dengan CD28 dan mengikat ligand yang sama. Ikatan antara CD80 atau
CD86 dengan CTLA4 menginduksi anergi atau kematian melalui apoptosis .
Adanya defek genetik pada mekanisme apoptosis dapat berakibat pada
berkembangnya autoimunitas.
Supresi
Mekanisme toleransi perifer termasuk supresi aktif dari sel T autoreaktif melalui
penghambatan populasi sel T yang dapat mengenali antigen yang sama (sel T
supresor)
c.

Toleransi sel B

Toleransi sel B bekerja pada sistem perifer. Produksi antibodi autoreaktif dibatasi
terutama oleh kurangnya sel T yang membantu dalam antigen diri. Sel B baru
akan terus dibentuk secara kontinu dari prekursor sumsum tulang dan banyak
diantaranya bersifat autoreaktif. Adanya proses hipermutasi somatik gen
imunoglobulin pada sel B matur di pusat germinal nodus limfe juga dapat
menghasilkan autoantibodi. Apabila sel B baru atau hipermutasi sel B berikatan
dengan antigen yang sesuai, namun tidak terdapat bantuan sel T, maka sel B akan
mengalami apoptosis atau anergi.
Mekanisme rusaknya toleransi
Mengatasi toleransi perifer
Keadaan yang mengakibatkan rusaknya toleransi biasanya berkaitan
dengan infeksi dan kerusakan jaringan yang non-spesifik. Pembalikan anergi
46

dapat terjadi oleh paparan sitokin tertentu, terutama IL-2. Penyakit autoimun yang
bertambah berat terlihat pada terapi dengan IL-2 pada keganasan. Pembalikan
supresi oleh sel T baru dapat dilihat pada hewan yang kehilangan sitokin
imunosupresif.
Toleransi perifer yang rusak dapat terjadi akibat akses antigen diri yang
tidak tepat pada antigen-presenting cells, ekspresi lokal molekul ko-stimulator
yang tidak tepat atau perubahan cara molekul diri dipresentasikan ke sistem imun.
Hal-hal tersebut terjadi saat inflamasi atau kerusakan jaringan, diinduksi oleh
infeksi lokal atau faktor fisik. Inflamasi lokal akan meningkatkan aliran antigen
diri ke nodus limfe (dan juga ke antigen-presenting cells) dan juga menginduksi
ekspresi molekul MHC dan molekul ko-stimulator. Adanya peningkatan enzim
proteolitik pada lokasi inflamasi juga dapat menyebabkan kerusakan protein
intraseluler dan ekstraseluler, menyebabkan sejumlah peptida dengan konsentrasi
tinggi dipresentasikan ke sel T yang responsif, peptida tersebut dinamakan cryptic
epitopes. Peptida diri juga dapat diubah oleh virus, radikal bebas dan radiasi ion,
dan akhirnya melewati toleransi yang telah ada sebelumnya.
Kemiripan molekul
Kesamaan struktur antara protein diri dengan protein dari mikroorganisme
juga dapat memicu respons autoimun. Peptida diri dengan konsentrasi rendah dan
tanpa akses ke antigen-presenting cells dapat bereaksi silang dengan peptida
mikrobial yang memiliki struktur serupa. Hal ini mengakibatkan ekspansi
populasi sel T yang responsif yang dapat mengenali peptida diri, apabila kondisi
lokal (seperti kerusakan jaringan) menyebabkan presentasi peptida tersebut dan
akses sel T ke jaringan tersebut .
Antigen mikrobial

Antigen diri

Penyakit yang diduga


akibat molecular
mimicry

Protein grup A

Antigen di otot jantung

Demam reumatik

47

streptokokus M
Bacterial heat shock

Self heat shock proteins

proteins

Terkait dengan penyakit


autoimun berat namun
belum terbukti

Protein inti Coxsackie B4

Glikoprotein

Glutamat dekarboksilase

Diabetes melitus

sel pulau pankreas

dependen insulin

Gangliosida dan glikolipid Sindrom Guillain-Barre

Campylobacter jejuni

terkait mielin

Heat shock protein dari

Subtipe rantai HLA-DR

Eschericia coli

mengandung epitop

Artritis reumatoid

bersama artritis reumatoid


Tabel 6. Molecular mimicry, antigen mikrobial dan antigen diri yang terlibat
Sekali toleransi rusak terhadap peptida tertentu, maka inflamasi berlanjut
pada presentasi peptida lainnya dan respons imun akan meluas dan menghasilkan
percepatan kerusakan jaringan lokal. Proses domino ini disebut epitope spreading.
Sel T yang belum pernah terpajan dengan antigen (sel T naive)
memerlukan ko-stimulasi melalui CD28 unutk dapat berperan dalam respons
imun. Namun, sel T yang sebelumnya sudah teraktivasi dapat diinduksi untuk
proliferasi dan produksi sitokin melalui variasi sinyal ko-stimulasi yang lebih
luas, dicetuskan oleh molekul adesi yang diekspresikan di sel tersebut. Oleh
karena itu, sel autoreaktif yang telah teraktivasi sebelumnya tidak hanya
resirkulasi secara bebas di jaringan yang terinflamasi (karena adanya peningkatan
ekspresi molekul adesi) namun juga lebih mudah mengaktivasi setelah sampai di
jaringan yang mengandung peptida diri/kompleks MHC yang sesuai. Hal ini
menandakan sekali barier toleransi rusak, respons autoimun akan lebih mudah
bertahan dan menyebabkan proses patogenik autoreaktif yang lama pula.
Mekanisme kerusakan jaringan

48

Kerusakan jaringan pada penyakit autoimun diperantarai oleh antibodi


(hipersensitivitas tipe II dan III) atau aktivasi makrofag oleh sel T CD4+ atau sel
T sitotoksik (hipersensitivitas tipe IV). Mekanisme kerusakan dapat tumpang
tindih antara kerusakan yang diperantarai antibodi dengan sel T.
Selain

kerusakan

jaringan

yang

diperantarai

oleh

mekanisme

hipersensitivitas, autoantibodi juga dapat menyebabkan kerusakan dengan terikat


pada lokasi fungsional dari antigen diri, seperti pada reseptor hormon, reseptor
neurotransmiter dan protein plasma. Autoantibodi tersebut dapat menyerupai atau
menghambat aksi ligand endogen dari antigen diri, sehingga menyebabkan
abnormalitas fungsi tanpa adanya inflamasi atau kerusakan jaringan. Kerusakan
yang diperantarai antibodi pada autoimunitas terjadi bila autoantibodi mengenali
antigen yang bebas di cairan ekstraseluler atau diekspresikan pada permukaan sel.
2.9

Diagnosis
Pemeriksaan darah yang menunjukkan adanya radang dapat diduga

sebagai gangguan autoimun. Misalnya, pengendapan laju eritrosit (ESR)


seringkali meningkat, karena protein yang dihasilkan dalam merespon radang
mengganggu kemampuan sel darah merah (eritrosit) untuk tetap ada di darah.
Sering, jumlah sel darah merah berkurang (anemia) karena radang mengurangi
produksi mereka. Tetapi radang mempunyai banyak sebab, banyak di antaranya
yang bukan autoimun. Dengan begitu, dokter sering mendapatkan pemeriksaan
darah untuk mengetahui antibodi yang berbeda yang bisa terjadi pada orang yang
mempunyai gangguan autoimun khusus. Contoh antibodi ini ialah antibodi
antinuclear, yang biasanya ada di lupus erythematosus sistemik, dan faktor
rheumatoid atau anti-cyclic citrullinated peptide (anti-CCP) antibodi, yang
biasanya ada di radang sendi rheumatoid. Antibodi ini pun kadang-kadang
mungkin terjadi pada orang yang tidak mempunyai gangguan autoimun, oleh
sebab itu dokter biasanya menggunakan kombinasi hasil tes dan tanda dan gejala
orang untuk mengambil keputusan apakah ada gangguan autoimun.

49

Beberapa pemeriksaan autoantibodi seringkali dapat membantu diagnosis


penyakit autoimun Pemeriksaan tersebut juga bermanfaat sebagai pemeriksaan
penyaring pada kelompok risiko seperti misalnya keluarga penderita penyakit
autoimun, atau mencari penyakit autoimun lain yang sering menyertai suatu
penyakit autoimun tertentu seperti kemungkinan tiroiditis pada gastritis autoimun
atau sebaliknya.
Diagnosis gangguan autoimun sebagian besar bertumpu pada sejarah yang
akurat dan pemeriksaan fisik pasien, dan indeks kecurigaan yang tinggi dengan
latar belakang kelainan tertentu pada tes laboratorium rutin (misalnya, tinggi
protein C-reaktif ). Pada gangguan sistemik beberapa tes serologi yang dapat
mendeteksi spesifik autoantibodi dapat digunakan. Gangguan Local paling mudah
didiagnosa oleh biopsi spesimen imunofluoresensi . Autoantibodi digunakan
untuk mendiagnosa beberapa penyakit autoimun . Tingkat autoantibodi diukur
untuk menentukan kemajuan penyakit.
Tabel 7.Pemeriksaan autoantibodi untuk diagnosis penyakit autoimun
Penyakit

Antibodi

Tiroditis Hashimoto

Tiroid

Miksedema primer

Tiroid

Tirotoksikosis

Tiroid

Anemia pernisiosa

Lambung

Atrofi adrenal idiopatik

Adrenal

Miastenia gravis

Otot, reseptor asetilkolin

Pemvigus vulgaris dan pemfigoid Kulit


Anemia hemolitik autoimun

Eritrosit (uji Coombs)

Sindrom Sjogren

Sel duktus salivarius

Sirosis biliar orimer

Mitokondria

Hepatitis kronik aktif

Anti Sm, mitokondria

Artritis reumatoid

Antiglobulin

50

LES

Antinuklear, DNA, sel LE

Skleroderma

Nukleolus

Penyakit jaringan ikat lain

Nukleolus

2.10

Pengobatan
Pengobatan memerlukan kontrol reaksi autoimun dengan menekan sistem

kekebalan tubuh. Tetapi, beberapa obat digunakan reaksi autoimun juga


mengganggu kemampuan badan untuk berjuang melawan penyakit, terutama
infeksi.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti
azathioprine, chlorambucil, cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan
methotrexate, sering digunakan, biasanya secara oral dan seringkali dalam jangka
panjang. Obat ini menekan bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan
badan untuk membela diri terhadap senyawa asing, termasuk mikro-jasad
penyebab infeksi dan sel kanker. Konsekwensinya, risiko infeksi tertentu dan
kanker meningkat.
Sering kortikosteroid seperti prednison diberikan secara oral. Obat ini
mengurangi radang sebaik menekan sistem kekebalan tubuh. Kortikosteroid yang
digunakan dalam jangka panjang memiliki banyak efek samping. Kalau mungkin
kortikosteroid dipakai untuk waktu yang pendek sewaktu gangguan mulai atau
sewaktu gejala memburuk. Tetapi kadang-kadang harus dipakai untuk jangka
waktu tidak terbatas.
Gangguan autoimun tertentu (seperti multipel sklerosis dan gangguan
tiroid) juga diobati dengan obat lain daripada imunosupresan dan kortikosteroid.
Pengobatan untuk mengurangi gejala juga mungkin diperlukan.
Etanercept, infliximab, dan adalimumab menghalangi aksi faktor tumor
necrosis (TNF), bahan yang bisa menyebabkan radang di badan. Obat ini sangat
efektif dalam mengobati radang sendi rheumatoid, tetapi mereka mungkin
berbahaya jika digunakan untuk mengobati gangguan autoimun tertentu lainnya,

51

seperti multipel sklerosis. Obat ini juga bisa menambah risiko infeksi dan kanker
tertentu.
Obat baru tertentu secara khusus membidik sel darah putih. Sel darah putih
menolong pertahanan tubuh melawan infeksi tetapi juga berpartisipasi pada reaksi
autoimun. Abatacept menghalangi pengaktifan salah satu sel darah putih (sel T)
dan dipakai pada radang sendi rheumatoid. Rituximab, terlebih dulu dipakai
melawan kanker sel darah putih tertentu, bekerja dengan menghabiskan sel darah
putih tertentu (B lymphocytes) dari tubuh. Efektif pada radang sendi rheumatoid
dan dalam penelitain untuk berbagai gangguan autoimun lainnya. Obat lain yang
ditujukan melawan sel darah putih sedang dikembangkan.
Plasmapheresis digunakan untuk mengobati sedikit gangguan autoimun.
Darah dialirkan dan disaring untuk menyingkirkan antibodi abnormal. Lalu darah
yang disaring dikembalikan kepada pasien. Beberapa gangguan autoimun terjadi
tak dapat dipahami sewaktu mereka mulai. Tetapi kebanyakan gangguan
autoimun kronis. Obat sering diperlukan sepanjang hidup untuk mengontrol
gejala. Prognosis bervariasi bergantung pada gangguan.
Pengobatan

untuk

penyakit

autoimun

secara

tradisional seperti

imunosupresif , anti-inflamasi (steroid), atau paliatif . Non-imunologi terapi,


seperti penggantian hormon pada tiroiditis Hashimoto atau tipe 1 diabetes mellitus
mengobati hasil dari respon autoaggressive, sehingga ini adalah paliatif
perawatan. Intervensi diet dan manipulasi diet membatasi keparahan penyakit
celiac, srtritis dan penyakit lainnya.Pengobatan steroid atau NSAID membatasi
gejala inflamasi dari banyak penyakit. Terapi spesifik imunomodulator , seperti
antagonis TNFa (misalnya etanercept ), sel B depleting agen rituximab , reseptor
anti-IL-6 tocilizumab dan pemblokir costimulation abatacept telah terbukti
berguna dalam mengobati RA. Beberapa immunotherapies mungkin berhubungan
dengan peningkatan risiko efek samping, seperti kerentanan terhadap infeksi.
Terapi obat cacing adalah pendekatan eksperimental yang melibatkan
inokulasi pasien dengan spesifik usus parasit nematoda (cacing). Saat ini ada dua
perlakuan yang terkait erat tersedia, inokulasi dengan baik Necator americanus,
umumnya dikenal sebagai cacing tambang , Trichuris atau Ova Suis, umumnya

52

dikenal sebagai Telur cacing cambuk babi. T vaksinasi sel juga sedang
dieksplorasi sebagai terapi masa depan untuk auto-imun gangguan.
Dua prinsip strategi pengobatan autoimun antara lain supresi respons imun
atau mengganti fungsi organ yang rusak. Penggantian fungsi merupakan metode
pengobatan yang sering digunakan pada autoimun endokrinologi pada gagal organ
yang ireversibel, contohnya pada hipotirodisme. Namun apabila kebutuhan
hormon yang defisit tidak dapat diatasi melalui terapi pengganti, maka dapat
timbul masalah metabolik. Supresi autoimun sebelum kerusakan organ ireversibel
menjadi pilihan yang lebih menarik, namun sangat sulit dalam deteksi dini. Pada
kasus autoimun seperti SLE, artritis reumatoid dan penyakit ginjal autoimun,
terapi imunosupresi menjadi sarana yang dapat mencegah disabilitas berat dan
kematian. Pengobatan penyakit autoimun meliputi kontrol metabolik, obat antiinflamasi, imunosupresan, dan kontrol imunologis.
a.

Kontrol metabolik
Sebagian besar pendekatan pengobatan penyakit autoimun adalah dengan

manipulasi respons imun. Tetapi pada penyakit organ spesifik kontrol metabolik
biasanya sudah memadai, misalnya pemberian tiroksin untuk miksedema primer,
insulin untuk diabetes juvenil, vitamin B12 untuk anemia pernisiosa, obat
antitiroid untuk penyakit Grave, dan lain-lain.
Obat antikolinesterase untuk miastenia gravis biasanya diberikan dalam
jangka panjang. Timektomi seringkali bermanfaat sehingga disimpulkan bahwa
kelenjar tersebut mengandung reseptor asetilkolin dalam bentuk antigen.
b.

Obat anti-inflamasi
Obat yang bekerja sebagai anti-inflamasi, misalnya kortikosteroid,

menunjukkan manfaat terhadap berbagai penyakit autoimun serius seperti


miastenia gravis, LES, dan nefritis kompleks imun. Obat AINS seperti salisilat,
indometasin, fenoprofen atau ibuprofen dipakai pula untuk artritis rheumatoid.

53

c.

Imunosupresan
Siklosporin A yang menghambat sekresi IL-2 bekerja sebagai anti-

inflamasi dan antimitotik, serta telah dicoba pemakaiannya untuk diabetes juvenil,
LES, dan artritis reumatoid walaupun masih belum dapat diambil kesimpulan
akhir tentang manfaatnya.
Imunosupresan yang dipakai saat ini umumnya obat konvensional yang
bersifat nonspesifik, misalnya azatioprin, siklofosfamid, dan metotreksat yang
biasanya diberikan bersama kortikosteroid. Pengobatan tersebut telah sering
dilakukan dengan hasil cukup baik, misalnya untuk LES, hepatitis kronik aktif,
dan anemia hemolitik autoimun.
d.

Kontrol imunologis
Pada saat ini kontrol imunologis terhadap penyakit autoimun masih sangat

terbatas pemakaiannya untuk riset terutama pada hewan percobaan. Tindakan


yang cukup sering dilakukan adalah transfusi tukar plasma untuk mengurangi
kompleks imun, yang dilaporkan bermanfaat sementara untuk LES tetapi cukup
baik untuk sindrom Goodpasture. Iradiasi kelenjar limfe total masih terus
dieksplorasi dan diamati hasilnya. Pada saatnya kelak diharapkan akan dapat
dilakukan koreksi terhadap defek sel stem atau timus dengan transplantasi
sumsum tulang, sel stem atau timus, atau dengan hormon timus. Selain itu
pemberian faktor timus diharapkan akan dapat menjaga kontrol sel Ts terhadap
autoimunitas.
Percobaan pada hewan telah berhasil untuk melakukan switching-off sel B
yang terlihat dengan menurunnya anti-DNA. Demikian pula pemberian beberapa
antibodi monoklonal seperti anti-kelas II dan antiT4 memperlihatkan perbaikan
klinis LES dan artritis reumatoid pada hewan percobaan.
Aksi imunosupresif kuat oleh antibodi anti-idiotipik telah dicoba untuk
dimanfaatkan. Bayi yang lahir dari ibu penderita miastenia gravis dapat bertahan

54

terhadap efek patogen anti-reseptor asetilkolin maternal dengan membentuk antiidiotipik terhadap antibodi maternal tersebut. Diharapkan aplikasi pemahaman
terhadap jaringan anti-idiotip akan dapat mengatasi berbagai kesulitan pada
pengobatan penyakit autoimun.
Beberapa subjek penelitian lain misalnya terhadap aktivitas kontrasupresor
atau ekspresi HLA yang tidak adekuat, antagonis limfokin, atau mengolah
berbagai matra sitotoksik baik dengan pemanfaatan toksin bakteri ataupun bahan
radioaktif.

55

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Autoimun adalah respon imun terhadap antigen tubuh sendiri yang


disebabkan oleh mekanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan
self-tolerance sel B, sel T atau keduanya. Respon imun terlalu aktif menyebabkan
disfungsi imun, menyerang bagian dari tubuh tersebut dan merupakan kegagalan
fungsi sistem kekebalan tubuh yang membuat badan menyerang jaringannya
sendiri. Sistem imunitas menjaga tubuh melawan pada apa yang terlihatnya
sebagai bahan asing atau berbahaya. Bahan seperti itu termasuk mikro-jasad,
parasit (seperti cacing), sel kanker, dan malah pencangkokkan organ dan jaringan.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti
azathioprine, chlorambucil, cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan
methotrexate, sering digunakan, biasanya secara oral dan seringkali dengan jangka
panjang. Tetapi, obat ini menekan bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga
kemampuan badan untuk membela diri terhadap senyawa asing, termasuk mikrojasad penyebab infeksi dan sel kanker. Kosekwensinya, risiko infeksi tertentu dan
kanker meningkat.

3.2 Saran
Dan kami berharap makalah atau karya tulis ini dapat bermanfaat pagi
pembaca sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan umum. Kami menyadari bahwa
dalam makalah ini masih banyak memiliki kekurangan, karena keterbatasan
pengetahuan dan sarana yang kami miliki. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat
membangun sesalu kami harapkan sehinga dimasa mendatang makalah ini dapat
menjadi lebih baik.

56