Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

HYPOSPADIA
DEPARTEMEN SURGICAL

Oleh:

Arpidho Prastyatama Muliya


105070200131012
PSIK K3LN 2010

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB II
KONSEP DASAR HIPOSPADIA
A. Pengertian
Hipospadia adalah kelainan kongetinal berupa kelainan letak lubang uretra
pada pria dari ujung penis ke sisi ventral (Corwin, 2009).
Hipospadia adalah kegagalan meatus urinarius meluas ke ujung penis,
lubang uretra terletak dibagian bawah batang penis, skrotum atau perineum
(Barbara J. Gruendemann & Billie Fernsebner, 2005).
Dan menurut (Muscari, 2005) Hipospadia adalah suatu kondisi letak lubang
uretra berada di bawah glans penis atau di bagian mana saja sepanjang
permukaan ventral batang penis. Kulit prepusium ventral sedikit, dan bagian distal
tampak terselubung.
Klasifikasi hipospadia menurut letak orifisium uretra eksternum :
Tipe sederhana adalah tipe grandular, disini meatus terletak pada pangkal
glands penis. Pada kelainan ini secara klinis umumnya bersifat asimtomatik.
Tipe penil, meatus terletak antara glands penis dan skrotum
Tipe penoskrotal dan tipe perineal, kelainan cukup besar, umumnya
pertumbuhan penis akan terganggu.
Derajat keparahan hipospadia :
Ditentukan oleh satu posisi meatus uretra : glands, korona, batang penis
sambungan dari batang penis dan skrotum dan perineum
Lokasinya
Derajat chordee (Anak-hipospadia)
B.

Etiologi
Penyebab sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum
diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun ada beberapa faktor yang oleh
para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
1.
Secara embriologis, hipospadia disebabkan oleh kegagalan penutupan yang
sempurna pada bagian ventral lekuk uretra (Heffiner, 2005).
2.
Diferensiasi uretra pada penis bergantung androgen dihidrotestoteron (DHT).
Defisiensi produksi testoteron (T), konversi T menjadi DHT yang tidak adekuat
atau defisiensi lokal pada pengenalan androgen (kekurangan jumlah atau
fungsi reseptor androgen) (Heffiner, 2005).
3.
Terdapat presdisposisi genetik non-Mendelian pada hipospadia, jika salah
satu saudara kandung mengalami hipospadia, resiko kejadian berulang pada
keluarga tersebut adalah 12%, jika bapak dan anak laki-lakinya terkena, maka
resiko untuk anak laki-laki berikutnya adalah 25% (Heffiner, 2005).

4.

5.
6.

C.

Kriptorkismus (cacat perkembangan yang ditandai dengan kegagalan buah


zakar untuk turun ke dalam kandung buah zakar) terdapat pada 16% anak
laki-laki dengan hipospadia (Heffiner, 2005).
Dihubungkan dengan penurunan sifat genetik (Muscari, 2005).
Faktor eksogen antara lain pajanan pranatal terhadap kokain, alkohol,
fenitoin, progestin, rubela, atau diabetes gestasional (Muscari, 2005).

Patofisiologi
Repair hipospadia

Usia
Tipe hipospadia
Chorde /
Ukuran penis

Tehnik operasi
Hasil
Satu tahap

Dua tahap

Malformasi congenital

Hipospadia

grandular

distal penile penile penoskrotal scrotal

perineal

Pengelolaan

Pembedahan

Kombinasi

Eksisi chordee

Pembedahan

Urethroplasty

Radio diagnosis

Proses pembedahan
Pemasangan kateter
inwhelling
Kecemasan

Nyeri

Efek anestesi

Hipersalivasi
entry

Gangguan

Penumpukan

rasa nyamanSekret

gangguan aktivitas
Resiko

Obstruksi

Tinggi

Jalan nafas

Infeksi

Inefektif bersihan jalan nafas

D.

Manifestasi Klinik
Gambaran klinis Hipospadia :
1. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi
berdiri
2. Chordee (melengkungnya penis) dapat menyertai hipospadia
3. Hernia inguinalis (testis tidak turun) dapat menyertai hipospadia (Corwin,
2009).
4. Lokasi meatus urine yang tidak tepat dapat terlihat pada saat lahir (Muscari,
2005).

F.

Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis dilakukan dengan dengan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir
atau bayi. Karena kelainan lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan
pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk pemeriksaan kromososm (Corwin, 2009).
Rontgen
USG sistem kemih kelamin
BNO IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan
kongenital ginjal
Kultur urine (Anak-hipospadia)

G.

Komplikasi
Komplikasi dari hipospadia antara lain :
Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordee nya parah,
maka penetrasi selama berhubungan intim tidak dapat dilakukan (Corwin, 2009)
Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam
1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri seksual tertentu) (Ramali,
Ahmad & K. St. Pamoentjak, 2005)
Psikis (malu) karena perubahan posisi BAK
Kesukaran saat berhubungan saat, bila tidak segera dioperasi saat dewasa
(Anak-hipospadia)
Komplikasi pascaoperasi yang terjadi :
Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat
bervariasi, juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah di bawah kulit, yang

H.

biasanya dicegah dengan balutan ditekan selama 2 sampai 3 hari


pascaoperasi
Striktur, pada proksimal anastomis yang kemungkinan disebabkan oleh
angulasi dari anastomis
Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing
berulang atau pembentukan batu saat pubertas
Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai
parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat
ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10%
Residual chordee /rekuren chrodee, akibat dari chordee yang tidak sempurna,
dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan scar
yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang
Divertikulum (kantung abnormal yang menonjol ke luar dari saluran atau alat
berongga) (Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak, 2005), terjadi pada
pembentukan neouretra yang terlalu lebar atau adanya stenosis meatal yang
mengakibatkan dilatasi yang dilanjut

Penatalaksanaan
Tujuan
utama
dari
penatalaksanaan
bedah
hipospadia
adalah
merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal
atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan
coitus dengan normal (Anak-hipospadia).
1. Koreksi bedah mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun.
Sirkumsisi harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat dapat
digunakan untuk perbaikan dimasa mendatang (Corwin, 2009).
2. Informasikan orang tua bahwa pengenalan lebih dini adalah penting
sehingga sirkumsisi dapat dihindari, kulit prepusium digunakan untuk bedah
perbaikan (Muscari, 2005).
3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari :
Operasi hipospadia satu tahap (One stage urethroplasty) adalah teknik
operasi sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal.
Tipe distal inimeatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya
kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih
memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai
dengan kelainan yang lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris dapat
dilakukan. Tipe annghipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainankelainan yang berat seperti chordee yang berat, globuler glands yang bengkok ke
arah ventral (bawah) dengan dorsal : skin hood dan propenil bifid scrotum. Intinya
tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih ke arah proksimal (jauh dari
tempat semestinya) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok dan kelainan lain di
scrotum

I.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
a.
b.
J.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.

Pengkajian fokus
Kaji biodata pasien
Kaji riwayat masa lalu : antenatal, natal
Kaji riwayat pengobatan ibu waktu hamil
Kaji keluhan utama
Kaji skala nyeri (post op.)
Pemeriksaan fisik :
Inspeksi kelainan letak meatus uretra
Palpasi adanya distensi kandung kemih
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
Diagnosa pasien pre operasi :
Managemen regimen terapeutik tidak efektif b.d pola perawatan keluarga
Perubahan eliminasi (retensi urine) b.d obstruksi mekanik
Kecemasan b.d akan dilakukan tindakan operasi
Diagnosa pasien post operasi :
Kesiapan dalam peningkatan managemen regimen terapeutik b.d petunjuk
aktifitas adekuat
Nyeri b.d prosedur post operasi
Resiko tinggi infeksi b.d invasi kateter
Perubahan eliminasi urine b.d trauma operasi

K.
1.
a.

Intervensi
Managemen regimen terapeutik tidak efektif b.d pola perawatan keluarga
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan managemen
regimen terapeutik kembali efektif

b.

Intervensi
Jadilah pendengar yang baik untuk anggota keluarga
Diskusikan kekuatan keluarga sebagai pendukung
Kaji pengaruh budaya keluarga
Monitor situasi keluarga
Ajarkan perawatan dirumah tentang terapi pasien
.Kaji efek kebiasaan pasien untuk keluarga
Dukung keluarga dalam merencanakan dan melakukan terapi pasien dan
perubahan gaya hidup.
Identifikasi perlindungan yang dapat digunakan keluarga dalam menjaga status
kesehatan

2.
a.

Perubahan eliminasi (retensi urine) b.d obstruksi mekanik


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24jam diharapkan retensi
berkurang.
b.
Intervensi
Melakukan pencapaian komperehensif jalan urine berfokus kepada inkotenensia
Menjaga privasi untuk eliminasi
Menggunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK di toilet
Menyediakan waktu yang cukup untuk mengosongkan bladder (10 menit)
Menyediakan perlak di kasur
Menggunakan manuver crede, jika dibutuhkan
Menganjurkan untuk mencegah konstipasi
Monitor intake dan output
Monitor distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi
Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan
3.
a.

Kecemasan b.d akan dilakukan tindakan operasi


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan cemas
berkurang atau hilang
b.
Intervensi
Ciptakan suasana yang tenang
Sediakan informasi dengan memperlihatkan diagnosa, tindakan dan prognosa
dampingi pasien untuk menciptakan suasana aman dan mengurangi ketakutan
Dengarkan dengan penuh perhatian
Kuatkan kebiasaan yang mendukung
Ciptakan hubungan saling percaya
Identifikasi perubahan tingkat kecemasan
Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan

4.

Kesiapan dalam peningkatan management regimen terapeutik b.d petunjuk


aktifitas adekuat
a.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kesiapan
meningkatkan regimen terapeutik baik
b.
Intervensi
Anjurkan kunjungan anggota keluarga jika perlu
Bantu keluarga dalam melakukan strategi menormalkan situasi
Bantu keluarga menemukan perawatan anak yang tepat

Identifikasi kebutuhan perawatan pasien di rumah dan bagaimana pengaruh


pada keluarga
Buat jadwal aktifitas perawatan pasien di rumah sesuai kondisi
Ajarkan jadwal keluarga untuk menjaga dan selalu mengawasi perkembangan
status kesehtana keluarga

5.
a.

Nyeri akut b.d prosedur post operasi


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri
berkurang atau hilang
b.
Intervensi
:
Kaji secara komperehensif mengenai lokasi, karakterisktik, durasi, frekuensi,
kualitas, intesitas dan faktor pencetus
Observasi keluhan nonverbal dari ketidaknyamanan
Ajarkan teknik relaksasi
Bantu pasien dan keluarga untuk mengontrol nyeri
Beri informasi tentang nyeri (penyebab, durasi, prosedur antisipasi nyeri)
TTV
Anjurkan untuk menurunkan stress dan banyak istirahat
Beri pasien posisi nyaman
6.
a.

Resiko tinggi infeksi b.d invasi kateter


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi
infeksi
b.
Intervensi
Catat karakteristik luka, drainase
Bersihkan luka dan ganti balutan dengan teknik steril
Bersihkan lingkungan dengan benar
Monitor peningkatan granulasi, sel darah putih
Kaji faktor yang dapat meningkatkan infeksi
Ajarkan pada pasien dan keluarga cara prosedur perawatan luka

Anda mungkin juga menyukai