Anda di halaman 1dari 74

SEJARAH ASIA TENGGARA

FILIPINA
1. GERAKAN KATIPUNAN DI FILIPINA
A. Terbentuknya Gerakan Katipunan di Filippina
Gerakan-gerakan nasional di Fillipina di awali dari aktivitas-aktivitas Jose Rizal dalm
kampanya nasional yang terbagi dalam tiga tahap. Yang pertama meliputi tahun-tahun antara
keberangkatan Rizal yang petama ke Eropa pada Mei 1882 dan perjalanannya ke luar negeri
yang kedua 1888.. periode kedua meliputi tahun-tahun kadatangan Rizal di London pada Juni
1888 dan keberangkatannya dari eropa pada oktober 1891. Dan yang ketiga berlangsng saat
kedatangannya di Honng Kong pada November 1891 sampai juli 1892. Sekembalinya Rizal di
tanah air tahun 1892 ia segera membentuk La Liga Filipina, yang menandai propaganda ke
Filipina.
Liga Filipina mendapat dukungan dari banyak orang di Filipina terkemuka di Manila.
Akan tetapi, diantara massanya Liga Filipina tidak menimbulkan semangat yang sama. Unsurunsur kelas atas merasa bahwa kampanya untuk perubahan tidan praktis dan tidak ada
gunanya. Mereka percaya bahwa apa yang harus dilakkukan oleh bangsa Filipina dalam
kondisi mereka pada waktu itu adaklah mempersiapkan diri untuk perjuangan bersenjata
melwan kekeuasaan Spanyol. Ide itulah yan mendorong didirikanya sebuah organisasi baru
yang lebih radikal dalam sifatnya, metodenya dan tujuan dari pada Liga Filipina. Organisasi
baru itu ialah katipunan yang didirikan oleh Andres banifacio seorang pegawai kantor di
manila, pada tanggal 7 Juli 1892.
B. Gerakan Katipunan di Filipina
Katipunan adalah sebuah akronim dalam bahasa Tagalog untuk Asosiasi Putra-putra
Rakyat yang paling tinnggi dan terhormat. Selama 4 tahun pendiriannya , organisasi
katipunan tetap tidak tercium oleh pihak penguasa berkat tindakakn pencegahan yang
diciptakan untuk menjaga kerahasiaannya. Pada periode pergerakan ini diisi dengan
pemberontakan-pemberontakan

melawan

Spanyol

yang

dimulai

dengan

pecahnya

Namun

pemberontakan Katipun, yang perjuangannmya menggunakan senjata.

ternyata pemberontakan ini gagal dalam melawan Spanyol. Jose Rizal


yang dituduh sebagai dalang pemberontakan ini kemudian dihukum mati
pada

tanggal

30

Desember

1896.

Namun

Andres

Banifacio

yang

sebenarnya memimpin pemberontakan ini berhasil meloloskan diri. Tidak


sampai disitu, sehingga kemudian munculah seorang tokoh pergerakan baru yaitu Emilio
Aguinaldo. Ia lahir 1869 di Kalfit. Ia seorang pejuang yang radikal yang melanjutkan
pemberontakan Katipunan yang dipimpin oleh Andres Bonifaciio. Tahun 1897 Ia terpilih
sebagai ketua dan Bonaficiio sebagai sekretarisnya. Karena antara dua tokoh ini terjadi
persaingan maka terjadilah pembunuhan terhadap Andres Bonaficio. Gerakan Katipunan yang
dipimpin oleh Emilio ini tidak dapat dihancurkan oleh Spanyol, sehingga gubernur Jendral
Primo de Rivera mengajukan perdamaian kepada Emilio Aguinaldo, maka ditanda tanganilah
perjanjian Biac-na-bato Desember 1897. Isiperjanjian tersebut adalah:
1. Angunaldo meletakkan jabatan sebagai ketua dan menghentikan perlawanan.
2. ia mengasingkan diri ke Hongkong seumur hidup dan akan diberikan uang 800 ribu
peso oleh pemerintahan Spanyol.
3. pemerintahan Spanyol akan memberikan ganti rugi kepada Petani 900.000 peso.
Namun kedua belah pehak tidak mentaati perjanjian itu terutama Spanyol yang tidak
membayar seluruh ganti rugi kepada Filipina, Angunaldo sendiri hanya diberi setengahnya,
dan uang yang diberikan Spanyol oleh Angunaldo dibelikan persenjataan untuk dipakai
memberontak Spanyol.
Sementara itu, tahun 1898 timbul suasana tegang dan permusuhan antara AS dengan
Spanyol yang bermula terjadi di Cuba. Permusuhan ini meluas ke Filipina dan Amerika
bermaksud mengusir Spanyol dari Filipina. Pimpinan Armada Dewey sampai diteluk Filipina
bulan Mei armada tersebut, dengan harapan setelah Spanyol kalah Filipina dimerdekakan
Aguinaldo akan dijadikan Presiden. Pada bulan Agustus 1898 Spanyol menyerah. Setelah
spanyol kalah AS tidak memberikan kemerdekaan kepada Filipina, akibatnya Agunaldo
memproklamirkan republic Filipina tahun 1899 di Malolos. Dengan dibentuknya republic

Filipina terebut Amerika bertindak tegas terhadap Agunaldo dan akhirnya Agunaldo ditangkap
dan iapun menyerah. Pada bulan Maret 1901 pemberontakan Agunaldo berakhir pada 19 April
1901 dia meletakan senjata.
Tahun 1919 Filipina menuntut kemerdekaan penuh, tuntutan ini dijawab Amerika dengan
didirikannya Word Forbes Comission, pada tahun 1922 misi ini menyatakan laporannya
bahwa Filipina belum saatnya merdeka maka hal ini harus ditangguhkan, namun Amerika
membimbing Filipina untuk menuju kearah kemerdekaan.
Tahun 1934 Amerika mengeluarkan undang-undang yang dikenal dengan The Tyaings
Mc Duffie Act. Yang isinya bahwa Amerika akan memberikan status Commonwealth kepala
bangsa Filipina. Dan ini baru diwujudkan 4 Juli tahun 1936 dengan penegasan bahwa
Commonwealth ini merupakan bentuk masa peralian dari situasi penjajahan kesituasi
kemerdekaan penuh.
Sepuluh tahun kemudian tanggal 4 Juli 1946 Filipina diberi kemerdekaan oleh Amerika
yang mana hari itu sama dengan kemerdekaan Amerika. Presiden Filipina I pada masa
Commonwealth adalah Manuel Quezon.
Filipina (Manila) jatuh ketangan Jepang tanggal 2 Januari 1942 dan seluruh Filipina
dikuasai pada tanggal 6 Mei 1942. Jepang menjajah Filipina sampai tanggal 22 Oktober 1944.
Dan saat Jepang disana sempat membentuk Negara boneka dengan presidennya Lauren. Pada
tanggal 4 Juli 1946 Filipina diberi kemerdekaan oleh Amerika dengan presidennya Manuel
Roxas.
2. GERAKAN HUKBALAHAB

A. Latar Belakang Hukbalahap


Hukbalahap adalah kependekan dari Hukbo ng Bayan laban Sa Hapon atau Peoples Anti
Japanese Army. Berdiri pada tanggal 29 Maret 1942 di Mount Arayat yang melewati propinsi
Pampanga, Tarlac dan Nueva Ecija. Hukbalahap ini beranggotakan tokoh-tokoh sosialis dan
para petani penggarap lahan yang sebelumnya juga bergabung dengan organisasi petani
Setelah Jepang mundur dari Filipina gerakan ini kemudian berubah namanya menjadi
Hujbong Mapagpalaya ng Bayan atau Peoples Liberation Army. Lawan yang dihadapi pun
berubah, dari tentara Jepang menjadi melawan pemerintahan Republik Filipina yang baru

terbentuk. Kerap kali dikatakan bahwa Hukbalahap mengadakan pemberontakan dalam dua
tahap. Tahap yang pertama berlangsung pada 19461950 dan tahapan kedua berlangsung
antara 19501955.
Untuk mengetahui penyebab munculnya gerakan petani di Filipina, kita terlebih dahulu
harus mengerti mengenai hubungan tradisional patron klien antara elite lokal pemilik tanah/
tuan tanah dengan para petani penggarap. Sistem seperti ini sebenarnya sudah ada bahkan
sebelum masuknya penjajah Spanyol ke Pulau Luzon. Pola hubungan ini memungkinkan
adanya jaminan mengenai substensi oleh para tuan tanah untuk para petaninya. Kondisi ini
kemudian berubah seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perkembangan pasar
komersial. Para tuan tanah menekan upah menjadi serendah mungkin untuk mendapatkan
hasil keuntungan semaksimal mungkin. Hubungan patron klien berubah menjadi eksploitasi
terhadap para petani penggarap tahan.
Pada awal munculnya tuntutan para petani adalah untuk mereformasi sistem sewa tanah,
bukan sama sekali menghapus sistem tersebut. Sebagai contoh para petani di central Luzon
menuntut penurunan biaya sewa dan jaminan kesejahteraan. Namun dalam perkembangannya
kemudian, gerakan protes ini berkembang menjadi pemberontakan. Pemberontakan, menurut
point of view petani, adalah sebuah usaha terakhir yang bisa dilakukan. Mereka melakukan
pemberontakan juga sebagai reaksi atas tindakan represif yang dilakukan oleh pemerintahan
kolonial.
Perlawanan terhadap pemerintahan koloni Spanyol pun berlangsung. Akan tetapi gerakan
tersebut masih bersikap lokal, setempat, dan belum terorganisir dengan baik. Yang terbesar
adalah pemberontahan tahun 18991902. Pada saat Amerika menganeksasi Filipna setelah
perang Spanyol-Amerika, orang-orang Filipina diberi kesempatan dan tanggung jawab untuk
memerintah negerinya sendiri. Tanah yang pada masa penjajahan Spanyol diambil dari para
tuan tanah untuk kemudian menjadi milik gereja, ketika AS datang tanah tersebut dijual untuk
publik. Amerika Serikat kemudian megesayahkan Tydings-McDuffie Act. Keputusan ini
diratifikasi oleh Philippine Congress. Isinya adalah janji akan diberikannya kemerdekan
penuh pada Filipina di tanggal 4 Juli 1946. Sebelum merdeka penuh, Filipina adalah Negara
persemakmuran di bawah kekuasaan Amerika.

B. Masa Pendudukan Jepang


Pada saat Jepang menginvasi Filipina situasi politik di central Luzon pun berubah.
Pemerintahan militer Jepang bertindak represif terhadap orang-orang dari organisasi petani.

Akibatnya, Gerakan petani pun bergerak di bawah tanah. Hukbalahap muncul sebagai
perkembangan dari Gerakan Petani yang telah muncul sebelumnya; seperti Kalipunang
Pambansa ng mga Magsasaka sa Pilipinas (KPMP), sebuah organisasi petani yang cukup
berpengaruh di tahun 1930an; adapula Pambansang Kaisahan ng mga Magbubukid (PKM),
atau disebut juga Nation Peasants Union. Namun kemudian, semakin lama semakin
berkembang. Akhirnya, Hukbalahap menjadi organisasi paling besar dan paling aktif di
Central Luzon. Pendudukan jepang di Filipina tidak berlangsung lama. Menyusul
kekalahannya pada sekutu, Jepang pun hengkang dari Filipina.
Setelah Jepang mundur, pemerintahan baru di Filipina menghadapi permasalahan serius.
Perkonomian Filipina dalam kondisi yang buruk. Rakyat menderita kelaparan, sementara
angka pengangguran pun meningkat Sementara itu, sejak kemerdekaannya di tahun 1946,
pemerintah Republik Filipna sudah harus menghadapi Gerakan Hukbalahap. Setelah dengan
Jepang sudah tercapai penyelesaian, Hukbalahap berupaya untuk mengkontrol pemerintahan
yang baru terbentuk. Akan tetapi usaha tersebut gagal. Hukbalahap kemudian berganti nama
menjadi Peoples Liberation Army (Hukbong Magpalayang Bayan, HMB) dan mengadakan
pemberontakan.

C. Hukbalahap Pasca Pendudukan Jepang


Hukbalahap (yang kemudian berubah nama menjadi HMB) sebagai sebuah gerakan
terhitung sukses hingga bisa bertahan sampai tahun 1955. Dukungan dari masyarakat lokal
(setempat)lah yang membuat gerakan ini bertahan lama (kurang lebih sampai 10 tahun).
Organisasi Hukbalahap memiliki basis massa dari golongan petani.Yang mendorong
masyarakat petani untuk ikut dalam gerakan hukbalahap ini adalah reformasi agraria. System
landtenure yang ada malah membuat mereka rugi. Para petani ingin memiliki tanah yang telah
mereka garap selama beberapa generasi. Ini tentunya selaras dengan slogan Hukbalahap land
for the landless.
Selama pemberontakannya itu, pasukan huk sempat menguasai sebagian daerah di Luzon.
Di daerah tersebut mereka membentuk pemerintahan sendiri. Dilakukan pula perekrutan
pegawai administrasi, pemungutan pajak, bahkan juga membangun dan mengelola sekolahsekolah. Perlawanan terhadap Jepang telah membuat mereka lebih berpengalaman untuk
melakukan perlawanan terhadap pemerintah.
Pimpinan Hukbalahap terbagi kedalam tiga kategori. Pertama adalah pemimpin di tingkat
lokal. Mereka biasanya berasal dari kalangan petani, contohnya:Hilary Filipe dan Patricio del
Rosario. Yang kedua adalah pimpinan di tingkat pusat.orang-orang yang bukan berasal dari

golongan petani, namun bersimpati dengan perjuangan petani. Mereka ingin perubahan yang
lebih radikal. Kebanyakan dari golongan intelektual ini duduk dalam Partai Komunis Filipina
(PKP). Tokohnya antara lain Mateo del Castilo, Jose Lova, Jesus Lava. Yang terakhir adalah
golongan menengah. Mereka memiliki latar belakang keluarga petani namun telah
mengenyam pendidikan. Tokoh pimpinan seperti ini adalah Luis Taruc dan Cenon Bungay.
Sementara itu, anggota Gerakan Huk ini terbagi dalam tiga jenis menurut fungsinya.
Pertama adalah golongan pejuang bersenjata (fighter). Golongan inilah yang berperang
menenteng senjata, dan bergerilya dalam melawan musuh. Yang kedua adalah golongan
pmbantu (supporter). Mereka ini tinggal di desa sebagai petani. Akan tetapi apabila
diperlukan maka mereka juga biasa berperang mengangkat senjata. Golongan ini juga ada
yang bertindak sebagai kurir atau pemungut pajak.yang ketiga adalah massa pendukung (mass
civilian support base). Mereka turut membantu walaupun secara ttidak lansung. Caranya
adalah menyediaka makanan bagi para pejuang bersenjata.
Hukbalahap kemudian terntegrasi dengan Partai Komunis Filipina dan mengajukan
tuntutan kepemilikan bersama tanah pertanian. Pertempuran pun terjadi antara polisi Filipina
bekerjasama dengan tuan tanah melawan pasukan Huk. Pada bulan Februari 1948 presiden
Roxas mengeluarkan kebijakan untuk memaafkan mereka kolaborator, yang sempat
bekerjasama dengan Jepang. Disaat saat yang sama ia juga mengumumkan HMB sebagai
organisasi ilegal. Untuk itu, akan ditempuh langkah untuk menumpas pemberontakan ini.
Upaya ini diteruskan oleh pengganti Roxas, yaitu Presiden Quirino. Tugas penumpasan
Hukbalahap diserahkan pada Ramon Magsaysay. Magsaysay mengusulkan untuk diadakan
pelatihan bagi angkatan bersenjata Filipina dengan bantuan Amerika Serikat. Pada tahun 1950
angkatan bersenjata melakukan penangkapan para pimpinan gerakan ini. Sementara bagi
anggota yang menyerahkan diri akan diberikan amnesti. Pemberontakan Hukbalahap ini baru
benar-benar berakhir pada saat Luis Taruc menyerah di tahun 1955.

3. USAHA MARKOS UNTUK MEMPERTAHANKAN KEKUASAAN


A. Siapakah Ferdinand E. Marcos
Ferdinand E. Marcos kini tak lagi di Istana Malacanang. Ferdinand Edralin Marcos, tokoh
yang dua dekade lalu dipuja-puja rakyat bagaikan sang penyelamat, setelah ia menyingkirkan
Diosdado Macapagal dari kursi kepresidenan. Tak heran bila waktu itu Marcos dieluelukan.Karena, golongan menengah bosan melihat tingkah Macapagal yang mengejar pajak

kekayaan mereka. Mereka berharap di bawah Marcos segalanya akan berubah. Apalagi ketika
ia berusia 48 tahun, ia sudah dikenal massa lewat penampilannya sebagai anggota Parlemen,
sebagai tokoh energetik dan pintar. Ia sebelumnya memang sudah dikenal sebagai orang yang
luar biasa. Dialah ahli hukum yang menyiapkan ujian akhir sarjana dari balik terali penjara
dan lulus dengan nilai terbaik yang pernah dicapai putra Filipina. Ia pernah menjadi juara
menembak di negerinya, serta menjadi satu-satunya presiden yang terpilih lebih dari satu kali.
Dua puluh tahun kemudian,ia tak lagi disanjung-sanjung rakyat kecuali di antara keluarga dan
sejumlah pengagumnya. Di mata kaum oposisi, khususnya Amerika, ia bagaikan seorang
yang berbahaya. Sehingga ia beserta keluarganya harus keluar dari Istana. Mengapa semua itu
bisa terjadi?Pertanyaan serupa barangkali juga memenuhi benak Marcos sekarang.Ia mungkin
akan mencoba mencari jawabnya dengan melihat jauh ke belakang. Barangkali dari saat
kehadirannya di dunia ketika ayahnya, Mariano Marcos, waktu itu berusia 18 tahun sibuk
memotong tali pusar Ferdinand yang lahir prematur pada 11 September 1917.Atau dimulai
dari kenangannya tentang sepak terjang ayahnya di panggung politik sebagai anggota
Parlemen yang terpilih dua kali. Maupun sebagai gubernur Davao dan Ilocos Norte, terletak
500 km sebelah utara Manila, daerah itu dikenal gersang, maka temperamen penduduk pesisir
itu juga cukup garang dan gemar mengembara. Tapi di mana pun orang Ilocos Norte berada,
mereka bisa dikenali dari keuletan dan kepraktisannya.Tak heran jika banyak di antara mereka
yang sukses di bidang bisnis atau politik.Dalam kancah "keras" seperti itulah Marcos digodok.
Menurut Nyonya Cayetana Quevedo, guru Marcos di kelas I SD, bakat-bakat luar biasanya
sudah terlihat dari dulu. "Dia murid yang sangat cerdas," tutur Nyonya Quevedo.
Ketika ayahnya menjadi gubernur Davao, mereka harus meninggalkan Ilocos Norte.
Marcos yang sudah berumur belasan tahun itu, mendapat pelajaran yang lain. Ia dilatih
ayahnya menunggang kuda dan berburu di kawasan hutan yang masih perawan. Konon, inilah
masa-masa paling indah bagi Marcos. Masa itu diakhiri Marcos begitu tamat sekolah
menengah, karena ia harus melanjutkan pelajaran ke University of Philippines di Manila.
Marcos, yang menempelkan tulisan mens sana in corpore sano (di dalam tubuh yang sehat
terdapat jiwa yang sehat) di kamarnya, terbukti memang tidak hanya piawai di bidang
pelajaran tapi juga dalam kegiatan jasmani. Ia memperoleh banyak piagam dan piala atas
prestasinya sebagai petinju, perenang, dan pegulat.

Dengan kepiawaiannya dalam bidang kewiraan, ia dianugerahi medali emas oleh Jenderal
MacArthur. Dalam hal berpidato piala yang diraihnya, antara lain Piala Presiden Quezon.
Sedangkan di dunia akademisia pernah menerima medali dari Rektor, karena berhasil
mengumpulkan nilai-nilai tertinggi dalam studinya. Tapi, bukan berarti Marcos tak pernah
mengalami masa sulit.Ia pernah kehilangan beasiswa, karena terlalu aktif di bidang
ekstrakurikuler. Padahal waktu itu, ayahnya sedang kesulitan keuangan karena habis-habisan
membiayai kampanye untuk menjadi anggota Parlemen.Tak hanya itu, beberapa hari sebelum
Natal 1939 Marcos yang sedang asyik mengikuti kuliah tiba-tiba ditangkap oleh polisi yang
masuk ke ruang kuliahnya. Ia dituduh membunuh Julio Nalundasan, yang sudah dua kali
mengalahkan ayahnya dalam pemilihan anggota Parlemen. Pembunuhan terjadi tiga hari
setelah pemilihan. Sebutir peluru pistol kaliber 22 menembus tubuh Nalundasan, sewaktu ia
tengah menggosok gigi. Pengadilan Negeri, yang menganggap tuduhan itu terbukti,
melontarkan Marcos ke penjara. Ia, saat itu berusia 19 tahun, mengajukan banding ke
Mahkamah Agung, serta mohon kesempatan mengajukan pembelaan sendiri. Permintaan itu
dikabulkan. Oleh karena itu, dari balik penjara Marcos mempersiapkan dua hal: ujian dan
pembelaan diri. Dan, Marcos berhasil dalam kedua hal itu.Bahkan nilai ujiannya tercatat
sebagai rekor nasional. Setelah koran-koran memuat berita prestasi sekolah Marcos, yang
lulus summa cum laude itu, tak lama kemudian, Mahkamah Agung memutuskannya tak
bersalah dan membebaskannya. Sewaktu Perang Dunia II meletus, dan Jepang pun bergerak
ke Filipina, maka Amerika Serikat, penguasa di Filipina ketika itu, tak tinggal diam. Wajib
militer diberlakukan di Filipina, dan Marcos pun menjadi letnan pada Batalyon Infanteri ke21. Tugas utamanya sebagai intel. Karena tugas intel tak banyak diketahui orang, maka
terdapat dua versi mengenai peran Marcos selama PD II.
B. Awal Pemerintahan Marcos
Ferdinand E Marcos adalah Presiden kesepuluh Filipina.Ia menjabat dari 30 Desember
1965 hingga 25 Februari 1986.Marcos merupakan anak dari seorang pengacara dan tokoh
politik yang berasal dari Ilocos di daerah Luzon bagian utara.Marcos mulai menarik perhatian
masyarakat pada tahun 1939, yaitu pada saat Marcos berhasil meraih nilai yang paling tinggi
dalam ujian nasional dan akhirnya memperoleh izin praktek sebagai pengacara serta sekaligus
berhasil memenangkan perkaranya pada tingkat naik banding berkaitan dengan tuduhan

bahwa Marcos telah membunuh saingan ayahnya dalam salah satu pemilihan pada masa
lampau. Reputasi Marcos kemudian semakin menggemparkan dengan kisah-kisahnya
mengenai keperkasaannya ketika menjadi pemimpin geriliya melawan Jepang dalam Perang
Dunia II dan memperoleh penghargaan atas jasa-jasanya selama perang.
Marcos terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk pertama kalinya pada
tahun 1949 dan akhirnya terpilih kembali pada tahun 1953 dan 1957.Pada tahun 1954, ia
menikah dengan Imelda Romuldez yang kelak akan membantunya dalam kampanye
presidennya.Pada tahun 1959 Marcos mencalonkan diri menjadi anggota Senat dan akhirnya
berhasil menjadi yang teratas meskipun berasal dari Partai Liberal, karena pada saat itu Partai
Nacionalista yang telah mendomonasi.Marcos memperkirakan bahwasannya partainya
mampu membawanya dalam kemenangan namun ternyata kalah siasat dengan Macapagal.
Meskipun kalah siasat dengan Macapagal, keberuntungan berpihak pada Marcos sebab
ternyata Macapagal mengingkari janjinya untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden yang
kedua kalinya dan akhirnya Marcos pada pemilihan yang kedua bergabung dengan partai
Nacionalista dan akhirnya mampu memenangkan pemilihan tersebut.Bagaimanapun prestasi
yang dihasilkan oleh Marcos dalam pemilihan, sebenarnya didukung dengan melemahnya
posisi Macapagal dan kemampuan Marcos dalam menjalinkan basis politiknya di Luzon
bagian utara dengan basis politik keluarga istrinya dan calon presiden pasangannya yaitu
Lopez.Kekayaan dari Lopez ini sangat membantu keberhasilan dalam kampanye.Kekayaan
Marcos sendiri juga mengundang kontraversi, karena berdasarkan pernyataan Marcos sendiri,
kekayaan Marcos tersebut berasal dari penghasilan prakteknya sebagai seorang pengacara,
namun lawan-lawannya menyatakan bahwa kekayaan Marcos berasal dari penyalagunaan
jabatan-jabatan resminya untuk kepentingan pribadi.Aksi-aksi kekerasan merajalela selama
berlangsungnya kampanye pemilihan babak mid-term (masa pemerintahan), karena para
penguasapolitik di daerah-daerah melancarkan tindakan-tindakan mempengaruhi lewat
kekuatan senjata, uang dan para tukang pukul untuk meraih kemenangan.Para calon yang
didukung oleh Marcos mengalami kekalahan berat.Selain itu wakil presiden Lopez sudah
memisahkan diri dari Marcos dan mengalihkan diri pada Partai Liberal. Marcos ternyata
merintangi usaha keluarga Lopez untuk menambah harta mereka yang sudah banyak dan juga
menuduh bahwasannya Lopez telah menyediakan dana untuk para aktivis mahasiswa.

C.

Periode 1972-1983
Diberlakukannya Undang-Undang Darurat Perang yang mencakup pembatasan-

pembatasan terhadap kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan pers dan kebebasan


berkumpul, serta penyelesaian perombakan konstitusi oleh Sidang Konstituante menjelang
akhir tahun 1972 dengan jelas menunjukkan bahwa akan dilakukan perubahan terhadap
strukturstruktur

dan

prosedur-prosedur

yang

berhubungan

dengan

demokrasi

Filipina.Prakarsa-prakarsa politik maupun ekonomi nampaknya mencerminkan besarnya


pengaruh dari apa yang dinamakan golongan teknorat, yang merupakan bagian dari koalisi
baru yang dibentuk oleh Marcos. Gerakan separatis Muslim yang dikorbankan oleh
keterasingan selama berabad-berabad dan keresahan akibat sebagai migrasi penduduk
beragama kristen pada waktu-waktu belakangan, serta dukungan dari luar oleh negara-negara
dan organisasi-organisasi Islam berhasil memobilisasikan sekitar tiga puluh ribu pejuang
bersenjata dan mampu mendominasi sebagian besar dari Mindanao bagian tengah dan barat
daya serta kepulauan Sulu
Perkembangannya dapat terlihat dari sudut pandang rezim, memberi pembenaran bagi
peningkatan kekuatan militer serta terus diberlakukannya Undang-undang Darurat Perang.Di
penghujung tahun 1972, ketika prakarsa-prakarsa yang diambil pada awal periode
diberlakukannya Undang-undang Darurat Perang telah mengacaukan struktur dan pola-pola
politik yang lama.Antara tahun 1976-1980, Marcos membentuk puncak struktur, dibentuk
suatu dewan legislatif nasional yang juga memberikan tanda wanti-wanti adanya amandemenamandemen terhadap konstitusi yang diusulkan oleh Marcos.Marcos menjabat juga sebagai
presiden yang sekaligus merangkap menjadi perdana menteri, serta tetap memiliki kekuasaan
yang sangat besar, termasuk hak menyetujui setiap rancangan undang-undang yang diusulkan
dan menolak yang tidak dsukainya, serta hak untuk membubarkan majelis jika badan tersebut
dinilainya tidak melakukan tugas dengan sebenarnya atau apabila ia menilai terdapat keadaan
darurat nasional.Pada tanggal 17 Januari 1981 presiden Marcos telah mengumumkan adanya
pembatalan Undang-undang Darurat Perang yang saat itu sudah berlaku selama delapan
tahun.Peradilan dan penahanan orang-orang sipil yang melakukan pelanggaran oleh pihak
militer juuga dihapuskan stahap demi setahap, sejumlah tahanan dibebaskan, kekuasaan
legislatif dialihkan secara formal kepada Majelis Nasional Sementara.Meskipun begitu,

Marcos tetap mempertahankan hak untuk mengeluarkan dekrit dan semua dekrit yang telah
dikeluarkan di bawah Undang-undang Darurat tetap berlaku.
D.

Krisis Ekonomi
Perekonomian Filipina merupakan korban paling gawat yang melanda dunia sebagai

akibat melonjaknya harga.minyak bumi untuk kedua kalinya pada tahun 1979. Neraca
pembayaran Negara ini mengalami krisis paling parah pada akhir tahun 1982, yang
disebabkan karena meningkatnya biaya import minyak bumi. Merosotnya harga komoditikomoditi ekspornya yang utama dari sektor pertanian dipasaran dunia dan membumbungnya
jumlah bunga yang harus di bayar untuk pinjaman luar negeri.Pada bulan oktober 1983
pemerintah menyatakan tidak mampu membayar utang-utang luar negerinya dan meminta
kepada 483 kreditor agar diberi keringanan berupa penangguhan.Kredit hutang ini
menghentikan aliran kredit perdagangan bernilai lebih dari $ 3 milyar, yang menyebabkan
anjloknya import. Sepanjang tahun 1984, devisa yang masih dimiliki nyaris tidak mencukupi
untuk mengimpor minyak bumi. Pengangguran terselubung dikalangan angkatan kerja naik
36,5% sementara itu Pusat Riset dan Komunikasi Filipina melaporkan terjadi tindakan
pemberhentian sementara terhadap lebih dari 400.000 pekerja pada tahun 1984.
E. Krisis Politik
Dari semua kasus politik yang ada, skandal perseteruannya dengan senator pihak oposisi,
Benigno Aquino, Jr. adalah krisis politik yang paling krusial di Filipina masa itu.Marcos yang
menyadari potensi besar dari Aquino pun mulai memboikot segala macam aktivitas yang
dilakukan saingannya itu.Puncaknya adalah pengasingan Aquino ke Amerika Serikat.
Sebelum akhirnya masa pengasingan Aquino usai, senator ulung tersebut justru tewas ketika
baru mendarat di Bandara Manila sekembalinya ia dari Amerika Serikat tanggal 21 Agustus
1983. Peristiwa tersebut kemudian memunculkan amarah rakyat dan menuduh Marcos berada
dibalik tewasnya Aquino.Hal itu menyebabkan Aksi-aksi kalangan umum agar marcos
mengundurkan diri akibatnya kepercayaan dunia bisnis terhadap Marcos merosot dengan
cepat. Ini menyebabkan larinya modal secara besra-besaran, begitu pula menyebabkan
pemerintah Filipina tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran kembali utang-utang luar
negerinya.Bagi Marcos sendiri, hal itu berakibat sangat merosotnya legitimitas dan

kewibawaannya.Gelombang demonstrasi yang menyusul peristiwa pembunuhan terhadap


Aquino berlangsung lebih besar dan lebih lama dari pada demonstrasi-demonstrasi lain
sebelum itu.Untuk pertama kalinya para pengusaha terkemuka banyak berperan dalam
mengorganisasikan demonstrasi-demonstrasi yang tidak lagi hanya berlangsung di kampuskampus saja, tetapi menjalar sampai kedaerah-daerah pusat perdagangan dan pemukiman
golongan atas. Bahkan sebelum terjadi peristiwa pembunuhan terhadap aquiono pun kalangan
pengusaha sudah menyadari bahwa Negara Filipina sedang tergelincir kedalam jurang krisis
keuangan yang disebabkan oleh pinjaman pemerintah secara berlebihan guna membiayai
proyek-proyek yang bercorak mercusuar, ditambah oleh ambruknya perusahaan-perusahaan
besar kepunyaan sejumlah pemilik modal yang dekat dengan pihak penguasa yang kemudian
terpaksa diselamatkan oleh pemerintah.Meskipun antara tahun 1981 dan 1983 prakarsa politik
kelihatan sepenuhnya berada di tangan Marcos, namun Marcos kurang berhasil
mengendalikan faktor-faktor ekonomi yang baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang yang mana sangat mempengaruhi basis maupun stabilitas politik rezim yang
berkuasa.
Setelah itu, antara 1983-1986, Manila dilanda demonstrasi besar-besaran yang menentang
kediktatoran Marcos.Inilah masa-masa paling berbahaya, karena banyak lawan politik hilang
begitu saja.Saat itulah Corazon Aquino muncul sebagai tokoh oposisi. Dengan melakukan
berbagai gerakan politik untuk menuntut sekaligus mengecam penculikan, penghilangan
nyawa para politikus oposisi pemerintah Marcos, kehadiran Corazon sekaligus mewakili
roh hidup mendiang suaminya, Benigno Aquiono.Ketika situasi bertambah buruk, Marcos
pada bulan November 1985 mengumumkan pemilu presiden ditunda selama 2 bulan lebih dan
baru akan dilaksanakan Februari 1986. Marcos yakin bahwa tak ada orang yang mampu
mengalahkan dirinya, karenaia punya uang, punya senjata, dan pastinya licik. Sebelumnya
Corazon Aquino mengatakan hanya mau menjadi kandidat presiden bila dua syaratnya
terpenuhi, pertama ditundanya pemilihan umum dan kedua bila mendapat dukungan satu juta
tanda tangan.Kedua syarat itu terpenuhi.Corazon Aquino pun lantas menghadap Jaime
Kardinal Sin, minta restu.Baiklah, berlututlah. Aku akan memberkatimu. Kamu akan
menjadi presiden. Kamu adalah Jean dArc Dan kamu akan menang. Kita akan melihat
tangan Tuhan, mukjizat. Tuhan memberkatimu, kata Kardinal Sin.Pemilu Presiden ke-11
Filipina akhirnya dilaksanakan pada 7 Februari 1986.Selain intimidasi dan kecurangan hasil

pemilu, terjadi pula kecurangan masif yakni penghilangan hak pilih sebagian warganya yang
memiliki kecenderungan pro pada Corazon.Dan pada hari-H, Gubernur Evelio Javier yang
menjadi sekutu utama Corazon dibunuh.Kematian Evelio Javier menambah daftar panjang
kematian para tokoh oposisi.Dari hasil perhitungan National Movement for Free Elections
diperoleh Corazon memimpin perolehan suara. Namun, hal-hal ini dapat diantisipasi oleh
Marcos dengan mengantikan 30 anggota KPU selama proses perhitungan suara dengan orang
suruhannya. Manipulasi hasil perhitungan terjadi dan KPU-Filipina berusaha menampilkan
kemenangan Marcos.Tanggal 15 Februari 1986, KPU Filipina mengumumkan kemenangan
bagi Ferdinand Marcos.Marcos tampaknya bebas menggunakan kekuasaanya sekarang untuk
merombak dan menyusun kembali struktur ekonomi Filiphina.
F. Fakta Dibalik Terpilihnya Marcos
Tahun 1946, Marcos menerima ajakan Presiden Manuel Roxas untuk menjadi asisten
khususnya. Sejak itu, ia mulai tertarik pada politik. Tiga tahun kemudian ia mencalonkan diri
sebagai anggota Parlemen. "Pilihlah saya sebagai anggota Parlemen sekarang dan saya
janjikan akan ada presiden asal Ilocos dalam 20 tahun," katanya ketika berkampaye pertama
kali.Ia berhasil memenangkan lebih dari 70% suara, dan terpilih ulang selama tiga kali (19491959). Ketika menjadi wakil rakyat inilah Marcos berkenalan dengan Imelda Romualdez, di
kantin Parlemen pada 1954.Marcos, saat itu 36, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama
dengan Imelda.Ia tak peduli gadis idamannya berasal dari kubu lawannya dan suku lain.
Marcos berasal dari Ilocos Norte dan wakil Partai Liberal, sedangkan keluarga Imelda dari
Visayan yang dikenal merupakan daerah saingan Ilocos dan mewakili Partai Nacionalista.Tak
heran kalau, pada awalnya, Imelda tidak mengacuhkan pendekatan Marcos.Tapi, setelah
rayuan intensif 11 hari, Imelda menyerah.Dua minggu kemudian, 1 Mei 1954, keduanya
menikah di Manila.Presiden Ramon Magsaysay mengundang 3.000 tamu di Istana
Malacanang untuk merayakan perkawinan ini.Sejak pernikahan itu popularitas Mercos
memang semakin meningkat.Ia dengan mudah terpilih sebagai anggota Senat pada 1959 dan
empat tahun kemudian menjadi ketua majelis itu hingga 1965. Menurut beberapa pengamat
politik, sebenarnya Marcos bisa terpilih menjadi Presiden Filipina dalam Pemiiu 1961. Tapi,
waktu itu, ia diminta mengalah kepada Macapagal, karena pendukung Partai Liberal khawatir
kekuatan mereka akan terpecah bila Marcos ikut mencalonkan diri. Harap diingat, di Filipina

rakyat memilih orang, bukan partai.Pada pemilihan presiden 1965, Marcos maju dan
menang.Ia menang mudah karena dapat dukungan dari kaum superkaya. Pasalnya, para
cukong ini tak menyukai Macapagal, yang melakukan kampanye antikorupsi dan antisuap
secara besar-besaran selama ia berkuasa. Marcos, yang belajar dari kegagalan Macapagal,
begitu berkuasa segera merangkul para pemilik modal dengan menggalakkan usaha mereka di
bidang pertanian, industri dan pendidikan.Strateginya ternyata tepat.Terbukti pada Pemilu
1969, Marcos terpilih kembali.Ia adalah Presiden Filipina yang pertama berkuasa lebih dari
satu kali masa jabatan.
G. Revolusi Bunga
Para pengamat politik Filipina sediri menilai, produk politik Marcos dalam menjalankan
kekuasaannya bertentangan dengan konstitusi.Hal ini mendorong partai-partai oposisi di
negeri Filipina untuk melancarkan suatu gerakan perlawanan yang makin tajam.
Bersamaan dengan aksi-aksi oposisi yang dilancarkan secara konstitusional untuk
mengakhiri era pemerintahan Marcos, kaum gerilya komunis makin meningkatkan kegiatan
bersenjatanya, begitu pula kaum separatis Moro yang ingin membentuk Negara sendiri di
Filipina Selatan.
Karena situasi dalam negeri makin membahayakan stabilitas nasional, Presiden Marcos
memberlakukan Undang-Undang Keadaan Darurat yang memberinya kekuasaan lebih besar
untuk mengambil segala tindakan untuk menyelamatkan Filipina dari kehancuran. Namun
menurut tuduhan pihak oposisi justru dipergunakan Marcos untuk melestarikan kekuasaannya.
Sejak berlakunya Undang-Undang Keadaan Darurat tersebut, banyak lawan Marcos yang
mengalami siksaan dan entimidasi sehingga tidak kurang di antara tokoh-tokoh oposisi
tersebut yang terpaksa menyingkir atau disingkirkan keluar Filipina. Gerakan oposisi semakin
seru, dan tidak mengendur pada masa Undang-Undang Keadaan Darurat dengan sering
terjadinya bentrokan-bentrokan fisik di jalan-jalan kota Manila.
Ketika hasil pemilu bulan Februari 1986 diumumkan dengan resmi oleh pemerintah
ternya Presiden Marcos dinyatakan memperoleh suara terbanyak.Namun pihak oposisi
menuduh pemerintah melakukan kecurangan dalam perhitungn asuara. Pihak oposisi mendaat

bukti-bukti bahwa Ny. Corazonlah yang memperoleh dukungan terbesar dari suara pemilih.
Dalam suasana tuduh-menuduh dan aksi-aksi unjuk rasa yang meluas ke seluruh wilayah
Filipina, Presiden Marcos mengambil tindakan sendiri dengan mempercepat proses
pengambilan sumpah dan pelantikan dirinya sebagai presiden untuk masa jabatan enam tahun
berikutnya. Hal serupa juga dilakukan oleh ny. Corazon , sehingga Filipina pada saat itu
mempunyai dua orang presiden.
Pada saat-saat krisis yang mengancam persatuan dan kehancuran Negara, dua orang
tokoh pimpinan militer Filipina, yaitu Menteri Pertahanan Jenderal Juan Ponce Enrile dan
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Fidel Ramos berbalik haluan
menggabungkan diri dengan Ny. Corazon Aquino dan Salvador Laurel menentang Marcos.
Bergabungnya kedua jenderal tersebut mempercepat proses peredaran situasi dan
menyingkirnya Marcos dan keluarganya dari Filipina. Atas desakan pemerintah Amerika
Serikat dan dengan mempergunakan pesawat militer Amerika Serikat, Marcos dan
keluarganya dibawa ke suatu pulau di Pasifik, kemudian dipindahkan ke Hawaii. Kemudian
berakhirlah era kemimpinan Marcos yang selama hamper 20 tahun. Pada tanggal 25 Februari
Majelis Nasional melantik dan mengambil sumpah Ny. Corazon Aquino sebagai presiden dan
Salvador Laurel sebagai wakil presiden.Revolusi tak berdarah tersebut sering dijuluki
Revolusi Bunga itu berhasil dengan sukses.Namun tak berarti segala persoalan telah
terselesaikan.
H. Kudeta Singkat Pendukung Marcos
Hanya lima bulan setelah pelantikan Ny. Corazon Aquino menjadi presiden Filipina,
salah seorang pendukung Marcos, Jederal Rolando Abadilla, seorang perwira intel yang cukup
dikenal di Malacanang, dibantu oleh sekitar 200 anggota militer, membangkang. Usaha
kudeta yang lebih bersifat psikologis tersebut hanya ingin menunjukan kepada rakyat dan
dunia internasional bahwa kedudukan Presiden Corazon belum mantap.Pendukungpendukung Marcos masih cukup besar dantetap bersemangat melanjutkan perjuangan untuk
mengembalikan Marcos meraih kursi kepresidenan. Mereka melancarkan kudeta mini yang
berusaha menggulingkan pemerintahan Ny. Corazon. Akan tetapi dalam tempo 36 jam dapat
digagalkan tanpa sebutir peluru yang ditembakan.

Tokoh yang ditonjolkan selama kudeta itu adalah Arturo Tolentino, tokoh yang
dicalonkan oleh Marcos untuk jabatan sebagai Wakil Presiden dalam pemilu 1986.Arturo
Tolentino beserta tokoh-tokoh militer sekutunya melancarkan aksi dari operation room di
lantai 214 hotel Manila yang bertingkat 24. Pada aksi itu dilancarkan, Presiden Corazo sedang
berada di Pulau Mindanao dan Wakil Presiden Salvador Laurel sedang berkunjung ke Madrid.
Saat aksi tersebut sekitar 5.000 pengikut Marcos telah menempati pekarangan hotel,
sedangkan 200 tentara yang bersenjata otomatis M-16 tampak siap siaga di dalam dan di luar
hotel. Dalam suasana darurat itu, Arturo Tolentino berpidato bahwa alih kekuasaan telah
dilancarkan atas nama bekas Presiden Fredinand Marcos yang saat itu berada di pengasingan
di Honolulu. Dia mengklaim bahwa hanya Marcos yang berhak menjadi presiden di Filipina.
Tapi untuk sementara Tolentino akan bertindak sebagai presiden sampai tiba saatnya Marcos
kembali ke tanah air.
Massa Marcos yang dalam saat-saat bersejarah dan penuh ketegangan itu mulai
melambai-lambaikan foto Marcos serta bendera Filipina, bukan saja menunggu pidato
Tolentino, tapi juga dengan harap-harap cemas menanti datangnya pasukan tank dari Ilocos
Norte. Menurut rencana para pemberontak, pasukan tank itu akan datang memperkuat posisi
mereka di samping sebuah kapal meriam yang kabarnya beralbuh di Teluk Manila. Namun
pasukan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang dan Menteri Pertahanan Enril
menolak ajakan pemberontak untuk bergabung.
Para pendukung Marcos yang berjumlah 5.000 orang satu-persatu meninggalkan
lapangan Hotel Manila karena merasa tak berdaya.Enrile segera memberi peringatan kepada
anggota militer tentara untuk menghentikan petualangan mereka dan hotel harus dikosongkan
paling lambat pukul 06.00, Selasa.Khusus kepada anggota tentara diperintahkan untuk
melaporkan diri kesatuannya masing-masing.Perintah Enrile ditaati dan kudeta gagal itu pun
berakhir bersamaan dengan sirnanya harapan Marcos.

4. PEMILU 7 FEBRUARI 1986


A. Awal Mula Terjadinya Pemilu 7 Februari 1986 di Filipina
Di awali dari tahun 1972, saat Ferdinan Marcos mendirikan rezim otoriter yang
membuatnya bisa berkuasa kembali menjadi presiden Filipina sampai tahun 1981. Berawal

dari rezim itulah pemerintahan Marcos mulai memburuk akibat sikap diktatornya.
Kemerosotan kepemimpinan Marcos juga disebabkan oleh korupsi besar-besaran yang
dilakukan olehnya dan Imelda, sang istri, guna memperkaya diri sendiri dan keluarganya.
Bahkan, istana Malacanang, yang merupakan istana kepresidenan Filipina pun menjadi
hujatan dan dibenci rakyat akibat korupsi yang dilakukan Marcos.
Selain dari segi ekonomi tersebut, pemerintahan Marcos juga dinilai buruk karena ia
menghajar beragam lawan politiknya dengan sangat licik. Dari semua kasus politik yang
ada, skandal perseteruannya dengan senator pihak oposisi, Benigno Aquino, Jr. adalah krisis
politik yang paling krusial di Filipina masa itu.
Beniqno Aquiono merupakan politisi sekaligus senator pro-demokratik yang berani
dengan tegas mengecam kediktatoran pemerintah Ferdinand Marcos. Perlawanan sang
Senator berbuah ia ditangkap lalu dimasukkan bui pada September 1972. Selama kurang lebih
7 tahun berada dibalik jeruji besi di Filpina, akhirnya ia diperbolehkan berada di pengasingan
(Boston-Amerika) sekaligus untuk mengobati penyakitnya di Boston-Amerika. Setelah sekitar
3 tahun di pengasingan, pada 21 Agustus 1983, Senator Benigno Aquiono kembali untuk
pertama kali di Manila, Filpina. Baru turun dari pesawat di Bandara Internasional Manila,
Beniqno Aquiono ditembak oleh oknum. Meskipun dari hasil investigasi menunjukkan Imelda
Marcos (istri presiden incumbent) terlibat dalam konspirasi ini dengan melibatkan partai
komunis di Filipina, Marcos tetap menepis tuduhan itu.
Pembunuhan terhadap Senator Benigno Aquino menjadi isyarat awal akan terjadinya
gerakan massa yang luar biasa. Dua juta orang mengantar jenazah ke pemakaman Benigno.
Setelah itu, antara 1983-1986, Manila dilanda demonstrasi besar-besaran menentang
kediktatoran Marcos. Inilah masa-masa paling berbahaya, karena banyak lawan politik hilang
begitu saja. Saat itulah Corazon Aquino muncul sebagai tokoh oposisi. Dengan melakukan
berbagai gerakan politik untuk menuntut sekaligus mengecam penculikan, penghilangan
nyawa para polikus oposisi pemerintah Marcos, kehadiran Corazon sekaligus mewakili roh
hidup mendiang suaminya, Benigno Aquiono.
Ketika situasi bertambah buruk, Marcos pada bulan November 1985 mengumumkan
pemilu presiden ditunda selama 2 bulan lebih dan baru akan dilaksanakan Februari 1986.
Marcos yakin bahwa tak ada orang yang mampu mengalahkan dirinya: ia punya uang, punya
senjata, dan pastinya licik. Sebelumnya Corazon Aquino mengatakan hanya mau menjadi
kandidat presiden bila dua syaratnya terpenuhi: pertama ditundanya pemilihan umum dan

kedua bila mendapat dukungan satu juta tanda tangan. Kedua syarat itu terpenuhi. Corazon
Aquino pun lantas menghadap Jaime Kardinal Sin, minta restu. Baiklah, berlututlah. Aku
akan memberkatimu. Kamu akan menjadi presiden. Kamu adalah Jean dArc. Dan kamu
akan menang. Kita akan melihat tangan Tuhan, mukjizat. Tuhan memberkatimu, kata
Kardinal Sin. Pemilu Presiden ke-11 Filipina akhirnya dilaksanakan pada 7 Februari 1986.
A. Pemilu 7 Februari 1986 di Filipina
Setelah berbagai kemelut yang terjadi pemilu Presiden ke-11 Filipina akhirnya
dilaksanakan pada 7 Februari 1986. Perjuangan Benigno Aquino dilanjutkan oleh istrinya
Corazon Aquino, atau yang lebi dikenal sebagai Cory Aquino. Dalam waktu singkat, ia
mendapat simpati dari masyarakat yang menganggap kematian suaminya sebagai korban
kekejaman Marcos. Dukungan yang semakin besar itu menempatkan Cory Aquino menjadi
pemimpin oposisi yang harus diperhitungkan Marcos. Dengan dukungan dari sebagian besar
rakyat Filipina, Cory Aquino mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan umum pada
tanggal 7 Februari 1986. Tampilnya Cory Aquino diharapkan dapat memulihkan demokrasi
Filipina. Rakyat Filipina sangat berharap Cory Aquino memenangkan pemilihan umum.
Namun, dalam pelaksanaanya selain intimidasi dan kecurangan hasil pemilu, terjadi pulah
kecurangan masif yakni penghilangan hak pilih sebagian warganya yang memiliki
kecenderungan pro pada Corazon. Dan pada hari-H, Gubernur Evelio Javier yang menjadi
sekutu utama Corazon dibunuh. Kematian Evelio Javier menambah daftar panjang kematian
para tokoh oposisi. Dari hasil perhitungan National Movement for Free Elections diperoleh
Corazon memimpin perolehan suara. Namun, hal-hal ini dapat diantisipasi oleh Marcos
dengan mengantikan 30 anggota KPU selama proses perhitungan suara dengan orang
suruhannya. Manipulasi hasil perhitungan terjadi, dan KPU-Filipina berusaha menampilkan
kemenangan Marcos.
Tanggal 15 Februari 1986, KPU Filipina mengumumkan kemenangan bagi Ferdinand
Marcos. Perbedaan itu menimbulkan tuduhan bahwa Marcos melakukan kecurangan
penghitungan suara. Kesimpulan itu dikuatkan oleh kesimpulan Richard Lugar, ketua tim
pengamat dari Amerika Serikat yang menyatakan bahwa Marcos secara sistematis telah
memanipulasi penghitungan suara. Hasil ini tentu saja tidak dapat diterima oleh kubu Corazon
yang menyatakan bahwa semestinya mereka yang memenangi pemilu. Sehari setelah
pengumuman parlemen, Cory Aquino menerima petisi 2,5 juta penduduk kota Manila. Petisi

itu menghendaki Cory Aquino menjadi Presiden Filipina. Ia menyambut baik kehendak rakyat
tersebut, untuk memenuhi kehendak rakyat, Cory Aquino mengumumkan dirinya sebagai
presiden dan Salvador Laurel sebagai wakil presiden. Pada saat yang sama Corazon
menyerukan agar masyrakat memboikot gurita bisnis Marcos. Hal serupa disampaikan
Konferensi Uskup Katolik Filipina yang menyatakan bahwa telah terjadi kecurangan dalam
pemilu tersebut.
Ketika situasi makin memburuk, sebelum tanggal 22 Februari 1986, Wakil Staf AB
Jenderal Fidel Ramos dan Menteri Pertahan Juan Ponce Enrille membelot dan menyatakan
bahwa Marcos telah berbuat curang. Mereka meminta Presidennya untuk mengundurkan diri.
Mereka juga mengatakan, pemenang pemilu sesungguhnya adalah Corazon Aquino. Pada saat
itulah Jaime Kardinal Sin lewat radio Veritas meminta umatnya untuk melindungi kedua
petinggi militer itu yang hendak diciduk tentara Marcos pimpinan Kepala Staf AB Jenderal
Fabian Ver.
Dipimpin oleh Kolonel Gregorio Honasan. Dengan dukungan yang semakin besar dan
terus mengalir, rakyat Filipina melakukan gerakan masa untuk menggulingkan Marcos. Pada
22 Februari 1986, jutaan orang turun ke Epifano de Dos Santos Avenue (EDSA). Inilah yang
kemudian disebut sebagai People Power Revolution yang mengakhiri kediktatoran Marcos.
Peristiwa People Power Revolution ini juga dikenal dengan nama Revolusi EDSA. EDSA
adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, sebuah jalan di Metro Manila yang
merupakan tempat aksi demonstrasi berlangsung. Hal yang menarik adalah meskipun gerakan
People Power disebut sebagai revolusi besar di Filipina, namun berlangsung damai.
Demonstrasi massal dengan jutaan orang ini berlangsung selama empat hari di Metro Manila
dengan tujuan untuk mengakhiri rezim otoriter Presiden Ferdinand Marcos dan pengangkatan
Corazon Aquino sebagai presiden.
Pada tanggal 25 Februari 1986, secara resmi Cory Aquino dilantik menjadi Presiden
Filipina untuk masa jabatan enam tahun.

5. MASA PEMERINTAHAN CORY AQUINO


A. Cory Aquino
Memiliki nama asli Maria Corazon Sumulong Cojuangco lahir di Paniqui, Tarlac, Filipina
pada tanggal 25 Januari 1933. Dia adalah anak ke 6 dari ayah yang bernama Jose Cojuangco.
Pada masa kecilnya dia pernah mengalami kejadian yang cukup menakutkan yaitu sekolah
tempat dia menuntut ilmu, St. Scholastica's College mengalami pengeboman. Kejadian nahas
tersebut terjadi pada akhir perang dunia ke 2. Akibat kejadian tersebut Corazon terpaksa di

transfer ke Assumption Convent pada tahun pertamanya di masa SMA. Corazon memutuskan
untuk melanjutkan kuliahnya ke Amerika yaitu di College of Mount Saint Vincent di New
York City. Selain mahir berbahasa Inggris dan Tagalog, Corazon juga lancer menguasai
bahasa Prancis.
Setelah lulus dari bangku kuliah, Corazon memutuskan untuk kembali ke Filipina dan
melanjutkan studinya tentang hukum di Far Eastern University selama satu tahun. Tak lama
kemudian dia menikah dengan Benigno S. Aquino Jr. Pasangan tersebut dikaruniai 5 orang
anak yaitu, Maria Elena, Aurora Corazon, Benigno Simeon III, Victoria Elisa, dan Kristina
Bernadette. Suami Corazon sendiri adalah anggota dari Partai Liberal. Suaminya lantas
berhasil terpilih sebagai gubernur dan senator termuda yang pernah menjabat di tahun 1967.
Setelah pembunuhan suaminya pada tahun 1983, Corazon semakin aktif menyuarakan
ketidakpercayaan terhadap rezim Marcos. Masyarakat Filipina sangat terkejut ketika Marcos
mengumumkan akan mengadakan pemilu secara mendadak pada Februari 1986 dengan tujuan
memusnahkan semua yang meragukan kepemimpinan rezimnya. Hal tersebut tentunya
memicu demo bersekala besar oleh rakyat Filipina.
Setelah rezim Marcos berhasil diruntuhkan oleh kekuatan rakyat, Corazon Aquino resmi
menjadi presiden Filipina pada tanggal 25 Februari 1986, dia merupakan presiden pertama
wanita yang pernah menjabat di Filipina. Pemerintahan Corazon menitikberatkan pada
keadilan rakyat, hak asasi manusia, dan mengadakan dialog damai dengan organisasi komunis
dan komunitas muslim. Kebijakan ekonomi Corazon mampu mengembalikan kondisi
ekonomi Filipina yang sempat jatuh.
B. Kondisi Pada Masa Pemerintahan Ferdinand Marcos
Awal masa pemerintahan Ferdinand Marcos di Filipina dimulai sejak ia memenangkan
pemilu pada tahun 1955. Kemenangan Marcos ini tidak bisa dipisahkan dari karier politiknya
sebagai mantan manager kampanye presiden Filipina sebelumnya, Diosdado Macapagal.
Popularitas Macapagal sebagai presiden yang semakin merosot akibat kinerjanya yang
dinilai buruk dimata rakyat, terutama mengenai masalah keberpihakannya terhadap pengusaha
Amerika, Stonehill, yang dituduh melakukan manipulasi pajak. Peristiwa tersebut kemudian
membuat Macapagal kalah dalam pemilu 1955, dan Marcos pun maju mengambil tampuk
kekuasaan Filiipina.
Di awal kepemimpinannya, Marcos maju sebagai presiden yang inovatif dan banyak
membuat program-program nasional untuk kemajuan Filipina. Di masa yang sama, Filipina

sedang mengalami kelebihan produksi beras, yang kemudian oleh Marcos diekspor ke
beberapa negara dan mengakibatkan surplus devisa bagi Filipina sendiri.
Dalam bidang infrastruktur, Marcos juga menyempurnakan struktur landform Filipina.
Misalnya, pembangunan jalan, jembatan, gedung-gedung instansi, serta sekolah-sekolah yang
sudah dirintis pada pemerintahan sebelumnya. Marcos juga berhasil membuat kebijakan luar
negeri yang aman. Sehingga, bisa dikatakan pada periode pertama kepemimpinannya berjalan
dengan baik.
Namun tahun 1972, Marcos mendirikan rezim otoriter yang membuatnya bisa berkuasa
kembali menjadi presiden Filipina sampai tahun 1981. Berawal dari rezim itulah
pemerintahan Marcos mulai memburuk akibat sikap diktatornya.Kemerosotan kepemimpinan
Marcos juga disebabkan oleh korupsi besar-besaran yang dilakukan olehnya dan Imelda, sang
istri, guna memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Bahkan, istana Malacanang, yang
merupakan istana kepresidenan Filipina pun menjadi hujatan dan dibenci rakyat akibat
korupsi yang dilakukan Marcos.
Selain dari segi ekonomi, pemerintahan Marcos juga dinilai buruk karena ia
menyingkirkan beragam lawan politiknya dengan sangat licik. Dari semua kasus politik
yang ada, skandal perseteruannya dengan senator pihak oposisi, Benigno Aquino, Jr. adalah
krisis politik yang paling krusial di Filipina masa itu.
Marcos yang menyadari potensi besar dari Aquino pun mulai memboikot segala macam
aktivitas yang dilakukan saingannya itu. Puncaknya adalah pengasingan Aquino ke Amerika
Serikat. Saat akhirnya masa pengasingan Aquino usai, senator ulung tersebut justru tewas
ketika baru mendarat di Bandara Manila sekembalinya ia dari Amerika Serikat tahun 1983.
Peristiwa tersebut kemudian memunculkan amarah rakyat dan menuduh Marcos berada
dibalik tewasnya Aquino.
Melihat situasi yang semakin memburuk, juga dengan semakin gencarnya Gerakan
Revolusi Kekuatan Rakyat pada tahun 1985-1986, Marcos kemudian mengumumkan bahwa
pemilu presiden Filipina selanjutnya akan diadakan pada Februari 1986. Rakyat Filipina yang
mendengar kabar tersebut beramai-ramai mengajukan Corazon (Cory) Aquino sebagai
kandidat presiden Filipina menggantikan Ferdinand Marcos, yang tidak lain merupakan isteri
dari mendiang Benigno Aquino.
Semangat demokrasi tinggi yang dikobarkan Corazon berhasil menumbangkan kekuasaan
otoriter Marcos pada pemilu 7 Februari 1986, walaupun sebelumnya sempat mengalami
bermacam intimidasi dan kecurangan hasil pemilu.

C. Masa Pemerintahan Cory Aquino di Filipina


Setelah berhasil menumbangkan rezim Ferdinand Marcos, Cory Aquino berusaha
menghidupkan kembali sendi-sendi demokrasi yang ada di Filipina dengan menjalankan
kebijakan sesuai konstitusi yang ada. Ia memiliki semangat dan cita-cita dari suaminya. Pada
saat yang tepat demokrasi itu tumbuh menjadi kekuatan baru, sebagai suatu ideologi politik.
Semangat demokrasi itu tidak pernah padam. Pada awal masa kepemimpinannya, Cory
Aquino menghadapi berbagai permasalahan yang cukup rumit mulai dari kesulitan ekonomi
berkepanjangan, pertentangan, dan pemberontakan di kalangan angkatan bersenjata oleh
sejumlah perwira-perwira muda di bawah pimpinan Kolonel Honasan, sisa-sisa kekuatan
komunis, dan ancaman pemberontakan separatis Muslim (Moro) di Mindanao, Filipina
Selatan.
Setidaknya terjadi kurang lebih 7 pemberontakan pada masa pemerintahannya. Ia juga
mendapat sikap oposisi yang dilancarkan Wakil Presidennya Salvador Laurel, akan tetapi ia
tetap tegar dalam menghadapinya. Beberapa usaha yang dilakukan Cory Aquino antara lain:
1. Mengembalikan perekonomian yang mengalami defisit dengan cara
mengembalikan kepercayaan investor dan komunitas Internasional.
2. Menyelesaikan permasalahan antara pemerintah dengankelompok MNLF
(Moro National Liberal Front) melalui jalur diplomasi.
3. Mengembalikan undang-undang sistem demokrasi sesuai dengan mandat
founding fathers.
4. Berusaha menyelesaikan permasalahan terkait HAM, terutama korban pada
masa rezim Marcos dengan mendirikan PCHR (the Presidentil Committee on
Human Rights).
5. Membentuk kabinet Pelangi dengan mengangkat sejumlah tokoh dari gerakan
kiri hingga elit militer, seperti Juan Ponce Enrile dan Fidel V Ramos
sebagaimenteri. Tokoh-tokoh tersebut merupakan otak dibalik kebijakan
darurat hukum pada masaMarcos.
Akhirnya perlahan namun pasti situasi politik, ekonomi, dan militer di Filipina beranjak
stabil. Namun seperti setiap segi kehidupan memiliki dua sisi selayaknya mata uang, begitu
pula dengan kepemimpinan Aquino. Keberhasilannya di bidang reformasi politik, hukum, dan
ekonomi ternyata tak membuat aksinya dalam reformasi agraria mendapat tanggapan yang
positif. Aquino yang merupakan keturunan dari tuan tanah di Filipina yang kaya mendapatkan

banyak kritikan atas tindakannya meratifikasi UU 1987. Bahkan tiga minggu setelah rencana
ratikifasi UU itu tersiar, para petani dan pekerja di bidang agraria melakukan long march
untuk memprotes kebijakan ratifikasi tersebut. Bahkan proses demonstrasi yang seharusnya
berjalan damai itu ternoda oleh aksi kekerasan yang dilakukan oleh Marinir Filipina ketika
massa demonstran berusaha menerobos garis pertahanan polisi. Insiden berdarah yang
kemudian dikenal dengan sebutan "Pembantaian Mendiola" yang menyebabkan 12 orang
petani tewas sementara sembilan belas orang mengalami luka-luka. Akibat insiden berdarah
ini, beberapa tokoh terkemuka dalam kabinet Aquino pun mengundurkan diri dan salah
satunya adalah seorang senator yang progresif, Jose W. Diokno yang memilih untuk mundur
dari jabatannya dalam pemerintahan Aquino.
Namun hal tersebut tak membuat popularitas Aquino menurun. Ia bahkan masih bisa
melanjutkan masa kepemimpinannya ke periode selanjutnya, tapi Aquino ternyata bukan
orang yang haus akan kekuasaan. Aquino yang telah mendobrak dan melepaskan negerinya
dari cengkeraman seorang tiran ini menunjukkan karakter sebagai seorang pemimpin sejati
yang terus memberikan panutan positif bagi rakyatnya. Aquino ingin menjadi contoh bagi
rakyat dan para pemimpin di negerinya bahwa jabatan kekuasaan tak semestinya menjadikan
seseorang sebagai tiran. Ia ingin kekuasaan tak membuatnya menjadi lupa daratan dan
menjadikannya sebagai seorang tiran seperti pendahulunya. Aquino tak inign melekat pada
kekuasaan meski ia memiliki peluang untuk itu. Kebesaran hati inilah yang membuat Aquino
memilih untuk memberikan kesempatan bagi pemimpin besar lainnya yang akan bisa
membawa negerinya ke arah yang lebih baik.
Awalnya Aquino mendukung Ramon V. Mitra, teman dari almarhum suaminya, sekaligus
juru bicara dewan perwakilan rakyat Filipina sebagai kandidat yang akan meneruskan
kepemimpinannya dalam pemilu presiden 1992. Namun belakangan, Aquino mengalihkan
dukungannya kepada Jenderal Fidel V. Ramos, teman seperjuangannya yang telah
membantunya menjatuhkan imperium kekuasaan Marcos dan telah berjasa bagi Aquino
dengan mengatasi berbagai usaha kudeta dan pemberontakan selama masa pemerintahan
Aquino.

6. PERJUANGAN

BANGSA

MORO

UNTUK

MEMPEROLEH

OTONOMI
A. Sejarah Kebudayaan bangsa Moro
Orang

Islam

di

Filipina

merupakan

golongan

minoritas

di

negara

sendiri.

Sebenarnya,Islam merupakan agama terawal yang singgah di Filipina sebelum Sepanyol


datang danmeluaskan kegiatan penyebaran agama Kristiani. Hal ini berkaitan dengan keadaan
masyarakatFilipina sebelum kedatangan Islam. Mereka mulanya adalah golongan yang
menguasai Filipina,namun ia berubah dan masyarakat Islam menjadi minoritas selepas kurun
ke-18. Hal ini dikaitkandengan peranan yang dimainkan oleh bangsa Moro (sebutan untuk
umat Islam Filipina) terhadapproses perkembangan Islam di Filipina hingga sekarang.
Secara geografis wilayah Filipina terbagi dua wilayah kepulauan besar, yaitu utara
dengan kepulauan Luzon dan gugusannya serta selatan dengan kepulauan Mindanao dan
gugusannya. Muslim Moro atau lebih dikenal dengan Bangsa Moro adalah komunitas Muslim
yang mendiami kepulauan Mindanao-Sulu beserta gugusannya di Filipina bagian selatan.
Suku Bangsa moro adalah etnoreligiusMuslim yang terdiri atas 13 sukuAustronesia yang
mendiami Filipina bagian selatan. Front Pembebasan Islam Moro atau dalam bahasa Inggris
disebut Moro Islamic Liberation Front (MILF), adalah kelompok militan Islam yang berpusat
di selatan Filipina, didirikan sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan pusat Filipina
yang dianggap diskriminatif terhadap komunitas Moro di Filipina selatan. Daerah tempat
kelompok ini aktif dinamai Bangsamoro oleh MILF dan meliputi bagian selatan Mindanao,
Kepulauan Sulu, Palawan, Basilan dan beberapa pulau yang bersebelahan.
B. Latar Belakang Pemberontakan Moro
Amerika Serikat mengklaim wilayah Filipina setelah Perang Spanyol-Amerika. Populasi
Muslim Filipina selatan menolak kolonisasi baik Spanyol dan Amerika Serikat. Orang-orang
Spanyol dibatasi untuk berlayar di pesisir dan mereka membuat ekspedisi sesekali ke wilayah
ini. Setelah serangkaian upaya gagal selama berabad-abad kekuasaan Spanyol di Filipina,
pasukan Spanyol menduduki kota Jolo, yang di kuasai oleh Sultan Sulu, pada tahun 1876.
Orang Spanyol dan Sultan Sulu menandatangani Perjanjian Perdamaian pada tanggal 22 Juli
1878. Pengendalian kepulauan Sulu luar garnisun Spanyol itu diserahkan kepada Sultan.

Terjadi kesalahan dalam penerjemahan Perjanjian itu. Menurut versi bahasa Spanyol, Spanyol
memiliki kedaulatan penuh atas kepulauan Sulu, sedangkan versi Tausug dijelaskan hanya
menempati wilayah saja. Meskipun klaim ini masih jadi perdebatan untuk wilayah Moro,
Spanyol menyerahkan mereka ke Amerika Serikat pada Perjanjian Paris yang mengakhiri
Perang Spanyol-Amerika. Setelah pendudukan Amerika di Filipina utara selama 1899,
pasukan Spanyol di Filipina selatan dihapuskan, dan mereka mundur ke wilayahnya di
Zamboanga dan Jolo. Pasukan Amerika mengambil kendali atas pemerintah Spanyol di Jolo
pada 18 Mei 1899, dan di Zamboanga pada bulan Desember 1899.
Brigadir Jenderal John C. Bates dikirim untuk menegosiasikan perjanjian dengan Sultan
Sulu, Jamalul Kiram II. Kiram kecewa dengan penyerahan kekuasaan ke Amerika dan
berharap untuk mendapatkan kembali kedaulatan atas wilayahnya setelah kekalahan dari
Spanyol. Tujuan utama perjanjian Bates adalah untuk menjamin netralitas Moro dalam Perang
Filipina-Amerika, dan untuk menciptakan ketertiban di Filipina selatan. Setelah negosiasi
beberapa kali, Traktat Bates ditandatangani. Perjanjian ini didasarkan pada perjanjian
sebelumnya dengan Spanyol, dan mempertahankan kesalahan terjemahan: versi Bahasa
Inggris menggambarkan kedaulatan penuh, sedangkan versi Tausug dijelaskan hanya
ditempati saja. Meskipun Perjanjian Bates memberikan kekuasaan lebih ke Amerika dari pada
perjanjian dengan Spanyol, perjanjian itu masih dikritik Amerika karena pemberian otonomi
yang terlalu banyak kepada Sultan. Sebenarnya perjanjian Bates ditandatangani hanya untuk
membeli waktu sampai perang di utara telah berakhir dan pasukan lagi yang bisa dibawa
untuk menanggung di selatan.
Dalam penandatanganan perjanjian, Bates tidak menyadari faktor komplikasi: sifat
nominal otoritas sultan. Dalam teori, Sultan Sulu adalah otoritas tertinggi dalam Moroland.
Kesultanan Maguindanao tetap memiliki independen dan otonomi, tetapi juga mengakui
supremasi Sulu dalam hal keagamaan dan internasional. Pada kenyataannya, Sultan Sulu tidak
mengikutkan satu klan dalam negosiasi dan klan yang tidak diikutkan dalam negosiasi
perjanjian mengakuan merasa tersinggung dan menolak perjanjian. Kejadian lebih buruk
terjadi di Mindanao. Di wilayah Danau Lanao terjadi konflik antara 200 klan, sementara
daerah Cotabato (DAS dari Rio Grande de Mindanao) berada di bawah kekuasaan Datu Ali.
Selain dua sultan yang diakui, ada 32 datu yang memproklamirkan diri menjadi sultan yang
mengklaim wilayah kekuasaannya menjadi sebuah kesultanan.

Traktat Bates tidak memeberikan netralitas pada Moro dalam Perang Filipina-Amerika,
dan mengakibatkan Amerika hanya bisa mendirikan beberapa pos di wilayah Moro. Pasukan
Amerika diorganisir ke dalam Distrik militer Mindanao-Jolo, di bawah komando Jenderal
Bates. Hanya ada 2 resimen infantri di keseluruhan Mindanao, memberikan Amerika hanya
cukup kekuatan untuk mengontrol markas Kabupaten di semenanjung Zamboanga dan
sekitarnya. Pada tanggal 20 Maret 1900, Jenderal Bates digantikan oleh Brigadir Jenderal
William A. Kobbe, dan Kabupaten Mindanao-Jolo ditingkatkan menjadi Departemen penuh.
Pasukan Amerika di Mindanao diperkuat dengan sebuah resimen infantri ketiga. Garnisun
dibentuk di Jolo dan tiga belas kota-kota pesisir lainnya di seluruh Sulus, dan stasiun didirikan
di berbagai tempat di pantai Mindanao. Selama musim dingin 1900-1901, konflik di Moro
berkurang, dan kekuatan Filipina di Wilayah Moro didorong ke atas bukit. Perampokan dan
pembajakan mucul. Bandit menyerang pos-pos Amerika yang terisolasi, dan tentara yang
tersesat di hutan menghadapi serangan dari juramentados.
Pasukan pemberontak Filipina di Filipina selatan diperintahkan oleh Jenderal Capistrano,
dan pasukan Amerika melakukan ekspedisi melawannya di musim dingin 1900-1901. Pada
tanggal 27 Maret 1901, Capistrano menyerah. Beberapa hari kemudian Jenderal Emilio
Aguinaldo menyerah di Luzon. Ini kemenangan besar Amerika di wilayah utara dan
memungkinkan amerika untuk mensuplai kekuatan militer ke wilayah Moro di selatan.
Pada tanggal 31 Agustus, 1901 Brigjen. Jendral George Whitefield Davis diganti Kobbe
sebagai komandan Departemen Mindanao-Jolo. Davis mengadopsi kebijakan untuk berdamai
dengan Moro. Pasukan Amerika di bawah komandonya telah berdiri perintah untuk memberi
masyarakat Moro penghasilkan bila memungkinkan. Jika Moro mau berdamai, Moro tidak
akan dilucuti. Amerika juga mengijinkan praktek anti perbudakan.
Salah satu bawahan Davis ', Kapten John J. Pershing, ditugaskan ke garnisun Amerika di
Iligan, ditetapkan untuk hubungan yang lebih baik dengan suku-suku Moro Malanao di pantai
utara Danau Lanao. Ia berhasil menjalin hubungan bersahabat dengan Ahmai-Manibilang,
Sultan pensiunan Madaya. Meski pensiun, Manibilang adalah tokoh paling berpengaruh di
antara penduduk terfragmentasi dari pantai utara danau. Aliansi-Nya berbuat banyak untuk
mengamankan Amerika berdiri di daerah tersebut.
C. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Berkembangnya Gerakan Separatisme Moro

Faktor-faktor yang menjadi latar belakang gerakan separatis dapat dilihat dari berbagai
perspektif atau kerangka analisis yang bervariasi sesuai dengan fakta-fakta sosial yang terjadi.
Perspektif

itu

antara

lain

perspektif

sejarah,

budaya,

politik

dan

ekonomi.

(riyadi.staff.fkip.uns.ac.id/files/2011/11/moro.pdf.
Perspektif sejarah akan melihat gambaran awal atau sebab utama timbulnya gerakan
separatis karena hampir semua gerakan perlawanan Bangsa Moro mengatakan bahwa
inkorporasi Bangsa Moro ke Filipina adalah sesuatu yang immoral and illegal annexation.
Analisis sejarah juga diperlukan untuk melihat dampak dari kolonialisme terhadap gerakan
perlwanan Bangsa Moro. (riyadi.staff.fkip.uns.ac.id/files/2011/11/moro.pdf)
Perspektif sosial budaya akan melihat bahwa timbulnya perlawanan Bangsa Moro
disebabkan karena adanya perbedaan ideologi antara Islam dengan nilai-nilai sekularisme
barat serta konflik horizontal antara Moro dengan Filipino yang memang disengaja oleh
Pemerintah Filipina. (riyadi.staff.fkip.uns.ac.id/files/2011/11/moro.pdf)
Perspektif politik diperlukan untuk melihat kebijakan-kebijakan politik terhadap Bangsa
Moro baik kebijakan akomodasi politik seperti pemberian otonomi maupun kebijakan represi
militer berpengaruh terhadap meningkatnya ekskalasi perlawanan Bangsa Moro terhadap
pemerintah pusat dan etnik Filipino. Selain itu juga akan dilihat apakah ada kebijakan ethnic
cleansing dari pemerintah Filipina dan etnik Filipino terhadap komunitas muslim Bangsa
Moro dan bagaimana hal tersebut ikut memacu semakin berkembangnya gerakan separatis.
faktor ekonomi menjadi penting mengingat gerakan separatisme pada umumnya diawali
dengan adanya ketidakadilan dalam pembagian alokasi sumber daya alam. (buku pak musa)

THAILAND
1. MODERNISASI THAILAND
A. Proses Awal Modernisasi Thailand
Ketika Rama III jatuh sakit (1851) tokoh-tokoh generasi muda mempersiapkan sebuah
partai moderat dengan mengumpulkan dukungan secara diam-diam. Iklim politik menjadi
runyam ketika Rama III berniat menobatkan salah seorang putranya untuk menjadi
penggantinya, padahal calon yang paling layak untuk menduduki takhta ialah Pangeran
Mongkut.Untuk mencegah terjadinya perang saudara, diadakan pertemuan dari pejabatpejabat tinggi kerajaan. Dalam pertemuan itu Chaophraya Phrakhlang melancarkan
pembelaan atas pangeran Mongkut yang dianggapnya sebagai ahli waris yang sah. Akhirnya

dia dapat memenangkan suara dalam pertemuan tersebut. Pada 25 Maret Mongkut didatangi
para pejabat Phrakhlang yang memintanya untuk menaiki takhta kerajaan. Ia pun
menyetujuinya, Setelah Rama III, Mongkut diantar ke istana untuk dinobatkan sebagai raja
baru. Mongkut meminta dengan tegas supaya pangeran Chuthamani dinobatkan bersamanya
sebagai raja kedua, suatu ketetapan yang untuk sementara berhasil menetralisir setiap
pesaing yang potensial di dalam kelompok konservatif.
Chiang Bunnag diangkat menjadi Chauphraya Sri Suriyawong, mentri peperangan dan
provinsi Selatan (Kalahong) dan kepala para mentri raja, sementara adiknya Kham Bunnag
menjadi mentri keuangan dan luar negeri. Permintaan Barat segera digiatkan lagi oleh Sir
John Bowring, gubernur dari Hong Kong dan mentri luar negeri untuk Cina. Namun Mongkut
dan Chiang Bunnag menghadapinya dengan penuh keterampilan. Meskipun demikian,
Mongkut dan Chiang masih harus menghadapi perang politik di istana, dan batas waktu
selama 30 hari yang diberikan Bowring. Hak ekstrateritorial, yaitu hak hukum dari pejabat
konsulat atas kawula mereka sendiri dapat diberikan dengan mudah, namun tuntutan Bowring
atas perdagangan bebas berdasarkan cukai yang bersifat nominal saja dan dan penghapusan
semua monopoli perdagangan dan komoditas Siam, tentu akan mengancam kepentingan
istana. Chiang mempercayai bahwa negerinya dapat mengejar apa yang telah hilang dari cukai
yang seharusnya dibayar oleh setiap kapal dan terhadap setiap komoditas dengan banyak
perdagangan dan kepercayaannya bahwa sumber penghasilan alternative dapat diperoleh
dengan menggantikan apa yang telah hilang dengan menyesuaikan diri dengan perjanjian.
Perjanjian Bowring ditandatangani pada 18 April 1885. Diantara syarat-syarat perjanjian
tersebut Siam bersedia memberikan hak ekstrateritorial, menyetujui penghapusan komoditas
perusahaan maupun yang diborongkan atau monopoli-monopoli perdagangan dan cukai
transit, dan penetapan menurut nilai (adva-lorem) tarif tiga persen terhadap barang import dan
lima persen terhadap barang ekspor. Pajak atas tanah milik kawula Inggris ditetapkan dengan
harga yang rendah. Satu-satunya konsesi bagi Siam bahwa impor dan penjualan candumenjadi
monopoli pemerintah. Mereka melakukan hal demikian sebab ancaman intervensi asing atau
perang merupakan suatu kenyataan. Supaya perjanjian tersebut dalam berjalan, Mongkut dan
mentrinya harus menjalankan sebuah revolusi total di dalam semua mekanisme keuangan
pemerintahan. Jumlah kapal-kapal asing yang mengunjungi Bangkok segera meningkat
dengan pesat dan Siam menjadi salah satu pengekspor beras dan kayu jati terbesar di dunia.

Dalam satu tahun pemasukan pemerintah meningkat dan kemungkinan ancaman politik di
dalam negeri berkurang.
Dengan berkembangnya perdagangan dan hubungan luar negeri maka kehidupan di
Bangkok berubah dengan cepat. Berbagai bidang kehidupan baik infrastruktur, politik,
ekonomi, dan social berkembang dengan baik. Mongkut juga mulai mengembangkan
pendidikan Barat di Thailand. Mongkut dan Chiang menyadari bahwa nasib negeri mereka
bergantung pada seberapa banyak mereka belajar dari Barat. Mereka berusah untuk
meminjam dan menyesuaikan diri dengan ide-ide Barat dalam tingkah laku hubungan dengan
luar negeri, dan pengorganisasian serta perlengkapan kekuatan militer. Namun, Mongkut tidak
berusaha mengadakan perubahan-perubahan yang fundamental. Seperti golongan bangsawan
birokrat pada dasarnya tetap bersifat semi turun-temurun dan tidak digaji dan persiapan serta
pengarahan pendidikannya tidak berubah (tradisional). Tidak ada revisi dalam hukum Siam
atau perbudakan. Sebagian kekuatan militer tidak tersentuh oleh perubahan dan pemerintah
provinsi tidak efisien dan cenderung melawan kekuasaan puast. Meskipun demikian,
Mongkut dan Chiang percaya bahwa perubahan itu harus dilakukan setapak demi setapak dan
sangat berhati-hati agar tidak mengganggu kepentingan yang sudah mapan.
Namun penembakan di daerah Trengganu olah kapal perang Inggris tahun 1860-an dan
penghapusan kekuasaan dan pengaruh Siam di Kampuchea demi keuntungan Prancis tahun
1863 mengakibatkan Siam mempertimbangkan kembali sifat hubungannya dengan Barat
maupun keadaan yang relative mendesak dari perubahan didalam negeri. Namun hal tersebut
masih mampu ia atasi, sehingga hubungan antara Siam dengan Barat masih dapat berjalan
dengan baik.
B. Modernisasi di Thailand
Setelah Mongkut meninggal pada usia 65 tahun, ia digantikan oleh putranya yaitu
Chulalongkorn yang naik tahta pada usia 15 tahun, Namun untuk sementara kekuasaan
dipegang oleh walinya yaitu Chiang Bunnag selam 5 tahun. Chulalongkorn memutuskan pergi
keluar negeri seperti Singapura, Myanmar, dan India. Ia juga memperluas pengetahuannya.
Ketika ia memegang penuh haknya atas kekuasaan tahun 1873, ia memulai serentetan
perubahan-perubahan yang mendasar, mengumumkan penghapusan perbudakan, mengubah
system pengadilan dan keuangan, dan membentuk dewan Negara serta dewan pribadi untuk

menasihatinya. Namun ia mendapat berbagai tentangan dari kalangan istana, sehingga banyak
pembaharuannya ditarik kembali.Dalam upayanya membentuk Thailand yang demokratis
pada 1874 Chulalongkorn mengeluarkan UUD yang bertujuan membatasi kekuasaan raja
yang bersifat absolut.
Pada pertengahan 1880-an Chulalongkorn dapat memulai lagi program pembaharuannya.
Pada 1885 raja mulai mengadakan reorganisasi pada pemerintahannya di kementriankementrian yang disusun berdasarkan macam fungsinya. Sistem tersebut diresmikan tahun
1888. Empat tahun kemudian departemen-departemen ditata kembali dan orang-orang dilatih
dan dipersiapkan untuk cabinet pemerintahan yang baru, yang mulai beroprasi tahun 1892.
Salah satu perubahan penting yang mengikuti reorganisasi ialah perluasan kekuasaan
pusat atas provinsi-provinsi dan daerah vassal. Siam mengelompokkan provinsi-provinsinya
ke dalam Monthon, yang diperintah oleh seorang komisaris. Namun, Prancis menganggap
usaha Siam untuk meningkatkan kekuasaan atas daerah vassal sebagai suatu imperialism baru,
yang menentang hak-hak kekuasaan Vietnam atas kerajaan Laos di sebrang Timur Sungai
Mekong. Tidak lama kemudian terjadi insiden yang disebut casus belli. Akhirnya Siam
menerima ultimatum Prancis yang menuntut semua wilayah Laos disebrang Timur Sungai
Mekong dan pembayaran kerugian kepada Prancis.
Melalui diplomasi dengan para pemimpin dan pemerintahan Eropa, dan hubungan yang
rutin dengan duta dan konsul, Siam berhasil menanamkan reputasinya di luar negeri sebagi
pertanggungjawaban dan kesediaannya untuk menampung permintaan pihak Barat untuk
mengadakan pembaharuan menurut garis-garis Barat. Tahun 1893 Siam berhasil mengatasi
beberapa krisis yang dihadapi, namun kekuatan Barat tetap menjadi ancaman yang sewaktuwaktu dapat mengganggu integritas wilayah dari dalam maupun dari luar.Thailand tetap
berusaha membina hubungan baik dengan bangsa Barat. Pada 1896 Inggris dan Prancis
sepakat untuk menempatkan Thailand sebagai Negara pemisah antara kekuasaan Inggris di
Myanmar dan Myanmar di Vietnam.Perkembangan ekonomi dan pendidikan pun semakain
meningkat.
Kesulitan dengan Prancis dapat diatasi dengan serentetan perjanjian tahun 1907 dimana
Siam memberi beberapa wilayahnya di Laos dan Kampuchea dengan imbalan Prancis tidak
akan menuntut penyalahgunaan hak ekstrateritorial Prancis di Siam. Tahun 1909, Siam
mampu menyelesaikan tuntutan Inggris dengan menyerahkan empat daerah vasalnya di

Semenanjung Malaya meliputi Kedah, Verlis, Kelantan, dan Trengganu. Segala permasalahan
yang telah teratasi membuat tekanan dan kekuasaan Barat di Siam berkurang serta menjamin
perbatasan-perbatasan wilayah dari Negara yang telah diakui secara Internasional. Setelah
Chulalongkorn meninggal, ia digantikan putranya Vajiravudh yang lulusan Universitas
Cambrigde dan pernah dinas militer di Inggris.
Namun dalam mengambil keputusan, ia selalu bertindak sendiri. Ia mengangkat pejabat
dari orang-orang yang disukainya sehingga sering terjadi pemborosan dan korupsi yang
dilakukan oleh kelompoknya. Akibatnya absolutisme dibangkitkan kembali. Meskipun
banyak kelemahan, Vajiravudh memiliki keunggulan juga. Ia berusaha meletakkan system
hokum seperti bangsa Barat. Pada 1921 ia memberlakukan wajib belajar di tingkat SD. Ia juga
mendirikan Universitas Chulalongkorn dan membangun sekolah-sekolah berasrama. Di
bidang sosial budaya, ia memerintahkan rakyat menggunakan nama keluarganya. Kepada
kaum wanita ia memerintahkan menggunakan model rambut wanita Eropa serta rok sebagai
ganti pakaian model Thailand yang tertutup rapat. Ia menilai rok pakaian tersebut
mengganggu kegesitan bekerja. Organisasi Palang Merah didirikan dan mempopulerkan sepak
bola.
Dilihat dari semua kebijakan yang ia berlakukan, dapat dilihat Vajiravudh melakukan
tindakan yang kontradiktif. Di stu sisi ia membiarkan berlangsungnya praktek pemborosan
anggaran negara, korupsi, tindakan tidak bertanggung jawab dari aparatnya, mengembalikan
absolutism, dan peniadaan dewan penasihat. Namun disisi lain ia ia melakukan reformasi
social yang bersifat penyadaran kepada rakyatnya atas hak-hak yang dimilikinya. Dengan kata
lain reformasi sosial yang dilakukannya merupakan suatu usaha untuk meletakkan dasar bagi
terciptanya suatu cara piker dan sekaligus mentalitas masyarakat modern.
C. Kondisi Thailand Menjelang Tahun 1932
Sepeninggal Vajiravudh, Thailand di pimpin adik bungsunya Prajadhipok (1925-1935).
Ketika itu krisis ekonomi melanda dunia. Ia berusaha mencari bantuan ke Inggris dan Prancis,
namun gagal. Karena hal tersebut ia mengurangi pegawai istana dari 3000 menjadi 300 orang.
Pegawai negeri dan militer juga dirasionalisai dengan pemotongan gaji. Sehingga
mengecewakan banyak pihak. Uang yang ada digunakan untuk membangun stasiun radio,
pangkalan udara Dong Muang, dan kebijakan lain yang berpihak pada rakyat. Namun

kelompok yang dipotong gajinya dan jumlah kalangan yang kecewa semakin besar
jumlahnya.
Kelompok yang kecewa terhadap pemerintahan terdiri dari kaum intelektual pimpinan
Pridi Banomyong dan kelompok militer muda pimpinan Phibun Songgram. Keduanya
menamakan diri mereka kelompok revolusioner. Ketidakpuasan di kalangan kaum
revolusioner yang berpendidikan barat, elit birokrasi pmerintah, dan angkatan bersenjata yang
lebih muda meningkat selama tahun-tahun krisis dunia. Dengan dukungan militer pada
tanggal 24 Juni 1932, Pridi melakukan revolusi tak berdarah.
2. PEMBENTUKAN MONARKI KONSTITUSIONAL DI THAILAND

A. Pengertian Sistem Monarki Konstitusional


Monarki

konstitusional adalah

sejenis monarki yang

didirikan

di

bawah

sistem

konstitusional yang mengakui Raja, Ratu, atauKaisar sebagai kepala negara. Monarki
konstitusional yang modern biasanya menggunakan konsep trias politica, atau politik tiga
serangkai. Ini berarti raja adalah hanya ketua simbolis cabang eksekutif. Jika seorang raja
mempunyai kekuasaan pemerintahan yang penuh, ia disebut monarki mutlak atau monarki
absolut.
Saat ini, monarki konstitusional lazimnya digabung dengan demokrasi representatif. Oleh
karena itu, kerajaan masih di bawah kekuasaan rakyat tetapi raja mempunyai peranan
tradisional di dalam sebuah negara. Pada hakikatnya sang perdana menteri, pemimpin yang
dipilih oleh rakyat, yang memerintah negara dan bukan Raja. Namun, terdapat juga raja yang
bergabung dengan kerajaan yang tidak demokratis. Misalnya, sewaktu Perang Dunia II,
Kaisar Jepang bergabung dengan kerajaan tentara yang dipimpin seorang diktator.
Beberapa sistem monarki konstitusional mengikuti keturunan; manakala yang lain
melalui sistem demokratis seperti di Malaysia di mana Yang di-Pertuan Agong dipilih
oleh Majelis Raja-Raja setiap lima tahun.

B. Revolusi Siam tahun 1932


Sejak masa pemerintahan Raja Chulalongkorn (1868-1910), Siam (nama sebelum
Muangthai) telah menggunakan system cabinet. Raja ini memerintah dengan sangat baik,
akan tetapi dengan kekuasaan raja yang mutlak membuat keputusan raja menjadi absolute.
Beberapa usaha yang dilakukan oleh raja untuk mensejahterakan rakyatnya kurang tepat
sasaran. Seperti mewajibkan semua anak-anak untuk belajar di sekolah dasar bahkan tanpa
biaya, sayangnya fasilitas ini hanya dapat dinikmati oleh kalngan tertentu saja.

Berikutnya, raja juga mencoba untuk memperluas kekuasaan Dewan NEGARA DAN
Dewa Legislatif yang telah dibentuk sejak tahun 1895, tetapi kekuasaan lembaga Negara itu
hanya sebagai simbolis, karena rajalah yang tetap memegang hak untuk mengangkat para
anggota dewan-dewan tersebut.
Kebijakan yang membuat rakyat kecewa adalah memotong gaji para pegawai dan
melakukan pemecata-pemecatan di berbagai bidang di Siam. Tindakan-tindakan yang seperti
inilah yang membuat munculnya rasa dendam kepada pemerintah
Dalam bidag ekonomiterjadi dalam pemerintahan Raja Vajiravudh (1910-1925) dimana
kas Negara dalam keadaan krisis karena penggunaan uang Negara yang kurang terkontrol
dengan baik. Raja selanjtunya juga mengalami masalah keuangan yang sama, dan untuk
mengatasinya raja meminta bantuan dari luar negeri dan tanpa hasil kemudian para kaum
nasionalis menuntut penghapusan hak-hak istimewa dan kontrak-kontrak asing di Siam.
Tetapi, hal itu juga masih belum memenuhi target dari kas Negara yang krisis.
Dari keadaan social di Siam, sampai pada tahun 1931 masih tidak mengalami perubahan
yang berarti. Rakyat Siam yang mayoritas bermatapencaharian petani masih tetap terbelakang.
Padahal modernisasi di Siam telah dan sedang berlangsung. Dalam bidang perdagangan,
rakyat kurang mendapatkan pasar karena telah dikuasai olah bangsa asing, dan yang paling
banyak mendominasi adalah Cina. Hal inilah yang membuat semakin banyaknya pengagguran
di Siam yang memuat rakyat tidak tahan lagi dengan pemerintah yang ada.
Pengaruh dari Barat lebih kearah ilmu pengetahuan. Semakin banyaknya pengetahuan
yang masuk ke Siam membuat semakin banykanya kaum intelektual Siam yang berpikiran
modern. Mereka berusaha menghapuskan monarkhi absolute dan menggantikannya dengan
monarkhi konstitusional yang sesuai dengan zaman modern ini. Pemikiran inilah yang
membuat para intelektual Siam bergerak untuk menciptakan Siam yang lebih baik.
Revolusi Siam dimulai pada awal tahun 1932 dan tepat pada 24 Juni 1932 meletuslah
revolusi Siam. Pada saat revolusi sedang berlangsung, raja sedang beristirahat di luar kota
Bangkok (pada masa itu Raja Prajadiphok yang berkuasa). Partai Rakyat mengirim
ulyimatum yang mengaruskan raja untuk menyetujui ultimatum yang diberikan oleh rakyat
itu.
Akibat dari ultimatum yang dengan terpaksa disetujui raja itu membuat raja kehilangan
hak-hak istimewa kecuali raight of pardon. Selain itu para pangeran tidak boleh menduduki
jabatan-jabatan menteri dan jabatan di dalam angtan perang. Selain itu pimpinan pemerintah
diambil alih oleh Partai Rakyat.

Dampak dari revolusi ini membuat golongan komunis orang-orang Cina berusaha
mengambil keuntungan dari situasi ini. Melihat situasi seperti ini, pemerintah yang baru itu
membuat keputusan baru yang memuat raja akhirnya mendapatkan tiga kekuasaan penting.
Pertama, raja dapat membubarkan Assembly tanpa persetujuan kabinat tetapi suatu
pemilihan baru harus dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan. Kedua, raja mempunyai hak
untuk memveto undang-undang, tetapi Assembly dapat mengesampingkan veto tersebut
dengan jalan pengambilan suara kedua. Ketiga, raja berhak mengeluarkan dekrit secara
mendadak selama dekrit itu ditandatangani oleh menteri yang bersangkutan.
Adanya situasi yang terus-terusan kurang kondusif menyebabkan raja harus turun tahta
pada Bulan Maret 1935 dan pergi ke luar negeri. Pemimpin baru kemudian diambil oleh
Phibun Songgram dengan Pridi sebagai menteri keuangan. Kebiajakan yang diambil benarbenar bersifat nasional antara lain memperluas pendidikan, member lapangan pekerjaan dan
membatasi kegiatan orang-orang Cina serta beban para petani diringankan. Dan pada tanggal
24 Juni 1939, nama Siam kemudian diganti menjadi Muangthai (Thailand).

C. Faktor penyebab terjadinya revolusi siam 1932.


a. Faktor intern
a) Faktor Ekonomi
Keadaan ekonomi yang kacau menyebabkan timbulnya rasa kecewa dihati
rakyat. Pada masa pemerintahan raja vajiravudh terjadi

pemborosan dan

penyelewengan kas negara dan membebankan ekonomi siam.keadaan ini


berlanjut pada pemerintahan raja sesudahnya yaitu raja prajadhipok. Pada
tahun 1931 siam mengalami kekurangan kas sebanyak 11 juta bath. Raja
prajadhipok mengambil beberapa langkah tegas untuk mengatasi masalah ini.
Beberapa diantaranya adalah dengan mengurangi pegawai yang awalnya 3000
menjadi 300 orang, mengurangi gaji pegawai dan militer, dan menaikkan bea
cukai perdagangan luar negri, dan menaikan pajak. Raja prajadhipok juga
mendirikan kembali dewan penasehat yang terdiri dari lima pangeran penting
sebagai badan penasehat dan ia mendirikan kabinet menteri-menteri. Pada
tahun 1927 ia juga membentuk komite yang beranggotakan 40 orang yang
bertugas melaporkan kepadanya setiap masalah-masalah yang terjadi.
Kabijakan ini membawa hasil. Tapi di satu sisi tindakan raja prajadhipok dan
kebijakan pemotongan gaji dan pengurangan pegawai besar-besaran membuat
kecewa rakyat dan perwira muda. Dan dibidang perdagangan sebagian besar

masih dipegang oleh orang asing terutama cina yang menyebabkan


perekonomian masih memprihatinkan dan banyaknya pengangguran.
b) Faktor Sosial
Sampai tahun 1931 keadaan rakyat jelata tidak berubah. Para petani masih
terbelakang meskipun modernisasi sudah lama masuk ke thailand. Tapi
mereka belum mampu menciptakan industri-industri besar yang dapat
menampung pengangguran.
c) Faktor Politik
Kemerosotan sistem monarki absolute menjadi penyebab utama meletusnya
revolusi 1932. Kegagalan pemerintahan monarki absolute menimbulkan
kebencian dan menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap raja. Kemerosotan
sistem monarki absolut di thailand bermula dari masa pemerintahan raja
vajiravudh yang menyerahkan kegiatan pemerintahan kepada pegawaipegawainya. Raja vajiravudh tidak mengawasi kegiatan para pegawainya,
sehingga menyebabkan penyelewenya dimana-mana. Selain itu ia mengangkat
orang yang disukainya untuk duduk di posisi-posisi penting sehingga
menimbulkan kecemburuan, dalam pengambilan keputusan raja vajiravudh
tidak meminta masehat kepada anggota keluarganya

yang

penting

sebagaimana yang telah dilakukan raja sebelumnya. Raja vajiravudh juga


membentuk tentara pribadi yang dikenal dengan nama "pasukan harimau liar"
yang diberikan keistimewaan dibandingkan militer. Pembentukan pasukan
harimau liar (wild tiger scout crops) sebagai pengawal pribadi baginda yang
diberi berbagai keistimewaan jika dibandingkan dengan pasukan tentara
thailand telah menimbulkan perasaan tidak puas hati golongan tentara yang
merasa pembentukan pasukan harimau liar mempengaruhi kewibawaan
mereka.Tindakan ini ditentang oleh para militer. Akibatnya terjadi percobaan
pembunuhan terhadap raja sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1912 dan
1917. Raja vajiravudh juga berusaha membangkitkan kembali absolutisme
yang sudah dikurangi pada masa kepemimpina raja sebelumnya. Pada tahun
1931 raja mengeluarkan undang-undang untuk mewajibkan anak untuk
sekolah rendah dengan cuma-cuma, akan tetapi hanya sebagian kecil
masyarakat yang bisa menikmatinya.

b. Faktor ekstern :
a) Pengaruh pendidikan dari barat.
Perkembangan pendidikan barat terutama sejak pemerintahan chulalongkorn
telah melahirkan golongan intelektual di thailand. Golongan intelektual ini
sudah mengenal ide-ide barat seperti demokrasi, liberalisme, sosialisme, dan
anti-monarki. Para kaum intelektual ini di kirim ke jerman dan prancis untuk
belajar. Setelah pulang ke thailand mereka ingin mengubah pemerintahan
yang ada yaitu monarki absolute menjadi monarki konstitusi. Golongan ini
menentang sistem monarki absolut karena mereka menganggap sistem ini
sudah kuno yang dapat menghalang kemajuan thailand. Di antara golongan
intelek ini yaitu pridi panomyong, pribun songkram, phya bahol, phaya
manapakorn, khaung aiphaiwong, dll. Mereka membetuk sebuah partai yang
dikenal dengan partai rakyat.
b) Pimpinan revolusi
Pridi banouyoung (pradisto manudharm) adalah seorang sarjana hukum yang
pernah belajar di paris. Ia menjabat sebagai professor dalam ilmu hukum di
universitas cullalonsom. Bersama dengan anggota angkatan perang dibawah
phibun pada tanggal 24 juni 1932 ia mengambil alih kekuasaan dan
mengorbankan revolusi tak berdarah.
c) Agama
Kegiatan para penyebar agama kristen mendapat tantangan orang ramai
terutama dari golongan sami. Karena kegiatan ini, banyak orang siam
terutama golongan muda telah memeluk agama kristen dan meninggalkan
budaya isam. Akibatnya orang-orang mendesak kerajaan untuk menghentikan
para penyebar agama kristen. Tidak adanya tanggapan dari pihak kerajaan
menyebabkan kemarahan rakyat terhadap pihak kerajaan dan golongan
bangsawan. Meskipun revolusi itu sebenarnya hanya kalangan golongan
menengah yang telah menyenyam pendidikan barat akan tetapi revolusi ini
telah banyak menimbulkan perubahan-perubahan besar baik dalam bidang
politik, sosial maupun ekonomi. Namun hadirnya pya manomakom telah
banyak menghambat pelaksanaan cita-cita kaum revolusioner. Pada tahun
1933 atas permintaan raja, partai rakyat dibekukan sebagai sebuah partai
politik dan berganti sifatnya sebagai kelompok sosia. Pya manomakom adalah

seorang revolusioner yang telah lama menjadi pegawai raja, sehingga masih
saja tunduk kepada raja sebagai raja absolut. Karena itu politik pya
manomakom merupakan kelanjutan politik konservatif seperti sebelum
revolusi.
D. Thailand Dalam Keadaan Bertransisi, 1910-1942
Sudah dibahas sebelumnya, bahwa pada tahun 1910 Pangeran Maha Vajiravudh
menggantikan ayahnya.Ia merupakan salah seorang anak dari Chulalongharn yang telah
mendapatkan pendidikan di Universitas Cambridge dan beberapa waktu lalu berdinas militer
di angkatan bersenjata Ingrris. Gelar pewaris tahta sebenarnya telah ia dapatkan pada tahun
1902 sebelum ia kembali ke Thailand.
Selama ia menempuh pendidikan di luar negri, ia putus hubungan dengan keluarganya
dan waktu kembali ke negrinya ia membentuk suatu perkumpulan pemuda yang bukan dari
anggota keluarga kerajaan. Saudara-saudara dan paman-pamannya jarang dimintai pendapat
dan untuk menandingi pengaruh mereka ia bukan saja mengangkat mereka yang disukai pada
posisi-posisi penting dalam pemerintahannya tetapi juga mendirikan Badan Kepanduan
Macan Liar.
Terjadi dua kali usaha menggulingkan beliau dari tahtanya.Pertama, pada tahun 1912
suatu komplotan pembunuh dicegah oleh saudaranya yang mampu berbuat demikian,
Pangeran Pitsanulok.Pasukan Bangkok jelas siap memberontak dan berbaris menuju
istana.Tetapi penyensoran begitu ketat hingga sekarang.Dan karena hal ini, kira-kira 60
perwira ditahan.Yang kedua, pada tahun 1917 juga dilakukan oleh suatu komplotan militer,
yang disebabkan ketidak senangan atas simpati raja yang pro-sekutu pada bagian serdadu
yang pro-Jerman.
Ia disebut demokratis yang agak kurang dapat diperhitungkan. Sebaliknya, usahanya
mengeratkan absolutisme kerajaannya merupakan suatu faktor tambahan yang menyebabkan
krisis konstitusi pada tahun 1932.Pada masa ini, menteri-menteri berkonsultasi pada raja
secara pribadi dan mengambil keputusan secara sepihak.Sekolah-sekolah di Thailand menjadi
gila kepanduan dan banyak mendirikan persatuan-persatuan Anak Macan, demikian
persatuan itu dinamakan, karena berafiliasi dengan Macan Liar itu. Dalam usahanya

melaksanakan proses modernisasi lebih lanjut Vajiravudh sepenuhnya sadar akan metodemetode yang membuat Jepang cukup kuat untuk mengalahkan kekuatan Eropa yang besar.
Dibandingkan dengan ayahnya, Vajiravudh telah melakukan beberapa reformasi yang
penting.Tetapi reformasinya mempunyai akibat-akibat yang jauh.Beberapa reformasinya pasti
berasal dari gagasan-gagasan yang diambilnya selama belajar di Inggris. Contohnya saja pada
tahun 1916 terdapat peraturan yang memberlakukan setiap orang menggunakan nama
keluarga.
Pada tahun 1921 ia memerintahkan dan memberlakukan wajib belajar pada tingkat
sekolah dasardan penerimaan kalender Gregoria. Dia juga mendirikan Universitas
Chulalongharn serta mendirikan sekolah Vajiravudh di Bangkok yang murid-muridnya terdiri
dari anak-anak laki-laki yang diasramakan.Berikut sesudah reformasi social adalah politik
luar negeri yang menyerap hampir seluruh perhatian Vajiravudh selama tahun-tahun
permulaannya.Ketika perang dunia pertama pecah tahun 1914 simpati pribadinya adalah pada
sekutu.Di tahun 1916, Raja Vajiravudh memerintahkan kepada kaum wanita untuk
menggunakan model rambut orang eropa serta rok sebagai ganti pakaian model Thailand asli.
Selama masa pemerintahan Raja Vajiravudh melakukan tindakan yang kontradiktif dimana ia
membiarkan berlangsungnya praktek pemborosan anggaran dana, korupsi usaha absolutisme
kerajaan, dan peniadaan dewan penasihat.
Pada tahun 1917 sebagai konsekuensi penolakan yang tak menyenangkan Jerman atas
protes Thailand menentang metode perang kapal selamnya, Vajiravudh mengambil langkah
menyatakan perang kepada Jerman.Di tahun berikutnya pasukan expedisi Thailand dikirim ke
Perancis.Dan di tahun 1922 Amerika Serikat membuat perjanjian baru yang meninggalkan
semua hak-hak extra-teritorialnya di Thailand.
Vajiravudh selalu tidak menyukai pekerjaan berat yang dibebankan padanya dengan
menangani masalah-masalah rutin pemerintah sehari-hari.Ia banyak menyerahkan pekerjaan
kecil-kecil itu kepada pamannya, Pangeran Devawongse, yang merupakan teman dekat
ayahnya dan selama kira-kira 30 tahun menjadi Menteri Luar Negeri. Dr. Malcolm Smith
mengatakan di samping raja ia adalah orang yang paling berkuasa di negeri itu. ia adalah
orang yang sangat cerdas dan mengabdi pada tugas serta memperlihatkan pelayanan yang

penting dlam perjalanan kemerdekaan dan kemajuan Thailand. Setelah matinya tahun 1923
raja tergantung banyak pada Chao Pya Yomarej.
Pada tahun 1925 Raja Vajiravudh meninggal dunia dan digantikan oleh adiknya yaitu
Pangeran Prajadhipok dengan titel Rama VII.Karena ia tidak meiliki seorang anak laki-laki,
sebelum kedudukannya digantikan. Ia merupakan seorang jejaka semasa pemerintahannya
yang menyebabkan kecewa ibunya, Ratu Saowapa yang meninggal 1922. Pangeran
Prajadhipok memerintah dengan baik.Namun, masalah saat ia dilantik ialah keperluan
ekonomi untuk pembiayaan umum. Keborosan Vajiravudh telah menimbulkan kekacauan
dalam keuangan negara. Pangeran Prajadhipok mendirikan kembali Dewan Penasehat yang
terdiri dari lima pangeran penting sebagai badan penasehat dan ia mendirikan kabinet menterimenteri. Tahun 1927 ia membentuk komite yang beranggotakan 40 orang untuk melaporkan
padanya setiap masalah-masalah yang diajukan.
Kebijakan yang telah diambil membawa hasil. Besarnya pemasukan yang didapat dari
sektor bea cukai membuat pemasukannegara bertambah dan membuat pihak bendahara
Negara mampu mengimbangi budget tanpa perlu bantuan hutang dari Negara lain atau luar
negeri. Tetapi disatu sisi tindakan Prajadhipok dengan kebijkan pemotongan gaji dan
pengurangan pegawai besar-besaran menumbuhkan rasa kecewa dan rasa terpukul, terutama
perwira muda karena diberlakukannya kebijaksanaan itu.Di bidang perdagangan sebagian
besar masih dipegang oleh orang asing terutama orang Cina.Dengan demikian keadaan
ekonomi tetap memprihatinkan dan jumlah penganggur semakin meningkat. Prajadhipok
menyadari bahwa sistem monarki absolut tidak akan berlangsung lama.
Kejatuhan harga dunia yang pengaruhnya lebih tajam mulai dirasakan tahun itu, yang
secara tidak langsung memukul Thailand dalam beberapa hal. Bulan Maret 1931 Menteri
Keuangan harus menyatakan adanya penarikan budget defisit 11 juta tikal. Karena Thailand
gagal dalam mendapatkan pinjaman ke Paris dan New York, Thailand terpaksa mengadakan
penghematan drastis.Termasuk pemotongan gaji, yang memukul kelas perwira-perwira
muda.Mereka sudah tak puas karena jalan untuk memajukan golongan menengah telah
diblokir oleh barisan rapat para pangeran yang memonopoli semua posisi-posisi penting dan
menentukan. Banyak daripadanya telah menerima gagasan-gagasan demokratis melalui
pendidikan di Eropa dan menjadi tidak sabar dengan cara kerja absolutisme kerajaan itu. pada

waktu yang sama raja pergi keluar negeri untuk berobat, suatu persaingan yang tinggi diantara
kalangan Menteri Urusan Perang, Pangeran Bovaradej dan Menteri Perdagangan, Pangeran
Purachatra, mengenai masalah ekonomi. Bulan Oktober 1931, hal ini menimbulkan krisis
politik kelas satu yang menggoyahkan kepercayaan umum pada lembaga yang dikuasai para
pangeran itu.
Tahun 1932 unsur-unsur ketidak puasan ini mendapat pimpinan Luang Pradist
Manudharm atau Banomyong, seorang ahli hokum yang cerdas sekali.Ia membuat rencana
konstitusi dan dengan bantuan militer menguasai Bangkok dan melakukan revolusi tak
berdarah tanggal 24 Juni 1932. Raja yang jauh dari Ibu kota itu kembali dalam dua hari
kemudian, dan dengan segera menerima konstitusi sementara itu. dengan ini ia kehilangan
semua hak kecuali hak memberikan pengampunan, para pangeran dikeluarkan dari jabatanjabatan menteri dan angkatan perang dan Partai rakyat. Mereka menunjuk senat 70 orang
yang terus menunjuk Dewan Eksekutif dengan kekuasaan menyusun undnag-undang dan
mengawasi menteri-menteri. Senat akan digantikan oleh suatu assembly yang dipilih setelah 6
bulan berjalan, dan aka diadakan pemilihan umum setelah 10 tahun.
Karenannya, pemerintah dapat dikatakan sebagai diktaktor kepartaian.Tetapi Pridi dengan
letnan-letnannya tidak mengambil alih pemerintahan yang sebenarnya.Mereka memilih Pya
Manopakorn sebagai Presiden Dewan Eksekutif itu.penunjukannya, seperti Presiden Senat itu,
sebelumnya seorang Menteri Pendidikan merupakan suatu percobaan untuk meredakan
pendapat yang konservatif. Politik Pya Manopakorn, dengan kemauannya sendiri, merupakan
kelanjutan politik penghematan pemerintahan sebelum revolusi. Tak seorang pun puas,
terdapat suasana berbahaya dan ketika kaum komunis dan Cina-Cina pendukungnya mencoba
mendapatkan keuntungan atas situasi itu, pemerintah melakukan politik menindas kembali.
Pengaruh kaum konservatif dalam pemerintahan tampak jelas sekali pada bulan
Desember 1932, ketika konstitusi baru dengan sebuah komite bekerja sejak revolusi
dituangkan. Komite itu harus bekerja sama dengan raja yang melibatkan sebagai suatu
dokumen, karena kekuasaan raja jauh lebih besar daripada waktu mula-mula diumumkan.
Legislative mengawasi keuangan dan mempunyai kekuasaan untuk memberi interprestasi
pada konstitusi diberikan pada suatu badan assembly yang beranggotakan 156 orang, dimana
sebagai tindakan sementara raja menunjuk setengahnya.Pemilihan diadakan setiap 4 tahun.

Calon untuk anggota harus orang Thailand, sedikitnya berusia 21 tahun, bertempat tinggal di
daerah hokum Thailand dan snaggup memenuhi persyaratan pendidikan tertentu.
Menteri-menteri harus bertanggung jawab terhadap assembly, tetapi apabila suatu suara
kepercayaan diajukan maka pemberian suara harus terjadi tidak pada hari perdebatan.Raja
memegang 3 peranan penting.Ia dapat membubarkan assembly tanpa persetujuan kabinet,
tetapi pemilihan baru harus dilakukan dalam tempo 3 bulan. Tak hanya itu, ia diberi hak veto
atas rancangan undnag-undnag tetapi assembly dapat meniadakan vetonya pada pemberian
suara yang kedua. Ia juga dapat menyatakan keadaan darurat selama ditanda tangani oleh
menteri-menteri yang bertanggung jwab.
Pembatasan atas pangeran-pangeran juga diringankan.Sementara itu mereka dilarang
menduduki jabatan-jabatan sebagai deputi-deputi atau menjabat sebagaimenteri, mereka
dibolehkan bertindak sebagai penasehat atau menduduki jabatan diplomatik.Tahun 1933 suatu
tindakan selanjutnya dilaksanakan atas permintaan raja.Ini merupakan percobaan yang cepat
atas pembangunan politik.Raja telah menolak suatu petisi dengan sejumlah perwira angkatan
bersenjata dan pejabat-pejabat tinggi untuk membentuk Partai Nasional dan konsekuensinya
dapat mengakibatkan suatu tekanan yang ditimbulkan atas Partai Rakyat.
Pya Manopakorn sekarang berusaha membebaskan pemerintahannya dari pengawasan
Pridi dan kelompoknya. Suatu rencana ekonomi nasional yang tidak diterbitkan yang
disiapkan oleh Pridi dinyatakan bersifat komunis dan dengan coup yang dipersiapkan matang
ia dipaksa disingkirkan. Tetapi Pay Manopakorn terlalu jauh bertindak dengan menjalankan
suatu penghentian siding assembly tetapi tidak membubarkannya dan melakukan sikap
dictator yang lebih-lebih lagi.
Timbulnya bahaya dan persiapan perdana menteri untuk pembersihan yang lain
menyebabkan 4 orang pemimpin angkatan bersenjata dengan Pay Bahol sebagai kepalanya,
menawarkan pengunduran diri mereka. Semua itu adalah teman-teman Pridi dalam revolusi
tahun sebelumnya.Ketika pengunduran diri mereka diterima, mereka merencanakan coup
detat lain, dan tanggal 20 Juni 1933 dilaksanakan dengan sukses.Pay Manopakorn mundur
dan tempatnya diambil alih oleh Pay Bahol. Raja yang kebetulan tidak berada di ibu kota

karena coup detat itu, kembali dan dalam pidatonya di radio yang pertama kali mendesakkan
bahwa perdamaian dan kesatuan harus dipertahankan.
Dalam bulan September Pridi, yang telah menjadi kekasih rakyat ini, diizinkan kembali
dan disambut dengan antusias.Suatu komisis dibentuk untuk menyelidiki tuduhan komunisme
yang telah dilakukan terhadapnya, dalam bulan Maret 1934 laporannya benar-benar membuat
dia bersih.Sementara dalam bulan Oktober 1933 pemerintahan menghadapi pemberontakan
militer yang serius, dipimpin oleh sepupu raja yakni Pangeran Bovarej.Kekuatan pemberontak
ini menduduki Pelabuhan Udara Don Muang.
Pada bulan Januari 1934 Pridi pergi keluar negeri dengan dalih perlunya perawatan mata
oleh dokter spesialis.Aristrokasi tidak lagi pulih, sebaliknya gerakan kelas menengah beru
menjadi terbagi dengan timbulnya persaingan antara Pibun Songgram, yang telah naik
menjadi penting dengan pengembalian ketertiban pada waktu pemberontakan militer
itu.Pibun juga seorang pemimpin suatu kelompok yang bersifat militer dan nasionalis.
Bulan November

1933 suatu pemilihan

umum

diadakan

agar pemerintahan

menedapatkan aksi yang menentang pemberontakan dengan propaganda yang intensif.Kurang


dari 10 daerah pemilihan memberikan suara secara komparatif sedikit calon yang
menawarkan diri untuk pemilihan itu dan Pridilah yang mendapatkan kursi terbesar. Bulan
September 1934 suatu krisis terjadi ketika assembly mengeluarkan peraturan untuk ,eratifisir
sebuah perjanjian yang tertunda-tunda dengan Inggris. Kabinet mengundurkan diri, namun
kepopuleran Pya Bahol begitu besar hingga ia kembali berkuasa dengan kementerian yang
disusun kembali.
Segera setelah krisis lain berhembus yang mengakibatkan raja turun tahta. Ia memveto
suatu rancangan undang-undang yang hendak menghapuskan perlunya tanda tangannya
ditambahkan untuk suatu hukuman mati, dan ketika assembly menolak ia mengancam akan
turun tahta kecuali persyaratannya terpenuhi, yakni pengunduran diri assembly dan pemiliha
umum baru. Usahanya itu gagal dan pada bulan Maret 1935 ia mengundurkan diri. Sepupunya
Ananda Mahidol, seorang murid berusia10 tahundi Swiss diproklamirkan sebagai raja dan
dewan perwalian yang terdiri dari 3 anggota yang dibentuk untuk bertindak semasa ia kecil.

Prajadhipok dan isterinya mengumumkan hendak bertempat tinggal di Inggris dengan gelar
Pangeran Sukhodaya.
Pemerintahan Pya Bahol mengadakab lagi pemilihan umum lain tahun 1937, tetapi
assembly baru ditentukan untuk mendesak kemauanya. Dan bulan Desember 1938 ia
mengeluarkan amandemen menentang pemerintah terhadap prosedur untuk mengeluarkan
suatu penjelasan yang lebih terperinci mengenai budget. Hal ini menyebabkan pengunduran
Dewan itu dan Pay Bahol mengumumkab pengunduran dirinya.Undang-undang Pendapatan
Pridi yang dikeluarkan bulan Maret 1939 merupakan usaha untuk meringankan ikatan rakyat
petani dan membebaskannya dari ketergantungan pada lintah darat.Banyak pajak yang
dibebankan pada golongan pedagang.
Manifestasi lain yang menarik chauvinism baru itu adalah perubahan nama resmi bagi
negara Siam menjadi Thailand bulan Juni 1939. Namun, orang-orang Siam lebih senang dan
bangga negerinya disebut Muang Thai yang berarti negeri kebebasan. Dalam masalahmasalah kuar negeri usaha-usaha yang dilakukan untuk mendapatkan konsesi dari kekuasaan
Barat menggunakan cara ancaman akan dilakukannya kerjasama dengan Jepang. Aliran
Thailand yang bergejolak telah tumbuh, terutama di Indi-China Perancis dan permintaan
diajukan untuk pengembalian daerah-daerah Kamboja dan Laos.
Pecahnya Perang Dunia kedua pada tahun 1939 dan konsentrasi yang terus menerus di
Inggris dan Perancis atas ancaman Jerman memungkinkan Pibun secara resmi disebut
perantara dengan adanya bantuan Jepang ia mendapatkan kembali daerah yang banyak.
Setelah Jepang mendarat di Indo-China, suatu perjanjian militer Thai-Jepang ditanda tangani
dalam bulan Desember 1940 dan dalam bulan Maret berikutnya Perancis menyerahkan
provinsi-provinsi Kamboja, Battambang dan Siemreap bersama dengan daerah Laos disebelah
Barat sungai Mekong.
Sebagai ganti mengadu domba Jepang melawan Barat, sekarang Pibun menjual dirinya
pada Jepang.Ia dan sekelompok kecil perwira tinggi menerima kerjasama dengan Jepang,
akibat yang wajar dari yang telah ia lakukan pada pernyataan perang oleh Thailand terhadap
Inggris dan Amerika Serikat pada tanggal 25 Januari 1942.

MYANMAR
1. PERGERAKAN NASIONAL MYANMAR
Gerakan-Gerakan Nasionaslisme Di Myanmar
1. GCBA (General Council of Burmese Association)
GCBA di Myanmar adalah gerakan nasionalisme pertama pada tahun 1919 yang dengan
terang-terangan menentang Inggris. Pengaruh agama Budha di Myanmar sangat mendalam.
Karena itu pendeta-pendeta Budha sangat besar pengaruhnya dalam masyarakat Myanmar.
Kesalahan colonial Inggris di Myanmar adalah bahwa inggris mengabaikan agama Budha.
GCBA terbukti merupakan suatu kesatuan daksi dari nasionalisme di Myanmar. Karena
masyarakat Myanmar berdasarkan atas agama Budha, maka rakyat Myanmar mendukung
GCBA. Segera berkobarlah semangat nasionalisme yang anti kekerasan dan juga anti Inggris.
Inggris terpaksa mengadakan pemerintahan diarki tahun 1921 seperti di India. Karena
Myanmar pun menolaknya, maka pada tahun 1929 Inggris membentuk Panitia Simon
(Simon

Comminission)

untuk

menyelidiki

keadan

Myanmar. Commission

Simon

menganjurkan:
1. Myanmar dipisahkan dari India dan menjadi Negara yang berdiri semdiri
2. Harus dibentuk UUD bagi Myanmar
Anjuran Simon commission ini diterima dan ditetapkan dalam Round Table Conference On
Burma pada tahun 1931. Pada tahun 1933 bersamaan dengan Government Of India Act:
Inggris mengeluarkan Government Of Burma Act yang menetapkan; Myanmar dipisahkan
dari India dan menjadi kolioni tersendiri dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Kepala Negara seorang gubernur Inggris dengan kekuasaan eksekutif
2. Kekuasaan legislative dipegang oleh parlemen yang anggotanya dipilih oleh rakyat
3. Daerah Sha, Karen, Kachin, Chin, merupakan Excliuded Areas yang diprintahkan
langsung oleh Gubernur. Parlemen myanmar tidak mempunyai hak atas daerah daerah.
4. Gubernur mempunyai hak veto
5. Government Of Burma Act ini berlaku pada tahun 1937. Meskipun government Of
Burma Act ini tidak memuaskan karena gubernur masih memegang kekuasaan yang
terlampau besar namun ada akibatnya yang baik yakni karena parlemen berhasil:
a. mengadakan perubahan dalam agrarian yaitu sewa tanah diturunkan dan pembagian
tanah yang lebih adil
b. mengadakan pembatasan imigrasi dari India hingga pekerja-pekerja dan kaum
pertengahan Myanmar tidak merasa terdesak lagi.
2. Sinyetha (Partai Rakyat Miskin)

Perbedaan pendapat di tubuh GCBA mengenai pemisahan Burma dengan India


mengakibatkan Dr. Ba Maw menyatakan mengundurkan diri karena mendukung tindakan
Inggris yang memisahkan Burma dengan India dan membentuk organisasi baru yang bernama
partai Sinyetha (Poor Mans Party) pada tahun 1936. Partai Sinyetha juga mendukung
pengurangan pajak, perlindungan petani dari rentenir, dan mendukung wajib belajar.
3. Students Union
Pergerakan nasional di Burma mulai tampak ada kemajuan ketika terbentuknya
Students Union pada tahun 1935 di Universitas Rangoon, dari pemilihan ini terpilih Ko Nu
sebagai ketua dan Aung San, Kyaw Nyein, Kyaw Myint, Ba Swe, M.A Raschis, Tun Win, dan
Thein Pe sebagai anggota komitenya. Organisasi ini adalah organisasi pertama yang kritis
terhadap pemerintah kolonial Inggris, tujuan dibentuknya organisasi ini sudah sangat jelas
yaitu ingin membebaskan Burma dari kolonialisme Inggris. Organisasi ini tidak menyianyiakan setiap peluang yang ada, diantara peluang itu adalah kampanye yang dilakukan oleh
Students Union. Dari kampanye yang dilakukan maka Ko Nu sebagai ketua dipenjara, dan
Aung san di keluarkan dari Universitas Rangoon. Tak berselang lama, para anggota Students
Union mengadakan rapat untuk berdemonstrasi menolak tindakan pemerintahan Inggris
terhadap Ko Nu dan Aung San. Beberapa bulan kemudian Ko Nu di bebaskan dari penjara
dan Aung San diperbolehkan kembali belajar di Universitas Rangoon.
4. Do Bama Asiayone (Kita Bangsa Myanmar)
Do Bama Asiayone dikenal dengan partai Thakin didirikan tahun 1935. Partai ini
dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa yang kemudian berkembang meliputi seluruh
pelajar dan pemuda-pemudi. Tujuan partai Thakin yaitu menuntut kemerdekaan penuh
bagI Myanmar. Sifat gerakannya revolusioner, patriotis dan sosialistis (lazim bagi
gerakan pemuda anti imperialisme). Mereka ini sangat membenci tindakan-tindakan
korup dari The old line politicians, terdorong oleh perasaan anti inggris dan terpikat
dengan janji-janji Jepang, banyak pemimpin parta Thakin ini bekerajasama dengan
Jepang selama pendudukan Jepang di Myanmar. Tetapi penindasan rakyat Jepang
terahadap rakyat Myanmar membuka mata mereka dan akhirnya pemuda-pemudi Thakin
ini dengan diam-diam membentuk The Anti Fascist Peoples Freedom League pada
tahun 1944. AFPFL (organisasi pembebasan anti fasis) ini dibawah pimpinan Thakin
Aung San (U Aung San) dan Thakin Than Tun (pemimpin komunis di Myanmar). AFPFL
dibawah Aung San memberontak terhadap Jepang dan menghantamnya, hingga

mempermudah Inggris untuk mengalahkan Jepang. Kemudian AFPFL menuntut


kemerdekaan penuh dari Inggris dengan kekuatan senjata.
2. PENDUDUKAN JEPANG DI MYANMAR

A. Penjajahan Jepang di Myanmar


Inggris bukanlah satu-satunya negara yang ingin menguasai Myanmar. Jepang merupakan
salah satu negara yang menawarkan bantuan dan sekaligus memberikan iming-iming untuk
memberikan kemerdekaan dari Inggris. Aung san yang saat itu menjadi tokoh masyarakat
akhirnya menyetujui hal ini dan segera mengirimkan delegasinya ke Jepang untuk meminta
bantuan. Sementara itu, Jepang ternyata memiliki tujuan lain atas tindakan yang mereka
lakukan. Jepang juga menginginkan sumber daya alam yang terkandung di Myanmar untuk
bahan peralatan perang Jepang.
Dengan bantuan Jepang, akhirnya Myanmar dapat lepas dari tangan Inggris. Hal ini
membuat rakyat Myanmar semakin percaya terhadap Jepang, apalagi janji yang diberikan
Jepang sangat menggiurkan, yaitu sebuah kemerdekaan untuk Myanmar. Tapi janji yang
dijanjikan Jepang ternyata hanyalah suatu strategi untuk mengulur waktu sehingga Jepang
mempunyai waktu untuk menguras habis sumber daya di Myanmar.
Hal ini mendorong rakyat Myanmar untuk melakukan perlawanan. Aung san dan
beberapa tokoh lain berusaha untuk menyatukan Myanmar menjadi satu dan melakukan
perlawanan terhadap Jepang. Perlawanan ini tentunya tidak berjalan lancar, karena beberapa
masalah dalam melawan Jepang, akhirnya Myanmar memutuskan untuk meminta bantuan
lagi. Kali ini Myanmar meminta bantuan kepada Inggris yang dahulunya juga pernah
menjajah tanah Myanmar. Pada tahun 1945 perang antara Myanmar dan Jepang pun pecah.
Berkat bantuan Inggris dan juga Jepang yang dalam kondisi memburuk karena Perang Dunia
II, Myanmar akhirnya berhasil mengusir Jepang dari Myanmar.

B. Pendudukan Jepang pada sektor politik


Pemerinah jepang mendirikan angkatan Tentara Pembebasan Burma (Myanmar) (BIA=
Burmese Independence Army) yang digunakan bagi tujuan mereka sendiri. Pada keseluruhan
ada golongan yang sangat membenci Inggris yaitu golongan Pongyi dan keanggotaan TPB ini
mencapai 30.000 orang. Pada bulan Maret 1942, Jepang mendirikan perkumpulan Baho di
bawah pimpinan Thakin Tun Oke yang bertujuan mencoba mengadakan peraturan bagi
pasukan TPB itu. Tetapi usaha yang dilakukan oleh Thakin Tun Oke dan Thakin Ba Sein
mengalami kegagalan dan golongan Baho hanya berkembang di Rangoon saja. Pada bulan
juni di buentuk instansi kekuasaan pentadbiran pusat jepang kemudian TPB yang sudah tidak

disenangi oleh jepang dibubarkan. Kemudian jepang mendirikan badan baru yaitu Angkatan
Tentara Pertahanan Burma (BDA= Burmese Defence Army) dan sebagai pemimpinnya adalah
Mayor Jenderal Aung San. Ketidakpuasan jepang terhadap pertadbiran Baho dan memanggil
Dr. Ba Maw supaya mengetuai pentadbiran awam di bawah kekuasaan tentara jepang.
Kebanyakan kaum nasionalis bekerja sama dengan dengan jepang agar mereka mencapai
perjuangan kebangsaan dan menikmati kekuasaan politik. Orang-orang Thakin banyak yang
bekerja sama dengan Jepang, kecuali Thein Pe dan Soe. Thein Pe ke luar negeri yaitu ke india
dan Soe menyusun barisan griliya bagi menantang jepang. Kemudian jepang mulai
memberikan perhatian pada Myanmar untuk memberikan kemerdekaan burma agar jepang
mendapatkan kepercayaan orang-orang myanmar kembali. Tetapi dengan satu syarat yaitu
myanmar ikut dalam perang melawan sekutu, maka tanggal 1 agustus 1943, pertadbiran
tentara jepang meyerahkan kekuasaannya kepada kerajaan Myanmar. Dan Myanmar
mengumumkan perang terhadap Inggris dan Amerika. Dr. Ba Maw di tunjuk menjadi adipati
(kepala negara) dan juga menjadi perdana menteri. Kabinet di bentuk dan mereka
bertanggung jawab kepada perdana menteri. Dewan penasehat pun di bentuk untuk
memberikan nasehat mengenahi perkara-perkara penting dalam pertadbiran. Pemimpin
Thakin yang menjadi menteri negara dalam pertadbiran Ba Maw itu menjadi dangat
berpengaruh dan didukung oleh rakyat Myanmar. Dengan berpengaruhnya mereka, maka
dengan usaha memperjuangkan kebangsaan Myanmar banyak rakyat mendukung dan rela
mati untuk melindungi tokoh pergerakan mereka yaitu Aung San dan Than Tun. Aung San dan
Jenderal Ne Win mengubah Angkatan Tentara Pertahanan Burma menjadi Angkatan Tentara
Kebangsaan Burma dalam tahun 1943. Angkatan ini diajarkan agar membenci orang Jepang
dan menjalankan perang griliya untuk menentang jepang. Untuk menentang Jepang, golongan
Thakin menyusun Liga Pembebasan Rakyat Anti-Jepang dalam tahun 1944, bila jepang benar
benar kalah dalam perang itu dan LPARJ menjalankan sabotase yang luas. Dalam bulan Maret
1945, ATKB yang dipimpin oleh Than Tun dan Aung San menyerang Jepang.
3. MASA PEMERINTAHAN NEWIN
A. KondisiMyanmar Masa Pemerintahan Ne Win
Setelahberhasilmenggulingkan U Nu, Ne Win membentukDewanRevolusioner. Dewan
Revolusioner tersebut mengeluarkan tiga dokumen yang mengkawinkan tradisi militer,

pandangan nasionalsime, dan sosialisme. Tiga dokumen itu disebut Jalan Rakyat Burma
Menuju Sosialisme. Isinya:
1. Jalan Burma menujusosialisme sebagai landasan ideologi yang mewujudkan
sosialisme ala Ne Win (30 April 1962).
2. Konstitusi periode peralihan: perwujudannya yang menjadi dasar hokum dari
terbentuknya Partai Program Sosialis Burma (BSPP) atau Lanzin Party (4 Juli 1962).
3. Sistem hubungan manusia dengan lingkungannya: filsafat Partai Program Sosialis
Burma dan menjadi landasan teoritis bagi system politik dan ekonomi (17 Januari
1963).
BSPP dianggap sebagai satu-satunya partai politik. Myanmar di bawah Ne Win
menerapkan pemerintahan militer. Namun ia berusaha agar pemerintahannya tidak terlihat
militeristis. Ia mencoba memadukan berbagai pandangan yang hidup di Myanmar seperti
Budhisme, Sosialisme, dan Isolasionisme sebagai jalan bagi rakyat Myanmar. Haluan yang
dimaksud untuk membawa rakyat kearah kemakmuran justru berakibat sebaliknya. Di sector
perekonomian Ne Win begitu anti asing dan menerapkan system isolasi.
Kondisi tersebut diperparah dengan kebijakan ekonomi yang bersifat kaku, sehingga
pendapatan perkapita yang pada tahun 1960 berjumlah US$ 670 turun menjadi US$ 190 tahun
1987. Banyak rakyat yang menderita. Myanmar yang dahulu menjadi negara pengekspor
beras berubah mejadi negara pengimpor beras. PBB bahkan menggolongkan Myanmar
sebagai 10 negara termiskin di dunia saat itu.
Pemerintah Myanmar juga kurang memperhatikan pembangunan dalam negeri. Jalannya
pendidikan pun tersendat. Hal ini membuat pemerintahan Ne Win dianggap tidak
mampumencapai hasil yang diharapkan. Di samping itu, Myanmar juga tidak kunjung
menunjukkan tanda-tanda kemajuan sehingga mulai timbul protes di berbagai kalangan.
Namun hal itu dapat dibungkam dengan cepat.
Pada September 1987 muncul demonstrasi besar di Rangoon akibat kebijakan pemerintah
untuk menurunkan nilai mata uang Kyat secara besar-besaran. Akibatnya, harga barang terlalu
tinggi sedangkan nilai mata uang merosot drastis. Krisis ekonomi dan politik yang makin
parah semakin menciptakan kekacauan di Myanmar. Setidaknya ada tiga kejadian yang
mengawali pergolakan ini, yaitu:
1. Aksi serentetan demonstrasi antara tanggal 12-18 Maret 1988 yang dilakukan
mahasiswa Myanmar atas tindakan aparat pemerintahan Ne Win.

2. Munculnya surat terbuka dari Brigjen Aung Yi tanggal 12 Mei 1988 dan yang
kedua tanggal 8 Juni 1988. Surat itu berisi keprihatinan atas langkah-langkah
buruk pemerintah dalam mengatasi krisis dan keperihatinan terhadap penyiksaan
serta penahanan mahasiswa.
3. Pengunduran diri Jendral Ne Win sebagai ketua partai BSPP.
Akibat dari pergolakan yang terjadi, Myanmar juga terancam disintegrasi akibat ancaman
pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok komunis, suku, dan etnisminoritas yang ada di
Myanmar. Hal tersebut makin diperparah dengan sikap watak suku Burma (mayoritas) yang
isolatefe dan eksklusif terhadap sekelilingnya.
4. PERJUANGAN MENEGAKAN DEMOKRASI
A. Perjuangan Demokrasi Myanmar
Pada awalnya Myanmar merupakan negara kolonial Inggris dan Jepang. Selama dijajah
Inggris dibawah kepemimpinan Aung San melakukan perlawan kepada Inggris bekerja sama
dengan Jepang dengan menggunakan angkatan bersenjata BIA (Burma Independence Amry).
Akan tetapi setelah berhasil, Jepang tetap menguasai Myanmar. Kemudian BIA tampil
kembali bersama AFPL (Anti Fascist Peoples Freendom) dan Inggris melakukan perlawanan
mengusi Jepang.
Dengan kekalahan Jepang tentara Inggris mulai mencoba memerintah Myanmar kembali,
tapi Inggris tidak berhasil karena memiliki tantangan dari AFPL. AFPL menuntut
kemerdekaan kepada Inggris, sehingga pada April 1947 diadakan pemilihan badan legislatif
pertama yang dimenangkan oleh Aung San partai AFPL, kemudian Inggris menunjuk jendral
Aung San sebagai Perdana Menteri Myanmar. Namun sebelum kemerdekaan tercapai, Aung
San dan para pemimpin lainnya terbunuh pada 19 April 1947. Kemudian Inggris menunjuk U
Nu Wakil Presiden AFPL sebagai Perdana Menterri Myanmar. Akhirnya Myanmar
memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 4 Januari 1948.
Pada awal kepemimpinannya Perdana Menteri U Nu disibukan dengan tantangan dari
gerakan komunis dan gereakan bersenjata dan itu semua membuat pemerintahan yang
semakin tak terkendali, karena tidak dapat mengatasi masalah tersebut U Nu mengalihkan
kekuasaan kepada pihak militer yang dipimpin oleh jendral Ne Win. Dan Ne Win terpilih
menjadi pemimpin kabinet yang baru dan berjanji akan taat pada konstitusi dan demokrasi
serta akan melaksanakan pemilu yang bebas dan adil pada tahun 1960.

Setelah mengabdi selama 2 tahun, Jendral Ne Win memenuhi janjianya untuk


melaksanakan pemilu pada bulan Februari 1960. Pada pemilu kali ini dimenangkan oleh U Nu
kembali dan pada masa kekuasaannya situasi Politik Myanmar masih belum stabil. Keadaan
negara yang kacau menjadi peluang Ne Win untuk melakukan kudeta (tanpa darah) yang
berlangsung pada 2 Maret 1962. Ne Win melancarkan kudeta pada pemerintahan U Nu
dengan bantuan para aparat militer dan sekutunya dengan alasan pemerintah sipil tidak dapat
mengendalikan keadaan negara dan tidak dapat memajukan perekonomian. Kemudian Ne Win
mendirikan pemerintahan militer otoriter dan memerintah dengan gaya diktator. Rakyat tidak
diperkenankan memilih pemimpinnya sendiri karena semua keputusan harus melalui
pemerintahan militer di Rangoon. Disinilah awal runtuhnya demokrasi Myanmar.
B. Gerakan Perlawanan Prodemokrasi (Aung San Suu Kyi)
Kekacauan negara yang terjadi pada masa pemerintahan Ne Win, ketika rakyat merasa
perlu adanya kehidupan yang demokratis, mengakibatkan meledaknya gerakan demonstrasi
besar-besaran disepanjang tahun 1988. Pengunduran diri Ne Win sebagai pemimpin yang
diktator dan terjadinya aksi protes yang meluas di hampir seluruh wilayah Myanmar dan
mengakibatkan terbunuhnya ribuan jiwa rakyat Myanmar, menjadi awal bagi Suu Kyi untuk
segera melakukan perlawanan terhadap militer dan melakukan perubahan yang berhak
didapatkan oleh rakyat Myanmar.
Aung San Suu Kyi adalah salah satu tokoh prodemokrasi di Myanmar. Putri dari The
Founding Father Myanmar Aung San ini telah menjadi tokoh pejuang demokrasi bagi rakyat
Myanmar sejak tahun 1988. Sebagai putri dari pahlawan kemerdekaan, Suu Kyi mewariskan
keberanian orang tuanya dalam membela dan memajukan bangsanya sampai titik darah
penghabisan. Suu Kyi lahir di Yangon, kemudian disebut Rangoon, pada tanggal 19 Juni
1945. Dia dididik di Myanmar dan India, di mana ibunya duta besar, dan kemudian belajar di
Oxford dan kemudian bekerja dengan PBB di New York. Pada tahun 1972, ia menikah dengan
Michael Aris, seorang akademisi Oxford. Dia tinggal sebagian besar hidupnya di luar negeri
sebelum kembali ke rumah keluarga di Yangon Inya Lake pada bulan April 1988 untuk
merawat ibunya yang sakit. Kebencian kekuasaan militer mendidih ke dalam protes prodemokrasi di seluruh negeri. Gagasan-gagasan politiknya bagi perubahan negara tidak jarang
menjadikan posisi militer terancam dan menyebabkan dirinya menjadi tahanan politik militer.

Aksi politik Aung San Suu Kyi untuk pertama kali dilakukan pada tanggal 26 Agustus
1988 dengan melakukan pidato di lapangan depan Pagoda Shwedagon, Yangoon. Aung San
Suu Kyi sangat lantang menyuarakan kebebasan dan demokrasi, sehingga perjuangannya
tidak hanya dinilai oleh masyarakat Myanmar, masyarakat intenasional juga memberi
perhatian lebih terhadap perjuangannya. Suu Kyi banyak menerima penghargaan dari dunia
internasional seperti penghargaan HAM Tharaf, Nobel Perdamaian, dan Simon Bolivar Prize.
Sejak keterlibatannya dalam NLD sebagai sekretaris jenderal, Suu Kyi mulai berjuang
atas nama partai. National League for Democracy (NLD) berdiri dengan tujuan menciptakan
pemerintahan yang demokratis dengan cara mengusahakan perubahan sosial dan politik yang
terjamin perdamaian, HAM dan kesejahteraan. Suu Kyi dan NLD mulai mendapat perhatian
rakyat Mynmar akibat tujuannya untuk memberikan angin demokrasi yang selama ini tidak
dipenuhi oleh pemerintahan militer. Perjuangan tokoh-tokoh demokrasi di dalam NLD
menjadikan NLD sebagai partai paling populer di Myanmar. Namun kediktatoran militer
menjadi penghalang bagi NLD dalam mencapai tujuannya.
Pada penyelenggaraan pemilu multipartai tahun 1990, sebenarnya NLD lah yang menjadi
pemenang, namun pemerintah militer dalam naungan SLORC tidak mengakui kemenangan
NLD tesebut karena berbagai alasan. Alasanya karena Aung San Suu Kyi terlalu lama tinggal
di Amerika dan memiliki suami berkewarganegaraan Amerika. Setelah itu Aung San Suu Kyi
dan sejumlah besar anggota NLD pun menjadi tahanan politik karena menyerukan boikot
nasional terhadap proses ekonomi. Baru pada 10 Juli 1995, Aung San Suu Kyi dan tokoh
NLD lainnya dibebaskan dan diperbolehkan melakukan aktifitas kembali namun tetap berada
di bawah kepemimpinan Aung Shwe yang merupakan anggota militer yang ditunjuk SLORC.
Namun kebebasan yang dirasakan Aung San Suu Kyi dan anggota NLD yang lain hanya
bersifat sementara. Pada 30 Mei 2003 Suu Kyi yang dinilai sebagai ancaman bagi supremasi
militer kembali berstatus sebagai tahanan rumah dan baru dibebaskan pada 13 November
2010.
Myanmar kembali menggelar pemilihan umum, Minggu, 1 April 2012. Ini merupakan
momen bersejarah bagi negara yang dikuasai junta militer selama puluhan tahun dan ini
merupakan pemilu ketiga negara yang dikuasai junta militer itu dalam setengah abad. Karena
itu. pemilu ini dinilai sebagai hal penting terhadap proses demokratisasi di Myanmar,

terutama bagi Aung San Suu Kyi yang berusaha meyakinkan dunia Barat untuk mengakhiri
sanksi terhadap Myanmar.
VIETNAM
1. PERANG KEMERDEKAAN VIETMAN
1. VIET MINH (Liga Kemerdekaan Vietnam) dan DMH (Dong Minh Hoi)
Di Vietnam perjuangan melawan Perancis terdapat dua kelompok yang sulit untuk besatu,
yaitu kelompok nasionalisme dan komunisme. Salah satu organisasi kaum komunis adalah Viet
Minh dan dari kaum nasionalisme adalah DMH.
a. Viet Minh
Gerakan komunis berhasil memimpin rakyat untuk berjuang melawan kaum penjajah.
Dengan demikian pergerakan kemerdekaan Vietnam tidak bisa di lepaskan dari komintern. Sebab
dalam komintern inilah segala kegiatan dan jaringan-jaringan gerakan komunisme seluruh dunia
diatur. Komintern yang di dirikan oleh Lenin pada tahun 1919 ini merupakan kubu yang sangat
berfungsi dan banyak memberi bantuan kepada gerakan komunis untuk memperjuangkan
kemerdekaan.
Pada 3 Februari 1930, setelah kelompok-kelompok komunis disatukan oleh Ho Chi Min,
berdirilah partai komunis Vietnam. Mengenai tujuan dari revolusi perjuangan mereka
dirumuskan oleh partai komunis Vietnam. Ada 10 point. Dan tiga yang pokok adalah:
Melawan imperalis Perancis, feodalisme dan kaum reaksioner kelas kapitalis Vietnam
Membentuk negara Vietnam merdeka secara penuh.
Mendirikan pemerintahan yang terdiri dari kaum buruh, petani dan militer.
Viet Minh adalah suatu organisasi yang didirikan oleh Ho Chi Minh pada tahun 1941 yang
beraliran komunis. Ho Chi Minh berusaha mengajak kaum nasionalis untuk bergabung dalam
organisasi ini, namun kaum nasionalis merasa bahwa organisasi ini dikuasai oleh kaum komunis
lalu kaum nasionalis mendirikan suatu organisasi yang di namakan DMH (Dong Minh Hoi) atau
juga disebut liga revolusioner Vietnam. Organisasi ini bersifat nasionalis.
2. MASA KEKUASAAN DAN BERAKHIRNYA JEPANG DI VIETNAM
Jepang membentuk negara boneka di Vietnam. Bao Dai, setelah Jepang pergi dari Vietnam
Bao Dai secara resmi menyerahkan kekuasaan kepada Ho Chi Minh. Pada tanggal 2 September
1945 di Hanoi, Ho Chi Minh secara umum mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam ketika para
komunis di Vietnam Selatan, Viet Minh mengikutsertakan pemerintahan kolonial Perancis pada
perang gerilya. Setelah deklarasi kemerdekaan tersebut, Ho Chi Minh sebagai pemimpin

pergerakkan kemerdekaan di Vietnam Utara memutuskan untuk bernegosiasi dengan Perancis.


Alasannya adalah pada waktu itu lebih dari 180.000 pasukan nasionalis Cina di Vietnam Utara.
Pada tahun 1946 setelah Perancis membangun kembali pemerintahan kolonial mereka di
Vietnam, para nasionalis Cina setuju diberlakukannya kembali pasukan Cina dari Vietnam. Hal
ini telah terjadi, Viet Minh menambah serangan mereka terhadap kekuatan kolonial Perancis dan
memasangnya juga di bagian Selatan dan Utara Vietnam.
Setelah jepang meninggalkan Vietnam Perancis ingin kembali menguasainya, perancis
melakukan serangan ke Saigon lalu melakukan perdamaian dengan suatu perundingan yang
dilakukan di Dalat dan Fontainebleau Cochin-China berubah status menjadi negara tersendiri (1
Juni 1946), pada konferensi yang dilakukan di Dalat. Perwakilan Vietminh tidak diundang.
Akhirnya fase ini berlanjut denga fase pertempuran. Untuk mempertahankan dan ingin mendapat
kekuasaanya kembali di Vietnam, Perancis melakukan perlawanan dengan melakukan
pengeboman. Perlawanan ditandai dengan pengeboman Haipong (daerah Vietminh) pada 23
nopember 1946, lebih dari 1000 korban yang meninggal dalam peperangan tersebut, ini
merupakan awal dari kemerdekaan.
3. AKHIR PERANG KEMERDEKAAN VIETNAM
Pada tanggal 20 November 1953 kekuatan kolonial Perancis menempatkan sebanyak
16.000 pasukannya di Dien Bien Phu, yaitu sebuah lembah pegunungan di sepanjang perbatasan
Vietnam Utara dan Laos Utara. Militer Perancis percaya bahwa Lembah Dien Bien Phu yang
memiliki panjang 19 km dan lebar 13 km aman dari serangan Viet Minh. Namun, pasukan
Vietnam dibawah pimpinan Jenderal Giap, menyiapkan penyerangan ke Dien Bien Phu. Dengan
bantuan lebih dari 200.000 orang kuli pengangkut barang. Kesalahan dari tentara Perancis adalah
sangat meremehkan kekuatan musuh dan tidak memandang situasi dan kondisi rakyat Vietnam
secara integral. Keteledoran itu dimanfaatkan oleh jendral Vo Nguyan Giap untuk melakukan
serangan tingkat terakhir. Pada bulan Maret 1954, Viet Minh memulai penyerangan terhadap
pasukan Perancis di Dien Bien Phu. Pada tanggal 7 Mei 1954, mereka berhasil menaklukan pusat
komando Perancis. 9.500 anggota pasukan kolonial Perancis ditangkap. Pada tanggal 30 Januari
1945 tentara Viet Minh kembali. Perancis semakin terdesak. Kondisi yang seperti ini memaksa
Blok barat untuk masuk ke meja perundingan. Disini Viet minh mendapat dorongan dari RRC
dan Rusia untuk menerima di adakannya perundingan. Pada Februari 1954 empat besar yaitu
Amerika, Inggris, Perancis, dan Inggris bertemu di Berlin untuk merundingkan masalah Korea

dan Indochina. Sebagai realisasi diadakan konferensi Jenewa pada 26 April 1954. Mendengar
sebentar lagi akan diadakan perundingan, Jendral Vo Nguyen Giap mempersiapkan pasukan
untuk melakukan serangan ke benteng Dien Bien Phu. Serangan ini merupakan taktik terakhir
dalam perang Gerilya dan saat itulah pertempuran berkobar di Dien Bien Phu.
Peristiwa ini melahirkan Perundingan Jenewa pada tahun 1954 yang berisikan hal-hal berikut ini:
1.

Pasukan Vietnam ditarik mundur dari Vietnam Selatan, Laos, dan Kamboja.

2.

Vietnam dipecah menjadi dua bagian, yaitu Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Vietnam
Utara beribukota di Hanoi dengan Ho Chi Minh sebagai kepala negaranya. Sedangkan
Vietnam Selatan beribukota di Saigon di bawah pimpinan Raja Bao Dai.

3.

Pemilu diadakan pada tahun 1956 untuk menentukan kehendak rakyat terhadap status
Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, serta antara Kamboja dan Laos.
Pasukan Perancis ditarik mundur dari seluruh Vietnam.
2. VIETNAM SELATAN SESUDAH PERJANJIAN GENEWA
A. AwalMulaterjadinyaPerjanjian Geneva Tahun 1954.
KeputusanPerancisuntukmemulihkankekuasaan
colonial

di

Vietnam

menyebabkanperundinganmenjadimustahil.Setelahkonfliksenjatapecah

di

Haiphong

padaakhir 1946, berlangsunglahperanggerilyaselama 8 tahunantara Viet Minh yang


dipimpinkomunisdenganPerancis yang bersekutudengansekutunasionalis anti komunis.
SetelahPeranciskalah,
anataraPerancis,
Inggris,
China,
Uni
Soviet,
AmerikaSerikatdanpemerintahan Viet Minh sertaBao Dai bertemu di Geneva, Swiss
untukmengadakansuatuperundingandamai.

Pada

29

Juli

1954,

persetujuanpenghentianpermusuhanditandatanganiPerancisdan republic Demokratik Vietnam.


Denganpenandatangananpersetujuantersebut,

berakhirlahpemerintahankolonialPerancis

di

Vietnam.
Isi daripersetujuan Geneva sendiri,berisi6 babdan 47 pasalantara lain:
1. MengakuikemerdekaanpenuhKamboja, Laosdan Vietnam.
2. Pembagian Vietnam menjadidua (utaradanselatan) denganbatasgarislintang 17 LU.
3. PerancisdanRepublik Vietnam Selatan menarikpasukan yang ada di Utara.
4. RepublikDemokrasi Vietnam harusmenarikpasukandariseluruh Vietnam.
5. RepublikDemokrasi Vietnam yang menguasaidaerah Utara diakuisecara de facto.
6. Untukpenyatuan
Vietnam
akandiadakanpemilupadabulanJuli
1956
dibawahpengawasanKomisiPengawasanInternasional.
Persetujuan

Geneva

memerintahkangencatansenjataantarapasukankomunisdannasionalis

1954
anti

komunis.Takhanyaitu,

adanyapembagianduawilayah

di

Vietnam

pun

mencerminkanbahwawilayah Utara dikuasaiolehkaumkomunissedangkanwilayah Vietnam


Selatan dikuasaiolehkaumnasionalis anti komunis.
B. Wilayah Vietnam Selatan setelahPerjanjianGenewa.
Ho Chi Minh, tokohPergerakanNasional Vietnam dantokoh yang berkeinginan Vietnam
bersatutidakmaumenerimahasilPerjanjian Geneva. Proklamasi yang disampaikanoleh Ho Cin
Minh

di

Hanoi

pada

mengalamiperlawananberatdaritentaraJepangdantentara
jumlahnyaribuan.Barupadatahun
Phuolehtentararakyat
legendarisitu,

Vietnam

1954,
di

Utara

colonial

bawahpimpinanJenderal
di

1945

Perancis,

yang

denganjatuhnyaBentengDien

Perancismengakuikemerdekaan

dipecahmenjadidua.Yang

September

bawahPresiden

Vo Nguyen

Giap

Vietnam.Namun,
Ho

Chi

Bien
yang

Vietnam

Minh.Yang

Selatan

dibawahboneka-bonekaPerancisdanAmerika, yaitu Raja Bao Dai dan Ngo Dinh Diem.


Dalampersetujuan
Geneva
ini,
pemerintah
Vietnam
Selatan
menolakdiadakannyapemilihanumumyang
tujuannyauntukmenyatukanwilayahutaradanselatandalamsuatupemerintahan.Setelah

1954,

parapemimpinkomunis Vietnam Utaramengknsolidasikankekuatanmerekadanmelaksanakan


program

reformasi

agrarian.Selamaperiodeini,

melarikandiridariutarakeselatan.Sementaraitu,
pindahkeutara.Padaakhir

sekitar

450.000

beberapamantanpejuang

1950-anparapemimpin

Viet

Vietnam

orang
Minh
Utara

mengaktifkankembalijaringangerilyakomunis yang masihtersisa di selatan.


PadaDesember 1961, ataspermintaanPresiden Vietnam Selatan Ngo Dinh Diem, Presiden
Kennedy mengirimpenasehatke Vietnam Selatan untukmembantumenghadapi Viet Cong.
AmerikaSerikatmemperkuatdukungannyasetelahterjadipergolakanpolitik

di selatan,

yang

mengakibatkanPresiden Diem meninggalpada November 1963. Seranganterhadap Viet Cong


padaJanuari 1968 melemahkaninfrastrukturViet Cong danmeruntuhkanmorilAmerikadan
Vietnam Selatan.PadaJanuari 1969, AmerikaSerikat, pemerintah Vietnam Utara dan Selatan
serta

Viet

Cong

untukpertamakalinyamengadakanpertemuanpendahuluanuntukperundingandamai di Perancis.
Setelahdicapainyapersetujuanpemerintah
Vietnam
Selatan
danperwakilanpolitikpasukankomunis di Selatan, sertapemerintahrevolusionersementara,
berusahamerebutkendali di sejumlahtempat di Vietnam Selatan.

Padaawal

1975,

pasukanmiliter

memulaiseranganbesarkeselatan.Pihakkomunismerebut
danmenyebabkanjatuhnyapemerintahan

regular
Saigon

Vietnam
pada

30

Vietnam

Utara
April

1975

Selatan.Hal

inijugamenyebabkanperesmiankeduawilayah Vietnam bersatu, pada 2 Juli 1976.


3. TERBENTUKNYA REPUBLIK SOSIALIS VIETNAM
Perjanjian Jenewa (Juli 1954) yang mengakhiri perlawanan terhadap Perancis dan
menjadi era kebebasan bagi bangsa Vietnam, di mana Vietnam Utara di bawah Presiden Ho
Chi Minh bertransisi menuju sosialisme sedangkan Vietnam Selatan sementara dikendalikan
oleh Perancis dan Amerika yaitu Raja Bao Dai dan Ngo Dinh Diem hingga pelaksanaan
pemilihan umum.
Pada tanggal 27 Januari 1973 setelah melalui berbagai perundingan, maka
ditandatanganilah Persetujuan Paris yang disetujui oleh Amerika Serikat, Vienam Utara,
Vietnam Selatan dan Viet Chong, yang mengakibatkan 350.000 tentara Amerika harus ditarik
mundur. Sebenarnya persetujuan ini adalah salah satu strategi Viet Chong dan Vietnam Utara
untuk menguasai seluruh wilayah Vietnam yang dahulu pernah dikatakan oleh Ho Chi
Minh.Setelah runtuhnya rezim Saigon pada bulan April 1975, maka kemudian berita-berita
tentang penyatuan ke dua Vietnam mulai tersebar ke pelosok negeri.
Sebagai langkah nyata untuk segera melakukan penyatuan ke dua Vietnam, maka
perwakilan dari Vietnam Utara yang dipimpin oleh Truong Chinh melakukan pertemuan
dengan perwakilan dari Vietnam Selatan yang dipimpin oleh Pham Hung. Pertemuan tersebut
dilakukan di Saigon dan telah menghasilkan keputusan yang telah disetujui oleh kedua pihak.
Isi keputusan tersebut antara lain:
a. Pembentukan Panitia yang akan mengadakan Pemilu secara Nasional,
b. Penetapan tanggal Pemilihan Umum,
c. Penetapan tanggal sidang pertama dari hasil Pemilu.
Di tengah-tengah usaha menyatukan Utara dan Selatan melalui pemilu, ternyata bonekaboneka selatan meminta bantuan militer Amerika. Amerika memberikannya berdasarkan garis
politik global membendung gelombang komunisme dari Uni Soviet dan RRC ke Vietnam.
Sejak itu sampai tahun 1973 mesin perang raksasa Amerika tergelincir ke dalam perang
gerilya Vietnam. Akhirnya tentara Amerika harus ditarik mundur, dan Vietnam bersatu
terlangsana pada tahu 1975.

Pada tanggal 25 April 1976 diselenggarakanlah Pemilu Nasional Vietnam, yang memilih
para wakil rakyat untuk mengisi 492 kursi dalam pemerintahan. Dua bulan setelah Pemilu,
terbentuklah negara kesatuan dengan nama Republik Sosialis Vietnam (RSV) yang ber
ibukota di Hanoi. Keyakinan Ho Chi Minh akhirnya dapat terwujud setelah sekian lama
berjuang untuk menyatukanVietnam.
Republik Sosialis Vietnam adalah sebuah negara partai tunggal. Peran utama terdahulu
Partai Komunis disertakan kembali dalam semua organ-organ pemerintah, politik dan
masyarakat. Hanya organisasi politik yang bekerjasama atau didukung oleh Partai Komunis
diperbolehkan ikut dalam pemilihan umum. Ini meliputi Barisan Tanah Air Vietnam
(Vietnamese Fatherland Front)merupakan koalisi politik dari berbagai organisasi politik dan
sosial dari semua kelas, strata sosial, kelompok etnis, dan agama, termasuk kumpulan
masyarakat Vietnam yang berada di luar negeri. Koalisi ini dilakukan secara sukarela dengan
tujuan mengumpulkan dan membangu satu-kesatuan masyarakat Vietnam secara menyeluruh,
memperkuat konsensus politik dan spiritual rakyat, mendorong orang untuk mempromosikan
kekuasaan mereka, melaksanakan pedoman dan kebijakan CPV, dan untuk mematuhi
konstitusi dan undang-undang, partai serikat pedagang dan pekerja. Meskipun negara tetap
secara resmi berjanji kepada sosialisme sebagai doktrinnya, makna ideologi tersebut telah
berkurang secara besar sejak tahun 1990-an. Presiden Vietnam adalah kepala negara dan
secara nominal adalah panglima tertinggi militer Vietnam, menduduki Dewan Nasional untuk
Pertahanan dan Keamanan (Council National Defense and Security). Perdana Menteri
Vietnam adalah kepala pemerintahan, mengepalai kabinet yang terdiri atas 3 deputi perdana
menteri dan kepala 26 menteri-menteridanperwira-perwira.
Perpolitikan Vietnam dominan dengan aktivitas Partai Komunis Vietnam. Sistem
negaranya terdiri dari Majelis Nasional (National Assembly), presiden negara, pemerintah,
Mahkamah Agung Rakyat (Supreme Peoples Court), Prokurator Agung Rakyat (Supreme
Peoples Procuracy), dan otoritas lokal. Eksistensi koalisi politik menjadi hal yang cukup
menarik dalam dinamika perpolitikan. Konfederasi buruh dan berbagai organisasi lainnya
pun turut berpartisipasimemperkuatnegaratersebut.

Majelis Nasional adalah perwakilan tertinggi rakyat, organ tertinggi kekuasaan negara
Republik Sosialis Vietnam, serta satu-satunya organ yang memiliki hak-hak

konstitusional dan legislatif. Fungsi Majelis Nasional sangat seperti memutuskan


kebijakan dasar dalam dan luar negeri, tugas sosial-ekonomi, pertahanan dan keamanan
nasional, prinsip-prinsip utama yang mengatur negara, hubungan sosial dan aktivitas
warga, berwenang menciptakan konstitusi dan hukum. Namun yang paling utama adalah
fungsi dalam legislatif yakni sebagai penentu isu-isu penting negara dan melaksanakan

kekuasaan pengawasan tertinggi dari semua kegiatan negara.


Presiden dipilih oleh Majelis Nasional dari deputi, sebagai perwakilan resmi Republik
Sosialis Vietnam secara internal maupun eksternal. Presiden dibantu oleh Wakil Presiden,
Kantor Presiden, serta Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional. Wakil Presiden
diusulkan oleh Presiden dan dipilih oleh Majelis Nasional dari deputi Majelis Nasional.
Wakil Presiden memiliki hak untuk menggantikan tugas dan fungsi penting ketika

Presiden berhalangan melaksanakannya, namun tentu atas izin resmi dari Presiden.
Pemerintah merupakan organ eksekutif Majelis Nasional, dan lembaga negara
administrasi tertinggi Republik Sosialis Vietnam. Pemerintah bertanggung jawab atas
tugas yang diberikan oleh Negara di bidang politik, sosial-ekonomi, pertahanan nasional,
keamanan dan hubungan eksternal, mempertahankan operasi efektif aparat negara dari
pusat ke tingkat masa, menjamin penghormatan untuk, dan pelaksanaan Konstitusi dan
undang-undang, menjamin stabilitas dan meningkatkan kesejahteraan serta kehidupan
spiritual rakyat. Komponen Pemerintah terdiri dari Perdana Menteri, Wakil Perdana

Menteri, dan Menteri dan kepala lembaga setingkat menteri.


Mahkamah Agung Rakyat (Supreme Peoples Court of Vietnam) merupakan organ
peradilan tertinggi Republik Sosialis Vietnam yang terdiri dari Hakim Ketua, Wakil
Ketua Majelis Hakim, juri dan sekretaris pengadilan. Struktur dari Mahkamah Agung
Rakyat yakni Majelis Hakim, Komisi Hakim, Pengadilan Militer Pusat, Pengadilan
Kriminal, Pengadilan Negeri, Pengadilan Banding, dan staf pembantu. Prinsip utama
dalam operasional pengadilan hukum diterapkan selama sidang dan para hakim serta juri

independen mematuhi hukum dengan seksama.


Prokurator Agung Rakyat (Supreme Peoples Procuracy) bertugas mengamati
pelaksanaan dan menghormati Konstitusi dan hukum oleh Kementerian, lembaga
setingkat menteri, organ Pemerintah, pemerintah daerah, organisasi sosial dan ekonomi,
angkatan bersenjata, pasukan keamanan dan semua warga negara, serta untuk

mempraktikan hukum sesuai yang ditetapkan oleh undang-undang dan memastikan


penegakan hukum
Otoritas lokal terdiri dari Dewan Rakyat di tingkat provinsi, kabupaten, kota, lingkungan
dan komune; Komite Rakyat di berbagai tingkatan dengan tugasnya masing-masing;
Komite Masyarakat Lokal yang merupakan pengadilan rakyat tingkat distrik; Prokurator
Masyarakat Lokal di tingkat provinsi dan kabupaten. Kesemuanya bertugas menegakkan
dan menjalankan hukum sesuai dengan Undang-Undang dan Konsitusi negara.
4. INVASI VIETNAM KE KAMBOJA
Pada tanggal 9 November 1953, Perancis melepaskan Kamboja untuk menjadi sebuah
negara merdeka. Dan Raja Norodom Sihanouk kembali ke Kamboja. Pada tahun 1955, untuk
melepaskan dirinya dari segala bentuk pelarangan yang di buat untuk raja oleh perundangundangan Kamboja, Norodom Sihanouk melepaskan tahta kerajaan yang di turunkan dari
ayahnya, Norodom Suramarit, dan memasuki dunia politik. Selama pemilihan berturut-turut,
pada tahun 1955, 1958, 1962 dan 1966, partai dari Norodom Sihanouk selalu memenangkan
setiap bangku di parlemen. Pada bulan Maret 1969, Pesawat Amerika mulai membom
Kamboja untuk menghalangi jejak dan penyusupan dari tentara Vietkong (pasukan komunis
Vietnam). Pengeboman tersebut berakhir sampai tahun 1973.
Pada tahun 1970, ketika Norodom Sihanouk sedang berada di Moskow dalam sebuah
kunjungan kenegaraan, Marsekal Lon Nol melakukan sebuah kudeta di Phnom Penh. Lon Nol
menghapus bentuk kerajaan dan menyatakan Kamboja sebagai sebuah negara republik.
Norodom Sihanouk memilih untuk tetap tinggal di Peking, ia memimpin pemerintahan dalam
pelarian dan Bangsa Khmer Merah merupakan bagian dari pemerintahan tersebut. Selama
beberapa tahun, Khmer Merah makin lama makin menaklukkan dan menguasai wilayah
Kamboja, sampai pada akhirnya hanya Phnom Penh yang tersisa di bawah kekuasaan
pemerintahan Lon Nol.
Khmer Merah (seringkali disebut Khmer Rouge, yang merupakan namanya dalam bahasa
Perancis) adalah cabang militer Partai Komunis Kampuchea (nama Kamboja kala itu). Khmer
adalah nama suku bangsa yang mendiami negara ini. Pada awal 1976 pihak Khmer Merah
menahan Sihanouk dalam tahanan rumah. Pemerintah yang ada saat itu segera diganti dan
Pangeran Sihanouk dilepas dari jabatannya sebagai kepala negara. Kamboja menjadi sebuah

republik komunis dengan nama "Kamboja Demokratis" (Democratic Kampuchea) dan Khieu
Samphan menjadi presiden pertama.
Pada tanggal 17 April 1975, Khmer Merah masuk ke dalam kota Phnom Penh. Dalam
beberapa hari, mereka menghukum mati sejumlah besar bangsa Kamboja yang tadinya
bergabung dengan rezim Lon Nol. Lebih dari 2 juta penduduk Phnom Phen terpaksa keluar
dari kota dan pindah kedaerah-daerah penampungan. Phnom Phen menjadi kota mati. Seluruh
perekonomian di seluruh negeri berubah di bawah garis keras komunis. Uang sudah hilang
dari peredaran. Akibat dari semua itu adalah terjadinya kelaparan dan wabah penyakit di
daerah tersebut.
Selama 44 bulan, lebih dari jutaan orang Kamboja menjadi korban dan teror dari
kelompok Khmer Merah. Para pengungsi yang berhasil lari ke Thailand menceritakan
kekejaman dari hal yang paling buruk yaitu menghukum mati anak-anak, karena hanya
mereka tidak lahir dari keluarga petani dan juga orang Vietnam atau orang asli Cina turut
diteror dan dibunuh. Siapapun yang disangka merupakan orang yang berpendidikan, atau
menjadi angota dari keluarga pedagang pasti di bunuh dengan cara dipukul sampai mati,
bukan dengan ditembak untuk menghemat amunisi mereka.Pada tanggal 25 Desember 1978,
setelah beberapa pelanggaran terjadi di perbatasan antara Kamboja dan Vietnam, tentara
Vietnam menyerang Kamboja.
Pada dasarnya konflik antara Vietnam dengan Kamboja yang terjadi yang menyebabkan
timbulnya invasi oleh Vietnam kepada Kamboja antara lain karena di sebabkan oleh beberapa
faktor antara lain :

Warisan sejarah yaitu menyangkut adanya batas-batas wilayah yang tidak jelas antara

Vietnam dengan Kamboja


Adanya keinginan dari Vietnam untuk memegang kendali atas Indocina termasuk

didalamnya adalah Kamboja dan Laos


Adanya perpecahan antara dua kekuatan besar komunis di dunia yaitu Uni Soviet dan

Cina
Kamboja selalu menjadi daerah rebutan antara Thailand dan Vietnam. Diantara keduanya

tidak ingin Kamboja sebagai abut loncatan untuk menyerang negaranya


Adanya kepentingan, dengan Hanois Blue Print ingin menjadikan Hanoi sebagai sentral
kekuatan bagi seluruh Indocina

Intervensi Vietnam Ke Kamboja tahun 1978 dimulai ketika pada 3 Desember 1978,
Vietnam mangumumkan bahwa pasukan pemberontak Kamboja telah mendirikan KNUFNS
(Front Persatuan Nasional Bagi Keselamatan Kamboja) dibawah Heng Samrin. Invasi itu
dilakukan pada 25 Desember 1978. Invasi menyebabkan Phnom Penh jatuh dan berhasil
menggulingkan rezim Pol pot yang pro Beijing pada 7 januari 1979. Selain itu, di saat yang
sama KNUFNS memebentuk Dewan Revolusioner Rakyat Kamboja (KPRC) dan tanggal 11
Januari 1979 memproklamasikan diri sebagai Republik Rakyat Kamboja.
Dalam invasi tersebut banyak terjadi perlawanan dari rakyat Kamboja. Perlawanan
tersebut dilakukan fraksi-fraksi perlawanan yang mana fraksi-fraksi tersebut dibagi menjadi
beberapa kelompok yaitu :
Kelompok Khmer Merah pimpinan Pol Pot
Kelompok anti komunis pimpinan Son Sam atau Khmer Peoples National liberation

front (KPNLF)
Kelompok Sihanouk
Pada invasi tersebut pasukan Kamboja dapat dikalahkan dengan mudah, dan Pol Pot lari

ke perbatasan Thailand. Pada Januari 1979, Vietnam membentuk pemerintah boneka di bawah
Heng Samrin, yang terdiri dari anggota Khmer Merah yang sebelumnya melarikan diri ke
Vietnam untuk menghindari penmbasmian yang terjadi sebelumnya pada 1954. Banyak
anggota Khmer Merah di Kamboja sebelah timur yang pindah ke pihak Vietnam karena takut
dituduh berkolaborasi. Pol Pot berhasil mempertahankan jumlah pengikut yang cukup untuk
tetap bertempur di wilayah-wilayah yang kecil di sebelah barat Kamboja. Pada saat itu,
Tiongkok, yang sebelumnya mendukung Pol Pot, menyerang, dan menyebabkan Perang
Tiongkok-Vietnam yang tidak berlangsung lama.
Pada tanggal 7 Januari 1979, pasukan Vietnam menduduki Phnom Penh. Pemerintahan
Vietnam yang bersahabat ditempatkan disana, Heng Samrin, seorang tentara gerilya Khmer
Merah merupakan orang yang pertama kali melarikan diri ke Vietnam, memproklamirkan diri
sebagai Presiden. Pemerintahan baru Kamboja tersebut tidak di akui dan di kenal oleh negaranegara Barat. Pada tahun 1982, Tiga kelompok partai yang masih bertahan di Kamboja yaitu
Khmer Merah, dan Front Kemerdekaan Nasional, Netral, Kedamaian dan Kerja Sama
Kamboja (FUNCINPEC) dari pangeran Sihanouk, serta Front Nasional Kebebasan Orangorang Khmer yang dipimpin oleh perdana menteri yang terdahulu yaitu Son Sann, membentuk
koalisi yang bertujuan untuk memaksa keluar tentara Vietnam.

Pada tahun 1989, pasukan tentara Vietnam mundur dari Kamboja. Pada tanggal 23
Oktober 1991, pemerintahan sebelumnya ditempatkan di Phnom Penh oleh pemerintahan
Vietnam, bersama-sama dengan koalisi dari partai yang masih bertahan, di antara partai itu
terdapat Khmer Merah yang menandatangani perjanjian damai di Paris, Perancis. Tiga minggu
kemudian, tepatnya pada tanggal 14 November 1991, Pangeran Sihanouk kembali ke Phnom
Penh. Penduduk kota menyambutnya dengan sangat antusias.
5. KONFLIK VIETNAM KAMBOJA
a.
Konflik Vietnam Kamboja
Pada dasarnya konflik antara Vietnam dengan kamboja yang terjadi yang menyebabkan
timbulnya invasi oleh Vietnam kepada kamboja antara lain karena di sebabkan oleh beberapa
faktor antara lain : Warisan sejarah yaitu menyangkut adanya batas-batas wilayah yang tidak
jelas antara Vietnam dengan kamboja, adanya keinginan dari Vietnam untuk memegang kendali
atas Indocina termasuk didalamnya adalah Kamboja dan Laos, adanya perpecahan antara dua
kekuatan besar komunis di dunia yaitu Uni Soviet dan Cina, Kamboja selalu menjadi daerah
rebutan antara Thailand dan Vietnam, adanya kepentingan, dengan Hanois Blue Print ingin
menjadikan Hanoi sebagai sentral kekuatan bagi seluruh Indocina
Intervensi Vietnam Ke Kamboja tahun 1978 dimulai ketika pada 3 Desember 1978,
Vietnam mangumumkan bahwa pasukan pemberontak Kamboja telah mendirikan KNUFNS
(Front persatuan nasional bagi keselamatan kamboja) dibawah Heng Samrin. Invasi itu dilakukan
pada 25 Desember 1978. Invasi menyebabkan Phnom Penh jatuh dan berhasil menggulingkan
rezim Pol pot yang pro Beijing pada 7 januari 1979. Selain itu, di saat yang sama KNUFNS
memebntuk dewan revolusioner rakyat kamboja (KPRC) dan tanggal 11 januari 1979
memproklamasikan diri sebagai republic rakyat Kamboja.
Dalam invasi yang terjadi banyak terjadi perlawanan dari rakyat Kamboja. Perlawanan
tersebut dilakukan fraksi-fraksi perlawanan yang mana fraksi-fraksi tersebut dibagi menjadi
beberapa kelompok yaitu:

Kelompok Khmer Merah pimpinan Pol Pot

Kelompok anti komunis pimpinan Son Sam atau Khmer Peoples National
liberation front (KPNLF)

Kelompok Sihanouk

Pada akhir 1978, Vietnam menginvasi Kamboja. Pasukan Kamboja dikalahkan dengan
mudah, dan Pol Pot lari ke perbatasan Thailand. Pada Januari 1979, Vietnam membentuk
pemerintah boneka di bawah Heng Samrin, yang terdiri dari anggota Khmer Merah yang
sebelumnya melarikan diri ke Vietnam untuk menghindari penmbasmian yang terjadi
sebelumnya pada 1954. Banyak anggota Khmer Merah di Kamboja sebelah timur yang pindah ke
pihak Vietnam karena takut dituduh berkolaborasi. Pol Pot berhasil mempertahankan jumlah
pengikut yang cukup untuk tetap bertempur di wilayah-wilayah yang kecil di sebelah barat
Kamboja. Pada saat itu, Tiongkok, yang sebelumnya mendukung Pol Pot, menyerang, dan
menyebabkan Perang Tiongkok-Vietnam yang tidak berlangsung lama.
Pol Pot, musuh Uni Soviet, juga memperoleh dukungan dari Thailand dan AS. AS dan
Tiongkok memveto alokasi perwakilan Kamboja di Sidang Umum PBB yang berasal dari
pemerintahan Heng Samrin. AS secara langsung dan tidak langsung mendukung Pol Pot dengan
menyalurkan bantuan dana yang dikumpulkan untuk Khmer Merah. Jumlah korban jiwa dari
perang saudara, konsolidasi kekuasaan Pol Pot dan invasi Vietnam masih dipertentangkan.
Sumber-sumber yang dapat dipercaya dari pihak Barat menyebut angka 1,6 juta jiwa, sedangkan
sebuah sumber yang spesifik, seperti jumlah tiga juta korban jiwa antara 1975 dan 1979,
diberikan oleh rezim Phnom Penh yang didukung Vietnam, PRK. Bapa Ponchaud memberikan
perkiraan sebesar 2,3 jutameski jumlah ini termasuk ratusan ribu korban sebelum pengambil
alihan yang dilakukan Partai Komunis.
Amnesty International menyebut 1,4 juta; sedngkan Departemen Negara AS, 1,2 juta.
Khieu Samphan dan Pol Pot sendiri, masing-masing menyebut 1 juta dan 800.000. Pasca
pemerintahan Partai Komunis Pol Pot Pol Pot mundur dari jabatannya pada 1985, namun
bertahan sebagai pemimpin de facto Partai Komunis dan kekuatan yang dominan di dalamnya.
Pada 1989, Vietnam mundur dari Kamboja. Pol Pot menolak proses perdamaian, dan tetap
berperang melawan pemerintah koalisi yang baru. Khmer Merah bertahan melawan pasukan

pemerintah hingga 1996, saat banyak pasukannya yang telah kehilangan moral mulai
meninggalkannya. Beberapa pejabat Khmer Merah yang penting juga berpindah pihak.
Pol Pot memerintahkan eksekusi terhadap rekan dekatnya Son Sen dan sebelas anggota
keluarganya pada 10 Juni 1997 karena mencoba mengadakan persetujuan dengan pemerintah
(kabar tentang ini tidak diketahui di luar Kamboja selama tiga hari). Pol Pot lalu melarikan diri
namun berhasil ditangkap Kepala Militer Khmer Merah, Ta Mok dan dijadikan tahanan rumah
seumur hidup. Pada April 1998, Ta Mok lari ke daerah hutan sambil membawa Pol Pot setelah
sebuah serangan pemerintah yang baru. Beberapa hari kemudian, pada 15 April 1998, Pol Pot
meninggal - kabarnya akibat serangan jantung. Jasadnya kemudian dibakar di wilayah pedesaan,
disaksikan oleh beberapa anggota eks-Khmer Merah.
Pada tanggal 9 November 1953, Perancis melepaskan Kamboja untuk menjadi sebuah
negara merdeka. Dan Raja Norodom Sihanouk kembali ke Kamboja. Pada tahun 1955, untuk
melepaskan dirinya dari segala bentuk pelarangan yang di buat untuk raja oleh perundangundangan Kamboja, Norodom Sihanouk melepaskan tahta kerajaan yang di turunkan dari
ayahnya, Norodom Suramarit, dan memasuki dunia politik. Selama pemilihan berturut-turut,
pada tahun 1955, 1958, 1962 dan 1966, partai dari Norodom Sihanouk selalu memenangkan
setiap bangku di parlemen. Pada bulan Maret 1969, Pesawat Amerika mulai membom Kamboja
untuk menghalangi jejak dan penyusupan dari tentara Vietkong. Pengeboman tersebut berakhir
sampai tahun 1973.
Pada tahun 1970, ketika Norodom Sihanouk sedang berada di Moskow dalam sebuah
kunjungan kenegaraan, Marsekal Lon Nol melakukan sebuah kudeta di Phnom Penh. Lon Nol
menghapus bentuk kerajaan dan menyatakan Kamboja sebagai sebuah negara republik. Norodom
Sihanouk memilih untuk tetap tinggal di Peking, ia memimpin pemerintahan dalam pelarian dan
Bangsa Khmer Merah merupakan bagian dari pemerintahan tersebut. Selama beberapa tahun,
Khmer Merah makin lama makin menaklukkan dan menguasai wilayah Kamboja, sampai pada
akhirnya hanya Phnom Penh yang tersisa di bawah kekuasaan pemerintahan Lon Nol.
Pada tanggal 17 April 1975, Khmer merah masuk ke dalam kota Phnom Penh. Dalam
beberapa hari, mereka menghukum mati sejumlah besar bangsa kamboja yang tadinya bergabung
dengan rezim Lon Nol. Lebih dari 2 juta penduduk Phnom Phen terpaksa keluar dari kota dan

pindah kedaerah-daerah penampungan. Phnom Phen menjadi kota mati. Seluruh perekonomian
di seluruh negeri berubah di bawah garis keras komunis, Uang sudah hilang dari peredaran.
Akibat dari semua itu adalah terjadinya kelaparan dan wabah penyakit di daerah tersebut.
Selama 44 bulan, lebih dari jutaan orang kamboja menjadi korban dan teror dari
kelompok khmer merah. Para pengungsi yang berhasil lari ke Thailand menceritakan kekejaman
dari hal yang paling buruk yaitu Menghukum mati anak-anak, karena hanya mereka tidak lahir
dari keluarga petani dan juga orang vietnam atau orang asli Cina turut di teror dan di bunuh.
Siapapun yang di sangka merupakan orang yang berpendidikan, atau menjadi angota dari
keluarga pedagang pasti di bunuh dengan cara di pukul sampai mati, bukan dengan di tembak
untuk menghemat amunisi mereka.
Pada tanggal 25 Desember 1978, setelah beberapa pelanggaran terjadi di perbatasan
antara kamboja dan vietnam, tentara Vietnam menyerang kamboja. Pada tanggal 7 Januari 1979,
pasukan Vietnam menduduki Phnom Penh. Pemerintahan Vietnam yang bersahabat ditempatkan
disana, Heng Samrin, Seorang tentara gerilya Khmer merah merupakan orang yang pertama kali
melarikan diri ke vietnam, memproklamirkan diri sebagai Presiden. Pemerintahan baru Kamboja
tersebut

tidak

di

akui

dan

di

kenal

oleh

negara-negara

Barat.

Pada tahun 1982, Tiga kelompok partai yang masih bertahan di Kamboja yaitu Khmer Merah,
dan Front kemerdekaan nasional, netral, kedamaian dan kerja sama Kamboja (FUNCINPEC)
dari pangeran Sihanouk, serta Front nasional kebebasan orang-orang Khmer yang dipimpin oleh
perdana menteri yang terdahulu yaitu Son Sann, membentuk koalisi yang bertujuan untuk
memaksa keluar tentara Vietnam.
Pada tahun 1989, pasukan tentara Vietnam mundur dari Kamboja. Pada tanggal 23
Oktober 1991, pemerintahan sebelumnya ditempatkan di Phnom Penh oleh Pemerintahan
Vietnam, bersama-sama dengan koalisi dari partai yang masih bertahan, di antara partai itu
terdapat Khmer Merah yang menandatangani perjanjian damai di Paris, Perancis. Tiga minggu
kemudian, tepatnya pada tanggal 14 November 1991, Pangeran Sihanouk kembali ke Phnom
Penh. Penduduk kota menyambutnya dengan sangat antusias.
6. PENYELESAIAN MASALAH KAMBOJA
A. Konflik Kamboja

Pada tahun 1970 telah terjadi pergantian kekuasaan dan sekaligus bentuk
pemerintahan negara Kamboja dari kerajaan menjadi republik. Pangeran Norodom
Sihanouk, raja yang sedang berkuasa saat itu sedang melakukan kunjungan kenegaraan
ke Paris di istana terjadi pergeseran kekuasaan oleh kelompok militer dibawah pimpinan
Letjen Lon Nol dan ternyata ini disokong oleh Amerika Serikat. Saat itu pula Kamboja
menghadapi pemberontakan gerilyawan komunis Khmer Merah pimpinan Kieu
Samphan. Alasan Amerika mendukung tindakan kaum militer karena ia menilai bahwa
Sihanouk terlalu lamban dalam menumpas gerakan komunis Khmer Merah. Dengan
demikian Lon Nol mengumumkan bahwa dirinya sebagai presiden Kamboja. Khmer
Merah yang merasa tidak puas semakin meningkatkan geriliyanya dan dengan terangterangan didukung Amerika Serikat, oleh sebab itu dengan bantuan Vietnam Utara, RRC,
dan Rusia untuk menggulingkan rezim Lon Nol. Menyadari keadaan yang semkin kritis
maka Lon Nol melalui PMnya Long Boret pada 6 Juli 1974 untuk membuka perundingan
dengan para pemberontak namun hal tersebut tidak ditanggapi oleh pihak Khmer Merah.
Pada 17 april 1975 rezim Lon Nol terpaksa turun kekuasaan karena
pemberontakan semkain meningkat rezim komunis muncullah kekuasaan baru dibawah
kaum Khmer Merah pimpinan Kieu Samphan. Kemudia komunis Khmer Merah
memunculkan

Democratic Kampuchea (DK) yang dipimpin oleh Pol Pot sebagai

perdana menteri Kamboja. Ternyata setelah pergantian kekuasaan ini belum memenuhi
ambisi komunis Vietnam karena setelah berhasil tidak mengikuti jejak komunis Vietnam ,
Pol Pot yang didukung RRC tidak bersedia untuk kompromi adn menunjukan sikap anti
terhadap Vietnam. Rezim Khmer Merah dibawah pimpinan Pol Pot dikenal sebagai rezim
yang kaku,keras, brutal dan banyak memusuhi rakyat. Pada kenyataanya Pol Pot
melakukan pelanggaran hak asasi rakyat bahkan ia melakukan pembunuhan terhadap
rakyat karena menolak kekuasaan komunis. Contoh lain tindakan Pol Pot yaitu mengusir
dan menggiring penduduk yang mendiami kota Phnom Penh ke daerah pinggiran atau
desa.
Konstalasi keadaan tersebut mengundang rasa tidak puas dikalangan masyarakat
dan memunculkan gerakan untuk menentang sikap dan tindakan pemerintahan yang
kejam yaitu pada 3 Desember 1978 terbentuknya gerakan pembebasan Front Persatuan

Penyelamatan Rakyat Kamboja kemudian dinamakan KNUFNS yang dipimpion oleh


Heng Samrin yang didukung oleh Vietnam. Ternyata hal ini semakin memperrtajam
konflik perbatasan. Dan akhirnya pada 7 Januari 1979 KNUFNS berhasil menggulingkan
rezim Pol Pot namun setelah jatuhnya Pol Pot kekuasaan dikendalikan oleh tentara
Vietnam. Sehingga mengundang reaksi keras dari negar-negara di kawasan serta
komunitas internasional. Internasionalisasi konflik Kamboja tidak hanya mengganggu
stabilitas keamanan kawasan, juga menentang norma-norma dan hukum inetrnasional
sehingga menganggu perdamaian dunia.
B. Upaya penyelesaian konflik Kamboja
1. Konperensi internasional
Tentara Khmer Merah dibawah Pol Pot dan Kieu Samphan melakukan perang
geriliya untuk menentang Heng Samrin, disamping itu kelompok nasionalis pun
sudah lama melakukan gerakan menentang Khmer Merah seningga keadaan tidak
kunjung stabil. Oktober 1980 dikeluarkanlah resolusi Majelis Umum PBB no.35 yang
isinya agar Vietnam menarik pasukannnya dari dari wilayah Kamboja. Kemudian
ASEAN mengusulkan agar diselenggarakan Konperensi Interrnasionalmengenai
Kamboja. Dan usulan ini mendapat dukungan dari banyak pihak kecuali negaranegara yang pro Uni Soviet. Tanggal 13-17 Juli 1981 di New York diselenggarakan
konperensi internasional yang diketuai oleh Menlu Austria Wilibald Pahr dan dihadiri
92 negara. Dalam konperensi tersebut ASEAN mengajukan rsncangan penyelesaian
secara politis yang terdiri dari beberrapa pasal yang penting antara lain:
a. Menyerukan penarikan pasukan Vietnam dari Kamboja
b. Diselenggaraka pemilihan yang bebas dengan pengawasan PBB
c. Dijaminnya kemerdekaan, kedaulatan dan integrasi nasional serta non-blok
Kamboja oleh negara-negara lain
d. Pelucutan senjata bagi semua pihak yang bersangkutan
e. Membentuk badan yang meneruskan lebih lanjut hasil konperensi tersebut.
2. Terbentuknay koalaisi longgar
Setelah diselenggarakannya konperensi internasional tersebut pihak Vietnam dan
Uni Soviet menakukan penolakan.
Ada tiga kelompok yang melawan Vietnam di Kamboja yaitu Khmer Merah yang
berhaluan komunis dibawah pimpinan Kieu Samphan, Pol Pot dan Leng Sary,
kelompok non-komunis dipimpin oleh Son Sannu, dan kelompok netralis moulinika
pimpinan Norodom Sihanouk. Ketiganya terus melakukan perlawanan terhadap

Vietnam. Selanjutnya 4 september 1981 di Singapura pemimpin dari kelompok


gerakan non Vietnam tersebut melakukan kesepakatan untuk melawan tentara
Vietnam sekaligus menumbnagkan rezim Heng Samrin. Terbentuklah sebuah front
anti vietnam, Son Sannu sebagai pemimpinnya kemudian mereka memperkuat kerja
sama yang melahirkan koalisi longgaratas prakarsa Singapura dan Malaysia.
Namun

belum berjalan jauh pada november 1981 mun ul perbedaan pendapat

dianatara ketiganya bahkan dikabarkan Son Sannu akan mengundurkan diri karedn
tidak terpenuhinya tuntutan mayoritas dalam koalisi sehingga memunculakn
ketegangan antara Khmer Merah dan kelompok non-komunis.
3. JIM (Jakarta Informal Meeting)
Tanggal 25-28 Juli 1988 di Bogor, Indonesia di selenggarakan JIM I. Dalam
pertemuan ini menampilkan terobosan dimana pihak yang secara langsung terlibat
dalam konflik, yaitu keempat fraksi, kedua tetangga indocina dan enam negara
ASEAN. Dari masing-masing faksi bersikeras mempertahankan posisinya. Dalam
menindak lanjuti JIM I, tanggal 16-18 februari 1989 digelar JIM II, untuk
menyeragamkan persepsidari hasil pertemuan pertama dan hasilnya ialah penarikan
seluruh pasukan Vietnam harus segera dilakukan denagn batas waktu 30 september
1989 sebagian dalam rangka penyelesaian politik yang menyeluruh. Dan dibahas pula
himbauan penghentian keterlibatan pihak asing termasuk dukungan militerdan
persenjataan terhadap masing-masing pihak yang bertikai di Kamboja.
4. Paris International Conference (PIC)
Paris International Conference di gelar di Paris pada 30 juli-30 agustus 1989 yang
dihadiri oleh 19 negara termasuk P-5 (DK PBB), negara-negara ASEAN, dan empat
fraksi yang bertikai di Kamboja. Dengan hasil pembentukan tim pencari fakt guna
pembentukan ICM (International Control Mechanism) ynag bertugas untuk
pemantauan penarikan mundur pasukan Vietnam dan pelaksanaan gencatan senjata.
Pada 23 Oktober 1989 digelar Paris International Conference on Cambodia.
Kesepakatan paris muncul sebagai suatu kerangka kerja yang sah bagi penyelesaian
konflik kamboja sekaligus menandai berakhirnya konflikyang berkepanjangan di
Kamboja. Kesepakatan tersebut mencakup:
a. Final act konferensi paris mengenai kamboja
b. Persetujuan tentang penyelesaian masalah politiksecara menyeluruh konflik
Kamboja

c. Kesepakatan tentang kedaulatan, kemerdekaan, integrasi wilayah, netralitas, dan


keutuhan nasional Kamboja
Deklarasi mengenai rehabilitasi dan pembangunan Kamboja
SEMENANJUNG MALAYA
1. PENDUDUDKAKN JEPANG DI SEMENANJUNG MALAYA
A. Penjajahan jepang di malaya
Pengunduran pasukan tentera British bukan sahaja menjatuhkan moral pasukannya,
malah memberi kesan taktikal kepada pertahanan Kedah.Serangan Jepun diteruskan
hingga ke malam dan mereka berjaya memduduki beberapa tempat yang strategik di
Bukit Jantan dan Bukit Alor iaitu dua tempat yang penting bagi pertahanan Jitra.
Akibatnya pasukan British berundur ke selatan dan cuba memperkuatkan kedudukannya
di Sungai Bata dan Kelubi dengan menggunakan askar Gurkha dan Punjab.
Sementara itu di pihak Jepang, Mejar Jeneral Saburo Kawamura, pemerintah Briged ke 9 mengarahkan pasukan pimpinan Kolonel Saeki diberi tambahan kereta kebal dan
jurutera bagi membolehkan pasukan Jepun menawan jambatan Jitra sebelum British
meletupkannya. Beliau mengarahkan Rejimen ke - 40 supaya menyerang bahagian timur
jalan.Taktik penyeludupan juga dibuat untuk mara ke kawasan musuh dengan lebih
cepat.Bagaimanapun serangan Jepun pada sebelah malam gagal akibat hujan lebat tetapi
bernasib baik kerana pasukan Punjab tidak diselaras bagi menyerang pasukan Jepun,
akibat kelemahan sistem perhubungan tentera British.
Mejar Jeneral Murray - Lyon yang mengetuai pertahanan British di Kedah mengambil
keputusan berundur ke Gurun. Langkah ini dipersetujui oleh Ibu Pejabat Pemerintah
Tanah Melayu.Pengunduran tentera British dari Jitra dijalankan dalam keadaan cuaca
buruk.Ternyata ketumbuhan ke - 11 mengalami kemusnahan agak teruk berbanding
tentera Jepun. Pertahanan Jitra yang dibina selama tiga bulan musnah dalam masa lima
belas jam sahaja.
Kekalahan tentera British dan India ini di Jitra oleh tentera Jepun, yang disokong dengan
kereta kebal bergerak keselatan dari Siam pada 11 Desember 1941 dan kemaraan pantas
pihak Jepun melalui darat dari beachhead Kota Bharu disebelah pantai barat daya Tanah
Melayu mengatasi sistem pertahanan British di utara. Tanpa sebarang kehadiran tentera
laut, pihak British tidak mampu mencabar operasi tentera laut Jepun di persisiran pantai
Tanah Melayu yang terbukti berguna bagi tentera penjajah.Tanpa kehadiran kapal terbang
British, pihak Jepun turut menguasai langit, menjadikan tentera darat Komonwelth dan
penduduk awam terdedah kepada serangan udara. Pada 11 Desember 1941, pihak Jepun
mula mengebomPulau Pinang.

Sementara itu, ketumbukan ke-11 kemudiannya berjaya diundurkan ke selatan Sungai


Kedah pada 13 Disember 1941.Dalam pada itu, tentera Jepun telah sampai ke Alor Star
dan ramai yang berjaya menyeberangi Sungai Kedah.Bagi menyelamatkan keadaan,
Murray -Lyon mengambil keputusan meletupkan jambatan Sungai Kedah dan jambatan
keretapi.Pengunduran dari Alor Star ke Gurun kemudiannya diteruskan walaupun
persediaan pertahanan di Gurun tidak memuaskan.
Jitra jatuh ke dalam tangan Jepun pada 12 Desember 1941, dan kemudiannya Alor
Star pada hari yang sama. Tentera British terpaksa berundur ke selatan. Pada 16
Desember 1941, pihak British meninggalkan Pulau Pinang kepada pihak Jepun yang
mendudukinya pada hari yang sama.
Sementara itu Pulau Pinang dibom hebat setiap hari oleh pihak Jepun dari 8
Desember sehingga ia ditinggalkan pada 17 Desember. Senjata, bot, bekalan, dan radia
station yang berfungsi ditinggalkan begitu sahaja dalam tergesa-gesa dan jatuh ketangan
tentera Jepun.Pengunduran orang eropah dari Pulau Pinang, dengan penduduk tempatan
dibiarkan begitu sahaja ditangan tentera Jepun menyebabkan malu besar bagi pihak
British dan mengasingkan mereka dari penduduk tempatan.
Pertahanan Johor
Barisan pertahanan British ditubuhkan di utara Johor antara Muar di barat
sehingga Segamat, dan kemudiannya sehinggaMersing di sebelah timur.Briged Ke-45
ditempatkan di bahagian barat antara Muar dan Segamat.Pasukan Australiadiletakkan
pada kedudukan tengah dan bergerak maju ke utara dari Segamat ke Gemas di mana
mereka bertembung dengan pasukan tentera Jepun yang sedang mara pada 14
Januari 1942.
Pada 15 Januari, Divisyen Ke-5 Jepun yang merupakan pasukan tentera utama Jepun, tiba
dan bertempur buat pertama kali dengan pasukan Australia Division ke 8, di bawah
pemerintahan Mejar Jeneral Gordon Bennett. Semasa pertempurandengan tentera
Australia, tentera Jepun mengalami kekalahan taktikal buat kali pertamanya, disebabkan
tentangan sengit yang diberikan oleh Tentera Imperial Australia di Gemas. Pertempuran
tersebut, berpusat sekitar Jambatan Gemencheh, memberikan kerugian besar kepada
pihak Jepun, yang mengalami 600 korban tetapi jambatan itu sendiri, yang telah
dimusnahkan semasa pertempuran, diperbaiki dalam tempoh enam jam.
Pihak Jepang kemudiannya cuba mengelilingi pertahanan pasukan Australia di barat
Gemas, dengan itu memulakan pertempuran paling sengit dalam kempen penaklukan
Tanah Melayu yang bermula 15 Januari di persisiran pantai barat Semenanjung Tanah
Melayu berhampiran Sungai Muar. Bennett meletakkan Briged India Ke-45 yang tidak
berpengalaman dan masih mentah bagi mempertahankan tebing Selatan sungai Muar

tetapi unit tersebut dipintas oleh unit Jepun yang mendarat dari laut dan Briged tersebut
hampir musnah sepenuhnya dan komandernya Brigadier Duncan terbunuh.
Pihak British mengarah Batalion 2/19 dan 2/29 (sebahagian Divisyen Ke-8 Australia) ke
barat, dan batalion Ke-19 bertempur dengan pihak Jepun pada 17 Januari 1942 di selatan
Muar. Diketuai oleh Leftenan Kolonel Anderson AIF, tentera India yang berundur
disokong oleh tentera Australia membentuk pasukan Muar dan bertempur sengit selama
empat hari bagi membenarkan sisa tentera Komanwel berundur dari utara Tanah Melayu,
dengan itu mengelakkan daripada dipintas dan berundur melalui pasukan Jepun ke
kawasan selamat. Apabila Pasukan Muar sampai ke jambatan di Parit Sulong dan
mendapati ia berada di tangan musuh, Anderson, dengan jumlah anggotanya yang mati
dan tercedera meningkat, mengarahkan setiap orang cuba 'menyelamatkan diri masingmasing'. Mereka yang mampu merentas hutan, paya, dan ladang getah bagi sampai ke
markas batalion di Yong Peng.Mereka yang tercedera ditinggalkan kepada ihsan Jepun
dan kesemua 140 anggota yang ditinggalkan, kecuali tiga atau empat orang, disiksa dan
dibunuh dalam pembunuhan beramai-ramai di Parit Sulong.
Askar Jurutera Diraja British (Royal Engineers) bersedia bagi memusnahkan jambatan
semasa berundur.
Pertempuran berlanjutan sehingga 18 Januari, dan pada 20 Januari, pendaratan lanjut
tentera Jepun dilakukan di Endau walaupun menerima tentangan hebat dari serangan
udara pengebom torpedo Vickers Vildebeest yang lapuk. Pertahanan terakhir Komonwel
di Johor yang tertumpu pada garis Batu Pahat-Kluang-Mersing kini diserang sepanjang
garis pertahanannya.Malangnya bagi pihak bertahan, Jen Percival telah menentang
pembinaan pertahanan kaku di Johor, di persisiran utara Singapura; Percival
mengetepikan permintaan berulang Ketua Juruteranya, Brigadier Ivan Simson agar
memulakan pembinaan benteng pertahanan dengan ulasan "Pertahanan buruk untuk
semangat (morale)".
Di

sebalik

cubaan

Batalion

Ke-19

dan

Ke-29,

Garis

Pertahanan

Johor

roboh. JenderalArchibald Wavell memerintah pengunduran umum menyeberangi Selat


Johor ke pulau Singapura. Menjelang 31 Januari 1942, keseluruhan Tanah Melayu jatuh
ke dalam tangan Jepun.
2. PEMBENTUKANN VEDERASI MALAYSIA
A. Federasi Malaysia
Rencana pembentukan negara Federasi Malaysia tercetus pada tahun 1961 dan meliputi
daerah Persekutuan Tanah Melayu, Singapura, Serawak, Brunei, dan Sabah. Gagasan ini

ditentang oleh Soekarno, Presiden Indonesia yang menganggap bahwa ini merupakan proyek
neokolonialisme Inggris yang akan membahayakan stabilitas Indonesia. Selain Indonesia,
Filipina juga ikut menentang karena negara ini menganggap wilayah Sabah adalah milik sultan
Sulu yang disewakan kepada Inggris. Akhirnya ketiga negara sepakat meminta sekjen PBB untuk
menyelidiki keinginan rakyat di daerah-daerah diatas, apakah mereka setuju dengan
pembentukan negara federasi atau tidak. Namun sebelum hasil survei diumumkan, Perdana
Menteri Tengku Abdul Rahman telah mendandatangani dokumen persetujuan pembentukan
negara Federasi Malaysia dengan Inggris pada tanggal 9 Juli 1963. Akhirnya Federasi Malaysia
resmi terbentuk pada tanggal 16 September 1963 dengan anggota diatas minus Brunei. Namun
dua tahun kemudian Singapura melepaskan diri dari federasi dan berdiri sendiri sebagai negara
merdeka.
Tahun 1957 terjadi pengakuan kedaulatan Malaya dan persetujuan pertahanan antar
kedua negara yang ditandatangani merupakan langkah selanjutnya dalam proses pengurangan
tanggung jawab Inggris atas pertahanan Malaya. Kemudian pembentukan negara Federasi
Malaysia pada tahun 1963 merupakan suatu kelanjutan lagi dari proses pengunduran Inggris atau
dekolonisasi Inggris di Asia Tenggara. Setelah pengunduran diri Inggris dari Asia Tenggara yang
berjalan berangsur-angsur Inggris tidak hanya tinggal diam. Inggris memiliki taktik baru untuk
mempertahankan angkatan bersenjatanya di wilayah Malaysia. Salah satu bukti nyata yaitu
dengan proyek pemebntukan Federasi Malyasia, Inggris bermaksud melanggengkan
kolonialismenya didaerah Malaysia. Dalam Agreement relating to Malaysia pada pasal VI
memberikan dasar pada Inggris untuk dapat mempertahankan pangkalan-pangkalan militernya.
Dengan begitu bentuk neo-kolonialisme mulai terlihat jelas yaitu dengan terus dibayangbayanginya gerak gerik pemerintahan boneka oleh negara penjajah. Kemudian berkobarnya
konfrontasi setelah Federasi Malaysia diproklamirkan pada tahun 1963, maka dipakai oleh
pihak Inggris sebagai alasan untuk memperkuat penjagaan di perbatasan. Namun, apa yang
dirancang oleh Inggris belum cukup, pada peristiwa keluarnya Indonesia dari PBB merupakan
klimaks dari penumpukan kekuatan mereka di Asia Tenggara. Peristiwa itu dibesar-besarkan
sendiri oleh Inggris sebagai pertanda bahwa Indonesia akan melakukan invasi besar-besaran ke
Malaysia. Pertimbangan Inggris untuk mengadu domba Bangsa Asia dalam mempertahankan
kedudukan Inggris bahwa mereka menginginkan jatuhnya sedikit korban.

Kekuasaan Inggris semakin meluas tanpa halangan berarti. Perak, Selangor, Negeri
Sembilan, dan Pahang diserahkan dari kerajaan Siam tahun 1859 yang tergabung dalam
Persekutauan Tanah Melayu dan disusul dengan penyerahan Kedah, Perlis dan Trengganu pada
rahun 1909 yang menolak untuk bergabung dengan persekutuan tanah Melayu, termasuk Johor.
Di sebelah timur Inggris menguasai secara langsung Sabah dan Serawak yang terletak di Borneo
sebelah utara, berbeda dengan wilayah kekuasaan Inggris di sekitar Selat Malaka yang para
Sultannya tetap mempunyai kekuasaan langsung meskipun terbatas karena kebijakan yang
dilakukan berada di bawah kontrol Inggris.
B. Konfrontasi Malaysia
Konfrontasi merupakan kebijakan politik pemerintah Indonesia terhadap penolakan rencana
pembentukan negara federasi Malaysia yang diyakini Soekarno sebagai proyek new-imperialism.
Sikap konfrontatif Indonesia menandakan buruknya hubungan Indonesia-Malaya dalam masalah
pembentukan Negara Federasi Malaysia. Konfrontasi tidak selalu berupa kontak senjata. Kontak
senjata dalam konfrontasi merupakan tahap lanjutan dari politik konfrontasi yang ekstrim.
Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu
gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke
hadapan Tunku Abdul Rahman Perdana Menteri Malaysia saat itu dan memaksanya untuk
menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak. Demonstrasi antiIndonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para
demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan
konfrontasi terhadap Malaysiaan.
Ini beriringan pengumuman Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia
mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan
sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan
Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase pada 12 April
berikutnya.
C. Akhir konfrontasi

Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah


berlangsungnya kudeta. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk
meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun merdeka.
Pada 28 Mei 1966 di ssebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah
Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian
perdamaian ditanda tangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.