Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH SEJARAH MATEMATIKA

Berhitung Sebelum dan Sesudah Paradoks Zeno ( hal 146 s.d 160 )
Hodgkin Literatur Bahasa Inggris (142-150)

DIBUAT OLEH :
Rio Ridoh Jorontha (3115130788)
Rahajeng Putri Hawa (3115130754)
Dina Laila Sakinah (3115130782)
Rafiqa Nabila W. K. (3115133738)

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA REGULER


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Sejarah Matematika
Berhitung Sebelum dan Sesudah Paradoks Zeno

Selama sekitar 1000 tahun ini banyak peninggalan berhitung kita temukan dalam bata bertulis
tentuntya pengetahuan berhitung itu telah bercampur baur dengan pengetahuan berhitung dari Yunani
Kuno. Pengetahuan berhitung mereka sejak dikuasai Arab telah menjadi pengetahuan berhitung Arab dan
akan dikemukakan kemudian.
Selama kebangkitan dan keruntuhan kerajaan Asiria, pengetahuan berhitung Mesopotamia Kuno
mengalami berbagai kemajuan. Antara lain telah memiliki catalog perbintangan pada 3200 tahun laludan
sudah menentukan letak dan gerak bintang pada 2800 tahun lalu. Sejarah kuno itu sendiri banyak
diperoleh dari bata bertulis yang ditemukan di wilayah Mesopotamia. Dan umumnya bata-bata itu
tersimpan dalam berbagai museum.
Pada umumnya, bata bertulis matematik berisikan 3 hal, yaitu : penjumlahan, ukuran dan table
penunjang soal-soal berhitung.
32 soal berhitung dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Jumlah tanah yang dipindahkan serta tugas yang diberikan kepada para pekerja dalam suatu
pekerjaan teknik bangunan
Jumlah bata dalam pembuatan tembok
Pembagian skala dalam jam-air
Waktu yang diperlukan dalam pekerjaan penenunan
Penilaian panen dari sawah yang terdapat di berbagai tempat
Tinggi pada busur lingkaran
Orang Mesin Kuno memecahkan perkalian melalui kelipatan 2, sedangkan Mesopotamia menghitung
perkalian dengan daftar peerkalian.
Pembagian di Mesopotamia dilakukan dengan jalan mengalikan dengan kebalikan, missal 10 di bagi
5 berari 10 x dan didalam system bilangan dasar seksagemal dinyatakan dengan 10 x
Orang Mesopotamia juga mempunyai system bilangan pangkat, kalau sekarang seperti an. orang
Mesopotamia menggunakan 2 jenis satuan panjang dalam pengukuran yakni hasta dan gar (1 gar=12
hasta).
Sedangkan orang Yunai berhitug dengan system bilangan decimal ternyata menyatakan besaran sudut
dalam system bilangan dasar seksagemal. Dari orang Yunani ini kita memperoleh cara menghitung sudut
kita sekarang.
Secara garis besar, berhitung berkenaan dengan jumlah sesuatu dan ukuran bentuk sesuatu atau dapat
juga dikatakan aljabar dan ilmu ukur. Sebagai bagian dari berhitung kuno barat tekanan berhitung itu
lebih itu lebih banyak ke ilmu ukur.
Dalam berhitung tentang ukuran bentuk sesuatu atau ilmu ukur orang Mesir Kuno telah menggunakan
berbagai rumus untuk menentukan luas dan isi berbagai bentuk ilmu ukur. Khususnya mengenai lingkaran
mereka telah menemukan bahwa luas lingkaran adalah sama dengan luas bjur sangkar dengan sisi
sepanjang garis tengah lingkaran itu. Kalau ketentuan ini kita alihkan kedalam cara kita berhitung
luas lingkaran, maka orang Mesir Kuno sebenarnya telah menggunakan nilai sebesar 3,160 nilai ini
trenyata lebih baik dari nilai yang dipergunakan di Mesopotamia yakni sebesar 3.
Pada tahun 450 pembicaraan tentang perkembangan matematika akan dialihkan ke India Kuno yang
pada masa itu sudah mulai mengembangkan matematika atau berhitung.

Sejarah berhitung Yunani Kuno dapat ditahapkan kedalam 3 zaman besar, yaitu: zaman rasionalisme
ionic, zaman hallenistik, zaman dibawah kekuasaan romawi.
Museum yang terkenal sebagai pusat pengetahuan Yunani Kuno berdiri pada tahun 300 SM.
Sebagian Nama, Keahlian dan Karya Para Ahli Matematika Yunani Kuno
Tahun kira-kira
540 SM
500 SM
450 SM
440 SM

Nama
Pythagoras
Hippasus
Zeno(Elea)
Hippocrates(Chios)

430 SM
425 SM
425 SM
400 SM

Antiphone
Hippias (Elis)
Theodorus
(Cyrene)
Archytas

375 SM

Theaetetus

370 SM
350 SM

Eudoxus
Menaechmus

Bidang/Hal
Judul Karya
Ilmu Ukur, Berhitung, Musik
Bilangan Tak Terukur
Paradox Gerakan
Reduksi Soal Replikasi, penyusunan Lunuale
dalil, ilmu ukur
Metode Menghabiskan
Triseksi Sudut Dengan Kuadratis
BIlangan Irasional
Penggunaan Mekanika ke Mekanika
& Akustik
Bilangan Tak Terukur, Benda
berbetuk teratur
Astronomi, Bilangan Tak Terukur
Irisan Kerucut

Perkembangan matematika di Yunani Kuno juga ditandai oleh cara atau metode mereka
dalam menguraikan atau memecahkan soal matematika . Sedikitnya ada tiga cara yang
dipergunakan oleh orang orang Yunani Kuno dalam berhitung atau matematika . Pertama
adalah cara pembuktian melalui dalil dalil . Pembuktian selalu dilakukan melalui dalil dalil
yang sebelumnya uga telah dibuktikan kebenarannya . Tetapi apabila kita menelaah pembuktian
dalil dalil itu maka akan kita temukan juga bahwa bukti dalil dalil itu sendiri berdasarkan
dalil dalil lain lagi yang sebelumnya telah dibuktikan kebenarannya melalui dalil dalil lain .
Tentu saja kita tidak dapat mundur terus dengan dalil dalil tersebut sehingga pada akhirnya kita
akan menemukan peryataan peryataan dasar . Euclides menamakan peryataan tersebut sebagai
aksioma dan postulat . Seluruhnya ada lima aksioma dan lima postulat Euclides . Berikut kelima
aksioma Euclides , yaitu :
Aksioma 1 : Hal hal yang sama dengan hal lain yang sama adalah sama satu terhadap lainnya .
Aksioma 2 : Apabila yang sama ditambahkan kepada yang sama maka keseluruhan mereka
adalah sama pula .
Aksioma 3 : Apabila yang sama dikurangkan dengan yang sama maka sisa mereka adalah sama
pula .
Aksioma 4 : Hal hal yang saling berimpit satu terhadap lainnya adalah sama satu terhadap
lainnya .
Aksioma 5 : Keseluruhan adalah lebih besar dari sebagiannya .

Postulat postulat Euclides terutama bersangkutan dengan teori ilmu ukur .


Kedua adalah metode menghabiskan ( method of exhaustion ) . Metode ini terutama
dipergunakan untuk menghitung sesuatu yang tidak dapat dihitung secara langsung dan sekaligus
. Mula mula dihitung sebagian dan kemudian dengan cara yang sama sebagian sisa tersebut
dihitung kembali . Demikianlah sisa sisa tersebut terus dihitung sehingga pada akhirnya semua
habis terhitung .Salah satu metode menghabiskan ini adalah metode menghabiskan dari
Archimedes untuk menghitung luas suatu daerah yang dibatasi oleh garis lengkung . Karena
menghitung sampai sisanya habis itu sulit maka dapat ditentukan suatu nilai tertentu dengan
kemungkinan bahwa hasil hitungan lebih besar dari nilai tertentu itu , lenih kecil ataupun sama .
Dengan membuktikan bahwa nilai-nilai yang lebih besar dan lebih kecil dari nilai tertentu itu
tidak mungkin maka diperoleh hasil hitungan yang sama dengan nilai tertentu itu . Metode
menghabiskan ini sebenarnya diperoleh dari Euxodus dari zaman sebelumnya . Pembuktian
dengan metode menghabiskan ini sudah dilakukan dengan sangat teliti dengan melibatkan
bilangan renik .
Ketiga adalah cara atom ilmu ukur . Cara ini terutama berguna dalam ilmu ukur
terapan . Apabila bagian garis atau bidang yang diambil itu adalah sangat kecil sekali maka
apapun bentuk garis dan bidang itu selalu dapat saja dianggap bahwa bagian yang sangat
sangat kecil itu sebagi garis lurus atau bidang datar .
Selain ketiga cara tersebut terutama cara pertama dan kedua , kita dapat membagi
matematika di Yunani Kuno kedalam tiga kelompok besar . Kelompok pertama adalah bahanbahan yang tersusun menjadi Stoichea dari Euclides . Pada waktu itu Euclides menyusunnya
dengan mengumpulkan pengetahuan matematika yang ada pada orang-orang Yunani Kuno
sampai pada zaman itu . Kelompok Kedua adalah ilmu ukur tinggi yakni ilmu ukur yang
berkenaan dengan garis lengkungdan bidang lengkung masing-masing yang bukan garis lurus
dan lingkaran serta juga yang bukan bidang datar dan bidang permukaan bola . Kelompok Ketiga
adalah pengembangan soal pergerakan yang berhubungan dengan bilangan renik , hal nilai batas
, dan hal proses penjumlahan . Dalam semua kelompok ini , tekanan tetap terletak pada ilmu
ukur .
Kelompok pertama mencakup berhitung bilangan , berhitung ilmu ukurndan pembuktian
serta konstruksi bentuk ilmu ukur . Sudah sejak zaman Phytagoras berhitung Yunani Kuno
membahas bilangan dan bahkan sudah sejak perguruan Phytagoras berhitung ( Aritmetike )
dipisahkan dari menghitung ( Logistica ) . Pembahasan berhitung dan menghitung secara
bersama-sama baru terjadi kembali pada akhir abad kelima belas dibawah nama berhitung .
Ajaran perguruan Phytagoras ini kemudian melahirkan quadrivium di Eropa Lama . Quadrivium
adalah empat mata pelajaran yang perlu dipelajari meliputi berhitung ( teori bilangan ) , ilmu
ukur , music , spherical ( astronomi ) .
Kelompok kedua pada matematika Yunani Kuno mencakup ilmu ukur tinggi yang
membahas lengkungan baik garis lengkung maupun bidang lengkung diluar lingkaran dan
permukaan bola . Kelompok ini terutama membahas masalah penggandaduaan kubus , triseksi (
membagi tiga sama besar ) sudut , dan pembujursangkaran lingkaran . Alat untuk memecahkan

soal soal ini dibatasi pada penggaris lurus dan jangka yang merupakan alat Euclides dengan
pengertian bahwa dengan penggaris lurus kita dapat menggambar garis lurus dengan panjang tak
terbatas melalui dua titik yang berbeda dan dengan jangka kita dapat menggambar lingkaran
dengan setiap titik sebagai pusat serta melalui setiap titik kedua yang diketahui .
Kelompok kedua ini terutama menyangkut ilmu ukur di luar berhitung dan lebih banyak
berhubungan dengan pembuktian dan konstruksi sehingga tidak dibicarakan lebih lanjut .
Kelompok ketiga pada Matematika Yunani Kuno menyangkut pengertian yang berhubungan
dengan bilangan kecil , nilai batas , dan proses penjumlahan .

Literatur Bahasa Inggris


Akuntansi dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pengenalan-pengenalan di sekolah
yang didorong oleh jaman komersial di sekitar tahun 1300. Hasil dari revolusi komersial di abad
13 melibatkan peningkatan penggunaan alat-alat baru, yang beberapa mungkin diadaptasi dari
dunia islam- seperti bank, surat kredit dan nota pemindahan kuasa. Metode yang lebih canggih
ini tetap memerlukan perhitungan yang lebih sederhana untuk memberikan pemahaman pada
keterampilan yang abstrak . Dan dapat dilihat peran abaccus pada 200 tahun periode itu dalam
pengembangan inovasi . Pendekatan dengan geometri kecil dan aljabar yang ditemukan di Abu
Kamil juga ditambahkan pada metode ini

6 Tartaglia dan teman-temannya


Solusi umum persamaan kubik (paruh pertama abad keenam belas) adalah awal yang baik karena
dengan itu kita meninggalkan keterbatasan baik universitas dan sekolah abbacus
tradisional. Meskipun itu hanya salah satu dari beberapa perkembangan penting sekitar 1500, itu
menggambarkan sejumlah poin tentang periode ini dalam matematika. Secara singkat,
masalahnya adalah untuk memecahkan persamaan melibatkan kubus yang tidak diketahui Titik
pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa sejarah solusi menjembatani kesenjangan antara
universitas dan
Penelitian non-universitas. Kasus pertama ditemukan oleh Scipione dal Ferro, seorang profesor
di Bologna;namun dia tidak mempublikasikannya, tapi menyerahkannya pada muridnya Antonio
Fiore. Kasus umum, juga tidak dipublikasikan, ditemukan oleh Niccol Tartaglia, seorang ahli
matematika produktif bekerja di luar universitas. dia mengajar di sekolah Venetian, menulis
karya-karya asli pada aljabar, seni perang dan banyak lain. Tartaglia mengungkapkan 'rahasia'
yang sangat tidak biasa kepada Hieronimo Cardano (orang universitas yang sering melakukan
percobaan yang tidak biasa) , setelah Hieronimo Cardano berjanji untuk tidak mempublikasikan
sebelum Tartaglia melakukan percobaannya.Namun, Hieronimo Cardano mematahkan 'janjinya
dan diterbitkan dalam ArsMagna nya dengan kesempatan untuk memenangkan reputasi, dan
kadang-kadang uang, dengan kompetisi di mana matematikawan mengatur setiap masalah lain
dan mencoba untuk mengalahkan satu sama lain. Jelas pengetahuan masyarakat tentang metode

yang dipublikasikan tanpa seizin penulis aslinya akan merusak kontes.


7 On authority
Sesungguhnya, seni yang disajikan adalah baru, tetapi sejujurnya begitu tua, begitu rusak dan
tercemar oleh kaum barbar, yang dianggap perlu, dalam rangka memperkenalkan bentuk yang
sama sekali baru ke dalamnya, untuk berpikir dan mempublikasikan kosakata baru , setelah
menyingkirkan semua persyaratan pseudo-teknis jangan sampai harus mempertahankan
kecemaran dan terus berbau dengan cara yang lama. . . Namun di bawah Aljabar atau almucabala
yang mereka sanjungkan dan disebut 'seni yang hebat', semua matematikawan mengakui bahwa
emas tak tertandingi terbaring tersembunyi, meskipun yang mereka gunakan untuk ditemukan
sangat sedikit. (Vite, The Analytic Art, di Klein 1968, pp. 318-9)
Hal ini telah menjadi masalah penggunaan umum untuk memanggil jaman barbar yang waktu itu
membentang dari sekitar 900 atau seribu tahun sampai sekitar 150 tahun yang lalu, karena lakilaki untuk 700 atau 800 tahun dalam kondisi kurang cerdas karena tidak mempelajari huruf atau
ilmu. . . tetapi meskipun telah disebutkan sebelumnya waktu bisa menyebut diri dalam usia
bijaksana dalam hal biadab yang baru saja disebutkan, namun kami belum menyetujui definisi
usia bijaksana seperti itu, mengingat keduanya diambil secara bersama-sama adalah tidak ada
artinya tetapi usia barbar sesungguhnya dibandingkan dengan waktu yang tidak diketahui di
mana kita nyatakan dengan usia bijak, tanpa keraguan, dalam kehidupan adalah ada. (Stevin,
Gographie, dikutip dalam Klein 1968, hal. 187)
Pertanyaan terhadap inovasi dibandingkan dengan tradisi adalah pusat tokoh utama (dan sering
satu dari tokoh minoritas) dalam ilmu abad keenam belas. Jika seseorang menganggap tradisi
skolastik menghalangi ilmu pengetahuan, dimana orang-orang Yunani telah lakukan satu
panggilan untuk kontes itu? Copernicus mengaku akan menghidupkan kembali teori sebelumnya
Aristarchus, Galileo mengambil khususnya pada Archimedes, Kepler dipengaruhi oleh Plato dan
Pythagoras. Dalam matematika Aristoteles kurang penting sebagai titik acuan, namun
keberadaan tradisi ketiga, bahwa aljabar praktis dengan usul Islam mengganggu yang dibuat
untuk tiga cara kontes; dan banyak buku penting mulai dengan pernyataan eksplisit seperti di
atas tentang di mana penulis mereka berdiri. Di rupanya nampak sangat berbeda (bahasa
Inggris) sastra, Stephen Greenblatt 10 memperkenalkan gagasan 'diri Penciptaan', atau apa yang
kita sebut transformasi pribadi, sebagai ciri khas abad ini:
Penciptaan diri ini dalam efek versi Renaissance mekanisme kontrolnya, sistem budaya
dari makna yang menciptakan individu tertentu dengan mengatur bagian dari potensi
abstrak untuk sesuatu yg konkret merupakan perwujudan sejarah. Fungsi Sastra dalam
sistem ini ada tiga; sebagai manifestasi dari perilaku konkret penulis tertentu, sebagai
ekspresi diri dari kode dimana perilaku dibentuk, dan sebagai refleksi atas kode ini.
(Greenblatt 1980, hlm. 3-4)
Jika kita berhenti membatasi aplikasi yang sempit dari kata 'sastra' untuk tulisan yang disebut
kreatif dan memungkinkan masuknya buku teks aljabar seperti Vite Analytic Seni, Model
Greenblatt menyediakan penjelasan manfaat proyek dari algebraists baru dari abad keenam belas

dan awal abad ketujuh belas-Tartaglia, Cardano, Bombelli, Vite, Stevin, dan Descartes. (Hal ini
tentu saja juga berlaku untuk para ilmuwan lain, Galileo sangat sadar, baik sebagai penata dan
sebagai diri yang memberi, model disesuaikan dan dihindari, dan banyak dari apa yang
Feyerabend (1975) sajikan sebagai 'propaganda' bisa dilihatdari sudut pandang ini.) Teks aljabar
benar-benar memecahkan persamaan dalam gaya penulis ('perilaku konkret dari penulis tertentu),
mereka menyediakan model bagi orang lain untuk meniru (' ekspresi kode dimana perilaku
terbentuk '), dan, dengan cara yang mencolok, mereka diberikan laporan program yang
menjelaskan sikap penulis terhadap tradisi bersaing dan alasan untuk memilih metode tertentu
atau bahasa (' refleksi atas kode ini '). Pernyataan yang mendefinisikan inovasi penulis juga
potret diri sebagai penulis akan dilihat, seperti ekstrak di atas menunjukkan. Dan aspek lain dari
deskripsi Greenblatt tentang mode dirinya berlaku dengan mudah pada matematika, khususnya
mobilitas sosial (p 7.) Dan kebutuhan mereka dari 'otoritas' dan sebuah menentang 'orang asing'
(hal 9.); sebagai Greenblatt tekankan (1980, hlm. 3-4), 'otoritas Satu orang adalah keasingan bagi
orang lain'. Namun, pihak berwenang yang membentuk wacana matematika yang (untungnya
bagi mereka) tidak berhubungan dengan kontroversi agama besar, selama geometri alam semesta
tidak terlibat. Untuk Vite, sebagai tampilan ekstrak nya, pihak berwenang adalah Yunani kuno;
sedangkan orang asing adalah koruptor modern, biadab, dan kotor dari seni kuno (seseorang
menganggapnya Muslim).
Vite adalah seorang inovator terkemuka yang menemukan pertama kali notasi aljabar yang
sepenuhnya koheren (yang akan digantikan oleh versi sederhana dari Descartes, yang sekarang
kita gunakan). Klaim bertentangan nya ('baru, tetapi sebenarnya begitu tua') merupakan ciri khas
dari modernisasi waktu; pembaharuan, seperti yang tersirat dalam istilah 'renaissance' harus
disajikan sebagai rediscovery. Bukunya sulit dibaca, sebagian karena notasi (hampir lebih mudah
untuk membaca bahasa tradisional aljabar yang orang Italia bawa dari Arab ); dan sebagian
karena ia menciptakan bahasa baru prosedur, mengggunakan bahasa Yunani untuk
menggambarkan metode dalam memecahkan masalah, bahasa yang tidak ada kemudian diadopsi.
Mungkin karena alasan ini, Anda tidak akan menemukan ekstrak di Fauvel dan Gray yang
menunjukkan bagaimana ia bekerja. Di sini, kemudian, adalah satu bentuk asli nya. (The 'edisi
standar' The Analytic Art adalah contoh yang baik dari kerugian yang terlibat ketika notasi
seorang penulis diperbarui, meskipun dapat membaca untuk mendapatkan ide keseluruhan
proyek Vite, perubahan dalam terminologi, seperti 'BE' untuk 'B di E' membuat keduanya lebih
mudah dibaca dan kurang menarik;. seseorang tidak bisa melihat apa inovasi secara khusus Vite
sendiri).
Di sini, kemudian, (jika Klein benar) adalah benih dari Russell 'Matematika adalah ilmu yang
kita tidak tahu apa yang kita bicarakan'; dan ekstensi fisika melalui definisi jumlah 'tersembunyi',
dari kekuatan Newton ke putaran atom, yang penting adalah bahwa mereka tidak dapat diukur,
tetapi bahwa mereka bisa masuk ke dalam persamaan. Ini adalah kesepakatan besar untuk
menganggap karya seorang pengacara yang pengenalan huruf, jika kita percaya juru bahasa
Inggris-nya Thomas Harriot, terinspirasi oleh bahasa yang sama studi kasus hukum. Mungkin
lebih masuk akal untuk mengatakan bahwa, mengikuti penemuan kembali Diophantus, seperti
transformasi 'di udara'.

Stevin sebaliknya muncul sebagai lebih praktis, seperti dapat dilihat dari biografinya
(Dijksterhuis 1970). Ia juga lebih sadar diri bahwa bersifat pembaruan. Kutipan di atas
menunjukkan pengabaiannya untuk Yunani, dan keyakinannya dalam 'hilangnya' program ilmu
sejak usia bijaksana sebelumnya. Ini tidak benar-benar eksentrik, dan, bersama dengan sejumlah
orang sezamannya. Di antara warisan yang paling penting dari era bijaksana, dalam
pandangannya, adalah sistem nomor desimal dalam penulisan, dan perannya dalam
mempromosikan pecahan desimal tidak diragukan lagi berhubungan dengan itu. Ketika, di La
Disme, ia memberikan hasil pembagian dengan tiga sebagai desimal dengan (efektif) sebanyak
3s setelah titik yang Anda inginkan, ia akhirnya memahami fakta yang tampaknya telah lolos
dari orang Babel: keberadaan mengulangi desimal dan kepentingannya. Mereka Dalam
Arithmtique, ia menetapkan dengan sengaja 'kontroversial' tampilan pada angka. Ortodoksi,
ditransmisikan secara bingung dengan sekolah abad pertengahan dari Yunani, adalah bahwa
angka (2, 3, 4,...) bukanlah besaran, bahwa pecahan atau bagian dari nomor yang bukan angka,
dan bahwa 'satu' bukan nomor karena itu asal-usul angka. Seberapa luas pernyataan ini diyakini
dalam praktek tidak pasti, tapi Stevin menikmati membongkar mereka, menunjukkan bahwa
mereka yang menyangkal bagian dari unit yang jumlahnya 'menyangkal bahwa sepotong roti
roti'. Dia menyimpulkan dengan pernyataan tesis: satu adalah angka (tesis I); tidak ada masuk
akal, irasional, tak dapat dijelaskan, atau Surd nomor (tesis IV); dan sebagainya. Sudut pandang
Vite dan Stevin dapat dilihat sebagai kontribusi dengan cara bahwa matematika membentuk
pandangan kita tentang dunia saat ini; jika kita berpikir tentang hukum E = mc2 sebagai
persamaan penting terlepas dari nilai-nilai E, m, dan c, kita mengikuti Vite, sedangkan jika kita
mempertimbangkan penggunaannya dalam memberitahu kita apa yang terjadi ketika kita
mengganti tertentu (dihitung) nilai m dan c, kita mengikuti Stevin.
8 Descartes
Saya telah menghabiskan beberapa waktu yang menjelaskan cara di mana pandangan 'modern'
pada bilangan dapat ditelusuri kembali ke akhir abad keenam belas. Teks-teks di mana pekerjaan
dilakukan tidak terlihat modern, karena mereka ditulis dalam bahasa yang berada dalam masa
transisi antara bahwa dunia abad pertengahan dan kita sendiri. Geometri dari Descartes, di sisi
lain, terlihat modern dan relatif mudah dibaca-bagi kita; di zamannya terasa sulit, karena baru.
Hal ini karena ia memiliki nasib baik untuk menciptakan notasi umum aljabar modern (x, y
untuk diketahui, a, b untuk konstanta,. Dan 4xy, misalnya, bukan Vite 'A di E 4'). Tentu saja, ini
bisa dilihat dari cara lain: jika istilah tersebut telah tinggal bersama kami, itu karena dia memiliki
kecerdasan untuk merancang sesuatu yang jelas dan mudah digunakan. Sebagai hasil dari ini,
lebih khusus adalah representasi koordinatnya untuk kurva geometris, pada abad kedelapan
belas, sejarawan matematika (yang Perancis, khususnya) dianggap Descartes yang evolusi yang
telah membebaskan mereka dari perbudakan dengan metode yang membosankan dari Yunani
kuno, dengan mengurangi masalah sulit geometris dengan yang aljabar sederhana. Ini adalah
pandangan yang sering kini dianggap dengan beberapa kecurigaan, meskipun Descartes sendiri
mempromosikan itu:
Aku telah memberikan ini sangat sederhana [metode] untuk menunjukkan bahwa ada
kemungkinan untuk membangun semua masalah geometri biasa dengan melakukan

tidak lebih dari sedikit tercakup dalam empat angka yang telah saya jelaskan. [Artinya,
angka yang membangun sum, produk, hasil bagi, dan akar kuadrat.] Ini adalah salah
satu hal yang saya percaya para ahli matematika kuno tidak melihat, karena kalau tidak
mereka tidak akan meletakkan begitu banyak tenaga kerja ke dalam tulisan sehingga
banyak buku yang sangat urutan proposisi menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki
metode yakin untuk menemukan sama sekali, melainkan berkumpul proposisiproposisi yang mereka telah terjadi secara tidak sengaja. (Descartes 1954, hal. 17)
Perlu dicatat bahwa Descartes di sini tidak mengklaim untuk menemukan kembali teknik kuno.
Bahkan, kesederhanaan metode, yang ia klaim, Perlu dicatat bahwa Descartes di sini tidak
mengklaim untuk menemukan kembali teknik kuno. Bahkan, kesederhanaan metode, ia
mengklaim, adalah bukti bahwa dahulu tidak memiliki mereka atau mereka akan menemukan
hasil. Kadang-kadang mengklaim bahwa ia tidak orisinal-representasi grafis berasal dari Oresme,
dan aljabar dari Vite. Descartes memang mengakui pinjaman kepada Vite, khususnya
membela diri terhadap tuduhan kesulitan dengan mengklaim (yang ia mana menyatakan di
Gomtrie) bahwa ia seharusnya pembacanya untuk menjadi akrab dengan Analytic Art. Dalam
kasus apapun, proyeknya berbeda dan spesifik : hubungan geometri dan aljabar. Sebuah buku
standar modern mengkritik Descartes karena tidak menjadi lebih praktis:
Catatan geometri Descartes harus memuat jelas bagaimana jauh pemikiran penulis
dari pertimbangan praktis yang sekarang jadi sering dikaitkan dengan penggunaan
koordinat. Dia tidak mengeluarkan kerangka koordinat untuk mencari poin sebagai
Pengukur atau geografi yang mungkin dilakukan, juga koordinat nya tidak dapat
dianggap sebagai nomor pasangan. . . La gomtrie adalah dalam sehari hanya
sebagai banyak suatu kemenangan teori praktis seperti Conics Apollonius di zaman
kuno. (Boyer dan Merzbach 1989, hlm. 385-6)
Kritik ini menarik, tapi, saya pikir, salah. Koordinat geometri bahkan hari ini tidak 'intrinsik'
yang praktis-bahkan statistikawan yang mempelajari apakah poin tersebar dalam grafik
kebohongan dekat garis lurus y = ax + b, apalagi ilmu ukur yang ingin menggambar kurva y2 =
x3 + x2 tidak berpikir sebagai pengukur atau geografi. Di sisi lain, untuk beberapa tugas praktis,
ide-ide baru yang disesuaikan dengan sangat baik, seperti Newton dan Leibniz adalah untuk
memahami. Galileo mengambil banyak kesulitan untuk membangun dengan menggunakan
Conics Apollonius 'yang proyektil menjelaskan parabola, sebuah fakta yang berikut sangat
mudah dengan mencari persamaan tersebut; dan sementara Descartes tidak berurusan dengan
hasil seperti ini (fisika terlalu berbeda dari Galileo, dan sebagian besar membingungkan), mereka
disederhanakan dan diperjelas dengan menggunakan metode yang dapat ditemukan dalam
bukunya. Untuk melihat ini, dan untuk melihat bagaimana, tidak seperti Vite, ia menghindari
warisan definisi formal Euclidean, proposisi, dan bukti, saya telah memberikan konstruksi dasar
di mana koordinat pertama kali muncul sebagai Lampiran B. Idenya adalah untuk menggambar
kurva dengan menggunakan mesin yang berpikiran sederhana (penggaris yang berporos, tunduk
pada batasan), dan untuk menemukan persamaan kurva. Deskripsi mesin tampaknya lebih rumit
daripada dalam praktek, dan derivasi dari persamaan adalah tidak sulit. Pada akhirnya, kurva
dikatakan 'dari jenis pertama', dimana Descartes berarti irisan kerucut; alasannya karena

persamaan adalah dari tingkat kedua (kuadrat) di x dan y. Perhatikan bahwa penggunaan mesin
untuk kurva gambar dapat dilihat sebagai inovasi Renaissance biasanya yang praktis; tapi seperti
banyak hal lain, ia memiliki sejarah panjang, bahasa Yunani (Eratosthenes) dan Islam, meskipun
tidak diakui oleh Descartes.

Pertanyaan
Amalia ( Kelompok 6 Ganjil )
Penemu tartaglia saat ini apakah diatasnamakan namanya atau atas nama temannya Hieronimo?
Jawab: Penemuan itu tidak diatas namakan atas nama siapapun tetapi dicantumkan sebagai
sebuah teori dalam ArsMagna .
Tantri W.S ( Kelompok 6 Genap )
Contoh berhitung matematika dengan metode penghabisan ?
Contohnya pada teorema sisa
Fajar D.A ( Kelompok 3 Ganjil )
Bagaimana bentuk bilangan pertama pada zaman dinasti pertama Mesir Kuno?

Restu W ( Kelompok 4 Ganjil )


Bagaimana perkembangan berhitung pada Zaman Rasionalisme Ionik , Hellenistik dan Zaman
dibawah kekuasaan Romawi !
Perkembangannya ada dalam penjelasan terpisah di bagian bab lain
Diky I.H ( Kelompok 1 Ganjil )
Apa yang dimaksud dengan Stoicheia dari Euclides ?
Jawab : Stoicheia adalah salah satu hasil karya dari Euclides yang membahas tentang unsur .
Leny ( Kelompok 5 Ganjil )
Apa maksud dari Penjajagan ?
Jawab : Penjajagan adalah salah satu cara pembelajaran dengan pemisalan .
Kholilah ( Kelompok 4 Genap )
Bagaimana bentuk Tulisan Proclus ?
Jawab : Tulisan Proclus adalah suatu karya dari Eudemus yang dikenal sebagai Ringkasan
Eudemus .
Khusnul Marom ( Kelompok 5 Genap )
Bagaimana proses perubahan dari Aksioma menjadi Postulat ?
Jawab: Aksioma dengan postulat dapat dipertukarkan tanpa perlu proses