Anda di halaman 1dari 17

Insomia

Jeffry Rulyanto Simamora


10.2011.414
Fak.Kedokteran UKRIDA
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
Email: fasterthanvelocity@yahoo.com

PENDAHULUAN

Gangguan kesehatan pada golongan lansia terkait erat dengan proses degenerasi yang
tidak dapat dihindari. Seluruh sistem, cepat atau lambat akan mengalami degenerasi.
Manifestasi klinik, laboratorik dan radiologik bergantung pada organ dan/atau sistem yang
terkena. Perubahan yang normal dalam bentuk dan fungsi otak yang sudah tua harus
dibedakan dari perubahan yang disebabkan oleh gangguan psikis yang secara abnormal
mengintensifkan sejumlah proses penuaan. Salah satu manifestasi klinik yang khas adalah
timbulnya insomnia.
Insomnia adalah salah satu bentuk dari gangguan tidur. Gangguan tidur seringkali
menjadi keluhan pasien baik oleh karena gangguan fisik maupun oleh karena masalah
emosional. Insomnia adalah kesulitan untuk mulai masuk tidur, atau mempertahankan tetap
tidur atau sulit tidur kembali apabila terbangun. Ianya dianggap sebagai masalah yang
bermakna dan kronis oleh 10% pasien rawat jalan. Gangguan tidur berkaitan dengan angka
kesakitan (fisik) , fungsi sehari-hari, kecelakaan bahkan kematian oleh kecelakaan lalu lintas.
Banyak dana yang dihabiskan untuk gangguan yang berhubungan atau akibat dari gangguan
tidur. Secara umumnya diketahui kebutuhan tidur normal antara 6-9 jam sehari. Tetapi dalam
kenyataan ada orang dengan kebutuhan tidur yang singkat misalnya kurang dari 6 jam sehari
(short sleepers), sebaliknya ada orang dengan kebutuhan tidur yang lebih lama yaitu lebih
dari 9 jam (long sleepers). Kita bisa menilai kecukupan masa tidur itu dari kebugaran pada
waktu bangun pagi segar secara fisik. Bila benar-benar kurang tidur maka pada siang hari
akan kelihatan mengantuk, lelah, gangguan konsentrasi dan juga mudah tersinggung
(moody).

PEMBAHASAN

PEMERIKSAAN

Anamnesis
Anamnesis merupakan kumpulan informasi subjektif yang diperoleh dari apa yang
dipaparkan oleh pasien terkait dengan keluhan utama yang menyebabkan pasien mengadakan
kunjungan ke dokter. Anamnesis diperoleh dari komunikasi aktif antara dokter dan pasien
atau keluarga pasien. Anamnesis yang baik untuk seorang dewasa mencakupi keluhan utama,
informasi mengenai kelainan yang dialami sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat
keluarga, dan informasi mengenai keadaan tiap sistem tubuh pasien.
Berdasarkan anamnesis yang baik dokter akan menentukan beberapa hal mengenai halhal berikut:
1. Penyakit atau kondisi yang paling mungkin mendasari keluhan pasien
(kemungkinan diagnosis)
2. Penyakit atau kondisi lain yang menjadi kemungkinan lain penyebab
munculnya keluhan pasien (diagnosis banding)
3. Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya keluhan tersebut
(faktor predisposisi dan faktor risiko)
4. Kemungkinan penyebab penyakit (kausa/etiologi)
5. Faktor-faktor yang dapat memperbaiki dan yang memperburuk keluhan pasien
(faktor prognostik, termasuk upaya pengobatan)
6. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang medis yang diperlukan untuk
menentukan diagnosisnya.

Pemeriksaan
1. Studi Laboratorium

Pasien dengan riwayat sugestif apnea tidur atau sindrom kaki gelisah (RLS) / periodik
gerakan anggota tubuh gangguan (PLMD) harus dirujuk ke pusat tidur
polysomnography.

Pasien dengan riwayat sugestif dari PPOK dan insomnia harus memiliki penelitian
gas darah arteri yang dilakukan untuk menentukan apakah mereka hypoxemic.
o

Insomnia pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) sering dimulai dengan
pengembangan hypoxemia malam (walaupun malam hari, hypoxemia tidak
diperlukan untuk insomnia terjadi).

Pengobatan dengan oksigen dapat memperbaiki tapi jarang menghilangkan


insomnia.

Hypoxemia malam hari hadir jika pasien memiliki hypoxemia atau siang hari,
sering, latihan-hypoxemia terkait.

Jika hasilnya negatif ABG untuk hypoxemia, latihan studi atau semalam
desaturation oksimetri dapat membantu untuk menentukan apakah pasien
membutuhkan oksigen.

Uji neurologis dapat diindikasikan pada pasien dengan tanda-tanda dan gejala
penyakit neurologis. 1,2

2. Actigraphy
Actigraphy menggunakan perangkat portabel dikalungkan di pergelangan tangan
seperti jam untuk merekam gerakan selama waktu yang lama, sehingga sangat berguna
untuk mempelajari pola tidur dan ritme sirkadian. Membedakan insomnia primer dari
gangguan ritme sirkadian dan mengidentifikasi paradoks insomnia adalah sangat berguna,
terutama pada pasien yang refrakter terhadap pengobatan. Studi ini memberikan ukuran
objektif tidak langsung waktu tidur dan bangun.
3. Diari tidur
Pasien akan diminta untuk mengisi buku harian setiap hari selama 2 minggu,
dengan perkiraan waktu yang diberikan (1) bahwa mereka pergi ke tempat tidur, (2)
jatuh tertidur, (3) terbangun di malam hari, (4) habiskan di tempat tidur terjaga, dan
(5) bahwa mereka beranjak dari tempat tidur di pagi hari. Mereka juga mencatat
waktu yang dihabiskan untuk berolahraga, minum obat, dan mengkonsumsi kafein
dan minuman beralkohol. Sementara tidur harian memberikan informasi rinci tentang
pola tidur, pasien bisa bingung oleh penilaian subjektif ketika mereka jatuh tertidur
dan terbangun di malam hari.2
4. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan bertujuan untuk menyingkirkan masalah-masalah medis


lainnya yang mungkin menyebabkan insomnia. Anda juga mungkin perlu melakukan tes
darah untuk memeriksa jika adanya masalah tiroid atau kondisi lain yang dapat
menyebabkan masalah tidur.3
5. Status mental
Deskripsi umum tentang:

Penampilan

Deskripsikan apa yang nampak: sikap, cara berpakaian, dandanan, postur tubuh,
rambut, jenggot, kumis, kebersihan diri, tampak lebih tua atau muda atau sesuai
umurnya.

Kesadaran

Adakah terlihat terganggu, atau tidak tampak terganggu.

Perilaku dan aktivitas psikomotor

Dinilai selama sebelum,semasa dan sesudah wawancara.

Sikap terhadap pemeriksa

Menilai sikapnya adakah: kooperatif, indeferen, apatis, curiga, antisosial, bermusuhan,


pasif, aktif, ambivalen, tegang, seduktif, dan lain-lain.

Kualitas bicara

Menilai cara berbicara dan adakah terdapat gangguan bicara.


6. Studi tidur
Studi mengenai tidur yang umum dilakukan adalah:

Polysomnogram: Pada tes ini, beberapa fungsi badan semasa tidur direkam, termasuk
aktivitas otak, pergerakan bola mata, tingkat oksigen dan karbon dioksida darah, denyut
dan ritma jantung, kadar pernafasan, perjalanan udara melalui mulut dan hidung,
dengkuran, pergerakan otot-otot tubuh.

Multiple sleep latency test (MSLT): Mengukur seberapa lama masa yang diperlukan
bagi seseorang itu tdur. Tes ini menggunakan kamera untuk merakam pergerakan saat
tdur.

Multiple wake test (MWT): Tes ini mengukur samada seseorang bisa bertahan untuk
tidak tidur pada masa yang normalnya mereka tidur.2

DIAGNOSIS
Insomnia

Diagnosis pasti mencakup hal-hal:

a. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur
yang buruk
b. Gangguan terjadi minmal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu bulan
c. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur(sleeplessness) dan peduli yang berlebihan
terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari
d. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang
cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan

Adanya gejala gangguan jiwa lain seperti depresi, anxietas, atau obsesi tidak diabaikan.
Semua ko-morbiditas harus dicantumkan karena membutuhkan terapi tersendiri.

Kriteria lama tidur (kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya gangguan ,
oleh karena luasnya variasi individual.

Diagnosis Banding
Tidur dan ritme sirkadian Disorder
Definisi :
Menggambarkan ritme sirkadian sekitar 24-jam siklus yang dihasilkan oleh suatu organisme.
Kebanyakan sistem fisiologis menunjukkan variasi sirkadian. Sistem dengan variasi yang
paling menonjol adalah siklus tidur-bangun, suhu, dan sistem endokrin. Gangguan ritme
sirkadian merupakan sekelompok gangguan tidur yang melibatkan kelainan dalam waktu dari
siklus tidur-bangun. Kelainan ini dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok utama: gangguan
sementara (misalnya, jet lag; mengubah jadwal tidur karena bekerja, tanggung jawab sosial,
penyakit) dan gangguan kronis. Kronis yang paling umum gangguan tidur ditunda-fase
sindrom (DSPS), lanjutan fase tidur-sindrom (ASPS), dan tidak teratur siklus tidur-bangun.1,3

Etiologi :
Fase tidur yang tertunda ritme sirkadian jenis gangguan tidur ditandai dengan keterlambatan
siklus tidur-bangun yang berhubungan dengan tuntutan masyarakat. Hal ini sering disebabkan
oleh stressor psikososial (peristiwa di lingkungan seseorang yang menyebabkan stres atau
ketidaknyamanan), terutama bagi remaja. Yang tertunda siklus tidur-bangun mengarah pada
kurang tidur kronis dan biasanya terlambat tidur jam. Individu dengan tipe ini sering
mengalami kesulitan mengubah pola tidur mereka untuk suatu lebih awal dan lebih dapat
diterima secara sosial waktu. Sebenarnya mereka tidur, setelah dimulai, adalah normal. Ini
adalah waktu tidur dan bangun mereka itu terus-menerus tertunda.
Jet lag ritme sirkadian jenis gangguan tidur yang dicirikan oleh gangguan yang timbul dari
ketidaksesuaian antara seseorang sirkadian siklus dan siklus yang dibutuhkan oleh zona
waktu yang berbeda, Semakin banyak zona waktu yang bepergian, semakin besar gangguan.
Orang-orang yang sering bepergian dan lintas banyak zona waktu ketika mereka melakukan
perjalanan yang paling rentan terhadap jenis ini.
Pergeseran jenis pekerjaan dari gangguan tidur ritme sirkadian dibedakan dengan gangguan
karena konflik antara seseorang siklus sirkadian endogen dan siklus yang dibutuhkan oleh
kerja shift. Individu yang bekerja shift malam sering mengalami masalah ini, terutama orangorang yang beralih ke jadwal tidur normal pada hari libur. Orang-orang yang bekerja shift
berputar pengalaman masalah ini karena perubahan jadwal tidur-bangun mereka alami.
Gangguan yang disebabkan oleh kerja shift mengakibatkan jadwal sirkadian tidak konsisten
dan ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan secara konsisten.
Gejala :
Gejala umum ditemukan pada orang dengan gangguan ritme sirkadian terkait dengan tidurbangun siklus dapat mencakup sebagai berikut:

Kesulitan memulai tidur

Kesulitan mempertahankan tidur

Nonrestorative tidur

Kantuk di siang hari

Miskin konsentrasi

Gangguan kinerja, termasuk penurunan kemampuan kognitif

Miskin koordinasi psikomotorik

Headaches
Kelainan Gastrointestinal

Sindroma Tidur Apneu

Definisi :
Tidur Apneu merupakan sekumpulan gangguan tidur yang serius, dimana penderita yang
sedang tidur berulang-ulang mengalami henti nafas (apneu) dalam waktu yang cukup lama
sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen di dalam darah dan otak dan
menyebabkan bertambahnya jumlah karbondioksida.
Etiologi :
Terdapat 2 jenis tidur apneu:
1. Tidur apneu obstruktif, disebabkan oleh adanya penyumbatan di dalam tenggorokan
atau saluran udara bagian atas
2. Tidur apneu sentralis, disebabkan oleh adanya kelainan fungsi di dalam otak yang
mengatur pernafasan.

Pada tidur apneu obstruktif, kadang rendahnya oksigen dan tingginya karbondioksida yang
berlangsung lama, bisa menyebabkan berkurangnya kepekaan otak terhadap kelainan
tersebut, sehingga terjadilah tidur apneu sentralis.
Tidur apneu obstruktif biasanya terjadi pada pria gemuk, terutama yang tidurnya
terlentang. Kelainan ini lebih jarang ditemukan pada wanita. Kegemukan, disertai dengan
penuaan jaringan tubuh dan faktor lainnya, kemungkinan menyebabkan menyempitnya
saluran udara bagian atas.

Gejala klinis :
Tanda-tanda dan gejala tidur obstruktif dan pusat apneas tumpang tindih, kadang-kadang
membuat tipe apnea tidur lebih sulit untuk menentukan. Tanda-tanda yang paling umum dan
gejala tidur obstruktif dan pusat apneas meliputi:

Kantuk di siang hari yang berlebihan (hipersomnia)

Keras mendengkur, yang biasanya lebih menonjol dalam apnea tidur obstruktif

Amati episode penghentian pernapasan saat tidur

Tiba-tiba terbangun disertai sesak napas, yang lebih mungkin apnea tidur
menunjukkan pusat

Terbangun dengan mulut kering atau sakit tenggorokan

Pagi sakit kepala

Kesulitan untuk tetap tidur (insomnia)

Depresi

Merupakan keadaan sakit jiwa ringan, bukan hanya rasa sedih biasa yang setiap orang
mungkin sering merasakan. Bila seseorang menderita depresi, dia tidak bisa sembuh sendiri.
Penderita

perlu

diobati

jika

tidak

akan

bertambah

berat.

Gejala-gejala

Merasa selalu sedih.

Kehilagan perhatian terhadap aktifitas sehari-hari.

Tidak bisa konsentrasi/membuat keputusan.

Berpikir untuk bunuh diri/mati.

Gangguan kebiasaan tidur (tidak bisa tidur, bangun lebih awal di pagi hari, tidur berkali
kali terbangun, terlalu banyak tidur).

Rasa cemas.

Tidak ingin bicara/bergaul dengan orang lain.

Nafsu makan dan berat badan menurun, merasa lelah.

Merasa kesepian, tidak berharga, rasa bersalah.

Gangguan Somatoform

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai
contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang
adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan
emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk
berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform
mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar
untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan
oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.3 Penderita gangguan ini menyangkal dan
menolak untuk membahas kemungkinan kaitan antar keluhan fisiknya dengan problem atau
konflik dalam kehidupan yang dialaminya, bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala
anxietas dan depresi.

ETIOPATOLOGI
Insomnia adalah keadaan dimana Anda mulai mengeluh dengan sulitnya tidur di
malam hari, atau Anda sering terbangun di tengah malam. Banyak disebutkan bahwa stress
sering dikaitkan dengan insomnia. Stres menyebabkan insomnia. Setiap permasalahan
kehidupan yang manimpa pada diri seseorang (stresor psikososial) dapat mengakibatkan
gangguan fungsi/faal organ tubuh, reaksi yang dialami oleh tubuh ini dikatakan stres Hal itu
terjadi karena sistem saraf Anda sedang dipersiapkan untuk selalu berpikir bahkan saat Anda
sedang tidur. Saat stress terjadi tubuh akan berespon terhadap stress tersebut.
Karena adanya hubungan ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan stress akan
mendahului peningkatan insomnia. Bila Anda stress sistem yang dapat membuat Anda
seharusnya tertidur akan menjauh dari Anda. penyebab insomnia terkait erat dengan lelah,
konsentrasi terganggu, memori terganggu, sakit kepala, mudah marah dan mengantuk di
siang hari.3

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GANGGUAN TIDUR


Faktor Psikososial
Status kesehatan, depresi, kepercayaan yang salah terhadap tidur, efektifitas diri, dan
kondisi demografi dapat berpengaruh pada tidur.
Faktor Psikologi
Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga dapat membuat pikiran
menjadi aktif di malam hari, sehingga sulit untuk tidur. Peristiwa kehidupan yang penuh stres,
seperti kematian atau penyakit dari orang yang dicintai, perceraian atau kehilangan pekerjaan, dapat
menyebabkan insomnia.

Faktor Biologik
Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan bernapas dan sering buang air kecil,
kemungkinan mereka untuk mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa
gejala tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis, kanker, gagal jantung, penyakit
paru-paru, gastroesophageal reflux disease (GERD), stroke, penyakit Parkinson , pembesaran prostat
dan penyakit Alzheimer.

Faktor Pekerjaan
Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan jauh atau pergeseran
waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur.

EPIDEMIOLOGI
Insomnia adalah sangat umum dan terjadi pada 30% sampai 50% dari populasi umum.
Sekitar 10% dari populasi menderita kronis (jangka panjang) insomnia. Insomnia
mempengaruhi orang-orang dari segala usia termasuk anak-anak, meskipun lebih sering
terjadi pada orang dewasa dan frekuensi meningkat dengan usia. Secara umum, perempuan
lebih sering terkena daripada pria.
Penting untuk membuat perbedaan antara insomnia dan terminologi lain yang serupa;
pendeknya durasi tidur dan kurang tidur

Short durasi tidur mungkin saja normal dalam beberapa individu yang mungkin
memerlukan sedikit waktu untuk tidur siang hari tanpa merasa gangguan, gejala
utama dalam definisi insomnia.

Pada insomnia, cukup waktu dan kesempatan untuk tidur tersedia, sedangkan pada
kurang tidur, kurang tidur adalah karena kurangnya kesempatan atau waktu untuk
tidur karena sukarela atau sengaja menghindari tidur.3,5

PENATALAKSANAAN

1. Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter, tujuannya:

Untuk mencari penyebab dasarnya danpengobatan yang adekuat

Sangat efektif untuk pasien gangguan tidur kronik

Untuk mencegah komplikasi sekunder yang diakibatkan oleh penggunaan obat


hipnotik,alkohol, gangguan mental

Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek

2. Konseling dan Psikotherapi


Psikotherapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti
(depressi, obsessi, kompulsi), gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita
dapat membantu mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh
penderita tanpa penggunaan obat hipnotik.

3. Sleep hygiene terdiri dari:

a. Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan


b. Hindari tidur pada siang hari/sambilan
c. Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari
d. Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan
e. Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur
f. Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut
kosong
g. Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit)
h. Hindari rasa cemas atau frustasi
i. Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak1,2

4. Pendekatan farmakologi
Dalam mengobati gejala gangguan tidur, selain dilakukan pengobatan secara
kausal, juga dapat diberikan obat golongan sedatif hipnotik. Pada dasarnya semua
obat yang mempunyai kemampuan hipnotik merupakan penekanan aktifitas dari
reticular activating system (ARAS) diotak. Hal tersebut didapatkan pada berbagai
obat yang menekan susunan saraf pusat, mulai dari obat anti anxietas dan beberapa
obat anti depres. Obat hipnotik selain penekanan aktivitas susunan saraf pusat yang
dipaksakan dari proses fisiologis, juga mempunyai efek kelemahan yang dirasakan
efeknya pada hari berikutnya (long acting) sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari.
Begitu pula bila pemakain obat jangka panjang dapat menimbulkan over dosis dan
ketergantungan obat.
Sebelum mempergunakan obat hipnotik, harus terlebih dahulu ditentukan jenis
gangguan tidur misalnya, apakah gangguan pada fase latensi panjang (NREM)
gangguan pendek, bangun terlalu dini, cemas sepanjang hari, kurang tidur pada malam
hari, adanya perubahan jadwal kerja/kegiatan atau akibat gangguan penyakit
primernya. Walaupun obat hipnotik tidak ditunjukkan dalam penggunaan gangguan
tidur kronik, tapi dapat dipergunakan hanya untuk sementara, sambil dicari penyebab
yang mendasari. Dengan pemakaian obat yang rasional, obat hipnotik hanya untuk
mengkoreksi dari problema gangguan tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi
primernya dan harus berhati-hati pada pemakaian obat hipnotik untuk jangka panjang
karena akan menyebabkan terselubungnya kondisi yang mendasarinya serta akan
berlanjut tanpa penyelesaian yang memuaskan.

Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik adalah mengidentifikasi


dari problem gangguan tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi primernya
danharus berhati-hati pada pemakain obat hipnotik untuk jangka panjang karena akan
menyebabkan terselubungnya kondisi yang mendasarinya serta akan berlanjut tanpa
penyelesaian yang memuaskan. Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik
adalah mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya atau obat hipnotik adalah
sebagai pengobatan tambahan. Pemilihan obat hipnotik sebaiknya diberikan jenis obat
yang bereaksi cepat (short action) dgnmembatasi penggunaannya sependek mungkin
yang dapat mengembalikan pola tidur yang normal.
Lamanya pengobatan harus dibatasi 1-3 hari untuk transient insomnia, dan
tidak lebih dari 2 minggu untuk short term insomnia. Untuk long term insomnia dapat
dilakukan evaluasi kembali untuk mencari latar belakang penyebab gangguan tidur
yang sebenarnya. Bila penggunaan jangka panjang sebaiknya obat tersebut dihentikan
secara berlahan-lahan untuk menghindarkan withdraw terapi.
Antara obat yang di gunakan utk pesakit insomnia adalah :
1. Benzodiazepines:
Merupakan obat golongan hinotik-sedatif. Efektif digunakan untuk mengobati
masalah tidur seperti berjalan dalam tidur dan malam teror. Namun, obat ini dapat
menyebabkan Anda merasa mengantuk pada siang hari dan juga dapat
menyebabkan ketergantungan, yang berarti anda dapat selalu perlu obat tidur
2. Non-Benzodiazepine
Yang termasuk golongan ini adalah seperti zolpidem, zaleplon, zopiclone dan
ecszopiclone. Obat-obat masih baru dalam golongan hipnotik-sedatif. Mekanisma
kerjanya hampir sama dengan golongan benzodiazepein yaitu bekerja pada resepto
GABA
3. Alkohol
Alkohol juga sering digunakan sebagai terapi pilihan individu untuk menginduksi
tidur. Namun, penggunaan alkohol akan menyebabkan insomnia. Pada penggunaan
jangka panjang akan disertai dengan pengurangan tidur REM
4. Antidepressants:

Beberapa antidepresan turut mengandungi efek sedatif yang kuat sebagi contoh
amitriptiline, doxepin, mirtazapin dan tradazon. Namun karena mempunyai jalur
kerja yang lebar, efek sampingnya meningkat. Insomnia adalah gejala umum dari
depresi. Dengan demikian, beberapa obat antidepresan, seperti trazodone (Desyrel),
sangat efektif dalam mengobati kesulitan tidur dan kecemasan yang disebabkan oleh
depresi.
5. Melatonin
Hormon dan suplemen melatonin efektif pada beberapa tipe insomnia. Melatonin
telah digunakn dalam pil pembantu tidur, zopiclone. Manfaat dari melatonin adalah
mampu mengobati insomnia tanpa mengubah corak tidur seseorang dan.
6. Antihistamin
Antihistamn difenhidramin digunakan meluas. Mereka umumnya bekerja baik, tetapi
dapat menyebabkan pusing keesokan harinya. Mereka cukup aman untuk dijual tanpa
resep. Namun, jika anda sedang mengambil obat lain yang juga mengandung
antihistamin, kelebihan dosis bisa terjadi.

7. Herbal
Bahan-bahan seperti valerian (untuk relaksasi otot), melatonin untuk gangguan irama
sirkadian seperti jet lag. Chamomile, dan kava kava (untuk mengurangi kecemasan)
banyak dipakai untuk terapi insomnia.4

PENCEGAHAN

Lakukan kesibukan sepanjang hari atau olahraga ringan siang dan sore hari

Jangan minum kopi atau teh kental, terutama pada sore hari dan malam hari.

Usahakan makan malam harus kenyang agar badan cukup rileks untuk beristirahat

Minumlah segelas susu hangat atau susu campur madu sebelum tidur

Mandi dengan air hangat sebelum tidur dan jangan tidur siang

Jika Anda tetap tidak dapat tidur, cobalah meminum antihistamin seperti
promethazine atau dimenhydrinate setengah jam sebelum tidur. Obat-obatan ini
kurang menyebabkan ketagihan dibandingkan obat lain yang lebih keras

Bangun dan baca buku dan dengarkan musik yang bersifat menenangkan.4

KOMPLIKASI

Gangguan fungsi mental


Insomnia

dapat mempengaruhi konsentrasi dan memori, dan dapat mempengaruhi

kemampuan seseorang untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari.Beberapa ahli melaporkan


bahwa kurang tidur dalam mengganggu kemampuan otak untuk memproses informasi. Dua
sampai tiga jam tidur setiap malam selama satu minggu terganggu secara signifikan kinerja
dan suasana hati. Beberapa studi telah melaporkan masalah dalam menghafal meskipun
orang lain tidak menemukan perbedaan dalam skor tes antara orang-orang dengan tidur
sementara kerugian dan orang-orang dengan penuh tidur.5
Kecelakaan
Insomnia membahayakan keselamatan publik dengan ikut untuk lalu lintas dan kecelakaan
industri. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kelelahan memainkan peran utama
dalam kecelakaan mobil dan mesin. Sebanyak 100.000 kecelakaan mobil, akuntansi untuk
1.500 kematian, yang disebabkan oleh kantuk. Perkiraan pada kelelahan sebagai penyebab
kecelakaan mobil berkisar antara 1% menjadi 56%, tergantung pada studi.
Mortalitas Rates

Orang-orang dengan insomnia tidak memiliki tingkat kematian tinggi, yang didukung buktibukti sebelumnya. Orang-orang yang mengambil pil tidur

memang memiliki tingkat

ketahanan hidup yang lebih rendah. Insomnia hampir tidak pernah mematikan kecuali dalam
kasus yang jarang terjadi, seperti kelainan genetik yang disebut insomnia familial fatal.
Penyakit otak degeneratif ini adalah progresif dan mengembangkan individu intractable
insomnia, yang akhirnya menjadi fatal.
Stres dan depresi
Perubahan sederhana dalam pola tidur terjaga dapat memiliki efek yang signifikan pada
mood seseorang. Persistent insomnia bahkan memprediksi pembangunan masa depan
gangguan emosional dalam beberapa kasus. Insomnia meningkatkan aktivitas hormon dan
jalur di otak yang menyebabkan stres, dan perubahan dalam pola tidur telah terbukti secara
signifikan mempengaruhi mood. Insomnia berkelanjutan mungkin tanda kegelisahan dan
depresi 6
Penyakit jantung
Satu studi melaporkan bahwa orang dengan insomnia kronis memiliki tanda-tanda jantung
dan aktivitas sistem saraf yang mungkin menempatkan mereka pada risiko penyakit jantung.
Sakit kepala
Sakit kepala yang terjadi pada malam atau pagi-pagi mungkin berhubungan dengan gangguan
tidur.
PROGNOSIS
Insomnia tidak diobati berpotensi konsekuensi serius, termasuk meningkatnya risiko
kecelakaan kendaraan bermotor, gangguan kinerja sekolah atau pekerjaan, dan tingginya
tingkat ketidakhadiran kerja. Untungnya, insomnia dapat dirawat dengan sangat efektif pada
kebanyakan pasien. Perawatan menggunakan kombinasi pendekatan biasanya paling efektif.
Pasien yang telah insomnia sekali adalah pada peningkatan risiko berulang insomnia
Untuk insomnia jangka pendek, prognosis sangat baik. Untuk pertama insomnia kronis yang
mendasari faktor penyebab perlu diidentifikasi. Pasien juga perlu didukung dengan

hypnotik dan terapi perilaku. Insomnia yang resisten, sulit untuk ditangani, dapat secara
bertahap diatasi dengan ketekunan dan kesabaran. Bentuk terapi perilaku poros dari
manajemen insomnia seperti ini akan membantu untuk mengubah atau memperkuat pola
tidur3.

KESIMPULAN

Pasien mengalami gejala tidak bisa tidur di malam hari dan rasa mengantuk di siang hari.
Hasil dari sasaran belajar telah di kaji berdasarkan pemeriksaan yang di jalankan kepada
pasien, pasien mengalami insomnia dan disertai stress akibat beban dari kegiatan
sehariannya. Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan
gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari
sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan
tidak dapat kembali tidur. Penyebab insomnia yang utama adalah adanya permasalahan
emosional, kognitif, dan fisiologis.

Daftar Pustaka

1.

Kaplan, H.I, Sadock BJ. 2010. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri. Ed: Wiguna, I
Made. Tangerang: Bina Rupa Aksara Publisher

2.

Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri Ed 6. Jakarta: EGC

3.

Maslim, Rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

4.

Insomnia.(http://www.mayoclinic.com/health/insomnia/DS00187/DSECTION=alternativ
e-medicine Diakses tanggal 20 Agustus 2014

5.

Litchtenberg, P.A., Murman, D. L., & Mellow, A.M. (2003). Handbook of dementia.
Psycological, neurological, and psychiatric perspectives. New Jersey.

6.

W.Sudoyo, Aru. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-lima Jilid I. Pusat
penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 131: 837-842.