Anda di halaman 1dari 7

A.

DEFINISI
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit jantung yang dibawa sejak lahir, karena
sudah terjadi ketika bayi masih dalam kandungan. Pada akhir kehamilan 7 minggu,
pembentukan jantung sudah lengkap; jadi kelainan pembentukan jantung terjadi pada awal
kehamilan. Penyebab PJB seringkali tidak bisa diterangkan, meskipun beberapa faktor
dianggap berpotensi sebagai penyebab (Rahayoe, 2006).
Kelainan jantung kongenital atau bawaan adalah kelainan jantung atau malformasi yang
muncul saat kelahiran, selain itu kelainan jantung kongenital merupakan kelainan anatomi
jantung yang dibawa sejak dalam kandungan sampai dengan lahir. Kebanyakan kelainan
jantung kongenital meliputi malformasi struktur di dalam jantung maupun pembuluh darah
besar, baik yang meninggalkan maupun yang bermuara pada jantung (Nelson, 2000).
B. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada
beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian
penyakit jantung bawaan :
1. Faktor prenatal
Ibu menderita penyakit infeksi : rubella.
Ibu alkoholisme, peminum obat penenang atau jamu.
Umur ibu lebih dari 40 tahun.
Ibu menderita diabetes mellitus yang memerlukan insulin.
2. Faktor genetik
Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
3. Faktor Lingkungan
Radiasi
Gizi ibu yang jelek
Kecanduan obat-obatan dan
Alcohol juga mempengaruhi perkembangan embrio
(Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Pusat Kesehatan Jantung dan PembuluhDarah
Nasional Harapan Kita, 2001 ; 109)

C. KLASIFKASI
Terdapat berbagai cara penggolongan penyakit jantung kongenital. Penggolongan yang
sangat sederhana adalah penggolongan yang didasarkan pada adanya sianosis dan
vaskularisasi paru. Penggolongannya adalah sebagai berikut:

1. Penyakit jantung bawaan (PJB) non-sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah,


misalnya:
a) Devek septum ventrikel (DSV)
DSV terjadi bila sekat ventrikel tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya darah
dari bilik kiri mengalir ke bilik kanan pada saat systole.
b) Devek septum atrium
DSA disebabkan dari suatu lubang pada foramen ovale atau pada septum atrium.
Tekanan pada foramen ovale atau septum atrium, tekanan pada sisi kanan jantung
meningkat.
c) Duktus arteriosus persisten
DAP terjadi bila duktus tidak menutup saat bayi lahir. Penyebab DAP bermacammacam, bisa karena infeksi Rubella pada ibu dan prematuritas.
2. Penyakit jantung bawaan (PJB) non-sianotik dengan vaskularisasi paru normal.
a) Stenosis aorta
Pada kelainan ini disebabkan adanya penyempitan akibat penebalan katup aorta.
b) Stenosis pulmonal
Kelainan pada stenosis pulmonal, dijumpai adanya striktura pada katup, normal tetapi
puncaknya menyatu.
c) Koarktasio aorta
Kelainan pada koarktasio aorta adalah, kelainan yang terjadi pada aorta berupa adanya
penyempitan di dekat percabangan arteri.
3. Penyakit jantung bawaan (PJB) sianotik dengan vaskularisasi paru berkurang.
a) Tetralogi Fallot (TF), terdiri dari 4 kelainan yaitu:
Stenosis pulmonal
Hipertropi ventrikel kanan
Kelainan septum ventrikuler
Kelainan aorta yang menerima darah dari ventikel dan aliran darah kanan ke kiri
melalui kelainan septum ventrikel.
4. Penyakit jantung bawaan (PJB) sianotik dengan vaskularisasi paru bertambah,
a) TAB/ transportasi arteri besar
Gejala TAB yang khas ialah bayi lahir dalam keadaan sianosis, pucat kebiru-biruan
yang disebut picasso blue.
D. TANDA dan GEJALA
Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung

Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata terdengar di tepi
sternum kiri atas)

Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan meloncat-loncat,
Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mm Hg)

Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik

Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.

Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah.

Apnea

Tachypne

Retraksi dada

Hipoksemia

Peningkatan kebutuhan ventilator (sehubungan dengan masalah paru)


(Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236, Betz & Sowden, 2002 ; 376)

E. PATOFISIOLOGI
Kelainan jantung congenital (CHD) menyebabkan dua perubahan hemodinamik utama,.
Shunting atau percampuran darah arteri dari vena serta perubahan aliran darah pulmonal dan
tekanan darah. Normalnya, tekanan pada jantung kanan lebih besar daripada sirkulasi
pulmonal. Shunting terjadi apabila darah mengalir melalui lubang abnormal pada jantung
sehat dari daerah bertekanan lebih tinggi ke daerah yang bertekanan rendah, memyebabkan
darah yang teroksigenasi mengalir kedalam sirkulasi sistemik.
Aliran darah pulmonal dan tekanan darah meningkat bila ada keterlambatan penipisan
normal serabut otot lunak pada arteriola pulmonal sewaktu lahir. Penebalan vaskuler
meningkatkan resistensi sirkulasi pulmonal, aliran darah pulmonal dapat melampaui
sirkulasi dan aliran darah bergerak dari kanan ke kiri.
Perubahan pada aliran darah, percampuran darah vena dan arteri, serta kenaikan tekana
pulmonal akan meningkatkan kerja jantung. Manifestasi dari penyakit jantung congenital
yaitu adanya gagal jantung, perfusi tidak adekuat dan kongesti pulmonal.
F.

KOMPLIKASI
1. Endokarditis
2. Gagal jantung kongestif
3. Henti jantung
4. Aritmia
5. Hipertensi
6. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin)
7. Obstruksi pembuluh darah pulmonal
8. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)
9. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia
bronkkopulmoner)
10. Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit
11. Gagal tumbuh. (Betz & Sowden, 2002 ; 376-377, Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Radiologi: foto rontgen dada hampir selalu terdapat kardiomegali.

2. Elektrokardiografi/EKG, menunjukkan adanya gangguan konduksi pada ventrikel kanan


dengan aksis QRS bidang frontal lebih dari 90.
3. Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi aliran darah
dan arahnya.
4. Ekokardiografi, bervariasi sesuai tingkat keparahan, pada PDA kecil tidak ada
abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar. sangat menentukan
dalam diagnosis anatomik.
5. Kateterisasi jantung untuk menentukan resistensi vaskuler paru. (Betz & Sowden, 2002
;377)
H. PENATALAKSANNA
1. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan bemberian obat-obatan : Furosemid
(lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi
efek kelebihan beban kardiovaskular, Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin)
untuk mempermudah penutupan duktus, pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah
endokarditis bakterial.
2. Pembedahan : Operasi penutupan defek, Pemotongan atau pengikatan duktus.dianjurkan
saat berusia 5-10 tahun.
3. Obat vasodilator, obat antagonis kalsium untuk membantu pada pasien dengan resistensi
kapiler paru yang sangat tinggi dan tidak dapat dioperasi.
4. Pemotongan atau pengikatan duktus.
5. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi
jantung. (Betz & Sowden, 2002 ; 377-378, Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)
I.

PENKAJIAN
1. Biodata
Nama
Jenis kelamin
2. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Keletihan, sering mengalami infeksi saluran pernafasan, sianosis
b) Riwayat kehamilan

Riwayat terjadinya infeksi pada ibu selama trimester pertama. Agen penyebab lain
adalah rubella, influenza atau chicken fox. Riwayat prenatal seperti ibu yang
menderita diabetes mellitus dengan ketergantungan pada insulin. Kepatuhan ibu
menjaga kehamilan dengan baik, termasuk menjaga gizi ibu, dan tidak kecanduan
obat-obatan dan alcohol, tidak merokok.
c) Riwayat persalinan
Proses kelahiran atau secara alami atau adanya factor-faktor yang memperlama proses

persalinan, pengunaan alat seperti vakum untuk membantu kelahiran atau ibu harus
dilakukan SC.
d) Riwayat kesehatan keluarga

Riwayat keturunan dengan memperhatikan adanya anggota keluarga lain yang juga
mengalami kelainan jantung, untuk mengkaji adanya factor genetic yang menunjang.
3. Pemeriksaan fisik
Meliputi : inspeksi, palpasi, perkusi & auskultasi. Dari hasil pemeriksaan fisik pada
penyakit jantung congenital (CHD) adalah:
Bayi baru lahir berukuran kecil dan berat badan kurang
Anak terlihat pucat, banyak keringat bercucuran, ujung-ujung jari hiperemik
Diameter dada bertambah, sering terlihat penonjolan dada kiri
Tanda yang menonjol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulum, selaintrakostal
dan region epigastrium.
Pada anak yang kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinamik
Anak sering mengalami kelelahan dan infeksi saluran pernafasan atas
Neonatus menunjukkan tanda-tanda respiratory distress seperti mendengkur, dan
retraksi.
Pusing, tanda-tanda ini lebih nampak apabila pemenuhan kebutuhan terhadap O2 tidak
terpenuhi ditandai dengan adanya murmur sistolik yang terdengar pada batas kiri
sternum
Adanya kenaikan tekanan darah. Tekanan darah lebih tinggi pada lengan daripada
kaki. Denyut nadi pada lengan atas terasa kuat, tetapi lemah pada popliteal dan
femoral.
4. Pemeriksaan Penunjang
Gambaran ECG yang menunjukkan adanya hipertropi ventrikel kiri.
Kateterisasi jantung yang menunjukkan derajat dan sifat pirau jantung.
Rongten thorax untuk melihat atau evaluasi adanya cardiomegali.
angiografi
J.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan nutrisi berhubungan dengan kondisi yang mempengaruhi masukan nutrisi.
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan perubahan pada suplai O2
3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya penumpukan secret.
4. Penurunan Cardiac Output berhubungan dengan penurunan kontraktilftas jantung,
perubahan tekanan jantung.
5. Ansietas berhubungan dengan mekanisme koping inefektif.

K. INTERVENSI
1. Gangguan nutrisi berhubungan dengan kondisi yang mempengaruhi masukan nutrisi.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah 3x24 Jam.
Kriteria hasil :

Tidak terjadi penurunan BB>15%

Muntah (-)

Bayi dapat minum dengan baik

Intervensi & Rasional


a) Kaji status nutrisi secara kontinu, selama perawatan setiap hari, perhatikan tingkat
energi, keinginan untuk makan.
R/ Memberikan kesempatan untuk mengobservasi penyimpanan dari normal/ dasar
pasien dan mempengaruhi pilihan intervensi
b) Timbang

BB

setiap

hari

dan

bandingkan

dengan

BB

saat

penerimaan.

R/ Membuat data dasar, membantu dalam memantau keefektifan aturan terapeutik


c) Kaji keluhan mual/ muntah, ketidaknyamanan abdomen.
R/ Terjadinya kelemahan Karena pergantian protein dan malnutrisi
d) Berikan diet yang sesuai
R/ Untuk memberikan nutrisi yang adekuat
2. Pola

nafas

tidak

efektif

berhubungan

dengan

perubahan

pada

suplai

O2

Tujuan ; tidak terjadi ketidakefektitan pola nafas.


Kriteria hasil : Tidak mengalami dyspneu dan sianosis
Intervensi & Rasional
a) Pertahankan jalan nafas paten. Tempatkan pasien pada posisi yang nyaman.

R/ Meningkatakan ekspansi paru2, upaya pernafasan


b) Pantau frekuensi dan kedalaman pernafasan.

R/ Pernafasan cepat/ dangkal terjadi karena stress dan aktivitas berat. Dyspneu
merefleksikan mekanisme kompensasi yang tidak efektif dan merupakan indukasi
diperlukan dukungan ventilator
c) Catat munculnya sianosis

Menunjukkan oksigen tidak adekuat/ pengurangan perfusi


d) Berikan O2 tambahan melalui jalur yang sesuai, misalanya kanul nasal, masker

R/ Diperlukan untuk mengoreksi pernafasan perfusi yang tidak adekuat


e) Tinjau foto rongten

R/ Perubahan menunjukkan adanya tanda2 abnormal


3. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya penumpukan secret.
Tujuan: Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam
Kriteria hasil :

RR 30-60 x/mnt

Sianosis (-)

Sesak (-)

Ronchi (-)

Whezing (-)

Intervensi & Rasional


a) Kaji pernafasan, bunyi dan kualitas. Ubah posisi dan drainase secret.

R/ Tentukan posisi anak dalam posisi yang benar untuk mengoptimalkan pernafasan.
b) Kaji saluran nafas setiap hari

R/ Untuk mengetahui adanya secret


c) Kaji perubahan perilaku dan orientasi

Menunjukkan adanya rasa tidak nyaman pad saluran pernafasan


d) Monitor ABC dan catat perubahan

R/ Suction diperlukan untuk membersihkan secret

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Linda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8, Jakarta: EGC. 2000
Dongoes, Marilyn E, Jane R Kenly. 1998: Maternal / Newborn Care Plan : Gudelines for
client care E. a Davis Company : Philadelphia
Ngastiyah:1997 Perawatan Anak Sakit:penerbit buku kedokteran: Jakarta
Wong L, Donna, Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Vol 1. Jakarta: EGC, 2009