Anda di halaman 1dari 20

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karet

Karet merupakan suatu polimer isoprena dan juga merupakan hidrokarbon dengan
rumus monomer (C5H8)n. Zat ini umumnya berasal dari getah salah satu tumbuhan
terutama dari pohon karet (havea brasileansis). Getah ini diperoleh setelah pohon
karet yang telah cukup umur dideres batangnya sehingga getahnya keluar, getah yang
keluar inilah sering disebut dengan lateks (karet alam). Kemudian diolah menjadi
berbagai macam produk karet.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini,


karet alam sudah dapat disintesis, akan tetapi kegunaan dari karet alam ini tidak dapat
digantikan oleh karet sintesis. Jenis karet terbagi atas dua, yaitu : karet alam dan karet
sintesis. Walaupun karet alam sekarang jumlah produksi dan konsumsinya jauh di
bawah karet sintesis atau karet buatan pabrik, tetapi karet alam belum dapat
digantikan oleh karet sintesis. . Struktur karet alam 1,4 cis poliisoprena adalah sebagai
berikut :
H3C

H3C

C=C
H2C

H
C=C

CH2

H2C

CH2

Universitas Sumatera Utara

2.1.1. Sifat karet

Semua jenis karet adalah polimer tinggi dan mempunyai susunan kimia yang berbeda
dan memungkinkan untuk diubah menjadi bahan-bahan yang bersifat elastis. Namun,
bahan-bahan itu berbeda sifat bahan dasarnya misalnya, kekuatan tensil, daya ulur
maksimum, daya lentur dan terutama pada proses pengolahannya serta prestasinya
sebagai barang jadi.

Karet alam adalah suatu komoditi homogen yang cukup baik. Kualitas dan
hasil produksi karet alam sangat terkenal dan merupakan dasar perbandingan yang
baik untuk barang-barang karet buatan manusia. Karet alam mempunyai daya lentur
yang tinggi, kekuatan tensil dan dapat dibentuk dengan panas yang rendah. Daya
tahan karet terhadap benturan, gesekan dan koyakan sangat baik. Namun, karet alam
tidak begitu tahan terhadap faktor-faktor lingkungan, seperti oksidasi dan ozon. Karet
alam juga mempunyai daya tahan yang rendah terhadap bahan-bahan kimia seperti
bensin, minyak tanah, pelarut lemak, pelumas sintetis, dan cairan hidrolik. Karena
sifat fisik dan daya tahannya, karet alam dipakai untuk produksi-produksi pabrik yang
membutuhkan kekuatan yang tinggi dan panas yang rendah (misalnya ban pesawat
terbang, ban truk raksasa dan ban-ban kendaraan) dan produksi-produksi teknik lain
yang memerlukan daya tahan sangat tinggi.

2.1.2. Komposisi karet alam

Komposisi karet alam terdapat pada tabel 2.1 berikut ini:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1 Komposisi Lateks Segar dari Kebun

Komponen
Karet hidrokarbon
Protein

komposisi dalam
lateks segar (%)
36
1,4

Karbohidrat

1,6

Lipida

1,6

Persenyawaan organik

0,4

Persenyawaan anorganik

0,5

Air

58,5
(Ompusunggu, 1987)

Sedangkan komposisi lateks dalam karet kering adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2 Komposisi Lateks dalam Karet Kering


Komponen

komposisi dalam
lateks kering (%)

Karet hidrokarbon

9294

Protein

2,53,5

Karbohidrat
Lipida
Persenyawaan organik

2,53,2
-

Persenyawaan anorganik

0,1-0,5

Air

0,31,0
(Ompusunggu, 1987)

Hasil yang diambil dari tanaman karet adalah lateks yang diolah menjadi sit, lateks
pekat dan lateks karet remah. Lateks dapat diperoleh dengan cara menyadap antara

Universitas Sumatera Utara

kambium dan kulit pohon yaitu merupakan cairan berwarna putih atau kekuningkuningan. Secara singkat komposisi lateks segar dari kebun adalah sebagai berikut :
Apabila lateks havea bracileansis segar dipusingkan pada kecepatan 32.000
putaran per menit (RPM) selama 1 jam, akan terbentuk 4 fraksi :
1.

Fraksi karet

Fraksi karet terdiri dari partikel-partikel karet yang berbentuk bulat dengan diameter
0,053 mikron (). Partikel karet diselubungi oleh lapisan pelindung yang terdiri dari
protein dan lipida dan berfungsi sebagai pemantap.
2.

Fraksi kuning

Fraksi ini terdiri dari partikel-partikel berwarna kuning yang mula-mula ditemukan
oleh Frey Wyssling, sehingga disebut partikel Frey wyssling. Ukuran partikel dan
berat jenisnya lebih besar dari partikel karet dan bentuknya seperti bola. Setelah
pemusingan dilakukan, partikel Frey wyssling biasanya terletak di bawah partikel
karet dan di atas fraksi dasar.
3.

Fraksi serum

Fraksi serum juga disebut fraksi C (centrifuge serum) mengandung sebagian besar
komponen bukan karet yaitu air, karbohidrat, protein dan ion-ion logam.
4.

Fraksi dasar

Fraksi dasar pada umumnya terdiri dari partikel-partikel dasar. Partikel dasar
mempunyai diameter 25 mikron dan berat jenisnya lebih besar dari berat jenis
partikel karet, sehingga pada pemusingan partikel-partikel dasar berkumpul di bagian
bawah (dasar).

Universitas Sumatera Utara

2.1.3. Spesifikasi karet

Karet alam merupakan komoditi perkebunaan yang unik karena penggunaannya


sebagai bahan baku industri sedangkan komoditi perkebunan lainnya sebagian besar
adalah bahan makanan dan minuman. Sebelum menjadi barang jadi (misalnya ban
kendaraan), karet mengalami pengujian mutu teknis yang ketat dan kemudian diproses
dengan prosedur pengolahan yang cukup rumit. Karena itu masalah mutu karet jauh
lebih canggih dibandingkan dengan mutu komoditi perkebunan lainnya

Karet spesifikasi teknis (TSR) yang dikenal dengan istilah crumb rubber
mula-mula diolah oleh Malaysia tahun 1966, kemudian diikuti oleh Singapura dengan
bahan baku berasal dari Indonesia yang penentuan jenis mutunya berdasarkan SMR
(Standard Malaysia Rubber) dan SSR (Singapore Specified Rubber) Sedangkan
Indonesia baru mulai mengolah crumb rubber pada tahun 1969 dengan spesifikasi
jenis mutu berdasarkan SIR (Standard Indonesia Rubber). Konsumen yang mula-mula
menerima dengan baik karet jenis crumb rubber ini adalah Amerika. Karena itu
ekspor karet Indonesia terutama ditujukan ke Amerika Serikat dan memperoleh
pasaran yang baik. Tahun 1982 jumlah karet Indonesia yang dikonsumsi oleh Amerika
Serikat adalah 54% dari konsumsi karet alam negara tersebut.

Untuk lebih jelasnya dapat kita tinjau proporsi jenis mutu karet alam ekspor
dalam pasaran Internasional pada tahun 1982 yaitu sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.3 Jenis Mutu Karet dalam Pasaran Internasional

No

jenis mutu

TSR-20

34,7

RSS-3

23,4

RSS-1

12,3

RSS-4

6,4

TSR-10

5,6

RSS-2

4,5

TSR-50

4,1
(Anwar, 1989)

TSR = Karet Spesifikasi Teknis/Technical Specified Rubber (TSR)


RSS = Lembar Karet Asap/Ribbed Smoke Sheet (RSS)

Proses pengolahan TSR dapat dibagi 2, yaitu:


1. Proses pengolahan bahan baku lateks
Proses pengolahan bahan baku lateks yaitu pengecilan ukuran, penipisan,
peremahan, pencacahan, pembutiran, pengeringan, pembalan dan pengepakan.
2. Proses pengolahan bahan baku koagulum
Proses pengolahan bahan baku koagulum juga ditentukan oleh kondisi bahan
baku yaitu bahan baku kotor dan bahan baku bersih.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.4 Standard Indonesia Rubber (SIR)

spesifikasi

SIR
5CV

SIR
5LV

SIR
5L

SIR
5

SIR
10

SIR
20

SIR
50

Kadar kotoran,%
maks

0,05

0,05

0,05

0,05

0,10

0,20

0,50

Kadar Abu,% maks

0,50

0,50

0,50

0,50

0,75

1,0

1,50

0,8

0,8

0,8

0,8

0,8

0,8

0,8

30
-

30
-

30
5

30
5

30
5

30
5

30
5

Hijau
0,6

6,8
Hijau
O,6

Hijau
0,6

Hijau
0,6

Coklat
0,6

Merah
0,6

Kadar zat
menguap, maks
Po, min
ASHT, maks
Warna, angka
komparator
lovibond, maks
Uji kemantapan
viskositas (satuan
Wallace), maks
Ekstrak aseton, %
Warna Lambang
Nitrogen,% maks

Kuning
0,6

(Anwar, 1987)

Pengujian mutu dilakukan sesuai dengan parameter skema SIR yang dikeluarkan
berdasarkan SK Mentri Perdagangan N0. 321/Kp/VIII/83 seperti pada tabel 2.4. Hasil
pengujian yang diperoleh walaupun memenuhi standar mutu tapi mempunyai variasi
yang cukup besar, apalagi bila diuji sifat-sifat fisika barang jadinya. Pada masingmasing pabrik dapat juga terjadi variasi mutu untuk tiap kali produksi, begitu juga bila
dibandingkan antar pabrik.

2.2. Pengeringan
Dalam industri kimia sering sekali bahan-bahan padat harus dipisahkan dari suspensi,
misalnya secara mekanis dengan penjernihan atau filtrasi. Dalam hal ini pemisahan
yang sempurna sering kali tidak dapat diperoleh, artinya bahan padat selalu masih

Universitas Sumatera Utara

mengandung sedikit atau banyak cairan, yang hanya dapat dihilangkan dengan
pengeringan. Karena pertimbangan ekonomi (penghematan energi), maka sebelum
pengeringan dilakukan, sebaiknya sebanyak mungkin cairan sudah dipisahkan secara
mekanis.

Pengeringan merupakan cara untuk menghilangkan sebagian besar air dari


suatu bahan dengan bantuan energi panas dari sumber alam (sinar matahari) atau
buatan (alat pengering). Biasanya kandungan air tersebut dikurangi sampai batas
dimana mikroba tidak dapat tumbuh lagi.

Tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air sampai batas


perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan
pembusukan terhambat atau terhenti. Dengan demikian bahan yang dikeringkan dapat
mempunyai waktu simpan yang lama.
Metode pengeringan memiliki keuntungan sebagai berikut :
-

Bahan menjadi lebih tahan lama disimpan

Volume bahan menjadi kecil

Mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan

Mempermudah transport

Biaya produksi menjadi murah

Metode pengeringan juga memiliki kekurangan yaitu sifat asal bahan yang
dikeringkan berubah (bentuk dan penampakan fisik, penurunan mutu, dan lain-lain).

Universitas Sumatera Utara

2.2.1. Faktorfaktor yang mempengaruhi pengeringan


Pada proses pengeringan selalu diinginkan kecepatan pengeringan yang maksimal.
Oleh karena itu perlu dilakukan usahausaha untuk mempercepat pindah panas dan
pindah massa (pindah massa dalam hal ini perpindahan air keluar dari bahan yang
dikeringkan dalam proses pengeringan tersebut). Ada beberapa faktor yang perlu
diperhatikan untuk memperoleh keepatan pengeringan maksimum, yaitu:
1. Luas permukaan
Semakin luas permukaan bahan yang dikeringkan, maka akan semakin cepat
bahan menjadi kering. Biasanya bahan yang akan dikeringkan dipotong potong untuk
mempercepat pengeringan.
2. Suhu
Semakin besar perbedaan suhu (antara medium pemanas dengan bahan yang
dikeringkan), maka akan semakin cepat proses pindah panas berlangsung sehingga
mengakibatkan proses penguapan semakin cepat pula. Atau semakin tinggi suhu udara
pengering, maka akan semakin besar energi panas yang dibawa ke udara yang akan
menyebabkan proses pindah panas semakin cepat sehingga pindah massa akan
berlangsung juga dengan cepat.
3. Kecepatan udara
Umumnya udara yang bergerak akan lebih banyak mengambil uap air dari
permukaan bahan yang akan dikeringkan. Udara yang bergerak adalah udara yang
mempunyai kecepatan gerak yang tinggi yang berguna untuk mengambil uap air dan
menghilangkan uap air dari permukaan bahan yang dikeringkan.

Universitas Sumatera Utara

4. Kelembaban udara
Semakin lembab udara di dalam ruang pengering dan sekitarnya, maka akan
semakin lama proses pengeringan berlangsung kering, begitu juga sebaliknya. Karena
udara kering dapat mengabsorpsi dan menahan uap air. Setiap bahan khususnya bahan
pangan mempunyai keseimbangan kelembaban udara masingmasing,

yaitu

kelembaban pada suhu tertentu dimana bahan tidak akan kehilangan air (pindah) ke
atmosfir atau tidak akan mengambil uap air dari atmosfir.
5. Tekanan atmosfer dan vakum
Pada tekanan udara atmosfir 760 Hg (1 atm), air akan mendidih pada suhu
100oC. Pada tekanan udara lebih rendah dari 1 atmosfir air akan mendidih pada suhu
lebih rendah dari 100oC. Tekanan (P) rendah dan suhu (T) rendah cocok untuk bahan
yang sensitif terhadap panas , contohnya : pengeringan beku (freeze drying).
6. Waktu
Semakin lama waktu (batas tertentu) pengeringan, maka semakin lama proses
pengeringan selesai. Dalam pengeringan diterapkan konsep Temperatur tinggi waktu
yang singkat/HTST (High Temperature Short Time), waktu yang singkat dapat
menekan biaya pengeringan.

Universitas Sumatera Utara

2.3.

2.3.1.

Viskositas Mooney

Pengertian viskositas mooney

Viskositas mooney karet alam (Hevea Brasileansis) menunjukkan pangjangnya rantai


molekul karet atau berat molekul serta derajat pengikatan silang rantai molekulnya.
Pada umumnya semangkin tinggi berat molekul (BM) hidrokarbon karet semakin
panjang rantai molekul dan semakin tinggi tahanan terhadap aliran, dengan kata lain
karetnya semakin viskous dan keras.

Apabila berat molekul tinggi maka viskositas mooney akan naik sehingga karet
menjadi viskus dan keras sehinga energi yang dibutuhkan untuk melumat karet sangat
besar maka akan kurang menguntungkan maka hal itu tidak dikehendaki oleh
konsumen. Sebaliknya apabila viskositasnya rendah hidrokarbon karet dengan berat
molekul yang rendah membutuhkan energi yang lebih sedikit jumlahnya, tetapi sifat
fisika yang dihasilkan kurang baik. Oleh karena itu karet alam dengan berat molekul
yang medium dapat memberikan titik temu antara energi yang hemat dengan sifat
fisika yang unggul.

Alat yang paling terkenal dan paling banyak digunakan adalah viskometer
mooney. Dalam satu ruangan dengan suhu tertentu dan yang diperlengkapi dengan
rusukrusuk, dimasukkan contoh dari campuran yang harus diperiksa. Dalam ruangan
yang terisi dengan campuran karet ini berada satu rotor yang berusuk dan yang
digerakkan oleh satu motor listrik. Waktu rotor diputar, campurannya memberi
perlawanan dan ini ditunjukkan oleh satu motor dinamo diatas lonceng ukur. Makin

Universitas Sumatera Utara

kaku campurannya, makin tinggi perlawanannya, dan makin tinggi angka diatas
lonceng ukur. Satu campuran mempunyai mooney 80, apabila penunjuknya berada
diatas 80.

2.3.2. Cara Pengukuran viskositas mooney

Pengukuran viskositas mooney dilakukan dengan mooney viskometer, yaitu


berdasarkan pengukuran gesekan rotor pada karet padat yang berfungsi sebagai
tahanan dengan meletakkan sampel karet di atas dan di bawah rotor yang dapat
berputar.

Sebelum motor dijalankan, dipanaskan 1 menit. Kemudian motor dijalankan


dan rotor akan berputar. Tenaga yang digunakan untuk memutar rotor didalam sampel
karet dapat dibaca pada skala. Pembacaan dilakukan setelah 5 menit. Bila pada skala
tercatat 55, artinya viskositas mooney adalah 55 (ML1+4) pada suhu 100C dengan
pengertian satuan sebagai berikut :
M

= Mooney

= Large rotor (rotor ukuran besar)

= Pemanasan pendahuluan 1 menit

100C = Suhu yang dipakai untuk pengujian


5

= Pembacaan 5 menit setelah rotor dipanaskan dan dijalankan.

Mooney viskometer pada dasarnya adalah alat untuk mengukur aliran viskositas gesek
yang dirancang pada ML (1+4) dengan tingkat ketegangan 1,5/detik setelah
pemanasan pendahuluan pada suhu 100oC selama 1 menit, kemudian dilanjutkan

Universitas Sumatera Utara

periode gesekan selama 4 menit. Pengukuran aliran dilakukan selama kompresi


sederhana pada suhu 100oC.

2.3.3. Faktorfaktor yang mempengaruhi viskositas mooney

1. Cara dan pH pembekuan


Cara pembekuan dapat mempengaruhi nilai viskositas mooney
Tabel 2.5 Pengaruh beberapa cara pembekuan terhadap nilai viskositas mooney

nilai viskositas mooney


cara pembekuan

( M ) pada suhu 100C

Asam

74

Panas

75

Mikrobiologi

82

Alami

92
(Lau)

Dari tabel 2.5 tampak bahwa pembekuan dengan asam semut menghasilkan
nialai viskositas rendah dibandingkan dengan cara yang lain. Pembekuan secara alami
menyebabkan nilai viskositas tinggi dan tidak seragam karena proses pembekuannya
tidak serentak dan merata. Oleh karena itu untuk pengolahan SIR 5 CV dianjurkan
hanya dibekukan dengan asam semut dan dihindarkan terjadinya prakoagulasi lateks
kebun.

Universitas Sumatera Utara

Perbedaan pH pembekuan dengan asam semut tidak banyak pengaruhnya


terhadap kenaikan nilai viskositas. Dengan jarak pH pembekuan 4,55,5 kenaikan
nilai viskositas mooney hanya 03.

2. Pengaruh pencemaran
Pencemaran lateks dengan air akan sedikit menurunkan nilai viskositas
Tabel 2.6 Pengaruh pencemaran terhadap nilai viskositas awal (Po/Wallace
Plasticity)

kadar karet kering

wallace plasticity

(% berat)

(Po)

36

42

15

41

10

39

25

32

(Rubber Ressearch Institute of Malaysia)

Dari tabel 2.6 tampak bahwa pengenceran akan sedikit menurunkan nilai
viskositas awal, dampaknya variasi kadar karet kering (KKK) lateks setiap hari dapat
sedikit mempengaruhi nilai viskositas. Oleh karena itu faktorfaktor yang
mempengaruhi KKK harus selalu diperhatikan dan KKK diuji setiap hari.

3. Melambatkan pengolahan bekuan dan remah


Bekuan dan remah yang tidak diproses akan dapat meningkatkan nilai viskositas
mooney

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.7 Pengaruh waktu penyimpanan dalam bentuk bekuan dan remah
terhadap nilai viskositas mooney

waktu

nilai viskositas mooney ( M )

didiamkan

pada suhu 100C

(jam)
0
16

Bekuan
64
-

24

73

Remah
64
76
-

48

76

(lau)

Dari tabel 2.7 terlihat semakin lama bekuan dan remah dibiarkan tidak diolah,
akan semakin tinggi nialai viskositas mooneynya. Hal ini disebabkan semakin cepat
reaksi ikatan silang di antara gugus aldehida yang reaktif dengan gugus diamin, metil
atau metilen di dalam bekuan dan remah. Oleh karena itu dianjurkan untuk segera
mengolah bekuan dan remah.

4. Suhu Pengeringan
Pada waktu karet alam dipanaskan, akan terjadi dua reaksi yaitu reaksi ikatan silang
gugus aldehida yang reaktif dan gugus oksidasi yang memutuskan rantai molekul
karet. Suhu pengeringan yang tinggi dapat menaikkan atau menurunkan viskositas
karet tergantung hubungan di antara kedua reaksi tersebut.

Tetapi pengeringan pada suhu tinggi dan waktu lama selalu akan menurunkan
viskositas, karena pada suhu tinggi dan waktu lama terjadinya pemutusan rantai

Universitas Sumatera Utara

molekul lebih cepat dibandingkan dengan reaksi ikatan silang gugus aldehida. Untuk
pengolahan SIR 5CV dianjurkan untuk menggunakan suhu pengering 100110 0C.

5. Suhu Bandela
Suhu tinggi pada waktu membuat bandela dari kaaret remah yang baru keluar dari alat
pengering akan meningkatkan viskositas mooney karet
Tabel 2.8 Pengaruh suhu bandela terhadap nilai viskositas mooney
nilai viskositas mooney ( M )
suhu bandela

pada suhu 100C terhadap waktu


penyimpanan (minggu)

(C)
0

30

75

79

80

55

82

87

87

100

82

88

88

(Rubber Ressearch Institute of Malaysia)

Pada tabel 2.8 tampak bahwa semakin tinggi suhu bandela dan semakin lama
waktu penyimpanan akan semakin tinggi nilai viskositas mooneynya. Hal ini
disebabkan kecepatan reaksi ikatan silang gugus aldehida lebih besar dibandingkan
dengan pemutusan ikatan rantai oleh reaksi oksidasi, karena jumlah oksigen didalam
bandela sedikit (bandela masih panas). Oleh karena itu dianjurkan remah keluar dari
alat pengering segera didinginkan dengan kipas sampai suhu udara luar, sehingga pada
waktu dibuat bandela remah sudah dalam keadaan dingin. Hal ini untuk
menghindarkan terjadinya uap air (kondensasi) di dalam plastik yang digunakan untuk
membungkus bandela.

Universitas Sumatera Utara

2.4. Berat Molekul (BM) Pada Karet Alam

Berat molekul (BM) karet yang terdapat dalam lateks untuk tanaman muda kira-kira
60.000 dan tanaman tua sekitar 200.000. Karet dengan berat molekul rendah lebih
dapat larut dibandingkan dengan karet yang memiliki berat molekul tinggi dan ini
memungkinkan fraksionasi dari karet dengan perbedaan kelarutan. Perbedaan karet
yang dihasilkan dari dua variabel adalah pada berat molekul dan bahan kimia non
karet.

Pada kompon murni (kompon pure gum) karet alam laju matang, viskositas
wallace awal (viskositas mooney) dan PRI (Plasticity Retention Index) dari bahan
karet remahnya mempengaruhi sifatsifat tegangan vulkanisat dari kompon murni
tersebut, seperti misalnya modulus, tegangan putus, dan perpanjangan putus.

Pematangan kompon karet biasanya dilakukan dengan cara memanaskan


campuran terdiri dari karet dan bahanbahan kimia. Sebagai bahan pematang (bahan
vulkanisasi) lazimnya dipakai belerang.

Perubahan sifatsifat mekanis yang penting sebagai akibat proses pematangan


(proses vulkanisasi) kompon karet adalah antara lain pertambahan elastisitas,
peningkatan tegangan putus serta modulus, lenyapnya sifat keterlarutan dan hilangnya
sifat kelikatan. Dengan sendirinya proses tersebut juga akan meningkatkan viskositas
mooney kompon karet tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Belerang merupakan bahan pematang (bahan vulkanisasi) yang dapat membuat


kaitan silang dengan rantai hidrokarbon karet alam. Secara statistik telah dibuktikan
bahwa ada hubungan antara derajat pengikatan silang dengan kadar belerang terikat
dan modulus.

Semakin banyak kaitan silang yang terbentuk selama prosespematangan


(proses vulkanisasi), makin rendah berat molekul ratarata antara dua kaitan silang
berurutan, makin tinggi tegangan putus dari vulkanisat kompon murni (sampai
mencapai suatu maksimum untuk kemudian turun lagi).

Semakin banyak kaitan silang yang terbentuk dalam kompon murni selama
proses pematangan (proses vulkanisasi) makin rendah berat molekul ratarata antara
dua kaitan silang berurutan, makin tinggi tegangan tarik 300% (modulus 300%) dan
tegangan tarik 500% (modulus 500%) ternyata bahwa fakta tersebut sesuai dengan
hasil hasil percobaan akhir akhir ini.

Semakin tinggi kadar belerang terikat dalam kompon murni yang


dimatangkan, makin tinggi tegangan putus vulkanisat yang diperoleh sampai
mencapai maksimum untuk kemudian turun lagi.

Hasil percobaan akhirakhir ini dengan menggunakan susunan kompon ACS1, menunjukkan adanya hubungan nyata yang berbanding terbalik anatara rapat kaitan
silang dengan regangan TC (TC strain) untuk jangkauan nilainilai pengamatan yang
pendek hubungan garis regresinya memenuhi suatu persamaan garis lurus, sedangkan

Universitas Sumatera Utara

untuk jangkauan nilainilai pengamatan yang panjang hubungan garis regresinya


memenuhi suatu persamaan garis lengkung kuadratik.

Banyaknya ikatanikatan monosulfida, disulfida, dan polisulfida dalam


vulkanisat karet alam akan menentukan sifat sifat fisiknya. Untuk mendapatkan
sifatsifat fisikanya. Untuk mendapatkan sifatsifat fisika yang baik belum ada suatu
aturan tertentu mengenai jumlah masingmasing jenis kaitan silang yang harus
terbentuk selama proses pemtangan (proses-vulkanisasi). Tetapi diduga bahwa
perbandingan jumlah masingmasing jenis tersebut harus seimbang.

Berat molekul hidrokarbon karet alam (cis 1,4 poliisoprena) dalam kompon
murni dapat dihubungkan terhadap viskositas mooney kompon dengan persamaan
empiris sebagai berikut :
10-5 M = 0.0623 ( M + 18.7)
M

: Berat molekul hidrokarbon karet alam

M : Viskositas mooney kompon

Penggolongan jenis mutu pada karet konvensional dilakukan atas dasar sifat
sifat visual atau sifatsifat yang dapat dilihat oleh mata, misalnya warna karet, adanya
cendawan serta nodanoda lain (gelembung udara, dan sebagainya), serta tebal
lembaran karet.

Masingmasing kelas tersebut di atas terbagi lagi atas beberapa jenis mutu,
sehingga seluruhnya ada 35 jenis mutu. Jelas bahwa penggolongan menurut kelas
kelasnya dilakukan atas dasar cara pengolahan dan jenis bahan bakunya, walaupun

Universitas Sumatera Utara

penggolongan

jenisjenis

mutu

didasarkan

atas

sifatsifat

visual.

Sistem

penggolongan tersebut sama sekali tidak memberikan informasi tentang sifatsifat


teknis dari karet mentahnya (kecuali untuk barangbarang jadi karet yang berwarna
muda), dan tidak terdapat hubungan langsung antara warna, gelembung udara dan
nodanoda tertentu lainnya dengan sifat sifat teknis yang menjadi persyaratan barang
barang jadi karet yang diproduksi.

Pihak konsumen bahan mentah karet di luar negeri menginginkan bahan yang
dengan jelas diketahui sifatsifat teknis serta kadar komponenkomponennya,
sehingga pengusaha pabrikpabrik barang jadi dapat mengatur proses setepat mungkin
sesuai dengan kondisi pengolahannya masingmasing. RSS dari jenis mutu yang
sama, tetapi dihasilkan oleh perkebunan yang berbeda, mungkin mempunyai sifat-sifat
teknis tertentu yang tidak sama. Untuk mengatasi ketidakseragaman bahan mentah
karet alam lazimnya pabrikpabrik besar barang jadi karet di luar negeri menggiling
atau mencampur dulu stok yang diperlukan sampai menjadi seragam atau (homogen)
sebelum dipakai lebih lanjut pada pembuatan kompon. Walaupun demikian masih
diharapkan agar supaya bahan mentah yang dibelinya mempunyai sifatsifat teknis
yang cukup seragam (homogen) dan dapat disajikan dalam bentuk yang sesuai dengan
kondisi pengolahan di pabrikpabrik modern pada waktu ini demi perbaikan efisiensi
serta produktivitasnya.

Universitas Sumatera Utara