Anda di halaman 1dari 5

Rintangan Menuju Allah*

ِ‫ َو َسّيَئات‬،‫سَنا‬ ِ ‫ل ِمْن ُشُروِر َأْنُف‬ ِ ‫ َو َنُعوُذ ِبا‬،‫سَتْغِفُرُه‬


ْ ‫ َو َن‬،‫سَتِعيُنُه‬
ْ ‫ َو َن‬،‫حَمُدُه‬ْ ‫ل َن‬ِ ‫حْمَد‬ َ ‫ِإّن اْل‬
،‫ل‬ ُ ‫ َو َأْشَهُد َأْن َل ِإَلَه ِإَل ا‬،‫ل َهاِديَ َلُه‬ َ ‫ضِلْل َف‬
ْ ‫ َو َمْن ُي‬،‫ضّل َلُه‬ ِ ‫ل ُم‬ َ ‫ل َف‬
ُ ‫ َمْن َيْهِدِه ا‬،‫َأْعَماِلَنا‬
‫حّمًدا َعْبُدُه َو َرُسوُلُه‬ َ ‫ َو َأْشَهُد َأّن ُم‬،‫ك َلُه‬ َ ‫َوْحدَُه َل َشِرْي‬
(‫سِلُموَن‬ ْ ‫ل َحّق ُتَقاِتِه َو َل َتُموُتّن ِإّل َو َأْنُتْم ُم‬ َ ‫ )َيا َأّيَها اّلِذيَن آَمُنوا اّتُقوا ا‬:‫َقاَل َتَعاَلى‬
‫س ّوِحَدٍة ّو َخَلَق ِمْنَها َزْوجََها َو‬ ٍ ‫س اّتُقوا َرّبُكُم اّلِذي َخَلَقُكْم ِمن ّنْف‬ ُ ‫ )َيا َأّيَها الّن‬:‫ضا‬ً ‫َو َقاَل َأْي‬
‫ل َكاَن َعَلْيُكْم‬ َ ‫سآَءُلوَن ِبِه َو اْلَأْرَحاَم ِإّن ا‬ َ ‫ل اّلِذي َت‬ َ ‫ساًء ّو اّتُقوا ا‬َ ‫ث ِمْنُهَما ِرَجاًل َكِثًيا ّو ِن‬ ّ ‫َب‬
(‫َرِقيًبا‬
‫صِلْح َلُكْم َأْعَماَلُكْم َو‬ ْ ‫ل َو ُقوُلوا َقْوًل َسِديًدا ّي‬ َ ‫ ) َيا َأّيَها اّلِذيَن آَمُنوا اّتُقوا ا‬:‫ل َلُه‬ َ ‫َو َقَل َجّل َج‬
(‫ل َو َرُسْوَلُه َفَقْد َفاَز َفْوًزا َعِظيًما‬ َ ‫َيْغِفْر َلُكْم ُذُنوَبُكْم َو َمْن ّيِطِع ا‬
‫ َو‬،‫ل َعَلْيِه َو َسّلَم‬ ُ ‫صّلى ا‬ َ ‫حّمٍد‬ َ ‫ي ُم‬ُ ‫ي َهْد‬ ِ ‫ َو َخْيَر اْلَهْد‬،‫ل‬ ِ ‫لُم ا‬ َ ‫لِم َك‬َ ‫سَن اْلَك‬ َ ‫ َفِإّن َأْح‬:‫َأّما َبْعُد‬
‫ضلََلٍة ِفى الّناِر‬ َ ‫ َو ُكّل‬،‫ضلََلٌة‬ َ ‫ َو ُكّل ِبْدَعٍة‬،‫ت ِبْدَعٌة‬ ٍ ‫حَدَث‬ ْ ‫ َو ُكّل ُم‬،‫حَدَثاُتَها‬ ْ ‫ّشّر ْاُلُمْوِر ُم‬
Ma'asyiral Muslimin, Jamaah Jum'at Rahimakumullah,
Manusia lahir ke dunia ini ibarat orang yang sedang dalam perjalanan menuju Allah . Melalui
beberapa fase dan berbagai jalan yang berliku lagi panjang. Lama perjalanan tersebut sesuai umur
masing-masing manusia.

Dalam perjalanan tersebut ada yang selamat sampai di tujuan, yakni masuk surga. Ada pula yang
tidak selamat, yakni singgah di neraka dulu bertahun-tahun. Dan ada pula yang celaka selamanya,
kekal di neraka yaitu orang-orang kafir, musyrik dan munafik.

Ma'asyiral Muslimin, Jamaah Jum'at Rahimakumullah,


Adapun kita umat Islam, maka terbagi menjadi tiga golongan atau tingkatan, sebagaimana

ْ ٌ ْ ْ
disebutkan Allah  dalam firman-Nya,
ْ ْ ْ ْ
‫ظالِم لِّنَفِسِهۦ و‬
َ ‫ن ٱصطََفيَنا ِمن ِعَباِدَنا ۖ فَِمنُم‬ ‫لي‬ َ ّ
ِ ‫كَتٰـب ٱ‬ ِ ‫ُث أ َورثَنا ٱل‬
َ َ َ َ َّ
ْ ْ ْ ٰ ْ ْ ْ ٌ ْ ْ ٌ ْ ْ ْ
‫ي‬ ‫ب‬‫ك‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫و‬‫ه‬ ‫ك‬‫ل‬َ ‫ذ‬ ۚ ‫ل‬ ‫ٱ‬ ‫ن‬ ‫ذ‬ ‫إ‬‫ب‬ ‫ت‬‫ي‬ٰ
ُ َ َ ُ َ ِ ِ َ ّ ِ ِ ِ ِ َ َ ِ ِ َ ُ ِ َ ِ َ ُ‫ِمنُم م‬
‫ض‬ ‫ف‬ ‫خ‬ ‫ل‬ ‫بٱ‬ ‫ق‬ ‫ب‬ ‫سا‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫و‬ ‫د‬ ‫ص‬ ‫ت‬ ‫ق‬
ُ ِ َ
“Kemudian kitab (al-Qur'an) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara
hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di
antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu
berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS.
Fathir: 32)
Menurut ayat tersebut umat Islam ada dalam tiga tingkatan, yaitu:
1. Zhalimun linafsihi atau golongan yang menganiaya diri mereka sendiri, yaitu orang yang
tidak perhatian dalam melaksanakan sebagian kewajiban, serta bergelimang dengan
sebagian yang diharamkan (orang yang lebih banyak kesalahan dan dosanya dariapda
amal kebaikannya). Termasuk dalam kelompok ini adalah orang atau golongan yang
menyimpang dari jalan golongan yang selamat, yaitu mereka yang selain dari ahlus-
sunnah wal jama'ah.
2. Muqtashid atau golongan pertengahan, yaitu orang yang menunaikan kewajiban dan
meninggalkan yang haram, meskipun terkadang meninggalkan sebagian yang dianjurkan
(sunnah) dan melaksanakan sesuatu yang dimakruhkan atau dibenci dalam Islam.
3. Sabiqun bil khairat atau golongan yang lebih dahulu (bergegas) berbuat kebaikan, yaitu
orang yang melakukan kewajiban dan hal-hal yang dianjurkan, serta meninggalkan hal
yang diharamkan, yang dimakruhkan, dan sebagian yang dibolehkan dalam Islam.
Golongan terakhir ini secara rinci adalah: melaksanakan yang wajib, melaksanakan yang
sunnah, meninggalkan yang haram, meninggalkan yang makruh dan meninggalkan
sebagian yang mubah (halal).

Demikianlah penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, dan juga imam-imam yang lain.

Ibnu Abbas  mengatakan, “Kelompok 'sabiqun bil khairat' akan masuk surga tanpa hisab.
Kelompok 'muqtashid' akan masuk surga dengan rahmat Allah. Dan kelompok 'zhalimun
linafsihi' akan masuk surga dengan syafaat Nabi Muhammad.”

Berdasarkan hadits Abu Darda`  yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa kelompok
'sabiqun bil khairat' akan masuk surga tanpa hisab, kelompok 'muqtashid' adalah orang-orang
yang dihisab dengan hisab yang mudah, dan kelompok 'zhalimun linafsihi' adalah orang-orang
yang ditahan di Padang Mahsyar dalam waktu yang lama.

Dengan kata lain, umat Islam itu ada yang masuk surga tanpa dihisab, ada yang masuk surga
dengan rahmat Allah, dan ada yang masuk neraka terlebih dahulu.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,


Pertanyaannya, mengapa ada umat Islam yang tidak sampai tujuan dengan selamat? Kenapa
masih ada yang masuk neraka, bahkan lebih banyak? Jawabannya, karena ada rintangan atau
musuh yang menghalangi manusia dari jalan keselamatan. Paling tidak ada dua rintangan atau
musuh. Yaitu musuh dari dalam diri sendiri dan musuh dari luar diri pribadi manusia.

Musuh dari dalam tiap diri pribadi manusia yang bisa dikatakan musuh dalam selimut, ada dua
macam, yaitu:

Pertama, Kebodohan
Orang bodoh yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menuju Allah , karena
kebodohannya maka dia tidak mengetahui jalan yang benar. Akhirnya dia hanya berputar-putar
dalam melakukan hal-hal yang malah menjerumuskannya pada kesyirikan, kekufuran,
kebid'ahan, kemaksiatan dan yang sejenisnya.

Kebodohan dalam agama, membuat orang yang ingin beramal shalih akhirnya hanya beramal
yang salah. Kebodohan adalah musuh dalam Islam. Rasulullah  bersabda,
‫ل ِبِه َخْيًرا ُيَفّقْهُه ِفي الّدْيِن‬
ُ ‫َمْن ُيِرِد ا‬
“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan terhadap dirinya, maka Allah akan
memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)
Kedua, Nafsu atau keinginan-keinginan manusia.
Dengan nafsu yang terdapat dalam setiap diri pribadi manusia, seseorang menjadi malas untuk
menuntut ilmu, beribadah dan berdakwah. Dengan nafsu ini pula yang membuat orang rajin
beramal tapi salah, berbuat bid'ah, melakukan kemaksiatan, enggan mengikuti kebenaran dan lain

ْ
sebagainya. Allah  berfirman,

ٓ ۚ‫حم رب‬ ٓ ٌ
ّ ِ َ َ ِ ‫سوِء إ َّل َما َر‬ُ ّ ‫ل ّ َماَرة ۭ ِبٱل‬
َ َ ‫ِإ ّ َن ٱلنّ َفس‬
َ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,


Selanjutnya musuh yang berasal dari luar diri manusia yang juga ada dua.

ْ ‫إن ٱلشْيطـن لكْم عد ٌو فٱتخذوه عد ًوا ۚ إنما يْدعوا ح‬


Pertama, setan. Allah  berfirman,

‫كوُنو۟ا‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ۥ‬ ‫ه‬ ‫ب‬‫ز‬


ُ ِ ُ َ ِ ۟ ُ َ َ ٰ َ َّ َّ ِ
َ َ َ َّ ِ ّ ُ َ ُ ُ ِ َّ َ ّ ُ َ ُ
‫ي‬ ‫ع‬ ‫س‬ ‫ٱل‬ ‫ب‬ ‫ـ‬ ‫ح‬ ْ ‫نأ‬
‫ص‬ ْ ‫م‬
ِ
ِ َّ ِ َ ٰ َ ِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu), karena
sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni
neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Jadi, setan selalu berusaha menipu dan mengelabui agar manusia terpedaya sehingga menjadikan
maksiat menjadi indah, bid'ah tampak seperti sunnah, yang baik menjadi buruk dan yang buruk
menjadi baik, menampakkan yang hak menjadi batil dan yang batil menjadi hak. Serupa dengan
itu pula, dengan tipu daya setan maka buka-bukaan aurat menjadi hal yang biasa, namun menutup
aurat malah menjadi hal yang aneh dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

ٌ ْْ
Kedua, dunia. Allah  berfirman,

‫دكُْم فتنَة‬ ‫ـ‬ ‫ل‬ ْ ‫وٱْعلموا أنما أْمٰولكْم و أ‬


‫و‬
ُ ٰ َ َ َ ُ ُ َ َ َ َّ َ ۟ ُ َ َ
“Dan ketahuilah, sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (ujian/cobaan)
bagimu.” (QS. al-Anfaal: 28)

Jadi, harta dunia ini bisa menyeret kita ke dalam kebinasaan, ke dalam neraka, bilamana kita
tidak bisa menguasainya. Namun bila kita memiliki iman dan ilmu, maka insya Allah kita akan
bisa menundukkan dunia, menjadikannya sarana untuk menuju keridhaan Allah dengan cepat.

‫ت َفاْسَتْغِفُروُه ِإّنُه ُهَو‬


ِ ‫سِلَما‬
ْ ‫ي َو اْلُم‬
َ ‫سِلِم‬
ْ ‫ساِئِر اْلُم‬
َ ‫ل ِلي َو َلُكْم َو ِل‬
َ ‫َأُقْوُل َقْوِلي َهَذا َأْسَتْغِفُر ا‬
‫اْلَغُفوُر الّرِحْيُم‬
Khutbah Kedua

‫حّمًدا َخاَتُم‬
َ ُ‫ َو َأْشَهُد َأّن م‬،‫ي‬
َ ‫ح‬
ِ ‫صاِل‬
ّ ‫ل َوِلّي ال‬
ُ ‫ َو َأْشَهُد َأْن َل ِإَلَه ِإّل ا‬،‫ي‬
َ ‫ب اْلَعاَلِم‬
ّ ‫ل َر‬
ِ ‫حمُْد‬
َ ‫َاْل‬
‫ت َعَلى آِل ِإْبَراِهيَم‬َ ‫صّلْي‬
َ ‫حّمٍد َكَما‬ َ ‫حّمٍد َو َعَلى آِلِه ُم‬َ ‫صّل َعَلى ُم‬
َ ‫ الّلُهّم‬،‫ي‬
َ ‫ْاَلْنِبَياِء َو اْلُمْرَسِل‬
،‫جيٌد‬ ِ ‫ك َحِميٌد َم‬
َ ‫ت َعَلى آِل ِإْبَراِهيَم ِإّن‬ َ ‫حّمٍد َكَما َباَرْك‬َ ‫حّمٍد َو َعِلى آِل ُم‬
َ ‫َو َباِرْك َعَلى ُم‬
‫َأّما َبْعُد‬
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Jadi, musuh-musuh yang telah disebutkan di atas harus dilawan dan dijadikan musuh, tidak bisa
dibiarkan saja untuk menguasai diri-diri kita.

Terakhir, kami ingin menyampaikan tanda-tanda manusia yang terjerat lagi tersesat dari jalan
menuju Allah dan keridhaan-Nya, antara lain: disibukkan dengan permainan atau main-main,
banyak hiburan, banyak bermaksiat, banyak beribadah tapi tidak sesuai yang diajarkan oleh
Rasulullah, banyak beribadah tapi riya` dan sum'ah atau tidak ikhlash serta banyak mengisi waktu
luang dengan hal-hal yang tidak berguna atau sia-sia.

Rasulullah  bersabda,
‫لِم اْلَمْرِء َتْرُكُه َما َل َيْعِنْيِه‬
َ ‫سِن ِإْس‬
ْ ‫ِمْن ُح‬
“Termasuk kebaikan (kesempurnaan) Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang
tidak bermanfaat baginya.” (HR. at-Turmudzi, dll)

Demikianlah, mereka adalah orang-orang yang tidak lulus menuju Allah.

Kita memohon kepada Allah  untuk hidayah dan taufiq dari-Nya, agar hidup kita penuh arti,
bisa melakukan hal-hal yang diridhai Allah , sehingga di akhir perjalanan kita nanti benar-
benar bisa sampai kepada Allah dengan selamat, tanpa perlu singgah ke neraka terlebih dahulu.
Amin ya Rabbal 'alamin.

َ‫ت َعَلى ِإْبَراِهيَم َو َعَلى آِل ِإبَْراِهْيَم ِإّنك‬َ ‫صَلْي‬َ ‫حّمٍد َكَما‬ َ ‫حّمٍد َو َعَلى آِل ُم‬ َ ‫صّل َعَلى ُم‬ َ ‫الّلُهّم‬
‫ت َعَلى ِإْبَراِهيَم َو َعَلى آِل‬ َ ‫حّمٍد َكَما َبَرْك‬ َ ‫حّمٍد َو َعَلى آِل ُم‬ َ ‫ الّلُهّم َبِرْك َعَلى ُم‬،‫جيٌد‬ ِ ‫َحِميٌد َم‬
.‫جيٌد‬ِ ‫ك َحِميٌد َم‬ َ ‫ِإْبَراِهْيَم ِإّن‬
‫صِلْح ُوَلَة ُأُموِرَنا َو َأْعِطِهْم اِلْسِتَقاَمَة ِفى ِديِنِهْم َو اْهِدِهْم ِإَلى ُكّل َخْيٍر َو‬ ْ ‫حَنا َو َأ‬ْ ‫صِل‬
ْ ‫الّلُهّم َأ‬
‫ب الّدْعَوِة‬ ُ ‫جي‬ ِ ‫ك ُم‬َ ‫ي ِلُوَلِة ُأُموِرَنا ِإّن‬َ ‫اْجَعلَْنا ُمِطيِع‬
‫ف َو اْلِغَنى‬َ ‫ك اْلُهَدى َو الّتَقى َو اْلَعَفا‬ َ ‫سَأُل‬ْ ‫الّلُهّم ِإّنا َن‬
‫ت اْلَوّهاب‬َ ‫ك َأْن‬
َ ‫ك َرْحَمًة ِإّن‬َ ‫ب َلَنا ِمْن َلُدْن‬ ْ ‫غ ُقُلوَبَنا َبْعَد ِإْذَهَدْيَتَنا َو َه‬
ْ ‫الّلُهمّ َل ُتِز‬
‫حِكيُم‬َ ‫ت اْلَعِزيُز اْل‬
َ ‫ك َأْن‬
َ ‫جَعْلَنا ِفْتَنًة ّلّلِذيَن َكَفُروا َواْغِفْر َلَنا َرّبَنا ِإّن‬
ْ ‫َرّبَنا َل َت‬
.‫ي‬
َ ‫ب اْلَعاَلِم‬ ِ ‫ل َر‬ ِ ‫حْمُد‬َ ‫ َو اْل‬،‫ب الّناِر‬ َ ‫سَنًة َو ِقَنا َعَذا‬ َ ‫سَنًة َو ِفى ْاَلِخَرِة َح‬ َ ‫َرّبَنآ َءاِتَنا ِفى الّدْنَي َح‬
* M. Mujib Ansor, SH, Rubrik Khutbah Qiblati edisi 02 tahun V, hal 40 – 43; dengan beberapa perubahan redaksi
kalimat