Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ortodontik adalah cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari
pertumbuhan, perkembangan, variasi wajah, rahang dan gigi pada kondisi
normal maupun abnormal (Harty dan Ogston, 1995). Ortodontik bertujuan
untuk mengetaui perawatan perbaikan dari dentofasial yang abnormal.
Dentofasial yang abnormal ditandai dengan adanya malposisi, malrelasi, dan
malokusi. Malposisi gigi ialah kondisi gigi geligi yang tidak beraturan pada
masing-masing rahang.

Malposisi akan berakibat pada malrelasi yaitu

timbulnya kesalahan hubungan antara geligi rahang atas dan rahang bawah.
Malrelasi dapat menyebabkan maloklusi, namun maloklusi tidak hanya
terjadi pada gigi geligi saja, maloklusi dapat berupa maloklusi dental,
skeletal, maupun dentoskeletal.
Diagnosis ortodontik merupakan diagnosis yang menetapkan suatu
abnormalitas oklusi gigi geligi. Diagnosis ortodontik berperan penting dalam
menyelesaikan suatu kasus ortodontik.

Penegakan diagnosa akan

menentukan rencana penanganan dan perawatan ortodontik.

Rahardjo

(2011), menjelaskan bahwa dalam suatu penegakan diagnosis ortodontik


diperlukan pengumpulan data yang meliputi data analisis umum, analisis
lokal, analisis sefalometri, analisis model, dan analisis fungsional. Dalam
laporan ini, akan dijelaskan bagaimana menentukan diagnosa terhadap suatu
kasus ortodontik serta rencana perawatan yang tepat.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari laporan ini adalah.
1.

Bagaimana penegakan diagnosa ortodontik yang tepat pada skenario?

2.

Bagaimana rencana perawatan ortodontik yang tepat pada skenario?

C. Tujuan
Tujuan dari laporan ini adalah.
1.

Menentukan kelas, tipe, dan jenis maloklusi pada kasus di skenario.

2.

Mengetahui penyebab maloklusi yang terjadi pada skenario.

3.

Mengetahui rencana perawatan ortodontik yang tepat untuk kasus di


skenario.

D. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari laporan ini adalah.
1.

Mahasiswa dapat mengetahui langkah-langkah pemeriksaan gigi yang


dilakukan untuk memperoleh diagnosa di bidang ortodonsia.

2.

Mahasiswa dapat memahami cara memperoleh data yang diperlukan


dalam diagnosis ortodontik.

3.

Mahasiswa dapat menerapkan langkah-langkah yang tepat dalam


diagnosa ortodontik.

4.

Mahasiswa dapat menentukan diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan


subjektif maupun objektif.

5.

Mahasiswa dapat merencanakan perawatan yang tepat berdasarkan


evaluasi hasil pemeriksaan.

BAB II
ISI

A. Tinjauan Pustaka
1.

Diagnosa ortodontik
Menurut Raharjo (2011), diagnosis meliputi 5 hal yaitu
analisis umum, analisis lokal, analisis fungsional, analisis model,
serta analisis sefalometri.

a.

Analisis umum
Rahardjo (2011), menyatakan analisis umum terdiri dari:

1) Identitas pasien
Identitas pasien meliputi nama, jenis kelamin, umur, dan alamat pasien.
Usia pasien dapat digunakan sebagai data yang berkaitan dengan
pertumbuhan dan perkembangan apakah sudah masuk kedalam tahap
geligi permanen atau masih dalam masa mix dentition.
2) Keluhan utama (Chief complaint)
Keluhan utama berisi kondisi pasien yang menyebabkan

datang ke

dokter gigi. Pengisian keluhan utama berdasarkan apa yang dikatakan


oleh pasien, apa yang menjadi kepentingan utama pasien, sebaiknya
dalam tahap ini dokter tidak memberikan tanggapan terlebih dahulu.
3) Riwayat kesehatan pasien
Riwayat kesehatan pasien dimulai dari kelahiran pasien apakah normal
atau tidak, pernah melakukan tindakan operasi atau tidak, adanya
kelainan endokrin atau tidak, ada atau tidaknya penyakit sistemik, ada
atau tidaknya alergi, serta penyakit yang pernah/sedang diderita.
4) Berat badan dan tinggi badan
Berat dan tinggi badan diukur untukmengetahui apakah pertumbuhan dan
perkembangan pasien normal atau tidak.
5) Ras
Penentuan ras diakukan untuk mengetahui ciri fisik pasien karena tiap ras
memiliki karakteristik tertentu .
6) Bentuk skelet

Bentuk skelet dapat digolongkan menjadi ektomorfik, mesomorfik, dan


endomorfik.

Endomorfik dicirikan dengan tubuh pendek, otot yang

kurang berkembang, dan memiliki banyak jaringan lemak. Ektomorfik


dicirikan dengan tubuh yang langsing dengan sedikit jaringan lemak dan
otot. Mesomorfik dicirikan dengan tubuh langsing dengan otot yang
berkembang dengan baik. Pada umumnya seorang dengan bentuk skelet
ektomorfik mencapai kematangan lebih lambat dibandingkan dengan
bentuk skelet lain.
7) Ciri keluarga
Ciri keluarga berisi ada atau tidaknya keadaan tertentu baik pada gigi
geligi maupun skelet yang berulang atau diturunkan.
8) Kebiasaan buruk
Kebiasaan buruk seperti bernapas melalui mulut, menggigit kuku,
menjulurkan lidah dapat menjadi salah satu penyebab maloklusi.
Misalnya openbite dan rahang yang berbentuk V dapat terjadi akibat
bernapas lewat mulut.
b.

Analisis Lokal
Rahardjo (2011) menerangkan bahwa pada analisis lokal terdapat
pemeriksaan intraoiral dan pemeriksaan ekstraoral.

1) Pemeriksaan Ekstraoral, meliputi:


a) Simetri Wajah
Pada dasarnya muka seseorang tidak simetris secara bilateral, namun
ketidaksimetrisan ini tidak terlihat begitu mencolok. Pada pemeriksaan
simetri wajah dapat dilihat muka pasien dari arah depan. Umumnya,
pasien dengan openbite anterior akan memiliki ukuran tinggi wajah yang
panjang.
b) Bentuk Kepala
Bentuk kepala dari manusia berhubungan dengan bentuk muka, palatum,
maupun lengkung gigi. Bentuk kepala manusia dibedakan menjadi 3
yaitu dolikosefalik, brakisefalik, dan mesosefalik. Dolikosefalik akan
memiliki kepala yang panjang dan sempit apabila kepala dilihat dari atas,
palatum yang tinggi serta sempit, dan memiliki bentuk muka panjang,

sempit, dan protrusif disebut juga leptoprosop. Brakisefalik memiliki


bentuk kepala yang lebar dan pendek apabila kepala dilihat dari atas,
palatum lebar dan dangkal, dan memiliki bentuk muka yang lebih besar,
kurang protrusif disebut juga euriprosop. Mesosefalik memiliki ciri
diantara dolikosefalik dan brakisefalik. Selain itu bentuk kepala dapat
juga

diketahui

dengan

melakukan

perhitungan

Dolilosefalik memiliki indeks sefalik < 0,75.

indeks

sefalik.

Mesosefalik memiliki

indeks sefalik 0,76-0,79. Brakisefalik memiliki indeks sefalik > 0,80.


Indeks sefalik =

Lebar kepala

x 100

Panjang kepala
c) Tipe Wajah
Tipe wajah manusia dibedakan menjadi 3 yaitu leptoprosop, euriprosop,
dan mesoprosop. Leptoprosop memiliki bentuk wajah yang panjang,
sempit, dan protrusif. Euriprosop memiliki bentuk muka yang leboh datar
dan kurang protrusif. Mesoprosop memiliki ciri diantara kedua tipe atau
muka yang sedang. Selain melalui pengamatan dapat juga dilakukan
perhitungan dengan rumus:
Indeks wajah =

Lebar wajah

x 100

Tinggi wajah
d) Tipe Profil
Tipe profil bertujuan untuk mengetahui kecembungan atau kecekungan
dari pasien. Kecembungan dan kecekungan muka akan menunjukan
disporsi rahang. Tipe profil dapat dilihat dengan cara mendudukan pasien
dalam keadaan natural head position dengan meraik 2 garis yaitu dari
pangkal hidung sampai ke dasar bibir atas, dan dari dasar bibir atas
sampai ke dagu. Tipe profil dibedakan menjadi 3 yaitu lurus, cembung,
dan cekung. Pada tipe profil lurus kedua garis ini akan membentuk lurus
dan mengarah pada maloklusi kelas I Angle. Tipe profil cembung garis
pertama lurus sedangkan garis kedua membentuk sudut dikarenakan
posisi dagu lebih ke posterior sehingga mengarah pada maloklusi kelas II
Angle. Tipe profil cekung letak dari dagu pasien lebih ke anterior
sehingga mengarah pada maloklusi kelas III Angle.

e) Bibir
Bibir dari pasien dibedakan menjadi 2 jenis yaitu bibir yang kompeten
dan bibir yang tidak kompeten. Bibir kompeten apabila menutup mulut
tidak memerlukan kontraksi dari otot-otot bibir, sedangkan bibir yang
tidak kompeten apabila menutup mulut memerlukan kontraksi otot-otot
bibir untuk mendapatkan anterior seal. Pada umumnya, pasien yang
memiliki openbite akan mengalami bibir yang tidak kompeten.
f)

Kebiasaan jelek
Kebiasaan jelek dari pasien tentu dapat menyebabkan maloklusi.
Adapun 3 syarat untuk kebiasaan jelek teserbut sehingga dapat
menyebabkan maloklusi yaitu lamanya kebiasaan tersebut berlangsung,
frekuensi yang cukup, dan intensitas melakukan kebiasaan tersebut.
Kebiasaan jelek yang biasanya dilakukan oleh pasien antara lain
menggigit kuku, menggigit benda seperti pensil dan pulpen, bernafas
melalui mulut, dan menghisap ibu jari.

2) Pemeriksaan Intraoral, meliputi:


a) Lidah
Pada pemeriksaan lidah perlu diperhatikan ukuran, bentuk, serta fungsi.
Lidah yang terlalu besar atau disebut makroglosi terhadap lengkung
gigi akan menimbulkan adanya scalloping (cetakan sisi lingual gigi
pada lidah) pada tepi luar lidah.
b) Palatum
Palatum merupakan proyeksi konfigurasi fosan cranial anterior. Bentuk
palatum akan mempengaruhi retensi pada peranti ortodontis lepasan.
Bentuk palatum yang tinggi akan memiliki retensi yang lebih baik
dibandingkan dengan palatum yang rendah.
c) Fase gigi geligi
Pada perawatan ortodontik perlu diketahui fase gigi geligi dari pasien.
Pada umumnya, pasien yang melakukan perawatan ortodontik pada fase
mix dentition dan fase gigi permanen.
d) Karies

Karies gigi merupakan penyebab maloklusi lokal yang dapat


menyebabkan premature loss pada gigi sulung sehingga terjadi
pergeseran gigi pada gigi permanen dan erupsi gigi permanen yang
terlambat. Frekuensi karies dapat diketahui dengan penghitungan index
Decay Mising Filling-Tooth (DMF-T).
e) Gigi yang ada
Pada pemeriksaan gigi yang ada diperhatikan semua gigi geligi yang
terdapat pada rongga mulut, dapat dilakukan pada odontogram.
f)

Kebersihan mulut
Pada

perawatan

ortodontik

tidak

diperbolehkan

keadaan

atau

kebersihan mulut yang jelek. Hal ini dikarenakan apabila pasien dengan
kebersihan mulut yang jelek melakukan perawatan ortodontik lepasan
akan memperparah kebersihan mulut pasien (Rahardjo, 2011).
Kebersihan mulut dapat diketahui dengan melakukan penghitungan
Oral Hygiene Index.

c.

Analisis Fungsional
Analisa fungsional dilakukan dengan tujuan mengetahui ada atau
tidaknya kelaian pada temporomandibular joint.

Pemeriksaan TMJ

dilakukan dengan palpasi untuk mengetahui ada tidaknya kelainan saat


pembukaan, rasa sakit, maupun suara saat membuka mulut.
Pembukaan mandibula yang normal ialah 35-40 mm dan gerakan ke
lateral 7 mm

sedangkan ke depan 6 mm.

diperhatikan saat pemeriksaan ialah

Hal lain yang perlu

free way space, path of closure,

displacement dan deviasi mandibula (Rahardjo, 2011).


1) Free way space adalah jarak antaroklusal saat mandibula pada posisi
istirahat. Jarak normalnya ialah 2-3 mm.
2) Path of closure merupakan gerakan mandibula dari posisi istirahat ke
oklusi sentrik. Pergerakan mandibula menuju oklusi sentrik ialah ke
atas dan ke depan dengan kondisi akhir kondilus berada di paling
superior dan posterior fosso kondilaris. Path of closure yang abnormal
dapat berupa adanya displacement atau deviasi mandibula.

3) Deviasi mandibula menunjukan adanya perubahan arah mandibula


terhadap arah yang normal.

Deviasi mandibula biasanya tidak

menimbulkan rasa sakit ataupun kerusakan jaringan periodontal.


4) Displacement mandibula menandakan adanya kelainan pada fungsi
temporomandibular joint. Dislokasi mandibula terjadi akibat adanya
hambatan

saat

oklusi

yang

dapat

menimbulkan

rasa

sakit.

Displacement mandibula dapat terjadi pada jurusan sagital dan


transversal (Rahardjo, 2011).

d.

Analisis Model
Model studi adalah rekam ortodontik yang paling sering digunakan
untuk menganalisis suatu kasus dan memberikan banyak informasi.
Keadaan yang dapat dilihat pada model yaitu:

1) Bentuk lengkung geligi,


Bentuk lengkung gigi dapat model dilihat dari oklusal kemudian bentuk
lengkung geligi diamati. Bentuk lengkung yang normal adalah
parabola, adapun bentuk lengkung yang tidak normal seperti lebar,
menyempit daerah anterior dan lain lain. Bentuk lengkung juga
berhubungan dengan bentuk kepala brakisefalik cenderung memiliki
bentuk lengkung gigi yang lebar (Foster, 2012).
2) Diskrepansi pada model
Diskrepansi ialah perbedaan antara tempat yang tersedia (space
available)

dengan

tempat

yang

dibutuhkan

(space

required).

Diskrepansi pada model merupakan bagian dari diskrepansi total yang


terdiri dari diskrepansi model, diskrepansi sefalometrik, kedalam kurva
spee, dan pergeseran molar ke mesial. Diskrepansi model untuk
menentukan macam perawatan pasien, apakah perlu pencabutan atau
tidak (Rahardjo,2011). Terdapat berbagai macam metode untukk
menghitung diskrepansi diantaranya metode Pont,
a)

Metode Pont

Metode Pont dilakukan menghitung selisih jarak inter P dan M pada


model dengan jarak inter P dan M ideal. Jarak inter P dan M ideal
diketahui melalui tabel Pont atau dengan rumus:
Inter P ideal = jumlah mesio-distal 4 insisif atas x 100
80
Inter M ideal = jumlah mesio-distal 4 insisif atas x 100
64
Inter P pada model dihitung dengan mengukur titik terdistal cekung
mesial gigi P1 rahang atas kanan dan kiri.

Sedangkan inter M

sebenarnya dihitung dengan mengukur titik cekung mesial M1 rahang


atas kanan dan kiri.

Apabila hasil diskrepansi positif menandakan

terjadi distraksi lengkung gigi sedangkan hasil yang negatif


menandakan terjadi kontraksi lengkung gigi (Moyers, 1988).
b) Metode Howes
Metode Howes dilakukan untuk mengetahui lebar lengkung gigi dan
lengkung alveolar. Lebar lengkung gigi diketahui dengan menghitung
jarak inter P1 dari titik bagian dalam puncak tonjol bukal P1 kanan dan
kiri.

Sedangkan lengkung alveolar sebenarnya diketahui dengan

mengukur jarak iantar fossa kanina. Apabila lebar inter fossa kanina
lebih besar dari inter P1 menandakan gigi perlu di ekspansi karena
hubungan antara lengkung basal dan lengkung gigi berbentuk
konvergen (Moyers, 1988).
c)

Metode Sitepu
Metode Sitepu dilakukan dengan menghitung selisih tempat yang
tersedia dengan tempat yang dibutuhkan. Tempat yang tersedia / space
available dapat diukur dengan kawat tembaga dari mesial M1 kanan ke
kiri mengikuti lengkung gigi. Tempat yang dibutuhkan adalah jumlah
mesio distal gigi geligi permanen disebelah mesial M1 permanen kiri
hingga M1 permanen kanan dilakukan dengan pengukuran mesiodistal
premolar kedua kanan sampai premolar kedua kiri pada model dengan
jangka sorong (Rahardjo,2011).

Bila kekurangan tempat sampai

dengan 4 mm tidak diperlukan pencabutan gigi permanen. Bila

10

kerkurangan 5-9 mm kadang kadang masih dapat dirawat tanpa


pencabutan gigi, namun sering dilakukan pencabutan. Bila kekurangan
10 mm atau lebih diperlukan pencabutan biasanya premolar. Gigi
permanen yang biasa dicabut untuk perawat ortho yaitu gigi premolar
pertama, bila ada gigi yang karies parah juga dicabut (Rahardjo,2011).
3) Analisis ukuran gigi,
Tooth size analysis lebih sering disebut analisis Bolton, dilakukan
dengan mengukur lebar setap gigi. Ukuran kemudian dibandingkan
dengan tabel standar jumlah lebar gigi anterior atas atau bawah dan
lebar mesio distal semua gigi atas dan bawah. Pemeriksaan cepat untuk
mengukur perbedaan gigi anterior dengan membandingkan ukuran
insisif lateral atas dan bawah. Bila perbedaan ukuran gigi kurang 1,5
mmm jarang berpengaruh, sedangkan jika melebihi 1,5 akan
menimbulkan masalah pada perawatan ortodontik (Rahardjo, 2011).
4) Kurva Spee
Lengkung yang menghubungkan insisal insisif dengan bidang oklusal
molar terakhir rahang bawah. Kurva spee yang positif (bentuk kurva
jelas dan dalam) biasanya pada gigi insisif yang supraposisi atau gigi
posterior yang infraposisi. Kurva spee pusat titik pada tulang lakrimal
pada orang dewasa radius 65-70mm. Kurva ini berkontak di empat
posisi permukaan anterior kondil, daerah kontak distoklusal, molar
ketiga, daerah kontak mesiookusal M1 permanen, dan tepi insisal
(Rahardjo, 2011).
5) Diastema
6) Simetris Gigi
Simetris gigi dalam jurusan sagital maupun transversal dengan cara
membandingkan letak gigi permanen senama kiri dan kanan. Alat yang
diperlukan transparent ruler grid atau simestrokop (Rahardjo,2011).
7) Gigi yang terletak salah / malposisi gigi
8) Pergeseran garis median
9) Relasi gigi posterior

11

Pemeriksaan relasi dilakukan pada gigi M1 permanen jurusan sagital,


transversal, dan vertikal. Relasi jurusan sagital dapat terjadi neutroklusi,
distoklusi, mesioklusi, gigitan tonjol, dan tidak ada relasi. Relasi
transversal, gigitan fissure luar rahang atas, rahang atas lebih lebar dari
rahang bawah. Relasi dalam jurusan vertikal, tidak ada kontak antara
gigi atas dan bawah gigitan terbuka.

e.

Analisa Sefalometri
Menurut Rahardjo (2011), sefalometri adalah pemeriksaan penunjang
yang digunakan untuk menentukan kelainan skeletal, letak gigi, serta
profil pasien yang dituliskan dalam rekam medik ortodontik.
Pemeriksaan sefalometri menggunakan beberapa titik, antara lain:

1) S (Sella) : terletak di sela tursika


2) N (Nasion) : terletak di depan sutura frontonasalis
3) ANS (Anterior Nasalis Spina) : terletak di ujung spina nasalis anterior
4) PNS (Posterior Nasalis Spina) : terletak di ujung spina nasalis posterior
5) A (Subspinale) : titik paling dalam dari kurvatur alveolaris rahang atas
6) B (Supramentale) : titik paling dalam dari kurvatur alveolaris rahang
bawah
7) Go (Gonion) : titik tengah pada lengkungan sudut mandibula diantara
ramus dan korpus
8) Me (Menton) : titik terendah pada dagu
Untuk menentukan letak skeletal dapat dengan cara membandingkan
sudut SNA yang menyatakan letak maksila terhadap kranium dan letak
mandibula yang menyatakan letak mandibula terhadap kranium. Rerata
sudut SNA pada Kaukasoid 82o , dan untuk sampel Surabaya 84o,
sedangkan rerata sudut SNB pada Kaukasoid 80o, dan untuk sampel
Surabaya 81o. Selisih dari sudut SNA dan sudut SNB merupakan sudut
ANB yang menyatakan hubungan maksila terhadap mandibula. Pada
keadaan normal, sudut ANB 2o (kelas I), 4o (kelas II), dan negatif untuk
kelas III (Rahardjo, 2011).

12

2.

Etiologi maloklusi
Iman (2008), menyatakan etiologi maloklusi dibagi menjadi dua
yaitu faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik.

a.

Faktor ekstrinsik

1) Keturunan
2) Kongenital
3) Lingkungan
4) Presdisposisi ganguan metabolisme dan penyakit, misalnya
gangguan keseimbangan endokrin.
5) Bad habit
b.

Faktor intrinsik

1) Kelainan jumlah gigi


2) Kelainan ukuran gigi
3) Kelainan frenulum labii
4) Premature loss
5) Kelainan jalannya erupsi gigi
6) Karies.

3.

Jenis perawatan
Menurut Rahardjo (2011), cara pemakaian alat perawatan ortodontik
dibagi menjadi:

a.

Perawatan dangan alat lepasan


Dapat dipasang dan dilepas oleh pasien sendiri, biasanya dipke pada
kelainan gigi saja karena keterbatan perawatan contoh: plat aktif,
activator, plat ekspansi.

b.

Perawatan dengan alat cekat


Hanya dipasang dokter yang merawat. Mempunyai kemampuan yang
kompleks. Contoh : teknig bag, twin wire arch, straightwire.

c.

Orthodonti bedah atau pencabutan


Menurut (Rahardjo, 2011) tindakan pencabutan pada perawatan
orthodonti dilakukan apabila diskrepansi total kekurangan tempat 8
mm. Pertimbangan pemilihan gigi yang dicabut adalah.

13

1) Gigi insisiv, gigi yang jarang dipilih sebagai pilihan utama untuk
pencabutan karena insisiv mempengaruhi estetik gigi. Pencabutan
insisiv menyebabkan kesukaran untuk mengadakan relasi gigi yang
baik karena terdapat tiga gigi di satu rahang sedangkan dirahang lain
terdapat empat gigi.
2) Kaninus mempunyai peran sangat besar baik untuk estetik dan fungsi
kunyah yaitu membantu pergerakan mandibula ke lateral.
3) Premolar pertama merupakan gigi yang paling sering dicabut untuk
perawatan ortodonti bila kekurangan tempat sedang sampai banyak.
Premolar pertama dicabut untuk mengoreksi berdesakan baik di anterior
maupun posterior. Sebagian besar ruangan bekas pencabutan premolar
pertama dipakai untuk koreksi berdesakan di anterior.
4) Premolar kedua dilakukan pencabutan jika kebutuhan tempat ringan
sampai sedang kira-kira 4 mm. hanya 25-50 % tempat bekas
pencabutan premolar kedua yang dipakai untuk koreksi gigi yang
berdesakan. Bila premolar kedua dicabut kelebihan tempat dari
pencabutan premolar dapat ditutup dari posterior dengan menggerkkan
molar pertama ke mesial.
5) Molar pertama pencabutan molar permanen pertama menghasilkan
tempat yang banyak sehingga dapat untuk koreksi kelainan di anterior
yang parah meskipun waktu perawatan menjadi lama dan lebih sukar.
6) Molar kedua permanen diindikasikan dicabut bila diperlukan untuk
menggerakkan molar pertama ke distal bila ada gigi berdesakan di
posterior dan member kesempatan molar ketiga untuk bergeser ke
mesial
7) Molar ketiga untuk menghindari berdesakan di region anterior tetapi
sekarang banyak yang berpendapat bahwa molar ketiga hanya
mencegah berdesakan di region anterior tidak dianjurkan.
Selain tindakan pencabutan, dalam perawatan ortodonti bila terjadi
kekurangan ruang kurang dari 4 mm, berdesakan sedang antara 4
sampai 8 mm dan berdesakan parah lebih besar 8 mm dapat dilakukan

14

koreksi letak gigi dengan enamel stripping, eksppansi, lengkung gigi,


distalisasi molar, memproklinasikan insisiv.
Rahardjo (2011) juga menyatakan perolehan ruang pada perawatan
ortodonsi non eksktraksi dapat dilakukan dengan:
1). Enamel stripping
Enamel stripping merupakan penggurangan enamel dapat dilakukan
pada satu sisi distal/mesial gigi sulung atau permanen bertujuan untuk
menyediakan ruangan dan membentuk gigi permanen ke bentuk yang
lebih baik atau memperbaiki titik kontak.
2). Ekspansi
Ekspansi ke arah transversal dilakukan di rahang atas terutama bila
terdapat gigitan silang posterior. Ekspansi ke arah transversal di region
anterior dapat dilakukan untuk mendapatkan tempat agar gigi anterior
sedikit berdesakan dapat dikoreksi. Ekspansi kearah sagital dapat
memperpanjang lengkung gigi. Untuk melakukan ekspansi sagital
region anterior diperlukan posisi gigi yang lebih ke anterior tidak
menganggu profil pasien.
3). Distalisasi Molar
Molar atas dapat digerakkan ke distal untuk menambah ruangan.
Tindakan ini dapat dilakukan pada kasus jika molar pertama permanen
bergeser ke mesial karena kehilangan prematur molar kedua sulung
(Rahardjo, 2011).
d.

Perawatan maloklusi kelas II divisi I


Pada maloklusi kelas II divisi 1 dengan insisif bawah yang retroklinasi
dapat dilakukan ekspansi ahang bawah untuk terlebih dahulu membuat
insisif bawah menjadi proklinasi. Maloklusi kelas II divisi 1 dengan
insisif bawah yang proklinasi atau tegak merupakan hal yang
menguntungkan. Perawatan rahang bawah tidakperlu dilakukan apabila
inklinasi sudah baik dan posisi gigi dalam lengkung juda sudah baik.
Perawatan rahang atas menyesuaikan dengan rahang bawah begitu juga
dengan bentuk lengkung giginya. Untuk maksila dengan jarak gigit
besar dapat dilakukan retaksi agar insisif menjadi retroklinasi. Jika

15

pada mandibula dilakukan ekstraksi, maka hal yang sama dilakukan


juga pada maksila. Inkinasi insisif atas perlu diperhatikan. Apabila
gerakan tipping mengakibatkan retroklinasiinsisif atas, maka perlu
dilakukan dengan gerakan translasi menggunakan torque pada piranti
cekat. Penjangkaran yang baik adalah dengan mini implant sehingga
tidak mempengaruhi molar. Molar yang digunakan sebagai penjangkar
akan

meningkatkan

penjangkaran.

kemungkinan

untuk

terjadinya

kehilangan

Hilangnya penjangkaran dapat diperhatikan dari:

berkurangnya jarak molar-kaninus,

perubahan relasi kaninus,

perubahan relasi molar, perubahan jarak gigit, atau jarak gigit yang
bertambah besar (Rahardjo, 2011).
Menurut Gill (2008) perawatan maloklusi kelas II divisi 1 pada gigi
permanen dapat dilakukan dengan piranti cekat utuk meretraksi insisif
atas. Sebelum di retraksi perlu disiapkan ruang yang cukup baik untuk
retraksi maupun koreksi crowding. Apabila maloklusi terjadi pada mix
dentition dapat digunakan piranti fungsional.

16

B. Hasil dan Pembahasan

1. Identitas pasien
Nama pasien

: Hasna Gayuh Firdaya

Jenis kelamim

: Perempuan

Tanggal lahir / Umur : 26 Mei 1995 / 19 tahun


Pekerjaan

: Mahasiswa

Alamat rumah

: Jl. Gunung Muria Gg. Mangga 1 Grendeng,


Purwokerto

Nomor telp. / hp

: 085 870 160 358

Suku

: Jawa

Nama ayah

: Marhaen Lanang Satya Nagara

Umur ayah

: 48 tahun

Suku ayah

: Jawa

Pekerjaan ayah

: Pegawai Negeri Sipil

Nama ibu

: Hikmah Rini

Umur ibu

: 44 tahun

Suku ibu

: Jawa

Pekerjaan ibu

: Karyawan swasta

2. Anamnesa
Keluhan utama

: Pasien ingin memperbaiki gigi


depan yang kurang rapi

Berat badan

: 53 kg

Tinggi badan

: 160 cm

Kelahiran

: Normal

Kelainan Endokrin

: Tidak Ada

Tindakan Operasi

: Belum Pernah

Penyakit Pernah/Sedang diderita

: Tidak Ada

Kebiasaan Jelek

: Tidak Ada

Keluarga Pernah Dirawat Ortho

: Tidak Ada

Bentuk Skelet

: Mesomorfik

17

Ciri Maloklusi Keluarga

: Ada, gigi depan ayah berdesakan

Kesehatan Saat Ini

: Sehat

3. Analisis lokal
a. Analisis ekstraoral
Bentuk kepala

: Mesosefalik
Indeks sefalik =

Lebar kepala

x 100

Panjang kepala
Indeks sefalik = 19 x 100 = 79,16
24
Berdasarkan hasil peritungan di atas bentuk kepala
pasien termasuk mesosefalik.
Tipe muka

: Mesofasial
Indeks wajah = Tinggi wajah

x 100

Lebar wajah
Indeks wajah =

12 x 100 = 85,7
14

Berdasarkan hasil perhitungan di atas tipe wajah


pasien termasuk mesofasial.
Tipe profil

: Cembung dengan maksila dan mandibula yang


sedikit protrusi

Bibir

: Inkompeten dengan tonus atas hipotonus


Hal tersebut dikarenakan ketika menutup mulut
pasien terlihat menggunakan usaha yang lebih
untuk menutupi gigi atas bagian depan.

Fungsi bicara

: Normal

18

Fungsi bicara pasien tidak mengalami gangguan.


Hal tersebut ditandai dengan pasien mampu
mengucapkan seluruh huruf dengan baik.
Foto profil

Profil Tampak Depan

Profil Tampak Samping Kanan

Profil Senyum

Profil Tampak Samping Kanan

b. Analisi intraoral
Mukosa mulut

: Normal

Gingiva

: Normal

Frenulum

: Normal

Lidah

: Normal

Palatum

: Sempit dan tinggi

Tonsil

: Normal

Frekuensi karies

: Sedang
DMF-T = D + M + F = 4 + 0 + 0 = 4

19

Berdasarkan hasil perhitungan, frekuensi karies


pasien tergolong sedang.
Kebersihan mulut : Sedang.
OHI-S = DI + CI
16

11

26

36

31

46

DI

CI

OHI-S = 7 + 0 = 1,3
6
Berdasarkan hasil perhitungan, kebersihan mulut
pasien tergolong sedang.
Fase gigi geligi

: Fase permanen
Gigi geligi pasien termasuk dalam fase gigi
permanen yang ditandai dengan gigi desidui yang
sudah tanggal seluruhnya.

Foto intraoral

Bidang Oklusal Rahang Atas

Intraoral Tampak Depan

Bidang Oklusal Rahang Bawah

20

Intraoral Tampak Samping Kanan

Intraoral Tampak Samping Kiri

Odontogram

18

48

4.

17

47

16

46

15

14

13

12

11

21

22

23

24

25

55

54

53

52

51

61

62

63

64

65

85

84

83

82

81

71

72

73

74

75

45

44

43

42

41

31

32

33

34

35

26

27

28

36

37

38

Analisis fungsional
Free way space

: Normal.
Hal tersebut diketahui dengan menghitung
selisih tinggi muka bagian bawah pasien
saat rest position dan saat oklusi sentrik.
Tinggi muka bagian bawah saat rest
position = 66mm
Tinggi muka bagian bawah saat oklusi
sentrik = 63mm
Free way space = 66mm 63mm = 3mm.

Path of closure

: Normal

21

Sendi temporomandibula

: Abnormal.
Terdapat clicking sendi temporomandibula
pada sisi kanan saat membuka mulut.

Displacement mandibula

5.

Analisi model studi

Bentuk lengkung gigi

: Tidak Ada

: Rahang atas asimetris trapezoid


Rahang bawah asimetris trapezoid

Jumlah lebar mesio-distal 4

: Rahang atas: 8,5+8,5+ 5,8+5,6 = 28,4mm


Rahang bawah: 5,2+5,2+4,9+4,6 = 19,9mm

Diskrepansi model
a.

Metode Pont
Jumlah mesiodistal 12-11-21-22

= 28,4mm

Jarak P1-P1 Pengukuran

= 33,5mm

Jarak P1-P1 Perhitungan (JumlahI/80)x100

= 35,5mm

Diskrepansi

= -2,0mm(kontraksi)

Jarak M1-M1 Pengukuran

= 38,2 mm

Jarak M1-M1 Perhitungan (Jumlah I/64)x100

= 44,36mm

Diskrepansi

= 6,18mm(kontraksi)

Berdasarkan perhitungan diskepansi metode Pont, lengkung gigi baik


dari

P1-P1

hingga

M1-M1

mengalami

kontraksi

sehingga

diindikasikan rencana perawatan berupa ekspansi rahang atas.


b.

Metode Korkhaus
Tabel Korkhaus

= 16,8mm

Jarak I (P1-P1)

= 17 mm

Diskrepansi

= -0,2mm

Berdasarkan perhitungan

diskrepansi metode Korkhaus, lengkung

gigi antara P1mengalami protrusi, maka pada rencana perawatan


diperlukan retraksi.
c.

Metode Howes
Jumlah lebar mesiodistal M1-M1

= 94,4mm

22

Jarak P1-P1 (tonjol)

= 39mm

Indeks P (Jarak P1-P1/md M1-M1)x100%

= 41,3%

Jarak inter-fossa canina

= 45,42mm

Indeks FC (Jarak FC/md M1-M1)x100%

= 48,3%

Inklinasi gigi-gigi region posterior

= konvergen

Berdasarkan perhitungan diskrepansi metode Howes, inklinasi gigi


posterior ialah konvergen dan terjadi kekurangan ruang pada lengkung
gigi untuk menampung gigi geligi sehingga pada rencana perawatan
diperlukan ekspansi rahang.
d.

Metode Sitepu
Rahang atas
Tempat yang tersedia

= 71,0mm

Tempat yang dibutuhkan

= 73,2mm

Jumlah kekurangan/kelebihan tempat

= 2,2mm

Rahang bawah
Tempat yang tersedia

= 61,0mm

Tempat yang dibutuhkan

= 61,8mm

Jumlah kekurangan/kelebihan tempat

= 0,8mm

Berdasarkan

perhitungan

diskrepansi

model

metode

Sitepu,

didapatkan kekurangan ruang pada rahang atas sebesar 2,2mm dan


pada rahang bawah sebesar 0,8mm. Oleh karena itu, dapat dilakukan
rencana perawatan non ekstraksi berupa ekspansi pada rahang atas dan
enamel stripping pada rahang bawah.

Kurva Spee

: positif 1,5mm

Diastema

: tidak ditemukan adanya diastema

Simetri dan ukuran mesio-distal gigi geligi


a.

Rahang atas
Keterangan

Gigi

Kanan Kiri

Normal

21 lebih palatal dari 11

11;21

8,5

8,5

7,40-9,75

22 lebih distal dari 12

12;22

5,8

5,6

6,05-8,10

23 lebih distal dari 13

13;23

8,1

8,2

7,05-9,32

23

b.

24 lebih distal dari 14

14;24

7,5

7,5

6,75-9,00

25 lebih distal dari 15

15;25

6,7

6,8

6,00-8,10

26 lebih distal dari 16

16;26

10,8

10,4

9,95-12,10

27 lebih distal dari 17

17;27

9,6

9,3

8,75-10,87

Keterangan

Gigi

Kanan Kiri

Normal

Simetris

31;41

5,2

5,2

4,97-6,60

Simetris

32;42

4,9

4,6

5,45-6,85

Simetris

33;43

6,2

6,4

6,15-8,15

34 lebih mesial dari 44

34;44

7,1

7,4

6,35-8,75

35 lebih mesial dari 45

35;45

7,2

7,6

6,80-9,55

36 lebih mesial dari 46

36;46

10,1

10,62-13,05

37 lebih mesial dari 47

37;47

9,8

8,8

8,90-11,37

Rahang bawah

Malposisi gigi geligi

: 13

distolabiotorsoversi

11

labioversi

23

distolabiotorsoversi

21

palatoversi

34

mesiobukotorsoversi

Midline lengkung gigi

: Tidak bergeser

Relasi gigi posterior

a.

Pada jurusan sagital relasi kaninus kanan dan kiri berupa gigitan
tonjol, relasi molar kanan distoklusi sedangkan molar kiri gigitan
tonjol.

b.

Pada jurusan transversal ditemukan gigitan tonjol pada regio 2 dan 3


yaitu pada gigi 22,32; 23,33; 24,34; 25,35; 26,36; 27,37.

c.

Pada jurusan vertikal relasi antara rahang atas dan rahang bawah
normal dan tidak ditemukan adanya gigitan terbuka.

Relasi gigi anterior

24

a.

Pada jurusan sagital ditemukan jarak gigit yang bertambah pada sisi
kanan yaitu 7mm sedangkan pada sisi kiri tergolong normal yaitu
3,5mm.

b.

Pada jurusan vertikal, tumpang gigit normal yaitu 3mm pada sisi
kanan dan 4mm pada sisi kiri.

6.

Analisa etiologi maloklusi


Berdasarkan hasil anamnesa, tidak ditemukan adanya kebiasaan
buruk, tidak diketahui adanya tanggal prematur, tidak ditemukan adanya
kelainan jumlah gigi namun terdapat ciri yang sama pada ayah pasien
berupa gigi depan yang berdesakan. Pada

pemeriksaan ekstraoral

ditemukan bibir atas yang hipotonus. Oleh karena itu, dapat diperkirakan
etiologi maloklusi pasien berkaitan dengan faktor keturunan sehingga
berakibat pada timbulnya disharmony dentomaxillary.

Bibir yang

hipotonus akan menyebabkan ketidakseimbangan antara otot ekstraoral


dan intraoral.

Otot intraoral yang mendorong gigi ke anterior tidak

mendapatkan penahan dari ekstraoral sehingga

gigi anterior maksila

menjadi protrusi.

7.

Diagnosis maloklusi
Berdasarkan analisa yang telah dilakukan pasien didiagnosa mengalami
maloklusi kelas II Angle subdivisi 1 dengan crowding anterior rahang atas.
Hal tersebut dikarenakan relasi molar kanan yang distoklusi dengan
overjet yang besar.

8.

Ringkasan
Pasien perempuan bernama Hasna Gayuh F. (19 tahun) dengan maloklusi
kelas II Angle subdivisi 1 disertai crowding anterior rahang atas, dengan
profil sedikit cembung. Berdasarkan analisa model didapatkan hasil:

Overjet 11,41 = 7mm; 21,31 = 3,5mm

Overbite 11, 41 = 3mm; 21,31 = 4mm

Diskrepansi rahang atas -2,2mm

25

Diskrepansi rahang bawah -0,8mm

Etiologi maloklusi berkaitan dengan faktor keturunan, DDM, dan


kelainan otot mulut.

9.

Prognosis perawatan
Perawatan yang akan dilakukan akan memiliki prognosis yang sedang atau
meragukan. Hal tersebut dikarenakan pasien mengalami maloklusi kelas
II disertai dengan piranti yang digunakan ialah piranti lepasan.

10. Macam perawatan dan rencana perawatan


a.

Rahang atas

1) Perolehan ruang pada rahang atas dilakukan dengan ekpansi dengan 5


kali pemutaran selama 5 minggu. Satu kali pemuraran dilakukan tiap
satu minggu, dengan memutar seperempat putaran akan menghasilkan
ruang 0,25mm sehingga menghasilkan ruang yang dibutuhkan.
2) Koreksi crowding anterior dilakukan dengan busur labial kecil
dengan diameter 0,7mm dan cantilever ganda pada 21 yang
palatoversi agar terdorong ke labia dengan diameter 0,5mm dengan
klamer Adam sebagai penjangkar pada 16 dan 26.
3) Retraksi anterior dengan busur labial.
bersamaan dengan koreksi crowding.

Hal ini dapat dilakukan

Busur labial yang digunakan

untuk retraksi dapat diaktifasi dengan mengecilkan U-loop pada dua


sisi secara bersamaan dengan kekuatan yang sama.
4) Penggunaan retainer selama 3 bulan pada siang dan malam hari dapat
dilakukan untuk mencegah relaps.

Retainer yang digunakan ialah

retainer Howley dengan busur labial kecil berdiameter 0,8mm dan


penjangkar berupa Adam dengan diameter 0,7mm di 16 dan 26.
b.

Rahang bawah
Pada rahang bawah dapat dilakukan penumpatan di gigi 36 dan 46 dan
tidak diperlukan pemakaian piranti ortodonsi karena inklinasi sudah
baik dan menguntungkan serta tidak ditemukan adanya gigi yang
berjejal.

26

Desain piranti yang digunakan ialah sebagai berikut.

27

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Maloklusi yang terjadi pada pasien perempuan bernama Hasna Gayuh F.
(19 tahun) ialah maloklusi kelas II Angle subdivisi 1 disertai crowding
anterior rahang atas, dengan profil sedikit cembung. Etiologi maloklusi
berkaitan dengan faktor keturunan, DDM, dan kelainan otot mulut.
2. Perawatan yang dapat dilakukan pada pasien ialah penggunaan piranti
ortodonsi lepasan dengan screw expantion, busur labial sebagai alat
retraktor dan retensi, cantilever ganda, dan Adam sebagai penjangkar.
Perawatan dilakukan dengan tujuan memperbaiki crowding dan membuat
insisif maksila retroklinasi.

B. Saran
Perawatan maloklusi sebelumnya didahului dengan perbaikan oral hygiene
agar kondisi rongga mulut tidak bertambah buruk saat perawatan. Perawatan
akan memberikan hasil optimal apabila disertai dengan alat yang baik dan
pasien yang koperatif.

28

Daftar Pustaka

Foster, T. D., 1997, Buku Ajar Ortodonsi, EGC, Jakarta.


Gill, D. S., 2008, Orthodonthics at a Glance, Blackwell, London.
Harty, F.J., Ogston, R., 1995, Kamus Kedokteran Gigi, EGC, Jakarta.
Iman, P., 2008, Buku Ajar Ortodonsia II, Gajahmada University Press,
Yogyakarta.
Moyers, R.E., 1988, Handbook of Ortodontics, Year Book Medical Publisher,
London.
Rahardjo, P., 2011, Diagnosis Ortodontik, Airlangga University Press, Surabaya.
Rahardjo, P., 2011, Ortodonti Dasar, Airlangga University Press, Surabaya.