Anda di halaman 1dari 23

MEMPERSIAPKAN PESERTA DIDIK YANG UNGGUL MELALUI

OPTIMALISASI PERKEMBANGAN MASA DINI ANAK


Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri
Stainta 2007

I
PENDAHULUAN

Anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil, anak harus diperkakukan
sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangannya, dalam praktek
pendidikan sehari-hari, tidaklah demikian. Banyak contoh menunjukkan orang tua
dan masyarakat pada umumnya memperlakukan anak tidak sesuai dengan tingkat
pertumbuhan dan perkembangannya, akibatnya banyak anak mengalami “stress”,
mereka sarat dengan beban yang tak sanggup dipikul. Pemaksaan pada anak seperti
ini terjadi bukan saja di sekolah melainkan juga terjadi pada keluarga utamanya pada
anak usia dini atau prasekolah.1
Orang tua sebagai pendidik utama dan pertama di rumah, seharusnya
mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sebagai bahan acuan
dalam mendidik dan mengarahkan anaknya sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhan
dan perkembangannya.
Dalam upaya mendidik atau membimbing anak, agar mereka dapat
mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin maka dianjurkan untuk
memahami perkembangan anak. Pemahaman itu penting, karena beberapa alasan
berikut :2

1
Theo Riyanto dan Martin Handoko, Pendidikan Pada Usia Dini : Tuntutan Psikologis dan
Pedagogis bagi Pendidik dan Orang Tua (Jakarta : PT Grasindo, 2004), hal.. vi.
2
Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2004), hal. 12

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 1
1. Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadinya
perubahan dalam banyak aspek perkembangan.

2. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan


berikutnya.

3. Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka


mengembangkan diri, dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

4. Melalui pemahaman tentang factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan


anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk memfasilitasi
perkembangan tersebut, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat. Disamping itu, dapat diantisipasi juga tentang upaya untuk mencegah
berbagai kendala atau factor-faktor yang mungkin akan mengkonntaminasi
(meracuni) perkembangan anak.

PERKEMBANGAN merupakan suatu proses yang terjadi selama


manusia hidup.3 Studi mengenai perkembangan seseorang tidak lagi seperti dulu
berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaannya, melainkan berlangsung
terus dan mulai konsepsi hingga orang itu mati. Artinya tinjauan psikologi
perkembangan dimulai pada masa yang paling awal dalam hidup manusia, yaitu
pada masa pranatal, melalui perinatal, kemudian post natal, dan berlangsung terus
sampai dengan masa yang paling kemudian, yaitu masa tua; yang terakhir ini
berkembang menjadi suatu cabang ilmu tersendiri, yaitu gerontologi. Dengan
begitu psikologi perkembangan sekarang mempunyai perspektif sepanjang hidup
(life span perspective).

Penjelasan di atas dimaksudkan untuk memberikan gambaran bahwa


tinjauan psikologi perkembangan sudah mengalami perubahan yang banyak.
Penelitian-penelitian menemukan kenyataan-kenyataan yang jauh sebelumnya belum
terlalu masuk perhatian orang. Salah satu di antaranya adalah kenyataan bahwa

3
Ibid, hal. 7.

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 2
pengaruh-pengaruh perlakuan orangtua yang datang pada perkembangan masa dini
yaitu masa pranatal, masa bayi (praverbal) dan masa anak kecil ternyata mempunyai
arti yang sangat penting.

Pembentukan pada masa dini ini akan bersifat tetap dan mempengaruhi sifat
penyesuaian fisik, psikologis dan sosial pada masa-masa yang kemudian. Hal ini pula
menyebabkan mengapa perlakuan terhadap anak pada masa dini ini harus sedemikian
rupa sehingga dapat mengarah kepada penyesuaian sosial dan penyesuaian pribadi
yang baik pada masa yang akan datang. Dapat pula dibuktikan bahwa perkembangan
kognisi dan kecerdasan anak ditentukan pula pada masa yang sangat awal ini, bahkan
pada masa pranatalnya. Kalau pengertian-pengertian ini nantinya dapat dipadukan
dengan program-program pemeliharaan anak-anak Balita, tentu akan merupakan
paduan usaha yang sangat baik.

Semula masa yang sangat awal ini sering dianggap sebagai masa
perkembangan fisik saja, bahwa pada masa-masa ini bayi hanya melakukan
tingkahlaku-tingkahlaku mnstingtif saja, jadi kurang menarik perhatian untuk
dipelajari. Apalagi masa-masa di dalam kandungan dianggap bukan merupakan
lapangan para psikolog untuk ditinjau dan diteliti.

Dengan pendekatan teori-teori belajar sosial (Bandura, 1973, 1977)


diperoleh kenyataan bahwa tingkah laku seseorang itu terutama ditentukan oleh
pengaruh-pengaruh luar; bahkan sudah sejak bulan-bulan pertama dalam kandungan.
Meskipun faham yang interaksionistik yang sekarang dianut dalam psikologi
perkembangan tidak meniadakan pengaruh faktor-faktor pembawaan dan dalam diri
anak sendiri, namun peranan faktor dan luar diberikan arti yang cukup penting. Hal
ini berarti bahwa perlakuan dan cara orang tua mengasuh dan mendidik anak
mempunyai peranan yang penting bagi perkembangan anak sejak masa yang sangat
awal dan bahwa pengaruh yang diterima anak pada bulan-bulan dan tahun-tahun
pertama kehidupannya akan memberikan akibat yang lebih tetap daripada pengaruh
yang datang kemudian.

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 3
Bila kita mendasarkan diri pada uraian di atas tersebut, maka sebetulnya
program pemerintah mengenai Keluarga Berencana yang bertujuan untuk
menciptakart kebahagiaan dalam keluarga tidak boleh berhenti pada membatasi
jumlah anak saja, melainkan harus juga memberikan pengertian pada orangtua akan
cara mengasuh dan mendidik anak yang sebaik baiknya. Tidak hanya mengasuh
dalam arti memelihara fisiknya saja, seperti peningkatan gizi dan kesehatan,
meskipun hal ini jelas merupakan persyaratan yang penting, melainkan juga harus
mengerti kebutuhan-kebutuhan psikis anaknya dan faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangannya, baik fisik maupun psikisnya.

Dalam pembicaraan ini akan penulis tekankan perlunya perhatian dan sikap
yang responsif dan pihak orangtua terhadap anak terutama pada masa-masa
kehidupan yang awal untuk mencapai perkembangan pribadi yang baik. Di samping
itu fokus pembicaraan juga akan diletakkan pada perlunya stimulasi awal untuk
memacu perkembangan kognisi.
Pokok bahasan dalam makalah yang berjudul “Mempersiapkan Peserta Didik
melalui Optimalisasi Perkembangan Masa Dini Anak” adalah sebagai berikut :
o Pengertian Anak Usia Dini
o Pertumbuhan Anak Usia Dini
o Perkembangan Anak Usia Dini
o Pendidikan Anak Usia Dini

II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Anak Usia Dini


Setiap orang tua, pasti mendambakan dan menanti-nantikan kehadiran
anak, selain sebagai suatu kebanggaan, juga diharapkan dapam menjadi penerus

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 4
keturunan bagi mereka. Tangisan bayi yang baru lahir akan disambut dengan
penuh gembira dan harapan dari kedua orang tuanya.4
Anak adalah keturunan yang kedua setelah ibu bapak atau manusia yang
masih kecil. Masa dini adalah berkaisar antara usia 3 sampai 6 tahun.5 Masa dini
juga bias dikatakan suatu masa pada anak yang belum memasuki usia sekolah
dasar. Pakar psikologi berbeda pendapat dalam menetapkan batas umur anak usia
dini diantaranya :
Soemiarti Patmonodewo mengatakan anak usia dini adalah mereka yang
berusia 3 sampai 6 tahun mereka biasanya mengikuti program prasekolah atau
kindergeanten. Masa ini umumnya anak usia prasekolah mengikuti program
penitipan anak antara 3 bulan sampai 5 tahun, kelompok bermain 3 tahun,
sedangkan usia 4 sampat 6 tahun anak mengikuti program taman kanak-kanak.6
Jalaludin membagi masa usia dini kepada dua masa yaitu masa antara 0
sampai 2 tahun, masa ini merupakan masa vital bagi anak dan masa 3 sampai 6
tahun, masa ini merupakan masa estetik bagi anak. Masa estetik adalah suatu
masa yang akan dapat dididik secara langsung yaitu melalui pembiasaan kepada
hal-hal yang baik.7
Berdasarkan beberapa batasan pengertian di atas, maka yang dimaksud
anak usia dini adalah anak yang belum memasuki usia sekolah dasar, berumur
sekitar antara 3 sampai 6 tahun dididik secara langsung oleh kedua orang tuanya
di lembaga pendidikan informal (keluarga) serta dididik oleh guru di lembaga
pendidikan formal (TKA/TPA).
B. Pertumbuhan Anak Usia Dini

4
Zainuddin, Anak dan Lingkungan Menurut Pandangan Islam (Cet. I; Jakarta: Andes Utama
Prima, 1994), hal. 1
5
Hadi Subrata, Meningkatkan Intelegensi Anak Balita (Cet. I; Jakarta : Gunung Mulia, 1988),
hal. 69.
6
Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Usia Prasekolah (Cet. I; Jakarta : Rineka Cipta,
2000), hal. 19
7
Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Cet. I; Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 131.

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 5
Pertumbuhan anak sangat menarik untuk dibahas, karena setiap manusia
pernah mengalami proses peralihan kejiawaan, namun di antara semua manusia
pertumbuhannya saling bervariasi, ada pertumbuhan yang lambat ada yang
sedang, dan bahkan ada yang cepat. Setelah anak besar dengan melalui tahap-
tahap pertumbuhan, kedua orang tuanyalah yang sangat berperan dalam
membentuk kepribadiannya.8 Oleh karena itu, orang tua harus menanmkan nilai-
nilai pendidikan Islam kepada anaknya utamanya pembinaan akhlak.
Anak merupakan harapan bagi orang tuanya, namun di dalam proses
pertumbuhan jiwa anak banyak mengalami hambatan dan rintangan. Dalam
proses pertumbuhan jiwa anak, selalu mengalami kegoncangan dalam dirinya
sebagai suatu dinamika kehidupan. Pertumbuhan merupakan proses peralihan
fisik seseorang dari bayi menjadi anak-anak kemudian menjadi remaja kemudian
menjadi dewasa.9
Pertumbuhan berasal dari kata tumbuh. Kata tumbuh berbeda dengan
berkembang, tumbuh adalah sesuatu yang bersifat material. Pertumbuhan dapat
diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material (unsure organ tubuh)
sebagai akibat dari pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitatif dapat berupa
pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi
besar, dari sedikit menjadi banyak.10 Ukuran pertumbuhan yang digunakan
adalah berat dan tinggi. Ukuran ini secara relatif mudah diperoleh jika
dibandingkan dengan ukuran perkembangan.11
Pertumbuhan tidak hanya berlaku pada hal-hal yang bersifat kuantitatif,
tapi juga pada hal yang bersifat kuantitatif. Material yang terdiri dari bahan-bahan
yang kuantitatif adalah atom, sel, rambut, molekul dan lain-lain sedangkan
material terdiri dari bahan-bahan yang kualitatif adalah kesan, keinginan, ide,
8
Sattu Alang, Kesehatan Mental dan Terapi Islam ( Cet. I; Makasar: Berkah Utami Makasar,
2001), h. 50
9
Ibid
10
Tdjab, Ilmu Jiwa Pendidikan ( Cet. I; Surabaya : Karya Abditama, 1994),h.19
11
Washington P. Napitupulu, Masanya Untuk Semasa Kecil: Menuju Awal Yang Adil Bagi
Anal-Anak (Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka, 1992), h. 25

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 6
gagasan, pengetahuan, dan nilai. Perubahan material pada diri manusia dapat
berupa perubahan secara kualitatif dan kuantitatif.12
Jadi perubahan material secara kualitatif dan kuantitatif yang terjadi pada
diri manusia dapat dikatakan berkembang. Pertumbuhan itu berupa membesarnya
badan dari segi kualitatif dan bertambahnya ide, gagasan dan pengetahuan dari
segi kuantitatif.
Arifin berpendapat bahwa pertumbuhan adalah proses pertumbuhan
dengan kehidupan fisik manusia. Dalam proses pertumbuhan seseorang yang
mencapai usia tengah dewasa maka pertumbuhan fisik secara maksimal akan
terhenti atau terjadi proses penurunan lapasistas fisik yang maksimal, proses
penurunan itu teratur sifatnya, tetap dan dapat diprediksikan.13
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan
pertumbuhannya sebelum lahir. Proses pertubuhan fisik manusia berlangsung
sampai masa dewasa. Selama tahun pertama dalam pertumbuhan manusia, ukuran
panjang badan akan bertambah sekitar sepertiga dari panjang badan semula dan
berat badanya akan bertambah menjadi selitar tiga kalinya. Setiap bagian fisik
seseorang individu akan terus mengalami perubahan karena pertumbuhan,
sehingga masing-masing komponen tubuh akan mencapai tingkat lematangan
untuk menjalankan fungsinya. Jaringan saraf otak atau saraf sentral akan
tumbuhdengan cepat karena saraf pusat akan menjadi sentral dalam menjalankan
fungsi jaringan di seluruh tubuh manusia.14
Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh jumlah dan jenis makanan yang
dikonsumsi tubuh. Namun tidak selamanya pertumbuhan dipengaruhi oleh
makanan. Dengn kata lain pertumbuhan tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah dan
kualitas makanan, tetapi sejauh mana makanan tersebut dapat diserap tubuh serta

12
Abu Ahmadi, Psilkologi Perlembangan ( Cet. I;Jalarta: Rineka cipta, 1991),h.5
13
Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah: Dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Qur’ani ( Cet.I;
Jakarta: 2001),h.125
14
Sunarto dan Agung Hartanto, Perkembangan Peserta Didik ( Cet. I;Jakarta: Rineka Cipta,
1999),h.19

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 7
tergantung pula oleh taraf kesehatan anak.15 Seorang anak yang memperoleh
perawatan memadai, biasanya akan tumbuh dengan cepat dan anak yang kurang
memperoleh perawatan kesehatan yang memadai, umumnya akan mengalami
kelambatan dalam pertumbuhannya.16
Pertumbuhan fisik manusia terjadi secara bertahap, seperti naik turunnya
gelombang, adakalanya cepat dan adakalanya lambat. Irama pertumbuhan bagi
setiap manusia berbeda-beda, walaupun secara keseluruhan tetap memperlihatkan
keteraturan. Pertumbuhan fisik anak dapat dibagi menjadi empat periode utama,
dua periode ditandai dengan pertumbuhan cepat dan dua periode selanjutnya
dicirikan oleh pertumbuhan lambat. Sedangkan pertumbuhan anak lambat pada
masa akhir tahun pertama setelah lahir. Pertumbuhan seorang bayi
memperlihatkan tempo yang sedikit lambat dan kemudian menjadi stabil sampai
anak memasuki tahap remaja atau tahap kematangan kehidupan seksualnya.17
Ada beberapa tahap-tahap proses pertumbuhan anak, namun tahap-tahap
tersebut, penulis bagi menjadi tiga tahap berdasarkan karakteristik masa yang
dilalui oleh seorang anak, yaitu :
1). Masa 0 sampai 2 tahun.
Pada masa ini, merupakan masa pertama yang dilalui bayi setelah
dilahirkan. Dalam tahun-tahun pertama pertumbuhannya, bayi masih tergantung
dengan lingkungannya. Sedangkan kemampuan yang dimilikinya terbatas pada
gerak-gerak pernyatan seperti menangis dan meraban (mengeluarkan suara tanpa
makna) serta mengadakan reaksi terhadap perangsang dari luar.18 Pada masa ini
bayi dapat berdiri sendiri tanpa dibantu, dapat berjalan dengan dituntun,

15
Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Usia……………..., hal. 20.
16
Sunarto dan Agung Hartanto, Op. Cit. hal. 22
17
Ibid, hal. 21
18
Jalaluddin, Mempersiapkan Anak Saleh : Telaah Pendidikan Terhadap Sunnah Rasulullah
Saw (Cet. IV: Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 112

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 8
mengulang bunyi yang didengarkannya, dan belajar menyatakan satu atau dua
kata.19
Dalam usia sekitaar 1 tahun bayi, barulah secara berngsung-angsur dapat
mengucapkan kalimat satu kata dan disekitar usia 2 tahun diperkirakan mampu
mengetahui sekitar 300 kata.20 Pada masa ini, anak dapat makan dengan sendiri,
belajar mengontrol buang air besar dan kecil, memperlihatkan minat kepada anak
lain dan bermain-main dengan mereka.21
2). Masa 2 sampai 4 tahun.
Pada masa 2 sampai 4 tahun, anak memasuki masa estetik. Pada masa ini
anak mengalami pertumbuhan dari berbagai segi diantaranya anak dapat belajar
meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki, berjalan-jalan sendiri
mengunjungi tetangga, berjalan sendiri, bermain bersama anak lain dan
menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya.22 Keadaan dunia luar
makin dikuasainya dan dikenalnya melaluu bermain dan pertumbuhan kemauan.
Dunia dilihat dari menurut keadaan dan batinnya.23
3). Masa 4 sampai 6 tahun.
Pada masa ini, informasi yang diperoleh anak dari percobaan-percobaan
yang dilakukan, pengalaman, observasi dan pertanyaan yang diajukan akan
membentuk dasar-dasar pengetahuannya. Anak pada masa ini sudah mengenal
abjad, bias membaca kata-kata sederhana dan menulis beberapa angka atau
namanya sendiri, anak sudah mengerti konsep waktu, hari dan perbedaan
musim.24

C. Perkembangan Anak Usia Dini

19
Nino N Riphat, Mengikuti Langkah Perkembangan Kognitif Anak (Cet. I; Jakarta: Dian
Rakyat, 1991), hal. 25
20
Jalaluddin, log. Cit.,
21
Nino N Riphat, log. Cit.,
22
Ibid
23
Sattu Alang, Kesehatan Mental dan Terapi Islam, hal. 26
24
Nino N Riphat, op.cit., hal. 30

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 9
Para ahli pendidikan sepakat bahwa setiap periode perkembangan
memiliki tugas perkembangan masing-masing. Pendidikan prasekolah bagi anak
seharusnya dirancang sesuai dengan tugas perkembangan anak, supaya anak
mampu mencapai tugas-tugas perkembangan mereka secara optimal.25
Perkembangan atau development berarti serangkaian perubahan progresif
yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.26 Dalam
Kamus Psikologi ada tiga arti perkembangan yaitu : Pertama, perubahan yang
berkesinambungan dan progresif dalam organisme, mulai lahir sampai mati.
Kedua, perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian
jasmaniah. Ketiga, kedewasaan atau kemunculan pola-pola dari tingkah laku yang
tidak dipelajari.27
Dari ketiga arti di atas dapat dipahami bahwa perkembangan adalah
perubahan. Perubahan pada diri manusia terdiri dari dua perubahan yaitu
perubahan secara kualitatif akibat dari perubahan psikis dan perubahan kuantitatif
akibat dari perubahan fisik. Perubahan kualitatif disebut perkembangan.28 Namun
perubahan kualitatif yang dimaksud adalah perubahan kualitatif dari segi
fungsional manuasia. Perkembangan tidak ditentukan dari segi material
sebagaimana pada pertumbuhan. Tetapi dilihat dari segi fungsi-fungsi.
Perubahan kualitatif dari segi fungsi disebabkan oleh adanya proses
pertumbuhan material yang memungkinkan adanya fungsi dan disebabkan oleh
karena adanya perubahan tingkah laku pengalaman atau belajar. Jadi dapat
diartikan bahwa perkembangn adalah perubahan kualitatif dari segi fungsi
kepribadian akibat dari pertumbuhan dan pengalaman atau belajar.29
Dalam proses perkembangan terjadi perubahan kualitatif dari segi fungsi.
Perubahan –perubahan tersebut meliputi beberapa aspek baik fisi maupun
25
Theo Riyanto dan Martini Handoko, Op.cit., hal. ix
26
Abdul Mudjib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam (Cet. III; Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2002), hal. 91
27
Kartini Kartono, Kamus Psikologi (Jakarta: Rajawali Press, 1989), hal. 134
28
Abdul Mudjib dan Jusuf Mudzakir, log.cit
29
Abu Ahmadi, Op.cit, hal. 6

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 10
psikis.30 Adapun aspek fisik yang berkembang yaitu berkembangnya fungsi
motorik pada bagian-bagian tubuh, fngsi sensoris pada alat-alat indera, fungsi
neurotic pada system syarat, fungsi seksual pada agaian-bagian tubuh yang erotis,
fungsi pernapasan pada alat pernapasan, fungsi pencernaan makanan pada alat
pencernaan.
Adapun aspek psikis yang berkembang pada manusia khususnya anak usia
dini adalah perkembangan kognitif, perkembangan emosi, dan perkembangan
moral. Ketiga aspek perkembangan tersebut dapat dirinci menjadi sembilan aspek
perkembangan yaitu perkembangan pikiran, perkembangan daya ingatan,
perkembangan bahasa, perkembangan perasaan, perkembangan fantasi,
perkembangan social anak, perkembangan emosi, perkembangan moral dan
perkembangan keberagamaan.31
1). Perkembangan Pikiran
Dalam kehidupan sehari-hari istilah pikiran sering dianggap identik
dengan istilah penalaran, kecerdasan, intelegensi. Tetapi bias pula diartikan
bahwa pikiran adalah hasil kegiatan berfikir. Kegiatan berfikir menggunakan
sarana atau alat yang disebut akal32 dan otak33. Dengan demikian yang dimaksud

30
Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak (Jakarta: Gunung Mulia, t.th)
hal. 49
31
Abu Ahmadi, log. Cit.
32
Kata akal yang sudah menjadi bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Arab al-aql. Dalam
pemahaman Izutzu, kata akal di zaman jahiliyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis dalam istilah
psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah. Setiap kali ia dihadapkan dengan problem
dan selanjutnya dapat melepaskan diri dari bahaya yang ia hadapi. Kebijaksanaan praktis serupa ini
amat dihargai oleh orang Arab zaman jahiliah. Kata akal mengandung arti mengerti, memahami dan
berpikir. Timbul pertanyaan, apakah pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui akal
yang berpusat di kepala. Dalam al-Qur’an dijelaskan oleh ayat 46 dalam surah al-Hajj bahwa
pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui kalbu yang berpusat di dada. Lihat Harun
Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam (Cet. I; Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986), hal. 5-7
33
Otak adalah alat tubuh yang sangat terpenting dan berpengaruh karena merupakan pusat
computer dari semua alat tubuh, bagian dari syarat yang terletak di dalam rongga tengkorak yang
dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otaklah yang menentukan makhluk hidup beergerak,
memerintahkan indera, menuntun dan mengaddakan persepsi, mengatur pola komunikasi,
menentuakan jumlah informasi dan sekaligus menyeleksikannya. Otak merupakan salah satu unsure
dari system syaraf. System syaraf pada manusia adalah sebuah mesin yang rumit. System ini terdiri
dari jutaan sel syaraf yang diperkirakan 12 sampai 200 juta sel. Otak inilah yang bertugas

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 11
dengan perkembangan pikiran adalah hal ihwal kemampuan berpikir manusia
pada masa kanak-kanak.34
Pada masa anak-anak pkiran telah nampak perkembangannya tahap demi
tahap, ahli psikologi sepatkat bahwa perkembangan pikiran terjadi paling pesat
pada masa 3 samapai 6 tahun.35 Pada masa ini, pikiran anak-anak pada umumnya
benar-benar telah jalan, misalnya ketika anak sedang berbicara dengan temannya.
Dalam pembicaraan itu bias terjadi Tanya jawab yang dilakukan secara bersama,
apa yang dilakukan anak memerlukan kerja pikiran, supaya pembicaraannya
masuk akal dan tidak dikritik oleh teman-teman.36
Jean Piaget mengatakan bahwa perkembangan akal pikiran anak pada
periode ini, masih berada pada tahap pra operasional. Reaksi anak masih terikat
kepada pengamatan inderawi yang actual, namn pemikirannya mulai terarah
kepada hal-hal yang logis, meskipun masih amat sederhana. Jadi, di satu pihak si
anak sudah memiliki jalan pikiran yang logis, artinya masuk akal, tetapi masuk
akal itu diukur semata-mata berdasarkan kepentingan sendiri, tanpa menghiraukan
kepentingan orang lain.37
2). Perkembangan Daya Ingatan.
Ingatan adalah suatu daya jiwa yang dapat menerima, menyimpan dan
mereproduksi kembali pengertian-pengertian atau tanggapan-tanggapan. Ingatan
dipengaruhi oleh sifat perorangan, keadaan diluar jiwa (misalnya kemauan,
perasaan) serta umur.38

mengarahkan dan mengkoordinasikan kerja sel-sel tersebut sedemikian rupa sehingga mampu
mendengar, melihat, berpikir, mengingat dan bertindak secara cepat dan tepat. Keseluruhan proses
mengorganisasi tingkah laku tersebut pada system syaraf yang rumit. Lihat Abdul Rahman Saleh dan
Muhbib Abdul Wahab, Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam (Cet. I: Jakarta: Prenada
Media, 2004) hal. 63-64
34
Imam Bawani, Ilmu Jiwa Perkembangan: Dalam Konteks Pendidikan Islam (Cet. I;
Surabaya: Bina Ilmu, 1990), hal. 89
35
Soepartina Pakasi, Anak dan Perkembangannya (Cet. I; Jakarta: Gramedia, 1981), hal. 28
36
Imam Bawani, Op.cit., hal. 90
37
Ibid, hal. 92
38
Agus Suyanto, Psikologi Umum (Cet. XII; Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal. 41

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 12
Daya ingatan anak akan bersifat tetap jika anak telah mencapai umur 4
tahun. Selanjutnya daya ingatan anak akan mencapai intensitas terbesarnya jika
anak berumur antara 8 sampai 12 tahun. Sebelum berumur setengah tahun, pada
umumnya anak mengenal benda disekitarnya saja misalnya seorang ibu
menyodorkan sendok makan kepadanya, anak mengenal keadaan itu, tetapi jika
sendok itu diletakkan di atas meja, maka anak sudah tidak mengenal benda itu
lagi. Baru berumur lebih dari satu tahun secara perlahan-lahan anak mulai
mengenal lingkungannya.39
3). Perkembangan Bahasa
Pada akhir tahun pertama kelahiran anak dan menjelang tahun kedua, ada
perkembangan anak yang menonjol yakni mulai menunjukkan kemampuannya
untuk dapat berjalan sendiri dan kemampuan berbahasa atau berbicara.
Penguasaan bahasa berikutnya secara berangsur, anak akan mengikuti bakat serta
ritme perkembangan yang dialami.40
Anak dapat dikatakan berbicara apabila anak sudah dapat menggunakan
bahasa yaitu apabila anak dapat mengeluarkan kata-kata yang berarti untuk dapat
berhubungan dengan orang lain. Bayi yang berumur 6 bulan sampai 1 tahun sudah
dapat dikatakan dapat berbicara seperti manuasia. Pada umur 18 bulan anak sudah
dapat mengatakan sesuatu “kata yang berarti” untuk menyatakan suatu kalimat.
Pada umur 18 bulan sampai 5 tahun anak berusaha menyatakan sesuatu yang
dapat dilihat, didengar, dan menambah kata-kata baru. Dan sejak anak berumur 3
tahun anak memperluas perbendaharaan kata-katanya melalui pertanyaan-
pertanyaan. Oleh karena itu respon dari orang tuanya harus bersifat positif,
apabila pada masa peka di atas, anak tak dapat mendapatkan kesempatan

39
Abu Ahmadi, Op.cit, hal. 58
40
Ibid, hal. 59

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 13
berbicara, maka anak akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dan
tentu anak akan mengalami kesulitan dalam perkembangan bahasanya.41
Perkembangan bahasa merupakan salah satu perubahan psikis yang harus
diperhatikan oleh orang tua sebgai pendidik untuk anak-anaknya. Pada masa ini
sebaiknya orang tua membiasakan kepada anaknya untuk senantiasa
mengucapkan kata-kata yang baik. Sehingga dengan pembiasaan mengucapkan
kata-kata baik, anak dapat terbiasa untuk mengucapkannya hingga usia dewasa.
4). Perkembangan Perasaan
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai dengan perasaan-
perasaan tertentu, yaitu perasaan senang, atau tidak senang. Perasaan biasanya
disifatkan sebagai suatu keadaan (state) dari individu pada suatu waktu misalnya
orang merasa sedih, senang, terharu dan sebagainya bila melihat sesuatu,
mendengar sesuatu. Dengan kata lain perasaan disifatkan sebagai suatu keadaan
jiwa sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang pada umumnya datang dari
luar, dan peristiwa-peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan-
kegoncangan pada individu yang bersangkutan.42
Bagi anak-anak perkembangan perasaan iutu sangat cepat dan besar
sekali, sehingga umumnya anak-anak akan lebih emosional dibandingkan dengan
orang dewasa. Pandangan mereka selalu optimis, cepat merasa puas. Sehingga
mereka akan mudah merasa senang, periang, kesediahan, dan kesusahan atau
justru kesenangan orang lainpun belum mereka hayati dengan baik.43
5). Perkembangan Fantasi
Fantasi adalah aktifitas imajinasi untuk membentuk tanggapan-tanggapan
baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan lama yang telah ada, dan
tanggapan yang baru itu tidak harus sama atau sesuai dengan benda-benda yang
ada. Fantasi bagi manusia mempunyai kegunaan, maka hendaknya pendidikan
41
Melly Sri Sulastri, Bimbingan Perawatan Anak (Cet. II, Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal.
10
42
Abdul Rahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab, Op.Cit., hal. 151152
43
Abu Ahmadi, Op. Cit., hal. 61

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 14
berusaha mengembangkan fantasi anak didik secara sehat, misalnya melalui
kegiatan-kegiatan ekspresif.44
Pada masa usia dini berkembang rasa fantasi pada anak, karena pada masa
ini disebut juga masa fantasi. Mereka menyenangi kreasi yang bersifat fantasi
baik dalam mendengar dan membuat cerita ataupun menciptakan sesuatu secara
sederhana.45 Kadang-kadang anak menceritakan sebuah kisah yang kelihatannya
aseperti suatu kebohngan atau lepas dari kenyataan.46 Sifat fantasi pada anak
memiliki tiga cirri yaitu bebas, spintan dan illusionistis.47
Anak usia 2 sampai 4 tahun, anak mempunyai kemampuan imajinasi yang
besar. Mimpi-mimpi baginya bias merupakan suatu hal yang nyata, dan
memperkaya kehidupan fantasinya. Imajinasi ini juga didasari oleh cara
berpikirnya yang masih egosentris. Periode ini merupakan periode yang penting
bagii perkembangan kognitif. Imajinasi memberi kesempatan pada anak untuk
mencoba ide dan mengembangkan cara menyelesaikan masalah. Anak mulai
tertarik untuk mengetahui segala sesuatu dan bertanya secara terus menerus.48
6). Perkembangan Sosial
Pada masa antara 3 sampai 5 tahun, sikap social yang positif bagi anak
akan muncul dan mulai berkembang. Perkembangan sikap social didukung oleh
perkembangan emosi dan proses berpikir yang semakin meningkat.
Perkembangan ini merupakan factor yang penting bagi anak-anak untuk mencapai
sukses dalam melaksanakan tugas perkembangannya.49

44
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan : Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (Cet. VI;
Jakarta : Rineka Cipta, 1998), hal. 27-28
45
Jalaluddin, Mempersiapkan Anak Shaleh, Op. cit., hal 112
46
Patricia H. Berne dan Louis M. Savary, Building Self-Esteem In Childreen diterjemahkan
oleh YB Tigiyarso dengan judul Membangun Harga Diri Anak (Cet. IV; Yogyakarta: Kanisius, 1994),
hal. 53.
47
Jalaluddin, Mempersiapkan Anak Shaleh, log. Cit.
48
Nino N Riphat, Op. Cit., hal. 30
49
Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam (Cet. I; Surabaya : Usaha Ofset Printing, 1993),
hal. 156

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 15
Pada usia ini, anak berkembang dari kemilitan egosentrik (egocentric
curiosity) ke kapasitas untuk bergaul dengan teman sebayanya.50 Anak mulai
tidak puas hanya bermain sendiri dengan benda-benda disekitarnya, bahkan
kadang-kaang secara nekad minta bermain dengan teman-temannya yang sebaya,
anak ingin bercakap-cakap bersama, kadang-kadang mereka kelihatan sangat
akarab, tetapi kadang-kadang situasinya menjadi sulit sebab tiap-tiap anak ingin
dirinya diperhatikan dan dianggap penting oleh teman-temannya dan kemudian
terjadilah pertengkaran, hal ini disebabkan karena pada masa ini masih melekat
sifat egosentris pada anak.51
7). Perkembangan Emosi
Utami Munadar mengemukakan bahwa anak kecil atau usia dini
cenderung melampiaskan emosi dalam perilakunya. Anak masih bersifat
egosentris (terpusat pada diri sendiri) yang tampak dalam perilaku yang sering
kurang terkendali.52 Perkembangan emosi ditandai denganmunculnya sikap
egosentris pada diri setiap anak. Masa ini disebut masa raja kecil dengan sikap
egosentris karena merasa dirinya berada di pusat lingkungan yang ditampilkan
anak dengan sikap senang menantang atau menolak sesuatu yang datang dari
orang disekitarnya.53 Masa ini disebut pula dengan masa Trotz, masa ini
merupakan masa peralihan. Masa ini berlangsung sangat singkat yaitu sekitar satu
tahun, dan apabila keliru dalam melayaninya, maka akan berkepanjangan,
sehingga anak akan benar-benar tumbuh menjadi anak yang sukar dikendalikan.
Ibarat jiwanya telah terluka, sehingga agak tampak sebagai anak berkelainan,

50
Kathy Sylva Inggrid Lund, Child Development A Firs Couse diterjemahkan oleh Gianto
Widianto dengan judul Perkembangan Anak : Sebuah Pengantar (Cet. I: Jakarta : Arcan, 1988), hal.
29
51
Kartini Kartono, Mengenal Dunia Kanak-Kanak (Cet. I; Jakarta : Rajawali, 1985), hal. 73
52
Rusli Amin, Kunci Sukses Membangun Keluarga Idaman : Panduan Menuju Hidup
Bahagia (Cet. II ; Jakarta : al-Mawardi Prima, 2003), hal. 132.
53
Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam, hal. 155

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 16
seperti anak tidak patuh, tidak senang terhadap nasehat, sukar dibujuk, pembantah
dan sebagainya.54
Perkembangan emosi ini muncul disebabkan oleh kesadaran anak bahwa
dirinya mempunyai kemauan dan kehendak sendiri yang dapat berbeda dengan
orang lain. Kesadaran itu merupakan awal dari usaha untuk mewujudkan diri
sebagai suatu dari individu dengan menunjukkan bahwa dirinya tidak sama
dengan orang lain. Masa ini merupakan masa krisis pertama yang sangat
memerlukan kesabaran dan kebijaksanaan bertindak dari orang tua sebagai
pendidik. Orang tua sebaiknya tidak memaksakan kehendaknya kepada anak,
namun bagi anak harus ditumbuhkan kebiasaan melakukan sesuatu yang baik.55

C. Pendidikan Anak Usia Dini


Kegiatan pendidikan yang dilaksanakan dalam keluarga, tidak bisa
dilepaskan dari pendidikan sebelumnya yakni dalam kandungan atau sebelum
lahir (prenatal), sekitar saat kelahairan (perinatal), saat baru kelahiran (neonatal),
dan setelah kelahiran (postnatal), termasuk pendidikan usia dini. Dengan
demikian bila dikaitkan dengan pendidikan, maka pendidikan anak usia dini
merupakan serangkaian yang masih ada keterkaitannya untuk mewujudkan
generasi unggul, dan pendidikan itu memang merupakan sebuah kebutuhan dalam
kehidupan manusia, education as an ecessity of life.56 Islam memandang keluarga
sebagai lingkungan milliu yang pertama bagi individu, dan dalam keluargalah
pendidikan pertama kali dapat dilangsungkan.
Orang tua dan terutama seorang ibu di dalam keluarga mempunyai
tanggung jawab untuk mendidik anaknya. Bagi seorang ibu mempunyai kodrat
mengandung, melahirkan, dan menyusui anaknya. Ibulah yang mempunyai beban
amat berat, harus dipikul oleh kaum ibu, seiring dengan perkataan Syu’bah Asa,

54
Agus Suyanto, Psikologi Perkembangan (Cet. VII; Jakarta : Rineka Cipata, 1996), hal. 41
55
Ibid.
56
Mansur, Diskursus Pendidikan Islam, Global Pustaka Utama, Yogyakarta, 2001, hal. 123

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 17
seorang ibu mempunyai pengaruh yang besar terhadap anak.57 Oleh karena itu,
ada Hadits yang melukiskan bahwa manusia paling terhormat di muka bumi, yang
mempunyai peringkat tertinggi bagi anak adalah ibunya, kemudian baru ayahnya,
tetapi mengapa dihadapan suami sendiri derajat ibu (istri) terpuruk, rendahnya
derajat seorang istri di hadapan suami, hal itu terjadi karena bukan saja didukung
oleh pandangan budaya,, tetapi juga tokoh agama.58
Dengan demikian, hak orang tua adalah merawat dan memelihara anaknya
sebagai generasi penerus dalam keluarga, karena banyak realita dalam
masyarakat, manusia dan remaja yang jahat, nakal, sadis, membunuh,
memperkosa, merampok, penjudi dan mabuk-mabukan, masalahnya mungkin saja
doa dan niat orang tuanya belum jelas mengenai keturunan yang diharapkan,
bahkan mungkin orang tua tidak punya niat apa-apa mengenai keturunannya.59
Dengan demikian orang tua dalam mendidik anaknya di usia dini juga didukung
oleh pengalaman tentang pendidikan dan norma serta informasi yang
diperolehnya.
Perilaku atau tindakan orang tua yang dapat mempengaruhi perkembangan
anak meliputi dua segi yakni perilaku secara fisik dan psikis (spiritual) atau
perilaku jasmani dan rohani, masing-masing dapat beerakibat langsung dan tidak
langsung terhadap anak usia dini.60 Oleh karenanya bagi orang tua yang
menghendaki agar perilakunya berpengaruh baik terhadap perkembangan anaknya
maka hendaklah melakukan tindakan-tindakan yang bersifat mendidik (edukatif).
Perilaku edukatif khusus baik secara fisik maupun psikis (spiritual) orang tua
terhadap anaknya di usia dini yang berkaitan dengan periode dan pola
perkembangannya sangat penting. Disamping perilaku edukatif secara fisik orang
tua terhadap anaknya sangat diperlukan, maka perilaku edukatif secara psikis pun

57
Syu’bah Asa, Perempuan : di Dalam dan di Luar Fiqih, dalam membincang, hal. 108
58
Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, Mizan, Bandung, 1997,
hal. 73-74
59
Solly Lubis, Umat Islam dalam Globalisasi, Gema Inasani Press, Jakarta, 1997, hal. 77
60
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2005, hal. 368

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 18
tidaklah kalah pentingnya untuk diperhatikan dan dilakukan sesuai dengan
periode dan perkembangannya.
Berbagai hasil para pakar kejiwaan bahwa perawatan anak usia dini dalam
keluarga mempunyai pengaruh besar di kemudian hari.61 Oleh karena itu orang
tua harus berperilaku edukatif terhadap anak di usia dini. Untuk itulah orang tua
perlu menciptakan kondisi yang menyenangkan dan mendidik. Menciptakan
kondisi yang baik misalnya berperilaku sabar, tawakal, ikhlas, tenang, bahagia
dan tentram. Orang tua sangat berperan di dalam menciptakan kondisi yang
sangat berpengaruh positif terhadap perkembangan anak maka seharusnya tetap
dijaga untuk menciptakan keutuhan keluarga. Perilaku orang tua terhadap anak di
usia dini harus berhati-hati, selain melakukan perawatan secara umum seperti
uraian di depan, maka perlu menambah dengan perilaku-perilaku khusus
kepadanya, sebab pendidikan pada masa usia dini sangat berpengaruh di masa
selanjutnya.

III
KESIMPULAN

Bila kita tinjau apa yang telah diuraikan di atas, nyatalah bahwa hubungan
antara orang tua dan anak, begitu pula caranya orangtua mengasuh anaknya,
mempunyai arti yang vital. Secara singkat dapat disimpulkan di sini bahwa hal-hal di
bawah ini perlu mendapatkan sorotan tertentu, yaitu :

1. Bahwa masa perkembangan dini merupakan masa pembentukan yang sangat


penting.

2. Bahwa pisah dengan ibu atau putus hubungan dengan ibu terutama sesudah anak
merasakan hubungan tersebut, menimbulkan perasaan tidak aman yang nampak

61
Jalaludin Rahmat dan Muhtar Gandaatmaja, Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern,
Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994, hal. 60

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 19
pada gangguan-gangguan perilaku dan yang merupakan dasar bagi penyesuaian
salah pada usia-usia kemudian.

3. Bahwa anak membutuhkan kasih sayang dan seorang figur ibu yang tetap yang
bisa berujud ibunya biologis atau pun seorang pengasuh yang lain. Hal ini
dibutuhkan supaya anak dapat mengembangkan tingkah laku lekatnya dan
mendapatkan perasan aman serta berani mengadakan eksplorasi keliling.

4. Sebaliknya bahwa proteksi yang berlebih-lebihan juga menyebabkan penyesuaian


yang kurang baik karena anak menjadi terlalu tergantung dan tidak mampu
melakukan hal-hal yang seharusnya sudah mampu dilakukannya. Ia menjadi
penakut dan pemalu yang berlebihan terhadap orang-orang yang belum
dikenalnya.

5. Bahwa stimulasi awal yang dimaksudkan untuk mempercepat proses habituasi


diperlukan untuk memacu perkem bangan kongisi anak.

Sebagai kesimpulan, dapat penulis kemukakan bahwa dalam masyarakat kita


pada umumnya perhatian secara khusus terhadap perkembangan psikologis masa dini
anak masih perlu ditingkatkan meskipun mengenai pemeliharaan fisiknya, anak anak
Balita sudah mendapatkan perhatian yang cukup besar. Kita juga sering tidak
memikirkan bahwa justru bulan-bulan dan tahun-tahun pertama, bahkan minggu-
minggu pertama kehidupan anak menentukan sekali bagi perkembangan anak
selanjutnya. Maka berdasarkan kenyataan-kenyataan inilah penulis himbau di sini
agar kita tidak mengabaikan masa-masa yang awal ini, dan justru memandang masa
ini sebagai masa yang banyak menentukan keadaan kepribadian dan kebahagiaan
anak-anak kita nanti.

BIBLIOGRAPY

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 20
Abu Ahmadi, Psilkologi Perlembangan ( Cet. I;Jalarta: Rineka cipta, 1991),
Abdul Mudjib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam (Cet. III; Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2002
Abdul Rahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi: Suatu Pengantar Dalam
Perspektif Islam (Cet. I: Jakarta: Prenada Media, 2004)
Agus Suyanto, Psikologi Umum (Cet. XII; Jakarta: Bumi Aksara, 2004)
Agus Suyanto, Psikologi Perkembangan (Cet. VII; Jakarta : Rineka Cipata, 1996)
Hadi Subrata, Meningkatkan Intelegensi Anak Balita (Cet. I; Jakarta : Gunung Mulia,
1988)
Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam (Cet. I; Jakarta: Universitas Indonesia
Press, 1986),
Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam (Cet. I; Surabaya : Usaha Ofset Printing,
1993)
Imam Bawani, Ilmu Jiwa Perkembangan: Dalam Konteks Pendidikan Islam (Cet. I;
Surabaya: Bina Ilmu, 1990),
Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Cet. I; Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001
Jalaluddin, Mempersiapkan Anak Saleh : Telaah Pendidikan Terhadap Sunnah
Rasulullah Saw (Cet. IV: Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002),
Jalaludin Rahmat dan Muhtar Gandaatmaja, Keluarga Muslim dalam Masyarakat
Modern, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994
Kartini Kartono, Kamus Psikologi (Jakarta: Rajawali Press, 1989)
Kartini Kartono, Mengenal Dunia Kanak-Kanak (Cet. I; Jakarta : Rajawali, 1985),
Kathy Sylva Inggrid Lund, Child Development A Firs Couse diterjemahkan oleh
Gianto Widianto dengan judul Perkembangan Anak : Sebuah Pengantar (Cet.
I: Jakarta : Arcan, 1988)
Melly Sri Sulastri, Bimbingan Perawatan Anak (Cet. II, Jakarta: Rineka Cipta, 1993),
Mansur, Diskursus Pendidikan Islam, Global Pustaka Utama, Yogyakarta, 2001
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2005

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 21
Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, Mizan, Bandung,
1997
Nino N Riphat, Mengikuti Langkah Perkembangan Kognitif Anak (Cet. I; Jakarta:
Dian Rakyat, 1991)
Patricia H. Berne dan Louis M. Savary, Building Self-Esteem In Childreen
diterjemahkan oleh YB Tigiyarso dengan judul Membangun Harga Diri Anak
(Cet. IV; Yogyakarta: Kanisius, 1994)
Rusli Amin, Kunci Sukses Membangun Keluarga Idaman : Panduan Menuju Hidup
Bahagia (Cet. II ; Jakarta : al-Mawardi Prima, 2003),
Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya, 2004)
Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Usia Prasekolah (Cet. I; Jakarta : Rineka
Cipta, 2000)
Sattu Alang, Kesehatan Mental dan Terapi Islam ( Cet. I; Makasar: Berkah Utami
Makasar, 2001)
Sunarto dan Agung Hartanto, Perkembangan Peserta Didik ( Cet. I;Jakarta: Rineka
Cipta, 1999)
Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak (Jakarta: Gunung Mulia,
t.th)
Soepartina Pakasi, Anak dan Perkembangannya (Cet. I; Jakarta: Gramedia, 1981),
Syu’bah Asa, Perempuan : di Dalam dan di Luar Fiqih, dalam membincang,
Solly Lubis, Umat Islam dalam Globalisasi, Gema Inasani Press, Jakarta, 1997
Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan ( Cet. I; Surabaya : Karya Abditama, 1994),
Theo Riyanto dan Martin Handoko, Pendidikan Pada Usia Dini : Tuntutan
Psikologis dan Pedagogis bagi Pendidik dan Orang Tua (Jakarta : PT
Grasindo, 2004)
Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah: Dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Qur’ani (
Cet.I; Jakarta: 2001),

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 22
Washington P. Napitupulu, Masanya Untuk Semasa Kecil: Menuju Awal Yang Adil
Bagi Anal-Anak (Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka, 1992),
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan : Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan
(Cet. VI; Jakarta : Rineka Cipta, 1998),
Zainuddin, Anak dan Lingkungan Menurut Pandangan Islam (Cet. I; Jakarta: Andes
Utama Prima, 1994),

Seminar Psikologi Pendidikan Islam Smt 2b oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 23