Anda di halaman 1dari 10

ESSAY

Aplikasi Praktis Teori Kenyamanan Katharine Kolcaba untuk Pasien


Jantung

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Sains Keperawatan
S2 Keperawatan Peminatan Gawat Darurat

Oleh :
MOH. UBAIDILLAH FAQIH
146070300111042

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


PEMINATAN GAWAT DARURAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

PAPARAN MASALAH
Perawat berusaha untuk memberikan kenyamanan kepada pasien.
Pendekatan utama untuk menyediakan untuk kenyamanan fisik dan emosional
adalah dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penyembuhan.
Prinsip utama keperawatan pertama kali dinyatakan oleh Nightingale (1859).
Teori kenyamanan adalah middle range theory yang dikembangkan oleh
Kolcaba (2003) yang memiliki sebagai dasar prinsip-prinsip lingkungan
Nightingale dalam memberikan perawatan (Selanders, 1998). Teori ini dapat
digunakan untuk meningkatkan lingkungan pasien dalam perawatan jantung
melalui penggunaan "quite time" intervensi. Lingkungan yang bising dan kacau
dapat mempengaruhi proses penyembuhan pasien (Krinsky, Murillo, & Johnson,
2014).
Kolcaba mulai membuat bagan teorinya dengan melakukan analisa konsep
dari berbagai disiplin ilmu, yaitu keperawatan, medis, psikologi, psikiatri,
ergonomik dan bahasa inggris. Dalam berbagai artikelnya, Kolcaba memaparkan
tentang teori kenyamanan dengan menelusuri catatan sejarah penggunaan
kenyamanan dalam keperawatan. Sebagai contoh, Kolcaba menggunakan teori
Nightingale (1859) yang menekankan Tidak akan pernah melihat apa yang
diobservasi dan untuk apa. Bukan untuk menabrak bermacam-macam informasi
atau fakta yang tidak benar, tetapi untuk kepentingan menyelamatkan hidup dan
meningkatkan kesehatan dan kenyamanan (Tomey dan Alligood, 2006).
PEMBAHASAN
Dalam teori kenyaman Kolcaba (2010a, b) menciptakan kerangka kerja
konseptual untuk menunjukkan seberapa luas teori kenyamanan cocok dengan
perawatan di lahan praktik. Kenyamanan digambarkan sebagai produk dari
praktik keperawatan holistik (Krinsky, Murillo, & Johnson, 2014).
Kolcaba mengatakan pentingnya pengukuran kenyamanan sebagai hasil
tindakan dari perawat. Perawat dapat mengumpulkan bukti-bukti untuk membuat
sebuah keputusan serta untuk menunjukkan efektifitas dari perawatan. Kolcaba
menyarankan penggunaan Struktur Taksonomi dalam melakukan pengkajian
untuk pengukuran kenyamanan pada pasien. Berdasarkan Struktur Taksonomi,

Kolcaba (1997) mengembangkan suatu instrumen untuk mengukur kenyamanan


pasien yaitu General Comfort Questionnaire. Dalam kuisioner tersebut
tergambarkan terdapat item-item positif dan negatif dalam beberapa kolom-kolom
(Tomey dan Alligood, 2006).
Struktur taksonomi dari teori kenyamanan Kolcaba, terdiri dari tiga tipe
kenyamanan, yaitu relief, ease, dan transcendence; dan meliputi empat konteks
kenyamanan, antara lain fisik, psikospiritual, lingkungan dan social (Tomey dan
Alligood, 2006).
Aplikasi penerapan teori kenyamanan yang dikemukan oleh Katharine
Kolcaba sudah banyak ditemukan dalam berbagai sumber penelitian yang telah
dilakukan sejak teori tersebut dikemukan.
Seperti di dalam sebuah jurnal yang berjudul A practical application of
Katharine Kolcaba's comfort theory to cardiac patients terdapat studi kasus
yang menjelaskan penerapan teori tersebut pada sebuah kasus yang nyata pada
pasien dengan penyakit jantung. Di dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa kasus
ini tanpa ada tindakan kenyamanan yang diberikan oleh tim medis John dan
hasil dalam eskalasi nyeri dada dan kecemasan. Kurang tidur dan kecemasan
adalah semua prekursor yang dapat memicu peningkatan denyut jantung dan
peningkatan tekanan darah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan beban
kerja

tambahan

untuk

miokardium

dan

menyebabkan

eksaserbasi

ketidaknyamanan dada. Kasus ini memberikan gambaran singkat kepada kita


mengenai kegunaan potensi teori pada kenyamanan dalam praktek sehari-hari,
dan relevansi intervensi spesifik yang mempromosikan quite time dalam
perawatan jantung (Krinsky, Murillo, & Johnson, 2014).
Pengkajian perawat pada klien dengan penyakit jantung antara lain riwayat
kesehatan saat ini dan masa lalu, tingkat perkembangan, respon klien terhadap
pengobatan dan perawatan, dan dukungan keluarga atau orang terdekat serta
lingkungan sekitar. Pengkajian riwayat kesehatan meliputi informasi tentang
bagaimana klien menjaga dan memelihara kesehatannya baik saat sakit
sekarang ataupun masa lalu sebelum sakit, bagaimana klien memahami, bekerja
sama, menerima tanggung jawab yang terbatas pada perawatan segera dan
jangka panjang. Hal ini termasuk kemampuan dan keterbatasan kognitif, motorik,

dan psikososial. Dalam konteks kenyamanan Kolcaba, pengkajian diatas


termasuk dalam pengkajian fisik (physical) dalam tiga aspek, yaitu relief, ease,
dan transcendence.
Pengkajian tingkat perkembangan klien penting dilakukan untuk membantu
perawat dalam memahami sejauhmana kemampuan klien dalam menerima dan
menghadapi masalah kesehatan seseorang. Tingkat perkembangan seseorang
akan mempengaruhinya dalam berespon terhadap penyakit dan partisipasinya
dalam perawatan dirinya. Dalam konteks kenyamanan Kolcaba, pengkajian
diatas termasuk dalam pengkajian psikososial (physchospiritual) dalam tiga
aspek, yaitu relief, ease, dan transcendence.
Perawat juga harus melakukan pengkajian respon klien terhadap program
pengobatan dan perawatan. Dalam konteks kenyamanan Kolcaba, pengkajian
diatas termasuk dalam pengkajian psikososial (physchospiritual) dalam tiga
aspek, yaitu relief, ease, dan transcendence.
Dalam domain fisik, waktu tenang dapat membantu meminimalkan kejadian
dalam pengaturan perawatan jantung yang memiliki efek fisik yang merugikan
pada pasien yang sudah dikompromikan. Perhatian khusus adalah tidur pasien,
yang penting untuk beberapa proses fisiologis dan psikologis. Banyak perangkat
mekanik serta rutinitas rumah sakit dan prosedur secara signifikan dapat
mengganggu kemampuan pasien untuk tidur. Kurang tidur telah dikaitkan dengan
meningkatnya insiden jatuh pasien, kebingungan, dan peningkatan penggunaan
obat-obatan dan pembatasan (Mazer, 2006).
US Environmental Protection Agency, (1974) menyatakan bahwa tingkat
kebisingan di rumah sakit tidak boleh melebihi 45 desibel. Namun, penelitian
telah menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di rumah sakit puncak melebihi 90
desibel, yang hampir sama dengan tingkat kebisingan lalu lintas truk berat. Efek
berkepanjangan paparan kebisingan yang berlebihan pada pasien dan staf yang
sama dapat memiliki efek merugikan pada kesehatan dan kesejahteraan
(Christensen, 2007). Epinefrin dan stimulan endogen lainnya dilepaskan dalam
respon terhadap rangsangan lingkungan, yang pada gilirannya meningkatkan
denyut jantung dan tekanan darah pasien (DeKeyser, 2003). Intervensi waktu
tenang dapat mencegah stimulasi sistem saraf simpatis yang terjadi dengan

lingkungan kebisingan konstan, lampu yang tepat, dan gangguan tidur, dan
mempromosikan bentuk kenyamanan yang disebut relief (Krinsky, Murillo, &
Johnson, 2014).
Kondisi lingkungan yang kacau dan bising akan memperburuk dan
menghambat penyembuhan pasien. Sehingga diperlukan intervensi yang spesifik
dan berbasis pada teori untuk meningkatkan kenyamanan dan kefektifan
perawatan pasien jantung (Krinsky, Murillo & Johnson, 2014).
Dalam domain lingkungan, perawat dapat melakukan prosedur quite time
yang menyediakan segala bentuk kenyamanan bagi pasien (Olson, Borel,
Laskowitz, Moore, & McConnell, 2001). Meredupkan lampu di ruangan pasien
dan lorong dapat mengurangi rangsangan yang tidak perlu. Menjaga batas yang
benar dan volume alarm monitoring jantung, pulse oximetry, manset tekanan
darah, dan pompa IV dapat meminimalkan kecemasan. Alarm ditangani dengan
cepat, paging overhead dan percakapan yang tidak perlu di area perawatan
pasien dibatasi, dan staf dan pengunjung diminta untuk berbicara dengan nada
rendah. Perawatan kesehatan tim pembulatan, kunjungan konsultan, pengiriman
rutin, dan layanan lainnya dapat dijadwalkan untuk mengamati periode waktu
tenang untuk memaksimalkan waktu istirahat pasien (Taylor-Ford, Catlin,
LaPlante, & Weinke, 2008).
Dalam domain psikospiritual, pasien jantung dapat mengungkapkan
berbagai perasaan dari kecemasan ringan sampai berat berkaitan dengan gejala
mereka. Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa ada korelasi positif
antara tingkat stres dan serum kortisol, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan
sistem kekebalan tertekan (DeKeyser, 2003). Paparan pasien terhadap
peningkatan stimulasi dan tingkat kebisingan berkontribusi untuk terjadinya
agitasi. Quite time dapat menjadi waktu yang ditentukan di mana pasien dapat
bermeditasi, berdoa, istirahat, atau bercakap-cakap dengan orang lain yang
terdekat. Hasil bedrest total dan penurunan kecemasan yang disebut ease
(Krinsky, Murillo, & Johnson, 2014).
Dalam domain sosial budaya, Quite Time memberikan kesempatan untuk
menilai aspek interpersonal dan budaya. Ini adalah periode waktu ketika perawat
dapat memiliki percakapan singkat dan bermakna dengan pasien dan orang lain

yang terdekat, dan memfasilitasi pasien dan keluarga yang membutuhkan


informasi, rasa hormat, validasi, dan dukungan emosional yang mendukung
kenyamanan yang disebut transendensi (Krinsky, Murillo, & Johnson, 2014)..
Setelah dilakukan pengkajian dan didapatkan masalah ketidaknyamanan
klien, maka ada beberapa intervensi yang dapat dilakukan menurut teori comfort
dari Katharine Kolcaba, yaitu standard comfort interventions, coaching, dan
comfort food for the soul. Pada kasus gagal ginjal ini, intervensi standar
(standard comfort interventions) untuk meningkatkan kenyamanan klien adalah
memonitor tanda-tanda vital untuk mengetahui kondisi kesehatan klien,
melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar elektrolit tubuh,
melakukan pengkajian pasien yang komprehensif karena kondisi ginjal yang tidak
mampu membuat sisa-sisa metabolik akan memberikan dampak terhadap tubuh
klien baik fisik, mental dan spiritual, melaksanakan program pengobatan dan
perawatan secara teratur. Untuk melaksanakan intervensi tersebut dibutuhkan
tenaga perawat yang kompeten.
Dalam teori Kolcaba, selain intervensi standar, juga dibutuhkan pelatihan
dan bimbingan (coaching) untuk klien dalam membantu meningkatkan
kenyamanannya. Pada kasus ini beberapa proses coaching yang bisa
direncanakan untuk klien adalah memberikan dukungan emosional seperti
membina trust, menunjukan sikap empati, menghormati dan menghargai
pendapat klien; memberikan dukungan spiritual misalnya dengan mengajarkan
klien berdoa, memfasilitasi klien untuk beribadah, ataupun mendatangkan tokoh
agama sesuai dengan agama klien yang dapat memberikan nasihat/siraman
rohani pada klien; memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit klien,
prognosis, program pengobatan dan perawatan sehingga diharapkan klien dapat
mengerti dan memahami kondisinya sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam
perawatannya; dan meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan klien.
Terakhir,

intervensi

kenyamanan

Kolcaba

adalah

intervensi

untuk

meningkatkan kenyamanan jiwa klien (comfort food for the soul). Beberapa
intervensi yang dapat dilaksanakan pada kasus ini adalah melakukan terapi
energi seperti memberikan sentuhan, melakukan massage pada tubuh klien akan
memberikan rasa rileks dan kenyamanan pada klien; melakukan terapi musik

dan terapi guided imagery untuk memberikan relaksasi pada klien dan
mengalihkan perhatian dari nyeri yang dirasakannya; meluangkan waktu untuk
mendengarkan klien; pengaturan jadwal anggota keluarga yang menemani klien
sehingga klien tidak merasa sendirian selama dirawat; dan mengorientasikan
klien terhadap lingkungan perawatan dengan tujuan agar klien mengenal perawat
dan lingkungan sekitarnya dan merasa tidak asing dengan tempat perawatannya.
Sebuah intervensi quite time memiliki potensi yang signifikan tidak hanya
untuk mengurangi rangsangan berbahaya tetapi juga untuk menciptakan peluang
terciptanya privasi dan interaksi yang mendukung. Temuan penelitian telah
menunjukkan bahwa waktu tenang dapat meningkatkan hasil pasien dan
meningkatkan kepuasan konsumen dengan layanan kesehatan perawatan akut,
yang keduanya adalah semakin penting dalam lingkungan perawatan kesehatan
kontemporer (Gardner, Collins, Osborne, Henderson, & Eastwood, 2009). Hasil
penelitian lain menunjukkan bahwa waktu yang tenang di kacau, berisik unit
perawatan neuro-intensif dapat menciptakan suasana penyembuhan (Dennis,
Lee, Woodard, Szalaj, & Walker, 2010).
Intervensi quite time belum jauh dipelajari penggunaannya di departemen
darurat. Namun, taksonomi data dari kasus perawatan jantung menunjukkan
intervensi ini bisa sangat relevan untuk merawat pasien jantung. Sebuah protokol
intervensi quite time berasal dari teori kenyamanan untuk mempromosikan
kenyamanan di empat konteks perawatan (Krinsky, Murillo, & Johnson, 2014).
KESIMPULAN
Perawat memiliki sumber daya dari teori dan praktek mereka untuk
memandu penelitian intervensi kenyamanan yang berfokus pada pasien. Ide
Nightingale memberikan dasar yang signifikan untuk mempertimbangkan semua
dimensi pasien dan lingkungan yang berhubungan dengan kenyamanan. Teori
kisaran

tengah

Kolcaba

yang

mengidentifikasi

taksonomi

yang

perlu

dipertimbangkan dalam penilaian dan intervensi kenyamanan. Pengalaman


praktek perawat dan bukti anekdotal memberikan wawasan tambahan ke dalam
apa yang terdiri dari perawatan kenyamanan. Sumber daya ini ditambah dengan
penelitian klinis dapat membantu melengkapi rumah sakit dan perawat dengan

metode yang efektif untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan memfasilitasi


penyembuhan. Sebagai Kolcaba dan Fisher (1996) menyatakan, jika pasien
merasa nyaman, maka mereka lebih puas dengan perawatan yang diberikan,
dan perawat serta lembaga akan mendapatkan keuntungan.

REFERENSI
Christensen, M. (2007). Noise levels in a general intensive care unit: A
descriptive
study. Nursing in Critical Care, 12(4), 188197.
DeKeyser, F. (2003). Psychoneuroimmunology in critically ill patients. AACN
Advanced Critical Care, 14(1), 25.
Dennis, C. M., Lee, R., Woodard, E. K., Szalaj, J. J., & Walker, C. A. (2010).
Benefits of quiet time for neuro-intensive care patients. Journal of
Neuroscience Nursing, 42(4), 217224.
Gardner, G. E., Collins, C., Osborne, S., Henderson, A., & Eastwood, M. (2009).
Creating a therapeutic environment: A non-randomised controlled trial
of a quiet time intervention for patients in acute care. International
Journal of Nursing Studies, 46(6), 778786.
Kolcaba, K. (2003). Comfort theory and practice: A vision for holistic health care
research. New York: Springer.
Kolcaba, K. (2010a). Comfort questionnaires. Retrieved from. http://www.
thecomfortline.com/resources/cq.html.
Kolcaba, K. (2010b). Conceptual framework for comfort theory. Retrieved from.
http://www.thecomfortline.com.
Kolcaba, K., & Fisher, E. (1996). A holistic perspective on comfort care as an
advance directive. Critical Care Nursing Quarterly, 18(4), 6676.
Krinsky, R., Murillo, I., & Johnson, J. (2014). A practical application of Katharine
Kolcaba's comfort theory to cardiac patients. Applied Nursing
Research,
27(2),
147-150.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.apnr.2014.02.004
Mazer, S. E. (2006). Increase patient safety by creating a quieter hospital
environment. Biomedical instrumentation & technology/Association for
the Advancement of Medical Instrumentation, 40(2), 145.
Nightingale, F. (1859). Notes on nursing: What it is, and what it is not.
Philadelphia: J.B. Lippincott
Olson, D. M., Borel, C. O., Laskowitz, D. T., Moore, D. T., & McConnell, E. S.
(2001). Quiet time: A nursing intervention to promote sleep in
neurocritical care units. American Journal of Critical Care, 10, 2.
Selanders, L. C. (1998). Florence Nightingale: The evolution and social impact of
feminist values in nursing. Journal of Holistic Nursing, 16, 227243.
Taylor-Ford, R., Catlin, A., LaPlante, M., & Weinke, C. (2008). Effect of a noise
reduction program on a medical-surgical unit. Nursing Research, 17,
7488.
Tomey., & Alligood. (2006). Nursing theorist and their work: Elsevier Health
Science.
U.S. Environmental Protection Agency, Office of Noise Abatement and Control
(1974). Information on levels of environmental noise requisite to protect

public health and welfare with an adequate margin of safety.


(Washington, D.C.).