Anda di halaman 1dari 36

ISSN: 09854-1678

Taki - Takining Sewaka Guna Widya

Kemewahan Air
Sebatas Utopia

DAFTAR ISI
Budaya

16

Laporan Utama / 6
Resensi Film /

28

Essay Foto / 18

Editorial / 4
Wawancara Transparan /

Opini

Jejak / 24
10

Resensi Buku / 26

14

Profil

30

Laporan Khusus / 20

Cerpen

32


Rampung!! Buletin dengan segala
kekurangan dan kelebihannya akhirnya terbit
juga!! Buletin edisi IV Desember 2014 adalah
buletin terakhir di kepengurusan periode ini.
Bahasannya pun kami coba untuk mengangkat
permasalah di luar kampus. Yup! Tema kali ini
mengenai penggunaan air bawah tanah yang
semakin menjamur.

Tema tersebut kami ceklist lantaran
banyak warga yang kini beralih pada sumur
bor. Namun, usut punya usut penggunaan
sumur bor tersebut malah tidak dibatasi,
yang dalam hal ini adalah terkait izinnya
yang masih setengah hati. Tentu saja hal
tersebut mengakibatkan daya dukung air di
Bali akan terlampaui, yang kemudian akan
menyebabkan penurunan permukaan air

tanah dan terjadinya intrusi. Apa itu


intrusi, dan bagaimana sebenarnya
polemik yang katanya 2015 akan krisis
air? Itu yang akan kami kemas dalam
buletin edisi 4 Desember ini.

Tidak hanya itu, polemik
kepemilikan lahan di kampus Bukit
Jimbaran, Unud juga kami ulas di sini.
Kemudian tarian akulturasi budaya di
Kampung Jawa Kepaon, essay foto
tentang lapangan golf baru di Bali, dan
masih banyak lagi. Silakan melucuti
tiap halaman buletin ini, ya kawan..
Selamat membaca
Pemimpin Redaksi,

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

Ilustrasi:Maya/Aka

KARIKATUR

@persakademika / www.persakademika.com

EDITORIAL

Tentang Perizinan
Setengah

Hati


Untuk memperoleh izin pemakaian air tanah atau izin pengusahaan air tanah
pemohon wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada Bupati/Walikota dengan
tembusan kepada Menteri dan Gubernur - Undang-undang Sumber Daya Air, Pasal 67,
Ayat 1.

umur bor kini menjadi pilihan warga.


Mereka
beramai-ramai
beralih
menggunakan sumur bor untuk
memperoleh air bersih. Tak hanya
warga, pebisnis industri pariwisata
Bali juga menggunakan air bawah
tanah tersebut untuk keperluan bisnis
turisme-nya. Namun, semakin banyak
yang menggunakan sumur bor dan
penggunaannya tak dibatasi, tentu
akan menyebabkan masalah serius.
Apalagi pembangunan akomodasi
pariwisata yang semakin marak,
membuat kebutuhan air di Bali
semakin meningkat.

Akibatnya, daya dukung
air di Bali pun akan terlampaui,
yang kemudian akan menyebabkan
penurunan permukaan air tanah.
Beberapa
penelitian
menjelaskan,
jika penurunan permukaan tanah
ini karena pengambilan air tanah
secara berlebihan. Ia bukan saja
mengakibatkan terjadinya penurunan
permukaan
tanah,
tetapi
juga

mengakibatkan terjadinya intrusi air


(masuknya air laut ke dalam air tanah).

Menurut
Kepala
Bidang
ESDM (Energi Sumber Daya Mineral)
Provinsi Bali, selama ini regulasi untuk
pihak-pihak yang mengambil air
tanah tanpa izin belum ada. Pihaknya
hanya mengeluarkan izin mengenai
layak atau tidaknya air tanah tersebut
dimanfaatkan. Walaupun demikian, ia
juga tidak memungkiri bahwa banyak
pihak-pihak tertentu yang mengambil
air tanah tanpa izin dari pemerintah.

Banyak perusahaan yang
ditengarai memanfaatkan air bawah
tanah secara berlebihan namun
membayar pajak dalam jumlah
kecil. Data akurat tentang jumlah
pengguna air bawah tanah pun tak
dimiliki pemerintah daerah. Dan
yang lebih menariknya lagi, sebagian
besar perusahaan itu tidak memiliki
water meter (alat pengukur air)
untuk mengetahui seberapa banyak
perusahaan itu menggunakan air
bawah tanah dalam sebulan.

Jadi, bisa dikatakan masih
belum ada langkah tegas pembatasan
penggunaan air tanah di Bali. Semua
pihak seolah menutup mata akan
Ilustrasi: Maya/Aka

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

EDITORIAL
persoalan ini. Perlu diketahui, bahwa
di daerah Sanur, intrusi air sudah
mencapai satu kilometer. Sementara
daerah Kuta sudah mencapai tiga
sampai empat kilometer. Siapa yang
harus disalahkan dalam hal ini? Siapa
yang harus bertanggung jawab ketika
telah terjadi penurunan permukaan
tanah dan ketika terjadi intrusi air?

Apakah
tidak
sebaiknya
dibentuk tim monitoring terkait
penggunaan
sumur
bor?
Seharusnya begitu. Kini saatnya
pemerintah
daerah
ataupun
pemerintah pusat mempertegas
perizinan penggunaan air bawah
tanah. Seperti apa mobilisasinya
dan seperti apa tindak lanjut dari
perizinan tersebut. Tak hanya
itu saja, pembangunan akomodasi
pariwisata juga harus ditekan
agar tidak terjadi tumpang
tindih
dengan
ketersediaan
air.

Normalnya, setiap bentuk penggunaan


air tanah harus dilengkapi dengan
water mater. Namun hanya segelintir
yang memilikinya. Perizinan sumur bor
pun tidak dimiliki semua pengguna.
Sehingga
banyak
orang
yang
memanfaatkan air tanah secara illegal.
Hal yang harus diwaspadai adalah
pengguna air tanah dengan
jumlah besar seperti
industri pariwisata,
kost-kost-an, dan
laundry.
Tentu
menjadi PR bagi
semua
pihak
agar
bijak
menggunakan
air. (red)

@persakademika / www.persakademika.com

Sang fajar tak mungkin ingkar.


Sinarnya tak akan pudar.
Namun sudah lama panasnya tak seperti biasa.
Kekeringan melanda. Air pun tiada jua.

Sudah Lama

Foto: bhask/Aka

Tak Basah

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

LAPORAN UTAMA 1

ala itu Sang Fajar malu-malu


menampakkan diri. Kemunculannya
menjadi alarm untuk Warga Desa
Tegallinggah, Kecamatan Sukasada,
Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.
Satu persatu penduduk keluar dari
rumahnya. Aktivitas warga kembali
dimulai seakan tiada santai untuk hari
ini.

Seorang pria paruh baya pun
tak mau kalah. Meski sudah cukup
berumur, ia tak gentar melawan hari.
Penampilannya sederhana. Hanya
menggunakan celana pendek dan
kaos bergambar kampanye salah satu
calon presiden revolusi mental
yang didapatnya secara gratis. Bahkan
tak butuh sejuta perkakas, ia hanya
membawa sebuah arit. Semua sudah
dirasa lengkap untuk pekerjaannya
hari ini. Ditemani sepasang sandal
jepit, ia melangkahkan kaki menyusuri
jalan desa yang masih lengang.

Beberapa menit kemudian,
sampailah ia pada tempat tujuannya.
Tempat itu tidak menampakkan
pemandangan
permadani
indah.
Hanya berpuluh-puluh hektar sawah
kering. Tiada padi, sayur, ataupun
tanaman
lainnya.
Sejauh
mata
memandang hanya tanah tandus yang
tak lagi ditanami.

Pria yang bernama Mangku
Manis (75), kali ini tidak akan merawat
sawahnya. Maklum saat ini sedang
musim kering. Jadi tidak mungkin
baginya untuk bergulat dengan

lumpur sawah. Untuk sementara ia


harus bersabar menanti selesainya
musim kering ini.

Sawah kami memang susah
ditanami kalau musim kering seperti
ini. Kalau mau bersawah lagi harus
menunggu musim hujan datang,
ujarnya.

Sawah yang berada di Subak
Anyar Desa Tegalinggah, Sukasada,
Buleleng ini menggunakan sistem
sawah tadah hujan. Petani akan
mengumpulkan air hujan ketika
musimnya tiba dan digunakan untuk
pengairan sawahnya. Jika musim
kering tiba, petani tidak mampu bekerja
di sawah. Bertani di sawah baru akan
dilakukan menjelang akhir Desember
atau awal Januari. Pada bulan tersebut
biasanya Desa Tegalinggah berjumpa
dengan musim hujan.

Ssaat musim kemarau seperti
ini, Mangku Manis tidak menyerah. Ia
harus tetap bekerja untuk menafkahi
keluarganya. Kali ini yang ia lakukan
bukan bercocok tanam melainkan
memotong
tanaman dan rumput
di sekitar pematang sawahnya. Jika
sudah terkumpul banyak maka akan
digunakan untuk pakan ternaknya.

Kalau musim seperti ini
kebanyakan petani akan memelihara
ternak, ungkap Mangku Manis.

Matahari sudah semakin
terik, tetapi Mangku Manis tetap
sibuk bekerja. Tanaman untuk pakan
ternaknya sudah cukup banyak
terkumpul. Sebentar lagi ternaknya
sudah bisa makan.

Tidak jauh dari tempat ia
mencabuti rumput, terdapat sebuah
kotak dari semen. Kotak itu layaknya

@persakademika / www.persakademika.com

LAPORAN UTAMA 1
peti kecil. Di dalamnya terdapat sebuah
valve atau yang lebih kita kenal dengan
keran air.

Menurut Mangku Manis
keran air itu baru saja dibangun.
Rencananya air akan segera mengalir
ke sawahnya sebentar lagi. Sehingga
para petani tidak perlu menunggu
musim hujan datang. Sumber airnya
berasal dari sumur bor yang jaraknya
sekitar beberapa meter dari sawahnya.
Sumur bor baru saja dibangun di
desa kami dan akan digunakan untuk
mengairi sawah dan mengairi air ke
masing-masing rumah, ucapnya.

Setali tiga uang dengan
penjelasan Mangku Manis, Putu Astawa
(48) yang merupakan Kelian Subak
Anyar Desa Tegalinggah Buleleng juga
membenarkan rencana itu. Sumur bor
itu akan segera dioperasikan. Nantinya
orang yang memakai air sumur bor
akan membayar sesuai ketentuan.
Penggunaan air yang dialiri ke sawah
akan membayar sebesar Rp 50.000,00
per jam dan air ke rumah-rumah akan
membayar sebesar Rp 60.000,00 per
jam. Ide ini terinspirasi dari Subak
tetangga, yakni Subak Lebak Pupuhan
yang sebelumnya berhasil melakukan
sistem ini.

Kami harapkan dengan
penggunaan sumur bor masyarakat
akan lebih gampang mendapat air,
ujar Putu Astawa.

Pembangunan sumur bor
ini merupakan bentuk bantuan
pemerintah melalui Balai Wilayah
Sungai Bali-Penida. Pengadaan sumur
bor pun didasari atas permintaan
anggota Subak yang mengirimkan
proposal bantuan kepada pemerintah.

Anggota Subak beranggapan bahwa


penggunaan sumur bor untuk sawah
mereka merupakan cara terbaik untuk
menghindari gagal panen.
Putu
Astawa
juga
menambahkan bahwa agar satu hektar
sawah dapat tercukupi kebutuhan
airnya maka harus dialiri air selama
empat hingga lima jam. Artinya petani
yang memiliki lahan sawah lebih luas
akan membayar lebih mahal.

Saat ini air menjadi benda
mahal bagi warga desa. Namun tidak
untuk pelaku industri pariwisata. Sejak
lama industri ini sudah mengambil
air tanah untuk menyokong usahanya.
Bahkan dengan kapasitas yang begitu
besar. Selain itu, satu hotel atau villa
tidak hanya memiliki satu sumur bor.
Jumlah sumur bor ini bisa mencapai
tiga atau lebih.

Berdasarkan
data
Dinas
Pariwisata
Provinsi
Bali
Tahun
2013, terdapat sebanyak 2572 sarana
akomodasi yang meliputi hotel
berbintang, hotel melati dan pondok
wisata dengan total kamar 44.361.
Sarana
akomodasi
lain
berupa
restoran dan rumah makan di Bali,
data yang sama pada tahun 2013
ada 1069 restoran dan rumah makan
dengan total 41.843 seat. Ini artinya,
jika masing-masing sarana akomodasi
tersebut memiliki satu sumur bor,
maka pengguna sumur bor di Bali
bisa mencapai ribuan. Namun kecil
kemungkinan jumlah sumur bor yang
dimiliki hanya satu, jika melihat jumlah
kamar yang mencapai puluhan ribu.
Jumlah penggunaan sumur bor terus
meningkat dan tidak dapat dipastikan.

Menurut Putu Bagus Budiana

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

LAPORAN UTAMA 1
yang merupakan Kepala Bidang
ESDM Provinsi Bali, selama ini
belum ada aturan khusus mengenai
penggunaan air tanah. Regulasi untuk
pihak-pihak yang mengambil air
tanah tanpa ijin belum ada. Pihaknya
hanya mengeluarkan izin mengenai
layak atau tidaknya air tanah tersebut
dimanfaatkan. Walaupun demikian, ia
juga tidak memungkiri bahwa banyak
pihak-pihak tertentu yang mengambil
air tanah tanpa izin dari pemerintah.

Belum ada peraturan yang
jelas dari menteri mengenai perijinan
penggunaan
sumur
bor.
Pihak
kami hanyalah memastikan bahwa
kandungan air tanah tersebut baik
digunakan masyarakat. Jika hasilnya
baik maka izin akan kami keluarkan,
ungkapnya.

Menurut I Nyoman Sunartha,
seorang Ahli Hidrologi Universitas
Udayana, saat ini masalah air yang
dihadapi Bali adalah kandungan air
tanah yang semakin buruk. Hal tersebut
dikarenakan penyedotan air tanah
yang massive. Sehingga kapasitas air
tanah akan mengecil volumenya. Hal
itu akan mengakibatkan mudahnya air
laut mendorong air tanah dan masuk
ke daratan.

Air tanah dari daratan
tinggi akan terus mengalir ke bawah.
Kemudian akan keluar di pantai dan
bertemu dengan air laut. Air tanah dan
air laut tidak akan tercampur namun
terpisah dibatasi layaknya garis tipis.
Perbandingan antara air tanah dan
air laut ini yaitu 1 : 40. Satu meter
dari garis tersebut yaitu air tanah.
Sementara 40 meter di bawah garis
adalah air laut. Ketika volume air tanah

makin mengecil maka air laut akan


mendorong masuk ke dalam lubang
keluar air tanah. Hal selanjutnya yang
terjadi adalah air tanah di darat akan
bercampur dengan air laut.

Kejadian ini disebut sebagai
instrusi air. Bali sudah mengalami
dampak ini. Di daerah Sanur, intrusi
air sudah mencapai satu kilometer
sementara di Kuta sudah mencapai tiga
sampai empat kilometer.

Instrusi air di Bali akan
berdampak serius karena sampai saat
ini belum ada regulasi dari pemerintah
yang mengatur kapasitas penggunaan
air tanah, ungkapnya.

Seharusnya setiap bentuk
penggunaan air tanah harus dilengkapi
dengan water meter. Namun tidak
semua pihak memlikinya. Perizinan
sumur bor pun tidak dimiliki semua
pengguna. Sehingga banyak orang yang
memanfaatkan air tanah secara illegal.
Hal yang harus diwaspadai adalah
pengguna air tanah dengan jumlah
besar seperti industri pariwisata, kostkost-an, dan laundry.

Penggunaan air tanah dalam
jumlah besar biasanya dilakukan oleh
industri pariwisata dan pelaku usaha
seperti kost-kost-an dan semacamnya,
ujar Nyoman Sunartha.

Penggunaan air bawah tanah
untuk industri pariwisata memang
memperoleh jalan oleh pemerintah
daerah Bali. Namun, hal ini harus
dikaji ulang mengenai penggunaaan
air bawah tanah untuk industri
diperbolehkan atau tidak. Hal tersebut
didasari oleh tidak adanya aturan
khusus yang membatasi penggunaan
air bawah tanah. (Wirat, Ary S.)

@persakademika / www.persakademika.com

WAWANCARA TRANSPARAN

Intrusi Air?

Bali dengan promosi pariwisatanya memang tampak megah, tapi kesejateraan


masyarakat belum cerah.

Wawancara bersama Drs. Nyoman Sunarta. M.Si mengenai kondisi air tanah di Bali.

10

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

Foto: Ary S./Aka

WAWANCARA TRANSPARAN

anyak
hotel
dan
villa
berjamuran, namun krisis air
bersih di Bali kian menjadijadi. Pembabakan air yang lebih
banyak dikonsumsi oleh hotel
serta villa membuat masyarakat
tidak bebas mendapatkan air
bersih. Pemerintah sendiri belum
mengeluarkan
aturan
pasti
tentang batas penggunaan air
bagi hotel, villa dan masyarakat
lokal. Di samping itu, banyak
oknum-oknum curang yang
mengambil air secara berlebihan.
Krisis air bukanlah masalah baru
di Bali.

Tanpa disadari Bali
mengalami krisis air sejak
tahun 1995. Para ahli semakin
prihatin melihat pembangunan
Bali yang kerap mengabaikan
lingkungan. Salah satunya Drs.
Nyoman Sunarta. M.Si., seorang
Ahli Hidrologi yang juga Dosen
Fakultas Pariwisata Universitas
Udayana.
Menurutnya,
lingkungan yang rusak juga
akan membuat pariwisata anjlok.
Bali harus segera berbenah
agar mencapai pariwisata yang
berkelanjutan.

Bagaimana pantauan Anda


tentang krisis air di Bali saat ini?

Krisis air bersih yang ada di Bali sudah


tidak bisa mencukupi atau membuat
penduduknya hidup layak. Diperkuat
dengan banyak keluhan masyarakat
yang terjadi mengenai air di tempat
tinggalnya yang susah mengalir jika
sudah memasuki beban puncak.

Apakah pariwisata merupakan


biang keroknya?

Saya kira kalau biang keroknya


pariwisata,
alasannya
pariwisata
adalah
sebuah
industri
yang
kelangsungan hidupnya ditentukan
oleh baik buruknya lingkungan.
Kalau lingkungannya rusak, maka
pariwisata akan rusak. Lingkungan
dalam arti rusak itu tidak hanya SDM
saja melainkan SDA juga. SDA yang
paling utama di Bali, yakni air dan
tanah. Dalam memperebutkan sumber
daya langka (air dan tanah), pariwisata
di Bali pasti akan selalu dimenangkan,
masyarakat akan kalah.

Apa buktinya jika masyarakat


sudah kalah?

Sawah yang dulunya merupakan


sawah irigasi, sekarang menjadi hotel,
villa dan sebagainya. Lalu, kebutuhan
air masyarakat. Dulu masyarakat tidak
pernah kekurangan air. Padahal sudah
tercantum dalam UUD 1945 pasal
33 pasal 3 yang berbunyi: Bumi, air
dan kekayaan alam yang terkandung

@persakademika / www.persakademika.com

11

LAPORAN UTAMA 2
didalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran
rakyat.
Sekarang
masyarakat membeli air setengah mati.

Jadi, pariwisata adalah penyebab


utama krisis air di Bali?

Tidak. Hampir setiap rumah di


perumahan menggunakan sumur
bor. Walaupun dengan investasi yang
cukup mahal. Nah, biang keroknya
disitu. Masyarakat yang tadinya hanya
menggunakan sumur dangkal lalu
menggunakan sumur bor itu alasannya
karena tiap tahun dia selalu mendalami
sumur dangkal akibat debit airnya
turun.

Berapa meter aturan untuk


membuat sumur dalam?

Aturannya kalau di sekitar daerah


Badung dan Denpasar 40-50 meter
dalamnya.

Badung
merupakan
daerah
pariwisata
terkuat
di
Bali,
terutama di daerah Bali Selatan.
Bagaimana keadaan air tanah di
sana?

Daerah di Bali Selatan (Sanur, Nusa


Dua, Jimbaran, Uluwatu, Kuta) yang
sebagian besarnya merupakan daerah
pantai. Pasti mereka mengambil air
tanah, dan air yang diambil oleh hotel
disana menggunakan air tanah dalam.
Secara otomatis debit air tanah daerah
Bali Selatan akan menurun.

12

Berarti kedalaman air tanah di


pantai (air tanah dangkal) dengan
air tanah di dataran tinggi (air
tanah dalam)
perbedaannya?

berbeda?

Apa

Berbeda. Sumber air tanah di Bali itu


di Bedugul. Semakin dekat dengan
pantai, air tanah akan semakin dangkal.
Sebaliknya, semakin dekat dengan
daerah Bedugul air tanah semakin
dalam. Karena volume dataran tanah
di daerah Bedugul memiliki volume
yang tebal berdeda dengan di daerah
pantai.
Sedangkan perbedaannya yakni, air
tanah dangkal sumbernya di sekitar
daerah itu. Kalau air tanah dangkal
kedalamannya
tidak
mencapai
satu meter. Dan air tanah dangkal
merupakan air yang berada di atas
lapisan tanah yang kedap air. Tetapi
kalau air tanah dalam kedalamannya
mencapai sepuluh meter. Daya
tampung airnya luas.

Jadi
jika
air
tanah
yang
terkontaminasi dengan air laut
apa yang terjadi?

Intrusi air. Intrusi air itu masuknya


air laut ke dalam air tanah. Air tanah
punya kekuatan. Air laut juga punya
kekuatan. Jika air laut lebih kuat, maka
air tanah akan hilang tergantikan oleh
air laut. Intrusi air terjadi secara alami.
Interbite air di pantai itu tidak stabil.
Air bisa dibilang terkena intrusi air
itu bila sudah menjadi masalah bagi
masyarakat.

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

LAPORAN UTAMA 2

Bagaimana ciri-ciri air


sudah terkena intrusi air?

yang

Ciri-ciri air yang terkena intrusi air


warnanya kuning, kotor dan berbau.
Perbandingan air tanah dengan air laut
yakni 1:40. Artinya kalau membuka air
tanah di pantai ketebalannya air tanah
hanya mencapai 1 meter saja itu di
sebut air tawar. Sedangkan 40 meter ke
bawah sisanya air asin. Bisa juga dilihat
dari interbite air di laut. Kalau air tanah
mengecil berarti sudah terintrusi air.

Apa saja dampak dari intrusi air


bagi masyarakat sendiri?

Air tanah sudah payau jadi kita tidak


bisa meminum dan mengolah air itu.
Air akan menjadi asin dan tidak baik
bagi kesehatan.

Intrusi air di Bali masuk kategori


seperti apa?

Tidak ada indikator yang menjelaskan


tentang instrusi air di Bali. Karena
setiap daerah pemakaian airnya
berbeda. Intrusi air di Bali belum seemergency di daerah Jakarta. Kalau air
sudah tidak bisa dipakai sebagai bahan
air untuk diminum dan diolah lagi
baru bisa dibilang sangat genting.

Daerah mana saja yang sudah


terkena intrusi air?

Di Sanur kurang lebih 1 km, air laut


sudah tercampur dengan air tanah.
Sedangkan di Kuta sudah mencapai 3
km. Masuknya air laut ke daratan
dan tercampur dengan air tanah inilah
yang membuat air tawar menjadi air
payau.

Bagaimana cara mengatasi intrusi


air yang terjadi saat ini?

Indikator yang paling gampang yaitu,


masyarakat harus bisa menjaga debit
air tanah agar tidak turun. Harus ada
pengurangan pengambilan air tanah
yang berlebihan. Lalu mengganti lagi
air tanah dengan cara penghijauan.
Panen hujan. Hujan yang jatuh di Bali,
harus panen jangan langsung dibuang
ke laut tapi tampung di suatu tempat
yang bisa menampung air hujan
itu. Sehingga nantinya air tersebut
akan meresap menjadi air tanah. Air
tanah tersebut meresap di daerah
tinggi dan bisa menampung air tanah
yang terbuang ke laut. Pemerintah
harus lebih tegas membuat peraturan
mengenai berapa jatah hotel yang bisa
dibangun di Bali serta berapa liter
jatah air tanah yang boleh dikonsumsi.
(Santia, Sui)

@persakademika / www.persakademika.com

13

OPINI

Oleh : Ni Ketut Ari Puspita Dewi

Ilustrasi: Maya/Aka

HAK
KITA!!!

Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setia pengguna
informasi publik kalimat yang tercantum dalam Pasal 2 Ayat (1) UU No.14/2008
Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

14

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

OPINI

ejak reformasi 1998 keran keterbukaan


informasi terbuka lebar. Hasilnya
kini media massa menjamur sebagai
buah kebebasan pers. DPR juga
mengesahkan UU No. 14/2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik (UU
KIP) pada 3 April 2008. Masyarakat
berhak mengetahui informasi yang
dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim
dan diterima oleh suatu badan publik.
Pemerintah
membentuk
Komisi
Informasi (KI) sebagai lembaga
mandiri yang menjalankan UU KIP.
Komisi ini tak hanya dibentuk di pusat
pemerintahan, tetapi sampai tingkat
provinsi. Sebagai penyedia informasi,
badan publik wajib membentuk Pejabat
Pengelola Informasi dan Dokumentasi
(PPID). Dengan adanya PPID ini dapat
membuat citra yang lebih baik dalam
hal keterbukaan publik.

Tapi sayang adanya UU
KIP, KI dan PPID bagaikan jauh
panggang dari api. Banyak kalangan
yang masih asing dengan hak atas
informasi.
Padahal,
keterbukaan
informasi sebenarnya bukan hal baru
dalam perkembangan demokrasi di
Indonesia. Keterbukaan informasi
publik yang membuahkan partisipasi
masyarakat telah dipraktikkan di
beberapa daerah jauh sebelum undangundang ini disahkan. Contoh yang
menonjol adalah Perda No. 6/2004
tentang Transparansi dan Partisipasi
di Kabupaten Lebak, Banten, yang
juga memuat pembentukan Komisi
Transparansi dan Partisipasi sebagai
pelaksana.

Data menunjukkan praktik

keterbukaan informasi di Kabupaten


Lebak telah memberi kontribusi
signifikan terhadap kemajuan daerah
yang sebelumnya merupakan daerah
tertinggal, dengan APBD terendah seProvinsi Banten ini. Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Lebak awal
tahun 2004, saat Perda Transparansi
disahkan hanya Rp 11 miliar. Dalam
jangka 9 bulan menjadi Rp 20 miliar.
Bahkan di tahun 2006 PAD Kabupaten
Lebak menjadi Rp 32 miliar.
KI
harus
gencar
mensosialisasikan UU KIP agar
masyarakat
mengetahui
haknya
untuk mengakses informasi publik.
Badan publik beserta PPID juga harus
lebih terbuka dalam menyediakan
informasi untuk kepentingan publik.
Jika melanggar maka ada sanksi yang
diatur dalam Pasal 52 UU No. 14 Tahun
2008 yaitu pidana kurungan paling
lama satu tahun dan/atau pidana
denda paling banyak 5 juta rupiah.

UU KIP dirancang untuk
menjamin hak warga negara untuk
mengetahui
rencana
pembuatan
kebijakan publik, program kebijakan
publik, dan proses pengambilan
keputusan
publik,
serta
alasan
pengambilan suatu keputusan publik.
Selain itu, pemberlakuan UU KIP akan
mendorong partisipasi masyarakat
dalam proses pengambilan kebijakan
publik. Ini juga dapat mewujudkan
penyelenggaraan negara yang baik
(good governance), yaitu transparan,
efektif dan efisien serta dapat
dipertanggungjawabkan.
Tentu,
pada akhirnya kita berharap agar
produktivitas
dan
kesejahteraan
masyarakat meningkat.

@persakademika / www.persakademika.com

15

BUDAYA

RODAT:

SENI

ASLI

https://anggaramahendra.files.wordpress.com/2014/01/ang20140114_denpasar_kampung-islam-kepaon_maulid-nabi_tari-rodat_100.jpg

ndonesia merupakan negara kesatuan


yang terdiri dari beraneka ragam
budaya, suku, dan agama. Setiap daerah
di Indonesia memiliki ciri khas masingmasing yang kemudian menjadi
promosi andalannya. Misalnya dalam
seni tari, Aceh terkenal dengan Tari
Saman, Jakarta dengan Tari Tanjidor,
atau Bali dengan Tari Kecaknya.

Bali, adalah salah satu pulau
di Indonesia yang terkenal akan seni
tari, pahat, dan lukisnya. Di Bali, seni
sudah diajarkan sejak kecil. Anak-anak
perempuan biasanya diajarkan menari,
sedangkan yang laki-laki diajarkan
megambel (bermain musik).

16

Penari yang sedang menari tarian Rodat.


Pulau Bali juga dikenal
dengan mayoritas masyarakatnya yang
beragama Hindu. Di Bali hubungan
antar agama berjalan harmonis.
Seperti yang terjadi di Kampung Islam
Kepaon, Denpasar, masyarakat Hindu
dan Islam yang tinggal di daerah ini
hidup berdampingan dengan baik.
Mereka saling menghormati satu sama
lain.

Salah satu seni yang terkenal
di Kepaon adalah Tari Rodat, karya
seni tari Bali yang bernafaskan Islam.
Menurut Maulana Ishaq (28), Sekretaris
Persatuan Kesenian Rodat Kepaon,
Rodat pada awalnya adalah barisan

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

BUDAYA
prajurit tempur. Seiring berjalannya
waktu, yang mana kerajaan dan
peperangan sudah tidak ada lagi, rodat
ini digubah menjadi sebuah karya seni.

Rodat ini adalah kegiatan
yang dilakukan oleh para prajurit
perang. Jadi setiap dia latihan,
dia menggunakan nyanyian, ada
tabuhannya. Itu dijadikan sebuah seni.
Sambil dia latihan perang, dia juga
latihan ini biar tidak jenuh. Setelah
peperangan ini tidak ada, diangkatlah
menjadi seni, jelas Maulana.

Tari Rodat biasa ditampilkan
ketika menyambut tamu, mengiringi
pengantin, mengisi acara, atau ketika
hari-hari besar Islam seperti Maulid
Nabi. Ketika Maulid Nabi, akan
diadakan pawai. Pasukan seni Rodat
akan membawa bunga-bunga telur,
kemudian pasukan akan berjalan dari
Masjid keluar ke jalanan, dan berlanjut
ke arah utara maupun selatan.

Penari Rodat terdiri dari dua
komandan yang membawa pedang,
dan 40 kamerad (prajurit). Namun,
ketika mengisi acara, maksimal penari
adalah 30 orang. Dalam seni Rodat
juga menggunakan tabuhan, yang
terdiri dari lima skan kendang, empat
kedonceng, dan satu kendang besar.

Latihan seni Rodat diadakan
satu bulan sekali. Kalau memang ada
tamu besar seperti Presiden, atau
ketika akan mengikuti PKB (Pesta
Kesenian Bali), latihan diadakan tiga
kali dalam seminggu. Jika tidak ada
acara atau pementasan sama sekali,
maka tetap diadakan latihan sekali
dalam sebulan agar tetap mengingat
gerakan-gerakannya.

Seni Rodat ini merupakan

seni asli dari Bali, meski bernuansa


Islam. Terjadi akulturasi antara budaya
Jawa, Bugis, Bali, dan Melayu. Dalam
nyanyiannya
digunakan
bahasa
Melayu, dan gerakannya menggunakan
gerakan-gerakan silat.

Para penari Rodat, yang
semuanya adalah lelaki, terdiri dari
berbagai lapisan umur. Dari SMP
sampai yang sudah bekerja. Meski
begitu, ketika pementasan, yang tampil
adalah yang sudah bekerja dan para
penabuhnya yang sudah dewasa.
Namun, yang masih muda, seperti
yang masih SMP dan SMA tetap ikut
berlatih untuk menggantikan para
seniornya nanti.

Awal mula seni Rodat
berkembang adalah di Kepaon, dan
yang utama juga di Kepaon. Meski
begitu, seni Rodat juga ada di beberapa
daerah lain di Bali seperti di Gel-gel,
Klungkung, Karangasem, Singaraja,
dan Bedugul. Namun, seni Rodat di
Bedugul sudah mulai punah sekarang.

Seni Rodat sempat punah
sekitar tahun 1980-an, selama kurang
lebih lima tahun. Kemudian ketika
muncul lagi, barulah lagu-lagu yang
dinyanyikan ditulis. Bahasa yang
digunakan dalam nyanyian tersebut
adalah campuran antara bahasa Melayu
dan bahasa Arab. Syair tersebut,
aslinya merupakan mantra yang bisa
digunakan untuk melindungi diri
ketika perang. Namun lama kelamaan,
semakin
sulit
untuk
diartikan.
Sekarang, karena tanpa pengamalan,
syair tersebut hanya digunakan sebagai
nyanyian. (Elok)

@persakademika / www.persakademika.com

17

Oleh : Made Arya Bhaskara putra

DULUNYA BUKIT GERSANG,


KINI MENJADI BUKIT TELETUBBIES


Pemandangan yang berbeda
terlihat ketika memasuki Jalan Gunung
Payung, Desa Kutuh, Kuta Selatan,
Badung, Bali saat ini. Perbedaan sangat
terlihat ketika mata menatap hamparan
padang rumput yang hijau dan indah
membentang diantara bukit coklat
dan kering. Bukit teletubbies mungkin
sebutan yang tepat untuk sebuah
lapangan golf yang tengah dibangun
di atas tanah kering dan berbatu kapur
tersebut.

18

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

ESSAY FOTO

1

Gunung payung adalah suatu
kawasan perbukitan yang terletak
di daerah pesisir pantai selatan Bali,
ternyata dapat juga dikembangkan
oleh PT. Bali Ragawisata untuk
membuat lapangan golf. Pertanyaan
besar muncul ketika beberapa daerah
di Bali sedang mengalami krisis air,
namun rumput hijau di lapangan golf
yang tengah dibangun dapat tumbuh
dengan subur. (Bhask)

Bukit Teletubbies, begitu sebutan yang tepat untuk


bukit hijau yang membentang di kawasan gunung
payung. (1)
Lapangan golf di Jalan Gunung Payung, kini masih
dalam tahap pembangunan. (2)
Bukit Pandawa Executive Golf, begitu tulisan
pada papan yang berdiri kokoh di tengah proyek
pembangunan lapangan golf. (3)
Kolam buatan di tengah hamparan bukit hijau dibuat
sebagai fasilitas persediaan air irigasi. (4)
Kekaguman
anak-anak
sekitar
melihat
teletubbies yang kini ada didekat mereka. (5)

bukit

@persakademika / www.persakademika.com

19

LAPORAN KHUSUS

Kepemilikan Lahan Kampus Bukit

Foto: Bhask/Aka

Papan penanda kepemilikan tanah Unud di Kampus Unud Bukit jimbaran.

Master plan kita, 20 tahun lagi Universitas Udayana ini dapat berkembang menjadi
bangunan kompak. Itu adalah mimpi kita, mimpi yang realistis, papar Pembantu
Rektor II Universitas Udayana.

20

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

LAPORAN KHUSUS

wal mula pendirian kampus di Bukit


Jimbaran diusulkan oleh Gubernur Bali,
Prof. Dr. Ida Bagus Oka (1988-1993)
yang mengajukan sekitar 250 hektar
lahan. Berdasarkan izin prinsip, lahan
tersebut kemudian berkurang menjadi
200 hektar. Tidak lama berselang ada
pembebasan lahan oleh pemerintah,
sehingga luas lahan yang sudah
berkurang, berkurang lagi menjadi 150
hektar. Namun, penyusutan sejumlah
besar tanah itu tidak menghentikan
proses pendirian kampus. Sesuai
dengan anggaran yang telah diberikan
oleh pemerintah pusat, pembangunan
tetap berjalan.

Pembangunan kampus di
Jimbaran juga tidak berjalan semulus
rencana.
Berkembangnya
daerah
Jimbaran menjadi daerah wisata saat itu
mengakibatkan harga lahan melonjak
jauh dari yang diperkirakan. Anggaran
yang diberikan oleh pemerintah pun
tidak mencukupi. Hal inilah yang
mengakibatkan kampus-kampus Unud
di bukit Jimbaran tersebar, tidak berdiri
dalam satu lahan.

Berkembangnya
Bukit
Jimbaran menjadi daerah wisata,
apakah pendirian kampus itu tidak
melanggar aturan pemerintah? Tentu
saja tidak, karena Universitas kita telah
mendapatkan izin dari pemerintah
sebelum menetapkan daerah bukit
ini sebagai daerah pariwisata. 150
hektar lahan tersebut sudah ditetapkan
menjadi wilayah pendidikan, ujar
Prof. Dr. Ir. Ketut Budi Susrusa, MS
selaku Pembantu Rektor II Universitas
Udayana.


Semakin mahalnya biaya
pembangunan
fasilitas
umum,
misalnya
jaringan
air,
telepon,
internet, dan lain-lain, maka pihak
universitas membuat sebuah master
plan yang berbasis bangunan kompak.
Dengan harapan penyediaan fasilitas
tertentu akan lebih mudah, misalnya
membuat kantin yang bisa melayani
secara keseluruhan, dan menarik
infrastruktur internet yang lebih
pendek agar lebih murah. Tidak hanya
itu, pihak universitas juga berencana
membangun sebuah taman terpusat
yang bisa digunakan oleh seluruh
mahasiswa Unud di Bukit Jimbaran.
Mengenai
rancangan
pembangunan
kompak,
Rektor
Universitas Udayana memberikan
tanggapannya, Kita punya tanah 150
hektar, 50 hektar sudah bisa dibangun
kampus, sepertiganya bisa untuk
penghijauan, dan sepertiganya lagi
bisa untuk kebutuhan publik, ujar
Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PDKEMD. Suastika juga menambahkan,
hubungan yang kompak tersebut tidak
hanya diterapkan dalam lingkungan
kampus saja, tetapi kepada masyarakat
sekitar juga harus menjalin hubungan
yang baik. Kalau kita kompak,
hubungan dengan sesama manusia bisa
menjadi lebih baik, komunikasi antara
manusia pun baik, dan seharusnya
hubungan antara fakultas dengan
fakultas lainnya harus lebih baik lagi,
tambahnya.

Langkah untuk membuat
kompak lahan universitas sudah sering
kali dilakukan oleh pihak rektorat

@persakademika / www.persakademika.com

21

LAPORAN KHUSUS
seperti yang dikemukakan di atas,
tetapi kendala utama ada di pihak
masyarakat. Mereka enggan menyetujui
rencana yang telah dibuat oleh pihak
rektorat, dengan berbagai macam
alasan. Banyak lahan yang bertuliskan
Tanah Milik UNUD diserobot paksa
oleh masyarakat yang menyatakan
tanah tersebut adalah milik mereka.
Kasus tersebut banyak yang dibawa ke
ranah hukum karena gagalnya mediasi
antara pihak Universitas Udayana
dengan masyarakat. Berkaca dengan
kejadian tersebut, akhirnya hampir

80% tanah milik Universitas Udayana


sudah disertifikasi dan sisanya masih
diproses, diharapkan tahun depan
masalah ini sudah bisa dirampungkan.

Saya memang punya tanah
di sini. Setelah ada peraturan baru
saya tahu, sebelumnya saya memang
asli sini. Saya pernah diminta oleh
pemerintah untuk menjual tanah saya,
tapi saya tolak, jelas pemilik kost di
belakang kampus Teknik Universitas
Udayana. Jawaban tersebut juga
senada dengan pemilik kantin di
kampus Teknik, Saya tahu ini masuk

Ilustrasi: GSB/Aka

22

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

LAPORAN KHUSUS
kawasan universitas, tapi saya enggan
menjualnya. Dengan perkembangan
pendidikan di wilayah bukit ini saya
dengan masyarakat lainnya juga
enggan menjual tanah kami.

Pihak universitas tentunya
tidak akan menyerah begitu saja.
Mereka telah bekerjasama dengan
Pemerintah Kabupaten Badung untuk
membuat trotoar, taman, dan fasilitas
lainnya. Hanya saja hal ini terkendala
dengan masyarakat yang tempat
tinggal atau tempat usahanya menjorok
dengan jalan raya, sehingga hal ini

masih dalam proses perundingan.


Selain itu pihak universitas juga akan
merevisi master plan yang sudah ada,
karena bisa saja tahun depan bisa saja
harga tanah lebih mahal lagi. Upayaupaya untuk pembebasan lahan
juga difasilitasi oleh Camat Badung
Selatan, sehingga kedepannya dapat
menciptakan hubungan yang baik
antara Universitas Udayana dengan
masyarakat sekitar. (YRS, Gun, Dharma)

http://images.pitchero.com/ui/621597/1411327770_0.jpg

Persma Akademika Universitas Udayana

Mengucapkan turut bersukacita

atas hilangnya status mahasiswa kepada:


Veroze Waworuntu Saad, S.Ti.
Ni Putu Candra Dewi, S.H.
I Putu Eka Mulyawan, S.T.
Asykur Anam, S.Aka.
Putu Sri Arta Jaya Kusuma, S.E.

Selamat menempuh hidup baru dan terus berdinamikalah!

@persakademika / www.persakademika.com

23

Kumpul Bareng
Pengguna Instagram Se-Bali

1
1. Peserta WWIM 10
Karangasem
berbaris
membentuk
angka
sepuluh sebagai simbol
dari World Wide Instameet
yang ke-sepuluh.
2. Di tengah ilalang,
seorang peserta tengah
mengatur angle untuk
mendapatkan foto yg
bagus.
3. Menyusuri padang
ilalang
di
wilayah
Tulamben, Karangasem
yang
menjadi
lokasi
WWIM 10 Karangasem.

4. Salah satu peserta


yang
menjadi
obyek
foto
melakukan
pose
foto
melompat
#jumpstagram.

24

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

JEJAK

Kami tak menyangka bahwa pertemuan di


ujung Pulau Bali hari itu akan menjadi
Instameet yang teramai di Bali.

iasanya kami menggelar Instameet


dengan sesama anggota komunitas
IgersBali,
komunitas
pengguna
aplikasi berbagi foto Instagram di Bali.
Kami menjelajah tempat menarik, lalu
mengunggah fotonya dengan tanda
pagar #igersbali. Namun Instameet
kali ini berbeda. Acara bertajuk
World Wide Instagram Meeting ke10 bersama IgersBali ini mengundang
semua pengguna aplikasi Instagram
yang bersedia meluangkan waktunya
untuk menjelajah dan menciptakan foto
kreatif bersama-sama. Saya dan temanteman pun berangkat dari titik temu
di wilayah masing-masing menuju
titik temu utama di GOR Kabupaten
Karangasem. Sepanjang perjalanan
kami cenderung heboh membahas
konsep foto yang mungkin akan kami
lakukan.
Setibanya di titik temu, kami
memastikan bahwa semuanya telah
hadir. Kami pun berangkat menuju
tempat Instameet hari itu di wilayah
Tulamben, Karangasem. Sesampai di
sana, kami disambut oleh hamparan
padang ilalang berwarna kuning
kecoklatan.
Hembusan
angin
membuatnya bergoyang dengan lembut
dan menimbulkan suara gesekan
rerumputan yang alami. Kami seperti
diapit oleh Selat Lombok berwarna
biru di sisi timur dan hamparan ilalang
seperti sabana dan perbukitan yang
menghampar ke barat hingga menuju

megahnya Gunung Agung. Daya tarik


wisata alam itu benar-benar membuat
kami berdecak kagum.

Kami pun mulai menjelajah
padang ilalang tersebut dengan kamera
dan ponsel pintar masing-masing. Ada
yang berfoto di tengah ilalang, ada
yang di atas bebatuan, dan ada pula
yang duduk-duduk di bawah pohon
sembari bergosip. Haduh... Padang
ilalang yang tadinya sepi seketika
menjadi ramai akibat kedatangan
kami. Ketika kami sedang berfoto,
teman-teman dari #melaligen datang
dan turut meramaikan Instameet kali
ini.

Tak terasa satu setengah jam
lamanya kami menjelajahi padang
ilalang. Kami pun berkumpul untuk
melakukan sesi foto bersama dalam
berbagai posisi. Berbaris membentuk
angka sepuluh di dataran lapang,
berdiri di kaki bukit kecil dan
berjajar di atas bukit kecil tersebut.
Kebersamaan saat itu pun ditutup
dengan terbenamnya matahari di
belakang Gunung Agung. Siluet
Gunung Agung yang indah berpadu
dengan pemandangan langit berwarna
oranye. Akhirnya kami juga harus
kembali ke peraduan. Kami bergegas
menuju kendaraan untuk pulang ke
rumah masing-masing. (Arimbawa)

@persakademika / www.persakademika.com

25

RESENSI BUKU

Benar-benar Membuat

Hilang

Judul Buku : Bukan Siapa Siapa: Seni Memadamkan Keakuan


Penulis : Ajahn Brahm
Penerbit : Awareness Publication
Tahun Terbit : 3 Oktober 2013
Tebal : 220 Halaman

26

http://lms.bpkpenabur.or.id/SMPK4/images/docs/bukansiapa.jpg

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

RESENSI BUKU

erkadang dalam hidup ini kita ingin


mengubah segalanya. Kita ingin
melihat semuanya sempurna. Semua
hal harus berjalan lancar sesuai dengan
rencana. Kita selalu membenci masalah
dan duka. Padahal masalah dan duka
akan selalu terjadi selama kita masih
hidup di dunia.

Buku yang berjudul Bukan
Siapa Siapa karangan Ajahn Brahm
seolah menerangkan pikiran pembaca
yang rumit. Brahm
mengajak
pembacanya
untuk
melepaskan
segala keterikatan dengan masalah.
Keterikatan terhadap masa lalu
dan masa depan. Buku ini tercipta
bagi mereka yang ingin mencapai
kebahagiaan
dan
mengobati
ketidakpuasan.

Bukan Siapa Siapa merupakan
buku terjemahan dengan judul asli The
Art of Dissapearing; The Buddhas
Path to Lasting Joy karya Brahm.
Pria kelahiran Inggris ini menjadi
bhikkhu di hutan Thailand pada
tahun 1974. Kini Brahm tinggal di
Perth. Ia telah menulis banyak buku
yang menginspirasi banyak orang di
dunia, termasuk serial Si Cacing dan
Kotorannya. Selain menulis buku,
ia juga aktif memberi ceramah dan
mengajar meditasi.

Bukan Siapa Siapa bukanlah
sekedar buku motivasi biasa. Brahm
selalu mengajarkan filosofi kehidupan
serta kisah-kisah yang menyentuh.
Kalimatnya begitu mengalir tak
menunjukan bahwa ini adalah buku
terjemahan. Ditambah lagi dengan

sisipan humor yang cerdas ala Brahm


sehingga tidak bosan membacanya.
Nilai tambah ini yang menjadikan
Bukan Siapa Siapa berbeda dengan
buku sejenis yang beredar. Buku ini
memang terasa sempurna karena
ukurannya yang mudah digenggam.
Ukuran font tulisan dalam buku ini
sangat pas. Apalagi pada setiap bab
dibagi menjadi beberapa sub-bab
sehingga tak akan lelah membaca.

Bagian cover yang berwarna
putih polos, hanya terdapat tulisan
judul buku dan pengarangnya. Tak jauh
beda dengan versi aslinya. Tampilan
cover tepat untuk menggambarkan
isi buku yang mengajarkan kita untuk
melepaskan segalanya dan menjadi
bukan siapa-siapa. Namun, jika berjajar
dengan buku-buku lain di toko tentu
tampilan buku ini kurang menggoda
pada kesan pertama. Tidak semua
pembaca menyukai tampilan yang
terlalu polos.

Bukan Siapa Siapa banyak
mengandung istilah Buddha yang sulit
untuk dipahami. Pembaca buku-buku
Ajahn Brahm tentu tidak seluruhnya
menganut ajaran Buddha. Pengetian
dari istilah istilah itu diletakan di bagian
akhir buku sehingga pembaca harus
membolak-balik buku untuk melihat
arti dari istilah yang disebutkan.

Buku ini dapat menjadi
pilihan bacaan sehari-hari. Selain
mengajarkan filosofi kehidupan, buku
ini dapat menenangkan pikiran. Sesuai
pesan Brahm, buku ini akan membuat
pembacanya hilang, bukan siapa-siapa.
(Jaya)

@persakademika / www.persakademika.com

27

RESENSI FILM

Indonesia tanah air beta,


pusaka abadi nan jaya....
Indonesia

sejak

dulu

kala, selalu dipuja-puja


bangsa....

http://4.bp.blogspot.com/-4U37D6l19Ys/UjVxvtVqi-I/AAAAAAAAAu0/DArDQlm41PA/s1600/sapu+tangan+fang+yin.jpg

MEI 1998 :

ETNIS TIONGHOA
Judul Film

: Sapu Tangan Fang Yin

Sutradara

: Karin Binanto

Produksi

: Yayasan Bingkai

Tahun Produksi : 2012


Durasi

: 47 menit 37 detik

Pemain

: Leony Vitria Hartanti (Lin Fang

Yin), Reza Nangin (Albert Kho), Elkie Kwee (Papa),


Nina Indra (Mama), Selly Hasan (Raisa), Verdi
Solaiman (Sang Penyair)

28

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

RESENSI FILM

antunan lagu Indonesia Pusaka


karangan Ibu Sud, menggambarkan
betapa besarnya negara Indonesia.
Kebesaran Indonesia seakan runtuh
semenjak kerusuhan Mei 1998.
Saat itu etnis Tionghoa mengalami
diskriminasi, berupa pembantaian dan
kekerasan seksual dari kaumnya satu
bangsa. Film ini diawali dengan lilin
yang dinyalakan oleh Fang Yin (Leony
Vitria Hartanti) yang kemudian ia
padamkan. Fang Yin (22) merupakan
gadis keturunan Tionghoa yang ceria
dan pantang menyerah. Kehidupannya
seolah berakhir semenjak kejadian Mei
1998. Siang itu rumah Fang Yin dijarah,
ia diperkosa.

Leony sangat menghayati
perannya sebagai wanita yang depresi
berat. Diceritakan dalam film fiktif ini,
Fang Yin merasa dirinya kotor dan
hidupnya hancur. Albert Kho, pacar
Fang Yin masih setia menemaninya di
rumah sakit. Ayah Fang Yin mencari
pengacara dan menghubungi polisi
atas kejadian itu. Hasilnya nihil.
Akhirnya, Fang Yin sekeluarga pergi
ke Negeri Paman Sam. Raisa, psikolog
Fang Yin menemaninya setiap hari
hingga ia sembuh.

Tiga belas tahun kemudian.
Orang tua Fang Yin memutuskan
pulang ke Indonesia, namun tidak
bagi Fang Yin. Berat baginya pulang
ke negeri yang telah merenggut
kebahagiaannya. Setelah Fang Yin
browsing di internet, dilihatnya hukum
di Indonesia lebih baik, banyak

menteri dari etnis Tionghoa, barong


sai bebas menari-nari. Fang Yin
mempertimbangkan untuk kembali ke
Indonesia.

Suasana mencekam berhasil
ditampilkan oleh sutradara Karin
Binanto. Komposisi pencahayaan tepat
disesuaikan dengan pakaian Fang
Yin yang bernuansa gelap. Betapa
suramnya hidup yang dijalankan Fang
Yin. Kesan dramatis juga berhasil
ditampilkan. Ada penggalan video
kerusuhan Mei 1998 yang diiringi
pembacaan esai puisi Atas Nama
Cinta oleh Verdi Solaiman.
Memang
sulit
mengaplikasikan
materi
yang
padat dalam film berdurasi singkat.
Kejanggalan dalam film ini terlihat
saat keluarga Fang Yin pindah ke Los
Angeles. Mereka tak tampak benarbenar syuting di sana. Ini terkesan
film tambal sulam. Namun itu bukan
prioritas utama, melainkan pesan
bahwa etnis Tionghoa berhak untuk
hidup di Indonesia.

Fang Yin dengan penuh
keyakinan
kembali
ke
tanah
kelahirannya, Indonesia. Lilin yang
dulu Fang Yin padamkan, kini
dihidupkan kembali. Apinya ia
gunakan untuk membakar sapu tangan
yang selalu menghapus ribuan tetes air
mata semenjak kejadian Mei 1998. Fang
Yin terlahir kembali. (Dj)

@persakademika / www.persakademika.com

29

Ni Putu Piorina Fortuna

Berawal dari rasa kasihan melihat sisa kain


wastra yang dibuang begitu saja, Piorina
berhasil menjadi pebisnis rantasan yang
sukses.

Foto: Mentari/Aka

Mengembalikan Makna dari

Sebuah Tradisi

engawali bisnis di usia muda ternyata


memberikan banyak pembelajaran dan
pengalaman unik bagi Ni Putu Piorina
Fortuna. Meskipun masih disibukan
dengan tugas-tugas utama di bangku
perkuliahan, hal tersebut tidak
mengubur jiwa entrepreneur gadis
berlesung pipi ini. Ia justru membuka
peluang usaha dengan berbisnis
rantasan yang digunakan umat Hindu
untuk piodalan.

Berawal dari rasa kasihan
melihat sisa-sisa kain wastra yang
dibuang begitu saja, Pio begitu
panggilannya, kemudian berpikir
untuk mengolah kain-kain tersebut
menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat
untuk dijual. Dulunya gara-gara lihat

30

sisa-sisa kain buat wastra itu dibuang,


dari sana dah muncul ide kenapa nggak
serpihan itu dimanfaatkan. Dijadikan
bahan yang bisa buat dijual, ujar
Pio di kediamannya di Banjar Peken
Baleran Kapal, Mengwi

Keinginan
tersebut
ia
wujudkan dengan mengikuti Lomba
Wirausaha Muda Equitech 4th yang
diadakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
(FEB), Universitas Udayana (Unud).
Mengusung motto Mengembalikan
Makna dari Sebuah Tradisi, ide
rantasannya berhasil memperoleh
peringkat kedua dari 29 tim yang
ada. Kebetulan ada lomba wirausaha
muda dari FEB, saya coba ikut itu.
Dan akhirnya dari 29 peserta yang ada
dipilih 6 besar, dari 6 besar itu diseleksi
lagi dan kemudian saya dapat juara
dua. Tiga besar juara diberikan modal
untuk melanjutkan usahanya sebesar 6

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

PROFIL
juta rupiah, kisahnya.

Pio melanjutkan bisnisnya
hingga saat ini dari modal yang didapat
dari kompetisi tersebut. Rumahnya
pun dijadikan sebagai pabrik tempat
pembuatan rantasan. Harga rantasan
dibandrol dengan kisaran harga Rp
190.000,00 Rp 350.000,00 sesuai
ukuran. Keuntungan bisa didapat Pio
hingga Rp 600.000,00 per bulan dari
hasil penjualan rantasan.
Mahasiswa
akuntansi
ini mengaku penjualan tersebut
diperolehnya
tidak
hanya
dari
warga sekitar rumahnya tapi juga
dari masyarakat luas. Hal tersebut
dikarenakan rantasan yang
dijual anak pertama dari
dua bersaudara ini memiliki
keunikan tersendiri, mulai
dari kain yang digunakan,
kayu
penyangga
hingga
ukiran-ukiran yang menarik
minat banyak pembeli. Giat
promosi di media sosial pun
menjadi alasan lain rantasan Pio
laku dipasaran.

membagi waktu untuk kuliah dan berbisnis.



Kalau misalnya saya mau ngerjain
ini biasanya hari Jumat sama Sabtu. Senin
sampai Kamis kuliah. Kadang kalau misalnya
ada pesanan saya lagi nggak di rumah dipesan
lewat pegawai aja, kemudian direkap Hari
Jumat atau Sabtu, ungkap Pio yang sudah
mendapatkan gelar S1-nya.

Ide dan inovasi yang diciptakan
gadis kelahiran 26 April 1993 ini, kini tidak
hanya memberikan tambahan penghasilan
untuk membayar uang kuliah, namun juga
mengantarkan ia menjadi salah satu pengusaha
muda yang sukses dengan bisnis
rantasannya. (Mentari)

Bisnis Lancar, Kuliah Jalan


Berbisnis
tak
menjadikan Pio lengah dengan
perkuliahan.
Meski
sibuk
mengurus bisnis, kuliah
yang menjadi prioritas pun
tidak ia lupakan. Ia tetap
menjalankan perkuliahan
dengan baik. Dibuktikan
dengan IP terakhir yang
ia dapat mencapai angka
3,5. Mahasiswa angkatan
2011 ini mengaku tidak
ada
kendala
dalam
Foto: Dok. pribadi

@persakademika / www.persakademika.com

31

CERPEN

Semua

Berubah

na, kamu sudah


menyiapkan semuanya,
bukan? seru Ibunya dari
dapur.

Sudah, Bu.

Ana memasukan
boneka kelinci ke dalam
kardus. Itu adalah hal
terakhir yang perlu dia
sortir untuk diberikan ke
panti asuhan. Dia segera
memandang sekeliling.
Kamar yang dia tempati
selama beberapa tahun,
kini
mulai kosong.
Dua hari lagi, Ana akan
pindah menuju tempat
yang baru.

32

Buletin Pers Akademika - Edisi Desember 2014

Ilustrasi: Maya/Aka

CERPEN

Gadis itu membuka jendela
dan memandang keluar. Angin yang
sejuk segera menyambutnya. Ranting
pohon yang rindang bergemerisik
satu sama lain. Matahari yang mulai
terbenam membuat warna langit
berubah menjadi kombinasi oranye
dan ungu yang indah. Ana lalu
mengalihkan pandanganku ke jalan.
Ibu-ibu berkumpul di pekarangan
rumah, membicarakan gosip di sekitar
RT. Anak-anak berlari sambil bermain
polisi dan pencuri. Kendaraan melalui
jalan dan sesekali membunyikan
klaksonnya.

Meskipun
terlihat
biasa,
banyak hal yang telah berubah selama
dia tinggal di sini. Dulu, banyak lahan
kosong yang digunakan sebagai tempat
bermain. Lahan itu sekarang berubah
menjadi rumah atau gedung-gedung
yang baru. Jalan yang sepi dulu sering
digunakan untuk bermain lompat
tali. Tempat yang dulunya dipenuhi
rumput hijau berubah menjadi gersang
dan tandus.

Semua kenangan kecil ini
seakan tertimbun oleh bangunanbangunan tinggi. Perubahan tanpa henti
ini meninggalkan tanda tanya dipikiran
Ana. Apakah suatu saat tempat ini
menjadi asing baginya? Bahkan alasan
kepindahan keluarganya adalah hirukpikuk aktivitas yang terlalu padat
di lingkungan ini. Ana hanya bisa
menghela nafas. Perubahan adalah
sesuatu yang tidak bisa dihindari dan
dia tahu jelas tentang hal itu.

Akan tetapi, setiap orang pasti
akan dilanda rasa rindu akan masa
lalu. Mereka mengingat beberapa hal
yang membuat mereka bahagia. Entah

apa yang setiap orang pikirkan ketika


melihat sekeliling dan semuanya telah
berubah. Apa mereka sedih, kecewa,
gusar atau justru lega bahwa bagian
dari ingatan itu menghilang? Ana
tidak mengetahuinya, karena setiap
orang memiliki jawaban yang berbeda.
Dia memejamkan mata, berpikir lalu
menutup jendela.

Ana
berjalan
ke
luar
rumah, mencari udara segar untuk
sejenak. Beberapa anak kecil yang
menghampirinya. Yah, Kak Ana mau
pindah, ya?

Ana hanya tersenyum. Iya.
Nanti jangan nakal kalau kakak sudah
tidak ada.

Sip! ujar salah satu bocah
bertopi merah.

Nanti kakak datang ke sini
lagi, ya. Main bersama kami, kata
anak perempuan di samping anak
bertopi. Anak yang berkumpul di
sekitar Ana semakin lama semakin
banyak.
Mereka
menyayangkan
kepergian Ana yang sering mengajak
mereka bermain. Gadis itu tertawa
sambil mendengarkan keluh kesah
mereka masing-masing.

Malam akhirnya tiba. Anakanak telah kembali ke rumah mereka
masing-masing. Ana bergegas pulang
sambil memperhatikan sekeliling.
Jika saja tidak ada rumah baru di
sekitar lingkungan itu, mungkin
anak-anak tadi tidak akan ada
untuk menyampaikan perpisahan.
Ana mengeluarkan senyum kecil.
Perubahan tidak selamanya membawa
hal yang buruk. (MT)

@persakademika / www.persakademika.com

33

REKTOR UNIVERSITAS UDAYANA PENASEHAT PEMBANTU REKTOR III UNIVERSITAS UDAYANA


JAYA KUSUMA PIMPINAN REDAKSI ALIT PURWANINGSIH REDAKTUR PELAKSANA RERE . NILA . DARMA
GUNAWAN . HARTINA . YUNI . WIRAT . ARY SANDY . ALIT . SUI . SANTIA . DARMA
BHASKARA . DWIJAYANTHI . JAYA . ELOK . MENTARI . ARY PUSPITA . MITA
TIM LAYOUT SANGGA . BAGUS TIM ILUSTRASI ULUL . MAYA . SANGGA

PELINDUNG
KETUA UNIT/PIMPINAN UMUM

PERS MAHASISWA AKADEMIKA UNIVERSITAS UDAYANA


SK REKTOR UNUD 499/SK/PT/07/OM/LA/83.
GEDUNG STUDENT CENTER LANTAI 2, JALAN DR. R. GORIS, DENPASAR - BALI.
EMAIL PERS_AKADEMIKA@YAHOO.COM

DITERBITKAN OLEH
IZIN TERBIT
ALAMAT SEKRETARIAT

Ilustrasi: Ulul/Aka

Redaksi menerima kiriman artikel, opini, masukkan, kritik, saran atau tanggapan tentang
kehidupan civitas akademika Universitas Udayana.
Tulisan bisa dialamatkan langsung ke Sekretariat Pers Mahasiswa Akademika
Jl. Dr. R. Goris No. 7A, Denpasar
Email: pers_akademika@yahoo.com.
Redaksi berhak menyunting isi tulisan sepanjang tidak menyimpang esensi tulisan.
www.persakademika.com
Twitter/Instagram@persakademika

Beri Nilai