Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu kelompok umur yang sering luput dari pertimbanganpertimbangan khusus dalam pemakaian obat adalah kelompok usia lanjut.
Hal ini dapat dimengerti mengingat usia lanjut secara fisiologis umumnya
dianggap sama dengan kelompok umur dewasa. Namun sebenarnya, pada
periode tertentu telah terjadi berbagai penurunan fungsi berbagai organ
tubuh. Penurunan fungsi bisa disebabkan karena proses menua, maupun
perubahan-perubahan lain yang secara fisik kadang tidak terdeteksi. Terdapat
perbedaan pendapat mengenai batasan usia lanjut, namun pada umumnya
para peneliti mengambil batas 65 tahun. Yang perlu mendapat perhatian
adalah, bahwa ternyata pada pasien usia lanjut, umumnya dijumpai lebih dari
satu jenis penyakit, satu atau lebih di antaranya bersifat kronis, sementara
penyakit lain yang akut, jika tidak ditangani dengan baik dapat memperburuk
kondisi penderita. Populasi kelompok usia lanjut sangat bervariasi di bebagai
negara, namun umumnya kurang dari 15% jumlah total
penduduk. Penduduk Indonesia dengan usia di atas 65 tahun hanya
merupakan sebagian kecil dari populasi penduduk di Indonesia, yaitu 4,3 %
(Economist, 1998), tetapi jumlahnya terus meningkat dan mereka merupakan
pengguna obat yang paling utama. Timbulnya penyakit yang menetap, seperti
arthritis, penyakit kardiovaskular, penyakit Parkinson, dan diabetes, akan
Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

meningkat dengan bertambahnya usia. Penyakit penyakit tersebut biasanya


ditangani dengan penggunaan terapi obat. Oleh karena itu, pasien lanjut usia
memerlukan lebih banyak obat, terutama bagi mereka yang menderita
bermacam-macam

penyakit

yang

menetap.

Perubahan

dalam

penatalaksanaan obat seringkali terjadi akibat faktor-faktor farmakokinetik


dan farmakodinamik yang terkait dengan bertambahnya usia.
Banyaknya obat yang diresepkan untuk pasien lanjut usia akan
menimbulkan banyak masalah termasuk polifarmasi, peresepan yang tidak
tepat dan juga kepatuhan.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

BAB II
TEORI UMUM

II.1

Perubahan-Perubahan Pada Usia Lanjut Yang Berkaitan Dengan


Pemakaian Obat
Sejumlah perubahan akan terjadi dengan bertambahnya usia,

termasuk anatomi, fisiologi, psikologi, juga sosiologi. Perubahan fisiologi yang


terkait lanjut usia akan memberikan efek serius pada banyak proses yang
terlibat dalam penatalaksanaan obat. Efek pada saluran pencernaan, hati,
dan ginjal.
Tabel 1. Perubahan fisiologi yang terkait usia pada saluran pencernaan, hati
dan ginjal.
Reduksi sekresi asam lambung
Penurunan motilitas gastrointestinal
Reduksi luas permukaan total absorpsi
Reduksi aliran darah jaringan (splanchnic)
Reduksi ukuran hati
Reduksi aliran darah hati
Reduksi filtrasi glomerulus
Reduksi filtrasi tubuler ginjal
II.1.1 Farmakokinetik
Obat harus berada pada tempat kerjanya dengan konsentrasi yang
tepat untuk mencapai efek terapeutik yang diharapkan. Perubahan-

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

perubahan farmakokinetik pada pasien lanjut usia memiliki peranan penting


dalam bioavailabilitas obat tersebut.
1.

Absorpsi
Penundaan pengosongan lambung, reduksi sekresi asam lambung

dan aliran darah jaringan (splanchnic), semuanya secara teoritis berpengaruh


pada absorpsi. Tetapi pada kenyataannya, perubahan-perubahan yang terkait
dengan usia ini tidak berpengaruh secara bermakna terhadap bioavailabilitas
total obat yang terabsorpsi. Beberapa pengecualian termasuk digoksin
maupun obat dan substansi lain dengan mekanisme aktif yang absorpsinya
berkurang, contohnya adalah tiamin, kalsium, besi, dan beberapa jenis gula.
2.

Distribusi
Faktor-faktor yang menentukan distribusi obat termasuk komposisi

tubuh, ikatan plasma-protein dan aliran darah organ. Semuanya akan


mengalami perubahan dengan bertambahnya usia, akibatnya konsentrasi
obat akan berbeda pada pasien lanjut usia jika dibandingkan dengan pasien
yang lebih muda pada pemberian dosis obat yang sama.

Komposisi Tubuh
Total air dalam tubuh dan massa tubuh tanpa lemak (lean body mass)
mengalami

penurunan

dengan

bertambahnya

usia

sehingga

menyebabkan penurunan volume distribusi obat yang larut air. Akibatnya,


konsentrasi obat tersebut dalam plasma akan meningkat, sebagai
contohnya adalah digoksin dan simetidin.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

Ikatan Plasma Protein


Jumlah albumin plasma berkurang dengan bertambahnya usia. Obatobat yang bersifat asam (contoh : simetidin, furosemide, warfarin)
berikatan dengan protein tersebut, jadi konsentrasi obat-obat tersebut
dalam keadaan bebas akan meningkat pada pasien lanjut usia. Jumlah
asam alpha 1-glikoprotein plasma (dimana obat-obat basa, seperti
lidokain, terikat) tidak berubah atau meningkat sampai jumlah yang tidak

bermakna secara klinis.


Aliran Darah Organ
Perubahan aliran darah organ akan mengakibatkan penurunan perfusi
pada anggota gerak, hati, mesentrium, otot jantung, dan otak. Perfusi
menurun sampai dengan 45 % pada pasien lanjut usia jika dibandingkan
dengan pasien usia 25 tahun. Bukti klinis tidak menunjukkan secara jelas
tentang adanya perubahan dalam distribusi obat, tetapi secara teoritis
setidaknya

penurunan

kecepatan

distribusi

ke

jaringan

harus

diperhatikan.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

3.

Eliminasi
Metabolisme hati dan ekskresi ginjal adalah mekanisme penting yang

terlibat dalam pemindahan obat dari tempat kerjanya. Efek dosis obat tunggal
akan diperpanjang dan konsentrasi keadaan jenuh (steady state) akan
meningkat jika kedua proses tersebut menurun.
Metabolisme Hati
Setelah diabsorpsi, obat-obat yang diberikan secara oral akan melewati
sirkulasi portal ke hati. Substansi yang larut lemak akan termetabolisme
secara

ekstensif

di

sini

sehingga

mengakibatkan

penurunan

bioavailabilitas sistemik. Oleh karena itu, adanya penurunan metabolisme


disini (metabolisme lintas pertama- first pass metabolisme) akan
meningkatkan bioavailabilitas sistemik obat. Pada pasien lanjut usia
tampak adanya gangguan metabolisme lintas pertama untuk beberapa
macam

obat,

termasuk

klormetiazol,

labetolol,

nifedipin,

nitrat,

propranolol, dan verapamil.


Terdapat reduksi massa hati sebanyak 35 % mulai usia 30 sampai
dengan 90 tahun, sehingga menurunkan kapasitas metabolisme intrinsik
hati pada pasien lanjut usia. Keadaan tersebut bersama-sama dengan
penurunan

aliran

darah

hati,

menjadi

penyebab

utama

dalam

peningkatan bioavailabilitas obat yang mengalami metabolisme lintas


pertama. Sebagai contoh adalah efek hipotensif dari nifedipin yang
meningkat secara bermakna pada pasien lanjut usia.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

Faktor utama lain yang berpengaruh pada metabolisem obat oleh ahti
terkait dengan perubahan enzimatik yang muncul dengan bertambahnya
usia. Contohnya, kecepatan metabolisme oleh sistem sitokrom P 450 dapat
menurun sampai dengan 40 % jika dibandingkan dengan dewasa muda.
Pada obat-obat dengan indeks terapeutik sempit, perubahan seperti ini

dapat bermakna secara klinis.


Eliminasi Ginjal
Penurunan aliran darah ginjal, ukuran organ, filtrasi glomerular dan fungsi
tubuler, semuanya merupakan perubahan yang terjadi dengan tingkat
yang berbeda pada lanjut usia. Kecepatan filtrasi glomerular menurun
sekitar 1 % per tahun dimulai pada usia 40 tahun. Perubahan-perubahan
tersebut mengakibatkan beberapa obat dieliminasi lebih lambat pada
lanjut usia, seperti pengaruhnya pada fungsi ginjal. Beberapa bukti
menunjukkan bahwa konsentrasi obat dalam jaringan meningkat
sebanyak 50% sebagai akibat perubahan-perubahan tersebut.
Pada prakteknya, fungsi ginjal sangat bervariasi pada lanjut usia. Oleh

karena itu, dosis obat-obatan yang diekskresi secara primer oleh ginjal harus
disesuaikan untuk masing-masing individu. Obat-obatan dengan indeks
terapeutik sempit harus diberikan dengan pengurangan dosis.
II.2
Farmakodinamik
Perubahan-perubahan farmakodinamik pada pasien lanjut usia dapat
merubah respons terhadap obat. Penurunan dalam kemampuan menjaga
keseimbangan homeostatik, perubahan pada reseptor-reseptor spesifik dan
tempat sasaran akan dipertimbangkan.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

a. Penurunan kemampuan dalam menjaga keseimbangan homeostatik


Kemampuan pengaturan yang memadai dan tepat mengenai keadaan
fisiologi tubuh sangat diperlukan dalam homeostatis. Endokrin, transmisi
neuromuskuler dan respons organ, semuanya akan menurun dengan
bertambahnya usia, yang berakibat pada ketidakmampuan untuk menjaga
keseimbangan homeostatik. Sistem yang biasanya mengalami gangguan
termasuk :
Pengaturan temperatur
Hipotermia yang tidak diharapkan dapat terjadi pada pasien lanjut usia
yang mendapat beberapa macam obat. Yang terlibat adalah obat yang
menyebabkan

sedasi,

gangguan

kepekaan

subyektif

terhadap

temperatur, penurunan mobilitas maupun aktivitas otot dan vasodilatasi.


Obat yang dimaksudkan adalah termasuk benzodiazepine, opioid,

alkohol, dan antidepresan trisiklik.


Fungsi usus dan kandung kemih
Konstipasi sering muncul pada lanjut usia sebagai akibat penurunan
motilitas gastrointestinal. Obat-obat antikolinergik, opiate, antihistamin,
dan antidepresan trisiklik dapat memperburuk masalah tersebut. Obatobat antikolinergik juga dapat menyebabkan retensi urin pada pria lanjut
usia, terutama dengan hipertrofi prostat. Ketidakstabilan kandung kemih
juga sering terjadi, terutama pada wanita lanjut usia dengan disfungsi
uretra. Diuretika kuat (loop diuretic) dapat mengakibatkan tercirit

(incontinence) pada pasien-pasien tersebut.


Pengaturan tekanan darah

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

Pada pasien lanjut usia terdapat penumpulan refleks takikardia yang


normal terlihat pada pasien dewasa muda ketika berdiri. Oleh karena itu,
hipotensi postural merupakan masalah yang sering terjadi pada lanjut
usia. Hal ini mengakibatkan obat-obat dengan efek antihipertensi

cenderung memperparah masalah ini.


Keseimbangan cairan/elektrolit
Pada lanjut usia terjadi penurunan kemampuan untuk mengekskresikan
kelebihan air. Obat-obat yang dapat mengakibatkan retensi cairan,
seperti kortikosteroid dan anti inflamasi non steroid (AINS), dapat

menyebabkan masalah bagi pasien lanjut usia.


Fungsi kognitif
Sistem saraf pusat mengalami sejumlah perubahan struktur dan kimiawi
saraf (neurochemical) dengan bertambahnya usia. Aktivitas enzim kholin
asetiltransferase menurun pada lanjut usia dan hal ini mengindikasikan
penurunan transmisi kolinergik. Transmisi ini sangat berkaitan dengan
fungsi kognitif normal. Obat-obat seperti antikolinergik, hipnotik, dan
penghambat reseptor beta dapat memperburuk efek tersebut sehingga

menimbulkan kebingungan pada pasien lanjut usia.


b. Perubahan pada reseptor-reseptor spesifik dan tempat sasaran
Sebagian besar obat akan memberikan efek setelah berikatan dengan
reseptor yang spesifik. Perubahan densitas reseptor atau afinitas molekul
obat pada reseptor akan merubah responsnya terhadap obat. Gangguan
aktivasi enzim atau perubahan respons jaringan sasaran itu sendiri juga
dapat menyebabkan perubahan respons terhadap obat.
Adrenoseptor alfa

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

Responsivitas adrenoseptor alfa-1 tidak mengalami perubahan pada


lanjut usia, sebaliknya terjadi penurunan responsivitas pada adrenoseptor

alfa-2.
Adrenoseptor beta
Fungsi adrenoseptor beta menurun dengan bertambahnya usia. Oleh
karena itu, terapi beta bloker pada lanjut usia dapat menjadi kurang

efektif, kemungkinan akibatnya adalah penurunan efek antihipertensi.


Benzodiazepin
Pasien lanjut usia lebih sensitif terhadap efek sedasi obat golongan
benzodiazepine jika dibandingkan dengan pasien yang lebih muda.
Penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan

jumlah

atau

afinitas

tempat

ikatan

benzodiazepine.

Mekanisme efek ini tidaklah diketahui.


II.2

Peresepan Yang Tidak Tepat dan Polifarmasi


Diperkirakan bahwa setidaknya 25% obat yang diresepkan untuk

pasien lanjut usia tidak efektif atau tidak diperlukan. Seringkali dijumpai obat
sekunder yang kemungkinan diresepkan untuk mengatasi efek samping obat
yang lain. Beberapa masalah yang seringkali dijumpai pada evaluasi
pengobatan pasien lanjut usia antara lain :

Ketidaksesuaian dalam jumlah yang diresepkan


Item yang sebenarnya sudah tidak diperlukan
Petunjuk yang tidak memuaskan
Frekuensi, interval atau kekuatan dosis yang tidak tepat
Duplikasi dalam terapi
Interaksi obat reseptor

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

10

Polifarmasi merupakan problem utama dalam kelompok pasien ini.


Semakin banyak jumlah obat yang diterima pasien maka semakin besar pula
resiko efek samping obta, interaksi obat-obat, dan interaksi obat-penyakit.
Resiko rendahnya tingkat kepatuhan pasien juga meningkat.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

11

Tabel 2. Daftar obat dapat menimbulkan masalah pada pasien lanjut usia
Kelompok Obat
Antidepresan trisiklik
Antipsikotik
Opioid
Digoksin
Penghambat ACE
Warfarin
Levodopa
Benzodiazepin aksi panjang
AINS
Sulfonilurea aksi panjang
Beta bloker
Kortikosteroid
Anti muskarinik
Beberapa sefalosporin
Diuretika tiazid
II.3

Alasan
Meningkatnya
Resiko
Bermasalah
Menyebabkan gangguan kognitif
Peningkatan distribusi ke jaringan adipose
Reduksi metabolisme
Menyebabkan gangguan kognitif
Reduksi metabolisme
Menyebabkan gangguan kognitif
Reduksi ekskresi
Reduksi ekskresi
Peningkatan sensivitas
Reduksi sensitivitas
Reduksi metabolisme
Peningkatan toksisitas terhadap lambung
Reduksi eliminasi
Reduksi khasiat
Reduksi ekskresi ginjal
Gangguan kognitif
Peningkatan toksisitas terhadap lambung
Peningkatan sensitivitas
Reduksi ekskresi ginjal
Tidak efektif pada gangguan ginjal

EFEK SAMPING OBAT PADA USIA LANJUT


Berbagai studi menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara

jumlah obat yang diminum dengan kejadian efek samping obat. Artinya,
makin banyak jenis obat yang diresepkan pada individu-individu usia lanjut,
makin

tinggi

pula

kemungkinan

terjadinya

efek

samping.

Secara

epidemiologis, 1 dari 10 orang (10%) akan mengalami efek samping setelah


pemberian 1 jenis obat. Resiko ini meningkat mencapai 100% jika jumlah
obat yang diberikan mencapai 10 jenis atau lebih. Secara umum angka

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

12

kejadian efek samping obat pada usia lanjut mencapai 2 kali lipat kelompok
usia dewasa. Obat-obat yang sering menimbulkan efek samping pada usia
lanjut antara lain analgetika, antihipertensi, antiparkinsion, antipsikotik, sedatif
dan obat-obat gastrointestinal. Sedangkan efek samping yang paling banyak
dialami antara lain hipotensi postural, ataksia, kebingungan, retensi urin, dan
konstipasi. Tingginya angka kejadian efek samping obat ini nampaknya
berkaitan erat dengan kesalahan peresepan oleh dokter maupun kesalahan
pemakaian oleh pasien.
1.
Kesalahan peresepan
Kesalahan peresepan sering kali terjadi akibat dokter kurang
memahami adanya perubahan farmakokinetika/farmakodinamika karena usia
lanjut. Sebagai contoh adalah simetidin yang acap kali diberikan pada
kelompok usia ini, ternyata memberi dampak efek samping yang cukup
sering (misalnya halusinasi dan reaksi psikotik), jika diberikan sebagai obat
tunggal. Obat ini juga menghambat metabolisme berbagai obat seperti
warfarin, fenitoin dan beta blocker. Sehingga pada pemberian bersama
simetidin tanpa lebih dulu melakukan penetapan dosis yang sesuai, akan
menimbulkan efek toksik yang kadang fatal karena meningkatnya kadar obat
dalam darah secara mendadak.
2.
Kesalahan pasien
Secara konsisten, kelompok usia lanjut banyak mengkonsumsi obatobat yang dijual bebas/tanpa resep (OTC). Pemakaian obat-obat OTC pada
penderita usia lanjut bukannya tidak memberi resiko, mengingat kandungan
zat-zat aktif dalam satu obat OTC kadang-kadang belum jelas efek
Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

13

farmakologiknya atau malah bersifat membahayakan. Sebagai contoh adalah


beberapa antihistamin yang mempunyai efek sedasi, yang jika diberikan pada
pasien dengan gangguan fungsi kognitif akan memberi efek samping yang
serius. Demikian pula obat-obat dengan kandungan zat yang mempunyai
aksi antimuskarinik akan menyebabkan retensi urin (pada penderita laki-laki)
atau glaukoma, yang penanganannya akan jauh lebih sulit dibanding
penyakitnya semula.
3.
Ketidak-jelasan informasi pengobatan
Pasien-pasien usia lanjut sering pula menjadi korban dari tidak
jelasnya informasi pengobatan dan beragamnya obat yang diberikan oleh
dokter. Keadaan ini banyak dialami oleh penderita-penderita penyakit yang
bersifat hilang timbul (sering kambuh). Kesalahan umumnya berupa salah
minum obat (karena banyaknya jenis obat yang diresepkan pada suatu saat),
atau berupa ketidaksesuaian dosis dan cara pemakaian seperti yang
dianjurkan. Kelompok usia ini tidak jarang pula memanfaatkan obat-obat
yang kadaluwarsa secara tidak sengaja, karena ketidaktahuan ataupun
ketidakjelasan informasi.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

14

II.4

Obat-Obat Yang Sering Diresepkan Pada Usia Lanjut Dan

Pertimbangan Pemakaian
1.
Obat-obat sistem saraf pusat
Sedativa-hipnotika:
Mengingat sering diresepkannya

obat-obat

golongan

sedativa-

hipnotika pada pasien usia lanjut, maka efek samping obat golongan ini yang
diketahui maupun tidak diketahui oleh pasien relatif lebih sering terjadi.
Pasien merasa tidak enak badan setelah bangun tidur (dapat terjadi
sepanjang hari), sempoyongan, kekakuan dalam bicara dan kebingungan
beberapa waktu sesudah minum obat. Sebagai contoh, waktu paruh
beberapa obat golongan benzodiazepin dan barbiturat meningkat sampai 1,5
kali. Namun lorazepam dan oksazepam mungkin kurang begitu terpengaruh
oleh perubahan ini. Efek samping yang perlu diamati pada penggunaan obat
sedativa-hipnotika antara lain adalah ataksia.
Analgetika:
Dengan menurunnya fungsi respirasi karena bertambahnya umur,
maka

kepekaan

terhadap

efek respirasi

obat-obat

golongan

opioid

(analgetika-narkotik) juga meningkat. Jika tidak sangat terpaksa dan indikasi


pemakaian tidak terpenuhi, maka pemberian analgetika-narkotik pada usia
lanjutnya hendaknya dihindari.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

15

Antidepresansia
Obat-obat golongan

antidepresan

trisiklik

yang

cukup

banyak

diresepkan ternyata sering menimbulkan efek samping pada usia lanjut, yang
antara lain berupa mulut kering, retensi urin, konstipasi, hipotensi postural,
kekaburan pandangan, kebingungan, dan aritmia jantung. Jika terpaksa
diberikan, maka sebaiknya dimulai dari dosis terendah, misalnya imipramin
10 mg pada malam hari. Selain itu diperlukan pula pemantauan yang terus
menerus untuk mencegah kemungkinan efek samping tersebut.
2.
Obat-obat kardiovaskuler
Antihipertensi
Pengobatan hipertensi pada usia lanjut sering menjadi masalah, tidak
saja dalam hal pemilihan obat, penentuan dosis dan lamanya pemberian,
tetapi juga menyangkut keterlibatan pasien secara terus menerus dalam
proses terapi. Hal ini karena pengobatannya umumnya jangka panjang. Jika
terapi non-obat dirasa masih memungkinkan, pembatasan masukan garam,
latihan (exercise), dan penurunan berat badan, serta pencegahan terhadap
faktor-faktor risiko hipertensi (misalnya merokok dan hiperkholesterolemia)
perlu dianjurkan bagi pasien dengan hipertensi ringan. Namun jika yang
dipilih adalah alternatif pengobatan, maka hendaknya dipertimbangkan pula
hal-hal berikut:
- Penyakit lain yang diderita (associated illness)
- Obat-obat yang diberikan bersamaan (concurrent therapy)
- Biaya obat (medication cost), dan
- Ketaatan pasien (patient compliance).

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

16

Pilihan pertama yang dianjurkan adalah diuretika dengan dosis yang


sekecil mungkin. Efek samping hipokalemia dapat diatasi dengan pemberian
suplemen kalium atau pemberian diuretika potassium-sparing seperti
triamteren dan amilorida. Kemungkinan terjadinya hipotensi postural dan
dehidrasi hendaknya selalu diamati. Jika diuretika ternyata kurang efektif,
pilihan selanjutnya adalah obat-obat antagonis beta-adrenoseptor (=beta
bloker). Untuk penderita angina atau aritmia, beta blocker cukup bermanfaat
sebagai obat tunggal, tetapi jangan diberikan pada pasien dengan kegagalan
ginjal kongestif, bronkhospasmus, dan penyakit vaskuler perifer. Pengobatan
dengan beta-1-selektif yang mempunyai waktu paruh pendek seperti
metoprolol 50 mg 1-2x sehari juga cukup efektif bagi pasien yang tidak
mempunyai kontraindikasi terhadap pemakaian beta-blocker. Dosis awal dan
rumat hendaknya ditetapkan secara hati -hati atas dasar respons pasien
secara individual.
Vasodilator perifer
Vasodilator perifer seperti prazosin, hidralazin, verapamil dan nifedipin
juga ditoleransi dengan baik pada usia lanjut, meskipun pengamatan yang
seksama terhadap kemungkinan terjadinya

hipotensi ortostatik perlu

dilakukan. Meskipun beberapa peneliti akhir-akhir ini menganjurkan kalsium


antagonis, seperti verapamil dan diltiazem untuk usia lanjut sebagai obat lini
pertama. Tetapi mengingat harganya relatif mahal dengan frekuensi
pemberian yang lebih sering, maka dikhawatirkan akan menurunkan ketaatan
pasien.
Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

17

Obat-obat antiaritmia:
Pengobatan antiaritmia pada usia lanjut akhir-akhir ini semakin sering
dilakukan mengingat makin tingginya angka kejadian penyakit jantung
koroner pada kelompok ini. Namun demikian obat-obat seperti disopiramida
sangat tidak dianjurkan, mengingat efek antikholinergiknya yang antara lain
berupa takhikardi, mulut kering, retensi urin, konstipasi, dan kebingungan.
Pemberian kuinidin dan prokainamid hendaknya mempertimbangkan dosis
dan frekuensi

pemberian,

karena terjadinya

penurunan

klirens dan

pemanjangan waktu paruh.


Glikosida jantung:
Digoksin merupakan obat yang diberikan pada penderita usia lanjut
dengan kegagalan jantung atau aritmia jantung. Intoksikasi digoksin tidak
jarang dijumpai pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, khususnya
jika kepada pasien yang

bersangkutan juga diberi diuretika. Gejala

intoksikasi digoksin sangat beragam mulai anoreksia, kekaburan penglihatan,


dan psikosis hingga gangguan irama jantung yang serius. Meskipun digoksin
dapat memperbaiki kontraktilitas jantung dan memberi efek inotropik yang
menguntungkan, tetapi kemanfaatannya untuk kegagalan jantung kronis
tanpa disertai fibrilasi atrial masih diragukan. Oleh sebab itu, mengingat
kemungkinan kecilnya manfaat klinik untuk usia lanjut dan efek samping
digoksin sangat sering terjadi, maka pilihan alternatif terapi lainnya perlu
dipetimbangkan lebih dahulu. Diuretika dan vasodilator perifer sebetulnya
cukup efektif sebagian besar penderita.
3.
Antibiotika
Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

18

Prinsip-prinsip dasar pemakaian antibiotika pada usia lanjut tidak


berbeda dengan kelompok usia lainnya. Yang perlu diwaspadai adalah
pemakaian antibiotika golongan aminoglikosida dan laktam, yang ekskresi
utamanya melalui ginjal. Penurunan fungsi ginjal karena usia lanjut akan
mempengaruhi eliminasi antibiotika tersebut, di mana waktu paruh obat
menjadi lebih panjang (waktu paruh gentasimin, kanamisin, dan netilmisin
dapat meningkat sampai dua kali lipat) dan memberi efek toksik pada ginjal
(nefrotoksik), maupun organ lain (misalnya ototoksisitas).
4.
Obat-obat antiinflamasi
Obat-obat golongan antiinflamasi relatif lebih banyak diresepkan pada
usia lanjut, terutama untuk keluhan-keluhan nyeri sendi (osteoaritris).
Berbagai studi menunjukkan bahwa obat-obat antiinflamasi non-steroid
(AINS), seperti misalnya indometasin dan fenilbutazon, akan mengalami
perpanjangan waktu paruh jika diberikan pada usia lanjut, karena
menurunnya kemampuan metabolisme hepatal. Karena meningkatnya
kemungkinan terjadinya efek samping gastrointestinal seperti nausea, diare,
nyeri abdominal dan perdarahan lambung (20% pemakai AINS usia lanjut
mengalami efek samping tersebut), maka pemakaian obat-obat golongan ini
hendaknya dengan pertimbangan yang seksama. Efek samping dapat
dicegah misalnya dengan memberikan antasida secara bersamaan, tetapi
perlu diingat bahwa antasida justru dapat mengurangi kemampuan absorpsi
AINS.
5.
Laksansia

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

19

Pada

usia

gastrointestinal,

lanjut

yang

umumnya

biasanya

akan

terjadi

dikeluhkan

penurunan

dalam

bentuk

motilitas

konstipasi.

Pemberian obat-obat laksansia jangka panjang sangat tidak dianjurkan,


karena di samping menimbulkan habituasi juga akan memperlemah motilitas
usus. Pemberian obat-obat ini hendaknya disertai anjuran agar melakukan
diet tinggi serat dan meningkatkan masukan cairan serta jika mungkin
dengan latihan fisik (olah raga).
II.5

Prinsip Pengobatan Pada Usia Lanjut


Secara singkat, pemakaian/pemberian

obat

pada

usia

lanjut

hendaknya mempertimbangkan hal-hal berikut:


a. Riwayat pemakaian obat
Informasi mengenai pemakaian obat sebelumnya perlu ditanyakan,
mengingat sebelum datang ke dokter umumnya penderita sudah
melakukan upaya pengobatan sendiri.
Informasi ini diperlukan juga untuk

mengetahui

apakah

keluhan/penyakitnya ada kaitan dengan pemakaian obat (efek


samping), serta ada kaitannya dengan pemakaian obat yang memberi
interaksi.
b. Obat diberikan atas indikasi yang ketat, untuk diagnosis yang dibuat .
Sebagai contoh, sangat tidak dianjurkan memberikan simetidin pada
kecurigaan diagnosis ke arah dispepsia.
c. Mulai dengan dosis terkecil. Penyesuaian dosis secara individual perlu
dilakukan

untuk

menghindari

kemungkinan

intoksikasi,

karena

penanganan terhadap akibat intoksikasi obat akan jauh lebih sulit.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

20

d. Hanya resepkan obat yang sekiranya

menjamin ketaatan pasien,

memberi resiko yang terkecil, dan sejauh mungkin jangan diberikan lebih
dari 2 jenis obat. Jika terpaksa memberikan lebih dari 1 macam obat,
pertimbangkan cara pemberian yang bisa dilakukan pada saat yang
bersamaan.

Penggunaan Obat Pada Lanjut Usia (Kelompok V/B)

21