Anda di halaman 1dari 10

PORTOFOLIO

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

Presentan
Dr. Dwi Putri Arlina

Pendamping
Dr. Christiawaty

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


RSUD EMBUNG FATIMAH
2014
Borang Portofolio

No. ID dan Nama Peserta :

dr. Dwi Putri Arlina

No. ID dan Nama Peserta:

RSUD Embung Fatimah

Topik :

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

Tanggal Kasus :

5-11-2014

Nama Pasien :

Ny. Sri M

Tanggal Presentasi :

Nomor RM :

12123

Pendamping :

dr. Christiawaty

Tempat Presentasi :
Objektif Presentasi :
Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Neon Bayi

Anak

Re

De

Lansia

Bu

atus
Deskripsi :

maja
wasa
mil
Pasien wanita 42 tahun, datang diantar keluarga dengan pusing berputar sejak 1

Tujuan :

hari sebelum masuk rumah sakit.


Mengidentifikasi penyebab, perjalanan penyakit, gejala, diagnosis dan tata

Bahan

laksana dari Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)


Tinjauan
Riset
Kasus
Audit

Bahasan :
Cara

Pustaka
Diskusi Presentasi dan Diskusi

Email

Nama :

No. Reg:

Pos

Membahas :
Data

Ny. Sri M

Pasien
Nama Klinik : RSUD Embung Fatimah

Telp : (0778) 364119

12123
Terdaftar sejak :

Data Utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
- Pasien pusing berputar sejak 1 hari, pusing timbul mendadak dan terasa hilang timbul,
serangan dapat terjadi beberapa detik sampai beberapa menit, pusing terasa apabila
membuka mata dan ada perubahan posisi kepala.
Mual dan muntah sudah lebih dari 3x.
Pendengaran terasa menurun dan berdenging saat serangan.
Badan terasa lemas
2. Riwayat Pengobatan : sudah pernah berobat sebelumnya
-

3. Riwayat Kesehatan/Penyakit : pasien sudah pernah mengalami gejala seperti ini

sebelumnya.
4. Riwayat keluarga : tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit saat ini
5. Riwayat Pekerjaan : ibu rumah tangga

6. Riwayat Lingkungan Sosial dan Fisik : Lain-lain:


Status Generalisata :
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tensi

: 110/70 mmHg

Nadi

: 86 x/mnt

Nafas

: 20 x/mnt

Suhu

: 36,6 0C

Berat Badan

: 58kg

Status Lokalis untuk dugaan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding :


Kulit

: Teraba hangat, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis.

Kepala

: Bentuk simetris, rambut hitam tidak mudah dicabut

Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokhor, diameter pupil 3
mm, refleks cahaya +/+, mata cekung -/-

Hidung

: Nafas cuping hidung (-)

Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

Dada

:
Paru

: normochest, simetris kiri kanan, retraksi dinding dada tidak ada

Pa

: fremitus kiri = kanan

Pe

: sonor

: napas vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

Jantung I

Abdomen

: Iktus tidak terlihat

Pa

: Iktus teraba 2 jari medial ICS V

Pe

: batas jantung dalam batas normal

: Bunyi jantung reg, irama teratur, bising tidak ada

: Tidak membuncit

: Bising Usus (+) Normal

Pa

: Supel, nyeri tekan (-)

Pe

: Timpani

Ekstremitas

: Akral hangat, refilling kapiler baik ( CRT ) <2 / <2

Diagnosis Kerja

: Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

Pemeriksaan Penunjang :
Hb

: 12.8 gr/dl

Leukosit

: 10.300 /mm3

Ht

: 35 %

Trombosit

: 267.000/mm3

GDS

: 105 gr/dl

Daftar Pustaka :
1. Bashiruddin J, vertigo posisi paroksisimal jinak. dalam : Soepardi EA, Iskandar N
editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi
keenam. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI.2007. hal 104-109
2. Li J, Benign paroxysmal positioning vertigo. Diakses dari : www.emedicine.com.
Pada tanggal 3 Desember 2014.
3. Lumbantobing SM. Vertigo Tujuh Keliling. Edisi pertama. Jakarta:Balai Penerbit
FK-UI.1996
4. Riyanto B. Vertigo: Aspek Neurologi Jakarta: Cermin dunia Kedokteran
no.144.2004. hal 41-46

5. Anderson JH, Levine SC, sistem vestibulari. Dalam: Adams GL, Boies LR, Higler
PA, editor. Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi keenam. Jakarta: EGC.1997.Hal 3944
6. Hain, Timothy C. Benign Paroxismal Positioning Vertigo. Diakses dari :
www.entgr.com/bppv.htm. pada tanggal 3 Desember 2014
7. Nurimaba N, Patofisiologi. Dalam : PERDOSSI editor. Vertigo Patofisiologi,
Diagnosis, dan Terapi. Jakarta:Jansen Pharmaceutica.1999 Hal 29-31
Hasil Pembelajaran :
1.
2.
3.
4.

Diagnosis Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)


Identifikasi etiologi dari Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV).
Mekanisme perjalanan penyakit Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) .
Penanganan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) di Rumah Sakit.

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


Subjektif :
-

Pasien pusing berputar sejak 1 hari, pusing timbul mendadak dan terasa hilang timbul,
serangan dapat terjadi beberapa detik sampai beberapa menit, pusing terasa apabila

membuka mata dan ada perubahan posisi kepala.


- Mual dan muntah sudah lebih dari 3x.
- Pendengaran terasa menurun dan berdenging saat serangan.
- Badan terasa lemas
Objektif :
Status Generalisata :
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran

: Compos Mentis

Tensi

: 110/70 mmHg

Nadi

: 86 x/mnt

Nafas

: 20 x/mnt

Suhu

: 36.6 0C

Kulit

: Teraba hangat, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis.

Kepala

: Bentuk simetris, rambut hitam tidak mudah dicabut

Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera ikterik, pupil isokhor, diameter pupil 3

mm, refleks cahaya +/+, mata cekung -/Mulut

: Mukosa mulut dan bibir tidak tampak kering

Dada

:
Paru

: normochest, simetris kiri kanan, retraksi dinding dada tidak ada

Pa : fremitus kiri = kanan


Pe : sonor
A : napas vesikuler, Rh -/-, Wh -/Jantung

Abdomen

: Iktus tidak terlihat

Pa

: Iktus teraba 2 jari medial ICS V

Pe

: batas jantung dalam batas normal

: Bunyi jantung reg, irama teratur, bising tidak ada


: tidak membuncit

: Bising Usus (+) normal

Pa

: supel, turgor kulit baik, nyeri tekan (-)

Pe

: timpani

Ekstremitas

: akral hangat, refilling kapiler baik ( CRT ) <2 / <2

Assesment :
A. Definisi
Vertigo berasal dari bahasa latin vertere yang artinya memutar-merujuk pada
sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya
disebabkan gangguan sistim keseimbangan.
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) didefinisikan sebagai vertigo dengan
nistagmus vertikal, horizontal atau rotatoar yang dicetuskan oleh perubahan posisi kepaia.

Terdapat masa laten sebelum timbulnya nistagmus, reversibilitas, kresendo, dan fenomena
kelelahan (fatigue). Lama nistagmus terbatas, umumnya kurang dari 30 detik. BPPV
dikenal juga dengan nama vertigo postural atau kupulolitiasis, merupakan gangguan
keseimbangan perifer yang sering dijumpai.
B. Etiologi
Pada sekitar 50% kasus, penyebabnya tidak diketahui (idiopatik). Beberapa kasus
BPPV dijumpai setelah mengalami jejas atau trauma kepala atau leher, infeksi telinga tengah
atau operasi stapedektomi dan proses degenerasi pada telinga dalam juga merupakan
penyebab BPPV sehingga insiden BPPV meningkat dengan bertambahnya usia. Banyak
BPPV yang timbul spontan, disebabkan oleh kelainan di otokonial berupa deposit yang
berada di kupula bejana semisirkularis posterior. Deposit ini menyebabkan bejana menjadi
sensitif terhadap perubahan gravitasi yang menyertai keadaan posisi kepala yang berubah.
C. Manifestasi Klinis
BPPV terjadi secara tiba-tiba. Kebanyakan pasien menyadari saat bangun tidur, ketika
berubah posisi dari berbaring menjadi duduk. Pasien merasakan pusing berputar yang lama
kelamaan berkurang dan hilang. Terdapat jeda waktu antara perubahan posisi kepala dengan
timbulnya perasaan pusing berputar. Pada umumnya perasaan pusing berputar timbul sangat
kuat pada awalnya dan menghilang setelah 30 detik sedangkan serangan berulang sifatnya
menjadi lebih ringan. Gejala ini dirasakan berhari-hari hingga berbulan-bulan.
Pada banyak kasus, BPPV dapat mereda sendiri namun berulang di kemudian hari.
Bersamaan dengan perasaan pusing berputar, pasien dapat mengalami mual dan muntah.
Sensasi ini dapat timbul lagi bila kepala dikembalikan ke posisi semula, namun arah
nistagmus yang timbul adalah sebaliknya.
D. Patofisiologi
Pada telinga dalam terdapat 3 kanalis semisirkularis. Ketiga kanalis semisirkularis
tersebut terletak pada bidang yang saling tegak lurus satu sama lain. Pada pangkal setiap
kanalis semisirkularis terdapat bagian yang melebar yakni ampula. Di dalam ampula terdapat
kupula, yakni alat untuk mendeteksi gerakan cairan dalam kanalis semisirkularis akibat
gerakan kepala. Sebagai contoh, bila seseorang menolehkan kepalanya ke arah kanan, maka
cairan dalam kanalis semisirkularis kanan akan tertinggal sehingga kupula akan mengalami
defleksi ke arah ampula. Defleksi ini diterjemahkan dalam sinyal yang diteruskan ke otak
sehingga timbul sensasi kepala menoleh ke kanan. Adanya partikel atau debris dalam kanalis
semisirkularis akan mengurangi atau bahkan menimbulkan defleksi kupula ke arah
sebaliknya dari arah gerakan kepala yang sebenarnya. Hal ini menimbulkan sinyal yang tidak

sesuai dengan arah gerakan kepala, sehingga timbul sensasi berupa vertigo.
E. Komplikasi
1. Cedera Fisik
2. Kelemahan Otot
F. Pemeriksaan Fisik
Diagnosis BPPV pada kanalis posterior dan anterior dapat ditegakkan dengan cara
memprovokasi dan mengamati respon nistagmus yang abnormal dan respon vertigo dari
kanalis semisirkularis yang terlibat. Pemeriksaan dapat memilih perasat Dix-Hallpike atau
Sidelying. Pada pasien BPPV parasat Dix-Hallpike akan mencetuskan vertigo (perasaan
pusing berputar) dan nistagmus.
1. Pemeriksaan perasat Dix-Hallpike
Merupakan pemeriksaan klinis standar untuk pasien BPPV. Pasien duduk tegak pada meja
pemeriksaan dengan kepala menoleh 450 ke kanan atau kiri. Dengan cepat pasien
dibaringkan dengan kepala tetap miring 450 ke kanan atau kiri sampai kepala pasien
menggantung 20-300 pada ujung meja pemeriksaan, tunggu 40 detik sampai respon
abnormal timbul. Penilaian respon pada monitor dilakukan selama 1 menit atau sampai
respon menghilang. Setelah tindakan pemeriksaan ini dapat langsung dilanjutkan dengan
canalith repositioning treatment (CRT). Bila tidak ditemukan respon yang abnormal atau bila
perasat tersebut tidak diikuti dengan CRT, pasien secara perlahan-lahan didudukkan kembali.
2. Perasat Sidelying
Pasien duduk pada meja pemeriksaan dengan kaki menggantung di tepi meja , kepala
ditegakkan ke sisi kanan, tunggu 40 detik sampai timbul respon abnormal. Pasien kembali ke
posisi duduk untuk untuk dilakukan perasat sidelying kiri, pasien secara cepat dijatuhkan ke
sisi kiri dengan kepala ditolehkan 450 ke kanan. Tunggu 40 detik sampai timbul respon
abnormal.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan elektronistagmografi (ENG) tidak dapat memperlihatkan nistagmus jenis
rotatoar yang dapat ditemukan pada penderita BPPV. ENG berguna dalam deteksi adanya
nistagmus dan waktu timbulnya pada nistagmus jenis lain. Tes kalori akan menunjukkan
hasil yang normal. BPPV dapat dijumpai pada telinga yang tidak menunjukkan adanya
respon terhadap tes kalori. Hal ini disebabkan tes kalori menguji kanalis semisirkularis
(KSS) horizontal. KSS Horizontal dan posterior memiliki persarafan dan suplai pembuluh
darah yang berbeda. Dengan demikian BPPV yang timbul pada pasien yang tidak
memberikan respon pada tes kalori disebabkan oleh kanalit pada KSS posterior atau

anterior.
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan BPPV meliputi observasi, obat-obatan untuk menekan fungsi vestibuler
(vestibulosuppressan), reposisi kanalit dan pembedahan. Dasar pemilihan tata laksana
berupa observasi adalah karena BPPV dapat mengalami resolusi sendiri dalam waktu
mingguan atau bulanan. Oleh karena itu sebagian ahli hanya menyarankan observasi. Obatobatan penekan fungsi vestibuler pada umumnya tidak menghilangkan vertigo, tetapi dapat
mengurangi timbulnya nistagmus akibat ketidakseimbangan sistem vestibuler. Pemberian
obat-obat ini dapat menimbulkan efek samping berupa rasa mengantuk. Obat-obat yang
diberikan diantaranya diazepam dan amitriptilin. Betahistin sering digunakan dalam terapi
vertigo. Betahistin adalah golongan antihistamin yang diduga meningkatkan sirkulasi darah
ditelinga dalam dan mempengaruhi fungsi vestibuler melalui reseptor H3.

Tiga macam perasat dilakukan umtuk menanggulangi BPPV adalah


a. CRT (Canalith repositioning Treatment )
Prosedur CRT merupakan prosedur sederhana dan tidak invasif. Dengan terapi ini
diharapkan BPPV dapat disembuhkan setelah pasien menjalani 1-2 sesi terapi.
CRT sebaiknya dilakukan setelah perasat

Dix-Hallpike menimbulkan respon

abnormal
b. Perasat liberatory, dibuat untuk memindahkan otolit ( debris/kotoran) dari kanal
semisirkularis.
c. Latihan Brandt Daroff merupakan latihan yang dilakukan di rumah oleh pasien
sendiri tanpa bantuan terapis. Pasien melakukan gerakan-gerakan posisi duduk
dengan kepala menoleh, lalu badan dibaringkan ke sisi yang berlawanan. Posisi
ini dipertahankan selama 30 detik. Selanjutnya pasien kembali ke posisi duduk 30
detik. Setelah itu pasien menolehkan kepalanya ke sisi yang lain, lalu badan
dibaringkan ke sisi yang berlawanan selama 30 detik. Latihan ini dilakukan
secara rutin 10-20 kali. 3 seri dalam sehari.
Tindakan bedah hanya dilakukan bila prosedur reposisi kanalit gagal dilakukan. Terapi ini
bukan terapi utama karena terdapat risiko besar terjadinya komplikasi berupa gangguan
pendengaran dan kerusakan nervus fasialis. Tindakan yang dapat dilakukan berupa oklusi
kanalis

semisirkularis

posterior,

aminoglikosida transtimpanik.

pemotongan

nervus

vestibuler

dan

pemberian

Plan :
Diagnosis : Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Pengobatan :
-

Saat di Rumah Sakit :


IVFD 2A + piracetam 1gr per 8 jam
Primperan 1 x 1
Betahistine 1 x 1
Flunarizine 1 x 5 mg
Neurobion 1 x 1

Pendidikan :
-

Memberikan edukasi pasien mengenai faktor penyebab vertigo dan penatalaksanaan


awal yang tepat.

Konsultasi
Konsultasi dilakukan dengan spesialis THT untuk penatalaksanaan selanjutnya.
Rujukan
Saat ini pasien belum perlu dirujuk.