Anda di halaman 1dari 33

HANDOUT MANAJEMEN KOPERASI JILID 2

BAB 4. SIAPA YANG MENJALANKAN MANAJEMEN DI KOPERASI


Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian
pasal 21 menyatakan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri dari: rapat anggota,
pengurus dan pengawas.

Tiga serangkai inilah yang menjalankan mekanisme dan

proses manajemen di koperasi secara berkesinambungan yang oleh banyak

pakar

manajemen koperasi disebut sebagai manajemen tripartit.

PE

AN
GG
OT
A

Bagan: Manajemen Tripartit

AS

RA
PA
T

AW
NG

PENGURUS
4.1.

Rapat Anggota
Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di koperasi. Dalam rapat

anggota, para anggota koperasi se cara demokratis dan bertanggung jawab bebas untuk
berbicara, memberikan usul, pandangan dan tanggapan serta saran demi kemajuan
koperasi.
Keputusan rapat anggota diambil berda sarkan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara musyawarah, maka pengambilan keputusan
dapat dilakukan dengan pemungutan suara berdasarkan suara terbanyak.

Dalam hal

dilakukan pemungutan suara, setiap anggota mempunyai hak satu suara. Sedangkan hak
suara

pada

koperasi

sekunder

dapat

diatur

dalam

anggaran

dasar

dengan

mempertimbangkan jumlah anggota dan jasa usaha koperasi-koperasi anggotanya secara


berimbang, artinya menentukan hak suara dalam koperasi sekunder (yang anggotanya badan
hukum koperasi) berbeda dengan koperasi primer (yang anggotanya adalah orang).
Penentuan hak suara dalam koperasi sekunder dilakukan sebanding dengan jumlah anggota
setiap koperasi dan besar kecilnya jasa usaha anggota koperasi terhadap koperasi
sekundernya.
Ketidak hadiran anggota koperasi di dalam rapat anggota tidak dapat diwakilkan atau
dikuasakan kepada orang lain. Jadi pemungutan suara hanya dilakukan oleh anggota yang
hadir.
Menurut ketentuan yang berlaku, rapat anggota koperasi dapat menetapkan:
1. anggaran dasar koperasi,

2. kebijakan umum di bidang organisasi, manajemen, dan usaha koperasi,


3. pemilihan, pengangkatan, pemberhentian pengurus dan pengawas,
4. rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi serta
pengesahan laporan keuangan,
5. pengesahan pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan tugasnya,
6. pembagian sisa hasil usaha,
7. penggabungan, peleburan, pembagian dan pembubaran koperasi.
Rapat anggota berhak meminta keterangan dan pertanggungjawaban pengurus dan
pengawas mengenai pengelolaan koperasi. Rapat anggota di koperasi paling sedikit harus
dilakukan satu kali dalam satu tahun, sehingga orang sering menyebutnya sebagai rapat
anggota tahunan (RAT).

Apabila keadaan mengharuskan adanya keputusan segera demi

kepentingan bersama koperasi, maka dapat dilakukan rapat anggota luar biasa (RALB).
Alasan utama permintaan dilakukannya RALB

adalah apabila anggota menilai bahwa

pengurus telah melakukan kegiatan yang bertentangan dengan kepentingan koperasi dan
menimbulkan kerugian terhadap koperasi. Jika, permintaan tersebut telah dilakukan sesuai
dengan ketentuan anggaran dasar koperasi, maka pengurus harus memenuhinya. Disamping
atas permintaan anggota, RALB juga dapat diselenggarakan atas permintaan pengurus.
RALB ata permintaan pengurus biasanya dilakukan untuk kepentingan pengembangan
koperasi dan atau pada saat koperasi mengalami kebekuan.
Anggota koperasi yang belum memenuhi syarat keanggotaan (misalnya belum
melunasi simpanan pokok) boleh hadir dalam rapat anggota, tetapi hanya sebagai
pendengar saja, belum memiliki hak suara. Tidak diperkenankan ikut ambil bagian dalam
pengambilan keputusan rapat anggota.
Dalam praktek, pejabat pemerintah terutama yang ada kaitannya dengan pembinaan
koperasi biasanya turut diundang dalam raopat anggota koperasi dan diberi kesempatan
untuk berbicara untuk memberikan bimbingan dan pembinaan bagi kepentingan kemajuan
koperasi.
Penyelenggaraan rapat anggota menjadi tugas dari pengurus.

Apabila pengurus

tidak sanggup mengadakan rapat anggota karena sudah tidak aktif lagi, maka pejabat
pemerintah yang membidangi koperasi

berhak mengundang

seluruh anggota dan

pengurusnya untuk menyelenggarakan rapat anggota. Setelah memenuhi kuorum (biasanya


ditetapkan dalam anggaran dasar koperasi dan tatatertib rapat anggota), pengurus atau
salah satu anggota yang ditunjuk bertindak sebagai pemimpin rapat anggota tersebut.
Keputusan yang dihasilkan dalam rapat anggota ini mengikat keseluruh anggota koperasi,
baik yang hadir maupun yang tidak hadir.
Kegiatan dalam rapat anggota harus dicatat oleh sekretaris dan dibuatkan suatu notulen
rapat. Notulen rapat anggota umumnya memuat:
1. daftar hadir,
2. tanggal dan tempat rapat dilakukan,
3. acara rapat,
4. inti pembicaraan rapat,
5. keputusan dan atau kesimpulan yang diambil oleh rapat anggota.

Notulen rapat tersebut ditandatangani oleh ketua pengurus atau pimpinan sidang dan
sekretaris.
4.2.1. Pengurus
Pengurus koperasi

merupakan perangkat organisasi yang menjalankan fungsi

eksekutif atau pelaksana dari keputusan rapat anggota baik dibidang organisasi maupun
usaha koperasi. Pengurus dipilih dari dan oleh anggota dalam rapat anggota untuk masa
jabatan paling klama 5 (lima) tahun. Anggota pengurus yang telah habis masa jabatannya
dapat dipilih kembali.
Peryaratan untuk dapat dipilih dan diangkat menjadi pengurus koperasi ditetapkan secara
lebih rinci dalam anggaran dasar koperasi yang bersangkutan. Untuk mengangkat pengurus
sebuah koperasi perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
1. mempunyai sifat jujur dan terampil dalam bekerja,
2. Mampu dan cakap untuk mengambil keputusan bagi kepentingan organisasi,
3. Mampu bekerja sama dengan anggota pengurus yang lain sebagai sebuah tim kerja
dan mendukung keputusan yang diambil dengan musyawarah untuk mufakat.
4. Tidak memberikan keistimewaan khusus bagi diri sendiri, saudara atau kawankawannya,
5. Memiliki pikiran yang maju agar dapat membantu mengembangkan koperasi,
6. Mempunyai pengetahuan dan pengalaman dan tentang organisasi koperasi,
7. Memiliki jiwa kepemimpinan, keahlian manajerial, dan kewirausahaan yang
mampu mendayagunakan sumber daya koperasi secara optimal untuk kepentingan
anggota.
Mengenai tugas dan wewenang pengurus dijelaskan secara rinci dalam UU N0 25
tahun 1992 tentang perkoperasian pasal 30 ayat 1 dan 2 sebagai berikut:
1. Mengelola koperasi dan usahanya,
2. Mengajukan

ranacangan

rencana

kerja

serta

rancangan

rencana

anggaran

pendapatan dan belanja koperasi,


3. Menyelenggarakan rapat anggota,
4. Mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas,
5. Memelihara daftar buku anggota dan pengurus.
Dalam penjelasan pasal 30 ayat 1 ditegaskan bahwa dalam pengelolaan koperasi,
pengurus selaku kuasa dari rapat anggota melakukan kegiatan semata-mata untuk
kepentingan dan kemanfaatan koperasi beserta anggotanya sesuai dengan keputusan rapat
anggota.
Selanjutnya dalam pasal 30 ayat 2 dijelaskan dengan rinci wewenang pengurus koperasi,
yaitu:
1. Mewakili koperasi di dalam dan di luar pengadilan,
2. Memutuskan penerimaan dan penolakan anggota baru serta memberhentikan
anggota sesuai dengan ketentuan dalam anggaran dasar,
3. Melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan kemanfaatan koperasi yang dapat
dipertanggungjawabkan dalam rapat anggota.

Untuk mewujudkan profesionalisme dalam pengelolaan usaha koperasi, pengurus


dapat mengangkat pengelola (manajer) yang diberi wewenang dan kuasa oleh pengurus
untuk mengelola usaha.

Pengangkatan

manajer oleh pengurus harus mendapat

persetujuan dari rapat anggota. Pengangkatan manajer dimaksudkan agar pengurus tidak
lagi melaksanakan sendiri wewenang dan kuasa rapat anggota khususnya di bidang usaha
koperasi, tetapi pengurus lebih fokus pada wewenang dan kuasa untuk menjalankan
organisasi dan dalam hal ini fungsi pengurus lebih mendekati kepaada fungsi seperti dewan
komisaris pada perseroan terbatas yaitu mengawasi pelaksanaan kebijakan rapat anggota
dalam mengelola usaha yang telah dilimpahklan kepada manajer.

Dalam praktek

manajemen koperasi di lapangan ditemukan bahwa besarnya wewenang dan kuasa yang
dilimpahkan kepada manajer ditentukan sesuai dengan kepentingan koperasi.
Hubungan kerja antara pengurus dengan manajer tunduk pada ketentuan hukum
perikatan (kontrak)

yang berlaku secara umum.

Dengabn demikian manajer koperasi

bertabggung jawab sepenuhnya kepada pengurus.


Hal lainnya, seperti mengenai susunan formasi dan jumlah anggota dalam susunan
kepengurusan koperasi dapat diatur

lebih rinci dalam anggaran dasar koperasi yang

bersangkutan. Pada kopoerasi primer yang baru berdiri dan atau jumlah keanggotaan dan
usahanya masih terbatas, susunan kepengurusan koperasi biasanya cukup dengan 3 orang
yaitu ketua, sekretaris dan bendahara. Tetapi pada koperasi besar susunan kepengurusan
biasanya lebih dari 3 orang yaitu 4 sampai 5 orang sesuai demgam kebutuhan organisasi.
Sesuai dengan ketentuan pasal 5 Undang-Undang No 25 tahun 1992 yang masih ada
kaitannya dengan tugas pengurus menetapkan bahwa setelah tahun buku koperasi ditutup,
maka paling lambat 1 (satu) bulan sebelum diselenggarakannya rapat anggota tshunsn,
pengurus harus menyusun laporan tahunan yang memuat sekurang-kurangnya:
a.

perhitungan tahunan yang terdiri atas neraca akhir tahun buku yng baru lampau
dan perhitungnan hasil usaha dari thun yang bersangkutan serta penjelasan atas
dokumen tersebut,

b.

keadaan dan usaha koperasi serta hasil usaha yang dapat dicapai.

Laporann tahunan yang disusun oleh pengurus harus ditanda tangani oleh seluruh
anggota pengurus.

Bila salah satu anggota pengurus tidak menanda tangani laporan

tahunan tersebut, anggota yang bersangkutan harus menjelaskan alasannya secara tertulis.
Persetujuan terhadap laporan tahunan, termasuk mengesahan perhitungannya, merupakan
penerimaan pertangungjawaban pengurus oleh anggota dalam rapat anggota, berarti pula
membebaskan pengurus dari tanggungjawabnya pada tahun buku yang bersangkutan
4.3.

Manajer.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, manajer koperasi adalah bukan merupakan

perangkat organisasi koperasi melainkan orang yang diangkat oleh pengurus dengan sistim
kontraktual dan harus mendapatkan persetujuan dari rapat anggota. Istilah manajer untuk
koperasi mulai diperkenalkan pada koperasi Indonesia pada akhir tahun 1970-an. Meskipun
sesungguhnya sebelum tahun tersebut, banyak koperasi yang dalam bidang administrasi
perkantorannya diserahkan kepada seorang manajer, yang lebih dikenal dengan istilah

administratur.

Dilihat dari tugas dan fungsinya, seorang administratur adalah seorang

manajer, tetapi kegiatannya lebih condong kepada bidang administrasi dan masalahmasalah perkantoran.

Istilah manajer koperasi yang berkembang di era tahun 1980-an,

lebih dikaitkan pada kegiatan teknis usaha.


Koperasi pada dasarnya memerlukan manajer untuk menjalankan kegiatan usaha.
Peranan manajer dikaitkan dengan volume usaha, modal, kerja dan fasilitas yang diatur
oleh pengurus.

Besar kecilnya volume usaha koperasi sering dijadikan batasan atau

pendekatan perlu tidaknya pengurus koperasi mengangkat seorang manajer. Bagi koperasi
kecil yang masih sederhana penguruslah yang bertindak sebagai manajer. Sedangkan untuk
koperasi besar dengan jumlah anggota banyak, cakupan wilayah dan usaha yang luas
seringkali membutuhkan banyak manajer. Jadi perlu tidaknya koperasi memiliki manajer
biasanya dikaitkan dengan volume dan kompleksitas bisnis koperasi.
Tipe-tipe Manajer Koperasi (Hannel, berdasarkan kategori-kategori) :
1) Manajer yang hanya diperbolehkan melaksanakan kegiatannya menurut ketentuan
terinci yang dilaksanakan oleh Pengurus Koperasi yang dalam hal ini, bertanggung
jawab penuh atas kegiatan perusahaan Koperasi.
2) Manajer yang diberi tugas dan diperbolehkan melaksanakan beberapa kegiatan
perusahaan Koperasi atas tanggung jawab sendiri, walaupun bidang usaha yang berada
dalam jangkauan keputusannya mungkin dibatasi oleh peraturan-peraturan intern dan
kadangkala, untuk beberapa hal tertentu, oleh petunjuk-petunjuk terinci dari
Pengurus.
3) Manajer yang diserahi tugas untuk mengembangkan perusahaan koperasi atas
tanggung-jawabnya sendiri, sebagaimana berlaku pada manajer-manajer perusahaan
lainnya. Para manajer ini, dalam batas-batas yang cukup luas, mengambil keputusan
secara otonom mengenai tujuan-tujuan usaha Koperasi yang ingin dicapai,
melaksanakan kebijakan-kebijakan bisnis yang diperlukan melalui pengarahan dan
koordinasi kegiatan di kalangan karyawan koperasi, dan bertanggung jawab atas
pengelolaan
perusahaan
koperas...Manajer
sebagai
Pengusaha
Koperasi
(Wirakoperasi).
Pertumbuhan Koperasi ditentukan oleh orang-orang (Anggota dan Pengelola) serta
lingkungan

Pengelola yang memahami koperasi dan


amanah dalam bekerja,
memiliki
karakteristik tertentu yang tidak dimiliki
individu
atau disebut
WIRAKOPERASI

Keunikan Koperasi terletak pada adanya


Dua
Kelembagaan Anggota dan Perusahaan Koperasi

Kelembagaan

artinya
lainnya
yaitu

Wirakoperasi
Orang-orang atau kelompok (entitiy) yang memahami, menciptakan, mengasuh, dan
melaksanakan program Koperasi.
ATAU
Orang individu atau kelompok yang meyakini tujuan koperasi dan bekerja serta
berupaya keras mencapai tujuan koperasi tersebut dengan berpegang pada prinsipprinsip koperasi.

Jenis Wirakoperasi

WIRAKOPERASI

Dari Dalam

Anggota

Manajer

Dari Luar

Birokrat

Fasilitator

Kewirakoperasian
Memadukan antara Manajerial Ability dengan Community Organization Skills,
artinya adanya keterpaduan dalam kemampuan mengelola dengan kemampuan
komunitas organisasi Koperasi.
Kewirakoperasian dalam prosesnya menciptakan kekayaan (value added) sehingga
wajar memperoleh imbalan jasa atau insentif.
Meskipun pengurus mengangkat manajer, pengurus koperasi tetap memiliki
tanggung jawab penuh dan harus memahami keinginan anggota dan merumuskannya dalam
bentuk kebijakan yang penjabarannya secara lebih
manajer.

rinci/teknis diserahkan kepada

Pada kondisi ini manajer harus memiliki kecakapan menggunakan dan

memanfaatkan sumber daya yang tersedia di koperasi yang berada dibawah wewenangnya.
Manajer dapat diklasifikasikan menurut tingkatannya dalam organisasi berdasarkan ruang
linkup kegiatan, wewenang dan tanggung jawab manaerial yang diembannya. Klasifikasi
yang dimaksud, dibedakan menjadi:
1. Manajemen Puncak
Manajemen puncak bertanggung jawab langsung kepada pengurus. Ia bertanggung
jawab atas manajemen usaha koperasi secara menyeluruh. Dalam perusahaan
swasta yang besar manajemen puncak ini biasanya disebut sebagai kelompok chief
executive officer (CEO).
2. Manajemen Menengah
Manajer menegah ini mempunyai

fungsi memberikan pengarahan-pengarahan

kepada bawahan atau karyawan-karyawan operasional.


mempunyai

tugas

menetapkan

kebijakan-kebijakan

Jika manajer puncak


usaha

koperasi,

maka

manajemen mengah lebih kepada menjalankan kebijakan operasional. Di koperasi,


kelompok manajer menengah ini biasanya disebut sebagai kepala unit.
3. Manajer Lini Pertama?bawahan
Manajer lini pertama atau bawah ini bertnggungjawab untuk mengerjakan
operasional bersama-sama dengan para karyawan bawahannya. Dalam perusahaan
manajer lini pertama ini disebut sebagai mandor. Sedangkan di koperasi mungkin
ditemukan istilah kepala sub unit.
Dalam beberapa hal, pengurus koperasi sering didudukkan sebagai manajemen
puncak atau CEO koperasi, sementara manajer didudukkan pada posisi manajemen
menengah sedangkan kepala unit berada pada posisi manajemen lini bawah.

Dalam

disiplin ilmu manajemen penempatan atau klasifikasi manajer seperti pada koperasi tidak
menjadi masalah, sebab klasifikasi manajemen puncak, menengah dan bawah yang
dimaksud lebih difokuskan pada kewenangan manajerial sesorang atau kelompok orang
dalam penggunaan sumber daya dan pengambilan keputusan.
Tugas dan kewajiban seorang manajer koperasi meliputi:
1. Memimpin kegiatan usaha yang telah digariskan oleh pengurus,
2. Mengangkat dan memberhentikan karyawan koperasi atas kuasa dan atau
persetujuan dari pengurus,
3. Membantu pengurus untuk mengidentifikasi kebutuhan anggota koperai (terutama
kebutuhan yang belum dapat direalisasikan oleh koperasi),
4. Membantu pengurus dalam menyusun rencana koperasi baik rencabna sttrategis
(jangka panjang) maupun rencana operasional (jangka pendek),
5. Membantu pengurus menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanjua
koperasi,
6. Melaporkan secara teratur kepada pengurus

tentang pelaksanaan tugas yang

diberikan dan bila perlu memberikan saran perbaikan guna meningkatkan usaha
koperasi,
7. Membantu pengurus dalam merancang program pendidikan anggota dan karyawan
koperasi sesuai dengan kebutuhan organisasi
8. Mempertanggungjawabkan mengenai pelaksanaan tugas kepada pengurus koperasi.
Dengan memperhatikan ruang lingkup pekerjaan manajer seperti yang telah
diuraikan di atas, seorang manajer koperasi yang baik dan profesional harus memiliki
kualifikasi minimal sebagai berikut:
1. Harus cakap dan memiliki kemampuan teknis guna memecahkan

masalah dan

mengembangkan potensi sumber daya koperasi secara spesifik (contohnya manajer


koperasi peternakan sapi perah harus memahami masalah teknis tentang
peternakan),
2. Memiliki

kemampuan

manajerial

dibidang

perencanaan,

pengorganisasian,

pengarahan dan pengendalian penggunaan sumber daya koperasi,


3. Memiliki kemampuan d bidang manajemen perusahaan koperasi (manajemen
personalia, manajemn produksi/opersi, pemasaran dan manajemen keuangan),

4. Memiliki

kemampuan wirausaha, kreatif, ulet,

berani

menanggung

resiko,

kemampuan mencari peluang, pengembangan jaringan, percaya diri dan tanggung


jawab,
5. Mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat,
6. Mampu berkomunikasi, negosiasi dan bekerjasama denagn orang lain,
7. Mampu menjadi seorang mediator yang baik untuk menjembatani kepentingan
pengurus, karyawan, anggota,dan pihak eksternal lainnya,
8. Mampu

memadukan

dan

mengakomodasikan

perbedaan

pandangan

dari

bawahannya.
4.4.

Pengawas
Pengawas

adalah perangkat organisasi koperasi

yang memiliki fungsi supervisi,

pengawasan dan pengendalian di koperasi. Pengawas dipilih dari dan oleh anggota dalam
rapat anggota. Persyaratan untuk dapat dipilih untuk menjadi pengawas ditetapkan dalam
anggaran dasar koperasi yang bersangkutan.
Apabila seorang anggota koperasi telah dipilih dan diangkat sebagai pengawas koperasi
maka anggota tersebut tidak dapat merangkap sebagai pengurus koperasi. Peran pengawas
di koperasi adalah sebagai berikut:
1.

Memberikan masukan dan saran perbaikan kepada pengurus koperasi berdasarkan


temuan dari hasil pengawasannya,

2.

Mencegah terjadinya pemborosan penggunaan sumber daya koperasi oleh pihak


pengurus, manajer dan karyawan dalam rangka meningkatkan efisiensi organisasi
koperasi,

3.

Melakukan penilaian hasil kerja pengurus dibandingkan dengan rencana yang telah
ditetapkan,

4.

Menjaga tertib administrasi secara menyeluruh.

Menurut ketentuan Undang-Undang No. 25 tahun 1992 pasal 39 ayat 1 ditegaskan bahwa
tugas pengawas di koperasi adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan
koperasi sesuai dengan yang ditetapkan dalam rapat anggota,
2. Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya,
Sedangkan wewenang pengawas sebagaimana tertuang dalam pasal 39 ayat 2 adalah:
1. meneliti dokumen dan catatan yang ada di koperasi,
2. mendapatkan segala keterangan yang diperlukan,
3. merahasiakan hasil pengawasannya kepada pihak ke tiga.
Dalam rangka meningkatkan efisiensi, pengelolaan yang bersifat terbuka dan
melindungi pihak yang berkepentingan, koperasi dapat meminta jasa audit pada akuntan
publik (khusus untuk koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam (KSP/USP) baik pola
konvensional maupun pola syariah yang mempunyai volume pelayanan pembiayaan sama
atau lebih besar dari 1 milyar rupiah per tahun menurut ketentuan yang ada wajib diaudit
oleh akuntan publik). Dengan ketentuan ini, pengurus dapat meminta jasa audit kepada
akuntan publik dan tidak menutup kemungkinan

permintaan tersebut dilakukan oleh

pengawas yang kesemuanya dapat diputuskan dalam rapat anggota. Yang dimaksud dengan
jasa audit adalah audit terhadap laporan keuangan dan audit lainnya sesuai keperluan
koperasi. Disamping itu, koperasi dapat meminta jasa lainnya dari akuntan publik antara
lain konsultasi dan pelatihan yang berkaitan dengan pengelolaan dan akuntansi keuangan
koperasi.
Jika seorang akuntan publik diminta jasanya untuk mengaudit laporan keuangan
koperasi, maka dalam laporan akhir pemeriksaannya, akuntan publik tersebut akan
memberikan pendapatnya. Kemungkinan pendapat yang diberikan oleh akuntan publik (1)
wajar tanpa syarat (unqualified opinion), yang menunjukkan bahwa neraca tahunan untuk
tahun buku tersebut adalah layak dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi Indonesia,
kemungkinan (2) tidak memuat pernyataan pendapatnya atau memuat pernyataan, tetapi
bersyarat, hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembukuan yang dilakukan pengurus
tidak dikerjakan dengan baik sesuai dengan prinsip-prinsip pembukuan yang ada.
Isi laporan pengawas paling tidak harus memuat/menyangkut hal-hal berikut:
1. Perkembangan usaha selama satu tahun dan dibandingkan dengan kondisi tahun
buku yang lalu, dilengkapi dengan penjelasan sebab kemajuan atau kemunduran
dari koperasi,
2. Perkembangan keuangan, simpanan anggota, maupun pinjaman-pinjaman yang
telah dilakukan,
3. Perkembangan harta kekayaan perusahaan koperasi,
4. Uraian tentang pelaksanaan keputusan-kepetusan rapat anggota beserta alasannya,
terutama jika ada keputusan yang belum dapat dilaksanakan oleh pengurus,
5. Perkembangan hubungan kerja antara pengurus, manajer dan karyawan,
6. Hasil pemeriksaan fisik (stock opname) tentang keuangan, dan inventaris koperasi,
7. Kesimpulan pemeriksaan dan saran untu kemajuan koperasi.
Apabila laporan yang dibuat pengawas kepada rapat anggota tidak dapat diterima
oleh pengurus koperasi, maka untu menyelesaikannya
mempengaruhi opini anggota pengawas.

pengurus tidak diperkenankan

Pengurus berhak dan wajib memberikan

keterangannya secara tersendiri kepada rapat anggota dan tembusannya diberikan kepada
pengawas. Jika ternyata tidak ada titik temu antara pendapat pengawas dan pendapat
pengurus, maka putusan akhir diserahkan kepada rapat anggota. Rapat anggota ini yang
nantinya menilai dan memberi keputusan. Dalam kondisi demikian, pandangan dan saran
dari pejabat koperasi selaku pembinan.
Hubungan Kerja Pengurus, Pengawas dan Manajer
Untuk menunjukkan pemisahan yang tegas antara pengurus, pengawas dan manajer
koperasi, maka koperasi dalam hal ini diprakarsai oleh pengurus dapat membuat pedoman
kerja yang disepakati bersama. Pedoman kerja dimaksud meliputi:
1. Pengurus adalah

badan wakil anggota

sebagai pelaksana koperasi yang

bertanggung jawab kepada rapat anggota. Pada koperasi di negara-negara barat


pengurus koperasi dinamakan board of director (BOD).

2. Pengawas adalah badan pengawas yang memiliki tugas mengawasi pelaksanaan


kebijakan koperasi yang telah diputuskan rapat anggota oleh pengurus. Sebutan
pengawas pada koperasi-koperasi di negara barat adalah board of supervisor (BOS).
3. Manajer adalah orang yang diberi wewenang oleh pengurus untuk mengelola usaha
dan bertanggungjawab kepada pengurus.
Hubungan kerja antara pengurus dengan pengawas adalah hubungan konsultatif
secara timbal balik.

Hubungan pengawas dengan manajer sifatnya adalah koordinatif,

sehingga pengawas tidak diperkenankan secara langsung memeriksa tugas-tugas manajer


dan karyawan bawahannya, kecuali dengan persetujuan pengurus. Hai ini penting untuk
menghindari adanya dua badan yang mengurus dan memimpin organisasi, serta untuk
memperjelas pemahaman antara pelaksana dan pengawas.
BAB 5. FUNGSI-FUNGSI BISNIS KOPERASI
MANAJEMEN PRODUKSI/OPERASI
Produksi sering diartikan sebagai aktivitas yang ditujukan untuk meningkatkan nilai
masukan (input) menjadi keluaran (output). Dengan demikian maka kegiatan usaha jasa
seperti dijumpai pada perusahaan angkutan, asuransi, bank, pos, telekomunikasi, dsb
menjalankan juga kegiatan produksi.

Manajemen produksi dan operasi merupakan

manajemen dari suatu sistem informasi yang mengkonversikan masukan (inputs) menjadi
keluaran (outputs)yang berupa barang atau jasa.
Pelaksanaan fungsi produksi dan operasi memerlukan serangkaian kegiatan yang
merupakan suatu sistem. Sistem produksi mempunyai unsur-unsur yaitu masukan,
pentransformasian dan keluaran.

Produksi dan operasi merupakan suatu sistem untuk

meyediakan barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan dan akan dikombinasi oleh
anggota masyarakat. Sistem produksi dan operasi adalah suatu keterkaitan unsur-unsur yang
berbeda secara terpadu, menyatu dan menyeluruh dalam pentransformasian masukan
menjadi keluaran. Sistem produksi tidak hanya terdapat pada industri manufaktur, tetapi
juga dalam industri jasa seperti perbankan, asuransi, pasar swalayan dan rumah sakit.
Sistem produksi dan operasi dalam industri jasa menggunakan bauran yang berbeda dari
masukan yang dipergunakan dalam industri manufaktur. Sistem produksi mempunyai
masukan yang dapat berupa, bahan baku, komponen atau bagian dari produk, barang
setengah jadi, formulir-formulir, para pemesan atau langganan dari para pasien. Keluaran
dari sistem produksi dapat berupa barang jadi, barang setengah jadi, bahan-bahan kimia,
pelayanan kepada pembeli dan pasien, formulir-formulir yang telah selesai diisi dan
diproses.

10

SKEMA SISTEM PRODUKSI

Transformasi pabrikasi yaitu suatu transformasi

yang bersifat diskrit

dan

menghasilkan produk nyata. Suatu transformasi dikatakan bersifat diskrit bila antara suatu
operasi dan operasi yang lain dapat dibedakandengan jelas. Transformasi proses yaitu suatu
transformasi yang bersifat continue dimana diantara operasi yang satu dengan operasi yang
lain kurang dapat dibedakan secara nyata. Transformasi jasa yaitu suatu transformasi yang
tidak mengubah secara fisik masukan menjadi keluaran; dalam hal ini secara fisik keluaran
akan sama dengan masukan, namun transformasi jenis ini akan meningkatkan nilai
masukannya.
KARAKTERISTIK UMUM TRANSFORMASI PRODUKSI

JENIS SISTEM PRODUKSI


1) Proses produksi yang kontinue (continuous process) - dimana peralatan produksi
yang digunakan disusun dan diatur dengan memperhatikan urut-urutan kegiatan
atau routing dalam menghasilkan produk tersebut, serta arus bahan dalam proses
telah distandardisir.
2) Proses produksi yang terputus-putus (intermitten process) - dimana kegiatan
produksi dilakukan tidak standar, tetapi didasarkan produk yang dikerjakan,
sehingga peralatan produksi yang digunakan disusun dan diatur yang dapat bersifat
lebih luwes ( flexible ) untuk dapat dipergunakan bagi menghasilkan berbagai
produk dan berbagai ukuran.
3) Proses produksi yang bersifat proyek - dimana kegiatan produksi dilakukan pada
tempat dan waktu yang berbeda-beda, sehingga peralatan produksi yang digunakan

11

ditempatkan di tempat atau lokasi dimana proyek tersebut dilaksanakan dan pada
saat yang direncanakan.
PROSES PRODUKSI

Proses adalah cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber


(tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh suatu
hasil.

Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu


barang atau jasa.

Proses produksi dapat diartikan sebagai cara, metode dan teknik untuk
menciptakan

atau

menambah

kegunaan

suatu

barang

atau

jasa

dengan

menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan-bahan dan dana) yang


ada.
MANAJEMEN PRODUKSI

Dalam melakukan kegiatan produksi ada berbagai faktor yang harus dikelola yang
sering disebut sebagai faktor faktor produksi yaitu :

Material atau bahan

Mesin atau peralatan

Manusia atau karyawan

Modal atau uang

Manajemen yang akan memfungsionalisasikan keempat faktor yang lain.

Manajemen operasi berkaitan dengan pengelolaan faktor faktor produksi


sedemikian rupa sehingga keluaran (output) yang dihasilkan sesuai dengan
permintaan konsumen baik kualitas, harga maupun waktu penyampaiannya.

Manajemen produksi operasi bertanggung jawab atas dihasilkannya keluaran


(output) baik yang berupa produk maupun jasa yang sesuai dengan permintaan dan
kebutuhan konsumen dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau serta
disampaikan tepat pada waktunya.

Pengelolaan sistem produksi (manajemen produksi) akan melibatkan serangkaian


proses pengambilan keputusan operasional, keputusan keputusan taktikal bahkan
keputusan strategis.

UKURAN KINERJA SISTEM PRODUKSI

BIAYA PRODUKSI

KUALITAS PRODUK/JASA

TINGKAT PELAYANAN

5 JENIS KATEGORI KEPUTUSAN DALAM MANAJEMEN PRODUKSI ;


1) PROSES PRODUKSI
2) KAPASITAS PRODUKSI
3) PERSEDIAAN (INVENTORY)
4) TENAGA KERJA
5) KUALITAS PRODUKSI

12

MANAJEMEN PEMASARAN
PEMASARAN ADALAH : suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk
merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang
yang dapat memuaskan keinginan dan jasa baik kepada para konsumen saat ini maupun
konsumen potensial. (Intisari Pemasaran ; transaksi tukar menukar yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia).
KONSEP INTI PEMASARAN :
Kebutuhan ; keadaan merasa kekurangan
Keingingan ; bentuk kebutuhan manusia yang dibentuk oleh budaya dan kepribadian
individu
Permintaan ; keinginan yang disertai dengan daya beli.
Produk adalah segala yang bisa ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dimiliki,
digunakan atau dikonsumsi yang bisa memuaskan kebutuhan atau keinginan.
Jasa ; aktivitas atau manfaat yang ditawarkan untuk dijual yang secara esensial tidak
berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan atas apapun.
Nilai ; perbedaan antara apa yang dinikmati pelanggan, karena telah memiliki dan
menggunakan produk serta biaya yang dikeluarkan untuk memiliki produk tersebut.
Kepuasan pelanggan ; tingkatan di mana anggapan kinerja produk akan sesuai dengan
harapan seorang pembeli. Jika kinerja produk lebih rendah dari harapan, maka tidak
puas, demikian sebaliknya.
Pertukaran ; tindakan memperoleh objek yang didambakan dari seseorang dengan
menawarkan sesuatu sebagai penggantinya.
Transaksi ; perdagangan diantara 2 pihak yang setidaknya mencakup 2 barang yang
bernilai, persyaratan yang disetujui, waktu dan tempat persetujuan.
Pemasaran Relasional ; proses penciptaan pemeliharaan, dan penguatan hubungan
yang kuat dan penuh nilai pelanggan dan pemercaya lainnya.
Pasar ; kumpulan pembeli yang aktual dan potensial dari sebuah produk.
KONSEP PEMASARAN :
Sebuah filsafat bisnis yang menyatakan bahwa keputusan keinginan konsumen
adalah dasar kebenaran sosial dan ekonomi kehidupan sebuah perusahaan.
MANAJEMEN PEMASARAN
Analisis, perencanaan, implementasi dan pengendalian program yang dirancang
untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan
dengan pembeli sasaran demin mencapai tujuan organisasi.

13

SISTEM PEMASARAN
KEKUATAN LINGKUNGAN MAKRO
Kependudukan
Kondisi ekonomi
Kekuatan sosial
Dan budaya

Pensuplai

Perantara
Pemasaran

kekuatan hukum dan


politik
teknologi
persaingan

BAURAN PEMASARAN
PERUSAHAAN (4P)
Perencanaan
Struktur harga

Sistem distribusi
Kegiatan Promosi

Perantara
Pemasaran

Pasar

SUMBERDAYA NON-PEMASARAN
DI DALAM PERUSAHAAN
Produksi
Keuangan
SDM

Lokasi
Riset & Pengembangan
Citra Perusahaan

MARKETING MIX

DEFINISI MARKETING MIX : kombinasi empat besar pembentuk inti sistem pemasaran
sebuah organisasi, yaitu penawaran produk, struktur harga, kegiatan promosi, dan
sistem distribusi.

PRODUK ; sekumpulan atribut fisik nyata (tangible) dan tidak nyata (intangible) di
dalamnya sudah tercakup warna, harga, kemasan, prestise pengecer, dan
pelayanan dari pabrik serta pengecer yang mungkin diterima oleh pembeli sebagai
sesuatu yang bisa memuaskan keinginannya.

TIGA KATEGORI PRODUK BARU : (1) produk yang benar-benar inovatif, (2) peroduk
pengganti yang benar-benar berbeda dari produk yang ada, (3) produk imitatif
merupakan produk yang baru bagi perusahaan tertentu tetapi di dalam pasar sudah
bukan produk baru lagi.

Merchandising : seluruh kegiatan pemasaran perusahaan yang dirancang untuk


mempersiapkan bermacam-macam produk untuk memenuhi permintaan pasar.

STRATEGI UTAMA BAURAN PRODUK

EKSPANSI BAURAN PRODUK ; melalui peningkatan matra kedalaman dan/atau matra


keluasan.

KONTRAKSI BAURAN PRODUK : penciutan bauran produk dengan menghapus seluruh


produk dalam satu lini produk atau hanya menyederhanakan macam produk dalam
satu lini.

PERUBAHAN PRODUK YANG ADA : manajemen meninjau ulang produk-produk


perusahaan yang ada (misal; meningkatkan produk yang sudah ada, mendesain
ulang).

14

MEMPOSISIKAN PRODUK : meletakkan posisi produk secara tepat di pasar, yaitu


merupakan citra produk di tengah-tengah produk saingan dan produk lainnya dari
perusahaan yang sama.

TRADING UP DAN TRADING DOWN : menambah produk prestise yang berharga lebih
mahal ke dalam barisan produk dengan sasaran meningkatkan penjualan produk
yang berharga murah dan sebaliknya.

PERBEDAAN PRODUK DAN SEGMENTASI PASAR : mempromosikan perbedaan yang ada


antara produk perusahaan dengan produk saingannya. Pasar heterogen perusahaan
terdiri dari perbagai segmen homogen yang kecil-kecil.

CIRI PRODUK : merk, kemasan, labeling, disain produk, warna, kualitas produk,
jaminan dan pertanggungjawaban produk.

HARGA : nilai yang disebutkan dalam rupiah dan sen atau medium moneter lainnya
sebagai alat tukar ATAU jumlah uang (kemungkinan ditambahkan beberapa barang)
yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan
pelayanan yang menyertainya.

PENETAPAN HARGA

MANFAAT : atribut sebuah item/barang yang mempunyai kemampuan untuk


memuaskan keinginan.

NILAI : ukuran kuantitatif bobot sebuah produk yang dapat dipertukarkan dengan
produk lain.

SASARAN PENETAPAN HARGA : (1) orientasi laba, (2) orientasi penjualan, (3)
orientasi status quo.

METODA DASAR PENETAPAN HARGA :


1) Penetapan harga dengan biaya-tambah (cost-plus pricing)
2) Analisis impas (BEP Analysis)
3) Harga berdasarkan pada keseimbangan antara permintaan dan suplai
4) Harga-harga yang ditetapkan atas dasar kekuatan pasar

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENETAPAN HARGA : (1) potongan dan kelonggaran, (2)
strategi penetapan harga geografis, (3) strategi harga tunggal lawan strategi harga variabel,
(4) penetapan harga unit, (5) penetapan lini harga, (6) penetapan harga psikologis, dll
DISTRIBUSI

PERANTARA (PIALANG) ; usaha bisnis yang berdiri sendiri dan beroperasi sebagai
pendukung antara produsen dan konsumen akhir atau pemakai dari kalangan
industri.

SALURAN DISTRIBUSI (CHANNEL OF DISTRIBUTION) ; jalur yang dipakai untuk


perpindahan barang dari produsen ke konsumen akhir atau pemakai dari kalangan
industri.

Perantara juga membantu menciptakan kegunaan waktu, tempat, dan kepemilikan


dari produk.

15

ECERAN ; mencakup semua kegiatan yang langsung berhubungan dengan penjualan


barang atau jasa ke konsumen akhir untuk pemakaian non bisnis.

PENGECER (RETAILER) ; usaha bisnis yang menjual barang-barang terutama ke


konsumen rumah tangga untuk digunakan secaranon bisnis.

DAGANG-BESAR (WHOLESALING) ; meliputi penjualan dan semua kegiatan yang


langsung bertalian dengan penjualan barang-barang atau jasa-jasa kepada mereka
yang membelinya dengan maksud untuk dijual kembali atau untuk digunakan dalam
usaha mereka.

TUGAS PERANTARA ;
1) Mengumpulkan atau mengkonsentrasikan aneka ragam produk dari perlbagai
produsen
2) Mengelompokkan

produk-produk

dalam

jumlah

yang

sesuai

dengan

keinginan konsumen dan kemudian memilah-milahnya menjadi barang yang


dibutuhkan konsumen
3) Menyebarkan kelompok barang ke konsumen atau pembeli dari kalangan
industri.
SALURAN UTAMA TERSEDIA BAGI PRODUSEN

PRODUSEN BARANG-BARANG KONSUMEN

AGEN

PENIAGA
DAGANG-BESAR

PENGECER

PENGECER

AGEN

PENIAGA
DAGANG-BESAR

PENGECER

PENGECER

KONSUMEN AKHIR

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PILIHAN SALURAN DISTRIBUSI


1) Pertimbangan-pertimbangan

Pasar,

antara

lain;

jumlah

pelanggan

potensial, konsentrasi geografis pasar, besarnya pesanan

16

2) Pertimbangan-pertimbangan produk, antara lain; nilai satuan, sifat cepat


rusak, sifat teknis produk.
3) Pertimbangan-pertimbangan

perantara,

antara

lain;

jasa-jasa

yang

disediakan perantara, tersedianya perantara yang dikehendaki, sikap


perantara terhadap kebijakan produsen.
4) Pertimbangan-pertimbangan perusahaan, antara lain; sumber-sumber dana
keuangan, kemampuan manajemen, keinginan hendak menguasai saluran,
jasa-jasa yang disediakan oleh penjual.

MENETAPKAN INTENSITAS DISTRIBUSI


1) Distribusi intensif; digunakan oleh produsen barang kemudahan konsumen.
2) Distribusi selektif; meliputi rentang luas intensitas distribusi
3) Distribusi ekslusif; pemasok menyetujui penjualan kepada satu orang
perantara dagang besar atau pengecer dalam sesuatu pasar tertentu.

PROGRAM PROMOSI (PROMOTIONAL MIX); kombinasi periklanan, penjualan personal,


promosi penjualan, dan cara lain promosi yang digunakan untuk mencapai tujuan program
pemasaran.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROMOTIONAL MIX


1) Dana yang tersedia
2) Sifat pasaran
3) Sifat produk
4) Tahap daur hidup produk

PERIKLANAN ; semua kegiatan yang terlibat dalam penyajian suatu pesan yang non
personal, disuarakan (oral) atau visual, dan dibiayai secara terbuka untuk suatu
produk, jasa atau ide.

PENJUALAN PERSONAL; komunikasi individual personal, dan ini berlawanan dengan


komunikasi massa non personal yang berbentuk periklanan, promosi penjualan, dan
cara-cara komunikasi lain.

PROMOSI PENJUALAN; direncanakan untuk menambah dan mengkoordinasikan


kegiatan penjualan perosonal dan periklanan.

PUBLISITAS ; usaha memacu permintaan secara non personal dan usaha ini tidak
dibiayai oleh orang atau organisasi yang memetik manfaat dari publikasi tersebut.

MANAJEMEN KEUANGAN
ARTI PENTING MANAJEMEN KEUANGAN

Setiap keputusan perusahaan selalu berimplikasi pada keuangan

Globalisasi menyebabkan kondisi ekonomi dan perubahan regulatory sehingga


semakin menambah kompleksitas dari fungsi manajemen keuangan

Manajemen keuangan makin berperan aktif dalam mengelola aktivitas keuangan di


setiap jenis bisnis (private public, besar kecil, profit seeking/non-profit)

17

Manajer

keuangan

juga

semakin

berperan

dalam

perkembangan

strategi

perusahaan dan peningkatan posisi kompetitif perusahaan.


KEUANGAN;

Merupakan seni dan ilmu dalam mengelola uang

Keuangan menekankan pada proses, lembaga keuangan, pasar, dan surat


berharga dalam transfer dana diantara individu, bisnis, dan pemerintahan.

MANAJEMEN KEUANGAN;
Proses pengelolaan keuangan perusahaan melalui upaya pencarian dana dan
pengelolaan dana secara efisien agar dapat mencapai tujuan perusahaan.

AKTIVITAS UTAMA MANAJER KEUANGAN

Membuat keputusan investasi (investment decision); menentukan kombinasi dan


jenis asset yang dapat dimiliki perusahaan.

Membuat keputusan pembiayaan (financing decision); menentukan kombinasi dan


jenis pembiayaan yang akan digunakan perusahaan.

Tujuan Perusahaan;
1) Memaksimumkan shareholders wealth (kemakmuran pemegang saham)
2) Memaksimumkan value of the firm (nilai perusahaan)

LAPORAN KEUANGAN (FINANCIAL STATEMENT)

Adalah laporan yang dapat memberikan gambaran akuntansi atas operasi serta
posisi keuangan perusahaan.

Terdiri atas ;
1) Laporan Rugi/Laba (Income Statement)
2) Neraca (Balance Sheet)
3) Laporan Laba Ditahan (Statemen of Retained Earning)
4) Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow)

AKUNTANSI
PENGERTIAN

Akuntansi adalah pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi bisnis,


serta penginterprestasian informasi yang telah disusun.

Banyak perusahaan menggunakan catatan-catatan mengenai penghasilan dan biaya


yang disebut catatan akuntansi. Di mana transaksi bisnis tersebut selalu diukur
dalam bentuk satuan moneter.

Dalam hal ini, akuntan bertanggung jawab atas tugas-tugas tersebut, di mana
mengelola semua informasi keuangan yang berkaitan dengan status dan operasi
perusahaan serta membantu dalam pengambilan keputusan.

18

akuntansi berbeda dengan tata buku, di mana tata buku hanya mencakup tugas

pencatatan transaksi keuangan perusahaan atau dengan kata lain akuntansi lebih
luas dari pada tata buku.
PENGGUNAAN AKUNTANSI

Catatan akuntansi sangat penting bagi manajemen, investor, kreditur dan juga
pemerintah.

Hal tersebut berdasarkan keputusan yang diambil banyak berkaitan dengan masalah
keuangan, dan keputusan yang baik tidak dapat diambil tanpa informasi yang tepat.

Semakin besar perusahaan, semakin penting peranan akuntansi di dalamnya.

Sistem akuntansi yang baik akan mengakibatkan sukses bagi perusahaan.

Sistem akuntansi harus memberikan informasi keuangan yang akan membantu


dalam memperkirakan hasil-hasil operasi, pengawasan fasilitas, dan membantu
dalam perencanaan.

Kegunaan Akuntansi bagi Manajemen, di mana sistem akuntansi harus ;

1) Memberikan suatu kriteria tertulis tentang transaksi finansial perusahaan


2) Memberikan laporan finansial secara periodik untuk meringkas hasil operasi dan
kondisi keuangan perusahaan.
3) Memberikan laporan secara periodik untuk meringkas dan membantu pengawasan
biaya produksi.
4) Memberikan

informasi

untuk

perencanaan

jangka

panjang,

karena

dapat

membantu penyusunan anggaran, aliran kas, dan perkiraan kapasitas produksi.


5) Memberikan data finansial untuk pengambilan keputusan baik secara riil maupun
proyeksi.
6) Dapat digunakan untuk pemeriksaan intern dengan memberikan data finansial yang
dapat dipercaya.
7) Memberikan data untuk menentukan pajak pendapatan, pajak kekayaan, dan
laporan laba yang diperlukan pemerintah.

Kegunaan Akuntansi bagi Investor dan Kreditur

1) Investor yang memiliki sahan atau obligasi pada perusahaan besar, akan menerima
laporan keuangan secara periodik berdasarkan catatan akuntansi perusahaan.
2) Laporan keungan tersebut sangat penting bagi investor untuk mengetahui sampai
seberapa jauh perkembangan perusahaan beserta kondisi keuangan.
3) Dengan

mempelajari

laporan

keuangan

periodik

tersebut,

investor

dapat

menghindari adanya kemungkinan keliru dalam investasinya.


4) Adanya keharusan dari pemerintah untuk semua perusahaan yang mengeluarkan
saham harus membuat laporan tentang informasi keuangan.
5) Setiap perusahaan harus memelihara catatan akuntansi dengan baik dan
memberikan laporan keuangan kepada para pemegang saham.
6) Hal ini untuk memberikan keyakinan kepada investor tentang kebenaran laporan
keuangan

tersebut,

biasayanya

diperlukan

seorang

akuntan

publik

untuk

memeriksanya.

19

7) Kreidtur memerlukan laporan keuangan dari perusahaan terutama pada saat


perusahaan tersebut ingin memperoleh pinjaman.
8) Laporan tersebut untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan keuangan
perusahaan sehingga dalam jangka waktu tertentu dapat mengembalikan
pinjaman, dan dapat membayar bunga secara rutin.
PROSES AKUNTANSI

DATA POKOK

TRANSAKSI

PROSES

LAPORAN KEUANGAN

NERACA
MENCATAT
MENGGOLONGKAN

LAPORAN OPERASI

MERINGKAS

LAPORAN PERUBAHAN
PROSES KEUANGAN

PROSES AKUNTANSI

AKUNTANSI merupakan proses transformasi data mentah menjadi informasi


keuangan yang berguna.

Persamaan Akuntansi (The Acounting Equation); berbentuk laporan sederhana yang


merupakan bentuk dasar dari proses akuntansi ini merupakan hubungan antara
assets, liabilities, dan owners equity.

Assets adalah harta yang dimiliki oleh perusahaan

Liablities ialah kewajiban perusahaan, yang dipinjam dari pihak lain

Ownqers equity ialah perbedaan diantara asset dan liabilities

Hubungan ketiganya ---- Owners equity = assets - liabilities

Jadi : assets = liabilities + owners equity

LAPORAN KEUANGAN

Hubungan yang terdapat dalam persamaan akuntansi dapat digunakan untuk


membuat tiga laporan keuangan:
1) Neraca (Balanced Sheet)
2) Laporan Rugi Laba (Income Statement)
3) Laporan Perubahan Keuangan

Dua laporan yang pertama (neraca dan laporan rugi laba) sangat penting bagi
perusahaan dan laporan inilah yang banyak dibicarakan.

Sedangkan laporan ketiga (laporan Perubahan Keuangan) umumnya diperlukan bagi


para pemegang saham (pemilik).

20

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

TINGKAT EFEKTIVITAS MANAJEMEN SDM DIPANDANG TURUT MEMPENGARUHI


KINERJA

SUATU

ORGANISASI,

SEBESAR

ATAU

SEKECIL

APAPUN

ORGANISASI

TERSEBUT.

DAVID ULRICH : SUMBER DAYA MANUSIA HARUS DIDEFINISIKAN BUKAN DENGAN APA
YANG SUMBER DAYA MANUSIA LAKUKAN, TETAPI APA YANG SUMBER DAYA MANUSIA
HASILKAN

SUMBER

DAYA

MANUSIA

DIPANDANG

SEMAKIN

BESAR

PERANANNYA

BAGI

KESUKSESAN SUATU ORGANISASI, MAKA BANYAK ORGANISASI SAAT INI MENYADARI


BAHWA UNSUR MANUSIA DALAM ORGANISASI DAPAT MEMBERIKAN KEUNGGULAN
BERSAING.

MANAJEMEN SDM BERHUBUNGAN DENGAN SISTEM RANCANGAN FORMAL DALAM


ORGANISASI UNTUK MENENTUKAN EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI DILIHAT DARI BAKAT
SESEORANG UNTUK MEWUJUDKAN SASARAN SUATU ORGANISASI.

Global Challenge

Quality Challenge

Expand into foreign markets.

Meet customers service and

Prepare employees to work in


foreign locations.

product needs.

U.S. BUSINESS
COMPETITIVENESS

HighHigh-Performance
Work System Challenge

Social Challenge

Change employees and


managers work role.
Integrate technology and social
systems.

Improve reading, writing, and


match skills of labor force.
Manage culture diversity.

GAMBAR 01. COMPETITIVE CHALLENGE INFLUENCING U.S. COMPANIES

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA : suatu perencanaan, pengorganisasian,


pengarahan,

pengekoordinasian,

pelaksanaan,

dan

pengawasan

terhadap

pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, dan pemisahan


tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan.
Atau

sebagai suatu pengelolaan dan pendayagunaan sumber daya manusia yang ada
pada individu karyawan untuk dikembangkan secara maksimal di dalam dunia kerja
guna mencapai tujuan organisasi, dan pengembangan individu karyawan.

21

Stockholder

Government

Labor Unions

(the inner central


system)
Management
plan
organize
direct control
Suppliers

Customers
Processor
Personnel
physical
Function
factors

Competitors

Financial
institutions

The Public

(the outer extended system)

FIGURE 03 . THE SOCIAL SYSTEM (FLIPPO, 1984; 32)

Manajemen kepegawaian dan sumber daya manusia sangat penting bagi perusahaan
dalam mengelola, mengatur, dan memanfaatkan pegawai untuk dapat berfungsi
secara produktif guna tercapainya tujuan perusahaan.
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam pengembangan Manajemen

Sumber Daya Manusia, yaitu :

Hard approach; memfokuskan pada sisi sumber di luar SDM yang mempengaruhi
proses pemberdayaan SDM bagi pencapaian tujuan organisasi, di mana pendekatan
ini beranggapan bahwa orang-orang dikelola dengan cara-cara yang sama
sebagaimana peralatan dan material.

Soft approach; pendekatan ini memfokuskan pada teori ilmu perilaku yang
menekankan factor hubungan antar manusia dan motivasi sebagai upaya mencapai
tujuan organisasi.
Menurut Keenoy dan Anthony (1997) bahwa dalam mempelajari MSDM bisa dilihat

dari 3 persepsi :

MSDM sebagai manajemen orang-orang (people management)

MSDM sebagai manajemen personalia (personnel management)

MSDM sebagai manajemen srategik (strategic management)

AKTIVITAS MANAJEMEN SDM


1. PENGADAAN

TENAGA

KERJA

(PROCUREMENT);

merupakan

usaha

untuk

memperoleh jenis dan jumlah yang tepat dari tenaga kerja yang diperlukan
untuk menyelesaikan sasaran organisasi, yang terdiri dari :
a) Perencanaan Sumber Daya Manusia; suatu proses menentukan kebutuhan
tenaga kerja.

22

b) Analisis Jabatan; prosedur melalui fakta-fakta yang berhubungan dengan


setiap jabatan yang diperoleh dan dicatat secara sistematis, yang
menghasilkan deskripsi jabatan dan spesifikasi jabatan.
c) Perekrutan dan pengangkatan tenaga kerja; suatu proses atau tindakan
yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja melalui
tahapan yang mencakup identifikasi dan evaluasi sumber-sumber penarikan
pekerja, menentukan kebutuhan pekerja yang diperlukan perusahaan,
proses seleksi, penempatan dan orientasi pekerja/pegawai.
2. PENGEMBANGAN (DEVELOPMENT) SDM; fungsi operatif ini berkaitan dengan :
a) Pelatihan (training); suatu proses pendidikan jangka pendek yang mempergunakan
prosedur sistematis dan terorganisir, di mana pekerja nono\manjerial mempelajari
pengetahuan dan keterampilan teknis dalam tujuan tervatas
b) Pengembangan (develompent); suatu proses pendidikan jangka panjang yang
mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir di mana pekerja/pegawai
manajerial mempelajari pengetahuan konseptual, dan teoritis guna mencapai
tujuan yang umum.
c) Pengembangan karir (Career development); aktivitas yang membantu pekerja
dalam merencanakan karir masa depan mereka di perusahaan.
d) Penilaian prestasi (Performance Appraisal); suatu proses untuk menentukan
apakah pekerja/pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya didasarkan pada
tujuan sesuai dengan yang ditetapkan perusahaan.
3. KOMPENSASI

JABATAN

(JOB

COMPENSATION);

merupakan

sesuatu

yang

dipertimbangkan sebagai suatu yang sebanding, di mana melibatkan pertimbangan


dan keseimbangan perhitungan. Hadiah yang bersifat uang merupakan kompensasi
yang diberikan kepada pekerja/pegawai sebagai penghargaan dari pelayanan
mereka. Unsur-unsur yang termasuk dalam fungsi ini adalah :
a) Faktor-faktor kebijakan kompensasi
b) Bentuk-bentuk kompensasi
c) Evaluasi jabatan
d) Insentif kerja
4. PENGINTEGRASIAN

(INTEGRATION);

aktivitas

yang

menyeimbangkan

antara

kepentingan organisasi/perusahaan dengan kebutuhan pekerja/pegawai, artinya


kedua belah pihak dapat terpenuhi secara proporsional atau sebanding, sehingga
masing-masing puas dengan tujuan yang diharapkan. Unsur-unsur yang berkaitan
dengan fungsi ini adalah :
a) Motivasi
b) Kebutuhan pegawai
c) Kepuasan kerja
d) Disiplin kerja

23

e) Partisipasi kerja
5. PEMELIHARAAN (MAINTENANCE) SDM; sumber daya manusia dalam perusahaan
merupakan aset dan agar pekerja/pegawai tetap loyal bekerja, maka perlu ada
pemeliharaan terhadap keadaan tersebut. Unsur yang berkaitan dengan fungsi ini
adalah :
a) Komunikasi kerja
b) Kesehatan dan keselamatan kerja
c) Pengendalian konflik kerja
d) Konseling kerja
6. PEMISAHAN (SEPARATION); adanya proses pemutusan hubungan kerja antara
pekerja/pegawai dengan perusahaan yang didasarkan pada pertimbangan tertentu.
Bentuk bentuk pemisahan atau pemberhentian pekerja/pegawai :
a) Pensiun
b) Pemberhentian atas permintaan sendiri dari pegawai
c) Pemberhentian langsung oleh perusahaan
d) Pemberhentian sementara

PERUBAHAN
LINGKUNGAN
BISNIS

Ekonomi
Politik
Teknologi
Industri

PERUBAHAN
KEBUTUHAN
ORGANISASI

STRATEGI
BISNIS

IMPLEMENTASI
STRATEGI

Tujuan
Organisasi
KEBUTUHAN
SDM

Pendekatan
Lunak/Keras

Implementasi
Fungsi-fungsi
MSDM

Strategi
SDM

GAMBAR. PERUBAHAN LINGKUNGAN IMPLIKASINYA


TERHADAP KEBUTUHAN SDM ORGANISASI

24

BAB 6. KERJA SAMA ANTAR KOPERASI


6.1. Mengapa Kerja Sama Antar Koperasi?
Koperasi sebagai perkumpulan atau badan usaha

tidak akan dapat mampu berdiri

sendiri tanpa pengembangan jaringan atau bekerja sama dengan organisasi lain, lebih-lebih
pada kondisi saat ini, di era perdagangan bebas dan globalisasi ekonomi di mana saling
ketergantungan baik antar individu maupun antar organisasi sangat tinggi. Koperasi dalam
mencapai tujuan-nya secara efektif dan efisien
jaringan

bebas bekerja sama, mengembangkan

baik dengan sesama koperasi, dengan perusahaan swasta, maupun perusahaan

Negara atau bentuk lainnya seperti halnya yayasan.


Kerja sama antar koperasi

merupakan salah satu prinsip koperasi

yang telah

disepakati oleh ICA (International Cooperative Alliance). Prinsip ini selanjutnya mendasari
prinsip-prinsip koperasi

yang ditetapkan oleh Negara-negara anggota ICA termasuk

Indonesia.
Tulisan ini akan membahas secara umum tentang pengembangan jaring an dan kerja sama
antar koperasi

baik di tingkat lokal, regional, nasional dan internasional.

Maksud dari

materi ini adalah untuk memberikan wawasan umum tentang kerjasama antar koperasi
khususnya bagi para pemula ( para peserta pelatihan BKM ) yang akan membentuk koperasi
se hingga nantinya secara otomatis akan banyak berkecimpung dengan dunia koperasi.
6.2. Tujuan Kerja Sama Koperasi.
Pada Undang-Undang No.25 tahun 1992 Tentang Perkoperasian, kerja sama antar
koperasi merupakan salah satu prinsip pengembangan koperasi bersama-sama dengan
prinsip pendidikan anggota koperasi.
Tujuan

dari kerja sama tentunya untuk menunjang tercapainya tujuan koperasi seperti

yang disampaikan oleh seorang pakar koperasi Jauhani Laurinkari, 1994 yang dimuat dalam
International Handbook of Cooperative Organization

Agar dapat berkoperasi sebaik-

baiknya untuk dapat mencapai kesejahteraan para anggota pada khususnya dan masyarakat
pada umumnya, maka semua organisasi koperasi harus secara aktif bekerja sama dengan
koperasi-koperasi lainnya baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
6.3. Sifat dan Bentuk Kerja Sama Antar Koperasi
Sifat kerja sama antar koperasi dapat berlaku sementara atau bersifat yang relatif
permanen dalam bentuk koperasi sekunder.
Kerjasama sementara ditempuh oleh dua koperasi atau lebih yang usahanya sama atau
berbeda yang dituangkan atau didasarkan pada dokumentasi kerja sama atau kontrak.
Biasanya model kerjasama seperti ini dalam teori bisnis termasuk ke dalam model integrasi
horizontal atau interlinkage market yang bertujuan untuk

memperluas dan menjamin

kepastian pasar untuk memanfaatkan kapasitas lebih dari masing-masing koperasi yang
bekerja sama. Contoh di lapangan ditemukan kerjasama antara koperasi sapi perah (KPBS)
dengan koperasi karyawan rumah sakit Boromieus dalam kontrak pengadaan susu segar
untuk keperluan rumah sakit. KPBS dengan KUD dalam hal kontrak pengadaan dedak halus

25

dan menir untuk campuran pakan ternak. Antara KSP yang memiliki likuiditas lebih dengan
koperasi karyawan yang kekurangan likuiditas untuk pemberian pinjaman dan masih banyak
lagi contoh lainnya.
Pada kerja sama permanen koperasi dapat membentuk (menjadi anggota) koperasi
sekunder untuk melakukan integrasi kegiatan usaha baik secara vertikal maupun horizontal.
Integrasi kegiatan usaha secara vertikal biasanya dilakukan untuk mengurangi risiko bisnis,
menjamin kepastian pasar dan memperpendek mata rantai pemasaran yang berarti
mengurangi biaya pemasaran dan biaya transaksi. Jika integrasi vertikal dilakukan secara
sempurna dengan mengintegrasikan fungsi-fungsi pemasaran yang sebelumnya terpisah baik
ke industri hulu dan ke industri hilir diharapkan akan menciptakan nilai tambah bagi para
anggotanya. Contoh yang dilakukan oleh Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) yang
memiliki pabrik pengolahan susu dan sarana transportasi dapat menjamin harga susu bagi
para anggotanya secara lebih baik.
Bentuk organisasi sekunder pada umumnya didasarkan pada salah satu bentuk berikut
yaitu : bentuk federasi, union atau campuran.
Bentuk federasi adalah bentuk kerjasama yang diikuti oleh sebagian besar koperasi
sekunder di Indonesia. Hal ini akibat pengaruh Undang-Undang Pokok Perkoperasian No. 12
tahun 1967 di mana koperasi sekunder diatur berjenjang secara ketat dalam tingkatan :
koperasi primer (di tingkat kecamatan), pusat koperasi (tingkat kabuoaten), gabungan
koperasi (tinkat propinsi), dan induk koperasi (tingkat nasional).

Walaupun dalam

prakteknya di lapangan bentuk kerjasama ini tidak selalu lengkap jenjangnya.

Contoh

bentuk federasi yang lengkap adalah pada koperasi pegawai Republik Indonesia yaitu: KPRI (
Koperasi Primer Pegawai Re publik Indonesia), PKPRI ( Pusat), GKPRI ( Gabungan ), dan
IKPRI (Induk).
Bentuk Union semakin banyak diikuti, yaitu penjenjangan tidak ketat tetapi
koperasi yang berkedudukan di pusat dapat membuka cabang-cabang usaha di berbagai
tempat. Contoh bentuk union adalah model KAI (Koperasi Asuransi Indonesia), anggotanya
adalah berbagai jenis koperasi sekunder, sedangkan cabang-cabang usahanya

bukanlah

koperasi anggota. Contoh lain ialah KJUB (Koperasi Jasa Usaha Bersama).
Jenis usaha juga merupakan penentuan

ketetapan bentuk kerjasama atau koperasi

sekunder. Apabila jenis usaha anggota koperasi sekunder sejenis, maka bentuk organisasi
cenderung federasi. Dalam contoh di atas adalah model federasi dari KPRI termasuk juga
model federasi dari Koperasi Unit Desa (KUD) meskipun yang disebut terakhir ini tidak
ketat, karena dalam penjenjangannya tidak memiliki Gabungan KUD. Sebaliknya jika jenis
usaha koperasi anggotanya beragam/tidak sejenis tetapi kepentingannya sama

(modal,

asuransi jasa pelayanan tertentu) maka bentuknya cenderung union.

26

Gambar 1. Bentuk Kerjasama Koperasi Model Federasi

INDUK
KOPERASI

TINGKAT
PUSAT

KOPERASI
GABUNGAN

KOPERASI
GABUNGAN

KOPERASI
GABUNGAN

TINGKAT
PROPINSI

KOPERASI
PUSAT

KOPERASI
PUSAT

KOPERASI
PUSAT

TINGKAT
KAB/KOTA

KOPERASI
PRIMER

KOPERASI
PRIMER

KOPERASI
PRIMER

Gambar 2. Bentuk Kerjasama Koperasi Model Union.

KOPERASI
SEKUNDER

KOPERASI
ANGGOTA

CABANG
USAHA

KOPERASI
ANGGOTA
CABANG
USAHA

KOPERASI
ANGGOTA

6.4. Koperasi Sekunder Di Indonesia


Jumlah koperasi

di Indonesia selalu mengalami pertumbuhan sejalan dengan

pertambahan penduduk, walaupun masih banyak koperasi yang terbentuk tetapi tidak jalan
atau mengalami hambatan dalam perkembangannya.

Menurut data statistik dari kantor

Kementerian Koperasi dan UKM, sampai dengan tahun 2006, jumlah koperasi di Indonesia
sudah mencapai 138.411

buah koperasi dengan 72,3 koperasi aktif dan

27,7 persen

sisanya koperasi tidak aktif.


Dengan bertambahnya koperasi primer, koperasi sekunder pun bertambah jumlahnya baik di
tingkat wilayah (Kabupaten, Kota atau Propinsi) mau pun di tingkat nasional. Apabila pada
dekade tahun delapan puluhan jumlah koperasi sekunder baru mencapai sekitar 20 buah,
maka pada tahun 2000 sudah meningkat kurang lebih menjadi 50 buah.
Meskipun wilayah pelayanan koperasi tidak dibatasi menurut batas administratif,
tetapi perizinan untuk memperoleh badan hukum koperasi dilakukan menurut level Pusat
ibu kota Negara, Propinsi-Daerah Tingkat I,

maupun Kabupaten/Kota-Daerah Tingkat II

maka biasanya wilayah kerja koperasi sekunder

juga terpola menurut wilayah

administratif.

27

Jenis-jenis usaha koperasi sekunder menurut bidang usaha mencakup ke hampir semua jenis
usaha baik di sektor pertanian maupun sektor lain, dan mencakup berbagai jenis barang dan
jasa, serta mencakup berbagai golongan masyarakat.
Berikut ini adalah daftar sejumlah koperasi tingkat nasional, termasuk beberapa
yang baru dan beberapa yang kurang aktif. Pada daftar yang ada di dalam kurung adalah
anggota-anggota jaringan koperasi tersebut baik koperasi primer maupun sekunder. Yang
dimaksud koperasi sekunder disini adalah koperasi yang anggotanya adalah badan-badan
hukum koperasi.

Menurut UU No.25 tahun 1992 Tentang Perkoperasian jumlah anggota

koperasi sekunder sekurang-kurangnya 3 (tiga) badan hukum koperasi.


Daftar Koperasi Sekunder Nasional Beserta Jaringannya :
1. Inkud (Induk Koperasi Unit Desa)
(PUSKUD; KUD)
2. IKPI (Induk Koperasi Perikanan Indonesia)
(PUSKUD Mina; KUD mina)
3. IKKI (Induk Koperasi Kopra Indonesia)
4. Inkopti (Induk Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia)
(PUSKOPTI dan PRIMKOPTI)
5. IKPRI (Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia)
(GKPRI; PKPRI; KPRI)
6. Inkopkar (Induk Koperasi Karyawan)
(PUSKOPKAR; KOPKAR)
7. Inkoppas (Induk Koperasi Pedagang Pasar)
(KOPAS)
8. Inkopdit (Induk Koperasi Kredit)
(PUSKOPDIT; KOPDIT)
9. Inkopontren ( Induk Koperasi Pondok Pesantren)
(PUSKOPONTREN; KOPONTREN)
10. Inkopinkra (Induk Koperasi Industri Kerajinan)
(PUSKOPINKRA; KOPINKRA)
11. Inkopad (Induk Koperasi Angkatan Darat)
(PUSKOPAD;PRIMKOPAD)
12. Inkopal (Induk Koperasi Angkatan Laut)
(PUSKOPAL; PRIMKOPAL)
13. Inkopau (Induk Koperasi Angkatan Udara)
(PUSKOPAU; PRIMKOPAU)
14. Inkopol (Induk Koperasi Kepolisian)
(PUSKOPPOL; PRIMKOPPOL)
15. Inkopabri (Induk Koperasi Angkatan Bersenjata R.I)
(PUSKOPABRI; KOPABRI)
16. Inkoveri (Induk Koperasi Vetera R.I)
(PUSKOVERI; KOVERI)
17. GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia)

28

(PKBI; Koperasi Batik )


18. GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia)
(Koperasi Susu, Koperasi Peternakan Sapi Perah; KUD)
19. Puskoperla (Pusat Koperasi Pelayaran Rakyat)
(KOPERLA)
20. Pusksu ( Pusat Koperasi Serba Usaha)
( KSU )
21. IKWI (Induk Koperasi Wredatama Indonesia)
22. KAI (Koperasi Asuransi Indonesia)
23. KJAN (Koperasi Jasa Audit Nasional)
24. Kopindo (Koperasi Pemuda Indonesia)
25. Kopenas (Koperasi Permukiman Nasional)
26. Kofina (Koperasi Film Nasional)
27. KDI (Koperasi Distribusi Indonesia)
28. Inkoptan ( Induk Koperasi Pertanian)
6.5. Apex dan Koperasi Internasional
Yang dimaksud dengan Apex adalah koperasi puncak yang ada di tiap negara.
Dalam hal ini koperasi tingkat nasional dapat disebut sebagai Apex untuk bidangnya.
Namun demikian Apex untuk seluruh

koperasi di Indonesia adalah DEKOPIN (Dewan

Koperasi Indonesia). Menurut UU No.25 tahun 1992 Tentang Perkoperasian, Dekopin adalah
organisasi koperasi-koperasi di Indonesia satu-satunya di tingkat nasional yang menangani
hal-hal di luar usaha secara langsung. Anggota Dekopin adalah koperasi koperasi tingkat
nasional dan Dekopinwil-Dekopinwil tingkat Propinsi.

Di tingkat Kabupaten/Kota ada

Dekopinda yang menjadi anggota Dekopinwil.


Secara umum Dekopin, Dekopinwil dan Dekopinda sebagai representasi dari gerakan
koperasi Indonesia memiliki fungsi Idiil sebagai berikut:

Sebagai juru bicara gerakan koperasi, baik dengan pemerintah maupun dengan
masyarakat.

Sebagai alat perjuangan koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sebagai alat pendemokrasian tatanan ekonomi nasional, paling tidak di dalam


koperasi itu sendiri.

Sebagai pembina koperasi baik primer maupun sekunder.

Merupakan wadah partisipasi rakyat dalam melaksanakan kebijakan pemerintah di


dalam pembangunan.

Fungsi dan peran Dekopin, Dekopinwil dan Dekopinda yang lainnya adalah:

Sebagai pusat pelatihan dan pendidikan baik bagi pengurus, pengelola, pengawas,
anggota maupun masyarakat.

Sebagai pusat penelitian perkoperasian yang sementara ini masih terbentur masalah
SDM dan dana yang tidak mencukupi.

29

Sebagai pusat pemberi jasa ( Pusat informasi bisnis dan jaringan usaha koperasi)
dalam

mendorong

dan

menggalang

koperasi

Indonesia

seperti

konsultasi

manajemen, usaha, bantuan hukum, pengawasan, dan pembinaan organisasi.

Sebagai penghubung koperasi Indonesia baik di dalam maupun di dunia internasional


terutama kepada sesama gerakan koperasi.
Hampir di tiap Negara ada Apex yang merupakan organisasi koperasi puncak di

Negara tersebut yang fungsinya mewakili kepentingan koperasi suatu Negara di forum
internasional selain sebagai mitra dialog dengan pemerintah Negara tersebut.
Contoh beberapa organisasi Apex:

CCA (Canadian Cooperative Association)

CCD (Centre Cooperative Denmark)

CLUSA (Cooperative Leagnu U.S.A)

WOCCU ( World Cooperative Credit Union)

CBU (Cooperative Business-USA), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Forum tertinggi organisasi koperasi dunia adalah ICA (International Cooperative Alliance)
yang didirikan pada tahun 1895 dan berkedudukan di Genewa, Swiss.

ICA merupakan

organisasi dunia non pemerintah nomor dua setelah palang merah/Red-Cross (di Indonesia
PMI).

ICA mengadakan konferensi internasional sekali dalam setiap empat tahun untuk

membahas perkoperasian dalam lingkup internasional.


BAB 7. MANAJEMEN KEANGGOTAAN KOPERASI
Anggota koperasi adalah asset/kekayaan sumberdaya manusia koperasi yang sangat
penting bagi koperasi.

Identitas ganda anggota koperasi sebagai pemilik dan pelanggan

akan menentukan dimensi partisipasi anggota yang akan menentukan sukses atau tidaknya
koperasi dalam melakukan persaingan dengan perusahaan kapitalistik baik perusahaan
perseorangan, persekutuan (CV atau Firma) maupun perseroan terbatas. Nyawa koperasi
terletak pada partisipasi anggota.
Partisipasi anggota sebagai pemilik dapat diwujudkan berupa keikutsertaan anggota
dalam pengambilan keputusan, kontribusi modal (berupa simpanan pokok dan simpanan
wajib), pengelolaan, serta partisipasi dibidang pengawasan dan pengendalian. Partisipasi
anggota sebagai pelanggan ditunjukkan dalam pemanfaatan pelayanan (peminjaman,
pembelian, maupun pemasaran) yang diselenggarakan oleh perusahaan koperasi. Sebagai
contoh, para siswa sebagai pemilik koperasi sekolah harus aktif menghadiri rapat anggota
dalam rangka mengambil keputusan-keputusan penting koperasi, membayar simpanan
pokok dan simpanan wajib tepat waktu sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta
memberikan saran baik lisan maupun tertulis untuk kemajuan koperasi. Sebagai pelanggan,
para siswa anggota koperasi sekolah harus aktif berbelanja buku, ATK, pakaian seragam
dan kebutuhan siswa lainnya yang disediakan oleh toko koperasi sekolah. Hanya dengan
cara demikian anggota akan merasakan manfaat berkoperasi yang pada gilirannya akan
tumbuh rasa tanggung jawab dan rasa memiliki koperasi dan dapat dijamin koperasi akan
tumbuh dan berkembang.

30

Sangat berbeda dengan kedudukan

anggota atau pemilik

pada perusahaan

kapitalistik persekutuan dan perseroan terbatas yang hanya memiliki identitas tunggal yaitu
hanya sebagai pemilik saja. Kewajiban pemilik persekutuan atau pemegang saham adalah
turut serta dalam pengambilan keputusan dan menyetor modal

dengan

tujuan

memperoleh balas jasa modal berupa bagian dari keuntungan perusahaan (deviden) yang
besarnya sesuai dengan perjanjian. Tetapi para pemilik tidak mempunyai kewajiban untuk
menggunakan/memanfaatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaannya.
Perusahaan menghasilkan barang dan jasa untuk kebutuhan pasar (masyarakat umum)
dalam rangka mencari keuntungan guna memperkaya para pemiliknya.
Karena kondisi hidup dan matinya koperasi sangat ditentukan oleh derajat
partisipasi anggotanya, maka keanggotaan koperasi harus dikelola sebaik-baiknya

agar

diperoleh anggota koperasi yang memiliki potensi ekonomi ( dapat sebagai produsen,
konsumen, atau pemilik faktor produksi tenaga kerja/keahlian), kesadaran dan komitmen
berkoperasi, dedikasi dan loyalitas/kesetiaan yang tinggi, yang

akan djelmakan dalam

bentuk kualitas partisipasinya.


6.1. Apa Itu Manajemen Keanggotaan?
Secara konsepsi, manajemen keanggotaan dapat didekati dengan manajemen
sumber daya manusia. Menurut Edwin B. Flippo, manajemen sumber daya manusia adalah
perencanaan,

pengorganisasian,

pengarahan,

dan

pengawasan

dari

pengadaan,

pengembangan, pemberian balas jasa, pengintergrasian, pemeliharaan dan pemutusan


hubungan kerja karyawan dengan maksud mencapai tujuan karyawan, organisasi dan
masyarakat.
Jadi dengan menggunakan pendekatan manajemen SDM, maka manajemen keanggotaan
koperasi dapat dikonsepkan sebagai

perencanaan, pengorganisasian, penarahan, dan

pengendalian dari pegadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian,


pemeliharaan dan pemutusan status keanggotaan anggota koperasi agar tujuan individu
anggota, koperasi dan masyarakat disekitarnya dapat terwujud.
Tujuan Manajemen Keanggotaan
Tujuan yang ingin dicapai dari penerapan manajemen keanggotaan di koperasi adalah:
1. memperoleh anggota-anggota koperasi yang memiliki potensi baik sebagai pemilik
maupun pelanggan koperasi yang sesuai dengan persyaratan dan ketentuan koperasi
yang bersangkutan.
2. mengoptimalkan partisipasi anggota koperasi baik sebagai pemilik
pelanggan

maupun

untuk mewujudkan keunggula partisipasi yang dicirikan dari efisiensi

biaya pelayanan koperasi.


3. meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki anggota terhadap koperasinya
yang dicirikan dari adanya semangat membela dan setia pada koperasi.
4. tercapainya tujuan individu anggota dalam berkoperasi yaitu meningkatkan taraf
hidup anggota yang pada gilirannya akan mendorong tercapainya tujuan organisasi
koperasi yaitu mensejahterakan anggota pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya.

31

Fungsi Manajemen Keanggotaan


1. Pengadaan anggota. Meskipun dalam prinsip koperasi keanggotaan koperasi sukarela
dan terbuka bukan berarti bahwa setiap orang boleh dengan bebas dapat menjadi
anggota suatu organisasi koperasi kapan saja dan di mana saja. Pengalaman masa lalu
membuktikan bahwa orientasi koperasi untuk mengejar

kuantitas keanggotaan

dengan tidak memperhatikan kualitasnya telah bayak menimbulkan masalah bagi


banyak Koperasi Unit Desa (KUD). Karena kebanyakan anggota KUD tercatat sebagai
anggota pasif yang tidak melaksanakan partisipasi sebagai pemilik dan pelanggan
secara benar yang pada akhirnya menjadi beban koperasi.

Oleh karena itu agar

koperasi memperoleh anggota yang berkualitas, pihak manajemen harus menerapkan


pola seleksi dan rekrutasi keanggotaan koperasi dengan baik.

Mempertimbangkan

keseriusan, potensi dan motivasi mereka untuk menjadi anggota. Telah dibuktikan
oleh banyak koperasi sukses seperti hampir semua koperasi kredit melakukan seleksi
yang ketat terhadap calon anggotanya dengan serangkaian prosedur, proses dalam
jangka waktu tertentu.

Setiap calon anggota diberi waktu 6 bulan untuk terlebih

dahulu mengikuti pendidikan perkoperasian,

keaktifan dalam menabung, dan

kesediaan untuk mentaati aturan main koperasi. Jika selama 6 bulan calon anggota
dinilai lulus maka baru ditetapkan sebagai anggota koperasi, tetapi jika tidak maka
harus mengikuti kembali proses dari awal, begitu seterusnya. Dengan menerapkan
proses seleksi dan rekrutasi yang benar, koperasi kredit di Indonesia telah tumbuh dan
berkembang dengan sehat.
2. Pengembangan Anggota. Setelah calon anggota dinyatakan lulus menjadi anggota,
selanjutnya pihak manajemen koperasi harus mengembangkan potensi anggota sebaik
mungkin. Tujuannya agar anggota dapat menjalankan partisipasinya secara optimal.
Pengembangan anggota dapat diarahkan kepada peningkatan pengetahuan dan
pemahaman anggota terhadap

perkoperasian, hak dan kewajiban,

termasuk juga

keterampilan teknis dibidang bisnis anggota (terutama bagi anggota koperasi


produsen seperti petani, peternak, dan perajin).

Koperasi-koperasi yang sukses

melakukan fungsi pengembangan anggota melalui program pendidikan dan pelatihan


secara teratur dan berkesinambungan.
3. Balas jasa. Balas jasa koperasi terhadap anggotanya dapat diberikan melalui manfaat
ekonomi langsung (MEL) dan manfaat ekonomi tidak langsung (METL).

MEL dapat

diberikan oleh koperasi dalam bentuk efisiensi harga pada saat anggota melakukan
transaksi dengan koperasinya seperti harga jual koperasi kepada anggotanya yang
lebih murah dibandingkan dengan pesaing (kasus koperasi konsumsi), harga beli
koperasi dari anggota yang lebih mahal dibandingkan para pesaingnya (kasus koperasi
pemasaran), dan tingkat bunga yang lebih rendah bagi anggota yang meminjam ke
koperasi (kasus koperasi

kredit).

METL dapat berupa SHU bagian anggota yang

didistribusikan secara adil berdasarkan besarnya jasa masing-masing anggota. Balas


jasa berupa MEL dan METL yang diberikan koperasi kepada anggotannya merupakan

32

insentif yang mendorong anggota akan setia dan berpartisipasi aktif baik sebagai
pemilik maupun sebagai pelanggan.

Sebaliknya, bagi koperasi yang tidak mampu

memberikan MEL dan METL kepa anggotanya biasanya akan ditinggalkan para
anggotanya.
4. Integrasi dan pemeliharaan anggota. Tujuan dari fungsi integrasi dan pemeliharaan
anggota adalah memelihara dan mengintegrasikan anggota agar tetap kompak,
produktif dan mengelola konflik diantara mereka dalam batas yang wajar dan sehat.
Banyak pakar menilai bahwa potensi konflik diantara para anggota koperasi cukup
tinggi, dan apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan konflik kepentingan
yang sering mengancam kelangsungan hidup koperasi. Potensi konflik dapat muncul
karena perbedaan latar belakang pendidikan anggota, pengalaman berorganisasi,
tingkat usia, serta perbedaan prioritas kepentingan.
manajemen koperasi harus mampu
pemeliharaan anggota

koperasinya.

Untuk mengatasinya, pihak

merumuskan program-program integrasi dan


Program

pengelompokkan anggota, pembinaan kelompok,

yang

dimaksud dapat

berupa

kompetisi kelompok yang sehat,

disertai dengan adanya saluran komunikasi yang memadai agar konflik yang muncul
dapat segera diatasi.
5. Pemutusan keanggotaan koperasi.

Berakhirnya keanggotaan seseorang dari

koperasinya dapat diakibatkan karena meninggal dunia, pengunduran diri, atau


diberhentikan

oleh

pihak

manajemen

karena

suatu

sebab.

Untuk

mencegah/mengantisipasi terjadinya konflik antara anggota dengan pihak manajemen


berkaitan dengan pemutusan status keanggotaan seseorang pada koperasi, pihak
manajemen koperasi harus memiliki ketentuan yang jelas tentang status keanggotaan
koperasi. Terutama ketentuan yang mengatur mengenai hak dan kewajiban anggota
yang terkena pemutusan

status keanggotaannya.

Banyak koperasi yang tidak

memiliki aturan yang tegas untuk masalah ini, sehingga pihak manajemen tidak berani
melakukan pemutusan keanggotaan meskipun anggota yang bersangkutan tidak aktif
dan menjadi beban koperasi.

33

Anda mungkin juga menyukai