Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS DAYA DUKUNG WILAYAH

DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL PROVINSI DI YOGYAKARTA

TUGAS

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Teknik Perencanaan Wilayah

Oleh,
NURDINI LESTARI
13/352639/PGE/1036

PROGRAM PASCASARJANA GEOGRAFI


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2013

A. PENDAHULUAN
Pengembangan wilayah merupakan upaya untuk memacu perkembangan sosial
ekonomi, mengurangi kesenjangan antar wilayah, dan menjaga kelestarian lingkungan
hidup pada suatu wilayah. Dalam pengembangan wilayah harus memperhatikan antara
potensi yang dimiliki wilayah dengan jumlah penduduk serta kebutuhan penduduk dalam
suatu wilayah itu. Potensi atau sumberdaya pada suatu wilayah sifatnya sangat terbatas,
hal demikian sangat berbanding terbalik dengan permintaan atau kebutuhan dari manusia
atau penduduk yang semakin hari semakin meningkat.
Ketersedian sumberdaya pada suatu wilayah atau biasa disebut dengan supply dan
banyaknya kebutuhan manusia disebut dengan demand. Perbandingan antara kondisi
ketersediaan sumberdaya dan kebutuhan manusia akan menghasilkan sebuah daya
dukung. Daya dukung wilayah merupakan daya tampung maksimum lingkungan yang
diberdayakan oleh manusia. Dengan kata lain populasi yang dapat didukung secara tak
terbatas oleh suatu ekosistem tanpa merusak ekosistem itu. Fungsi beban manusia tidak
hanya pada jumlah populasi akan tetapi juga pada tingkat konsumsi per kapita serta lebih
jauh lagi adalah faktor berkembangnya perdagangan dan industri secara cepat.
Besarnya daya dukung (carrying capacity) dapat digunakan sebagai alat analisis
untuk sebuah perencanaan pembangunan yang memberikan gambaran hubungan antara
penduduk, penggunaan lahan, dan lingkungan. Dari hal tersebut, daya dukung dapat
memberikan informasi yang diperlukan dalam menilai tingkat kemampuan lahan dalam
mendukung segala aktivitas manusia yang ada di wilayah yang bersangkutan. Oleh
karena itu, daya dukung lingkungan pada suatu wilayah penting untuk diketahui sebagai
acuan dalam pelaksanaan pembangunan. Pada paper ini akan membahas studi kasus daya
dukung wilayah di Kabupaten Gunungkidul Provinsi DI Yogyakarta.

B. DASAR TEORI
1. Pengertian Daya Dukung Lingkungan
Carrying capacity atau daya dukung lingkungan diartikan sebagai kemampuan
suatu tempat dalam menunjang kehidupan makhluk hidup secara optimum dalam
periode waktu yang panjang. Daya dukung lingkungan juga diartikan kemampuan
lingkungan memberikan penghidupan pada organism secara sejahtera dan lestari bagi
penduduk yang mendiami suatu kawasan. Menurut Otto Sumarwoto dalam Mutaali
daya dukung lingkungan pada hakekatnya adalah daya dukung lingkungan alamiah,

yaitu berdasarkan biomasa tumbuhan dan hewan yang dapat dikumpulkan dan
ditangkap per satuan luas dan waktu di daerah itu.
Daya dukung lingkungan meliputi daya dukung biofisik dan daya dukung
sosial, dan keduanya memiliki keterkaitan. Daya dukung biofisik dipengaruhi oleh
daya dukung sosial. Daya dukung dipengaruhi oleh faktor ketersediaan sumberdaya,
faktor sosial, faktor ekonomi, faktor teknologi, budaya dan kebijakan. Daya dukung
biofisik adalah jumlah penduduk maksimum yang dapat didukung oleh sumberdaya
dengan tingkat teknologi tertentu. Tingkat keberlanjutan daya dukung biofisik yang
ditentukan oleh organisasi sosial termasuk tingkat konsumsi dan kegiatan
perdagangan (Lang dan Armour, 1991).
Sifat daya dukung pada suatu wilayah tidak bersifat tetap. Daya dukung dapat
berubah karena dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Perubahan sifat daya
dukung wilayah biasanya menuju kea rah kondisi yang lebih buruk, hal ini terjadi
karena akibat tekanan penduduk yang terus meningkat. Jumlah penduduk yang terus
meningkat akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, sejalan dengan itu daya
dukung aktual pun akan mengalami penyusutan sehingga tidak mampu lagi
mendukung jumlah dan kebutuhan penduduk yang ada. Pada suatu waktu daya
dukung wilayah memang dapat berada pada posisi yang renda akibat kerusakan dan
degradasi sumberdaya, namun dapat meningkat lagi oleh faktor perubahan sosial dan
intervensi teknologi.

2. Keseimbangan Kebutuhan dan Ketersediaan Lahan


Keseimbangan kebutuhan dan ketersediaan lahan berkaitan erat dengan
besarnya daya tampung ruang (DTR). Daya tampung ruang adalah kemampuan suatu
ruang untuk menampung kegiatan atau aktivitas manusia yang terjadi di dalamnya.
Kegiatan atau aktivitas manusia di dalamnya meliputi pemenuhan perumahan, sarana
dan prasarana serta kegiatan perekonomian yang terdiri dari pertanian, industri, dan
jasa. Suatu ruang dikatakan masih mampu menampung dan mengakomodasi kegiatan
yang terdapat di dalamnya apabila nilai daya tampung ruangnya lebih dari 1, dan
disarankan pemanfaatan ruang secara ekstensifikasi (intensifikasi), sedangkan suatu
ruang dikatakan sudah tidak mampu lagi menampung dan mengakomodasikan
kegiatan yang terdapat di dalamnya apabila nilai daya tampung ruangnya kurang dari
1, dan disarankan pemanfaatan ruang secara intensifikasi (vertikal). Nilai daya
tampung ruang dapat diketahui dengan cara membandingkan besar ketersediaan ruang

(KR) dan kebutuhan ruang (KbR). Berikut ini adalah formula untuk mengetahui daya
tampung ruang :
a.

Ketersediaan Ruang
= ( + + + )

b.

KR

= Ketersediaan ruang yang dapat dikembangkan

LW

= Luas wilayah

LLS

= Luas lahan sawah irigasi (keamanan pangan)

RTH

= Ruang terbuka hijaun (pakai data luas hutan)

KL

= Kawasan lindung (jika tidak ada tidak usah digunakan)

KRB

= Kawasan rawan bencana (jika tidak ada tidak usah digunakan)

Kebutuhan Ruang
1) Kebutuhan Dasar
Terdiri dari Rumah/Perumahan/ Permukiman dan sarana prasarana.
2) Kebutuhan Ekonomi
Misalnya terdiri dari kegiatan pertanian, industri dan jasa.

c.

Daya Tampung Ruang


=
DTR

= Daya tampung ruang

KR

= ketersediaan ruang

KbR

= Kebutuhan ruang

Jika DTR > 1 = wilayah tersebut masih mampu menampung dan


mengakomodasi perkembangan wilayah. Alokasi ruang yang disarankan yaitu
dengan Ekstensifikasi (Pembangunan Horisontal). Teknik Ekstensifikasi ini
terdiri dari Teknik Penjalaran dan Teknik Loncat Katak. Teknik Penjalaran
yaitu dengan mengalokasikan tambahan kebutuhan ruang secara ekstensif
dengan cara menjalar kearah horizontal (ekstensifikasi) pada ruang disekitar
fungsi dan kegiatan kawasan. Teknik Loncat Katak yaitu mengalokasikan
tambahan kebutuhan ruang secara ekstensif dengan cara meloncat pada lokasi
lain di luar fungsi dan kegiatan kawasan yang telah ada (kearah lokasi baru).
Jika DTR < 1 = wilayah tersebut tidak mampu menampung dan
mengakomodasi perkembangan wilayah. Alokasi Ruang dilakukan dengan
intensifikasi (Pembangunan Vertikal) dan perubahan pemanfaatan ruang.
Teknik intensifikasi yaitu dengan mengalokasikan tambahan kebutuhan ruang

pada alokasi ruang yang telah ada dengan cara pemadatan (densifikasi) fungsi
dan kegiatan secara lebih intensif.

3. Tekanan Penduduk dan Daya Dukung Lingkungan


Tekanan penduduk merupakan suatu gejala adanya kelebihan penduduk di
suatu daerah, mengingat ketersediaan sumberdaya yang terbatas maka tidak akan
mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan penduduk di suatu wilayah. Kondisi tersebut
berarti jumlah penduduk sudah melampaui daya dukung wilayahnya. Sebelum
mengetahui tingkat daya dukung lingkungan dari suatu wilayah, perlu diketahui dulu
besaran tekanan penduduknya, karena kedua variabel tersebut saling mempengaruhi.
Berikut ini adalah formula untuk menghitung tekanan penduduk :
=

1 . 1 +
.

TP

= Tekanan penduduk terhadap lahan pertanian

= Luas lahan untuk hidup layak

= Pendapatan petani dari non pertanian (%)

= Penduduk petani (%)

Po

= Jumlah penduduk pada awal tahun

= Pertumbuhan penduduk

= Periode tahun

= lahan pertanian yang dapat dinikmati penduduk (dibudayakan) (%)

Ltot

= Luas lahan pertanian total

Untuk hasil perhitungan TP lebih dari 1 (TP > 1) menunjukkan

bahwa

terdapat tekanan penduduk terhadap lahan pertanian. Sedangkan untuk TP kurang 1


(TP < 1) menunjukkan bahwa lahan pertanian masih mampu mendukung. Namun,
sebelum menentukan besaran jumlah penduduk perlu diketahui terlebih dahulu
besaran nilai Z atau luas lahan untuk hidup layak. Perhitungan nilai Z dapat dibantu
dengan data penggunaan lahan yang terdiri dari luas lahan pertanian irigasi, tadah
hujan dan lahan kering atau tegalan, berikut ini formulanya :
=

0.25 12 + 0.511 + 0.5 + (0.76)


12 + 11 + + )

= Luas lahan untuk hidup layak

LSI2 = Luas lahan sawah irigasi panen>2x setahun


LSI1 = Luas lahan sawah irigasi panen 1x setahun
LST = Luas lahan sawah tadah hujan
LLK = Luas lahan kering (tegalan)
Setelah mengetahui nilai Z dan TP, selanjutnya dapat diketahui besarnya daya
dukung lingkungan. Besarnya daya dukung lingkungan adalah 1/TP. Semakin tinggi
nilai daya dukung lingkungan, semakin baik kondisi lingkungan suatu wilayah.
Formulanya adalah sebagai berikut :
=

1
1
=

DDL = Daya Dukung Lingkungan


TP

= Tekanan Penduduk
Hal ini menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan berbanding terbalik

dengan tekanan penduduk, semakin tinggi tekanan penduduk, semakin rendah daya
dukung lingkungan. Untuk DDL > 1 menunjukkan bahwa lahan pertanian masih dapat
mendukung jumlah penduduk (petani) yang ada. Sedangkan untuk DDL < 1
menunjukkan bahwa lahan pertanian tidak dapat mendukung jumlah penduduk
(petani) yang ada.
Untuk mengetahui keseimbangan penduduk dan sumberdaya, digunakan
formula modifikasi dari Mutaali tentang jumlah penduduk optimal, penduduk tidak
tertampung, luas lahan optimal, dan luas lahan tambahan. Demikian pula untuk
menentukan jumlah penduduk dan luas lahan pertanian optimal dapat diformulasikan
sebagai berikut :
a.

Jumlah penduduk petani optimal yang mampu di dukung oleh lahan pertanian
= . . (1 + )

b.

Jumlah penduduk (petani) yang tidak mampu di dukung oleh lahan pertanian
= (1 ). . (1 + )

c.

Luas lahan pertanian optimal


= . 1/

d.

Luas lahan pertanian tambahan untuk mendukung jumlah penduduk petani


=

1 . .

Keterangan:
f

= persentase petani di dalam populasi(0 < a < 1)

= bagian manfaat lahan yang dinikmati oleh petani atau penggarap(0 < b < 1)

4. Daya Dukung Fungsi Lindung


Daya dukung untuk fungsi lindung merupakan kemampuan suatu kawasan
dengan berbagai aktivitas penggunaan lahan di dalamnya untuk menjaga
keseimbangan ekosistem (Kawasan Lindung) pada suatu luasan wilayah tertentu.
Kawasan lindung ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan
hidup. Penggunaan lahan mempunyai fungsi lindung yanag bervariasi dan tergantung
pada kemampuan konservasi dari bentuk penggunaan lahan tersebut yang dinyatakan
dalam bentuk koefisien fungsi lindung. Berikut ini adalah formula daya dukung
wilayah lindung :
=

(1. 1 + Lgl2. 2 + Lgln. an)

DDL = Daya dukung fungsi lindung


Lgl1

= Luas guna lahan jenis 1 (ha)

= Koefisien lindung untuk guna lahan 1

LW

= Luas wilayah (ha)


Tabel 1
Penggunaan Lahan dan Nilai Koefisien lindung

No
1
2
3
4
5
6
7
8

Penggunaan Lahan
Cagar Alam
Suaka Margasatwa
Taman Wisata
Taman Buru
Hutan Lindung
Hutan Cadangan
Hutan Produksi
Perkebunan Besar

Koefisien
Lindung

No

Penggunaan Lahan

1,00
1,00
1,00
0,82
1,00
0,61
0,68
0,54

9
10
11
12
13
14
15
16

Perkebunan Rakyat
Persawahan
Ladang/ Tegalan
Pdang/Rumput
Danau/tambak
Tanaman Kayu
Permukiman
Tanah Kosong

Koefisien
Lindung
0,42
0,46
0,21
0,28
0,98
0,37
0,18
0,01

Daya dukung fungsi lindung (DDL) memiliki kisaran nilai antara 0 (minimal)
sampai 1 (maksimal). Oleh karena itu, semakin mendekati nilai 1, semakin baik
fungsi lindung yang ada dalam wilayah tersebut. Demikian pula sebaliknya, apabila
mendekati 0, fungsi lindung semakin buruk atau lebih berfungsi sebagai kawasan
budidaya.

5. Daya Dukung Bioekologi


Dalam konteks daya dukung lingkungan yang mencari keseimbanagn antara
ketersediaan (supply) dan permintaan (demand), maka terdapat tiga hal utama yang
perlu dipahami, yaitu biokapastias, jejak ekologi (ecological foodprint), dan daya
dukung lingkungan (ekologi).
a.

Biokapasitas
Aspek ketersediaan (supply) menggambarkan kemampuan ekosistem dalam
mendukung kehidupan makhluk hidup yang disebut biokapasitas. Biokapasitas
juga dapat diartikan sebagai kemampuan ekosistem menyediakan dan
memproduksi bahan alami serta menyerap materi limbah yang dihasilkan oleh
manusia (supply-side). Berikut ini adalah formulasi untuk menghitung nilai
biokapasitas :
= (0.88 )/
BKi

= Bio-Kapasitas penggunaan lahan i (Ha/kapita)

LPLi

= Luas penggunaan lahan i (Ha)

0,88

= Konstanta (12% nya digunakan untuk menjamin keberlangsungan


biodiversitas (dilihat pada tabel 2)

b.

FPi

= Faktor produksi i

JP

= Jumlah Penduduk

Jejak ekologi (ecological foodprint)


Aspek permintaan (demand) makhluk hidup digambarkan dalam istilah
jejak ekologi. Ecological footprint menghitung semua aktivitas manusia baik
yang menghasilkan barang produktif maupun limbah.

Ecological footprint

merupakan apa yang diminta oleh manusia untuk mendukung kehidupannya.


Hasil dan permintaan itu adalah berupa penggunaan barang, jasa, dan limbah
yang terbuang di alam. Berikut ini adalah formulasi untuk menghitung nilai jejak
ekologi :
=
=

=1

JEi

= Nilai jejak ekologi untuk penggunaan lahan 1 (ha)

JP

= Jumlah Penduduk (Jiwa)

Ki

= Nilai kebutuhan lahan i, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi


penduduk perkapita (ha/kapita) dengan menggunakan hasil penelitian.

EFi

= Faktor ekuivalen (dilihat pada tabel 2)

JE t

= Nilai jejak ekologi total


Hal mendasar dalam analisis jejak ekologi adalah menjawab pertanyaan

tentang berapa jumlah kebutuhan makhluk hidup yang diilustrasikan dalam


kebutuhan minimal area/orang.

c.

Daya Dukung Lingkungan (ekologi)


Daya dukung lingkungan (ekologi) yaitu perbandingan antara jejak
ekologi dengan biokapasitas. Dalam perhitungannya apabila jejak ekologi lebih
besar dibandingkan biokapasitas maka terjadi overshoot yang artinya daya
dukung wilayah telah terlampaui. Dalam kondisi ini terjadi defisit ekologi atau
berstatus tidak sustainable, sebaliknya jika tapak jejak ekologi lebih kecil, maka
terdapat sejumlah biokapasitas di alam yang tercadangkan untuk menopang
kehidupan yang akan datang atau berstatus sustainable. Formulasi untuk
memperoleh daya dukung lingkungan dengan pendekatan bio-ekologi adalah
sebagai berikut:
=

DDE

= Daya Dukung Ekologi

BK

= Bio-Kapasitas Total (Ha/Kapita)

JE

= Nilai Jejak Ekologi total

Berdasarkan rumus tersebut, maka apabila:


DDE > 1, berarti terjadi kondisi surplus, dimana ekosistem mampu mendukung
penduduk yang tinggal di dalamnya (ecological debt)
DDE < 1, berarti terjadi kondisi overshoot, dimana ekosistem tidak mampu
mendukung penduduk yang tinggal (ecological defisit)
Tabel 2
Faktor Ekuivalen dan Faktor Produksi menurut Penggunaan Lahan
No
Penggunaan Lahan
KJEi
EFi
FPi
1
Lahan pertanian
0.29
0.94
0.94
2
Hutan
0.14
1.71
1.71
3
Padang rumput/peternakan/lading
0.02
1.31
1.31
4
Perairan
0.18
0.35
0.81
5
Lahan terbangun
0.06
1.02
1.02

Hutan produksi

0.05

1.89

1.71

C. PEMBAHASAN
1. Keseimbangan Kebutuhan dan Ketersediaan Lahan
Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten terluas yang ada di
Provinsi DIY dengan luasnya sebesar 1485, 36 Ha. Luas lahan tersebut harus
dikelola dan dimanfaatkan dengan baik agar terjadi keseimbangan dalam
penggunaan ruang. Untuk memanfaatkan ruang yang baik maka diperlukan sebuah
rencana tata ruang yang baik pula, dan untuk mewujudkan sebuah rencana tata ruang
yang baik perlu perlu dilakukannya sebuah proyeksi kebutuhan ruang yang
didasarkan pada ketersediaan ruang saat ini, hal ini dianggap penting agar
terciptanya keseimbangan antara ketersediaan ruang dan permintaan kebutuhan
ruang dengan memperhatikan jumlah penduduk, kebutuhan permukiman sarana
prasarana, dan dan perekonomian. Untuk mengetahui ketersedian dan kebutuhan
ruang di Kabupaten Gunungkidul dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3
Hasil Ketersediaan dan Kebutuhan Ruang Kabupaten Gunungkidul
LW
KbR Tahun
No
Kecamatan
LBP
LLS
LH
KR
(Ha)
+10
1 Panggang
9988
623
0
2029
7336
20638.17
2 Purwosari
7176
447
70
320
6339
46107.90
3 Paliyan
5808
932
0
2072
2804
22276.94
4 Saptosari
8782
832
0
755
7195
15630.26
5 Tepus
10493
487
0
0
10006
70513.47
6 Tanjungsari
7161
518
0
0
6643
22890.43
7 Rongkop
8347
613
0
0
7734
44970.50
8 Girisubo
9456
439
0
0
9017
60494.95
9 Semanu
10839
2042
192
559
8046
60122.03
10 Ponjong
10449
1891
362
0
8196
70092.22
11 Karangmojo
8012
3397
574
925
3116
99212.60
12 Wonosari
7551
2138
82
303
5028
27215.56
13 Playen
10526
1651
125
4066
4684
88087.11
14 Patuk
7204
2122
334
691
4057
34916.67
15 Gedangsari
6814
1914
57
0
4843
42691.78
16 Nglipar
7387
2147
255
1874
3111
77293.43
17 Ngawen
4659
1265
21
0
3373
61730.40
18 Semin
7892
1961
351
123
5457
48051.39
LW = Luas Wilayah
LBP = Luas Bangunan dan Permukiman
LLS = Luas Lahan Sawah

KbR Tahun
+20
41276.35
92215.80
44553.89
31260.51
141026.93
45780.86
89941.00
120989.90
120244.05
140184.43
198425.19
54431.11
176174.22
69833.35
85383.56
154586.87
123460.79
96102.78

KR = Ketersedian Ruang
KbR = Kebutuhan Ruang

Pada Tabel 3 dapat diketahui ketersedian ruang di Kabupaten Gunungkidul


pada saat ini, dan proyeksi kebutuhan ruang untuk 10 20 tahun yang akan datang.
Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa Kecamatan Tepus, Girisubo dan Ponjong
merupakan kecamatan yang memiliki ketersediaan ruang yang masih banya, masingmasing ketersediaan ruangnya seluas 10006 m2, 9017 m2, 8196 m2. Besarnya
ketersediaan ruang dipengaruhi oleh perbandingan jumlah penduduk dengan luas
wilayah kecamatan (kepadatan penduduk suatu kecamatan) yang masih rendah, dan
berimplikasi pada luas lahan-lahan yang sudah terbangun masih sedikit. Ketiga
kecamatan tersebut juga termasuk golongan kecamatan yang masih dalam proses
perkembangan (dalam skala Kabupaten Gunungkidul), maka hal yang sangat wajar
jika pemanfaatan lahannya masih rendah. Katersediaan lahan yang masih luas dapat
dijadikan potensi untuk mengembangkan wilayah tersebut agar lebih maju, dengan
catatan memanfaatkan lahannya dilakukan secara efektif dan efisien.
Selain ketersediaan ruang, dalam Tabel 3 juga diinformasikan kebutuhan
ruang dari setiap kecamatan untuk 10 20 tahun ke belakang. Proyeksi ini dapat
membantu dalam pembuatan perencanaan pembangunan daerah. Dalam Tabel 3
dijelaskan bahwa Kecamatan Karangmojo membutuhan ruang yang lebih besar
dibanding kecamatan lainnya, hal ini disebabkan karena hingga tahun 2012 luas
lahan permukiman dan bangunannya pun paling besar dibandingkan kecamatan
lainnya yaitu mencapai 3397 Ha dari total luas wilayahnya 8012 Ha. Sedangkan
Kecamatan Paliyan merupakan kecamatan dengan nilai kebutuhan ruangnya paling
kecil diantara kecamatan lainnya, hal ini dapat tercermin dari luas lahan permukiman
dan bangunannya yang hanya mencapai 932 Ha dari total luas lahannya seluas 5808
Ha. Proyeksi kebutuhan ruang pada Tabel 3 merupakan hasil analisis dari
pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan diikuti dengan peningkatan
kebutuhan pembangunan untuk sarana dan prasarana.
Dalam hal ini teknik alokasi ruang tentunya disesuaikan dengan besarnya
daya tampung ruang. Untuk mengetahui daya tampung ruang dapat dilakukan denan
cara membandingkan ketersediaan ruang yang ada pada masa sekarang (KR) dengan
kebutuhan ruang yang telah diproyeksikan selama 20 tahun mendatang (KbR).
Dengan cara seperti itu maka akan diketahui besarnya daya tampung suatu ruang

(DTR) dan teknik alokasi ruang yang sesuai dengan memperhatikan ketentuan
sebagai berikut :
a. Jika DTR > 1, berarti ruang tersebut masih mampu menampung dan
mengakomodasi perkembangan wilayah, serta masih memungkinkan alokasi
ruang dengan cara ekstensifikasi (pembangunan secara horizontal).
b. Jika DTR < 1, berarti ruang tersebut sudah tidak mampu menampung dan
mengakomodasi perkembangan wilayah. Dalam kasus seperti ini rekomendasi
alokasi ruang sebaiknya dilakukan dengan cara intensifikasi (pembangunan
secara vertikal) atau perubahan pemanfaatan ruang.
Setelah mengetahui proyeksi kebutuhan ruang di Kabupaten Gunungkidul,
maka dapat dianalisis juga besarnya daya tampung ruang di setiap kecamatan di
Kabupaten Gunungkidul hingga 20 tahun mendatang. Untuk mengetahui besarnya
daya tampung ruang di setiap kecamatan di Kabupaten Gunungkidul dapat dilihat
pada Tabel 4 berikut ini :
Tabel 4
Daya Tampung Ruang di Kecamatan Se-Kabupaten Gunungkidul
No

Kecamatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Panggang
Purwosari
Paliyan
Saptosari
Tepus
Tanjungsari
Rongkop
Girisubo
Semanu
Ponjong
Karangmojo
Wonosari
Playen
Patuk
Gedangsari
Nglipar
Ngawen
Semin

Daya Tampung Th+10


Daya Tampung Th+20
Daya Tampung Pengembangan Daya Tampung Pengembangan
15.027 Ekstensifikasi
0.175 Intensifikasi
8.583 Ekstensifikasi
0.068 Intensifikasi
8.383 Ekstensifikasi
0.063 Intensifikasi
16.836 Ekstensifikasi
0.226 Intensifikasi
8.959 Ekstensifikasi
0.071 Intensifikasi
12.986 Ekstensifikasi
0.143 Intensifikasi
10.229 Ekstensifikasi
0.085 Intensifikasi
9.251 Ekstensifikasi
0.074 Intensifikasi
7.918 Ekstensifikasi
0.066 Intensifikasi
7.280 Ekstensifikasi
0.058 Intensifikasi
2.554 Ekstensifikasi
0.016 Intensifikasi
8.693 Ekstensifikasi
0.091 Intensifikasi
4.004 Ekstensifikasi
0.027 Intensifikasi
7.285 Ekstensifikasi
0.058 Intensifikasi
7.612 Ekstensifikasi
0.056 Intensifikasi
3.244 Ekstensifikasi
0.020 Intensifikasi
4.246 Ekstensifikasi
0.027 Intensifikasi
7.238 Ekstensifikasi
0.056 Intensifikasi

Dari Tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa pada proyeksi daya tampung
ruang 10 tahun pertama seluruh kecamatan di Kabupaten Gunung kidul memiliki
daya tampung ruang > 1 bahkan kecamatan Saptosari memiliki daya tampung
ruangnya hingga 10 tahun mendatang mencapai 16.836. Karena seluruh kecamatan
memiliki nilai daya daya dukung ruang > 1 maka apabila disesuaikan ketentuan yang
sudah dikemukaan pada awal pembahasan pengembangan yang perlu dilakukan di
Kabupaten

Gunungkidul

yaitu

secara

ekstensifikasi

(pembangunan

secara

horizontal). Pengembangan ruang secara ekstensifikasi dapat dilakukan dengan dua


cara yaitu :
a.

Teknik penjalaran (Spill Over), yaitu pengalokasian kebutuhan ruang dengan


cara kea rah horizontal pada ruang disekitar fungsi dan kawasan yang telah ada
(kearah luar).

b.

Teknik loncat katak (leap frog), yaitu pengalokasian tambahan kebutuhan ruang
dengan cara meloncat pada lokasi lain di luar fungsi dan kegiatan kawasan yang
telah ada (kearah lokasi baru).
Dari kedua teknik di atas, teknik penjalaran lebih mudah dilakukan karena

dapat menggunakan tingkat kesesuaian ruang yang telah ada, hanya tinggal
melanjutkan penggunaan ruang, dan kesesuaian existing landusenya dapat dijadikan
acuan dalam melakukan pemanfaatan ruang yang ada. Sedangkan teknik loncat
katak (pengembangan kearah lokasi baru) harus diawali dengan adanya kajian
kemampuan dan kesesuaian lahan serta aspek-aspek kelayakan lainnya, sehingga
lokasi tersebut benar-benar telah sesuai pemanfaatannya.
Dengan proyeksi daya tampung ruang 10 tahun mendatang di Kabupaten
Gunungkidul yang > 1 dan membutuhkan pengembangan secara ekstensifikasi
merupakan suatu potensi dan peluang yang jarang sekali dimiliki oleh kabupaten
lainnya. Peluang dan potensi tersebut dimaksudkan sebagai peluang untuk
pemerintah daerah agar dapat merencanakan dan melaksanakan pembangunan ruang
secara leluasa tetapi tetap memperhatikan kaidah pembangunan berkelanjutan, agar
kondisi lahan yang masih tergolong luas dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya
dan secara efisien.
Kaidah pembangunan ruang secara berkelanjutan di kabupaten Gunungkidul
sangat penting dilakukan karena mengingat pada proyeksi daya tampung ruang 20
tahun mendatang di Kabupaten Gunungkidul semua kecamatan bernilai < 1 dan
membutuhkan pengembangan secara intensifikasi. Teknik intensifikasi berarti

pengalokasian tambahan kebutuhan ruang pada alokasi ruang yang telah ada
(existing) dengan cara memadatkan (densifikasi) fungsi dan kegiatan secara lebih
intensif (pembangunan secara vertikal) atau dapat pula dilakukan dengan perubahan
pemanfaatan ruang (alih fungsi lahan).
Dengan adanya hasil proyeksi daya tampung ruang 20 tahun mendatang
dapat dijadikan sebagai suatu warning bagi pembuat kebijakan perencanaan dan
pembanguan ruang di Kabupaten Gunungkidul agar melakukan perencanaan dan
pembangunan secara bijaksana dan efisien serta menyesuakan dengan kebutuhan
penggunaan ruang dan tidak lupa memperhatikan kemungkinan hal-hal yang
mungkin akan terjadi. Walaupun secara keseluruhan pengembangan daya tampung
ruang itu sama baik proyeksi 10 tahun mendatang (ekstensifikasi) hingga 20 tahun
mendatang (intensifikasi) namun setiap kecamatan memiliki besaran nilai daya
tampung berbeda, maka pemerintah perlu memperhatikan daya tampung ruang
setiap kecamatan yang berbeda-beda itu, dan melakukan pemerataan pembangunan
agar semua wilayah di Kabupaten Gunungkidul berkembang secara bersamaan.

2. Tekanan Penduduk dan Daya Dukung Lingkungan


Apabila dihubungkan dengan daya dukung lingkungan, tekanan penduduk
terjadi ketika di daerah yang bersangkutan jumlah penduduknya telah melampaui
daya dukung wilayah tersebut. besarnya jumlah tekanan penduduk dapat diketahui
dengan menggunakan beberapa variabel jumlah penduduk yang bergantung pada
pertanian, luas lahan pertanian yang diusahakan, standar hidup yang diinginkan dan
pendapatan yang bersumber bukan dari pertanian. Tekanan penduduk terhadap lahan
pertanian di suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh besarnya Z (luas lahan yang
diperlukan untuk mendukung kehidupan seorang petani pada tingkat hidup yang
diinginkan).

Tekanan

penduduk

terhadap

lahan

dapat

diturunkan

dengan

memperbesar nilai Z, demikian pula sebaliknya. Berikut ini akan disajikan besarnya
tekanan penduduk dan nilai Z pada setiap kecamatan di Kabupaten Gunungkidul :
Tabel 5
Tekanan Penduduk dan Nilai Z Setiap Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul
No Kecamatan
TP
Z
No Kecamatan
TP
Z
1 Panggang
0.03
0.010 10 Ponjong
0.04 0.010
2 Purwosari
0.03
0.014 11 Karangmojo
0.12 0.012
3 Paliyan
0.12
0.017 12 Wonosari
0.09 0.013
4 Saptosari
0.04
0.011 13 Playen
0.07 0.010

5
6
7
8
9

Tepus
Tanjungsari
Rongkop
Girisubo
Semanu

0.03
0.04
0.03
0.02
0.04

0.010
0.014
0.012
0.011
0.009

14
15
16
17
18

Patuk
Gedangsari
Nglipar
Ngawen
Semin

0.06
0.08
0.11
0.15
0.08

0.014
0.015
0.014
0.021
0.013

Dari Tabel 5 dapat diketahui besaran tekanan penduduk pada setiap


kecamatan di Kabupaten Gunungkidul. Secara umum lahan pertanian di Kabupaten
Gunungkidul masih mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya dan
mendukung segala aktivitas masyarakatnya. Namun ada beberapa kecamatan yang
masih memiliki potensi lahan pertanian yang mampu untuk diusahakan yaitu
kecamatan yang memiliki nilai tekanan penduduk paling kecil. Kecamatan dengan
nilai tekanan penduduk paling kecil adalah Kecamatan Girisubo sebesar 0.02,
kemudian Kecamatan Panggang, Purwosari, Tepus, dan Rongkop dengan nilai
tekanan penduduk sebesar 0.03. Nilai tekanan penduduk yang kecil menandakan
bahwa di Kecamatan Girisubo, Panggang, Purwosari, Tepus, dan Rongkop masih
memiliki lahan pertanian yang berpotensi besar untuk diusahakan.
Berbeda dengan besaran tekanan penduduk, nilai Z merupakan luas lahan
yang diperlukan untuk mendukung kehidupan seorang petani pada tingkat hidup yang
diinginkan. Besaran nilai Z dapat mempengaruhi besaran tekanan penduduk, apabila
diinginkan nilai z yang tinggi maka dibutuhkan penurunan tekanan penduduk,
begitupun sebaliknya. Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa Kecamatan Ngawen dan
Paliyan memiliki nilai Z yang besar yaitu sebesar 0.021 dan 0.017, hal ini
dipengaruhi oleh besaran tekanan penduduk yang cukup rendah. Nilai Z yang besar
di Kecamatan Ngawen dan Paliyan menunjukan bahwa di kecamatan tersebut luas
lahan pertaniannya masih mampu mendukung kegiatan petani di kecamatan tersebut.
Setelah mengetahui nilai TP dan Z masing-masing Kecamatan di Kabupaten
Gunungkidul, selanjutnya dapat diketahui besarnya daya dukung lingkungan.
Besarnya daya dukung lingkungan adalah 1/TP. Semakin tinggi nilai daya dukung
lingkungan, semakin baik kondisi lingkungan suatu wilayah. Selain nilai daya
dukung lingkungan (DDL), dapat diketahui juga besaran nilai keseimbangan
penduduk dan sumberdaya yang terdiri dari JPPO, JPPT, LLPO, dan LLPT. Berikut
ini akan disajikan data nilai daya dukung lingkungan nilai keseimbangan antara
penduduk dan sumberdaya dari setiap kecamatan di Kabupaten Gunungkidul :

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Tabel 6
Daya Dukung Lingkungan dan Keseimbangan Penduduk dengan Sumberdaya
Setiap Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul
Kecamatan
DDL
JPPO
JPPT
LLPO
LLPT
Panggang
39.84
937017.09
-913500.36
-255093.20
-6402.19
Purwosari
31.88
633640.80
-613764.48
-190864.19
-5987.11
Paliyan
8.16
216223.54
-189740.15
-18670.67
-2286.81
Saptosari
24.31
871927.14
-836065.14
-162028.12
-6664.15
Tepus
34.08 1183610.40
-1148876.86
-261174.95
-7664.29
Tanjungsari
24.87
648582.00
-622502.92
-151334.63
-6085.07
Rongkop
29.98
828380.13
-800745.12
-201294.56
-6715.25
Girisubo
50.09 1160791.54
-1137616.77
-421818.28
-8421.44
Semanu
24.34 1214897.06
-1164984.65
-183130.21
-7523.66
Ponjong
22.45 1092517.59
-1043859.24
-157013.28
-6993.03
Karangmojo
8.16
377136.29
-330900.49
-23581.67
-2891.04
Wonosari
10.64
588852.15
-533500.77
-45098.25
-4239.18
Playen
13.33
657273.51
-607979.08
-53910.27
-4043.18
Patuk
16.61
399822.00
-375750.21
-60643.17
-3651.10
Gedangsari
12.09
425582.97
-390382.53
-48486.68
-4010.39
Nglipar
9.35
288093.00
-257269.74
-22786.24
-2437.92
Ngawen
6.49
207991.07
-175932.50
-17149.52
-2643.33
Semin
13.32
625948.34
-578948.55
-68390.13
-5135.12

DDL = Daya Dukung Lingkungan


JPPO = Jumlah Penduduk (Petani) Optimal Mampu
JPPT = Jumlah Penduduk (Petani) Tidak Mampu
LLPO = Luas Lahan Pertanian Optimal
LLPT = Luas Lahan Pertanian Tambahan

Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa nilai daya dukung lingkungan yang paling
besar dimiliki oleh Kecamatan Girisubo, Panggang, dan Tepus dengan nilai daya
dukungnya sebesar 50.9, 39.84, dan 34.08. Nilai daya dukung lingkungan berbanding
terbalik dengan tekanan penduduk, semakin tinggi tekanan penduduk, semakin rendah
daya dukung lingkungan. Interpretasi tersebut diperkuat dengan nilai tekanan
penduduk yang rendah pada kecamatan tersebut yang terdapat pada Tabel 5.
Selain nilai daya dukung, melalui Tabel 6 juga dapat diketahui besaran nilai
JPPO, JPPT, LLPO, dan LLPT setiap kecamatan di Kabupaten Gunungkidul. Daya
dukung lingkungan yang besar pada Kecamatan Girisubo, Tepus dan Panggang
didukung juga oleh nilai JPPO yang besar, hal tersebut sangatlah sesuai antara
perbandingan daya dukung lingkungan yang besar dengan jumlah penduduk petani
yang optimal mampu. Untuk nilai JPPT, LLPO, dan LLPT secara keseluruhan bernilai
negatif. Nilai tersebut berarti di Kabupaten Gunungkidul tidak memiliki penduduk

petani yang tidak mampu, dan tidak membutuhkan lahan pertanian tambahan, karena
secara garis umum perbandingan jumlah petani dan luas lahan pertaniannya sudah
seimbang.

3. Daya Dukung Indeks Lindung


Penggunaan lahan mempunyai fungsi lindung yanag bervariasi dan
tergantung pada kemampuan konservasi dari bentuk penggunaan lahan tersebut yang
dinyatakan dalam bentuk koefisien fungsi lindung. Pemanfaatan lahan di Kabupaten
Gunungkidul

disesuaikan

dengan

kebutuhan,

dan

tidak

terluput

untuk

mempertimbangkan kawasan lindung sebagai penyeimbang seluruh kegiatan


pemanfaatan lahan agar tetap lestari walaupun terus dimanfaatkan. Nilai indeks
lindung berfungsi untuk mengetahui kualitas dari fungsi lindung pada kawasan
tersebut. Berikut ini akan disajikan tabel Daya dukung Indeks Lindung di Kabupaten
Gunungkidul :
Tabel 7
Daya Dukung Indeks Lindung di Kabupaten Gunungkidul
Indeks
Indeks
No Kecamatan
No Kecamatan
Lindung
Lindung
1 Panggang
0.23 10 Ponjong
0.11
2 Purwosari
0.19 11 Karangmojo
0.17
3 Paliyan
0.24 12 Wonosari
0.12
4 Saptosari
0.14 13 Playen
0.26
5 Tepus
0.22 14 Patuk
0.15
6 Tanjungsari
0.22 15 Gedangsari
0.12
7 Rongkop
0.22 16 Nglipar
0.21
8 Girisubo
0.24 17 Ngawen
0.14
9 Semanu
0.13 18 Semin
0.14
Dari Tabel dapat diketahui nilai indeks lindung dari setiap kecamatan di
Kabupaten Gunungkidul. Nilai indeks lindung tersebut kemudian diinterpretasi
dengan ketentuan kriteria nilai daya dukung fungsi lindung bahwa daya dukung
fungsi lindung (DDL) memiliki kisaran nilai antara 0 (minimal) sampai 1
(maksimal). Oleh karena itu, semakin mendekati nilai 1, semakin baik fungsi
lindung yang ada dalam wilayah tersebut. Demikian pula sebaliknya, apabila
mendekati 0, fungsi lindung semakin buruk atau lebih berfungsi sebagai kawasan
budidaya.

Nilai indeks lindung kecamatan di Kabupaten Gunungkidul berkisar antara


0.11 0.24, hal demikian berarti fungsi lindung Kabupaten Gunungkidul masih
tergolong buruk. Kecamatan yang memiliki fungsi lindung paling buruk yaitu
Kecamatan Ponjong dan Wonosari, hal demikian terjadi karena mayoritas
penggunaan lahannya untuk area terbangun seperti pemikiman dan pembangunan
fasilitas-fasilitas penunjang aktivitas sehari-hari. Nilai indek lindung di setiap
kecamatan di Kabupaten Gunungkidul disebabkan oleh besarnya kepemilikan hutan
rakyat yang biasa digunakan sebagai hutan produksi dan tidak memperhatikan nilai
lindungnya, tetapi lebih mementingkan nilai budidayanya yang dianggap akan
membantu dalam menambah penghasilan masyarakat sekitarnya.

4. Daya Dukung Bioekologi


a. Biokapasitas dan Jejak Ekologi (Ecological Foodprint)
Aspek ketersediaan (supply) menggambarkan kemampuan ekosistem
dalam mendukung kehidupan makhluk hidup yang disebut biokapasitas.
Biokapasitas juga dapat diartikan sebagai kemampuan ekosistem menyediakan
dan memproduksi bahan alami serta menyerap materi limbah yang dihasilkan
oleh manusia (supply-side). Sedangkan aspek permintaan (demand) makhluk
hidup digambarkan dalam istilah jejak ekologi. Ecological footprint menghitung
semua aktivitas manusia baik yang menghasilkan barang produktif maupun
limbah. Ecological footprint merupakan apa yang diminta oleh manusia untuk
mendukung kehidupannya. Berikut ini akan disajikan besar nilai indeks
biokapasitas setiap kecamatan di Kabupaten Gunungkidul :
Tabel 8
Nilai Indeks Biokapasitas dan Jejak Ekologi di Kabupaten Gunungkidul
No
Kecamatan
Biokapasitas
Jejak Ekologi
1 Panggang
0.40
0.76
2 Purwosari
0.35
0.69
3 Paliyan
0.20
0.69
4 Saptosari
0.22
0.60
5 Tepus
0.33
0.52
6 Tanjungsari
0.31
0.45
7 Rongkop
0.31
0.52
8 Girisubo
0.42
0.45
9 Semanu
0.17
0.69
10 Ponjong
0.16
0.52

11
12
13
14
15
16
17
18

Karangmojo
Wonosari
Playen
Patuk
Gedangsari
Nglipar
Ngawen
Semin
Total

0.14
0.09
0.20
0.22
0.15
0.23
0.12
0.13
4.14

0.76
0.76
0.69
0.69
0.52
0.76
0.45
0.69
11.22

Dari Tabel 8 dapat diketahui secara umum Kabupaten Gunungkidul


memiliki ketersediaan sebesar 4.14 Ha daerah produktif biologis per kapita, dan
jejek ekologis (tingkat penggunaan daerah produktif biologis) adalah sebesar
11.22 Ha per kapita. Ini berarti penduduk di Kabupaten Gunungkidul sudah
menggunakan lebih banyak dari yang tersedia. Konsekuensi yang harus diterima
adalah meningkatnya degradasi lingkungan seperti lahan kritis, atau lahan yang
terpolusi berat sehingga tidak dapat berfungsi secara biologis.

b. Daya Dukung Lingkungan (Bioekologi)


Daya dukung lingkungan (Bioekologi) yaitu perbandingan antara jejak
ekologi dengan biokapasitas. Dalam perhitungannya apabila jejak ekologi lebih
besar dibandingkan biokapasitas maka terjadi overshoot yang artinya daya
dukung wilayah telah terlampaui. Berikut ini akan disajikan data nilai indeks
bioekologi Kabupaten Gunungkidul :
Tabel 9
Nilai Indeks Daya Dukung Bioekologi Kabupaten Gunungkidul
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Kecamatan
Panggang
Purwosari
Paliyan
Saptosari
Tepus
Tanjungsari
Rongkop
Girisubo
Semanu
Ponjong
Karangmojo

Biokapasitas Jejak Ekologi


0.40
0.76
0.35
0.69
0.20
0.69
0.22
0.60
0.33
0.52
0.31
0.45
0.31
0.52
0.42
0.45
0.17
0.69
0.16
0.52
0.14
0.76

DDB
0.53
0.51
0.29
0.36
0.64
0.67
0.60
0.92
0.24
0.32
0.19

JE-BK
0.35
0.34
0.49
0.38
0.19
0.15
0.21
0.04
0.52
0.35
0.62

S/D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D

12
13
14
15
16
17
18

Wonosari
Playen
Patuk
Gedangsari
Nglipar
Ngawen
Semin
Total

0.09
0.20
0.22
0.15
0.23
0.12
0.13
4.14

0.76
0.69
0.69
0.52
0.76
0.45
0.69
11.22

0.12
0.29
0.31
0.29
0.30
0.26
0.18
0.37

0.67
0.50
0.48
0.37
0.53
0.34
0.57
-7.09

D
D
D
D
D
D
D

Berdasarkan data pada Tabel 9 dapat diketahui bahwa seluruh kecamatan


di Kabupaten Gunungkidul memiliki nilai indeks jejak ekologis lebih besar dari
pada biokapasitas. Hal ini menunjukkan bahwa daya dukung bioekologi di
Kabupaten Gunungkidul telah terlampaui sehingga terjadi overshoot. Dalam
kondisi ini mencerminkan bahwa Kabupaten Gunungkidul telah terjadi defisit
ekologi dan berstatus tidak sustainable. Hal ini dibuktikan bahwa pada
perhitungan diatas nilai daya dukung seluruh kecamatan di Kabupaten
Gunungkidul bernilai 0.37 atau berarti kurang dari 1.
Pada tabel 9 juga menunjukkan bahwa setiap penduduk di Kabupaten
Gunungkidul telah menggunakan lahan untuk konsumsi produk pangan dan
energi sebesar 11.22 Ha. Pada saat yang sama kemampuan lahan menyediakan
bioproduktif untuk menopang kehidupan tersebut sebesar 4.14 Ha/orang.
Keadaan ini mengindikasikan bahwa kapasitas biologis lahan-lahan di Kabupaten
Gunungkidul dalam menyediakan produk-produk yang dikonsumsi oleh
penduduk sudah terlampaui yaitu -7.09 Ha/ Orang.

DAFTAR PUSTAKA
Mutaali, Luthfi. (2012). Daya Dukung Lingkungan Untuk Perencanaan Pengembangan
Wilayah. Yogyakarta : BPFG.
Mutaali, Luthfi. (2013). Penataan Ruang Wilayah dan Kota. Yogyakarta : BPFG.