Anda di halaman 1dari 24

BAB I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Kota merupakan salah satu bagian dari wilayah yang sangat penting, di mana kota merupakan pusat segala aktivitas yang ada di sebuah wilayah serta merupakan pusat- pusat kebudayaan dan tempat berkembangnya peradaban. Kota selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, perkembangan dalam hal ini menyangkut aspek-aspek politik, sosial, budaya, teknologi, ekonomi dan fisik. Menurut Bhudy Tjahyati Soegiyoko (1999) kota sebagai pusat pelayanan jasa, produksi, distribusi, serta pintu gerbang atau simpul transportasi bagi kawasan permukiman dan wilayah produksi sekitarnya. Kota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta menjadikannya sebagai Kota metropolis. Memiliki predikat sebagai kota metropolitan (metropolitan city) juga mengalami berbagai permasalahan yang kompleks dan memerlukan antisipasi untuk mengatasinya. Dengan adanya tuntutan menjadikan kota sebagai menjadikan tempat yang layak huni (liveable city) bagi penduduknya dengan permasalahan yang ada maka dibutuhkan perencanaan guna menyelesaikan permasalahan tersebut. Perencanaan sendiri merupakan suatu proses berkelanjutan yang memperlihatkan pengambilan-pengambilan keputusan dan pemilihan alternatif untuk mencapai tujuan yang lebih baik di masa mendatang, serta meminimalisir masalah yang timbul (Diana Conyers dan Peter Hall, 1984). Kota Semarang dalam perkembangganya telah memiliki produk rencana secara jangka panjang (RPJP), jangka menengah (RPJM) dan jangka pendek(RPJD) baik secara makro maupun secara mikro (RDTRK). Namun pada kenyataannya rencana tersebut belum dapat diterapkan secara keseluruhan sehinga masalah seperti kemacetan lalulintas, banjir, polusi udara dan kawasan kumuh masih dapat dijumpai. Seharusnya dengan penerapan rencana tata ruang dapat meminimalisir permasalahan-permasalahan perkotaan. RDTRK di Kota Semarang telah melakukan perencanaan pada lingkup mikro yaitu Kecamatan. Dengan perencanaan di tingkat kecamatan dapat diketahui permasalahan dan potensi secara detail sehingga dapat memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan sebuah kota. Wilayah ini sering terabaikan dalam pembangunannya padahal dengan karakteristik yang dimiliki seharusnya setiap kecamatan mampu memberikan sumbangan yang besar bagi sebuah kota. Diawali dengan memahami wilayah kecamatan diharapkan dapat menjadi pengalaman menarik dalam memahami suatu kota, ditinjau dari aspek perencanaan tata ruang dengan

melihat kondisi eksisting kecamatan, yaitu memahami karakteristik kecamatan, perencanaan dan permasalahan kecamatan. Tugas ini memiliki wilayah studi Kecamatan Ngaliyan yang merupakan bagian dari administratif Kota Semarang. Dengan memahami Kecamatan Ngaliyan secara keseluruhan diharapkan mampu memahami Kota Semarang secara keseluruhan. 1.2. Rumusan Masalah Masalah perkotaan mendorong terwujudnya lingkungan hidup perkotaan yang tidak kondusif dan tidak sehat yang akan memperburuk kondisi perkotaan. Masalah perkotaan yang dari hari ke hari semakin serius adalah masalah transportasi. Kepadatan lalu lintas dan kemacetan lalu lintas telah menjadi sumber stress kehidupan. Transportasi juga menimbulkan polusi suara. Hasil penelitian pada beberapa kota menunjukkan bahwa kebisingan yang ditimbulkan oleh suara kendaraan naik menjadi dua kali lipat setiap 10 tahun. Kecamatan Ngaliyan merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang. Kecamatan Ngaliyan terletak di bagian barat Kota Semarang. Kecamatan Ngaliyan berada pada posisi yang strategis karena menjadi penghubung antara Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Selain itu, lokasinya yang cukup tinggi menjadikan wilayah ini bebas banjir dan sangat cocok untuk dijadikan kawasan hunian. Kecamatan Ngaliyan dulu dikenal sebagai sentra produksi Jambu Batu (klutuk) karena hampir seluruh area pertanian di sana merupakan kebun jambu. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, area kebun jambu kini sebagian besar telah beralih fungsi menjadi perumahan. Pertumbuhan permukiman penduduk menyebabkan meningkatnya pelayanan publik seiring berjalannya waktu. Fasilitas publik di Kecamatan Ngaliyan bisa dibilang relatif baik. Mulai dari pasar tradisional, sarana peribadatan (masjid, gereja), terminal angkutan umum, sekolah umum, perumahan dan banyak lagi. Namun, Kecamatan Ngaliyan mengalami persoalan kemacetan yang parah. Sejumlah titik, seperti di Jrakah dan Pertigaan Tol depan STEKOM, adalah titik kemacetan. Masalah lalu lintas, daya beli masyarakat terhadap mobil, sepeda motor, dan kendaraan jenis lainnya meningkat, sehingga beberapa ruas jalan di perkotaan menjadi padat dan menyebabkan kemacetan, bahkan rawan kecelakaan maupun pelanggaran. Masalah kepadatan lalu lintas juga menyebabkan terjadinya pelebaran jalan yang terus-menerus dan semakin rusaknya beberapa jalan aspal seperti jalan menjadi berlubang. Hal ini terjadi karena muatan kendaraan yang terlalu berat, apalagi Kecamatan Ngaliyan dilewati jalan arteri primer, sehingga berbagai jenis kendaraan dengan muatan berat sering melintasi kecamatan ini. Persoalan kemacetan menjadi semakin serius dan dapat memicu munculnya masalah-masalah baru apabila tidak segera diselesaikan.

1.3.

Tujuan dan Sasaran

1.3.1. Tujuan

Tujuan dari laporan ini adalah untuk mengetahui keadaan kota kecamatan di wilayah

Kecamatan Ngaliyan, Semarang Jawa Tengah melalui analisis permasalahan kota kecamatan dan sumber permasalahan secara detail, serta menganalisis perencanaan pembangunan dan strategi perencanaan pembangunan kota kecamatan berdasar sumber yang sudah ada, serta dilengkapi dengan informasi lain dari berbagai sumber terkait.

1.3.2. Sasaran

Berdasarkan tujuan tersebut maka sasaran dalam penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :

1. Menentukan ruang lingkup wilayah studi secara makro dan mikro

2. Mengidentifikasi sejarah perkembangan Kecamatan Ngaliyan

3. Mengidentifikasi aspek fisik Kecamatan Ngaliyan berdasarkan kondisi topografi, litologi, klimatologi serta prnggunaan lahan.

4. Mengidentifikasi aspek non fisik Kecamatan Ngaliyan berdasarkan kondisi kependudukan serta perekonomiannya.

5. Menganalisis potensi dan permasalahan Kecamatan Ngaliyan

6. Menganalisis perencanaan pembangunan Kecamatan Ngaliyan

7. Strategi Perencanaan Pembangunan Kecamatan Ngaliyan

1.4. Ruang Lingkup Wilayah

1.4.1. Ruang Lingkup Wilayah Makro

Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang terdiri dari 16 kecamatan dan 177 kelurahan dengan luas wilayah keseluruhan 373,7 km 2 . Secara geografis

wilayah Kota Semarang berada antara 6 0 50’—7 0 10’ LS dan 109 0 35’—110 0 50’ BT dengan luas wilayah 373,70 km 2 . Berikut ini batas administrasi Kota Semarang,

Utara

Selatan : Kabupaten Semarang,

: Laut Jawa,

Timur

: Kabupaten Demak, dan

Barat

: Kabupaten Kendal.

1.4.2.

Ruang Lingkup Wilayah Mikro

Kecamatan Ngaliyan merupakan salah satu kecamatan yang terletak paling barat dari Kota Semarang. Kecamatan ini memiliki luas wilayah 3.989,70Ha yang terdiri atas 10 kelurahan. Berikut batas administrasi Kecamatan Ngaliyan,

Utara : Kecamatan Tugu,

Timur : Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Gajah Mungkur, dan Kecamatan Gunung

Pati

Barat : Kabupaten Kendal, dan

Selatan : Kecamatan Mijen dan Kecamatan Gunung Pati.

1.5. Kerangka Pikir

Pengumpulan Data

Kecamatan Gunung Pati. 1.5. Kerangka Pikir Pengumpulan Data INPUT Data Primer:  Observasi  Dokumentasi Data

INPUT

Gunung Pati. 1.5. Kerangka Pikir Pengumpulan Data INPUT Data Primer:  Observasi  Dokumentasi Data
Gunung Pati. 1.5. Kerangka Pikir Pengumpulan Data INPUT Data Primer:  Observasi  Dokumentasi Data

Data Primer:

Observasi

Dokumentasi

Data Sekunder:

BPS

Kantor Kecamatan

Data Sekunder:  BPS  Kantor Kecamatan Identifikasi Karakteristik Kota Kecamatan Aspek Fisik: 

Identifikasi Karakteristik Kota Kecamatan

Kantor Kecamatan Identifikasi Karakteristik Kota Kecamatan Aspek Fisik:  Topografi  Litologi 
Kantor Kecamatan Identifikasi Karakteristik Kota Kecamatan Aspek Fisik:  Topografi  Litologi 
Kantor Kecamatan Identifikasi Karakteristik Kota Kecamatan Aspek Fisik:  Topografi  Litologi 

Aspek Fisik:

Topografi

Litologi

Klimatologi

Tata Guna

 Litologi  Klimatologi  Tata Guna Aspek Sejarah Kota Aspek Fisik : Non 

Aspek Sejarah

Kota

Aspek

Fisik :

Non

Kependudukan

Perekonomian

Fisik : Non  Kependudukan  Perekonomian Analisis Potensi dan Permasalahan Analisis Perencanaan
Analisis Potensi dan Permasalahan Analisis Perencanaan Pembangunan PROSES Strategi Perencanaan Pembangunan Kota
Analisis Potensi dan
Permasalahan
Analisis Perencanaan
Pembangunan
PROSES
Strategi
Perencanaan
Pembangunan
Kota
Kecamatan
OUTPUT

1.6. Sistematika Penulisan Laporan ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang, perumusan masalah, tujuan, sasaran, ruang lingkup wilayah, ruang lingkup materi, Kerangka pikir, serta sistematika penulisan laporan tugas besar ini. BAB II GAMBARAN UMUM KECAMATAN NGALIYAN Berisi identifikasi karakteristik Kecamatan Ngaliyan berdasarkan pada berbagai aspek, seperti sejarah dan letak geografis Kecamatan Ngaliyan; perkembangan Kecamatan Ngaliyan; karakteristik Kecamatan Ngaliyan, baik kondisi fisik maupun non fisik serta isu dan permasalahan yang ada di Kecamatan Ngaliyan. BAB III ANALISIS POTENSI DAN KENDALA KECAMATAN NGALIYAN Berisi tentang identifikasi baik potensi maupun permasalahan yang di Kecamatan Ngaliyan mencakup kondisi fisik alamiah, penggunaan lahan, sarana, dan prasarana serta kependudukan dan perekonomian di Kecamatan Ngaliyan, serta penggunaan analisis SWOT untuk mengetahui potensi dan masalah yang ada. BAB V KONSEP DAN STRATEGI PERENCANAAN KECAMATAN NGALIYAN Berisi tentang konsep dan strategi perencanaan untuk Kecamatan Ngaliyan yang bertujuan untuk mengembangkan Kecamatan Ngaliyan tersebut. BAB VI KESIMPULAN Berisi tentang kesimpulan, saran atau rekomendasi, dan strategi Kecamatan Ngaliyan berdasarkan pada hasil analisis.

BAB II Gambaran Umum Kecamatan Ngaliyan

2.1. Sejarah Kecamatan dan Letak Geografis Kota dari awal pembentukannya akan senantiasa berkembang. Apabila dibiarkan begitu saja, maka akan berkembang ke segala arah sehingga tidak teratur. Ketidakteraturan dalam perkembangan kota dapat memicu berbagai konflik, oleh karena itu dibutuhkan perencanaan agar perkembangan kota dapat dikendalikan sesuai dengan perencanaan yang disusun atas kondisi fisik dan non fisik daerah tersebut. Perkembangan kota dipengaruhi oleh faktor alam, kependudukan dan budaya yang ada di wilayah tersebut. Faktor alam, relatif statis karena segala bentuk perubahan yang terjadi

berlangsung dalam waktu yang relatif lama, faktor kependudukan, sangat dinamis terutama apabila ditinjau dari kuantitasnya dan faktor budaya, yaitu tingkat kepandaian manusia dalam mengelola lingkungan kehidupannya (tingkat penguasaan teknologi). Lewis Mumford dalam teorinya mengklasifikasikan perkembangan kota dalam tahap-tahap seperti berikut:

a. Neopolis, di mana suatu kota menempati suatu pusat daerah pertanian dengan adat istiadat bercorak pedesaan dan serba sederhana.

b. Polis, di mana suatu kota merupakan pusat kehidupan keagamaan dan pemerintahan.

c. Metropolis, dalam kota besar ini telah terjadi pertemuan orang dari berbagai bangsa untuk tujuan dagang dan saling bertukar kebudayaan. Terjadi perkawinan campuran antar bangsa maupun antar ras sehingga menyebabkan penduduk kota heterogen. Perkembangan kota sudah mengarah ke sektor industri.

d. Megapolis, merupakan peningkatan dari kota metropolis. Terjadi gejala sosipatologis, kekuasaan dan kekayaan semakin menonjol dan kemiskinan yang semakin meluas.

e. Tyranopolis, kota besar ini dilanda kepincangan-kepincangan sosial yang berupa korupsi dan kemerosotan moral. Kaum miskin merupakan kekuatan yang tak dapat diremehkan.

f. Nekropolis, merupakan tahap terakhir dari perkembangan kota. Kota akan mengalami kemunduran hingga pada akhirnya menjadi kota mati (nekros/bangkai).

Menurut Zahnd (1999:24-25), secara teoritis terdapat tiga cara dalam perkembangan dasar suatu kota, yaitu:

a. Perkembangan horizontal, di mana perkembangan kota mengarah dan meluas ke luar. Artinya, daerah bertambah, sedangkan ketinggian serta kualitas lahan terbangun (coverage) tetap sama.

b. Perkembangan vertical, dengan perkembangan kota yang mengarah ke atas.

Artinya, pembangunan dan kualitas lahan terbangun tetap sama, sedangkan ketinggian bangunan yang bertambah.

c. Perkembangan insterstisial dengan arah perkembangannya ke dalam. Artinya, luas daerah dan ketinggian bangunan rata-rata tetap sama, sedangkan kuantitas lahan terbangun bertambah. Dalam sebuah kota, terdapat wilayah kecamatan yang secara administratif suatu wilayah di bawah kota yang memiliki desa atau perkotaan. Biasanya daerah kecamatan ini, terdapat kelurahan dan pedesaan. Kecamatan Ngaliyan merupakan salah satu kecamatan yang berada di bagian barat Kota Semarang Jawa Tengah. yang terdiri atas 10 kelurahan yaitu Kelurahan Podorejo, Wates, Beringin, Ngaliyan, Bamban Kerep, Kalipancur, Purwoyoso, Tambak Aji, Gondoriyo, Wonosari. Kecamatan Ngaliyan merupakan salah satu kecamatan yang terletak paling barat dari Kota Semarang, memiliki luas wilayah 3.989,70 Ha dengan batas

administrasi:

Utara : Kecamatan Tugu

Timur : Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Gajah Mungkur, dan Kecamatan Gunung Pati

Barat : Kabupaten Kendal

Selatan : Kecamatan Mijen dan Kecamatan Gunung Pati

Ngaliyan wilayah bagian Barat kota Semarang, yang dahulu tidak banyak orang yang meliriknya tetapi kini seakan menjadi kota baru yang memikat. Pada saat sekarang jalan Ngaliyan juga sudah dilebarkan sehingga menjadi jalan alternatif menuju Boja. Kenyamanan dan minat masyarakat untuk tinggal di kawasan Ngaliyan semakin bertambah karena banyak pilihan untuk memilih hunian yang diinginkan. Terdapatnya kawasan pertokoan seperti ruko, mall, minimarket serta pasar-pasar tradisional yang memudahkan bagi masyarakat untuk mencari barang-barang kebutuhan sehari-hari. Berbagai fasilitas transportasi seperti angkutan umum dan ojek yang mudah ditemui pada daerah tersebut.

2.2. Perkembangan Kecamatan Ngaliyan Kecamatan Ngaliyan adalah sebuah kecamatan yang terletak di sebelah barat Kota Semarang dan berbatasan dengan kecamatan Mijen, Semarang Barat dan Tugu. Sebelum

menjadi sebuah Kecamatan sendiri, Ngaliyan merupakan Kelurahan di dalam wilayah Kecamatan Tugu. Namun, melihat potensi pengembangan dan luas wilayahnya, maka akhirnya Ngaliyan berubah menjadi sebuah Kecamatan. Ngaliyan yang berada di sebelah barat pusat kota Semarang mempunyai posisi yang strategis karena menjadi penghubung antara Semarang dan Kendal. Selain itu, lokasinya yang cukup tinggi menjadikan wilayah ini bebas banjir dan sangat cocok untuk dijadikan kawasan hunian. Perkembangan Kecamatan Ngaliyan dari tahun ke tahun cukup berubah sangat drastis. Pada tahun 1999 Ngaliyan masih menjadi kawasan hijau yang memiliki banyak pepohonan, namun perubahan mulai terasa pada tahun 2005. Di mana mulai berkurangnya ruang terbuka hijau atau tanah lapang yang kemudian dijadikan bangunan, hal ini dilihat melalui peta citra dari google earth pada tahun 2002 hingga tahun 2006 yang sudah menampakkan perubahan. Kecamatan Ngaliyan pada zaman dulu dikenal sebagai sebuah kecamatan yang terkenal dengan sentra produksi buah jambu batu (jambu klutuk), di mana seluruh pertanian yang ada

di sana merupakan perkebunan jambu. Namun seiring dengan berkembangnya sebuah wilayah,

Kecamatan Ngaliyan perlahan-lahan berubah menjadi sebuah wilayah yang dipenuhi dengan

bangunan yang dijadikan sebagai permukiman. Akan tetapi tidak semua lahan dijadikan sebagai permukiman, sebagian besar pertanian di Kecamatan Ngaliyan tetap dipertahankan, karena hal tersebut termasuk dalam cara untuk memenuhi standar 30% ruang terbuka hijau yang dimiliki

di setiap wilayah. Berikut adalah peta time series dari tahun 2002 hingga tahun 2013:

adalah peta time series dari tahun 2002 hingga tahun 2013: Tahun 2002 Tahun 2008 Tahun 2005

Tahun 2002

peta time series dari tahun 2002 hingga tahun 2013: Tahun 2002 Tahun 2008 Tahun 2005 Tahun

Tahun 2008

peta time series dari tahun 2002 hingga tahun 2013: Tahun 2002 Tahun 2008 Tahun 2005 Tahun
peta time series dari tahun 2002 hingga tahun 2013: Tahun 2002 Tahun 2008 Tahun 2005 Tahun

Tahun 2005

peta time series dari tahun 2002 hingga tahun 2013: Tahun 2002 Tahun 2008 Tahun 2005 Tahun

Tahun 2010

Tahun 2006

peta time series dari tahun 2002 hingga tahun 2013: Tahun 2002 Tahun 2008 Tahun 2005 Tahun

Tahun 2013

Sumber: Google Earth

Gambar 2.1 Foto Udara Perkembangan Kecamatan Ngaliyan Tahun 2002-2013

Kemudian perkembangan yang lainnya ditunjukkan dengan diperbesarnya jalan utama yang membelah sepanjang kecamatan. Akses untuk kendaraan besar yang masuk menjadi lebih mudah. Terutama jika keluar dari Kecamatan Ngaliyan dan menuju tengah kota harus melalui jalur Pantura, di mana jalan tersebut adalah jalur utama bagi transportasi kendaraan besar melalui pantai utara Pulau Jawa. Selain perkembangan fisik eksisting yang semakin berkembang pesat, Kecamatan Ngaliyan sekarang juga telah mempunyai berbagai macam fasilitas yang hampir lengkap. Mulai dari adanya pasar, minimarket, pasar swalayan, masjid besar, kantor polisi, kantor pos, cafe, warung makan, rumah makan, ruko, warnet, kolam renang, bengkel dan masih banyak fasilitas lainnya. 2.3. Karakteristik Kecamatan Ngaliyan 2.3.1. Kondisi Fisik Kecamatan Ngaliyan

2.3.1.1. Kondisi Fisik Alamiah

Dilihat dari kondisi fisiknya, Kecamatan Ngaliyan memiliki karakteristik sebagai berikut.

2.3.1.1.1. Topografi

Menurut Djauhari Noor (2009), topografi adalah kajian atau penguraian yang terperinci mengenai keadaan muka bumi pada suatu daerah. Topografi berdasarkan karakteristik yang berunsur pada kemiringan dan ketinggian. Wilayah Kecamatan Ngaliyan memiliki ketinggian 100-250 mdpl sehingga kategori sebagai dataran tinggi. Kelerengan tertinggi Kecamatan Ngaliyan 25-40%, namun sebagian besar wilayahnya memiliki kererengan 2-15% dan 15-25% sehingga tergolong dalam perbukitan landai dengan beda tinggi 25-200 meter. Berdasarkan

tabel klasifikasi relief Van Zuidam (1983) Kecamatan Ngaliyan termasuk dalam klasifikasi relief berbukit bergelombang dengan relief 14-20% dan beda tinggi 50-200 meter.

2.3.1.1.2. Litologi

Kecamatan Ngaliyan memiliki jenis tanah Alluvial Hidromof, Asosiasi Alluvial Kelabu dan Kelabuan, Tanah Gambut serta Mediteran Coklat Tua. Jenis tanah Alluvial dapat digunakan untuk bangunan aktivitas publik. Sedangkan untuk jenis tanah Mediteran lebih sesuai untuk digunakan sebagai permukiman yang skala aktivitasnya tidak terlalu padat, dengan ditambah penanganan khusus untuk mengurangi gejala erosi yang lebih mudah timbul, seperti dengan penghijauan.

2.3.1.1.3.

Hidrologi

Kecamatan Ngaliyan terletak sebagai daerah hulu transisi , dengan sendirinya merupakan daerah limpasan debit air dari sungai yang melintas. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik

kontur wilayah berbukit dengan perbedaan ketinggian yang sangat curam sehingga curah hujan yang terjadi di daerah hulu akan sangat cepat mengalir ke daerah hilir. Semua kali tersebut mempunyai sifat aliran perenial yaitu sungai yang mempunyai aliran sepanjang tahun, dan mengalir ke arah utara yang akhirnya bermuara di Laut Jawa. Pola aliran sungai-sungai yang ada adalah pararel. Air tanah di Kecamatan Ngaliyan terdapat pada 2 (dua) lapisan pembawa

air (aquifer), yaitu air tanah bebas atau air tanah dangkal (unconfined aquifer), dan air tanah dalam atau air tanah tertekan (confined aquifer). Daerah aliran Sungai di Kecamatan Ngaliyan yaitu daerah aliran sungai tugu, banjir kanal barat, blorong, plumbon, bringin dan silandak.

2.3.1.1.4. Klimatologi

Iklim merupakan kondisi rata-rata dari semua peristiwa yang terjadi di atmosfer yang terdapat pada suatu daerah dengan luas serta waktu yang relatif lama. Iklim di wilayah Kota Semarang umumnya dan wilayah DAS Kecamatan Ngaliyan khususnya adalah sama dengan daerah-daerah pesisir Pantai Utara Pulau Jawa. Secara umum temperatur udara maksimum di DAS Kecamatan Ngaliyan adalah dan temperatur udara minimum . Sedangkan jumlah hari hujan yang terbanyak mencapai 125 hari, dengan curah hujan sebesar 27,7 - 34,8 mm/th.

2.3.1.1.5. Tata Guna Lahan

Kecamatan Ngaliyan adalah sebuah kecamatan yang berada di bagian barat Kota Semarang, Jawa Tengah yang digunakan sebagai daerah pemukiman, pertokoan, perkantoran, dan industri serta sarana perkotaan lainnya adalah jalan raya dan rumah sakit. Pada lahan yang berada di pedesaan pada umumnya merupakan persawahan atau perkebunan. Daerah persawahan terdapat di daerah dataran dan kaki pegunungan, sedangkan perkebunan atau hutan terdapat di dataran. Melihat penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Ngaliyan ini sebagian besar adalah lahan terbangun, terutama pemukiman. Di Kecamatan Ngaliyan banyak sekali pemukiman yang baru didirikan atau sedang proses pembangunan, karena melihat dari konteks daerah Ngaliyan cukup strategis dan cukup jauh dari perkotaan sehingga banyak masyarakat yang pindah atau tinggal di daerah ini bisa mendapatkan ketenangan dan terhindar dari aktifitas perkotaan yang cukup padat. Pada daerah ini juga terdapat lahan kosong yang cukup luas dan dijadikan sebagai resapan untuk menghindari bencana banjir. Pada kawasan perkebunan atau hutan juga cukup luas yang terdapat di daerah kecamatan Ngaliyan, dan

daerah pedesaannya juga sebagian besar merupakan daerah pertanian yang penataan sawahnya dibuat secara terasering.

2.3.1.2.

2.3.1.2.1.

Kondisi Sarana dan Prasarana Sanitasi

Secara umum penanganan limbah domestik untuk Kota Semarang harus mengacu kepada Rencana Strategi Nasional untuk Pengelolaan Air Buangan Rumah Tangga Daerah Perkotaan. Limbah domestik adalah limbah yang berasal dari buangan rumah tangga berupa tinja dan buangan cair lainnya seperti air bekas cucian dan lain-lain. Penanganan buangan ini tidaklah

mudah karena menyangkut masyarakat dan pemerintah yang saling terkait di dalam penanganannya serta membutuhkan biaya yang cukup besar. Pengolahan limbah domestik secara umum dibagi ke dalam 2 (dua) jenis yaitu On-Site System dan Off-Site System.

On-Site System, di mana buangan langsung dialirkan ke septic tank dan cairannya diresapkan melalui tanah.

Off-Site System, dimana menggunakan sistem saluran air buangan untuk mengalirkan air buangan dari rumah tangga kemudian diolah disuatu tempat tertentu. Pengelolaan sanitasi limbah di Kecamatan Ngaliyan sudah berjalan sesuai rencana strategis nasional. Pada jenis On-Site System limbah ditampung kedalam septictank kemudian di sedot dengan truk tangki bila sudah penuh, sedangkan Off-Site System limbah dialirkan ke sungai seperti limbah cucian. Berikut ini merupakan tabel pengelolaan limbah per kelurahan.

Tabel II.1 Pengelolaan Limbah Domestik per Kelurahan di Kecamatan Ngaliyan

 

Pengelolaan Limbah Rumah

 

Kelurahan

 

Tangga

 

Keterangan

On-Site

 

Off-Site

System

System

 

Podorejo

Limbah WC

Limbah Cucian

 

Wates

Limbah WC

Limbah Cucian

 

Beringin

Limbah WC

Limbah Cucian

 

Ngaliyan

Limbah WC

Limbah Cucian

 

Bambankerep

Limbah WC

Limbah Cucian

 

Kalipancur

Limbah WC

Limbah Cucian

28 KK belum menggunakan Septitank

Purwoyoso

Limbah WC

Limbah Cucian

 

Tambakaji

Limbah WC

Limbah Cucian

 
 

Pengelolaan Limbah Rumah

 

Kelurahan

 

Tangga

 

Keterangan

On-Site

 

Off-Site

System

System

 

Gondoriyo

Limbah WC

Limbah Cucian

 

Wonosari

Limbah WC

Limbah Cucian

 

Sumber: Podes 2011

2.3.1.2.2. Air Bersih

Penyediaan dan pengelolaan air bersih di Kota Semarang pada saat ini terbagi ke dalam 2 (dua) sistem, yaitu sistem jaringan perpipaan yang dikelola oleh PDAM dan sistem non perpipaan yang dikelola secara mandiri oleh penduduk. Untuk pelayanan dengan sistem perpipaan meliputi hampir seluruh kecamatan-kecamatan di Kota Semarang, kecuali Kecamatan Mijen dan Kecamatan Gunungpati. Daya saing ketersediaan air besih akan semakin membaik dengan selesainya pembangunan waduk Jatibarang sehingga mampu membantu ketersediaan air bersih menjadi lebih baik. Kecamatan Ngaliyan berada di sebelah barat Kota Semarang yang masuk kedalam BWK X dengan Kecamatan Tugu. Kebutuhan akan air bersih pada BWK X berdasarkan RTRW Kota Semarang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari paling minimal dibutuhkan 150 liter/orang/hari. Dengan jumlah penduduk penduduk Kecamatan Ngaliyan pada tahun 2010 sebanyak 149.903 dan tingkat kebocoran sebanyak 25% maka dibutuhkan air bersih setidaknya 412 lt/dt.

Tabel II.2 Kebutuhan Air Bersih Kecamatan Ngaliyan

Jml Pddk

Standar

Keb. Air

Standar

Keb.

Jumlah

Tingkat

Total

Th. 2010

Domestik

Domestik

Non-

Air Non-

Kebocoran

(lt/dt)

lt/org/hr

(lt)

domestik

Domestik

25%

(%)

(lt)

145.903

150

21.885.40

30

6.565.622

28.451.028

7.112.757

412

6

Sumber : RTRW Kota Semarang, 2010

Untuk memenuhi kebutuhan dasar akan air bersih, masyarakat memenuhinya melalui 3 sumber yaitu PDAM, Sumur dan Sumur Pompa (bor dan artetis). PDAM didapat dari perusahan yang dikelola oleh pemerintah dan sumur dikelola oleh masyarakat. Persebaran pemenuhan akan kebutuhan air bersih berdasarkan penggunaan terbanyak di tingkat kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel II.3 Persebaran Pemenuhan Air Bersih per Kelurahan di Kecamatan Ngaliyan

Kelurahan

Pemenuhan Air Bersih

Podorejo

Sumur

Wates

Pompa Listrik

Beringin

Pompa Listrik

Ngaliyan

Pompa Listrik

Bambankerep

Sumur

Kalipancur

PDAM

Purwoyoso

PDAM

Tambakaji

Pompa Listrik

Gondoriyo

Pompa Listrik

Wonosari

Pompa Listrik

Sumber: Podes 2011

2.3.1.2.3. Sistem Persampahan

Konsekuensi dari berbagai aktivitas penduduk salah satunya adalah masalah persampahan. Berdasarkan data “Book Municipal Solid Waste Management In Asian Cities”. United Nation Centre for Regional Development (UNCRD) tahun 1999 dapat diketahui bahwa dengan jumlah penduduk Kota Semarang sekitar 1.290.159 jiwa telah menghasilkan produk sampah kota sekitar 226.276 ton/tahun. Dari produk sampah yang dihasilkan tersebut, jumlah sampah yang terkelola dengan baik hanya mencapai sekitar 48 %. Pada tahun 2005, dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, total produksi sampah di Kota Semarang mencapai 4500 m 3 /hari atau 1,7 juta m 3 /tahun. Cakupan pelayanan pengelolaan sampah di Kota Semarang pada tahun 2005 sekitar 75%, sampah dikumpulkan mulai dari sumber, kemudian diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Sedangkan sisanya dikelola oleh masyarakat dengan sistem pengolahan yang bermacam-macam, seperti penimbunan di pekarangan, dibakar, dan sebagian kecil ada yang dibuang ke sungai. Proses pengelolaan persampahan yang ada, dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

membuang sampah dalam tong sampah, proses pengumpulan dengan gerobak atau door to door dengan dump truck, kemudian diangkut dan di buang ke TPA di Mijen. Tahapan yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah yang terjadi adalah dengan daur ulang dan pengomposan. Kegiatan daur ulang dapat dilakukan mulai dari sumber sampah di rumah tangga (skala kecil), pada saat kegiatan pengumpulan dan pemindahan, serta di TPA. Kecamatan Ngaliyan dengan jumlah penduduk mencapai 145.903 menghasilkan timbulan sampah sekitar 159.763 kg/hari. Dari jumlah timbulan sampah tersebut baru sekitar 70% yang

dapat

Kecamatan Ngaliyan.

diangkut

ke

TPA.

Berikut

ini

merupakan

tabel

timbulan

sampah

yang

dihasilkan

Tabel II.4 Timbulan Sampah Kecamatan Ngaliyan per Hari

Jml Pddk Th.

Timbulan Sampahkg/hr/org

 

Target

Total(kg)

2010

 

Pelayanan

Domestik

Non domestik

 

145.903

106.509

53.254

159.763

111.834

Sumber : RTRW Kota Semarang, 2010

Sistem Pengelolaan Sampah dapat dibedakan menjadi tiga (3), yaitu:

1. Sampah Kampung/Permukiman

Untuk menangani sampah kampung atau permukiman bekerja sama dengan lembaga- lembaga kelurahan seperti LKMD, RW, dan RT. Petugas kebersihan Kelurahan/LKMD/RW/RT mengambil sampah dari rumah ke rumah dengan menggunakan becak/gerobak sampah yang kemudian diangkut atau dibuang ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) berupa kontainer atau bak. Selanjutnya dari tempat penampungan sementara diangkut/dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) oleh Dinas Kebersihan dengan menggunakan truk, selain diangkut pengolahan sampah masih ada yang dilakukan dengan cara dibakar. Berikut ini persebaran pengelolaan sampah masing-masing kelurahan di Kecamatan Ngaliyan.

Tabel II.5 Pengelolaan Sampah per Kelurahan di Kecamatan Ngaliyan

 

Keberadaan

Kelurahan

Pengelolaan

TPS

Podorejo

Dibakar

Tidak Ada

Wates

Dibakar

Tidak Ada

Beringin

Diangkut

Tidak Ada

Ngaliyan

Diangkut

Ada

Bambankerep

Diangkut

Tidak Ada

Kalipancur

Diangkut

Tidak Ada

Purwoyoso

Diangkut

Ada

Tambakaji

Diangkut

Tidak Ada

Gondoriyo

Diangkut

Tidak Ada

Wonosari

Diangkut

Ada

Sumber: Podes 2011

2.

Sampah Pasar

Dalam menangani sampah pasar, pemerintah setempat bekerja sama dengan Dinas Pengelolaan Pasar. Kebersihan di lingkungan pasar sampai dengan Tempat Penempungan

Sementara menjadi tanggung jawab Dinas Pengelolaan Pasar. Selanjutnya dari tempat

penampungan sementara diangkut/dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) oleh Dinas Kebersihan dengan menggunakan truk hidrolik atau truk. Pengelolaan sampah di Pasar Ngaliyan adalah dengan cara diangkut ke TPS setiap hari.

3. Sampah Jalan

Untuk menangani sampah di sepanjang jalan protokol/besar bekerja sama dengan pihak ke- 3 (swasta). Sampah hasil sapuan, rumah tangga, pertokoan, dan lain-lain di sepanjang jalan protokol/besar diangkut dengan menggunakan truk dan langsung dibuang ke TPA. Jalan-jalan yang terdapat di Kecamatan Ngaliyan pengelolaannya menjadi tanggung jawab dari Dinas Kebersihan Kota Semarang.

2.3.1.2.4.

Jalan

Berdasarkan profil Kota Semarang panjang jalan di seluruh wilayah kota Semarang mencapai 2.786,05 km, di mana bila dilihat dari jenis permukaan 52,46% sudah diaspal, sedangkan dari kondisinya 44,72% dalam keadaan baik, 32,52% dalam keadaan sedang, dan sisanya dalam keadaan rusak. Panjang jalan di Kecamatan Ngaliyan mencapai 322,85 km yang terdiri dari arteri primer, arteri sekunder, kolektor primer, kolektor sekunder, dan lokal. Di mana sepanjang 240,9 km dalam kondisi baik, dan sepanjang 81,95 km pada kondisi rusak. Sistem jaringan jalan di wilayah Kecamatan Ngaliyan dilalui jalur utama yang menghubungkan wilayah-wilayah penting baik antar provinsi maupun didalam Provinsi Jawa Tengah. Kondisi kualitas jalan terhadap panjang jalan selama 5 tahun terakhir (2005-2009) menunjukkan perkembangan yang fluktuatif, rasio kondisi jalan dalam keadaan baik terhadap jumlah panjang jalan tahun 2005 sebesar 44,87%, tahun 2006 sebesar 44,87%, tahun 2007 sebesar 61,02%, tahun 2008 menurun menjadi sebesar 43,83% , tahun 2009 sebesar 44,01%, perubahan kondisi kualitas jalan ini dipengaruhi oleh perubahan iklim, dimana pada saat musim hujan banyak terjadi genangan air. Prioritas pengembangan penyediaan sarana jalan yang diterapkan pada Kecamatan Ngaliyan diarahkan terhadap pembangunan jalan arteri primer, arteri sekunder, kolektor primer, kolektor sekunder, dan lokal termasuk peningkatan pelebaran jalan.

Tabe lI.6 Kondisi Jalan Berdasarkan Kelas Jalan Kecamatan Ngaliyan Tahun 2010

Kelas Jalan

Panjang Jalan (m)

Kondisi

 

Baik (m)

Buruk (m)

Arteri Primer

10407,0

10395,7

11,3

Arteri Sekunder

14211,8

5932,5

8279,3

Kolektor Primer

4542,4

1081,3

3461,0

Kolektor Sekunder

17851,0

9952,1

7898,9

Lokal

275832,7

223925,2

51907,4

TOTAL

322844,9

240902,5

81942,4

Sumber : Bappeda Kota Semarang Tahun 2010

Secara umum kondisi prasarana jalan masih dalam kategori baik dan sedang, walaupun ada

beberapa ruas yang kondisinya jelek, namun masih mampu berperan melayani lalu lintas keluar

masuk kota maupun sirkulasinya di dalam wilayah kota. Untuk menciptakan ruang kota yang

manusiawi dan mampu mendukung kedinamisan pergerakan penduduk kota, maka setiap

pengembangan ruas jalan yang digunakan untuk kendaraan umum dan pribadi harus

memiliki ruang bagi pejalan kaki dan jalur sepeda pada ruas jalan yang memungkinkan.

Pengembangan fasilitas pejalan kaki dilakukan secara memadai dengan memperhitungkan

penggunaannya bagi penyandang cacat.

2.3.1.2.5.

Listrik

Pemenuhan energi dalam bentuk listrik merupakan salah satu indikator kemajuan suatu

kota. Pemenuhan kebutuhan listrik tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga tetapi juga

untuk penerangan jalan, sosial & komersial, termasuk industri. Sebagian besar kebutuhan listrik

di Kecamatan Ngaliyan adalah untuk kebutuhan rumah tangga. Dari tahun 2005 hingga 2010

terjadi peningkatan kebutuhan listrik yang signifikan untuk kebutuhan rumah tangga yaitu

sebesar 3.480.604 VA. Peningkatan jumlah pelanggan listrik perlu direspon oleh pemerintah

guna menjawab kebutuhan listrik masyarakat dengan meningkatkan produksi daya listrik

melalui pembangunan pembangkit listrik baru, mengusahakan sumber energi alternatif yang

dapat dikonversi menjadi energi listrik dan penerapan-penerapan teknologi elektronik.

Tabel II.7 Kebutuhan Listrik Kecamatan Ngaliyan Tahun 2010

Tahun

Jml

Pddk

Kebutuhan Listrik (VA)

Rumah

Tangga

Penerangan

Jalan

Sosial &

Komersial

Total

2005

126.566

22.781.883

4.556.377

4.556.377

31.894.636

2010

145.903

26.262.487

5.252.497

5.252.497

36.767.482

Sumber : RTRW Kecamatan Ngaliyan, 2010

Berdasarkan SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan, disediakan jaringan listrik lingkungan dengan mengikuti hierarki pelayanan, dimana besar pasokannya telah diprediksikan berdasarkan jumlah unit hunian yang mengisi blok siap bangun. Kecamatan Ngaliyan telah terjangkau oleh jaringan pelayanan listrik PLN secara menyeluruh. Tidak ada lagi warga yang belum mendapatkan suplai listrik untuk keperluan sehari-harinya. Terkait dengan intensitas pemadaman listrik di Kecamatan Ngaliyan umumnya jarang terjadi. Kondisi ini mendukung bagi supply kebutuhan listrik yang sangat vital bagi masyarakat mengingat kawasan Kecamatan Ngaliyan sebagian besar merupakan lahan terbangun seperti pemukiman, perumahan, industri, perkantoran, fasilitas umum, dan lain-lain yang notabene membutuhkan jaringan listrik. Secara keseluruhan suplai listrik di kelurahan sekitar Kecamatan Ngaliyan sudah terpenuhi. Suplai listrik ini dapat menunjang kegiatan yang berlangssung di Kecamatan Ngaliyan yang sesuai untuk kawasan pemukiman, transportasi, dan industri.

sesuai untuk kawasan pemukiman, transportasi, dan industri. Gambar 2.1 Penyediaan Jaringan Listrik di Kelurahan
sesuai untuk kawasan pemukiman, transportasi, dan industri. Gambar 2.1 Penyediaan Jaringan Listrik di Kelurahan

Gambar 2.1 Penyediaan Jaringan Listrik di Kelurahan Beringin, Kecamatan Ngaliyan

2.3.1.2.6.

Drainase

Berdasarkan kondisi topografi Kota Semarang, sistem drainase Kota Semarang tidak bisa lagi mengandalkan sistem gravitasi murni, tetapi sistem kombinasi antara sistem drainase gravitasi, polder dan tanggul laut. Di samping itu, beban drainase dari kawasan hulu perlu dikendalikan dengan fasilitas pemanenan air hujan. Sistem drainase dikembangkan berdasarkan konsep one watershed one plan one management. Berdasarkan Bappeda, panjang drainase yang terdapat di Kecamatan Ngaliyan mencapai 645.689,7 m, yang terbagi ke dalam drainase primer, drainase sekunder, dan drainase tersier. Sebagian besar drainase di Kecamatan Ngaliyan berada pada sisi kanan dan kiri jalan, drainase primer merupakan drainase yang berada pada sisi jalan arteri, drainase sekunder merupakan drainase yang berada di sisi jalan kolektor, drainase tersier merupakan drainase yang berada di sisi jalan lokal.

Tabel II.8

Jenis Drainase Kecamatan Ngaliyan Tahun 2010

Jenis Drainase

Panjang (m)

Primer

49.237,6

Sekunder

44.786,8

Tersier

551.665,3

Total

645.689,7

Sumber : Bappeda Kota Semarang Tahun 2010

Kondisi drainase secara keseluruhan di Kecamatan Ngaliyan cukup baik, meskipun di beberapa tempat di jalan kolektor sekunder terjadi penyumbatan yang menyebabkan terjadinya limpasan air dari drainase ke jalan ketika curah hujan tinggi. Secara umum alur jaringan drainase di Kecamatan Ngaliyan mengikuti ketinggian (kontur) dan mengikuti poia jaringan jalan Kota yang ada, di mana sistem pembuangan air hujan yang masih menjadi satu dengan sistem pembuangan air kotor. Sistem drainase campur ini, terlihat kurang menguntungkan untuk daerah yang landai, sehingga terjadi pengendapan dan penggenangan di dalam saluran yang menyebabkan bau dan pemandangan yang tidak sedap dipandang mata.

bau dan pemandangan yang tidak sedap dipandang mata. Sumber : Dokumentasi Kelompok 6B, 2013 Gambar 2.2

Sumber : Dokumentasi Kelompok 6B, 2013

Gambar 2.2 Drainase di Kelurahan Beringin, Kecamatan Ngaliyan

2.3.2.Kondisi Non-Fisik

2.3.2.1.

Kependudukan

Kabupaten Ngaliyan memiliki 10 kelurahan. Jumlah penduduk di masing-masing kelurahan berbeda. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kelurahan Tambakaji dengan penduduk 18% dari penduduk total Kecamatan Ngaliyan. Sedangkan jumlah penduduk terendah terdapat di

Kelurahan Water yang hanyamemiliki 3% dari penduduk total kecamatan.

3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4%
3%
5%
15%
5%
11%
11%
18%
13%
15%
4%

Podorejo3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4% Wates Beringin Ngaliyan Bambankerep Kalipancur Purwoyoso

Wates3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4% Podorejo Beringin Ngaliyan Bambankerep Kalipancur Purwoyoso

Beringin3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4% Podorejo Wates Ngaliyan Bambankerep Kalipancur Purwoyoso

Ngaliyan3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4% Podorejo Wates Beringin Bambankerep Kalipancur Purwoyoso

Bambankerep3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4% Podorejo Wates Beringin Ngaliyan Kalipancur Purwoyoso

Kalipancur3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4% Podorejo Wates Beringin Ngaliyan Bambankerep Purwoyoso

Purwoyoso3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4% Podorejo Wates Beringin Ngaliyan Bambankerep Kalipancur

Tambakaji3% 5% 15% 5% 11% 11% 18% 13% 15% 4% Podorejo Wates Beringin Ngaliyan Bambankerep Kalipancur

Sumber: Kecamatan Ngaliyan Dalam Angka 2011

Gambar 2.3 Grafik Jumlah Penduduk dirinci per Kelurahan di Kecamatan NgaliyanTahun 2011

Kelurahan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak tidak menjadikan kelurahan tersebut menjadi kelurahan dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Kepadatan penduduk ditentukan pula oleh luas wilayah. Berdasarkan hasil persentasi, kelurahan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah Kelurahan Kalipancur. Hal ini disebabkan oleh banyaknya jumlah penduduk yang bermukim padahal luas wilayah kelurahan tersebut tidak brgitu luas jika dibandingkan dengan keluarahan lain. Kelurahan Podorejo merupakan kelurahan dengan kepadatan penduduk yang rendah karena luas wilayahnya yang luas namun jumlah penduduknya yang justru tidak terlalu banyak.

0% Podorejo Wates 3% 4% 5% 4% 8% 1% 7% Beringin 8% Ngaliyan Bambankerep Kalipancur
0%
Podorejo
Wates
3% 4%
5% 4%
8%
1% 7%
Beringin
8%
Ngaliyan
Bambankerep
Kalipancur
60%
Purwoyoso
Tambakaji
Gondoriyo
Wonosari

Sumber: Kecamatan Ngaliyan Dalam Angka 2011

Gambar 2.4 Grafik Jumlah Penduduk Dirinci per Kelurahan di Kecamatan Ngaliyan Tahun 2011

Kecamatan Ngaliyan merupakan kecamatan yang memiliki proporsi jumlah penduduk laki- laki dan perempuan yang seimbang. Menurut hasil analisis, persentasi 50% penduduk Kecamatan Ngaliyan berjenis kelamin laki-laki dan 50% sisanya berjenis kelamin perempuan. Berikut diagram yang menggambarkan proporsi penduduk menurut jenis kelamin di Kecamatan Ngaliyan.

50% 50%
50%
50%

Laki -laki50% 50% Perempuan

Perempuan50% 50% Laki -laki

Sumber: Kecamatan Ngaliyan Dalam Angka 2011

Gambar 2.5 Diagram Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Di Kecamatan Ngaliyan Tahun 2011

Kecamatan Ngaliyan memiliki tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kelahiran. Hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah penduduk usia tua yang jauh lebih sedikit daripada penduduk usia balita. Penduduk berusia produktif, yaitu 15-60 tahun, cukup banyak jumlahnya. Penduduk terbanyak berusia 25-29 tahun sedangkan penduduk dengan jumlah paling sedikit adalah usia 70-75+ tahun. Apabila digambarkan menggunakan piramida penduduk maka akan berbetuk constructive.

70-74 60-64 50-54 40-44 30-34 20-24 10-14 0-4 Usia
70-74
60-64
50-54
40-44
30-34
20-24
10-14
0-4
Usia

Perempuan70-74 60-64 50-54 40-44 30-34 20-24 10-14 0-4 Usia Laki -laki 8,000 6,000 4,000 2,000 00

Laki -laki50-54 40-44 30-34 20-24 10-14 0-4 Usia Perempuan 8,000 6,000 4,000 2,000 00 2,000 4,000 6,000

8,000 6,000 4,000 2,000 00 2,000 4,000 6,000 8,000

Jumlah Penduduk

Sumber: KecamatanNgaliyanDalamAngka 2011

Gambar 2.6 Piramida Penduduk Kecamatan Ngaliyan Tahun 2011

Penduduk Kecamatan Ngaliyan memiliki tingkat pendidikan terakhir yang beragam. Sebagian besar penduduk berpendidikan tingkat SLTA sedangkan tingkat pendidikan paling sedikit adalah Diploma III. Penduduk Kecamatan Ngaliyan masih cukup banyak yang tidak pernah mengenyam pendidikan, yaitu sebesar 7% dari total penduduknya. Penduduk dengn tingkat pendidikan setingkat perguruan tinggi masih jarang di Kecamatan Ngaliyan, yaitu hanya ada 5% dari jumlah penduduk total. Secara umum, tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Ngaliyan masih rendah. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi mata pencaharian penduduk tersebut.

4% 5%

7% 11% 21% 9% 23% 20%
7%
11%
21%
9%
23%
20%
Tidak Sekolah

Tidak Sekolah

Belum Tamat SD

Belum Tamat SD

Tidak Tamat SD

Tidak Tamat SD

SD

SD

SLTP

SLTP

SLTA

SLTA

DIII

DIII

PT

PT

Sumber: Kecamatan Ngaliyan Dalam Angka 2011

Gambar 2.7 Diagram JumlahPenduduk Menurut Tingkat Pendidikan Di Kecamatan Ngaliyan Tahun2011

Mata pencaharian penduduk Kecamatan Ngaliyan tampak dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa secara umum tingkat pendidikan penduduk masih rendah ini tampak mempengaruhi mata pencaharian penduduk yang 27% diantaranya bekerja sebagai buruh industri. Sedangkan mata pencaharian penduduk yang memerlukan tingkat pendidikan yang relatif tinggi hanya sebagian kecil, seperti PNS/Abri yang hanyas ebesar 16% dan pensiunan 15%. Penduduk Kecamatan Ngaliyan masih banyak yang bertumpu pada sektor pertanian.

2% Petani Nelayan 13% 0% 6% 15% Pengusaha Buruh Industri 16% Buruh Bangunan 27% Pedagang
2%
Petani
Nelayan
13%
0% 6%
15%
Pengusaha
Buruh Industri
16%
Buruh Bangunan
27%
Pedagang
9%
8%
Angkutan
4%
PNS/Abri
Pensiunan
Jasa/lainnya

Sumber: Kecamatan Ngaliyan Dalam Angka 2011

Gambar 2.8

Diagram Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Di Kecamatan Ngaliyan Tahun2011

Penduduk Kecamatan Ngaliyan mayoritas beragama Islam. Jumlah umat muslim di Kecamatan Ngaliyan sebesar 89% dari total penduduk yang ada. Sedangkan umat Kristen dan Katholik masing-masing hanya sebesar 5%. Penduduk beragama Buddha masih lebih banyak dibandingkan penduduk beragama Hindu. Akan tetapi, penduduk Kecamatan Ngaliyan masih ada yang beragama selain lima agama yang diakui di Indonesia, yaitu sebanyak 93 jiwa dari total penduduk 118.382 jiwa.

5% 1% 0% 0%

5% 89%
5%
89%

Islam5% 1% 0 % 0% 5% 89% Katholik Kristen Buddha Hindu Lainnya

Katholik5% 1% 0 % 0% 5% 89% Islam Kristen Buddha Hindu Lainnya

Kristen5% 1% 0 % 0% 5% 89% Islam Katholik Buddha Hindu Lainnya

Buddha5% 1% 0 % 0% 5% 89% Islam Katholik Kristen Hindu Lainnya

Hindu5% 1% 0 % 0% 5% 89% Islam Katholik Kristen Buddha Lainnya

Lainnya5% 1% 0 % 0% 5% 89% Islam Katholik Kristen Buddha Hindu

Sumber: Kecamatan Ngaliyan Dalam Angka 2011

Gambar 2.9 Diagram Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Di Kecamatan Ngaliyan Tahun 2011

2.3.2.2.

Ekonomi

Kecamatan Ngaliyan merupakan kecamatan yang masih tergolong minim akan sarana perekonomian. Sarana perekonomian hanya berupa pasar umum, gedung olahraga, dan hotel. Pasar umum di Kecamatan Ngaliyan dapat ditemukan di Kelurahan Ngaliyan sebanyak satu unit, di Kelurahan Purwoyoso terdapat dua unit, dan satu unit lain di Kelurahan Wonosari.

Gedung olahraga terdapat dua unit, yaitu di Kelurahan Ngaliyan dan Kelurahan Tambakaji. Kecamatan Ngaliyan hanya memiliki sebuah hotel yang terletak di Kelurahan Tambakaji. 2.4. Isu dan Permasalahan Isu dan permasalahan yang ada di Kecamatan Ngaliyan yaitu pertumbuhan permukiman yang semakin meningkat, sehingga memunculkan masalah-masalah lain seperti kemacetan, air bersih, serta persampahan. Kebutuhan akan permukiman semakin meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk. Kecamatan Ngaliyan yang berada di kawasan bebas banjir dan aksesibilitas yang mudah menjadikan kawasan ini sangat cocok untuk dijadikan hunian. Oleh karena itu, pertumbuhan permukiman di Kecamatan Ngaliyan ini semakin meningkat. Selain ini masalah perkotaan di Kecamatan Ngaliyan yang belum terselesaikan yaitu masalah kemacetan. Jalan arteri yang letaknya di sekitar Jrakah dan Pertigaan Tol depan STEKOM menjadi titik kemacetan terparah di Kecamatan Ngaliyan. Masalah kemacetan menyebabkan menurunnya kualitas udara yang ada di Kecamatan Ngaliyan, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat setempat. Pertumbuhan pemukiman yang semakin pesat juga daat mengurangi daerah resapan yang sekarang masih cukup banyak di Kecamatan Ngaliyan, sehingga mengurangi keseimbangan yang ada antara pembangunan dengan kelestarian lingkungan. Keseimbangan yang terganggu tersebut, bisa berdampak tidak hanya bagi warga Ngaliyan namun juga warga Semarang pada umumnya.

ARAHAN PENGEMBANGAN KECAMATAN NGALIYAN BERDASARKAN ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Perencanaan Kota TKP 344

Disusun untuk Memenuhi Tugas Perencanaan Kota TKP 344 Oleh: Kelompok 6B Endra Nugraha Riska Ardelia Fajriati

Oleh:

Kelompok 6B

Endra Nugraha Riska Ardelia Fajriati Syntha Alfa E. Aulia Shabrinawati Tusiana Wismandani Gangsar Hanajayani Wahab Wiratama Annisa Rezita Ferry Oloan Nadeak Yustinus Rimas P.

21040111140100

21040112110038

21040112140052

21040112130054

21040112130066

21040112130088

21040112140112

21040112140118

21040112140122

21040112140128

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

2014