Anda di halaman 1dari 47

Endapan Ore dan Teknologi Eksplorasi

ABSTRAK
Emas adalah komoditas utama dalam suatu aneka jenis cadangan emas yang luas.
Dalam dekade terakhir, terdapat kemajuan yang signifikan dalam klasifikasi, definisi,
dan pemahaman tentang jenis-jenis endapan emas utama. Tiga klan utama endapan
sekarang telah didefinisikan secara luas, masing-masing mengandung berbagai jenis
endapan tertentu dengan karakteristik umum dan latar daerah tektonik. Klan orogenik
telah diperkenalkan sebagai klan yang mengandung endapan tipe urat yang terbentuk
selama pemendekan kerak pada inang greenstone, BIF atau rangkaian batuan sedimen
klastik mereka. Endapan klan terkait intrusi tereduksi yang baru berbagi logam khusus
Au-Bi-Te-As dan suatu hubungan dengan intrusi granit pasca-orogenik equigranular
yang mengalami reduksi menengah.
Endapan terkait intrusi teroksidasi, termasuk porfiri, skarn, dan endapan epitermal
dengan sulfidasi tinggi, memiliki hubungan dengan porfiri tingkat tinggi teroksidasi
dalam busur magmatik. Jenis endapan penting lainnya yaitu Carlin, epitermal rendah
sulfidasi, VMS kaya Au, dan endapan Witwatersrand. Fitur geologi utama dari
lingkungan pembentuk ore dan manifestasi geologi utama dari jenis endapan yang
berbeda-beda membentuk area sistem ore yang ditargetkan dalam program eksplorasi.
Kami telah membuat kemajuan penting dalam mengintegrasikan, memproses, dan
memvisualisasikan set data yang semakin rumit di platform 2D dan 3D GIS. Untuk
eksplorasi emas, kemajuan geofisika yang penting adalah gravitasi udara, inversi 3D
rutin dari data lapangan potensial, dan modeling 3D dari data elektrik. Peningkatan
pada spektroskopi inframerah berbasis satelit, udara, dan lapangan telah meningkatkan
pemetaan alterasi di sekitar sistem emas secara signifikan sehingga memperluas dimensi
area dan meningkatkan kemampuan vectoring.
Geokimia konvensional tetap sangat penting untuk eksplorasi emas, sementara teknikteknik baru yang menjanjikan sedang dalam proses pengujian. Pemilihan metode
eksplorasi yang tepat harus ditentukan oleh karakteristik model yang ditargetkan,
pengaturan geologinya, serta lingkungan permukaannya. Kedua eksplorasi greenfield
dan brownfield berkontribusi terhadap penemuan endapan emas yang besar (>2,5 moz
Au) dalam dekade terakhir ini, tetapi tingkat penemuannya telah menurun secara
signifikan. Para ahli geologi sekarang ini memiliki peralatan yang lebih baik daripada
sebelumnya guna menghadapi tantangan yang sulit ini, tetapi pemahaman geologis serta
kerja lapangan yang berkualitas merupakan faktor penemuan yang penting dan harus
tetap menjadi dasar utama dari program eksplorasi.
PENDAHULUAN
Semenjak konferensi Eksplorasi 1997, terdapat kemajuan yang signifikan dalam
pengklasifikasian dan pemahaman tentang endapan emas. Kemajuan yang lebih besar
juga kemungkinan terdapat di bidang eksplorasi geokimia, geofisika, dan integrasi data,

sehingga peralatan yang lebih baik dapat tersedia guna membantu penemuan endapan
emas baru. Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai model endapan
emas serta pendekatan dan teknik baru yang sekarang dapat digunakan untuk menemukan
endapan emas. Emas terbentuk pada berbagai jenis endapan dan latar, namun makalah ini
berfokus pada jenis-jenis endapan di mana emas membentuk komoditas ekonomi utama
atau produk pendukung.
Endapan di mana emas hanya terbentuk sebagai hasil sampingan tidak dipertimbangkan,
termasuk endapan IOCG. Porfiri Cu-Au dan endapan VMS kaya Au tidak dibahas karena
mereka merupakan objek dari makalah yang berbeda di dalam buku ini. Begitu juga
dengan endapan emas jenis Witwatersrand, yang telah seringkali ditinjau dalam bukubuku terbaru (Frimmel et al., 2005; Law dan Phillips, 2005). Sebagian besar eksplorasi
disibukkan dengan proses pendefinisian jejak endapan emas yang dikenal dan
pengintegrasian berbagai teknik dengan kondisi geologis untuk mendapatkan identifikasi
dan deteksi yang efisien. Oleh karena itu, bagian pertama dari makalah ini mengkaji
jenis-jenis utama dari endapan emas dan unsur utama dari jejak mereka, yang di sini
didefinisikan sebagai karakteristik gabungan dari endapan-endapan tersebut dan latar
lokal sampai regionalnya. Bagian kedua membahas teknik dan pendekatan yang sekarang
dapat digunakan untuk mengenali dan mendeteksi jejak-jejak tersebut.
TINJAUAN TERHADAP SISTEM EMAS
Banyak hal mengenai endapan emas telah dipublikasikan dalam dekade terakhir, yang
mengarah kepada (1) peningkatan yang signifikan dalam pemahaman terhadap beberapa
model, (2) definisi jenis atau sub-jenis endapan baru, dan (3) pengenalan istilah-istilah
baru. Namun, tetap terdapat ketidakpastian yang signifikan mengenai perbedaan spesifik
beberapa jenis endapan. Akibatnya, endapan raksasa tertentu dianggap berasal dari jenis
endapan yang berbeda oleh penulis yang berbeda pula. Dalam makalah ini, kami
mengadopsi tata nama yang paling diterima dan model yang digunakan dalam tinjauan
penting yang diterbitkan dalam dekade terakhir (misalnya Hagemann dan Brown, 2000;
Sillitoe dan Hedenquist, 2003). Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1 dan disusun dalam
Tabel 1, tiga belas jenis endapan emas yang signifikan secara global saat ini telah diakui,

masing-masing dengan karakteristik dan lingkungan pembentukan yang didefinisikan


dengan baik. Jenis-jenis minor dari endapan emas tidak dibahas dalam makalah ini.
Seperti yang diusulkan oleh Robert et al. (1997) dan Poulsen et al. (2000), banyak jenis
endapan emas tesebut dapat dikelompokkan menjadi klan, yaitu keluarga endapan yang
terbentuk baik oleh proses terkait ataupun yang merupakan produk yang berbeda dari
sistem hidrotermal berskala besar. Klan-klan ini sesuai dengan kelas utama model emas,
seperti yang bersifak orogenik, terkait intrusi tereduksi, serta terkait intrusi teroksidasi
(Hagemann dan Brown, 2000). Jenis endapan seperti Carlin, VMS kaya Au, dan sulfidasi
rendah yang dipandang oleh penulis yang berbeda-beda baik sebagai model yang berdiri
sendiri atau sebagai anggota klan terkait intrusi teroksidasi yang lebih luas. Di sini,
mereka diperlakukan sebagai jenis endapan yang berdiri sendiri, sementara endapan
epitermal alkalik dan sulfidasi menengah dan tinggi dianggap sebagai bagian dari klan
terkait intrusi teroksidasi. Endapan Witwatersrand masih kontroversial dan dianggap
sebagai paleoplacer termodifikasi ataupun sebagai endapan orogenik.

Gambar 1: Skema potong melintang menunjukkan unsur-unsur geologi penting dari


sistem emas utama dan kedalaman kerak dari landasan mereka. Perhatikan skala
kedalaman logaritmik. Dimodifikasi dari Poulsen et al. (2000), dan Robert (2004a).
Jenis dan klan endapan utama
Istilah orogenic (orogenik) awalnya diperkenalkan oleh Groves et al. (1998) sebagai
pengakuan atas fakta bahwa endapan emas tipe urat kuarsa-karbonat dalam greenstone

dan sabuk batu tulis, termasuk di BIF, memiliki karakteristik yang mirip dan dibentuk
oleh proses yang mirip pula. Awalnya, model orogenik diterapkan secara ketat pada
endapan tipe urat sintektonik yang terbentuk pada tingkat kerak pertengahan dalam latar
kompresional atau transpressional, yaitu endapan syn-orogenik. Namun, istilah ini
semakin diperluas untuk mencakup endapan-endapan yang relatif pasca-orogenik
terhadap proses pembentukannya di kedalaman kerak. Hal ini menyebabkan ambiguitas
yang signifikan dalam pendefinisian batasan antara model endapan orogenik dan terkait
intrusi tereduksi akibat banyak jenis contoh yang dianggap berasal dari model yang
berbeda-beda oleh banyak penulis (Thompson dan Newberry, 2000;. Goldfarb et al,
2001). Dalam makalah ini, seperti yang digambarkan pada Gambar 1, definisi klan
orogenik hanya mencakup endapan tipe urat kuarsa-karbonat syn-tektonik dan yang
setara, yang dibentuk pada kerak tingkat pertengahan. Jenis endapan khusus dalam klan
ini meliputi endapan urat dengan inang turbidit dan greenstone, serta urat dengan inang
BIF dan endapan replacement sulfidik (Gambar 1, Tabel 1). Seperti yang dibahas lebih
rinci di bawah, masalah yang membingungkan adalah bahwa sabuk greenstone juga
mengandung jenis endapan emas yang tidak sesuai dengan model orogenik sebagaimana
didefinisikan di sini (Groves et al, 2003;.. Robert et al, 2005).
Tidak ada konsensus tentang asal-usul endapan atipikal tersebut. Model terkait intrusi
tereduksi (RIR) telah didefinisikan dengan lebih baik dalam dekade terakhir (cf. Lang et
al., 2000). Endapan-endapan dari klan ini dibedakan oleh hubungan logam Au-Bi-Te-As
dan hubungan erat spasial dan temporal dengan intrusi granitik equigranular tereduksi
tingkat sedang (Tabel 1; Thompson dan Newberry, 2000). Endapan tersebut utamanya
terbentuk pada rangkaian batuan sedimen silisiklasik tereduksi dan pada umumnya
merupakan endapan orogenik. Berbagai corak dan kedalaman pembentukan endapan RIR
telah didokumentasikan, termasuk juga endapan dengan inang intrusi dari karakter
mesozonal sampai epizonal, dan padanan yang lebih distal dan mesozonal dengan inang
sedimen (Gambar 1, Tabel 1). Endapan-endapan dari jenis yang berinang sedimen sesuai
dengan jenis awal sedimen stockwork-disseminated dari Robert et al. ( 1997) dan juga
dengan endapan emas aureole termal terkait pluton (TAG) dari Wall (2000) dan Wall et
al. (2004). Beberapa endapan dari endapan IR dengan inang sedimen juga dimasukkan

dalam klan orogenik oleh Goldfarb et al. (2005) Klan terkait intrusi teroksidasi (OIR)
meliputi porfiri yang terkenal dan jenis endapan emas epitermal dengan sulfidasi tinggi,
serta endapan jenis skarn dan manto, yang terbentuk pada latar lempeng konvergen benua
dan samudera. Endapan-endapan tersebut paling cocok dianggap sebagai komponen dari
sistem hidrotermal besar yang berpusat pada persediaan porfiri tingkat menengah sampai
felsic yang umumnya teroksidasi dan berada pada tingkatan yang tinggi (Gambar 1, Tabel
1). Dalam dekade terakhir, hubungan genetik antara porfiri dan endapan epitermal dengan
sulfidasi tinggi telah lebih ditegaskan (Heinrich et al., 2004), dan disebutkan bahwa
endapan terbesar dari klan ini terbentuk di busur kompresional (Sillitoe dan Hedenquist,
2003). Karakteristik dan latar dari endmember bersifat alkali dari endapan porfiri juga
telah disempurnakan, begitu juga dengan kemungkinan hubungan antara endapan tersebut
dengan sistem epitermal bersifat alkali rendah sulfidasi (Jensen dan Barton, 2000).
Jenis-jenis lain dari endapan emas yang penting secara global mencakup jenis endapan
epitermal lowand dengan sulfidasi menengah, Carlin, VMS kaya Au, dan Witwatersrand
(Gambar 1). Endapan epitermal sekarang dibagi ke dalam kategori sulfidasi rendah,
menengah, dan tinggi atas dasar kumpulan mineralisasi dan alterasi (Sillitoe dan
Hedenquist, 2003). Endapan sulfidasi menengah, seperti endapan sulfidasi tinggi,
diinterpretasikan sebagai komponen sistem OIR besar, seperti halnya urat Victoria dalam
sistem Far Southeast-Lepanto dan di Kelian. Endapan tersebut awalnya dipisahkan
sebagai jenis endapan Au dengan logam berbasis karbonat oleh Corbett dan Leach (1998)
dan ditandai dengan kumpulan ore karbonat pirit, sfalerit rendah Fe, dan Mn disertai
dengan alterasi illit dominan. Mineralisasi dapat terdiri dari urat dan badan breksi dan
umumnya menampilkan kontinuitas vertikal yang lebih besar daripada rekan-rekan
sulfidasi rendah atau tinggi mereka.
Endapan tipe Carlin dianggap sebagai bagian distal sistem OIR besar (Sillitoe dan
Bonham, 1990) ataupun sebagai endapan yang berdiri sendiri (Cline et al, 2005).
Perbedaan juga telah ditentukan antara endapan tipe Carlin yang tepat dan endapan distal
yang tersebar, yang bersifat periferal terhadap intrusi kausatif dan memiliki asosiasi
logam kaya Ag yang nyata. Namun, tetap terdapat kontroversi mengenai apakah kedua

kelompok endapan tersebut memang berbeda secara fundamental (Muntean et al., 2004).
Pekerjaan di dasar laut yang modern memberikan wawasan tambahan mengenai
pembentukan deposit VMS kaya Au, dengan adanya identifikasi sejumlah latar yang
menguntungkan (Huston, 2000; Hannington, 2004). Pengakuan bahwa beberapa endapan
VMS kaya Au adalah unsur bawah laut yang setara dengan endapan dengan sulfidasi
tinggi (Sillitoe et al., 1996) menempatkan endapan tersebut dalam klan endapan terkait
intrusi teroksidasi dan memiliki dampak yang signifikan terhadap eksplorasi. Terakhir,
tetap terdapat kontroversi mengenai asal-usul endapan emas Witwatersrand yang unik,
yang asal kedua paleoplacer termodifikasi dan hidrotermalnya sedang diusulkan
(Frimmel et al., 2005; Law dan Phillips, 2005).
Meskipun banyak endapan raksasa sesuai dengan salah satu model yang diuraikan di atas,
banyak dari mereka yang memiliki karakteristik yang unik dan tidak mudah
diklasifikasikan dalam skema yang disajikan pada Gambar 1 (Sillitoe, 2000b). Oleh
karena itu, terdapat kemungkinan bahwa penemuan besar berikutnya dapat dilakukan
dengan corak yang berbeda atau mineralisasi, atau mungkin terletak pada latar geologis
yang tak terduga, sebuah fakta yang jelas harus diperhitungkan dalam program eksplorasi
regional. Sebuah contoh yang baik adalah penemuan endapan Las Lagunas Norte di
distrik Alto Chicama di bagian utara Peru, di mana mineralisasi epitermal dengan
sulfidasi tinggi terjadi dalam batuan sedimen klastik, bukan dalam batuan vulkanik,
seperti yang disukai oleh model klasik.

Klan

Tabel 1: Kompilasi unsur-unsur utama dari jenis-jenis terpilih dari endapan emas
Sesi Pleno: Endapan Ore dan Teknologi Eksplorasi

Orogenik

Jenis Endapan

Endapan
greenstone

Fitur Utama dari Lingkungan Pembentuk Ore

inang

Skala Regional

Skala Lokal

- Sabuk greenstone yang


didominasi sedimen atau
vulkanik
- Zona sesar berskala
kerak
- Batuan konglomerat

- Zona sear, khususnya


dengan belokan dan
persimpangan
- Heterogenitas
Rheological
- Litologi kaya Fe
- Intrusi porfiri felsic

Manifestasi
Utama
dari
Endapan
(Dengan
kedekatan
yang
meningkat)
- Alterasi karbonat
terzonasi, dengan
serisit-pirit
proksimal
- Konsentrasi urat
pembawa emas
atau daerah
sulfida
disseminated

Referensi
yang
Dipilih
Contoh jenis

Dome,
Norseman,
Mt Charlotte,
Sigma
Lamaque

Groves et
al. (2003)
Goldfarb
et al.
(2005)
Robert et
al. (2005)
Dub dan
Gosselin

Terkait intrusi tereduksi

- Tanda Au>Ag,
As, W
- Alterasi karbonat
Fe-Mg- (spotting)
- Konsentrasi urat
Au-kuarsa
- Tanda Au>Ag,
As

(2006a)

Urat inang turbidit

- Rangkaian turbidit
terlipat
- Intrusi granit
- Patahan berskala kerak
- Kelas greenschist

- Puncak antiklin
- Patahan terbalik sudut
tinggi
- Struktur silang

Inang BIF

- Sabuk greenston
terdominasi vulkanik
atau sedimen yang
mengandung formasi
besi tebal
- Terlipat dan
termetamorfosis

- Zona sendi lipatan


- Patahan atau zona geser
berpotongan dengan
formasi besi
- Beberapa kontrol
stratiform

- Sulfidasi dari
formasi besi
- Alterasi kloritkarbonat atau
amfibol
- Tanda Au>Ag,
As

Homestake,
Lupin
Cuiaba, Hill
50

- Rangkaian siliklastik
tereduksi
- Sabuk intrusi tereduksi
menengah
- Asosiasi umum dengan
sabuk
W-Sn+/-Mo

- Persediaan granodioritgranit tereduksi menengah


multifase equigranular dan
batholith

Fort Knox,
Vasilkovskoe

Thompson
dan
Newberry
(2000)
Lang dan
Baker
(2001)
Hart
(2005)

Epizonal inang intrusi

- Rangkaian siliklastik
tereduksi
- Sabuk intrusi tereduksi
menengah
- Asosiasi umum dengan
sabuk
W-Sn+/-Mo dan/atau Sb

- Kubah, sill, dan dyke


tingkat tinggi dari karakter
tereduksi umum
- Struktur utama

Donlin Creek
Kori Kollo
Brewery
Creek

Lang dan
Baker
(2001)
Goldfarb
et
al.
(2004)

Terkait intrusi inang


sedimen

- Rangkaian siliklastik
tereduksi terpatah dan
terlipat
- Intrusi granit
- Patahan berskala kerak

- Lipatan dan patahan


- Batuan tudung kurang
permeabel
- Intrusi tereduksi
menengah dekat yang
terkait secara temporal dan
spasial

- Alterasi Kfeldspar awal dan


serisit karbonat
terbaru
- Pembentukan
urat dan veinlet
lembaran
- Tanda Au>Ag,
Bi, As, W, Mo
- Korelasi Au :Bi
- Lempung
resapan dan serpy
untaian veinlet
- Pembentukan
urat dan veinlet
lembaran
- Tanda Au>Ag,
As, Sb +/- Hg
-Alterasi Kfeldspar awal,
serkarbonat baru
- Veinlet
lembaran,
stockwork
disseminated,
kumpulan urat
-Tanda Au>Ag,
Bi, As, W, Mo

Mesozonal
Intrusi

inang

Bendigo,
Stawell,
AlaskaJuneau

Hodgson
(1993)
Bierlein et
al. (1998)
Goldfarb
et
al.
(2005)
Caddy et
al. (1991)
Kerswill
(1996)
Goldfarb
et
al.
(2005)

Muruntau
Kumtor
Telfer

Klan

Table 1: Continued
Models and Exploration methods for Major Gold Deposit Types

Jenis Endapan

Fitur Utama Lingkungan Pembentuk Ore


Skala Regional
Skala Lokal

Manifestasi
Utama
dari
Endapan
(Dengan
kedekatan
yang
meningkat)

Referensi
yang
Dipilih
Contoh jenis

Terkait Intrusi Teroksidasi

- Kalk-alkalin hingga
busur magma alkalin
- Patahan busur paralel
regional
- Penutup vulkanik
sejaman yang tidak
berlimpah

- Persimpangan dengan
struktur busur melintang
- Persediaan porfiri sisi
curam, kaya magnetit,
mengandung
hornblende/biotite
- Breksi hidrotermal

- Kalk-alkalin hingga
busur alkalin; busur
andesitik hingga
dasitik
- Patahan busur paralel
regional
-Penutup
vulkanik
yang dilindungi
- Latar ekstensional
yang terkait dengan
busur dan rekahan
pulau
- Sabuk magma alkalin
- Patahan regional

- Kompleks lubang kubah


vulkanik
- Persimpangan dengan
struktur busur melintang
- Breksi hidrotermal;
diatrema

Subalkali
epitermal
sulfidasi
rendah

- Latar ekstensional
terkait rekahan, busur
dalam hingga busur
belakang
- Suite vulkanik
bimodal subaerial
(basalt-riolit)

- Patahan ekstensional
hingga strike-slip
- Persimpangan struktural
- Kubah riolite (dalam
beberapa kasus)

Carlin

- Rangkaian
miogeoklinal terpatah
dan terlipat
- Litologi lereng-fasies
lithologies (karbonat
kotor)
- Magmatisme felsik

- Batuan kapur mengandung


silt
- Batuan tudung kurang
permeable
- Struktur antiklinal
- Patahan sudut tinggi
berlimpah, termasuk
patahan dengan sadapan
dalam
- Persediaan dan dyke felsik

VMS kaya Au

- Busur belakang
pemula dan busur
rekahan; sabuk
greenstone
- Vulkanik bawah kaut
mafik-felsik

- Intrusi felsik sub-vulkanik


- Batuan vulkanik felsik,
termasuk kubah kecil
- Patahan syn-vulkanik
- Endapan VMS lainnya

Porfiri
Au

kaya

Epitermal
sulfidasi
tinggi
(menengah)

Jenis endapan lain

Alkali
epitermal
sulfidasi
rendah

- Kompleks intrusi alkalin


- Patahan regional yang
bersimpangan dengan pusat
intrusi atau kaldera
- Breksi (dalam beberapa
kasus)

- Alterasi
propilitik
(sekitar) atau
argilik (bagian
atas) lanjutan
- Veinlet
stockwork dalam
batuan teralterasi
- Alterasi Ksilikat dengan
veinlet yang
mengandung
magnetit
- Tanda Au-Ag,
Cu
- Alterasi argilik
lanjutan
- Alterasi silika
berongga
- Tanda Au-Ag,
As, Cu, Sb, Bi,
Hg

Grasberg, Far
Southeast, Cerro
Casale,
Batu
Hijau

Sillitoe
(2000a)
Cooke et
al.
(2004)
Seedorff
et
al.
(2005)

Yanacocha,
Pierina, Veladero
Pueblo Viejo
Lepanto/Victoria

Hedenqu
ist et al.
(2000)
Simmon
s et al.
(2005)

- Alterasi
karbonat
ekstensif
- Alterasi
serisit/Kfeldspar
bagian dalam
proksimal
- Konsentrasi
pembentukan Au
- Tanda Au>Ag,
Te, V, Pb, Zn
- Alterasi
propilitik hingga
argilik,
bergradasi ke
dalam hingga
serisit/ilitadularia
- Konsentrasi
urat terikat jenis
LS
- Tanda Au
- Silisifikasi
(jasperoids) di
sepanjang
patahan dan unit
reaktif
- Breksi jenis
dissolusi
- Pembentukan
mineral As, Sb
and Hg
- Tanda Au>Ag,
As, Sb, Tl, Hg
- Deplesi Na dan
alterasi semiselaras
- Alterasi kloritserisit dinding
bawah atau
argilik ke
argilik lanjutan
- Tanda Au

Cripple Creek
Porgera
Emperor
Ladolam

Jensen
dan
Barton
(2000)

Hishikari, Round
Mountain,
Pajingo,
Cerro
Vanguardia

Hedenqu
ist et al
(2000)
Gemmell
(2004)
Simmon
s et al.
(2005)

Goldstrike, Gold
Quarry, Getchell,
Jerritt Canyon

Hofstra
dan
Cline
(2000)
Cline et
al.
(2005)

Horne, Bousquet
2,
Henty,
Eskay
Creek

Huston
(2000)
Hanningt
on
(2004)
Dub
dan
Gosselin
(2006b)

Paleoplacer

-Sedimen yang sangat


matang dalam
cekungan sedimen
kratonik
-Cekungan
foreland
atau busur belakang

-Arenit kerikil matang


-Ketidakselarasan
-Fasies saluran aluvial
hingga fluvial utamanya

- Alterasi
pirofilit-kloritoid
(kemungkinan
overprint)
- Emas dalam
pirit detrital yang
mengandung
konglomerat dan
arenit matang
- Tanda Au>Ag,
U

Witwatersrand,
Tarkwa

Frimmel
et al.
(2005)
Law dan
Phillips
(2005)
Hirdes
dan
Nunoo
(1994)

Tabel 1: Bersambung
Model dan Metode Eksplorasi untuk Jenis-Jenis Endapan Emas Besar
Kepentingan global relatif dari jenis endapan
Dari sudut pandang eksplorasi, terutama bagi perusahaan emas besar, upaya yang
dilakukan harus difokuskan pada model-model yang memiliki kesempatan terbaik dalam
menghasilkan endapan yang besar. Tabel 2 menunjukkan distribusi endapan emas di
antara jenis-jenis yang tercantum pada Tabel 1 dari populasi 103 endapan dengan
bawaaan emas >10 Moz. Tabel 2 menunjukkan bahwa hampir semua jenis endapan dapat
ditemukan di antara endapan >10 Moz. Walaupun begitu, beberapa jenis endapan
memiliki jumlah yang jelas lebih banyak daripada yang lain di antara populasi raksasa
ini. Misalnya, endapan porfiri kaya Au sejauh ini adalah yang paling melimpah, diikuti
oleh endapan dengan inang greenstone (orogenik dan atipikal), dan kemudian oleh
endapan Carlin. Kesimpulan penting lain yang disoroti oleh kompilasi ini adalah bahwa
beberapa jenis endapan cenderung lebih besar daripada yang lain, dan yang terbesar
merupakan ladang emas individu Witwatersrand, diikuti oleh endapan RIR dengan inang
sedimen. Sebaliknya, RIR dengan inang intrusi, LS epitermal, dan endapan VMS kaya
Au tidak terlalu melimpah di antara endapan 10 Moz dan cenderung lebih kecil, yaitu
dengan rata-rata <15 moz.="" span="">
Tabel 2: Distribusi populasi dengan 103 endapan >10Moz di antara jenis endapan
dan klan yang berbeda yang dibahas dalam makalah ini.
Jenis dan Klan
Endapan
Orogenik
Greenstone
Turbidit & BIF

Jumlah
Endapan
>10 Moz

Mengandung Au
(Moz)

20
14
6

425
285
140

IR Tereduksi
Inang intrusi
Inang sedimen
IR Teroksidasi
Porfiri (skarn)
HS-IS Epitermal
LS Alkalik
Jenis Lain
LS- Epitermal
Carlin
Au-VMS
Witwatersrand
Greenstone atipikal

13
4
8
39
27
9
3

434
75
359
1104
739
253
112

7
10
2
8
5

91
245
20
1260
113

KARAKTERISTIK DAN LATAR JENIS ENDAPAN EMAS UTAMA


Bagian ini menjelaskan karakteristik utama dari jenis endapan emas terpilih yang penting
secara global dan latar geologi lokal sampai regionalnya. Karakteristik ini membentuk
dasar dari jejak endapan yang ditargetkan oleh program eksplorasi regional, seperti yang
telah dibahas dalam bagian kedua makalah ini.
Endapan Orogenik
Sebagaimana ditunjukkan di atas, masih ada ambiguitas pada perbedaan antara endapan
orogenik dan RIR. Dalam konteks sabuk greenstone, ambiguitas selanjutnya berasal dari
keberadaan corak tambahan dari endapan logam hanya emas dan berbasis emas yang
umumnya dilapisi (overprint) oleh urat orogenik. Hal ini ditafsirkan sebagai jenis yang
berbeda ataupun usia endapan (Robert et al., 2005) atau sebagai variasi kedalaman pada
sebuah model orogenik dengan beberapa endapan logam berbasis emas atipikal (Groves
et al., 2003). Dalam makalah ini, istilah orogenik dibatasi untuk endapan yang terdiri dari
urat kuarsa-karbonat dan replacement wallrock terkait yang berhubungan dengan struktur
geologi kompresi atau transpressional, seperti patahan terbalik dan lipatan, seperti yang
digambarkan dalam diagram pada Gambar I.
Tiga jenis utama endapan orogenik dibedakan berdasarkan lingkungan batu inangnya:
jenis inang greenstone, inang turbidit, dan inang BIF (Gambar 1; Tabel 1). Endapan
atipikal yang ditemui dalam sabuk greenstone dibahas secara terpisah. Endapan orogenik
dari ketiga jenis tersebut memiliki sejumlah karakteristik tambahan. Mereka terdiri dari

susunan urat kuarsa-karbonat kompleks yang bervariasi yang menunjukkan kontinuitas


vertikal, pada umumnya dalam kelebihan 1 km, tanpa zonasi vertikal yang signifikan.
Ore nya diperkaya dengan Ag-As+/-W dan memiliki rasio Au:Ag >5. Unsur-unsur lain
yang umumnya diperkaya mencakup B, Te, Bi, Mo. Mineral sulfida yang dominan adalah
pirit di kelas greenschist dan pirhotit di kelas amphiboles. Arsenopirit adalah sulfida yang
dominan di banyak ore berinang sedimen klastik di kelas greenschist, dan loellingit juga
terdapat pada kelas amphibolites. Badan ore dikelilingi oleh lingkaran alterasi karbonat
sericitepyrite yang berkembang secara bervariasi tergantung pada komposisi batuan
inang. Pada skala regional, mayoritas endapan terkait secara spasial dengan zona geser
regional dan terbentuk pada batuan kelas greenschist, konsisten dengan sifat struktur
inangnya yang rapuh-elastis.
Endapan berinang greenstone
Endapan berinang greenstone orogenik adalah yang paling penting dari klannya dan jenis
yang terwakili paling baik di antara endapan-endapan >10 Moz (Tabel 2), termasuk
Hollinger-McIntyre, Dome, Sigma-Lamaque, Victory-Defiance, Norseman, dan Mt
Charlotte. Urat kuarsa-karbonat endapan-endapan ini biasanya menggabungkan urat
terlaminasi di zona-zona geser terbalik dengan kemiringan menengah hingga tinggi
dengan susunan urat ekstensional dangkal berdekatan dengan batuan regangan yang lebih
rendah dan batuan tegar (Gambar 1). Karakter sebaliknya dari urat berinang zona geser
dan kemiringan dangkal dari urat ekstensional memperlihatkan pembentukan mereka
selama pemendekan kerak (Premier et al., 1988; Robert dan Poulsen 2001). Dalam sabuk
greenstone, endapan urat signifikan biasanya didistribusikan sepanjang struktur
kompresional hingga transpresional region tertentu. Berdasarkan hubungan mereka
dengan struktur regional, kamp-kamp ini juga terletak di batas antara litologi kontras atau
domain usia di dalam sabuk. Seiring struktur ini, endapan-endapan umumnya
berkelompok di kamp-kamp tertentu, yang terletak di tikungan atau persimpangan
melebar utama, dan di mana endapan biasanya terbentuk dalam struktur tingkat tinggi
yang terkait (Goldfarb et al. 2005; Robert et al., 2005). Kamp dan endapan yang lebih
besar umumnya terkait secara spasial dengan rangkaian akhir batuan konglomerat
sebagaimana dicontohkan oleh batuan konglomerat polymict Timiskaming di sabuk

greenstone Abitibi dan batuan konglomerat kerikil kuarsa Tarkwaian di Birimian Shield.
Endapan tersebut terbentuk pada semua jenis batuan supracrustal dalam sabuk greenstone
dan meliputi posisi stratigrafi dari vulkanik mafik-ultramafik rendah ke tingkat stratigrafi
sedimen klastik atas. Namun, endapan-endapan besar cenderung terbentuk secara
stratigrafis di dekat ketidakselarasan di dasar rangkaian batuan konglomerat, terutama
jika dikembangkan di atas batuan vulkanik mafik-ultramafik yang mendasarinya (Robert
et al., 2005).
Pada skala lokal, latar yang menguntungkan untuk endapan-endapan ini menunjukkan
kombinasi faktor struktural dan litologi (Groves et al., 1990; Robert, 2004b). Latar
struktural yang menguntungkan utamanya terkait dengan heterogenitas rheologic di
rangkaian inang. Zona geser dan patahan, yang secara universal terdapat pada endapan
ini, dikembangkan di sepanjang kontak litologi antara unit dengan ketegaran yang kontras
dan sepanjang unit litologi rapuh tipis. Seiring kontak-kontak tersebut dan sepanjang
batuan rapuh, endapan-endapan akan berkembang di tikungan, dan persimpangan
struktural. Unit batuan tegar tertutup dalam keadaan yang tidak mendukung sehingga
merekah dan menjadi urat. Asosiasi litologi umum mencakup batuan kaya Fe, seperti
basalt tholeiitic, ambang dolerite yang dibedakan dan BIF, dan dengan cadangan porfiri
tegar dengan komposisi menengah hingga felsik, baik mengintrusi batuan vulkanik
mafik-ultramafik atau batuan sedimen klastik ataupun tidak.
Endapan berinang greenstone atipikal
Dalam dekade terakhir, terdapat peningkatan pengakuan bahwa sabuk greenstone
produktif mengandung endapan hanya emas dan endapan logam berbasis emas yang tidak
sesuai dengan model orogenik (Robert et al., 2005). Contoh endapan atipikal mencakupi
Red Lake, Hemlo, Malartic, Doyon, Fimiston, Wallaby, Kanowna Belle, dan Boddington,
dan endapan VMS kaya Au Horne dan LaRonde yang terdokumentasi dengan baik (Dub
dan Gosselin, 2006b). Walaupun endapan atipikal tersebut menampilkan kontrol skala
regional yang serupa dan umumnya terbentuk di kamp-kamp yang sama dengan endapan
orogenik, mereka berbeda dalam hal corak mineralisasi, asosiasi logam, tingkat kerak
emplasemen yang ditafsirkan, dan usia relatif. Alterasi yang berhubungan dengan

beberapa endapan atipikal berbeda dalam hal kumpulan mineral aluminanya. Endapan
atipikal tersebut penting karena mereka mewakili proporsi yang signifikan dari
persediaan emas di sabuk greenstone (Tabel 2). Ore dari endapan-endapan ini berkisar
dari zona disseminated-stockwork di Wallaby dan Kanowna Belle, hingga urat bertekstur
crustiform dengan replacement wallrock sulfidik yang terkait di Red Lake dan Fimiston,
hingga urat-urat kaya sulfida yang kurang umum (Robert et al., 2005). Semua corak yang
berbeda tersebut menunjukkan hubungan spasial yang erat dengan persediaan dan dyke
porfiri tingkat tinggi. Tekstur ore dan pengayaan umum dalam Te, Sb, Hg juga
menunjukkan emplasemen tingkat tinggi pada endapan, yang kebanyakan memang
diklasifikasikan sebagai epizonal (Gebre-Mariam et al., 1995). Ore tersebut refraktori di
kebanyakan endapan disseminated-stockwork dan urat crustiform.
Endapan-endapan yang paling atipikal terbentuk di dekat atau di atas ketidakselarasan di
dasar rangkaian batuan konglomerat. Gambar 2 mengilustrasikan latar umum dari corak
endapan disseminated-stockwork dan urat crustiform, berdasarkan model yang diusulkan
oleh Robert (2001) untuk endapan disseminated di sabuk greenstone Abitibi. Dari sudut
pandang eksplorasi, penting untuk dicatat bahwa penemuan-penemuan emas greenstone
yang paling signifikan dalam dekade terakhir bercorak disseminated-stockwork
(Eleonore, Wallaby) dan terbentuk di bagian atas, yang merupakan bagian sedimen, dari
kolom stratigrafi. Seperti yang dikatakan oleh Robert et al. (2005), banyak dari endapan
atipikal tersebut terbentuk cukup awal dalam awal perkembangan sabuk greenstone,
sebelum terjadinya lipatan pada unit inang mereka selama ruahan pemendekan sabuk
inang tersebut, dan biasanya di-overprint oleh urat orogenik. Meski masih diperdebatkan,
asal dari banyak simpanan tersebut mirip dengan yang bersifat alkali, yaitu endapan
porphyrystyle dari klan terkait intrusi teroksidasi. Bahkan, banyak endapan disseminatedstockwork di kraton Yilgarn dan Superior sebelumnya dianggap sebagai endapan porfiri
(lihat Robert et al., 2005).

Gambar 2: Model geologi untuk latar disseminated-stockwork dan endapan urat


crustiform di sabuk greenstone, yang menunjukkan hubungan spasial erat mereka dengan
intrusi porfiri tingkat tinggi dan ketidakselarasan di dasar rangkaian batuan konglomerat.
Dimodifikasi dari Robert (2001)
Endapan berinang BIF
Hanya tiga endapan berinang BIF yang mengandung Au >10 Moz (Homestake, Morro
Velho, dan Geita), tetapi endapan-endapan tersebut berukuran besar dan mengandung
emas 90 Moz, sehingga memiliki daya tarik sebagai target eksplorasi. Endapan tersebut
terutama terdiri dari replacement sulfidik dari lapisan kaya Fe dalam BIF magnetit atau
silikat, berdekatan dengan urat kuarsa berkembang yang bervariasi dan urat sekunder
(veinlet). Bagian tengah yang termineralisasi secara intens dari beberapa endapan terdiri
dari replacement wallrock yang semi berkelanjutan, yang dapat mengaburkan karakter
epigenetik mereka dan dapat menyebabkan ambiguitas mengenai waktu mineralisasi

(Caddy et al., 1991; Kerswill, 1996) endapan berinang BIF terbentuk pada sabuk
greenstone yang dapat berupa vulcanic-dominated atau sediment- dominated, di mana
secara stratigrafis mereka berada dekat transisi regional vulkanik-sedimen, seperti halnya
di Homestake dan Morro Velho. Beberapa endapan, seperti Lupin, juga terbentuk di dekat
tepi cekungan sedimen klastik besar, tanpa adanya batuan vulkanik mafik yang
signifikan. BIF magnetit adalah inang yang dominan dalam batuan kelas greenschist,
sedangkan BIF silikat berlaku di kelas mid-amfibolit atau yang lebih tinggi (Kerswill,
1996). Pada skala lokal, endapan berinang BIF umumnya berhubungan dengan sendi
lipatan, antiklin atau sinklin, dan persimpangan zona geser dan patahan. Akibatnya,
endapan-endapan tersebut umumnya stratabound dan menunjam sejajar dengan sendi
lipatan inang mereka atau dengan garis persimpangan dari zona geser pengendali dengan
unit BIF. Dalam sabuk greenstone, banyak endapan berinang BIF juga mengandung
konsentrasi persediaan dan dyke porfiri menengah hingga felsik.
Endapan berinang turbidit
Urat berinang turbidit orogenik (berinang sabuk batu tulis) umum ditemukan, tetapi
hanya tiga endapan yang mengandung Au >10 Moz, di antaranya yang paling penting
adalah Bendigo dan Natalka. Mereka dapat dipahami dengan baik, dan latar serta kontrol
regional hingga local mereka telah ditinjau antara lain oleh Bierlein dan Crowe (2000).
Contoh-contoh klasik dari jenis endapan ini yaitu terumbu pelana yang bertumpuk
vertikal di sendi lipatan antiklinal yang dihubungkan oleh urat fault-fill di zona geser
balik dan urat ekstensional terkait. Endapan jenis ini terbentuk pada rangkaian batuan
greywacke mudstone akresi tebal, yang diintrusi oleh pluton granit dan berada di dekat
batas-batas kerak utama (Tabel 1). Adanya substrat laut terhidrasi dianggap
menguntungkan bagi pengembangan terrane yang termineralisasi dengan baik (Bierlein et
al., 2004). Pada skala lokal, endapan-endapan tersebut biasanya berhubungan dengan
penunjaman ganda, antiklin tegak dan patahan balik dengan sudut tinggi (Bierlein dan
Crowe, 2000). Daerah endapan biasanya kekurangan volume yang signifikan dari intrusi
felsik, meskipun terdapat kemungkinan adanya dyke lamprofir. Signifikansinya bagi
kegiatan eksplorasi adalah pengakuan dalam dekade terakhir mengenai lingkaran ankeritsiderit dengan skala urat hingga skala kilometer di sekitar endapan berinang turbidit di

Provinsi Victoria Utara di Australia, sehingga dapat memberikan jejak eksplorasi lebih
besar yang signifikan daripada urat itu sendiri (Bierlein et al., 1998).
Mengurangi Endapan Terkait Intrusi
Dalam dekade terakhir ini, kita telah melihat adanya pengenalan, penerimaan umum, dan
pemahaman yang progresif dari kelompok endapan hanya emas yang berhubungan
dengan intrusi tereduksi menengah. Terminologi untuk kelas endapan ini telah
berkembang secara bertahap, dengan banyaknya penulis yang mendefinisikan kelas
tersebut dengan cara yang berbeda-beda, yang menghasilkan beberapa kebingungan
mengenai cara terbaik untuk mengklasifikasikan endapan-endapan tersebut (Hart 2005).
Penelitian terdahulu mengakui adanya perbedaan dari endapan yang berkaitan dengan
intrusi-intrusi yang sangat teroksidasi, jenis I, dan seri magnetit yang biasanya dikaitkan
dengan endapan porfiri kaya emas (McCoy et al., 1997, Thompson et al. 1999a, Lang
et al., 2000). Thompson dan Newberry (2000) mendefinisikan karakteristik utama yang
membedakan endapan-endapan emas ini dan menciptakan istilah terkait intrusi
tereduksi. Meskipun granitoid yang terkait dengan endapan-endapan ini digambarkan
sebagai tereduksi menengah (Baker 2003) dan beberapa dari endapan tersebut yang
tidak terlalu teroksidasi, endapan-endapan tersebut secara signifikan kurang teroksidasi
jika dibandingkan dengan intrusi-intrusi yang berhubungan dengan endapan porfiri kaya
emas atau hanya emas (Hart, 2005). Klan endapan RIR jelas dibedakan dari klan terkait
intrusi teroksidasi dalam hal derajat fraksinasi dan keadaan oksidasi dari magma bersifat
calc-alkali hingga alkali dan kumpulan logam dominan yang terkait (Gambar 3).

Gambar 3: Plot skematis yang menunjukkan derajat fraksinasi (ditunjukkan oleh


Fecontent) versus keadaan teroksidasi terkait dengan pengayaan logam yang berbeda
dalam sistem magmatik-hidrotermal. Hubungan antara rangkaian ilmenit (I-S) dan
rangkaian magnetit (M-S) juga ditunjukkan, di samping latar tektonik yang
digeneralisasikan (dari Thompson et al., 1999a)
Karakteristik utama dari endapan RIR baru-baru ini dirangkum oleh Hart (2005; lihat
juga Tabel 1). Mineralisasi biasanya memiliki kandungan sulfida rendah, sebagian besar
hanya <5 dengan="" kumpulan="" mineral="" span="" vol="">ore tereduksi yang
biasanya terdiri dari arsenopirit, pirhotit, dan pirit dan tidak mengandung banyak
magnetit atau hematit. Kumpulan logam menggabungkan emas dengan tingginya
tingkatan Bi, W, As, Mo, Te, dan/atau Sb yang bervariasi namun dengan konsentrasi

logam dasar yang rendah. Endapan ini juga menampilkan alterasi hidrotermal proksimal
yang terbatas dan umumnya lemah.
Endapan RIR secara spasial dan temporal berhubungan dengan intrusi meta-alumina dan
subalkalik dari komposisi menengah hingga felsik yang menjangkau batas antara seri
ilmenit dan magnetit. Elemen utama dari model ini adalah bahwa endapan-endapannya
sezaman dengan intrusi kausatif terkait mereka. Pada skala regional, endapan-endapan ini
berhubungan dengan daerah magmatik yang paling dikenal karena endapan tungsten
dan/atau timahnya. Mereka juga terbentuk pada latar tektonik inboard dari batas lempeng
konvergen yang disimpulkan atau diakui. Endapan dari klan RIR dapat dibagi menjadi
tiga jenis berdasarkan variasi corak yang relatif terhadap kedalaman pembentukan dan
kedekatan dengan intrusi kausatif, mirip dengan apa yang diamati dalam sistem porfiri
OIR (Lang et al., 2000; Hart, 2005; Gambar 1 dan 4; Tabel 1). Perbedaan jenis endapan
antara klan RIR selanjutnya tercermin dalam alterasi, corak mineralisasi, dan keterkaitan
logam (Tabel 1). Dua jenis endapan yang pertama adalah inang intrusi dan telah terbentuk
di lingkungan kedalaman epitermal dan mesothermal, dan di sini disebut sebagai endapan
terkait intrusi epizonal dan mesozonal (Gambar 1). Jenis ketiga endapan memiliki inang
batuan sedimen klastik dan memiliki hubungan yang lebih lemah dengan intrusi
tereduksi; jenis ini adalah intrusi terkait dengan inang sedimen (Gambar 1, Tabel 1).
Endapan tersebut terdiri dari zona mineralisasi emas stockwork-disseminated dan
memiliki banyak karakteristik yang sama dengan endapan RIR, terutama keterkaitan
logam dan hubungan spasial serta temporal dengan intrusi tereduksi menengah (Wall
2000, 2004; Yakubchuk 2002). Jenis endapan ini memiliki signifikansi eksplorasi yang
tinggi karena mencakup endapan raksasa seperti Muruntau (Wall, 2004), Kumtor (Mao et
al. 2004), dan Telfer (Rowins, 2000). Masuknya endapan-endapan ini dalam klan intrusi
terkait, bagaimanapun, tetap kontroversial, dan penulis lain lebih memilih untuk
memasukkannya ke dalam klan orogenik (Goldfarb et al., 2005).

Endapan Berinang Intrusi Mesozonal


Endapan berinang intrusi mesozonal telah diteliti dengan baik di Yukon dan Alaska, dan
model untuk endapan ini juga telah maju dan diterima secara umum (Gambar 5, Hart
2005). Endapan yang terbesar dari jenis ini biasanya dicirikan sebagai endapan urat
lembaran yang dapat ditambang dengan ruahan kelas rendah, seperti Fort Knox (8 Moz)
dan Vasilkovskoe (12 Moz). Emas dalam endapan ini umumnya mineral yang bebas
penggilingan, non-refraktori, dan terkait dengan mineral bismuth (Flanigan et al. 2000).
Telurium dan tungsten juga merupakan asosiasi unsur yang umum. Endapan urat
lembaran tersebut pada umumnya terletak di pinggiran atau zona atap dari pluton
granodioritik equigranular panjang kecil hingga pluton granit. Intrusi-intrusi tersebut
biasanya bersifat metaluminous hingga peraluminous lemah, calcalkalic, dan subalkalik
dengan oksidasi yang disimpulkan yang melalui batas antara seri ilmenit dan seri
magnetit (Lang et al. 2000). Hart (2005) menunjukkan bahwa pelepasan cairan
hidrotermal mineralisasi pada fase pluton mungkin menampilkan sejumlah karakteristik
sebagai berikut: tekstur porfiritik, adanya dyke aplite dan pegmatite, urat kuarsa dan
turmalin, alterasi greisens, rongga miarolitik, dan tekstur pembekuan-searah. Juga terlihat
bahwa di daerah di mana endapan mesozonal mendominasi, batuan vulkanik sezaman
jarang ditemukan atau tidak ada, yang disebabkan oleh kedalaman emplasemen mereka.

Gambar 4: Diagram tersebut menunjukkan model zonasi eksplorasi untuk sistem emas
terkait intrusi, dengan penekanan pada sistem di Yukon-Alaska tetapi juga termasuk
variasi dari daerah sistem emas terkait intrusi lainnya. Dimodifikasi dari Lang et al.
(2000).

Gambar 5: Model rencana-pandangan yang digeneralisasi untuk sistem emas terkait


intrusi dari Daerah Emas Tintina. Perhatikan berbagai corak mineralisasi dan variasi
geokimia yang diduga bervariasi ke luar dari pluton pusat (dimodifikasi dari Hart 2005).

Endapan tersebut umumnya tidak memiliki sistem alterasi hidrotermal yang luas di
sekitarnya dan biasanya terbatas pada lingkaran alterasi serisit-karbonat-felspar sempit
pada veinlet kuarsa. Namun, endapan dan pembentukan periferal dan zona hornfels
dalam lingkungan mesozonal dapat menunjukkan pola distribusi yang diprediksi
(Gambar 5). Pola ini secara signifikan memperluas jejak eksplorasi endapan tersebut.
Sebagian besar endapan yang ditemukan di luar intrusi sebagai skarns, mantos, ataupun
urat polimetalik umumnya berukuran kecil (<3 2000="" al.="" ang="" beberapa=""
berinang="" breksi="" dan="" dengan="" di="" dicatat="" disseminated="" endapan=""
et="" granitoid="" hanya="" idston="" imbara="" juga="" mineralisasi="" moz=""
ogo="" pengecualian="" persediaan="" sekitar="" signifikan="" span="" telah=""
tereduksi="" yang="">
Endapan Berinang Intrusi Epizonal
Endapan berinang intrusi epizonal, seperti Kori Kollo, Brewery Creek, dan Donlin Creek,
terdiri dari veinlet stockwork, sulfida disseminated atau mineralisasi urat lembaran dalam
kompleks dyke-sill atau kubah vulkanik. Intrusi inang memiliki karakteristik yang mirip
dengan yang dijelaskan sebagai karakteristik endapan mesozonal, tetapi dengan bukti
emplasemen yang lebih dangkal, seperti aphanitic groundmass di intrusi dyke-sill
porfiritik. Donlin Creek adalah yang terbesar dari endapan tersebut dan telah ditunjukkan
oleh Baker (2002) dan Goldfarb et al. (2004) bahwa endapan tersebut terbentuk pada
kedalaman kurang dari 2 km. Endapan tersebut mungkin menunjukkan karakteristik
tekstur urat tingkat dangkal, seperti tekstur rongga garis kuarsa drusy yang berlimpah,
terikat, crustiform, simpul pita, dan berbilah (Goldfarb et al. 2004). Di daerah endapanendapan ini, sering terdapat usia batuan vulkanik yang setara.
Alterasi hidrotermal yang terkait dengan endapan berinang intrusi epizonal tersebut
biasanya memiliki komponen alterasi lempung dan/atau lingkaran alterasi berskala

veinlet karbonat dan serisit (Baker, 2002). Endapan-endapan tersebut lebih sering
ditandai oleh emas refraktori dan asosiasi dengan Sb dan Hg, yang berbeda dengan rekan
mesozonalnya (Tabel 1).
Endapan Terkait Intrusi Berinang Sedimen
Beberapa penulis menghubungkan intrusi tereduksi dalam ruang dan waktu dengan
endapan berinang sedimen besar, seperti Muruntau, Kumtor, dan Telfer, serta beberapa
contoh kecil lainnya (Goldfarb et al. 2005). Endapan-endapan tersebut memiliki
paragenesi mineralisasi multi-tahap yang kompleks, dengan setidaknya satu tahap yang
terdiri dari zona stockwork disseminated atay veinlet lembaran, dan mengaitkan suite
logam yang konsisten dengan endapan terkait intrusi tereduksi mesozonal. Alterasi
hidrotermal di endapan-endapan tersebut biasanya memiliki komponen penting dari
perubahan feldspathic. Serisitisasi, karbonatisasi, dan biotisasi juga telah dicatat dan
dapat diperluas hingga jarak yang cukup di sekitar ore. Muruntau adalah endapan terbesar
dari kelas ini (> 200 Moz) dan mineralisasi emas tahap utama terdiri dari urat kuarsa
feldspar lembaran dan berhubungan dengan As, W, Sb, Bi, dan Mo (Wall et al., 2004).
Endapan ini terletak di aureole termal di atas zona atap dari intrusi dengan
synmineralization terkubur (Wall et al., 2004). Mao et al. ( 2004) dengan tegas
menetapkan bahwa mineralisasi di Kumtor, di dalam sabuk luas yang sama dengan
Muruntau, memiliki usia yang sama dengan granit pascatumbukan di daerah tersebut.
Suite granit pascatumbukan di wilayah Muruntau-Kumtor mengandung Sn-Be, REE-NbTa-Zr, U, dan endapan kecil W dengan jenis skarn dan greisen (Mao et al., 2004).
Asosiasi logam mengindikasikan adanya suite intrusi tereduksi terkait. Endapan tersebut
memiliki kontrol struktural yang penting dan umumnya terletak di dalam inti antiklin
yang terpotong oleh patahan bersudut tinggi. Sebagaimana dicatat oleh Wall et al. (2004),
batuan tudung mungkin merupakan hal yang penting dalam pembentukan Muruntau dan
endapan lain dari jenis ini.
Endapan epitermal

Endapan epitermal awalnya didefinisikan oleh Lindgren (1922) sebagai endapan logam
dasar atau logam mulia yang terbentuk pada kedalaman dangkal dan suhu rendah.
Definisi yang diterima saat ini, walaupun tidak ketat, mencakup endapan logam dasar dan
logam mulia yang terbentuk pada kedalaman <1 1="" 2003="" abel="" ada="" batasan=""
beberapa="" belakang="" berdasarkan="" berusia="" besar="" busur="" c=""
cretaceous.="" dalam="" dan="" dapat="" dari="" di="" dikelompokkan="" emas=""
endapan="" epitermal="" hedenquist="" hipogen="" illitoe="" intra="" jenis="" juga=""
ke="" kenozoikum="" km="" konvergen="" kumpulan="" latar="" lebih="" lempeng=""
lingkungan="" menengah="" mereka="" meskipun="" pascatumbukan="" perluasan=""
raksasa="" rendah="" sebagian="" serta="" sistem="" span="" subaerial="" suhu=""
sulfida="" sulfidasi="" terdapat="" tetapi="" tidak="" tinggi="" tua="" variasi=""
vulkanik="" yang="" zaman="">
Endapan bersulfidasi tinggi
Sistem emas dengan sulfidasi tinggi (HS) tersebar luas di busur vulkanik di seluruh
dunia. Endapannya berkisar dari contoh structurally controlled dan deeper seated, seperti
El Indio, hingga batuan berinang dangkal atau contoh breksi controlled seperti
Yanacocha, Pierina, dan Pueblo Viejo (Gambar 6; Sillitoe, 1999). Pada skala regional,
sistem HS terletak dalam busur vulkanik calc-alkaline yang didominasi oleh vulkanisme
andesitik. Mereka terbentuk di bagian atas sistem porfiri Cu (Au, Mo), yang tidak selalu
mengandung mineralisasi yang ekonomis. Endapan HS raksasa di Peru utara dan Andes
tengah di Argentina dan Chili semuanya berusia Miosen Pertengahan hingga Atas, dan
disimpulkan terbentuk di atas zona subduksi datar atau merata, dan bertepatan secara
temporal dengan kompresi dan pemendekan di kerak bagian atas. Seperti sistem porfiri,
sistem HS raksasa tampaknya terletak di persimpangan dari struktur berskala kerak busur
sejajar dengan busur melintang.
Secara lokal, sistem HS raksasa berhubungan dengan batuan felsik subvulkanik atau
vulkanik, seringkali menunjukkan aktivitas yang berkepanjangan di dalam pusat beku.
Mereka dapat terbentuk dalam batuan vulkanik, seperti di Yanacocha dan Pierina, atau
juga di basement-nya, seperti di Veladero, Pascua-Lama, dan Alto Chicama, kasus

terakhir mencerminkan pengangkatan terdorong kompresi. Endapan HS terletak dalam


alterasi argilik lanjutan dengan volume besar yang terbentuk melalui pencampuran uap
magmatik asam dan air tanah di atas intrusi porfiri termineralisasi (Hedenquist et al.,
1998). Biasanya, zona alterasi argilik lanjutan ini menunjukkan zonasi karakteristik dari
silika berongga proksimal melalui kumpulan argilik lanjutan yang mengandung alunit,
pyrophyllite, dickite, dan kaolinit hingga alterasi argilik distal. Zona alterasi mengandung
silika sentral adalah inang utama bagi ore. Sifat batuan inang dapat menghasilkan variasi
dari kumpulan alterasi khas dan pola zonasi tersebut.
Mineralisasi di endapan-endapan HS terdiri dari kumpulan sulfida kaya pirit termasuk
mineral dengan keadaan sulfidasi tinggi, seperti enargit, luzonit, dan kovelit. Mineralisasi
terjadi setelah pembentukan lithocap argilik lanjutan yang dijelaskan di atas. Cairan
mineralisasi bersifat jauh lebih sedikit asam daripada cairan yang bertanggung jawab atas
pembentukan zona alterasi argilik lanjutan yang menjadi inang dari mineralisasi (Jannas
et al., 1990; Arribas, 1995). Fluktuasi-fluktuasi dari enargit ke tetrahedrite-tennantite
adalah fitur umum selama evolusi endapan HS dan menunjukkan adanya perubahan
dalam keadaan sulfidasi dan pH cairan mineralisasi selama hidup sistem hidrotermal
(Sillitoe dan Hedenquist 2003, Einaudi et al., 2003). Emas minor dapat terbentuk dengan
mineralisasi enargit awal, tetapi kebanyakan emas diperkenalkan dengan peristiwa
mineralisasi sfalerit Fe rendah tennantite-tetrahedrite paragenetik baru (Einaudi et al.,
2003).
Sistem raksasa terdiri dari mineralisasi Au-Ag disseminated yang sering terdapat dalam
tubuh ore berbentuk jamur dengan akar struktural yang sempit (Gambar 6). Kontras
permeabilitas antara aquitard dan litologi yang permeabel dapat menjadi kontrol penting
dalam distribusi emas. Selain itu, breksi biasanya berlimpah dan merupakan inang bagi
ore dalam beberapa sistem. Breksi phreatomagmatic terdapat dalam semua endapan HS
raksasa yang menggarisbawahi hubungan genetik dengan intrusi yang mendasarinya.
Mineralisasi dapat terjadi selama interval vertikal ratusan meter di bawah paleosurface,
dari Au-Ag disseminated langsung di bawah alterasi uap panas permukaan hingga ke Auenargit yang terkontrol secara struktural di kedalaman. Oksidasi supergen, sering hingga

kedalaman yang dalam di batuan silisifikasi permeabel, menghasilkan mineralisasi emas


oksida yang dapat dipulihkan dengan leaching sianida.

Gambar 6: Model skema sistem HS terkait kubah di atas sistem porfiri induk yang
mendasarinya. Alterasi dan kumpulan mineral sulfida Cu bervariasi dengan kedalaman di
bawah paleosurface, yang ditandai dengan batuan terlarut asam dengan asal uap panas.
Diadaptasi dari Sillitoe (1999).
Endapan sulfidasi menengah
Sistem emas sulfidasi menengah (IS) juga terbentuk terutama dalam rangkaian vulkanik
dari komposisi andesit hingga dasit dalam busur vulkanik calc-alkaline. Endapan Au IS
besar ditemukan dalam in busur magmatik kompresional serta ekstensional. Beberapa
sistem IS kaya Au secara spasial terkait dengan sistem porfiri (misalnya, Rosia Montana,
Baguio) sementara yang lain berdampingan dengan sistem HS sezaman (Victoria,

Chiufen-Wutanshan). Selain itu, beberapa endapan IS kaya Au yang lebih besar


berhubungan dengan diatrema yang lebih menekankan koneksi magmatik.
Pada skala endapan, mineralisasi terjadi di urat, stockwork, dan breksi. Urat dengan
kuarsa, karbonat manganiferous dan adularia biasanya menjadi inang mineralisasi Au.
Emas ada sebagai logam asli dan sebagai telurida bersama dengan berbagai sulfida logam
dasar dan sulfosalt. Sfalerit rendah Fe, tetrahedrite-tennantite, dan galena seringkali
mendominasi kumpulan-kumpulan ini. Urat Au IS dapat menunjukkan tekstur
crustiformcolloform terikat klasik di urat. Litologi permeabel dalam rangkaian inang
memungkinkan adanya pengembangan tonase besar mineralisasi stockwork tingkat
rendah.
Alterasi mineral dalam endapan Au IS yang dikategorikan dari kuarsa karbonat
adularia ilit proksimal hingga mineralisasi melalui ilit-smektit ke alterasi propilitik
distal (Simmons et al., 2005). Breksi mungkin umum dan dapat menunjukkan bukti dari
kejadian breksiasi yang berulang.
Endapan sulfidasi rendah
Endapan emas epitermal sulfidasi rendah (LS) dari subtipe alkalik dan subalkalik berbagi
sejumlah karakteristik (Tabel 1) dan dijelaskan secara bersamaan. Karakteristik yang
berbeda-beda dari endapan LS alkalik yang kurang umum disoroti apabila sesuai.
Kebanyakan endapan emas LS ditemukan di retakan intra-arc atau back-arc dalam busur
benua atau busur pulau dengan vulkanisme bimodal (Tabel 1). Retakan dapat terbentuk
selama atau setelah subduksi atau dalam latar pascatumbukan. Selain itu, beberapa
endapan LS ditemukan di busur vulkanik andesit-dasit-riolit, tetapi hanya dalam latar
yang benar-benar ekstensional (Sillitoe dan Hedenquist, 2003). Endapan subset alkalik
dari endapan epitermal sulfidasi rendah secara khusus dikaitkan dengan sabuk magmatik
alkali namun berbagi latar ekstensional dengan rekan sesama calc-alkaline (Tabel 1;
Jensen dan Barton, 2000).

Pada skala endapan, endapan emas LS biasanya terjadi dalam unit vulkanik, tetapi juga
dapat terjadi di basement-nya. Perkembangan urat di basement tidak mencerminkan
pengangkatan syn-mineral, seperti yang pada kasus sistem HS dan IS, melainkan
persimpangan sistem hidrotermal dengan batuan dasar inang basement yang lebih
menguntungkan secara rheologis. Dyke mafik syn-mineral umum terdapat dalam endapan
tersebut (Sillitoe dan Hedenquist, 2003). Kedua endapan disseminated dan kelas tinggi
yang terkontrol secara struktural dapat terbentuk, misalnya Round Mountain dan
Hishikari, secara berurutan (Gambar 7). Endapan LS calc-alkali membatasi kontinuitas
vertikal, pada umumnya <300 m="" sedangkan="" span="">endapan LS alkalik seperti
Porgera dan Cripple Creek dapat meluas lebih dari 1 km secara vertikal. Mineralisasi
dalam sistem LS subalkalik umumnya memiliki kadar perak yang tinggi (Au: Ag rasio <1
dan="" kandungan="" logam="" span="">dasar yang rendah dan emas berkaitan dengan
piritsfalerit tinggi Fe pirhotit arsenopirit. Sebaliknya, mineralisasi alkalik LS
umumnya mengandung mineral telurida yang berlimpah, telah mengangkat rasio Au: Ag,
dan mineral pengganggu kuarsa yang tidak begitu besar (Jensen dan Barton, 2000).
Mineralogi alterasi dalam sistem LS menunjukkan zonasi lateral dari kuarsa-kalsedon
proksimaladularia dalam urat termineralisasi, yang biasanya menampilkan banding
crustiform-colloform dan platy, kuarsa bertekstur kisi yang mengindikasikan pendidihan,
melalui kumpulan alterasi ilit-pirit ke propilitik distal alterasi (Gambar 7). Zonasi vertikal
dalam mineral lempung dari kumpulan kaolinit-smektit bersuhu rendah yang dangkal
hingga ilit bersuhu lebih tinggi yang lebih dalam juga telah dijelaskan (Simmons et al.,
2005). Seperti sistem HS dan IS, komposisi batuan inang juga dapat menyebabkan variasi
dalam pola zonasi mineral alterasi dalam sistem LS. Kumpulan alterasi dalam endapan
LS alkalik umumnya mengandung roskolit, mika putih kaya V, dan mineral karbonat
yang berlimpah (Jensen dan Barton, 2000).

Gambar 7: Bagian skema yang menunjukkan pola alterasi dan mineralisasi yang khas
dalam sistem sulfidasi rendah. Dimodifikasi dari Hedenquist et al. (2000).
Fitur paleosurface
Menurut definisi, sistem epitermal terbentuk dekat dengan paleosurface dan, karena itu,
setiap sistem yang dijelaskan di atas kemungkinam terletak di bawah selimut alterasi uap
panas yang terbentuk di atas tabel paleowater (Gambar 7). Seperti yang ditunjukkan oleh
namanya, alterasi ini dibentuk oleh pengasaman air meteorik dingin oleh uap asam yang
berasal dari cairan hidrotermal naik yang mendidih. Alterasi uap panas biasanya terdiri
dari kristobalit, alunit, dan kaolinit bubuk yang halus, dan memiliki morfologi yang
meniru paleotopography. Lapisan silika opaline besar menandai tabel air. Sinter yang
mengandung silika juga dapat terbentuk, menandai zona outflow di mana tabel

paleowater berpotongan dengan topografi, namun sinter hanya akan terbentuk di atas atau
di cabang sistem LS di mana cairan upwelling memiliki Ph mendekati netral (Simmons et
al., 2005).
Endapan jenis Carlin
Istilah jenis Carlin (CT) pertama kali digunakan untuk mendeskripsikan kelas endapan
emas dengan inang sedimen di pusat Nevada menyusul penemuan tambang Carlin pada
tahun 1961. Mineralisasi jenis Carlin terdiri dari emas disseminated di batuan kapur
dengan lanau (silt) dan batuan lanau kapur terdekalsifikasi dan tersilisifikasi dengan
tingkat berbeda-beda, dan ditandai oleh peningkatan rasio As, Sb, Hg, Tl, Au: Ag > 1 dan
nilai logam yang sangat rendah (Hofstra dan Cline, 2000; Muntean, 2003; Tabel 1).
Mineralisasi tahap ore utama terdiri dari emas di kisi lingkaran pirit arsenik pada inti pirit
pra-mineral dan pirit auriferous mengandung jelaga disseminated, dan umumnya dioverprint oleh realgar tahap ore akhir, orpiment dan stibnite dalam rekahan, veinlet dan
rongga (Hofstra dan Cline, 2000; Cline, et al., 2005). Endapan dan distrik jenis Carlin
yang terbesar dan paling signifikan terletak di Nevada Pusat. Telah terdapat kemajuan
signifikan selama dekade terakhir dalam pemahaman usia, latar geologi, dan kontrol
endapan-endapan tersebut.
Pada skala regional, endapan-endapan tersebut terbentuk dalam kelompok turbidit
karbonat lereng-fasies Paleozoik menguntungkan yang mengarah ke utara dan arus puing
dalam margin pasif benua Amerika Utara (Gambar 8). Batuan karbonat lereng-fasies
membentuk pelat bawah bagi batuan silisiklasik perairan dalam Paleozoik yang telah
berulang kali terdorong dari barat selama peristiwa orogenik Paleozoic akhir hingga
Cretaceous, yang menyebabkan perkembangan struktur sudut rendah dan lipatan terbuka.
Wilayah ini telah di-overprint oleh peristiwa magmatik Jurassic hingga Miosen terkait
dengan lempeng subduksi dengan kemiringan timur yang dangkal, dan terpotong oleh
serangkaian patahan sudut tinggi mengarah ke utara yang menampung ekstensi
Kenozoikum (Hostra dan Cline, 2000).

Endapan jenis Carlin dan distrik di mana mereka mengelompok didistribusikan bersama
dengan kecenderungan sempit yang terdefinisi dengan baik (Gambar 8) yang sekarang
telah dipahami sebagai representasi pecahan kerak yang meluas ke mantel atas.
Kecenderungan utama adalah miring ke margin benua pasif Paleozoic awal dan
kemungkinan mewakili struktur kerak dalam yang terkait dengan pemecahan benua dari
masa Neoproterozoic (Tosdal et al., 2000).

Gambar 8: Peta Nevada Pusat menunjukkan lokasi endapan jenis Carlin dan
kecenderungan-kecenderungan, relatif ke tepi thrust Paleozoic utama (putih) dan batasan
antara kerak benua dan kerak samudera di basement (kuning, didefinisikan dengan
87Sr/86Sr (i)=0,706;. dari Tosdal et al., 2000). CT=Carlin Trend, BMET=Battle
Mountain Eureka Trend, GT=Getchell Trend, IT=Independence Trend. Background
berwarna menunjukkan lingkungan pengendapan Paleozoic yang dominan, dengan

lingkungan lereng-fasies (transisional) yang menguntungkan ditunjukkan dalam warna


hijau.
Penanggalan langsung mineral terkait ore dan dyke terkait di endapan raksasa Getchell,
Twin Creeks, dan Goldstrike menunjukkan bahwa mineralisasi emas diendapkan dalam
interval waktu yang sempit, antara 40 dan 36 Ma, pada waktu transisi dari tektonik
kompresional ke ekstensional di Nevada Pusat (Arehart et al., 2003; Cline et al., 2005;
Ressel dan Henry, 2006). Pekerjaan terbaru menggunakan termokronologi fission-track
apatit telah lebih jauh mendokumentasikan peristiwa termal berskala distrik sekitar 40
Ma di atas tren Carlin utara, yang kemungkinan mewakili jejak termal dari sistem
termineralisasi (Hickey et al., 2005a).
Endapan dan distrik terbesar, Getchell, Cortez, dan Goldstrike, secara spasial terkait
dengan pluton Mesozoikum pra-mineral yang dianggap telah berperan sebagai penopang
struktural selama peristiwa tektonik berikutnya, sehingga meningkatkan patahan dan
retakan, dan meningkatkan permeabilitas batuan inang sedimen bagi cairan mineralizing
yang baru. Di distrik-distrik tersebut, patahan normal bersudut tinggi dengan sadapan
yang dalam merupakan kontrol penting dari mineralisasi, terutama yang mewakili
patahan basement yang aktif kembali selama inversi cekungan (Muntean, 2003). Adanya
lempeng dorong batuan silisiklastik juga dianggap penting seperti aquaclude berskala
distrik yang menaikkan dispersi lateral cairan termineralisasi ke dalam batuan inang
reaktif. Aplikasi terbaru dari stratigrafi rangkaian karbonat untuk the Great Basin
menunjukkan bahwa batuan inang yang menguntungkan di sebagian besar distrik
terbentuk di batasan rangkaian rendah-penyangga urutan ke-3 dalam lingkungan fasies
lereng karbonat (Cook and Corboy, 2004). Selama siklus penyangga rendah (permukaan
laut rendah), lingkungan lereng karbonat menjadi tidak stabil dan melepaskan urutan
turbidit kasar dan aliran puing yang membentuk horison stratigrafis karbonat yang paling
menguntungkan bagi mineralisasi CT disseminated.
Rekonstruksi paleogeografi dari permukaan erosional Eosen di sepanjang Tren Carlin
telah menetapkan bahwa kedalaman pembentukan endapan CT kemungkinan sedalam 1
sampai 3 km (Hickey et al., 2005b). Sebuah kedalaman formasi yang dangkal bagi

endapan jenis Carlin juga didukung oleh tekstur hypabyssal dan margin kaca yang
diamati dalam dyke Eosen yang telah meng-overprint mineralisasi di tambang Deep Star
dan Dee dalam Tren Carlin (Heitt et al, 2003;. Ressel dan Henry, 2006).
Sebagian besar endapan terdiri dari zona stratabound yang diumpan secara struktural dari
mineralisasi disseminated-replacement dalam horison batuan lanau mengandung kapur
tertentu atau dari badan breksi silika-sulfida tingkat tinggi yang dikontrol oleh patahan
(Gambar 8; Hofstra dan Cline, 2000; Teal dan Jackson, 2002). Struktur antiklinal dan
adanya batuan tudung seperti sill dan dyke dengan kemiringan menengah sangat
menguntungkan bagi perkembangan mineralisasi jenis replacement (Muntean, 2003;
Tabel 1). Endapan-endapan lain juga dapat terdiri dari mineralisasi fracture-controlled di
dinding gantung yang hancur pada struktur utama, atau dari mineralisasi disseminated
dalam batuan intrusif felsik dan mafik. Perubahan terkait terdiri dari dekalsifikasi yang
luas dari batuan inang dan silifikasi yang memiliki banyak tahap namun lebih proksimal
(Gambar 9). Dekalsifikasi yang intens menyebabkan disolusi skala besar dan
berkembangnya breksi yang runtuh, yang dapat membentuk sebuah situs mineralisasi
yang sangat menguntungkan. Zonasi mineral alterasi mencakup ilit+kaolinit+dikit dan
smektit di dalam zona terdekalsifikasi dengan kaolinit tingkat akhir dan bubuk
silika+zeolit pada rekahan dalam zona tersilisifikasi ( Kuehn dan Rose , 1992)
Mineralisasi emas primer di endapan jenis Carlin bersifat refraktori tetapi sesuai dengan
autoklaf dan teknologi ekstraksi pemanggangan. Namun, oksidasi mendalam, dianggap
supergen meskipun hal tersebut menyebabkan bentuk yang tidak teratur dan terkadang
terbentuk di bawah zona karbon/sulfida sehingga membuat banyak ore karbon dan
sulfidik sebelumnya menjadi sesuai dengan leaching sianida konvensional.

Gambar 9: Diagram skematik menunjukkan mineralisasi terkontrol secara struktural dan


mineral stratabound yang tak selaras sehubungan dengan zona tersilisifikasi dan
terdekalsifikasi dalam batuan kapur inang penerima dalam sistem CT.
METODE EKSPLORASI
Strategi eksplorasi
Dalam dekade terakhir ini, terdapat penurunan yang signifikan baik dalam jumlah
endapan emas besar yang ditemukan (> 2,5 Moz Au) dan jumlah emas yang terkandung
dalam endapan-endapan tersebut, jika dibandingkan dengan awal hingga pertengahan 90an (Metals Economics Group, 2006). Dari 44 penemuan emas besar dalam dekade
terakhir, 32 di antaranya ditemukan pada tahun 1996-2000, dan hanya 12 lainnya yang
ditemukan pada tahun 2001-2006. Dari 44 penemuan emas besar ini, 31 di antaranya
dikarenakan oleh adanya eksplorasi greenfield, dan hanya 13 yang merupakan hasil dari
eksplorasi brownfield, tetapi penemuan dekat tambang belum menurun pada tingkat yang
sama seperti penemuan Greenfield. Data tersebut membuktikan berlanjutnya nilai
eksplorasi regional dan pentingnya eksplorasi dekat tambang dalam strategi setiap

produsen emas menengah hingga besar. Selain tingkat penemuan yang menurun,
kesuksesan di masa depan harus dicapai dalam konteks meningkatnya biaya,
meningkatnya tekanan untuk penggantian sumber daya/cadangan tahunan, dan
meningkatkan ukuran minimum endapan yang benar-benar berdampak pada laba bersih
di perusahaan besar.
Sebuah tinjauan terhadap metode utama penemuan endapan emas yang ditemukan dalam
10 tahun terakhir menunjukkan bahwa pemahaman geologis adalah elemen penting
dalam proses penemuan baik dalam lingkungan greenfield dan brownfield (misalnya
Sillitoe dan Thompson, 2006). Geokimia dengan didukung geologi memainkan peran
penting terutama dalam kasus-kasus di mana endapan terpapar, dan penemuan yang
dibantu oleh geofisika dalam beberapa kasus di mana penemuan tersembunyi (Sillitoe
dan Thompson, 2006). Pelajaran yang jelas dari analisis ini adalah bahwa geologi harus
tetap menjadi fondasi penting dari program eksplorasi emas di masa depan. Oleh karena
itu, elemen keberhasilan yang penting untuk para pencari tambang emas adalah
pemahaman dan pendeteksian berbagai jenis endapan emas dan latar geologisnya dan
kontrol pada skala regional hingga lokal yang menguntungkan, dan semakin
bertambahnya di daerah tertutup. Begitu juga dengan pemahaman tentang tingkat erosi
yang relatif terhadap kedalaman pembentukan sistem yang dieksplorasi, dari lingkungan
di mana mereka dapat dipelihara dengan baik. Unsur lain adalah aplikasi terhadap teknik
deteksi yang telah terbukti dan berkembang dengan bijaksana, dengan integrasi yang erat
dengan geologi. Strategi yang berhasil harus menekankan fitur deteksi sama banyaknya
dengan fitur geologi yang khas dari latar yang menguntungkan, seperti manifestasi
hidrotermal dari endapan, seperti alterasi dan mineralisasi, dan produk-produk
dispersinya dalam lingkungan permukaan. Selain itu, pendekatan eksplorasi juga perlu
mempertimbangkan keunikan dan hal-hal yang tidak biasa sehingga endapan yang tidak
sesuai dengan model-model terbaru atau yang terjadi dalam latar yang tidak biasa tidak
diabaikan (misalnya Sillitoe 2000b).
Eksplorasi sekarang didukung oleh berbagai integrasi data dan alat-alat pengolah yang
canggih, dari platform GIS 2D lanjutan, yang memiliki kemampuan untuk menampilkan

data pengeboran, hingga paket pemodelan data 3D, pengolahan, dan visualisasi yang
telah maju. Paket 3D lebih cocok untuk lingkungan dekat tambang atau lingkungan kaya
data, sedangkan platform GIS 2D telah menjadi alat penting dalam eksplorasi regional.
Namun, pendekatan apapun harus berfokus pada pendeteksian jejak , atau unsur-unsur
jejak dari sistem mineralisasi pada skala regional dan lokal. Terakhir, sumber daya
manusia adalah faktor penting dari setiap pendekatan eksplorasi yang baik. Anggota tim
tidak hanya harus memiliki kemampuan dan pengalaman, namun mereka juga harus
memahami karakteristik dari endapan emas yang mereka cari mendapatkan waktu yang
cukup untuk menguji target mereka secara memadai. Faktor-faktor lain seperti
pemahaman yang sangat baik mengenai metode eksplorasi yang telah terbukti,
penggunaan teknologi yang efektif, kepemimpinan yang antusias dan bertanggung jawab,
sikap percaya diri dengan posisi perusahaan, dan menarik serta melatih para profesional
muda juga merupakan hal yang penting.
Kemajuan dalam Teknik Eksplorasi bagi Endapan Emas
Geofisika
Dalam dekade terakhir, terdapat kemajuan yang signifikan pada metode geofisika yang
telah terbukti dan pada teknik untuk menafsirkan dan untuk memvisualisasikan data
geofisika. Kemajuan-kemajuan tersebut mencapai pengaruh penuh mereka dengan
pertimbangan yang tepat mengenai sifat-sifat fisik batuan dalam kaitannya dengan
manifestasi utama jenis-jenis endapan yang berbeda dan fitur utama dari manifestasi
lingkungan inang mereka (Tabel 1) pada jenis endapan. Bersamaan dengan
berkembangnya model endapan ore, jumlah data petrophyscial juga berkembang, yang
dikumpulkan melalui pembalakan lubang bor atau analisis sampel tangan, dan banyak
studi terbaru (misalnya Proyek 685 Australian Minerals and Research Organization
(AMIRA)-Pembalakan Mineralogis Inti Bor, Chip, dan Bubuk, Proyek University of
British Columbia (UBC) Mineral Deposit Research Unit Geophysical Inversion Facility
(MDRU-GIF)-Membangun model 3D, dan Project 740 AMIRA- Predictive Mineral
Discovery Cooperative Research Center (PMD*CRC)) berfokus pada analisis
petrophyscial dari sistem ore yang telah dikenal. Sifat petrofisikal menentukan teknik
geofisika mana yang paling baik digunakan untuk menargetkan mineralisasi. Misalnya,

Pittard dan Bourne (2007) menentukan bahwa kombinasi magnetit dan pirit, bukan pirit
saja, dapat menyebabkan respons polarisasi terinduksi pada endapan Centenary
(greenstone) di Yilgarn, Australia Barat. Secara historis, data petrophyscial juga telah
digunakan pada skala regional, misalnya, untuk melihat efek dari metamorfosis pada
respons geometri dan geofisika dari sabuk greenstone (Bourne et al., 1993) namun
melihat minat baru mengenai pengenalan rutinitas inversi geofisika a priori dalam
beberapa waktu terakhir.
Ada banyak contoh teknik gravitasi yang digunakan pada semua skala, dari identifikasi
calon distrik emas hingga alterasi hidrotermal terkait emas pada skala lokal. Baru-baru
ini, pengembangan sistem gradien gravitasi udara (misalnya BHP Billiton-Falcon, Bell
Geospace-Air FTG), telah menyaksikan penerapan teknik gravitasi yang semakin
berkembang. Banyak area yang sebelumnya sulit diakses lewat darat dan memerlukan
akuisisi yang cepat sekarang dapat dengan mudah diakses. Sistem gradient sekarang
setara dengan resolusi 0,4mGal/500m. Gravimeter airborne digunakan untuk survei
regional dan memiliki resolusi mendekati 0,8mGal/2,5km. Survei tanah masih merupakan
yang paling efektif dalam hal biaya di pangkalan dengan jarak kurang dari 1 km (akses
dimungkinkan) dan dapat diselesaikan hingga 0,01mGal/<1m .="" span="">
Gravitasi adalah teknik yang efektif untuk menentukan geometri dan struktur sabuk
greenstone pada skala regional, seperti yang diilustrasikan pada Gambar 10. Pengalaman
di Barrick menunjukkan bahwa gravitasi juga terbukti efektif dalam pemetaan intrusi
daerah sedimen dan vulkanik untuk Carlin, OIR dan sistem RIR. Struktur dan alterasi
juga dapat dipetakan, baik secara langsung oleh gravitasi di lingkungan yang lapuk atau
disimpulkan dalam daerah tersebut di mana unit geologis dengan kepadatan yang
berbeda-beda berimbang dan/atau berubah. Metode magnetik dan radiometrik dianggap
sebagai teknik eksplorasi yang lebih matang, namun masih sangat penting. Perbaikan
secara bertahap terus dilakukan, yaitu dengan sampel yang lebih baik atau menggunakan
beberapa sensor untuk mengukur gradien yang dapat membantu interpolasi informasi
antara garis terbang.

Gambar 10: Respon gravitasi Bouguer (2.67g/cc) dari Goldfields Timur, Australia (kiri)
dan Sabuk Greenstone Abitibi, Kanada (kanan) dengan struktur regional dan lokasi
endapan emas yang besar. Data Goldfields Timur dari Geological Survey of Western
Australia; data Abitibi dari Geological Survey of Canada.
Salah satu kemajuan yang paling besar dalam geofisika adalah inversi rutin data lapangan
potensial (magnetik dan gravitasi) dalam 3D. Kemajuan dalam daya komputer telah
memungkinkan inversi diterapkan pada berbagai permasalahan, dari pemodelan target
diskrit hingga geologi regional. Ada banyak contoh baik dari inversi 3D yang digunakan
untuk memetakan alterasi yang terkait dengan sistem emas, misalnya oleh Coggon (2003)
di Wallaby, Australia Barat, dan oleh Wallace (2007) di Musselwhite, Kanada.
Namun, kurangnya kendala petrofisika dan geologis, dan dorongan untuk melihat data
dalam 3D juga menyebabkan penerapan teknik inversi 3D yang tidak pantas. Popularitas

inversi data lapangan yang potensial telah menyebabkan dorongan baru untuk inversi
data listrik. Meskipun secara perhitungan lebih intensif, teknik listrik baru saja mulai
dimodelkan dalam 3D. Data magnetotelurik (MT), misalnya, secara tradisional telah
diperoleh dan diproses dalam 2D (Petrick, 2007). Solusi terbaik untuk memecahkan
masalah eksplorasi sebenarnya adalah dengan memperoleh data yang dapat diproses
dalam 3D. Contoh terbaru dari manfaat pengolahan data dalam 3D, dibandingkan dengan
2D, dari endapan Dee-Rossi Carlin di Nevada ditunjukkan pada Gambar 11.

Gambar 11: Sebaran konduktivitas bawah permukaan pada kedalaman 450m diperoleh
dari menautkan inversi 2D-TM (kiri) dan inversi 3D (kanan) dari data magnetotelurik di
daerah Dee-Rossi, Nevada (setelah Petrick, 2007). Jarak tick adalah 1 km.
Kemampuan untuk membuat model data dalam bentuk 3D baru saja mulai
mempromosikan akuisisi data elektrik (resistivitas dan polarisasi induksi) di berbagai
susunan 3D yang dapat memanfaatkan teknik inversi baru. Akuisisi dengan corak
susunan baru menghasilkan data yang sulit diperiksa validitasnya di lapangan dan tidak
diragukan lagi akan menjadi fokus pembangunan di masa depan. Teknik kekebalan secara

dominan digunakan dalam lingkungan sedimen, di mana terdapat kontras antara sedimen
terrigenous berkarbon dan nonkarbon. Dalam lingkungan sedimen, intrusi dan zona
alterasi silika biasanya lebih kebal daripada batuan inangnya. Sistem elektromagnetik
domain waktu helikopter yang tersedia secara komersil dengan penerima in-loop semakin
banyak diterapkan dalam eksplorasi emas, misalnya Newmont-NEWTEM dan GeotechVTEM. Sistem tersebut memiliki geometri tetap yang memungkinkan mereka
diterbangkan lebih dekat ke tanah, sehingga memberikan resolusi yang lebih tinggi dan
membuat data lebih mudah ditafsirkan. Selain itu, kemampuan membaca awal semakin
meningkat sehingga membuat sistem yang lebih baik untuk pemetaan dan untuk
mengidentifikasi resistor dekat permukaan dan/atau alterasi hidrotermal. Sebagai contoh,
Gambar 12 menunjukkan respon sulfida disseminated yang berhubungan dengan
mineralisasi emas di unit magnetit-BIF di lingkungan sabuk greenstone.

Topografi

Magnetik

HEM Akhir Waktu (6m detik)

Gambar 12: Respons data topografi, magnetik, dan akhir waktu dari helikopter EM dari
endapan sulfida disseminated, Danau Victoria Goldfields, Tanzania. Lebar gambar ~2,5
km.
Survei seismik tidak banyak diterapkan untuk eksplorasi emas di area batuan keras. Hal
ini sebagian besar disebabkan oleh geometri 3D kontak litologi yang rumit dan sifat
kemiringannya yang seringkali curam dan tingginya biaya akuisisi dibandingkan dengan
teknik geofisika lainnya. Walaupun begitu, dalam beberapa tahun terakhir, survei seismik
telah digunakan di skala lokal (Stoltz et. Al., 2004) dan regional untuk memetakan
stratigrafi dan struktur dalam latar geologi yang sesuai. Bersamaan dengan kemajuan
dalam pemahaman model emas, metode dan teknik geofisika untuk menafsirkan dan
memvisualisasikan data juga mengalami kemajuan. Salah satu langkah terbesar dalam
dekade terakhir adalah akuisisi dan aplikasi data petrofisikal untuk memecahkan
masalah-masalah geologi. Pendekatan ini dapat mengarah pada penemuan mineralisasi
emas dengan mengaitkan respon geofisika ke jenis batuan yang berbeda atau ke alterasi.
Geokimia
Dalam eksplorasi regional, geokimia sedimen sungai, dalam bentuk fraksi halus
konvensional, BLEG (Bulk Leach Extractable Gold), leach sianida, atau sampel
konsentrat dulang, terus menjadi alat penting dalam eksplorasi emas. Pada skala yang
lebih lokal, teknik geokimia seperti sampel tanah, ketimpangan, dan chip batuan biasanya
efektif dalam mendefinisikan anomali yang terkait dengan endapan outcropping atau
subcropping. Kombinasi dari unsur-unsur yang merupakan karakteristik asosiasi
metalogenik dari berbagai model endapan (Tabel 1) dapat digunakan secara bersamaan
untuk memprioritaskan anomali sesuai dengan jenis model. Emas bebas mentah yang
terdapat di banyak endapan emas, terutama di RIR, orogenik, dan beberapa sistem
epitermal LS, menyebabkan perkembangan endapan placer terkait yang signifikan dalam
latar geomorfologi yang sesuai. Mengingat ketahanan emas terhadap pelapukan, seperti
yang didokumentasikan dalam analisis partikel emas dalam konsentrat mineral berat dari
sedimen glasial atau sungai, studi tentang komposisi, bentuk, dan isi cakupan partikel
emas memungkinkan pelacakan endapan emas sampai sumbernya dengan efektif.
Namun, mineralisasi hipogen pada endapan greenstone atipikal dari jenis disseminated
stockwork, Carlin, dan endapan epitermal HS seringkali refraktori dan tidak meluruhkan

placer atau emas mentah yang signifikan ke dalam lingkungannya. Metode eksplorasi
geokimia nonkonvensional menjadi semakin penting bersamaan dengan majunya
eksplorasi ke daerah-daerah yang lebih dalam. Selama sepuluh tahun terakhir, kita telah
melihat perkembangan berbagai teknik baru yang mendeteksi fitur geokimia dan biologis
jarak jauh (farfield) dari endapan mineral, seperti yang baru-baru ini ditinjau oleh Kelley
et al. (2006) . Metode pendeteksian terbaru meliputi: potensi reduksi-oksidasi dalam
tanah, populasi mikroba dalam tanah, analisis gas tanah, leach selektif, konsentrasi
halogen, dan komposisi isotop. Kebanyakan dari teknik ini masih dalam tahap awal
dengan hanya beberapa studi kasus, namun dengan penelitian lebih lanjut, teknik-teknik
tersebut dapat menjadi teknik yang menjanjikan di masa depan.
Berbagai kriteria petrokimia mungkin efektif dalam menentukan kelompok batuan beku
yang menguntungkan bagi endapan yang termasuk klan OIR dan RIR. Misalnya, rasio
Sr/Y dalam keseluruhan sampel batuan dapat digunakan untuk menentukan lelehan
hidrous teroksidasi yang subur, dan isotop oksigen telah digunakan untuk menentukan
jalur aliran fluida di endapan emas epitermal Comstock, USA (Kelley et al. 2006). Studi
jalur fisi apatit di distrik Carlin telah menyoroti aureol termal besar yang berkaitan
dengan endapan jenis Carlin (Cline et al., 2005; Hickey et al., 2005a). Definisi anomalianomali termal serupa di tempat lain mungkin merupakan indikator positif dari sistem
jenis Carlin, atau memiliki potensi endapan porfiri (Cunningham et al., 2004). Kelompok
batuan beku dan zona alterasi dengan usia yang menguntungkan sekarang dapat
diidentifikasi dengan teknik penanggalan baru secara lebih cepat dan ekonomis. Usia
yang menguntungkan dari batuan pada daerah yang memiliki prospek besar juga dapat
diidentifikasi dengan teknik seperti GEMOCs TerraneChronTM di mana zirkon dari
konsentrat mineral berat regional dianalisis (OReilly et al., 2004). Terakhir, berbagai
peningkatan dalam hal analisis juga berkontribusi terhadap kemajuan signifikan dalam
pemahaman tentang jenis-jenis endapan emas. Hasilnya adalah teknik Re-Os untuk
penanggalan langsung mineral terkait ore dan teknik ICPMS laser ablasi untuk
menganalisis komposisi ore-fluida, atau Au dan unsur-unsur jejak lainnya dalam pirit.
Penginderaan jarak jauh dan spektroskopi inframerah berbasis lapangan

Kemajuan teknologi yang sangat signifikan telah diciptakan dalam sepuluh tahun
terakhir di bidang spektroskopi inframerah untuk pemetaan alterasi. Sistem multispektral
satelit seperti ASTER dan sensor hiperspektral udara seperti Hymap telah meningkatkan
resolusi spasial dan spektral, rasio sinyal-ke-kebisingan yang lebih tinggi, dan cakupan
jangkauan spektral yang lebih luas. Instrumen hiperspektral portabel lapangan seperti
Pima telah menjadi alat standar untuk pemetaan alterasi sejak pertama kali diperkenalkan
ke industri mineral pada pertengahan 1990-an. Sejak akhir 90-an, berbagai spektrometer
portabel lapangan yang diproduksi oleh Analytical Spectral Devices memungkinkan
pengumpulan data tiga kali lebih cepat daripada PIMA, tidak hanya dari inti, chip, dan
pulp, tetapi juga jauh dari singkapan, pemotongan jalan, parit, dan dinding pit terbuka.
Sistem hiperspektral berbasis laboratorium milik CSIRO, yaitu Hylogger dan Hychipper,
mengoperasikan gambar secara otomatis dan spektral lebih dari 700m dari inti/hari dan
menganalisis sampel chip hingga 2000-3000 RC/hari. Sebuah tinjauan rinci tentang
teknologi ini dilakukan oleh Agar dan Coulter (2007, buku ini).
Kemajuan teknis seperti itu menyebabkan adanya peningkatan pada kemampuan dalam
pemetaan alterasi, struktur, litologi, dan regolit, terutama di tingkat distrik untuk skala
endapan. Pemetaan alterasi berbasis spektral telah membantu membangun model alterasi
untuk sejumlah jenis endapan, seperti endapan epitermal HS dan sabuk greenstone.
Pemetaan tersebut memberikan definisi yang lebih baik mengenai jejak alterasi dan
zonasi dari kumpulan mineral, misalnya dalam sistem HS di mana mineral lempung sulit
diidentifikasi secara visual (Thompson et al., 1999). Pendekatan ini juga mengidentifikasi
perubahan tak kentara dalam unsur kimia mineral, terutama dalam mika putih (ilitmuskovit) dan klorit (AusSpec, 1997), yang meningkatkan kemampuan vektor.
Selanjutnya, informasi tentang unsur kimia mineral dari mika putih dan klorit dapat cepat
diekstraksi secara semi-otomatis dari data spektral sehingga memungkinkan penentuan
informasi komposisi secara rutin (Pontual, 2004).
Sebagai contoh, Pima, Hylogger, Hychipper, dan studi mineralogi terintegrasi di
Kanowna Belle menunjukkan untuk pertama kalinya zonasi komposisi mika yang
diperluas beberapa kilometer di luar endapan greenstone 7 Moz di Provinsi Goldfield

Timur, Australia Barat (Halley, 2006). Penelitian ini menunjukkan bahwa mineralisasi
emas terkait secara spasial dengan daerah transisi antara phengite pembawa V dan
muskovit Barich (Gambar 13). Pola zonasi serupa, dari luas spasial yang mirip, juga telah
didokumentasikan di endapan emas lainnya di sabuk greenstone, seperti di St Ives dan
Wallaby, di Australia Barat dan di kamp Timmins, di Abitibi (Halley, 2006). Sistem
hiperspektral airborne seperti Hymap telah berhasil memetakan zonasi komposisi mineral
seperti itu di daerah yang luas (Cudahy et al, 2000).
Pemetaan komposisi mineral berbasis spektral menyediakan alat-alat vektor baru dalam
sistem hidrotermal besar, dan memperluas jejak alterasi melampaui batas yang
sebelumnya diketahui. Jejak alterasi yang lebih besar dan kemampuan tinggi vektor
mineral tersebut memungkinkan dilakukannya pengeboran dengan kerapatan yang lebih
rendah untuk penargetan skala kamp, dan terutama secara tertutup. Alat pemetaan alterasi
skala yang paling sering digunakan di tingkat regional hingga distrik dalam beberapa
tahun terakhir adalah ASTER. Dengan alat ini, para ahli geologi mampu memperoleh
informasi mineralogi permukaan yang berguna untuk pemetaan alterasi, litologi, dan
struktur, dengan resolusi mineralogi yang lebih banyak daripada yang bisa didapatkan
dengan menggunakan pencitraan Landsat TM yang lebih tua. Berbeda dengan anomalianomali Landsat FeOxTanah Liat, resolusi spektral yang lebih ditingkatkan dari
sistem ASTER memungkinkan dikenalnya mineral alterasi dan kelompok mineral
tertentu. Dengan gelang-gelang yang diposisikan secara kritis di sepanjang daerah-daerah
yang terlihat, dekat inframerah, inframerah gelombang pendek, dan inframerah termal,
tanda-tanda spektral dari alterasi argilik lanjutan, alterasi argilik, dan silisifikasi yang
berhubungan dengan sistem HS dapat dibedakan dengan mudah (Rowan et al, 2003).
Melalui kalibrasi tinggi, berdasarkan data lapangan atau data hiperspektral seperti
Hyperion, ASTER dapat memetakan alterasi ilit dan ilit-smektit yang terkait dengan
sistem epitermal sulfidasi rendah (Zhou, 2005) dan alterasi filik dalam sistem porfiri
(Mars dan Rowan, 2007). Selain itu, gelang inframerah termal (TIR) pada ASTER
memungkinkan pemetaan kelimpahan silika dan/atau kuarsa dan litologi (Rowan dan
Mars, 2003).

Gambar 13: Model 3D dari mineralisasi emas (abu-abu) dan unsur kimia mika putih
(biru adalah phengitic, coklat adalah muscovitic) di Kanowna Belle, Eastern Goldfields,
Australia. Looking ENE. Dari Halley (2006)
Sejak diluncurkan pada tahun 1999, ASTER telah terbukti paling efektif dalam pemetaan
sistem bersulfidasi tinggi yang terpapar pada skala distrik-regional di daerah kering,
semi-kering, hingga daerah yang kurang luas dan bervegetasi di seluruh dunia. Contoh
yang dapat diambil adalah dari endapan epitermal HS kelas dunia Pascua-Lama dan
Veladero di Chili. Pemetaan Aster dengan jelas mengidentifikasi pusat silisifikasi dan

alterasi argilik lanjutan, serta alterasi luar hingga argilik yang berhubungan dengan
endapan-endapan HS tersebut (Gambar 14). Dari sudut pandang eksplorasi regional,
informasi mengenai alterasi tersebut memungkinkan dibuatnya prioritas sasaran dan
dapat membimbing dengan efisien pemetaan dan sampling lapangan.
Namun, seperti teknologi lainnya, Aster juga memiliki keterbatasan. Untuk eksplorasi
emas, resolusi spasial 90 meter untuk gelang TIR masih merupakan faktor keterbatasan
untuk pemetaan silisifikasi yang berhubungan dengan silisifikasi urat kuarsa dan corak
stockwork dalam endapan bersulfidasi rendah, endapan sabuk greenstone dan endapan
terkait intrusi. Lebih lanjut, Aster mungkin tidak selalu membedakan litologi terkait
silisifikasi kuarsa vs. hidrotermal; atau alterasi argilik lanjutan hipogen dari alunite yang
dipanaskan dengan uap dalam sistem sulfidasi tinggi atau dari alunite supergen dalam
sistem porfiri. Seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, masalah kalibrasi juga
menghambat pemetaan Aster untuk mika putih dan unsur kimia mika putih.

Gambar 14: Alterasi peta Aster dari distrik Pascua Lama-Veladero, Chili. Alterasi
alunite intens pada inti sistem ditampilkan dalam warna merah sampai magenta,
bergradasi ke alterasi argilik dalam warna biru kehijauan dan kuning.
Silisifikasi ditampilkan dalam warna merah tua.
KESIMPULAN
Dalam dekade terakhir, telah ada kemajuan yang signifikan dalam pemahaman geologi,
latar dan kontrol dari beragam jenis endapan emas, termasuk diakuinya jenis-jenis
endapan baru di lingkungan baru. Kemajuan tersebut sejajar dengan perkembangan
integrasi, pengolahan, dan teknik visualisasi data, dan kemajuan dalam teknik deteksi
geofisika, geokimia dan spektral. Para ahli geologi kini lebih siap untuk menghadapi
tantangan yang semakin sulit untuk menemukan emas. Namun, salah satu pelajaran
utama dari dekade terakhir, seperti yang diingatkan oleh Sillitoe dan Thompson (2006),
adalah bahwa pekerjaan eksplorasi harus tetap didasarkan pada faktor geologi, khususnya
di lapangan, dan teknik pendeteksian yang rumit dan alat-alat yang tersedia hanya akan
bermanfaat penuh apabila diintegrasikan erat dengan kerangka geologi yang baik.
Ucapan Terima Kasih
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara atas undangannya kepada
Barrick untuk berkontribusi untuk volume, dan D. Kontak, T. Lane, R. Penzak, dan L.
Reed atas komentar-komentarnya yang membangun bagi naskah awal tulisan ini, serta
John Smith dan Dave Brookes atas kecakapannya dalam menyusun diagram-diagram
yang dipilih. Penulis juga mengucapkan terima kasih pada Barrick Gold Corporation atas
izinnya untuk memublikasikan makalah ini.