Anda di halaman 1dari 23

IV.

PEMILIHAN HEAD UNTUK VESSEL SILINDER


DENGAN PENUTUP

4.1 Pertimbangan Dasar


4.1a Perkerabangan pengelasan
Pada awalnya dipakai paku keiing unluk penyambungan head dengan
shell pada berbagai macam vessel. Tetapi ternyata sering timbul masalah yaitu
seringnya terjadi kebocoran pada daerah sekitar paku keiing, terutama ketika
tekanan operasi jauh lebih besar dari tekanan luar. Selain itu sering pula terjadi
lepasnya paku keiing. Untuk mengatasi hal tersebut mak dikembangkan jenis
paku keiing yaitu dengan fillet welding dan seal welding. Kemudian ditemukan
bahwa temyata denagn adanya pengelasan kekuatan menjadi lebih besar,
sehingga dewasa mi penggunaan las menjadi cara yang dipakai pada kebanyakan
sambungan head pada shell.

4.1b Kegunaan formed head


Vessel silinder dengan head sudah digunakan secara luas. Secara umum
penggunaan vessel dapat dikelompokkan dalam tiga katagori :
1.

Fungsi

2.

pertimbangan tekanan

3.

batasan ukuran

Pada peralatan proses seperti kolom distilasi, unit desorpsi, menara bahan
isian, evaporator, kristalizer dan HE pengggunaan head sangat penting dengan
berbagai perlengkapan proses lairmya. Jika tekanan proses tidak atmosferis,
penggunaan head menjadi penting untuk menutup vessel.
Pada umumnya semua vessel silinder yang beroperasi pada tekanan
bagian nap sekitar 5 psig atau lebih diproduksi dengan formed head. Vessel
flat-bottomed dengan diameter besar, tangki penyimpanan cone-roofed terbatas
pemakaiannya untuk tekanan pada bagian uap beberapa ons. Vessel silinder
flat-bottomed dengan diameter kecil digunakan untuk tekanan operasi beberapa
psig dengan roof berbentuk payung atau kubah. Alat yang digunakan pada
tekanan di bawah atmosferis juga memerlukan formed head. Tangki penyimpanan
horizontal yang kecil biasanya juga memakai formed head.

Universitas Gadjah Mada

4.1c Vertikal versus horizontal


Pada umumnya yang menentukan tangki vertikal atau horizontal adalah
fungsi tangki tersebut. Sebagai contoh kolom distilasi dan menara bahan isian
yang memanfaatkan gaya grafitasi untuk memisahkan fasa, memerlukan instalasi
vertikal. Heat exchanger dan tangki penyimpanan bisa berbentuk vertikal maupun
horizontal. Pada heat exchanger penentuan horizontal dan vertikal ditentukan oleh
arah aliran fluida dan pertimbangan perpindahan panas. Pada tangki
penyimpanan penentuan horizontal vertikal lebih ditentukan oleh tempat instalasi.
Jika tangki penyimpanan dipasang di luar ruangan maka angin mempunyai
pengaruh pada kekuatan penyangga, sehingga tangki horizontal lebih ekonomis.
Selain itu pertimbangan penting lainnya seperti ketersediaan, ruang head
pemeliharaan menjadi faktor penentu.
4.2 SPESIFIKASI BAHAN
Vessel (dengan head yang dibentuk = vessel with formed head) umumnya
dibuat dari bahan low carbon steel, yang mana bahan ini akan jadi pilihan yang
lebih murah apabila dikaitkan dengan pertimbangan suhu dan korosi. Selain itu,
bahan ini memiliki kekuatan yang cukup tinggi, mudah dibuat dan baja lunaknya
(sebagai bahan dasar baja) mudah didapat.

Sedangkan low dan high alloy steel

umumnya digunakan untuk keperluan-keperiuan fabrikasi tertentu.


Baja yang umum digunakan terbagi menjadi dua kategori umum:

Baja yang dispesifikasi oleh ASME


Lebih sering merujuk pada boilerplate steel. Digunakan untuk vessel
bertekanan.

Struksural grade steel


Sebagian baja ini ada yang sesuai dengan spesifikasi dari ASME yang
khusus digunakan untuk keperluan fabrikasi tertentu dan juga yang
khusus digunakan untuk konstruksi vessel storage (vessel penyimpan)

Perancangan vessel yang sesuai dengan standar ASME akan dibicarakan lebih
detail dalam bab 13, meliputi penjabaran tentang bahan dan spesifikasi. Dalam
bab ini pembicaraan akan dibatasi hanya pada penggunaan baja untuk fabrikasi
vessel (dengan head yang dibentuk = vessel with formed head) yang tidak perlu
disesuaikan dengan standar ASME.

Universitas Gadjah Mada

4.3 Tipe structural steel plates


Jenis tipe ini yang banyak tersedia dapat dilihat pada daftar 67, pada
ASTM A6-54T. Tipe yang cocok untuk konstruksi vessel adalah A-7, A-113, A-131
dan A-283. Spesifikasi ASTM-A6-54T memberikan pertimbangan umum, seperti
variasi dimensi dan berat yang diijinkan, metode pengetesan, koreksi,
ASTM A-7, A-283 grade C dan A-283 grade D adalah yang paling umum
digunakan untuk konstruksi vessel penyimpanan dan vessel dengan head yang
dibentuk, khususnya baja yang didesign, seperti ASTM A-283 grade C. Baja
A-283-54 tipe structural digunakan untuk fabrikasi vessel secara umum. Tipe ini
tersedia dalam 4 grade yaitu A, B, C dan D dengan daya regang minimum sebesar
45.000,50.000,55.000 dan 65.000 psi. ketebalannya tersedia dari ukuran 2 in
keatas. Tapi untuk perancangan vessel, ketebalannya dibatasi dari ukuran % in
keatas. Grade A dan B memiliki duktilitas (kegetasan) yang tinggi dan daya regang
yang rendah sementara grade D duktilitasnya tidak memadai untuk membentuk
shell dan head dan lebih sulit di las. Sehingga grade C-lah yang paling banyak
digunakan untuk konstruksi vessel. Yang paling banyak adalah untuk tangki
penyimpanan minyak, tangki bertingkat, pipa air tegak, dan berbagai penggunaan
tangki.
Baja A-7 umumnya digunakan untuk konstruksi jembatan, bangunan, dan
berbagai aplikasi structural lainnya. Tipe ini memiliki sifat fisis yang mirip dengan
A-283 grade D. Dua tipe baja ini dibuat dengan proses yang sama yaitu dengan
proses pada tungku perapian terbuka atau electric furnace. Bagaimanapun juga,
baja A-7 juga dibuat melalui proses acid-Bassemer, dan baja yang dibuat melalui
proses ini tidak direkomendasikan untuk konstruksi vessel. Baja A-7 tersedia
dalam berbagai ukuran fcetebalan standar. Baja ASTM A-l 13-55 merupakan baja
structural yang umum digunakan untuk konstruksi lokomotif dan jalan rel. Dibuat
melalui proses tungki perapian terbuka atau proses menggunakan electric
furnace. Baja ini juga tersedia dalam berbagai ukuran ketebalan standar dan
dalam tia grade yaitu A, B dan C. Baja A-113-55 grade B memiliki sifat fisis
diantara baja A-283 grade B dan C, tapi daya regangnya kurang lebih sama
dengan baja A-283. Tidak ada keuntungan lain lebih memilih baja tipe ini
dibandingkan dengan baja A-283 kecuali bahwa baja ini tersedia dalam bentuk
yang siap pakai. Baja ini juga bisa digunakan untuk konstruksi vessel untuk
mendapatkan spesifikasi yang sama dengan batasan seperti baja A-283.

Universitas Gadjah Mada

Baja ASTM A-131-55 merupakan baja structural yang lebih baik dan digunakan
untuk konstruksi kapal. Spesifikasi baja ini pada dasarnya mirip dengan baja A-7
dan A-283 grade D. untuk memperbaiki mutu dari baja kapal ini, tahun 1950
spesifikasinya pernah diubah dengan menambah ketebalan. Peningkatan kualitas
dengan menambah ketebalan, memberikan dampak pada baja ini sebagai bahan
konstraksi. Untuk baja ini, terdapat batasan persen maksimum kandungan karbon
dan batasan 0,6% - 0,9% kandungan mangan untuk fcetebalan yang kurang dari
inch begitu juga untuk fcetebalan baja 1 in atau lebih, dipersyaratkan
kandungan silicon sebesar 0,15% - 0,3%. Baja ini tersedia dalam banyak ukuran
ketebalan dan memiliki kualitas yang lebih tinggi dari baja A-7 tapi tidak diijinkan
penggunaannya untuk konstruksi vessel bertekanan yang sesuai standar. Ukuran
plat baja yang lebih tebal akan lebih mahal harganya.
Baja structural lain yang distandarkan ASTM untuk perancangan adalah A-8,
A-94, A-284 dan A-242. Baja A-8 memiliki kandungan 3% - 4% baja nikel dan
kandungan karbon maksimum sebesar 0,43% dengan daya regang sebesar
90.000 psi hingga 115.000 psi.
Digunakan untuk beban tegangan yang sangat besar. Tambahan nikel
menyebabkan baja ini lebih kokoh, kuat dan lebih berkilau dibandingkan kilau
carbon steel, meningkatkan yield point, batas kelelahan, dan menambah
kekuatan. Kesulitan dalam pengelasan dan biaya extra karena penambahan nikel
menyebabkan baja ini tidak digunakan untuk konstruksi vessel. Baja A-94
merupakan baja silicon structural yang mimiliki kandungan karbon maksimum
0,2% dan kandungan silicon minimum 0,2% dengan daya regang berkisar antara
80.000 psi hingga 95.000 psi. Yield point minimum sebesar 45.000 psi. Baja ini
juga dihindari penggunaannya untuk konstruksi vessel sebab pengelasannya sulit
dan ada biaya extra untuk pematian sempurna baja (fully killed steel). Baja A-284
merupakan baja silicon-karbon dengan kekuatan rendah hingga menengah yang
memiliki 0,1% - 0,3% kandungan silicon dan daya regang sebesar 50.000 hingga
60.000 psi, tergantung pada grade yang dimiliki. Baja ini memiliki ukuran butir
yang kasar dan dibutuhkan proses pemanasan lebih lanjut untuk perbaikan ukuran
butir. Adanya silicon yang terpisah ikatan dari karbon (untuk membentuk grafit
yang lebih halus) menyebabkan lemahnya sambungan las, ditambah lagi dengan
adanya biaya extra untuk pematian sempurna bajanya menyebabkan baja ini tidak
ekonomis jika digunakan untuk kontruksi vessel.

Universitas Gadjah Mada

Baja A-242 merupakan low alloy structural steel yang digunakan terutama
sebagai material tumpuan tegangan diantara semua baja structural yang ada,
dimana berat dan tahanan korosi pada kondisi atmosferis menjadi pertimbangan
penting. Ketebalannya dibatasi tidak lebih tipis dari 3/16 inch dan tidak lebih tebal
dari 2 inch. Baja ini memiliki kandungan mangan sebesar 1,25% dan kadar karbon
maksimum 0,2%. Yield point sebesar 50.000 psi untuk ketebalan 3/16 - 3/4 inch,
45.000 psi untuk ketebalan 3/4 - 1 inch dan 40.000 psi untuk ketebalan 1 - 2
inch. Bandingkan dengan yield point 30.000 psi yang dimiliki oleh baja A-283
grade C. Untuk ketebalan 1

inch, mem'ngkatnya ketebalan akan

meningkatkan kekuatan sebesar 50% lebih. Dengan menggunakan factor design


aman yang sama berdasar pada yield point, dihasilkan bahwa penurunan
ketebalan logam yang digunakan akan menurunkan pula kemampuan menahan
beban yang diberikan. Pada perancangan vessel dimana tegangan bahan lebih
mengontrol dibanding stabilitas elastis, maka penggunaan baja ini akan lebih
aman jika dibanding dengan penggunaan baja A-283 grade C.

Universitas Gadjah Mada

4.4 PERSAMAAN UNTUK VESSEL DENGAN ELIPTICAL DISHED HEADS


Volume tangki silinder tertutup dengan eliptical dished heads sama dengan
volume silinder ditanbah dua kali volume head. Volume head dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan untuk silinder dengan volume yang ekivalen
dan diameter dalam yang sama dengan bagian silindris dari head. Gambar di
bawah ini memperlihatkan irisan melintang dari elipsoidal head dengan rasio
sumbu mayor: sumbu minor = 2:1

Universitas Gadjah Mada

Universitas Gadjah Mada

Pemilihan tangki dibatasi oleh diameter atau panjang maksimum yang dapat
diangkut dengan railroad flatcar ( kereta dengan gerobak datar), umumnya sekitar
13ft 6in. Tangki yang lebih besar daripada itu bisa didapatkan dengan cara:
a. Diangkut dengan kapal (jika antara lokasi dan pembuat terdapat sarana
transportasi laut)
b. Pengelasan sambungan dan pembentukan dilakukan di lokasi
c. Plat dipotong dan dibentuk di penjual dan dirakit di lokasi

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah sambungan karena berpengaruh
terhadap proporsi tangki. Usahakan jumlah sambungan seminimal mungkin.

Universitas Gadjah Mada

Pemilihan dimensi plate yang optimum


Lebar Plate, tangki silinder dapat dibuat dengan meng-roll dan mengelas 1
atau beberapa plate. Pilihan pengelasan tergantung pada ukuran plate yang
digunakan.
Pengelasan keliling dan mendatar dapat dihilangkan dengan menggunakan plate
yang ukurannya lebih besar, Plate dengan lebar lebih dari 90 inch akan lebih
mahal setiap inch kelebihannya. Tetapi penghematan yang didapatkan dengan
mnggunakan plat yang lebih lebar sehingga mengurangi jumlah sambungan dan
pengelasan melebihi biaya tambahan dari plate yang lebih lebar.

GAMBAR : Hubungan beaya fabrikasi dengan ketebalan plat yg dipakai

Universitas Gadjah Mada

GAMBAR : Hubungan lebar plat yang optimum untuk dinding shell

Sebagai contoh penghematan yang dapat dilakukan, diberikan oleh W.G.


Theisinger. Penggunaan dua buah plate menghabiskan total USD 17,440
sedangkan penggunaan satu buah plate hanya menghabiskan total USD 9,853.
Penghematan yang dapat dilakukan adalah USD 7,587 dan 5800 jam kerja.
Biaya ekstra yang dibutuhkan untuk plain-carbon-steel adalah :
Ce=




. (w-90)1,23

Dengan :
Ce = dollar per 100 lb
W = lebar plate, inch

Universitas Gadjah Mada

Biaya fabrikasi per circumferential weld adalah xc.D.Cw. Sehingga biaya


total untuk pengelasan plate sejumlah N (tanpa head) adalah :

Persamaan di atas akan memberikan lebar plate optimum dengan biaya fabrikasi
minimum.

Tebal Plate, Plate dengan tebal 0,5 - 1 inch tidak membutuhkan biaya
tambahan. Penggunaan tebal lebih dari 1 inch akan memerlukan biaya
tambahan sehingga serittgkali digunakan plate yang lebih kuat.

Panjang Plate, Plate dengan panjang antara 8-50 feet tidak memerlukan
biaya tambahan. Persediaan yang ada biasanya mempunyai panjang tidak
lebih 40 ft dengan tebal % inch dan lebar plate maksimal 72 inch. Tetapi
persediaan juga tergantung pada fcemampuan untuk rnenangani ukuran
plate yang tersedia.

Universitas Gadjah Mada

4.5 Tipe Head yang Umum Dipakai dan Pemilihannya


Hampir semua head dibuat dari plate melingkar yang di spin atau dengan
metode press. Meskipun membutuhkan biaya tambahan untuk membentuk head
dari plate datar, tetapi penggunaan head yang telah dibentuk akan lebih ekonomis
daripada penggunaan head yang datar, kecuali untuk diameter tangki yang kecil.
Penghematan dapat diperoleh dengan berkurangnya tebal head yang digunakan.

Gambar di atas menunjukkan macam-maeam head yang umum


digunakan, dengan:
t = tebal head, inch
icr = inside comer radius, inch
sf = straight flange, inch
r = radius of dish, inch
OD = diameter luar, inch
b =depth of dish, inch
a = ID/2 = inside radius, inch
s = slope of cone, deg

Universitas Gadjah Mada

OA = overall dimension, inch


H = diameter of flat spot, inch

4.5a Flanged-only Heads


Head jenis ini adalah yang paling ekonomis dalam pembuatannya, karena
hanya membentuk flange dengan radius pada plate datar. Penggunaannya yang
paling banyak adalah pada tangki bertekanan atmosferis. Head ini juga dapat
digunakan sebagai dasar dari tangki silinder vertikal dengan diameter maksimal
20 ft. Head jenis ini diukur dengan basis diameter luar dan tersedia untuk ukuran
12-42 in dengan selisih 2 in, 42 -144 in dengan selisih 6 in, 144 - 240 in dengan
selisih 12 in, juga tersedia untuk ukuran lebih dari 246 in.

4.5b Flanged standard dished and Flanged shallow dished Head


Untuk meningkatkan kemampuan menahan tekanan maka bagian datar
dari flanged only head harus dirubah menjadi lengkungan. Pada head semacam
ini, terdapat dua radius yaitu radius lengkungan dan inside comer radius. Jika
radius dari lengkungan lebih besar dari diameter luar shell maka disebut flanged
and shallow dished head. Jika radius tersebut sama atau lebih kecil maka disebut
flanged and standard dished head. Head yang tersedia ukurannya sama dengan
flanged only head. Head ini tidak boleh digunakan untuk tangki bertekanan tinggi,
Penggunaan umumnya adalah untuk tangki vertikal dengan tekanan rendah,
tangki horisontal untuk fluida yang volatile, dan tangki berdiatneter besar yang
tekanan uap dan tekanan hidrostatisnya terlalu besar untuk flaged only head.

4.5c Torispherical Head


Dengan mengurangi stress lokal pada inside corner head, batas tekanan
dari flanged and dished head dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan
membentuk head sehingga inside comer radius paling tidak sama dengan tiga kali
ketebalan plate, atau radiusnya tidak kurang dari 6% diameter dalam, dan radius
lengkungan harus sama atau kurang dengan diameter head. Head ini umumnya
digunakan untuk tangki bertekanan antara 15-200 psig bahkan dapat lebih dari
200 psig. Tetapi untuk penggunaan lebih dari 200 psig lebih ekonomis untuk
menggunakan elliptical flanged and dished head. Head ini dapat digunakan untuk
tangki vertikal maupun horisontal pada berbagai alat proses

Universitas Gadjah Mada

4.5d Elliptical Dished Head


Head ini digunakan untuk tangki bertekanan antara 100 psig hingga lebih
dari 200 psig. Jika rasio sumbu mayor : sumbu minor = 2:1 maka kekuatan head
akan sama dengan kekuatan shell silinder dengan diameter dalam dan luar yang
sama. Kedalaman bagian dalam dari lengkungan sama dengan setengah dari
sumbu minor atau sama dengan \4 diameter dalam dari head.

4.5e Hemispherical Head


Untuk ketebalan yang sama, Head ini merupakan yang paling kuat. Head
ini dapat menahan tekanan hingga 2 kali lipat dari elliptical head ataupun shell
silinder dengan tebal dan diameter yang sama. Tetapi harga pembuatan dan biaya
lain-lain dari head ini paling besar dibandmgkan dengan yang lain. Ketersedian
head ini juga terbatas dalam ukurannya, karena pembuatan dari plate tunggal
lebih sulit.

4.6 Perancangan Tebal Plat Untuk Tutup ( Vessel Head)


Mengaeu pada ASME Code
(under internal working pressure)

Perancangan tebal plat untuk dinding vessel mengacu pada ASME VIII div
1, paragraph : Part UG- 32 (d) dan Appendix 1 ( Supplementary Design Formulas )
l-4(c)

Part UG:
General requirement ( persyaratan yang harus dipenuhi secara umum)
untuk semua cara / method untuk kontruksi dan berlaku untuk seaiua material

Part UG - 32 : General requirement untuk : FORMED HEAD, PRESSURE


ON CONCAVE SIDE
(a) Ketebalan yang diperlukan pada titik ketebalan paling tipis setelah
pembentukan head jenis ellipsoidal dimana tekanan yang bekerja pada
bagian sisi cekungan (internal pressure), harus dihitung berdasarkan
formula pada paragraph ini

Universitas Gadjah Mada

(b) Simbol yang dipakai


t = ketebalan minimum yang diperluaka setelah pembentukan head,
tidak termasuk corrosion allowance, inci
P = design pressure, psi ataupun working pressure maksuimum yang
diizinkan untuk vessel yang terancang ( existing vessel)
D = inside diameter dari " head skirt" atau inside length dari major axis
dari ellipsoidal head, inci
S = tegangan maksimum yang diizinkan dari bahan konstrufcsi, psi
E = efisiensi sambungan terendah pada sembarang bagian di head. Ini
mencakup sambungan antara shell dan head ( head to shell joint)
Untuk welded vessel, efisiensi dipergunakan mengacu pada UW 12 , yaitu pada label UW - 12 ( Max. allowable joint efficiencies for
arc and gas welded joints)

Part UG - 32 (d): Ellipsoidal head


Ketebalan yang diperlukan untuk dished head yang berbentuk
semi-ellipsoid , dimana separuh dari minor axis (inside depth dari
head dikurangi fcetinggian skirt) sama dengan

dari inside

diameter dari" head skirt", haras dihitung dengan persamaan :

T=




.

atau :

P=




.

Universitas Gadjah Mada

4.7 Perhitungan Tebal Head Mengacu Appendix 1 - 4c


(Supplementary design formulas)
RUMUSAN UNTUK PERANCANGAN " FORMED HEAD "
UNDER INTERNAL WORKING PRESSURE
(a) Rumusan dari paragraph ini berlakuk untuk perancangan tutup vessel
dengan bentuk tertentu ( formed head ) dengan proporsi ukuran lain
daripada seperti tertulis ada UG - 32 (ASME Div. VTII, section 2 ) dalam
besaran diameter dalam (inside diameter) dan diameter luar (outside
diameter)
(b) Simbol yang dipakai dibawah ini digunakan dalam rumusan perancangan
dari paragraph ini.
t = tebal dari head minimum yang diperlukan setelah pembentukan
head inci
P = tekanan perancangan ( internal design pressure ) , psi ( lihat UG
-21) untuk tekanan kerja maksimum (maximum allowable
working pressure untk vessel yang sudah ada, lihat UG - 98)
D = diameter dalam dari " head skirt", atau inside length dari major
axis dari ellipsoidal head, inci
Do= diameter luar dari" head skirt" atau panjang luar dari major axis
dari ellipsoidal head, inci
S = tegangan kerja dari bahan konstruksi maksimum yang
diperkenankan, psi
E = efisiensi sambungan yang terendah dari katagori sambungan
jenis A ( Category A joint ) untuk hemispherical mencakup
sambungan head to shell joint. Untuk vessel dengan sambungan
cara las (welded vessels, efisiensi dipakai seperti tertulis pada
UW - 12
r = inside knuckle radius , inci
h = one - half of length dari minor axis dari ellipsoidal head atau
inside depth dari ellipsoidal head yang diukur dari tangent line
(head bend line), inci
K= factor dari rumus untuk ellipsoidal head, yang harganya
tergantung dari(D/2h)

Universitas Gadjah Mada

(D/2h) = rasio dari major axis dengan minor axis pada ellipsoidal
head, harganya sama dengan inside diameter dari "skirt" dari
head dibagi dengan dua kali inside height dari ellipsoidal head,
dapat dilihat dari table

TABLE 1-4.1 VALUE OF FACTOR K


( use nearest value of D/2h, interpolation unnecessary)

Universitas Gadjah Mada

D/2h

1.83

2.9

1.73

2.8

1.64

2.7

1.55

2.6

1.46

2.5

1.37

2.4

1.29

2.3

1.21

2.2

1.14

2.1

1.07

2.0

1.00

1.9

0.93

1.8

0.87

1.7

0.81

1.6

0.76

1.5

0.71

1.4

0.66

1.3

0.61

1.2

0.57

FORMULA



2  2  0.1



2
  2  0.1

Atau :

Dimana :



1
 
2   ! "
6
2

4.8 Peraneangan Tebal Plat Untuk Dinding / Shell


(under internal working pressure )
Perancangan untuk menghitung ketebalan dinding shell dari vessel
absorber, mengacu pada kode ASME VIII, div. 1, paragraph UG -27 (c) dan
Appendix 1 - (1-1)
Part UG 27 (c): Menghitung ketebalan shell under internal working pressure

PartUG-27(a):
Ketebalan dinding shel yang terkena beban internal working pressure haras tidak
boleh lebih tipis dari ketebalan yang dihiutng dari formula (c)

PartUG-27(b)
Symbol - symbol yang dipakai:
t = ketebalan minimum plat yang diperlukan untuk shell, tidak termasuk
corrosion allowance, inci
P = design pressure, psi ataupun working pressure maksuimum yang
diizinkan untuk vessel yang terancang ( existing vessel)
R = inside radius dari "shell courses" yang ditinjau sebelum corrosion
allowance ditambahkan, inci
S = tegangan maksimum yang diizinkan dari bahan konstruksi, psi

Universitas Gadjah Mada

E = efisiensi sambungan terendah pada sembarang bagian di head. Ini


mencakup sambungan antara shell dan head (head to shell joint)
Untuk welded vessel, efisiensi dipergunakan mengacu pada UW
-12 , yaitu pada label UW - 12 (Max. allowable joint efficiencies for
arc and gas welded joints)

Part UG- 27 (c): Ketebalan Shell Silinder


Ketebalan plate minimum yang diperlukan untuk beban working
pressure yang bekerja pada silinder seharusnya dipakai ketebalan
yang lebih besar dari persamaa / formula dibawah ataupun ketebalan
yang memberikan tekanan yang lebih rendah dari formula dibawah :
1. Circumferential stress (longitudinal joints) jika ketebalan plate tidak
melebihi dari inside radius atau P tidak melebihi 0.385 SE, dipakai
formula sbb.:



#


.$

atau





#
.$

2. Longitudinal stress ( circumferential joints )


Jika ketebalan plate tidak melebihi dari inside radius dari shell
ataupun P tidak melebihi dari 1.25 SE , maka dipakai formula sbb.



Universitas Gadjah Mada

#


.

atau





#
.

4.9 Perancangan Tebal Plat Untok Binding/ Shell


Mengacu Appendix 1-1
APPENDIX 1 : Supplementary Design formulas
1-1 : Ketebalan untuk kulit (shell) silinder dan kulit ( shell) bola
(a) : Rumusan untuk kulit silinder didasarkan pada jari - jari luar silinder
analog dengan formula yang diberikan pada UG -27 (c ).

Untuk ketebalan kulit silinder (under circumferential stress)



#%


.

atau





#%
.

dengan: Ro= out side radius dari kulit silinder yang ditinjau ( cylinder
shell course ), inci

4.10 Rumusan untuk design stabilitas dari vessel


(Design of vessel stability : Tall vessel design)

1. Untuk vessel / tower yang menjulang tinggi, maka pada vessel akan
mendapatkan beban angin. Jika angin yang bertiup kencang, maka akan
memberikan moment puntir pada vessel yang dapat mengakibaikan vessel
patah (failure). Demikian juga dengan gempa. Gempa akan menggetarkan
vessel, yang dapat mengakibatkan gaya geser bekerja pada dinding
vessel dan akan menimbulkan tegangan geser bekerja pada dinding
vessel ( seismic stress)
2. Kegagalan vessel di pabrik, dapat dijumpai pada bewrbagai kondisi
pelayanan ( loading case) vessel itu. Ada beberapa loading case yang
selalu dialami olea vessel di industri :
a. Vessel kosong ( selesai didirikan = belum dipakai), boleh jadi jika
design vessel keliru, begitu vessel berdiri, terkena angin / gempa
vessel bias roboh ( gagal berdiri)
b. Vessel dipakai untuk operasi (operating vessel). Pada keadaan ini
vessel dipakai untuk keperntingan proses, sehingga didalam

Universitas Gadjah Mada

vessel terdapat cairan proses yang bekerja pada tekanan dan suhu
operasi yang ditargetkan.
c. Vessel dipakai untuk test hidrostatik, Untuk setiap design dari
vessel dan test commissioning dari vessel sebelum dilakukan
penyerahan ke pemiliknya, maka selalu dilakukan test hidrostatik
untuk melifaat ketahanan vessel terhadap beban yang bekerja.
Pada test hidrostatik, vessel disi penuh dengan air dan tekanan test
dipakai lebih besar ( kira - kiran 50 % ) dari maksimum allowable
working pressure (MAWP)
d. Pada tahapan perancangan, diantara tiga kondisi vessel diatas,
dicari beban - beban (stress atupun moment) yang bekerja, yang
paling berpengaruh. Untuk mengetahui kondisi yang berpengaruh ,
maka dapat dilakukan perhitungan " loading case ", ataupun Netto
stress yang bekerja. Loading yang paling besar ataupun netto
stress yang bekerja yang paling besar, adalah yang berpengaruh.

Perhitungan stress gabungan yang bekerja pada absorber

Universitas Gadjah Mada

Up- wind side :


Netto stress yang bekerja kearah atas , berupa tensile stress
 tensile stress keatas nilai positif
 dead weight stress araahnya selalu kebawah , nilai negatif
1. Netto stress yang bekerja untuk ketebalan plat yang terpakai :
Sup-wind = (Sw + Sap + Ss) - Sdw

2. Netto stress yang bekerja pada down-wind side , adalah


tegaangan tekan ( compressive stress ) , denga arafa kebawah
nilainya positif :

Sdown-wind = (Sdw + Sw + Ss) - Sap


Pengkajian stress yang bekerja:
Plat yang dipakai oleh absorber di Pabrik akan aman ( safe in operation ) , jika
memnuhi persaratan sbagai berikut :

Sdown-wind S allowable dari material.

Sdown-wind Sc allowable (= compressive stress)


4.11 Perhitungan Kemiringan dari Vessel
(Design of vessel deflection)
(a) Untuk menara yang terfcena beban angin ataupoun gempa, maka vessel
hams dirancang agar defleksi (yang diukur sebagai penyimpan dari arah
vertical / poros vessel di bagian puncak menara / vessel tidak melebihi 6
in per 100 ft ketinggian menara / vessel
(b) Defleksi ini disebabkan olen beban angin yang bekerja ( wind load) pada
menara.
(c) Defleksi dihitung sebagai berikut:
() 

+ , ,-. 12,-/


8,,1

dengan:

() = defleksi maksimum pada puncak menara, in


PW = tekanan angin yang bekerja, Ib/ft2
D1 = diameter vessel (termasuk isolasi yang dipakai), ft

Universitas Gadjah Mada

H = ketinggian vessel, ft
E = modulus elastisitas material yang dipakai, psi
I = moment inertia (kelebaman) dari silinder tipis
I = 3,UxR3xt
t = ketebalan plat yang dipakai, in

Universitas Gadjah Mada