Anda di halaman 1dari 64

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Menurut WHO 2002, yang dimaksud dengan populasi lansia adalah

populasi yang berusia 60 tahun. Depkes menetapkan pengelompokan lansia


yaitu kelompok usia 45-54 tahun yang disebut masa virilitas, 55-64 tahun yang
disebut masa prasenium, 65 tahun disebut masa senescens dan 70 tahun
disebut usia lanjut dengan risiko tinggi.1
Di Indonesia tahun 2000 proporsi penduduk lanjut usia (lanjut usia) adalah
7,18% dan tahun 2010 meningkat sekitar 9,77%, sedangkan tahun 2020
diperkirakan proporsi lanjut usia dari total penduduk Indonesia dapat sampai
11,3%. Tahun 2010 proporsi penduduk lanjut usia sudah menyamai proporsi
penduduk balita. Pada saat ini penduduk lanjut usia berjumlah sekitar 24 juta dan
tahun 2020 diperkirakan sekitar 30-40 juta jiwa.1
Adanya peningkatan jumlah lansia berdampak timbulnya berbagai
masalah jika tidak ditangani dengan segera.Salah satu masalah yang mungkin
terjadi adalah terkait gizi. Beberapa kelompok dalam populasi lansia berisiko
terkena malnutrisi.2 Malnutrisi didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana
kekurangan, kelebihan atau ketidakseimbangan energi, protein dan nutrisi lain
menyebabkan efek buruk pada bentuk tubuh, fungsi dan outcome.
Lansia di Indonesia yang ada dalam keadaan kurang gizi sejumlah 3,4%,
berat badan kurang sebesar 28,3%, berat badan ideal berjumlah 42,4%, berat
badan lebih ada 6,7% dan obesitas sebanyak 3,4%.2
Pada tahun 2012 Puskesmas Kecamatan Tebet melaporkan sejumlah 2880
orang lansia yang dibina, 421 orang diantaranya menderita malnutrisi. Sebanyak
150 orang menderita gizi kurang dan 271 orang gizi lebih. Di kelurahan Bukit
Duri dilaporkan jumlah keseluruhan lansia 1110 orang dan 234 orang mengalami
malnutrisi. Sebanyak 98 orang menderita gizi kurang dan 136 orang bergizi
lebih.Berdasarkan data diatas, penelitian ini dibuat guna mengetahui prevelensi
malnutrisi pada lansia dan faktor-faktor yang menyebabkan malnutrisi pada lansia
di Kecamatan Tebet, khususnya Kelurahan Bukit Duri.

300
250
200
Pria

150

Wanita

100
50
0
Normal

Lebih

Kurang

Data Status Gizi Lansia di Kecamatan Tebet tahun 2012

1.2.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat

dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:


Bagaimana hubungan asupan nutrisi, faktor psikologis, dan penyakit
kronis dengan malnutrisi pada lansia diatas 70 tahun di kelurahan Bukit
Duri?

1.3.

TUJUAN PENELITIAN

1.3.1. Tujuan Umum


Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan malnutrisi dilihat dari
aspek asupan nutrisi, faktor psikologis dan penyakit kronis.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Menilai asupan nutrisi dengan malnutrisi pada lansia.
2. Menilai faktor psikologis dengan malnutrisi pada lansia.
3. Menilai penyakit kronis dengan malnutrisi pada lansia.

1.4.

HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis dalam penelitian sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan asupan energi dengan malnutrisi pada lansia
2. Terdapat hubungan asupan protein dengan malnutrisi pada lansia
3. Terdapat hubungan penyakit hipertensi dengan malnutrisi pada lansia

4. Terdapat hubungan penyakit diabetes melitus dengan malnutrisi pada


lansia
5. Terdapat hubungan penyakit jantung dengan malnutrisi pada lansia
6. Terdapat hubungan depresi dengan malnurisi pada lansia

1.5.

MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Instalasi / profesi Kesehatan
Institusi yang terkait dapat melakukan upaya yang berkenaan terhadap
keadaan malnutrisi pada lansia.
2. Bagi Pengembangan Penelitian
Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang faktor-faktor
yang berperan pada malnutrisi lansia.
3. Bagi Masyarakat
a. Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan khususnya dokter
puskesmas untuk melakukan usaha peningkatan keadaan status
malnutrisi dan status kesehatan lansia.
b. Sebagai sumber informasi bagi para keluarga yang mempunyai
anggota keluarga lansia agar dapat meningkatkan kualitas hidup lansia
melalui asupan nutrisi yang tepat guna.

1.6.

RUANG LINGKUP PENELITIAN

1.6.1. Ruang Lingkup Tempat


Ruang lingkup tempat pada penelitian ini adalah Ruang Lingkup Waktu
Ruang lingkup waktu dalam penelitian adalah pada bulan November 2013
sampai Desember 2013.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pusataka


2.1.1. Lanjut Usia
Usia lanjut merupakan tahap akhir perkembangan pada siklus hidup
manusia. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998
pasal 1 ayat 2 tentang kesejahteraan lanjut usia, lanjut usia adalah seseorang
yang telah mencapai usia enam puluh tahun ke atas.2
Pengertian usia lanjut dibedakan menjadi dua macam yaitu lansia
kronologis dan lansia biologis. Lansia kronologis dapat dihitung berdasarkan
kalender sehingga relatif mudah diketahui.Lansia biologis menunjukkan
kondisi jaringan sebenarnya sehingga lebih sulit ditentukan tetapi dapat
diupayakan agar tidak terlalu cepat bertambah.3 Darmojo dan Subagio pada
tahun 1988 menyatakan bahwa usia kronologis mempunyai korelasi positif
dengan usia biologis sehingga dapat digunakan sebagai pengukurnya.3

2.1.2. Proses Menua


Constantinides dalam buku In General Pathobiology tahun 1994, menua
(menjadi tua) adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki, mengganti diri dan mempertahankan struktur dan
fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk
infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.4 Selama fase pertumbuhan
proses anabolisme lebih besar daripada katabolisme. Hal ini terjadi sebaliknya
saat

tubuh

telah

mencapai

tingkat

kematangan

fisiologis

sehingga

mengakibatkan hilangnya sel-sel yang berdampak pada berbagai bentuk


penurunan dan gangguan fungsi organ.1,4
Proses dan pola menua yang terjadi hampir sama antara lansia yang satu
dengan lansia lainnya tetapi laju perubahannya dapat bervariasi. Menurunnya
fungsi tubuh akibat proses menua menyebabkan perubahan-perubahan pada
lansia. Perubahan-perubahan tersebut meliputi aspek anatomi dan fisiologis,
sosial, lingkungan dan sebagainya.
Secara umum perubahan anatomi dan fisiologis tubuh meliputi:

1. Penglihatan
Terjadinya degenerasi struktur jaringan lensa mata, iris, pupil dan
retina menyebabkan kemampuan penglihatan pada lansia menurun dan
menimbulkan berbagai penyakit seperti katarak dan glaukoma. Bentuk
bola mata lebih cekung sedangkan bentuk kelopak mata menjadi cembung
disebabkan karena terjadinya penyusutan lemak periorbital.3
2. Pendengaran
Perubahan fungsi pendengaran bukan hanya menjadi masalah
fisiologis tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial lansia. Menurut
Bocklehurst-Allen yang dikutip oleh Fatmah, pada beberapa penelitian di
Negara Barat isolasi sosial yang diakibatkan oleh gangguan pendengaran
lebih besar dibandingkan yang diakibatkan oleh gangguan penglihatan.
Dilihat dari segi fisiologis, 65-70% lansia menunjukkan kemunduran
pendengaran secara fungsional (tuli fungsional) setelah berusia 80 tahun
dan 5% dari populasi usia di atas 65 tahun.3
3. Kulit
Jaringan lemak, lapisan epitel, serat kolagen dan kelembapan kulit
yang berkurang saat proses menua menyebabkan kulit menjadi lebih
mengerut dan kaku.
4. Perubahan sistem muskuloskeletal
Lansia yang melakukan olahraga secara teratur tidak mengalami
kehilangan massa otot dan tulang sebanyak lansia yang inaktif. Kekuatan
dan ukuran serat otot yang mengalami pengurangan sebanding dengan
penurunan massaotot. Pertambahanusia menyebabkan proses pembentukan
tulang menjadi lambat karena adanya penurunan aktivitas fisik dan
hormon-hormon dalam tubuh. Salah satu penyakit yang sering menyerang
system muskuloskeletal pada lansia adalah osteoporosis.Suatu kegiatan
fisik yang banyak menggunakan tenaga dan otot dapat meningkatkan
kekuatan tulang melalui pembentukan dan perbaikan tulang sehingga
densitas tulang semakin padat dan terhindar dari risiko jatuh bahkan
osteoporosis. Hal

ini

sangat

berperan dalam pembentukan dan

pemeliharaan tulang yang sehat.3

5. Perubahan sistem kardiovaskuler


Proses menua menyebabkan jantung mengecil, katup jantung menjadi
kaku dan menebal dan kekuatan kontraksi otot jantung menurun sehingga
kemampuan memompa darah berkurang. Penurunan tersebut dapat terjadi
secara signifikan jika lansia mengalami stres fisik seperti olahraga
berlebihan.3
6. Perubahan sistem pencernaan
Berkurangnya kekuatan otot rahang, penurunan fungsi dan sensitifitas
saraf indera pengecap, gerakan peristaltik esofagus dan asam lambung
menyebabkan lansia mengalami penurunan nafsu makan. Selain itu juga
terjadi penurunan sekresi pankreatik yang biasanya terjadi setelah usia 40
tahun. Konstipasi yang terjadi pada lansia disebabkan karena melemahnya
kemampuan peristaltik usus.3 Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam
waktu lama maka akan terjadi kekurangan gizi pada lansia.

2.1.3. Status Gizi Lansia


Status gizi lansia adalah keadaan lansia yang ditentukan oleh derajat
kebutuhan fisik terhadap energi dan zat-zat gizi yang diperoleh dari pangan dan
makanan yang dampak fisiknya dapat diukur. Perbandingan perhitungan ratarata kebutuhan gizi dengan jumlah asupan zat gizi dapat memberikan indikasi
ada tidaknya masalah gizi.4
Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan status gizi lansia, antara lain:
1. Perubahan fisiologis
Penurunan fungsi fisiologis pada lansia merupakan hal yang terjadi
secara alami seiring dengan pertambahan usia. Penurunan ini meliputi
perubahan kemampuan lansia dalam merespon rangsangan dari dalam
maupun luar tubuh.4 Perubahan fungsi anatomi dan fisiologis sistem panca
indera dan sistem pencernaan memiliki hubungan erat dengan penurunan
status gizi.Perubahan tersebut menyebabkan lansia tidak menikmati
makanan dengan baik. Selain perubahan fisiologis, penggunaan gigi palsu
yang tidak tepat akan memberikan rasa sakit dan kurang nyaman ketika

mengunyah. Hal-hal inilah yang dapat menyebabkan asupan


berkurang sehingga berakibat pada penurunan status gizi lansia.

nutrisi

4,5,6,7

2. Kondisi sosial
Salah satu kondisi sosial yang berpengaruh terhadap status gizi lansia
dapat dilihat dari aspek tempat tinggal. Penelitian yang dilakukan pada 74
lansia di panti wredha dan 74 lansia di non panti tahun 2004
menyimpulkan bahwa lansia yang tinggal di panti wredha memiliki risiko
malnutrisi lebih besar daripada yang tinggal di non panti karenalansia yang
tinggal di panti wredha mengalami ketidakseimbangan antara asupan zat
gizi dan kebutuhan nutrisi.4,5,6,7
3. Status ekonomi
Masa pensiun yang dialami lansia akan berdampak salah satunya pada
keadaan keuangan keluarga. Kondisi keuangan keluarga yang menurun
secara tidak langsung berdampak pada penurunan kualitas dan kuantitas
asupan zat gizi. Apabila hal ini berlangsung dalam waktu lama dapat
mengakibatkan lansia mengalami gizi kurang.4,6,7
4. Psikologis
Depresi bukanlah bagian normal dari penuaan.Depresi merupakan
sakit yang dapat menimbulkan dampak serius jika tidak dikenali dan
diobati. Depresi merupakan masalah yang meluas diantara lansia, akan
tetapi seringkali tidak dapat secara baik dikenali atau dideteksi pada lansia.
Gejala seperti rasa sedih, gangguan

tidur

dan

nafsu

makan

atau

perubahan suasana hati mungkin dianggap sebagai bagian normal pada


lansia. Orang-orang terakadang menganggap bahwa masalah dengan
ingatan atau konsentrasi disebabkan oleh perubahan berpikir terkait
penuaan dibandingkan karena depresi.Lansia mengalami kesulitan untuk
berbicara mengenai perasaan sedih atau depresi.4,6,7

Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan


keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang
bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan
baku yang telah tersedia.

Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Penilaian secara langsung dapat dibagi menjadi empat yaitu antropometri,
klinis, biokimia, dan biofisik sedangkan secara tidak langsung dibagi menjadi
tiga yaitu, survei konsumsi pangan, statistika vital, dan faktor ekologi.6
Penilaian status gizi lansia diukur dengan antopometri atau ukuran tubuh,
yaitu berat badan dan tinggi badan. Namun, pada usia lanjut terjadi penurunan
tinggi badan karena kompresi vertebra, kifosis, dan osteoporosis. Pengukuran
tinggi badan pada usia lanjut harus dilakukan dengan teliti dalam posisi berdiri
tegak. Bila hal ini tidak dapat dilakukan maka dapat digantikan dengan
pengukuran tinggi lutut (menggunakan kaliper tinggi lutut) atau pengukuran
rentang lengan (arm span). Tinggi lutut memiliki korelasi yang tinggi dengan
tinggi badan dan mungkin digunakan untuk memprediksi tinggi badan
seseorang dengan kifosis atau seseorang yang tidak mampu berdiri.8
Tinggi lutut direkomendasikan oleh WHO (1995) untuk digunakan sebagai
prediktor dari tinggi badan pada seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
(lansia). Tinggi lutut diukur dengan sebuah kaliper berupa tongkat pengukur
yang dilengkapi

dengan papan

kayu untuk membentuk

sudut

90

derajat.8Tinggi lutut terlentang diukur pada kaki kiri yang dibengkokan pada
lutut dengan sudut 90 derajat. Salah satu ujung kaliper diposisikan di bawah,
dibagian tumit, sedangkan yang satu lagi diposisikan di bagian atas bagian
lutut. Batang kaliper disejajarkan dengan tibia dan kemudian sedikit ditekan
pada bagian ujung atas (tempurung lutut).8
Model regresi untuk prediksi tinggi badan berdasarkan tinggi lutut dan
usia pada setiap jenis kelamin adalah:8
1. Laki-laki
Tinggi Badan(cm) = 64,19+2,03x{Tinggi lutut (cm)}{0,04xUmur (th)}
2. Perempuan :
Tinggi Badan(cm) =84,88+1,83x{Tinggi lutut (cm)}{0,24 x Umur (th)}

Indeks massa tubuh (IMT) merupakan alat sederhana untuk memantau


status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan
kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal

memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih


panjang.9Penggunaan IMT hanya berlaku bagi orang dewasa berumur di atas
18 tahun. Indeks massa tubuh (IMT) tidak dapat diterapkan pada bayi, anak,
remaja, ibu hamil, dan olahragawan. Selain itu, IMT juga tidak bisa diterapkan
pada keadaan khusus (penyakit) lainnya seperti adanya edema, aitesis dan
hepatomegalia.Nilai IMT diperoleh dengan membagi berat badan dalam
kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter.
Tabel berikut adalah perspektif WHO Asia Pasifik untuk Asia9
Klasifikasi

IMT (kg/m2)

Underweight

<18,5

Normal

18,5-22,9

Overweight

23

Pre-Obese

23-24,9

Obese I

25-29,9

Obese II

30

Sumber: WHO IOTF 2003 diacu dalam Guideline on Management of


Overweight & Obesity in Primary Care 2006

2.1.4. Asupan Energi pada Lansia


Energi merupakan asupan utama yang dibutuhkan oleh tubuh untuk proses
metabolisme pada tingkat seluler, proses turn over untuk menjaga
keseimbangan dan untuk kerja otot. Dalam Ilmu Gizi, kilokalori (kkal) dan
kalori (kal) merupakan satuan yang sering digunakan untuk mengukur besar
energy yang dibutuhkan tubuh. Satu kalori sama dengan 0,001 kilokalori.10
Banyaknya energi yang berasal dari asupan makanan per hari harus disesuaikan
dengan banyaknya energi yang digunakan tubuh.
Perbedaan kebutuhan energi antara orang dewasa dengan lansia
disebabkan karena adanya perbedaan aktivitas fisik yang dilakukan. Pada
lansia energi yang dibutuhkan untuk beraktivitaslebih besar daripada untuk
metabolisme basal.7,10

2.1.5. Asupan Protein pada Lansia


Protein merupakan zat gizi yang memiliki kandungan terbesar setelah air
di dalam tubuh. Fungsi protein dalam tubuh sangat khas sehingga tidak dapat
digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun dan memelihara sel-sel dan
jaringan tubuh. Fungsi lain dari protein adalah sebagai bahan bakar dan
hormon di dalam tubuh, mengatur keseimbangan air dan mempertahankan
kenetralan pH tubuh.7
Proses menua menimbulkan perubahan-perubahan komposisi tubuh, salah
satu perubahan penting adalah pengurangan protein total tubuh. Akibat
pengurangan protein tersebut menyebabkan elastisitas kulit menurun, luka sulit
sembuh dan massa otot secara cepat menurun yang berhubungan dengan
menurunnya keseimbangan nitrogen dalam tubuh. Beberapa penelitian di
Negara Barat menyatakan bahwa dengan melakukan latihan fisik secara teratur
dapat merangsang pergantian jaringan protein dan pengaturan massa otot.7

2.1.6. Pengukuran Asupan Makanan pada Lansia


Pengukuran asupan makanan merupakan salah satu metode tidak langsung
yang digunakan untuk menentukan status gizi individu atau kelompok.
Berdasarkan jenis data yang diperoleh, pengukuran asupan makanan
dibagi menjadi tiga metode, yaitu:10
1. Metode kualitatif
Metode frekuensi makanan, metode dietary history, metode telepon dan
metode pendaftaran makan.
2. Metode kuantitatif
Metode recall 24 jam, metode food account, metode inventaris, perkiraan
makanan, penimbangan makanan dan pencatatan.
3. Metode kualitatif-kuantitatif
Metoderecall

24

jam

dan

metode

riwayat

makan

(dietary

history).Semiquantitative Food Frequency Questionnaire merupakan


metode kualitatif-kuantitatif untuk menghitung asupan makanan yang
dikonsumsi pada selang waktu tertentu. Kuesioner yang digunakan dalam

10

metode Semiquantitative FFQ terdiri dari dua komponen dasar yaitu daftar
makanan dan frekuensi konsumsi untuk menilai seberapa sering suatu
makanan dikonsumsi.10 Kelebihan metode ini adalah analisis kuesioner
yang cukup sederhana dan murah karena daftar jenis-jenis pangan yang
terdapat dalam kuesioner yang telah divalidasi dapat dimodifikasi oleh
peneliti sesuai dengan pola konsumsi masyarakat. Selain daftar jenis-jenis
pangan, di dalam kuesioner juga dicantumkan pertanyaan tentang
bagaimana makanan biasa diolah, penggunaan suplemen, vitamin dan
mineral tambahan serta makanan bermerek lain.10
Tidak ada satupun metode dietary assessmentmenghasilkan
penilaian kebutuhan energi yang akurat pada lansia karena adanya defisit
memori dan gangguan lainnya. Pada lansia untuk menilai rata-rata asupan
zat gizi lebih tepat menggunakan metode Semiquantitative Food
Frequency Questionnaire dibandingkan metodefood weighing yang
memerlukan waktu lama dan biaya mahal. Karena metode ini
menggunakan ukuran porsi sehingga mampu memberikan penilaian
jumlah zat-zat gizi yang dikonsumsi pada masa lampau.10
Metode yang bias dilakukan pada pengukuran status gizi pada
lansia adalah dengan menggunakan Mini Nutritional Assessment (MNA).
Pada

pengukuran

dengan

menggunakan

MNA

ini,

pengukuran

antropometri menjadi poin yang diukur. Selain dengan menggunakan


MNA, pemeriksaan klinis, dan biokimia juga dapat dilakukan untuk
pengukuran status gizi.11
Mini Nutritional Assessment (MNA) merupakan salah satu alat ukur
yang digunakan untuk menskrining status gizi pada lansia. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui apakah seorang lansia mempunyai risiko
mengalami malnutrisi akibat penyakit yang diderita dan atau perawatan di
rumah sakit.11
MNA ini banyak digunakan karena sangat sederhana dan mudah
dalam pelaksanaannya. Darmojo (2010) dalam penelitian yang dilakukan
pada 200 pasien preoperasi gastrointestinal menunjukkan bahwa MNA

11

dapat dilakukan oleh klinisi terlatih, mempunyai reprodusibilitas tinggi


dan dapat menskrining pasien yang mempunyai resiko malnutrisi.
Darmojo (2010) dalam studinya mengemukakan bahwa Mini
Nutritional Assessment (MNA) ini meliputi wawancara dan pengamatan
mengenai berat badan dan perubahan berat badan 6 bulan atau 2 minggu
terakhir, ada tidaknya gangguan gastrointestinal, ada tidaknya gangguan
fungsional, status metabolik dari penyakit,ada tidaknya muscle wasting
dan edema. Kuesioner MNA terdiri atas 18 pertanyaan yang terbagi dalam
empat komponen: penilaian antropometri, penilaian asupan makanan,
penilaian secara umum mengenai gaya hidup dan penilaian secara
subjektif. Skor MNA bersifat reliabel dan dapat diandalkan untuk
mendeteksi risiko terjadinya malnutrisi yang kemudian dihubungkan ke
dalam penilaian kualitas hidup dari lansia.10,11,12
Kesimpulan pemeriksaanMini Nutritional Assesment (MNA) adalah
menggolongkan pasien atau lansia dalam keadaan status gizi baik, berisiko
malnutrisi ataukah malnutrisi berat. MNA mempunyai dua bagian besar
yaitu screening dan assessment, dimana penjumlahan semua skor akan
menentukan seorang lansia pada status gizi baik, berisiko malnutrisi, atau
berisiko underweight.11,12
Dalam pengukuran MNA ini, pengukuran antropometri menjadi salah
satu yang diukur untuk menilai status gizi lansia.

2.1.7. Patofisiologi Asupan Nutrisi dengan Malnutrisi Pada Lansia


1. Kalori
Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal
pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%, disebabkan
berkurangnya massa otot dan aktivitas. Kalori (energi) diperoleh dari
lemak 9,4 kal, karbohidrat 4 kal, dan protein 4 kal per gramnya. Bagi
lansia komposisi energi sebaiknya 20-25% berasal dari protein, 20% dari
lemak, dan sisanya dari karbohidrat. Kebutuhan kalori untuk lansia lakilaki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal.Bila

12

jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan


disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul obesitas.12,13
2. Protein
Konsumsi sebanyak 1 gram per kg berat badan.Pada lansia, masa
ototnya per hari berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan
protein tidak berkurang, harus lebih tinggi dari orang dewasa, lansia
efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah
berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerapannya kurang efisien).
Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi
proteinnya ditingkatkan sebesar 12-14% dari porsi untuk orang
dewasa.10,13
3. Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total
kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih
dari 40% dari konsumsi energi) penyakit atherosclerosis (penyumbatan
pembuluh darah ke jantung).13 Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak
tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated faty
acid).
4. Vitamin dan mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang
mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D,
dan E umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya
konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran.13

2.1.8. Faktor Psikologis


Stres didefinisikan sebagai respon adaptif dipengaruhi oleh karakteristik
individual dan/atau proses psikologis akibat dari tindakan situasi atau kejadian
eksternal yang menyebabkan tuntutan fisik dan/atau psikologis terhadap
seseorang. Stres adalah respon tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap
setiap tuntutan beban atasnya. Stres merupakan reaksi yang tidak diharapkan
muncul disebabkan oleh tingginya tuntutan seseorang.14

13

Faktor yang menimbulkan stres yang dihadapi lanjut usia menurut


Stocklager (2008) adalah:
1) Kehilangan dukungan sosial
Individu mencapai lanjut usiajaringan pendukung soasial mulai terpecah
ketika teman meninggal atau pindah. Kekuatan dan kenyamanan yang
diberikan membantu individu menahan mengatasi kehilangan tidak ada.
2) Pensiun
3) Kehilangan pasangan
Salah satu yang terberat dialami individu adalah kematian pasangan.
4) Kematian anak usia dewasa
Anak usia dewasa merupakan bagian penting dari jaringan dukungan
sosial lanjut usia.
5) Pengasingan keluarga
6) Perubahan citra tubuh
Perubahan fisik yang mempengaruhi gaya hidup dapat memperburuk
harga diri dan seksualitas
7) Kehilangan keuangan
Lanjut usia sangat rentan terhadap penipuan keuangan.
Depresi adalah istilah yang akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Depresi adalah penyakit medis yang ditandai dengan kesedihan terus menerus,
kekecewaan dan hilangnya harga diri. Depresi mungkin disertai dengan
menurunnya energi dan konsentrasi, masalah tidur (insomnia), menurunnya
nafsu makan, kehilangan berat badan, dan sakit jasmani.14
Depresi bukanlah bagian normal dari penuaan.Depresi merupakan sakit
yang dapat menimbulkan dampak serius jika tidak dikenali dan diobati.
Depresi merupakan masalah yang meluas diantara lansia, akan tetapi seringkali
tidak dapat secara baik dikenali atau dideteksi pada lansia.14Gejala seperti rasa
sedih, gangguan tidur dan nafsu makan atau perubahan suasana hati mungkin
dianggap sebagai bagian normal pada lansia. Orang-orang terakadang
menganggap bahwa masalah dengan ingatan atau konsentrasi disebabkan oleh
perubahan berpikir terkait penuaan dibandingkan karena depresi. Lansia
mengalami kesulitan untuk berbicara mengenai perasaan sedih atau depresi.14

14

Tidak semua depresi dapat ditelusuri penyebabnya. Faktor risiko depresi


pada lansia diantaranya:
1) Kesepian dan isolasi
Tinggal sendirian, berkurangnya aktivitas sosial, berkurangnya mobilitas
karena sakit.
2) Hilangnya tujuan hidup
Perasaan hilangnya tujuan hidup atau identitas diri karena masa pensiun
atau keterbatasan aktivitas fisik
3) Masalah kesehatan
Sakit, disabilitas, penyakit kronis, menurunnya fungsi kognitif, serta
berbagai penyakit lain yang mengakibatkan perubahan tubuh
4) Pengobatan
Penggunaan beberapa obat dapat meningkatkan risiko terkena depresi
5) Takut
Rasa takut akan kematian atau kekhwatiran tentang masalah keuangan
serta kesehatan
6) Kehilangan mendadak
Kehilangan pasangan hidup, teman, keluarga bahkan binatang peliharaan
dapat memicu rasa tertekan pada lansia.

2.1.9. Patofisiologi Stres dan Depresi dengan Malnutrisi Pada Lansia


Keadaan perubahan lingkungan sosial, kondisi yang terisolasi, kesepian
dan berkurangnya aktivitas menjadikan para lansia mengalami rasa frustasi
dan

kurang

bersemangat. Akibatnya,

selera makan terganggu dan pada

akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan. Oleh karena


itu, kondisi mental yang tidak sehat secara tidak langsung dapat memicu
terjadinya status gizi yang buruk.14

2.1.10.Penyakit Kronis Pada Lansia


1. Hipertensi

15

Hipertensi lanjut usia dibedakan menjadi dua hipertensi dengan


peningkatan sistolik dan diastolik dijumpai pada usia pertengahan
hipertensi sistolik pada usia diatas 65 tahun. Tekanan diastolik meningkat
usia sebelum 60 tahun dan menurun sesudah usia 60 tahun tekanan sistolik
meningkat dengan bertambahnya usia.15
Hipertensi menjadi masalah pada usia lanjut karena sering
ditemukan menjadi faktor utama payah jantung dan penyakit koroner.
Lebih dari separuh kematian diatas usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit
jantung dan serebrovaskuler.15
Tabel Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa:16
Klasifikasi Tekanan Darah

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

<120

dan <80

Pre-Hipertensi

120-139

atau 80-89

Hipertensi Stage I

140-159

atau 90-99

Hipertensi Stage II

160

atau 100

Hipertensi Sistolik Terisolasi

140

<90

Normal

(ISH)

Sumber: The Seventh Report of the Joint National 2003

Faktor risiko yang dapat dikontrol:


1. Obesitas
Pada usia>50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi
penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu
sebabnya berat badan meningkat.Obesitas dapat memperburuk
kondisi lansia.Kelompok lansia dapat memicu timbulnya berbagai
penyakit

seperti

artritis,

jantung

dan

pembuluh

darah,

hipertensi.16Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan


tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik.Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang obese 5 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal.Pada
penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat
badan lebih.

16

2. Kurang olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak
menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan
tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk
hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa
apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena
adanya kondisi tertentu.Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko
tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi
gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak
jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih
keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung
harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak
arteri.
3. Mengkonsumsi garam berlebih
Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO)
merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi
risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan
adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6
gram

garam)

perhari.

Konsumsi

natrium

yang

berlebih

menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler


meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke
luar,

sehingga

volume

cairan

ekstraseluler

meningkat.

Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan


meningkatnya

volume

darah,

sehingga

berdampak

kepada

timbulnya hipertensi.
Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol:16
a. Riwayat keluarga
b. Usia (pria > 55 tahun, wanita > 65 tahun)
c. Jenis kelamin (pria atau wanita pasca menopause)

Patofisiologi Hipertensi dengan Malnutrisi

17

Proses penuaan secara fisiologis membawa konsekuensi terhadap


perubahan dan gangguan pada sistem kardiovaskuler, antara lain terjadinya
penyakit hipertensi. Hipertensi pada lansia diharapkan bisa dikendalikan
melalui pengaturan pola makan atau diet yang tepat, sehingga hipertensi
dapat terkontrol dan dampak yang ditimbulkan oleh hipertensi tersebut
dapat diminimalisasi.
Namun fakta dilapangan menunjukkan gejala yang sebaliknya.
Masyarakat belum memahami cara pengaturan diet dan pola makan (diet)
yang tepat, sehingga kasus hipertensi bukannya berkurang, tapi justru
semakin meningkat, bahkan bisa timbul kasus lain yang justru dapat
memperberat hipertensi seperti malnutrisi yang terjadi akibat pembatasan
makanan berlebihan untuk mencegah hipertensi.17,18 Saran Pemberian
makanan bagi lansia dengan hipertensi:
a. Hendaknya lansia makan dengan porsi kecil tapi sering
b. Makanlah makanan yang mudah dicerna
c. Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, goreng-gorengan dll
d. Makan makanan yang lembek untuk lansia yang kondisi giginya
kurang baik
2. Diabetes Melitus pada Lansia
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronik yang
kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein, dan
lemak dan berkembangnya komplikasi makrovaskuler dan neurologis.17
DM dapat mengakibatkan ketidaknormalan fraksi lipid dalam darah, yang
dihubungkan dengan risiko penyakit kardiovaskular.17
Selain itu DM adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh
peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) mungkin terdapat
penurunan dalam kemampuan untuk berespon terhadap insulin dan atau
penurunan atau tidak terdapatnya pembentukan insulin oleh pankreas.17,18
DM juga didefinisikan sebagai keadaan hiperglikemia kronik yang
ditandai oleh ketiadaan absolut insulin atau intensitivitas sel terhadap
insulin disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal,
yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf

18

dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam


pemeriksaan dengan mikroskop elektron.
Klasifikasi Diabetes Melitus dan penggolongan intoleransi glukosa
yang lain:17,18,19
a. Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)
Adalah defisiensi insulin karena kerusakan sel-sel Langerhans
yang berhubungan dengan tipe HLA (Human Leucocyte Antiter)
spesifik, predisposisi pada insulitis fenomena autoimun (cenderung
ketosis dan terjadi pada semua usia muda).Kelainan ini terjadi karena
kerusakan sistem imunitas (kekebalan tubuh) yang kemudian merusak
sel-sel pulau Langerhans di pankreas.Kelainan ini berdampak pada
penurunan produksi insulin.
b. Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
Lebih sering pada dewasa, tapi dapat terjadi pada semua umur.
Kebanyakan penderita kelebihan berat badan, ada kecenderungan
familiar, mungkin perlu insulin pada saat hiperglikemik selama stress.
c. Diabetes Melitus tipe yang lain
Adalah DM yang berhubungan dengan keadaan atau sindroma
tertentu hiperglikemia terjadi karena penyakit lain: penyakit pankreas,
hormonal, obat atau bahan kimia, endokrinopati, kelainan reseptor
insulin, sindroma genetik tertentu.
d. Impaired Glukosa Tolerance (gangguan toleransi glukosa)
Kadar glukosa antara normal dan diabetes, dapat menjadi diabetes
atau menjadi normal atau tetap tidak berubah.
e. Gastrointestinal Diabetes Melitus (GDM)
Intoleransi glukosa yang terjadi selama kehamilan.
Faktor-faktor risiko terjadinya diabetes mellitus menurut ADA dengan
modifikasi terdiri atas:18,19
a) Faktor risiko utama
1. Riwayat keluarga DM
2. Obesitas
3. Kurang aktivitas fisik

19

4. Ras
5. Hipertensi
6. Tidak terkontrol kolesterol dan HDL
7. Riwayat DM pada kehamilan
b) Faktor risiko lainnya
1. Nutrisi
2. Konsumsi alkohol
3. Stress
4.

Kebiasaan merokok

5. Jenis kelamin
6. Lama tidur
7. Konsumsi kopi dan kafein
Patofisiologi Diabetes Melitus terhadap Malnutrisi pada Lansia
Dislipidemia adalah suatu kelainan dimana terjadi peningkatan kadar
satu atau lebih lipid atau lipoprotein plasma. Dapat juga disebabkan karena
rendahnya kadar lipid atau lipoprotein tertentu. Kelainan fraksi lipid
yang sering terjadi adalah kenaikan kadar kolesterol total, kadar trigliserid
dan kadar kolesterol LDL serta penurunan kadar kolesterol HDL.19
DM-1 dicirikan oleh kerusakan sel beta pankreas. Defisiensi insulin
akan menghambat kerja lipoprotein lipase sehingga katabolisme VLDL
dan kilomrikron berkurang akibat trigliserid dan kolesterol naik dan LDL
berubah menjadi lebih padat dan kecil. Pada DM-2 kelainan pokok terjadi
pada

resisten

insulin

perifer.

Manifestasi

dislipidemianya

ialah

meningkatnya kilomikron, VLDL, trigliserid, LDL dan menurunnya HDL,


kolesterol.19 Makin resistensi insulin, makin meningkat sintesis trigliserid
dan VLDL di hati. Enzim yang berperan yaitu lipoprotein lipase, hepatik
trigliserid lipase, lipoprotein transfer protein dan lecithin cholesterol acyl
transferase (LCAT).Pada DM terjadi dua abnormalitas metabolisme
trigliserid yaitu over produksi VLDL dan liposis yang tidak efektif oleh
lipoprotein lipase. Keduanya menyebabkan hipertrigliseridemia.19
Terjadinya hiperkolesterolemia karena over produksi VLDL yang dapat
meningkatkan produksi IDL dan LDL, dan berkurangnya aktivitas reseptor

20

LDL. Over produksi VLDL dapat menyebabkan obesitas dan Non Insulin
Depedent Diabetes Mellitus (NIDMM). Berkurangnya reseptor LDL
adalah

konsekuensi

dari

penurunan

aktivitas

insulin

menjadi

defisiensi insulin atau resistensi insulin. Hal ini menyebabkan penurunan


klierens LDL dan VLDL remnant, dan menyebabkan peningkatan
konsentrasi LDL. Perubahan lemak darah pada penderita DM yang paling
sering adalah peningkatan kadar trigliserid dan penurunan kadar
kolesterol.19
3. Penyakit Jantung Pada Lansia
Prevalensi gagal jantung meningkat dengan usia. Lansia pasien
dengan penyakit jantung umumnya memiliki profil yang kompleks ditandai
dengan beberapa komorbiditas, polifarmasi, dan keadaan sosial yang dapat
memberikan tantangan klinis tambahan, memerlukan pendekatan yang
ditargetkan dan multidisiplin. Hampir 50% pasien Gagal Jantung Kongestif
mengalami kurang gizi sebabnya kurangnya asupan makan disertai penyulit
seperti: sesak nafas, batuk, mual, anoreksia dan edema. Upaya terbaik yang
dapat dilakukan adalah modifikasi diet enteral parenteral.20,21
4. Penyakit Sendi dan Tulang Pada Lansia
Semakin bertambahnya usia maka akan lebih mudah terserang
berbagai penyakit degeneratif. Salah satu penyakit degeneratif yang sering
diderita lansia adalah penyakit sendi.7 Laporan Riset Kesehatan Dasar
tahun 2007 menyatakan bahwa prevalensi nasional penyakit sendi adalah
30.3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%
Penyakit sendi yang sering diderita oleh lansia adalah osteoarthritis.
Sebanyak 17.82% lansia berusia >50 tahun di Yunani menderita
osteoarthritis.7
Penyakit sendi umumnya ditandai dengan keluhan-keluhan terkait
sendi.Penyakit atau keluhan sendi yang diderita oleh lansia dapat
disebabkan oleh beberapa faktor.Salah satunya adalah berat badan.
Sebanyak 50% lansia wanita di Bahrain dengan status gizi obesitas dan
30% dengan status gizi overweight menderita osteoarthritis. Kejadian
penyakit atau keluhan sendi dari segi gizi dikaitkan dengan kebiasaan

21

konsumsi kalsium yang berhubungan dengan diet seseorang. Menurut


Duncan (2004), penderita osteoarthritis kurang mengonsumsi produk
olahan susu, kalsium, dan vitamin D. Hipertensi merupakan faktor risiko
lain yang memengaruhi kejadian penyakit atau keluhan sendi pada lansia.7

2.11. Imunitas dan Penyakit Infeksi pada Lansia


Sistem imunitas tubuh orang tua ditingkatkan melalui upaya imunisasi dan
nutrisi.Tujuan imunisasi untuk memelihara sistem imunitas melawan agen
infeksi.Nutrisi berperan penting dalam peningkatan respons imun. Orang tua
rentan terhadap gangguan gizi buruk (undernutrition), disebabkan oleh faktor
fisiologi dan psikologi yang mempengaruhi keinginan makan dan kondisi fisik
serta ekonomi.22 Gizi kurang pada orang tua disebabkan oleh berkurangnya
kemampuan penyerapan zat gizi atau konsumsi makanan bergizi yang tidak
memadai. Berkurangnya asupan kalori diketahui dapat memperlambat proses
penuaan dan membantu pemeliharaan sejumlah besar sel T naive dan tingkat
IL-2.22,23
Konsumsi protein dan asam amino yang tidak cukup mempengaruhi status
imun karena berhubungan dengan kerusakan jumlah dan fungsi imun selluler,
serta penurunan respons antibodi.
Vitamin E dan Zn khususnya berperan penting dalam memelihara sistem
imun.22,23Defisiensi Zn jangka panjang menurunkan produksi cytokine dan
merusak pengaturan aktivitas sel T-helper.23 Vitamin E merupakan treatment
yang baik dalam mencegah penyakit Alzheimer, meningkatkan kekebalan
tubuh, dan sebagai antioksidan yang melindungi limfosit, otak, dan jaringan
lain dari kerusakan radikal bebas.23

22

2.2. Kerangka Teori


Anatomi dan Fisiologis
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Kulit
4. Perubahan
sistem
muskuloskeletal
5. Perubahan sistem KV
6. Perubahan
sistem
pencernaan

Faktor Sosial
1. Tempat tinggal
di panti dan
2. Bukan
panti
(rumah tinggal)
3. Dukungan
sosial

Faktor Ekonomi
1. Pensiun
2. Kehilangan
keuangan
3. Kehilangan
tulang
punggung
keluarga

MALNUTRISI

Asupan Nutrisi
1. Makronutrien
a. Energi
b. Protein
c. KH
d. Lemak
2. Mikronutrien
a. Vitamin
b. Mineral

Faktor Psikologis
1. Stress
2. Depresi
3. Kesepian dan
isolasi
4. Hilang tujuan
hidup
5. Takut
6. Pengobatan
7. Penurunan fungsi
kognitif

Penyakit Kronis
1. Hipertensi
2. Diabetes Melitus
3. Penyakit Jantung
4. Penyakit sendi
dan tulang
5. Defisiensi Imun
6. Penyakit Infeksi

23

BAB III
KERANGKA KONSEP, VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. KERANGKA KONSEP

MALNUTRISI

1. Energi
2. Protein

Asupan Nutrisi

1. Depresi

Faktor
Psikologis

1. Hipertensi
2. Diabetes
Melitus
3. Penyakit
Jantung

Penyakit Kronis

3.2. VARIABEL

24

3.2.1. Variabel Independen


1. Asupan Nutrisi
a. Energi
b. Protein
2. Faktor Psikologis
a. Depresi

3. Penyakit Kronis
a. Hipertensi
b. Diabetes Melitus
c. Penyakit Jantung
3.2.2. Variabel Dependen
1. Malnutrisi

25

3.3. DEFINISI OPERASIONAL

26

27

28

29

30

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1.

JENIS PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan

rancangan cross sectional (potong silang). Dalam penelitian cross sectional


peneliti mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung dengan
melakukan pengukuran pada saat tertentu. Dalam penelitian ini variabel
dependennya adalah malnutrisi dan variabel independennya adalah asupan nutrisi,
faktor psikologis dan penyakit kronis.

4.2.

LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN


4.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan
4.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan sejak bulan November 2013 Desember 2013

4.3.

POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN


4.3.1. Populasi Penelitian
Populasi target adalah lansia yang produktif di Jakarta Selatan.Populasi
terjangkau adalah seluruh lansia yang masuk tercatat di kelurahan Bukit Duri
pada tahun 2013.
4.3.2. Kriteria Inklusi dan Ekslusi
1. Kriteria Inklusi
a. Usia diatas 70 tahun, laki- laki dan perempuan.

31

b. Lansia yang mampu berkomunikasi aktif.


c. Lansia non binaan yang bertempat tinggal di kelurahan Bukit
Duri, Jakarta Selatan.
d. Lansia yang bersedia berpartisipasi dengan penelitian dengan
menandatangani informed consent.
e. Lansia yang underweight dan overweight.

2. Kriteria Ekslusi
a.

Lansia yang menderita penyakit stadium terminal

b. Lansia yang imobilitas.

4.3.3. Sampel Penelitian


Besar Sampel
Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan
rumus.

Rumus populasi infinit:


No =
No = Besar sampel yang dibutuhkan studi
Z = Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1,96
P = Prevalensi lansia yang malnutrisi sebesar 18,5%*
Q = Prevalensi lansia yang tidak malnutrisi sebesar 81,5%
d

= Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p >10% adalah 0,05

No =

= 232,68 dibulatkan menjadi 233

*Dikutip dari penelitian Zumrati Ahmad Program Pascasarjana Universitas


Gajah Mada tentang Pengaruh Latihan Pasrah Diri terhadap Status Nutrisi
Usia Lanjut dengan Simtom Depresi di Wilayah Kabupaten Klaten Propinsi
Jawa Tengah.27

Rumus populasi finit:


n=(

32

= Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit

n0

= Besar sampel dari populasi yang infinit

= Besar sampel populasi finit

Karena jumlah lansia (>70 tahun) yang terdapat di kelurahan Bukit Duri
berjumlah 612 orang maka :
n=(

= 168,8 = 169 orang

antisipasi drop out = 10% x n


antisipasi drop out = 10% x 169 = 17
Total sampel = n + antisipasi drop out
Total sampel = 169 + 17 = 186 orang

4.4.

CARA PENGAMBILAN SAMPEL

Jakarta Selatan

Kecamatan Tebet

Purposive Sampling

Kel. Bukit
Duri

Rw 3

Rw 6

Rw 9

33

Pengambilan sampel diambil dari populasi terjangkau yang telah ditentukan,


kemudian dipilih sampel yang dikehendaki dengan cara Probability Sampling
jenis Cluster sampling. Kelompok lansia di kelompokkan menjadi lansia yang
masuk dalam binaan (196 orang) dan non binaan (416 orang). Sampel
diambiladalah tidak masuk dalam binaan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, dan
jumlah sampel diambil berjumlah 186 orang.

4.5.

INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian diambil dengan menggunakan kuesioner.
NO
INSTRUMEN
1.
KuesionerMini Nutritional Assasement
(MNA)

2.

3.

4.6.

FUNGSI
Sebagai alat skrining dan
penilaian terhadap gizi
pasien geriatri usia 65 ke
atas normal, berisiko
malnutrisi, atau malnutrisi
Kuesioner
Semiquantitative
Food Untuk menilai asupan
Frequency (SFFQs)
kebiasaan nutrisi kalangan
orang tua sekomprehensif
mungkin pada selang
waktu tertentu
KuesionerSkala Depresi Geriatrik (SDG) Sebagai alat tes skrining
depresi pada lansia

MANAJEMEN DATA
4.6.1. Data Entry
Setelah data diperoleh maka dilakukan pengolahan dengan tahapan sebagai
berikut :
1. Editing
Memeriksa kelengkapan data yang diperoleh dari kuesioner dan
wawancara.
2. Koding
Memberikan kode pada masing-masing jawaban untuk dilakukan
pengolahan data.
3. Data entry

34

Pemindahan data ke dalam komputer agar diperoleh data masukan yang


siap diolah.Data yang telah terkumpul dari hasil kuesioner diolah dan
dianalisis dengan menggunakan program SPSS statistics 17.
4.6.2. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan pada masing-masing variabel.Hasil ini berupa
distribusi dan persentase pada variabel-variabel yang diteliti.

2. Analisis Bivariat
Analisis yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara
variabel bebas dengan variabel tergantung. Dalam analisis ini,
dilakukan chi square (Kai-kuadrat) untuk mengetahui apakah ada
hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung.

4.7. ORGANISASI PENELITIAN


Pembimbing:
1. Dr. dr. Rina K Kusumaratna, M.Kes
2. dr. Vera M Sitanggang

Pelaksana dan Penyusun Penelitian:


1. Arini Nurlela
2. Fani Safitri
3. Oktaria Lutfiani

Perkiraan Biaya Penelitian :


1. Kertas A4 + tinta

Rp 250.000,-

2. Transportasi

Rp 200.000,-

3. Fotocopy

Rp 200.000,-

4. Strip Glukosa

Rp. 210.000,-

35

5. Kapas Alkohol

Rp. 20.000,-

6. Biaya tak terduga

Rp 250.000,-

Jumlah

Rp 1.130.000,-

4.8.JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

TAHAP
KEGIATAN

Waktu (dalam minggu)


1

10

Perencanaan
1 Pemilihan topik
dan judul
2 Penulusuran
kepustakaan
3 Pembuatan
proposal
4 Konsultasi
dengan
pembimbing
5 Presentasi
proposal
Pelaksanaan
1 Pemilihan pasien
2 Pengumpulan
data dan survey
3 Pengolahan data
4 Konsultasi
dengan
pembimbing
Pelaporan Hasil
1 Penulisan
laporan
sementara

36

2 Revisi
3 Presentasi hasil
penelitian

BAB V
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada lansia di kelurahan Bukit Duri pada bulan
November-Desember 2013. Penelitian ini mengambil sampel secara cluster
sampling pada lansia di kelurahan Bukit Duri. Sampel yang diteliti pada penelitian
ini sebanyak 186 lansia.

5.1 Analisis Data Univariat


5.1.1 Distribusi Status Malnutrisi
Tabel 5.1.1 Distribusi Status Malnutrisi pada Lansia
Status Gizi

Frequency (N)

Percent (%)

Risk

131

89.7

Malnutrisi

15

10.3

Dari 186 yang diteliti, terdapat 131 (89,7%) berisiko mengalami malnutrisi, 15
(10,3%) mengalami malnutrisi, dan 40 lansia lainnya normal.

5.1.2 Analisis univariat jenis kelamin pasien


Berdasarkan jenis kelamin, responden dibagi menjadi dua kategori yaitu
laki-laki dan perempuan.Terdapat 28,1% responden yang berjenis kelamin lakilaki dan terdapat 71,9% responden yang berjenis kelamin perempuan.
Tabel 5.1.2 Distribusi responden terhadap jenis kelamin
Jenis Kelamin

Frequency (N)

Percent (%)

37

Perempuan

105

71.9

Laki-laki

41

28.1

5.1.3 Analisis univariat umur pasien


Berdasarkan usia, usia rata-rata responden adalah sebesar 73,80 dengan
standar deviasi 2,007 dengan responden umur termuda 70 dan tertua 81 tahun.
Tabel 5.1.3 Distribusi responden terhadap umur
Mean SD
Umur pasien

73,80 2,007

5.1.4Analisis Univariat Asupan Nutrisi


Tabel 5.1.4 Distribusi Asupan Nutrisi pada Lansia
Asupan Nutrisi

Frequency (N)

Percent (%)

Cukup

122

82.4

Tidak cukup

24

16.2

Dari 146 sampel yang diteliti, terdapat 122 lansia (82,4%)asupan


nutrisinya cukup, diantaranya asupan energi dan protein, terdapat 24 lansia
(16,2%) yang berisiko mengalami masalah asupan nutrisi. Diantaranya kurangnya
asupan energi dan protein.

5.1.5Analisis Univariat Penyakit Kronis


Tabel 5.1.5 Distribusi Penyakit Kronis pada Lansia
Penyakit Kronis

Frequency (N)

Percent (%)

Ya

73

49.3

Tidak

73

49.3

Dari 146 sampel yang diteliti, terdapat 73 lansia (49,3%) tidak memiliki
penyakit kronis dan dengan jumlah yang sama, yaitu 73 lansia (49,3%) memiliki
penyakit kronis.

5.1.6 Distribusi Psikologi

38

Tabel 5.1.6 Distribusi Psikologis pada Lansia


Psikologis

Frequency (N)

Percent (%)

Risiko Depresi

135

91.2

Depresi

11

7.7

Dari 146 sampel yang diteliti, terdapat 135 (91.2%) memiliki risiko
depresi dan 11 lansia (7.7%) menderita depresi.

5.2

Analisis Data Bivariat

5.2.1. Hubungan Asupan Nutrisi dengan Status Malnutrisi pada Lansia


Tabel 5.2.1 Hubungan antara Asupan Nutrisi dengan Status Malnutrisi pada
Lansia di kelurahan Bukit Duri
Asupan

Status Malnutrisi

OR

95% CI

Nutrisi
Risk

Malnutrisi

Cukup

109

10

Tidak Cukup

22

2.48

Lower

Upper

0.77

7.96

0.16

Berdasarkan tabel di atas, didapatkan 119 lansia memiliki asupan nutrisi


yang cukup dan 27 lansia asupan nutrisinya tidak cukup (kurang ataupun
lebih).Sebanyak 109 dari 119 lansia berisiko mengalami malnutrisi dan 10 lansia
mengalami malnutrisi.Sejumlah 22 lansia yang asupan nutrisinya tidak cukup
mengalami risiko malnutrisi dan 5 lansia dari asupan nutrisi yang tidak cukup
mengalamai malnutrisi.Lansia yang asupan nutrisinya tidak cukup 2.48 kali lebih
besar berisiko mengalami malnutrisi dibandingkan lansia yang asupan nutrisinya
cukup. Namun uji statistik ini tidak bermakna (P=0,16).

5.2.2. Hubungan Penyakit Kronis dengan Status Malnutrisi pada Lansia di


Kelurahan Bukit Duri

39

Tabel 5.2.2 Hubungan antara Penyakit Kronis dengan Status Malnutrisipada


Lansia di kelurahan Bukit Duri
Penyakit

Status Malnutrisi

OR

95% CI

Kronis
Risk

Malnutrisi

Ya

65

Tidak

66

Lower
0.89

0.31

Upper
2.59

1.00

Berdasarkan tabel di atas, sebanyak 72 lansia memiliki penyakit


kronis.Sejumlah 65 lansia dari jumlah tersebut mengalami risiko malnutrisi dan
sebanyak 7 lansia mengalami malnutrisi. Sebanyak 74 lansia yang tidak memiliki
penyakit kronis, 66 dari jumlah tersebut mengalami risiko malnutrisi dan 8 lansia
mengalami malnutrisi. Berdasarkan hasil tersebut, 0.89 kali lebih besar lansia
yang memiliki penyakit kronis berpeluang mengalami malnutrisi. Namun, hasil
statistik ini tidak bermakna (P=1.00).

5.2.3. Hubungan Psikologis dengan Status Malnutrisi pada Lansia di


Kelurahan Bukit Duri
Tabel 5.2.3 Hubungan antara Psikologis dengan Status Malnutrisi pada
Lansia di kelurahan Bukit Duri.
Psikologis

Status Malnutrisi
Risk

Malnutrisi

Risk

118

13

Depresi

13

OR

95% CI
Lower

1.396

2.83

Upper
6.88

1.39

Berdasarkan tabel di atas, didapatkan sebanyak 131 lansia memiliki risiko


depresi dan yang berisiko malnutrisi sebanyak 118 dan mengalami malnutrisi 13.
Sebanyak 15 lansia mengalami depresi, 13 diantaranya berisiko malnutrisi dan 2
lainnya mengalami malnutrisi. Lansia yang mengalami depresi, sebanyak 1.39
kali lebih besar mengalami malnutrisi dibandingkan yang tidak mengalami
depresi. Hasil ini tidak bermakna dengan nilai p>0.05 (P=1.39).

40

BAB VI
PEMBAHASAN

Pada penelitian ini kami menggunakan uji Chi-Square untuk menganalisis


domain yang terdapat pada kuesionerMini Nutritional Asessment, Semi
Quantitative Frequency Food Quantitative (SQ-FFQ), danSkala Depresi Geriatri
(SDG). Mini Nutritional Assessment (MNA)dimana terdiri atas 18 pertanyaan
yang terbagi dalam empat komponen: penilaian antropometri, penilaian asupan
makanan, penilaian secara umum mengenai gaya hidup dan penilaian secara
subjektif. Skor MNA bersifat reliabel dan dapat diandalkan untuk mendeteksi
risiko terjadinya malnutrisi.Penilaian asupan nutrisi menggunakan Semi
Quantitative Frequency Food Quantitative (SQ-FFQ) berisikan frekuensi dan
jumlah porsi asupan makanan (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral)
dalam waktu harian, bulanan dan tahunan.Skala Depresi Geriatri (SDG) berisikan
15 pertanyaan mengenai psikologis.
Pada penelitian ini responden dibagi menjadi dua kategori yaitu responden
yang berisiko malnutrisi dan malnutrisi.Terdapat 131 responden yang tergolong
berisiko malnutrisi dengan presentase sebesar 88.5%, sebanyak 15 orang
tergolong malnutrisi dengan persentase sebesar 10.1%.

6.1. Hubungan Asupan Nutrisi dengan Status Malnutrisi pada Lansia

41

Lansia yang memiliki asupan nutrisi yang tidak cukup berisiko 3.121 kali
lebih besar mengalami malnutrisi dibandingkan lansia yang asupan nutrisinya
cukup.Namun uji statistik ini tidak bermakna (P=0,051). Penelitian ini diperkuat
berdasarkan studi yang dilakukan Anis Larbi, dkk yang menyatakan tidak
seimbangnya asupan nutrisi energi dan protein baik lebih ataupun kurang pada
lansia menyebabkan status gizi malnutrisi.28

6.2. Hubungan Penyakit Kronis dengan Status Malnutrisi pada Lansia


Lansia yang memiliki penyakit kronis berisiko mengalami malnutrisi
dibandingkan yang tidak memiliki penyakit kronis.Berdasarkan analisis tersebut,
didapatkan 1.665 kali lebih besar lansia yang memiliki penyakit kronis berpeluang
mengalami malnutrisi. Namun, hasil statistik ini tidak bermakna (P=0.0809).
Hasil ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa adanya
hubungan antara penyakit kronis dengan keadaan malnutrisi dilihat dari
pembatasan

asupan-asupan

nutrisi

yang

berhubungan

dengan

status

penyakitnya.29, 30

6.3. Hubungan Psikologis dengan Status Malnutrisi pada Lansia


Lansia yang memiliki status psikologis depresi berisiko mengalami
malnutrisi dibandingkan dengan berisiko depresi.Sebanyak 6.051 kali lebih besar
lansia depresi mengalami malnutrisi dibandingkan yang tidak mengalami depresi.
Hasil ini diperkuat dengan uji statistik yang bermakna (P=0.005). Selain itu,
penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zumrati
Ahmad pada tahun 2012 dengan jurnalnya yang berjudul Pengaruh Latihan
Pasrah Diri terhadap Status Nutrisi Usia Lanjut dengan Simtom Depresi di
Wilayah Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah yang menyatakan bahwa
malanutrisi pada lansia dipengaruhi oleh berbagai sebab, salah satunya terjadinya
depresi yang menyebabkan terbatasnya kemampuan lansia dalam memenuhi
asupan nutrisinya.27

42

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kami didapatkan prevalensi lansia yang
berisiko menderita malnutrisi sebesar 10,3% dan prevalensi lansia yang menderita
malnutrisi sebesar 89,7% .
Berdasarkan hasil penelitian kami didapatkan prevelensi28,1% responden
yang berjenis kelamin laki-laki dan terdapat 71,9% yang berjenis kelamin
perempuan di Kelurahan Bukit Duri.
Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara asupan nutrisi berupa
energi dan protein denganstatus malnutrisi lansia di Kelurahan Bukit Duri.
Terdapat hubungan yang bermakna antara masalah psikologis dengan
status malnutrisi lansia di Kelurahan Bukit Duri.
Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara faktor penyakit kronis
denganstatus malnutrisi lansia di Kelurahan Bukit Duri.

7.2 Saran
Puskesmas
Dari kesimpulan diatas di dapatkan satu variabel yang tidak berperan
terhadap produktivitas lansia.Namun, variabel lainnya cukup berperan terhadap

43

status gizi lansia, diantaranya dari asupan nutrisi, masalah psikologis, dan
penyakit kronis.Dari sebuah penelitian sebelumnya, meyatakan bahwa asupan
nutrisi, masalah psikologis, dan penyakit kronis berhubungan dengan status
malnutrisi lansia.27,28,29,30Dari keterangan di atas, diharapkan puskesmas dapat
lebih memperhatikan kondisi lansia melalu kunjungan rumah, pembentukan
posyandu lansia di kelurahan,maupun sosialisasi mengenai adanya keberadaan
fasilitas tersebut dan manfaatnya.

Peneliti
Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dalam melakukan penelitian
ini, tidak semua faktor diteliti dan dianalisis dengan parameter yang tepat karena
keterbatasan waktu, dana, dan tenaga. Oleh karena itu, sangat diharapkan ada
peneliti lain yang berminat melanjutkan penelitian ini dengan membuat penelitian
lanjutan dan membahas lebih mendalam lagi faktor-faktor lainnya selain yang
telah kami lakukan demi kesempurnaan penelitian ini. Jumlah sampel dan waktu
penelitian juga disarankan untuk diperbesar agar dapat melihat hasil yang lebih
baik lagi.

Masyarakat
Perlunya perhatian yang lebih terhadap status malnutrisi lansia.Karena
salah satu faktor yang berperan dalam status malnutrisi lansia adalah adanya
hubungan interaksi dan komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitar yang
dapat memicu masalah psikologis lansia yang berdampak pada status malnutrisi
lansia.

44

DAFTAR PUSTAKA

1. Dani.

PedomanActive

AgeingBagi

Masyarakat[internet].Jakarta:
November

Komnas

30].

Pengelola

Lansia;

2011.

dan

[cited

Available

2013
from:

http://www.komnaslansia.go.id/d0wnloads/AktiveAgeing.pdf.
2. Hamid

Almisar.

Penduduk

Kesejahteraannya[internet].
Indonesia;

2007.

[cited

Lanjut

Jakarta:
2013

Usia

Kementrian

November

30].

dan

Masalah

Sosial

Republik

Available

from:

http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=522.
3. Martono H. Hadi, Pranarka Kris. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan
Lanjut Usia): Gizi Lanjut Usia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. Edisi
4 p634-p652.
4. Ahmed Tanvir, Nadim Haboubi. Assessment and management of nutrition
in older people and its importance to health.Clinical Interventions in
Aging

2010:5

207216.Available

from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2920201/pdf/cia-5207.pdf.
5. Akmal Hilda Fauzia. Perbedaan Asupan Energi, Protein, Aktivitas Fisik
dan Status Gizi antara Lansia yang Mengikuti dan Tidak Mengikuti
Senam Bugar Lansia[Thesis]. Semarang: FK Undip; 2012. [cited 2013

45

November

30].

Available

from:http://eprints.undip.ac.id/37552/1/Hilda_Fauzia_A-G2A008093LAP.KTI.pdf.
6. Sinclair Alan J. Morley John E, Vellas Bruno. Pathys Principles and
Practicle of Geriatric Medicine: Eating Disorders and Nutritional
Health. UK: Willey-Blackwell; 2012. 5ED Section 1 Chapter 15-20 p173p245.
7. Hickson M. Malnutrition and Ageing. Postgrad Med J. 2006 January;
82(963):

28.

Available

from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2563720/pdf/2.pdf.

8. Salim Oktavianus Ch, Kusumaratna Rina K, Sudharma Novi I, Hidayat


Adi. Tinggi Lutut sebagai Prediktor dari Tinggi Badan pada Usia Lanjut.
Jakarta: Universa Medicina; 2006. Vol 25 No 1. Available from:
http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2012/04/dr-oktav-dkk.pdf.
9. Chan Christie, Lisa Cheng, Anthony Ho, Linda Hui, Lam WK, LauKam
Tong et al. Guideline on Management of Overweight & Obesity in
Primary Care: BMI Classification. Hongkong: Professional Development
& Quality Assurance Departement of Health; 2006. Available from:
http://www.pdqa.gov.hk/english/primarycare/clinical/files/overwtguidelin
e.pdf
10. Preparation and Use of Food Based Dietary Guidelines.Report of a Joint
FAO/WHO

Consultation.

Available

from:

http://whqlibdoc.who.int/trs/WHO_TRS_880.pdf.
11. Ann Rose and Guenter Peggi A. How To Try The Mini Nutritional
Assessment. AJN February 2008Vol 108, No2. Available from:
http://www.tuftshealthplans.com/providers/pdf/assessing_nutrition.pdf.
12. Roberts Anne Dillon, Clayton Dame Barbara, Copeman June, Davies
Louise,Downes Mandy, Lehmann Anthea, et al. Eating Well for Older
People: Nutritional Assessments 2nd ED.London: The Caroline Walker
Trust; 2004. Chapter 3 How a Good Diet can Contribute to The Health of

46

Older

People;

p21-28.

Available

from:

http://www.cwt.org.uk/pdfs/OlderPeople.pdf.
13. Bernstein Melissa and Munoz Nancy. Food and Nutritioning for Older
Adults: Promoting Health and Wellness. Journal of The Academy of
Nutrition and Dietetics; August 2012 Volume 112 No 8 Pages 12551277.

Available

from:

http://download.journals.elsevierhealth.com/pdfs/journals/22122672/PIIS2212267212007496.pdf.
14. Ahmadi Seyed Mehdi, Mohammadi Mohammad Reza, Mostavi Seyed
Ali, Keshavarzi Sareh, Kooshesh Seyed Mohammad Ali, Joulaei Hassan,
et al. Dependence of the Geriatric Depression on Nutritional Status and
Anthropometric Indices in Elderly Population. Iran J Psychiatry. 2013
June;

8(2):

9296.Available

from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3796300/pdf/IJPS-892.pdf.
15. Brookes

Linda.

The

(WHO)/International

UpdatedWorld
Society

of

Health

Organization

Hypertension

(ISH)

HypertensionGuidelines [internet]. London: Medscape; 2004. [cited2013


November

30].

Available

from:http://www.medscape.com/viewarticle/471863 .
16. The Seventh Report of the Joint National. Prevention, Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. US: Departement of
Health and Human Service; 2003.[cited 2013 November 30]. Available
from: http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/hypertension/jnc7full.pdf.
17. Rachmah W.Diabetes Melitus pada Usia Lanjut. In: Sudoyo Aw,
Setiyohadi B, Alwi I, Smadibrata M, Setiati S, editors. Buku Ajar
Penyakit Dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI;
2007.P.1915-18.
18. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Konsensus
Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia.
Jakarta:

Guidelines

PBPAPDI;

2006.

Available

from:

http://www.pbpapdi.org/images/file_guidelines/12_Konsensus%20Pengel

47

olaaln%20dan%20Pencegahan%20Diabets%20Melitus%20Tipe%202%2
0di%20Indonesia%202006.PDF.
19. Kirkman M Sue, Briscoe Vanessa Jones, Clark Nathaniel, Florez Hermes,
Haas Linda B, Halter Jeffrey B, et al. Diabetes in Older Adults: A
Consensus Report. JAGS 2012 10.1111/jgs.12035. Available from:
http://www.americangeriatrics.org/files/documents/ADA_Consensus_Re
port.pdf.
20. Liu Longjian, Yin Xiaoyan, Ikeda Katsumi, Sullivan Dennis H, Eisen
Howard J. Micronutrients, Inflamation and Congestive Heart Failure
among The Ederly: Nutrional Perspectives on Primary Prevention and
Clinical Treatment. Clinical and Experimental Pharmacology and
Physiology

2007

34,

S14S16.

Available

from:

http://onlinelibrary.wiley.com/store/10.1111/j.1681.2007.04762.x.pdf.
21. Lorgeril Michel De, Salen Patricia, Defaye Pascal. Importance of
Nutrition of Chronic Heart Failure Patients. European Heart Journal
(2005)

26,

22152217.

Available

from:

http://eurheartj.oxfordjournals.org/content/26/21/2215.full.pdf+html.
22. Pae Munkyong, Meydani Simin Nikbin, Wu Dayong. The Role of
Nutrition in Enhancing Immunity in Aging. Aging and disease Volume 3,
Number

1,

February

2012.

Available

from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3320807/pdf/ad-3-191.pdf.
23. Dickinson A. Benefits of nutritional supplements:Immune Function in the
Elderly. The Benefits of Nutritional Supplements 2002 Council for
Responsible

Nutrition.

Available

from:

http://www.crnusa.org/benpdfs/CRN009benefits_elderly.pdf.
24. Riset Kesehatan Dasar: Kuesioner Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Badan
Litbang Kesehatan Departemen Republik Indonesia; 2007. Available
from:http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/download/KuesionerKes
mas.pdf.
25. Nutrion Screening: Mini Nutrional Assessment. Switzerland: Nestle
Nutrition

Institute;

2011.

Available

from:

http://www.mna-

48

elderly.com/forms/mna_guide_english.pdf
26. Geriatric Depression Scale (GDS) Scoring Instructions.American
College

of

Physicians

Depression

Care

Guide.Available

from:

http://depression.acponline.org/content/all/tools/dcg_o05.pdf.
27. Ahmad Zumrati.Pengaruh Latihan Pasrah Diri terhadap Status Nutrisi
Usia Lanjut dengan Simtom Depresi[PPDS Thesis]. Yogyakarta:
Program Pascasarjana UGM; 2013.
28. Kurpad AV. Undernutrition in elderly individual In: Clinical Nutrition I.
Blackwell NS. UK; 2005.
29. Poehlman ET, Scheffers J, Gottlieb SS, Fisher ML, Vaitekevicius P.
Increased resting metabolic rate in patients with congestive heart failure.
Ann Intern Med 1994;121:8602.
30. CrossRefMedlineToth MJ, Gottlieb SS, Goran MI, Fisher ML, Poehlman
ET. Daily energy expenditure in free-living heart failure patients. Am J
Physiol 1997;272:E46975.
31. Kartono Djoko, Hardinsyah, Jahari Abas Basuni, Sulaeman Ahmad,
Soekatri Moesijanti. Penyempurnaan Kecukupan Gizi Untuk Orang
Indonesia. Jakarta: Widyakarya Nasional Pandan dan Gizi X; 2012.

49

LAMPIRAN 1
KUESIONER PENELITIAN STATUS MALNUTRISI
Asesmen Mini Nutrisional (MNA)
I.

Asesmen Antropometri

1.

Indeks Masa Tubuh (IMT) (kg/m2)

2.

3.

4.

a. IMT < 19

= 0 poin

b. IMT 19 - < 21

= 1 poin

c. IMT 21 - < 23

= 2 poin

d. IMT 23

= 3 poin

Lingkar Tengah Lengan dalam cm (MAC)


a. MAC < 21

= 0,0 poin

b. MAC 21 22

= 0,5 poin

c. MAC > 22

= 1,0 poin

Lingkar Betis dalam cm (CC)


a. CC < 31

= 0 poin

b. CC 31

= 1 poin

Penurunan berat badan dalam 3 bulan terakhir


a. Penurunan berat badan melebihi 3kg

= 0 poin

b. Tidak tahu

= 1 poin

c. Penurunan berat badan anatara 1-3 kg

= 2 poin

50

d. Tidak terdapat penurunan berat badan

II.
5.

6.

7.

8.

= 3 poin

Asesmen Umum
Hidup mandiri (tanpa perawat di rumah ataupun rumah sakit)
a. Tidak

= 0 poin

b. Ya

= 1 poin

Memakai obat dengan resep dokter lebih dari 3 per hari


a. Ya

= 0 poin

b. Tidak

= 1 poin

Memiliki stres psikologis atau penyakit akut 3 bulan lalu


a. Ya

= 0 poin

b. Tidak

= 2 poin

Aktivitas
a. Hanya berbaring atau duduk di kursi

= 0 poin

b. Dapat berbaring atau duduk di kursi yang lebih jauh, namun tidak

9.

10.

dapat berpergian

= 1 poin

c. Dapat berpergian

= 2 poin

Masalah neuropsikologis
a. Depresi atau demensia berat

= 0 poin

b. Demensia ringan

= 1 poin

c. Tidak ada masalah psikologis

= 2 poin

Luka akibat tekanan atau ulkus di kulit


a. Ya

= 0 poin

b. Tidak

= 1 poin

III. Asesmen Diet


11.

Berapa banyak makanan yang mengandung tepung yang dimakan setiap


harinya?

12.

a. 1 makanan

= 0 poin

b. 2 makanan

= 1 poin

c. 3 makanan

= 2 poin

Tanda konsumsi dipilih sebagai tanda asupan protein

51

13.

14.

Setidaknya 1 penyajian produk harian setiap hari? Ya/Tidak

2 atau lebih penyajian kacang polong/telur setiap minggu? Ya/Tidak

Daging, ikan atau bebek/ ayam setiap hari? Ya/Tidak

a. Jika 0 atau 1 jawaban Ya

= 0,0 poin

b. Jika 2 jawaban Ya

= 0,5 poin

c. Jika 3 jawaban Ya

= 1,0 poin

Konsumsi 2 atau lebih buah-buahan atau sayuran per hari?


a. Tidak

= 0 poin

b. Ya

= 1 poin

Memiliki penurunan asupan makan selama >3 bulan terakhir akibat


penurunan nafsu makan, masalah pencernaan, pengunyahan atau masalah
menelan yang berat?

15.

16.

a. Kehilangan nafsu makan berat

= 0 poin

b. Kehilangan nafsu makan sedang

= 1 poin

c. Tidak terdapat kehilangan nafsu makan

= 2 poin

Berapa banyak minum per hari?


a. Kurang dari 3 cangkir

= 0,0 poin

b. 3-5 cangkir

= 0,5 poin

c. Lebih dari 5 cangkir

= 1,0 poin

Cara makan
a. Tidak dapat makan tanpa asisten

= 0 poin

b. Sendiri namun sulit

= 1 poin

c. Sendiri tanpa kesulitan sedikitpun

= 2 poin

IV. Asesmen Pribadi


17.

18.

Melihat keadaan mereka memiliki masalah nutrisi?


a. Malnutrisi berat

= 0 poin

b. Tidak tahu atau malnutrisi sedang

= 1 poin

c. Tidak ada masalah nutrisi

= 2 poin

Dalam perbandingan dengan responden lain dengan usia yang sama,


bagaimana melihat status kesehatan mereka?
a. Tidak baik

= 0,0 poin

52

b. Tidak tahu

= 0,5 poin

c. Baik

= 1,0 poin

d. Sangat baik

= 2,0 poin

Asesmen Total (max 30 poin)


Indikator skor malnutrisi:
24

: nutrisi baik

17-23 : berisiko malnutrisi


<17

: malnutrisi

53

54

55

56

57

58

59

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR PSIKOLOGIS


NO

TANGGAL

BERI TANDA
YA
TIDAK

1
2

Apakah anda merasa puas dengan hidup ini?


Adakah sesuatu yang menjatuhkan aktivitas
dan minat anda?
3
Apakah anda merasa hidup ini kosong?
4
Anda sering merasa bosan?
5
Anda memiliki semangat yang baik di setiap
waktu?
6
Anda merasa ketakutan sesuatu yang buruk
akan terjadi pada diri anda?
7
Anda merasa senang di setiap waktu?
8
Anda sering merasa tidak berguna?
9
Anda lebih menyukai tinggal di rumah
daripada keluar rumah atau melakukan
sesuatu?
10
Anda merasa memiliki masalah dengan
ingatan anda?
11
Anda merasa kehidupan sekarang sangat
bagus?
12
Anda merasa seiring berjalannya waktu
kecantikan yang dimiliki tidak berharga?
13
Anda merasa memiliki energi yang penuh?
14
Anda merasa situasi yang dimiliki tidak
sesuai harapan?
15
Anda merasa orang lain lebih baik daripada
anda?
SKOR TOTAL

60

LAMPIRAN 2

Diagram 1. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin

Diagram 2. Distribusi Responden Menurut Usia

61

Diagram 3. Distribusi Responden Menurut Status Malnutrisi

62

Tabel 1. Uji Chi Square Asupan Nutrisi dengan Status Malnutrisi pada Lansia
Chi-Square Tests

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

df

Likelihood Ratio

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

.118

1.469

.226

2.129

.145

2.443
b

Asymp. Sig. (2-

Fisher's Exact Test

.155

Linear-by-Linear

2.426

.116

.119

Association
N of Valid Cases

146

a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,77.
b. Computed only for a 2x2 table

Tabel 2. Uji Chi Square Penyakit Kronis terhadap Status Malnutrisi pada Lansia
Chi-Square Tests

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

.829

.000

1.000

.047

.828

.047
b

df

Asymp. Sig. (2-

Fisher's Exact Test

1.000

Linear-by-Linear Association

.047

N of Valid Cases

146

.523

.829

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7,40.
b. Computed only for a 2x2 table

Tabel 3. Uji Chi Square Psikologis terhadap Status Malnutrisi pada Lansia
Chi-Square Tests

63

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

.680

.000

1.000

.158

.691

.170
b

df

Asymp. Sig. (2-

Fisher's Exact Test

.654

Linear-by-Linear Association

.169

N of Valid Cases

146

.474

.681

a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,54.
b. Computed only for a 2x2 table

64