Anda di halaman 1dari 12

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN
Sumbatan pada sistem saluran kemih termasuk suatu kegawatdaruratan medis karena
dapat menyebabkan kematian bagi pasien. Sumbatan dapat terjadi pada saluran kemih atas
dan saluran kemih bawah. Sumbatan pada saluran kemih atas meliputi organ ginjal dan ureter
dapat memberikan manifestasi klinis berupa nyeri kolik atau anuria. Sedangkan sumbatan
saluran kemih bawah pada buli-buli dan uretra menyebabkan retensi urine.1 Retensi urine
adalah ketidakmampuan dalam mengeluarkan urine sesuai dengan keinginan, sehingga urine
yang terkumpul di buli-buli melampaui batas maksimal. Salah satu penyebabnya adalah
akibat penyempitan pada lumen uretra karena fibrosis pada dindingnya, disebut dengan
striktur uretra. Penanganan kuratif penyakit ini adalah dengan operasi, namun tidak jarang
beberapa teknik operasi dapat menimbulkan rekurensi penyakit yang tinggi bagi pasien.1,2
Maka dari itu diperlukan penanganan tepat dan adekuat untuk menghindari resiko
kekambuhan penyakit striktur uretra.

BAB II
RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 1

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

LAPORAN STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Pendidikan terakhir
Pekerjaan
Agama
Suku
Alamat
Tanggal masuk RS
Pukul

: Darmawati
: Perempuan
: 31 tahun
: MAN
: IRT
: Islam
: Aceh
: Lhok Bani
: 19 April 2014
: 11.30 WIB

II.
IDENTITAS KELUARGA
Nama Suami
: Haykal Syahbudi
Umur
: 35 tahun
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Wiraswasta
Agama
: Islam
Suku
:Aceh
III. ANAMNESA
Keluhan Utama

: Tidak bisa buang air kecil

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke IGD RSUD Langsa pada tanggal 19 April 2014 pukul 11.30 WIB
dengan keluhan tidak bisa buang air kecil sejak 6 hari yang lalu. Pasien mengaku keluhan ini
dirasakan pasca operasi seksio cesaria anak kedua pasien 6 hari sebelumnya. Menurut
pengakuan pasien pertama kali timbul keluhan setelah pasien dipulangkan dari RSUD Langsa
dimana keinginan untuk buang air kecil masih ada, namun pasien mengaku sulit untuk
mengeluarkannya, timbul rasa nyeri (+) pada perut bagian bawah. plasenta yang sudah tidak
keluar lebih dari 30 menit, setelah kala II selesai.
Riwayat Penyakit Dahulu

: - Hipertensi (-)
- DM (-)
- Asma (-)
- Penyakit jantung (-)
- Keputihan(-)

Riwayat Penyakit Keluarga : DM (-)


Hipertensi (-)
RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 2

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Asma (-)
Riwayat Penggunaan Obat : Tidak ada

IV.

Riwayat Alergi

: Debu (-)
Udara dingin (-)
Makanan (-)

Riwayat Kebiasaan

: Merokok (-)
Kerja berat (-)

ANAMNESA OBSTETRIK
Riwayat Haid

: Haid pertama pada usia 15 tahun, lamanya 5

HPHT
TTP
Riwayat Nikah

hari dengan siklus teratur.


: 28 Juni 2013
: 5 April 2014
: Pasien menikah sekali dengan suami sekarang

pada saat pasien berusia 28 tahun.


Riwayat Kehamilan dan Persalinan : P2A0
Anak Pertama :
Lahir Tahun
: 2012
Jenis Kelamin : Laki Laki
Berat Badan
: 2700 gram
Persalinan Spontan
Anak Kedua
Lahir Tahun
: 2014
Jenis Kelamin : Perempuan
Berat Badan
: 3700 gram
Persalinan Seksio Caesaria
Riwayat Kontrasepsi
: Tidak pernah menggunakan kontrasepsi jenis apa
pun.
V.

PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum
Kesadaran
Vital Sign
Tekanan Darah
Nadi
Pernafasan
Suhu
STATUS LOKALIS
Kepala
Mata

: Baik
: Compos Mentis
: 120/70 mmHg
: 80 x/menit
: 22 x/menit
: 36,8 OC
: Normocephali
: Konjungtiva palpebra inferior anemis (-/-),

RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 3

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Hidung
Telinga
Leher

sklera ikterik (-/-), pupil isokor (+/+).


: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Simetris, pembesaran KGB (-), pembesaran
thyroid (-)

Thorax
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Ekstremitas Superior
Ekstremitas Inferior
VI.

: Simetris kanan = kiri


: Stem fremitus kanan = kiri, nyeri tekan (-)
: Sonor
: Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
: Simetris, sikatrik (-)
: Nyeri tekan (+)
: Tympani
: Peristaltik (+)
: Akral hangat, oedema (-/-)
: Akral hangat, varises (-), oedema (-/-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah rutin
Haemoglobin

10,1 gr/dl

Haematokrit

30,7 %

Leucocyte

8600 UIx103

Trombocyte

275.000 UIx103

VII. DIAGNOSA SEMENTARA


Retensio Urine Post Seksio Cesaria
VIII. PENATALAKSANAAN
- Bed Rest
- IVFD Ringer Laktat 20 gtt/ menit
- Inj. Cefotaxime 1 gr/ 12 jam
- Pemasangan Kateter

RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 4

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 ANATOMI & FISIOLOGI SISTEM UROGENITALIA


Manusia memiliki organ saluran kemih yang berguna dalam pengeluaran urine yang
keluar dari tubuh. Organ-organ tersebut mencakup dua ginjal, dua ureter, buli-buli, dua
RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 5

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

otot sfingter, dan uretra. Secara garis besar sistem tersebut terletak di rongga
retroperitoneal dan terlindung oleh organ lain yang mengelilinginya. Ginjal adalah organ
yang jumlahnya sepasang, merupakan saluran kemih atas yang mempunyai fungsi utama
dalam membentuk urine. Selain mengeluarkan zat toksik dan sisa hasil metabolisme
tubuh dalam bentuk urine, ginjal juga memiliki fungsi dalam menghasilkan dan mengatur
sekresi hormon, mengatur metabolisme ion kalsium dan vitamin D, dan 3
mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. Urine dari ginjal kemudian dialirkan ke
buli-buli melalui sebuah tabung kecil bernama ureter. Pada dinding ureter terdapat otot
polos yang dapat melakukan gerakan peristaltik untuk mendorong urine ke buli-buli. Jika
terjadi sumbatan urin maka terjadi kontraksi otot yang berlebih untuk mendorong
sumbatan tersebut dari saluran ureter. Kontraksi berlebih tersebut dirasakan sebagai nyeri
kolik, datangnya hilang timbul sesuai irama gerakan peristaltik ureter. Saat mencapai
buli-buli, posisi ureter miring agar mencegah terjadinya aliran balik urine dari buli-buli ke
ureter saat buli-buli berkontraksi.1 Buli-buli adalah organ berongga yang terdiri dari tiga
otot lapis detrusor yang saling beranyaman. Kontraksi otot ini merupakan tahap utama
dalam pengosongan urine dalam buli-buli dan kemudian mengeluarkannya melalui uretra
dalam mekanisme miksi. Uretra merupakan saluran akhir dalam pengeluaran urine keluar
tubuh. Uretra pada pria memiliki fungsi ganda yaitu sebagai saluran urine dan saluran
untuk semen dari organ reproduksi. Secara anatomis uretra pria dibagi menjadi dua
bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Uretra posterior terdiri atas uretra pars
prostatika, yaitu bagian uretra yang dilingkupi kelenjar prostat, dan uretra pars
membranasea, terletak lebih inferior dari pars prostatika. Sedangkan uretra anterior adalah
bagian uretra terpanjang yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis. Uretra
dilengkapi dengan dua otot sfingter yang berguna untuk menahan laju urine. Uretra
interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, dipersarafi oleh sistem
simpatik, sehingga jika buli-buli penuh sfingter ini akan terbuka. Sfingter uretra eksterna
terletak pada perbatasan uretra posterior dengan uretra anterior, dipersarafi oleh sistem
somatik yang dapat diperintah sesuai keinginan seseorang.1

3.2 RETENSIO URIN

RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 6

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Secara garis besar penyebab retensi dapat dapat diklasifikasi menjadi 5 jenis yaitu
akibat obstruksi, infeksi, farmakologi, neurologi, dan faktor trauma. Obstruksi pada
saluran kemih bawah dapat terjadi akibat faktor intrinsik, atau faktor ekstrinsik. Faktor
intrinsik berasal dari sistem saluran kemih dan bagian yang mengelilinginya seperti
pembesaran prostat jinak, tumor buli-buli, striktur uretra, phimosis, paraphimosis, dan
lainnya. Sedangkan faktor ekstrinsik, sumbatan berasal dari sistem organ lain, contohnya
jika terdapat massa di saluran cerna yang menekan leher buli-buli, sehingga membuat
retensi urine. Dari semua penyebab, yang terbanyak adalah akibat pembesaran prostat
jinak. Penyebab kedua akibat infeksi yang menghasilkan peradangan, kemudian terjadilah
edema yang menutup lumen saluran uretra. Reaksi radang paling sering terjadi adalah
prostatitis akut, yaitu peradangan pada kelenjar prostat dan menimbulkan pembengkakan
pada kelenjar tersebut. Penyebab lainnya adalah uretritis, infeksi herpes genitalia,
vulvovaginitis, dan lain-lain.3
Medikasi yang menggunakan bahan anti kolinergik, seperti trisiklik antidepresan, dapat
membuat retensi urine dengan cara menurunkan kontraksi otot detrusor pada buli-buli.
Obat-obat simpatomimetik, seperti dekongestan oral, juga dapat menyebabkan retensi
urine dengan meningkatkan tonus alpha-adrenergik pada prostat dan leher buli-buli.
Dalam studi terbaru obat anti radang non steroid ternyata berperan dalam pengurangan
kontraksi otot detrusor lewat inhibisi mediator prostaglandin. Banyak obat lain yang dapat
menyebabkan retensi urine, seperti yang ditampilkan pada Tabel 1. Secara neurologi
retensi urine dapat terjadi karena adanya lesi pada saraf perifer, otak, atau sumsum tulang
belakang. Lesi ini bisa menyebabkan kelemahan otot detrusor dan inkoordinasi otot
detrusor dengan sfingter pada uretra. Penyebab terakhir adalah akibat 5
trauma atau komplikasi pasca bedah. Trauma langsung yang paling sering adalah straddle
injury, yaitu cedera dengan kaki mengangkang, biasanya pada anak-anak yang naik
sepeda dan kakinya terpeleset dari pedalnya, sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai
sepeda. Selain itu, tidak jarang juga terjadi cedera pasca bedah akibat kateterisasi atau
instrumentasi.1,3
3.3. RETENSIO URINE POST PARTUM
3.3.1. DEFINISI

RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 7

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Retensi urine post partum dapat terjadi pada pasien yang mengalami kelahiran
normal sebagai akibat dari peregangan atau trauma dari dasar kandung kemih dengan
edema trigonum. Faktor-faktor predisposisi lainnya dari retensio urine meliputi epidural
anestesia, pada gangguan sementara kontrol saraf kandung kemih , dan trauma traktus
genitalis,

khususnya

pada

hematoma

yang

besar,

dan

sectio

cesaria.

3.3.2. ETIOLOGI
Berkemih yang normal melibatkan relaksasi uretra yang diikuti dengan kontraksi otototot detroser. Pengosongan kandung kemih secara keseluruhan dikontrol didalam pusat
miksi yaitu diotak dan sakral. Terjadinya gangguan pengosongan kandung kemih akibat
dari adanya gangguan fungsi di susunan saraf pusat dan perifer atau didalam genital dan
traktus urinarius bagian bawah. Pada wanita, retensi urine merupakan penyebab
terbanyak inkontinensia yang berlebihan. Dalam hal ini terdapat penyebab akut dan
kronik dari retensi urine. Pada penyebab akut lebih banyak terjadi kerusakan yang
permanen khususnya gangguan pada otot detrusor, atau ganglion parasimpatis pada
dinding kandung kemih. Pada kasus yang retensi urine kronik, perhatian dikhususkan
untuk peningkatan tekanan intravesical yang menyebabkan reflux ureter, penyakit
traktus urinarius bagian atas dan penurunan fungsi ginjal. Pasien post operasi dan post
partum merupakan bagian yang terbanyak menyebabkan retensi urine akut. Fenomena
ini terjadi akibat dari trauma kandung kemih dan edema sekunder akibat tindakan
pembedahan atau obstetri, epidural anestesi, obat-obat narkotik, peregangan atau trauma
saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi episiotomi atau abdominal, khususnya pada
pasien yang mengosongkan kandung kemihnya dengan manuver Valsalva. Retensi urine
pos operasi biasanya membaik sejalan dengan waktu dan drainase kandung kemih yang
adekuat.

3.3.3. PATOFISIOLOGI
Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan
urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara
normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin
RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 8

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem
saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan
meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh
hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan
peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra. Pengeluaran
urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan
relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang
mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik. Selama fase
pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal
spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak
menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase
pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan
timbul kontraksi otot detrusor. Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih
menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan
sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter
eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran yang minimal. Retensi
postpartum paling sering terjadi. Setelah terjadi kelahiran pervaginam spontan, disfungsi
kandung kemih terjadi 9-14 % pasien; setelah kelahiran menggunakan forcep, angka ini
meningkat menjadi 38 %. Retensi ini biasanya terjadi akibat dari dissinergis antara otot
detrusor-sphincter dengan relaksasi uretra yang tidak sempurna yang kemudian
menyebabkan nyeri dan edema. Sebaliknya pasien yang tidak dapat mengosongkan
kandung kemihnya setelah sectio cesaria biasanya akibat dari tidak berkontraksi dan
kurang aktifnya otot detrusor.

3.3.4. MANIFESTASI KLINIK


Retensi urine memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya kesulitan
buang air kecil; pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-putus; ada rasa tidak
puas, dan keinginan untuk mengedan atau memberikan tekanan pada suprapubik saat
berkemih. Suatu penelitian melaporkan bahwa gejala yang paling bermakna dalam
memprediksikan adanya gangguan berkemih adalah pancaran kencing yang lemah,
pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna, mengedan saat berkemih, dan
nokturia.
RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 9

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

3.3.5. DIAGNOSIS
Pada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan neurologik,
jumlah urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan urinalisis dan kultur
urine, pengukuran volume residu urine, sangat dibutuhkan. Fungsi berkemih juga harus
diperiksa, dalam hal ini dapat digunakan uroflowmetry, pemeriksaan tekanan saat
berkemih, atau dengan voiding cystourethrography. Dikatakan normal jika volume
residu urine adalah kurang atau sama dengan 50ml, sehingga jika volume residu urine
lebih dari 200ml dapat dikatakan abnormal dan biasa disebut retensi urine. Namun
volume residu urine antara 50-200ml menjadi pertanyaan, sehingga telah disepakati
bahwa volume residu urine normal adalah 25% dari total volume vesika urinaria.

3.3.6. PENATALAKSANAAN
Ketika kandung kemih menjadi sangat menggembung diperlukan kateterisasi, kateter
Foley ditinggal dalam kandung kemih selama 24-48 jam untuk menjaga kandung kemih
tetap kosong dan memungkinkan kandung kemih menemukan kembali tonus normal dan
sensasi. Bila kateter dilepas, pasien harus dapat berkemih secara spontan dalam waktu 4
jam. Setelah berkemih secara spontan, kandung kemih harus dikateter kembali untuk
memastikan bahwa residu urine minimal. Bila kandung kemih mengandung lebih dari
100 ml urine, drainase kandung kemih dilanjutkan lagi.

3.3.7. KOMPLIKASI
Karena terjadinya retensi urine yang berkepanjangan, maka kemampuan elastisitas
vesica urinaria menurun, dan terjadi peningkatan tekanan intra vesika yang
menyebabkan terjadinya reflux, sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan USG
pada ginjal dan ureter atau dapat juga dilakukan foto BNO-IVP.

RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 10

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

BAB IV
KESIMPULAN

Wanita dengan inkontinensia dan gejala gangguan kandung kemih yang lain
meningkatkan resiko terjadinya kesulitan berkemih dan dan retensi. Akibat dari retensi adalah
timbulnya infeksi traktus urinarius yang rekuren dengan kemungkinan gangguan pada traktus
urinarius bagian atas. Pendeteksian terhadap kondisi tersebut merupakan hal yang penting
dalam penanganan farmakologi dan pembedahan pada wanita dengan inkontinensia urine
yang cenderung menjadi eksaserbasi kesulitan berkemih dan retensi kronik.

RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 11

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo Sarwono. 2011. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. PT. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
2. ChandranitaManuaba, dkk. 2010. Buku Ajar Penuntun Kuliah Ginekolgi. PT. Trans
Info Media : Jakarta.
3. www.repository-usu.co.id retensio urin diunduh tanggal 05 mei 2014.
4.

RETENSIO URINE POST PARTUM

Page 12