Anda di halaman 1dari 34

# DAFTAR ISI

## DAFTAR ISI ........................................................................................................... i

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1.

## Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2.

Tujuan ....................................................................................................... 1

1.3.

Alat-Alat ................................................................................................... 2

1.4.

Benda Ukur............................................................................................... 2

1.5.

Pelaksanaan Praktikum............................................................................. 3

## BAB II TEORI DASAR ........................................................................................ 5

2.1.

Pengertian ................................................................................................. 5

## 2.1.1. Pengukuran ............................................................................................ 5

2.1.2. Mistar Ingsut .......................................................................................... 6
2.2.

## 2.2.1. Mistar Ingsut Nonius (Vernier Caliper) ................................................ 6

2.2.2. Mistar Ingsut Jam (Dial Caliper)........................................................... 8
2.2.3. Mistar Ingsut Digital ............................................................................ 10
2.3.

## 2.3.1. Mistar Ingsut Nonius ........................................................................... 10

2.3.2. Mistar Ingsut Jam Ukur ....................................................................... 11
2.3.3. Mistar Ingsut Digital ............................................................................ 11
2.4.

2.5.

3.1.

3.2.

## BAB IV ANALISA DATA .................................................................................. 29

BAB V PENUTUP ............................................................................................... 30
5.1.

Kesimpulan .............................................................................................. 30

5.2.

Saran ........................................................................................................ 30

## DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 31

METROLOGI INDUSTRI

Page i

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. 1 (Mistar ingsut skala nonius) ............................................................... 2
Gambar 1. 2 (Mistar ingsut skala jam ukur) ........................................................... 2
Gambar 1. 3 (Mistar ingsut skala digital)................................................................ 2
Gambar 1. 4 (Bantalan) ........................................................................................... 2

## Gambar 2. 1 (Mistar ingsut skala nonius) ............................................................... 7

Gambar 2. 2 (Penggunaan mistar ingsut) ................................................................ 8
Gambar 2. 3 (Mistar ingsut skala jam ukur) ........................................................... 8
Gambar 2. 5 (Bagian- bagian mistar ingsut nonius) ............................................. 10
Gambar 2. 4 (Mistar ingsut skala digital).............................................................. 10
Gambar 2. 6 (Bagian- bagian mistar ingsut skala jam ukur)................................. 11
Gambar 2. 7 (Bagian- bagian mistar ingsur skala digital) .................................... 11

METROLOGI INDUSTRI

Page ii

DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 (Besaran pokok) ..................................................................................... 5
Tabel 2. 2 (Tabel kecermatan mistar ingsut skala jam ukur) .................................. 9

## Tabel 3. 1 (Data pengamatan ) .............................................................................. 13

Tabel 3. 2 (Error pengamat A dan B) .................................................................... 20

METROLOGI INDUSTRI

Page iii

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami
kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir
manusia. Disertai dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita
berpikir kritis, kreatif, dan produktif.
Ilmu pengetahuan dan teknik dapat dipelajari dan dikuasai kapan dan

## kiat tidak dapat diajarkan, tetapi dapat

dikuasai melalui proses mengerjakan langsung pekerjaan pada bidang profesi itu
sendiri. Karena keahlian profesional tersebut hanya dapat dibentuk melalui tiga
unsur utama yaitu ilmu pengetahuan, teknik dan kiat.
Sama halnya dengan

perkembangan teknologi

dibidang produksi.

## Khususnya metrology industry. Ilmu pengukuran ini, sangat berperan penting

dalam perindustrian. Produk- produk yang akan dihasilkan nantinya, harus sesuai
dengan standar yang berlaku. Salah satu alat ukur ini adalah jangka sorong atau
mistar ingsut.
Keterampilan seseorang dalam melakukan proses pengukuran serta
kemampuan untuk menganalisis hasil pengukuran sangat bergantung pada
pengetahuannya atas prosedur dan alat ukur serta cara pemakaiannya. Karena
jenis alat ukur yang dikenal dalam metrology sangat beragam.
Dengan adanya praktikum mistar ingsut Mahasiswa Teknik Mesin dapat
mengetahui jenis-jenis mistar ingsut, metode yang digunakan, prinsip kerja mistar
ingsut dan fungsi mistar ingsut, serta bagian-bagian yang bertujuan agar
mahasiswa bisa mengukur dengan mistar ingsut lebih teliti saat di dunia kerja.
Keterampilan tidak dicapai hanya dengan mempelajari teoritis saja. Namun
harus disertai dengan pratikum yang memadai.
Tujuan
Ketika melakukan sesuatu, apapun itu pasti ada sebuah pencapaiaan atau
tujuan yang diinginkan. Seperti halnya pada pratikum pengukuran menggunakan
mistar ingsut ini, penulis memiliki tujuan sebagai berikut:
a) Memahami prinsip dasar proses pengukuran dengan mistar ingsut.
METROLOGI INDUSTRI

Page 1

## b) Dapat menggunakan mistar ingsut(Vernier Caliper).

c) Kalibrasi mistar ingsut.
d) Mampu menganalisa hasil pengukuran benda ukur dengan menggunakan
mistar ingsut.
Alat-Alat
a) Jangka sorong nonius

## Gambar 1. 3 (Mistar ingsut skala digital)

Benda Ukur

Gambar 1. 4 (Bantalan)

METROLOGI INDUSTRI

Page 2

1.1.Pelaksanaan Praktikum
a) Gunakan 5 mistar ingsut yaitu 2 mistar ingsut skala nonius dengan
kecermatan 0.02 mm, 2 mistar ingsut skala jam ukur dengan kecermatan
0.05 mm, dan 1 mistar ingsut skala digital dengan kecermatan 0.01 mm.
b) Benda ukur yang digunakan adalah bantalan
c) Benda ukur digambar dan diberi kode pada tiap bagian yang akan diukur.
Lihat dari pandangan depan, atas dan sampingan.

METROLOGI INDUSTRI

Page 3

## d) Pengukuran dilakukan secara bergantian oleh pengamat A dan B.

e) Pengukuran awal benda ukur dilakukan dengan mistar ingsut skala nonius
dengan kecermatan 0.02 mm.
f) Hasil pengukuran dicacat sesuai dengan kode pada benda ukur.
g) Ulangi pengukuran dan lakukan hal yang sama dengan menggunakan
jangka sorong/ mistar ingsut jarum ukur dan digital. Jangan lupa, setiap
melakukan pengukuran nol- kan angka yang tanpak pada layar.
h) Setelah semua hasil pengukuran dicatat, lalu bandingkan dengan
perhitungan persentase error antara mistar ingsut nonius, jam ukur serta
mistar ingsut skala digital.
i) Olah data.
j) Kembalikan benda ukur, alat ukur ketempatnya.

METROLOGI INDUSTRI

Page 4

BAB II
TEORI DASAR
Pengertian
2.1.1. Pengukuran
Pengukuran dalam arti umum adalah membandingkan suatu
besaran dengan besaran parameternya. Proses pengukuran ini, akan
menghasilkan angka yang diikuti dengan nama besaran acuan ini. Bila
tidak diikuti oleh nama besaran acuan, maka pengukuran ini tidak berarti.
Besaran standar yang dipakai sebagai acuan dalam proses
penguuran harus memnuhi syarat- syarat sebagai berikut:
a.

b.

c.

## Dapat digunakan sebagai pembanding, dimana saja di dunia.

Besaran standar yang digunakan dalam setiap proses pengukuran

## dapat merupakan salah satu atau gabungan besaran- besaran dasar.

Dalam system satuan SI, dikenal ada tujuh besaran dasar. Setiap besaran,
mempunyai satuan standar dengan symbol dan notasi yang digunakan.
Tabel 2. 1 (Besaran pokok)
NO BESARAN DASAR

## NAMA SATUAN STANDAR

SIMBOL

Panjang

Meter

Massa

Kilogram

Kg

Waktu

Sekon/ detik

Arus listrik

Amper

Temperature

Kelvin

Jumlah zat

Mol

Mol

Intensitas cahaya

Candela

Cd

Satuan tambahan
1

Sudut bidang

Sudut ruang

Sr

METROLOGI INDUSTRI

Page 5

## 2.1.2. Mistar Ingsut

Mistar ingsut (mistar geser, jangka sorong, jangka geser aau schuifmaaf,
caliper) merupakan alat ukur linear serupa dengan mistar ingsut. Alat ukur ini
memiliki skala linear pada batang dengan ujung yang berfungsi sebagai sensor
penahan benda ukur (dinamakan rahang ukur tetap). Suatu peluncur dengan sisi
yang dibuat sejajar dengan permukaan rahang ukur tetap dinamakan sebagai
rahang ukur gerak yang bisa digeserkan pada batang ukur.
Benda ukur ditahan pada salah satu sisi/permukaannya oleh rahang ukur
tetap, kemudian peluncur digeserkan sehingga rahang ukur gerak menempel pada
sisi lainnya. Pada saat benda ukur dijepit seperti ini pengukur dapat membaca
posisi garis indeks pada skala ukur (atau terlebih dahulu mistar ingsut
dikeluarkan dari benda ukur dengan ukur dengan hati-hati tanpa mengubah
posisi rahang ukur tetap ukur tetap, bila perlu dikunci, kemudian baru dibaca hasil
pengukurannya.
Karena dipakai dengan cara seperti ini, permukaan batang ukur harus relatif
keras dan tahan aus dan dirancang dengan ketelitian geometrik yang tinggi.
Kerataan masing-masing bidang pembimbing dan kesejajarannya dirancang
dengan toleransi

bentuk

yang tinggi

(harga toleransi

kerataan dan

## kesejajarannya relatif/sempit), supaya permukaan kedua sensor (tetap dan gerak)

akan tetap sejajar. Dengan demikian, meskipun tak segaris, garis ukur dan garis
dimensi diusahakan tetap sejajar untuk mengurangi efek kesalahan kosinus.
Pembacaan skala linear(skala utama) dilakukan melalui garis indeks yang
terletak pada peluncur (yang bersatu dengan rahang ukur gerak) dan posisinya
relatif terhadap skala di interpolasikan dengan skala nonius atau dengan memakai
jam ukur.
Jenis- jenis mistar ingsut
2.2.1. Mistar Ingsut Nonius (Vernier Caliper)
Ada dua jenis utama mistar ingsut nonius. Jenis pertama hanya digunakan
untuk mengukur dimensi luar dan dimensi dalam, sedangkan jenis kedua selain
untuk mengukur kedalaman celah. Biasanya mistar ingsut mempunyai kapasitas
ukur sampai dengan 150 mm,sementara untuk jenis yang besar dapat sampai 1000

METROLOGI INDUSTRI

Page 6

mm. Kecermatan pembacaan bergantung pada skala noniusnya yaitu 0.1 mm, 0.05
mm, atau 0.02 mm.

## Gambar 2. 1 (Mistar ingsut skala nonius)

Beberapa hal yang dapat diperhatikan saat memakai mistar ingsut adalah:
a) Rahang ukur gerak (peluncur) harus dapat meluncur pada batang ukur
dengan baik tanpa bergoyang.
b) Periksa kedudukan nol serta kesejajaran permukaan kedua rahang dengan
cara mengatupkan rahang.
c) Benda ukur sedapat mungkin jangan diukur hanya dengan menggunakan
ujung rahang ukur (harus agak kedalam), supaya kontak antara permukaan
sensor dengan benda ukur cukup panjang sehingga terjadi efek
pemosisisan mandiri (self aligning) yang akan meniadakan kesalahan
nonius.
d) Tekanan pengukuran jangann terlampau kuat yang bisa melenturkan
rahang ukur ataupun lidah ukur kedalaman sehingga mengurangi ketelitian
(ada kesalahan sistematik akibat lenturan). Ketepatan (keterulangan ;
precision / repeatability) pengukuran bergantung pada ketepatan
(keterulangan) penggunaan tekanan yang mencukupi. Hal ini dapat dicapai
dengan cara latihan sehingga ujung jari yang menggerakkan peluncur
dapat merasakan tekanan pengukuran yang baik. Apabila ada, gunakan
mur penggerak cermat untuk menggeserkan peluncur secara cermat.
e) Pembacaan skala nonius mungkin dilakukan setelah mistar ingsut diangkat
dari objek ukur dengan hati-hati (setelah peluncur dimatikan). Miringkan
mistar ingust ini sehingga bidang skala nonius hamper sejajar dengan
bidang skala nonius hampir sejajar dengan bidang pandangan, dengan

METROLOGI INDUSTRI

Page 7

## demikian mempermudah penentuan garis nonius yang menjadi segaris

dengan garis skala utama.
Contoh pemakaian mistar ingsut.
a) Mengukur ketebalan
b) Mengukur diamaeter dalam
c) Mengukur kedalaman

b
c

## 2.2.2. Mistar Ingsut Jam (Dial Caliper)

Mistar ingsut jam memakai jam ukur sebagai ganti skala nonius dalam
Garakan translasi peluncur diubah menjadi gerakan putaran jarum penujuk dengan
perantaraan roda gigi pada poros jam ukur dan batang bergigi yang didekatkan di
sepanjang batang ukur.

## Kecermatan mistar ingsut jam serupa dengan kecermatan mistar ingsut

nonius yaitu 0.10 mm, 0.05 mm, atau 0.02 mm. Pada mistar ingsut dengan
kecermatan 0.10 mm, satu putran jarum penunjuk teragi dalam 100 bagian skala,
yaitu berarti untuk satu kali putaran, sensor (rahang ukur gerak) bergeser sejauh
100 X 0.10 mm atau 10 mm. Tiap sepuluh bagian skala jam ukur diberi angka

METROLOGI INDUSTRI

Page 8

satuan mm, dengan demikian pembagian skala utamanya (pada batang ukur)
cukup dinyatakan 1 cm, atau dikatakan kecermatan skala batang ukur adalah 10
mm.
Tabel 2. 2 (Tabel kecermatan mistar ingsut skala jam ukur)

Kesetaraan satu
putaran (100
Kecermatan

bagian skala
jam) dengan
jarak translasi

Periode
penulisan
skala jam

Kecermatan
skala batang
ukur

0.1 mm

10 mm

10 bagian

10 mm

0.05 mm

5 mm

20 bagian

1 mm

(5 bagian
0.02 mm

2 mm

dalam
satuan 0.1

1 mm

mm)

## Pertama-tama, rahang ukur di stel yakni dimatiakan (peluncur diklem) pada

posisi sesuai dengan angka acuan yang di rencanakan berdasarkan ukuran nominal
dan toleransi objek ukur (biasanya pada batas atas toleransi). Kemudian bagian
dengan jam ukur menekan peluncur dan jarum jam ukur terputar sekitar satu kali
putaran. Pada posisi ini bagian dengan jam ukur distel nol dengan memutar
piringan skal jam ukur sampai angka acuan berimpit dengan jarum penunjuk.
Pada saat dipakai, jam ukur masih tetap diklem dan dijaga jangan sampai
kendor. Sementara itu, klem peluncur dikendorkan sehingga rahang ukur gerak
dapat bergerak bebas. Ketika benda ukur dijepitkan diantara rahang ukur poros
jam ukur akan lebih atau kurang tertekan dibandingkan dengan posisisnya semula
saat penyetelan nol. Akibatnya, gerakan jarum penunjuk akan terhenti pada suatu
angka tertentu yang menggambarkan ukuran sebenarnya dari objek ukur (angka
skala jam ukur dipasangkan dua penanda yang dapat diatur posisinya sehingga
menggambarkan batas bawah dari atas toleransi objek ukur.

METROLOGI INDUSTRI

Page 9

## 2.2.3 Mistar Ingsut Digital

Merupakan mistar ingsut yang ketelititannya hingga 0.01 mm. Hasil
pengukurannya langsung dapat dibaca pada digitalnya sehingga merupakan mistar
ingsut yang mudah digunakan dengan hasil pengukuran yang tepat.

## Bagian-Bagian Mistar Ingsut

2.3.1. Mistar Ingsut Nonius

## Gambar 2. 5 (Bagian- bagian mistar ingsut nonius)

METROLOGI INDUSTRI

Page 10

## Cara Kerja Mistar Ingsut

Benda ukur ditahan pada salah satu sisi/permukaannya oleh rahang ukur
tetap, kemudian peluncur digeserkan sehingga rahang ukur gerak menempel pada
sisi lainnya. Pada saat benda ukur dijepit seperti ini pengukur dapat membaca
posisi garis indeks pada skala ukur (atau terlebih dahulu mistar ingsut

METROLOGI INDUSTRI

Page 11

dikeluarkan dari benda ukur dengan ukur dengan hati-hati tanpa mengubah
posisi rahang ukur tetap ukur tetap, bila perlu dikunci, kemudian baru dibaca hasil
pengukurannya.

## 2.1 Prinsip Kerja Mistar Ingsut

Alat ukur ini memiliki ketelitian yang dapat mencapai seperseratus
millimeter. Tediri dari dua bagian bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangata
bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna alat. Prinsip kerja sama dengan
mistar ukur menggunakan skala linear, perbedaan terletak pada jarak mengukur
objek ukur. Mistar ingsut (jangka sorong) dilengkapai dengan sensor untuk
menjepit benda ukur sewaktu melakukan pengukuran. Permukaan kedua rahang
dibuant sejajar dan kondisi ini harus dijaga Selma mistar ingsut masih akan
digunakan.
Pembacaaan skala utama dilakukan melalui garis indeks yang terletak
pada peluncur yang bersatu dengan rahang gerak. Selain jenis dengan skala nonius
ada juga jangka sorong yang menggunakan skala jam ukur untuk keluaran terbaru
sudah dilengkapi dengan bacaan skala digital.

METROLOGI INDUSTRI

Page 12

BAB III
DATA PENGAMATAN
Tabel 3. 1 (Data pengamatan )

NO

UKURAN

PENGAMAT A

PENGAMAT B

## NONIUS JAM UKUR DIGITAL NONIUS JAM UKUR DIGITAL

19.48

19.45

19.58

19.58

19.45

19.61

44.72

44.55

44.84

44.74

44.5

44.87

132.94

132.3

132.76

132.92

132.5

132.73

20.18

20.35

21.39

20.34

20.4

21.4

22.44

23.1

24.81

23.08

23.2

24.82

17.76

11.85

11.77

11.82

11.8

11.75

19.02

19.15

19.09

19.14

19.15

19.06

3.74

3.8

3.74

3.64

3.8

3.71

5.1

5.15

5.08

5.4

5.2

5.05

10

10

90.98

90.75

90.97

90.68

90.8

90.97

11

11

20.64

20.45

20.5

20.52

20.5

20.5

12

12

56.9

54.1

54.09

54.12

54.15

54.08

13

13

19.66

19.35

19.46

19.38

19.4

19.46

14

14

94.54

94.65

94.75

94.6

94.8

94.76

15

15

18.28

18.3

17.64

18.36

17.65

17.65

16

16

12.44

12.45

11.68

12.44

11.6

11.68

17

17

11.28

12.25

12.49

12.24

12.6

12.49

18

18

5.86

5.85

5.87

5.82

5.9

5.88

19

19

17.72

17.55

17.58

17.42

17.6

17.58

20

20

18.38

18.5

19.42

18.38

20.35

19.44

21

21

20.22

20.25

21.19

20.14

21.35

21.2

22

22

10.62

10.75

10.6

10.68

10.8

10.6

23

23

13.02

13.1

12.27

12.1

13.25

12.26

METROLOGI INDUSTRI

Page 13

## TANGGAL : 20 DESEMBER 2012

SUHU RUANGAN : 30 C

TANDA TANGAN :

INSTRUKTUR :

BANG NOVRI

Pengolahan Data 1
|

## Pengolahan Data Hasil Nonius Vs Digital

|

Titik 1

Titik 2

Titik 3

Titik 4

Titik 5

METROLOGI INDUSTRI

Page 14

Titik 6

Titik 7

Titik 8

Titik 9

Titik 10

Titik 11

Titik 12

METROLOGI INDUSTRI

Page 15

Titik 13

Titik 14

Titik 15

Titik 16

Titik 17

Titik 18

Titik 19

Titik 20

METROLOGI INDUSTRI

Page 16

Titik 21

Titik 22

Titik 23

## Pengolahan Data Hasil Jam Ukur Vs Digital

|

Titik 1

Titik 2

Titik 3

METROLOGI INDUSTRI

Page 17

Titik 4

Titik 5

Titik 6

Titik 7

= 7.458%
Titik 8

Titik 9

Titik 10

Titik 11

METROLOGI INDUSTRI

Page 18

Titik 12

Titik 13

Titik 14

Titik 15

Titik 16

Titik 17

Titik 18

METROLOGI INDUSTRI

Page 19

Titik 19

Titik 20

Titik 21

Titik 22

Titik 23

## Tabel 3. 2 (Error pengamat A dan B)

PENGAMAT A
% ERROR N- D
% ERROR J- D
NO UKURAN
(%)
(%)

PENGAMAT B
% ERROR N- D
% ERROR J- D
(%)
(%)

-0.5107

-0.6639

-0.1530

-0.8159

-0.2676

-0.6467

-0.2897

-0.8246

0.1356

-0.3465

0.1431

-0.1733

-5.6568

-4.8621

-4.9533

-4.6729

-9.5526

-6.8924

-7.0105

-6.5270

50.8921

0.6797

0.5957

0.4255

-0.3667

0.3143

0.4197

0.4722

0.0000

1.6043

-1.8868

2.4259

0.3937

1.3780

6.9307

2.9703

10

10

0.0110

-0.2418

-0.3188

-0.1869

METROLOGI INDUSTRI

Page 20

11

11

0.6829

-0.2439

0.0976

0.0000

12

12

5.1950

0.0185

0.0740

0.1294

13

13

1.0277

-0.5653

-0.4111

-0.3083

14

14

-0.2216

-0.1055

-0.1688

0.0422

15

15

3.6281

3.7415

4.0227

0.0000

16

16

6.5068

6.5925

6.5068

-0.6849

17

17

-9.6878

-1.9215

-2.0016

0.8807

18

18

-0.1704

-0.3407

-1.0204

0.3401

19

19

0.7964

-0.1706

-0.9101

0.1138

20

20

-5.3553

-4.7374

-5.4527

4.6811

21

21

-4.5776

-4.4361

-5.0000

0.7075

22

22

0.1887

1.4151

0.7547

1.8868

23

23

6.1125

6.7645

-1.3051

8.0750

Pengolahan Data 2
|

## Pengolahan Data Hasil Nonius Vs Digital

|

Titik 1

Titik 2

Titik 3

METROLOGI INDUSTRI

Page 21

Titik 4

Titik 5

Titik 6

Titik 7

Titik 8

Titik 9

Titik 10

METROLOGI INDUSTRI

Page 22

Titik 11
|

Titik 12

Titik 13

Titik 14

Titik 15

Titik 16

Titik 17

METROLOGI INDUSTRI

Page 23

Titik 18

Titik 19

Titik 20

Titik 21

Titik 22

Titik 23

## Pengolahan Data Hasil Jam Ukur Vs Digital

METROLOGI INDUSTRI

Page 24

Titik 1

Titik 2

Titik 3

Titik 4

Titik 5

Titik 6

Titik 7
METROLOGI INDUSTRI

Page 25

= 7.458%
Titik 8

Titik 9

Titik 10

Titik 11
|

Titik 12

Titik 13

Titik 14

METROLOGI INDUSTRI

Page 26

Titik 15

Titik 16

Titik 17

Titik 18

Titik 19

Titik 20

Titik 21

METROLOGI INDUSTRI

Page 27

Titik 22

Titik 23

METROLOGI INDUSTRI

Page 28

BAB IV
ANALISA
Berikut ada beberapa analisis setelah melakukan pengolahan data mistar
ingsut vs digital.
a) Tingkat kecermatan mistar ingsut jam ukur lebih kecil disbanding digital
(dimana kecermatan jam ukur 0,05 mm sedangkan digital 0,01 mm) .
sehingga pada mistar ingsut jam ukur hanya bias mengukur kelipatan 5
dibelakang 2 koma.
b) Mistar ingsut jam ukur memiliki persentasi kesalahan yang besar
disbanding digital, hal ini di sebabkan mistar ingsut jam ukur tidak
dilakukan kalibrasi.
jam ukur.
Dari hasil pengolahan data yang dilakukan dengan membandingkan hasil
pengukuran A dan B, persentasi kesalahan lebih besar pada pengamat B. ini
-

## Alat ukur yang tidak dikalibrasi

Jika dibandingkan persentase eror mistar ingsut skala nonius dan jam ukur,
persentase eror jam ukur lebih besar karena tingkat ktelitian jangka sorong jam
ukur lebih rendah di banding jangka sorong skala nonius.

METROLOGI INDUSTRI

Page 29

Begitu pula antara jangka sorong nonius dengan digital ketelitian jangka sorong
nonius lebih rendah di banding digital hingga jangka soronglah yang menjadi
acuan dari pengukuran ini.
Persentase eror terbesar pada jam ukur

=6,8924%

## Terdapat pad ukuran yang ke 5

Persentase eror terkecil pada jam ukur

= 0,0185%

## Terdapat pada ukuran yang ke 12

Perserntase eror terbesar pada jangka sorong nonius = 9,6878%
Terdapat pada ukuran yang ke 17
Persentase eror terkecil pada jangka sorong nonius = 0%
BAB V
PENUTUP
5.1. KESIMPULAN
1. Ketelitian tiap mistar ingsut yang beragam menyebabkan ketidaksamaan
hasil pengukuran.
2. Tingkat ketelitian mistar ingsut dari yang tertinggi sampai yang terndah
(mistar ingsut digital, mistar ingsut skala nonius dan mistar ingsut skala
jam ukur).
3. Kurangnya ketelitian dari pengamat dalam membaca skala hasil
pengukuran pada mistar ingsut akan menyebabkan kesalahan dalam
pengukuran.
4. Factor penyebab kesalahan dalam pengukuran antara lain, karena factor
alat ukur yang sudah lama tidak dkalibrasi.
5. Selain itu, factor suhu ruangan juga sangat berpengaruh, karena dengan
suhu ruangan yang tinggi akan menyebabkan benda ukur memuai.
6. Mistar ingsut skala digital dijadikan sebagai standarisasi acuan dalam
pratikum ini.
5.2. SARAN
1. Ketelitian merupakan fartor utama keberhasilan pratikum ini.
2. Dalam melakukan pratikum ini, benda ukur jangan terlalu ditekan. Ini
akan mempengaruhi hasil pengukuran.

METROLOGI INDUSTRI

Page 30

DAFTAR PUSTAKA
Rochim,Taufiq.2006.Spesifikasi, Metrologi, & Kontrol Kualitas Geometrik.
Bandung:ITB.
Arief, Dodi Sofyan dan Feblil Huda.2011.Buku Panduan Praktikum
Metrologi.Pekanbaru:UNRI.

METROLOGI INDUSTRI

Page 31

### Dapatkan aplikasi gratis kami

Hak cipta © 2021 Scribd Inc.