Anda di halaman 1dari 15

adanya bagian Pengawasan Mutu (Quality Control).

Pengawasan Mutu (Quality Control)


dilaksanakan melalui sistem pengawasan yang terencana dan terpadu. Semua unsur yang terlibat
dalam pembuatan obat baik personalia maupun kelengkapan sarana pabrik hendaknya
menunjang maksud pembuatan obat dan mendukung sepenuhnya persyaratan yang diinginkan
sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi spesifikasi mutu yang telah ditetapkan (2).
Secara umum, tugas dan tanggung jawab dari QC (Quality Control) adalah sebagai
berikut (1).
1. Memberikan pengarahan dalam pelaksanaan tugas di laboratorium mikrobiologi,
pelaksanaan pengawasan dalam proses maupun pelaksanaan CPOB.
2. Bertanggung jawab untuk menjamin bahwa semua pengujian dilakukan dengan metode yang
benar dan sudah disetujui, mulai dari bahan baru datang (IMI), selama proses produksi
(IPC), dan obat jadi.
3. Bertanggung jawab atas hasil analisis dan keputusan untuk menyatakan bahwa bahan baku
pengemas telah memenuhi syarat bahan pengemas.
4. Bertanggung jawab atas pelaksanaan inspeksi.
5. Bertanggung jawab untuk memeriksa semua catatan pengelohan bets dan catatan
pengemasan bets.
6. Jika ada kegagalan dalam produksi mendiskusikannya dengan Manager Produksi dan ikut
serta mencari penyebab serta jalan keluarnya.
7. Bertanggung jawab atas pelaksanaan pemeriksaan stabilitas obat jadi.
8.

Bertanggung jawab atas pengadaan, pemakaian dan pembuatan antara lain cairan pereaksi
dan alat gelas yang diperlukan.

9. Bertanggung jawab agar alat-alat untuk analisis dipakai serta dijaga dengan benar,
dikalibrasi dan senantiasa tersedia suku cadangnya.
10. Bertanggung jawab atas penanganan obat kembalian.
11. Bertanggung jawab atas produk pertinggal (Retained Sampel).
12. Ikut bertanggung jawab pada kualifikasi/validasi.
13. Bertanggung jawab untuk pengembangan dan pelatihan karyawan, menjaga disiplin dan
melakukan evaluasi tahunan atas semua karyawan yang dibawahinya.
14. Membuat laporan bulanan.
15. Bersama-sama dengan Manager Produksi melaksanakan kualifikasi/validasi alat maupun
proses.
16. Memastikan bahwa semua prosedur analisa disimpan secara baik dan benar.
17. Membuat anggaran tahunan bagian peengawasan mutu.
18. Mengusahakan perbaikan biaya pengawasan mutu.
Berikut ini dijelaskan mengenai tugas pokok sistem Pengawasan Mutu (Quality Control)
di pabrik yang telah dikunjungi, yaitu di PT. Phapros Tbk.
III.1 PT. Phapros Tbk Semarang
Departemen ini dipimpin oleh seorang apoteker yang bertanggungjawab atas mutu barang
yang meliputi tahap awal hingga produk jadi siap dipasarkan. Departemen ini membawahi tiap
bagian, yaitu :
A.

Bagian Laboratorium Kimia Fisika dan Bahan Baku, yang bertugas :

1.

Menganalisa bahan baku, produk ruahan, produk antara dan produk jadi yang
meliputi kelarutan, identifikasi, kadar air, pH, Bj, indeks bias, viskositas dan kadar zat
aktif.

2.

Menganalisa bahan secara fisikakimia, meliputi kadar zat aktif, kadar air, indeks
bias, identifikasi, kemurnian, dan lain-lain.

3.

Merelease bahan baku, produk jadi dan bahan kemasan.

4.

Menganalisa limbah (inlet dan outlet), meliputi COD, pH, padatan terlarut,
KMnO4.

5.

Mengadakan pemeriksaaan sampel In Process Control yang memerlukan analisa


fisika-kimia.

B.

Bagian Laboratorium Mikrobiologi/Kemasan, yang bertugas :

1. Memeriksa bahan baku, produk jadi, bahan kemasan yang mempunyai spesifikasi secara
mikrobiologi.
2. Pengujian potensi antibiotika.
3. Pemeriksaaan kualitas air, khususnya terhadap E. coli, Staphylococcus aureus, dan P.
aeruginosa yang merupakan indikator kebersihan air.
4. Pemeriksaan produk steril secara mikrobiologi.
5. Pemeriksaan cemaran -Laktam dalam pengemasan bahan baku dan ruang produksi non Laktam.
6. Memonitoring cemaran mikroba pada bahan baku, obat jadi dan ruang proses produksi.
C.

Bagian In Process Control yang bertugas pada semua tahap dalam proses
produksi dan pengemasan.
PT. Phapros Tbk melakukan berbagai prosedur pengawasan mutu (Quality Control) dan

menjamin mutu produk (Qualtty Assurance) secara konsisten dan berkesinambungan. Prosedur
pengawasan dan jaminan mutu ini dipantau secara kontinyu oleh National Control Authority
(NCA) yang diakui oleh WHO atau biasa dikenal sebagai Badan POM (BPOM) di Indonesia.

Bidang Quality Control (QC) di PT. Phapros Tbk mempunyai tugas dan tanggung jawab
dalam pengujian bahan awal dan bahan pengemas, IPC dan produk jadi.
1. Pengembangan metode analisa
Bagian Pengawasan Mutu (Quality Control) mempunyai tanggung jawab untuk
menyediakan dan mengembangkan metode analisa untuk kepentingan analisa bahan baku (raw
material), bahan kemasan (packaging material), dan produk jadi (finishing goods). PT. Phapros
Tbk telah dilengkapi dengan berbagai peralatan pengujian yang canggih dan modern untuk
kepastian dan jaminan hasil analisa, seperti HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
dan UV/Vis Spectrophotometer (Ultraviolet/Visible Spectrophotometer).
a. Pengujian bahan baku (raw material) dan bahan baku kimia
Pemeriksaan bahan baku (raw material) di PT. Phapros Tbk dimulai dari gudang, yaitu
bahan masuk di gudang, dikarantina, disampling, dan diuji oleh Quality Control. Pengambilan
contoh bahan baku dilakukan dengan mencatat nomor batch, catatan analisa, dan melakukan
pemeriksaan organoleptis meliputi bau, rasa dan warna. Cara pengambilan contoh dilakukan

dengan menggunakan rumus

n +1. Pemeriksaan yang dilakukan terhadap bahan baku

meliputi pemeriksaan fisik dan kimia di laboratorium antara lain pengujian kadar dan potensi, tes
kemurnian, kadar air dan pH. Untuk pengujian Air meliputi pH, kandungan mineral, kandungan
logam, cemaran mikroorganisme, kecepatan aliran, dan tersiklusasi selama 24 jam. Pengujian
bahan baku (raw material) dan bahan baku kimia dilakukan sesuai dengan Farmakope (FI, USP,
BP) atau standar lain yang dijadikan rujukan sesuai yang dibutuhkan misalnya CA (Certificate of
Analysis) dari bahan tersebut.

Setiap pengujian bahan baku dilengkapi dengan catatan hasil pengujian yang
ditandatangani oleh manajer QC (Quality Control). Untuk bahan baku (raw material) yang telah
diterima, harus diberikan tanda release, dan yang ditolak diberi tanda reject.
b. Pengujian bahan kemasan (packaging material)
Pengemas berhubungan dengan stabilitas obat yang berfungsi melindungi obat terhadap
kelembaban, iklim dan benturan. Selain itu kemasan juga mempengaruhi daya tarik konsumen
terhadap produk. Produk ruahan yang akan dikemas dan bahan kemas yang diterima dari gudang
pengemas semuanya sudah diluluskan oleh bidang Quality Control (QC). Proses pengemasan
dapat berupa pengisian ke botol, stripping dan sachet. Jenis pengemas yang digunakan
disesuaikan dengan sifat produk ruahan dan permintaan pasar. Untuk printed material, sebelum
bahan pengemas tersebut dibuat oleh produsen, terlebih dahulu dilakukan approval terhadap
artwork dan proof print yang dibuat oleh produsen.
Bahan pengemas dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Bahan pengemas primer
Merupakan bahan pengemas yang langsung berhubungan dengan produk seperti botol,
cangkang kapsul, dan ampul,. Uji yang dilakukan meliputi:
a. Ampul, meliputi diameter, kebocoran, tinggi pemotongan ampul, tinggi badan, keretakan,
dan ketebalan kaca.
b. Botol, yaitu pemeriksaan cacat tampak, pengujian dimensi, pemerian, daya tembus air, uji
kebocoran, uji kejutan suhu, dan uji alkalinitas.
c. Cangkang kapsul, yaitu pengujian cacat tampak, dimensi, susut pengeringan, variasi berat,
dan daya larut asam.
2. Bahan pengemas sekunder

Merupakan bahan pengemas yang tidak berhubungan langsung dengan produk obat, tapi
berhubungan dengan pengemas primer seperti dus ampul dan kotak botol. Uji yang dilakukan
terhadap kotak atau dus meliputi ukuran, panjang, lebar, tinggi, tulisan, bobot, dan daya rekat.
3. Bahan pengemas tersier
Merupakan bahan pengemas yang berhubungan langsung dengan pengemas sekunder
misalnya karton. Uji yang dilakukan terhadap karton meliputi panjang, lebar, tinggi, dan tulisan.
Kegiatan pengemasan berfungsi untuk membagi dan mengemas produk ruahan menjadi
produk jadi. Pengawasan dalam proses pengemasan yang dilakukan antara lain adalah kesiapan
jalur pengemasan, pemastian bahan pengemas yang digunakan, pemastian kebenaran penandaan
dan pemberian nomor batch dan expired date, serta rekonsiliasi bahan pengemas dan jumlah
produk obat jadi yang dihasilkan untuk memastikan tidak terjadi campur baur (mix-up) antar
produk maupun antar batch.
1. Pengujian selama proses produksi (In Process Control)
IPC (In Process Control) adalah pengawasan yang dilakukan selama produksi
berlangsung untuk mencegah terjadinya terlanjur diproduksi obat yang tidak memenuhi syarat
dalam jumlah yang besar. Pada PT. Phapros Tbk, kontrol selama produksi dilakukan oleh tim QC
(Quality Control) yang dibantu oleh tim produksi. Pengawasan dilakukan dengan cara
mengambil contoh dan mengadakan pemeriksaan dan pengujian terhadap produk yang dihasilkan
pada langkah-langkah tertentu dari proses pengolahan. Pengawasan mutu (Quality Control) pada
proses produksi ini bertujuan agar produk yang dihasilkan memenuhi spesifikasi sebelum
dilanjutkan ke proses berikutnya. Pengawasan Mutu (Quality Control) selama proses produksi
sediaan padat maupun cair dilakukan terhadap bahan awal, produk antara, produk ruahan, dan
produk jadi sesuai dengan urutan proses pengolahannya.

Pada PT. Phapros Tbk, setiap bahan awal, produk antara, produk ruahan, dan produk jadi
yang akan digunakan untuk produksi, diuji secara ketat meliputi spesifikasi identitas, kemurnian,
dan parameter mutu lainnya untuk menjamin khasiat,mutu, dan keamanan produk yang akan
dihasilkan.
a. Pengujian selama proses produksi tablet
Pengujian terhadap granul meliputi ukuran dan bentuk partikel, luas permukaan,
kerapatan (density), sifat alir, dan sudut diam. Pengujian produk ruahan meliputi penampilan
umum atau organoleptis (ukuran, bentuk, warna, bau, dan bentuk permukaan), keseragaman
kadar zat aktif, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, kadar air, dan
kecepatan pelarutan (disolusi). Setelah produk-produk ruahan dinyatakan lulus oleh bagian QC
(Quality Control) maka dilakukan pengemasan terhadap produk-produk ruahan tersebut. Pada
proses pengemasan, bagian QC (Quality Control) melakukan pemeriksaan terhadap proses
pengemasan primer dan pengemasan sekunder. Pemeriksaan terhadap pengemasan primer
meliputi jumlah tablet dalam kemasan, tes kebocoran, dan keutuhan kemasan. Pemeriksaan
terhadap pengemasan sekunder meliputi pemeriksaan penandaan (no. batch, expired date, dan
nama obat), kebenaran jumlah/isi dus, dan estetika.
b. Pengujian selama proses produksi sirup
Pengujian yang dilakukan selama proses produksi sirup adalah organoleptis (warna, bau,
rasa dan penampilan), keseragaman kadar zat aktif, keseragaman volume, pH, berat jenis,
volume terpindahkan dan viskositas. Pengujian pada kemasan primer meliputi tes kebocoran dan
keutuhan wadah.
c. Pengujian selama proses produksi injeksi

Pengujian yang dilakukan meliputi kejernihan secara visual, keseragaman volume,


sterilisasi, tonisitas, dan endotoksin.
2. Pemeriksaan terhadap produk jadi (finishing goods)
Pada PT. Phapros Tbk pemeriksaan terhadap produk jadi dilakukan sebelum produk
akhir dikirim ke bagian distribusi untuk memastikan bahwa produk jadi tersebut telah memenuhi
persyaratan yang ditetapkan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tes kebocoran, penampakan
luar, dan kelengkapan seperti wadah dan etiket.
3. Pengujian mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologi adalah pengujian yang menggunakan jasad renik (virus,
bakteri, jamur, ragi, alga, dan protozoa). Uji mikrobiologi bertujuan mengetahui sejauh mana
suatu produk atau penunjang produksi (bahan awal, peralatan, operator, ruangan) memenuhi
syarat mikrobiologi.
Sumber kontaminasi mikrobiologi ada tiga yaitu:
1) Air dari erosi tanah, air hujan, dan tanaman yang membusuk
2) Peralatan karena pembersihan yang tidak sempurna, pencucian dengan air yang tidak
memenuhi persyaratan, debu yang melekat.
3) Operator yang bisa berasal dari keringat, hidung (nafas) dan air ludah.
4) Uji yang dilakukan oleh Seksi Pengujian Mikrobiologi meliputi:
a. Uji potensi
Uji potensi dilakukan untuk membandingkan dosis sediaan uji terhadap dosis sediaan
pembanding yang masing-masing menghasilkan derajat hambatan pertumbuhan yang sama pada
biakan jasad renik yang peka dan sesuai. Uji dilakukan dengan lempeng silinder.
b. Uji sterilitas
Tujuan dari uji sterilitas untuk menentukan adanya kemungkinan jasad renik (mikroba)
hidup atau mempunyai daya hidup dalam produk steril baik terhadap produk yang dihasilkan

menggunakan teknik aseptis atau sterilisasi akhir (pada produk akhir dilakukan sterilitas dengan
autoklaf). Cara uji sterilitas ada dua cara, yaitu:
1)
2)

Cara langsung: sampel langsung dimasukkan dalam media pembenihan.


Cara tidak langsung: sampel disaring melalui membran, kemudian membran dimasukkan

dalam media pembenihan. Uji sterilitas dilakukan didalam LAF kabinet, sebelum digunakan
LAF kabinet disinari lampu UV selama 10 menit, kemudian disemprot dengan desinfektan.
c. Uji kontaminasi (uji batas cemaran)
Bertujuan mengetahui sejauh mana suatu sampel serta sarana pendukung baik ruangan,
peralatan, operator telah terkontaminasi oleh jasad renik.
d. Pengujian endotoksin (tes LAL)
Bertujuan menguji adanya endotoksin dalam sampel atau dipermukaan sampel dengan
LAL. Endotoksin adalah toksin yang dihasilkan oleh bakteri Gram negatif dan dapat dihancurkan
dengan pemanasan 180o C selama 3,5 jam atau 250o C selama 0,5 jam.
e. Pemantauan mikrobiologi ruangan dan fasilitas yang diuji yaitu udara, lantai, dinding dan
peralatan. Keempat fasilitas tersebut dapat mempengaruhi kualitas produksi yang dihasilkan.
Metode uji yang digunakan yaitu:
1) Settling plate : pemaparan terbuka lempeng agar selama 30 menit kemudian ditutup dan
diinkubasi.
2) Slit to agar (air sampler) : mengontak volume udara tertentu udara ruangan pada
permukaan contact plate kemudian ditutup dan diinkubasi.
3) Contact plate : plate ditempelkan langsung pada permukaan yang datar (lantai, dinding)
sejumlah luas tertentu pada agar contact plate.
4) Apus (swab) dengan menghapus sejumlah tertentu permukaan yang berlekuk atau
permukaan rata kemudian disebarkan ke atas permukaan agar lempeng.
4. Pengujian stabilitas

Studi stabilitas adalah serangkaian uji yang didesain untuk mendapatkan jaminan
stabilitas produk, yaitu pemeliharaan spesifikasi suatu produk yang dikemas dalam bahan
pengemas yang telah ditentukan dan disimpan dalam kondisi penyimpanan yang telah ditetapkan
pada rentang waktu tertentu. Pada PT. Phapros Tbk, Quality Control (QC) bertanggung jawab
dalam melakukan uji analisa (analyzed testing) terhadap produk jadi. Hal ini terutama untuk
memastikan bahwa suatu batch obat memenuhi persyaratan mutu selama waktu peredaran yang
telah ditetapkan melalui program stabilitas.
Uji stabilitas yang dilakukan terhadap produk jadi hanya meliputi longterm condition
dan accelerated condition, dibandingkan dengan yang tertera dalam pustaka yang memuat 3
(tiga) kondisi termasuk di dalamnya adalah stressing condition. Hal ini dilakukan karena kedua
kondisi ini telah teruji dalam mengidentifikasi degradasi produk, membuktikan stabilitas
intrinsik dari suatu molekul, dan dalam pengembangannya untuk memvalidasi prosedur analisis
yang sesuai.
a. Longterm condition (pengujian jangka panjang)
Longterm condition adalah pengujian yang dilakukan pada kondisi percobaan jangka
panjang dengan penyimpanan normal yaitu pada suhu 300C+2 dan kelembaban 60%+5.
Pengujian terbagi dalam beberapa interval yaitu minimum setiap tiga bulan pada tahun pertama,
setiap enam bulan untuk tahun kedua, dan selanjutnya sekali setiap tahun. Lama periode
pengujian ditentukan oleh masa edar yang diperkirakan bagi produk obat tersebut.
b. Accelerated condition (pengujian dipercepat)
Accelerated condition adalah pengujian yang dilakukan pada kondisi penyimpanan tidak
normal (ekstrim) yaitu pada suhu 40 0C+2 dan kelembaban 75%+5. Lama periode pengujian 3-6
bulan. Pengujian terbagi dalam sedikitnya 4 interval waktu dengan kondisi yang diperberat

seperti

temperatur,

kelembaban,

dan

paparan

cahaya.

Hasil

pengujian

kemudian

diekstrapolasikan ke dalam kondisi penyimpanan normal dan didapat data stabilitas produk.
5. Pemeriksaan terhadap limbah produksi
Limbah yang dihasilkan oleh PT. Phapros Tbk berupa limbah cair, padat, dan gas. Untuk
menjaga kelestarian lingkungan maka limbah tersebut harus ditangani dengan sebaik-baiknya.
IPAL berfungsi untuk mencegah pencemaran lingkungan oleh produksi. Pemeriksaan yang
dilakukan meliputi pH, suhu, kadar fenol, warna, bau, COD (Chemical Oxygen Demand), BOD
(Biologycal Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), dan total nitrogen. Pemeriksaan
dilakukan secara berkala oleh tim QC (Quality Control) PT. Indofarma (Persero) Tbk dilakukan
setiap minggu.

BAB IV
PEMBAHASAN
QC (Quality Contol) adalah semua upaya pengawasan (pemeriksaan) terencana dan
terpadu yang dilakukan mulai dari awal sampai obat jadi dan dirancang untuk menjamin
keseragaman produk obat yang memenuhi spesifikasi identitas, kekuatan, kemurnian, dan
karakteristik lain yang telah ditetapkan atau disyaratkan (1).
PT. Pharos Indonesia merupakan industri farmasi yang sebagian besar produknya adalah
produk ethical (produk dengan resep dokter). PT. Pharos Indonesia didirikan pada tanggal 30
September 1971 oleh Drs. Eddy Lembong, Apt. Pharos berasal dari nama mercusuar di pulau
Pharos yang terletak di Teluk Alexandria, Mesir yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban
dunia purba. Produksi perdananya dilakukan pada akhir tahun 1974.
Dalam rangka memproduksi obat-obatan yang berkualitas, PT. Pharpos telah
menerapkan ketentuan-ketentuan CPOB sebagai pedoman pelaksanaan dalam seluruh aspek dari
seluruh rangkaian produksi, sehingga obat yang dihasilkan akan memenuhi persyaratan yang
telah ditentukan PT. Phapros Tbk merupakan industri farmasi di Indonesia yang berkembang
pesat sebagai produsen obat yang berkualitas.
PT Phapros Tbk. merupakan anak perusahaan dari PT Rajawali Nusantara Indonesia yang
berstatus Badan Umum Milik Negara (BUMN) sebagai sarana penunjang pelayanan kesehatan

yang memiliki peranan cukup besar bagi masyarakat dalam menyediakan obat yang bermutu
dalam

jumlah yang cukup, terdistribusi merata dan dengan harga yang terjangkau oleh

masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah (obat generik). Industri farmasi harus
membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi
persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko
yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, bermutu rendah atau tidak efektif, serta
harus memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan oleh CPOB (Cara Pembuatan Obat yang
Baik).
Pengawasan mutu tidak selalu terbatas pada kegiatan laboratorium, tetapi juga harus
terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk untuk mencapai sasaran mutu
mulai dari awal pembuatan sampai dengan distribusi produk jadi. Pengawasan mutu mencakup
semua kegiatan analisis yang dilakukan di laboratorium, termasuk pengambilan sampel,
pemeriksaan dan pengujian bahan awal, produk antara, produk ruahan dan produk jadi. Kegiatan
ini mencakup juga uji stabilitas, program pemantauan lingkungan, pengujian yang dilakukan
dalam rangka validasi, penanganan sampel tertinggal, menyusun dan memperbaharui spesifikasi
bahan dan produk serta metode pengujiannya.
Selama proses produksi, bidang Pengawasan Mutu melakukan pengujian yang meliputi
proses produksi, kondisi ruangan, peralatan, hasil produksi, dan pengawasan terhadap limbah
hasil proses produksi. Setelah proses produksi, Bidang Pemastian Mutu memastikan bahwa
selama penyimpanan dan proses distribusi berjalan, produk tetap dalam keadaan utuh, baik
secara fisik maupn aktivitasnya. Pengujian mutu dilakukan dari awal yaitu mulai barang masuk
sampai menjadi produk jadi. Selama proses produksi berlangsung, Bidang Pengawasan Mutu
melakukan In Process Control (IPC) untuk menjamin mutu produk yang dihasilkan. Tiap proses

produksi mngikuti protap yang ditentukan oleh perusahaan dan data-datanya tertuang dalam
batch record (catatan bets).
Pengawasan Mutu dibagi menjadi 3 seksi yaitu seksi pengujian bahan awal bertugas
melakukan pengujian bahan baku, air dan bahan pengemas; Seksi pengujian mikrobiologi yaitu
melakukan uji mikrobiologi bertujuan mengetahui sejauh mana suatu produk atau penunjang
produksi (bahan awal, peralatan, operator, ruangan) telah memenuhi syarat mikrobiologi; seksi
IPC dan pengujian produk bertugas melakukan pengujian terhadap produk antara dan produk
ruahan
Jika ditinjau dari keseluruhan sistem Pengawasan Mutu (Quality Control) pada PT.
Phapros Tbk, maka terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan penerapan CPOB (Cara
Pembuatan Obat yang Baik) 2012 yaitu dalam pengolahan air masih menggunakan ion accanger
dengan sistem RO (Reverse Osmosis) dan pada ruangan pengisian kapsul maupun penceetakan
tablet masih menggunakan pre filter dengan efisiensi penyaringan sebesar 35%.

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di PT. Phapros
Tbk dapat disimpulkan bahwa PT. Phapros Tbk telah menerapkan CPOB (Cara Pembuatan Obat
yang Baik) 2012, dimana QC (Quality Contol) boleh merilis bahan baku maupun produk jadi
dengan sepengetahuan dari QA (Quality Assurance). Selain itu untuk CPOB 2012 ada kritikal
deadline yang ditentukan oleh pemerintah.
V.2 Saran
Berdasarkan kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang telah dilakukan,
disarankan kepada industri famasi agar meluangkan lebih banyak waktu dan lebih terbuka untuk
memberikan ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan apoteker di industri farmasi.