Anda di halaman 1dari 5

POTENSI PARIWISATA DI KOTA BAU-BAU

Obyek
wisata
yang
terdapat
di
Kabupaten
Bau-Bau
yaitu:
Samprona: Obyek wisata ini terletak di Kecamatan Sorawolio, 13 Km dari pusat Kota
Bau-Bau.
Pantai Lakeba: Obyek Wisata Pantai ini berjarak sekitar 7 Km dari Kota Bau-Bau.
Pantai ini relatif dangkal dengan air lautnya yang jernih dan pantainya
yang berpasir putih.
Pantai Kokalukuma: Obyek wisata Kokalukuma terletak di kelurahan Waruruma
Kecamatan Wolio, sekitar 7 Km dari pusat Kota Bau-Bau.
Pantai Nirwana: Pantai ini terletak 5 Km dari pusat koata Bau-Bau. Di pantai ini
wisatawan dapat menyalurkan hobi berolahraga air, berselancar, jet ski
dan perahu atau sekedar bersantai dengan indahnya panorama pantai
yang hangat.
Pantai Kamali: Pantai Kamali memiliki panorama keindahan terutama di malam hari,
pantai ini terletak di jantung Kota Bau-Bau berhimpitan dengan Pelabuhan
Murhum Bau-Bau.
Pantai Palabusa: Terletak sekitar 6 Km dari Kota Bau-Bau. Merupaka salah satu obyek
wisata alam pantai yang dikelilingi oleh vegetasi mutiara.

Potensi Perikanan
Meskipun secara kewilayahan Kota Baubau
hanya memiliki luas wilayah lautan sebesar 200
mil, namun demikian potensi perikanan yang
berasal dari daerah sekitar (khususnya
Kabupaten Buton) terakumulasi di Kota Baubau,
baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
lokal maupun untuk kebutuhan ekspor. Berbagai
jenis hasil produksi perikanan yang terakumuiasi
di Kota Baubau seperti Ikan Pelagis Besar
(Tuna, Cakalang), Ikan Pelagis Kecil (Julungjulung, Layang, Kembung), Ikan Demersal
(Sunu, Kerapu, Kakap, Boronang, Ekor kuning,

Lobster, Pari) serta hasil laut lainnya seperti Cumi-cumi pulpen, Teripang, Kerangkerang (biota laut), Benur, Eucheuma, Spinosum dan sebagainya.
Potensi tersebut didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai seperti pabrik
keragenan rumput laut, pelabuhan laut, serta aksesibilitas dan pelabuhan udara.
Disamping itu, telah terbangunnya dan termanfaatkannya Tempat Pelelangan Ikan
(TPI), Cold Storage dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar bagi Nelayan (SPBN) dalam
satu kawasan, serta didukung oleh pembangunan kampung nelayan melalui Rumah
Susun Sederhana Sewa (Rusunawa), menjadi kawasan tersebut sebagai pusat
pengembangan perikanan terpadu. Dalam rangka penguatan SDM di bidang perikanan
dan kelautan, pemerintah kota juga telah membangun sebuah sekolah kejuruan yang
memiliki kosentrasi di bidang kelautan, yaitu SMKN Nautika dan Kelautan Pulau
Makasar.

Hasil produksi perikanan laut pada tahun 2008 mengalami sedikit penurunan
dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar 6,74%. Dimana untuk perikanan tahun 2007
sebanyak 8.979 Ton sedangkan pada tahun 2008 sebanyak 8.374 Ton.
Budidaya Rumput Laut
Dengan garis pantai sepanjang 42 Km, Kota Baubau berpotensi menjadi penghasil
rumput laut. Disamping itu, wilayah sekitarnya yaitu perairan Kab. Muna, Buton, Buton
Utara dan Bombana juga memiliki potensi sangat besar sebagai produsen berbagai
jenis rumput laut. Bahkan, berdasarkan potensi yang dimiliki, sejak tahun 2005 Provinsi
Sulawesi Tenggara telah ditetapkan sebagai pusat pengembangan komoditi rumput laut
oleh Badan Kerjasama Pengembangan Regional Sulawesi (BKPRS), dimana Kota
Baubau sebagai outlet utama pengembangan komoditi dimaksud.
Wilayah pengembangan budidaya rumput
laut di Kota Baubau tersebar pada
berbagai kelurahan yang terlektak di daerah
pesisir, yaitu Kelurahan Palabusa, KaliaLia, Kolese dan Lowu-Lowu (Kecamatan
Bungi), Kelurahan Lakologou, Waruruma,
Sukanaeyo
dan
Liwuto
(Kecamatan
Kokalukuna), Kelurahan Nganganaumala,
Wameo, Tarafu dan Bone-Bone (Kecamatan
Murhum), Kelurahan Katobengke, Lipu dan
Sulaa (Kecamatan Betoambari). Luas areal

perairan yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan budidaya rumput laut berkisar
960 Ha di sepanjang garis pantai potensial, yaitu sekitar 23 Km untuk Kecamatan Bungi
dan Kokalukuna, dan sekitar 9 Km untuk Kecamatan Murhum dan Betoambari. Namun
demikian, hingga tahun 2007 lahan perairan yang dimanfaatkan sekitar 111,6 Ha.
Jenis rumput laut yang dikembangkan terbatas pada Euchema Cottoni dan Euchema
Spinosum. Pelaksanaan budidaya masih dilakukan secara tradisional, yaitu penyebaran
bibit pada bentangan tali pada permukaan air dengan menggunakan rakit apung yang
terbuat dari bambu, dengan masa pemeliharaan hingga panen sekitar 40-45 hati.
Perkembangan produksi rumput laut dalam tiga tahun terakhir cenderung mengalami
peningkatan. Data perdagangan antar pulau Kota Baubau menunjukkan bahwa
subsektor perikanan memberikan konstribusi sebesar Rp. 35.515.917.500 atau 48,23%
dari total nilai perdagangan sebesar Rp. 73.647.270.835. Sementara itu, komoditi
rumput laut memberikan sumbangan terbesar dibandingkan 66 komoditi subsektor
perikanan
lainnya,
yaitu
sebesar
Rp.
12.988.100
(36,57%).
Budidaya Mutiara
Ada dua jenis budidaya mutiara yang kini di budidayakan dan berkembang di Kota
Baubau, yaitu Pinctada Maxima yang menghasilkan mutiara bundar (Round Pearl) dan
jenis Pteria Penqu yang menghasilkan mutiara blister (Haft Pearl). Jenis Pinctada
Maxima diusahakan oleh PT. Tiara Indo Pea, sebuah perusahaan PMA dari Jepang.
Sedangkan jenis Pteria Penqu selain diusahakan oleh perusahaan nasional (CV. Selat
Buton) juga banyak dibudidayakan oleh para petani setempat.

Sarana Jalan
Untuk mendukung aktifitas sosial, ekonomi dan kemasyarakatan Kota Bau-Bau yang
terus berkembang secara dinamis diperlukan dukungan infrastruktur transportasi dan
perhubungan khususnya jalan sebagai urat nadi perekonomian sangat menentukan.
Pembangunan serta peningkatan infrastruktur transportasi dan perhubungan terus
dilakukan oleh Pemerintah Kota Baubau, yang diarahkan untuk meningkatkan
keamanan, kenyamanan, dan kelancaran pengguna jalan, juga untuk membuka
daerah-daerah terisolasi dan kantongkantong produksi, baik pertanian maupun
perikanan serta perkebunan dan hasil hutan lainnya juga untuk membangun koneksitas
antar wilayah perkotaan maupun antar kota di tingkat regional.
Pada saat yang bersamaan pembukaan jalan baru juga ditujukan untuk membuka
kawasan kawasan baru sebagai akses ekonomi dan sosial terus dilakukan sebagai
konsekuensi logis dari peningkatan fungsi dan perkembangan Kota Baubau.

Sebagai pusat akumulasi kegiatan bagi daerah daerah


sekitarnya
Pemerintah
membuka
jaringan jalan pada kawasan-kawasan baru baik
sebagai kawasan permukiman maupun sebagai
kawasan pelayanan pemerintahan. Sementara
itu upaya meningkatkan kualitas jalan terutama
jalan arteri primer maupun sekunder sampai
dengan jalan lingkungan, peningkatan dan
pemeliharaan jalan akan terus dilakukan.
Penanganan jalan dapat berupa perkerasan, pengaspalan lasbutag sampai
dengan jalan hotmiks terus dilakukan. Sampai tahun 2010 panjang jalan di Kota
Baubau secara keseluruhan adalah 216,53 Km, yang terdiri dari jalan beraspal
sepanjang 192,87 Km (89,32 %) dan Jalan kerikil 23,66 Km (10,67%) . Dilihat dari
kondisi jalan di Kota Baubau, dalam kondisi baik sepanjang 170,22 Km, kondisi sedang
sepanjang 26,68 Km, sepanjang 11,59 Km dalam kondisi rusak dan rusak berat adalah
8,040 Km. Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Baubau, jalan usaha
tani tidak termasuk kedalam jaringan jalan kota dan total jalan usaha tani yang
dikeluarkan dalam daftar jaringan jalan kota sepanjang 49,22 km
Panjang Jalan menurut pemerintah yang berwenang, jenis permukaan, kondisi dan kelas jalan 2010
(Km) :
Perincian
Negara
Propinsi
Kabupaten
Jumlah
Jenis Permukaan :
- Aspal
62,08
130,79
192,87
- Kerikil
23,66
23,66
- Tanah
- Tidak diperinci
Jumlah
62,08
154,45
216,53
Kondisi Jalan :
- Baik
- Sedang
- Rusak
- Rusak Berat
Jumlah

47,96
6,08
8,040
62,08

122,26
20,60
11,59
154,45

170,22
26,68
11,59
8,040
216,53

Kelas Jalan :
- Kelas I
- Kelas II
- Kelas III
- Kelas III A
- Kelas III B
- Kelas III C
- Tidak diperinci
Jumlah

62,08
62,08

122,26
32,19
154,45

62,076
122,26
32,19
216,53

Sumber Data : Badan Pusat Statistik Kota Baubau (2011), Kota Baubau dalam Angka 2011, diolah