Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses suatu sistem terisolasi yang disertai dengan penurunan entropi tidak
mungkin terjadi. Dalam setiap proses yang terjadi pada system terisolasi, maka
entropi system tersebut selali naik atau tetap tidak berubah.
Lebih lanjut jika suatu system terisolasi dalam keadaan demikian rupa
sehingga entropinya maksimum, maka system itu dalam keadaan seimbang. Hal
ini disebabkan karena setiap proses yang akan terjadi berkaitan dengan penurunan
entropi, sehingga tidak mungkin terjadi. Dengan perkataan lain, syarat untuk
kesetimbangan ialan bahwa entropinya harus maksimum.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah yang akan dibahas:
1. Apakah yang dimaksud dengan Entropi?
2. Bagaimana proses reversible dan irreversible?
3. Asas Kenaikan Entropi?

1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, pembahasan materi dari makalah ini
bertujuan untuk:
1. Mengetahui Entropi
2. Mengetahui Reversibel dan Irreversibel
3. Mengetahui asas kenaikan Entropi

BAB 2
PEMBAHASAN
1. Pengertian Entropi
Entropi adalah ukuran banyaknya energy atau kalor yang tidak dapat
diubah menjadi usaha. Besarnya entropi suatu system yang mengalami proses
reversible sama dengan kalor yang diserap system dan lingkungannya dibagi suhu
mutlak system tersebut. Entropi adalah fungsi keadaan, nilainya pada suatu
keadaan setimbang dapat dinyatakan dalam variable-variabel yang menentukan
keadaan system. Asas kenaikan entropi dapat dinyatakan bahwa entropi selalu
naik pada tiap proses irreversible karena itu dapat dikatakan bahwa entropi dari
suatu system terisolasi sempurna selalu naik tiap proses irreversible.

2. Tabel Entropi Standar


Di bawah ini ada beberapa data entropi senyawa yang diukur pada STP,
yaitu 25o C dan 101,3kPa.
Senyawa
Padat
C (intan)
C (grafit)

Smo /J K-1mol-1
2,377
5,74

18,8
Si
Ge
31,1
Sn (abu-abu) 44,1
Pb
64,8
Li
29,1
Na
51,2
K
64,2
Rb
69,5
Cs
85,2
NaF
51,5
MgO
26,9
AlN
20,2
NaCl
72,1
KCl
82,6

Mg
Ag
I2
MgH2

32,7
42,6
116,1

AgN3
Cairan
Hg
Br2

99,2

31,1

76,0
152,2

H2O
69,9
H2O2
109,6
CH3OH
126,8
C2H5OH
160,7
C6H6
172,8
BCl3
206,3
Gas Monoatomik
He
126,0
Ne
146,2
Ar
154,8
Kr
164,0
Xe
169,6
Gas Diatomik
H2
130,7
D2
145,0
HCl
186,9
HBr
198,7
HI
206,6
N2
191,6
O2
205,1
F2
202,8
Cl2
223,1
Br2
245,5
I2
260,7
CO
197,7
Gas Triatomik
H2O
188,8
NO2
240,1
H2S
205,8
CO2
213,7

SO2
248,2
N2O
219,9
O3
238,9
Gas Poliatomik ( > 3)
CH4
186,3
C2H6
229,6
C3H8
269,9
C4H10
310,2
C5H12
348,9
C2H4
219,6
N2O4
304,3
B2H6
232,0
BF3
254,0
NH3
192,5
Tabel 2.1 Tabel Entropi Standar

3. Pertidaksamaan Clausius
ad
P
i

R
a
isoterm

ad

Gambar 2.1 Diagram Kerja p-v


V
Vi

Vf

Pada diagram kerja p-v di atas, setiap titik pada diagram menggambarkan
keadaan seimbang. Misalkan titik i menggambarkan keadaan seimbang awal dan
titik f menggambarkan keadaan seimbang akhir suatu proses. Titik f selalu dapat
dicapai dari titik i melalui suatu proses reversibel yang dapat menghubungkan titik
f dengan titik i. Misalkan, jalan R adalah salah satu jalan reversibel yang mungkin.
f

Maka, WIRf p. dV luas i R f V f Vi i . Apabila QiRf adalah jumlah


i

kalor yang terlibat dalam proses R ini dan Uf Ui adalah perubahan energi dalam
sistem, maka menurut hukum I Termodinamika :
QIRf (U f U i ) WiRf

(1)

Sekarang perhatikanlah jalan reversibel lain yang terdiri atas proses


adiabatik (i-a) dan (b-f), yang dihubungkan dengan proses isothermal (a-b). kurva
isothermal ini selalu dapat ditemukan sedemikian rupa, sehingga luas di bawah
garis zig-zag ini sama dengan luas di bawah jalan R tadi. Jadi, Wiabf = WiRf,
sedangkan u adalah tetap (Uf Ui), maka :
Qiabf (U f U i ) Wiabf

(2)

Dari persamaan (1) dan (2) dapat disimpulkan : Qiabf + QiRf, dengan kata lain :
pada setiap proses reversibel antara dua titik keseimbangan i dan f, selalu dapat
ditentukan jalan reversibel yang terdiri atas adiabat-isoterm-adiabat, sedemikian
rupa sehingga kalor yang terlibat dalam kedua jalan itu adalah sama. Kebenaran
ini oleh Clausius digunakan untuk membuktikan adanya suatu fungsi keadaan,
yang dikenal dengan nama entropi.

Gambar 2.2 Siklus

Misalkan terdapat suatu siklus reversibel sembarang (R) dalam diagram pv seperti ditunjukkan pada gambar 2. Dengan menerapkan konsep di atas, siklus
reversibel ini dapat dibagi-bagi atas sejumlah pita yang masing-masing terdiri atas
dua kurva isotherm dan dua kurva adiabat, jadi merupakan sikus Carnot. Pita-pita
dapat diambil sedemikian rupa, sehingga luas siklus R sama dengan luas gambar
berzig-zag tertutup. Dengan kata lain, setiap siklus reversibel apapun bentuknya,
dapat dipandang terdiri atas sejumlah siklus Carnot. Untuk siklus Carnot diketahui
berlaku :

q1
q2

q 2 q1
T1
atau

0 , di sini q1 adalah kalor yang keluar dari sistem


T2
T2 T1

dan q2 adalah kalor yang masuk selama siklus bersuhu T2. Dengan kembali
memakai konversi tanda pada q, dapat ditulis bahwa :
Untuk pita ke-1 :

q1 q 2
0
T1 T2

q3 q 4
0 , dan seterusnya. Maka, untuk seluruh siklus akan
T3 T4

Untuk pita ke-2 :


berlaku :

q
q1 q 2 q3

... n 0 atau
T1 T2 T3
Tn

in

qi

T
i 1

(3)

Persamaan (3) ini dikenal sebagai Teorema Clausius :Setiap siklus R


dapat diganti dengan siklus berzig-zag .
Apabila jumlah pita dalam persamaan (3) diperbanyak garis tutup zig-zag
menjadi kurva kontinu tertutup, maka persamaan (3) menjadi :
dq

(4)

Dalam matematika, pernyataan di atas berarti bahwa dq/T merupakan


diferensial eksak, yaitu diferensial total suatu fungsi keadaan. Fungsi ini diberi
nama Entropi sistem, dengan lambang S. Maka, (dq/T)R = ds, merupakan
diferensial eksak, sehingga

ds 0 , integral ds sepanjang siklus reversibel adalah nol.


R

ds S

S i S if , integral terbatas ds tidak bergantung jalan integrasi

hanya ditentukan oleh titik awal dan titik akhir.


Apa hasilnya apabila penjumlahan dalam rumus (3) diadakan sepanjang
siklus yang tidak reversibel?
Ternyata :

in

qi

i 1

0 , atau

dq

0 , atau

dq
ds
T

(5)

Persamaan (5) bisa dibuktikan dengan menggunakan teorema Carnot : Mesin


Carnot (yang paling mendekati mesin reversibel) adalah mesin yang memiliki

terbesar dibanding dengan mesin-mesin kalor lain (yang tidak menggunakan


siklus reversibel). Dengan kata lain, apabila mesin Carnot (C) dan mesin lain (NC)
dikerjakan antara dua reservoir yang sama, seperti yang ditunjukkan pada gambar
3, maka mesin NC memerlukan kalor yang lebih banyak untuk menghasilkan W
yang sama.
R2

T2
|q2|

'

|q 2 | = |q2|+|q|

|q1| = |q2|-w

R1

NC
'

'

C |q 1 | = |q 2 | -W
T1

Gambar 2.3 Teorema Carnot

Sesuai dengan teorema Carnot, maka C > NC, maka untuk menghasilkan W
yang sama, q ' 2 > q2 , misal q ' 2 = q2 + q .
Untuk mesin reversibel (C) berlaku :
q2

T T
C

q1
T1

Untuk mesin irreversibel (NC) berlaku :


q'2

T T

q2

T2
q2
T2

q2 q q'2 W

T2
T1

q q2 q q2 q1

T2
T1

q1
T1

T q T
NC

q'1

q q

T2 T1

1
,
T1

1 1
< 0 (negatif).
T2 T1

Dengan mengingat :

dq

dq

T ds 0, dapat disimpulkan T

ds

dq

T 0 ; atau T

Jadi,

0 ; atau

NC

dq
ds
T

(6)

Jika persamaan (3), (4), dan (5) digabung, maka :


qi

0 ; atau

dq
dq
0 atau ds
T
T

(7)

Persamaan (7) disebut dengan pertidaksamaan Clausius.

Beberapa hal penting yang berhubungan dengan entropi adalah sebagai


berikut.
1. Entropi sistem terdefinisikan dalam keadaan seimbang
2. Hanya perubahan perubahan entropi yang bisa dihitung dengan menggunakan
2

dq
dq
ds
dS S2 S1
persamaan
T
T 1
1
3. Entropi merupakan fungsi keadaan sistem, sehingga bisa dinyatakan sebagai
fungsi dari dua variabel termodinamika, misal S = f (p,T) atau S = f (p,v).
4. Untuk proses reversibel, perubahan entropi dapat dihitung dengan persamaan
2

ds S

S1

5. Dalam proses reversibel berlaku :


dq/T = ds

(8)

persamaan (8) merupakan salah satu pernyataan Hukum II Termodinamika.


6. Hukum I Termodinamika, menyatakan energi tidak bisa diciptakan dan tidak
bisa dimusnahkan, sedangkan hukum II Termodinamika menyatakan entropi
tidak mungkin dimusnahkan tetapi dapat diciptakan.
7. Pada proses irreversibel, jika keadaan awal dan keadaan akhir merupakan
keadaan seimbang, maka persamaan (8) dapat digunakan untuk menghitung
perubahan entropi.

4. Entropi Molar
Entropi molar adalah entropi yang dihitung dari satu mol suatu zat.Entropi
molar pada dasarnya diukur pada kondisi standar, dengan simbol S. Satuan
entropi molar adalah Joule per Kelvin per mol. Jika dipertimbangkan dengan
hokum ketiga termodinamika, maka kristal murni suatu senyawa dapat
mempunyai entropi nol.
S= Nk=1dqTdT
Di sini dq/T mempunyai perubahan kalor yang sangat kecil pada temperatur T
yang diberikan.
5. Entropi Gas Ideal
Hukum II termodinamika dalam konsep entropi mengatakan, Sebuah
proses alami yang bermula di dalam satu keadaan kesetimbangan dan berakhir di
dalam satu keadaan kesetimbangan lain akan bergerak di dalam arah yang
menyebabkan entropi dari sistem dan lingkungannya semakin besar. Itu artinya
semakin setimbang suatu keadaan, maka semakin besar nilai entropinya.
Fungsi entropi untuk gas ideal akan dituliskan berturut-turut S = f(T,V), S
= f(T,p), dan S = f(p,V) jika entropi dinyatakan dengan fungsi dari temperatur dan
volume, atau S = f(T,V), menurut hukum II termodinamika dalam proses
reversible berlaku

dq
ds
T

atau

dq T ds , maka persamaan hukum I

termodinamika dapat ditulis


T ds dU dW

(9)

karena dW p.dv dan untuk gas ideal dU = cv dT, maka persamaan (9)
dapat ditulis
T ds cv dT p dv pV nRT

Kalau cv dianggap konstan maka persamaan di atas dapat menjadi


dT
dV
nR
T
V
dT
dV
dS cv T nR V

dS cv

Jika keadaan awal dinyatakan dengan (T0,V0,S0) dan keadaan akhir


dinyatakan dengan (T,V,S), maka integrasi menghasilkan :

dT
dV
nR
T
V
T0
V0

dS cv
S0

S S 0 cv ln

T
V
nR ln
T0
V0

S S 0 (cv ln T nR ln V ) (cv ln T0 nR ln V0 )
S cv ln T nR ln V kons tan
S ln( T cv V

c p cv

) kons tan

(10)

Jika entropi dinyatakan sebagai fungsi T dan p atau S = f(T,p), fungsi ini
dapat kita peroleh dengan cara yang sama seperti di atas, dengan mengingat
bahwa hukum I untuk gas ideal yang menjalani proses infinit reversible adalah :
T ds = cp dT V dp, apabila cp konstan maka akan diperoleh
persamaan :
S = ln (Tcp pcv-cp) + konstan

(11)

Hasil ini dapat juga diperoleh dengan menggantikan V dengan p melalui


persamaan keadaan gas ideal, dalam persamaan (10).
Selanjutnya, S = f(p,V) dapat diperoleh dengan menggantikan T dengan p
dalam persamaan (10) atau mengganti T dengan V dalam persamaan (11) Adapun
hasilnya
S = ln (pCv VCp) + konstan

(12)

6. Entropi, Reversibel dan Irreversibel


Sejauh ini, kita hanya dapat membatasi pembahasan entropi dengan proses
yang terbalikkan. Untuk memahami arti fisis entropi, maka kita bagi keadaan yang
kita tinjau atas sistem, lingkungan dan semesta. Entropi semesta merupakan
jumlahan entropi sistem dan entropi lingkungan.
Kita tinjau suatu sistem yang bersentuhan dengan suatu tandon panas. Bila
terjadi aliran kalor sebesar Q pada temperatur T, maka terjadilah perubahan
entropi pada tandon sebesar Q/T, tidak tergantung pada proses pemindahan. Hal
ini disebabkan tandon ini memiliki kalor yang jumlahnya besar tetapi tidak tak

10

berhingga. Jadi perubahan tadi tepat sama dengan perubahan kalor sebesar Q yang
dilaksanakan dalam proses dapat balik.
Kita tinjau sekarang perubahan entropi sistem pada proses terbalikkan.
Bila selama proses yang manapun maka akan dipindahkan kalor sejumlah dQR,
maka
.
nilai T dapat berkisar antara Ti dan Tf karena dQR ini dipindahkan antara sistem
dan tandon secara dapat balik, maka

.
Sehingga total entropi tandon dan sistem adalah nol. Jadi, pada proses
dapat balik entropi semesta tidak berubah.
Apabila kita tinjau suatu proses yang hanya setimbang pada keadaan awal
dan akhirnya saja, maka untuk mengganti proses tak dapat balik yang demikian
syara batasnya dapat dipakai suatu proses dapat balik sembarang. Proses yang kita
sulihkan ini dapat kita pilih sehingga lintasan dari keadaan awal ke keadaan akhir
tidak sama dengan lintasan dari keadaan akhir ke keadaan awal.
Sebagai sebuah contoh yang bersangkutan dengan keadaan di atas adalah
proses serapan isoterm tak dapat balik oleh tandon terhadap sistem. Pada proses
ini tidak terjadi perubahan entropi sistem, karena koordinat termodinamik sistem
tetap. Tetapi, terdapat aliran kalor sebesar Q atau W ke tandon. Oleh sebab itu,
entropi tandon berubah sebesar + Q/T. Total entopi sistem dan tandon adalah
+Q/T atau W/T yang sama dengan entropi semesta. Sehingga, untuk serapan
isoterm berlaku
Ssistem = 0
Standon = + Q/T = + W/T
Ssemesta = + Q/T = + W/T.
Kita tinjau proses adiabat tak dapat balik. Pada proses ini temperatur
sistem berubah, naik dari Ti ke Tf dan tidak ada aliran kalor dari atau ke
lingkungan. Kita dapat gantikan proses tak terbalikan tersebut dengan proses
dapat balik isobar. Bila penyulihan ini kita lakukan, maka kita peroleh

11


Untuk Cp tetap, maka kita peroleh
Ssistem = Cp 1n (Tf/Ti)
Standon = 0
Ssemesta = Cp 1n (Tf/Ti).
S positif sebab Tf lebih besar Ti.
Proses pemuaian bebas adalah contoh lain dari proses tak dapat balik. Pada
proses ini perubahan entropi lingkungan nol sebab tak ada aliran kalor dari atau ke
lingkungan. Proses yang dipakai untuk menggantikan proses muai bebas adalah
proses ekspansi isoterm dari volum Vi ke volum Vf.
Jadi, perubahan entropi sistem besarnya
Ssistem = W/T = nR 1n (Vf/Vi).
yang merupakan besaran yang positif. Sehingga, perubahan entropi semesta pada
proses tersebut adalah
Ssemesta = n R 1n (Vf/Vi).
Sebagai contoh akhir adalah proses perpindahan kalor karena adanya
perbedaan temperatur. Andaikan kalor sejumlah Q dipindahkan dari tandon
bertemperatur T1 ke tandon dengan temperatur T2, maka berlaku
Ssistem = 0,
Standon panas = - Q/T1,
Standon dingin = + Q/T2,

Hasil akhir dari proses tersebut adalah perubahan entropi semesta yang positif.

7. Perhitungan-perhitungan Entropi pada Proses Reversibel


Hukum II Termodinamika menyatakan, dalam proses reversibel berlaku

dq
ds, sehingga:
T
2

dq
T
1

S dS
1

(13)

12

Jika proses berlangsung secara adiabat, karena dq 0 , maka S

0
0 , jadi
T

pada proses adiabatik reversibel S 0 atau entropi konstan. Jika proses


berlangsung secara isotermal, maka persamaan (14) dapat ditulis:
2

dS
1

2
q
1
dqT atau S 2 S1 T

T
T1

(14)

Pada proses perubahan phase:


Pada perubahan phase, proses berlangsung pada temperatur dan tekanan
konstan maka persamaan (13) dapat ditulis:
2

1
1 dS T 1 dq
S 2 S1

q
T

q = kalor yang diserap atau dilepas sistem = massa sistem x kalor laten (L), maka
persamaan diatas menjadi:

S 2 S1

mL
T

(15)

Jika proses berlangsung pada volume kostan:


Perubahan entropi dapat kita tentukan dengan cara yang sama seperti di
atas, dengan mengingat hukum I Termodinamika untuk gas ideal dalam proses
volume konstan adalah: dqv cv dTv , dengan mensubsitusi persamaan ini pada
persamaan (13) maka akan diperoleh persamaan:
S 2 S1 cv ln

T2
T1

(16)

Jika proses berlangsung pada tekanan kostan:


Selanjutnya pada proses isobarik, dengan cara yang sama seperti di atas,
dengan menerapkan persamaan hukum I Termodinamika untuk gas ideal dalam
proses tekanan konstan adalah: dq p c p dT p , dengan mensubsitusi persamaan ini
pada persamaan (13), maka akan diperoleh persamaan:
S 2 S1 c p ln

T2
T1

(17)

13

8. Diagram T-S atau Diagram Entropi


Diagram p-V yang sudah dibahas pada bab sebelumnya disebut dengan
diagram kerja, karena usaha/kerja yang dilakukan sistem dapat ditentukan dengan
menghitung luas daerah di bawah kurva pada diagram p-V. Sedangkan diagram TS disebut dengan diagram kalor, karena bbesar kalor yang terlibat dalam proses
dapat ditentukan dengan menghitung luas daerah di bawah kurva pada diagram TS, seperti di tunjukkan pada diagram dibawah,
T

qm
a
b

qk
S
Gambar 2.4 Diagram T-S

Hukum II Termodinamika menyatakan dalam proses reversible d q = T dS, maka


Sb

q =

T ds = luas daerah di bawah kurva. Pada gambar (4), qab = T ds Luas


Sa

daerah yang diarsir. Mudah dimengerti pula, bahwa usaha yang dilakukan sistem
dalam suatu siklus reversible sama dengan luas siklus pada diagram T-S, karena
U pada proses siklus = 0 sehingga persamaan Hukum I Termodinamika akan
menjadi W= q. Jika kita mengkaji gambar (4), maka W = qm qk sama dengan
luas daerah di dalam siklus. Siklus Carnot khususnya mudah digambarkan dalam
diagram T-S, karena berupa persegi panjang, hingga qm , qk , dan W dengan
mudah dapat dihitung dengan ilmu ukur.

9. Perubahan Entropi Pada Proses Irreversibel


Perubahan entropi pada proses irreversibl akan di bahas melalui beberapa
contoh-contoh di bawah ini,

14

Contoh 1. Percampuran 2 cairan


Air 1 kg pada suhu 373 K dicampur dengan air 1 kg bersuhu 273 K secara
adiabatikdan isobaric. Nyata bahwa proses di atas berlangsung secara irreversible.
Tetapi kita perhatikan juga, bahwa keadaan awal dan keadaan akhir merupakan
f

keadaan seimbang, sehingga persamaan, S if


i

dq
, dapat digunakan.
T

Pertama-tama kita menentukan, temperatur campuran, karena massa kedua benda


sama, dan jenis ke dua benda sama, maka temperature campuran sama dengan
temperature rata-rata, yaitu:
T campuran = (373 + 273) K/2 = 323 K

II

273
373 K
Gambar 2.5 Soal
(Sumber : Rapi, 2009)

323

S1 c p

dT
323
c p ln
0,144 c p
T
373
373

323

S u c p

dT
323
c p ln
0,168 c p
T
373
373

S sistem = 0,168 c p 0,144 c p =0,024 c p

Contoh 2. Perubahan entropi pada ekspansi bebas (percobaan Joule)

V1
Gas

V2
hampa

Dinding pemisah
V1 = V2

Gambar 6.
(Sumber : Rapi, 2009)

Jika dinding pemisah dibuka maka gas akan berekspansi bebas ke kanan, sampai
terjadi keseimbangan. Proses ini berlangsung secara irreversible. Sesuai dengan
hokum I Termodinamika:
15

dq cv dT p dv

Keadaan awal dan keadaan akhir sistem keadaan setimbang maka persamaan
dq
dS
T

bisa digunakan untuk menghitung perubahan entropi. Dengan

mengkombinasikan hokum I dan II Termodinamika akan diperoleh persamaan:


T dS = cv dT + p dV
dS = cv dT p dV
T T
dS = cv dT nR dV
T
V
Karena pada percobaan Joule temperature konstan atau dT = 0, maka persamaan
dia atas menjadi:
dS nR

dV
V

S nR

2V
dV
nR ln 1 nR ln 2
V
V1

Jadi S nR ln 2 (nilainya positif)


Jadi disimpulkan pada proses irreversible S bernilai positif, dengan kata lain
entropi bertambah.

10. Prinsip Pertambahan Entropi


Pada pembahasan tentang proses dapat balik, kita telah melihat bahwa
hasil dari proses tersebut adakah pertambahan entropi semesta. Keadaan semacam
ini dikenal sebagai prinsip pertambahan entropi.
Untuk meninjau masalah ini, kita konsentrasikan saja tinjauan kita pada
proses adiabat sebab proses yang lain jelas melibatkan aliran kalor yang pasti akan
menambah entropi semesta. Kita andaikan sistem yang kita tinjau menjalani
proses adiabat tak dapat balik dari keadaan i ke keadaaan f dengan Si = Sf atau
entropi tetap. Kemudian sistem dibawa lagi ke keadaan j secara isoterm dapat
balik dengan aliran kalor QR. Akhirnya sistem dibawa lagi ke keadaan mula-mula
i dengan proses adiabat dapat balik. Andaikata, selama proses dari keadaan awal
kembali lagi ke keadaan awal entropi sistem tetap, maka terjadilah pemindahan
kalor dari keadaan k ke keadaan j, yang besarnya QR, dan diubah seluruhnya
16

menjadi kerja. Hal ini harus terjadi demikian karena untuk mempertahankan Si =
Sf. Maka ada tiga kemungkinan
QR = 0, Si = Sf
atau
QR 0, Sf > Si,
atau
QR 0, Sf = Si.
Kemungkinan terakhir jelas merupakan pernyataan yang salah karena
bertentangan dengan hukum kedua termodinamika. Jadi, kesimpulan kita adalah
S 0,
bila sistem tadi terisolasi. Oleh sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa untuk
proses apapun entropi semesta selalu bertambah atau tetap, atau
S 0 . 8.17
Apabila perhitungan S dilakukan pada sistem dan juga pada lingkungan
untuk proses reversible maupun non-reversibel maka berlaku:
S alam = S sistem + S lingkungan

(18)

Tanda > berlaku untuk proses irreversible dan tanda = berlaku untuk proses
reversibel.
Jika sistem terisolasi dengan lingkungan artinya proses adiabatic maka S
lingkungan = 0, maka berlaku:
S alam = S sistem

(19)

Untuk membuktikan prinsip pertambahan entropi di bawah ini akan diberikaan


beberapa contoh:
1. Proses reversibl non adiabatik (ekspansi/kompresi isothermal)

T
Sebagai Lingkungan

Sistem
T

adalah reservoir

Gambar 2.7 Reversible


17

S sistem = + q/T
S Lingkungan = -q/T
S alam = S sistem + S lingkungan = + (q/T) (q/T) = 0
2. Proses irreversible non adiabatic

q
T

Gambar 2.8 Contoh Irreversible

Gambar 8. menunjukkan sistem diaduk (dikenakan kerja), seluruh usaha


mekanikdiubah menjadi kalor (q). Sistem tidak mengalami perubahan apa-apa
artinya seluruhkalor dilepas.
S sistem = 0
S Lingkungan = Q/T
S alam = 0 + Q/T = Q/T > 0

11. Entropi dan Ketidakteraturan


Yang kita bahas sejauh ini tentang entropi adalah dalam kaitan besaran
tersebut secara makroskopik. Ketika terjadi lesapan kalor, misalnya, kita hanya
keadaan awal dan terakhirnya melalui besaran temperatur, tekanan dan volum.
Secara mikroskopik, lesapan kalor oleh sistem sebenarnya menyangkut gerak tak
teratur molekul di dalam sistem. Ketika terjadi lesapan tenaga, baik berupa kerja
dari luar maupun pertambahan tenaga internal, derajat ketakteraturan molekul
bertambah. Perubahan ketakteraturan inilah yang diungkapkan sebagai perubahan
entropi. Jadi, prinsip pertambahan entropi sebenarnya menyatakan bahwa tingkat
ketakteraturan semesta tetap atau bertambah. Karena taraf ketakteraturan ini dapat
dihitung melalui teori peluang, maka ungkapan entropi berhubungan dengan
besaran yang bersangkutan dengan peluang untuk berada pada keadaan yang tak
teratur. Besaran tersebut disebut sebagai peluang termodinamik.

18

Kita nyatakan disini, tanpa bukti, bahwa entropi S berhubungan dengan


peluang termodinamik menurut
S = konstan 1n . 8.18
Pernyataan tersebut berakibat bahwa jumlahan entropi berarti perkalian peluang
termodinamiknya. Bila
=1n

+ 1n

= 1n

dan

= 1n

, maka

=1n

19

DAFTAR PUSTAKA

Rapi,Ni Ketut. 2099. Buku Ajar Termodinamika. Singaraja : FMIPA


UNDIKSHA.

20