Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS SKALOGRAM GUTTMAN & INDEKS SENTRALITAS

MARSHALL DI PROVINSI JAWA TENGAH


Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Lokasi dan Pola Ruang (TKP 341)
Dosen Pengampu: Dra. Bitta Pigawati, M.T.

Disusun Oleh:

ADELINA LIMBONG
21040113120039

LALA NURUL A.
21040113140119

AJENG P. D.
21040113140075

IZZAH KHUSNA
21040113140123

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

Analisis Sistem Pusat Permukiman Provinsi Jawa Tengah

1.

Skalogram Guttman
Analisis Skalogram Guttman biasanya digunakan digunakan untuk menganalisis pusat-

pusat permukiman, khususnya hirarki atau orde pusat-pusat permukiman. Subjek dalam analisis
ini merupakan pusat permukiman (settlement). Alat analisis skalogram membahas mengenai
fasilitas perkotaan yang dimiliki suatu daerah sebagai indikator difungsikannya daerah tersebut
sebagai salah satu pusat pertumbuhan. Tujuan digunakannya analisis ini adalah untuk
mengidentifikasi kota-kota yang dapat dikelompokkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan
berdasarkan pada fasilitas kota yang tersedia Analisis scalogram mengelompokkan klasifikasi
Berikut adalah langkah-langkah dalam menyusun matriks skalogram :
1. Membuat urutan kota berdasarkan jumlah penduduk pada sebelah kiri tabel
2. Membuat urutan fasilitas yang ditentukan berdasarkan frekuensi pada bagian atas
3. Menggambar garis kolom dan baris sehingga lembar kerja tersebut membentuk matriks
yang menampilkan fasilitas yang ada pada masing-masing wilayah kota
4. Menggunakan tanda (1) pada sel yang menyatakan keberadaan suatu fasilitas pada suatu
wilayah dan tanda (0) pada sel yang tidak memiliki fasilitas
5. Menyusun ulang baris dan kolom berdasarkan frekuensi keberadaan fasilitas, semakin
banyak fasilitas yang ada pada suatu wilayah kota, maka wilayah tersebut berada di urutan
atas, semakin banyak wilayah yang memiliki fasilitas tersebut, maka jenis fasilitas tersebut
berada pada kolom sebelah kiri
6. Mengalikan kolom-kolom yang telah disusun dengan nilai indeks sentralitas masingmasing kemudian disusun ulang seperti langkah 5
7. Langkah terakhir mengidentifikasi peringkat/hirarki kota yang dapat diinterpretasikan
berdasarkan nilai keberadaan fasilitas pada suatu wilayah. Semakin tinggi nilainya maka
hirarki kota tersebut semakin tinggi.
Langkah pertama dalam menganalisis skalogram adalah dengan menyiapkan data dasar
dalam bentuk tabel fasilitas.

Tabel. 1
Jumlah Fasilitas Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

No.

Kabupaten/ Kota

Jumlah Penduduk

Fasilitas
Kesehatan
RSU

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Kab. Banjarnegara
Kab. Banyumas
Kab. Batang
Kab. Blora
Kab. Boyolali
Kab. Brebes
Kab. Cilacap
Kab. Demak
Kab. Grobogan
Kab. Jepara
Kab. Karanganyar
Kab. Kebumen
Kab. Kendal
Kab. Klaten
Kab. Kudus
Kab. Magelang
Kab. Pati
Kab. Pekalongan
Kab. Pemalang
Kab. Purbalingga
Kab. Purworejo
Kab. Rembang
Kab. Semarang
Kab. Sragen
Kab. Sukoharjo
Kab. Tegal
Kab. Temanggung

889921
1605579
729616
844444
951817
1764648
1676089
1094472
1336304
1153213
840171
1176722
926812
1148994
810810
1221681
1218016
861082
1279596
879880
705483
608903
974092
871989
849506
1415009
731911

1
4
1
3
3
2
2
1
1
2
2
1
1
1
2
1
3
2
1
1
1
1
2
2
1
3
1

Fasilitas Pendidikan

Prasarana Transportasi

RSJ

PTN/PTS/ST

Akademi/Poli

Bandara

Stasiun

Pelabuhan

Total

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

2
11
0
4
1
6
3
2
2
3
1
5
4
5
3
0
3
1
2
0
4
3
2
1
1
1
1

1
10
0
1
2
3
6
0
1
2
4
2
2
2
3
0
3
1
1
0
3
0
2
3
2
3
1

0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
8
5
5
1
10
18
1
16
0
5
8
4
5
0
0
0
1
3
0
5
1
3
6
3
6
0

0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

4
33
6
14
7
21
31
4
20
8
12
16
11
14
8
1
10
5
7
1
13
5
9
12
7
13
3

28 Kab. Wonogiri
29 Kab. Wonosobo
30 Kota Magelang
31 Kota Pekalongan
32 Kota Salatiga
33 Kota Semarang
34 Kota Surakarta (Solo)
35 Kota Tegal
Total
Sumber: BPSJawa Tengah Tahun 2014
Keterangan
RSJ
= Rumah Sakit Jiwa
PTN
= Perguruan Tinggi Negeri
PTS
= Perguruan Tinggi Swasta
ST
= Sekolah Tinggi

942377
769318
119935
290870
178594
1644800
507825
243860
33264339

1
1
2
1
2
5
3
1
62

0
0
3
0
0
2
3
0
9

1
1
5
4
2
34
28
3
149

2
1
3
3
2
32
27
5
133

0
0
0
0
0
1
1
0
4

1
0
0
1
0
5
4
2
127

0
0
0
0
0
0
0
1
4

5
3
13
9
6
79
66
12

Dari tebel tersebut dapat diketahui jumlah fasilitas setiap kabupaten/kota yang terdapat di
Provinsi Jawa Tengah. Dapat kita lihat bahwa Rumah Sakit Umum sudah tersebar merata, tetapi
untuk Rumah Sakit Jiwa hanya beberapa kabupaten/kota saja yang memiliki. Perguruan Tinggi
di Provinsi Jawa tengah sudah banyak sekali dan bahkan sudah tersebar di semua kabupaten/kota
hanya Kabupaten Magelang dan Kabupaten Batang yang belum memiliki Perguruan Tinggi.
Stasiun, Pelabuhan, dan Bandara juga sudah tersebar di beberapa kabupaten/kota, untuk bandara
di Jawa Tengah hanya terdapat di 4 kota besar, yaitu Semarang, Solo, Cilacap, dan Blora.
Selanjutnya adalah

membuat matriks skalogram. Matriks ini digunakan untuk

mengetahui apakah setiap kabupaten/kota memiliki fasilitas yang lengkap atau tidak.
Penyusunan fasilitas diurutkan dari yang jumlah nya paling banyak diletakkan disebelah kiri.
Setelah itu menghitung tingkat kesalahan atau COR (Coefficient of Reducibility) dengan rumus
sebagai berikut :

Keterangan :
: jumlahkesalahan
N

:JumlahFasilitas

:JumlahKecamatan

Perhitungan COR dari tabel skalogram Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut:

Tabel.2
Matriks Skalogram Kabupaten Provinsi Jawa Tengah

No.

Kabupaten/ Kota

Fasilitas

Jumlah
Penduduk

RSU

PTN/PTS/ST

Akademi/Poli

Stasiun

Pelabuhan

RSJ

Bandara

Jumlah

error

33

Kota Semarang

1644800

1676089

34

Kab. Cilacap
Kota Surakarta
(Solo)

507825

14

Kab. Klaten

1148994

Kab. Blora

844444

35

Kota Tegal

243860

Kab. Brebes

1764648

Kab. Banyumas

1605579

Kab. Tegal

1415009

26
9

Kab. Grobogan

1336304

19

Kab. Pemalang

1279596

17

Kab. Pati

1218016

12

Kab. Kebumen

1176722

10

Kab. Jepara

1153213

23

Kab. Semarang

974092

Kab. Boyolali

951817

28

Kab. Wonogiri

942377

13

Kab. Kendal

926812

24

Kab. Sragen

871989

18

Kab. Pekalongan

861082

25

Kab. Sukoharjo

849506

11

Kab. Karanganyar

840171

21

Kab. Purworejo

705483

31

Kota Pekalongan

30

Kota Magelang

290870

119935

1094472

Kab. Banjarnegara

889921

15

Kab. Kudus

810810

29

Kab. Wonosobo

769318

27

Kab. Temanggung

731911

22

Kab. Rembang

608903

32

Kota Salatiga

178594

Kab. Batang

Kab. Demak

16

Kab. Magelang

20 Kab. Purbalingga
Total

729616

1221681

879880
28286631

1
31

0
28

0
26

0
21

0
3

0
1

0
1

1
111

0
20

Sumber: Analisis Adel, Ajeng, Lala,dan Izzah

Setelah membuat matriks dan menghitung nilai COR, maka selanjutnya adalah menentukan
ordo untuk setiap Kab/Kota. Pertama menentukan jumlah orde yang ada di Provinsi Jawa Tengah, bisa
menggunakan rumus Strugges sebagai berikut (n) merupakan jumlah kecamatan:

Jumlah orde tersebut dapat kita bulatkan menjadi 6. Setelah itu kita harus menghitung jangkauan
darimasing-masing orde, berikut rumus nya

Dari nilai jangkauan maka dapat ditentukan interval untuk setiap orde, yaitu sebagai berikut:

Tabel. 3
Interval Orde

Nilai
I
II
III
IV
V
VI

Interval Kelas
5.95
4.96 - 5.94
3.97 - 4.95
2.98 - 3.96
1.99 - 2.97
1.00 - 1.98

Sumber: Hasil Perhitungan Adel, Ajeng, Lala,dan Izzah

Dari interval di atas maka akan didapatkan tingkatan ordo Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut:
Tabel. 4
Tingkatan Orde tiap-tiap Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten/ Kota

Orde

Kota Semarang

5.19

Kab. Cilacap

4.44

Kota Surakarta (Solo)

4.44

Kab. Klaten

3.70

II

Kab. Blora

3.70

II

Kota Tegal

3.70

II

Kab. Brebes

2.96

III

Kab. Banyumas

2.96

III

Kab. Tegal

2.96

III

Kab. Grobogan

2.96

III

Kab. Pemalang

2.96

III

Kab. Pati

2.96

III

Kab. Kebumen

2.96

III

Kab. Jepara

2.96

III

Kab. Semarang

2.96

III

Kab. Boyolali

2.96

III

Kab. Wonogiri

2.96

III

Kab. Kendal

2.96

III

Kab. Sragen

2.96

III

Kab. Pekalongan

2.96

III

Kab. Sukoharjo

2.96

III

Kab. Karanganyar

2.96

III

Kab. Purworejo

2.96

III

Kota Pekalongan

2.96

III

Kota Magelang

2.96

III

Kab. Demak

2.22

IV

Kab. Banjarnegara

2.22

IV

Kab. Kudus

2.22

IV

Kab. Wonosobo

2.22

IV

Kab. Temanggung

2.22

IV

Kab. Rembang

2.22

IV

Kota Salatiga

2.22

IV

Kab. Batang

1.48

Kab. Magelang

0.74

VI

Kab. Purbalingga

0.74

VI

Total

82.2222

Tabel. 5
Ordo Provinsi Jawa tengah Berdasarkan Analisis Skalogram
Tingkatan Orde
Kabupaten/Kota
I
Kota Semarang
Kab. Cilaca
Kota Surakarta (Solo)
II

Kab. Klaten
Kab. Blora
Kota Tegal

III

Kab. Brebes
Kab. Banyumas
Kab. Tega
Kab. Grobogan
Kab. Pemalang
Kab. Pati
Kab. Kebumen
Kab. Jepara
Kab. Semarang
Kab. Boyolali
Kab. Wonogiri
Kab. Kendal
Kab. Sragen
Kab. Pekalongan
Kab. Sukoharjo
Kab. Karanganyar
Kab. Purworejo
Kota Pekalongan
Kota Magelang

IV

Kab. Demak
Kab. Banjarnegara
Kab. Kudus
Kab. Wonosobo
Kab. Temanggung
Kab. Rembang
Kota Salatiga

Kab. Batang

VI

Kab. Magelan
Kab. Purbalingga

Sumber: Adel, Ajeng, Lala,dan Izzah

2.

Indeks Sentralitas Marshall


Indeks sentralitas Marshall dimaksudkan untuk mengetahui struktur/hierarki pusat-pusat

pelayanan yang ada dalam suatu wilayah perencanaan pembangunan, seberapa banyak fungsi
yang ada, berapa jenis fungsi dan berapa jumlah penduduk yang dilayani serta seberapa besar
frekuensi keberadaan suatu fungsi dalam satu satuan wilayah permukiman. Frekuensi keberadaan
fungsi menunjukkan jumlah fungsi sejenis yang ada dan tersebar di wilayah tertentu, sedangkan
frekuensi kegiatan menunjukkan tingkat pelayanan yang mungkin dapat dilakukan oleh suatu
fungsi tertentu di wilayah tertentu.
Rumus yang digunakan untuk menilai bobot dari suatu fasilitas adalah

C=

dimana : C = bobot dari atribut suatu fasilitas


t = nilai sentralitas gabungan, dalam ini 100
T = jumlah total dari atribut fasilitas
Cara menentukan hierarki atau orde kota dapat menggunakan perhitungan ISM
Jumlah Kelas = 1+3,3 Log n

n = Jumlah Kabupaten/Kota

Berikut merupakan tabel hasil perhitungan bobot dari tiap-tiap fasilitas :


Fasilitas

RSU

RSJ

PTN/PTS/ST

Akademi/poli

Bandara

Stasiun

Pelabuhan

Bobot

1,6

11,1

0,7

0,8

25

0,8

25

Sumber: Hasil Perhitungan Adellina, Ajeng, Lala, dan Izzah

Setelah didapatkan bobot untuk masing-masing fasilitas maka kita dapat menghitung nilai
total yang nantinya akan digunakan dalam pementuan orde. Nilai total tersebut didapatkan dari
hasil perkalian antara jumlah fasilitas dan bobot fasilitas.
Berdasarkan hasil perhitungan mengenai penilaian keterpusatan fasilitas menunjukkan
bahwa pusat pelayanan fasilitas berada di Kota Semarang. Kota Semarang menduduki urutan
pertama dengan nilai indeks sentralitas sebesar 106,1 . Untuk uraian lebih jelasnya mengenai
pengelompokkan pusat pelayanan berdasarkan indeks sentralitas marshall dapat dilihat pada
tabel perhitungan nilai total seperti berikut ini :

Tabel. 6
Perhitungan Nilai Masing-Masing Fasilitas Per Kabupaten/Kota

Kabupaten/ Kota

Fasilitas Kesehatan

Jumlah
Penduduk

RSU

Fasilitas Pendidikan
RSJ

PTN/PTS/ST

Akademi/Poli

C*T

C*T

C*T

C*T

Kab. Banjarnegara

889921

1,6

1,6

11,1

0,7

1,3

0,8

0,8

Kab. Banyumas

1605579

1,6

6,5

11,1

11

0,7

7,4

10

0,8

7,5

Kab. Batang

729616

1,6

1,6

11,1

0,7

0,0

0,8

0,0

Kab. Blora

844444

1,6

4,8

11,1

0,7

2,7

0,8

0,8

Kab. Boyolali

951817

1,6

4,8

11,1

0,7

0,7

0,8

1,5

Kab. Brebes

1764648

1,6

3,2

11,1

0,7

4,0

0,8

2,3

Kab. Cilacap

1676089

1,6

3,2

11,1

0,7

2,0

0,8

4,5

Kab. Demak

1094472

1,6

1,6

11,1

0,7

1,3

0,8

0,0

Kab. Grobogan

1336304

1,6

1,6

11,1

0,7

1,3

0,8

0,8

Kab. Jepara

1153213

1,6

3,2

11,1

0,7

2,0

0,8

1,5

Kab. Karanganyar

840171

1,6

3,2

11,1

0,7

0,7

0,8

3,0

Kab. Kebumen

1176722

1,6

1,6

11,1

0,7

3,4

0,8

1,5

Kab. Kendal

926812

1,6

1,6

11,1

0,7

2,7

0,8

1,5

Kab. Klaten

1148994

1,6

1,6

11,1

11,1

0,7

3,4

0,8

1,5

Kab. Kudus

810810

1,6

3,2

11,1

0,7

2,0

0,8

2,3

Kab. Magelang

1221681

1,6

1,6

11,1

0,7

0,0

0,8

0,0

Kab. Pati

1218016

1,6

4,8

11,1

0,7

2,0

0,8

2,3

Kab. Pekalongan

861082

1,6

3,2

11,1

0,7

0,7

0,8

0,8

Kab. Pemalang

1279596

1,6

1,6

11,1

0,7

1,3

0,8

0,8

Kab. Purbalingga

879880

1,6

1,6

11,1

0,7

0,0

0,8

0,0

Kab. Purworejo

705483

1,6

1,6

11,1

0,7

2,7

0,8

2,3

Kab. Rembang

608903

1,6

1,6

11,1

0,7

2,0

0,8

0,0

Kab. Semarang

974092

1,6

3,2

11,1

0,7

1,3

0,8

1,5

Kab. Sragen

871989

1,6

3,2

11,1

0,7

0,7

0,8

2,3

Kab. Sukoharjo

849506

1,6

1,6

11,1

0,7

0,7

0,8

1,5

Kab. Tegal

1415009

1,6

4,8

11,1

0,7

0,7

0,8

2,3

Kab. Temanggung

731911

1,6

1,6

11,1

0,7

0,7

0,8

0,8

Kab. Wonogiri

942377

1,6

1,6

11,1

0,7

0,7

0,8

1,5

Kab. Wonosobo

769318

1,6

1,6

11,1

0,7

0,7

0,8

0,8

Kota Magelang

119935

1,6

3,2

11,1

33,3

0,7

3,4

0,8

2,3

Kota Pekalongan

290870

1,6

1,6

11,1

0,7

2,7

0,8

2,3

Kota Salatiga

178594

1,6

3,2

11,1

0,7

1,3

0,8

1,5

Kota Semarang

1644800

1,6

8,1

11,1

22,2

34

0,7

22,8

32

0,8

24,1

Kota Surakarta (Solo)

507825

1,6

4,8

11,1

33,3

28

0,7

18,8

27

0,8

20,3

Kota Tegal

243860

1,6

1,6

11,1

0,7

2,0

0,8

3,8

Lanjutan
Kabupaten/ Kota

Prasarana Transportasi

Jumlah
Penduduk

Kab. Banjarnegara

889921

Kab. Banyumas

1605579

Kab. Batang

729616

Kab. Blora

844444

Kab. Boyolali

951817

Kab. Brebes

1764648

Kab. Cilacap

1676089

Kab. Demak

1094472

Kab. Grobogan

1336304

Kab. Jepara

1153213

Kab. Karanganyar

840171

Kab. Kebumen

1176722

Kab. Kendal

926812

Kab. Klaten

1148994

Bandara

Stasiun

TOTAL ORDE

Pelabuhan

C*T

C*T

C*T

0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25

0
0
0
25
0
0
25
0
0
0
0
0
0
0

0
8
5
5
1
10
18
1
16
0
5
8
4
5

0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8

0
6,3
3,9
3,9
0,8
7,9
14,2
0,8
12,6
0
3,9
6,3
3,1
3,9

0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0

25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25

0
0
0
0
0
0
25
0
0
25
0
0
0
0

3,7
27,7
5,5
37,2
7,8
17,4
73,9
3,7
16,3
31,7
10,8
12,8
9,0
21,5

VI
V
VI
IV
VI
VI
II
VI
VI
V
VI
VI
VI
V

Kab. Kudus

810810

Kab. Magelang

1221681

Kab. Pati

1218016

Kab. Pekalongan

861082

Kab. Pemalang

1279596

Kab. Purbalingga

879880

Kab. Purworejo

705483

Kab. Rembang

608903

Kab. Semarang

974092

Kab. Sragen

871989

Kab. Sukoharjo

849506

Kab. Tegal

1415009

Kab. Temanggung

731911

Kab. Wonogiri

942377

Kab. Wonosobo

769318

Kota Magelang

119935

Kota Pekalongan

290870

Kota Salatiga

178594

Kota Semarang

1644800

Kota Surakarta (Solo)

507825

Kota Tegal

243860

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0

25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25

Sumber: Hasil Perhitungan Adellina, Ajeng, Lala, dan Izzah

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
25
25
0

0
0
0
1
3
0
5
1
3
6
3
6
0
1
0
0
1
0
5
4
2

0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8

0
0
0
0,8
2,4
0
3,9
0,8
2,4
4,7
2,4
4,7
0
0,8
0
0
0,8
0
3,9
3,1
1,6

0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25
25

0
0
25
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
25

7,5
1,6
34,1
5,4
6,1
1,6
10,5
4,4
8,4
10,9
6,2
12,5
3,0
4,6
3,0
42,2
7,3
6,1
106,1
105,4
34,0

VI
VI
V
VI
VI
VI
VI
VI
VI
VI
VI
VI
VI
VI
VI
IV
VI
VI
I
I
V

Dari perhitungan tersebut seperti diatas, maka didapatkan nilai total yang dapat kita gunakan
dalam menentukan orde untuk tiap kabupaten/kotanya. Tahapan-tahapannya adalah sama seperti
penentuan orde untuk analisis skalogram. Setelah dihitung jangkauannya [(total terbesar-total
terkecil)/jumlah orde], didapatkan 17,1 sebagai jangkauannya. Dari jangkauan tersebut maka interval
untuk setiap orde adalah sebagai berikut:
Tabel . 7
Interval Orde

Nilai
I
II
III
IV
V
VI

Interval Kelas
87.6
70.4 - 87.5
53.2 - 70.3
36.0 - 53.1
18.8 - 35.9
1.60 - 18.7

Sumber: Hasil Perhitungan Adellina, Ajeng,Lala, dan Izzah

Dari interval di atas maka akan didapatkan tingkatan orde Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut:
Tabel. 8
Orde Wilayah Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan Analisis Indeks Sentralitas Marshall
No.

Kabupaten/ Kota

TOTAL

ORDE

Kota Semarang

106.1

Kota Surakarta (Solo)

105.4

Kab. Cilacap

73.9

II

Kab. Blora

37.2

IV

Kota Magelang

42.2

IV

Kab. Pati

34.1

Kota Tegal

34.0

Kab. Jepara

31.7

Kab. Banyumas

27.7

10

Kab. Klaten

21.5

11

Kab. Brebes

17.4

VI

12

Kab. Grobogan

16.3

VI

13

Kab. Kebumen

12.8

VI

14

Kab. Tegal

12.5

VI

15

Kab. Sragen

10.9

VI

16

Kab. Karanganyar

10.8

VI

17

Kab. Purworejo

10.5

VI

18

Kab. Kendal

9.0

VI

19

Kab. Semarang

8.4

VI

20

Kab. Boyolali

7.8

VI

21

Kab. Kudus

7.5

VI

22

Kota Pekalongan

7.3

VI

23

Kab. Sukoharjo

6.2

VI

24

Kab. Pemalang

6.1

VI

25

Kota Salatiga

6.1

VI

26

Kab. Batang

5.5

VI

27

Kab. Pekalongan

5.4

VI

28

Kab. Wonogiri

4.6

VI

29

Kab. Rembang

4.4

VI

30

Kab. Banjarnegara

3.7

VI

31

Kab. Demak

3.7

VI

32

Kab. Temanggung

3.0

VI

33

Kab. Wonosobo

3.0

VI

34

Kab. Magelang

1.6

VI

35

Kab. Purbalingga

1.6

VI

Sumber: Hasil Perhitungan Adellina, Ajeng, Lala, dan Izzah

Orde Kecamatan di Provinsi Jawa Tengah


Dari hasil perhitungan skalogram dan Indeks Sentralitas Marshall diatas, maka didapatkan hasil
yang berupa orde Provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari enam orde. Hasil yang didapatkan pada masingmasing analisis disajikan dalam tabel berikut ini :

ORDE

Tabel. 8
Orde Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah
(Perbandingan Hasil Analisis Skalogram dan ISM)
SKALOGRAM

ISM

Kota Semarang
Kab. Cilacap
Kota Surakarta (Solo)

Kota Semarang
Kota Surakarta (Solo)

II

Kab. Klaten
Kab. Blora
Kota Tegal

Kab. Cilacap

III

Kab. Brebes
Kab. Banyumas
Kab. Tegal
Kab. Grobogan
Kab. Pemalang
Kab. Pati
Kab. Kebumen
Kab. Jepara
Kab. Semarang
Kab. Boyolali
Kab. Wonogiri
Kab. Kendal

Kab. Sragen
Kab. Pekalongan
Kab. Sukoharjo
Kab. Karanganyar
Kab. Purworejo
Kota Pekalongan
Kota Magelang
IV

Kab. Demak
Kab. Banjarnegara
Kab. Kudus
Kab. Wonosobo
Kab. Temanggung
Kab. Rembang
Kota Salatiga

Kab. Blora
Kota Magelang

Kab. Batang

Kab. Pati
Kota Tegal
Kab. Jepara
Kab. Banyumas
Kab. Klaten

VI

Kab. Magelang
Kab. Purbalingga

Kab. Brebes
Kab. Grobogan
Kab. Kebumen
Kab. Tegal
Kab. Sragen
Kab. Karanganyar
Kab. Purworejo
Kab. Kendal
Kab. Semarang
Kab. Kudus
Kota Pekalongan
Kab. Sukoharjo
Kab. Pemalang
Kota Salatiga
Kab. Batang
Kab. Pekalongan
Kab. Wonogiri
Kab. Rembang
Kab. Banjarnegara
Kab. Demak
Kab. Temanggung
Kab. Wonosobo
Kab. Magelang
Kab. Purbalingga

Dari tabel diatas dapat dilihat perbedaan orde dari hasil analisis skalogram dan ISM.
Karena pada dasar nya prinsip kedua analisis tersebut berbeda. Prinsip dari analisis skalogram
adalah kelengkapan fasilitas, sehingga jumlah atau banyak nya fasilitas tidak akan
mempengaruhi. Sedangkan pada analisis ISM mempertimbangkan jumlah fasilitas yang ada. Jadi
ketika kabupaten/kota tersebut memiliki kelengkapan yang sama dengan kecamatan lain tetapi

jika jumlah fasilitasnya berbeda maka orde kecamatan tersebut bisa berbeda. Pada tabel
tingkatan orde analisis ISM di atas pada kolom orde III kosong. Hal ini dikarenakan pembagian
orde berdasarkan pada interval yang ada pada tabel. 6 Orde III kosong karena nilai total yang
terlalu berbeda untuk tiap kabupaten/kota. Ini berarti persebaran dari fasilitas-fasilitas tersebut
tidak merata, karena ada kabupaten/kota yang nilai totalnya sangat besar dan ada juga
Kabupaten/Kota yang nilai ordenya sangat kecil. Maka dari itu untuk orde III kosong karena
tidak ada Kabupaten/Kota yang nilai totalnya sesuai dengan interval yang telah dihitung.
Kesimpulan
Analisis Skalogram dan ISM dapat digunakan untuk menentukan orde untuk tiap-tiap
kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan hasil analisis terdapat perbedaan
antara orde yang dihasilkan dari analisis skalogram dan orde berdasarkan analisis ISM. Karena
memang kedua analisis tersebut memiliki prinsip yang berbeda. Menurut perhitungan yang telah
dilakukan, hasil analisis akan lebih akurat jika menggunakan analisis ISM. Hal ini dikarenakan
analisis ISM mempertimbangkan jumlah fasilitas yang ada sedangkan pada analisis Skalogram
diabaikan. Meskipun demikian, perhitungan skalogram menghasilkan tingkatan yang baik (tidak
ada tingkat orde yang kosong). Oleh karena itu meskipun kelengkapan antar kabupaten/kota
sama tetapi ordenya akan berbeda karena jumlah fasilitas yang ada pada setiap kabupaten/kota
pun pasti berbeda.
Berdasarkan hasil yang didapatkan, melalui analisis perhitungan Skalogram, tingkat
tertinggi (orde I) ditempati oleh Ibukota Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kota Semarang. Selain itu,
ada dua kabupaten/kota lain, yakni Kota Surakarta dan Kabupaten Cilacap. Sedangkan orde
terendah (orde VI) ditempati oleh Kabupaten Magelang dan Purbalingga. Sebagian besar
kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah menduduki orde III.
Begitu halnya dengan perhitungan ISM, Kota Semarang dan Kota Surakarta menduduki
orde tertinggi (orde I). Namun, sebagian besar kabupaten/kota justru berada di orde VI. Dengan
demikian, dapat disimpulkan jika terdapat dua Kota, yaitu Kota Semarang dan Kota Surakarta
yang secara perhitungan memiliki nilai yang terbaik dibanding kabupaten/kota di Provinsi Jawa
Tengah. Hal ini dibuktikan pula dengan kondisi lapangan yang ada bahwa Kota Semarang dan
Kota Surakarta merupakan kota dengan perkembangan ekonomi yang baik.