Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada umumnya obat dalam bentuk larutan tidak stabil disebabkan karena
obat merupakan senyawa kimia dalam bentuk tertentu akan mengalami
penguraian dengan proses oksidasi reduksi. Obat yang mengalami proses
penguraian ini tidak berkhasiat atau justru memiliki efek toksik. Mengingat hal ini
maka studi tentang kestabilan suatu obat sangatlah diperlukan.
Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam
membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini penting, mengingat suatu obat
atau sediaan farmasi biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan
memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke tangan pasien yang
membutuhkannya.
Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat padat dilakukan dengan
cara kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu yang lama. Sehingga
praktis digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam
penentuan kestabilan suatu zat dengan cara kinetika kimia adalah kecepatan
reaksi, faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi, serta tingkat reaksi dan
cara penentuannya.
Stabilitas obat mencakup masalah kadar obat yang berkhasiat. Bila suatu
obat stabil artinya dalam waktu relatif lama obat akan berada dalam keadaan
semula, tidak mengalami perubahan atau jika berubah masih dalam batas yang
sesuai persyaratan.

Pengusaha obat harus dengan jelas menunjukkan bahwa bentuk obat atau
sediaan yang dihasilkan cukup stabil sehingga dapat disimpan dalam jangka
waktu yang cukup lama, dimana obat tidak berubah menjadi zat tidak berkhasiat
atau racun. Dokter dan penderita harus diyakinkan bahwa obat yang ditulis atau
digunakannya akan sampai pada tempat pengobatan dalam konsentrasi yang
cukup untuk mencapai efek pengobatan yang diinginkan.
Sebagai seorang farmasis sangat penting bagi kita untuk mengetahui pada
keadaan bagaimana suatu obat tersebut aman dan dapat bertahan lama, sehingga
obat tersebut dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa menurunkan
khasiat obat tersebut.
B. Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan
suatu bahan obat.
C. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menerangkan faktor-faktor
yang mempengaruhi kestabilan sirup parasetamol, menentukan energi aktivasi
dari reaksi penguraian sirup parasetamol, dan menentukan usia simpan sirup
parasetamol.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Obat dapat dipecah baik dalam larutan atau bentuk padatan seperti tablet
atau serbuk. Cara yang sering digunakan untuk mengetahui obat apa yang
kemungkinan besarnya mengalami dekomposisi adalah dengan melihat golongan
bahan kimia khusus pada obat dari strukturnya (Attwood, 2007).
Dekomposisi dapat didefinisikan sebagai hidrolisis, oksidasi, isomerasi,
epimerisasi, dan fotolisis, serta proses yang dapat mempengaruhi sediaan cair,
padat dan semi padat (Sinko, 2005).
Stabilitas obat adalah suatu pengertian yang mencakup masalah kadar obat
yang berkhasiat. Batas kadar obat yang masih tersisa 90% tidak dapat lagi atau
disebut sebagai sub standar waktu yang diperlukan hingga tinggal 90% disebut
umur obat ( Martin, 1993 ).
Obat dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan untuk
dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah
penyakit pada manusia atau hewan. Salah satu kualitas obat yang paling
mengherankan ialah mempunyai beraneka ragam kerja dan efek pada tubuh.Untuk
menjamin stabilitas obat dalam suatu formulasi dan efektifitas kelanjutannya
sepanjang umur obat pada lazimnya, maka prinsip-prinsip kimia, fisika farmasi,
mikrobiologi dan teknologi farmasi harus diterapkan. Formulasi harus sedemikian
rupa sehingga semua komponennya secara fisik dan kimia terpadu, termasuk pula
unsur terapeutik yang aktif, bahan penolong dalam farmasi dan bahan

kemasannya. Formula harus dijaga agar tidak terurai akibat perubahan sifat
kimiawinya dan terlindung dari kontaminasi mikroba serta pengaruh panas,
cahaya dan kelembaban yang merusak (Ansel, 1989).
Penelitian stabilitas tidak dapat dielakkan lagi sejak pada pengembangan
obat baru. Orientasi pertama percobaan, yang dilakukan dengan zat sebagai
larutan, yang bertujuan untuk menjelaskan apakah senyawanya sedemikian stabil,
sehingga kerja pengembangan selanjutnya dapat dibenarkan dan untuk
menghindari interpretasi salah dari hasil pengetesan secara farmakologis dan
teknokologis. Tahap kedua menggambarkan suatu seleksi untuk mendapatkan
reseptur yang sedapat mungkin optimal. Dari sini diperoleh, penjelasan stabilitas
bahan obat dalam keberadaan dari bahan pembentukan dan di bawah pengamatan
teknologi pembuatannya dan jika perlu untuk mendapatkan usaha penstabilan
yang cocok. Akhirnya obat yang telah diformulasikan harus dilakukan adalah
pengujian stabilitas penutup. Di bawah stabilitas diartikan adalah bahwa obat,
bahan obat, sediaan obat, jika disimpan dibawah persyaratan penyimpanan
tertentu didalam pengemasannya yang tertentu untuk penyimpanan dan lalu
lintasnya, tidak atau hanya berubah dalam suatu skala yang diizinkan dalam sifat
khas kualitasnya yang penting (Voigt, 1995).
Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi juga oleh pengaruh pH,
dimana reaksi penguraian dari beberapa larutan obat dapat dipercepat dengan
penambahan asam (H+) atau basa (OH ) dengan menggunakan katalisator yang
dapat mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi dan tidak dipengaruhi dari reaksi
(Ansel, 1989).

Ada beberapa pendekatan untuk kestabilan dari preparat preparat farmasi


yang mengandung obat-obat yang cenderung mengurangi dengan hidrolisis.
Barangkali paling nyata adalah reduksi atau eliminasi air dari sistem farmasi,
bahkan bentuk-bentuk sediaan obat obat labil air harus dilindungi dari
kelembaban atmosfer. Ini dapat dibantu dengan menggunakan suatu penyalut
pelindung tahan air menyelimuti tablet atau dengan menutup dan menjaga obat
dalam wadah tertutup kuat (Lachman, 1994).
Stabilitas fisik dan kimia bahan obat baik tersendiri dengan bahan-bahan
dari formulasi yang merupakan kriteria paling penting untuk menentukan suatu
stabilitas kimia dan farmasi serta mempersatukannya sebelum memformulasikan
menjadi bentuk-bentuk sediaan (Ansel, 1989).
Untuk obat-obat tertentu, satu bentuk kristal atau polimorf mungkin lebih
stabil daripada lainnya, hal ini penting supaya obat dipastikan murni sebelum
diperiksa percobaan uji stabilitasnya dan suatu ketidakmurnian mungkin
merupakan katalisator pada kerusakan obat atau mungkin menjadikan dirinya
tidak akan mengubah penampilan fisik bahan obat dan suatu kestabilan obat yang
sempurna (Parrot, 1968).
Pada masa lalu banyak perusahaan farmasi mengadakan evaluasi
mengenai kestabilan sediaan farmasi dengan pengamatan selama 1 tahun atau
lebih sesuai dengan waktu normal yang diperlukan dalam penyimpanan dan dalam
penggunaan. Metode seperti itu memakan waktu dan tidak ekonomis. Penelitian
yang dipercepat pada temperatur tinggi juga banyak dilakukan oleh banyak
perusahaan, tetapi kriterianya sering merupakan kriteria buatan yang tidak

didasarkan pada prinsip-prinsip dasar kinetik. Contohnya, beberapa perusahaan


menggunakan aturan bahwa penyimpanan cairan pada 370 mempercepat
penguraian 2 kali lajunya pada temperatur normal, sementara perusahaan lain
mengandaikan bahwa kondisi tersebut mepercepat penguraian dengan 20 kali laju
normal, telah dibuktikan bahwa koefisien temperatur buatan dan kestabilan tidak
dapat diterapkan pada sediaan-sediaan cair dan sediaan farmasi yang lain.
Perkiraan waktu penyimpanan harus diikuti dengan analisis yang dirancang secara
hati-hati untuk bermacam-macam bahan dalam tiap produk jika hasilnya cukup
berarti (Martin, 1993).
Dahulu untuk mengevaluasi kestabilan suatu sediaan farmasi dilakukan
pengamatan pada kondisi dimana obat tersebut disimpan. Misalnya pada
temperature kamar. Ternyata metode ini memerlukan waktu yang lama dan tidak
ekonomis. Sekarang waktu mempercepat analisis dapat dilakukan test stabilitas
dipercepat yaitu dengan mengamati perubahan konsentrasi pada suhu tinggi.
Dengan membandingkan dua harga K pada temperatur yang berbeda dapat
dihitung energi aktivasinya sehingga K pada suhu kamarpun dapat dihitung.
Harga K pada suhu kamar dapat juga dihitung dari grafik antara log 1 dengan 1/T.
Dengan demikian batas kadaluarsa suatu sediaan farmasi dapat diketahui dengan
tepat (Ansel, 1989).
Apabila bentuk sediaan dari suatu obat diubah, (misalnya dengan
dilarutkan dalam suatu cairan, diserbuk atau pun ditambahkan bahan-bahan
penolong lain), atau juga dilakukan modifikasi terhadap kondisi lingkungan dari
obat itu sendiri yaitu misalnya dengan mengubah-ubah kondisi penyimpanannya

dan lain sebagainya, maka dengan demikian stabilitas obat yang bersangkutan
mungkin juga akan terpengaruh (Ansel, 1989).
Laju atau kecepatan suatu reaksi diberikan sebagai dC/dt. Artinya tejadi
penambahan (+) dan pengurangan (-) konsentrasi C dalam selang waktu dt. Pada
pembentukan etil asetat dari etil alkohol dan asam asetat (Voigt, 1995) :
CH3COOH + C2H5OH

CH3COOC2H5 + H2

Laju reaksi kekanan dalam reaksi diatas dapat ditentukan dengan pengukuran
konsentrasi asam asetat atau etanol selama berlangsungnya reaksi (Voigt, 1995).
Dalam hukum aksi massa, suatu garis lurus didapat apabila laju reaksi
diplet sebagai fungsi dari konsentrasi reaktan dipangkatkan dengan bilangan
tetentu. Orde reaksi keseluruhan adalah jumlah pangkat konsentrasi-konsentrasi
yang menghasilkan sebuah garis lurus. Orde bagi tiap reaktan adalah pangkat dari
tiap konsentrasi reaktan (Voigt, 1995).
Konstanta laju spesifik k yang ada dalam hukum laju yang digabung
dengan reaksi elementer, disebut konstanta laju spesifik untuk reaksi itu. Setiap
perubahan dalam kondisi reaksi, seperti temperatur, pelarut atau sedikit perubahan
dari suatu komponen yang terlihan dalam reaksi akan menyebabkan hukum laju
reaksi yang mempunyai harga yang berbeda untuk konstanta laju spesifik. Secara
eksperimen, satu perubahan konstanta laju spesifik berhubungan terhadap
perubahan dalam kemiringan garis yang diberikan oleh persamaan laju (Martin,
1993).
Sejumlah besar zat kemoterapi modern ini adalah asam lemah atau basa
lemah. Kelarutan zat-zat ini dapat dengan mudah atau nyata dipengaruhi oleh pH

lingkungan. Melalui pemakaian hukum aksi massa , kelarutan obat obat asam
asam lemah maupun basa basa lemah dapat diramalkan, sebagai fungsi pH,
dengan derajat ketetapan yang besar. Dalam memilih pH lingkungan untuk
kelarutan yang memadai ada beberapa faktor yang lainnya yang perlu
diperhatikan, pH memenuhi persyratan kelarutan tidak harus bertentangan dengan
persyaratan produk lain. Jika pH kritis untuk menjaga kelarutan obat, sistem
tersebut harus dapar dalam kisaran pH yang diinginkan, dapar harus aman secara
biologis, mempunyai sedikit atau tidak mempunyai efek merusak terhadap
stabilitas produk akhir (Lachman, 1994).
Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan
cara kinetika kimia. Cara ini memerlukan waktu yang ama sehingga praktis
digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam
penentuan kestabilan suatu zat kinetika kimia adalah ( Martin, 1993) :
1. Kecepatan reaksi
Kecepatan atau laju suatu reaksi diberikan sebagai dC/dt. Artinya
terjadi penambahan (+) atau pengurangan (-) konsentrasi C dalam selang waktu
dt. Menurut hokum aksi massa, laju suatu reaksi kimia sebanding hasil kali dari
konsentrasi molar reaktan yang masing-masing dipangkatkan dengan angka
yang menunjukkan jumlah molekul dari zat-zat yang ikut serta dalam reaksi.
Dalam reaksi :
aA + bB + .. = Produk
laju reaksinya adalah :
Laju = - 1/a d(A)/dt

= -1/b d(B)/dt = = k(A)a(B)b


k adalah konsentrasi laju. Laju berkurang masing-masing komponen reaksi
diberikan dalam bentuk jumlah mol ekuivalen masing-masing komponen yang
ikut serta dalam reaksi.
2. Orde reaksi
Dari hukum aksi massa, suatu garis lurus di dapat bila laju reaksi
diplot

sebagai fungsi dari konsentrasi reaktan dipangkatkan dengan bilangan

tertentu. Orde reaksi keseluruhan adalah jumlah pangkat konsentrasikonsentrasi yang menghasilkan seluruh garis lurus. Orde bagi tiap reaktan
adalah pangkat dari tiap konsentrasi reaktan.
3. Temperatur
Sejumlah faktor lain, selain konsentrasi dapat mempengaruhi
kecepatan reaksi. Diantaranya adalah temperature, pelarut, katalis dan sinar.
Kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira dua atau tiga kalinya tiap
kenaikan 10C. Pengaruh temperature terhadap laju ini diberikan dengan
persamaan yang pertama kali dikemukakan oleh Arrhineus.
k = Ae-Ea/RT
atau
log k = log A

Ea
2,303

Dimana laju spesifik,

. 1
RT
A adalah konstanta yang disebut faktor

frekuensi, Ea adalah energi aktifasi R adalah konstanta gas, 1,987 kalori/derajat

mol, dan T adalah temperature absolute. Konstanta itu dapat dicari dengan
menentukan k pada berbagai temperature dan memplot 1/T terhadap log k.
4. Kekuatan ion
Pengaruh kekuatan ion terhadap kecepatan reaksi dapat dilihat dari
persamaan berikut :
Log K = log ko + 1,02 zAzB
Dimana :
K = Konstanta kecepatan penguraian pada kekuatan ion tertentu
ko = Konatanta kecepatan penguraian pada kekuatan ion = 0
z

= Muatan ion

= Kekuatan ion
5. Pengaruh pH
Reaksi penguraian beberapa larutan obat dapat dipercepat dengan
penambahan asam (H+) atau basa (OH-). Katalisator ini disebut katalisator
asam basa khusus. Misalnya pada reaksi hidrolisa ester (S) dalam air (R).
S + R ---------- P
S + H+ ---------- SH+
SH+ + R ====== P
Skema reaksi umum ini menganggap bahwa hasil reaksi P pada reaksi
hidrolisis ini tidak bergantung kembali membentuk ester.
Untuk reaksi ini pada umumnya, laju pembentukan hasil reaksi dinyatakan
dengan :
dP
dt

= k (SH+)
(S)(H+)

konsentrasi asam konjugat SH+ merupakan jumlah yang dapat diukur, karena
pra-kesetimbangan membutuhkan :
K = (SH+)
(S)(H+)
Sehingga :
(SH+) = K (S)(H+)
Dan :
dP = kK(S)(H+)
dt
6. Konstanta dielektrik ( Sinko, 2005)
Efek konstanta dielektrik pada konstanta kecepatan suatu reaksi ionik
yang diekstrak ke pengenceran hingga ketika efek kekuatan ionik adalah nol.
Seringkali merupakan bagian informasi yang penting dalam pengembangan
sediaan obat baru.
B. Uraian Bahan
1. Air suling (Ditjen POM ,1979)
Nama resmi

: AQUA DESTILATA

Nama lain

: Air suling

RM / BM

: H2O / 18,02

Pemerian

: Cairan jernih, tidak

berwarna, tidak berbau,

tidak mempunyai rasa.


Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: Sebagai pelarut

2. Parasetamol (Ditjen POM, 1979)


Nama Resmi

: ACETAMINOPHENUM

Nama Lain

: Asetaminofen

RM / BM

: C8H9NO2/ 151,16

Pemerian

: Hablur atau

serbuk hablur

putih ; tidak

berbau; rasa pahit


Kelarutan

: Larut dalam 70 bagian air,7 bagian etanol ,


(95%) P , dalam 18 bagian aseton P, dalam
40 bagian gliserol P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: Analgetikum; antipiretikum.
C. Prosedur Kerja (Anonim, 2014)

a. Penentuan panjang gelombang maksimal


Sejumlah baku pembanding paracetamol ditimbang saksama dan
diencerkan dengan air suling hingga diperoleh konsentrasi 1000 ppm. Sejumlah
larutan ini di pipet ke dalam labu ukur dan diencerkan dengan aquades sampai
tanda hingga konsentrasinya 50 ppm, kemudian diukur serapannya pada
rentang panjang gelombang 200-300. Selanjutnya dibuat kurva antara serapan
terhadap penjang gelombang.
b. Penentuan kurva baku
Larutan paracetamol dibuat dengan konsentrasi bervariasi. Kemudian
masing-masing konsentrasi diukur serapannya pada panjang gelombang
maksimal. Selanjutnya dibuat kurva antara serapan terhadap konsentrasi.

c. Penetapan kadar paracetamol


Penetapan kadar timbang saksama 1,5 g. Tambahkan 100 ml air dan 20
ml natrium hidroksida 0,1 N, encerkan dengan air secukupnya hingga 200,0 ml
pada 5,0 ml, tambahkan 9,5 ml natrium hidroksida 0,1 N, encerkan dengan air
secukupnya hingga 100,0 ml. Ukur serapan. Hitung bobot zat dalam mg.
d. Penentuan umur simpan sirup paracetamol
Sirup paracetamol dimasukkan ke dalam 21 vial masing-masing
sebanyak 5 ml, kemudian vial-vial tersebut dimasukkan ke dalam oven dengan
suhu 400 C, 500 C, dan 600 C, pada jam ke 0, 30, 60, 90, 120, 150 dan 180
menit diambil 1 vial dan diukur kadar paracetamol.
e. Penetapan kadar sirup paracetamol
Sirup paracetamol sebanyak 1 ml ditambahkan larutan natrium
hidroksida 0,1 N, hingga 10 ml kemudian dipipet sebanyak 1 ml ditambahkan
air hingga 50 ml. Ukur serapannya. Hitung bobot zat dalam mg dalam sirup.

BAB III

METODE KERJA
A. Alat
Batang pengaduk, botol semprot, gelas ukur 10 ml, kertas timbang ,
kuvet, labu takar 10 ml, labu takar 50 ml, labu takar 100 ml, oven, sendok tanduk,
spektrofotometer, spoit 1 ml, stopwatch,timbangan, dan vial.
B. Bahan
Bahannya adalah aquadest, parasetamol, dan sirup parasetamol.
C. Cara Kerja
1.

Penentuan kurva baku


Dipipet larutan paracetamol lalu dibuat larutan dengan konsentrasi
100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, dan 450 ppm. Dilarutan
paracetamol yang telah dipipet dimasukkan ke dalam labu ukur lalu cukupkan
dengan aquadest hingga 10 ml. Lalu dihomogenkan. Kemudian dimasukkan
larutan tersebut ke dalam kuvet, hitung serapannya pada panjang gelombang
maksimal.

2.

Penentuan umur simpan sirup paracetamol


Dimasukkan sirup paracetamol ke dalam 15 vial masing-masing
sebanyak 5 ml. Kemudian diamsukkan ke dalam oven pada suhu 40C, 50C,
dan 60C. Kemudian dikeluarkan vial yang berisi sirup paracetamol setiap
menit ke-0, 15, 30, 45, dan 60 dan dicukupkan dengan air hingga 10 ml.
Kemudian larutan dimasukkan ke dalam kuvet. Setelah itu diukur panjang
gelombang menggunakan spektrofotometer.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan

a. Penentuan panjang gelombang maksimal


Panjang gelombang (nm)
200
210
220
230
240
250
260
270
280
290
300
310

Absorban
0,04
0,013
0,026
0,022
0,031
0,031
0,029
0,044
0,02
0,434
0,221
0,021

b. Penentuan kurva baku


Konsentrasi Absorban
100

0,236

150

0,316

200

0,435

300

0,602

400

0,726

450

0,806

c. Tabel absorban dan konsentrasi sirup paracetamol


Suhu
40

Waktu
0
15

Absorban
2,622
2,616

Konsentrasi
15633,52869
15596,5145

log c
1/C
4,194057015 6,39651E-05
4,193027553 6,41169E-05

30
45
60
0
15
30
45
60
0
15
30
45
60

50

60

2,617
2,575
2,576
2,6
2,638
2,636
2,598
2,62
2,602
2,589
2,577
2,596
2,633

15602,68353
15343,58421
15349,75324
15497,80999
15732,23319
15719,89513
15485,47193
15621,19062
15510,14806
15429,95065
15355,92227
15473,13387
15701,38803

4,1931993
4,185926821
4,186101398
4,190270332
4,196790375
4,196449644
4,189924445
4,193714132
4,190615944
4,188364537
4,186275905
4,189578283
4,195938047

6,40915E-05
6,51738E-05
6,51476E-05
6,45252E-05
6,35638E-05
6,36137E-05
6,45767E-05
6,40156E-05
6,44739E-05
6,4809E-05
6,51215E-05
6,46281E-05
6,36886E-05

d. Tabel Penentuan orde reaksi

40

50

60

a
b
r
a
b
r
a
b
r

orde 0
15669,30907
-5,469874563
-0,892075161
15669,30907
-1,21266E-14
-2,44765E-15
15408,97594
2,837754473
0,520521285

orde 1
4,195064811
-0,00015341
-0,89181808
4,193425452
1,44468E-07
0,001047919
4,187782953
7,9053E-05
0,518800618

e. Tabel Penentuan Nilai K


suhu
40
50
60

Suhu
25
40
50
60

b
-5,469874563
-1,21266E-14
2,837754473

Suhu (K)
298
313
323
333

k
5,469874563
1,21266E-14
2,837754473

1/T
K
0,003356
0,003195 5,469874563
0,003096 1,21266E-14
0,003003 2,837754473

log K
0,737977
-13,9163
0,452975

orde 2
6,38146E-05
6,41507E-05
6,39294E-05
6,38339E-05
6,38339E-05
6,40603E-05
6,40295E-05
6,45276E-05
6,48291E-05

B. Pembahasan
Pada umumnya obat dalam bentuk larutan tidak stabil sebab obat tersebut
mengandung air sehingga senyawa kimia yang terkandung dalam waktu tertentu
mengalami penguraian, khususnya bentuk ester yang mengalami hidrolisa. Selain
itu obat juga dapat terurai karena proses penguraian ini ada yang sama sekali tidak
berkhasiat justru memiliki efek toksik.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menerangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kestabilan suatu zat, menentukan energi aktivasi dari reaksi
penguraian suatu zat, dan menentukan usia simpan suatu zat.
Adapun hasil yang didapatkan dari percobaan panjang gelombang
maksimal yaitu nilai absorban tertinggi sebesar 0,434 ppm. Hasil ini sesuai
dengan teori bahwa nilai absorban yang baik adalah dengan rentang 0,2 - 0,8 ppm.
Pada percobaan ini juga ditentukan t90 dimana waktu kadaluwarsa (t90)
adalah waktu yang diperlukan untuk reaktan mengalami degradasi 10%, hal ini
dilakukan untuk mengetahui batas pemakaian dan jangka waktu stabilitas suatu
sediaan.
Dari percobaan yang dilakukan diperoleh t1/2 dari sampel parasetamol
suhu 40OC yaitu -2,50 x 1024 menit, suhu 50OC yaitu 5,25 x 1024 menit, dan suhu
60OC yaitu -1,05 x 1024 menit. Dan t90 dari sampel parasetamol pada suhu 40OC
yaitu 5,19 x 1024 menit, suhu 50OC yaitu -1,05 x 1024 menit dan suhu 60OC yaitu 2,11 x 1024 menit.
Pada praktikum stabilitas obat ini bahan yang digunakan adalah
paracetamol. Dimana dilakukan penentuan stabilitas obat paracetamol dengan

menggunakan metode grafik berdasarkan nilai konstanta kecepatan reaksi, waktu


paruh (T1/2) dan T90 (waktu kadaluarsa) untuk penentuan umur simpan tablet
paracetamol dan menggunakan alat spektrofotometer pada berbagai suhu yaitu
40 C, 50C, dan 60C.
Variasi suhu yang digunakan dalam percobaan yaitu 40oC, 50oC dan 60oC
pada interval waktu 0, 10, 20, 35, 40, 50, dan 60 menit. Maksud dari dilakukannya
variasi suhu tersebut yaitu agar diketahui pada suhu berapa suatu sediaan secara
optimum dapat stabil dan untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap
kecepatan reaksi suatu obat. Selain itu juga untuk membuktikan teori Archenius
bahwa setiap kenaikan 10oC laju reaksi akan naik 2-3 kali dari sebelumnya.
Penggunaan oven pada saat praktikum adalah untuk melakukan
pemanasan dan menguji bahwa adanya pengaruh suhu terhadap umur simpan
sirup parasetamol. Panjang gelombang yang digunakan adalah 200-231 nm
Penggunaan kurva baku adalah untuk melihat dengan mudah penurunan atau
kenaikan absorban terhadap konsentrasi.
Tingkat reaksi dan cara penentuannnya dalam percobaan ini kita akan
menentukan energi aktivasi (Ea) dimana Ea yaitu kemampuan suatu sediaan untuk
dapat mengalami penguraian zat. Energi aktivasi (Ea) harus ditentukkan dengan
cara mengamati perubahan konsentrasi pada suhu tinggi, dengan membadingkan
dua harga konstanta penguraian zat pada temperatur atau suhu yang berbeda
sehingga dapat ditentukkan energi aktivasinya. Dengan demikian batas kadaluarsa
suatu sediaan farmasi dapat diketahui dengan tepat.

Paracetamol merupakan zat analgesik turunan dari senyawa anilin yang


diperoleh melalui asetilasi p-aminofenol. Keberadaan p-aminofenol dalam suatu
sediaan obat sangat dihindari karena sifatnya yang toksik. Sehingga suatu sediaan
obat yang mengandung zat aktif paracetamol harus diperhatikan kualitasnya.
Temperatur dan penyimpanan dari suatu sediaan obat dapat mempengaruhi
stabilitas paracetamol.
Aplikasi stabilitas obat dalam bidang farmasi yakni kestabilan suatu zat
merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu
sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi
dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang lama dapat mengalami
penguraian dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien berkurang. Adakalanya
hasil urai tersebut bersifat toksis sehingga membahayakan jiwa pasien. Oleh
karena itu perlu diketahui faktor-faktor mempengaruhi kestabilan suatu zat
sehingga dapat dipilih kondisi pembuatan sediaan yang tepat sehingga kestabilan
obat terjaga.

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan


bahwa dalam percobaan panjang gelombang maksimal didapatkan panjang
gelombang maksimal yaitu 0,434 ppm.
B. Saran
Sebaiknya

para

praktikan

mempersiapkan

segala

sesuatu

yang

berhubungan dengan praktikum (alat, bahan, dan atribut) dengan baik dan tidak
membuat keributan saat berada di dalam laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Fakultas Farmasi UMI.


Makassar
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi IV. Diterjemahkan oleh
Farida Ibrahim, UI-press, Jakarta.

Attwood, David. 2007. Physical Pharmacy. London : TJ International, Padstow,


Cornwall
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.Departemen kesehatan
Indonesia RI, Jakarta.
Lachman. L. 1994.Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III.UI-press.
Martin, A.dkk. 1993. Farmasi Fisika Edisi III ., UI press, Jakarta.
Parrot, ER. J. 1968. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceuties.
Burgess Publishing Company. Minneapolis.
Sinko, P., 2005. Martins Physical Pharmacy and Pharmaceutical Science 5th
Edition. Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore
Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.UGM Press Yogyakarta.

LAMPIRAN
1. Skema Kerja
a. Penentuan kurva baku

Dipipet sejumlah larutan paracetamol

Dibuat larutan dengan konsentrasi 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 300 ppm,
400 ppm, dan 450 ppm.

Dilarutan paracetamol yang telah dipipet tadi dimasukkan ke dalam labu ukur
lalu cukupkan dengan aquadest hingga 10 ml.

Dihomogenkan dan dimasukkan larutan tersebut ke dalam kuvet

Hitung serapannya pada panjang gelombang maksimal.

b. Penentuan umur simpan sirup paracetamol


Dimasukkan sirup paracetamol ke dalam 15 vial masing-masing sebanyak 5
ml.

Dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40C, 50C, dan 60C.

Dikeluarkan vial yang berisi sirup paracetamol setiap menit ke-0, 15, 30, 45,
dan 60

Dicukupkan dengan air hingga 10 ml.

Dimasukkan ke dalam kuvet. Setelah itu diukur panjang gelombang


menggunakan spektrofotometer..

LAMPIRAN
Perhitungan
1.

Pembuatan larutan
M=

0,1 =
4 = 20 x
x = 0,2 gram
2.

Pengenceran larutan
V1. M1 = V2.M2
x . 1000 ppm = 10 . 100ppm
x=

3.

Perhitungan Kosentrasi
Pesamaan garis y = a + bx

1. x pada suhu 40oC


a) x suhu 40oC pada menit ke 0

517,4196 ppm
b) x suhu 40oC pada menit ke 10

x =
c) x suhu 40oC pada menit ke 20

d) x suhu 40oC pada menit ke 30

e) x suhu 40oC pada menit ke 40

f) x suhu 40oC pada menit ke 50

g) x suhu 40oC pada menit ke 60

ppm
2. x pada suhu 50oC

a) x pada suhu 50oC pada menit ke 0

b) x pada suhu 50oC pada menit ke 10

c) x pada suhu 50oC pada menit ke 20

d) x pada suhu 50oC pada menit ke 30

e) x pada suhu 50oC pada menit ke 40

f)

x pada suhu 50oC pada menit ke 50

g) x pada suhu 50oC pada menit ke 60

3.

x pada suhu 60oC


a) x pada suhu 60oC pada menit ke 0

b) x pada suhu 60oC pada menit ke 10

c) x pada suhu 60oC pada menit ke 20

d) x pada suhu 60oC pada menit ke 30

e) x pada suhu 60oC pada menit ke 40

f)

x pada suhu 60oC pada menit ke 50

g) x pada suhu 60oC pada menit ke 60

4.

Perhitungan Log C
a. Log C pada suhu 40oC
1. Log C pada waktu 0
Log C = log 517,4195937
= 2,713843
2. Log C pada waktu 10
Log C = log 516,0495133
= 2,712691
3. Log C pada waktu 20
Log C = log 515,6580618
= 2,712362
4. Log C pada waktu 30
Log C = log 511,7435463
= 2,709052
5. Log C pada waktu 40
Log C = log 513,708041
= 2,71071

6. Log C pada waktu 50


Log C = log 515,462336
= 2,712197
7. Log C pada waktu 60
Log C = log 517,4195927
= 2,713843
b. Log C pada suhu 50oC
1. Log C pada waktu 0
Log C = log 511,156369
= 2,708554
2. Log C pada waktu 10
Log C = log 513,8965298
= 2,710876
3. Log C pada waktu 20
Log C = log 522,312738
= 2,717931
4. Log C pada waktu 30
Log C = log 514,4837072
= 2,711372
5. Log C pada waktu 40
Log C = log 512,3307237
= 2,70955
6. Log C pada waktu 50

Log C = log 517,0281422


= 2,713514
7. Log C pada waktu 60
Log C = log 512,7221752
= 2,709882

c. Log C pada suhu 60oC


1. Log C pada waktu 0
Log C = log 489,039567
= 2,689344
2. Log C pada waktu 10
Log C = log 497,0641134
= 2,696412
3. Log C pada waktu 20
Log C = log 571,6356327
= 2,757119
4. Log C pada waktu 30
Log C = log 519,1811257
= 2,715319
5. Log C pada waktu 40
Log C = log 490,6638807
= 2,690784
6. Log C pada waktu 50

Log C = log 496,4769361


= 2,695899
7. Log C pada waktu 60
Log C = log 485,3205671
= 2,686029
5.

Perhitungan nilai 1/C


f. Nilai 1/C pada suhu 40oC
1. 1/C pada waktu 0

= 0,001933
2. 1/C pada waktu 10

= 0,001938
3. 1/C pada waktu 20

= 0,001939
4. 1/C pada waktu 30

= 0,001954
5. 1/C pada waktu 40

= 0,001947
6. 1/C pada waktu 50

= 0,00194
7. 1/C pada waktu 60

= 0,001933
g. Nilai 1/C pada suhu 50oC
1. 1/C pada waktu 0

= 0,001956
2. 1/C pada waktu 10

= 0,001946
3. 1/C pada waktu 20

= 0,001915
4. 1/C pada waktu 30

= 0,001944

5. 1/C pada waktu 40

= 0,001952

6. 1/C pada waktu 50

= 0,001934
7. 1/C pada waktu 60

= 0,00195
h. Nilai 1/C pada suhu 60oC
1. 1/C pada waktu 0

= 0,002045
2. 1/C pada waktu 10

= 0,002012
3. 1/C pada waktu 20

= 0,001749

4. 1/C pada waktu 30

= 0,001926

5. 1/C pada waktu 40

= 0,002038
6. 1/C pada waktu 50

= 0,0020014
7. 1/C pada waktu 60

= 0,00206