Anda di halaman 1dari 7

Pengaruh jumlah perawatan gigi terhadap self-report kesehatan mulut pada

pasien yang berkunjung ke University College of Dentistry Lahore


Abstrak
Tujuan penelitian ini yaitu untuk memeriksa pengaruh jumlah perawatan gigi terhadap selfreport kesehatan mulut pasien yang datang ke University College of Dentistry Hospital,
Lahore. Penelitian cross sectional pada 660 peserta dilakukan di Bagian Periodontologi,
Universitas Lahore dari bulan Maret 2011 sampai Maret 2012. Pemeriksaan rongga mulut
dilakukan oleh pemeriksa yang terlatih dilanjutkan dengan kuisioner yang diisi sendiri yaitu
global oral health transition (GOHT) statement untuk menunjukkan perubahan pada kualitas
hidup yang berhubungan dengan kesehatan mulut (OHRQoL). Jumlah yang lebih besar
secara statistik pasien yang menerima enam atau lebih perawatan gigi dalam satu tahun
terakhir memiliki perkembangan pada self-report kesehatan mulut daripada pasien yang
menerima lebih sedikit dari enam perawatan atau tidak sama sekali (p=<0,01). Dari putative
confounder, adanya penyakit mulut pada dasar (p=<0,01), butuh perawatan (p<0,01),
biasanya datang ke dokter gigi saat punya masalah gigi (p<0,05), serta memiliki kesulitan
membayar biaya dokter gigi Rs 1000($10) (p=<0,01) sangat berhubungan dengan kesehatan
mulut yang tetap sama atau semakin menurun. Mengalami enam atau lebih perawatan gigi
sangat berhubungan dengan peningkatan kesehatan mulut daripada lebih sedikit dari enam
perawatan gigi. Hasil ini memberikan informasi penting bagi politisi, pembuat aturan dan
pimpinan untuk menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk meningkatkan OHRQoL
populasi.
Kata kunci: Jumlah perawatan gigi, kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan
mulut (OHRQoL)
PENDAHULUAN
Indikator klinis tidak mengukur dampak proses penyakit pada kesehatan seseorang dan
pemeriksaan kesehatan mulut pasien sering berbeda dengan pendapat dokter gigi. Self-rated
health (SRH) merupakan pengukuran ringkasan kesehatan umum seseorang yang berguna
dan dapat memprediksi dampak bagi kesehatan di masa datang. Self-rated oral health
(SROH) merupakan pengukuran ringkasan kesehatan rongga mulut seseorang yang juga
berguna. Keduanya berhubungan dengan kualitas hidup, khususnya pada usia tua. Kira-kira
160 juta jam kerja setahun hilang akibat gangguan mulut. Gejala yang dilaporkan, status
rongga mulut, dan perawatan yang dirasa dibutuhkan penting dan merupakan ukuran

kesehatan mulut yang berhubungan dengan kualitas hidup yang dapat diukur. Diantara
kondisi self-report yang paling banyak digunakan, gigi yang hilang, lubang yang tidak
dirawat, kehilangan perlekatan periodontal dan gejala molar tiga ditemukan berhubungan
dengan peningkatan jumlah dampak yang merugikan pada kesehatan yang mempengaruhi
waktu luang, fungsi sosial dan intelektual, interaksi sosial dan pekerjaan rumah.
Mengingat bahwa orang-orang menghabiskan uang yang susah payah diperoleh dan
menjalani ketidaknyamanan untuk merawat gigi, seperti waktu untuk pergi dari tempat kerja
mereka, ini dapat menunjukkan bahwa perawatan gigi melakukan sesuatu yang meningkatkan
kesehatan mulut mereka. Cara memperoleh pandangan mengenai dampak perawatan gigi dari
perspektif pasien yaitu melalui self-reported oral health (SROH). Data self-report dapat pula
digunakan untuk memeriksa dan mengawasi perkembangan pada status kesehatan mulut
masyarakat. Individu yang mengetahui mengenai kesehatan mulut yang lebih baik memiliki
frekuensi lebih tinggi dalam mencari perawatan gigi pencegahan. Beberapa penelitian telah
dilakukan untuk memeriksa jika jumlah perawatan gigi yang lebih banyak akan
meningkatkan SROH daripada perawatan yang lebih sedikit. Locker menemukan bahwa
populasi orang Kanada dewasa dengan SROH yang meningkat telah melakukan kunjungan
ke dokter gigi lebih banyak dan menerima lebih banyak perawatan gigi daripada yang tidak.
Dibutuhkan penelitian untuk meneliti hubungan antara jumlah perawatan gigi dan SROH.
METODOLOGI
Penelitian cross sectional yang terdiri dari 660 peserta (330 perempuan dan 330 laki-laki)
yang menjalani perawatan gigi dalam setahun terakhir dilakukan di bagian Periodontologi,
Universitas Lahore dari Maret 2011 sampai Maret 2012. Pemeriksaan rongga mulut
dilakukan oleh pemeriksa terlatih pada tiap peserta dilanjutkan dengan perubahan self-report
kesehatan mulut yang diperoleh melalui kuisioner yang diisi sendiri.
Modifikasi global health statement yaitu Global Oral Health Transition (GOHT) statement
digunakan untuk menunjukkan perubahan pada kualitas hidup yang berhubungan dengan
kesehatan mulut. Ukuran Global oral health transition statement terdiri dari pernyataan
berikut dan kategori respon: Dalam setahun terakhir dapat anda nyatakan kesehatan gigi
anda menjadi (1) sangat menurun (2) sedikit menurun (3) tetap sama (4) sedikit meningkat
(5) sangat meningkat. Untuk penelitian ini, responnya dibagi dua menjadi sama atau
menurun yang meliputi respon tetap sama, sangat menurun dan sedikit menurun atau
meningkat dengan respon sedikit meningkat dan sangat meningkat.

Jumlah perawatan gigi didefinisikan sebagai jumlah perawatan gigi yang diperoleh subjek
dalam 12 bulan terakhir. Subjek yang berkunjung ke fasilitas kesehatan untuk check up atau
perawatan gigi digolongkan sebagai melakukan kunjungan perawatan gigi. Subjek penelitian
yang tidak berkunjung ke dokter gigi ditentukan sebagai tidak ada perawatan gigi. Dari
peserta yang berkunjung ke dokter gigi, jumlah perawatan gigi dalam setahun terakhir dibagi
menjadi kurang dari 6 prosedur dan 6 prosedur atau lebih. Enam prosedur atau lebih dianggap
sebagai jumlah prosedur yang lebih banyak dari yang biasa diterima dalam kunjungan
perawatan gigi rutin. Peserta penelitian ditanya delapan pertanyaan pada kebutuhan
perawatan: jika mereka membutuhkan pencabutan, penumpatan, scaling, gigi tiruan, check up
gigi, perawatan gusi, crown atau bridge, atau perawatan lainnya. Peserta yang menjawab
bahwa mereka membutuhkan check up atau scaling, dianggap memiliki kebutuhan perawatan
gigi. Peserta penelitian dianggap memiliki penyakit mulut klinis jika mereka memiliki paling
kurang satu gigi lubang atau jika mereka memiliki paling kurang satu gigi dengan poket
periodontal sedalam 4 mm atau lebih.
Status sosioekonomi diukur berdasarkan status pendidikan mereka (Matric, FA/FSc/dll,
BA/BSc/dll atau diatasnya), Trade/Diploma/Certificate, (Sekolah Menengah atau lebih
rendah dan tidak ada pendidikan sekolah), berdasarkan tingkat rata-rata pendapatan rumah
tangga (kurang dari $900, $900 sampai 2000 dan lebih tinggi), berdasarkan pekerjaan
(manager/profesional/paraprofesional,

pedagang/pegawai

dan

pekerja/buruh),

dan

berdasarkan status pekerjaan (bekerja atau tidak bekerja). Subjek yang bekerja paruh waktu
digolongkan sebagai bekerja. Akses perawatan gigi diukur dengan apakah peserta memiliki
kesulitan dalam membayar harga perawatan gigi sebesar Rs 1000 ($10) atau apakah mereka
menghindari atau menunda perawatan gigi karena harganya.
Analisis bivariat digunakan untuk memperkirakan efek kasar jumlah perawatan gigi terhadap
perubahan self-report pada kesehatan mulut dan untuk mengidentifikasi putative confounder.
Variabel yang berkaitan secara signifikan (p<0,05) dengan variabel tergantung dan variabel
bebas dianggap sebagai confounder.
HASIL
Dari 660 peserta, 42% bekerja dan mengunjungi dokter gigi untuk check up setiap 12 bulan.
38% peserta tidak memiliki kesulitan atau hanya sedikit kesulitan dalam membayar harga
perawatan gigi Rs 1000 ($10) dan 50% menghindari atau menunda perawatan gigi karena
harganya. Jenis perawatan gigi yang paling sering diterima yaitu ekstraksi, tumpatan, dan

scaling. Sekitar setengah dari peserta merasa bahwa mereka membutuhkan perawatan selain
check up atau scaling (48,4%, 39,1 - 44,7). Setengah (51%) dari peserta penelitian memiliki
satu atau lebih penyakit mulut.
Tabel 1 menunjukkan distribusi subjek penelitian berdasarkan pekerjaan dalam bentuk
persentase bersama dengan 95% interval kepercayaan.
TABEL 1: DISTRIBUSI SUBJEK PENELITIAN BERDASARKAN PEKERJAAN
Pekerjaan

Kuisioner yang diisi sendiri


n = 660% (95% CI)

Manager/Administration
Profesional
Para-Profesional
Pedagang
Pekerja kantor
Pekerja kasar atau buruh

Tabel 2 menunjukkan hubungan bivariat antara global oral helath transition statement dengan
jumlah perawatan gigi dan putative confounder. Ini menunjukkan jumlah yang lebih besar
secara statistik pasien yang menerima enam atau lebih perawatan gigi dalam satu tahun
terakhir memiliki perkembangan pada self-report kesehatan mulut daripada pasien yang
menerima lebih sedikit dari enam perawatan atau tidak sama sekali (p=<0,01). Dari putative
confounder, adanya penyakit mulut pada dasar (p=<0,01), butuh perawatan (p<0,01) biasanya
datang ke dokter gigi saat punya masalah gigi (p<0,05) serta memiliki kesulitan membayar
tagihan dokter gigi Rs 1000($10) (p=<0,01) sangat berhubungan dengan kesehatan rongga
mulut yang tetap sama atau semakin parah.
TABEL 2. HUBUNGAN BIVARIAT ANTARA GLOBAL ORAL HEALTH TRANSITION
STATEMENT

DENGAN

JUMLAH

PERAWATAN

GIGIDAN

PUTATIVE

CONFOUNDER
Parameter

Jumlah perawatan
gigi
Butuh perawatan

Global oral health


transition statement
Rasio
(95%
sebelumnya CI)

Tidak ada 5 perawatan


Lebih dari 6 perawatan
Tidak

Penyakit Mulut

Tingkat pendidikan

Penghasilan rumah
tangga
Pekerjaan

Status pekerjaan

Alasan biasanya

untuk berkunjung
Kesulitan membayar
harga Rs 1000 ($10)
Dihindari akibat

harga

Ya
Tidak ada penyakit
Ada penyakit
Sekolah menengah atau lebih
rendah dan tanpa edukasi sekolah
Degree/Teach/Nurse/
Trade/Dip/Cert
<$900 - <2000
$2000 dan lebih
Pekerja/Buruh/Profesional
Para/Pedagang/Pekerja kantor
Bekerja
Tidak bekerja
Masalah gigi
Check up
Tidak sedikit
Banyak
Ya Tidak

DISKUSI
Tujuan penelitian ini yaitu untuk memeriksa hubungan antara jumlah perawatan gigi dengan
peningkatan dalam self-report kesehatan mulut. Hasil penelitian memastikan bahwa jumlah
perawatan gigi yang lebih besar memberikan peningkatan yang lebih besar dalam self-report
kesehatan mulut. Hal ini sama dengan temuan Locker pada populasi Kanada dimana dia
menemukan bahwa peningkatan jumlah perawatan gigi berhubungan dengan peningkatan
kesehatan mulut yang berkaitan dengan kualitas hidup. Namun, penelitian ini menemukan
bahwa hanya jumlah perawatan yang banyak (6 atau lebih) yang berhubungan dengan
peningkatan kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan mulut. Hasil ini juga
menunjukkan bahwa subjek yang biasanya berkunjung ke dokter gigi untuk check up dan
bukan karena masalah gigi berhubungan dengan self-report kesehatan mulut yang lebih baik,
ini sama dengan penelitian sebelumnya oleh Kressin,dkk di Amerika yang menemukan
bahwa kunjungan ke dokter gigi karena masalah gigi memiliki hubungan dengan kualitas
hidup yang lebih rendah serta sama dengan penelitian Slade,dkk yang membandingkan
kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan mulut orang Australia, Amerika dan
Kanada dewasa berusia diatas 60 tahun dan menemukan bahwa orang yang berkunjung ke
dokter gigi untuk check up rutin memiliki self report kesehatan mulut yang lebih baik
daripada yang datang mencari perawatan. Hasil ini juga sama dengan penelitian lain yang

menemukan bahwa self report kesehatan mulut yang baik sangat berhubungan dengan
kunjungan ke dokter gigi secara rutin.
Bagian penting dalam menjaga kesehatan mulut yang baik yaitu pengunaan perawatan gigi
yang sesuai. Menariknya, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang menggunakan
perawatan gigi setahun terakhir untuk penyakit mulut yang ada, memiliki tingkat kesehatan
mulut yang rendah. Temuan ini mirip dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa
kunjungan pencegahan berhubungan dengan penilaian sendiri kesehatan mulut, sementara
kunjungan restoratif atau simptomatis berhubungan dengan penilaian sendiri kesehatan mulut
yang rendah. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Chen dan Hunter di
New Zealand dimana mereka melaporkan bahwa masalah kesehatan mulut seperti gigi
sensitif, perdarahan gusi dan bau mulut cenderung sedikit yang menilai kesehatan mulut
mereka baik.
Hasil penelitian ini juga memberi kesan bahwa kebutuhan perawatan karena masalah gigi
yang sudah ada berhubungan dengan nilai penilaian sendiri kesehatan mulut yang rendah. Hal
ini mirip dengan penelitian sebelumnya oleh Locker pada populasi orang Kanada dewasa
serta Seremidi,dkk yang menemukan bahwa orang dewasa yang menilai kesehatan mulut
mereka buruk cenderung menyatakan bahwa mereka memiliki masalah mulut dan merasa
membutuhkan perawatan.
Hambatan finansial dapat mempengaruhi seberapa sering orang dewasa mencari perawatan
gigi dan, berakibat pada jenis perawatan yang mereka terima. Untuk memeriksa apakah harga
merupakan hambatan terhadap perawatan gigi, peserta ditanya jika mereka menghindari atau
menunda perawatan gigi karena harga. Hasil menunjukkan nilai yang signifikan dalam
penelitian ini.
Kemungkinan keterbatasan penelitian ini yaitu randomised control trial/uji acak terkontrol
(RCT) merupakan standar utama desain penelitian. Namun, uji acak terkontrol tidak
memungkinkan bagi penelitian untuk alasan etis dan karena format self-report yang
digunakan,

maka

desain

penelitian

epidemiologi

observasional

harus

digunakan.

Keterbatasan lain yaitu penelitian ini tidak memasukkan pengukuran dan pemeriksaan klinis
oleh dokter gigi, sehingga hasilnya hanya berkaitan hanya pada hubungan yang ditemukan
antara self-report kesehatan mulut. Selain itu, rasa membutuhkan perawatan diukur dengan
menanyakan apakah peserta membutuhkan atau tidak perawatan gigi serta adanya
keterbatasan fungsional yang berhubungan dengan masalah kesehatan mulut tidak diukur.

Karena itu, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengevaluasi hubungan antara
pengukuran klinis dan ukuran self-report kesehatan mulut. Penelitian menggunakan
kombinasi ukuran kebutuhan perawatan gigi dapat memberikan informasi lebih detail
mengenai hubungan antara kesehatan mulut self-report, rasa membutuhkan perawatan, dan
keterbatasan fungsional mulut. Penelitian dibutuhkan untuk menilai validitas dan
reproduksibilitas kuisioner self-report kesehatan mulut.
Proposal untuk perkembangan rencana yaitu program kesehatan dan perawatan mulut tidak
hanya mentargetkan perawatan untuk penyakit mulut, tapi juga harus meliputi komponen
yang menentukan evaluasi subjektif kondisi kesehatan mulut yang dipengaruhi oleh
kepercayaan budaya kesehatan, faktor sosio-demografik dan prilaku. Hasil penelitian ini
dapat memberikan informasi yang berguna bagi dokter gigi untuk mengembangkan aturan
kesehatan mulut nasional. Edukasi kesehatan mulut dan program promosi merupakan titik
awal yang baik untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan kesehatan mulut tentang
hubungan antara kesehatan mulut dan kesehatan umum juga meningkatkan kunjungan
perawatan gigi rutin.
KESIMPULAN
Memiliki enam atau lebih perawatan gigi sangat berhubungan dengan perkembangan
kesehatan mulut self-report yang lebih besar daripada yang memiliki kurang dari enam
perawatan gigi. Perbedaan efek jumlah perawatan gigi yang berbeda pada kesehatan mulut
yang berhubungan dengan kualitas hidup merupakan informasi yang penting bagi politikus,
pembuat aturan dan pemimpin untuk mengalokasi sumber daya yang terbatas untuk
meningkatkan populasi kesehatan mulut yang berhubungan dengan kualitas hidup.
Putative confounder: yang diduga perancu (definisi belum jelas)

Anda mungkin juga menyukai