Anda di halaman 1dari 12

Mendorong kunjungan gigi pencegahan untuk anak usia pra-sekolah yang

terdaftar di Medicaid: menggunakan Extended Parallel Process Model untuk


melakukan penelitian formatif
Abstrak
Tujuan: Kunjungan gigi pencegahan bagi anak usia pra-sekolah dapat memberikan hasil
kesehatan mulut yang lebih baik, khususnya bagi anak yang berasal dari keluarga
berpenghasilan lebih rendah. Namun, tetap banyak anak yang tidak pergi ke dokter gigi untuk
kunjungan pencegahan. Penelitian kualitatif ini memeriksa potensi Extended Parallel Process
Model (EPPM) untuk digunakan dalam menemukan pendahulu potensial terhadap keputusan
orang tua dalam mencari perawatan gigi pencegahan.
Metode: 17 grup fokus meliputi 41 orang tua dibuat. Protokol grup fokus terpusat pada
pembuatan (keparahan yang dirasa, kerentanan yang dirasa, self-efficacy, dan respon
efektivitas yang dirasa) EPPM. Catatan dianalisa dengan coder yang mengerjakan strategi
closed coding.
Hasil: Persepsi orang tua mengenai keparahan masalah gigi sangat tinggi, khususnya
mengenai akibat negatif kesehatan dan penampilan. Kerentanan yang dirasa orang tua
mengenai masalah gigi anak mereka rendah, umumnya karena sebagian besar anak dalam
penelitian ini menerima perawatan pencegahan, yang dilihat orang tua sebagai sangat efektif.
Efektivitas orang tua untuk memperoleh perawatan pencegahan untuk anak mereka tinggi.
Namun, mereka khawatir mengenai penghambat, meliputi kurangnya dokter gigi, khususnya
dokter gigi yang baik dengan anak kecil.
Kesimpulan: Temuan penelitian sejalan dengan EPPM, yang menyarankan bahwa model ini
merupakan alat potensial untuk mengerti keputusan orang tua mengenai mencari perawatan
gigi pencegahan untuk anak mereka. Penelitian lebih lanjut harus menggunakan metode
kuantitatif untuk menguji model ini.
Pendahuluan
The American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) menyatakan bahwa anak harus
memiliki hubungan dengan penyedia kesehatan gigi primer yang meliputi perawatan
kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh dan kunjungan ke dokter gigi pada usia satu
tahun. Tujuan kunjungan gigi lebih awal yaitu untuk memberi dasar prilaku kesehatan gigi
pencegahan. Perawatan gigi lebih awal untuk gigi sulung penting untuk mencegah karies

early childhood caries dan lubang gigi yang parah (yang dapat menyebabkan infeksi, rasa
sakit, dan kesulitan saat makan dan tidur), serta mengurangi resiko karies saat masa kanakkanak.
Walaupun AAPD menyarankan kunjungan pencegahan gigi pada usia satu tahun, tingkat
pemanfaatan perawatan gigi pada anak-anak rendah, dan tingkat kunjungan pencegahan gigi
bahkan lebih rendah. Penelitian di Iowa menemukan 71% anak sejak lahir sampai 48 bulan
(populasi umum) melakukan kunjungan gigi, dibandingkan dengan 23% anak usia kurang
dari 6 tahun yang mengikuti Medicaid. Laporan orang tua mengenai kunjungan gigi
pencegahan di survey nasional menunjukkan bahwa 19,9% anak dengan asuransi gigi pribadi
tidak melakukan kunjungan pencegahan di tahun sebelumnya, sementara 24,3% anak yang
terdaftar dalam asuransi gigi umum tidak melakukan kunjungan gigi. Penelitian nasional
sebelumnya menggunakan Medical Expenditure Panel Survey menemukan bahwa tingkat
kunjungan gigi pencegahan bagi anak-anak (usia kurang dari 6 tahun) mulai dari 8,9% untuk
anak dengan 100% Federal Poverty Level (FPL), sampai 21,5% untuk anak dengan 200%
FPL.
Beberapa faktor resiko kurangnya penggunakan layanan gigi pencegahan pada anak kecil
telah diketahui. Orang tua yang melaporkan tidak ada kunjungan ke dokter gigi cenderung
non-Hispanic African American, hidup di pedesaan, memiliki pendapatan rendah, dan merasa
anggota keluarga memiliki kesehatan mulut yang rendah. Anak yang memiliki asuransi gigi
pribadi lebih cenderung 1,5 kali mengunjungi dokter gigi daripada anak yang terdaftar dalam
Medicaid. Faktor resiko lainnya kurangnya perawatan gigi awal yaitu kurangnya pengetahuan
mengenai saran profesional, hambatan fisik terhadap perawatan gigi, dan pengalaman negatif
sebelumnya saat perawatan gigi.
Intervensi dibutuhkan untuk mengenali perbedaan antara kebijakan dan prilaku orang tua.
Teori prilaku kesehatan dan model dapat digunakan dalam penelitian untuk mengenali faktor
yang mempengaruhi prilaku kesehatan gigi sehingga dapat dirancangkan intervensi yang
efektif.
The Extended Parallel Process Model (EPPM; lihat Gambar 1) memberikan rangka untuk
menjelajahi persepsi ancaman (keparahan dan kerentanan) serta efektivitas (sendiri dan
respon), dan bagaimana konsep ini memotivasi prilaku. Model ini telah digunakan untuk
menentukan hal yang mendahului prilaku, juga perkembangan intervensi. Model ini
berdasarkan pada konsep lawan atau lari. Orang cenderung lari jika ancamannya besar

dan terdapat sedikit harapan bagi dia untuk melalui rintangan tersebut. Respon lari
merupakan balasan terhadap rasa takut yang dirasakan seseorang. Seseorang akan cederung
lawanjika dia percaya tantangan penting dan dia memiliki kemampuan untuk menang.
EEPM mengartikan bahwa saat seseorang menghadapi masalah kesehatan, seperti lubang
gigi, dia akan: a) tidak merasakan ancaman dan tidak melakukan apapun; b) menjadi takut
dan mengabaikan masalah kesehatan; atau c) memulai proses kontrol bahaya yang
memungkinkan mereka untuk menerima tantangan dan melakukan sesuatu. EPPM telah
digunakan untuk mengerti berbagai macam prilaku kesehatan pencegahan.
Ancaman yang irasakan terdiri dari dua konsep: keparahan yang dirasakan dan kerentanan
yang dirasakan. Dalam hal mencari perawatan gigi pencegahan bagi anak usia pra-sekolah,
keparahan yaitu bagaimana orang tua merasa akibat negatif kesehatan mulut seperti karies.
Kerentanan yaitu kepercayaan orang tua mengenai seberapa cenderung anak akan mengalami
akibat negatif kesehatan mulut. Efektivitas meliputi self-efficacy dan respon efektivitas.
Disini, self-efficacy merupakan penilaian orang tua pada kepercayaan diri terhadapt
kemampuan mereka untuk menjadwalkan kunjungna pencegahan dan membuat anak
menyelesaikan ujian. Respon efektivitas merupakan evaluai orang tua mengenai sebagaimana
efektif perawatan gigi pencegahan dalam mencegah akibat negatif kesehatan mulut bagi anak.
Untuk memprediksi jalan mana yang akan diambil seseorang, tingkat ancaman yang dirasa
dan efektivitas harus ditetapkan. Witte memperdebatkan bahwa saat ancaman yang dirasa dan
efektivitas keduanya tinggi, maka orang akan lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu
untuk mengontrol bahaya yang mereka rasakan. Orang dengan persepsi seperti itu akan
termotivasi untuk melindungi diri mereka. Saat ancaman rendah, orang akan mengabaikan
ancaman dan tidak melakukan apapun. Saat ancamannya tinggi dan efektivitas rendah, orang
akan mengabaikan masalah kesehatan karena persepsi mereka yaitu mereka tidak dapat
meredakan ancaman, karena tidak ada respon efektif atau mereka tidak dapat melakukan hal
yang dibutuhkan. Kelompok orang ini hanya termotivasi untuk mengontrol ketakutan mereka
dan bukan untuk melakukan hal protektif melawan bahaya.
Penelitian ini menilai apakah dengan menggunakan EPPM dapat mengenali kemungkinan
yang mendahului keinginan orang tua dalam mencari kesehatan gigi pencegahan untuk anak
usia pra-sekolah. Pertanyaan penuntun penelitian yaitu apakah EPPM dapat berguna dalam
mengerti hal yang mempengaruhi prilaku orang tua atau tidak. EPPM sebelumnya telah
digunakan dalam penelitian formatif. Penelitian formatif merupakan langkah pertama yang

penting dalam mengerti faktor yang mempengaruhi prilkau, saat penelitian ilmiah mengenai
prilaku hanya sedikit.
Gambar 1. Extended parallel process model
EFEKTIVITAS YANG DIRASA
(self-efficacy, respon efektivitas)

TIDAK
TAKUT

Proses kontrol
bahaya/Melawan

PERUBAHAN
PRILAKU

ANCAMAN YANG DIRASA


(Kerentanan, Keparahan)

TAKUT

Proses kontrol rasa


takut/Lari

TIDAK ADA
PERUBAHAN
PRILAKU

Metode
Penelitian kualitatif formatif ini dilakukan menggunakan sampel orang tua dengan anak (usia
dibawah 6) terdaftar dalam Medicaid di Iowa. Grup fokus dipilih sebagai metode
pengumpulan data karena akan memungkinkan untuk membagi cerita mendalam dan
membuat sinergi diantara orang tua serta metode ini ideal untuk memeriksa kepercayaan,
prilaku, dan harapan. Selain itu, karena literatur mengenai topik ini sedikit, dibutuhkan
sebuah metode yang akan memberikan jaring yang lebar dan menangkap beragam respon.
Sampel anak diperoleh dari daftar Medicaid dan file yang diambil dari tujuh lokasi (empat
kota dan tiga desa). Di tiap lokasi, sampel acak diambil dengan SPSS (IBM Corp. Armonk,
NY, USA) dari 50 anak yang memiliki dental billing code, dan 50 anak yang tidak memiliki
dental billing code. Untuk lokasi dengan kurang dari 50 anak yang memenuhi syarat, semua
anak yang ada dimasukkan. Total 600 orang tua anak-anak tersebut dipanggil untuk
mengikuti melalui surat perkenalan, dilanjutkan dengan panggilan telepon. Surat dikirim ke
orang tua yang terdaftar dalam file Medicaid, yang sebagian besar adalah ibu mereka.
Protokol penelitian disetujui oleh dewan peninjau institusional Universitas Iowa. Dibuat 17
grup fokus, dengan jumlah peserta di tiap grup berjumlah antara satu sampai sembilan untuk
total 41 peserta. Delapan dari 17 grup dilakukan dalam bahasa Spanyol oleh pembicara asal
Spanyol (lulusan kesehatan masyarakat dan antropologi dengan latihan pengumpulan data
kualitatif). Grup fokus yang dilakukan dalam bahasa Inggris dilakukan olah peneliti prilaku
dan lulusan antropologi. Semua fasilitator memiliki pengalaman pengumpulan data kualitatif
sebelumnya dan dilatih khusus untuk protokol grup fokus ini. Tiap fasilitator dibantu oleh
pencatat, yang mencatat diskusi. Setelah proses informed consent, tiap peserta mengisi survey
sosiodemografik singkat. Protokol grup fokus terdiri dari pertanyaan terbuka yang didesain

untuk memperoleh respon mengenai ancaman, efektivitas, keuntungan, hambatan, dan


pengalaman sebelumnya terhadap perawatan gigi. Protokol dikembangkan setelah mencari
keterangan dari literatur saat ini dan berkonsultasi dengan orang yang ahli dalam tim peneliti,
yaitu dokter gigi, peneliti pelayanan kesehatan, antropologis, dan peneliti prilaku. Misalnya
untuk memeriksa keuntungan dan respon efektivitas, orang tua ditanya, Apakah keuntungan
yang akan diperoleh dari membawa anak anda untuk checkup dibawah usia 6 tahun?
Menurut anda, apa yang dilakukan pada anak anda saat checkup? Menurut anda apakah
checkup akan membantu anak anda lebih sehat? Menurut anda apa yang akan terjadi jika
anak anda (usia kurang dari 6 tahun) tidak melakukan checkup? Pertanyaan ini dilanjutkan
dengan pertanyaan yang menyelidiki seperti, Dapatkah anda mengatakan lebih banyak
mengenai pengalaman tersebut? Menurut anda, bagaimana cara kerjanya? Fasilitator
didorong untuk menyelidiki peserta untuk memperoleh cerita yang lengkap, dan kaya dari
peserta. Peserta menerima kartu hadiah $20 dan snack untuk partisipasinya.
Cara kerja grup fokus direkam secara digital dan di-transcrib. Grup fokus bahasa Spanyol ditranscrib dalam bahasa Spanyol dan diubah ke dalam bahasa Inggris oleh dua pembicara dua
bahasa. Transkrip di-code dalam proses coding tertutup berdasarkan konsep EPPM
(keparahan yang dirasa, kerentanan yang dirasa, self-efficacy, respon efektivitas, dan rasa
takut). Coding tertutup membatasi coder untuk membuat code yang dikenali sebelumnya
(konsep EPPM). Code ini didefinisikan sebagai: rasa takut/rasa takut mengenai gigi
(khawatir mengenai gigi, seperti: rasa sakit, masalah kosmetik, infeksi, dll), keparahan yang
dirasa (persepsi ibu mengenai seberapa buruk bagi anak untuk memiliki masalah dengan gigi
susu, meliputi akibat masalah dengan gigi), kerentanan yang dirasa (persepsi ibu mengenai
kecenderungan anak usia pra-sekolah mereka akan mengalami masalah dengan gigi susu
mereka atau seberapa beresiko anak mereka), self-efficacy ( persepsi ibu mengenai
kemampuan mereka untuk membawa anak mereka ke dokter gigi untuk perawatan
pencegahan), dan respon efektivitas (persepsi ibu mengenai apakah perawatan pencegahan
gigi bekerja, dasarnya apakah perawatan pencegahan gigi memnjaga anak mereka dari
masalah gigi mereka).
Dua coder terlatih melakukan coding sampel acak 3 dari 17 transkrip untuk menentukan
kesepakatan inter-coder melalui pemeriksaan subjektif, yang merupakan praktek umum
dalam metode kualitatif. Perbedaan antara coder didiskusikan dengan coder ketiga dan
diselesaikan. 14 transkrip yang lain dibagi pada ketiga coder dan di-coding masing-masing.
Hasil

Usia ibu memiliki rentang antara 22 sampai 46 dengan rata-rata 31,7 tahun [standar deviasi
(SD) = 6,4]. Ibu melaporkan antara satu sampai enam anak dengan rata-rata 2,8 anak (SD =
1,4). Lebih dari sepertiga (68,3%) perempuan menyatakan diri mereka kulit putih, 9,8% kulit
hitam, dan 22,0% Latin. Tingkat edukasi bervariasi: 73,2% menyelesaikan sekolah menengah
atas atau diploma dan dari mereka 36,6% melaporkan melakukan sejenis pendidikan setelah
lulus sekolah mengenah. 10 dari peserta hanya bisa berbahasa Spanyol. Hanya satu ibu yang
melaporkan bahwa anaknya belum pernah bertemu dengan dokter gigi selama hidupnya.
Hasil analisis kualitatif ditampilkan di bawah ini. Secara umum, temuan sama dengan model,
menyatakan bahwa terdapat tingkat ancaman dan efektivitas yang tinggi dan diantara ibu
yang mencari perawatan gigi pencegahan untuk anak mereka. Hasil menyatakan bahwa
EPPM memiliki potensi untuk membantu kita mengerti faktor yang mempengaruhi prilaku
orang tua. Faktor tersebut diuraikan di bawah ini.
Keparahan yang dirasakan
Ibu melaporkan tingkat keparahan yang tinggi dengan kekhawatiran mengenai akibat negatif
anak yang tidak mengunjungi dokter gigi meliputi kesehatan mulut yang rendah, rasa sakit,
kesehatan umum rendah, dan penampilan. Satu ibu menceritakan mengenai orang tuanya dan
akibat negatif kesehatan mulut yang kurang terhadap kesehatan. Dia menjelaskan bahwa
orang tuanya mengalami banyak penyakit yang berhubungan dengan infeksi gigi yang
mereka miliki, dan dia tidak ingin melihat anaknya memikul masalah yang sama. Akibat
negatif yang berkaitan dengan penampilan penting bagi sebagian besar ibu. Ibu yang
memastikan anaknya memiliki pemeriksaan gigi pencegahan rutin yang lebih awal
mengatakan cerita mengenai keponakannya, yang dia merasa kasihan:
ibunya tidak membawanya ke dokter gigi sama sekali saat dia lebih muda dan sekarang
dia berumur 15 tapi giginya, seperti, saya benci mengatakannya, tapi seperti orang yang
menggunakan obat terlarang, semua rusak dan berwarna hijau dan saat dia berumur 6 atau
tujuh, dia diejek-ejek di sekolah.
Ibu yang khawatir mengenai rasa sakit, Lubang itu yang membuat saya khawatir karena
saya tahu itu dapat sangat menyakitkan
Umum juga bagi ibu untuk berharap bahwa akibat negatif kesehatan mulut yang mereka
rasakan saat masa kecil tidak akan terjadi pada anak mereka. Satu ibu menyatakan
kekhawatirannya dengan mengatakan seberapa parah jadinya jika anaknya mengalaminya

gigi yang menakutkan, gigi yang membusuk, gigi yang rusak dan saya tidak akan
membiarkan anak saya mengalami rasa sakit yang saya alami
Kerentanan yang dirasakan
Kerentanan yang dirasakan berbeda dari para ibu berdasarkan seberapa dini anak mereka
melakukan pemeriksaan pencegahan pertama. Walaupun, tidak mungkin menguji hubungan
ini secara kuantitatif. Menggunakan data yang dikumpulkan secara kualitatif, ibu yang
melaporkan bahwa telah membawa anak mereka sejak dini ke dokter gigi untuk pemeriksaan
pencegahan rutin juga percaya bahwa anak mereka tidak akan memiliki akibat negatif
kesehatan mulut seperti karies. Ibu yang anaknya tidak melakukan pemeriksaan pencegahan
lebih awal merasa bahwa anak mereka akan mengalami akibat negatif kesehatan mulut. Ibu
yang percaya bahwa anak mereka tidak akan mengalami akibat negatif pada gigi hanya
mengatakan bahwa mereka melakukan hal yang benar, seperti menyikat gigi dan pemeriksaan
gigi pencegahan. Ibu yang merasa anak mereka beresiko melaporkan adanya kebiasaan lain
seperti tidak menyikat gigi atau memakan makanan yang manis yang membuat anak mereka
beresiko.
Beberapa ibu menunjukkan bahwa karies pada anak kecil hampir tidak dapat dihindari. Ibu
yang lain mengatakan, saya jamin mereka akan memiliki lubang gigi atau semacamnya
Beberapa ibu menyarankan bahwa mereka sendiri dapat memeriksa apakah anak mereka
memiliki gigi yang sehat atau tidak. Salah satu ibu yang bersama dengan anaknya di grup
fokus memberi contoh prilaku ini. Katanya, Kita lihat, buka mulutmu (berhenti saat ibu
melihat dalam mulut anaknya). Tidak, kamu tidak memiliki lubang gigi. Namun para ibu
juga memberi contoh saat mereka salah mengira gigi anak mereka baik-baik saja. Satu ibu
menjelaskan bahwa dia tidak melihat hal yang salah dengan gigi anaknya, tapi saat anaknya
diperiksa di tempat screening, mereka menemukan empat lubang gigi.
Self-efficacy
Self-efficacy ibu beragam, dari yang menemui dokter gigi dengan rasa senang dan
mengalami pengalaman yang sangat positif, sampai ibu yang kesulitan mencari dokter gigi,
serta ibu yang mengalami pengalaman yang sangat negatif mengenai perawatan gigi. Dari
beberapa ibu yang berbahasa Spanyol, bahasa sepertinya menjadi penghalang yang
berdampak negatif self-efficacy mereka, walaupun sebagian besar wanita melaporkan dapat
mencari perawatan gigi walaupun memiliki penghalang bahasa.

Mencari dokter gigi yang mau melihat anak kecil di Medicaid merupakan penghalang utama.
Beberapa orang tua tidak dapat melampaui penghalang ini. Wanita lain berkata, saya tidak
tahu berapa banyak dokter gigi yang ada di [**]. Saya bertaruh ada paling kurang sepuluih
atau lima belas dan tidak ada dari mereka yang mengambil Medicaid. Beberapa wanita
melaporkan bahwa menemukan dokter gigi, membuat janji dan mengikuti perjanjian tidaklah
sulit. Beberapa perempuan melaporkan bahwa mereka menerima bantuan atau dirujuk ke
dokter gigi.
Walaupun ada halangan, banyak ibu memiliki self-efficacy yang tinggi dan dapat membawa
anak mereka untuk melakukan kunjungan gigi pencegahan. Satu perempuan meringkas
semuanya dan berkata,
Saya memastikan mereka melakukan checkup rutin mereka karena tidak ada alasan
mengapa kamu harus memiliki asuransi, apakah asuransi negara atau asuransi yang
mereka kerjakan, supaya anak mereka tidak diperlihara, supaya anak berjalan dengan gigi
mereka yang membusuk. Kamu tahu itu tidak manis. Tidak baik sebagai orang tua.
Respon efektivitas
Persepsi yang dilaporkan ibu mengenai apakah perawatan gigi pencegahan efektif dalam
mencegah akibat negatif kesehatan mulut secara umum positif. Paling banyak mengatakan
bahwa perawatan gigi pencegahan dapat menangkap masalah sebelum menjadi lebih buruk.
Sebagian besar ibu melaporkan bahwa perawatan gigi pencegahan dapat berdampak positif
untuk gigi anak-anak. Seorang ibu menunjukkan bahwa kurangnya kunjungan pencegahan
dapat merusak karena, banyak lubang itu dapat terinfeksi menjadi menyakitkan.
Banyak ibu berkomentar bahwa perawatan gigi pencegahan tidak hanya membantu
mengidentifikasi masalah potensial, tapi juga mengajar anak mengenai perawatan gigi.
Seorang ibu mengatakan, mereka dapat mengajar anak-anak, yang benar, memastikan
mereka menyikat dengan benar dan hal seperti itu.
Pengajaran tersebut berperan terhadap pembentukan kebiasaan kesehatan mulut yang penting
dan merasa nyaman dengan perawatan gigi.
Satu ibu bahkan berkomentar bahwa perawatan gigi pencegahan mengajar anak bahwa
kami mencintai mereka dan kami peduli dengan mereka walaupun ini hal sederhana
seperti membuat gigimu bersih.

Ibu juga mengakui bahwa pada anak pertamanya mereka tidak mencari perawatan
pencegahan lebih awal dan belajar dari kesalahan ini. Seorang ibu melaporkan, Saya tidak
melakukannya pada anakku yang paling tua sampai sudah terlambat dan kemudian pada
kedua anakku yang lebih muda saya memulai membawa mereka lebih awal.
Perawatan gigi pencegahan juga dapat membantu ibu menghindarkan anak memiliki
penampilan yang buruk; seorang ibu berkata, Mereka harus pergi ke dokter gigi. Maksud
saya, ini gila untuk dikatakan, Saya tidak mau berjalan dengan anak dengan mulut
berantakan.
Namun, sedikit ibu menyatakan bahwa mereka tidak percaya bahwa perawatan gigi
pencegahan lebih awal akan memberikan efek yang berarti.
Salah satu ibu berkata:
Dari nilai satu sampai sepuluh, mungkin tujuh. Jika tidak ada masalah langsung yang
kamu lihat selama kamu menyikat gigi mereka setiap hari, hmm, tidak memberi mereka
makanan manis secara terus-menerus. Saya pikir hal itu tidak terlalu penting selama kamu
melakukan hal-hal pencegahan di rumah kecuali kamu melihat adanya masalah.
Diskusi
Temuan yang didapat sesuai dengan EPPM (Gambar 1). Model ini memberikan peneliti
untuk memeriksa faktor yang dapat mempengaruhi prilaku orang tua. Sebagian besar respon
efektivitas ibu terhadap perawatan pencegahan tinggi, dan mereka percaya perawatan
pencegahan sejak dini dapat menghalangi penyakit dan penampilan yang buruk. Self-efficacy
ibu juga tinggi, tapi mereka khawatir mengenai halangan seperti kurangnya dokter gigi,
khususnya dokter gigi yang baik dengan anak pra-sekolah. Pada umumnya, ibu yang
memiliki nilai kerentanan yang dirasa rendah. Persepsi ibu mengenai keparahan tinggi, dan
mereka khawatir mengenai akibat negatif bagi kesehatan dan penampilan. Sebagian besar
peserta tampak sedang menjalankan proses kontrol bahaya, yang berarti mereka menyadari
ancaman dan memiliki efektivitas yang cukup tinggi untuk termotivasi dalam melindungi
anak mereka, dan melawan kecenderungan untuk masuk dalam proses kontrol rasa takut.
Keparahan dan kerentanan yang dirasakan
Ibu menjabarkan keuntungan perawatan dini, seperti kesehatan mulut yang lebih baik,
hubungan dengan dokter gigi, dan menerima instruksi mengenai menyikat gigi. Keparahan
akibat negatif kesehatan mulut sangat dimengerti oleh ibu dalam penelitian ini. Ibu yang

memiliki nilai kerentanan yang dirasa terhadap masalah gigi rendah merupakan akibat karena
sebagian besar anak sudah menerima perawatan pencegahan.
Penelitian lebih lanjut harus menyelidiki hubungan kausal antara persepsi ibu bahwa akibat
negatif kesehatan mulut merupakan hal yang parah dalam hal kesehatan, penampilan, dan
rasa sakit, dengan prilaku mencari perawatan pencegahan. Perhatian juga harus diberikan
untuk mengerti bagaimana kepercayaan ibu mengenai prilaku pencegahan lain (mentikat gigi,
mengawasi pola makan) yang mengubah kemauan untuk mencari perawatan gigi pencegahan.
Beberapa ibu dalam penelitian ini tampaknya memberi kesan bahwa prilaku pencegahan lain
ini cukup untuk mencegah dan mendeteksi karies. Penelitian yang akan datang dapat
menyelidiki asal kepercayaan tersebut. Terdapat persepsi dalam kelompok kecil perempuan
bahwa childhood caries tidak dapat dihindari. Harus dilakukan lebih banyak penelitian untuk
mengerti hal yang mempengaruhi kepercayaan ini, karena fatalisme mengenai akibat
kesehatan mulut telah ditemukan dalam penelitian lain.
Respon efektivitas
Sebagian besar respon efektivitas ibu mengenai perawatan pencegahan tinggi dan mereka
percaya bahwa perawatan pencegahan dapat menghalangi penyakit dan penampilan yang
buruk. Mereka khawatir mengenai penghalang seperti kurangnya dokter gigi, khususnya yang
baik dengan anak kecil. Sementara sebagian besar perempuan percaya bahwa perawatan gigi
pencegahan dini efektif, beberapa percaya bahwa mereka dapat mengenali karies sendiri dan
hanya membutuhkan dokter gigi setelah karies ditemukan. Sebenarnya, penelitian
menemukan bahwa banyak orang tua tidak membawa anak mereka ke dokter gigi sampai
terdapat masalah besar, seperti karies sebenarnya.
Lebih banyak peneliti harus memeriksa jika penekanan keuntungan perawatan pencegahan
sejak dini tidak secara langsung berkaitan dengan gigi yang diperiksa, seperti mengajari cara
menyikat yang menar atau mendengar dari orang dewasa yang ahli mengenai pentingnya
menyikat gigi, atau membangun hubungan dengan dokter gigi, akan mendorong orang tua
untuk mencari perawatan gigi pencegahan lebih awal. Memberitahukan ibu bahwa mereka
adalah dasar untuk prilaku positif seumur hidup dan perawatan gigi itu penting, serta dapat
dimulai sekarang. Untuk beberapa perempuan, keuntungan ini mungkin lebih memaksa
daripada menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan gigi pencegahan untuk mencegah
karies.
Self-efficacy

Self-efficacy diantara orang tua merupakan ukuran yang penting dalam usaha untuk membuat
anak melakukan kunjungan gigi pencegahan. Kakudute,dkk menemukan bahwa peningkatan
self-efficacy meningkatkan prilaku perawatan mulut pasien. Self-efficacy yang lebih tinggi
berhubungan dengan perawatan periodontal jangka panjang, indeks plak yang lebih rendah,
dan waktu menyikat yang lebih lama. Dalam penelitian ini, walaupun self-efficacy tinggi,
penghalangnya banyak. Penghalang sebagian besar yaitu lingkungan, berhubungan dengan
kurangnya dokter gigi di pedesaan, sedikit dokter gigi yang menerima pasien Medicaid baru,
dan bahkan lebih sedikit dokter gigi yang mau menemui anak kecil. Penghalang ini semua
menunjuk pada ibu yang kesulitan menemukan dokter gigi. Singkatnya, ibu harus
berhubungan dengan dokter gigi terdekat melalui jaringan sosial informal, sementara yang
lain memiliki rujukan dari agen pelayanan kesehatan. Jenis tantangan lingkungan atau sistem
ini paling tepat ditujukan pada perubahan sistem dan politik, serta pesan mengenai
pentingnya kunjungan gigi.
Keterbatasan
Karena penelitian ini bersifat formatif dan kualitatif, sulit untuk mengetahui apakah hasil
dapat digeneralisasi ke populasi yang lain. Walaupun kegunaan EPPM sebagai alat penelitian
untuk mengumpulkan informasi mengenai luas dan dalamnya masalah telah dipastikan, kita
harus teliti dalam interpretasi dan perhitungan. Data kualitatif tidak bermaksud untuk dapat
dihitung atau preskriptif, tapi bermaksud untuk memberikan informasi mengenai pertanyaan
yang akan ditanyakan dan informasi untuk mengikuti pekerjaan di masa depan.
Ketidaksesuaian antara data Medicaid dan laporan ibu mengenai apakah anak mereka
mengunjungi dokter gigi merupakan suatu keterbatasan. Setengah dari sampel terdiri dari
anak yang tidak mengunjungi dokter gigi. Dari ibu yang masuk dalam grup fokus anak yang
tidak mengunjungi dokter gigi, hanya satu ibu yang menyatakan bahwa anaknya tidak pernah
melihat dokter gigi. Mungkin bahwa ibu yang melaporkan bahwa dental screening sebagai
kunjungan ke dokter gigi atau anaknya menerima perawatan gigi di luar program Medicaid,
seperti pro bono services atau pelayanan yang dibayar ibu. Selain itu, kelambatan waktu
antara saat klaim diproses, saat sampel didapatkan, dan saat grup fokus dibuat dapat selama 6
bulan bagi dental offica yang klaim filenya lambat. Hubungan dengan keterbatasan ini yaitu
kemungkinan bias pemilihan sendiri. Memungkinkan bahwa ibu yang tidak mendukung
perawatan gigi pencegahan tidak berespon terhadap panggilan untuk menjadi peserta grup
fokus.

Informasi penting untuk mengerti pencarian perawatan gigi pencegahan ibu untuk anak
mereka dikumpulkan melalui penelitian ini menggunakan EPPM sebagai rangka untuk
memeriksa prilaku. Ibu memiliki tingkat self-efficacy yang tetap dan berbeda serta respon
efektivitas yang dihubungkan dengan prilaku mencari perawatan dengan cara seperti yang
ditunjukkan EPPM. Karena model melakukan hal dengan baik dan membantu membuat tahap
awal untuk mengerti pencarian perawatan gigi pencegahan ibu untuk anak mereka dalam
penelitian kualitatif ini. Ini menjadi tahap penting untuk penelitian ini untuk menguji EPPM
dalam penelitian kuantitatif untuk memastikan informasi yang dikumpulkan dalam grup
fokus. Penelitian lebih lanjut akan menyelidiki penggunaan EPPM untuk memprediksi
maksud dan prilaku target grup yang mirip, karena model ini belum pernah diuji dengan
prilaku kesehatan mulut.

Anda mungkin juga menyukai