Anda di halaman 1dari 5

Ekstraksi gigi pada pasien yang mengonsumsi antikoagulan: Penelitian

prospektif yang dilakukan pada 108 pasien dari Brasil


Pendahuluan. Perawatan gigi yang dilakukan pada pasien yang sementara menerima terapi
antikoagulan oral secara kontinyu menjadi sangat sering pada praktek gigi. Untuk pasien ini
penting sekali untuk melakukan anamnesis yang teliti, juga evaluasi klinis beberapa ilmu
yang berhubungan dengan resiko dan kontrol perdarahan atau kejadian tromboembolik.
Tujuan dan Bahan serta Metode. Tujuan yaitu mengevaluasi perdarahan atau kejadian
tromboembolik post ekstraksi pada pasien yang sementara dalam pengobatan antikoagulan
dalam periode 48 bulan . Hasil. Dari 408 pasien yang dievaluasi, 215 ekstraksi dilakukan
dimana hanya ada satu kasus perdarahan postoperatif. Warfarin digunakan pada 98 pasien;
Warfarin dikombinasikan dengan asam asetil salisilat (aspirin) digunakan pada 9 pasien dan
asam asetil salisilat digunakan hanya pada satu pasien. Mengenai uji serologi yang dilakukan,
International Normalized Ratio (INR) antara 0,8 sampai 4,9 dengan rata-rata 3,15.
Kesimpulan. Ekstraksi pada pasien yang mengonsumsi antikoagulan harus dilakukan dengan
trauma seminimal mungkin. Tidak perlu menghentikan terapi antikoagulan untuk melakukan
terapi. Teknik hemostatik lokal, seperti obliterate suture saja cukup untuk mencegah
komplikasi perdarahan.
Pendahuluan
Pembedahan gigi pada pasien dengan perubahan hemostatik, dan pasien yang menggunakan
obat antikoagulan oral (OAD) telah menjadi praktek terus-menerus dalam beberapa tahun
terakhir, yang menuntut metode khusus oleh dokter gigi serta interaksi beberapa ilmu dengan
beragam tim kesehatan yang melakukan follow-up pasien.
Terdapat diskusi mengenai bagaimana melakukan perawatan gigi yang aman bagi pasien
yang mengonsumsi antikoagulan. Beberapa waktu yang lalu, American College of
Cardiology (ACC) dan American Heart Association (AHA) membuat beberapa petunjuk
praktis yang mengusulkan mengembangkan, meninjau, dan memperbarui protokol untuk
penyakit jantung serta membantu prosedur klinis. Beberapa protokol menganjurkan untuk
menghentikan penggunaan obat, juga pemberian vitamin K atau heparin sebelum prosedur
dengan potensi perdarahan. Namun, perubahan ini dapat meningkatkan kemungkinan
kejadian tromboembolik pada pasien.
Tidak ada dari pola ini yang bebas resiko, yang membuat sangat penting untuk melakukan
evaluasi keseluruhan mengenai kondisi sistemik pasien, followup derajat antikoagulasinya,

dan klasifikasi amplitudo trauma bedah dalam prosedur gigi yang akan dilakukan. Protokol
telah diteliti untuk menjamin perawatan yang mencegah terjadinya perdarahan, dan pada saat
yang sama tidak membuka kemungkinan terjadinya kejadian tromboemboli. Mengganggu
terapi antikoagulan, sehingga membuka resiko tromboemboli, bukan merupakan sikap yang
hati-hati. Banyak peneliti menunjukkan bahwa aman untuk melakukan sebagian besar
prosedur bedah tanpa resiko perdarahan parah saat International Normalized Index (INR)
dalam level terapeutik.
Pasien yang menggunakan antikoagulan oral, terapinya dapat diamati dengan mengukur
Waktu Protrombin (PT). Uji ini mengukur waktu pembentukan bekuan darah dari aktivasi
faktor VII sampai pembentukan fibrin coagulum. Karena variasi metodologi, reagen, dan
instrumen yang digunakan dalam tiap lab, ditentukan normalization ratio untuk pengukuran
PT. Terdapat peningkatan resiko kejadian tromboembolik saat INR dibawah level terapeutik;
saat diatas, resiko perdarahan meningkat drastis, khususnya pada pasien lanjut usia.
Berdasarkan fakta di atas, kami menganjurkan untuk mengevaluasi kuantitas dan keparahan
perdarahan setelah ekstraksi gigi pada pasien yang dalam pengobatan antikoagulan dan yang
dalam perawatan medis dan gigi di Hemotherapy and Hematology Center (HEMOCENTRO)
State university of Campinas, SP, Brazil (UNICAMP) dalam periode 48 bulan tanpa
terganggu.
Bahan dan Metode
Evaluasi dilakukan pada 108 pasien yang menjalani perawatan obat antikoagulan, yang telah
menerima medical attendance di Hemotherapy and Hematology Center, State university of
Campinas, SP, selama periode 48 bulan.
Semua pasien menerima evaluasi dan perawatan gigi dengan protokol lokal. Keseluruhan,
dalam 108 pasien yang menerima pelayanan gigi dalam periode ini, 215 ekstraksi telah
dilakukan, dan semua prosedur dilakukan tanpa menghentikan obat antikoagulan.
Saat konsultasi pertama, dilakukan pemeriksaan gigi, seperti PI (indeks pla), GI (indeks
gingiva), DMF-T (decay, missing, filled teeth) serta foto panoramik. Sebelum ekstraksi, INR
diminta dan prosedur dilakukan jika nilainya dalam batas yang dapat diterima untuk setiap
pasien. Karena pasien yang menjalani obat antikoagulan oral memiliki katup prostetik,
diberikan antibiotik profilaksis, sesuai dengan AHS (American Hearth Society); yaitu dosis
2g satu jam sebelum prosedur bedah. Ekstraksi dilakukan dengan teknik anestesi blok dan
bila perlu, anestesi intraligamen. Teknik bedah dilakukan dengan trauma seminimal mungkin.

Setelah pencabutan gigi, obliterate suturing (beberapa jahitan dalam satu daerah) dilakukan
dan pasien disarankan menggunakan kantong es pada wajah, istirahat, dan makan makanan
dingin dengan konsistensi lunak. Tidak ada hemostatik lokal lain yang digunakan, kecuali
suture tersebut.
Semua pasien dijelaskan mengenai sifat tidak memaksa dari penelitian ini. Ditekankan pula
bahwa tidak kooperatif dengan penelitian tidak akan menyebabkan perubahan pada
perawatan medis mereka. Penelitian dimasukkan ke Komite Etik Penelitian Medical Science
Faculty, State University of Campinas untuk persetujuan, yang kemudian diizinkan.
Hasil
Dari 108 pasien, 61 perempuan dan 47 laki-laki. Usia pasien dari 13 sampai 80 tahun (ratarata 48,5 tahun). Penyakit sistemik paling banyak yaitu trombosis, kemudian valvulopathy,
cerebrovascular accident (CVA), kardiopati, Chagas disease, dan emboli paru (Tabel 1).
Warfarin digunakan oleh 98 pasien; Warfarin dikombinasikan dengan asam asetil salisilat
pada 9 pasien, dan asam asetil salisilat hanya pada 1 pasien.
Hubungannya dengan kondisi mulut pasien ini, rata-rata DMF-T yaitu 13,8. Evaluasi indeks
plak dan gingiva ditunjukkan dalam Tabel 2 dan 3. Berhubungan dengan uji serologi yang
dilakukan, INR diperoleh antara 0,8 sampai 4,9, dengan rata-rata 3,15 (Tabel 4). Dari 215
ekstraksi terdapat perdarahan postoperatif hanya pada 1 kasus. Pasien ini merupakan orang
tua berusia 72 tahun, IRNnya 1,57 dan gigi yang dicabut yaitu gigi 37.
Diskusi
Pada pasien yang menggunakan antikoagulan oral secara kontinyu, sangat penting untuk
melakukan anamnesa yang teliti, juga evaluasi klinis beberapa ilmu yang berhubungan
dengan resiko dan kontrol perdarahan atau kejadian tromboembolik.
Sangat penting untuk menjaga derajat antikoagulasi pasien dalam kontrol medis, harus dicek
secara periodik untuk memastikan tingkat hemostatik terapeutik tetap terjaga. Untuk tujuan
ini, digunakan waktu protrombin, yang hasilnya dapat ditampilkan dengan cepat, dalam
bentuk aktivitas protrombin atau INR, yang harus dilakukan dalam maksimal interval 4
minggu, seperti disarankan oleh American College of Chest Physicians. Umumnya, interval
terapeutik INR harus berada diantara 2,0 dan 3,5, tapi tergantung pada jenis penyakit yang
ada pada pasien, nilai INR yang lebih tinggi dapat dianggap terapeutik.

Lippert dan Gutschik menampilkan rekomendasi dimana INR tidak boleh lebih tinggi dari 4,0
dan utamanya kurang dari 3,0, sebelum pasien antikoagulan diberikan untuk dilakukan
prosedur gigi dengan resiko tinggi perdarahan.
Rekomendasi beberapa peneliti untuk beragam prosedur bedah gigi menunjukkan bahwa
untuk ekstraksi sederhana, atau saat diperkirakan perdarahan minimal, maka INR kurang dari
4,0 dapat diterima. Untuk kasus perdarahan sedang, termasuk bedah molar tiga atau beberapa
ekstraksi, INR harus dikurangi; pada kasus yang diperkirakan perdarahan akan lebih besar,
INR yang lebih rendah dari 3,0 diindikasikan; dan saat INR diatas 5,0, tidak boleh dilakukan
pembedahan.
Saat mengevaluasi hasil INR pasien kami, nilai ini antara 0,8 sampai 4,9, dengan rata-rata
3,15. Kami mengamati dalam literatur khusus bahwa tidak ada kesepakatan mengenai nilai
maksimum IRN yang dianggap aman bagi pasien untuk dilakukan pencabutan gigi. Selain itu,
bahkan pada pasien dengan IRN diatas 4,0 akan dianggap tinggi bagi beberapa peneliti,
sedangkan pada kami tidak ada perdarahan. Selain itu, pasien yang mengalami perdarahan
memiliki IRN 1,57, nilai yang dianggap aman bagi semua peneliti.
Pasien lanjut usia termasuk mereka yang paling mendapatkan keuntungan dari perawatan
antikoagulan; namun, mereka pula memiliki resiko komplikasi perdarahan yang lebih besar.
Sepertinya kami tidak memiliki faktor yang dapat membenarkan kejadian perdarahan pada
satu kasus yang kami teliti. Kami dapat menekankan bahwa pasien lanjut usia (72 tahun)
yang menguatkan literatur yang menyatakan bahwa mereka merupakan pasien yang paling
rentan mengalami perdarahan.
Banyak peneliti menunjuk pada kebutuhan menggunakan teknik bedah atraumatik dan
aplikasi cara konvensional untuk mengontrol hemostasis, seperti suture yang adekuat
sangatlah penting.
Penjaga pengobatan antikoagulan telah disarankan oleh peneliti, yang menunjukkan insidensi
minimal perdarahan setelah pembedahan, dimana nilai PT dan/atau INR pasien masih dalam
indeks terapeutik. Protokol ini semakin menguatkan oleh peneliti yang menekankan
penggunaan hemostatik lokal, yang menguatkan efisiensi mereka dalam pencegahan dan
kontrol perdarahan postoperatif. Survey kami menunjukkan hasil yang mirip dengan
perdarahan postoperatif yang minimal (satu kasus) yang dikontrol oleh cara lokal dengan
memasukkan bahan tertentu. Petunjuk ini juga disarankan oleh British Committee for
Standards in Hematology, yang menyatakan resiko perdarahan pada pasien ini saat menjaga

INR antara 2 dan 4 rendah untuk pembedahan gigi, dan bahwa mengganggu terapi
antikoagulan tidak akan dibenarkan karena meningkatkan resiko trombosis.
Sangat penting untuk mengevaluasi resiko perdarahan transoperatif dan postoperatif, juga
jumlah trauma bedah, dimana pasien akan diperiksa untuk membuat protokol kehadiran yang
adekuat. Karena itu, kami menunjuk pada melakukan prosedur bedah dengan trauma
seminimal mungkin, pengamatan yang ketat semua tahap prosedur bedah, termasuk
penjahitan yang adekuat, dan kepatuhan pasien dengan instruksi postoperatif harus menjadi
faktor pertama utnuk mempertimbangkan semua pasien, khususnya yang mengonsumi
antikoagulan.
Kesimpulan
Ekstraksi pada pasien yang mengonsumsi antikoagulan harus dilakukan dengan trauma
seminimal mungkin. Tidak perlu menghentikan terapi antikoagulan untuk melakukan
ekstraksi. Teknik hemostatik lokal seperti obliterate suture saja sudah cukup.
Tabel 1: Daftar penyakit sistemik pada pasien yang menjalani ekstraksi gigi
Tabel 2: Indeks plak pasien yang menjalani pencabutan gigi
Tabel 3: Indeks gingiva pasien yang menjalani pencabutan gigi
Tabel 4: Korelasi antara INR pada pasien dengan jumlah ekstraksi gigi yang dilakukan

Anda mungkin juga menyukai