Anda di halaman 1dari 35

Tugas Akhir Teori Bilangan

Tulisan ini dibuat untuk melengkapi tugas akhir mata kuliah Teori Bilangan

Nama

: Egi Pratama Hidayat

No. Reg

: 3125140586

Jurusan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta

Bukti Langsung
Banyak sifat dan teorema yang ketika sekolah dulu kita gunakan tanpa tahu
asal usul pembuktiannya, tapi ketika kita kuliah di matematika, sudah tidak
asing lagi dengan pembuktian sifat-sifat atau teorema. Untuk
membuktikannya tidak lepas dari teknik yang digunakan. Teknik yang biasa
digunakan yaitu teknik Pembukitan Langsung, teknik Tidak Langsung dan
Induksi Matematika. Tulisan ini akan membahas sedikit tentang teknik
pembuktian langsung.
Bukti langsung adalah salah satu cara pembuktian sifat atau teorema
matematika dengan penarikan kesimpulan dengan memanfaatkan
silogisme, modus ponens dan modus tollens. Secara logika pembuktian q
benar secara langsung atau ekuivalen dengan membuktikan bahwa
pernyataan q benar dimana diketahui p benar.
Metode pembuktian langsung adalah suatu proses pembuktian pembuktian
menggunakan alur maju, mulai dari hipotesis dengan menggunakan
implikasi logic sampai pada pernyataan kesimpulan. Hukum-hukum dalam
matematika pada umumnya berupa proposisi atau pernyataan berbentuk
implikasi (p
q) atau biimplikasi (p
q) atau pernyataan kuantifikasi yang
dapat diubah bentuknya menjadi pernyataan implikasi. Misal kita punya
teorema p \Rightarrow q, dengan p disini sebagai hipotesis yang digunakan
sebagai fakta yang diketahui atau sebagai asumsi. Selanjutnya, dengan
menggunakan p kita harus menunjukkan bahwa berlaku q.

Contoh 1 :
Buktikan, jika x bilangan ganjil maka x2 bilangan ganjil.

Bukti :
Diketahui x ganjil, jadi dapat didefinisikan sebagai x := 2n + 1, untuk suatu n
Z. Selanjutnya, x2 = (2n + 1)2 = 4n2 + 4n + 1 = 2 (2n2 + 2) + 1, dengan
mengambil m := 2n2 + 2, m dengan n
Z maka x2 = 2m + 1. Karena m
merupakan bilangan bulat maka disimpulkan x2 ganjil.

Contoh 2 :
Buktikan bahwa jika a membagi b dan b membagi c maka a membagi c
dengan a, b, dan c bilangan bulat.
Bukti :
a | b artinya b = ka untuk suatu k
b | c artinya c = lb untuk suatu l

Z (i)
Z (ii)

akan dibuktikan bahwa c = ma untuk suatu m

substitusi (i) ke (ii), sehingga diperoleh


c = lb = l(ka) = (lk)a
karena lk adalah perkalian bilangan bulat yang hasilnya bilangan bulat juga
(sifat tertutup perkalian bilangan bulat), maka ambil m := lk untuk dengan m
Z, sehingga diperoleh
c = ma untuk suatu m

Contoh 3 :
Buktikan bahwa a + b bilangan ganjil jika dan hanya jika a atau b bilangan
ganjil dengan a dan b bilangan bulat.
Bukti :
Pernyataan diatas ekuivalen dengan
(i) jika a + b bilangan ganjil maka a atau b bilangan ganjil
(ii) jika a atau b bilangan ganjil maka a + b bilangan ganjil
Jadi pada pembuktian ini kita akan membuktikan (i) dan (ii).
Bukti bagian (i)
misalkan a dan b bilangan bulat sebarang dan a + b bilangan ganjil.
akan dibuktikan a atau b bilangan ganjil.

tanpa mengurangi perumuman akan dibuktikan a ganjil


klaim : b bilangan genap (b := 2m untuk suatu m

Z)

a + b bilangan ganjil
a + b = 2k + 1 untuk suatu k

substitusi b = 2m sehingga diperoleh


a + 2m = 2k + 1
a = 2k 2m + 1 = 2(k m) + 1

karena tertutup terhadap operasi pengurangan, maka ambil l := k m,


sehingga diperoleh

a = 2l + 1, jadi a bilangan ganjil

selanjutnya akan dibuktikan b bilangan ganjil


klaim : a bilangan genap (a := 2p untuk suatu p

Z)

a + b bilangan ganjil
a + b = 2q + 1 untuk suatu k

substitusi a = 2p sehingga diperoleh


2p + b = 2q + 1
b = 2q 2p + 1 = 2(p q) + 1
karena tertutup terhadap operasi pengurangan, maka ambil r := p q,
sehingga diperoleh
b = 2r + 1, jadi b bilangan ganjil

Bukti bagian (ii)


misal a dan b bilangan bulat sebarang dan a bilangan ganjil (a := 2m + 1
untuk suatu m
Z) dan b bilangan genap (b := 2n untuk suatu n
Z).
Sehingga

a + b = 2m + 1 + 2n = 2(m + n) + 1
karena tertutup terhadap operasi penjumlahan bilangan bulat, ambil p := m
+ n, sehingga
a + b = 2p + 1 untuk suatu p

jadi a + b bilangan ganjil


Contoh 4 :
Buktikan bahwa perkalian tiga bilangan asli berurutan habis dibagi 3
Bukti :
misal tiga bilangan asli berurutan didefinisikan sebagai n, n + 1 dan n + 2
untuk suatu n Z dan perkalian tiga bilangan asli adalah m. Disini kita akan
menggunakan 3 kasus, yaitu 3k, 3k + 1, 3k + 2
(i) m = (n)(n + 1)(n + 2)
= (3k)(3k + 1)(3k + 2)
= 3k(9k2 + 9k + 2)
= 3(9k3 + 9k + 3)
m adalah bilangan kelipatan 3
(ii) m = (n)(n + 1)(n + 2)
= (3k + 1)(3k + 1 + 1)(3k + 1 + 2)
= (3k + 1)(3k + 2)(3k + 3)
= (3k + 1)(9k2 + 15k + 6)
= 27k3 + 54k2 + 21k + 6
= 3(9k3 + 18k3+ 7k + 2)
m adalah bilangan kelipatan 3

(iii) m = (n)(n + 1)(n + 2)


= (3k + 2)(3k + 2 + 1)(3k + 2 + 2)
= (3k + 2)(3k + 3)(3k + 4)
= (3k + 2)(9k2 + 21k + 12)
= 27k3 + 81k2 + 78k + 24
= 3(9k3 + 27k2 + 26k + 8)
m adalah bilangan kelipatan 3
dari (i), (ii), dan (iii) terlihat bahwa m merupakan bilangan kelipatan 3
berakibat m habis dibagi 3.

Bukti Tak Langsung


Untuk membuktikan dengan menggunakan bukti tidak langsung, digunakan
cara dengan membuat pernyataan pengingkaran dari yang harus
dibuktikan. Jika dari pernyataan yang diingkari tersebut diperoleh suatu
kontradiksi (bertentangan dengan ketentuan yang diberikan) atau
kemustahilan, berarti pernyataan yang harus dibuktikan adalah benar.
Untuk membuktikan p benar, kita harus membuktikan jika ~p salah.
Berikut ini adalah contoh pembuktian tidak langsung.
Contoh 1:
Buktikan bahwa bilangan irasional.
Bukti:
Andaikan bilangan rasional, = . Dengan m dan n bilangan bulat yang relatif
prima yaitu mempunyai faktor persekutuan terbesar (FPB)= 1. Jika kedua ruas
dikuadratkan diperoleh 2= adalah bilangan genap adalah bilangan genap
.
Berarti genap genap m dan n mempunyai faktor persekutuan 2. Padahal m
dan n prima relatif mempunyai FPB =1. Jadi pengandaian bilangan rasional
adalah salah. Jadi tidak dapat dinyatakan sebagai , berarti adalah
bilangan irasional.

Contoh 2:
Buktikan jumlah 2 bilangan genap adalah bilangan genap.
Bukti:
Misalkan jumlah 2 bilangan genap adalah bilangan ganjil
Misalkan bilangan pertama = 2p, dan bilangan kedua = 2q, di mana p dan q
bilangan cacah. Jumlah bilangan pertama dan kedua = 2p + 2q = 2
(p+q)=2r,
dengan r = p+q sehingga r bilangan cacah. Ternyata jumlah 2 bilangan
genap adalah bilangan genap. Hal ini bertentangan dengan yang
dimisalkan. Sehingga dapat disimpulkan jumlah 2 bilangan genap adalah
bilangan genap.

Induksi Matematika
Induksi Matematika merupakan suatu teknik yang dikembangkan untuk
membuktikan pernyataan. Induksi Matematika digunakan untuk mengecek
hasil proses yang terjadi secara berulang sesuai dengan pola tertentu.
Indukasi Matematika digunakan untuk membuktikan universal statements.
A
S(n) dengan A
N
himpunan bilangan asli.

dan N adalah himpunan bilangan positif atau

S(n) adalah fungsi propositional.


TAHAPAN INDUKSI MATEMATIKA
1. Basis Step
2. Inductive Step
S(k+1) benar
3. Conclusion
positif

: Tunjukkan bahwa S(1) benar


: Sumsikan S(k) benar, akan dibuktikan S(k)
: S(n) adalah benar untuk setiap n bilangan integer

PEMBUKTIAN INDUKSI MATEMATIKA


Contoh 1 :
Buktikan bahwa :
1 + 2 + 3 + + n = n(n+1)
untuk setiap n bilangan integer positif
Jawab :
Basis : Untuk n = 1 akan diperoleh :
1 = 1 . (1+1)

Induksi : misalkan untuk n = k asumsikan 1 + 2 + 3 + + k = k (k+1)


adib. Untuk n = k+1 berlaku
1 + 2 + 3 + + (k+1) = (k+1) (k+2)
Jawab :

1 + 2 + 3 + + (k+1) = (k+1) (k+2) / 2


1 + 2 + 3 + + k + (k+1) = (k+1) (k+2) / 2
k (k+1) / 2 + (k+1) = (k+1) (k+2) / 2
(k+1) [ k/2 +1 ] = (k+1) (k+2) / 2
(k+1) (k+2) = (k+1) (k+2) / 2
(k+1) (k+2) / 2 = (k+1) (k+2) / 2
Kesimpulan : 1 + 2 + 3 + + n = n (n +1) Untuk setiap bilanga bulat positif n

Contoh 2 :
Buktikan bahwa :
1 + 3 + 5 + + n = (2n - 1) = n2
untuk setiap n bilangan bulat positif
Jawab :
Basis : Untuk n = 1 akan diperoleh :
1 = 12

1=1

Induksi : misalkan untuk n = k asumsikan 1 + 3 + 5 + + (2k 1) = k2


adib. Untuk n = k + 1 berlaku
1 + 3 + 5 + + (2 (k + 1) 1) = (k + 1)2
1 + 3 + 5 + + (2k + 1) = (k + 1)2
1 + 3 + 5 + + ((2k + 1) 2) + (2k + 1) = (k + 1)2
1 + 3 + 5 + + (2k - 1) + (2k + 1 ) = (k + 1)2
k 2 + (2K + 1)
k 2 + 2K + 1

= (k + 1)2
= k 2 + 2K + 1

Kesimpulan : 1 + 3 + 5 + + n = (2n - 1) = n2, Untuk setiap bilangan bulat


positif n

Contoh 3 :
Buktikan bahwa :
N 3 + 2n adalah kelipatan 3
untuk setiap n bilangan bulat positif

Jawab :
Basis : Untuk n = 1 akan diperoleh :
1 = 13 + 2(1)

1 = 3 , kelipatan 3

Induksi : misalkan untuk n = k asumsikan k 3 + 2k = 3x


adib. Untuk n = k + 1 berlaku

(k + 1)3 + 2(k + 1) adalah kelipatan 3


(k 3 + 3k 2 + 3 k+1) + 2k + 2
(k 3 + 2k) + (3k 2 + 3k + 3)
(k 3 + 2k) + 3 (k 2 + k + 1)
Induksi
3x + 3 (k 2 + k + 1)
3 (x + k 2 + k + 1)
Kesimpulan : N 3 + 2n adalah kelipatan 3
Untuk setiap bilangan bulat positif n

Teori Binomial
Di aljabar, penjumlahan dua suku, seperti a + b, disebut binomial. Teorema
binomial memberikan bentuk ekspansi dari pangkat binomial (a + b)n, untuk
setiap n bilangan bulat tidak negatif dan semua bilangan real a dan b.
Perhatikan apa yang terjadi ketika kita menghitung beberapa pangkat yang
pertama dari a+ b. Berdasarkan sifat distributif, kita mendapatkan bahwa
pangkat dari a + b merupakan penjumlahan dari suku-suku yang berupa
kombinasi perkalian dari a dan b. Perhatikan ilustrasi berikut.

Sekarang perhatikan ekspansi dari (a + b)4. Suku-suku dari ekspansi ini


diperoleh dengan mengalikan satu dari dua suku faktor pertama dengan
satu dari dua suku faktor kedua dengan satu dari dua suku faktor ketiga dan
dengan satu dari dua suku faktor keempat. Sebagai contoh,
suku abab diperoleh dengan mengalikan suku-suku a dan b yang ditandai
dengan tanda panah.

Karena ada dua kemungkinan a dan b dari setiap suku yang dipilih pada 1
dari 4 faktor suku-suku ekspansi binomial, maka akan ada 24 = 16 suku
ekspansi (a + b)4.
Selanjutnya,
suku-suku
serupa,
yaitu
suku-suku
yang
memiliki
faktor a dan b sama banyak dapat dikombinasikan karena perkalian bersifat
komutatif. Tetapi kita perlu mengetahui banyaknya masing-masing suku
yang serupa tersebut. Sebagai contoh kita akan menentukan banyaknya

suku yang terdiri dari tiga a dan satu b. Untuk menentukan banyaknya suku
ini sama dengan menentukan banyaknya cara kita mengambil 1 bilangan 1
sampai 4 sebagai nomor urut dari faktor b. Salah satu contohnya kita
mungkin mendapat bilangan 3 yang merepresentasikan aaba (3 merupakan
nomor urut dari b, sedangkan sisanya menjadi nomor urut a). Contoh lain,
kita mungkin mendapat bilangan 1 yang merepresentasikan baaa. Sehingga
banyaknya suku yang terdiri dari tiga a dan satub adalah kombinasi 1 dari 4
yaitu 4. Semua suku yang terdiri dari tiga a dan satu b adalah
aaab, aaba, abaa, dan baaa.
Berdasarkan sifat komutatif dan asosiatif perkalian, keempat suku tersebut
memiliki nilai yang sama dengan a3b. Karena suku-suku yang sama
dengan a3b berjumlah 4, maka koefisien dari a3b adalah 4, yang diperoleh
dari kombinasi 1 (pangkat dari salah satu faktor a3b, yaitu b) dari 4 (jumlah
pangkat dari semua faktor a3b).
Dengan cara yang sama, kita akan mendapat 6 (diperoleh dari kombinasi 2
dari
4)
suku
yang
terdiri
dari
dua a dan
dua b,
yaitu aabb, abab, abba, baab, baba, dan bbaa. Sehingga koefisien dari
suku a2b2 adalah 6. Cara ini juga berlaku untuk menentukan koefisien dari
suku-suku ekspansi (a + b)4 lainnya.

Teorema binomial menggeneralisasi rumus di atas untuk sembarang


pangkat n bilangan bulat tidak negatif.

Teorema Binomial
Diberikan sembarang bilangan real a dan b, serta bilangan bulat tidak
negatif

Perhatikan bahwa bentuk kedua dan pertama pada persamaan di atas


adalah sama, karena kombinasi 0 dari n sama dengan satu, demikian juga
dengan kombinasi n dari n. Untuk lebih memahami mengenai penggunaan
teorema binomial dalam pemecahan masalah, perhatikan contoh berikut.
Contoh: Penggunaan Teorema Binomial dalam Pemecahan Masalah
Dengan menggunakan teorema binomial, tunjukkan bahwa

untuk semua bilangan bulat n 0.


Pembahasan Karena 2 = 1 + 1, maka 2n = (1 + 1)n. Dengan menerapkan
teorema binomial dengan a = 1 dan b = 1, diperoleh

Karena 1n k = 1 dan 1k = 1. Akibatnya,

Apabila diperhatikan, rumus di atas sama dengan banyaknya semua


himpunan bagian dari himpunan yang memiliki n anggota/elemen, karena
setiap himpunan bagian tersebut terdiri dari kombinasi 0, 1, 2,
, n dari n yang merupakan banyaknya anggota dari himpunan tersebut.

Algoritma Pembagian
Keterbagian
Misalkan a dan b adalah dua bilangan bulat dengan syarat b > 0. Jika
a dibagi dengan b maka terdapat dua bilangan tunggal q (quotient) dan r
(remainder) sedemikian sehingga :
a = qb + r,

0< r <b

dalam hal ini, q disebut hasil bagi dan r disebut sisa. Jika r = 0, maka
dikatakan a habis dibagi b dan ditulis b|a . Jika a tidak habis dibagi b ditulis
ba
Sifat Keterbagian

a|b dan b|c , maka a|c

ab|c maka , a|c dan b|c

a|b dan a|c , maka a|(bx+cy)

Contoh 1:
4 | 12 karena 12 : 4 = 3 (bilangan bulat) atau 12 = 4 x 3.
Tetapi 4 13 karena 13 : 4 = 3.25 (bukan bilangan bulat).

Kita telah mengungkapkan mengenai bilangan bulat untuk beberapa


halaman, dan belum pernah membahas satupun mengenai pembagian. Ini
saatnya untuk mengingat kembali hal ini. Sebuah teorema yang merupakan
batu landasan yang merupakan dasar dari perkembangan kita adalah
algoritma pembagian. Hasilnya yang sudah sering kita dengar, secara kasar
mengemukakan bahwa sebuah bilangan bulat dapat dibagi oleh
bilangan bulat positif b yang sisanya lebih kecil daripada b. pernyataan
sebenarnya dari fakta ini adalah

TEOREMA 2.1 (Algoritma Pembagian)


Pada bilangan-bilangan bulat a dan b, dengan b>o, terdapat bilangan
bulat q dan r yang memenuhi
a= qb+r

or<b

Bilangan bulat q dan r disebut hasil bagi dan sisa dalam pembagian a oleh
b.
Pembuktian: Kita mulai dengan menyediakan himpunan
S= {a-xb|x sebuah bilangan bulat; a=xbo}
Bukan bilangan kosong. Dalam hal ini perlu menunjukkan sebuah nilai x yang
membuat a-xb tidak negative. Karena bilangan bulat b1, kita peroleh
a|b|a| maka
a-(-|a|)b=a+|a|ba+|a|o
Sehingga untuk pilihan x=-|a|, a-xb akan terletak pada himpunan S. Hal ini
merupakan aplikasi dari prinsip pengaturan yang baik, dimana himpunan S
mengandung bilangan bulat terkecil; yang disebut r. Dengan definisi S,
terdapat sebuah bilanagn bulat q yang memenuhi
r=a-qb,

or

Kita menganggap bahwa r<b. jika tidak, maka rb dan


a-(q+1)b=(a-qb)-b=r-bo
Implikasinya ialah bilangan bulat a-(q+1)b memiliki bentuk yang layak untuk
menjadi anggota S. Tetapi a-(q+1)b=r-b<r, akan membawa pada kontradiksi
atas pilihan r sebagai anggota terkecil himpunan S. maka r<b.
Kemudian kita akan menuju pada tugas untuk menunjukkan keunikan q dan
r. Anggap bahwa a memiliki dua bentuk, yaitu:
a=ab+r=q1b+r1
Dimana or<br1<b maka r1-r=b(q-q1) dan berdasarkan kenyataan bahwa
nilai absolute sama dengan hasil dari nilai absolute.
(r1-r1=b|q-q1)

Dengan menambahkan bahwa pertidaksamaan b<-ro dan or1<b, kita


peroleh b<r1-r<b atau dalam bentuk yang sama, |r1-r|<b. maka b|qq1|<b yang menghasilkan
o|q-q1|<1
karena |q-q1| merupakan bilangan bulat bukan negative, satu-satunya
kemungkinan ialah |q-q1|=o, sehingga q=q1, akhirnya r=r1 merupakan
buktinya.
Sebuah versi yang lebih umum dari Algoritma Pembagian diperoleh dengan
mengganti larangan bahwa b positif dengan bo.
COROLLARY. Jika a dan b adalah bilangan bulat, dengan bo, maka
terdapat bilangan bulat unik q dan r yaitu
a=qb+r

or<|b|

Pembuktian: cukup dengan mempertimbangkan bahwa b adalah negative,


maka |b|>o dan karena menghasilkan bilangan bulat q1 dan r1 yang unik
dimana
a=a1|b|+r

or<|b|

Catatan bahwa |b|=-b, dapat kita ambil q=-q1 untuk memperoleh a=qb+r
dengan or<|b|

Teori Pembagian Bilangan Bulat


Untuk menggambarkan pembagian Algoritma jika b > 0, kita ambil contoh b
=-7. maka jika a=1, -2,61, dan -59 maka ;

1= 0(-7)+1
-2=1(-7) +5
61=(-8)(-7) + 5
-59=9(-7)+ 4

Kita berharap untuk tidak terlalu fokus pada pembagian Algoritma, seperti
padsa aplikasinya . sebagai contoh pertama perlu dicatat bahwa dengan
b=2, nilai sisa yang mungkin adalah r = 0 dan r =1. jika r=0, nilai a adalah
a=2q yang disebut nilai genap;Jika r=1, nilai a adalah a=2q+1 yang disebut
nilai ganjil, sekarang a2 dapat berbentuk (2q)2 = 4k
Atau (2q+1)2 = 4(q2+q)+1 = 4k + 1.

catatan yang kita peroleh adalah kuadrat sebuah bilangan bulat akan
mempunyai sisa 0 atau 1 jika dibagi 4.
Kita juga dapat menunjukan hal berikut : Kuadrat dari bilangan bulat ganjil
memilki bentuk 8k +1. dalam pembagian Algoritma seluruh bilangan bulat
memiliki salah astu dari 4 bentuk, 3 bentuk 4q, 4q+1, 4q+2, 4q+3. dalam
pengelompokan ini, hanya bilangan bulat yang berbentuk 4q + 1 dan 4q +
3 yang merupakan bilangan ganjil, yang jika dikuadratkan menjadi
(4q+1)2 = 8 (2q2+q)+1 = 8k + 1
Dan sama pula dengan
(4q+3)2 = 8(2q2+3q+1) +1 = 8k +1
Sebagai contoh kuadrat dari bilangan bulat 7 adalah 72 = 49 = 8.6+1 ,
sementara kuadrat dari 13 adalah 132=169 = 8.21 +1

Faktor Persekutuan Terbesar


Definisi
Bilangan bulat d disebut Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari a dan b
apabila memenuhi
1. d > 0
2. d|a dan d|b,
3. jika c|a dan c|b, maka c d.
Dengan kata lain, FPB dari dua bilangan bulat adalah bilangan bulat
terbesar yang dapat membagi kedua bilangan tersebut.
Kita menggunakan notasi (a, b) untuk FPB dari a dan b. Jadi, jika d adalah
FPB dari a dan b, maka d = (a, b).
Contoh
Faktor dari 12 adalah {1, 2, 3, 4, 6, 12}
Faktor dari 30 adalah {1, 2, 3, 5, 6, 10, 15, 30}
Faktor persekutuan dari 12 dan 30 adalah {1, 2, 3, 6}. Jadi (12, 30) = 6

Teorema
Kita akan membuktikan tiga sifat FPB:

Teorema 1

(a, b) = d (a/d, b/d) = 1.


Bukti. Misalkan a dan b adalah bilangan bulat dengan (a, b) = d.
Kita akan menunjukkan bahwa a/d dan b/d tidak memiliki faktor
persekutuan lain kecuali 1. Misalkan e Z+ adakah faktor persekutuan dari
a/d dan b/d, yaitu e|(a/d) dan e|(b/d) sehingga ada k, Z sehingga a/d
= ke dan b/d = e, atau a = dek dan b = de.
Jadi kita lihat bahwa de adalah faktor persekutuan dari a dan b. Tetapi,
karena d adalah faktor persekutuan terbesar, maka
de d sehingga e = 1.

Teorema 2 [Bezout]

(a, b) = d m, n

Z am + bn = d.

Bukti. Misalkan S adalah himpunan semua kombinasi linier dari a dan b; yaitu
S = {am + bn|m, n

Z}

S tak kosong sebab a = a 1 + b 0 dan b = a 0 + b 1 dan karenanya a,


b S.
Jadi S berisi bilangan bulat positif elemen terkecil, sebut saja d = ax + by.
Akan dibuktikan bahwa d = (a, b). Menurut algoritma pembagian,
a = dq + r , 0 r < d,
sehingga diperoleh
r = d dq
= a (ax + by)q
= a(1 qx) + b(qy).
Ini menunjukkan bahwa r S sedangkan 0 r < d dan d adalah bilangan
bulat positif terkecil dalam S. Jadi r = 0 dan d|a. Dengan cara yang sama
dapat pula ditunjukkan bahwa d|b. Selanjutnya, jika c|a dan c|b, maka
c|ax + by = d.
Hal ini membuktikan bahwa d = (a, b).

Teorema 3

a = bq + r (a, b) = (b, r ).
Bukti. Di sini cukup ditunjukkan bahwa a, b, dan r memiliki faktor persekutuan
yang sama. Untuk itu, misalkan k|a dan k|b, maka k|a bq = r .
Selanjutnya, misalkan |b dan |r , maka |bq + r = a. Ini berarti, semua
faktor persekutuan dari a dan b juga merupakan faktor persekkutuan dari b
dan r , termasuk faktor persekutuan terbesarnya, yaitu (a, b) = (b, r ).

Faktor Persekutuan Terkecil (KPK)


Ada suatu konsep yang paralel dengan konsep faktor persekutuan terbesar
(FPB), yang dikenal faktor persekutuan terkecil (KPK). Suatu bilangan bulat c
disebut kelipatan persekutuan dari bilangan-bilangan bulat tak nol a dan b
jika a c dan b c. Hal ini berarti pula nol adalah kelipatan persekutuan dari a
dan b. Perlu diingat pula bahwa ab dan (ab) adalah kelipatan persekutuan
dari a dan b, dan salah satunya positif. Dengan menggunakan prinsip terurut
sempurna (well ordering principle), himpunan kelipatan persekutuan dari a
dan b harus sebuah bilangan bulat terkecil; kita menyebutnya kelipatan
persekutuan terkecil dari a dan b, dan ditulis KPK(a, b).
Definisi
Kelipatan persekutuan terkecil dari dua bilangan bulat tak nol a dan b,
dilambangkan [a, b], adalah bilangan positif m yang memenuhi:
a | m dan b | m.
Jika a | c dan b | c dengan c > 0 maka m c.

Sebagai ilustrasi, kelipatan persekutuan positif dari 12 dan 30 adalah 60, 120,
180, .
Dengan demikian, KPK(-12, 30) = 60.
Dari konsep diatas, kita dapat secara jelas menyatakan bahwa jika diberikan
dua bilangan tak nol a dan b maka [a, b] selalu ada, dan [a, b] ab .
Selanjutnya, bagaimana hubungan antara KPK dan FPB? Berikut ini sifat yang
menjelaskan hubungan antara keduanya.

Sifat 1

Untuk bilangan-bilangan bulat positif a dan b, berlaku


(a, b). [a, b] = ab
Bukti:
Misalkan d = (a, b) dan kita tulis a = dr, b = ds untuk bilangan-bilangan bulat r
dan s. Jika m = ab/d maka m = as = rb. Akibatnya adalah m (positif) adalah
suatu kelipatan persekutuan a dan b.

Sekarang misalkan c adalah sebarang bilangan bulat positif yang


merupakan kelipatan persekutuan a dan b. c = au = bv. Sebagaimana kita
ketahui, ada bilangan-bilangan bulat x dan y yang memenuhi d = ax + by.
Konsekuensinya,
c/m = cd/ab = (c(ax + by))/ab = (c/b)x + (c/a)y = vx + uy

Persamaan ini menyatakan bahwa m | c, dan kita dapat menyimpulkan


bahwa mc.
Dengan demikian, m = [a, b]; Hal ini berarti bahwa
[a,b]=ab/d=ab/((a,b))

Sifat 2

Untuk suatu bilangan-bilangan bulat positif a an b, [a, b]= ab jika dan hanya
jika (a, b) = 1.
Sifat 2 ini hanya merupakan akibat langsung dari sifat 1.
Sebagai ilustrasi, Karena FPB(3054, 12378) = 6, kita dapat dengan cepat
memperoleh KPK(3054, 12378), yaitu:
KPK (3053, 12378) = 3053.12378 / FPB(3054, 12378)
= 3053.12378 / 6
= 6300402

Perlu diketahui pula bahwa faktor persekutuan terbesar dapat diperluas


untuk lebih dari dua bilangan bulat. Dalam kasus tiga buah bilangan bulat,
a, b, c tak nol, FPB(a, b, c) didefinisikan sebagai suatu bilangan bulat positif d
yang memenuhi:
d adalah faktor dari setiap a, b, c.
Jika e faktor dari a, b, c, maka e d.

Contoh soal:
1. Tentukan KPK dari 12 dan 18
Jawab:
[a,b]=ab/((ab))
(12,18) b=18,a=12 q=1,r=6
b=qa+r
18=12.1+6
12=2.6
FPB = 6
[12,18]=12.18/6
=36
Jadi KPK dari 12 dan 18 adalah 36

2. Tentukan KPK dari 12 dan 15


Jawab:
[a,b]=ab/((ab))
(12,15) b=15,a=12,q=1,r=3
b=qa+r
15=1.12+3
12=4.3
FPB = 3
[12,15]=12.15/3
=60
Jadi KPK dari 12 dan 15 adalah 60

Persamaan Diophantine
Suatu persamaan berbentuk ax + by = c dengan a, b, c bilangan-bilangan
bulat dan a, b dua-duanya bukan nol disebut persamaan liner diophantine
jika penyelesaiannya dicari untuk bilangan-bilangan bulat.

Teorema :

Persamaan liner diophantine ax + by = c mempunyai penyelesaian jika dan


hanya jika pembagi persekutuan terbatas dari a dan b membagi c.
Bukti :
Misalkan d = GCD (a, b) dan d|c
d|c ada k bulat sehingga c = kd.
d|GCD (a, b) ada bilangan bulat m dan n sehingga am + bn = d.
a(km) + b (kn) = kd
a(km) + b (kn) = c
berarti x = mk dan y = nk

Teorema :

Jika d = GCD (a, b) dan x0 , y0 penyelesaian persamaan diophantine ax + by


= c, maka penyelesaian umum persamaan tersebut adalah :
x = x0 + dan y = y0 dengan k parameter bilangan bulat.

Contoh soal:
Tentukan penyelesaian umum persamaan diophantine 738x + 621y = 45
Penyelesaian :
Mencari GCD (738, 621) dengan Algoritma Euclide.
738 = 1 X 621 + 117
621 = 5 X 117 = 36

117 = 3 X 36 + 9
36 = 4 X 9 + 0
Jadi GCD (738, 621). Karena 9|45 maka persamaan di atas mempunyai
penyelesaian.

Menentukan 9 sebagai kombinasi 738 dan 621.


9

= 117 3 . 36
= 117 3 (621 5 X 117) = -3 X 621 + 16 X 117
= -3 X 621 + 16 (738 621)

= 16 X 738 19 X 621

Kalikan kedua ruas dengan 5


45 = 80 X 738 95 X 621
Sehingga didapat x0 = 80, y0 = -95
Penyelesaian umumnya adalah :
x = 80 + 69t
x = - 95 72t

Contoh soal
Tentukan x dan y bulat positif yang memenuhi persamaan 7x + 5y = 100
Penyelesaian :
GCD (7, 5) = 1. Karena 1|100 maka persamaan mempunyai penyelesaian.
Dengan mudah bisa ditulis.
1=3.74.5
100 = 7 X 300 + 5 X (-400). Maka x0 = 300, y0 = -400
Penyelesaian umumnya adalah :
x = 300 + 5k

Y = -400 7k

Karena yang diinginkan penyelesaian positif, maka harus dipenuhi kedua


pertidaksamaan :
300 + 5k > 0
-400 7k > 0
Yaitu : 60 < k < -57
Jadi persamaan diophantine 7x + 5y = 100 mempunyai tepat dua
penyelesaian positif yaitu untuk k = -59, dan k = -58 maka x = 5, y = 13 dan
untuk k -58 maka x = 10, y = 6.

Bilangan Prima dan Komposit


Bilangan prima adalah bilangan asli yang hanya dapat dibagi oleh bilangan
itu sendiri dan satu. Dengan perkataan lain, bilangan prima hanya
mempunyai dua faktor. Misalnya 2, 3, 5, 7, 11, bilangan asli yang
mempunyai lebih dari dua faktor disebut bilangan komposit (majemuk). Misal
4, 6, 8, 9,
Teorema : (Topik Erotosthenes)
Untuk setiap bilangan komposit n ada bilangan prima p sehingga p|n dan p
.
Teorema di atas mempunyai makna yang sama dengan jika tidak ada
bilangan prima p yang dapat membagi n dengan p maka n adalah bilagan
prima.
Contoh soal:
Tentukan bilangan-bilangan berikut merupakan bilangan prima atau
majemuk.
a). 157 b). 221
penyelesaian :
a). Bilangan-bilangan prima yang adalah 2, 3, 5, 7, 11. Karena tidak ada dari
bilangan-bilangan prima 2, 3, 5, 7, 11 yang dapat dibagi 157, maka 157
merupakan bilangan prima.
b). Bilangan-bilangan prima yang adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13. Karena 13|221
maka 221 merupakan bilangan komposit.

Contoh soal:
Tentukan pasangan-pasangan bilangan asli a dan b sehingga a2 b2 =
1991.
Penyelesaian :
Karena 1991 merupakan bilangan komposit (1991 = 11 X 181) maka :

A2 b2 = 1991
(a b)(a + b) = 1991 (1 X 1991 atau 11 X 181) atau (a b)(a + b) = 11 X 181
Kemungkinan I

Kemungkinan II

a+b

= 1991

a+b

a b

=1+

2a

= 1992

= 181

a b
2a

= 996

= 96

= 995

= 85

= 11 +

= 192

Jadi pasangan-pasangan bilangan asli a dan b yang memenuhi a2 b2 =


1991 adalah (996, 995) dan (96, 85)

Kekongruenan
Diberikan bilangan bulat n yang lebih besar dari 1 dan bilangan-bilangan
bulat a dan b. Bilangan a dikatakan kongruen dengan b modulo n, dituliskan
dengan a b (mod n) jika a dan b memberikan sisa yang sama apabila
dibagi oleh n.

Contoh soal:
Jika a dan b kongruen modulo m, buktikan bahwa selisishnya dapat dibagi
m.
Bukti :
a b (mod m) a = q1m + r dan b = q2m + r
a b = (q1 q2)m, akibatnya m | (a b)

Contoh soal:
Buktikan bahwa (an + b)m = bm mod (n)
Bukti :
Membuktikan (an + b)m
bm mod (n) sama artinya dengan membuktikan ada bilangan bulat k
sehingga (an + b)m bm = kn.
Bukti :
(an + b)m bm = (an)m + m(an)m-1. b + + m(an)bm-1 + bm bm
= {a(an)m-1 + am(an)m-2 + + am(b)m-1}n
= kn (terbukti )
Rumusan pada contoh nomor 11 di atas dapat digunakan menentukan sisa
pembagian bilangan yang cukup benar.

Contoh soal:
Tentukan angka satuan bilangan 19971991.
Penyelesaian :
Angka satuan 19971991 sia pembagian 19971991 oleh 10
(199 X 10 + 7)1991 mod (10)
71991 mod (10)
74 X 497 + 3 mod (10)
(74)487 X 73 mod (10)
(2421)497 X 343 mod (10)
1 X 3 mod (10)
3 mod (10)
Jadi angka satuan 19971991 adalah 3.

Contoh soal:
Tentukan sisa jika 319 dibagi oleh 14.
Penyelesaian :
319 mod (14)

33 X 6 + 1 mod (14)

(33)6 X 31
mod (14)
(2 X 14 1)6 X 3 mod (14)
(-1)6 X 3 mod (14)
319 3 mod (14)
Jadi sisa pembagian 319 oleh 14 adalah 3.

Contoh soal:
Tentukan sisa 31990 jika dibagi 41.

Penyelesaian :
31990 m od (41)

34 X 497 + 2 mod (41)

(34)497 X 32 mod (41)


(2 X 41 1)497 X 9 mod (41)
(-1)497 X 9 mod (41)
-9 mod (41)
(41 9) mod (41)
31 mod (41)
Jadi sisa 31990 dinagi oleh 41 adalah 32.

Kekongruenan Linier
Kekongruenan linier adalah kongruen yang berbentuk
ax b (mod m)

= bilangan bulat positif

a dan b

= bilangan bulat

= peubah bilangan bulat.

Nilai-nilai x dicari sebagai berikut:

ax = b + km

atau

dengan k adalah sembarang bilangan bulat. k = 0, 1, 2, dan k = 1, 2,


yang menghasilkan x sebagai bilangan bulat.

Contoh :
Tentukan solusi: 4x 3 (mod 9) dan 2x 3 (mod 4)
Penyelesaian:

4x 3 (mod 9)

k = 0 x = (3 + 0 9)/4 = 3/4

(bukan solusi)

k = 1 x = (3 + 1 9)/4 = 3
k = 2 x = (3 + 2 9)/4 = 21/4

(bukan solusi)

k = 3, k = 4

tidak menghasilkan solusi

k = 5 x = (3 + 5 9)/4 = 12

k = 1 x = (3 1 9)/4 = 6/4

(bukan solusi)

k = 2 x = (3 2 9)/4 = 15/4

(bukan solusi)

k = 3 x = (3 3 9)/4 = 6

k = 6 x = (3 6 9)/4 = 15

Nilai-nilai x yang memenuhi: 3, 12, dan 6, 15,

2x 3 (mod 4)

Karena 4k genap dan 3 ganjil maka penjumlahannya menghasilkan ganjil,


sehingga hasil penjumlahan tersebut jika dibagi dengan 2 tidak
menghasilkan bilangan bulat. Dengan kata lain, tidak ada nilai-nilai x yang
memenuhi 2x 3 (mod 5).

Teorema China
Pada abad pertama, seorang matematikawan China yang bernama Sun Tse
mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Tentukan sebuah bilangan bulat yang bila dibagi dengan 5 menyisakan 3,


bila dibagi 7 menyisakan 5, dan bila dibagi 11 menyisakan 7.

Pertanyaan Sun Tse dapat dirumuskan kedalam sistem kongruen lanjar:

x 3 (mod 5)
x 5 (mod 7)
x 7 (mod 11)

Teorema 4. (Chinese Remainder Theorem) Misalkan m1, m2, , mn adalah


bilangan bulat positif sedemikian sehingga PBB(mi, mj) = 1 untuk i j. Maka
sistem kongruen lanjar

x ak (mod mk) k = 1, 2, 3, ...

mempunyai sebuah solusi unik modulo m = m1 m2 mn.

Contoh :
Tentukan solusi dari pertanyaan Sun Tse di atas.
x 3 (mod 5)
x 5 (mod 7)
x 7 (mod 11)

Penyelesaian:
Menurut persamaan diatas, kongruen pertama,
x 3 (mod 5), x = 3 + 5k1 untuk beberapa nilai k.
Sulihkan ini ke dalam kongruen kedua menjadi,
x 5 (mod 7), 3 + 5k1

5 (mod 7)

k1

6 (mod 7)

k1

= 6 + 7k2 , untuk beberapa nilai k2.

Jadi kita mendapatkan


x

= 3 + 5k1

= 3 + 5(6 + 7k2)
= 33 + 35k2

yang mana memenuhi dua kongruen pertama. Jika x memenuhi kongruen


yang ketiga, maka :
x 7 (mod 11)
k2

9 (mod 11)

k2

= 9 + 11k3.

33 + 35k2

7 (mod 11)

Sulihkan k2 ini ke dalam kongruen yang ketiga menghasilkan :


x

= 33 + 35k2

= 33 + 35(9 + 11k3)
348 + 385k3 (mod 11).
Dengan demikian, x 348 (mod 385) yang memenuhi ketiga konruen
tersebut. Dengan kata lain, 348 adalah solusi unik modulo 385. Catatlah
bahwa 385 = 5 7 11.

Solusi unik ini mudah dibuktikan sebagai berikut.


m

= m1 m2 m3

= 5 7 11
= 5 77
= 11 35.
Karena 77 3 1 (mod 5), 55 6 1 (mod 7), dan 35 6 1 (mod 11), solusi unik
dari sistem kongruen tersebut adalah :

x 3 77 3 + 5 55 6 + 7 35 6 (mod 385)
3813 (mod 385) 348 (mod 385)