Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN AUTISME

DISUSUN OLEH :
1. Andini sucianingsih
2. Deni Prasetyo
3. Duduk Adi P
4. Fakhriyanti izaanatul H
5. Liya widyastuti
6. Ryan Ramadhan S
7. Yorinda Arie Kusuma

PROGRAM STUDI D3-KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN


MAJAPAHIT MOJOKERTO
TAHUN 2012/2013
1

KATA PENGANTAR
Berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa telah memberikan manusia akal pikiran sehingga
makalah ini terselesaikan. Dalam pembahasan kali ini kami ingin menjelaskanlukabakar.
Diharapkan makalah ini dapat membantu perawat dalam melaksanakankegiatan belajarnya
dalam hal ini yang berhubungan dengan metode pendidikan kesehatan pelaksanaan asuhan
keperawatan.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa

Makalah ini tidak akan

terwujud tanpa bantuan, bimbingan, serta dorongan dari pihak lain, maka penulis menyampaikan
ucapan banyak terima kasih kepada:
1. dr Rahmi Syarifatun A, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto.
2. Tri Peni,SST., M.Kes. selaku Kaprodi Keprawatan.
3. Tri Peni,SST., M.Kes. Selaku dosen mata kuliah keperawatan anak
4. Teman-teman sekalian yang membantu selesainya makalah asuhan keperawatan anak
dengan Autisme.
Demikianlah makalah ini kami buat, dan kami juga menyadari bahwa makalah ini masih
sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mohon kepada para pembaca untuk memberikan
saran dan kritik demi perbaikan makalah ini agar bisa lebih baik. Semoga dari hasilpembahasan
ini bisa diambil hikmah dan manfaatnya bagi kita semua. Selain itu kami juga senantiasa
berharap agar kegiatan ini dapat menambah hasanah berfikir kita untuk terus melangkah
menyongsong masa depan sebagai generasi yang terbaik.
Mojokerto, 26 April 2013
Hormat kami,

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .............................................................................................. ...........i
Daftar isi ......................................................................................................... ..........ii
BAB I 1PENDAHULUAN
1. A. Latar belakang ........................................................................... ..........1
2. B. Tujuan........................................................................................ ..........1
BAB II PEMBAHASAN
1. Definisi Autisme.....................................................................................3
2. Epidemologi............................................................................................3
3. Etiologi....................................................................................................3
4. Manifestasi klinik....................................................................................4
5. Patofisiologi................................5
6. WOC...6
7. Klasifikasi...............................................................................................7
8. Penatalaksanaan Autisme.......................................................................7
9. Pemeriksaan Diagnostik.........................................................................9
10. Askep.....................................................................................................10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...............................................................................................15
B. Saran.15
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang
yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya penyandang autisma
mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi
biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka
menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih
sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner,
seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun
1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan
berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara
berkomunikasi yang aneh, Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di
desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.
Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis
lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.
Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini
mencapai 40% sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus
autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan
jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di atas sangat
mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi
bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia. Di Amerika Serikat disebutkan autis
terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens
autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di
Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisma meningkat sangat pesat,
dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6
- 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di
Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah
penyandang namun diperkirakan jumlah anak austime dapat mencapai 150 - 200 ribu orang.
Berdasarkan hal diatas, maka kami sebagai penulis tertarik untuk lebih memahami konsep
anak dengan autisme, dimana konsep ini saling terkait satu sama lain. Semoga Askep ini dapat
membantu para orang tua, masyarakat umum dan khusnya kami (mahasiswa keperawatan) dalam
memahami anak dengan autisme, sehingga kami harapkan kedua anak dengan kondisi ini dapat
diperlakukan dengan baik.

B. Tujuan
a.

Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dengan autism.

b. Tujuan Khusus
a)

Mahasiswa memahami pengertian Autisme.

b)

Mahasiswa memahami etiologi dan manifestasi klinik autisme

c)

Mahasiswa memahami cara mengetahui autis pada anak.

d)

Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan anak


dengan autism.

C. Ruang Lingkup
Batasan masalah yang akan dibahas dalam masalah ini adalah kelainan perkembangan
perpasif pada anak dengan autisme.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi
Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan
realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305)
Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal,
aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan.(Behrman,
1999: 120)
Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk
mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan,
perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin, R, M, 1996: 305)
Autisme pada anak merupakan gangguan perkembangan pervasif (DSM IV, sadock dan
sadock 2000)
Istilah autis berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme berarti aliran. Jadi
autisme adalah suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri (Purwati, 2007).
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada bayi atau anak yang ditandai dengan
adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan
interaksi sosial. Gangguan autis adalah salah satu perkembangan pervasif berawal sebelum usia
2,5 tahun (Devision, 2006).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan
pervasif, atau kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktivitas imajinatif dan interaksi
sosial timbal balik berupa kegagalan mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30
bulan),hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif
serta penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas.

B. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi 3-4 per 1000 anak. Perbandingan laki-laki dari wanita 3-4:1. Penyakit sistemik,
infeksi dan neurologi (kejang) dapat menunjukan gejala seperti austik.

C. ETIOLOGI
Autisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di bawah ini adalah faktor faktor yang
menyebabkan terjadinya autis menurut Kurniasih (2002) diantaranya yaitu:
1. Faktor Genetik
Faktor pada anak autis, dimungkinkan penyebabnya adanya kelainan kromosom yang disebutkan
syndrome fragile x (ditemukan pada 5-20% penyandang autis).
2. Faktor Cacat (kelainan pada bayi)
Disini penyebab autis dapat dikarenakan adanya kelainan pada otak anak, yang berhubungan
dengan jumlah sel syaraf, baik itu selama kehamilan ataupun setelah persalinan, kemudian juga
disebabkan adanya Kongenital Rubella, Herpes Simplex Enchepalitis, dan Cytomegalovirus
Infection.
6

3. Faktor Kelahiran dan Persalinan


Proses kehamilan ibu juga salah satu faktor yang cukup berperan dalam timbulnya gangguan
autis, seperti komplikasi saat kehamilan dan persalinan. Seperti adanya pendarahan yang disertai
terhisapnya cairan ketuban yang bercampur feces, dan obat-obatan ke dalam janin, ditambah
dengan adanya keracunan seperti logam berat timah, arsen, ataupun merkuri yang bisa saja
berasal dari polusi udara, air bahkan makanan.
Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan
yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan
pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

D. Manisfestasi Klinik
1. Di bidang komunikasi :
a.

Perkembangan bahasa anak autis lambat atau sama sekali tidak ada. Anak nampak seperti tuli,
sulit berbicara, atau pernah berbicara lalu kemudian hilang kemampuan bicara.

b. Terkadang kata kata yang digunakan tidak sesuai artinya.


c.

Mengoceh tanpa arti secara berulang ulang, dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain.

d. Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi. Senang meniru atau membeo (Echolalia).
e.

Bila senang meniru, dapat menghafal kata kata atau nyanyian yang didengar tanpa mengerti
artinya.

f.

Sebagian dari anak autis tidak berbicara (bukan kata kata) atau sedikit berbicara (kurang
verbal) sampai usia dewasa.

g. Senang menarik narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan, misalnya bila
ingin meminta sesuatu.
2. Di bidang interaksi sosial :
a.

Anak autis lebih suka menyendiri

b. Anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau menghindari tatapan muka atau mata
dengan orang lain.
c.

Tidak tertarik untuk bermain bersama dengan teman, baik yang sebaya maupun yang lebih tua
dari umurnya.

d. Bila diajak bermain, anak autis itu tidak mau dan menjauh.
3. Di bidang sensoris :
a.

Anak autis tidak peka terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.

b. Anak autis bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.


c.

Anak autis senang mencium cium, menjilat mainan atau benda benda yang ada disekitarnya.
Tidak peka terhadap rasa sakit dan rasa takut.

4. Di bidang pola bermain :


a.

Anak autis tidak bermain seperti anak anak pada umumnya.

b. Anak autis tida suka bermain dengan anak atau teman sebayanya.
c.

Tidak memiliki kreativitas dan tidak memiliki imajinasi.

d. Tidak bermain sesuai fungsinya, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar putar.
7

e.

Senang terhadap benda benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda, dan sejenisnya.

f.

Sangat lekat dengan benda benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana mana.

5. Di bidang perilaku :
a.

Anak autis dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku
berkekurangan (hipoaktif).

b. Memperlihatkan perilaku stimulasi diri atau merangsang diri sendiri seperti bergoyang goyang,
mengepakkan tangan seperti burung.
c.

Berputar putar mendekatkan mata ke pesawat televisi, lari atau berjalan dengan bolak balik,
dan melakukan gerakan yang diulang ulang.

d. Tidak suka terhadap perubahan.


e.

Duduk bengong dengan tatapan kosong.

6. Di bidang emosi :
a.

Anak autis sering marah marah tanpa alasan yang jelas, tertawa tawa dan

b. Dapat mengamuk tak terkendali jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya.
c.

Kadang agresif dan merusak.

d. Kadang kadang menyakiti dirinya sendiri.


e.

Tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain yang ada disekitarnya atau
didekatnya.

E. Patofisiologi
Penyebab pasti dari autisme belum diketahui. Yang pasti diketahui adalah bahwa
penyebab dari autisme bukanlah salah asuh dari orang tua, beberapa penelitian membuktikan
bahwa beberapa penyebab autisme adalah ketidakseimbangan biokimia, faktor genetic dan
gangguan imunitas tubuh. Beberapa kasus yang tidak biasa disebabkan oleh infeksi virus
(TORCH), penyakit- penyakit lainnya seperti fenilketonuria (penyakit kekurangan enzim), dan
sindrom X (kelainan kromosom).
Menurut Lumbantobing (2000), penyebab autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
1. Faktor keluarga dan psikologi
2. Respon anak-anak terhadap stressor dari keluarga dan lingkungan.
3. Kelainan organ-organ biologi dan neurologi (saraf)
4. Berhubungan dengan kerusakan organ dan saraf yang menyebabkan gangguan fungsifungsinya, sehingga menimbulkan keadaan autisme pada penderita
5. Faktor genetik
6. Pada hasil penelitian ditemukan bahwa 2 - 4% dari saudara kandung juga menderita
penyakit yang sama.
7. Faktor kekebalan tubuh

F. WOC
G. Lama
Partus

Keracunan Logam

Genetik

Pemakaian antibiotik
berlebihan
MK : Resti Infeksi

Neurotropin &
neuropaptida

H. nutrisi &
Gangguan
I.
oksigenasi
Gangguan
pada otak

Abnormalitas
pertumbuhan sel
syaraf

Kerusakan pada sel


purkinge &
hippocampus

Infeksi jamur

Kebocoran usus &


tidak sempurna
pencernaaan kasein
& gluten

Gangguan
keseimbangan
serotinin & dopamin

Peningkatan
neurokimia secara
abnormal

Protein terpecah
sampai polipeptida
Gangguan pada otak
kecil
Kasein & gluten
terserap kedalam
aliran darah

Growth withoit
guldance

Reaksi atensi
lebih lambat

guldance
autis

Menimbulkan efek
morfin pada otak

MK : Perubahan
persepsi sensori

Sumber( http:// id.scribd.com/doc/121738747/makalah autis )

J. Klasifikasi
Berdasarkan waktu munculnya gangguan, Kurniasih (2002) membagi autisme menjadi dua
yaitu:
1. Autisme sejak bayi (Autisme Infantil)
Anak sudah menunjukkan perbedaan-perbedaan dibandingkan dengan anak non autistik, dan
biasanya baru bisa terdeteksi sekitar usia bayi 6 bulan.
2. Autisme Regresif
Ditandai dengan regresif (kemudian kembali) perkembangan kemampuan yang sebelumnya
jadi hilang. Yang awalnya sudah sempat menunjukkan perkembangan ini berhenti. Kontak
mata yang tadinya sudah bagus, lenyap. Dan jika awalnya sudah bisa mulai mengucapkan
beberapa patah kata, hilang kemampuan bicaranya. (Kurniasih, 2002).
Sedangkan Yatim, Faisal Yatim (dalam buku karangan purwati, 2007) mengelompokkan
autisme menjadi :
a.

Autisme Persepsi

Autisme ini dianggap sebagai autisme asli dan disebut autisme internal karena kelainan sudah
timbul sebelum lahir
b. Autisme Reaksi
Autisme ini biasanya mulai terlihat pada anak anak usia lebih besar (6 7 tahun) sebelum
anak memasuki tahap berfikir logis. Tetapi bisa juga terjadi sejak usia minggu minggu
pertama. Penderita autisme reaktif ini bisa membuat gerakan gerakan tertentu berulang
ulang dan kadang kadang disertai kejang kejang.

K. Penatalaksanaan
Terapi yang dilakukan untuk anak dengan autisme
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus
untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak
dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur
kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya
hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan
bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang , namun mereka tidak mampu untuk memakai
bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus.
Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang
benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain
10

sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot2
halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik
mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang2 tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang
bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan
otot2nya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan
interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2
arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu
dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan
mengajari cara2nya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar
bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi
social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka,
mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap
suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku
terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan
merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki
perilakunya,
8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi
perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya,
kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan
berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih
spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah
yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambargambar, misalnya dengan metode PECS ( Picture Exchange
Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan
ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat
Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih
melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan
metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini
11

diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang
ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak
mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari
dalam tubuh sendiri (biomedis).
Tatalaksana autis dibagi menjadi 2 bagian
1. Edukasi kepada keluarga
Keluarga memerankan peran yang penting dalam membantu perkembangan anak, karena orang
tua adalah orang terdekat mereka yang dapat membantu untuk belajar berkomunikasi,
berperilaku terhadap lingkungan dan orang sekitar, intinya keluarga adalah jendela bagi
penderita untuk masuk ke dunia luar, walaupun diakui hal ini bukanlah hal yang mudah.
2. Penggunaan obat-obatan
Penggunaan obat-obatan pada penderita autisme harus dibawah pengawasan dokter. Penggunaan
obat-obatan ini diberikan jika dicurigai terdapat kerusakan di otak yang mengganggu pusat emosi
dari penderita, yang seringkali menimbulkan gangguan emosi mendadak, agresifitas, hiperaktif
dan stereotipik. Beberapa obat yang diberikan adalah Haloperidol (antipsikotik), fenfluramin,
naltrexone (antiopiat), clompramin (mengurangi kejang dan perilaku agresif)

L. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari
berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi
tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah
berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:

Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang
dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat
menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang,
penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan
komunikasi verbal

The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa
balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon
Baron Cohen di awal tahun 1990-an.

The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item
yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi
dan sosial mereka

The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun
yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan
anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.

M. KOMPLIKASI
Komplikasi yang terjadi pada penderita autis biasanya adalah :
1. Gangguan infeksi yang berulang-ulang.
2. Batuk
3. Flu. Serta demam berkepanjangan.
12

K.

Asuhan Keperawatan

I.

Pengkajian

a.

Identitas Klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, No. MR

b. Riwayat Kesehatan

Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)


Pada kehamilan ibu pertumbuhan dan perkembangan otak janin terganggu. Gangguan pada otak
inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk
resiko terjadinya autisme Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi
perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme. Gangguan
persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : pemotongan tali pusat
terlalu cepat, Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi selama
persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat lahir dan erat lahir rendah ( < 2500
gram)

Riwayat Kesehatan Sekarang (RKK)


Anak dengan autis biasanya sulit bergabung dengan anak-anak yang lain, tertawa atau cekikikan
tidak pada tempatnya, menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata,
menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri, lebih senang menyendiri, menarik diri dari
pergaulan, tidak membentuk hubungan pribadi yang terbuka, jarang memainkan permainan
khayalan, memutar benda, terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang
sudah dikenalnya dengan baik, secara fisik terlalu lemah.

Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)


Dilihat dari faktor keluarga apakah keluarga ada yang menderita autisme.

c.

Psikososial

Menarik diri dan tidak responsif terhadap orang tua

Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem

Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek

Perilaku menstimulasi diri

Pola tidur tidak teratur

Permainan stereotip

Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain

Tantrum yang sering

Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu pembicaraan

Kemampuan bertutur kata menurun

Menolak mengonsumsi makanan yang tidak halus

d. Neurologis

Respons yang tidak sesuai dengan stimulus

Refleks mengisap buruk

Tidak mampu menangis ketika lapar

13

e.

Gastrointestinal

Penurunan nafsu makan

Penurunan berat badan

II. Diagnosa Keperawatan


a. Kelemahan interaksi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan untuk percaya pada orang
lain.
b. Hambatan komunikasi verbal dan non verbal berhubungan dengan ransangan sensori tidak
adekuat, gangguan keterampilan reseptif dan ketidakmampuan mengungkapkan perasaan.
c.

Risiko tinggi cidera : menyakiti diri berhubungan dengan kurang pengawasan.

d. Kecemasan pada orang tua behubungan dengan perkembang anak.

3. Intervensi
a.

Kelemahan interaksi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan untuk percaya pada orang
lain.
Tujuan : Klien mau memulai interaksi dengan pengasuhnya
Intervensi: :

Batasi jumlah pengasuh pada anak.


Tunjukan rasa kehangatan/keramahan dan penerimaan pada anak.
Tingkatkan pemeliharaan dan hubungan kepercayaan.
Motivasi anak untuk berhubungan dengan orang lain.
Pertahankan kontak mata anak selama berhubungan dengan orang lain.
Berikan sentuhan, senyuman, dan pelukan untuk menguatkan sosialisasi.
b.

Hambatan komunikasi verbal dan non verbal berhubungan dengan ransangan sensori tidak
adekuat, gangguan keterampilan reseptif dan ketidakmampuan mengungkapkan perasaan.
Tujuan : Klien dapat berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan kepada orang lain.
Intervensi :

o Pelihara hubungan saling percaya untuk memahami komunikasi anak.


o Gunakan kalimat sederhana dan lambang/maping sebagai media.
o Anjurkan kepada orang tua/pengasuh untuk melakukan tugas secara konsisten.
o Pantau pemenuhan kebutuhan komunikasi anaksampai anak menguasai.
o Kurangi kecemasan anak saat belajar komunikasi.
o Validasi tingkat pemahaman anak tentang pelajaran yang telah diberikan.
o Pertahankan kontak mata dalam menyampaikan ungkapan non verbal.
o Berikan reward pada keberhasilan anak.
o Bicara secara jelas dan dengan kalimat sederhana.
o Hindari kebisingan saat berkomunikasi.
c.

Risiko tinggi cidera : menyakiti diri berhubungan dengan kurang pengawasan.


Tujuan : Klien tidak menyakiti diriya.
Intervensi :

Bina hubungan saling percaya.


14

Alihkan prilaku menyakiti diri yang terjadi akibat respon dari peningkatan kecemasan.
Alihkan/kurangi penyebab yang menimbulkan kecemasan.
Alihkan perhatian dengan hiburan/aktivitas lain untuk menurunkan tingkat kecemasan.
Lindungi anak ketika prilaku menyakiti diri terjadi.
Siapkan alat pelindung/proteksi.
Pertahankan lingkungan yang aman.
d. Kecemasan pada orang tua behubungan dengan perkembang anak.
Tujuan : Kecemasan berkurang/tidak berlanjut.
Intervensi :
Tanamkan pada orang tua bahwa autis bukan aib/penyakit.
Anjurkan orang tua untuk membawa anak ke tempat terapi yang berkwalitas baik serta melakukan
secara konsisten.
Berikan motivasi kepada orang tua agar dapat menerima kondisi anaknya yang spesial.
Anjurkan orang tua untuk mengikuti perkumpulan orang tua dengan anak autis, seperti kegiatan
Autis Awareness Festifal.
Berikan informasi mengenai penanganan anak autis.
Beritahukan kepada orang tua tentang pentingnya menjalankan terapi secara konsisten dan
kontinue.

IV. Implementasi
Setelah rencana disusun , selanjutnya diterapkan dalam tindakan yang nyata untuk
mencapai hasil yang diharapkan. Tindakan harus bersifat khusus agar semua perawat dapat
menjalankan dengan baik, dalam waktu yang telah ditentukan. Dalam implementasi keperawatan
perawat langsung melaksanakan atau dapat mendelegasikan kepada perawat lain yang dipercaya

V. Evaluasi
Merupakan tahap akhir dimana perawat mencari kepastian keberhasilan yang dibuat dan
menilai perencanaan yang telah dilakukan dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien
teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika yang
ditetapkan belum tercapai dalam proses keperawatan

15

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada bayi atau anak yang ditandai dengan
adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan
interaksi sosial. Gangguan autis adalah salah satu perkembangan pervasif berawal sebelum usia
2,5 tahun (Devision, 2006).
Autisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di bawah ini adalah faktor faktor yang
menyebabkan terjadinya autis menurut Kurniasih (2002) diantaranya yaitu : Faktor Genetik,
Faktor Cacat (kelainan pada bayi), Faktor Kelahiran dan Persalinan

B. Saran
Besar harapan kelompok agar makalah ini dapat dijadikan salah satu panduan
memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan autisme

16

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Aris, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius : Jakarta

Ngastiyah, 1997. Perawatan Anak Sakit. Buku Kedokteran EGC : Jakarta

Eddy Prasetyo. 2008. Kasus Autisme di Seluruh Dunia Meningkat. Diakses 05 mei 2009
http://www.suarasurabaya.net/v06/kelanakota/?id=c71ee08849735df9b3bd982e3c4e3
a73200859667

Peters theo,2004. Autisme. Jakarta : Dian Rakyat Indonesia Atau William chris, Wright
bary. 2004. How to live with autism and asperger syndrome. Jakarta: Dian Rakyat
Indonesia

. Hidayat,aziz alimul. 2005. Konsep asuhan keperwatan anak. Jakarta: Salemba Medika.

Website
:
http://asuhankeperawatananak.blogspot.com/2008/09/autisme.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme
http://www.enformasi.com/2008/05/ciri-iri-anak-autisme-menurut-usia.html
Nswedy.Blogspot.com/2012/08/askep-autis.html
Madontis.Blogspot.com/2010/07/14/bab-i-pendahuluan.html
Adrian-rendu.blogspot.com/2012/04/asuhan keperawatan-pada-anak-dengan autis.html

17